Anda di halaman 1dari 25

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA


Kampus II Ukrida Jl. Terusan Arjuna No.6 Jakarta 11510

Judul

: HIPERTENSI DALAM KEHAMILAN

Nama/ No NIM

: Pin wijaya / 112012198

Email

: suaigepin@gmail.com

Pembimbing

: dr H Abdul Azis W

HIPERTENSI DALAM KEHAMILAN

merupakan salah satu

penyulit kehamilan dan merupakan salah satu dari trias penyebab tingginya mortalitas dan
morbiditas pada ibu bersalin selain perdarahan dan infeksi.Hal ini disebabkan selain oleh etiologi
tidak jelas, juga disebabkan oleh perawatan dalam persalinan masih banyak yang ditangani oleh non
medik.
WHO meninjau secara sistematis angka kematian ibu di seluruh dunia.Di negara-negara
maju, 16% kematian ibu disebabkan karena hipertensi.Persentase ini lebih besar dari tiga penyebab
utama lainnya yaitu perdarahan (13%), aborsi (8%) dan sepsis (2%). Di Amerika Serikat pada tahun
1991 hingga 1997, Berg dan rekan (2003) melaporkan bahwa hampir 16% dari 3200 kematian ibu
berasal dari komplikasi hipertensi yang berhubungan dengan kehamilan. Belakangan dilaporkan
bahwa lebih dari separuh kematian yang berkaitan dengan hipertensi dapat dicegah.Bagaimana
kehamilan memperburuk hipertensi tetap belum terpecahkan meskipun telah dilakukan berbagai
penelitian intensif.
Semua

ibu

hamil

memiliki

kemungkinan

untuk

mengalami

hipertensi

dalam

kehamilan.Timbulnya hipertensi pada wanita hamil yang sebelumnya normotensi harus dianggap
Page 1

berpotensi membahayakan baik dirinya maupun janinnya.Oleh itu pengetahuan tentang pengelolaan
hipertensi dalam kehamilan harus benar-benar dipahami oleh semua tenaga medik dengan baik.

DEFINISI & KLASIFIKASI1,2


Terdapat beberapa perbedaan mengenai klasifikasi hipertensi padahipertensi secara umum
dengan hipertensi dalam kehamilan.NHBPEP(National High Blood Pressure Education Working
Group Report on HighBlood Pressure in Pregnancy) memiliki klasifikasi tersendiri karena
padakehamilan, terjadi beberapa perubahan hemodinamik yang mempengaruhitekanan darah.

Tabel 1 Perbedaan Klasifikasi Kriteria Hipertensi Hamil & Tidak Hamil

Page 2

Hipertensi dalam kehamilan memiliki terminologi tersendiri. Disadur dari Report on the National
High Blood Pressure Education Program Working Group on High Blood Pressure in Pregnancy
(AJOG Vol 183 : S1, July 2000), hipertensi dalam kehamilan meliputi:

1. Hipertensi Gestasional
Didapatkan tekanandarah 140/90 mmHg untuk pertama kalinyapada kehamilan, tidak disertai
dengan proteinuria dan tekanan darahkembali normal < 12 minggu pasca persalinan.Hipertensi
gestasional terjadi sekitar 6% dari total kehamilan danseparuhnya berkembang menjadi preeklamsia
dengan

ditemukannyaproteinuria.

Diagnosis

pasti

sering dibuat

di

belakang,

Jika

tes

laboratoriumtetap normal dan tekanan darah menurun pasca melahirkan, makadiagnosisnya adalah
hipertensi gestational (sebelumnya disebuttranscient hypertension). Wanita dengan hipertensi
gestational harus dianggap beresiko terjadinya preeklamsia, yang dapat berkembangkan setiap
saat,termasuk minggu pertama pasca melahirkan. Sekitar 15% hingga 45%perempuan awalnya
didiagnosis dengan hipertensi gestational akanmengembangkan preeklamsia, dan kemungkinan lebih
besar

pada

pasienyang

memiliki

riwayat

preeklamsia

sebelumnya,

miscarriage,

dan

riwayathipertensi kehamilan sebelumnya (Davis et.al, 2007).

2. Preeklampsia
Preeklampsia adalah sindrom yang memiliki manifestasi klinis seperti new-onset hypertension pada
saat kehamilan (setelah usia kehamilan 20 minggu, tetapi biasanya mendekati hari perkiraan lahir),
berhubungan dengan proteinuria: 1+ dipstick atau 300 mg dalam 24 jam urin tampung. Sindrom ini
terjadi pada 5 - 8 % dari seluruh kehamilan.Pengobatan antihipertensi pada pasien ini bukan
ditujukan untuk menyembuhkan atau memulihkan preeklampsia. Preeklampsia dapat berkembang
secara tiba-tiba pada wanita muda, pada wanita yang sebelumnya normotensi,sehingga perlu
pencegahan gangguan kardiovaskular dan serebrovaskular sebagai konsekuensi dari berat dan
Page 3

cepatnya peningkatan tekanan darah. Hal ini adalah tujuan utama manajemen klinis yang
membutuhkan kebijaksanaan penggunaan obat antihipertensi (Levine et.al, 2004).

