Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN
Gangguan perkembangan pervasif (Pervasive Developmental Disorder) adalah suatu
gangguan perkembangan pada anak, yang ditandai oleh adanya kelainan dan/atau keterlambatan
perkembangan yang muncul sebelum anak usia 3 tahun dengan ciri kelainan fungsi dalam tiga
bidang, yaitu: interaksi sosial, komunikasi, dan perilaku. Kata pervasif berarti bahwa masalah ini
relatif tidak ringan tetapi secara signifikan mempengaruhi individu sepanjang hidupnya.
Istilah Pervasif Gangguan Mengembangkan-mental yang pertama kali digunakan pada
tahun 1980 untuk menggambarkan kelas gangguan. Kelas ini gangguan memiliki kesamaan
karakteristik sebagai berikut: gangguan dalam interaksi sosial, aktivitas imajinatif, keterampilan
komunikasi verbal dan nonverbal, dan sejumlah kepentingan dan kegiatan yang cenderung
berulang.
Istilah gangguan perkembangan meluas (PDDs) mengacu pada sekelompok kondisi yang
mempengaruhi perkembangan anak-anak dan melibatkan penundaan atau gangguan dalam
komunikasi dan sosialisasi serta keterampilan. Pervasif berarti meliputi seluruh aspek
perkembangan sehingga gangguan tersebut sangat luas dan berat, yang mempengaruhi anak
secara mendalam. Autisme adalah yang paling terkenal dari gangguan perkembangan ini,
sehingga PDDs juga dikenal sebagai gangguan spektrum autisme. PDDs juga termasuk dalam
Sindrom Asperger dan dan dua kondisi yang kurang lazim disebut gangguan disintegratif masa
kanak-kanak dan Rett syndrome. Biasanya, pertama-tama PDDs didiagnosis selama masa bayi,
balita, atau anak usia dini. Tanda PDD biasanya dikenali sebelum anak berusia 3 tahun. Namun,
gejala-gejala dapat berkisar dari berat kepada begitu halus sehingga mereka tampaknya aspek
normal dari perkembangan anak muda.
Autistic Spectrum Disorder atau gangguan spektrum autisme adalah istilah yang
digunakan untuk menggambarkan jenis gangguan perkembangan pervasif pada anak yang
mengakibatkan gangguan/keterlambatan pada bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi, dan
interaksi sosial. Kondisi seperti itu tentu akan sangat mempengaruhi perkembangan anak, baik
fisik maupun mental. Apabila tidak dilakukan intervensi secara dini dengan tatalaksana yang
tepat, perkembangan yang optimal pada anak tersebut sulit diharapkan. Mereka akan semakin
Gangguan Perkembangan Pervasif|1

terisolir dari dunia luar dan hidup dalam dunianya sendiri dengan berbagai gangguan mental
serta perilaku yang semakin mengganggu. Tentu semakin banyak pula dampak negatif yang akan
terjadi.

Gangguan Perkembangan Pervasif|2

BAB II
PEMBAHASAN
DEFINISI
Autistic Spectrum Disorder atau gangguan spektrum autisme adalah istilah
yang digunakan untuk menggambarkan jenis gangguan perkembangan pervasif
pada anak yang mengakibatkan gangguan/keterlambatan pada bidang kognitif,
bahasa, perilaku, komunikasi, dan interaksi sosial. Kondisi seperti itu tentu akan
sangat mempengaruhi perkembangan anak, baik fisik maupun mental.
Gangguan

autisme

atau

childhood

autism

adalah

cacat

pada

perkembangan saraf dan psikis manusia baik sejak janin dan seterusnya yang
menyebabkan kelemahan/perbedaan dalam berinteraksi sosial, kemampuan
berkomunikasi, pola minat, dan tingkah laku. Dimana gejala dari gangguan
autisme ini sudah tampak sebelum anak tersebut mencapai usia 3 tahun.
EPIDEMIOLOGI
Di Indonesia, autisme juga mendapat perhatian luasdari masyarakat
maupun profesional karena jumlah anak autistik yang meningkat dengan cepat.
Sampai saat ini belum ada data resmi mengenai jumlah anak autistikdi Indonesia,
namun lembaga sensus Amerika Serikat melaporkan bahwa pada tahun 2004
jumlah anak dengan ciri-ciri autistik atau GSA di Indonesia mencapai 475.000
orang (Kompas, 20 Juli 2005). Dengan semakin berkembangnya penelitianpenelitian mengenai autisme maka semakin disadari bahwa gangguan autistik
merupakan suatu spektrum yang luas. Setiap anak autistik adalah unik. Masingmasing memiliki simtom-simtom dalam kuantitas dan kualitas yang berbeda.
Karena itulah pada beberapa tahun terakhir ini muncul istilah ASD (Autistic
Spectrum Disorder) atau GSA (Gangguan Spektrum Autistik).
ETIOLOGI
Seperti telah diuraikan dalam catatan pakar autis ( Nakita, 2002 ) jumlah
penyandang autisme dibandingkan dengan jumlah kelahiran normal dari tahun
Gangguan Perkembangan Pervasif|3

ketahun meningkat tajam sehingga ditahun 2001 lalu sudah mencapai 1 dari 100
kelahiran. Peningkatan yang tajam ini tentunya menimbulkan pertanyaan, ada
perubahan apa dalam rentang waktu tersebut sehingga kasus terjadinya autisme
bisa meningkat tajam tidak saja di Indonesia tetapi juga di berbagai negara.

