Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM

BINET

Dosen Pengampu : Eka Priani Harmiati, M,Si

Oleh : Abdul Hafidz Ahmad (201110230311355)


Kelas F

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2012

KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa penulis panjatkan atas rahmat dan hidayah dari
Allah SWT, yang telah memberikan kami kemampuan dan kekuatan untuk
menyelesaikan laporan ini. Adapun laporan ini kami tulis dengan tujuan sebagai
tugas praktikum mata kuliah Assessmen Kecerdasan ini.
Tidak lupa pula penulis ucapkan terimakasih kepada para asisten
laboratorium mata kuliah Interview yang telah membimbing penulis dalam
menyelesaikan praktikum Interview ini dalam berbagai hal teknis maupun non
teknis.
Dalam pengerjaan laporan ini penulis sadari bahwa banyak sekali
kekurangan dan kesalahan dalam pengerjaannya, oleh karena itu penulis
meminta beribu-ribu maaf dan penulis berharap kritik dan saran yang mampu
memotifasi sehingga dalam membuat laporan lebih baik lagi di kemudian hari.

Malang, November 2012

Abdul Hafidz Ahmad

BAB I

1.1.

Sejarah

Alfred Binet (1857-1911) merupakan salah satu pelopor dalam


pengukuran inteligensi, seorang ahli psikologi berkebangsaan Perancis yang
berpendapat bahwa inteligensi bersifat monogenetik, yaitu berkembang dari
satu faktor satuan atau faktor umum (g) (Azwar, 2006). Sejak tahun 1904,
Binet dan Henri telah memikirkan untuk mengembangkan metode obyektif
guna menyeleksi anak-anak yang lambat mental, karena mereka dianggap
memerlukan bantuan khusus dalam proses pendidikan. Keduanya menulis
serangkaian karangan dalam LAnnee Psychologique.
Binet tidak memiliki teori inteligensi tertentu, tetapi ia bekerja di bidang
tes-tes yang menunjukkan sampel tingkah laku anak dan membedakan
kemampuan dari tingkat umur yang berbeda beda. Binet menemukan fakta
bahwa pada setiap tingkat umur beberapa anak lebih baik dari anak lainnya.
Anak yang paling pandai dalam tes disebut bright (pandai, cemerlang),
sedangkan anak yang paling rendah dalam tes disebutnya miskin. Menurut
Binet, inteligensi merupakan sisi tunggal dari karakteristik yang terus
berrkembang sejalan dengan proses kematangan seseorang (Azwar, 2006).
Binet mendasarkan tesnya pada perbandingan anak tertentu dengan
kelompok umur anak tersebut. Seorang anak yang berada di atas rata-rata
dalam hal inteligensi dapat menjawab pertanyaan lebih banyak dari rata-rata
anak dari kelompok umurnya. Apabila ia dapat mengerjakan/menjawab
pertanyaan sama dengan kelompok umurnya maka ia dianggap memiliki
inteligensi rata-rata. Anak yang performancenya di bawah rata rata dari
kelompok umurnya maka ia dianggap memiliki inteligensi di bawah rata rata.

Dari paparan di atas nampak bahwa Binet menggunakan umur mental


sebagai dasar untuk menentukan tingkat berfungsinya mental seorang anak.
Seorang anak dapat memiliki umur 10 tahun, tetapi ia memiliki umur mental
11 tahun jika ia dapat menjawab pertanyaan yang dapat dijawab oleh
kelompok anak yang berumur 11 tahun.
Di Amerika, tes Binet ini telah dikembangkan oleh Lewis Terman dari
Universitas Stanford dan diberi nama Tes Stanford Binet. Tes ini dapat
digunakan untuk semua anak yang mempunyai latar belakang berbeda beda.
Tes ini biasa disebut kemampuan untuk memikirkan hal hal abstrak.
Definisinya digunakan untuk dasar penyusunan item item tes.
Perkembangan :
Tahun 1905

Binet mendapatkan tugas dari pemerintahan untuk mendeteksi anakanak yang memiliki kecerdasan terbelakang.

