Anda di halaman 1dari 12

HIV / AIDS PADA IBU HAMIL

I.

DEFINISI

AIDS atau Acquired Immune Deficiency Sindrome merupakan kumpulan gejala penyakit akibat
menurunnya sistem kekebalan tubuh oleh virus yang disebut HIV. Dalam bahasa Indonesia dapat
dialihkatakan sebagai Sindrome Cacat Kekebalan Tubuh Dapatan.
Acquired : didapat, bukan penyakit keturunan
Immune : sistem kekebalan tubuh
Deficiency : kekurangan
Syndrome : kumpulan gejala-gejala penyakit.
AIDS diartikan sebagai bentuk paling erat dari keadaan sakit terus menerus yang berkaitan dengan
infeksi Human Immunodefciency Virus (HIV). (Suzane C. Smetzler dan Brenda G.Bare).
Sedangkan di dalam kamus kedokteran Dorlan (2002), menyebutkan bahwa AIDS adalah suatu penyakit
retrovirus epidemik menular, yang disebabkan oleh infeksi HIV, yang pada kasus berat bermanifestasi
sebagai depresi berat imunitas seluler, dan mengenai kelompok risiko tertentu, termasuk pria
homoseksual atau biseksual, penyalahgunaan obat intravena, penderita hemofilia, dan penerima
transfusi darah lainnya, hubungan seksual dari individu yang terinfeksi virus tersebut.
Menurut Center for Disease Control and Prevention, AIDS merupakan bentuk paling hebat dari infeksi
HIV, mulai dari kelainan ringan dalam respon imun tanpa tanda dan gejala yang nyata hingga keadaan
imunosupresi dan berkaitan dengan berbagai infeksi yang dapat membawa kematian dan dengan
kelainan malignitas yang jarang terjadi.
II.

ETIOLOGI

Penularan virus HIV/AIDS terjadi karena beberapa hal, di antaranya ;


1. Penularan melalui darah, penularan melalui hubungan seks (pelecehan seksual). (WHO, 2003)
2. Hubungan seksual yang berganti-ganti pasangan
3. Perempuan yang menggunakan obat bius injeksi dan bergantian memakai alat suntik.
4. Individu yang terpajan ke semen atau cairan vagina sewaktu berhubungan kelamin dengan orang yang
terinfeksi HIV.
5. Orang yang melakukuan transfusi darah dengan orang yang terinfeksi HIV, berarti setiap orang yang
terpajan darah yang tercemar melalui transfusi atau jarum suntik yang terkontaminasi.
III.

MANIFESTASI KINIS

Manifestasi klinis yang tampak dibagi menjadi 2, yaitu:


1. Manifestasi Klinis Mayor
1. Demam berkepanjangan lebih dari 3 bulan

2.
3.
4.
5.

IV.
V.

Diare kronis lebih dari satu bulan berulang maupun terus-menerus


Penurunan berat badan lebih dari 10% dalam 3 tiga bulan
TBC
Manifestasi Klinis Minor
1. Batuk kronis selama lebih dari satu bulan
2. Infeksi pada mulut dan jamur disebabkan karena jamur Candida Albicans
3. Pembengkakan kelenjar getah bening yang menetap di seluruh tubuh
4. Munculnya Herpes zoster berulang dan bercak-bercak gatal di seluruh tubuh
PATOFISIOLOGI
Cara Penularan HIV/AIDS dari Ibu ke Anak

Penularan HIV dari ibu ke anak terjadi karena wanita yang menderita HIV/AIDS sebagian besar masih
berusia subur, sehingga terdapat resiko penularan infeksi yang terjadi pada saat kehamilan (Richard, et
al., 1997). Selain itu juga karena terinfeksi dari suami atau pasangan yang sudah terinfeksi HIV/AIDS
karena sering berganti-ganti pasangan dan gaya hidup. Penularan ini dapat terjadi dalam 3 periode:
1. Periode kehamilan
Selama kehamilan, kemungkinan bayi tertular HIV sangat kecil. Hal ini disebabkan karena terdapatnya
plasenta yang tidak dapat ditembus oleh virus itu sendiri. Oksigen, makanan, antibodi dan obat-obatan
memang dapat menembus plasenta, tetapi tidak oleh HIV. Plasenta justru melindungi janin dari infeksi
HIV. Perlindungan menjadi tidak efektif apabila ibu:
1.
2.
3.
4.