1) Factor Psikogenik
Ketika autisme pertamakali ditemukan tahun 1943 oleh Leo Kanner, autisme
diperkirakan disebabkan pola asuh yang salah. Kasus-kasus perdana banyak
ditemukan pada keluarga kelas menengah dan berpendidikan,yang orangtuanya
bersikap dingin dan kaku pada anak. Kanner beranggapan sikap keluarga
tersebut kurang memberikan stimulasi bagi perkembangan komunikasi anak
yang akhirnya menghambat perkembangan kemampuan komunikasi dan
interaksi sosial anak. Pendapat Kanner ini disebut dengan teori Psikogenik
yang menerangkan penyebab autisme dari factor-faktor psikologis, dalam hal
ini perlakuan/ pola asuh orangtua. Namun penelitian-penelitian selanjutnya
tidak menyepakati pendapat Kanner. Alasannya, teori psikogenik tidak mampu
menjelaskan ketertinggalan perkembangan kognitif, tingkah laku maupun
komunikasi anak autis. Penelitian-penelitian selanjutnya lebih memfokuskan
kaitan factor-faktor organik dan lingkungan sebagai penyebab autis. Kalau
semula penyebabnya lebih pada faktor psikologis, maka saat ini bergeser ke
factor organik dan lingkungan.
2) Factor biologis dan lingkungan
Pada factor bilogis dan lingkungan terdapat beberapa teori yang dapat membuat
seseorang menjadi penderita autisme. Teori-teori tersebut antara lain :
a. Teori kelebihan opioid
Opioid adalah zat yang dapat menstimulasi perubahan perilaku. Zat
ini meningkat kadarnya didalam tubuh penderita autisme.
b. Teori Gulten-Casein
Konsumsi makanan dengan kadar gluten dan casein akan
memperparah autisme yang diderita. Zat yang terkandung didalam
gluten maupun casein akan menyebabkan seseorang menderita
Gangguan Perkembangan Pervasif|4

penyakit celiac, dimana penyakit tersebut akan memicu gejala


autisme.
c. Genetik (heriditer)
d. Teori Autoimun dan Alergi makanan
Alergi pada suatu makanan menyebabkan hipersensitifitas pada
tubuh seseorang. Reaksi tersebut diperantarai oleh mekanisme yang
bersifat imunologi, farmakologi, toksin dan neurology yang pada
akhirnya dapat mengakibatkan gangguan fungsi otak.
e. Teori Infeksi karena virus Vaksinasi
Penggunaan vaksin MMR (Mumps, Measles, Rubella) yang
disuntikkan pada saat anak berusia 16 bulan tersebut mengandung
zat kimia berbahaya yang mengandung zat pengawet thimerosal
dengan ethilmerkuri didalamnya yang diketahui sebagai penyebab
utama sindrom autisme.
f. Teori kelainan saluran cerna (Hipermeabilitas Intestinal/Leaky Gut)
Pada bayi baru lahir sel yang mengandung IgA, Imunoglobulin
utama di sekresi eksternal, jarang ditemui di saluran cerna, belum
sempurnanya saluran cerna pada anak mengakibatkanintegritas
mukosa usus dan peristaltic yang merupakan pelindung masuknya
allergen ke dalam tubuh tidak mampu menahan masuknya allergen
tersebut. Pada usus imatur (tidak matang) sistem pertahanan tubuh
tersebut masih lemah dan gagal berfungsi sehingga memudahkan
alergen masuk ke dalam tubuh.
g. Teori kekurangan Vitamin, mineral dan nutrisi tertentu
Adanya

defisiensi

zinc

pada

penderita

autisme

sehingga

menyebabkan gangguan metabolism melationin dalam tubuh


dimana melationin tersebut digunakan dalam mendetoksifikasi
logam berat dalam tubuh yang dapat mengakibatkann kerusakan
otak.

Gangguan Perkembangan Pervasif|5

PATOFISIOLOGI
Setelah anak lahir, terjadi proses pengaturan pertumbuhan otak berupa bertambah
dan berkurangnya struktur akson, dendrit, dan sinaps. Proses ini dipengaruhi secara
genetik melalui sejumlah zat kimia yang dikenal sebagai brain growth factors dan proses
belajar anak.Makin banyak sinaps terbentuk, anak makin cerdas. Pembentukan akson,
dendrit, dan sinaps sangat tergantung pada stimulasi dari lingkungan. Bagian otak yang
digunakan dalam belajar menunjukkan pertambahan akson, dendrit, dan sinaps.
Sedangkan bagian otak yang tak digunakan menunjukkan kematian sel, berkurangnya
akson, dendrit, dan sinaps.
Kelainan genetis, keracunan logam berat, dan nutrisi yang tidak adekuat dapat
menyebabkan terjadinya gangguan pada proses proses tersebut. Sehingga akan
menyebabkan abnormalitas pertumbuhan sel saraf. Peningkatan neurokimia otak secara
abnormal menyebabkan pertumbuhan abnormal pada daerah tertentu. Pada gangguan
autistik terjadi kondisi growth without guidance, di mana bagian-bagian otak tumbuh dan
mati secara tak beraturan.
Pertumbuhan abnormal bagian otak tertentu menekan pertumbuhan sel saraf lain.
Hampir semua peneliti melaporkan berkurangnya sel Purkinye (sel saraf tempat keluar
hasil pemrosesan indera dan impuls saraf) di otak kecil pada autisme. Berkurangnya sel
Purkinye diduga merangsang pertumbuhan akson, glia (jaringan penunjang pada sistem
saraf pusat), dan mielin sehingga terjadi pertumbuhan otak secara abnormal atau
sebaliknya, pertumbuhan akson secara abnormal mematikan sel Purkinye. Yang jelas,
peningkatan brain derived neurotrophic factor dan neurotrophin-4 menyebabkan kematian
sel Purkinye.
Gangguan pada sel Purkinye dapat terjadi secara primer atau sekunder. Bila
autisme disebabkan faktor genetik, gangguan sel Purkinye merupakan gangguan primer
yang terjadi sejak awal masa kehamilan. Degenerasi sekunder terjadi bila sel Purkinye
sudah berkembang, kemudian terjadi gangguan yang menyebabkan kerusakan sel
Purkinye. Kerusakan terjadi jika dalam masa kehamilan ibu minum alkohol berlebihan
atau obat seperti thalidomide.
Gangguan Perkembangan Pervasif|6

