Anda di halaman 1dari 15

Tinjauan Pustaka

Laki-laki 18 tahun Mengalami Trauma pada Regio Femur Dextra dengan Nyeri,
Deformitas, Gerakan Terbatas, Memar, Tidak Dapat Berdiri dan Sakit Saat
Mengangkat Paha
Karen Esrella 102010218
Fakultas Kedokteran Universitas Krida Wacana
karen_esrella@hotmail.com

Pendahuluan
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan atau tulang rawan
yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa. Trauma yang menyebabkan tulang patah dapat
berupa trauma langsung, misalnya benturan pada lengan bawah yg menyebabkan patah tulang
radius dan ulna, dan dapat berupa trauma tidak langsung, misalnya jatuh bertumpu pada
tangan yang menyebabkan tulang klavikula atau radius distal patah.
Akibat trauma pada tulang bergantung pada jenis trauma, kekuatan, dan arahnya.
Trauma tajam yang langsung atau trauma tumpul yang kuat dapat menyebabkan tulang patah
dengan luka terbuka sampai ke tulang yang disebut patah tulang terbuka. Patah tulang di
dekat sendi atau mengenai sendi dapat menyebabkan patah tulang disertai luksasi sendi yang
disebut fraktur dislokasi. Kekuatan dan sudut dari kekuatan tersebut, keadaan tulang, dan
jaringan lunak di sekitar tulang akan menentukan apakah fraktur yang terjadi itu lengkap atau
tidak lengkap. Fraktur lengkap terjadi apabila seluruh tulang patah, sedangkan pada fraktur
tidak lengkap tidak melibatkan seluruh ketebalan tulang.1,2
Anamnesis

Seringkali pasien datang sudah dengan keluhan bahwa tulangnya patah karena
jelasnya keadaan patah tulang tersebut bagi pasien. Sebaliknya juga mungkin, patah tulang
tidak disadari oleh penderita dan mereka datang dengan keluhan keseleo, terutama patah
yang disertai dengan dislokasi fragmen yang minimal. Diagnosis pat tulang juga dimulai
dengan anamnesis: adanya trauma tertentu, seperti jatuh, terputar, tertumbuk, dan berapa
kuatnya trauma tersebut. Dalam persepi penderita trauma tersebut bisa dirasa berat meskipun
sebenarnya ringan, sebaliknya bisa dirasa ringan meskipun sebenarnya berat. Selain riwayat
trauma, biasanya didapati keluhan nyeri meskipun patah tulang yang fragmen patahannya
stabil, kadang tidak menimbulkan keluhan nyeri.
Bila tidak ada riwayat trauma, berarti fraktur patologis. Trauma harus diperinci kapan
terjadnya, dimana terjadinya jenisnya, berat ringan trauma, arah trauma dan posisi pasien atau
ekstremitas yang bersangkutan (mekanisme traum). Jangan lupa untuk meneliti kembali
trauma ditempat lain secara sistematik dari kepala, muka, leher, dada dan perut.1,3
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan untuk menentukan ada atau tidaknya patah tulang terdiri atas empat
langkah: tanyakan, lihat, raba, dan gerakkan. Pada pemeriksaan fisik mula-mula dilakukan
inspeksi dan terlihat pasien kesakitan, mencoba melindungi anggota badannya yang patah,
terdapat pembengkakan, perubahan bentuk berupa bengkok, terputar, pemendekan, dan juga
terdapat gerakan yang tidak normal. Nyeri yang secara subjektif dinyatakan dalam
anamnesis, didapat juga secara objektif dengan palpasi. Nyeri itu berupa nyeri tekan yang
sifatnya sirkuler dan nyeri tekan sumbu pada waktu menekan atau menarik dengan hati-hati
anggota badan yang patah searah dengan sumbunya. Keempat sifat nyeri ini didapatkan pada
lokalisasi yang tepat sama. Gerakan antarfragmen harus dihindari pada karena menimbulkan
nyeri dan mengakibatkan cedera jaringan. Pemeriksaan gerak persendian secara aktif
termasuk dalam pemeriksaan rutin patah tulang.
Satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah pemeriksaan klinis untuk mencari akibat
trauma, seperti pneumotoraks atau cedera otak, serta komplikasi vaskuler dan neurologis dari
patah tulang yang bersangkutan. Hal ini penting karena komplikasi tersebut perlu penanganan
yang segera.
Secara umum pemeriksaan fisik yang harus dilakukan adalah:

1.

