Anda di halaman 1dari 8

MENEGAKKAN MAKNA DEMOKRASI

Ketika belenggu otoriterisme Orde Baru terpatahkan teriakan demokrasi


menggema bagaikan mantra yang dapat melegitimasi apa saja. Dan dengan
berbekal kekuatan yang terkandung dalam kata demokrasi tersebut lahirlah
berbagai gerakan yang menghujat apapun yang dianggap sebagai symbol
kemapanan (establishment) dan tampillah sejumlah orang yang menobatkan
dirinya sebagai elite, baik yang ada didalam suprastruktur maupun di
luarnya, bergerak untuk memenuhi kepentingan subyektifnya.
Ditengah gema demokrasi itu, justru rakyat dalam keadaan tidak berdaya
sebagai akibat dari penindasan yang dilakukan oleh Orge Baru. Selama lebih
dari tiga puluh tahun rakyat tidak pernah diberi kesempatan
untuk berdiri sebagai subyek dalam penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan
bernegara, tetapi selalu ditempatkan sebagai obyek yang dieksploitasi atau
ditindas oleh kekuasaan. Kalaupun nampak ada
peran pada masa itu, yang terjadi bukanlah suatu partisipasi melainkan
mobilisasi. Antara partisipasi dengan mobilisasi terkandung makna yang
bertolak belakang. Kalau partisipasi merupakan aktivitas yang lahir dari
kesadarannya sebagai sebuah subyek, mobilisasi adalah aktivitas yang timbul
karena digerakkan dari as dengan menggunakan kekuasaannya. Contoh bentuk
artificial yang paling nyata adalah pada saat kita menyaksikan acara yang
disebut temu wicara, yang merupakan karya besar Harmoko.
Pada saat rakyat ditekan keberadaannya, sejumlah pengusaha mendapat berbagai
fasilitas sehingga melahirkan konglomerat yang menjadi kroni penguasa.
Kesadaran politik rakyat dimatikan. Rakyat didepolitisasi melalui floating
mass, dan lahirlah floating leader yang oportunistik. Bersamaan dengan itu
diekembangkanlah pragmatisme dan pola hidup hedonistic yang mengakibatkan
tumbuh suburnya demoralisasi. Maka merebaklah KKN di semua tingkatan
birokrasi. Dan penindasan terhadap rakyatpun berjalan dengan efektif.
Dalam keadaan seperti itu terjadilah perubahan yang disebut reformasi.
Rakyat yang tidak berdaya, tidak terorgansasi dan dengan kesadaran
politiknya yang telah tertekan ke titik nadir hanya bias terperanga
menyaksikan perubahan. Yang ada hanyalah luapan harapan akan terjadinya
perubahan yang akan memperbaiki nasibnya. Maka berbondong-bondonglah mereka
untuk memberi dukungan kepada yang
dianggap akan memperjuangkan harapan mereka. Situasi demikian itulah yang
dimanfaatkan dengan tangkasnya oleh floating leaders dan mereka yang
menyebut dirinya elite untuk memburu kekuasaan dan kerejekian dengan slogan
demokrasi.
Kesengajaan yang tercipta sejak Orde Baru tetap terbawa pada era
reformasi. Elit dan rakyat bergerak sendiri-sendiri tanpa kesamaan
orientasi. Kalau dikalangan elite terjadi saling hujat dengan selubung

