Anda di halaman 1dari 15

BAB II

Asuhan Keperawatan
Infark Miokard
( I M )

OLEH
MELDAWATI
TINJAUAN TEORITIS

INFARK MIOKARD
DEFINISI

18

a. Infark miokardium (IM) disebabkan oleh penurunan aliran darah melalui satu
atau lebih arteri koroner, mengakibatkan iskemia miokard dan nekrosis.
(Donges, 2000, Edisi 3, Rencana asuhan keperawatan, Jakarta, EGC)
b. Infark miokard adalah nekrosis miokard akibat aliran darah ke otot jantung
terganggu. (Soeparman, 1999, Edisi 2, Ilmu penyakit dalam, Jakarta FKUI)
c. Infark miokard mengacu pada proses rusaknya jaringan jantung akibat suplai
darah yang tidak adekuat sehingga aliran darah koroner berkurang.
(Brunner & Suddarth, 2002, Edisi 8, Keperawatan Medikal-Bedah, Jakarta,
EGC)
d. Kesimpulan.
Infark miokard merupakan iskemia dan nekrosis miokard akibat aliran darah ke
otot jantung terganggu yang disebabkan oleh krisis arteri koroner.
ETIOLOGI
Penyebab penurunan suplai darah mungkin akibat penyempitan krisis arteri koroner
karena akibat arterosklerosis atau penyumbatan total arteri oleh emboli atau thrombus.
Penurunan aliran darah koroner juga bisa diakibatkan oleh syok atau perdarahan. Pada
setiap kasus ini selalu terjadi ketidak seimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen
jantung.
PATOFISIOLOGI
Infark miokardium mengacu pada proses rusaknya jaringan jantung akibat suplai darah
yang tidak adekuat sehingga aliran darah koroner berkurang.
Penyumbatan koroner, serangan jantung dan infark miokardium, mempunyai arti
yang sama namun istilah yang disukai adalah infark miokardium (MI)
MI dijelaskan lebih lanjut berdasarkan lokasi terjadinya di dinding miokard :
inferior (posterior) atau lateral,meskipun ventrikel kiri merupakan tempat cedera yang
paling sering ditemukan, namun ventrikel kanan juga dapat mengalami infark. Diagnosis
dibuat berdasarkan hasil EKG. Tanpa memperhatikan lokasinya.
Tujuan terapi medis adalah mencegah dan memperkecil nekrosis jaringan jantung
MANIFESTASI KLINIS
Nyeri dada serupa dengan angina tetapi lebih intensif dan menetap (> 30 menit), tidak
sepenuhnya menghilang dengan istirahat ataupun pemberian nitrogliserin, sering disertai
nausea, berkeringat, dan sangat menakutkan pasien. Pada pemeriksaan fisik didapat
muka pucat, takikardi, dan bunyi jantung III (bila disertai gagal jantung kongestif).
Distensi vena jugolaris umumnya terdapat pada infark ventrikel kanan.
Nyeri dada yang tiba-tiba dan berlansung terus menerus, terletak bagian bawah
sternum dan perut atas, adalah gejala utama yang biasa muncul. Nyeri akan terasa

19

semangkin berat sampai tidak tertahankan. Rasa nyeri yang tajam dan berat, bisa
menyebar kebahu dan lengan, biasanya lengan kiri. Tidak seperti nyeri angina, nyeri ini
muncul secara spontan (bukan setelah bekerja berat atau gangguan emosi), dan menetap
selama beberapa jam sampai beberapa hari. Pada beberapa kasus nyeri bisa menjalar ke
dagu dan leher. Nyeri sering disertai dengan nafas pendek, pucat, berkeringat dingin,
pusing dan kepala ringan, mual serta muntah.
KOMPLIKASI
Perluasan infark dan iskemia pasca infark, aritmia (sinus bradikardi, supraventrikular,
takiaritmia, aritmia ventricular, gangguan konduksi), disfungsi otot jantung (gagal
jantung kiri, hipotensi, dan syok), infark ventrikel kanan, defek mekanik, ruptur
miokard, aneurisma ventrikel kiri, perikarditis, dan trombus mural.
PERTIMBANGAN GERONTOLOGI
Pada menula mungkin tidak mengalami nyeri tajam yang berhubungan dengan infark
miokard karena menurunnya respons neurotransmiter yang terjadi seiring proses menua.
Sering terjaadi nyeri tidak khas, seperti didagu, pingsan juga dapat terjadi.
Arterosklerosis yang menyertai proses menua dapat memperburuk perfusi jaringan
karena kekakuan arteri menyebabkan peningkatan tekanan vaskuler perifer, karena
manula biasanya lebih mengalami sirkulasi kolateral pada jantung. Maka semangkin
besar komplikasi yang berakibat kematian berhubungan dengan infark miokard.

