Anda di halaman 1dari 12

MATERIALITAS DAN RESIKO AUDIT

Pendahuluan
Materialitas mendasari penerapan standar auditing, terutama yang berkaitan dengan
penerapan standar pekerjaan lapangan dan standar pelaporan, serta tercermin dalam laporan
auditor bentuk baku. Materialitas dan risiko sangat fundamental bagi perencanaan audit dan
perancangan pendekatan audit. Risiko audit dan materialitas , bersama dengan hal-hal lain, perlu
dipertimbangkan dalam menentukan sifat, saat, dan lingkup prosedur audit serta dalam
mengevaluasi hasil prosedur.

Konsep Materialitas
Financial Accounting Standard Board (FASB) mendefinisikan materialitas sebagai :
Besarnya suatu penghapusan atau salah saji informasi keuangan yang, dengan
memperhitungkan situasinya, menyebabkan pertimbangan yang dilakukan oleh orang yang
mengandalkan pada informasi tersebut akan berubah atau terpengaruh oleh penghapusan atau
salah saji tersebut.
Definisi diatas mengharuskan auditor untuk mempertimbangkan keadaan-keadaan yang
berhubung dengan satuan usaha (perusahaan klien), dan informasi yang diperlukan oleh mereka
yang akan mengandalkan pada laporan keuangan yang telah diaudit. Karena tanggung jawab
menentukan apakah laporan keuangan salah saji secara material, auditor harus, berdasarkan
temuan salah saji yang material, menyampaikan hal itu kepada klien sehingga bisa dilakukan
tindakan koreksi.
Konsep materialitas mengakui bahwa beberapa hal, baik secara individual atau
keseluruha, adalah penting bagi kewajaran penyajian laporan keuangan sesuai dengan prinsip
prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Sedangkan beberapa hal lainnya adalah tidak
penting. Auditor mengikuti lima langkah yang saling terkait erat dalam menerapkan materialitas.
Langkah-Langkah Dalam Menerapkan Materialistas

- Merencanakan luas pengujian


Langkah 1 : Menetapkan pertimbangan pendahuluan tentang materialitas
Langkah 2 : Mengalokasikan pertimbangan pendahuluan tentang materialitas segmen-segmen

-Mengevaluasi hasil-hasil
Langkah 3 : Mengestimasi total salah saji dalam segmen
Langkah 4 : Memperkirakan salah saji gabungan
Langkah 5 : Membandingkan salah saji gabungan dengan pertimbangan pendahuluan atau yang
direvisi tetentang materialitas
Laporan keuangan mengandung salah saji material apabila laporan keuangan tersebut
mengandung salah saji yang dampaknya, secara individual atau keseluruhan, cukup signifikan
sehingga dapat mengakibatkan laporan keuangan tidak disajikan secara wajar, dalam semua hal
yang material, sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.Salah saji dapat
terjadi sebagai akibat dari kekeliruan atau kecurangan.
Istilah kekeliruan berarti salah saji atau penghilangan yang tidak disengaja jumlah atau
pengungkapan dalam laporan keuangan. Kekeliruan mencakup:
a.

Kesalahan dalam pengumpulan atau pengolahan data yang menjadi sumber penyusunan laporan
keuangan.

b. Estimasi akuntansi yang tidak masuk akal yang timbul dari kecerobohan atau salah tafsir fakta.
c.

Kekeliruan dalam penerapan prinsip akuntansi yang berkaitan dengan jumlah, klasifikasi, cara
penyajian, atau pengungkapan.
Dalam laporan audit atas laporan keuangan, auditor tidak dapat memberikan jaminan
(guarantee) bagi klien atau pemakai laporan keuangan yang lain, bahwa laporan keuangan
auditan adalah akurat.

Pentingnya Konsep Materialitas Dalam Audit Atas Laporan Keuangan


Dalam audit atas laporan keuangan, auditor tidak dapat memberikan jaminan bagi klien
atau pemakai laporan keuangan yang lain, bahwa laporan keuangan auditan adalah akurat karena
auditor yang bersangkutan tidak memeriksa setiap transaksi yang terjadi dalam tahun yang
diaudit dan tidak dapat menentukan apakah semua transaksi yang terjadi telah dicatat, diringkas,
digolongkan, dan dikompilasi secara semestinya ke dalam laporan keuangan. Oleh karena itu,
dalam audit atas laporan keuangan, auditor memberikan keyakinan (assurance) sebagai berikut:
1. Auditor dapat memberikan keyakinan bahwa jumlah-jumlah yang disajikan dalam
laporan keuangan beserta pengungkapannya telah dicatat, diringkas, digolongkan, dan
dikompilasi.