3. Eklampsia
Serangan konvulsi pada wanita dengan preeklampsia yang tidak dapat dihubungkan dengan sebab
lainnya disebut eklampsia.Konvulsi terjadi secara general dan dapat terlihat sebelum, selama, atau
setelah melahirkan. Pada studi terdahulu, sekitar 10% wanita eklampsia, terutama nullipara,
serangan tidak muncul hingga 48 jam setelah postpartum. Setelah perawatan prenatal bertambah
baik, banyak kasus antepartum dan intrapartum sekarang dapat dicegah, dan studi yang lebih baru
melaporkan bahwa seperempat serangan eklampsia terjadi di luar 48 jam postpartum (Cunningham,
2005).

4. Hipertensi kronik dengan superimposed preeclampsia


Timbulnya proteinuria 300 mg/ 24 jam pada wanita hamil yangsudah mengalami hipertensi
sebelumnya. Proteinuria hanya timbul setelahkehamilan 20 minggu.

5. Hipertensi kronik (preexisting hypertension)


Ditemukannya tekanan darah 140/ 90 mmHg, sebelum kehamilanatau sebelum kehamilan 20
minggu dan tidak menghilang setelah 12 minggu pasca persalinan. Wanita usia subur dengan
hipertensi esensial stage I yang tidak memiliki kerusakan organ target dan dalam kondisi kesehatan
yang baik memiliki prognosis yang baik dalam kehamilan. Walaupun terdapat peningkatan resiko
terjadi superimposed preeklampsia, akan tetapi secara fisiologi akan terjadi penurunan tekanan darah
selama kehamilan dan penurunan kebutuhan terhadap agen anti hipertensi. Capaian tatalaksananya
adalah mempertahankan tekanan darah pada level yang memiliki resiko gangguan kardiovaskular
dan serebrovaskular pada ibu yang minimal(Abalos et.al, 2007). Kadang-kadang, wanita dengan
hipertensi kehamilan akan tetap hipertensi setelah melahirkan. Pada pasien ini kemungkinan besar
Page 4

memiliki hipertensi kronis yang sudah ada sebelumnya, yang tertutup/tak tampak diawal kehamilan
oleh karena respon fisiologis dari kehamilan yakni vasodilasi.Kejadian hipertensi pada periode pasca
melahirkan dan waktu maksimum untuk normalisasi tekanan darah belum diketahui.Pada umumnya,
hipertensi > 140/90 mm Hg menetap lebih dari 3 bulan pasca melahirkan didiagnosis sebagai
hipertensi kronis.

ETIOLOGI & PATOFISIOLOGI1,3


Penyebab Hipertensi dalam kehamilan hingga kini belum diketahui dengan jelas.Banyak teori telah
dikemukakan tentang terjadinya hipertensi dalam kehamilan, tetapi tidak ada satupun teori tersebut
yang dianggap mutlak benar. Teori-teori yang sekarang banyak dianut adalah:

1.

Teori kelainan vaskularisasi plasenta

Pada hipertensi dalam kehamilan tidak terjadi invasi sel-sel trofoblas pada sel-sel trofoblas
pada lapisan otot arteri spiralis dan jaringan matriks sekitarnya.Lapisan otot arteri spiralis
menjadi tetap kaku dan keras sehingga lumen arteri spiralis tidak memungkinkan mengalami
distensi dan vasodilatasi.Akibatnya, arteri spiralis relative mengalami vasokontriksi, dan
terjadi kegagalan remodeling arteri spiralis, sehingga aliran darah uteroplasenta menurun,
dan terjadilah hipoksia dan iskemia plasenta.

2.

Teori iskemia plasenta, radikal bebas, dan disfungsi endotel

a) Iskemia plasenta dan pembentukan oksidan/radikal bebas. Sebagaimana dijelaskan pada


teori invasi trofoblas, pada hipertensi dalam kehamilan terjadi kegagalan remodeling arteri
spiralis, dengan akibat plasenta mengalami iskemia. Plasenta yang mengalami iskemia dan
hipoksia akan menghasilkan oksidan (disebut juga radikal bebas). Oksidan atau radikal bebas
adalah senyawa penerima electron atau atom/molekul yang mempunyai electron yang tidak
Page 5

berpasangan. Salah satu oksidan penting yang dihasilkan plasenta iskemia adalah radikal
hidroksil yang sangat toksis, khususnya terhadap membran sel endotel pembuluh darah.
Sebenarnya produksi oksidan pada manusia adalah suatu proses normal, karena oksidan
memang dibutuhkan untuk perlindungan tubuh. Adanya radikal hidroksil dalam darah, maka
dulu hipertensi dalam kehamian disebut toxaemia. Radikal hidroksil akan merusak
membrane sel, yang mengandung banyak asam lemak tidak jenuh menjadi peroksida lemak.
Peroksida lemak selain akan merusak membrane sel, juga akan merusak nucleus, dan protein
sel endotel. Produksi oksidan (radikal bebas) dalam tubuh yang bersifat toksis, selalu
diimbangi dengan produksi anti oksidan.

b) Peroksida lemak sebagai oksidan pada hipertensi dalam kehamilan. Pada hipertensi dalam
kehamilan telah terbukti bahwa kadar oksidan, khususnya peroksida lemak meningkat,
sedangkan antioksidan, missal vitamin E pada hipertensi dalam kehamilan menurun,
sehingga terjadi dominasi kadar oksidan peroksida lemak yang relative tinggi. Perksidan
lemak sebagai oksidan/radikal bebas yang sangat toksis ini akan beredar diseuruh tubuh
daam aliran darah dan akan merusak membran sel endotel. Membran sel endotel lebih mudah
mengalami kerusakan oleh peroksida lemak, karena letaknya langsung berhubungan dengan
aliran darah dan mengandung banyak asam lemak tidak jenuh. Asam lemak tidak jenuh
sangat rentan terhadap oksidan radikal hidroksil, yang akan berubah menjadi peroksida
lemak.

c) Disfungsi sel endotel


Akibat sel endotel terpapar terhadap peroksida lemak, maka terjadi kerusakan sel endotel,
yang kerusakannya dimulai dari membran sel endotel.Kerusakan membran sel endotel
mengakibatkan terganggunya fungsi endotel, bahkan rusaknya seluruh struktur sel
endotel.Keadaan ini disebut disfungsi endotel.
3.

