Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Gangguan belajar atau learning disorder adalah suatu kumpulan dengan
bermacam-macam gangguan yang mengakibatkan kesulitan dalam mendengar,
berbicara, menulis, menganalisis, dan memecahkan persoalan. Gangguan Belajar
mengacu pada sejumlah gangguan yang dapat mempengaruhi kemampuan,
pengaturan, ingatan, pemahaman atau penggunaan informasi verbal atau nonverbal.
Gangguan ini mempengaruhi belajar pada individu yang dinyatakan menunjukkan
kecerdasan termasuk rata-rata. Keadaan ini terjadi sebagai akibat dari disfungsi
minimal otak yaitu karena adanya penyimpangan dalam perkembangan otak yang
dapat berwujud dalam berbagai kombinasi gejala gangguan seperti : gangguan
persepsi, pembentukan konsep, bahasa, ingatan, kontrol perhatian atau gangguan
motorik. Keadaan ini tidak disebabkan oleh gangguan primer pada penglihatan,
pendengaran, gangguan motorik, gangguan emosional, retardasi mental atau akibat
lingkungan. (NJCLD, 2003 & LDAOC, 2002)
Di dalam istilah kesulitan belajar tercakup kondisi-kondisi halangan persepsi,
cedera otak, disfungsi minimal otak, dyslexia, dan aphasi perkembangan. Istilah ini
tidak mencakup anak yang mempunyai masalah yang pada dasarnya sebagai akibat

hambatan visual, pendengaran, tunagrahita, gangguan phisik, gangguan emosi,


lingkungan, budaya, dan ekonomi yang kurang menguntungkan.
Dyslexia merupakan salah satu dari gangguan belajar yaitu Orang dengan
disleksia mengalami masalah belajar spesifik, terutama terkait kata-kata. Misalnya,
huruf-huruf dalam tulisan bercampur aduk dan tidak beraturan sehingga sulit dibaca
dan diingat. Dyslexia berasal dari bahasa Yunani, yakni dys (kesulitan) dan lexia
(kata-kata),

untuk

menyebut

gangguan

yang

memengaruhi

pengembangan

keterampilan literasi dan bahasa (Latief, 2010).


Agama Islam memandang dyslexia ini merupakan suatu ujian dan cobaan
yang tidak bisa dipungkiri bagi setiap manusia. Allah menurunkan ujian dan cobaan
kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, baik orang kaya maupun orang miskin.
Manusia terkadang diuji dengan kesusahan sebagi mana diuji dengan kesenangan;
diuji dengan kekayaan sebagaimana juga diuji dengan kemiskinan; diuji dengan
kesehatan sebagaimana halnya diuji dengan suatu penyakit. Semua itu adalah cobaan
yang harus kita hadapi.
Menurut al-Jilani sabar itu artinya sikap menyesuaikan diri dengan Allah
dalam qada dan takdir-Nya. Sesungguhnya sabar pada waktu yang pertama kali
adalah idtirar (yang tidak dapat diusahakan) dan pada waktu yang kedua kali
adalah ikhtiyar (dapat diusahakan). Jadi, bagi al-Jilani kesabaran adalah sesuatu yang

tidak akan datang hanya dengan pengakuan saja (Bairut:al-Maktabah alSyayabiyyah, 1988).
Dalam Islam selain kita harus bersabar dalam menghadapi cobaan kita pun
harus tetap berusaha dalam menghadapi cobaan yang di berikan oleh Allah SWT,
dalam hal ini anak-anak dengan disleksia harus tetap belajar walaupun dengan
keterbatasan yang dimiliki oleh mereka, dengan metode pembelajaran khusus anakanak dengan disleksia insyallah dapat membaca seperti orang normal.
1.2. Permasalahan
1. Apakah benar ada hubungannya antara kerusakan otak dengan dyslexia?
2. Bagaimana cara mendeteksi anak dengan dyslexia?
3. Bagaimana pandangan Islam mengenai kerusakan otak pada anak dengan
dyslexia?
1.3. Tujuan
1.3.1. Tujuan umum
Tujuan dari penulisan skripsi ini adalah untuk mengetahui dimana letak
kelainan pada penderita disleksia dan bagaimana cara mendeteksinya.

1.3.2. Tujuan khusus


1. Mengetahui dimana letak kerusakan otak pada anak dengan disleksia.
2. Mengetahui bagaimana cara mendeteksi disleksia pada anak agar dapat
ditangani sedini mungkin.
3. Mengetahu bagaimana pandangan Islam tentang kerusakan otak pada anak
dengan dyslexia.
1.4

Manfaat
1. Bagi Penulis
Untuk memenuhi persyaratan mendapatkan gelar dokter muslim di
Fakultas Kedokteran Universitas YARSI serta menambah wawasan
pengetahuan dalam bidang ilmu kedokteran tentang Disleksia dan dalam
bidang agama Islam tentang bagai mana cara menyikapi cobaan yang
diberikan oleh Allah SWT.

2. Bagi Universitas YARSI


Skripsi ini diharapkan dapat memperkaya khasanah ilmu pengetahuan
di perpustakaan Universitas YARSI serta menjadi bahan masukan bagi civitas
akademika mengenai kerusakan otak pada anak dengan disleksia ditinjau dari
kedokteran dan Islam.

3. Bagi Masyarakat
Diharapkan skripsi ini dapat membantu menambah khasanah
pengetahuan masyarakat bahwa disleksia ini bukan hanya terdapat kesalahan
pada gen tetapi juga adanya kerusakan di bagian otak.