Anda di halaman 1dari 39

Case Report

Perawatan Orthodonti

Nomor Model
02

NAMA PASIEN

: Nurdiana

OPERATOR

: Jessy Hadongan Manurung, S.KG

NO. MHS

: 04114707025

NAMA PEMBIMBING

: drg. Emilia Ch. Prasetyanti. Sp.Ort

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN GIGI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
PALEMBANG
2014

LAPORAN CASE REPORT


ORTHODONTI

Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan guna menyelesaikan


Kepaniteraan Klinik Bagian Orthodonsi Program Profesi Kedokteran Gigi
Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Oleh :
Jessy Hadongan Manurung, S.KG
04114707025

Palembang,

Mei 2014

Menyetujui:
Pembimbing,

drg. Emilia Ch. Prasetyanti, Sp. Ort


NIP: 195805301985032002

STATUS PEMERIKSAAN
DAN PERAWATAN ORTHODONTI
Operator

: Jessy Hadongan Manurung, S.KG

No.Mhs

: 04114707025

Pembimbing : drg. Emilia Ch. Prasetyanti , Sp. Ortho, M.Kes


No. Kartu

: 0000818518

No. Model

: 02

I. IDENTITAS
Nama pasien

: Nurdiana

Umur

: 24 tahun

Suku

: Jawa

Jenis kelamin

: Perempuan

Status Kawin

: Belum menikah

Agama

: Islam

Alamat

: Griya Polri Indah blok C no. 17, Bukit Besar, Palembang.

Telepon

: 085769119022

Pekerjaan

: Mahasiswa

Rujukan dari

: Datang Sendiri

Nama Ayah

: Sumardi

Suku

: Jawa

Umur

: 58 tahun

Nama Ibu

: Netty Nurmalina

Suku

: Sunda

Umur

: 55 tahun

Alamat orang tua

: Nusabakti rt 10 rw 3 kecamatan Belitang 3, OKU Timur

II. WAKTU PERAWATAN

Pendaftaran

: Tgl. 21 September 2013

Pencetakan

: Tgl. 21 September 2013

Pemasangan alat

: Tgl. 2 November 2013

Retainer

: Tgl.

III. PEMERIKSAAN KLINIS


A. Pemeriksaan Subjektif ( Anamnesis )
Keluhan Utama :
Pasien mengeluhkan gigi depan bawahnya tidak rapi. Hal ini disadari kurang
lebih 5 tahun lalu. Pasien merasa terganggu dengan keadaan giginya yang
seperti itu sehingga pasien ingin dilakukan perawatan agar giginya menjadi
rapi.

Riwayat Kesehatan :
Kelahiran

: Normal

Urutan kelahiran

: anak ke-6 dari 6 anak

Nutrisi

: ASI 3 bulan

Penyakit berat yang pernah diderita

: Tidak ada

Kelainan Kongenital

: Tidak ada

Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan gigi geligi :


Gigi Decidui :
- Tidak riwayat karies rampan.
- Pencabutan dilakukan sendiri.
Gigi Bercampur :
- Pasien mencabut sendiri gigi persisten kaninus kanan dan kiri
atasnya pada usia 8 tahun.

Gigi Permanen :
- Gigi geligi rahang atas tumbuh sedikit berjejal karena kurangnya
ruang pada rahang bawah
- Pencabutan gigi belakang atas kiri 3 bulan yang lalu.
Kebiasaan Buruk (berkaitan dengan keluhan pasien):
Tidak ada

Riwayat Keluarga (berkaitan dengan keluhan pasien): Tidak ada


Keterangan :
Baik ayah, ibu, maupun saudara memiliki susunan gigi yang rapi.

B. Pemeriksaan Objektif
Umum :
Jasmani

: Baik ( Pasien datang dalam keadaan sehat, tidak

sakit dan tidak ada kelainan )


Mental

: Baik (Pasien kooperatif saat komunikasi)

Status gizi :
Tinggi badan (TB) : 153 m
Berat badan (BB) : 44 kg
Indeks masa tubuh (IMT) = BB( kg ) =
44
TB ( m )
(1,53 m)

= 18,81

Kategori status gizi : Normal


Lokal :
a. Lokal :
a. Ekstra Oral :
Wajah Depan
Bentuk kepala
Indeks kepala

: Brakisefali/Mesosefali/Dolikosefali
: Lebar kepala x 100
Panjang kepala
11,5x100 = 76,67
15