Mengalami infeksi viral, bakterial, dan parasit (terutama malaria) pada plasenta selama kehamilan.
Terinfeksi HIV selama kehamilan, membuat meningkatnya muatan virus pada saat itu.
Mempunyai daya tahan tubuh yang menurun.
Mengalami malnutrisi selama kehamilan yang secara tidak langsung berkontribusi untuk terjadinya
penularan dari ibu ke anak.
5. Periode persalinan
Pada periode ini, resiko terjadinya penularan HIV lebih besar jika dibandingkan periode kehamilan.
Penularan terjadi melalui transfusi fetomaternal atau kontak antara kulit atau membrane mukosa bayi
dengan darah atau sekresi maternal saat melahirkan. Semakin lama proses persalinan, maka semakin
besar pula resiko penularan terjadi. Oleh karena itu, lamanya persalinan dapat dipersingkat
dengan section caesaria.
Faktor yang mempengaruhi tingginya risiko penularan dari ibu ke anak selama proses persalinan
adalah:Lama robeknya membran.
1. Chorioamnionitis akut (disebabkan tidak diterapinya IMS atau infeksi lainnya)
2. Teknik invasif saat melahirkan yang meningkatkan kontak bayi dengan darah ibu misalnya,
episiotomi.
3. Anak pertama dalam kelahiran kembar
1. Periode Post Partum
Cara penularan yang dimaksud disini yaitu penularan melalui ASI. Berdasarkan data penelitian De Cock,
dkk (2000), diketahui bahwa ibu yang menyusui bayinya mempunyai resiko menularkan HIV sebesar 1015% dibandingkan ibu yang tidak menyusui bayinya. Risiko penularan melalui ASI tergantung dari:

1. Pola pemberian ASI, bayi yang mendapatkan ASI secara eksklusif akan kurang berisiko dibanding
dengan pemberian campuran.
2. Patologi payudara: mastitis, robekan puting susu, perdarahan putting susu dan infeksi payudara
lainnya.
3. Lamanya pemberian ASI, makin lama makin besar kemungkinan infeksi.
4. Status gizi ibu yang buruk
VI.
FAKTOR RESIKO
Kelompok orang yang berisiko tinggi terinfeksi Virus HIV sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.
1.
2.

Janin dengan ibu yang terjangkit HIV


Perempuan yang menggunakan obat bius injeksi dan bergantian memakai alat suntik.
Pekerja seks komersial
Pasangan yang heteroseks dengan adanya penyakit kelamin
VII.
PEMERIKSAAN
VCT (Voluntary Counseling Testing)

VCT adalah suatu pembinaan dua arah atau dialog yang berlangsung tak terputus antara konselor dan
kliennya untuk mencegah penularan HIV, memberikan dukungan moral, informasi, serta dukungan
lainnya kepada ODHA, keluarga , dan lingkungannya. Tujuan VCT :
1. Upaya pencegahan HIV/AIDS.
2. Upaya untuk mengurangi kegelisahan, meningkatkan persepsi/pengetahuan mereka tentang faktorfaktor resiko penyebab seseorang terinfeksi HIV.
3. Upaya pengembangan perubahan perilaku, sehingga secara dini mengarahkan mereka menuju ke
program pelayanan dan dukungan termasuk akses terapi antiretroviral, serta membantu mengurangi
stigma dalam masyarakat.
4. Pemerikasaan Laboratorium
1. Tes serologis: tes antibodi serum terdiri dari skrining HIV dan ELISA;
Tes blot western untuk mendeteksi adanya antibodi terhadap beberapa protein spesifik HIV.
1. Pemeriksaan histologis, sitologis urin ,darah, feces, cairan spina, luka, sputum, dan sekresi.
2. Tes neurologis: EEG, MRI, CT Scan otak, EMG.
3. Tes lainnya: sinar X dada menyatakan perkembangan filtrasi interstisial dari PCV tahap lanjut atau
adanya komplikasi lain; tes fungsi pulmonal untuk deteksi awal pneumonia interstisial; Scan gallium;
biopsy; branskokopi.
4. Tes Antibodi
1. Tes ELISA, untuk menunjukkan bahwa seseorang terinfeksi atau pernah terinfeksi HIV.
2. Western blot asay/ Indirect Fluorescent Antibody (IFA), untuk mengenali antibodi HIV dan
memastikan seropositifitas HIV.
3. Indirect immunoflouresence, sebagai pengganti pemerikasaan western blot untuk memastikan
seropositifitas.
4. Radio immuno precipitation assay, mendeteksi protein pada antibodi.
5. Pendeteksian HIV
Dilakukan dengan pemeriksaan P24 antigen capture assay dengan kadar yang sangat rendah. Bisa juga
dengan pemerikasaan kultur HIV atau kultur plasma kuantitatif untuk mengevaluasi efek anti virus, dan
pemeriksaan viremia plasma untuk mengukur beban virus (viral burden).
1. VIII.
PENATALAKSANAAN