demokrasi tanpa memperdulikan nasib rakyat yang semakin terpuruk, rakyat


yang merasa tidak tersalurkan aspirasinya melalui institusi yang ada
melampiaskan kekecewaannya dan kemarahannya dengan caranya sendiri. Maka
terjadilah situasi anarkis yang bukan sekedar merupakan ekses dari
demokrasi, tetapi jelas merupakan penyimpangan dari makna demokrasi. Kalau
rakyat terjebak ke dalam keberingasan fisik, para elite masuk ke dalam
keberingasan kata dan manuver politik. Bahkan telah dilakukan pula
pembongkaran konstitusi yang dianggap menghambat kepentingan mereka.
Pemanfaatan demokrasi sebagai kata yang bermantra tanpa pemahaman dan
penghayatan atas makna yang ada di dalamnya ternyata telah melahirkan
berbagai tindakan yang tidak dilandasi etika dan
moralitas, dan baru kemudian muncul beberapa orang yang bagaikan tersentak
ketika menyadari bahwa keadaan telah sedemikian runyam, lalu meneriakkan
bahwa demokrasi telah kebablasa, demokrasi telah keluar dari relnya.
Demokrasi yang oleh sejumlah elite dimaknakan secara dangkal sekedar sebagai
pluralisme dan perbedaan telah membakar suasasana menjadi semakain panas.
Nafsu berkuasa dan perseteruan sejumlah elite telah merembes ke bawah, dan
terjadilah konflik horisobntal baik di kalangan atas maupun di kalngan
bahwa. Yang nampak dihadapan kita, memang telah terjadi pergulatan anarkis
antar kelompok, baik yang bernuansa suku, agama, ras maupun antar golongan
(SARA) dan juga eksklusivisme kedaerahah. Situasi carut marut itu nampaknya
memang didorong dan sekaligus dimanfaatkan secara licik oleh berbagai pihak
untuk memenuhi kepentingan subyektif masing-masing :
a. kaum separatis;
b. mereka yang kecewa karena kehilangan hegemoni dan ingin menyelematkan
diri dari tuntutan hukum dan politik atas dosa-dosanya selama memegang
otoritasw yang diselewengkannya pada masa orde baru;
c. mereka yang ingin segera merbut kekuasaan yang telah didambakannya sejak
dicanangkannya Proklamsi Kemerdekaan;
d. dan jangan dilupakan : kapitalisme internasional yang menginginkan agar
Indonesi terus semakin lemah sehingga semakin tergantung kepada
bantuan-nya. Inilah yang disebut nekolim (neo-kolonialisme).
Keadaan benar-benar telah mencemaskan dan sangat membahayakan bagi kehidupan
berbangsa dan bernegara. Adalah sangat keterlaluan kalau para elite tidak
merasa tersentuh oleh keadaan yang terus memburuk itu, kecuali kalau mereka
justru berkepentingan atas berkembangnya situasi tersebut.
MAKNA DEMOKRASI

Kalau keadaan yang demikian itu yang dimaksud sebagai wujud demokrasi, makna
betapa mengerikannya demokrasi itu. Apakah fakta yang demikiran itu tidak
cukup membuktkan bahwa pemaknaan demokrasi sekedar sebagai kebebasan,
perbedaan dan pluralisme merupakan pengertian yang sesat? Apakah
sesungguhnya yang mereka cari ? Sekedar kebebasan dan kepuasan pribadinya
atau kesejahteraan rakyat secara keseluruhan ?
Rasanya keprihatinan dalam menghadapi situasi tersebut mendorong kita untuk
kembali mencari makna yang sesungguhnya dari demokrasi. Namun harus kita
sadari terlebih dahulu, bahwa demokrasi bukanlah suatu tujuah. Demokrasi
adalah sekedar suatu alat, suatu cara untuk mencapai tujuan, yaitu
kesejahteraan bersama.
Kalau kita mencari makna substansial demokrasi yang berasal dari kata demos
dan kratos yang berarti kekuasan rakyat, maka jelas sekali bahwa demokrasi
tidak hanya mengandung arti kebebasan, tetapi adalah tegaknya kedaulatan
rakyat. Dan kedaulatan rakyat itu bisa ditegakkan hanya apabila pemberdayaan
rakyat dalam semua aspek kehidupan sosialnya, baik politik, ekonomi maupun
kebudayaan dapat dilaksanakan secara optimal. Substansi demokrasi adalah
terwujudnya asas kesederajadan dan kebersamaan. Oleh karena itu ketika kita
berbicara tentang demokrasi, maka pada saat itu kita harus berbicara tentang
keadilan, dan semua itu diselenggarakan dalam ketertiban/keteraturan. Dengan
demikian untuk dapat melaksanakan demokrasi harus dibarengi
dengan penegakan supremasi hokum. Demokrsi tanpa keadilan adalah
pengingkaran terhadap demokrasi. Demokrasi tanpa supremasi hukum hanya akan
melahirkan anarki.
Untuk mencari bentuk demokrasi yang benar-benar merupakan perwujudan dari
keberdayaan dan kedaulatan rakyat, kiranya kita juga perlu belajar dari
sejarah.
Pengamatan pahit pernah dialami Indonesia ketika pada decade 50-an menagnut
demokrasi liberal dengan melaksanakan system pemerintahan parlementer. Yang
terjadi pada dekadie itu adalah serunya perghulatan antara kekautan plitik
yang tak kunjung selesai karena menonjolnya kepentingan kelompok/golongan,
yang justeru memberi peluang bagi terjadinya gerakan militer dalam peristiwa
17 Oktober yang dipimpin oleh Nasution. Stabilitas nasional yang merupakan
kondisi yang diperlukan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat tidak pernah
tercipta karena negara disibukkan dengan jatuh bangunnya kabinet dan
meletusnya berbagai pembentonkan : DI/TII, PRRI dan Permesta, dan juga
berbagai usaha pembunuhan terhadap Presiden Soekarno. Rakyat tetap dalam
ketidakberdayaan dan juga tidak berdaulat.
Sesungguhnya Ideologi dan dasar negara Indonesia, Pancasila, telah
memberikan rumusan yang jelas mengenai demokrasi. Sila keempat Pancasila