Binet berasumsi bahwa kecerdasan dapat diukur melalui tugas-tugas


yang menggunakan penalaran dan pemecahan masalah bukan pada
ketrampilan motorik (fisik)

Binet dalam melakukan tugasnya bekerja sama dengan ahli psikologi


prancis theodore Simon menerbitkan skala Binet-Simon yg pertama.

Terdiri dari 30 masalah/tes yg diatur dlm urutan tgkt kesulitan yg


makin tinggi:

Pada revisi ini hanya digunakan untuk kelompok Umur 3, 5, 7, 9, dan


11.

Tahun 1908

Jumlah tes ditingkatkan mjdi 58 soal, sejumlah tes yg tidak


memuaskan dr tes terdahulu dihapus.

Semua tes dikelompokkan ke dalam tingkatan umur atas dasar


kinerja dari 300 anak normal berusia antara 3-13 tahun.

Skor anak pd seluruh tes bisa dirumuskan sbg tingkat mental yg


berhubungan dg usia anak-anak normal yg kinerjanya ia samai.
Artinya pd leveel 3 tahun ditempatkan semua tes yg sudah dilaui oleh
80-90% anak-anak berumur 3 th begitupula selanjutnya
Tahun 1911

Revisi ketiga, dilakukan bersamaan dg meninggalnya Binet. Dalam


skala ini tidak dilakukan perubahan yang fundamental, tapi hanya
revisi kecil dan relakasi atas tes-tes khusus. Lebih banyak tes
ditambahkan pd level beberapa tahun dan skala ini diperluas sampai
pada level orang dewasa
Revisi-revisi
Tahun 1916

Revisi pertama dilakukan oleh Terman adalah menambah kecermatan


skala secara psikometri.

Item tes disusun berdasarkan tingkat kesukaran dan tingkat umur.

Skor dinyatakan dalam umur mental age (MA)

Dalam tes inilah konsep IQ muncul dan digunakan untuk yg pertama


kalinya.

Revisi pada tahun terdiri dari 90 Item, hal ini memperkenalkan begitu
banyak perubahan dan tambahan shg sungguh-sungguh menampilkan
suatu tes baru

Standardisasinya menggunakan sample 1000 anak dan 400 orang


dewasa
Tahun 1937

Revisi Stanford kedua, oleh Terman bekerja sama dengan Maud A.


Merrill. Jalan pemikirannya didasarkan pada :
-

Kritik masih adanya kekeliruan pengertian mengenai prosedur


yang digunakan untuk pengembangan suatu skala kecerdasan.

Karena penggunaan yang populer banyak di salah gunakan bahwa


IQ Sama dengan kecerdasan.

Revisi pada tahun ini menyediakan dua bentuk paralel yaitu bentuk L
& M. Masing-masing bentuk terdiri dari 129 tes atau item
Tahun 1960

Revisi Stanford ketiga, menyediakan suatu bentuk tunggal (L-M) yang


memuat soal-soal terbaik dari kedua bentuk tahun 1937
Pada tahun ini merevisi soal-soal bergambar yang tidak mempengarui
gaya pakaian hal ini berlaku juga pada mobil dan perlengkapan
rumah tangga

1.2.

Teori Mengenai Binet


Menurut Alfred Binet & Theodore Simon, inteligensi terdiri dari tiga
komponen, yaitu kemampuan untuk mengarahkan pikiran atau tindakan,
kemampuan untuk mengubah arah tindakan bila tindakan itu telah
dilaksanakan, dan kemampuan untuk mengritik diri sendiri (autocriticism).
Salah satu reaksi atas teori yang dikembangkan oleh Binet adalah bahwa
aspek yang diukur dalam tes yang berbasis teori Binet itu terlalu umum.
Seorang ahli psikologi dan psikometri, Charles Spearman mengemukakan
bahwa inteligensi tidak hanya terdiri dari satu faktor yang umum saja
(General factor), tetapi juga terdiri dari faktor-faktor yang lebih spesifik.
Teori ini disebut teori dua faktor (Two Factor Theory of Intelligence) yang
telah dibahas pada artikel sebelumnya (Perkembangan Teori Inteligensi (1)).
Alat tes yang kemmudian dikembangkan menurut teori faktor ini adalah
WAIS (Wechsler Adult Intelligence Scale) untuk orang dewasa, dan WISC
(Wechsler Intelligence Scale for Children) untuk anak-anak.
Sejarah

menuliskan bahwa Binet merupakan seorang pemancang

tonggak awal perkembangan tes-tes inteligensi modern di seluruh dunia.