Belum ada penyembuhan untuk AIDS jadi yang dilakukan adalah pencegahan seperti yang telah
dijelaskan sebelumnya. Tapi, apabila terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) maka terapinya
yaitu :
1. Pengendalian infeksi oportunistik
Bertujuan menghilangkan, mengendalikan dan pemulihan infeksi opurtuniti, nosokomial atau sepsis,
tindakan ini harus di pertahankan bagi pasien di lingkungan perawatan yang kritis.
1. Terapi AZT (Azidotimidin)
Obat ini menghambat replikasi antiviral HIV denngan menghambat enzim pembalik transcriptase.
1. Terapi antiviral baru
Untuk meningkatkan aktivitas system immune dengan menghambat replikasi virus atau memutuskan
rantai reproduksi virus padan proses nya.obat- obat ini adalah : didanosina, ribavirin, diedoxycytidine,
recombinant CD4 dapat larut.
1. Vaksin dan rekonstruksi virus, vaksin yang digunakan adalah interveron.
2. Menghindari infeksi lain, karena infeksi dapat mengaktifkan sel T dan mempercepat replikasi HIV.
3. Rehabilitasi
Bertujuan untuk memberi dukungan mantal-psikologis, membantu mengubah perilaku risiko tinggi
menjadi perilaku kurang berisiko atau tidak berisiko, mengingatkan cara hidup sehat dan
mempertahankan kondisi tubuh sehat.
4. Pendidikan
Untuk menghindari alkohol dan obat terlarang, makan makanan yang sehat, hindari stres, gizi yang
kurang, obat-obatan yang mengganggu fungsi imunne. Edukasi ini juga bertujuan untuk mendidik
keluarga pasien bagaimana menghadapi kenyataan ketika anak mengidap AIDS dan kemungkinan
isolasi dari masyarakat.
IX.
PENCEGAHAN
Pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi dapat dicegah melalui tiga cara, dan bisa dilakukan mulai
saat masa kehamilan, saat persalinan, dan setelah persalinan. Cara tersebut yaitu:
1. Penggunaan obat Antiretroviral selama kehamilan, saat persalinan dan untuk bayi yang baru
dilahirkan.
Pemberian antiretroviral bertujuan agar viral load menjadi lebih rendah sehingga jumlah virus yang ada
dalam darah dan cairan tubuh kurang efektif untuk menularkan HIV. Resiko penularan akan sangat
rendah (1-2%) apabila terapi ARV ini dipakai. Namun jika ibu tidak memakai ARV sebelum dia mulai sakit
melahirkan, ada dua cara yang dapat mengurangi separuh penularan ini. AZT dan 3TC dipakai selama
waktu persalinan, dan untuk ibu dan bayi selama satu minggu setelah lahir. Satu tablet nevirapine pada
waktu mulai sakit melahirkan, kemudian satu tablet lagi diberi pada bayi 23 hari setelah lahir.
Menggabungkan nevirapine dan AZT selama persalinan mengurangi penularan menjadi hanya 2 persen.
Namun, resistansi terhadap nevirapine dapat muncul pada hingga 20 persen perempuan yang memakai
satu tablet waktu hamil. Hal ini mengurangi keberhasilan ART yang dipakai kemudian oleh ibu. Resistansi
ini juga dapat disebarkan pada bayi waktu menyusui. Walaupun begitu, terapi jangka pendek ini lebih
terjangkau di negara berkembang.
1. Penanganan obstetrik selama persalinan

Persalinan sebaiknya dipilih dengan menggunakan metode Sectio caesaria karena metode ini terbukti
mengurangi resiko penularan HIV dari ibu ke bayi sampai 80%. Apabila pembedahan ini disertai dengan
penggunaan terapi antiretroviral, maka resiko dapat diturunkan sampai 87%. Walaupun demikian,
pembedahan ini juga mempunyai resiko karena kondisi imunitas ibu yang rendah yang bisa
memperlambat penyembuhan luka. Oleh karena itu, persalinan per vagina atau sectio caesaria harus
dipertimbangkan sesuai kondisi gizi, keuangan, dan faktor lain.
1. Penatalaksanaan selama menyusui
Pemberian susu formula sebagai pengganti ASI sangat dianjurkan untuk bayi dengan ibu yang positif
HIV. Karena sesuai dengan hasil penelitian, didapatkan bahwa 14 % bayi terinfeksi HIV melalui ASI
yang terinfeksi
ASUHAN KEPERAWATAN
HIV / AIDS PADA IBU HAMIL
1. A.