GEJALA DAN TANDA


Tanda dan gejala dapat dilihat berdasarkan DSM-IV dengan cara seksama
mengamati perilaku anak dalam berkomunikasi, bertingkah laku dan tingkat
perkembangannya. yakni

yang

terdapat

pada

penderita

autisme

dengan

Gangguan Perkembangan Pervasif|7

membedakan usia anak. Tanda dan gejala tersebut dapat terlihat sejak bayi dan
harus diwaspadai.
USIA

TANDA DAN GEJALA AWAL

0 6
bulan

Terlalu sensitif, cepat terganggu/terusik

Gerakan tangan dan kaki berlebihan terutama bila mandi

Tidak babbling

Tidak ditemukan senyum sosial diatas 10 minggu

Tidak ada kontak mata diatas umur 3 bulan

Perkembangan motor kasar/halus sering tampak normal

6 12
bulan

Bayi tampak terlalu tenang ( jarang menangis)

Bayi tampak terlalu tenang ( jarang menangis)

Terlalu sensitif, cepat terganggu/terusik

Gerakan tangan dan kaki berlebihan

Sulit bila digendong

Tidak babbling

Menggigit tangan dan badan orang lain secara berlebihan

Tidak ditemukan senyum social

Tidak ada kontak mata

Perkembangan motor kasar/halus sering tampak normal

Gangguan Perkembangan Pervasif|8

1 2 Kaku bila digendong


tahun

Tidak mau bermain permainan sederhana (ciluk ba, da-da)


Tidak mengeluarkan kata
Tidak tertarik pada boneka
Memperhatikan tangannya sendiri
Terdapat keterlambatan dalam perkembangan motor kasar/halus
Mungkin tidak dapat menerima makanan cair

2 3 Tidak tertarik untuk bersosialisasi dengan anak lain


tahun

Melihat orang sebagai benda


Kontak mata terbatas
Tertarik pada benda tertentu
Kaku bila digendong

4 5 Sering didapatkan ekolalia (membeo)


tahun

Mengeluarkan suara yang aneh (nada tinggi atau datar)


Marah bila rutinitas yang seharusnya berubah
Menyakiti diri sendiri (membenturkan kepala) dan temper
tantrum

Namun, selain tanda dan gejala awal yang dapat dilihat diatas, terdapat juga
beberapa gejala umum yang pasti dapat terlihat apabila seseorang menderita autisme.
Gejala tersebut adalah sebagai berikut :
1. Perkembangan Sosial

Gangguan Perkembangan Pervasif|9

Penderita autisme mengalami kerusakan interaksi social dan seringkali kurang


perhatian terhadap lingkungan sekitarnya. Berikut adalah karakteristik (tanda dan
gejala) sehubungan dengan gangguan (kerusakan) interaksi social penderita autisme :
a. Menolak / menghindar untuk beratatap muka
b. Tidak menoleh jika dipanggil, sehingga seringkali diduga tuli
c. Menolak atau merasa tidak senang jika dipeluk
d. Bila menginginkan sesuatu, menarik tangan orang terdekat dan berharap
orang tersebut melakukan sesuatu untuknya.
e. Hidup dalam dunianya sendiri (tidak mau berbagi kesenangannya dengan
orang lain).
f. Menjauh bila didekati saat ia sedang bermain
2. Komunikasi
Sepertiga atau setengah dari individu yang menderita autisme kemampuan
perkembangan komunikasi alaminya tidak terjadi, baik secara verbal maupun nonverbal. Gangguan komunikasi tersebut dikarakteristikkan dengan antara lain :
a. Kemampuan berbahasa mengalami keterlambatan atau sama sekali tidak dapat
terjadi.
b. Menggunakan kata tanpa menghubungkan dengan arti yang lazim digunakan.
c. Berkomunikasi dengan menggunakan bahasa tubuh dan hanya dapat
berkomunikasi dalam waktu singkat.
d. Kata-kata tidak dapat dimengerti orang lain.
e. Tidak menggunakan kata dalam konteks yang sesuai.
f. Ekolia (meniru/membeo), menirukan kata, kalimat atau lagu tanpa tahu
artinya.
g. Bicara monoton seperti robot.
h. Mimik datar.

