Anda di halaman 1dari 13

Contoh KAryA Tulis Ilmiah

ANALISIS PENOKOHAN DALAM NOVEL


“JALAN MENIKUNG PARA PRIYAYI 2”

.
DISUSUN OLEH :

MOCH. JUNAIDI HERMANSYAH


NIS. 9904

PEMERINTAHAN DAERAH KAB.MOJOKERTO


DINAS PENDIDIKAN
SMA NEGERI I SOOKO
2008

MOTTO

“DIFFERENT ISN’T ALWAYS BETTER,

BUT THE BEST IS ALWAYS DIFFERENT”


“PERBEDAAN TIDAKLAH SELALU LEBIH BAIK,
AKAN TETAPI YANG TERBAIK SELALU BERBEDA”

HALAMAN PENGESAHAN

Karya tulis berjudul, “ANALISIS PENOKOHAN DALAM NOVEL JALAN


MENIKUNG PARA PRIYAYI 2” ini telah disahkan pada:

Hari : Selasa
Tanggal : 15 April 2008
Karya tulis oleh : MOCH.JUNAIDI HERMANSAYAH
NIS : 9904

Sebagai pemenuhan tugas akhir mata pelajaran Bahasa Indonesia SMA NEGERI I
SOOKO, oleh guru pembimbing mata pelajaran Bahasa Indonesia :

SUBANDI, S.Pd
NIP.132203.265
vi

HALAMAN PERSEMBAHAN

Karya Tulis ini saya persembahkan untuk :


1.Bapak Ibu guru SMA NEGERI I SOOKO MOJOKERTO
2.Orang tua saya tercinta
3.Teman-teman saya di kelas XII IA 4
4.Serta para pembaca novel-novel Indonesia

vii
ABSTRAK

NAMA : MOCH.JUNAIDI HERMANSYAH


NIS : 9904
PROGAM STUDI : IPA
JUDUL KARYA TULIS :ANALISIS PENOKOHAN DALAM NOVEL “JALAN
MENIKUNG PARA PRIYAYI 2”
TAHUN AJARAN : 2007/2008

Sastra adalah ungkapan pribadi manusia berupa pengalaman, pemikiran, perasaan,


gagasan, semangat, keyakinan, dalam suatu bentuk gambaran kongkret yang
membangkitkan pesona dengan alat-alat bahasa. Novel selalu dilengkapi dengan unsure
intrinsik, salah satunya adalah penokohan. Akan tetapi, dalam menampilkan tokohnya
pengarang sering menampilkan secara implisit sehingga tidak semua pembaca dapat
memahami maksud dalam sebuah novel. Untuk itulah kami menyusun karya tulis ini
dengan memberi penjelasan yang lebih mendalam tentang penokohan dalam karya
sastra bentuk novel yang berjudulkan “JALAN MENIKUNG PARA PRIYAYI 2”.
Dalam pengukapannya penulis menggunakan metode deskriptif yaitu metode penelitian
non hipotosis yang hanya menggambarkan suatu data yang diperoleh dari analisis novel.
Hasil analisis ini menunjukkan bahwa terdapat berbagai macam penokohan dalam novel
tersebut. Akan tetapi inti dari semuanya adalah penokohan ada dua macam
karakter(tokoh utama dan sampingan) yang mempunyai peranan yang berbeda, sehingga
dapat menghidupakan alur dari novel itu sendiri.
Berdasarkan dari hasil analsis ini, disarankan agar dilakukan analisii lebih lanjut dengan
menggunakan novel yang berbeda. Hal ini dilakukan untuk lebih mendalami unsur
intrinstik penokohan dari berbagai novel yang berbeda.