Binet membuat alat yang dirancang untuk mengukur ketajaman bayanganm
ketahanan, kualitas perhatian, ingatan, kualitas penilaian moral dan estetika,
serta kecakapan menemukan kesalahan logika serta memahami kalimatkalimat yang termasuk dalam komponen-komponen umum berupa Arah,
Adaptasi, dan Kritik dalam definisi inteligensi. Temuanya inilah yang menjadi
dasar teori yang berkembang hingga menjadi faktor ganda.

1.3.

Klasifikasi IQ
Klasifikasi IQ menurut L.M. Terman dan Maud A. Merrill

140

Very Superior

120 - 139

Superior

110 - 119

High Average

90 - 109

Average

80 - 89

Low Average

70 - 79

Borderline Defective

69

Mentally Defective

BAB II

2.1. Identitas Testee

1. Nama

: Rizky Firmansyah

2. Tanggal Lahir

: 23 Maret 2007

3. Alamat

: Jl. Keramat No. 14 Tulakan Kepanjen

4. Pendidikan

: TK-B RA. Qurrata Ayun Kepanjen

2.2. Hasil Tes

CA (Calender Academic)

Tahun

Bulan

Tanggal

Tanggal Tes

2012

10

30

Tanggal Lahir

2007

03

27

07

03

CA = 5 Tahun 7 Bulan
= (5 x 12 Bulan) + 7 Bulan
= 60 + 7 Bulan
= 67 Bulan

MA (Mental Age)
MA = Basal + Kredit Skor
= (4.5 x 12) +Kredit Skor
= 54 + 26
= 80

IQ (Intelligence Quotient)

IQ =
=
= 119
2.3. Lembar Observasi
Subjek memakai atasan biru kotak-kotak, bercelana polo warna coklat,
mempunyai rambut pendek. Subjek terlihat antusias saat dijemput oleh tester
hingga memasuki ruangan dan duduk di tempat yang telah disediakan oleh
tester. Saat tester menyampaikan soal pertama (subtest IV-6), subjek menjawab
dengan santai dan seringkali tersenyum, ada interaksi non-verbal dari subjek.
Saat subtest-V, subjek masih terlihat antusias dan sering bercanda dengan tester,
subjek juga sering melihat ke arah luar ruangan. Saat subjek dimintai
menggambar oleh testee, subjek menggambar dengan mengangkat badannya ke
atas. Pada subtest-VI, masih terlihat interaksi pada subjek, subjek menggarukgaruk kepalanya, dan pada subtest-VIII, subjek sering bergerak di atas
bangkunya. Terlihat ketidaknyamanan dari subjek hingga subtest X, subjek sering
menanyakan beberapa item yang ada di kotak binet. Terkadang subjek meminta
kertas lipat untuk bermain dan melipat-lipatnya. Subjek juga sering bermain
dengan kotak susunya.

BAB III
3.1. Kesimpulan
Subjek bernama Rizky Firmansyah, ia berumur 5 tahun 7 bulan 3 hari pada
saat pelaksanaan tes. Dari hasil perhitungan di BAB II, diketahui subjek memiliki
nilai IQ sebesar 119, dan masuk pada kategori high average (rata-rata atas).
Pada saat pelaksanaan tes, subjek terlihat senang pada awal tes, ia mampu
menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan oleh tester, memperhatikan
instruksi dengan baik, pada saat subtest-VIII, terlihat raut wajah kebosanan dan
rasa lelah hingga berakhirnya tes, dan perhatian subjek sering terarahkan pada
hal lain.