Teori intoleransi imunologik antara ibu dan janin


Page 6

Pada

plasenta hipertensi dalam kehamilan, terjadi penurunan ekspresi HLA-G.

Berkurangnya HLA-G di desidua daerah plasenta, menghambat invasi trofoblas ke dalam


desidua.Invasi trofoblas sangat penting agar jaringan desidua menjadi lunak, dan gembur
sehingga memudahkan terjadinaya reaksi inflamasi.

4. Teori adaptasi kardiovaskular


Pada hipertensi dalam kehamilan kehilangan daya refrakter terhadap bahan vasokonstriktor,
dan ternyata terjadi peningkatan kepekaan terhadap bahan-bahan vasopresor.Artinya daya
refrakter pembuluh darah terhadap bahan vasopresor hilang sehinggapembuluh darah
menjadi sangat peka terhadap bahan-bahan vasopresor pada hipert ensi dalam kehamilan
sudah terjadi pada trimester I (pertama). Peningkatan kepekaan pada kehamilan yang akan
menjadi hipertensi dalam kehamilan, sudah dapat ditemukan pada kehamilan dua puluh
minggu. Fakta ini dapat dipakai sebagai prediksi akan terjadinya hipertensi dalam kehamilan.

5. Teori defisiensi gizi


Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa kekurangan defisiensi gizi berperan dalam
terjadinya hipertensi dalam kehamilan. Penelitian yang penting yang pernah dilakukan di
inggris ialah penelitian tentang pengaruh diet pada preeklampsia beberapa waktu sebelum
pecahnya Perang Dunia ke II. Suasana serba sulit mendapat gizi yang cukup dalam persiapan
perang menimbulkan kenaikan insiden hipertensi dalam kehamilan.Penelitian terakhir
membuktikan bahwa konsumsi minyak ikan, termaksud minyak hati halibut dapat
mengurangi risiko preeklampsia.

6. Teori inflamasi
Teori ini berdasarkan fakta bahwa lepasnya debris trofoblas di dalam sirkulasi darah
merupakan rangsangan utama terjadinya proses inflamasi. Pada kehamilan normal, jumlah
Page 7

debris trofoblas masih dalam batas wajar, sehingga reaksi inflamasi juga msih dalam batas
normal. Berbeda dengan proses apoptosis pada preeklampsia, dimana ada preeklampsia
terjadi peningkatan stresoksidatif, sehingga produksi debris apoptosis dan nekrotik trofoblas
juga meningkat. Makin banyak sel trofoblas plasenta, misalnya pada plasenta besar, pada
hamil ganda, maka reaksi stress oksidatif kan sangat meningkat, sehingga jumlah sisa debris
trofobls juga makin meningkat. Keadaan ini menimbulkan beban reaksi inflamasi dalam
darah ibu menjadi juh lebih besar, dibanding reaksi inflamsi pada kehamilan normal.
Respons inflamasi ini akan mengaktifasi sel endotel, dan sel-sel makrofag/granulosit, yang
lebih besar pula, sehingga terjadi reaksi sistemik inflamasi yang menimbulkan gejala-gejala
pada preeklampsia pada ibu.

FAKTOR RESIKO1,3
Faktor yang meningkatkan risiko terjadinya preeklamsi:
1.Risiko yang berhubungan dengan partner laki:a.Primigravida
b.Primipaternity
c.Umur yang ekstrim : terlalu muda atau terlalu tua untuk kehamilan
d.Partner laki yang pernah menikahi wanita yang kemudian hamil
danmengalami preeklamsi.
e.Pemaparan terbatas terhadap sperma.
f.Inseminasi donor dandonor oocyte

2.Risiko yang berhubungan dengan riwayat penyakit terdahulu dan riwayat penyakit
keluarga.
Page 8

a. Riwayat pernah preeklamsi


b.Hipertensi kronik
c.Penyakit ginjal
d. Obesitas
e. Diabetes gestational, diabetes mellitus tipe 1
f.Antiphospholipid antibodies dan hiperhomocysteinemia

3.Risiko yang berhubungan dengan kehamilan


a.Mola hidatidosa
b.Kehamilan ganda
c.Infeksi saluran kencing pada kehamilan
d.Hydrops fetalis

Faktor yang mengurangi risiko terjadinya preeklamsi


1.Seks oral
2.Merokok

DIAGNOSIS3
Selain pemantauan tekanan darah, diperlukan pemeriksaan laboratorium guna memantau perubahan
dalam hematologi, ginjal, dan hati

yang dapat mempengaruhi prognosis pasien dan

janinnya.Pemeriksaan laboratorium yang dianjurkan untuk memantau pasien hipertensi dalam