Bentuk muka

:Hipereuriprosop/Euriprosop/
Mesoprosop/Leptoprosop/
Hiperleptoprosop

Indeks muka

: Lbr Bizigomatic X 100 =


Jarak N GN
= 9,8 X 100

= 87,5

11,2
Simetri

: Simetris / Tidak simetris

Proporsi

: Normal / Tidak normal

Tonus otot mastikasi

: Normal / Tidak normal

Tonus otot bibir

: Normal / Tidak normal

Posisi bibir waktu istirahat

: Tertutup / Terbuka

Wajah Samping
Profil muka

: Lurus/Cekung/Cembung

b. Intra Oral
Jaringan Lunak
Gingiva

: Normal / Tidak normal

Mukosa

: Normal / Tidak normal

Lidah

: Normal / Tidak normal

Tonsil

: Normal / Tidak normal

Palatum

: Tinggi / Normal / Rendah

Fren. Labii Superior

: Tinggi / Normal / Rendah

Fren. Labii Inferior

: Tinggi / Normal / Rendah

Fren. Labii Lingualis

: Tinggi / Normal / Rendah

Hygiene mulut

: OHI-S:0,67 (Baik)

Pemeriksaan Gigi :

V VI III II I

I II III IV V

8 7 6 5 4 3 2 1
T

1 2 3 4 5 6 7 8

T
T

8 7 6 5 4 3 2 1

1 2 3 4 5 6 7 8

V VI III II I

I II III IV V

Keterangan :
K : Karies

R : Radiks

T : Tambalan

I : Inlay

X : Telah dicabut

P : Persistensi

Im : Impaksi

J : Jaket

O : Belum Erupsi

Ag : Agenesis

B : Bridge

En : Prwtn endodontik

Analisa Fungsi

Penelanan

: Normal / Tidak normal

Bicara

: Lidah normal / Lidah terletak di

antara gigi

Penutupan mulut

: Normal / Tidak normal

Pernapasan

: Mulut tertutup / Mulut terbuka

Senyum

: Gusi terlihat / Normal

Kelainan TMJ

: Tidak ada

IV. ANALISA
A. Analisa Foto Wajah

Tricheon
1/3
Glabella

Orbita
1/3

Glabella

Ulc
Llc

Subnasal
1/3

Pogonion
Menton

Tampak Depan

Tampak samping

Bentuk wajah

: Oval / Bulat / Persegi

Profil muka

: Lurus /Cembung/Cekung

Simetri

: Simetris/Tidak simetris

Proporsi

: Normal/Tidak normal

Garis Orbita

: Sejajar/Tidak sejajar

B. Analisa Model Studi


Rahang Atas
Arah Sagital
Inklinasi gigi insisivus

: Normal / Tidak normal

12: mesiopalato torsiversi


23:distopalato torsiversi
Kurva spee

: Normal / Tidak normal

Arah Transversal
Midline

: Segaris / Tidak segaris (pergeseran


1 mm kearah kanan)

Arah Vertikal
Infra versi : Ada / Tidak ada
Supra versi : Ada / Tidak ada
Rahang Bawah
Arah Sagital
Inklinasi gigi insisivus

: Normal / Tidak normal

31:mesiolinguo torsiversi
41: distolinguo torsiversi
Malposisi gigi posterior

: 34:mesiolinguoversi
35:mesiolinguoversi
37:linguoversi
44: linguoversi
45: linguoversi
47: linguoversi

Arah Transversal

Midline

: Segaris / Tidak segaris

Arah Vertikal
Infra versi : Ada / Tidak ada
Supra versi : Ada / Tidak ada
Keterangan :
Midline tidak segaris
-

Midline rahang atas bergeser 1 mm kearah kanan.