Pengkajian

Pengkajian adalah langkah awal dalam melakukan asuhan keperawatan secara keseluruhan. Pengkajian
terdiri dari tiga tahapan yaitu ; pengumpulan data, pengelompakan data atau analisa data dan perumusan
diagnose keperawatan (Depkes RI, 1991 ).
1. Pengumpulan Data
Pengumpulan data merupakan kegiatan dalam menghimpun imformasi (data-data) dari klien. Data yang
dapat dikumpulkan pada klien yaitu data sebelum dan selama kehamilan
1. Identitas pasien
2. Riwayat Kesehatan
-

Masa lalu

Sekarang

Menstruasi

Reproduksi

1. Keluhan Utama
2. Data Psikologi
Kondisi ibu hamil dengan HIV /AIDS takut akan penularan pada bayi yang dikandungnya. Bagi keluarga
pasien cenderung untuk menjauh sehingga akan menambah tekanan psikologis pasien.
1. Pemeriksaan fisik
1. Breating
Kaji pernafasan bumil, apabila ibu telah terinfeksi sistem pernafasan maka sepanjang jalr pernafasan
akan mengalami gangguan. Misal RR meningkat, kebersihan jalan nafas.
1. Blood
Pemeriksaan darah meliputi pemeriksaan virus HIV/AIDS. Penurunan sel T limfosit; jumlah sel T4 helper;
jumlah sel T8 dengan perbandingan 2:1 dengan sel T4; peningkatan nilai kuantitatif P24 (protein

pembungkus HIV); peningkatan kadar IgG, Ig M dan Ig A; reaksi rantai polymerase untuk mendeteksi
DNA virus dalam jumlah sedikit pada infeksi sel perifer monoseluler; serta tes PHS (pembungkus
hepatitis B dan antibodi,sifilis, CMV mungkin positif).
1. Brain
Tingkat kesadaran bumil dengan HIV/AIDS terkadang mengalami penurunan karena proses penyakit. Hal
itu dapat disebabkan oleh gangguan imunitas pada bumil.
1. Bowel
Keadaan sisitem pencernaan pada bumil akan mengalami gangguan. Kebanyakan gangguan tersebut
adalah diare yang lama. Hal itu disebabkan oleh penurunan sistem imun yang berada di tubuh sehingga
bakteri yang ada di saluran pencernaan akan mengalami gangguan. Hal itu dapat menyebabkan infeksi
saluran pencernaan.
1. Bladder
Kaji tingkat urin klien apakah ada kondisi patologis seperti perubahan warna urin, jumlah dan bau. Hal itu
dapan mengidentifikasikan bahwa ada gangguan pada sistem perkemian. Biasanya saat imunitas
menurun resiko infeksi pada uretra klien.
1. Bone
Kaji respon klien, apakah mengalami kesulitan bergerak,reflek pergerakan. pada ibu hamil kebutuhan
akan kalsium meningkat,periksa apabila ada resiko osteoporosis. Hal itu dapat memburuk dengan bumil
HIV/AIDS.
Analisa Data

Data

Etiologi

Problem

DS: biasanya pasien


Buang air besar selama
berhari-hari, lemas,
pusingDO: wajah pucat,
matanya cowong, kulit
dan mukosa kering,
tekanan turgor menurun
Diare (infeksi virus HIV
yang menyerang usus )

Kekurangan volume
cairan

Mual. Muntah dan diare


yang berlebihan

Perubahan nutrisi :
kurang dari kebutuhan

DS : biasanya pasien
mengeluh lemasDO:
pasien terlihat kurus

DS: biasanya pasien


mengeluh nyeri pada
bagian perutDO :
P: nyeri meningkat ketika
beraktifitas
Q: nyeri
R: nyeri di daerah
abdomen kuadran kiri
bawah
S: skala nyeri 8

Infeksi virus HIVpada


usus

T: nyeri hilang timbul


Nyeri
S : nyeri pada daerah
perianalO : kulit perianal
terlihat merah dan sedikit
lecet