Patofisiologi dengan masalah keperawatan


Arterosklerosis, perdarahan
Emboli atau thrombus

suplai darah yang


tidak adekuat

aliran darah koroner


berkurang

20

Nekrosis miokard
tidak disertai kerusakan
ireversibel

kerusakan ireversibel

angina pectoris

infark miokardium

Manula
menurunnya reseptor
neurotransmitter

ketidak seimbangan
Antara darah dan kebutuhan
oksigen jantung

Degenerasi

Pasien DM
neuropati

diganti dengan
jaringan parut

kerusakan
sangat luas

mempengaruhi
neuoreseptor

nyeri tidak khas


nyeri >30 menit
(nyeri hebat)
nyeri didagu atau
bisa pingsan

gagal jantung

dapat menumpulkan
nyeri

edema paru
gangguan rekoil dan
komplaen paru

nyeri tidak
terlalu hebat

resiko tinggi syok


gangguan pola tidur
pola nafas tidak efektif
deficit perawatan diri

intoleransi aktivitas

resiko tinggi konstipasi


DIAGNOSIS
Pada EKG terdapat elevasi segmen ST diikuti dengan perubahan sampai inverse
gelombang T, kemudian muncul peningkatan gelombang Q minimal di dua sadapan,
peningkatan kadar enzim atau isoenzim merupakan indikator spesifik infark miokard
akut, yaitu kreatinin fosfoskinase (CPK/CK), SGOT, laktat dehidrogenase (LDH), alfa
hidroksi butirat dehidrogenase (-HBDH), troponin T, dan isoenzim CPK MP atau
CKMB.

21

CK meningkat dalam 4-8 jam, kemudian kembali normal setelah 48-72 jam.
Tetapi enzim ini tidak spesifik karena dapat disebabkan penyakit lain, seperti penyakit
muscular, hipotiroid, dan strok.
CKMB lebih spesifik, terutama bila rasio CKMB : CK >2,5% namun nilai keduaduanya harus meningkat dan penilaian dilakukan secara serial dalam 24 jam pertama.
CKMB mencapai puncak 20 jam setelah infark. Yang lebih sensitive adalah penilaian
rasio CKMB2 : CKMB1 yang mencapai puncak 4-6 jam setelah kejadian.
CKMB2 adalah enzim CKMB dari miokard, yang kemudian diproses oleh enzim
karboksipeptidase menghasilkan isomernya , CKMB1 dicurigai bila rasionya >1,5,
SGOT meningkat dalam 12 jam pertama. Cardiac specific troponin T (cTnI) memiliki
struktur asam amino berbeda dengan yang dihasilkan oleh otot rangka. Enzim cTnT
tetap tinggi dalam 7-10 hari, sedangkan cTnI dalam 10-14 hari.
Reaksi nonspesifik berupa leukositosis polimorfonuklear (PMN) mencapai
12.000-15.000 dalam beberapa jam bertahan 3-7 hari. Peningkatan LED menjadi lebih
lambat, mencapai puncaknya dalam satu minggu, dan dapat bertahan 1-2 minggu.
Pemeriksaan radiologi berguna bila ditemukan adanya bendungan paru (gagal jantung)
atau kardiomegali. Dengan ekokardiografi 2 dimensi dapat ditemukan daerah luas infark
miokardium fungsi pompa jantung serta fungsi.
PENATALAKSANAAN
a. Istirahat total
b. Diet makanan lunak atau saring serta rendah garam bila ada gagal jantung
c. Pasang infuse dektrose 5% untuk persiapan pemberian obat intravena
d. Atasi nyeri
Morfin 2,5-5 mg iv atau petidin 25-50 mg im bisa diulang ulang
Lain-lain nitrat, antagonis kalsium, dan beta bloker
e. Oksigen 2-4 liter/menit
f. Sedatif sedang seperti diazepam 3-4 x 2-5 mg per oral. Pada insomnia dapat
ditambah flurazepam 15-30 mg.
g. Antikoagulasi
Heparin 20.000-40.000 U / jam iv tiap 4-6 jam atau drip iv dilakukan atas
indikasi. Diteruskan asetakumarol atau warfarin
h. streptokinase / trombolisis
Pengobatan ditujukan untuk sedapat mungkin memperbaiki kembali aliran
pembuluh darah koroner. Bila ada tenaga terlatih, trombolisis dapat diberikan
sebelum dibawa ke rumah sakit. Dengan trombolisis, kematian dapat diturunkan
sebesar 40%