Inspeksi (look) adanya deformitas (kelainan bentuk) seperti bengkak, pemendekan,


rotasi, angulasi, fragmen tulang (pada fraktur terbuka).
Palpasi (feel) adanya nyeri tekan (tenderness), krepitasi, pemeriksaan status

2.

neurologis dan vaskuler di bagian distal fraktur. Palpasi daerah ektremitas tempat fraktur
tersebut, di bagian distal cedera meliputi pulsasi arteri, warna kulit, capillary refill test.
3.

Gerakan (moving) adanya keterbatasan gerak pada daerah fraktur.1,4

Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan radiologis (rontgen), pada daerah yang dicurigai fraktur, harus mengikuti
aturan role of two, yang terdiri dari :

Mencakup dua gambaran yaitu anteroposterior (AP) dan lateral,

Memuat dua sendi antara fraktur yaitu bagian proximal dan distal,

Memuat dua extremitas (terutama pada anak-anak) baik yang cidera maupun yang
tidak terkena cidera (untuk membandingkan dengan yang normal) bila ada kesangsian
atas adanya patah tulang atau tidak untuk perbandingan,

Dilakukan dua kali, yaitu sebelum tindakan dan sesudah tindakan.

Gambar 1. Fraktur Batang Femur


(http://www.wheelessonline.com/ortho/supracondylar_femoral_fractures)
2. Pemeriksaan laboratorium, meliputi:

Darah rutin,

Faktor pembekuan darah,

Golongan darah (terutama jika akan dilakukan tindakan operasi),

Gula darah sewaktu. 1,5,6

Working Diagnosis
3

Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik serta pemeriksaan penunjang, diagnosis


kerja untuk kasus ini adalah fraktur batang femur. Daerah tulang-tulang ini sering mangalami
patah. Biasanya terjadi karena trauma langsung akibat kecelakaan lalu lintas di kota-kota
besar atau jatuh dari ketinggian. Kebanyakan dialami oleh penderita laki-laki dewasa. Patah
pada daerah ini dapat menimbulkan perdarahan yang cukup banyak, mengakibatkan penderita
jatuh dalam shock.
Salah satu klasifikasi batang femur dibagi berdasarkan adanya luka yang berhubungan
dengan daerah yang patah, dibagi menjadi:

Tertutup

Terbuka
Ketentuan fraktur terbuka bila terdapat hubungan antara tulang patah dengan dunia luar.
Fraktur terbuka ini dibagi menjadi 3 derajat, antara lain:
o Derajat I bila terdapat hubungan dengan dunia luar timbul luka kecil, biasanya
diakibatkan tusukan fragmen tulang dari dalam menembus keluar.
o Derajat II lukanya lebih besar (>1 cm) luka ini disebabkan karena benturan benda dari
luar.
o Derajat III lukanya lebih luas dari derajat II, lebih kotor, jaringan lunak banyak yang
ikut rusak (otot, saraf, pembuluh darah).
Pada umumnya bentuk penanggulangan fraktur terbuka, dilakukan debridemen, sebaikbaiknya kemudian penanggulangan untuk tulangnya sendiri, dilakukan tindakan yang sama
seperti pada penanggulangan fraktur tertutup.
Pada pemeriksaan fisik di daerah paha yang patah tulangnya sangat membengkak,
ditemukan tanda functiolaesa (tungkai bawah tidak dapat diangkat). Nyeri tekan, nyeri gerak.
Tampak adanya deformitas angulasi ke lateral atau angulasi ke anterior, rotasi (exo/endo).
Tungkai bawah, ditemukan adanya pemendekan tungkai. Pada fraktur 1/3 tengah femur, pada
pemeriksaan harus diperhatikan pula kemungkinan adanya dislokasi sendi panggul dan
robeknya ligamen dari daerah lutut. Kecuali itu diperiksa keadaan saraf sciatica dan areteri
dorsalis pedis. Pemeriksaan radiologi cukup dengan 2 proyeksi AP dan LAT. Dalam
pembuatan foto harus mencakup 2 sendi (panggul dan lutut).
Differential Diagnosis
4

I.