Midline rahang bawah normal

Lebar Mesiodistal Gigi Gigi ( mm )


Rahang Atas

Rahang Bawah

Gigi

Kanan

Kiri

Normal

Ket

Kanan

Kiri

Normal

Ket

9,40

9,40

7,40 9,75

6,00

6,08

4,97 6,60

7,90

7,60

6,05 8,10

6,68

6,68

5,45 6,85

7,85

7,85

7,05 9,32

6,70

6,90

6,15 8,15

7,90

7,80

6,75 9,00

7,70

7,80

6,35 8,75

6,90

6,90

6,00 8,10

7,70

7,70

6,80 9,55

11,20

11,30

9,95 12,10

10,62 13,05

9,90

9,70

8,75 10,87

11,60

11,60

8,90 11,37

Kesimpulan :
Ukuran lebar mesiodistal gigi geligi (mm) rahang atas dan rahang bawah
(kanan-kiri) berada dalam ukuran normal

Model Dalam Keadaan Oklusi


Arah Sagital
Overjet

: 11
41

: 2,1 mm

21
31

Relasi Kanisus

: Kanan: Klas I Kiri: Klas I

Cross bite anterior

: Tidak ada

: 2,1 mm

Arah Transversal
Garis Median

: Rahang atas bergeser 1 mm ke arah kanan

Cross bite posterior

: Tidak ada

Lain-lain

:-

Arah Vertikal
Overbite

:11
41

: 1,5 mm

Open bite

: Tidak ada

Deep bite

: Tidak Ada

21
31

:1,5 mm

C. Skema Gigi-Gigi Dari Oklusal


Rahang Atas
Malposisi :
12: distolabiotorsi
23:distopalatoversi

Rahang Bawah
Malposisi :
31:distolabio torsiversi
41: distolabio torsiversi
34:mesiolinguoversi
35:mesiolinguoversi

7
:
l
i
n
g
u
o
v
e
r
s
i

D. Skema Gigi-Gigi Dalam Keadaan Oklusi


Arah Anterior
Midline :
RA
Midline segaris : Begeser 1
mm ke arah kanan.
RB
Midline segaris : Midline
segaris dengan midline
wajah

Arah Kanan
Relasi Kaninus : Klas I
Overjet 11 : 1,5 mm
41
Overbite 11 : 1,5 mm
41

Arah Kiri
Relasi Kaninus : Klas I
Overjet 21 : 1,5 mm
31
Overbite 21 : 1,5 mm
31

V. Perhitungan
1. Metode PONT
Jumlah mesio distal 21 12

: 34,3 mm

Pengukuran lebar inter P

: 38,95 mm

Perhitungan lebar inter P

: I X 100 = 42,88 mm
80

Diskrepansi

: 3,93 mm Normal / Kontraksi / Distraksi

Pengukuran lebar M1 M1

: 51,3 mm

Perhitungan lebar M1 M1

: I X 100 = 53,5 mm
64

Diskrepansi

: 2,2 mm Normal / Kontraksi / Distraksi

Keterangan

Pertumbuhan lengkung gigi pada regio inter P (metode Pont) mengalami


kontraksi sebesar 3,93 mm, termasuk dalam kategori derajat ringan (mild
degree).
Pertumbuhan lengkung gigi pada regio inter M (metode Pont) mengalami
kontraksi sebesar 2,2 termasuk dalam kategori derajat ringan (mild degree).

2. Metode HOWES
Jumlah mesio-distal M1-M1 = 102 mm
Lebar inter P1 = 39,2 mm
Indeks HOWES inter P1 = lebar inter P1 x 100 % = 39,2 x 100% = 40,79%
MD M1-M1

102

Keterangan : Karena indeks inter P1 sebesar 40,79 % yang menyatakan


indeks

inter P1 lebih kecil dari 43 % maka lengkung gigi tidak dapat

menampung gigi-gigi dalam lengkung secara teratur.


Lebar inter fossa canina = 48,4 mm
Indeks Howes inter C= lebar interfossa C x 100 % = 48,4 x 100 % = 44,12%
MD MI-MI

102

Keterangan: Karena indeks interfossa canina yang didapat adalah 44,12 %,


dimana indeks interfossa canina lebihdari 44% sehingga lengkung basal
dapat menampung gigi dalam lengkung ideal. Namun karena indeks fossa
canina lebih besar dari indeks inter P1, maka ini merupakan kontra indikasi
ekspansi.

3. Metode KORKHAUS
Incisivus rahang atas = 34,3 mm
Jarak antara 2 gigi insisivus satu maksila ke titik tengah garis interpremolar
pada model gigi = 17 mm
Tabel KORKHAUS = 17,8 mm
Diskrepansi = 0,8 mm
Keterangan: Dari perhitungan diatas maka dapat disimpulkan
bahwa

pertumbuhan

dan

perkembangan

lengkung

gigi

ke

anteriorposterior mengalami retraksi atau kekurangan ruang 0,8 mm.


