Anda di halaman 1dari 35

MAKALAH ASKEB IV

RETENSIO PLASENTA

DISUSUN
Oleh kelompok 16 :
Ratih Febriani
Vivi Juniarti. A
Pembimbing :
HASRAH MURNI, M . BIOMED

PRODI D III KEBIDANAN


STIKes YARSI SUMBAR BUKITTINGGI
TH 2010-2011

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena rahmat dah karunia-Nya sehingga kami
dapat menyelesaikan makalah ini. Dan tidak lupa pula kami mengucapkan terima kasih
kepada dosen pembimbing

yaitu HASRAH MURNI, M. BIOMED yang telah

memberikan dukungan dalam menyelesaikan makalah ini. Adapun tujuan penyusunan


makalah ini untuk menyelesaikan tugas di awal perkuliahan.
Kami menyadari bahwa dalam makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh
karena itu, kami mohon maaf atas segala kesalahan dan kekurangan tersebut dan kami
sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun.
Kami berharap, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan
penyusun khususnya.

Bukittinggi,

TIM

Mei 2011

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Mortalitas dan morbidilitas pada wanita hamil dan bersalin adalah masalah
besar di negara berkembang, di negara miskin, sekitar 25%-50%, kematian wanita
subur usia disebabkan hal berkaitan dengan kehamilan. Kematian saat melahirkan
biasanya menjadi faktor utama mortalitas wanita muda pada masa puncak
produktivitasnya. Tahun 1996, WHO memperkirakan lebih dari 585.000 ibu
pertamanya meniggal saat hamil atau bersalin.

1.2. Tujuan Khusus


Agar mahasiswa dapat :
1. Menjelaskan tantang retensio plasenta.
2. Mengerti tentang etiologi dan berusaha antisipasi sejak dini mengatasi
retensio plasenta.
3. Melaksanakan asuhan kebidanan ibu hamil dan ibu bersalin secara
rutin yang meliputi pengkajian, menentukan diagnosa, perencanaan,
pelaksanaan dan evaluasi.
1.3. Manfaat
1.3.1. Bagi Pembaca
Dengan penyusunan makalah ini para pembaca dapat mengetahui dan
memahami tentang kelainan letak baik dari segi pengertian, cirri-ciri, dan
wewenang apa saja yang bias dilakukan bidan sesuai dengan SPK
1.3.2. Bagi Penulis
Dengan selesainya makalah ini, penulis lebih mengetahui apa saja
wewenang bidan dan apa saja yang tidak menjadi wewenang bidan dalam kondisi
patologis seperti ini

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. Pengertian
Retensio Plasenta adalah terlambatnya kelahiran plasenta selama setengah
jam

setelahkelahiran

bayi.

Plasenta

harus

dikeluarkan

karena

dapat

menimbulkanbahaya perdarahan, infeksi karena sebagai benda mati, dapat


terjadiplasenta

inkarserata

dapat

terjadi

polip

plasenta,

dan

terjadi

degenerasiganas korio karsinoma (Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan


danKeluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan, hal. 300).
Recensio Plasenta adalah tertahannya plasenta atau belum lahirnya
plasenta liingga ataumelebihi waktu 30 menit setelah bayi lahir (Pelayanan
Kesehatan Maternaldan Neonatal, 2002:178).
Recensio Plasenta adalah plasenta belum labir 1/2 jam sesudah anak lahir
(Obstetri Patologi, hal. 234).
Retensio Plasenta Dan Sisa Plasenta (Placental Rest)
Perdarahan postpartum dini dapat terjadi sebagai akibat tertinggalnya sisa
plasenta atau selaput janin. bila hal tersebut terjadi, harus dikeluarkan secara
manual atau di kuretase disusul dengan pemberian obat-obat uterotonika
intravena. Perlu dibedakan antara retensio plasenta dengan sisa plasenta (rest
placenta). Dimana retensio plasenta adalah plasenta yang belum lahir seluruhnya
dalam setengah jam setelah janin lahir. Sedangkan sisa plasenta merupakan
tertinggalnya bagian plasenta dalam uterus yang dapat menimbulkan perdarahan
post partum primer atau perdarahan post partum sekunder.
Sewaktu suatu bagian plasenta (satu atau lebih lobus) tertinggal, maka
uterus tidak dapat berkontraksi secara efektif dan keadaan ini dapat menimbulkan

perdarahan. Gejala dan tanda yang bisa ditemui adalah perdarahan segera, uterus
berkontraksi tetapi tinggi fundus tidak berkurang.6
Sebab-sebab plasenta belum lahir, bisa oleh karena:
1.

Plasenta belum lepas dari dinding uterus

2.

Plasenta sudah lepas akan tetapi belum dilahirkan


Apabila plasenta belum lahir sama sekali, tidak terjadi perdarahan, jika

lepas

sebagian

terjadi

perdarahan

yang

merupakan

indikasi

untuk

mengeluarkannya. Plasenta belum lepas dari dinding uterus bisa karena:


1.

Kontraksi uterus kurang kuat untuk melepaskan plasenta ( plasenta


adhesiva)

2.

Plasenta melekat erat pada dinding uterus oleh sebab vili korialis menembus
desidua sampai miometrium.
Plasenta yang sudah lepas dari dinding uterus akan tetapi belum keluar,

disebabkan tidak adanya usaha untuk melahirkan, atau salah penanganan kala tiga,
sehingga terjadi lingkaran konstriksi pada bagian bawah uterus yang menghalangi
keluarnya plasenta.
Penanganan perdarahan postpartum yang disebabkan oleh sisa plasenta :

Penemuan secara dini hanya mungkin dengan melakukan pemeriksaan


kelengkapan plasenta setelah dilahirkan. Pada kasus sisa plasenta dengan
perdarahan pasca persalinan lanjut, sebagian besar pasien akan kembali lagi ke
tempat bersalin dengan keluhan perdarahan

Berikan antibiotika, ampisilin dosis awal 1g IV dilanjutkan dengan 3 x 1g oral


dikombinasikan dengan metronidazol 1g supositoria dilanjutkan dengan 3 x
500mg oral.