menyebutkan : kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat


kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwa-kilan.
Dari rumusan tersebut jelas bahwa demokrasi Indonesia adalah demokrasi
terpimpin. Tetapi terpimpin dalam hal ini tidak berarti dipimpin oleh
orang , melainkan dipimpin oleh kebijaksanaan yang telah
dimufakati dalam permusyawaratan melalui perwakilan. Kalaupun dalam hai ini
tampil seseorang untuk memimpin, dia hanya sebagai pelaksana dari sebuah
kebijaksanaan yang telah ditetapkan bersama.
Ibaratnya dia adalah seorang conductor hanya mempimpin pelaksanaan dari
sebuah partitur dan tidak boleh menyimpang dari partitur yang ada.
Di depan Sidang Umum PBB, melalui pidato legendarisnya yang berjudul To
Build the World Anew Bung Karno menegaskan : Bagi kami bangsa Indonesia,
demokrasi mengandung tiga unsure yang pokok.
Demokrasi mengandung pertama-tama prinsip yang kami sebut mufakat, yakni :
kebulatan pendapata. Kedua, demokrasi mengandung prinsip perwakilan.
Akhirnya demokrasi mengandung ketiga prinsip itu,
yakni : mufakat, perwakilan dan musyawarah antara wakil-wakil.
Dengan demikian jelas sekali bahwa demokrasi terpimpin bukanlah suatu bentuk
kediktatoran seperti yang dituduhkan orang, tetapi demokrasi yang dipimpin
oleh hasil permufakatan dari musyawarah yang
dilaksanakan oleh wakil-wakil. Hal ini juga menunjukkan bahwa demokrasi
terpimpin juga tidak menolak adanya perbedaan atau pluralisme, tetapi
perbedaan pluralisme itu bukan untuk dipertahankan sebagai perbedan,
melainkan dimusyawarahkan untuk melahirkan permufakatan. Permufakatan adalah
pengintegrasian berbagai pendapat yang berbeda, dan hasil pengintegrasian
itulah yang akan menjadi
acuan dalam kehidupan bersama tersebut. Harus disadari bahwa dalam alam
demokrsi banyak terjadi konflik. Tetapi konflik itu akan menjadi sangat
berguna apabila dapat diselesaikan melalui integrasi.
Kiranya kita memahami bahaw perbedaan pendapat diantara pimpinan bukanlah
utnuk diobral ke tengah publik karena tidak akan melahirkan penyelesaian,
tetapi justru akan menimbulkan berbagai ekses yang
tidak menguntungkan. Bagi yang bersangkutan sendiri, kalau perbedaan itu
terus diobral atau dikampanyekan kemana-mana, paling banter yang diperloeh
adalah popularitas konyol. Celakanya, memang ada sejumlah elite yang merasa
dirinya sebagai jagoan kalau dia bias meneriakkan sesuatu yang berbeda
dengan lantang. Nampaknya salah satu gejala dalam periode transisi adalah
usaha aktualisasi diri terutama dari mereka yang beraliran floating mass,
apalagi yang berjiwa pragmatis. Namun harus disadari, bahwa yang dibutuhkan
oleh rakyat bukanlah perbedaan, tetapi adanya kesatuan arah dan tindakan di
tengah pluralitas yang ada dalam mencapai kepentinga dan cita-cita bersama.