Fraktur Collum Femur


Fraktur collum femur diklasifikasikan menjadi fraktur intrakapsuler dan fraktur
ekstrakapsuler. Fraktur intrakapsuler (collum femur) dapat disebabkan oleh trauma langsung
(direct) dan trauma tak langsung (indirect). Pada trauma langsung (direct), biasanya penderita
terjatuh dengan posisi miring dimana di daerah trochanter mayor langsung terbentur dengan
benda keras (jalanan).
Trauma tak langsung (indirect) disebabkan oleh gerak eksorotasi yang mendadak dari
tungkai bawah. Karena kepala femur terikat kuat dengan ligamen di dalam acetabulum oleh
ligamen iliofemoral dan kapsul sendi, mengakibatkan fraktur di daerah collum femur. Pada
dewasa muda bila terjadi fraktur intrakapsuler (collum femur) berarti traumanya cukup hebat.
Sedang kebanyakan pada fraktur collum ini (intrakapsuler), kebanyakan terjadi pada wanita
tua (60 tahun ke atas) dimana tulangnya sudah mengalami osteoporotik. Trauma yang dialami
oleh wanita tua ini biasanya ringan (jatuh kepleset di kamar mandi).
Pada fraktur collum femur ini penderita tak dapat berdiri karena rasa sakit sekali pada
panggul. Posisi panggul dalam keadaan fleksi dan eksorotasi. Didapatkan juga adanya
perpendekan dari tungkai yang cedera. Paha dalam posisi abduksi, fleksi, dan eksorotasi.
Pada palpasi sering ditemukan adanya haematoma di panggul. Pada tipe impacted, biasanya
penderita masih dapat berjalan disertai rasa sakit yang tak begitu hebat. Posisi tungkai masih
tetap dalam posisi netral.
Patah tulang intrakapsuler umumnya sukar mengalami pertautan dan cenderung
terjadi nekrosis avaskuler kaput femur. Perdarahan collum yang terletak intrartikuler dan
perdarahan kaput femur berasal dari proksimal a. Sirkumfleksa femoris lateralis melalui
simpai sendi. Sumber perdarahan ini putus pada patah tulang intraartikuler. Perdarahan oleh
arteri di dalam ligamentum teres sangat terbatas dan sering tidak berarti. Pada luksasi arteri
ini robek. Epifisis dan daerah trochanter cukup kaya perdarahannya, karena mendapat darah
dari simpai sendi, peroist, dan a. nutrisia diafisis femur memerlukan fiksasi untuk waktu
yang cukup lama.
Patah tulang collum femur yang terletak intraartikuler sukar sembuh karena bagian
proksimal perdarahannya sangat terbatas sehingga
Proyeksi anteroposterior dan lateral pada pemeriksaan radiologi kadang-kadang
diperlukan axial. Pada proyeksi anteroposterior kadang-kadang tidak jelas ditemukan adanya
fratur (pada kasus yang impacted). Untuk itu perlu ditambah dengan pemeriksaan proyeksi
axial.

Terapi pada fraktur intrakapsuler terdapat perbedaan pada daerah collum femur
dibanding fraktur tulang di tempat lain. Pada collum femur, periosteumnya sangat tipis
sehingga daya osteogenesisnya sangat kecil, sehingga seluruh penyambungan fraktur collum
femur boleh dikata tergantung pada pembentukan callus endosteal. Lagipula aliran pembuluh
darah yang melewati collum femur pada fraktur collum femur terjadi kerusakan. Lebih-lebih
lagi terjadinya haemarthrosis akan menyebabkan aliran darah sekitar fraktur tertekan
alirannya. Maka mudah dimengerti apabila terjadi fraktur intrakapsuler dengan dislokasi akan
terjadi avaskuler nekrosis.
Pada fraktur collum femur yang benar-benar impacted dan stabil, maka penderita
masih dapat berjalan selama beberapa hari. Gejalanya ringan, sakit sedikit pada daerah
panggul. Kalau impactednya cukup kuat penderita dirawat 3-4 minggu kemudian
diperbolehkan berobat jalan dengan memakai tongkat selama 8 minggu. Kalau pada x-ray
foto impact-nya kurang kuat ditakutkan terjadi disimpacted, penderita dianjurkan untuk
operasi dipasang internal fixation. Operasi yang dikerjakan untuk impacted fracture biasanya
dengan multi pin teknik percutaneus.
Untuk penanggulangannya, penderita segera dirawat di rumah sakit, tungkai yang
sakit dilakukan pemasangan tarikan kulit (skin traction) dengan Buck-extension. Dalam
waktu 24-48 jam dilakukan tindakan reposisi, yang dilanjutkan dengan pemasangan internal
fixation. Reposisi yang dilakukan dicoba dulu dengan reposisi tertutup dengan salah satu cara
yaitu: menurut leadbetter. Penderita terlentang di meja operasi. Asisten memfiksir pelvis.
Lutut dan coxae dibuat fleksi 90 untuk mengendurkan kapsul dan otot-otot sekitar panggul.
Dengan sedikit adduksi paha ditarik ke atas, kemudian dengan pelan-pelan dilakukan gerakan
endorotasi panggul 45. Kemudian sendi panggul dilakukan gerakan memutar dengan
melakukan gerakan abduksi dan ekstensi. Setelah itu dilakukan tes.
Palm heel test: tumit kaki yang cedera diletakkan di atas telapak tangan. Bila posisi
kaki tetap dalam kedudukan abduksi dan endorotasi berarti reposisi berhasil baik. Setelah
reposisi berhasil dilakukan tindakan pemasangan internal fiksasi dengen teknik multi pin
percutaneus. Kalau reposisi pertama gagal dapat diulang sampai 3 kali, dilakukan open
reduksi. Dilakukan reposisi terbuka setelah tereposisi dilakukan internal fiksasi. Macammacam alat internal fiksasi diantaranya:
Knowless pin,
Cancellous screw,
Plate.
6