Lakukan eksplorasi (bila servik terbuka) dan mengeluarkan bekuan darah atau
jaringan. Bila servik hanya dapat dilalui oleh instrument, lakukan evakuasi sisa
plasenta dengan AMV atau dilatasi dan kuretase

Bila kadar Hb<8 gr% berikan transfusi darah. Bila kadar Hb>8 gr%, berikan
sulfas ferosus 600 mg/hari selama 10 hari. 5
TINDAKAN OPERATIF DALAM KALA URI
Tindakan operatif yang dapat dilakukan dalam kala uri persalinan adalah :7,8

PERASAT CREDE7
Perasat crede bermaksud melahirkan plasenta yang belum terlepas dengan ekspresi :
1.

Syarat : Uterus berkontraksi baik dan vesika urinaria kosong

2.

Teknik pelaksanaan

Fundus uterus dipegang oleh tangan kanan sedemikian rupa, sehingga ibu jari
terletak pada permukaan depan uterus sedangkan jari lainnya pada fundus dan
permukaan belakang. setelah uterus dengan rangsangan tangan berkontraksi baik,
maka uterus ditekan ke arah jalan lahir. gerakan jari-jari seperti meremas jeruk.
perasat Crede tidak boleh dilakukan pada uterus yang tidak berkontraksi karena
dapat menimbulkan inversion uteri

Perasat Crede dapat dicoba sebelum meningkat pada pelepasan plasenta secara
manual.

B. Jenis-Jenis Retensio Plasenta

Plasenta Adhesiva
adalah implantasi yang kuat dari jonjot korion plasenta sehingga
menyebabkan kegagalan mekanisme separasi fisiologis.

Plasenta Akreta
adalah implantasi jonjot korion plasetita hingga memasuki sebagian
lapisan miornetrium.

Plasenta Inkreta
adalah implantasi jonjot korion plasenta hingga mencapai / memasuki
miornetnum.

Plasenta Perlireta
adalah implantasi jonjot korion plasenta yang menembus lapisan otot
hingga mencapai lapisan serosa dinding uterus.

Plaserita Inkarserata
adalah tertahannya plasenta di dalam kavum utrri disebabkan oleh
kontriksi osteuni uteri.

C. Etiologi
Fungsional
o

His kurang kuat

Plasenta sulit terlepas, karena

tempatnya: insersi di sudut tuba

bentuknya: plasenta membranacea, plasenta anularis ukurannya: plasenta


yang sangat kecil

D. Retensio Plasenta dengan Separasi Parsial


Tentukan jenis Retensio yang terjadi karena berkaitan dengan tindakan yang akan
diambil .
a.

Regangkan tali pusat dan minta pasien untuk mengedan bila ekpulsi plasenta
tidak terjadi, cobakan traksi terkomntrol tali pusat .

b.

Pasang infus oksitosin 20 unit dalam 50 cc Ns/RL dengan 40 tetesan/menit.


Bila perlu kombinasikan dengan misoprostol 400 mg rektal .

c.

Bila troksi terkontrol gagal, lahirkan plasenta secara hati-hati dan halus.

d.

Lakukan tranfusi darah bila diperlukan

e.

Berikan antibiotika profilaksis (ampisilin 29 Iv/oral + metronida 20 l g


supositorial/oral )

f.

Segera atasi bila terjadi komplikasi perdarahan hebat, infeksi, syok


neurogenik.

Plasenta Inkarserata
a. Tentukan

diagnosis

kerja

melalui

anamnesis,

gejala

klinik

dan

pemeriksaan
b. Siapkan peralatan dan bahan yang dibutuhkan untuk menghilangkan
kontruksi servik dan melahirkan plasenta
c. Pilih fluathane atau eter untuk kontruksi servik yang kuat tetapi siapkan
infus oksitosis 20 IV dalam 500 mg NS/RL dengan 40 tetes/menit untuk
mengan tisipasi ganguan kontraksi yang disebabkan bahan anestesi
tersebut.
d. Bila prosedur anestesi tidak tersedia tetapi serviks dapat dilalui oleh
cunam ovum lakukan manuver sekrup untuk melahirkan plasenta. Untuk
prosedur tersebut berikan analgesik (tramadol 100 mg IV atau pethidme 50
mg IV dan sedotif (diazepam 5mg IV) pada tabung suntik terpisah.

Plasenta akreta
Tanda penting untuk diagnosis pada pemeriksaan luar adalah ikutnya
fundus/korpus apabila tali pusat ditarik. Pada pemeriksaan dalam, sulit
ditentukan tepi plasenta karena implantasi yang dalam upaya yang dapat
dilakukan pada fasilitas pelayanan kesehatan dasar adalah menentukan
diagnosis, stabilitas pasien dan rujuk ke RS.

E. Plasenta Manual
Menurut buku asuhan persalinan normal revisi 2007,
1.

Pengertian

Plasenta manual adalah tindakan untuk melepas plasenta secara


manual (menggunakan tangan) dari tempat implantasi dan kemudian
melahirkannya keluar dari kavum uteri

2.