Page 9

kehamilan adalah hemoglobin dan hematokrit untuk memantau hemokonsentrasi yang mendukung
diagnosis hipertensi gestasional. Pemeriksaan enzim AST, ALT,dan LDH untuk mengetahui
keterlibatan hati. Urinalisis untuk mengetahui adanya proteinuria atau jumlah ekskresi protein urin
24 jam.Kreatinin serum diperiksa untuk mengetahui fungsi ginjal, yang umumnya pada kehamilan
kreatinin serum menurun.Asam urat perlu diperiksa karena kenaikan asam urat biasanya dipakai
sebagai tanda beratnya pre eklampsia.Pemeriksaan EKG diperlukan pada hipertensi kronik. Seperti
juga pada kehamilan tanpa hipertensi, perlu pula dilakukan pemeriksaan gula darah dan kultur
urin(Suhardjono, 2007).Diagnosis hipertensi dalam kehamilan berarti adalah ditemukannya
peningkatan tekanan darah pada pemeriksaan vital sign.

Standar pengukuran tekanan darah adalah sebagai berikut. Tekanan darah sebaiknya diukur
padaposisi duduk dengan posisi cuff setinggi jantung. Adanya penekanan vena kava inferior oleh
uterus gravid pada posisi berbaring dapat mengganggu pengukuran sehingga terjadi pengukuran
yang lebih rendah. Sebelum pengukuran, wanita hamil dianjurkan untuk duduk tenang 5-10 menit
(Gipsondan Carson, 2009).Hipertensi didiagnosa apabila tekanan darah pada waktu beristirahat
140/90 mmHg atau lebih besar, fase ke V Korotkoff digunakan untuk menentukan tekanan darah
diastolik. Dahulu telah dianjurkan agar peningkatan tambahan tekanan diastolik 15 mmHg atau
sistolik 30 mmHg digunakan sebagai kriteria diagnostik, bahkan apabila tekanan darah saat diukur di
bawah 140/90 mmHg. Kriteria tersebut sekarang ini tidak lagi dianjurkan karena bukti menunjukkan
bahwa wanita tersebut tidak memiliki kecenderungan untuk mengalami efek samping merugikan
saat kehamilan. Sebagai tambahan,tekanan darah biasanya menurun pada trimester ke-II kehamilan
dan tekanan diastolik pada primigravida dengan kehamilan normotensi kadang-kadang naik sebesar
15 mmHg. Oedem telah ditinggalkan sebagai kriteria diagnostik karena hal tersebut juga banyak
terjadi pada wanita hamil yang normotensi.Oedem dianggap patologis bila menyeluruh dan meliputi
tangan, muka, dan tungkai.Sebagai catatan, oedem tidak selalu terdapat pada pasien preeklamsi
maupun eklampsi (Brooks, 2005). Kriteria diagnosis hipertensi dalam kehamilan rekomendasi dari
The Associety of Obstetrician and Gynaecologists of Canada (JOGC Vol 30 number 3, March 2008)
adalah:

Page 10

1. Pemeriksaan tekanan darah harus dilakukan di rumah sakit atau tempat pelayanan
kesehatan primer
2. Hipertensi dalam kehamilan didefinisikan sebagai tekanan diastolic >90 mmHg,
didapatkan pada minimal 2 kali pemeriksaan pada lengan yang sama,
3. Wanita dengan sistolik >140mmHg harus dipantau untuk mengawasi adanya
perkembangan ke arah hipertensi diastolic,
4. Hipertensi berat, didefinisikan sebagai tekanan darah
sistolik 160 mmHg atau tekanan darah diastolic 110mHg,
5. Untuk hipertensi tidak berat, pemeriksaan tekanan darah serial harus dicatat sebelum
menegakkan diagnosis hipertensi,
6. Pada hipertensi berat, konfirmasi pemeriksaan ulang dilakukan setelah 15 menit

1. Hipertensi Gestasional
Kriteria Diagnosis pada hipertensi gestasional yaitu :

TD 140/90 mmHg yang timbul pertama kali selama kehamilan.

Tidak ada proteinuria.

TD kembali normal < 12 minggu postpartum.

Diagnosis akhir baru bisa ditegakkan postpartum.

Mungkin ada gejala preeklampsia lain yang timbul, contohnya nyeriepigastrium atau
trombositopenia (Cunningham, 2005).

2. Pre Eklampsia dan Eklampsia


Kriteria diagnosis pada preeklampsi terdiri dari:

Page 11

Kriteria minimal, yaitu :

TD 140/90 mmHg pada kehamilan > 20 minggu.

Proteinuria 300 mg/24 jam atau 1+ dipstick.

Kemungkinan terjadinya preeklamsi:

TD 160/110 mmHg.

Proteinuria 2.0 g/24 jam atau 2+ dipstick.

Kreatinin serum > 1.2 mg/dL kecuali sebelumnya diketahui sudah meningkat.

Trombosit <100.000/mm3.

Hemolisis mikroangiopati (peningkatan LDH).

Peningkatan ALT atau AST.

Nyeri kepala persisten atau gangguan penglihatan atau cerebral lain.