Pada fraktur collum femur penderita tua (>60 tahun) penanggulangannya agak
berlainan. Bila penderita tidak bersedia dioperasi atau dilakukan prinsip penanggulangan: do
nothing dalam arti tidak dilakukan tindakan internal fiksasi, caranya penderita dirawat,
dilakukan skin traksi 3 minggu sampai rasa sakitnya hilang. Kemudian penderita dilatih
berjalan dengan menggunakan tongkat (cruth). Kalau penderita bersedia dilakukan operasi,
akan digunakan prinsip pengobatan do something yaitu dilakukan tindakan operasi
arthroplasty dengan pemasangan prothese Austine Moore.
II.

Fraktur Pretrochanter/Intertrochanter Femur


Merupakan fraktur antara trochanter mayor dan trochanter minor femur. Fraktur ini

termasuk fraktur ekstrakapsuler. Banyak terjadi pada orang tua terutama pada wanita (di atas
60 tahun). Biasanya traumanya ringan, jatuh kepleset, daerah pangkal paha terbentur lantai.
Hal ini dapat terjadi karena pada wanita tua, tulang sudah mengalami osteoporotik post
menopause. Pada orang dengan dewasa dapat terjadi fraktur ini disebabkan oleh trauma
dengan kecepatan tinggi (tabrakan motor).
Biasanya penderita wanita tua dengan riwayat setelah jatuh terpeleset, tak dapat
berjalan. Pada pemeriksaan kaki yang cedera dalam posisi external rotasi. Tungkai yang
cedera lebih pendek, dan pada pangkal paha sakit dan bengkak. Dengan proyeksi
anteroposterior dan lateral dengan rontgen foto dapat ditentukan stabil atau tidak stabil jenis
patahnya.
Umumya fraktur trochanter mudah menyambung kembali karena daerah trochanter
kaya akan vaskularisasi. Dengan balance traksi umumnya memerlukan waktu 12 sampai 16
minggu. Pada penderita yang sudah tua di atas 60 tahun penanggulannya dengan traksi akan
menimbulkan

penyulit

yaitu

terjadi

komplikasi

berupa

pneumonia

hipostatik,

bronchopneumonia, dekubitus, emboli paru, trombosis arteri femoralis untuk menghindari hal
tersebut di atas dipilih cara yang lain dengan jalan operatif. Teknik operasi tergantung tipe
frakturnya stabil atau tidak stabil. Pada fraktur yang tidak stabil dilakukan tindakan
medialisasi menurut Dimon dan Hughston baru dilakukan internal fiksasi dengan alat internal
fiksasi diantaranya dengan Jewett nail atau angle blade plate (Ao). Pada tipe yang stabil tidak
perlu dilakukan medialisasi langsung dilakukan internal fiksasi dengan alat Jewett nail atau
angle blade plate (Ao)
III.