Penatalaksanaan plasenta manual

a. Persiapan
1) Pasang set dan cairan infus
2) Jelaskan pada ibu prosedur dan tujuan tindakan
3) Lakukan anestesi verbal/analgesia per rectal
4) Siapkan dan jalankan prosedur pencegahan infeksi

b. Tindakan penetrasi ke dalam kavum uteri


1) Pastikan kandungan kemih dalam keadaan kosong
2) Jepit tali pusat dengan klem pada jarak 5-10 cm dari vulva
3) Secara obstetrik, masukkan tangan lainnya (punggung tangan menghadap
kebawah) kedalam vagina dengan menelusuri sisi bawah tali pusat
4) Setelah mencapai bukaan servikk, minta seseorang asisten/penolong lain
untuk memegangkan klem tali pusat kemudian pindahkan tangan luar
untuk menahan fundus uteri.
5) Sambil menahan fundus uteri. Masukkan tangan dalam hingga kekavum
uteri sehingga mencapai tempat implantasi plasenta.
6) Bentakan tangan obstetrik menjadi datar seperti memberi salam (ibu jari
merapat ke jari telunjuk dan jari-jari lain saling merapat).
c. Melepas plasenta dari dinding uterus
1) Tentukan implantasi plasenta, temukan tepi plasenta paling .
2) Setelah ujung-ujung jari masuk diantara plasenta dan dinding uterus maka
perluas pelepasan plasenta dengan jalan menggeser tangan ke kanan dan

kiri sambil digeserkan ke atas (kranial) hingga semua perlekatan plasenta


terlepas dari dinding uterus.

d. Mengeluarkan plasenta
1) Sementara satu tangan masih di dalam kavum uteri, lakukan eksplorasi
untuk menilai tidak ada sisa plasenta yang tertingga.
2) Pindahkan tangan luar dari fundus ke supra simpisis (tahan segmen bawah
uterus) kemudian instruksikan asisten/penolong untuk menarik tali pusat
sambil tangan dalam membawa plasenta keluar (hindari terjadinya
percikan darah).
3) Lakukan penakanan (dengan tangan yang menahan suprasimpisis) uterus
ke arah dorsokranial setelah plasenta dilahirkan dan tempatkan plasenta di
dalam wadah yang telah disediakan .
e. Pencegahan infeksi pasca tindakan
1) Dekontaminasi sarung tangan (sebelum dilepaskan) dan peralatan lain
yang digunakan
2) Lepaskan dan rendam sarung tangan dan peralatan lainnya di dalam
larutan klorin 0,5 % selama 10 menit
3) Cuci tangan
4) Keringkan tangan dengan handuk bersih

f. Pemantauan pasca tindakan


1) Periksa kembali tanda vital ibu
2) Catat kondisi ibu dan buat laporan tindakan
3) Tuliskan rencana pengobatan, tindakan yang masih diperlukan dan asuhan
lanjutan
4) Beritahu pada ibu dan keluarga bahwa tindakan telah selesai

5) Lanjutkan pemantauan ibu hingga 2 jam pasca tindakan sebelum dipindah


ke ruang rawat gabung .

Indikasi Manual Plasenta


Indikasi pelepasan plasenta secara manual adalah pada keadaan
perdarahan pada kala tiga persalinan kurang lebih 400 cc yang tidak dapat
dihentikan dengan uterotonika dan masase, retensio plasenta setelah 30 menit
anak lahir, setelah persalinan buatan yang sulit seperti forsep tinggi, versi
ekstraksi, perforasi, dan dibutuhkan untuk eksplorasi jalan lahir dan tali pusat
putus.7
Teknik Plasenta Manual
Sebelum dikerjakan, penderita disiapkan pada posisi litotomi. Keadaan
umum penderita diperbaiki sebesar mungkin, atau diinfus NaCl atau Ringer
Laktat. Anestesi diperlukan kalau ada constriction ring dengan memberikan
suntikan diazepam 10 mg intramuskular. Anestesi ini berguna untuk mengatasi
rasa nyeri. Operator berdiri atau duduk dihadapan vulva dengan salah satu
tangannya (tangan kiri) meregang tali pusat, tangan yang lain (tangan kanan)
dengan jari-jari dikuncupkan membentuk kerucut.8

Gambar 1. Meregang tali pusat dengan jari-jari membentuk kerucut


Dengan ujung jari menelusuri tali pusat sampai plasenta. Jika pada waktu
melewati serviks dijumpai tahanan dari lingkaran kekejangan (constrition ring),
ini dapat diatasi dengan mengembangkan secara perlahan-lahan jari tangan yang
membentuk kerucut tadi. Sementara itu, tangan kiri diletakkan di atas fundus uteri
dari luar dinding perut ibu sambil menahan atau mendorong fundus itu ke bawah.
Setelah tangan yang di dalam sampai ke plasenta, telusurilah permukaan fetalnya
ke arah pinggir plasenta. Pada perdarahan kala tiga, biasanya telah ada bagian
pinggir plasenta yang terlepas.8

Gambar 2. Ujung jari menelusuri tali pusat, tangan kiri diletakkan di atas fundus
Melalui celah tersebut, selipkan bagian ulnar dari tangan yang berada di
dalam antara dinding uterus dengan bagian plasenta yang telah terlepas itu.
Dengan gerakan tangan seperti mengikis air, plasenta dapat dilepaskan seluruhnya
(kalau mungkin), sementara tangan yang di luar tetap menahan fundus uteri
supaya jangan ikut terdorong ke atas. Dengan demikian, kejadian robekan uterus
(perforasi) dapat dihindarkan.8

Gambar 3. Mengeluarkan plasenta


Setelah

plasenta

berhasil

dikeluarkan,

lakukan

eksplorasi

untuk

mengetahui kalau ada bagian dinding uterus yang sobek atau bagian plasenta yang
tersisa. Pada waktu ekplorasi sebaiknya sarung tangan diganti yang baru. Setelah
plasenta keluar, gunakan kedua tangan untuk memeriksanya, segera berikan
uterotonik (oksitosin) satu ampul intramuskular, dan lakukan masase uterus.
Lakukan inspeksi dengan spekulum untuk mengetahui ada tidaknya laserasi pada
vagina atau serviks dan apabila ditemukan segera di jahit.