VI.

Analisa Foto Rontgen


Jenis Foto : Panoramik

Keterangan:

Gigi 18 impaksi

arah

Gigi 17-28 dan 38-48 telah tumbuh sempurna

Gigi 16:Tumpatan GIC pada bagian oklusal

Gigi 11: Tumpatan resin komposit pada bagian mesial.

Gigi 24: Tumpatan resin komposit pada bagian oklusal.

Gigi 37: Tumpatan GIC pada bagian oklusal

Gigi 36 dan 37: missing

VII. DIAGNOSA ORTHODONTI


Maloklusi Klas I tipe 5 tipe dental dengan :
Malposisi gigi individual :
12: mesiopalato torsiversi
23:distopalato torsiversi
31:mesiolinguo torsiversi
41: distolinguo torsiversi
34:mesiolinguoversi
35:mesiolinguoversi
37:linguoversi
44: linguoversi
45: linguoversi
47: linguoversi
Overbite : 11 = 2,1 mm; 21 = 2,1 mm
41

31

Overjet : 11 = 1,5 mm 21 = 1,5 mm


41
31
Midline
Midline Rahang atas

: Bergeser 1 mm ke arah kanan

Midline Rahang bawah : Segaris dengan midline wajah

VIII. ETIOLOGI :
Kehilangan gigi molar satu bawah kanan dan kiri.

IX. DETERMINASI LENGKUNG


Hasil penapakan :
Keterangan:
: Lengkung mula-mula

RA

----------: Lengkung ideal RA


: Lengkung mula-mula RB
--------- : Lengkung ideal RB
: Median Line
: Basis lengkung

Ka

Ki

Rahang Atas:
Lengkung Ideal

: Kanan: 26,70 mm,

Kiri: 25,10 mm

Mesio distal gigi I1- C : Kanan: 25,15 mm, Kiri: 24,85 mm


Diskrepansi

: Kanan: (-) 1, 55mm, Kiri: (-) 0,25 mm

Rahang Bawah:
Lengkung Ideal

: Kanan: 19,12 mm,

Kiri: 19,80 mm

Mesio distal gigi I1-C

: Kanan: 19,38 mm,

Kiri: 19,66 mm

Diskrepansi

: Kanan :+0,24 mm, Kiri: -0,18 mm

Overjet awal: 11 = 2,1 mm; 21= 2,1 mm. Overjet akhir:11 = 2,1 mm; 21= 2,1 mm
41
31
41
31
Overbite awal: 11= 1,5 mm; 21= 1,5 mm. Overbite akhir:11 = 2 mm; 21= 2 mm
41
31
41
31

ANALISA RUANG
Analisa Ruang RA
Ukuran mesio distal gigi 12+11+21+22

34,30 mm

Lengkung gigi

12 s/d 22

32,60 mm

Selisih

= (-) 1,70 mm

Ukuran mesio distal gigi 13+14+15

22,65 mm

Lengkung gigi

13 s/d 15

21,60 mm

Selisih

= (-) 1,05 mm

Ukuran mesio distal gigi 23+24+25

22,55 mm

Lengkung gigi

23 s/d 25

21,60 mm

Selisih

= (-) 0,95 mm

Analisa Ruang RB
Ukuran mesio distal gigi 42+41+31+32

25,44 mm

Lengkung gigi

42 s/d 32

24,90 mm

Selisih

= (-) 0,54 mm

Ukuran mesio distal gigi 43+44+45

22,1 mm

Lengkung gigi

43 s/d 45

22,7 mm

Selisih

= (+) 0,6 mm

Ukuran mesio distal gigi 33+34+35

22,4 mm

Lengkung gigi

33 s/d 35

22,4 mm

Selisih

0 mm

IX. RENCANA PERAWATAN


A. Rencana perawatan
1. Memberikan penjelasan tentang perawatan orthodontik.
2. Analisa ruang dan distribusi ruang.
3. Koreksi malposisi individual.
4. Penyesuaian oklusi.
5. Pemakaian retainer.