Di sinilah dituntut adanya kesadaran kolektif, terutam di kalangan elite


yang pada dasarnya adalahkader floating mass dan berjiwa pragmatis, yang
selama ini lebih mengedepankan perbedaan dengan selubung demokrasi.
Kenyataannya mereka tidak melaksanakan demokrasi, tetapi justru melakukan
politic-king sekedar kuntuk memenuhi kepentingan pribadi atau kelompoknya.
Dan ulah yang demikian itulah yang membelah rakyat yang sesungguhnyak satu.l
Rakyat adalah satu komunitas besar yang menuntut terwujudnya kemerdekaan dan
keadilan, kesederajadan dan kebersamaan! Inilah yang tidak boleh diingkari
oleh siapapun juga.
MEKANISME DEMOKRASI
Untuk mengakomodasi aspirasi rakyat, tidaklah mungkin negara menampung
kehendak orang per orang secara satu persatu. Oleh karena itu perlu diatur
mekanisme untuk menyalurkan aspirasi rakyat itu agar dapat menjadi sebuah
kesepakatan yang merupakan dasar dan acuan bersama dalam menata kehidupan
berbangsa dan bernegara ini . Dalam hal ini perundang-undangan kita telah
mengatur adanya lembaga-lembaga yang merupakan saluran aspirasi rakyat,
yaitu :
1.Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang terdiri dari wakil-wakil partai hasil
pemilu (untuk saat ini masih ditambah wakil dari TNI dan POLRI). Fungsi DPR
antara lain : mengawasi jalannya permerintahan, mengesahkan APBN, bersama
pemrintah menetapkan perundang-udangan;
2.Majelis Permusyawaratah Rakyat (MPR) yang terdiri dari anggota DPR
ditambah Utusan Daerah dan utusan Golongan, Fungsi MPR adalah menyusun Garis
Besar Halaun Negara (GBHN), kemudian memilih Presiden dan Wakil Presiden
untuk melaksanakan GBHN.
Dari susunan ini jelaslah bagaimana mekanisme demokrasi itu dilaksanakan.
Asprirasi rakyat disalurkan melalui Partai, Daerah atau Golongan
masing-masing untuk dimusyawarahkan di MPR menjadi GBHN.
Presiden adalah lembaga yang menerima mandat untuk melaksanakan permufakatan
yang merupakan hasil musyawarah wakil-wail rakyat. Tatanan pelaksanaannya
disusun bersma wakil-wakil rakyat yang di
DPR, demikiran pula pengawaswannya. Melalui mekanisme tersebut berarti
berbagai perbedaan yang ada telah terakomodasi di dalamnya. Dalam mekanisme
ini tentu saja dituntut kesungguhan semua pihak dalam membawakan aspirasi
rakyat yang diwakilainya, serta kejujuran dan ketulusan pelaksanannya.
Dengan menarik pengertian bahwa tujuan utama demokrasi adalah
mengakomodasikan aspirasi rakyat secara optimal, atau dengan kata lain
menegakkan keberdayaan dan kedaulatan rakyat, maka demokrasi terpimpin
sebagaimana dirumuskan dalam Pancasila adalah demokrasi yang paling ilmiah
(alamiah) dan paling modern. Masalahnya adalah sejauh mana masing-masing
pihak memegang kesungguhan, kejujuran dan ketulusan dalam mekanisme itu.