Fraktur Subtrochanter Femur


7

Fraktur subtrochanter ialah fraktur dimana garis patah berada 5 cm distal dari terdapat
trochanter minor. Mekanisme fraktur biasanya karena trauma langsung dapat terjadi pada
orang tua biasanya disebabkan oleh trauma yang ringan (jatuh terpeleset). Dan pada orang
muda biasanya karena trauma dengan kecepatan tinggi. Pada pemeriksaan fisik didapatkan
tungkai bawah yang cedera lebih pendek dan rotasi eksternal (eksorotasi) di daerah panggul
ditemukan hematoma atau echymosis.
Pada pemeriksaan radiologi, dibuat proyeksi anteriposterior dan lateral. Pada fraktur
subtrochanter dimana trochanternya masih utuh biasanya kedudukan fragmen bagian atas
dalam posisi abduksi dan fleksi dan fragmen distal dalam posisi adduksi. Abduksi karena
tarikan dari otot-otot abduktor. Fleksi karena tarikan otot iliopsoas dan adduksi karena tarikan
otot adductor mangnus.
Penanggulangan non operatif dengan melakukan skeletal traksi dan system balance
dengan posisi tungkai bagan distal dibuat abduksi dan fleksi. Penanggulangn non operatif ini
banyak kelemahanny yaitu morbiditas lama dan mortalitas yang lebih tinggi. Untuk
mengatasi tersebut di atas dilakukan penanggulangan operasi dengan melakukan open reduksi
dan pemasangan internal fiksasi. Macam-macam alat untuk fiksasi, diantaranya:
Angle blade plate (Ao),
Jewett nail,
Sliding compression screw,
Zickel nail.5
Etiologi
Fraktur pada tulang bisa disebabkan oleh:

1. Trauma Trauma dapat dibagi menjadi trauma langsung dan trauma tidak langsung.
Trauma langsung berarti benturan pada tulang dan mengakibatkan fraktur di tempat itu,
sedangkan trauma tidak langsung bilamana titik tumpuan benturan dengan terjadinya fraktur
bergantian.
2. Non Trauma Fraktur terjadi karena kelemahan tulang akibat kelainan patologis didalam
tulang, non trauma ini bisa karena kelainan metabolik atau infeksi.
3. Stress Fraktur stress terjadi karena trauma yang terus-menerus pada suatu tempat
tertentu.1,7,8
Patofisiologi
Sehubungan dengan patofisiologi dan perjalanan penyakitnya, patah tulang juga
dibagi atas dasar usia pasien, yaitu patah tulang pada anak, patah tulang pada orang dewasa,
dan patah tulang pada orang tua. Pola anatomis kejadian patah tulang dan penanganannya
pada ketiga golongan umur tersebut berbeda. Orang tua lebih sering menderita patah tulang
pada tulang yang osteoporotik, seperti vertebra atau collum femur; orang dewasa lebih
banyak menderita patah tulang panjang; sedangkan anak jarang menderita robekan ligamen.
Penanganan patah tulang pada anak membutuhkan pertimbangan bahwa anak masih tumbuh.
Selain itu, kemampuan penyembuhan anak lebih cepat dan karena itulah perpendekan serta
perubahan bentuk akibat patah lebih dapat ditoleransi pada anak. Pemendekan dapat
ditoleransi karena pada anak terdapat percepatan pertumbuhan tulang panjang yang patah.
Perubahan bentuk dapat ditoleransi karena anak mempunyai daya penyesuaian bentuk yang
lebih besar.
Satu bentuk patah tulang yang khusus pada anak adalah patah tulang yang mengenai
cakram epifisis ini perlu mendapat perhatian khusus karena dapat mengakibatkan gangguan
pertumbuhan.
Segera setelah fraktur, pembuluh darah yang pecah akan membentuk hematom yang
mengisi celah fraktur dan mengelilingi daerah cedera tulang. Bekuan darah menyediakan
jaring fibrin yang membantu menyumbat tempat fraktur, dan pada saat yang sama
menciptakan suatu jaringan untuk masuknya sel-sel radang serta fibroblas dan pembuluh
kapiler baru. Secara bersamaan, trombosit yang mengalami degranulasi dan sel-sel radang
yang datang mengeluarkan PDGF, TGF-, FGF, dan sitokin lain, yang mengaktifkan sel-sel
osteoprogenitor di periosteum, rongga medula, dan jaringan lunak di sekitar dan merangsang
9