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


INFARK MIOKARD

PENGKAJIAN

22

Aktivitas
Gejala
Tanda
Sirkulasi
Gejala
Tanda

Integritas ego
Gejala
Tanda

Eliminasi
Tanda
Makanan/cairan
Gejala
Tanda

kelemahan, kelelahan, tidak dapat tidur


Pola hidup menetap, jadwal olah raga tidaj teratur
takikardi, dispnea pada istirahat / aktivitas
riwayat IM sebelumnya penyakit arteri koroner, GJK, masalah
TD, diabetes mellitus.
TD dapat normal atau naik/turun, perubahan postural dicatat
dari tidur sampai duduk/ berdiri.
Nadi dapat normal, penuh/tak kuat kualitasnya dengan
pengisian kapiler lambat, tidak teratur (disritmia) mungkin
terjadi.
Bunyi jantung, bunyi jantung yang ekstra : S3/S4 mungkin
menunjukan gagal jantung/penurunan kontraktilitas atau
komplain ventrikel.
Murmur, bila ada menunjukan gagal katup atau disfungsi otot
papiler.
Friksi, dicurigai perikarditis
Irama jantung, dapat teratur atau tak teratur.
Edema, distensi vena juguler, edema dependen/perifer, edema
umum, krekels mungkin ada dengan gagal jantung/ventrikel.
Warna, pucat atau sianosis/kulit abu-abu, kuku datar, pada
membrane mukosa dan bibir.
menyangkal gejala penting/adanya kondisi. Takut mati,
perasaan ajal sudah dekat. Marah pada penyakit/perawatan
yang tak perlu. Kuatir tentang keluarga, kerja, keuangan.
menolak, menyangkal, cemas, kurang kontak mata, gelisah,
marah, prilaku menyerang. Focus pada diri sendiri/nyeri.

normal atau bunyi usus menurun.


mual, kehilangan nafsu makan, bersendawa, nyeri ulu
hati/terbakat.
penurunan tugor kulit, kulit kering/berkerigat. Muntah,
perubahan berat badan.

Hygiene

23

Gejala/tanda
Neurosensori
Gejala
Tanda

kesulitan melakukan tugas perawatan.

pusing, berdenyut selama tidur atau saat bangun (duduk atau


istirahat).
perubahan mental. Kelemahan.