Dalam hal ini iktikad baik, etika dan moralitas memegang peranan yang sangan
penting. Hal-hal yang mendasar inilah rupanya tidak dimiliki oleh sejumlah
politisi pada dewasa ini.
Dalam model demokrasi tersebut, hanya Partai yang secara konsekuen dan
konsisten mengemban amanat rakyat yang akan mendapat dukungan rakyat secara
riil. Dan pada ujungnya, negara akan ditopang oleh tiang utama yaitu,sebuah
Partai besar dan solid, yang hidup dan berkembang bersama
aspirasi rakyat, Tetapi harus dipahami, bahwa tumbuhnya kekuatan
sosial-politik yang kokoh di dalam sebuah negara merupakan kondisi yang
sangat tidak disukai oleh kapitalisme internasional (nekolim),
karena kekuatan yang demikian pastilah tidak mudah untuk dijerat ke dalam
cengkeramannya. Oleh karena itu nekolim akan terus berusaha untuk
merongrongnya.
DEMOKRASI AMBURADUL
Dewasa ini telah berjalan gerakan untuk merubah system pemerintahan dari
presidesiil menjadi parlementer tanpa mau melihat realitas sejarah bahwa
demokrasi parlementer hanya bisa mendatangkan
bencana dan kekacauan. Langkah-langkah untuk menghidupkan kembali demokrasi
liberal parlementer itu nampaknya memang sudah dipersiapkan sejak awal
timbulnya gerakan reformasi.
Ketika terbuka peluang untuk membentuk pemerintahan baru setelah posisi Orde
Baru sebagai rezim semakin lemah, menyerualkah berbagai kepentingan, baik
pribadi, kelompok maupun golongan untuk berebut guan berburu kekuasaan dan
kerejekian. Semuanya meneriakkan demi reformasi dan demokrasi.
Bahkan elemen-elemen Orba pun ikut meneriakkan eforia itu, dalam rangka
mencari jalan untuk menyelamatkan diri.
Dalam situasi yang demikianlah lahir begitu banyak Partai, dan banyak
diantaranya yang dimanfaatkan atau memang merupakan proyek para petualang,
untuk memenuhi kepentingan pribadi atau kelompoknya. Di lain pihak, UU
Pemilu yang dibuat oleh Orba (prodik Habibie) adalah UU yang sarat dengan
keculasan dan diskriminasi. Melalui konsep orang mewakili ruang, telah
terjadi perbedaan derajad antar warga negara. Dan itulah politic-king dari
Orba bersama konspiratornya agar bias mendapatkan kursi sebagnya-banyaknya,
karena mereka menyadari bahwa kemampuannya untuk memanipulasi informasi,
mengintimidasi dan mempraktekkan money politic hanya akan efektif untuk
mendapatkan
suara kalau diterapkan di daerah-daerah pinggiran/pedalaman yang jarang
penduduk.
Mereka menyadari sepenuhnya bahwa sesungguhnya mereka tidak
memilikidukungan massa yang riil sedara nasional, tetapi mereka memiliki