2. Auditor dapat memberikan keyakinan bahwa ia telah mengumpulkan bukti audit


kompeten yang cukup sebagai dasar memadai untuk memberikan pendapat atas laporan
keuangan auditan.
3. Auditor dapat memberikan keyakinan, dalam bentuk pendapat (atau memberikan
informasi, dalam hal terdapat perkecualian), bahwa laporan keuangan sebagai
keseluruhan disajikan secara wajar dan tidak terdapat salah saji material karena
kekeliruan dan ketidakberesan.
Dengan demikian ada dua konsep yang mendasari keyakinan yang diberikan oleh auditor
yaitu: konsep materialitas yang menunjukkan seberapa besar salah sajinya dan konsep risiko
audit yang menunjukkan tingkat risiko kegagalan auditor untuk mengubah pendapatnya atas
laporan keuangan yang sebenarnya berisi salah saji material.

Menetapkan Pertimbangan Awal Materialitas


SAS 107 (AU 312) mengharuskan auditor memutuskan jumlah salah saji gabungan
dalam laporan keuangan, yang akan mereka anggap material pada awal audit ketika sedang
mengembangkan strategi audit secara keseluruhan. Keputusan tersebut disebut sebagai
pertimbangan pendahuluan tentang materialitas. Karena, meskipun merupakan pendapat
professional , hal itu mungkin saja berubah selama penugasan. Pertimbangan ini harus
didokumentasikan dalam file audit.
Pertimbangan pendahuluan tentang materialitas adalah jumlah maksimum yang membuat
auditor yakin bahwa laporan keuangan akan salah saji tetapi tidak mempengaruhi keputusan para
pemakai yang bijaksana. Auditor menetapkan pertimbangan pendahuluan tentang materialitas
untuk membantu merencanakan pengumpulan bukti yang tepat. Semakin rendah nilai uang
pertimbangan pendahuluan ini, semakin banyak bukti audit yang dibutuhkan. Selama
pelaksanaan audit, auditor sering kali mengubah pertimbangan pendahuluan tentang materialitas.
Beberapa faktor akan mempengaruhi pertimbangan pendahuluan auditor tentang
materialitas untuk seperangkat laporan keuangan tertentu,
1. Materialitas adalah konsep yang bersifat relatif ketimabang absolut
Salah saji material bagi suatu perusahaan belum tentu material juga bagi perusahaan lain.
2. Dasar yang diperlukan untuk mengevaluasi materialitas

Karena materialitas bersifat relative, diperlukan dasar untuk menentukan apakah salah saji itu
material. Laba bersih sebelum pajak sering kali menjadi dasar utama untuk menentukan berapa
jumlah material bagi perusahaan yang berorientasi laba, karena jumlah ini dianggap sebagai item
informasi yang penting bagi para pemakai.
3. Faktor-faktor kualitatif yang juga mempengaruhi materialitas, contoh :
Jumlah karena ketidakberesan lebih penting daripada kekeliruan yang tidak disengaja karena
ketidakberesan mencerminkan kejujuran dan keandalan dari pihak manajemen atau pihak yang
terlibat.
Kekeliruan yang kecil dianggap material jika berhubungan dengan kewajiban kontrak.
Kekeliruan yang tidak material dapat menjadi material kalau mempengaruhi kecenderungan laba.

Dalam perencanaan suatu audit, auditor harus menetapkan materialitas pada dua tingkat
berikut ini :
a.

Tingkat laporan keuangan, karena pendapat auditor atas kewajaran mencakup laporan

keuangan sebagai keseluruhan.


b.

Tingkat saldo akun, karena auditor memverifikasi saldo akun dalam mencapai kesimpulan

menyeluruh atas kewajaran laporan keuangan.

Faktor yang harus dipertimbangkan dalam melakukan pertimbangan awal tentang


materialitas pada setiap tingkat dijelaskan berikut ini :
1.