Nyeri epigastrium persisten. (Cunningham, 2005)

Perbedaan antara preeklamsi ringan dan berat sulit dibedakan karena preeklampsi yang tampak
ringan dapat berkembang dengan cepat menjadi berat.Meskipun hipertensi merupakan syarat mutlak
dalam mendiagnosis preeklampsia, tetapi tekanan darah bukan merupakan penentu absolut tingkat
keparahan hipertensi dalam kehamilan. Contohnya, pada wanita dewasa muda mungkin terdapat
proteinuria +3 dan kejang dengan tekanan darah 135/85 mmHg, sedangkan kebanyakan wanita
dengan tekanan darah mencapai 180/120 mmHg tidak mengalami kejang. Peningkatan tekanan darah
yang cepat dan diikuti dengan kejang biasanya didahului nyeri kepala berat yang persisten atau
gangguan visual.

Pada preeklampsia dapat terjadi komplikasi akibat tekanan darah yang tinggi sehingga terjadi
kejang. Kejang terjadi tanpa adanya riwayat epilepsy dan bukan merupakan proses intracranial.
Keadaan ini dikenal sebagai keadaan eklampsia.
3. Superimposed Preeclampsia
Page 12

Kriteria diagnosis Superimposed Preeclampsia adalah:

Proteinuria 300 mg/24 jam pada wanita dengan hipertensi yang belum ada sebelum
kehamilan 20 minggu.

Peningkatan tiba-tiba proteinuria atau tekanan darah atau jumlahtrombosit <100.000/mm3


pada wanita dengan hipertensi atauproteinuria sebelum kehamilan 20 minggu (Brooks,
2005).

4. Hipertensi Kronis
Diagnosis hipertensi kronis yang mendasari dilakukan apabila:

Hipertensi (140/90 mmHg) terbukti mendahului kehamilan.

Hipertensi ( 140/90 mmHg) diketahui sebelum 20 minggu, kecuali bila ada penyakit
trofoblastik.

Hipertensi berlangsung lama setelah kelahiran.

Hipertensi kronis dalam kehamilan sulit didiagnosis apalagi wanita hamil tidak mengetahui tekanan
darahnya sebelum kehamilan. Pada beberapa kasus, hipertensi kronis didiagnosis sebelum kehamilan
usia 20 minggu, tetapi pada beberapa wanita hamil, tekanan darah yang meningkat sebelum usia
kehamilan 20 minggu mungkin merupakan tanda awal terjadinya preeklamsi. Hipertensi esensial
merupakan penyebab dari penyakit vaskular pada > 90% wanita hamil.Selain itu, obesitas dan
diabetes adalah sebab umum lainnya. Pada beberapa wanita, hipertensi berkembang sebagai
konsekuensi dari penyakit parenkim ginjal yang mendasari.Seperti:

Obesitas

Hipertensi esensial

Kelainan arterial: Hipertensi renovaskular, Koartasi aorta

Gangguan-gangguan endokrin : Diabetes mellitus, Sindrom cushing, Aldosteronism primer,


Pheochromocytoma, Thyrotoxicosis
Page 13

Glomerulonephritis (akut dan kronis)

Hipertensi renoprival: Glomerulonephritis kronis, Ketidakcukupan ginjal kronis, Diabetic


nephropathy

Penyakit jaringan konektif: Lupus erythematosus, Systemic sclerosis, Periarteritis nodosa

Penyakit ginjal polikistik

Gagal ginjal

Pada beberapa wanita dengan hipertensi kronis, tekanan darah dapat meningkat sampai tingkat
abnormal, khususnya setelah 24 minggu.Jika disertai oleh proteinuria, maka preeklamsi yang
mendasarinya dapat didiagnosis. Preeklamsi yang mendasari hipertensi kronis ini sering berkembang
lebih awal pada kehamilan daripada preeklamsi murni, dan hal ini cenderung akan menjadi lebih
berat dan sering menyebabkan hambatan dalam pertumbuhan janin.

Page 14

Tabel 2 Gejala Berat Hipertensi Dalam Kehamilan

PENATALAKSANAAN2,4,5
Setiap wanita harus dievaluasi sebelum konsepsi untuk menentukan kondisi tekanan darahnya. Jika
terdapat hipertensi, dapat ditentukan beratnya,sebab sekunder yang mungkin, kerusakan target organ,
dan rencana strategis penatalaksanaannya. Kebanyakan wanita penderita hipertensi yang
merencanakan kehamilan harus menjalani skrining adanya faeokromositoma karena angka
morbiditas dan mortalitasnya yang tinggi apabila keadaan ini tidak terdiagnosa pada ante
partum.Pada umumnya, frekuensi kunjungan antenatal menjadi sering pada akhir trimester untuk
menemukan awal preeklamsi. Wanita hamil dengan tekanan darah yang tinggi (140/90 mmHg) akan
dievaluasi di rumah sakit sekitar 2-3 hari untuk menentukan beratnya hipertensi. Wanita hamil
dengan hipertensi yang berat akan dievaluasi secara ketat bahkan dapat dilakukan terminasi
Page 15

kehamilan. Wanita hamil dengan penyakit yang ringan dapat menjalani rawat jalan.Pada wanita
penderita hipertensi yang merencanakan kehamilan, penting diketahui mengenai penggantian
medikasi anti hipertensi yang telah diketahui aman digunakan selama kehamilan, seperti metildopa
atau betabloker.Penghambat ACE dan ARB jangan dilanjutkan sebelum terjadinya konsepsi atau
segera setelah kehamilan terjadi.Perawatan di rumah sakit dipertimbangkan pada wanita dengan
hipertensi berat, terutama apabila terdapat hipertensi yang persisten atau bertambah berat atau
munculnya proteinuria. Evaluasi secara sistematis meliputi:

Pemeriksaan detil diikuti pemeriksaan harian terhadap gejala klinis seperti sakit kepala,
pandangan kabur, nyeri epigastrium, dan penambahan berat badan secara cepat.