viii
KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, dan atas segala Rahmat-
Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah dengan judul “ANALISIS
PENOKOHAN DALAM NOVEL JALAN MENIKUNG PARA PRIYAYI 2”.
Karya ilmiah ini disusun disusun dalam rangka memenuhi tugas akhir mata pelajaran
Bahasa Indonesia. Karya tulis ini menganalisis tentang unsur intrinsik yaitu penokohan
dalam karya sastra prosa fiksi berbentuk novel JALAN MENIKUNG PARA PRIYAYI
2. Metode yang saya gunakan adalah metode deskriptif yaitu dengan menganalisis data
yang diperoleh dalam bentuk yang kompleks sehingga dengan mudah diterima oleh
masyarakat.
Sehubungan dengan tersusunnya karya tulis ini penulis dapat mendapat bantuan dari
berbagai pihak, Oleh karena itu saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak
yang telah membantu penyusunan karya tuli ini, khususnya kepada:
1.Bapak Subandi,S.Pd selaku guru mata pelajaran Bahasa Indonesia
2.Seluruh warga kelas XII IA 4 SMA Negeri I Sooko Mojokerto
Penulis menyadari bahwa karya tulis ini masih terdapat kekurangan dan kelemahannya.
Oleh karena itu, kritik dan saran para pembaca akan penulis terima dengan senang hati
demi penyempurnaan karya tulis ini di masa yang akan datang.
Semoga karya tulis ini bermanfaat, khususnya bagi penulis khususnya dan bagi
pembaca pada umumnya.

Mojokerto, 14 April 2008

Penulis

x
DAFTAR ISI

HALAMAN MOTTO……………………………………………………………………v
HALAMAN
PENGESAHAN…………………………………………………………...vi
HALAMAN
PERSEMBAHAN………………………………………………………...vii
ABSTRAK……………………………………………………………………………...vi
ii
KATA PENGANTAR…………………………………………………………………...x
DAFTAR
ISI…………………………………………………………………………….xi
BAB I : PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG……………………………………………….01
1.2 RUMUSAN MASALAH…………………………………………….02
1.3 TUJUAN……………………………………………………………..02
1.4 MANFAAT…………………………………………………………..02
1.5 METODE PENELITIAN……………………………………………02
BAB II : KAJIAN TEORI
1.1PENGERTIAN NOVEL…………………………………………….03
1.2 PENGERTIAN PENOKOHAN…………………………………….03
BAB III : PEMBAHASAN
1.1SINOPSIS……………………………………………………………05
1.2 PENOKOHAN……………………………………………………....07
1.3 ANALSIS PENOKOHAN…………………………………………..08
BAB IV : PENUTUP
4.1 KESIMPULAN……………………………………………………....11
4.2 SARAN………………………………………………………………11
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………
12
RIWAYAT HIDUP
PENULIS………………………………………………………….13

xi
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Sastra adalah ungkapan pribadi manusia berupa pengalaman, pemikiran, perasaan,
gagasan, semangat, keyakinan, dalam suatu bentuk gambaran kongkret yang
membangkitkan pesona dengan alat-alat bahasa ( Sumarno dan Saini, 1991 : 3).
Pernyataan di atas mengandung makna bahwa manusia menggunakan karya sastra
sebagai sarana untuk mengungkapkan gagasan, pengalaman, pemikiran dan sebagainya.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa karya sastra sangat bermanfaat bagi manusia dan
pembacanya.
Karya sastra yang baik adalah karya sastra yang mampu meniggalkan kesan yang
mendalam bagi pembacanya. Pembaca dapat dengan bebas melarutkan diri bersama
karya itu, dan mendapatkan kepuasan oleh karenanya. Sehingga dapat disimpulkan
bahwa suatu karya bisa dijadikan media dakwah.
Menurut Aristoteles karya sastra dapat digolongkan dalam beberapa kriteria. Ada tiga
kriteria dipandang dari segi perwujudannya, diantara ketiga kriteria tersebut adalah teks
naratik ( epik ) yaitu novel, roman dan cerpen.
Dalam sebuah novel yang merupakan salah satu bentuk karya sastra, terdapat unsur
intrinstik dan ektrinstik yang selalu melingkupi jalan ceritanya. Dan unsur intrinstik
yang paling menonjol adalah penokohan.
Penokohan menjadi unsur yang sangat penting dalam sebuah novel, yang menjadi dasar
pengarang dalam mengembangkan karangannya. Akan tetapi, dalam menampilkan
tokohnya pengarang sering menampilkan secara implisit sehingga tidak semua pembaca
dapat memahami maksud dalam sebuah novel. Untuk itulah kami menyusun karya tulis
ini dengan memberi penjelasan yang lebih mendalam tentang penokohan dalam karya
sastra bentuk novel.