SOP
RETENSIO PLASENTA

Komplikasi:
Indikasi
plasenta manual:
Atonia uteri400 cc
Perdarahan
Perforasiretensio plasenta
Riwayat
Perdarahan
terus berulang
Sejarah
habitualis
Segera rujuk ke RS

Retensio plasenta
Belum lahir jam bayi lahir
Sikap bidan:
Evaluasi sebabnya
Rujuk ke RS
Plasenta manual

Tindakanplasenta
di RS: tanpa perdarahan
Retensio
Perbaikan KU : infuse dan anti biotic
Rujuk
Plasenta manual
Diantar
histrektomi
Pasang
infus
Siapkan donor

TEORI MANAJEMEN
RETENSIO PLASENTA
I.

PENGKAJIAN DATA
A. Data Subjektif
-

Biodata (umur kurang 20 dan lebih dari 35 tahun)


Riwayat obstetri
Menstruasi (HPHT tidak sesuai usia kehamilan, disminorhe)

Kehamilan (multi paritas)


Kala I (memanjang, inersia uteri), kala II (partus lama), kala III (atonia
uteri)
Riwayat KB (IUD)

B. Data Objektif
Data umum
TTV
TD
: rendah (kecil dari 90 mmHg
N
: cepat dan halus
S
: relative normal
Pemeriksaan khusus
Muka tampak pucat
Pada mata kunjungtiva pucat
Palpasi pada daerah perut didapatkan uterus discoid, kontraksi tidak baik,

TFU 1 jari diatas pusat .


Placenta belum keluar lebih dari 30 menit .

II. INTERPRESTASI DATA


a.

Diagnosa
Ibu parturien kala III dengan retensio plasenta
Dasar :
Ibu mengatakan blum mules
TFU 1 jari diatas pusat
Placenta belum lahir > 30 menit
Perdarahan pervaginam ada.

b.

Masalah
Placenta belum lahir setelah 30 menit

c.

Kebutuhan
1. informasi
2. Inform consent
3. Eliminasi
4. Penanganan kala III
5. Tanda bahaya

III. IDENTIFIKASI DIAGNOSA POTENSIAL


Perdarahan post partum, Syok
IV. IDENTIFIKASI TINDAKAN SEGERA,KOLABORASI DAN RUJUKAN
Pembertian oksitosin kedua dan Manual Plasenta.
V. RENCANA
1.
2.
3.
4.
5.

informasikan
Inform consent tentang penyuntikan oksitosin ke 2
Eliminasi
Penanganan kala III
Tanda bahaya

VI. PELAKSANAAN
1. Menginformasikan kepada ibu bahwa saat ini plasenta bu belum lahir
sehingga akan tilakukan tindakan manual plasenta
2. Menginformkan consent tentang penyuntikan oksitosin ke 2
3. Menganjurkan ibu untuk eliminasi jika ibu ingin atau merasa ingin
BAK/BAB dan ibu dilarang menahan BAK/BAB nya sebab dapat
menghambat kontraksi uters
4. Penanganan kala III
5. Tanda bahaya

VII. EVALUASI
1.
2.
3.
4.
5.

informasikan
Inform consent tentang penyuntikan oksitosin ke 2
Eliminasi
Penanganan kala III
Tanda bahaya

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU BERSALIN PATOLOGIS


DENGAN KASUS RETENSIO PLASENTA
TERHADAP Ny. M DI RB DOA IBU PURBOLINGGO
2011

i. PENGUMPULAN DATA DASAR


A. Pengkajian
1. Biodata
Ibu

: Ny. M

Suami

: Tn. M

Umur

: 35 tahun

Umur

: 37 tahun

Pendidikan

: SD

Pendidikan : SD

Pekerjaan

: IRT

Pekerjaan

: Tani

Agama

: Islam

Agama

: Islam

Suku

: Jawa

Suku

: Jawa

Alamat

: Ds. Tambah Dadi


Purbolinggo

Alamat

: Ds. Tambah Dadi


Purbolinggo

2. Data Subjektif
a. Keluhan utama
Ibu mengatakan mules-mules sejak pukul 04.00 wib
b. Ibu dengan G4P3Ao datang pada tanggal 19 September 2011. Dengan
nyeri menjalar ke pinggang bagian bawah serta sudah mengeluarkan
tanda lendir bercampur darah.
c. Riwayat obstetric

Menstruasi
Menarche

: 12 tahun

Siklus

: 28 hari

Sifat darah

: encer

Banyaknya

:4-5 x ganti dug

Disminorhe

: ada

d. Riwayat pernikahan
Status : syah
Nikah umur: 20 tahun, dengan suami umur :21 tahun
Jumlah anak : 3 orang, abortus : tidak ada
e. Riwayat Kehamilan sekarang
HPHT

: 12 Desember 2010

TP : 19 September 2011

ANC teratur di RB Doa Ibu Purbolinggo


f. Riwayat Imunisasi
Ibu mengatakan sudah mendapatkan imunisasi TT 2x pada usia
kehamilan 4 bulan dan 5 bulan
g. Riwayat kehamilan, persalinan yang lalu

1991

Tempat
persalinan
BPS

Usia
kehamilan
9 bulan

Jenis
persalinan
Normal
pervaginam

2.

1999

BPS

9 bulan

3.

2006

BPS

9 bulan

Hamil

Tahun

1.