3. Bermain
Penderita autis mengalami gangguan bermain, karakteristinya antara lain :

Gangguan Perkembangan Pervasif|10

a. Bermain sangat monoton dan aneh misalnya menderetkan sabun menjadi satu
deretan yang panjang, memutar bola pada mainan mobil dan mengamati
dengan seksama dalam jangka waktu lama.
b. Ada kelekatan dengan benda tertentu seperti kertas, gambar, kartu atau guling,
terus dipegang dibawa kemana saja dia pergi.
c. Bila senang satu mainan tidak mau mainan lainnya.
d. Tidak menyukai boneka, tetapi lebih menyukai benda yang kurang menarik
seperti botol, gelang karet, baterai atau benda lainnya
e. Tidak spontan / reflek dan tidak dapat berimajinasi dalam bermain. Tidak
dapat meniru tindakan temannya dan tidak dapat memulai permainan yang
bersifat pura pura.
f. Sering memperhatikan jari-jarinya sendiri, kipas angin yang berputar atau
angin yang bergerak.
g. Perilaku yang ritualistik sering terjadi sulit mengubah rutinitas sehari hari,
misalnya bila bermain harus melakukan urut-urutan tertentu, bila bepergian
harus melalui rute yang sama.
4. Perilaku
Anak dengan autisme mengalami gangguan dalam perilaku sehari-harinya,
karakteristiknya antara lain :
a. Sering dianggap sebagai anak yang senang kerapian harus menempatkan
barang tertentu pada tempatnya
b. Anak dapat terlihat hiperaktif misalnya bila masuk dalam rumah yang baru
pertama kali ia datang, ia akan membuka semua pintu, berjalan kesana kemari,
berlari-lari tak tentu arah.
c. Mengulang suatu gerakan tertentu atau repetitive behavior (menggerakkan
tangannya seperti burung terbang). Ia juga sering menyakiti diri sendiri seperti
memukul kepala atau membenturkan kepala di dinding
d. Dapat menjadi sangat hiperaktif atau sangat pasif (pendiam), duduk diam
bengong dengan tatap mata kosong. Marah tanpa alasan yang masuk akal.
Amat sangat menaruh perhatian pada satu benda, ide, aktifitas ataupun orang.

Gangguan Perkembangan Pervasif|11

Tidak dapat menunjukkan akal sehatnya. Dapat sangat agresif ke orang lain
atau dirinya sendiri.
e. Gangguan kognitif, tidur, gangguan makan dan gangguan perilaku lainnya.
5. Perasaan dan Emosi
Gangguan perasaan dan emosi juga dialami oleh penderita autisme, gangguan
tersebut dikarakteristikkan dengan antara lain :
a. Tertawa-tawa sendiri, menangis atau marah tanpa sebab nyata
b. Sering mengamuk tak terkendali (temper tantrum), terutama bila tidak
mendapatkan sesuatu yang diinginkan
c. Sering mengamuk tak terkendali (temper tantrum) bila keinginannya tidak
didapatkannya, bahkan bisa menjadi agresif dan merusak.
d. Tidak dapat berbagi perasaan (empati) dengan anak lain
6. Persepsi Sensoris
Gangguan persepsi sensoris juga terdapat oleh penderita autisme dengan karakteristik
sebagai berikut :
a. Sensitif terhadap cahaya, pendengaran, sentuhan, penciuman dan rasa (lidah)
dari mulai ringan sampai berat.
b. Menggigit, menjilat atau mencium mainan atau benda apa saja
c. Bila mendengar suara keras, menutup telinga.
d. Menangis setiap kali dicuci rambutnya.
e. Merasa tidak nyaman bila diberi pakaian tertentu.
f. Tidak menyukai rabaan atau pelukan, Bila digendong sering merosot atau
melepaskan diri dari pelukan.
KLASIFIKASI
Autism adalah salah satu dari lima spektrum yang berhubungan dengan gangguan
neurological dan perkembangan yang disebut dengan Pervasive Developmental
Disorders (PDD) atau Autism Spectrum Disorders (ASD).Yang termasuk dalam
kelompok gangguan ini adalah:
1. Autism : sebuah bentuk dari ASD yang lebih berat.
2. Asperger Syndrome : bentuk ASD yang lebih ringan.
Gangguan Perkembangan Pervasif|12

3. Pervasive Developmental Disorder-Not Otherwise Ppecified (PDDNOS)


4. Rett Syndrome : sebuah gangguan neurological sangat berat dan jarang terjadi,
umumnya terjadi pada wanita.
5. Childhood Disintegrative Disorder (CDD) : Gangguan perkembangan yang
berat dan jarang terjadi.

A. Autism
o Ketidakmampuan bersosialisasi dan berkomunikasi. serta mempunyai
minat dan aktifitas yang terbatas tanpa adanya keterlambatan dalam
kemampuan berbicara. Kecerdasannya berada pada tingkat normal atau
diatas normal.
o Sampai dengan umur 3 tahun mempunyai daya imajinasi yang tinggi dalam
bermain dan mempunyai perilaku, minat dan aktifitas yang unik (aneh).
o Terdapat enam gejala Autism yaitu kegagalan untuk mengembangkan
kehidupan

sosial

normal,

gangguan

bicara,

bahasa

dan

komunikasi, abnormal relationships to objects and events, respon tidak


normal terhadap stimulasi sensoris, perbedaan perkembangan dan
keterlambatan perkembangan, dimulai selama usia bayi atau anak
B. Sindrom Aspergers

Aspergers Syndrome gejala khas yang timbul adalah gangguan interaksi


sosial ditambah gejala keterbatasan dan pengulangan perilaku, ketertarikan
dan aktifitasis.

Mempunyai gangguan kualitatif dalam interaksi sosial, sedikitnya dua


gejala dari itu ditandai dengan gangguan penggunaan beberapa komunikasi
non verbal (mata, pandangan, ekspresi wajah, sikap bada, gerak isyarat)

Tidak bisa bermain dengan anak sebaya. Gangguan dalam menikmati minat
atau keberhasilan kurangnya hubungan sosial dan emosional

Gangguan Perkembangan Pervasif|13

C. Gangguan Perkembangan Pervasif (Pervasive Developmental Disorder Not


Otherwise Specified/PDD-NOS)

Biasa disebut Autis yang tidak umum dimana diagnosis PDD-NOS dapat
dilakukan jika anak tidak memenuhi kriteria diagnosis yang ada (DSMIV) akan tetapi terdapat ketidakmampuan pada beberapa perilakunya.

D. Gangguan

Disintegratif

pada

Anak-anak

(Childhood

Disintegrative

Disorder/CDD)

Pertumbuhan yang normal pada usia 1 sampai 2 tahun kemudian


kehilangan kemampuan yang sebelumnya telah dikuasai dengan baik.