Materialitas pada Tingkat Laporan Keuangan


Auditor menggunakan dua cara dalam menerapkan materialitas. Pertama auditor

menggunakan materialitas dalam perencanaan audit, kedua pada saat mengevaluasi bukti-bukti
audit dalam pelaksanaan audit. Pada saat merencanakan audit, auditor perlu membuat estimasi
materialitas karena terdapat hubungan yang terbalik antara jumlah dalam laporan keuangan yang
dipandang material oleh auditor dengan jumlah pekerjaan audit yang diperlukan untuk
menyatakan kewajaran laporan keuangan. Jadi auditor harus mempertimbangkan dengan baik
penaksiran materialitas pada tahap perencanaan audit. Jika auditor menentukan jumlah
materialitas terlalu rendah, auditor akan mengkonsumsi waktu dan usaha yang sebenarnya tidak
diperlukan. Sebaliknya jika auditor menentukan jumlah rupiah materialitas terlalu tinggi auditor

akan mengabaikan salah saji yang signifikan sehingga ia memberikan pendapat wajar tanpa
pengecualian untuk laporan keuangan yang sebenarnya berisi salahsaji material.
Laporan mengandung salah saji material jika laporan tersebut berisi kekeliruan atau
kecurangan yang dampaknya, secara indifidual atau secara gabungan. Dalam perencanaan audit,
auditor harus menyadari bahwa terdapat lebih dari satu tingkat materialitas yang berkaitan
dengan laporan keuangan tersebut. Kenyataannya setiap laporan keuangan dapat memiliki lebih
dari satu materialitas.
2.

Materialitas pada Tingkat Saldo Akun


Materialitas pada tingkat saldo akun adalah salah saji minimum yang mungkin terdapat

dalam saldo akun yang dipandang sebagai salah saji material. Konsep materialitas pada tingkat
saldo akun tidakboleh dicampur adukan dengan saldo akun material. Karena saldo akun material
adalah besarnya saldo akun yang tercatat, sedangkan konsep materialitas berkaitan dengan
jumlah salah saji yang dapat mempengaruhi keputusan pemakai informasi keungangan. Saldo
suatu akun yang tercatat umumnya mencerminkan batas atas lebih saji dalam akun tersebut.
Dalam mempertimbangakan materialitas pada tingkat saldo akun, auditor harus
mempertimbangkan hubungan antara materialitas tersebut dengan materialitas laporan keuangan.
Pertimbangan ini mengarahkan auditor untuk merencanakan audit guna mendeteksi salah saji
yang kemungkinan tidak material secara individual namun, jika digabungkan dengan salah saji
dalam saldo akun yang lain, dapat material terhadap laporan keuangan secara keseluruhan.
3.

Alokasi Materialitas Laporan Keuangan ke Akun


Bila pertimbangan awal auditor tentang materialitas laporan keuangan di klasifikasikan,

penaksiran awal tentang materialitas untuk setiap akun dapat diperoleh dengan mengalokasikan
materialitas laporan keuangan ke akun secara individual. Pengalokasian ini dapat dilakukan baik
untuk akun neraca maupun akun laba-rugi. Namun, karena hampir semua salah saji laporan laba
rugi mempengeruhi neraca dan karena akun neraca lebih sedikit banyak auditor melakuan alokasi
atas dasar akun neraca.
Dalam melakukan alokasi, auditor harus mempertimbangkan kemungkinan terjadinya
salah saji dalam akun tertentu dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk memverifikasi akun
tersebut.

Alokasi Pertimbangan Pendahuluan Tentang Materialitas Ke SegmenSegmen

Alokasi pertimbangan pendahuluan tentang materialitas ke segmen-segmen perlu dilakukan


karena auditor mengumpulkan bukti per segmen dan bukan untuk laporan keuangan secara
keseluruhan. Berguna untuk membantu auditor dalam memutuskan jumlah bahan bukti yang
cukup untuk dikumpulkan dalam segmen tersebut, sehingga akan meminimalisasi biaya audit.
Sebagian besar alokasi materialitas pada pos-pos neraca karena neraca memiliki lebih sedikit
komponen. Kesulitan materialitas pada akun neraca :

Anggapan bahwa akun tertentu lebih banyak kekeliruan daripada yang lain.

Perlunya mempertimbangkan apakah kekeliruan tsb. lebih saji atau kurang saji.