01

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana penokohan yang ada dalam novel ‘JALAN MENIKUNG PARA
PRIYAYI 2’ ?
2. Bagaimana penggambaran tokoh yang terdapat dalam novel ‘JALAN MENIKUNG
PARA PRIYAYI 2’?

1.3 Tujuan
2.Mendeskripsikan penokohan yang ada dalam novel ‘JALAN MENIKUNG PARA
PRIYAYI 2’
3.Mendiskripsikan cara penulis dalam menggambarkan tokoh dalam novel ‘JALAN
MENIKUNG PARA PRIYAYI 2’

1.4 Manfaat
1. Sebagai wacana bagi pelajar
2. Sebagai wacana awal bagi penelitian yang selanjutnya
3. Sebagai literature untuk lebih memahami penokohan dalam sebuah novel

1.5 Metode Penelitian


Dlam karya tulis ini, digunakan metode deskriptif yaitu metode penelitian non hipotosis
yang hanya menggambarkan suatu data yang diperoleh dari analisis novel. Sedangkan
sumber datanya berupa novel ‘JALAN MENIKUNG PARA PRIYAYI 2’

02

BAB II
KAJIAN TEORI

2.1 PENGERTIAN NOVEL


Novel timbul sebagai suatu yang menggambarkan tentang kejadian sehari-hari di
masyarakat, meskipun kejadian yang tidak nyata, tetapi itu merupakan sesuatu yang
dapat dipahami dengan prinsip yang sama dalam kehidupan sehari-hari. Di dalam novel
itu lebih mentikberatkan kepada tokoh manusia ( peran ) di dalam karangannya dari
pada terjadinya dan secara keseluruhan mengambil bentuk yang dikatakan dengan
ciptaan dunia berdasarkan kepada perbedaaan individu. Definisi novel dapat dimengerti
dari beberapa definisi dan berbagai tokok, seperti:
2.Menurut Virginia Holf ( Lubis, 1960 : 30 )
Novel adalah suatu kronil penghidupan merenungkan dan melukiskan dalam bentuk
tertentu, pengaruh, ikatan, hasil, kehancuran atau tercapainya gerak-gerik manusia.
3.Menurut H.B.Jassin ( pada buku tifa penyair dan daerahnya )
Novel adalah suatu karangan prosa yang bersifat cerita dan yang menceritakan suatu
kejadian yang luar biasa dari kehidupan orang-orang luar yang mengalihkan tujuan
nasib mereka.

Novel menurut bahasa artinya kabar/pemberitahuan, namun menurut istilah adalah


bentuk prosa yang ringkas isinya, lebih terbatas dari pada roman dan lebih panjang dari
pada cerpen, sedangkan sifat-sifat dan perbuatan pelaku-pelaku dalam noveltidak
diuraikan secara panjang lebar seprti roman.