B. Jalannya perawatan
1. Penjelasan mengenai perawatan orthodontic
Memberikan gambaran dan penjelasan mengenai alat orthodontik yang
merupakan perawatan gigi geligi dengan waktu yang lama dan memerlukan
ke disiplinan, kerjasama dan motivasi yang tinggi dari pasien agar
memperoleh hasil yg memuaskan.

2. Analisa ruang dan distribusi ruang


Berdasarkan perhitungan metode PONT pertumbuhan lengkung gigi ke
arah lateral regio P1 kontraksi sebesar 3,93 mm dan regio M1 mengalami
kontraksi sebesar 2,2 mm. Berdasarkan metode HOWES indeks premolar
40,79 % yang menyatakan indeks inter P1 lebih kecil dari 43 % maka
lengkung gigi tidak dapat menampung gigi-gigi dalam lengkung secara
teratur. dan indeks fossa kanina 44,12 %, dimana indeks interfossa canina
lebihdari 44%

sehingga lengkung basal dapat menampung gigi dalam

lengkung ideal. Namun karena indeks fossa canina lebih besar dari indeks
inter P1, lengkung gigi tidak dapat menampung gigi. Berdasarkan metode
Korkhaus pertumbuhan lengkung ke arah anterior mengalami retraksi atau
kekurangan ruang 0,8 mm.
Rahang Atas
Pada determinasi lengkung, lengkung gigi regio kanan adalah 25,15 mm dan
lengkung idealnya sebesar 26,70 mm sehingga terdapat kekurangan ruang
sebesar 1,55 mm. Kemudian, lengkung rahang regio kiri adalah 24,85 mm

dan lengkung idealnya adalah 25,10 mm sehingga terdapat kekurangan


ruang sebesar 0,25 mm. Karena perbedaan selisih antara lengkung ideal dan
lengkung gigi lebih kecil dari seperempat mesiodistal premolar pertama
atas, maka untuk itu dilakukan pencarian ruang dengan cara slicing.
Rahang Bawah
Panjang lengkung gigi regio kanan pada rahang bawah pada determinasi
lengkung adalah adalah 19,38 mm dan lengkung idealnya adalah 19,12 mm
sehingga terdapat kelebihan ruang sebesar 0,24 mm. Untuk lengkung gigi
regio kiri sebesar 19,66 mm untuk dan lengkung idealnya sebesar 19,80
mm sehingga terdapat kekurangan ruang sebesar 0,18mm. Kemudian,
lengkung rahang regio kiri Untuk itu tidak dilakukan pencarian ruang.

3. Mengkoreksi malposisi gigi individual


a. Mendesain alat berupa plat aktif yang dilengkapi :
Plat aktif yang dilengkapi :
1. Labial Bow dengan U loop dari P1-P1 diameter 0,7 mm sebagai
alat pasif.
2. Simple spring pada diameter 0,6 pada gigi 12 dan 23 untuk
mendorong gigi ke arah labial.
3. Klamer adams diameter 0,7 mm pada gigi 16 dan 26 sebagai
penjangkar.
b. Rahang Bawah
Plat aktif yang dilengkapi :
1. Finger spring diameter 0,6 untuk distalisasi gigi gigi 42
2. T-spring diameter 0,6 untuk mendorong gigi 31 dan 41 ke labial.
3. Labial Bow dengan U loop dari P1-P1 diameter 0,7 mm untuk
mempertahankan lengkung.
4. Klamer adams diameter 0,7 mm pada gigi 37 dan 47 sebagai
penjangkar.

a. adaptasi alat
Pasien diinstruksikan untuk menggunakan plat aktif dan belum
diaktivasi sebagai adaptasi awal dalam penggunaan alat.
b. Pencarian ruang
Pencarian ruang mula-mula dilakukan dengan slicing pada gigigigi rahang atas dan bawah yang berjejal. Rahang atas kanan pasien
anterior mengalami kekurangan ruang sebesar 1,55

mm, maka

dilakukan slicing pada gigi 11 dan 13, kemudian untuk memberi ruang
terhadap pergerakan gigi 23 yang pada daerah region kiri kaninuspremolar mengalami kekurangan ruang sebesar 0,25 mm, maka
dilakukan slicing pada gigi 22 dan 23maka dilakukan slicing pada gigi
21, 22. Untuk rahang bawah, tidak memerlukan slicing karena terdapat
ruang 0,24 mm untuk memperbaiki malposisi gigi.
c. Aktivasi alat
Plat diaktifkan untuk menggerakkan gigi gigi yang malposisi
kedalam lengkung rahang yang sebenarnya.