Diare yangberlebihan

S : biasnya pasien
mengeluh cemasO :
pasien menangis

Takut bayi akantertular


virus HIV

Kerusakan
integritaskulit

Ansietas
S : merasa cemasdan takut

1. B.

Persepsi ridakdapat
diterima
masyarakat

Resiko tinggi
isolasisocial

DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Kekurangan volume cairan b.d diare berat


2. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b.d pengeluaran yang berlebihan ( muntah dan diare
berat )
3. Nyeri b.d infeksi
4. Kerusakan integritas kulit b.d diare berat
5. Ansietas b.d transmisi dan penularan interpersonal ( pada bayi )

6. Resiko tinggi isolasi sosial b.d persepsi tentang tidak akan diterima dalam masyarakat

1. C.

INTERVENSI

1. Kekurangan volume cairan b.d diare berat


Tujuan :
- Mempertahankan hidrasi

Intervensi

Rasional

1. Pantau tanda-tanda vital, termasuk CVP bila


terpasang. Catat hipertensi, termasuk
perubahan postural.
2. Catat peningkatan suhu andurasi demam.
Berikan kompres hangat sesuai indikasi.
Pertahankan pakaian tetap kering.
Pertahankan kenyamanan suhu lingkungan
1. Kaji turgor kulit, membran mukosa, dan rasa
haus
2. Ukur haluan urine dan berat jenis urine.
Ukur/kaji jumlah kehilangan diare. Catat
kehilangan kasat mata
1. Timbang berat badan sesuai indikasi
1. Pantau pemeriksaan oral dan memasukan
cairan sedikitnya 2500ml/hari
1. Buat cairan mudah diberikan pada pasien;
gunakan cairan yang mudah ditoleransi oleh
pasien dan yang mengandung elektrolit yang
dibutuhkan, mis., Gatorade, air daging
2. Hilangkan yang potensial menyebabkan diare,
yakni yang pedas/makanan berkadar lemak
tinggi, kacang, kubis, susu. Mengatur
kecepatan/konsentrasi yang diberikan
perselang, jika diperlukan.

1. Indikator dari volume cairan


1. Meningkatkan kebutuhan metabolism
dan diaphoresis yang berlebihan
yang dihubungkan dengan demam
dalam meningkatkan kehilangan
cairan
2. Indikator tidak langsung dari status
cairan
3. Peningkatan berat jenis
urin/penurunan haluaran urin
menunjukkan perubahan perfusi
ginjal/volume sirkulasi. Catatan :
pemantauan keseimbangan sulit
karena kehilangan melalui
gastrointestinal/tak kasat mata
4. Meskipun kehilangan berat badan
dapat menunjukkanpenggunaan otot,
fluktuasi tibatiba menunjukkan status
hidrasi. Kehilangan cairan berkenaan
dengan diare dapat dengan cepat
menyebabkan krisis dan mengancam
hidup.
5. Mempertahankan keseimbangan
cairan, mengurangi rasa haus, dan
melembabkan membrane mukosa
6. Meningkatkan pemasukan. Cairan
tertentu mungkin ter rlalu
menimbulkan nyeri untuk dikonsumsi
(misal, jeruk asam) karena lesi pada
mulut.
7. Mungkin dapat mengurangi diare.

2. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b.d pengeluaran yang berlebihan ( muntah dan diare
berat )
Tujuan:
- mempertahankan massa otot yang adekuat
- mempertahankan berat antara 0,9-1,35 kg dari berat sebelum sakit

Intervensi

Rasional

1. Penurunan berat badan dini bukan ketentuan


pasti grafik berat badan dan tinggi badan normal.
Karenanya penentuan berat badan terakhir
dalam hubungannya berat badan dan pradiagnosa lebih bermanfaat.2. Membantu
memantau penurunan dan menentukan
kebutuhan nutrisi sesuai dengan perubahan
penyakit.
3. Identifikasi dari faktor-faktor ini dapat
membantu merencanakan kebutuhan individu.
1. Tentukan berat badan umum sebelum
pasien didiagnosa HIV2. Buat ukuran
antropometri terbaru.

Pasien dengan infeksi HIV menunjukkan deficit

3. Diskusikan/catat efek-efek samping

mengganggu asupan adekuat.

mineral renik zinc, magnesium, selenium.


Penyalahgunaan alcohol dan obat-obatan dapat

obat-obatan terhadap nutrisi.