aktivitas osteoklastik dan osteoblastik. Oleh karena itu, pada akhir minggu pertama, terjadi
organisasi hematoma, jaringan di sekitar mengalami modulasi untuk pembentukan matriks
mendatang, dan ujung-ujung tulang yang patah mengalami remodelling. Jaringan fusiform
dan yang umumnya tidak terkalsifikasi - disebut prokalus atau kalus jaringan lunak menjadi
penambat di antara ujung-ujung tulang yang patah, tetapi tidak memiliki rigiditas struktural
untuk menahan beban.
Sel-sel osteoprogenitor yang telah aktif kemudian mengendapkan trabekula tulang
anyam di subperiosteum yang berorientasi tegak lurus terhadap sumbu korteks dan di dalam
rongga medula. Pada sebagian kasus, sel mesenkim yang aktif di jaringan lunak dan tulang di
sekitar garis fraktur juga berdiferensiasi menjadi kondroblas yang membentuk fibrokartilago
dan tulang rawan hialin. Pada fraktur nonkomplikata, jaringan penyembuhan mencapai
ukuran terbesar pada akhir minggu kedua atau ketiga, dan membantu menstabilkan tempat
fraktur, tetapi belum cukup kuat untuk mengangkat beban. Tulang rawan yang baru terbentuk
di sepanjang garis fraktur mengalami ossifikasi endokondral, seperti yang biasa terjadi di
lempeng pertumbuhan, membentuk jaringan tulang yang berhubungan dengan trabekula
reaktif yang diendapkan pada tempat lain di rongga medula dan di bawah periosteum.
Dengan cara ini, ujung-ujung fraktur dijembatani oleh kalus tulang, dan setelah mengalami
mineralisasi, kekuatan dan kekerasan kalus meningkat hingga ke tingkat beban tubuh mulai
dapat ditoleransi.
Untuk tahap awal pembentukan kalus, dibentuk jaringan fibrosa, tulang rawan, dan
tulang dalam jumlah berlebihan. Apabila tulang- tulang tidak menyambung dengan
sempurna, di bagian konkaf tempat fraktur, volume kalus menjadi paling besar. Setelah
fraktur matang dan dapat menyalurkan gaya-gaya yang ditimbulkan oleh berat, bagian yang
tidak mengalami stres fisik diresorpsi, dan dengan cara ini kalus mengecil sampai bentuk dan
tepi tulang yang patah terbentuk kembali. Rongga medula juga dipulihkan, dan setelah proses
ini sempurna maka tempat bekas cedera mungkin sulit dikenali lagi.1,9
Penatalaksanaan
Pengelolaan patah tulang secara umum mengikuti prinsip pengobatan kedoketran
pada umumnya, yaitu yang pertama dan utama adalah jangan cederai pasien (primum non
necere). Cedera iatrogen tambahan pada pasien terjadi tindakan yang salah atau tindakan
yang berlebihan. Yang kedua, pengobatan didasari atas diagnosis yang tepat dan

10

prognosisnya. Ketiga, bekerja sama dengan hukum alam, dan keempat, memilih pengobatan
dengan memperhatikan setiap pasien secara individu.
Untuk patah tulangnya sendiri, prinsipnya adalah mengembalikan posisi patahan
tulanh ke posisi semula (reposisi) dan mempertahankan posisi itu selama masa penyembuhan
patah tulang (imobilisasi). Reposisi yang dilakukan tidak harus mencapai keadaan
sepenuhnya seperti semula karena tulang mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan
bentuknya kembali seperti bentuk semula (remodelling/proses swapugar).
Cara pertama untuk penanganan patah tulang dengan dislokasi fragmen patahan yang
minimal atau dengan dislokasi yang tidak akan menyebabkan cacat di kemudian hari, cukup
dengan proteksi tanpa reposisi dan imobilisasi. Contoh cara ini adalah patah tulang rusuk,
patah tulang klavikula pada anak, dan patah tulang vertebra dengan kompresi minimal.
Cara kedua adalah imobilisasi dengan fiksasi atau imobilisasi luar tanpa reposisi,
tetapi tetap memerlukan imobilisasi agar tidak terjadi dislokasi fragmen. Contoh cara ini
adalah pengelolaan patah tulang tungkai bawah tanpa dislokasi yang penting. Cara ketiga
berupa reposisi dengan cara manipulasi diikuti dengan imobilisasi. Ini dilakukan pada patah
tulang dengan dislokasi fragmen yang berarti seperti pada patah tulang radius distal.
Cara keempat berupa reposisi dengan traksi terus-menerus selama masa tertentu,
misalnya beberapa minggu, dan kemudian diikuti dengan imobilisasi. Ini dilakukan pada
patah tulang yang bila direposisi secara manipulasi akan terdislokasi kembali di dala gips.
Cara ini dilakukan pada patah tulang dengan otot yang kuat, misalnya pada patah tulang
femur. Cara kelima berupa reposisi diikuti dnegan imobilisasi dengan fiksasi luar. Untuk
fiksasi fragmen patahan tulang, digunakan pin baja yang ditusukkan pada fragmen tulang,
kemudian pin baja td disatukan secara kokoh dengan batangan logam di luar kulit. Alat ini
dinamakan fiksator ekstern.
Cara keenam berupa reposisi secara non operatif diikuti dnegan pemasangan fiksasi
dalam pada tulang secara operatif, misalnya reposisi patah tulang collum femur. Fragmen
direposisi secara non-operatif dengan meja traksi; setelah tereposisi, dilakukan pemasangan
pen ke dalam collum femur secara operatif. Cara ketujuh berupa reposisi secara operatif
diikuti dengan fiksasi patahan tulang dengan pemasangan fiksasi interna. Ini dilakukan
misalnya, pada patah tulang femur, tibia, humerus, lengan bawah. Fiksasi interna yang
dipakai bisa berupa pen di dalam sumsum tulang panjang, bisa juga berupa plat dengan
11