2.2 PENGERTIAN PENOKOHAN


Biasanya di dalam suatu cerita fiksi terdapat tokoh cerita atau pelaku cerita. Tokoh
cerita bisa satu atau lebih. Tokoh yang paling banyak peranannya di dalam suatu cerita
di sebut tokoh utama. Antara tokoh yang satu dengan yang lain ada keterkaitan.
Tindakan tokoh cerita ini merupakan rangkaian peristiwa antara satu kesatuan waktu
dengan waktu yang lain. Setiap perbuatan yang dilakukan oleh seseorang tokoh tentu
ada penyebabnya dalam hal ini adalah tindakan-tindakan atau peristiwa sebelumnya.
Jadi mengikuti atau menelusuri jalannya cerita sama halnya dengan mengikuti
perkembangan tokoh melalui tindakan-tindakannya. Namun definisi penokohan juga
disebutkan oleh beberapa tokoh. Yaitu:
1.Menurut Jones dalam Nurgiyantoro
Penokohan adalah gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam
sebuah cerita ( 1998 : 165 ), atau penokohan karakter adalah begaimana cara pengarang
menggambarkan dan mengembangkan watak tokoh-tokoh dalam cerita rekannya
( Esten, 1994 ).
2. Menurut Stanton dalam Semi (1984:31)
Yang dimaksud dengan penokohan dalam suatu fiksi biasanya dipandang dari dua segi.
Pertama: mengacu kepada orang atau tokoh yang bermain dalam cerita; yang kedua
adalah mengacu kepada perbauran dari minat, keinginan, emosi, dan moral yang
membentuk individu yang bermain dalam suatu cerita.
4.Menurut Sumardjo dan Saini
Melukiskan watak tokoh dalam cerita dapat dengan cara sebagai berikut:
1. Melalui perbuatanya, terutama sekali bagaimana ia bersikap dalam menghadapi
situasi kritis.
2. Melalui ucapan-ucapannya.
3. Melalui gambaran fisiknya
4. Melalui keterangan langsung yang ditulis oleh pengarang ( 1991 : 65-66).
Sudjirman menyebutkan ada dua metode untuk menggambarkan watak tokoh, yaitu
metode analitik dan metode dramatik. Metode analitik, biasa bisa juga disebut metode
peran adalah pemaparan watak tokoh secara rinci baik ciri fisik maupun psikisnya.
Sedang metode dramatik adalah penggambaran watak tokoh melalui pikiran, ucapan,
tingkah laku tokoh, lingkungan ataupun dari penampilan fisik saja.
Berdasarkan pengertian diatas penulis menyimpulkan bahwa penokohan adalah
pelukisan tokoh/pelaku melalui sfat-sifat dan tingkah laku dalam cerita.