Nyeri/ketidak nyamanan
Gejala
nyeri dada yang timbulnya mendadak (dapat/tak berhubungan
dengan aktivitas), tidak hilang dengan istirahat atau
nitrogliserin. (meskipun kebanyakan nyeri dalam dan visceral,
20% IM ada nyeri).
Lokasi, tipikal pada dada anterior, substernal, prekordia; dapat
menyebar ketangan, rahang, wajah. Tidak tertentu lokasinya
seperti epigastrium, siku, rahang, abdomen, punggung, leher.
Kualitas, churusing, menyempit, berat, menetap dan tertekan.
Intensitas, biasanya 10 pada skala 1-10; mungkin pengalaman
nyeri paling buruk yang pernah dialami.
Catatan : nyeri mungkin tidak ada pada pasien pasca operasi,
dengan DM, hipertensi dan lansia.
Tanda
wajah meringis, perubahan postur tubuh, menangis, merintih,
meregang, menggeliat, menarik diri, kehilangan kontak mata.
Respons otomatik, perubahan frekuensi/irama jantung,TD,
pernafasan, warna kulit/kelembaban, kesadaran.
Pernafasan
Gejala
Tanda

Interaksi sosial
Gejala
Tanda

dispnea dengan/tanpa kerja, dispnea nocturnal. Batuk


dengan/tanpa produksi sputum.
Riwayat merokok, penyakit pernafasan kronik.
peningkatan frekuensi pernafasan, nafas sesak/kuat. Pucat atau
sianosis.
Bunyi nafas, bersih atau krekels/mengi
Sputum, bersih, merah muda kental.
stress saat ini contoh kerja, keluarga.
Kesulitan koping dengan stressor yang ada, contoh penyakit,
perawatan di rumah sakit.
kesulitan istirahat dengan tenang, respons terlalu emosi (marah
terus menerus, takut). Menarik diri dari keluarga.

24

Penyuluhan/pembelajaran
Gejala
riwayat keluarga penyakit jantung/IM, DM, stroke, hipertensi,
penyakit vaskuler perifer, penggunaan tembakau.
Pertimbangan
DRG menunjukan rerata dirawat : 7,3 hari (2-4 hari/CCU)
Rencana pemulangan

PERIOTAS MASALAH
1. menghilangkan nyeri, cemas.
2. menurunkan kerja miokard.
3. mencegah/mendeteksi dan membantu pengobatan disritmia yang mengancam
hidup atau komplikasi.
4. meningkatkan kesehatan jantung, perawatan diri.
Tujuan pemulangan
1. tak ada nyeri dada/terkontrol.
2. kecepatan jantung/irama mampu mempertahankan curah jantung adekuat/perfusi
jaringan.
3. meningkatkan tingkat aktivitas untuk perawatan diri dasar.
4. ansietas berkurang/teratasi.
5. proses penyakit, rencana pengobatan, dan pronogsis dipahami.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Nyeri (akut) berhubungan dengan iskemia jaringan sekunder terhadap sumbatan arteri
koroner.
Kemungkinan data yang ditemukan :
1.
2.
3.
4.

keluhan nyeri dada dengan / tanpa penyebaran.


wajah meringis.
gelisah, perubahan tingkat kesadaran.
perubahan nadi, TD.

Hasil yang diharapkan :


1. menyatakan nyeri dada hilang/terkontrol.
2. mendemontrasikan penggunaan teknik relaksasi.
3. menunjukan menurunnya tegangan, rileks, mudah bergerak.

INTERVENSI DAN RASIONAL

25

INTERVENSI
Mandiri
Pantau/catat karakteristik nyeri, catat
laporan verbal, petunjuk nonverbal,
dan respons hemodinamika.
Contoh : meringis, menangis,
gelisah, berkeringat, mencengkeram
dada, nafas cepat, TD (frekuensi
jantung berubah)

RASIONAL
Variasi penampilan dan prilaku pasien karena
nyeri terjadi sebagai temuan pengkajian.
Kebanyakan pasien denagan IM tampak sakit,
distraksi, dan berfokus pada nyeri. Riwayat
verbal dan penyelidikan lebih dalam terhadap
factor pencetus harus ditunda sampai nyeri
hilang. Pernafasan mungkin meningkat
sebagai akibat nyeri dan berhubungan dengan
cemas,
sementara
hilangnya
stres
menimbulkan
katekolamin
akan
meningkatkan kecepatan kerja jantung dan
tekanan darah

Ambil gambaran lengkap tentang


nyeri dari pasien termasuk lokasi,
intensitas (0-10), lamanya, kualitas
(dangkal/menyebar), dan penyebaran