4. Umunya obat-obatan yang digunakan
4. Sediakan informasi ,mengenai nutrisi

menyebabkan anoreksia dan mual/muntah;

dengan kandungan kalori, vitamin, protein,

beberapa mempengaruhi produksi SDM sumsum

dan mineral tinggi. Bantu pasien

tulang.

merencanakan cara untuk


mempertahankan/menentukan masukan.

5. Memiliki informasi ini dapat membantu pasien


memahami pentingnya diet seimbang.

5. Tekankan pentingnya mempertahankan

Sebagaian pasien mungkin akan mencoba diet

keseimbangan/pemasukan nutrisi adekuat.

makrobiotik maupun diet jenis lain dengan

3. Nyeri b.d diare berat


Tujuan:
- Pasien bisa mengontrol nyeri/rasa sakit

Intervensi

Rasional

1. Kaji keluhan nyeri, perhatikan lokasi,


intensitas (skala 1-10), frekuensi, dan
waktu. Menandai gejala nonverbal misal
gelisah, takikardia, meringitas.2. Dorong
pengungkapan perasaan.

1. Mengindikasikan kebutuhan untuk intervensi


dan juga. Tanda-tanda perkembangan/ resolusi
komplikasi. Catatan: sakit yang kronis tidak
menimbulkan perubahan autonomic.2. Dapat
mengurangi ansietas dan rasa takut,
sehingga mengurangi persepsi akan intensitas
rasasakit.

3. Berikan aktivitas hiburan, mis.,

3. Memfokuskan kembali perhatian; mungkin

membaca, berkunjung, dan menonton

dapat meningkatkan kemampuan untuk

televisi.

menanggulangi.

4. Lakukan tindakan paliatif, mis.,

4. Meningkatkan relaksasi/menurunkan

pengubahan posisi, masase, rentang gerak

tegangan otot.

pada sendi yang sakit.


5. Injeksi ini diketahui sebagai penyebab rasa
5. Berikan kompres hangat/lembab pada

sakit dan abses steril.

sisi injeksi pentamidin/IV selama 20 menit


setelah pemberian.

6. Meningkatkan relaksasi dan perasaan sehat.


Dapat menurunkan kebutuhan narkotik analgesik

6. Instruksikan pasien/dorong untuk

(depresan SSP) dimana telah terjadi proses

menggunakan visualisasi/bimbingan

degenaratif neuro/motor. Mungkin tidak berhasil

imajinasi, relaksasi progresif, teknik napas

jika muncul demensia, meskipun minor.

dalam.
7. Ulserasi/lesi oral mungkin
7. Berikan perawatan oral.

menyebabkan ketidak nyamanan yang sangat.

4. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan diare berat


Tujuan:
- Pasien menunjukkan perbaikan integritas kulit

Intervensi

Rasional

1. Kaji kulit setiap hari. Catat warna,


turgor, sirkulasi, dan sensasi. lambarkan
lesi dan amati perubahan.

1. Menentukan garis dasar diamana perubahan


pada status dapat dibandingkan dan melakukan
intervensi yang tepat.

2. Secara teratur ubah posisi, ganti seprei

2. Mengurangi stress pada titik tekannan,

sesuai kebutuhan. Dorongn pemindahan


berat badan secara periodik. Lindungi
penonjolan tulang dengan bantal,
bantalan tumit/siku, kulit domba.

meningkatkan aliran darah ke jaringan dan


meningkatkan proses kesembuhan.

3. Pertahankan seprei bersih, kering, dan


tidak berkerut

3. Fiksasi kulit disebabkan oleh kain yang


berkerut dan basah yang menyebabkan iritasi dan
potensial terhadap infeksi.

4. Gunting kuku secara teratur.

4. Kuku yang panjang/kasar meningkatkan risiko


kerusakan dermal.

1. D. EVALUASI
1. Pasien menunjukkan tingkah laku/teknik untuk mencegah kerusakan kulit/meningkatkan
kesembuhan.
2. Menunjukkan kemajuan pada luka/penyembuhan lesi.
3. Keluhan hilangnya/terkontrolnya rasa sakit
4. Menunjukkan posisi/ekspresi wajah rileks
5. Dapat tidur/beristirahat adekuat
6. Membran mukosa pasien lembab, turgor kulit baik, tanda-tanda vital stabil, haluaran urine
adekuat
7. menunjukkan nilai laboratorium dalam batas normal
8. melaporkan perbaikan tingkat energi
D