04
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 SINOPSIS
“JALAN MENIKUNG PARA PRIYAYI 2” merupakan sebuah novel setebal 184
halaman karya penulis ternama Indonesia Umar Kayam. Novel ini menceritakan kisah
seorang pemuda pribumi Indonesia yang belajar menuntut ilmu di Negeri Paman Sam.
Eko pemuda cerdas anak pasangan Harimurti dengan Sulistyanigsih ini mendapatkan
beasiswa dari AFS(American Field Service) untuk belajar di Amerika Serikat dan
bahkan menamatkan Sekolah Menengah Atas di Sunnybrook College di kota
Sunnybrook, Connecticut, AS. Setelah dua tahun sekolah dan menamtkan masa
SMAnya di Sunnybrook College, Eko ingin kembali ke tanah air untuk berbhakti
kepada Negara dan orangtuanya di Indonesia . Akan tetapi, karena terbentur masa lalu
ayahnya yang dianggap tidak bersih dari G30S/PKI akhirnya Eko melanjutkan study
nya di Sunnybrook College. Setelah mendapatkan ijazah Sunnybrook College dengan
predikat summa cum laude, Eko langsung diterima di perusahaan penerbutan Asia
Books, sebuah perusahaan penerbitan internasional di New York. Kehidupan Eko di
New York tidak hanya sekedar untuk belajar dan bekerja tetapi ia juga menjalin
hubungan dengan masyarakat New York layaknya di Indonesia. Pada akhir bulan
September, musim gugur, dipinggir sungai kecil di batas kota, ia berkenalan dengan
wanita cantik Amerika keturunan Yahudi bernama Claire Levin. Mereka semakin dari
semakin intim layaknya orang berpacaran.
Harimurti dan Sulis orang tua Eko, yang merindukan kedatangan anak semata
mayangnya itu. Tiba-tiba mereka mendapatkan surat dari New York yang berisikan eko
meminta restu dari Bapak-Ibunya untuk meikah dengan gadis Amerika dari keturunan
Yahudi. Mereka sempat terkejut dengan isi surat yang dikirim Eko, karena anak mereka
akan menikah dengan gadis asing keturunan yahudi pula yang tentu saja berlainan
agama dengan Eko. Akan teapi dengan bijaksana dan demi kenyamanan hidup Eko,
Hari dan Suli membalas surat Eko dan Merestui hubungan mereka.
Maka pesta perkawinan Eko dan Claire pun terjadilah. Perkawinan sipil, bukan
perkawinan agama. Claire menggunakan gaun putih yang sederhana namun cukup chic,
sedang Eko, memenuhi pesan ibunya, memakai setelan hitam, tuxedo, berdasi kupu
putih, dan berpeci hitam. Eko mengucapkan surat Al-Fatihah dan surat Ar-Rumm
sebagai janji kepada orang tuanya dan dirinya sendiri. Sedang Alan Bernstein dipilih
Eko sebagai walinya. Pernikahan itu hanya dihadiri hanya kurang lebih lima puluh
undangan seperti yang diinginkan keluarga Levin. Setelah mengadakan pesta yang
cukup melelahkan Claire dan Eko mendapatkan kado istimewa dari Alan Bernstein
yang merupakan rekan kerja sekaligus orangtua angkat Eko di New York, Ia
memberikan sebuah surat tugas sekaligus sebagai tiket bulan madu untuk Eko dan
Claire ke Tokyo, Hongkong, Singapura, Kuala Lumpur, dan Jakarta. Mereka sangat
senang dan berterima kasih kepada Alan dan tentu saja kepad Asia Books tempat Eko
bekerja.
Mereka pun memulai perjalanan mereka ke Tokyo dilanjutkan ke Hongkong, singapura,
Kuala Lumpur dan di lanjutkan ke Jakarta. Hari, Suli, serta Lantip dan Halimah, paman
dan bibi Eko menjemput kedatangan mereka di bandara Soekarno-Hatta.
Setelah menunggu dua jam karena buruknya cuaca, akhirnya Eko beserta Claire
akhirnya datang, mereka disambut dengan lambaian tangan orang tua dan paman bibi
dari kejauhan. Di dalam benak Suli anaknya nampak beda, ia kelihatan nampak lebih
tinggi, lebih putih dan nampak lebih kurus dan Claire kok nampak bule betul. Mereka
pun saling berpelukan dan bersalaman seraya merayakan kedatangan Eko dan Claire.
Eko dan Claire di jamu oleh orang tua mereka layaknya tamu spesial datang dari jauh.
Mereka dimanjakan dengan masakan asli Indonesia yang begitu beragam, musik
gamelan yang begitu terlatih yang dimainkan oleh Lantip dan Harimurti. Tentu saja hal
ini terasa asing oleh Claire, namun Eko selalu menjelaskan dan juga didukung oleh Suli
dan Halimah yang memberitahu akan ke-khasan masakan Indonesia khususnya jawa
dan padang. Mulai pecel, sup buntut, sambal terasi, sampai masakan padang yang
terkenal pedas dan berlemak. Eko dan Claire juga melakukan bulan madu dengan
mengunjungi pusat-pusat kota di Jakarta dan tidak lupa sowan ke kerabat oangtua
mereka. Suatu hari mereka sowan ke rumah pakde Tommi dan bibi Jannet, sepupu dari
Harimurti yang selalu berbeda pendapat dengan Hari akan pemugaran makam embah
kakung-putri Eko. Tommi dan Jannet memang terkenal agak sombong dan suka pamer
kekayaan, namun mereka orang yang baik.
Setelah kurang lebih satu bulan setengah tinggal di Jakarta dan karena masa tugasnya di
Asia tenggara telah habis, Eko dan Claire pun memutuskan untuk kembali ke New
York. Mereka di Lepas oleh Hari, Suli, Lantip dan Halimah di bandara dengan haru.
Dalam perjalanannya di pesawat, eko berfikir bahwa ia telah kehilangan kejawaan,
keIndonesiaan serta sadar bahwa telah menempuh jalan menikung dari kerabat
besarnya. Namun hal itu tidak membuatnya sedih dan kecewa telah memiliki istri orang
Amerika keturunan Yahudi.
3.2PENOKOHAN
Dari cuplikan sinopsis novel “JALAN MENIKUNG PARA PRIYAYI 2” di atas, dapat
diketahui bahwa unsur intrinsic yaitu penokohan begitu terlihat dengan berbagai macam
karakteristiknya. Adapun tokoh yang terdapat dalam novel ini adalah