Nyeri sebagai pengalamam subjektif dan


harus digambarkan oleh pasien. Bantu pasien
untuk
menilai
nyeri
dengan
membandingkannya dengan pengalaman yang
lain

Kaji
ulang
riwayat
angina
sebelumnya,
nyeri
menyerupai
angina, atau nyeri IM. Diskusikan
riwayat keluarga

Dapat membandingkan nyeri yang ada dari


pola sebelumnya. Sesuai dengan identifikasi
komplikasi seperti meluasnya infark, emboli
paru, atau perikarditis

Anjurkan pasien untuk melaporkan Penundaan pelaporan nyeri menghambat


nyeri dengan segera
peredaan nyeri/memerlukan peningkatan dosis
obat, selain itu, nyeri berat dapat dapat
menyebabkan syok dengan meransang system
saraf simpatis, mengakibatkan kerusakan
lanjut dan menggangu diagnostik dan
hilangnya nyeri
Berikan lingkungan yang tenang,
aktivitas perlahan, dan tindakan
nyaman. Contoh, sprei yang kering/
tak terlipat, gosokan punggung.
Pendekatan pasien dengan tenang
dan dengan percaya

Menurunkan ransangan eksternal dimana


ansietas dan regangan jantung serta
keterbatasan
kemampuan
koping
dan
kepuasan terhadap situasi saat ini

26

Bantu malakukan tehnik relaksasi, Membantu dalam penurunan persepsi/respons


missal,
nafas
dalam/perlahan, nyeri.
Memberikan
control
situasi,
perilaku
distraksi,
visualitas, menigkatkan perilaku positif
bimbingan imajinasi
Periksa tanda vital sebelum dan Hipotensi/depresi pernafasan dapat tejadi
sesudah obat narkotik
sebagai akibat pemberian narkotik. Masalah
ini dapat meningkatkan kerusakan miokardia
pada adanya kegagalan ventrikel
Kolaborasi
Berikan oksigen tambahan dengan Meningkatkan jumlah oksigen yang ada untuk
kanula nasal atau masker sesui pemakaian moikardia dan juga mengurangi
indikasi
ketidak nyamanan sehubungan dengan
iskemia jaringan
Berikan obat sesuai indikasi
Nitra berguna untuk mengontrol nyeri dengan
Contoh : antiangina nitrogliserin efek vasodilatasi koroner, yang meningkatkan
aliran darah koroner dan perfusi miokardia.
(nitro-bid, nitrostat, nitro-dur)
Efek vasodilatasi perifer menurunkan volume
darah kembali ke jantung (preload) sehingga
menurunkan kerja otot jantung dan kebutuhan
oksigen
Penyekat-B atenolol (tenormin), Agen penting kedua untuk mengontrol nyeri
pindolol
(visken),
propanolol melalui efek hambatan ransangan simpatis,
dengan begitu menurunkan FJ,TD sistolik,
(inderal)
dan kebutuhan oksigen miokard. Dapat
diberikan sendiri atau dengan nitrat.
Catatan
:
penyekat-B
mungkin
dikontraindikasikan
bila
kontraktilitas
miokardia sangat terganggu, karena inotropik
negative
dapat
lebih
menurunkan
kontraktilitas
Analgesic
(Demerol)

morfin,

meperidin Meskipun morfin IV adalah pilihan, suntikan


narkotik lain dapat dipakai pada fase
akut/nyeri dada berulang yang tak hilang
dengan nitrogliserin untuk menurunkan nyeri

27

hebat
Penyekat saluran kalsium Efek vasodilatasi dapat meningkatkan aliran
verapamil
(calan),
diltiazem darah koroner, sirkulasi kolateral dan
menurunkan preload dan kebutuhan oksigen
(prokardia)
miokardia.
Beberapa
diantaranya
memepunyai property anti disritmia
Angioplasty PTCA juga
angioplasty balon

disebut Prosedur ini untuk membuka sebagian


hambatan arteri koroner sebelum terhambat
secara
total.
Mekanisme
tampaknya
merupakan kombinasi regangan pembuluh
dan tekanan plak