5.

Penyesuaian Oklusi
Pasien diinstruksikan untuk menggigit articulating paper berwarna
biru dalam posisi sentrik, kemudian diinstruksikan untuk melakukan
gerakan mastikasi. Setelah itu dilakukan pemeriksaan tonjol-tonjol
oklusal dan sisi insisal gigi, apabila berwarna sangat biru, menandakan
adanya traumatik oklusi sehingga perlu dilakukan grinding dengan
menggunakan bur diamond pada gigi tersebut sampai warna biru
seimbang pada semua tonjol dan sisi insisal. Untuk mencegah
terjadinya karies pada gigi yang dilakukan grinding, dilakukan
penghalusan dan aplikasi topikal flouride.

6. Pemakaian Retainer
Pemakaian retainer dimaksudkan untuk mempertahankan lengkung gigi
yang telah terkoreksi sampai terjadi kestabilan dalam lengkung gigi
yang baru serta mencegah agar gigi-gigi tidak relaps. Alat yang
digunakan dalam tahap ini adalah busur labial kawat stainless steel
diameter 0,7 mm dan klamer adams diameter 0,7mm pada gigi molar
pertama pada rahang atas dan molar kedua pada rahang bawah.

IX. SKETSA PESAWAT ORTHODONTI


A. Rahang Atas

Keterangan
Alat-alat yang digunakan :
1. Labial bow 0.7 mm
2. Simple spring 0,6 mm
3. Adams klamer 0.7 mm

B. Rahang Bawah

Keterangan
Alat-alat yang digunakan :
1. Labial bow 0.7 mm
2. Finger spring 0,6mm
3. T- spring 0,6mm
4. Adams klamer 0.7 mm

IX. PROGNOSIS
Baik / Sedang / Buruk
Keterangan:
Prognosis sedang karena pasien sangat kooperatif dalam perawatan giginya
tetapi pasien telah berumur 25 tahun (tidak dalam fase pertumbuhan dan
perkembangan)

XII. JADWAL KEGIATAN


No

Kegiatan

Tanggal

1.

Persetujuan pasien

21 September 2013

2.

Anamnesa dan pemeriksaan klinis

21 September 2013

3.

Mencetak dan mengisi gips

21 September 2013

4.

Membuat work model dan studi model

4 Oktober 2013

5.

Diskusi I

7 Oktober 2013

6.

Diskusi II

12 Oktober 2013

7.

Diskusi III

19 Oktober 2013

8.

Persetujuan rencana perawatan dan desain alat

19 Oktober 2013

9.

Pembuatan alat

24 Oktober 2013

10.

Insersi alat

2 November 2013

XIII. KONTROL PASIEN


NO

1.

TANGGAL

2/11/2013

PENGUKURAN
Overjet
11-41 = 2,1 mm
21-31 = 2,1 mm
Overbite
11-41 = 1,5 mm
21-31 = 1,5 mm

OBSERVASI

Pasien tampak
kooperatif

JENIS
KEGIATAN

Insersi alat
orthodonti

2.

3.

9/11/2013

Overjet
11-41
Sebelum
2,1 mm
21-31
Sebelum
2,1 mm
Overbite
11-41
Sebelum
1,5 mm
21-31
Sebelum
1,5 mm
Overjet
11-41
Sebelum
2,1 mm
21-31
Sebelum
2,1 mm

Sesudah
2,1 mm

Aktivasi finger
spring pada gigi 42

Sesudah
1,5 mm

Sesudah
2,1 mm
Sesudah
2,1 mm

Aktivasi finger
Terjadi pergerakkan
gigi 42 ke arah distal
Belum

signifikan
Sesudah
1,5 mm

spring pada gigi 42


(diteruskan)

terjadi Slicing gigi


11,13,22,24

perubahan

pada Aktivasi simple

rahang atas

spring gigi 12 dan


23

Sesudah
1,5 mm
Aktivasi finger
Sesudah
2,1 mm
Sesudah
2,1 mm

7/12/2013
Overbite
11-41
Sebelum
1,5 mm
21-31
Sebelum
1,5 mm

Masih adaptasi alat


sehingga belum ada
perubahan

Sesudah
1,5 mm

23/11/2013
Overbite
11-41
Sebelum
1,5 mm
21-31
Sebelum
1,5 mm
Overjet
11-41
Sebelum
2,1 mm
21-31
Sebelum
2,1 mm

4.