sekrup di permukaan tulang. Keuntungan reposisi secara operatif adalah bisa dicapai reposisi
sempurna dan bila dipasang fiksasi interna yang kokoh, sesudah operasi tidak perlu lagi
dipasang gips dan segera bisa dilakukan mobilisasi. Kerugiannya adalah reposisi secara
operatif ini mengundang resiko infeksi tulang.
Cara yang terakhir berupa eksisi fragmen patahan tulang dan menggantinya dengan
prostesis, yang dilakukan pada patah tulang collum femur. Caput femur dibuang secara
operatif dan diganti dengan prostesis. Ini dilakukan pada orang tua yang patahan pada collum
femur tidak dapat menyambung kembali.
Pada fraktur femur tertutup, untuk sementara dilakukan skin traksi dengan metode
Buck extension. Atau dilakukan dulu pemakaian Thomas splint, tungkai ditraksi dalam
keadaan extensi. Tujuan skin traksi untuk mengurangi rasa sakit dan mencegah kerusakan
yang lebih lanjut jaringan lunak sekitar daerah yang patah. Setelah dilakukan traksi kulit
dapat dipilih pengobatan non operatif atau operatif.
Pengobatan non operatif dilakukan skeletal traksi. Yang sering digunakan ialah
metode Perkin dan metode balance skeletal traction. Pada metode Perkin digunakan apabila
fasilitas peralatan terbatas. Alat yang diperlukan adalah:
Steinman pin
Tali
Beban katrol
Pemderita tidur terlentang. 1-2 jari di bawah tuberositas tibia, dibor dengan steinman pin,
dipasang staple, ditarik dengan tali. Paha ditopang dengan 3-4 bantal. Tarikan dipertahankan
sampai 12 minggu lebih sampai terbentuk callus yang cukup kuat. Sementara itu tungkai
bawah dapat dilatih untuk gerakan ekstensi dan fleksi.
Pada metode balance skeletal traction diperlukam alat-alat yang lebih banyak yaitu:
Thomas splint
Pearson attachment
Steiman pin
Tali
Katrol
Beban
12

Frame
Stapler
Penderita tidur terlentang 1-2 jari di bawah tuberositas tibia dibor dengan steinman pin,
dipasang stapler pada steinman pin. Paha ditopang oleh Pearson attachment. Tarikan
dipertahankan sampai 12 minggu atau lebih sampai tulangnya membentuk callus yang cukup.
Sementara itu otot-otot paha dapat dilatih secara aktif. Kadang-kadang untuk mempersingkat
watu rawat, setelah ditraksi 8 minggu, kemudian dipasang gips hemispica atau cast bracing.
Untuk tindakan operatif pada fraktur femur 1/3 tengah sangat baik untuk dipasang
intramedullary nail. Terdapat bermacam-macam intermedullary nail untuk femur,
diantaranya:
Kuntscher nail
Sneider nail
Ao nail
Diantara ke 3 nail tersebut yang paling terkenal adalah Kuntscher nail. Pemasangan
intramedullary nail dapat dilakukan secara terbuka dan tertutup. Cara terbuka yaitu dengan
menyayat kulit-fascia sampai ke tulang yang patah. Pen dipasang secara retrograde. Cara
tertutup: tanpa menyayat di daerah yang patah. Pen dimasukan melalui ujung trochanter
mayor dengan bantuan image intersifier (C.arm). Tulang dapat direposisi dan pen dapat
masuk ke dalam fragmen bagian distal. Keuntungannya adalah tidak menimbulkan bekas
sayatan lebar dan perdarahan terbatas.
Indikasi dilakukan tindakan operatif adalah:
Penanggulangan non operatif gagal,
Multiple fraktur,
Robeknya arteri femoralis,
Patologic fraktur,
Orang-orang tua.1,5
Komplikasi
a) Perdarahan dapat menimbulkan kolaps kardiovaskuler. Hal ini dapat dikoreksi
dengan transfusi darah yang memadai.
13