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan :
1. ketidak seimbangan antara suplai oksigen miokar dab kebutuhan
2. adanya iskemia /nekrotik jaringan miokard
3. efek obat depresan jantung (penyekat-B, antisritmia)
Kemungkinan data yang ditemukan :
1.
2.
3.
4.
5.

gangguan frekuensi jantung dan TD dalam aktivitas


terjadinya disritmia
perubahan warna kulit/kelembaban
angina karena bekerja
kelemahan umum

Hasil yang diharapkan :


1. mendemontrasikan peningkatan toleransi aktivitas yang dapat diukur/maju
dengan frekuensi jantung /irama dan TD dalam batas normal pasien, dan kulit
hangat, merah muda, dan kering.
2. malaporkan tidak adanya angina/terkontrol dalam rentang waktu selama
pemberian obat.

INTERVENSI DAN RASIONAL


INTERVENSI
RASIONAL
Mandiri
Catat/dokumentasi frekuensi jantung, Kecendrungan menentukan respons pasien
irama, dan perubahan TD sebelum, terhadap
aktivitas
dan
dapat
selama, sesudah aktivitas sesuai mengindikasikan
penurunan
oksigen

28

indikasi. Hubungkan dengan laporan miokardia yang memerlukan penurunan


nyeri dada/nafas pendek
tingkat aktivitas /kembali tirah baring,
perubahan program obat, penggunaan
oksigen tambahan
Tingkatkan istirahat (tempat tidur/kursi) Menurunkan kerja miokardia/komsumsi
Batasi
aktivitas
pada
dasar oksigen, menurunkan resiko komplikasi
nyeri/respons hemodinamik. Berikan Contoh : perluasan IM
aktivitas senggang yang tidak berat
Batasi pengunjung dan atau kunjungan Pembicaraan
yang
panjang
sangat
oleh pasien
mempengaruhi pasien, namun periode
kunjungan yang tenang bersifat terapeutik
Anjurkan
pasien
menghindari Aktivitas yang memerlukan menahan nafas
peningkatan tekanan abdomen, contoh dan menunduk (maneuver valsava) dapat
mengejan saat defekasi
mengakibatkan
bardikardi,
juga
menurunkan curah jantung, dan takikardi
dengan peningkatan TD
Jelaskan pola peningkatan bertahap dari Aktivitas yang maju memberikan control
tingkat aktivitas, contoh : bangun dari jantung, meningkatkan regangan dan
kursi bila tidak ada nyeri, ambulasi dan mencegah aktivitas berlebihan
istirahat selama satu jam setelah makan
Kaji
ulang
tanda/gejala
yang
menunjukan tidak toleran terhadap
aktivitas atau melaaporkan pada
perawat/dokter
Kolaborasi
Rujuk keprogram rehabilitasi jantung

Palpitasi, nadi tidak teratur, adanya nyeri


dada, atau dispnea dapat mengindikasikan
kebutuhan perubahan program olah raga
atau obat
Memberikan
dukungan/
pengawasan
tambahan berlanjut dan partisipasi proses
penyembuhan dan kesejahteraan

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Ansietas/takut berhubungan dengan :
1. ancaman atau perubahan kesejahteraan dan status social-ekonomi
2. ancaman kehilangan/kemaatian
3. tidak sadar konflik tentang esensi nilai, keyakinan, dan tujuan hidup
4. transmisi interpersonal/ penularan

29

Kemungkinan data yang ditemukan :


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

perilaku takut
ketakuta, peningkatan tegangan, gelisah, wajah tegang
ragu-ragu
perasaan tidak adekuat
keluhan somatic/ransang simpatis
focus pada diri sendiri, mengekspresikanmasalah tentang kejadian saat ini
perilaku menantang atau menghidar

Hasil yang diharapkan :


1.
2.
3.
4.
5.
6.

mengenal perasaannya
mengidentifikasi
penyebab, factor yang mempengaruhi
menyatakan penurunan ansietas/takut
mendemontrasikan keterampilan pemecahan masalah positif
mengidentifikasi sumber secara tepat