1.TOKOH UTAMA
Eko Harimurti
2.TOKOH SAMPINGAN:
Claire Levin
Harimurti ( Ayah Eko )
Sulistianingsih ( Ibu Eko )
Lantip (paman Eko )
Halimah ( Bibi Eko )
Tommi ( Paman Eko )
Jannet ( Istri Tommi )
Sedangkan peranan tokoh yang digambarkan melalui sifatnya dalam novel “JALAN
MENIKUNG PARA PRIYAYI 2” ini adalah :
1.TOKOH PROTAGONIS:
Eko
Harimurti
Sulistianingsih
Lantip
Halimah
Claire
Jannet

2. TOKOH ANTAGONIS:
Tommi

3.3ANALISIS PENOKOHAN

I. PROTAGONIS
1. Eko
a.Melalui penggambaran perilakunya:
Tidak lupa Eko mengirim surat ke Indonesia untuk mendapatkan restu dari
Orang tuanya karena akan menikahi Claire.
b.Melalui cuplikan pembicaraan tokoh :
“Berbakti kepada rakyat dan Negara! Ya. ini janjiku kepada orang tua saya, kepada
seluruh keluarga besar saya.”
* Dari cuplikan diatas dapat diketahui bahwa Eko mempunyai peran yang protagonis
yaitu tokoh yang membawakan perwatakan positif atau menyampaikan nilai-nilai
positif.
2.Claire Levin
a.Melalui penggambaran perilakunya:
Claire pun tidak dapat tidak selain mencobanya,lauk demi lauk yang ditawarkan Haru
dan Suli.
b.Melalui cuplikan pembicaraan tokoh :
“Claire dan Eko akan selalu merindukan Bapak, Ibu, paman Lantip dan bibi halimah.
Terima kasih Atas semuanya…..”
* Dari cuplikan diatas dapat diketahui bahwa Claire mempunyai peran yang protagonis
yaitu tokoh yang membawakan perwatakan positif atau menyampaikan nilai-nilai
positif.

08

3.Harimurti
a.Melalui penggambaran perilakunya:
Dan Harimurti dengan terampilanya memainkan pengantarnya , dan anak-anak mereka
menikmati makananya dengan manja.
b.Melalui cuplikan pembicaraan tokoh :
“Saya Harimurti, bapaknya Eko. Jadi, bapakmu juga. Dan ini Etek halimah dan pakde
Lantip. Kenalkan saja ya, Claire.”
* Dari cuplikan diatas dapat diketahui bahwa Harimurti mempunyai peran yang
protagonis yaitu tokoh yang membawakan perwatakan positif atau menyampaikan nilai-
nilai positif.

4.Sulistianingsih
a.Melalui penggambaran perilakunya:
Suli langsung merangkul anakya dan menciuminya seakan melunaskan nazar yang
sudah lama dikandung.
b.Melalui cuplikan pembicaraan tokoh :
“Claire, kalau kamu sudah mengantuk dan mau segera tidur, tunggu dulu, ya? Biar
mbok nem bereskan tempat tidur kalian dan pasang obat nyamuk.
* Dari cuplikan diatas dapat diketahui bahwa Sulistianingsih mempunyai peran yang
protagonis yaitu tokoh yang membawakan perwatakan positif atau menyampaikan nilai-
nilai positif.

5.Lantip
a.Melalui penggambaran perilakunya:
Tak luput Lantip pun ikut menawarkan makanan khas jawa itu kepada Claire.
b.Melalui cuplikan pembicaraan tokoh :
“Kalau sudah hilang capek kalian, besok-besok kalian ganti main dan makan di rumah
kami.”

09
* Dari cuplikan diatas dapat diketahui bahwa Lantip mempunyai peran yang protagonis
yaitu tokoh yang membawakan perwatakan positif atau menyampaikan nilai-nilai
positif.

6.Halimah
a.Melalui penggambaran perilakunya:
Sambil menunggu Suli dan Halimah menyiapkan makanan.
b.Melalui cuplikan pembicaraan tokoh :
“Etek nanti masak masakan padang buat Claire. Maukan Claire?”
* Dari cuplikan diatas dapat diketahui bahwa Halimah mempunyai peran yang
protagonis yaitu tokoh yang membawakan perwatakan positif atau menyampaikan nilai-
nilai positif.