Penimbangan berat badan saat masuk rumah sakit dan setiap hari setelahnya.

Analisis proteinuria saat masuk rumah sakit dan setiap 2 hari.

Pengukuran tekanan darah dengan posisi duduk setiap 4 jam kecuali saat pertengahan tengah
malam dengan pagi hari.

Pengukuran serum kreatinin, hematokrit, trombosit, dan serum enzim hati,frekuensi


pemeriksaan tergantung beratnya penyakit.

Evaluasi berkala tentang ukuran janin dan cairan amnion secara klinis dan dengan
menggunakan ultrasonografi (Brooks, 2004).

Selain itu, pasien juga dianjurkan mengurangi aktivitas sehari-harinya yang berlebihan.Tirah baring
total tidak diperlukan, begitu pula dengan pemberian sedatif.Diet harus mengandung protein dan
kalori dalam jumlah yang cukup.Pembatasan garam tidak diperlukan asal tidak berlebihan.

1. Pengobatan Hipertensi Kronis


Wanita dengan hipertensi tingkat I memiliki risiko rendah untuk komplikasi kardiovaskular selama
kehamilan dan hanya menjalani terapi perubahan gaya hidup karena tidak ada bukti bahwa terapi
farmakologis meningkatkan prognosis neonatal. Lebih lanjut lagi, tekanan darah biasanya menurun
pada awal kehamilan, disamping itu hipertensi mudah di kontrol dengan atau tanpa
Page 16

medikasi.Modifikasi gaya hidup, latihan aerobik ringan harus dibatasi berdasarkan teori yang
menyatakan bahwa aliran darah plasenta yang inadekuat dapat meningkatkan risiko preeklampsia.
Walaupun data pada wanita hamil bervariasi, banyak ahli yang merekomendasikan restriksiintake
garam sebesar 2,4 gram. Penggunaan alkohol dan rokok harus dihentikan. Wanita hamil dengan
hipertensi kronis harus dievaluasi sebelum kehamilan sehingga obat-obat yang memiliki efek
berbahaya terhadap janin dapat diganti dengan obat lain seperti metildopa dan labetalol. Metildopa
merupakan obat anti hipertensi yang umum digunakan dan tetap menjadi obat pilihan karena tingkat
keamanan dan efektivitasnya yang baik. Banyak wanita yang diterapi dengan diuretika, akan tetapi
apakah terapi diuretik dilanjutkan selama kehamilan masih menjadi bahan perdebatan. Terapi
diuretik berguna pada wanita dengan hipertensi sensitif garam atau disfungsi diastolik
ventrikel.Akan tetapi diuretik harus dihentikan apabila terjadi preeklamsi atau tanda-tanda
pertumbuhan janin terhambat. Keputusan untuk memulai terapi anti hipertensi pada hipertensi kronis
tergantung dari beratnya hipertensi, ada tidaknya penyakit kardiovaskular yang mendasari, dan
potensi kerusakan target organ. Obat lini pertama yang biasanya dipergunakan adalah metildopa.
Bila terdapat kontra indikasi (menginduksi kerusakan hepar) maka obat lain seperti nifedipin atau
labetalol dapat digunakan.
Tidak ada agen antihipertensi yang aman digunakan pada trimesterpertama.Terapi dengan obat
diindikasikan pada hipertensi kronis tanpa komplikasi dan saat tekanan diastolic 100mmHg.
Tatalaksana dengan dosis yang lebih rendah diberikan pada pasien dengan diabetes mellitus, gagal
ginjal, atau kerusakan organ target.

Page 17

Tabel 3 Pilihan Obat Pada Hipertensi Gestational Dan Hipertensi Kronik

Page 18

2. Pengobatan Preeklampsia Ringan

Penatalaksanaan rawat jalan pasien pre eklampsia ringan:

Banyak istirahat (berbaring tidur / miring)

Diet : cukup protein, rendah karbohidraat, lemak dan garam

Sedativa ringan : tablet phenobarbital 3 x 30 mg atau diazepam 3 x 2 mg per oral selama 7


hari

Roborantia

Kunjungan ulang setiap 1 minggu

Pemeriksaan laboratorium : hemoglobin, hematokrit, trombosit, urine lengkap,asam urat


darah, fungsi hati, fungsi ginjal.

Penatalaksanaan rawat tinggal pasien pre eklampsia ringan berdasarkan kriteria

Setelah 2 minggu pengobatan rawat jalan tidak menunjukkan adanya perbaikan dari gejalagejala pre eklampsia.

Kenaikan berat badan ibu 1 kg atau lebih per minggu selama 2 kali berturut-turut(2 minggu).

Timbul salah satu atau lebih gejala atau tanda-tanda pre eklampsia berat

Bila setelah 1 minggu perawatan di atas tidak ada perbaikan maka preeklampsia ringan dianggap
sebagai pre eklampsia berat.Bila dalam perawatan di rumah sakit sudah ada perbaikan sebelum 1
minggu dan kehamilan masih preterm maka penderita tetap dirawat selama 2 hari lagi baru
dipulangkan.Perawatan lalu disesuaikan dengan perawatan rawat jalan.