Biaya audit relatif dari prosedur audit yang mempengaruhi alokasi untuk tiap akun sulit
diramalkan.

Estimasi Salah Saji Dengan Pertimbangan Awal


Ketika melaksanakan prosedur audit untuk setiap segmen audit, auditor membuat kertas
kerja untuk mencatat semua salah saji yang ditemukan. Salah saji yang ditemukan dalam suatu
akun dapat dibedakan menjadi 2 jenis,
1. Salah Saji yang Diketahui adalah salah saji dalam akun yang jumlahnya dapat ditentukan oleh
auditor.
2. Salah Saji yang Mungkin.

Perhitungan proyeksi langsung estimasi salah saji :


Salah saji bersih dalam sampel
Total Sampel

* Total nilai populasi


yang tercatat

PENGERTIAN RISIKO AUDIT


Dalam perencanaan audit, auditor harus mempertimbangkan risiko audit. Menurut SA
Seksi 312 Risiko Audit dan Materialitas dalam Pelaksanaan Audit, risiko audit adalah risiko
yang terjadi dalam hal auditor, tanpa disadari, tidak memodifikasi pendapatnya sebagaimana
mestinya, atas suatu laporan keuangan yang mengandung salah saji material. Semakin pasti
auditor dalam menyatakan pendapatnya, semakin rendah risiko audit yang auditor bersedia untuk
menanggungnya.

Auditor merumuskan suatu pendapat atas laporan keuangan sebagai keseluruhan atas
dasar bukti yang diperoleh dari verivikasi asersi yang berkaitan dengan saldo akun secara
individual atau golongan transaksi. Tujuannya adalah untuk membatasi risiko audit pada tingkat
saldo akun sedemikian rupa sehingga pada akhir proses audit, risiko audit dalam menyatakan
pendapat atas laporan keuangan sebagai keseluruhan akan berada pada tingkat yang rendah.

Risiko Audit Pada Tingkat Laporan Keuangan Dan Tingkat Saldo Akun
Kenyataan bahwa auditor tidak dapat memberikan jaminan tentang ketepatan informasi
yang disajikan oleh klien dalam laporan keuangan mengharuskan auditor mempertimbangkan
baik materialitas maupun risiko audit, tanpa disadari, tidak memodifikasi pendapatnya
sebagaimana mestinya, atau suatu laporan keuangan yang mengandung salah saji material.
Risiko audit, seperti materialitas, dibagi menjadi dua bagian :
1.

Risiko Audit Keseluruhan (Overall Audit Risk)

Pada tahap perencanaan auditnya, auditor pertama kali harus menentukan risiko audit
keseluruhan yang direncanakan, yang merupakan besarnya risiko yang dapat ditanggung oleh
auditor dalam menyatakan bahwa laporan keuangan disajikan secara wajar, padahal
kenyataannya, laporan keuangan tersebut berisi salah saji material.
2.

Risiko Audit Individual

Karena audit mencakup pemeriksaan terhadap akun-akun secara individual, risiko audit
keseluruhan harus dialokasikan kepaada akun-akun yang berkaitan. Risiko audit individual perlu
ditentukan untuk setiap akun karena akun tertentu seringkali sangat penting karena besar
saldonya atau frekuensi transaksi perubahan.

Model Resiko Audit


PDR = AAR/(IR*CR)
IR x CR
PDR = Risiko penemuan yang direncanakan ( Planned Detection Risk )
AAR = Risiko audit yang dapat diterima ( Acceptable Audit Risk )
IR = Risiko bawaan ( Inherent Risk )

CR = Risiko pengendalian ( Control Risk )

Risiko penemuan yang direncanakan ( Planned Detection Risk )


Yaitu bahwa bahan bukti yang dikumpulkan dalam segmen gagal menemukan salah saji yang
melewati jumlah yang dapat ditoleransi, kalau salah saji semacam itu timbul.

Risiko Bawaan ( Inherent Risk )


Penetapan auditor akan kemungkinan adanya salah saji dalam segmen audit yang melewati batas
toleransi, sebelum memperhitungkan faktor efektifitas pengendalian intern.