7.Jannet
a.Melalui penggambaran perilakunya:
Jannet segera menyuruh pelayan untuk menyiapkan itu semua. Mereka segera minum
setelah pelayan dating membawa minuman.
b.Melalui cuplikan pembicaraan tokoh :
“Ayo Claire, ambilah. Jangan malu-malu. Ini hadiah dari auntie, kok.”

II. ANTAGONIS
1. Tommi
a.Melalui penggambaran oleh tokoh lain:
Eko merah padam menahan geram setelah mendengar ucapan pamannya itu.
b.Melalui cuplikan pembicaraan tokoh :
“Eko sudah berapa tahun di Amerika, kok masih sawo mateng saja kulitmu? Tapi disana
kulit begitu yang paling laku ya, Ko, Claire? Dan kau, Claire, putih seperti batu pualam,
rambutmu hitam kecoklat-coklatan, hidungmu mancung meski tidak semancung
Yahudi-yahudi kebanyakan. Wah, sempurna betul. Cuantik Ko Istimu.”

BAB IV
PENUTUP

4.1 KESIMPULAN
Novel itu suatu karangan prosa yang bersifat cerita dan yang menceritakan suatu
kejadian yang luar biasa dari kehidupan orang-orang luar yang mengalihkan tujuan
nasib mereka. Dari hasil analisis di atas,dapat diketahui novel tersebut dibangun oleh
berbagai macam penokohan yang mempunyai karakter yang berbeda-beda. Secara
umum penokohannya dibagi dua macam:
1.TOKOH UTAMA yang diperankan oleh Eko Harimurti, yaitu pemuda pribumi yang
mencari ilmu di Amerika Serikat.
2.TOKOH SAMPINGAN yang seara garis besar diperankan oleh Lantip(Ayah Eko),
Sulistianingsih(Ibu Eko), Lantip, Halimah, Claire(istri Eko), Jannet, dan Tommi.

Disini dapat terlihat bahwa dalam novel ini pengarang menampilkan penokohan secara
eksplisit, yaitu dengan cara langsung (menggambarkan bentuk lahir) dan secara tidak
langsung (menunjukkan bagaiman perilakunya).

4.2SARAN
Adapun saran yang penulis berikan ialah
1.Diharapkan para pembaca novel ini dapat lebih mengenal dan mengetahui akan
penokohan yang ada dalam novel ini.
2.Hendaknya mengambil hikmah dari isi novel ini sebagai salah satu acuan hidup para
pemuda Indonesia untuk kehidupan masa depan kelak.
3.Hendaknya dapat meneladani sifat tokoh utam Eko dalam kehidupannya.

Dengan adanya pembahasan unsure penokohan dalam novel ini, saya berharap akan ada
analisis lebih lanjut dengan menggunakan unsur-unsur yang lainnya.
DAFTAR PUSTAKA

Aminuddin.1987.Pengantar Apresiasi Karya sastra.Bandung: Sinar Baru.

Semi ,M.Atar. 1998 .Anatomi Sastra. Padang: Angkasa raya.

Rampan, Korrie Layun. 2000.Angkatan 2000 dalam sastra Indonesia. Cetakan Pertama
Jakarta: PT Gramedia Indonesia.

http://yudhim.blogspot.com/

12

RIWAYAT HIDUP PENULIS

NAMA : MOCH. JUNAIDI HERMANSAYAH


NIS : 9904
KELAS : XII IA 4
TTL : MOJOKERTO, 18 JUNI 1990
ALAMAT : BUMI SOOKO PERMAI
E-MAIL : herman_chanersyah@yahoo.co.id
HOBBY : BERWIRAUSAHA
MOTTO : “DIFFERENT ISN’T ALWAYS BETTER,
BUT THE BEST IS ALWAYS DIFFERENT”
SEKOLAH : 1. SDN KRANGGAN I MOJOKERTO
2. SLTPN I KOTA MOJOKERTO
3. SMA NEGERI I SOOKO KAB, MOJOKERTO