Bidan

Penyakit
persalinan
Tidak ada

Perempuan

Normal
pervaginam

Bidan

Tidak ada

Laki-laki

Normal
pervaginam

Bidan

Tidak ada

Perempuan

Penolong

Jk

BB/PB
lahir
3000
gr/49
cm
3100
gr/50
cm
3200
gr/48
cm

Keadaan
Sehat
Sehat
Sehat

h. Riwayat kesehatan keluarga


Klien tidak pernah menderita penyakit menular seperti TBC, Hepatitis
dan tidak pernah menderita penyakit diabetes melitus, jantung dan
lain-lain. Dari pihak ibu atau suami tidak ada keturunan kembar atau
penyakit keturunan maupun penyakit kronis lainnya
i. Riwayat Seksual dan kontrasepsi
Klien menggunakan alat kontrasepsi suntik dan hubungan seksual
dilakukan 2x seminggu tanpa masalah dan keluhan.
j. Keadaan psikologis
Ibu mengatakan takut dan cemas dengan persalinannya kali ini.Ibu
terlihat gelisah.
B. Data objektif
a. Data Umum
Kesadaran

: kompos mentis,

status gizi

: baik.

Tanda-tanda vital
TD

: 130/90 mmHg

RR

: 20x/menit

Nadi

: 80x/menit

Suhu : 36,50C

TB

: 160 cm

BB sebelum hamil : 57 kg
BB

: 68 kg

b. Data Khusus
1. Rambut

: Bersih, tidak berketombe, rambut tidak mudah


dicabut, kulit kepala bersih.

2. Muka

: Tidak terdapat cloasma gravidarum, bentuk


simetris.

3. Mata

: Konjungtiva merah, sklera tidak ikterik, tidak


mengalami gangguan fungsi .

4. Hidung

: Simetris, bersih tidak terdapat polip tidak ada


ganggguan fungsi .

5. Mulut

: Bersih,

tidak

ada

sariawan,

gigi

tidak

berlubang dan tidak ada caries gigi .


6. Leher

: Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan


limfe

serta

tidak

ada

bendungan

vena

jugularis.
7. Dada

: Mamae simetris, puting susu menonjol, bersih,


aerola mamae mengalami hiperpigmentasi dan
colostrum sudah keluar.

8. Abdomen

: Membesar sesuai dengan usia kehamilan,


simetris, tidak ada luka bekas operasi, ada
striae gravidarum.

Leopold I

: TFU Px- Pusat, bagian yang teraba pada


fundus lunak, tidak bulat

Lepold II

: Sebelah kanan, keras, rata, seperti papan, dan


sebelah kiri teraba bagian-bagian kecil dan tidak
rata

Leopold III

: Teraba bulat, keras dan melenting pada bagian


bawah.

Leopold IV

: posisi tangan divergen

TFU dalam cm

: 31 cm

Konstraksi baik setiap 10 menit 3 x, lamanya > 40 detik, kuat.


DJJ terdengar jelas dibagian bawah sebelah kiri, bawah pusat
frekuensi 142x/menit teratur .

9. Punggung

: Lordosis.

10. Ekstrimitas atas

: Tidak ada oedem/varises, bentuk simetris,


tidak ada gangguan fungsi, jari lengkap.

11. Ekstrimitas bawah

: Tidak ada oedem/varises, bentuk simetris,


tidak ada gangguan fungsi, jari lengkap,
Reflek pattela (+) positif

12. Genetalia

: Tidak oedem/varises, perineum tidak ada


bekas luka, tidak ada haemoroid pada anus,
pengeluaran blood slym.

13. Pemeriksaan dalam


Introitus vagina

: Tidak ada varises, oedeme.

Vulva

: ada pengeluaran blood slym, tidak oedem,


tidak varises.

Pembukaan

: 9 cm

Portio

: Konsistensi lunak, tipis

Ketuban

: Utuh

Presentesi

: Kepala/Ubun-ubun kiri atas

Penurunan

: 3/5 Hodge III

Anus

: teraba ada tekanan, tidak haemoroid

c. Pemeriksaan lain
a) Pemeriksaan laboratorium : HB 10,7 gr%
b) Pemeriksaan panggul luar :
Distantia spinarum 25 cm,
distantia kristarum 28 cm,
lingkar panggul 92 cm .
ii. INTERPRESTASI DATA DASAR KALA I
1. Diagnosa

Ibu G4P3A0 Usia kehamilan 40 minggu fase aktif dilatasi maksimum, janin
tunggal, hidup, intra uterin, PU_KA, pres kep, keadaan ibu dan janin baik
Dasar :
a. Ibu mengatakan hamil anak ke-4 dan belum pernah keguguran.
HPHT : 12 Desember 2010

TP : 19 September 2011

b. Palpasi abdomen : TFU Px Pusat, TFU : 31 cm, TBJ 3100 gram,


PUKA DJJ 142 x/mnt, presentasi kepala dan sudah masuk PAP.
c. Periksa Dalam pukul 18.30 wib : Perineum elastis tidak oedema dan
varises, dinding vagina tidak ada kelainan, portio tipis dan lunak, ketuban
utuh, Pembukaan servik 9 cm, penurunan 1/5 hodge IV, Presentasi
belakang kepala,Tidak ada moulage, His 3x tiap 10 menit dan lamanya
>40 detik, Pengeluaran lendir bercampur sedikit darah.
2. Masalah
a. Kurangnya kebutuhan nutrisi
Dasar :
1) Ibu mengeluh males makan sejak pagi karena menahan rasa nyeri
2) Ibu tampak lesu
b. Rasa cemas
Dasar :
1) Ibu mengatakan cemas dengan persalinannya kali ini
2) Ibu terlihat gelisah
3. Kebutuhan
a. Informasi
b. Pemenuhan kebutuhan nutrisi dan cairan
c. Dukungan psikis bagi ibu

iii. IDENTIFIKASI MASALAH DAN POTENSIAL

Potensial terjadi komplikasi persalinan kala I ( inersia uteri, kala I memanjang)