Risiko pengendalian ( Control Risk )


Yaitu ukuran penetapan auditor akan kemungkinan adanya kekeliruan (salah saji) dalam segmen
audit yang melewati batas toleransi, yang tak terdeteksi atau tercegah oleh SPI klien.

Risiko audit yang dapat diterima ( Acceptable Audit Risk )


Yaitu ukuran ketersediaan auditor untuk menerima bahwa L/K salah saji secara material
walaupun audit telah selesai dan pendapat WTP telah diberikan. Bersifat subyektif.
Mengubah risiko audit yang dapat diterima untuk risiko usaha
Faktor-faktor yang mempengaruhi risiko usaha sehingga akan mempengaruhi risiko audit yang
dapat diterima :
1. Tingkat ketergantungan pemakai pada L/K
Jika pemakai memiliki ketergantungan yang besar pada L/K, maka risiko audit perlu diperkecil.
Faktor yang menunjukkan tingkat ketergantungan :

Ukuran perusahaan klien

Distribusi kepemilikan

Jumlah dan sifat kewajiban perusahaan

2.

Kemungkinan akan adanya kesulitan keuangan klien yang timbul setelah laporan audit
diterbitkan.

Dalam hal ini, auditor akan diminta untuk mempertahankan kualitas audit yang dilaksanakannya,
bahkan kemungkinan akan dituntut di pengadilan. Jika auditor merasa ada kemungkinan
kegagalan finansial atau kerugian besar dan peningkatan risiko usaha, sebaiknya auditor
menurunkan AAR
3. Evaluasi auditor atas integritas manajemen.
Jika integritas dipertanyakan maka AAR akan rendah. Jika integritas rendah, sering timbul
konflik dengan pedagang saham, konsumen, dan aparat negara sehingga akan mempengaruhi
anggapan pemakai atas kualitas audit dan dapat menyebabkan tuntutan
Menetapkan risiko audit yang dapat diterima.

Menyelidiki kondisi klien, menilai faktor-faktor yang dapat mempengaruhi tingkat


ketergantungan pemakai ekstern terhadap laporan, kemungkinan kegagalan keuangan
setelah audit selesai, dan integritas manajemen.

Auditor menetapkan tingkat risiko sementara yang bersifat subyektif bahwa L/K berisi
salah saji material setelah audit selesai.

Kemungkinan memperoleh informasi tambahan mengenai klien dan memodifikasi AAR.

Risiko Bawaan

Model risiko audit mengandung risiko bawaan berarti auditor harus memprediksi dimanakah
salah saji yang paling mungkin terjadi dan dimana yang kemungkinannya paling kecil. Informasi
ini jumlah bahan bukti yang akan dikumpulkan dan bagaimana auditor mengalokasikannya pada
segmen-segmen audit.

Risiko bawaan dapat relatif rendah pada kasus tertentu dan cukup tinggi pada kasus lain.

Faktor-faktor yang harus ditelaah dalam menetapkan risiko bawaan :


* Sifat bidang usaha klien

* Hubungan istimewa

* Integritas manajemen

* Transaksi tidak rutin

* Motivasi klien

* Pertimbangan yang diperlukan untuk mencatat

* Hasil audit sebelumnya

saldo akun dan transaksi secara benar

* Penugasan pertama atau penugasan ulang

* Kerentanan terhadap kecurangan

* Unsur-unsur populasi

Pertimbangan Materialitas Dan Risiko Lainnya


Risiko Audit Untuk Segmen

Risiko pengendalian (CR) dan risiko bawaan (IR) diterapkan secara spesifik untuik tiap
siklus, akun, dan tujuan audit sehingga cenderung berbeda. Risiko pengendalian berbeda
untuk tiap akun tergantung efektifitas pengendaliannya.

AAR diterapkan auditor untuk keseluruhan audit, konstan untuk tiap siklus dan akun
utama.

CR dan IR bervariasi sehingga risiko penemuan dan bahan bukti audit yang diperlukan
juga bervariasi, tergantung situasi secara spesifik.

Menghubungkan Salah Saji Yang Dapat Ditoleransi dan Risiko Dengan Tujuan Audit
yang Berhubungan Dengan Saldo. IR dan CR ditetapkan untuk setiap tujuan audit, tetapi
tidak lazim untuk mengalokasikan materialitas pada tujuan audit karena lebih sulit.