Anak berkembang normal dalam usia 2 tahun pertama (seperti :


kemampuan kominukasi, sosial, bermain dan perilaku), namun secara
bermakna kemampuan itu terganggu sebelum usia 10 tahun, yang
tergangggu diantaranya adalah kemampuan bahasa, kemampuan sosial,
kemampuan buang air besar dan buang air kecil di toilet, bermain,
kemampuan motorik

Gejala tambahan, menunjukkan fungus abnormal sedikitnya dua hal dari :


Interaksi sosial

Komunikasi Pola perilaku terbatas : perhatian dan aktifitas

E. Sindrom Rett adalah penyakit degeneratif, ketidakmampuan yang semakin hari


semakin parah (progresif).

Hanya menimpa anak perempuan. Pertumbuhan normal lalu diikuti


dengan kehilangan keahlian yang sebelumnya telah dikuasai dengan baik,
khususnya kehilangan kemampuan menggunakan tangan yang kemudian
berganti menjadi pergerakan tangan yang berulang ulang (seperti mencuci
tangan) mulai pada umur 1 hingga 4 tahun.

Gejala dapat dimulai usia 6 bulan hingga usia 18 bulan

Pertumbuhan kepala lambat

Kehilangan kemampuan menggunakan gerakan tangan

Berkembang seperti gejala khas autism

Gangguan Perkembangan Pervasif|14

DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan dengan Diagnostic And Statistical Manual-IV atau DSM-IV
yang merupakan suatu sistem diagnostik yang dibuat oleh perhimpunan psikiater
Amerika. sistem ini menyebutkan tentang Pervasive Developmental Disorders.
kriteria itu disebutkan sebagai berikut:
A.

Untuk hasil diagnosa diperlukan total enam gejala atau lebih dari nomor (1),(2), dan
(3). Termasuk setidaknya dua gejala dari nomor (1) dan masing-masing satu gejala dari
nomor (2) dan (3).
1)

Gangguan kulitatif dalam interaksi sosial yang timbal balik. Minimal harus ada
dua dari gejala-gejala dibawah ini:

Tak mampu menjalin interaksi sosial yang cukup memadai seperti kontak
mata sangat kurang, ekspresi wajah kurang hidup, gerak-gerik kurang
tertuju.

Tidak bisa bermain dengan teman sebaya

Tak ada empati

Kurang mampu mengadakan hubungan sosial dan emosional yang timbal


balik.

2)

Gangguan kualitatif dalam bidang komunikasi. Minimal harus ada dua dari
gejala-gejala dibawah ini:

Perkembangan bicara terlambat atau sama sekali tak berkembang. Anak


tidak berusaha untuk berkomunikasi secara non verbal.

3)

Bila anak bisa bicara maka bicaranya tdak dipakai untuk berkomunikasi.

Sering menggunakan bahasa yang aneh dan diulang-ulang.

Cara bermain kurang variatif, kurang imajinatif, dan kurang dapat meniru.

Adanya

suatu

pola

yang

dipertahankan

dan

diulang-ulang

dalam

perilaku,minat, dan kegiatan. Minimal harus ada satu dari gejala dibawah ini:

Mempertahankan satu minat atau lebih dengan cara yang sangat khas dan
berlebihan.

Terpaku pada suatu kegiatan yang ritualistik atau rutinitas yang tidak ada
gunanya.

Ada gerakan-gerakan aneh yang khas dan diulang-ulang.


Gangguan Perkembangan Pervasif|15


B.

Seringkali sangat terpukau pada bagian-bagian benda.

Sebelum umur tiga tahun tampak adanya keterlambatan atau gangguan dalam bidang
interaksi sosial, bicara dan berbahasa, cara bermain yang monoton, kurang variatif.

C.

Bukan lebih merupakan sindroma rett atau gangguan disintegratif masa kanak.
Jelaslah bahwa seorang anak harus memenuhi kriteria tersebut diatas untuk dapat
disebut mengalami gangguan autistik. Namun gejala diatas sangat bervariasi dari anak ke
anak sehingga kemungkinan kesalahan diagnosis selalu ada, terutama pada autis ringan.
Hal ini biasanya disebabkan karena adanya gangguan atau penyakit lain yang menyertai
gangguan autis yang ada, seperti retardasi mental yang berat atau hiperaktivitas.
Diagnosis akhir dan evaluasi keadaan anak sebaiknya ditangani oleh suatu tim
dokter yang berpengalaman terdiri dari: dokter anak, ahli saraf anak, psikolog, ahli
perkembangan anak, psikiater anak, ahli terapi wicara. Tim tersebut bertanggung jawab
dalam menegakkan diagnosis dan memberi arahan mengenai kebutuhan unik dari
masing-masing anak, termasuk bantuan interaksi sosial, bermain, perilaku dan
komunikasi.
PENATALAKSANAAN
TERAPI
Tujuan terapi pada gangguan spektrum autisme adalah untuk:

Mengurangi masalah perilaku

Meningkatkan kemampuan belajar dan perkembangannya, terutama


dalam penguasaan bahasa.
Dengan deteksi sedini mungkin dan dilakukan manajemen multidisiplin

yang sesuai dengan waktu, diharapkan dapat tercapai hasil yang optimal dari
perkembangan anak dengan gangguan spektrum autisme.
I. Non-medikamentosa
A. Terapi edukasi
Hambatan pada individu dengan gangguan spektrum autisme terutama pada
interaksi sosialnya. Hal ini akan berlanjut bila tidak segera ditangani pada usia
sekolah, anak akan mengalami kesulitan dalam berkomunikasi, bersosialisasi
Gangguan Perkembangan Pervasif|16

dengan lingkungan barunya. Oleh karena itu sebaiknya anak sesegera


mungkin dikenalkan dengan lingkungannya. Intervensi dalam bentuk
pelatihan, ketrampilan sosial, keterampilan sehari-hari agar anak jadi mandiri.
Berbagai metode pengajaran telah diujicobakan pada gangguan ini antara
lain; metode TEACCH (Treatment And Education Of Autistic And Related
Communication Handicapped Children). Dikembangkan oleh Eric Scholpler
pada awal tahun 1970an merupakan suatu sistem pendidikan khusus untuk
anak dengan gangguan spektrum autisme. Metode ini merupakan suatu
program yang sangat terstruktur yang mengintegrasikan metode klasikal yang
individual, metode pengajaran yang sistematik, terjadwal dan dalam ruangan
kelas yang ditata khusus. Pada prinsipnya metode pengajaran untuk anakanak ini sebaiknya diberikan dalam kelas yang jumlah muridnya tidak lebih
dari 10-15 orang, guru yang memahami kondisi ini dan lingkungan yang
mendukung.

B.

Terapi perilaku
Gangguan perilaku pada individu dengan gangguan spektrum autisme
biasanya merupakan satu gejala yang membuat orang tua menyadari
bahwa anaknya berbeda perkembangannya dengan anak lain seusianya.
Selain hiperaktivitas, impulsivitas, gerakan stereotipik, cara bermain yang
tidak sama dengan anak lain, juga adanya agresivitas, tempertantrums dan
perilaku yang cenderung melukai diri sendiri. Kondisi ini sangat menguras
tenaga, fisik/psikis orang-orang disekitarnya. Intervensi terapi perilaku
sangat diperlukan disini. Apapun metodenya sebaiknya sesegera dan
seintensif mungkin. Sebaiknya memang dilakukan terpadu dengan terapiterapi lain, apabila terdapat perilaku yang sulit dikendalikan, mungkin
intervensi medikamentosa diperlukan terlebih dahulu, agar anak dapat
diberi terapi yang lain.

C. Terapi wicara
Keterlambatan dan abnormalitas dalam berbahasa dan berbicara
merupakan keluhan yang sering diajukan oleh orangtua. komunikasi non
Gangguan Perkembangan Pervasif|17

verbal juga mengalami gangguan, sering tidak dapat menggunakan


gerakan tubuh dalam berkomunikasi seperti menggeleng, mengangguk,
menunjuk, melambai, mengangkat alis, dan sebagainya. Intervensi dalam
bentuk wicara diperlukan, seperti diketahui bahwa tidak semua individu
dengan gangguan spektrum autisme akan dapat berkomunikasi secara
verbal, sekitar 25-30% kemungkinan tetap nonverbal. Terapi wicara yang
diberikan diperlukan pengetahuan yang baik mengenai ciri-ciri bicara dan
berbahasa anak ausitik. Terapi ini harus diberikan secara dini dan dengan
intensif bersama dengan terapi-terapi yang lain.
D. Terapi okupasi/fisik
Keterampilan motorik individu dengan gangguan spektrum autisme sering
terganggu baik motorik kasar atau halus. Diperlukan intervensi terapi
okupasi agar individu dengan gangguan spektrum autisme dapat
melakukan gerakan, memegang, menggunting, menulis, melompat dengan
terkontrol dan teratur sesuai dengan kebutuhan saat itu.3
E. Sensori-integrasi
Adalah pengorganisasian informasi melalui semua sensori yang ada untuk
menghasilkan respons yang bermakna. Melalui semua indera yang ada, otak
menerima aliran informasi tentang kondisi fisik dan lingkungan sekitarnya.
Pada gangguan spektrum autisme seringkali terjadi disorganisasi pada fungsi
sarafnya, sehingga terjadi gangguan dalam aliran informasi ke otak. Hal ini
yang sering menimbulkan pelbagai macam gangguan sensorik pada individu
dengan gangguan spektrum autisme , seperti koordinasi motorik yang buruk,
aktivitas yang tidak terkontrol, hiper atau hiposensitif, perilaku melukai diri
sendiri. Dengan pendekatan sensori integrasi yang bertujuan mengintegrasikan
sensorik yang ada, diharapkan semua gangguan akan dapat diatasi.

F. Auditori Integration Training (AIT)


Banyak

individu

dengan

gangguan

spektrum

autisme

mengalami

hipersensitifitas terhadap suara dan mengganggu pendengaran mereka.


Mereka sering tampak menutup telinga dengan kedua tangan bila mendengar
Gangguan Perkembangan Pervasif|18