iv. KEBUTUHAN TERAHADAP TINDAKAN SEGERA DAN KOLABORASI
Kolaborasi dengan dokter bila ada komplikasi pada kala I dan proses persalinan.
v. RENCANA MANAJEMEN
1. Asuhan Persalinan kala I
a. Jelaskan kondisi ibu
b. Siapkan fisik dan psikis ibu dalam menghadapi persalinan
c. Siapkan alat dan obat untuk menolong persalinan serta resusitasi janin
d. Lakukan pengawasan kala I dengan menggunakan partograf
2. Gangguan rasa aman sehubungan nyeri pinggang
a. Jelaskan tahapan-tahapan yang akan ibu jalani dalam proses persalinan
b. Jelaskan pada ibu ketegangan akan mempengaruhi proses persalinan
c. Atur posisi ibu senyaman mungkin
d. Anjurkan ibu untuk beristirahat bila tidak ada His
e. Ajarkan pada ibu cara mengedan yang efektif
1) Tenangkan ibu
2) Ajarkan teknik relaksasi
3) Anjurkan ibu untuk tidak mengedan sebelum waktunya
3. Kurangnya kebutuhan nutrisi
a. Menjelaskan pada ibu pentingnya istirahat, cairan, nutrisi untuk persiapan
proses persalinan
b. Memenuhi kebutuhan nutrisi ibu
c. Observasi asupan pada ibu
d. Libatkan keluarga untuk pemenuhan asupan ibu
vi. IMPLEMENTASI LANGSUNG
1. Asuhan Persalinan kala I

a. Menjelaskan kondisi ibu, bahwa saat ini sudah memasuki proses


persalinan yaitu pembukaan jalan lahir yang menyebabkan nyeri yang
hilang timbul teratur .
b. Menyiapkan lingkungan dan ruang bersalin yang bersih dan nyaman serta
terjaga privasinya.
c. Menyiapkan alat dan obat untuk menolong persalnan serta resusitasi
janin .
d. Melakukan pengawasan kala I dengan menggunakan partograf .
2. Mengatasi gangguan rasa nyaman sehubungan nyeri pinggang
a. Menjelaskan tahapan-tahapan yang akan ibu jalani dalam proses
persalinan yaitu tahap pembukaan jalan lahir, pengeluaran bayi,
pengeluaran ari-ari, dan tahap 2 jam pengawasan.
b. Menjelaskan pada ibu ketegangan akan mempengaruhi proses persalinan
seperti memperlambat proses persalinan.
c. Mengatur posisi ibu senyaman mungkin yaitu posisi duduk.
d. Menganjurkan pada ibu untuk beristirahat bila tidak ada His dengan
mengatur pernafasan.
e. Mengkaji penyebab rasa cemas yaitu karena his yang makin sering dan
lama.
f. Melibatkan keluarga untuk mengurangi rasa nyeri ibu dengan di masase
pada pinggangnya.
g. Mengajarkan pada ibu cara mengedan yang efektif
1) Menenangkan ibu dengan memberi nasehat dan pujian
2) Mengajarkan teknik relaksasi dengan menarik nafas panjang dan
mengeluarkan lewat hidung.
3) Menganjurkan ibu untuk mengedan saat memasuki kala II dan saat
ada his.
3. Memenuhi kebutuhan nutrisi ibu

a. Menjelaskan pada ibu pentingnya istirahat, cairan, nutrisi untuk persiapan


proses persalinan
b. Memenuhi kebutuhan nutrisi ibu dengan memberinya makanan yang ibu
inginkan yaitu biscuit dan teh hangat.
c. Mengobservasi asupan nutrisi dan cairan pada ibu
d. Melibatkan keluarga untuk pemenuhan asupan nutrisi dan cairan ibu

vii. EVALUASI
1. Ibu dapat lebih tenang untuk menjalani proses persalinan dengan suami dan
ibu disampingnya .
2. Ibu mengatakan mengerti tentang kondisinya saat ini
3. Ibu mengatakan mengerti tentang cara mengatasi nyeri akibat his
4. Kala 1 Fase aktif berlangsung 1 jam .

CATATAN PERKEMBANGAN
KALA II
Tanggal 19 September 2011

Pukul 19.30

SUBJEKTIF :
1. Ibu mengatakan sakitnya lebih sering dan lama
2. Ibu mengatakan seperti ingin BAB
3. Ibu tampak semakin gelisah sambil memegangi perutnya
OBJEKTIF :
1. Kontraksi uterus makin sering, lama dan kuat, kualitas baik, dominasi di fundus his
4x tiap 10 menit selama 45 detik, relaksasi baik
2. Periksa Dalam terakhir pukul 16.00 WIB dengan hasil :
a. Vulva/vagina

: Blood slym bertambah banyak

b. Portio

: tidak teraba

c. Ketuban

: pecah spontan

d. Presentasi

: Kepala/ubun-ubun kecil kiri depan

e. Penurunan Kepala : 0/5 pada hodge IV


f. Pembukaan

: 10 cm

3. Anus mengembang, vulva membuka dan perineum mulai menonjol


4. Djj terdengar jelas frekuensi 140x/menit
5. Pemeriksaan vital sign
a. TD

: 120/80 mmHg

b. Pols

: 80x/mnt

c. RR

: 20x/mnt

d. Temp : 370C
6. Ibu mulai mengedan dan setiap mengedan keluar blood slym

7. Ibu mengerti cara mengedan yang efektif dan kapan ibu boleh mengedan serta ibu
dapat melakukannya dengan baik
ANALISA :
1. Diagnosa
Ibu inpartu kala II normal
Dasar :
a. His kuat 4X tiap 10 menit, lamanya 45 detik, kualitas baik, dominasi fundus,
relaksasi baik .
b. Ibu mulai mengedan bila ada his dan keluar blood slym semakin banyak .
c. Ketuban pecah spontan, anus dan vulva membuka .
d. Djj 140x/menit .
e. Pembukaan lengkap 10 cm .
f.

Penurunan kepala Hodge III-IV.