INTERVENSI DAN RASIONAL


INTERVENSI
Mandiri
Identifikasi dan ketahui persepsi pasien
terhadap
ancaman/situasi.
Dorong
mengekspresikan dan jangan menolak
perasaan marah, kehilangan, takut, dll

RASIONAL
Koping terhadap nyeri dan trauma emosi
IM sulit. Pasien dapat takut mati dan atau
cemas
tentang
lingkungan.
Cemas
berkelanjutan, mungkin terjadi dalam
berbagai derajat selama beberapa waktu
dan dapat dimanifestasikan oleh gejala
depresi

Catat adanya kegelisahan, menolak, dan Penelitian menunjukan beberapa hubungan


atau menyangkal (afek tak tepat atau antara derajat/ekspresi marah atau gelisah
menolak
memungkinkan
program dan peningkatan resiko IM
medis)
Mempertahankan gaya percaya (tanpa Pasien dan orang terdekat dapat
keyakinan yang salah)
dipengaruhi oleh cemas/ ketidak tenangan
anggota tim kesehatan. Penjelasan yang
jujur dapat menghilangkan kecemasan
Kaji tanda verbal/non verbal kecemasan Pasien mungkin tidak menunjukan masalah

30

pada pasien

secara lansung, tetapi kata-kata/tindakan


dapat menunjukan rasa agitasi, marah, dan
gilisah

Terima tetapi jangan diberi penguatan Menyangkal dapat menguntungkan dalam


terhadap
penggunaan
penolakan. menurunkan cemas, tetapi dapat menunda
Hindari konfirmasi
penerimaan terhadap kenyataan situasi saat
itu. Konfirmasi dapat meningkatkan rasa
marah, penyangkalan, menolak kerja sama
dan mungkin memperlambat penyembuhan
Perkiraan dan informasi dapat menurunkan
kecemasan pasien

Orientasikan pasien/orang terdekat Informasi yang tepat tentang situasi dapat


terhadap prosedur rutin dan aktivitas menurunkan rasa takut
yang diharapkan. Tingkatkan partisipasi
bila mungkin
Jawab semua pertanyaan secara nyata. Berbagai
informasi
membentuk
Berikan informasi konsisten, ulangi dukungan/kenyamanan
dan
dapat
sisal indikasi
menghilangkan
tegangan
terhadap
kekhawatiran yang tidak diekspresikan
Dorong pasien/orang terdekat untuk Penyimpanan energi dan meningkatkan
mengkomunikasikan dengan seseorang, kemampuan koping
berbagai pernyataan dan masalah
Berikan periode istirahat/waktu tidur Dapat memberikan keyakinan bahwa
tidak terputus, lingkungan tenang, perasaannya merupakan respons normal
dengan tipe control pasien, jumlah terhadap situasi/perubahan yang diterima
rangsang eksternak
Dukung kenormalan proses kehilangan, Memungkin waktu untuk mengekspresikan
melibatkan waktu yang perlu untuk perasaan, menghilangkan cemas, dan
penyelesaian
perilaku adaptasi
Berikan privasi untuk pasien dan orang Peningkatan
kemandirian
dari
staf
terdekat
meningkatkan kepercayaan diri dan
menurunkan rasa gagal yang dapat
menyertai
pemindahan
dari
unit

31

koroner/pulang dari rumah sakit


Dorong
kemandirian,
perawatan
sendiri, dan pembuatan keputusan
dalam rencana pengobatan dan dorong
keputusan tentang harapan setelah
pulang

Membantu pasien/orang terdekat untuk


megidentifikasi
tujuan
nyata,
juga
menurunkan risiko kegagalan menghadapi
kenyataan adanya keterbatan kondisi/
mengacu penyembuhan

Kolaborasi
Berikan anti cemas/hipnotik sesuai Meningkatkan
relaksasi/istirahat
indikasi.
Contoh
:
diazepam, menurunkan rasa cemas
flurazepam, lorazepam

dan

32