kelompok-kelompok kecil di banyak daerah. Oleh karena


itu, bagi mereka, semakin banyak pemecahan administrasi pemerintahan
terutama di wilayah yang jaerang penduduk akan lebih menguntungkan. Dengan
demikian mereka akan dapat mengimbangi
perolehan suara Partai yang memiliki massa besar secara nasional yang akan
banyak kehilangan sisa suara karena terpecah-pecah.
Berdasarkan pola piker itulah sekarang dikembangkangagasan untuk membentuk
Dewan Pewakilan Daerah (disamping DPR), Pemilu distrik dan Pemilihan
Presiden secara langsung, yang pada dasarnya akan mematikan mekanisme
demokrasi melalui Partai. Dengan dukungan dananya yang besar, mereka akan
mencari popularitas secara individual dan melaksanakan money politic, gaya
kaum borjuis di negara-negara kapitalis.
Sejarah telah membuktikan bahwa demokrasi libaeral parlementer telah
menimbulkan berbagai bencana dan kesengsaraan. Kini meskipundemokrasi
parlementer belum dilaksanakan tetapi langkah persiapannya telah dimulai
dengan dilakukannya kudeta sistematis oleh legislative terhadap eksekutif,
keadaan teus berkembang menjadi buruk menuju situasi stagnan chaostik.
Meskipun demikian, nampaknya mereka akan tetap ngotot untuk memperjuangkan
terlaksananya demokrasi liberal parlementer tanpa mempedulikan realitas
sejarah maupun yang ada di hadapan mata pada saat ini. Dengan sekuat tenaga
mereka akan menolak dilaksanakannya demokrasi sebagaimana telah dirumuskan
dalam Pancasila yang sangat tidak disukai oleh kapitalisme internasional
(nekolim).
Pertanyaannya yang kemudian timbul adalah, untuk siapakah sesungguhnya
mereka bekerja dengan dananya yang bergitu besar ?!
KEMBALKAN SEMUANYA KEPADA SUSTANSI DEMOKRASI
Kalau kita memang benar-benar ingin membangun negeri ini dengan menegakkan
demokrasi secara sungguh-sungguh agar kesejahteraan rakyat segera dapat
terwujud, maka pikiran-pikiran culas dalam berbagai manuver dan trick
politik yang hanya berorientai kepada kepentingan pribadi, kelompok, daerah
atau golongan (SARA), apalagi mengikuti kepentingan nekolim harus segera
dihilangkan. Marilah dalam melaksanakan demokrasikita kembali kepda semangat
Proklamsi Kemerdekaan yangmencita-citakan berdirinya negara bangsa (nation
state) yang berkedaulatan rakyat. Untuk itu segala langkah ke depan
harus didasarkan kepada prinsip-prinsip negara bangsa dan demokrasi yang
telah disepakati bersama :
1.Indonesia adalah Negra Kesatuan;

2.Setiap warga negara mempunyai kedudukan dan kewajiban yang sama


(sederajad) di depan hokum dan pemerintahan, olehkarena itu tidak boleh ada
diskriminasi dengan dasar keculasan;
3.Dalam embangun pemerintahan negara, rakyat tidak hanya berkepentingan
untuk memilih Presiden atau orang utnuk menempati posisik wakil, tatapi yang
lebih penting adalah mewujudkan aspirasi dan kedaulatannya. Oleh karena itu
diperlukan instrumen yang dapat menyalurkannya dengan sehat, saluran
tersebut adalah saluran yang terorganisir, terdiri dari Partai, Daerah dan
Golongan.
4.Prinsip demokrasi adalah tegaknya keberdayaan dan kedaulatan rakyat.
Indonesia menganut demokrasi yang telah dirumuskan dalam sila keempat dari
Pancasila, yang mengandung tiga prinsip : mufakat, perwakilan dan musyawarah
antara wakil-wakil; Pancasila adalah ideologi dan dasar negara yang harus
tetap menjadi pedoman.
Dengan berpijak pada prinsip-prinsip tersebut di atas, demokrasi baru akan
bias ditegakkan untuk menopang terwujudnya kesejahteraan rakyat. Disamping
itu, demokrasi harus dilaksanakan dalam keteraturan dan ketertiban. Oleh
karena itulah dalam menegakkan demokrsi harus dilaksanakan secara bersamaan
dengan ditegakkannya keadilan sosial dan supremasi hukum. Demokrasi tanpa
hukum akan mendatangkan kekacauan. Dan sumber hukum kita sudah jelas, yaitu
Pancasila dan UUD 1945. Oleh karena di tubuh Partai-partai pada dewasa ini
masih bercokol para oportunis dan unsur-unsur anti demokrasi, maka yang
terlebih dulu harus dilakukan adalah demokratisasi di tubuh Partai.****
Republish :
10 Nopember 2001
Jakarta,
24 Februari 2001