2. Diagnosa potensial : Potensial terjadi Perpanjangan kala II


Dasar : Ibu partu kala II
3. Masalah
a. Nyeri persalinan
Dasar :
1) Ibu tampak semakin gelisah sambil memegangi perutnya
2) Ibu mengatakan perutnya mulas dan makin sering
3) Ibu mengatakan sudah tidak bisa menahan keinginan untuk mengedan
b. Rasa cemas
Dasar :
1) Ibu mengatakan cemas dengan persalinannya kali ini dan karena his yang
makin sering dan lama.
2) Ibu tampak gelisah

4. Kebutuhan
a. Asupan nutrisi adekuat
b. Dukungan psikologis
c. Asuhan Pertolongan persalinan normal
d. Pertolongan persalinan normal

PERENCANAAN :
1. Jelaskan tentang kondisi ibu dan bayi dan beri penjelasan bahwa persalinan akan
segera dimulai
a. Siapkan perlengkapan untuk pencegahan infeksi
b. Siapkan tempat persalinan, peralatan dan bahan
c. Siapkan tempat dan lingkungan untuk kelahiran bayi
2. Siapkan ibu dan keluarga
a. Anjurkan keluarga untuk mendampingi selama persalinan
b. Berikan dukungan dan semangat selama persalinan dan kelahiran bayinya
c. Siapkan kondisi ibu dan atur posisinya
d. Lakukan masase pada punggung ibu dan usap perut lembut pimpin
3. Pimpin persalinan tiap ada his dan menganjurkan pada ibu untuk istirahat saat his
hilang

a. Ajarkan ibu teknik relaksasi, istirahat diantara kontraksi


b. Anjurkan ibu untuk tidak mengeran berkepanjangan dan menahan nafas
c. Motivasi ibu agar tetap tenang
4. Pantau selama penatalaksanaan kala II persalinan
a. Periksa dan catat nadi setiap 30 menit, rekuensi dan lama his setiap 30 menit dan
penurunan kepala bayi .
b. Observasi pengeluaran pervaginam, periksa warna cairan ketuban .
c. Periksa kemungkinan kehamilan kembar yang tidak diketahui sebelumnya .
d. Periksa putaran paksi luar segera setelah kepala bayi lahir .
e. Lakukan semua tindakan dengan teknik septik-septik antiseptik .
5. Bayi lahir pukul 19.50 WIB,Jenis kelamin laki-laki, BB : 3100 gram, panjang badan
49 cm, APGAR SCORE 8-10, tidak ada cacat bawaan, bayi tunggal .

KALA III
Subyektif :
1. Ibu mengatakan perutnya terasa mulas placenta belum lahir .
2. Ibu mengatakan merasa lega dan senang dengan kelahiran bayinya .
Obyektif :
1. Pemeriksaan umum
Keadaan umum

: Baik

TD

: 120/70 mmHg

Nadi

: 80x/menit

RR

: 22x/menit

Suhu

: 370C

2. Palpasi pada daerah perut didapatkan uterus tidak teraba bulat dan keras kontraksi
baik, TFU 1 jari diatas pusat .
3. Placenta belum keluar lebih dari 30 menit .

4. Vesika urinaria teraba agak menonjol .


Analisa
1. Diagnosa
Ibu parturien kala III dengan retensio plasenta
Dasar :
a. TFU 1 jari diatas pusat
b. Placenta belum lahir > 30 menit
c. Perdarahan pervaginam ada.
2. Masalah
Placenta belum lahir setelah 30 menit
3. Kebutuhan
Pembertian oksitosin kedua dan Manual Plasenta.
4. Potensial perdarahan post partum
Dasar :
Ibu post partum, placenta belum lahir
Perencanaan :
2. Jelaskan pada ibu bahwa ia memasuki kala III persalinan
a. Jelaskan pada ibu tindakan yang mungkin dilakukan
b. Jelaskan pada ibu bahwa pengeluaran plasenta tidak seperti pengeluaran bayi
c. Lakukan observasi vital sign

3. Lakukan manajemen aktif kala III, meliputi


a. Pemotongan tali pusat dengan memperlihatkan teknik steril
b. Pemberian suntikan oksitosin 10 unit dalam 1 menit pertama setelah bayi lahir
c. Penegangan tali pusat terkendali, dengan cara memindahkan klem pada tali pusat
sekitar 5-20 cm dari vulva dan tangan kiri pada abdomen ibu tepat diatas simfisis
pubis dan beri sedikit tekanan secara kranial .
d. Masase fundus uteri dengan lembut dan gerakan tangan dengan arah memutar
pada fundus uteri selama 15 detik
e. Jika plasenta belum lahir dalam waktu 15 menit, berikan 10 unit oksitosin yang ke
2 tunggu 30 menit .
f. Apabila plasenta belum lahir dan ada tanda terjadi perdarahyan segera keluarkan
plasenta.
4. Lakukan manual plasenta
a. Masukan 1 tangan kedalam vagina dengan menelusuri tali pusat bagia bawah
b. Tentukan implantasi plasenta, temukan tepi plasenta yang paling bawah
c. Gerakkan tangan kanan ke kiri dan kanan sambil bergeser kranial sehingga semua
permukaan maternal plasenta dapat dilepaskan.
d. Sementara satu tangan masih didalam kavum uteri, lakukan eksplorasi ulangan
untuk memastikan tidak ada bagian plasenta yang masih melekat pada dinding
uterus
e. Keluarkan plasenta
5. Observasi perdarahan
a. Observasi kontraksi uterus
b. Periksa placenta yang sudah dikeluarkan, selaput dan kotiledonya
c. Kontrol luka yang terjadi pada vagina dan perineum tidak ada robekan, perineum
utuh .
d. Masase fundus 15 detik
e. Mandikan/bersihkan ibu dan lakukan vulva hygiene setelah plasenta dilahirkan

f. Ganti pakaian ibu dengan yang bersih


g. Berikan minuman dan anjurkan ibu untuk istirahat
6. Placenta lahir pukul 20.30, lengkap, berat 500 gr, kotiledon 20 buah, insersi lateralis,
panjang tali pusat 45 cm, diameter 200cm.