Keterbatasan Pengukuran
1. Sulit mengukur komponen-komponen dalam model, sehingga auditor biasanya
menggunakan ukuran kasar yang subyektif (rendah,sedang,tinggi).
2. Sulit mengukur jumlah bahan bukti yang diinginkan suatu risiko penemuan yang telah
ditetapkan.
PDR dapat diturunkan dengan mengkombinasikan beberapa prosedur audit, dengan jenis bahan
bukti yang berbeda untuk tujuan audit yang berbeda.
Tidak ada metode pengukuran yang akurat untuk menentukan pengukuran kuantitatif yang tepat
mengenai kombinasi bahan bukti, tetapi secara subyektif untuk mengevaluasi kecukupan bahan
bukti untuk memenuhi PDR butuh pertimbangan profesional.

Kertas kerja Perencanaan Bahan Bukti Pengujian Terinci Atas Saldo

Menghubungkan pertimbangan yang mempengaruhi bahan bukti audit dengan bahan


bukti yang tepat untuk dikumpulkan

Kertas kerja perencanaan bahan bukti menunjukkan bahwa faktor-faktor lain harus
dipertimbangkan sebelum membuat keputusan bahan bukti aktiva

Risiko : ukuran ketidakpastian dan materialitas : ukurannya dalam jumlah (magnitude) atau besar
(size). Jika diterapkan secara bersama berarti pengukuran tingkat ketidakpastian dari suatu
jumlah tertentu.
Mengevaluasi Hasil
Model risiko audit untuk mengevaluasi hasil audit sesuai SAS 47 :
AcAR = IR x CR x AcDR
AcAR = Risiko audit yang dicapai (Achieved Audit Risk )
Yaitu satu ukuran risiko yang diambil audit bahwa satu akun dalam L/K secara material salah
saji setelah auditor mengumpulkan bahan bukti audit.
IR

= Risiko bawaan ( Inherent Risk )

Yaitu faktor risiko bawaan yang telah direvisi selama audit.


CR = Risiko pengendalian ( Control Risk )
Yaitu risiko pengendalian yang telah direvisi.
AcDR = Risiko penemuan yang dicapai ( Achieved Detection Risk )
Yaitu satu ukuran dari risiko bahwa bahan bukti audit untuk satu segmen tidak mendeteksi salah
saji melebihi jumlah yang dapat ditoleransi, jika salah saji tersebut ada.
Auditor dapat mengurangi penemuan yang dicapai hanya dengan mengumpulkan bahan bukti.
Contoh : Jika risiko audit yang dapat dicapai (AcDR) 4%, berarti ada 4% risiko bahwa saldo
akun persediaan mengandung salah saji lebih dari salah saji yang dapat ditoleransi.
Keadaan yang diinginkan jika AcAR <= AAR
Merevisi Risiko dan Bahan Bukti

Auditor harus berhati-hati dalam memutuskan bahwa berdasarkan bahan bukti yang telah
dikumpulkan penetapan CR atau IR semula terlalu kecil atau AAR terlalu besar.
Tindakan yang dapat diambil oleh auditor :

1. Penetapan risiko harus direvisi.


2. Auditor harus memperhitungkan efek perubahan ini terhadap jumlah bahan bukti yang
disyaratkan, tanpa menggunakan model risiko audit.

Hubungan Antara Materialitas, Risiko, Audit, Bukti Audit


Berbagai kemungkinan hubungan antara materialitas, bukti audit, dan risiko audit
digambarkan sebagai berikut :
1. Jika auditor mempertahankan risiko audit konstan dan tingkat meterialitas dikurangi,
auditor harus menambah jumlah bukti audit yang dikumpulkan.
2. Jika auditor mempertahankan tingkat materialitas konstan dan mengurangi jumlah bukti
audit yang dikumpulkan, risiko audit menjadi meningkat.
3. Jika auditor menginginkan untuk mengurangi risiko audit, auditor dapat menempuh salah
satu dari tiga cara berikut ini :
a.

Menambah tingkat materialiras, sementara itu mempertahankan jumlah bukti audit yang
dikumpulkan.

b.

Menambah jumlah bukti audit yang dikumpulkan, sementara itu tingkat materialitas tetap
dipertahankan.

c.

Menambah sedikit jumlah bukti audit yang dikumpulkan dan tingkat materialitas secara
bersama-sama.