nada tertentu yang untuk orang lain tidak menimbulkan masalah. Suara-suara
tersebut dapat sedemikian menyakitkan sehingga membuat mereka dapat
berteriak, menjerit tiba-tiba, tapi setelah suara-suara tersebut hilang, mereka
kembali seperti tidak pernah terjadi sesuatu. Contoh: suara pengering rambut,
mesin cuci, mixer, bahkan suara microwave. Pada intervensi AIT pada
awalnya ditentukan suara yang mengganggu pendengaran dengan perangkat
audiometer. Lalu diikuti dengan seri terapi yang memperdengarkan suarasuara yang direkam, tapi tidak disertai dengan suara yang menyakitkan.
Selanjutnya dilakukan desensitisasi terhadap suara-suara yang menyakitkan
tersebut.
G. Intervensi keluarga
Yang dimaksud keluarga disini bisa hanya keluarga inti, namun dapat pula
ditambah anggota keluarga lain yang mempunyai pengaruh pada pengasuhan
seorang anak. Pada dasarnya hidup dalam keluarga, perlu bantuan keluarga
baik perlindungan, pengasuhan, pendidikan, maupun dorongan untuk dapat
tercapainya perkembangan yang optimal dari seorang anak, mandiri, dan
dapat bersosialisasi dengan lingkungannya. Untuk itu dibutuhkan keluarga
yang dapat berinteraksi positif antar anggota keluarga dan saling mendukung.
Oleh karena itu pengolahan keluarga dalam kaitannya dengan manajemen
terapi menjadi sangat penting, tanpa dukungan keluarga rasanya sulit sekali
kita dapat melaksanakan terapi apapun pada individu dengan gangguan
spektrum autisme.
II. Dengan medikamentosa
Selain dengan terapi seperti diatas manajemen dari gangguan autisme dilakukan
dengan medikamentosa. Terapi medikamentosa ini dilakukan karena individu
dengan gangguan autisme ini mempunyai variasi perilaku yang mengganggu yang
seringkali menimbulkan suasana yang tegang bagi keluarganya. Kondisi ini
seringkali memerlukan medikasi dengan medikamentosa yang mempunyai potensi
untuk mengatasi susana tersebut. Perilaku yang mengganggu dan disruptive
tersebut misalnya: agresi, temper tantrum dan hiperaktivitas. Manajemen terbaik
dari perilaku tersebut adalah dengan dosis rendah antipsikotik/neuroleptik, tapi
Gangguan Perkembangan Pervasif|19

dapat juga dengan agonis reseptor alfa adrenergik dan antagonis reseptor beta
sebagai alternatif.

Neuroleptik:

Neuroleptik tipikal potensi rendah thioridazine dapat menurunkan


agresivitas dan agitasi. Dosis: 0,5-3 mg/kg/hari dibagi dalam 2-3
kali/hari

Neuroleptik tipikal potensi tinggi haloperidol dan pimozide dalam


dosis kecil 0,25- 3 mg/hari dapat menurunkan agresivitas, hiperaktivitas,
iritabilitas, dan stereotipik.

Neuroleptik atipikal rizperidone, clozapine, olanzapine rizperidone


bila dipakai dalam dosis yang direkomendasikan: 0,5-3 mg/hari dibagi
dalam 2-3 kali/hari, yang dapat dinaikkan 0,25 mg setiap 3-5 hari sampai
dosis inisial tercapai 1-2 mg/hari dalam 4-6 minggu, akan tampak
perbaikan pada hubungan social, atensi, dan gejala obsesif.

Agonis reseptor alfa adrenergic


Clonidine (catapres) dilaporkan dapat menurunkan agresivitas, temper tantrum,
impulsivitas, dan hiperaktivitas. Mulai dengan dosis rendah: 0,025-0,05 mg 2
kali sehari dinaikkan secara bertahap sampai dosis maksimum 0,3-0,6 mg/hari
dalam 3-4 kali/hari.

Antagonis reseptor beta


Propanolol dipakai dalam mengatasi agresivitas terutama yang disertai dengan
agitasi dan ansietas. Dosis 1-5 mg/kgBB/hari atau lebih.

Selain dengan terapi diatas manajemen pada anak dengan gangguan autisme juga
ditangani dengan terapi perkembangan terpadu. Terapi tersebut terdiri dari terapi
okupasi dengan penekanan pada terapi sensory integration yang dipadu dengan
metode floor time. Namun bila anak memerlukannya, masih ditambah lagi dengan
strategi visual. Terapi diet pada anak autisme adalah pemberian makanan yang
bebas glutein dan kasein.
Terapi sensory integration dan floor time diberikan setelah anak diketahui

menyandang gangguan semua spektrum autisme. Sedangkan strategi visual baru


Gangguan Perkembangan Pervasif|20

diberikan bila anak sudah benar-benar siap menerima terapi ini. Kesiapan tersebut akan
dinilai oleh terapis, dokter atau psikolog yang menangani si anak. Terapi sensory
integration adalah terapi untuk memperbaiki cara otak menerima, mengatur, dan
memproses semua input sensoris yang diterima oleh panca indera, indera keseimbangan,
dan indera otot. Anak yang mengalami gangguan perilaku, seperti autisme, akan
mengalami kesulitan dalam menerima dan mengintegrasikan beragam input yang
disampaikan otak melalui inderanya. Akibatnya, otak tidak dapat memproses input
sensoris dengan baik. Dengan begitu, otak juga tidak dapat mengatur perilaku anak agar
sesuai dengan lingkungannya.
Melalui terapi sensory integration, kemampuan sikecil dalam menerima,
memproses, dan mengintepretasi input-input sensoris, baik dari luar maupun dari dalam
dirinya, akan diperbaiki. Dengan begitu, dia dapat lebih baik dalam bereaksi terhadap
lingkungannya. Untuk meningkatkan kemampuan anak dalam bersosialisasi dan
berkomunikasi, terapi sensory integration harus dipadukan dengan metode floor time.
Metode bermain interaktif yang spontan dan menyenangkan bagi anak bertujuan untuk
mengembangkan interaksi dan komunikasi si kecil. Floor time bertujuan membentuk
komunikasi dua arah anatara anak dan lawan bicaranya, serta mendorong munculnya ide
dan membantu anak mampu berpikir logis. Agar bisa melakukan floor time dengan baik,
orang tua perlu bimbingan psikolog yang paham dan berpengalaman dengan metode
tersebut.
Pada strategi visual umumnya, penyandang gangguan spektrum autisme lebih mampu
berpikir secara visual. Jadi mereka lebih mudah mengerti apa yang dilihat daripada apa yang
didengar. Strategi visual dipilih agar sikecil lebih mudah memahami berbagai hal yang ingin
anda sampaikan. Biasanya, ia akan diperkenalkan pada berbagai aktivitas keseharian, larangan
atau aturan, jadwal dan sebagainya lewat gambar-gambar. Misalnya gambar urutan dari cara
menggosok gigi, mencuci tangan, dan sebagainya. Dengan strategi visual diharapkan anak bisa
memahami situasi, aturan, mengatasi rasa cemas, serta mengantisipasi kondisi yang akan terjadi.
Terapi makanan tambahan menurut Hembing, diprioritaskan pada upaya pemenuhan
makanan tinggi protein yang menyehatkan. Di sisi lain terdapat makanan yang mesti dipantang