Perawatan obstetri pasien pre eklampsia ringan:

Kehamilan preterm (kurang 37 minggu)

Bila desakan darah mencapai normotensif selama perawatan, persalinan ditunggu sampai
aterm.
Page 19

Bila desakan darah turun tetapi belum mencapai normotensif selama perawatan maka
kehamilannya dapat diakhiri pada umur kehamilan 37 minggu atau lebih.

Kehamilan aterm (37 minggu atau lebih)- Persalinan ditunggu sampai terjadi onset persalinan atau
dipertimbangkan untuk melakukan persalinan pada taksiran tanggal persalinan.

Cara persalinan- Persalinan dapat dilakukan secara spontan.Bila perlu memperpendek kala II.

3. Pengobatan Preeklampsia berat

Ditinjau dari umur kehamilan dan perkembangan gejala-gejala pre eklampsia beratselama perawatan
maka perawatan dibagi menjadi:

Perawatan aktif yaitu kehamilan segera diakhiri atau diterminasi ditambah pengobatan
medisinal

Perawatan konservatif yaitu kehamilan tetap dipertahankan ditambah pengobatan medisinal.

Perawatan Aktif - Sedapat mungkin sebelum perawatan aktif pada setiap penderita dilakukan
pemeriksaan fetal assesment (NST & USG). Indikasi (salah satu atau lebih):

Ibu- Usia kehamilan 37 minggu atau lebih- Adanya tanda-tanda atau gejala impending
eklampsia, kegagalan terapi konservatif yaitu setelah 6 jam pengobatan meditasi terjadi
kenaikan desakan darah atau setelah 24 jam perawatan medisinal, ada gejala-gejala status
quo (tidak ada perbaikan)

Janin- Hasil fetal assesment jelek (NST & USG)- Adanya tanda IUGR

Laboratorium- Adanya HELLP syndrome (hemolisis dan peningkatan fungsi


hepar,trombositopenia).

Page 20

Pengobatan Medisinal - Pengobatan medisinal pasien pre eklampsia berat yaitu :

Segera masuk rumah sakit

Tirah baring miring ke satu sisi. Tanda vital diperiksa setiap 30 menit, refleks patella tiap
jam.

Infus dextrose 5% dimana setiap 1 liter diselingi dengan infus RL (60-125cc/jam) 500 cc.

Antasida

Diet cukup protein, rendah karbohidrat, lemak dan garam.

Pemberian obat anti kejang : magnesium sulfat

Diuretikum tidak diberikan kecuali bila ada tanda-tanda edema paru, payah jantung kongestif
atau edema anasarka. Diberikan furosemid injeksi 40 mg/im.

Antihipertensi diberikan bila:

Desakan darah sistolis lebih 180 mmHg, diastolis lebih 110 mmHg atau MAPlebih 125
mmHg. Sasaran pengobatan adalah tekanan diastolis kurang 105mmHg (bukan kurang 90
mmHg) karena akan menurunkan perfusi plasenta.Dosis antihipertensi sama dengan dosis
antihipertensi pada umumnya. Bila dibutuhkan penurunan tekanan darah secepatnya, dapat
diberikan obat-obat antihipertensi parenteral (tetesan kontinyu), catapres injeksi. Dosis yang
biasa dipakai 5 ampul dalam 500 cc cairan infus atau press disesuaikan dengan tekanan
darah. Bila tidak tersedia antihipertensi parenteral dapat diberikan tabletantihipertensi secara
sublingual diulang selang 1 jam, maksimal 4-5 kali.Bersama dengan awal pemberian
sublingual maka obat yang sama mulaidiberikan secara oral. (Syakib Bakri, 1997)

Kardiotonika. Indikasinya bila ada tanda-tanda menjurus payah jantung, diberikan


digitalisasicepat dengan cedilanid D.

Lain-lain :
o Konsul bagian penyakit dalam / jantung, mata
o Obat-obat antipiretik diberikan bila suhu rektal lebih 38,5 derajat celcius dapat
dibantu dengan pemberian kompres dingin atau alkohol atau xylomidon 2 ccIM
o Antibiotik diberikan atas indikasi. Diberikan ampicillin 1 gr/6 jam/IV/hari
Page 21

o Anti nyeri bila penderita kesakitan atau gelisah karena kontraksi uterus. Dapat
diberikan petidin HCL 50-75 mg sekali saja, selambat-lambatnya 2 jam sebelum janin
lahir.

SINDROMA HELLP1,5
Sindroma HELLP merupakan suatu kerusakan multisistem dengan tanda-tanda: hemolisis,
peningkatan enzim hati, dan trombositopenia yang diakibatkan disfungsi endotel sistemik. Insidens
sindroma HELLP pada kehamilan berkisar antara 0,2-0,6 %, 4-12% pada preeklampsia berat, dan
menyebabkan mortalitas maternal yang cukup tinggi(24 %), serta mortalitas perinatal antara 7,7%60%.Pada penderita preeklampsia, Sindroma HELLP merupakan suatu gambaran adanya Hemolisis
(H), Peningkatan enzim hati (Elevated Liver Enzym-EL), dan trombositopeni (Low Platelets-LP).
Sindroma HELLP dapat timbul pada pertengahan kehamilan trimester dua sampai beberapa hari
setelah melahirkan.Diagnosis Sindroma HELLP secara obyektif lebih berdasarkan hasil
laboratorium, sedangkan manifestasi klinis bersifat subyektif, kecuali jika keadaan sindroma HELLP
semakin berat. Berdasarkan hasil laboratorium dapat ditemukan anemia hemolisis, disfungsi hepar,
dan trombositopeni.Sampai saat ini diagnosis Sindroma HELLP lebih berdasarkan parameter
laboratorium, dan parameter yang digunakan selama ini lebih mengarah pada keadaan sindroma
HELLP lanjut, dimana morbiditas dan mortalitas ibu maupun janin cukup tinggi.