KALA IV
Tanggal 19 September 2011

Pukul 20 30 wib

Subyektif :
1. Ibu tampak tenang dan mengatakan lega karena bayi dan plasentanya telah lahir
2. Ibu tampak lemah
Obyektif :
1. TTV :
TD

: 110/70 mmHg

Pols

: 80x/menit

RR

: 20x/menit

Temp.

: 370C

2. Keadaan umum baik, composmentis


3. Kontraksi uterus baik, TFU 1 jari dibawah pusat , jumlah perdarahan 120 cc.
4. Tidak ada laserasi
5. ASI sudah keluar
Analisa :
1. Diagnosa
Ibu partus spontan pervaginam, kala IV
Dasar :
a. Bayi lahir tanggal 19 September 2011, pukul 19.50 WIB
b.

Plasenta lahir secara manual tanggal 19 September 2011, pukul 20.30 WIB

2. Masalah
a. Nutrisi dan cairan kurang adekuat
Dasar : Ibu tampak lemah dan bibir ibu tampak kering
b. Rasa Cemas
Dasar : Ibu mengatakan cemas dengan kondisinya saat ini

3. Potensial terjadi perdarahan post partum


Dasar :
a. Perut mulas, TFU 1 jari bawah pusat
b. Perdarahan kala III 150 cc
4. Kebutuhan
Observasi keadaan umum, TTV, involusi uterus, perdarahan dan kandung kemih.
PERENCANAAN
1. Pemantauan kala IV
a. Pantau kondisi ibu saat ini
b. Lakukan rangsangan taktil pada fundus untuk merangsang kontraksi uterus
c. Perkirakan kehilangan darah

Evaluasi Keadaan umum ibu


a. Pantau tekanan darah, nadi, tinggi fundus kandung kemih, perdarahan
b. Lakukan peninjauan uterus tetap berkontraksi
c. Pantau temperatur dan nilai perdarahan
d. Dampingi ibu selama 2 jam Post Partum
2. Penuhi kebutuhan ibu sehari-hari
a. Bersihkan ibu, anjurkan untuk menjaga personal hygieny
b. Ajarkan ibu cara perawatan pada alat genitalianya
c. Anjurkan ibu untuk memenuhi kebutuhan nutrisi agar kondisinya stabil
d. Bantu ibu dalam memenuhi kebutuhan aktifitas dan berikan posisi yang nyaman
e. Anjurkan ibu untuk segera memberikan aji kepada bayinya
3. Observasi proses involusi (TFU, kontruksi uterus, nyeri tekan, perdarahan
pervaginam) setiap 15 menit pada 1 jam pertama dan tiap 30 menit pada 1 jam ke-2
4. Pemantauan kala IV
Jam
ke
1.

2.

Waktu

Tekanan

Suhu

20.30

darah
120/70

Nadi
80

38

20.45

120/70

21.00

Kandung

TFU

Kontraksi

3 Jari bawah pusat

Baik

kemih
Kosong

76

3 Jari bawah pusat

Baik

Kosong

40 cc

110/70

76

3 Jari bawah pusat

Baik

Kosong

60 cc

21.15

110/70

76

2 Jari bawah pusat

Baik

Kosong

80cc

21.45

110/70

80

2 Jari bawah pusat

Baik

Kosong

100 cc

22.15

110/70

80

2 Jari bawah pusat

Baik

Kosong

120 cc

37

Perdarahan
20 cc

DAFTAR PUSTAKA
1.

Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Hauth JC, Gilstrap III LC, Wenstrom
KD. Uterine Leiomyomas. In : Williams Obstetrics. 22nd edition. Mc Graw-Hill.
New York : 2005.

2.

Sheris j. Out Look : Kesehatan ibu dan Bayi Baru Lahir. Edisi Khusus. PATH.
Seattle : 2002.

3.

Winkjosastro H, Hanada . Perdarahan Pasca Persalinan. Disitasi tanggal 21


September 2008 dari : http://www.geocities.com/Yosemite/Rapids/1744/cklobpt12
.html [update : 1 Februari 2005].

4.

Setiawan Y. Perawatan perdarahan post partum. Disitasi tanggal 21 September


2008 http://www.Siaksoft.net [update : Januari 2008].

5.

Alhamsyah. Retensio Plasenta. Disitasi tanggal 22 September 2008 dari :


www.alhamsyah.com [update : Juli 2008].

6.

Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. Perdarahan Pasca Persalinan.. Disitasi


tanggal 22 September 2008 dari : http://.www.Fkunsri.wordpress.com [update :
Agustus 2008].

7.

Wiknjosastro H, Saifuddin AB, Rachimhadi T. Tindakan Operatif Dalam Kala


Uri. Dalam : Ilmu Bedah Kebidanan. Edisi 3. Jakarta : YBP-SP. 2002.

8.

WHO. Managing Complications in Pregnancy and Childbirth : Manual Removal.


of

Placenta.

Disitasi

tanggal

22

September

2008

dari

:http://www.who.int/reproductivehealth/impac/Procedures/
Manual_removal_P77_P79.html. [update : 2003].
9.

Wiknjosastro H, Saifuddin AB, Rachimhadi T. Perdarahan Post Partum. Dalam :


Ilmu Bedah Kebidanan. Edisi 3. Jakarta : YBP-SP. 2002.

10.

Prawirohardjo S. Perdarahan Paca Persalinan. Dalam : Buku Acuan Nasional


Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : YBP-SP. 2002.

11.

Wiknjosastro H, Saifuddin AB, Rachimhadi T. Syok Hemoragika dan Syok


Septik. Dalam : Ilmu Bedah Kebidanan. Edisi 3. Jakarta : YBP-SP. 2002.