Gangguan Perkembangan Pervasif|21

anak autis. Yaitu, makanan yang mengandung glutein dan casein. Misalnya roti, mie, spaghetti,
susu hewan, es krim, yoghurt, coklat dan keju.
Menurut Hembing, ada tiga reaksi negatif yang bisa muncul jika penderita autism
mengonsumsi glutein dan casein. Pertama, alergi. Reaksi alergi ini dapat termanifestasi dalam
misalnya, perilaku hiperaktif, dan agresif. Kedua, intoleran atau sensitive terhadap makanan.
Manifestasinya mirip dengan reaksi alergi, seperti sakit perut, sakit kepala, menangis berlebihan,
sensitif pada suara tertentu, bahkan depresi. Ketiga, reaksi opioid, menurut Hembing reaksi ini
adalah yang paling merusak. Reaksi ini biasanya muncul jika anak mengalami kebocoran usus.
Padahal 50% anak autis mengalami bocor usus yang disebabkan kondisi flora usus yang tak
seimbang. Reaksi ini paling merusak karena gluten dan casein akan terpecah menjadi protein tak
sempurna (peptide). Melalui aliran darah tersebut, peptide masuk ke otak dan kemudian
ditangkap reseptor opioid. Hasilnya anak tersebut terlihat seperti orang yang baru saja
mengonsumsi obat-obatan yang bersifat opioid seperti morfin atau heroin.

PROGNOSIS
Walaupun sebagian besar anak autisme menunjukkan perbaikan dalam hubungan
social dan kemampuan berbahasa seiring dengan meningkatnya usia, gangguan
autisme tetap meninggalkan ketidakmampuan yang menetap. Mayoritas dari mereka
tidak dapat hidup mandiri dan memerlukan perawatan di institusi ataupun
membutuhkan supervise terus. Hasil penelitian menemukan bahwa:

Dua per tiga dari anak autisme mempunyai prognosis yang buruk ; tidak dapat
mandiri.

Seperempat dari anak autisme mempunyai prognosis yang sedang ; terdapat


kemajuan dibidang sosial dan pendidikan walaupun ada problem perilaku.

Sepersepuluh dari anak autisme mempunyai prognosis yang baik ; kehidupan


sosial yang atau hampir normal dan berfungsi dengan baik disekolah maupun
tempat kerja.

Gangguan Perkembangan Pervasif|22

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Autism adalah salah satu dari lima spektrum yang berhubungan dengan gangguan
neurological dan perkembangan yang disebut dengan Pervasive Developmental Disorders
(PDD) atau Autism Spectrum Disorders (ASD).Yang termasuk dalam kelompok
gangguan ini adalah: Autism, Asperger Syndrome,Pervasive Developmental DisorderNot Otherwise Ppecified (PDDNOS) , Rett Syndrome, Childhood Disintegrative
Disorder (CDD).
Orangtua

dapat

sangat

membantu

mengarahkan

anak

autisme

untuk

mengeksploitasi kelebihan-kelebihan penderita autisme, seperti kemampuan untuk fokus


dan konsentrasi yang luar biasa, dan melatih mereka untuk memperbaiki berbagai
kelemahan-kelemahannya.
Yang terpenting adalah bagaimana kita menangani autisme dengan pendekatan
psikologi yaitu, mengarahkan perilaku, tingkat kecerdasan, kemandirian, mengajarkan
kerjasama, dan cara bersosialisasi kepada penderita autis.

Gangguan Perkembangan Pervasif|23

DAFTAR PUSTAKA
1.

Adriana Soekandar Ginanjar. 2007. Memahami Spectrum Autistik Secara Holistik. FKUI.
Jakarta. Tanggal diakses : 7 Juni 2013.
http://www.google.com/url?sa=D&q=http://puterakembara.org/rm/adriana_sg_dst.pdf&usg=
AFQjCNEnxRDH1fTn7y1nTYkcBYyZZukosg

2. CT-ASRC Organization. 2012. Autisme dan Gangguan Perkembangan Pervasif. Tanggal


diakses : 7 Juni 2013.
http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=pervasive%20developmental%20disorder%20pdf
&source=web&cd=3&cad=rja&sqi=2&ved=0CDoQFjAC&url=http%3A%2F%2Fwww.ctasrc.org%2Fdocs%2Fautismpervasive.pdf&ei=aeqVUZiOK4G3rAeeroGYAg&usg=AFQjCN
FQ-kCo8NYuj6eJKfCzE1saB7MWww&bvm=bv.46751780,d.bmk
3.

Davison, Gerald C dkk. 2006. Psikologi Abnormal. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada

4.

Nevid, Jeffrey S dkk. 2006. Psikologi Abnormal. Penerbit Erlangga. Jakarta

5.

Soemantri, H.T.S.1995. Psikologi Anak Luar Biasa. Depdikbud. Jakarta

6.

Sutadi. 1997. Tatalaksan Perlaku pada Penyandang Autisme. Makalah pada Simposium
Tatalaksana Autisme WTC. Jakarta

7.

Sutadi. 2003. Penatalaksanaan Holistik Autisme. Pusat Informasi dan Penerbitan UI. Jakarta

Gangguan Perkembangan Pervasif|24