b) Infeksi terutama jika luka terkontaminasi dan debridemen tidak memadai.


c) Non-union lazim terjadi pada fraktur pertengahan batang femur, trauma kecepatan
tinggi dan fraktur dengan interposisi jaringan lunak di antara fragmen. Fraktur yang
tidak menyatu memerlukan bone grafting dan fiksasi interna.
d) Malunion disebabkan oleh abduktor dan adduktor yang bekerja tanpa aksi
antagonis pada fragmen atas untuk abduktor dan fragmen distal untuk adduktor.
Deformitas varus diakibatkan oleh kombinasi gaya ini.
e) Trauma arteri dan saraf jarang, tetapi mungkin terjadi.10
Prognosis
Pada kasus fraktur, prognosisnya bergantung dari tingkat keparahan serta tata laksana
dari tim medis terhadap pasien dengan korban fraktur. Jika penanganannya cepat, maka
prognosisnya akan lebih baik. Begitu juga sebaliknya. Sedangkan dari tingkat keparahan, jika
fraktur yang di alami ringan, maka proses penyembuhan akan berlangsung dengan cepat
dengan prognosis yang baik. Tapi jikalau pada kasus yang berat prognosisnya juga akan
buruk.bahkan jikalau parah, tindakan yang dapat di ambil adalah cacat fisik hingga amputasi.
Selain itu penderita dengan usia yang lebih muda akan lebih bagus prognosisnya di banding
penderita dengan usia lanjut.3
Kesimpulan
Pasien mengalami fraktur pada batang femur yang disebabkan oleh karena trauma
dengan adanya nyeri, deformitas, gerakan tungkai yang terbatas, terdapat memar, tidak dapat
berdiri dan sakit saat mengangkat paha.
Daftar Pustaka
1. Sjamsuhidajat R, Jong WD. Buku ajar ilmu bedah, edisi 2. Jakarta: EGC; 2004.h.84065.
2. Price SA, Wilson LM. Patofisiologo volume 2, edisi 6. Jakarta: EGC; 2005.h.1365.
3. Scribd. Macam-macam fraktur dan manajemennya. 2008. Diunduh dari:
http://www.scribd.com/doc/30287504/Fraktur-Femur. 17 Maret 2012.
4. Scribd. Fraktur. 2008. Diunduh dari:
http://www.scribd.com/doc/20058202/FRAKTUR. 17 Maret 2012.
5. Reksoprodjo S, Pusponegoro AD, Kartono D, Hutagalung EU, Sumardi R, Luthfia C,
et.all. Kumpulan kuliah ilmu bedah. Jakarta: FKUI; 2008.h.537-46.
14

6. Underwood JCE, Cross SS. General and sywtematic of pathology. 5th ed. Edinburg:
Elsevier; 2009.h.85-7.
7. Rasjad C. Buku pengantar ilmu bedah ortopedi edisi 3. Makassar: Yarsif Watampone;
2007.h.352-489.
8. Scribd. Penanganan patah tulang. 8 Januari 2008. Diunduh dari:
http://www.scribd.com/doc/51580405/PENANGANAN-PATAH-TULANG. 17
Maret 2012.
9. Kumar V, Abbas AK, Fausto N. Robbins & cotran pathologic basis of disease, 7 th ed.
Jakarta: EGC; 2009.h.1313.
10. Djuwantoro

D.

Fraktur

batang

femur.

2008.

Diunduh

dari:

http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/16FrakturBatangFemur120.pdf/16FrakturBatan
gFemur120.html. 17 Maret 2012.

15