Sindrom HELLP ditandai:

Hemolisis
Tanda hemolisis dapat dilihat dari ptekie, ekimosis, hematuria dan secara laboratorik adanya
Burr cells pada apusan darah tepi.

Elevated liver enzymes


Dengan meningkatnya SGOT, SGPT (> 70 iu) dan LDH (> 600 iu) maka merupakantanda
degenerasi hati akibat vasospasme luas. LDH > 1400 iu, merupakan tanda spesifik akan
kelainan klinik.
Page 22

Low platelets
Jumlah trombosit < 100.000/mm merupakan tanda koagulasi intravaskuler.

Sindroma HELLP merupakan salah satu keadaan preeklampsia yang memburuk yang dapat
didiagnosis dengan parameter laboratorium, sementara proses kerusakan endotel juga terjadi di
seluruh sistem tubuh, karenanya diperlukan suatu parameter yang lebih dini dimana preeklampsia
belum sampai menjadi perburukan, dan dapat ditatalaksana lebih awal yang akan menurunkan
terutama morbiditas dan mortalitas ibu,dan mendapatkan janin se-viable mungkin.Pada pemeriksaan
darah tepi terdapat bukti-bukti hemolisis dengan adanya kerusakan sel eritrosit, antara lain burr cells,
helmet cells. Hemolisis ini mengakibatkan peningkatan kadar bilirubin dan lactate dehydrogenase
(LDH). Disfungsi hepar di-refleksikan dari peningkatan enzim hepar yaitu Aspartate transaminase
(AST/GOT),Alanin Transaminase (ALT/GPT), dan juga peningkatan LDH.

Semakin lanjut proses kerusakan yang terjadi, terdapat gangguan koagulasi dan hemostasis darah
dengan ketidaknormalan protrombin time, partial tromboplastin time, fibrinogen, bila keadaan
semakin parah dimana trombosit sampai dibawah 50.000 /ml biasanya akan didapatkan hasil-hasil
degradasi fibrin dan aktivasi antitrombin III yang mengarah terjadinya Disseminated Intravascular
Coagulopathy (DIC). Insidens DIC pada sindroma HELLP 4-38%.

Klasifikasi sindroma HELLP:

Klasifikasi Missisippi
o Kelas I : Trombosit 50.000/ml atau kurang; serum LDH 600.000 IU/l atau lebih; AST
dan/atau ALT 40 IU/l atau lebih
o Kelas II : Trombosit lebih 50.000 sampai 100.000/ml; serum LDH 600.000 IU/l atau
lebih; AST dan/atau ALT 40 IU/l atau lebih
o Kelas III : Trombosit lebih 100.000 sampai 150.000/ml; serum LDH 600.000 IU/l
atau lebih; AST dan/atau ALT 40 IU/l atau lebih.

Page 23

Klasifikasi Tennesse
o Kelas lengkap : Trombosit kurang 100.000/ml; LDH 600.000 IU/l atau lebih; AST70
IU/l atau lebih.
o Kelas tidak lengkap : Bila ditemukan 1 atau 2 dari tanda-tanda diatas.

PENUTUP
Preeklampsia merupakan suatu penyebab yang bermakna dari penyebab kematianmaternal dan
perinatal serta komplikasinya.Sekali diagnosis dari preeklampsia dibuat, pilihan dari terapi adalah
terbatas.Karena itu, perhatian lebih difokuskan pada pencegahan terjadinya preeklampsia.Walaupun
penelitian secara ekstensif telahdilakukan, tidak ada strategi tunggal yang telah menunjukkan
kelebihan dalam mencegah perkembangan preeklampsia baik pada populasi dengan risiko tinggi
atau rendah.Preeklampsia merupakan suatu kelainan implantasi plasenta dan hal ini tidak
sepenuhnyadapat diterima.Kelahiran dari janin dan plasenta menjadi satu-satunya terapi
kuratif.Suatu kondisi dimana kesehatan yang dipertahankan, ditambah dengan agresifitas
danintervensi dini dari komplikasi preeklampsia, mungkin dapat mengurangi kerugian yangterdapat
pada janin dari ibu yang mengalami preeklampsia berat.

Page 24

DAFTAR PUSTAKA
1. Cunningham FG, Gant NF, Leveno KJ, Gilstrap LC, Hautch JC. Pregnancy Hypertension.
William Obstetrics. Twenty-Third Edition. USA: The McGraw-Hill Companies; 2010.
P.625-83
2. Prawirohardjo S. Hipertensi dalam kehamilan. Ilmu kebidanan. Jakarta: PT Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo; 2009. H 531-59
3. Shennan A. Pregnancy Hypertension. Dewhursts Textbook Obstetrics and Gynaecology.
Seventh Edition. USA: Blackwell Publishing; 2007. P.227-34.
4. Barton JR, Sibai BM. Preeclampsia. Manual Of Obstetrics. 2007. P 178-89.
5. Sibai BM. Hypertension Obstetrics: Normal and Problematic Pregnancies. Fifth Edition.
USA: Churchill Livingstone; 2007. p.864-904.

Page 25