Sesudah
2,1 mm

Terjadi pergerakkan
gigi 42 ke arah distal
Belum terjadi
perubahan
signifikan pada

Sesudah
1,5 mm
Sesudah
1,5 mm

rahang atas

spring pada gigi 42


(diteruskan)
Slicing gigi
11,13,22,24(diterus
kan)
Aktivasi simple
spring gigi 12 dan
23(diteruskan)

Overjet
11-41
Sebelum
2,1 mm
21-31
Sebelum
2,1 mm
5.

Sesudah
2,1 mm

Terjadi

Sesudah
1,5 mm
Sesudah
1,5 mm

pergerakan

inklinasi gigi 12 dan


23 ke labial
31

belum

Sesudah
2,1 mm

41

mengalami

perubahan

karena

alat

belum

diaktifkan

Sesudah
2,1 mm

gigi 42 ke arah distal


Terjadi

23 ke labial
31

belum
Sesudah
1,5 mm
Sesudah
1,5 mm

pergerakan

inklinasi gigi 12 dan


Gigi

41

mengalami

perubahan

karena

alat

belum

diaktifkan

Sesudah
2,1 mm

gigi 42 ke arah distal


Terjadi

23 ke labial

belum
Sesudah
1,5 mm
Sesudah
1,5 mm

pergerakan

inklinasi gigi 12 dan


Gigi

31

(diteruskan)
Slicing gigi

kan)
Aktivasi

simple

spring gigi 12 dan


23(diteruskan)

Aktivasi

finger

spring pada gigi 42


(diteruskan)
Slicing

gigi

kan)
Aktivasi

simple

spring gigi 12 dan


23(diteruskan)

Aktivasi

finger

spring pada gigi 42


(diteruskan)
Slicing

gigi

11,13,22,24(diterus
dan

41

mengalami

perubahan

karena

alat

belum

diaktifkan

spring pada gigi 42

11,13,22,24(diterus
dan

Terjadi pergerakkan
Sesudah
2,1 mm

Aktivasi finger

11,13,22,24(diterus
dan

Terjadi pergerakkan

20/1/2014
Overbite
11-41
Sebelum
1,5 mm
21-31
Sebelum
1,5 mm

gigi 42 ke arah distal

Gigi

3/1/2014
Overbite
11-41
Sebelum
1,5 mm
21-31
Sebelum
1,5 mm
Overjet
11-41
Sebelum
2,1 mm
21-31
Sebelum
2,1 mm

7.

Sesudah
2,1 mm

21/12 /2013
Overbite
11-41
Sebelum
1,5 mm
21-31
Sebelum
1,5 mm
Overjet
11-41
Sebelum
2,1 mm
21-31
Sebelum
2,1 mm

6.

Terjadi pergerakkan

kan)
Aktivasi

simple

spring gigi 12 dan


23(diteruskan)

Pemotongan
Overjet
11-41
Sebelum
2,1 mm
21-31
Sebelum
2,1 mm
8.

Terjadi pergerakkan
Sesudah
2,1 mm
Sesudah
2,1 mm

2/2/14
Overbite
11-41
Sebelum
1,5 mm
21-31
Sebelum
1,5 mm

gigi 42 ke arah distal


Terjadi

pergerakan

inklinasi gigi 12 dan


23 ke labial
Gigi

31

belum
Sesudah
1,5 mm
Sesudah
1,5 mm

bagian

lengan

finger spring pada


gigi 42
Aktivasi T-spring
pada gigi 31 dan
41

dan

41

mengalami

perubahan

karena

alat

belum

diaktifkan

Slicing

gigi

11,13,22,24(diterus
kan)
Aktivasi

simple

spring gigi 12 dan


23(diteruskan)

Overjet
11-41
Sebelum
2,1 mm
21-31
Sebelum
2,1 mm
9.

10.

Gigi
Sesudah
2,1 mm
Sesudah
2,1 mm

13/3/2014

27/3/2014

Overbite
11-41
Sebelum
1,5 mm
21-31
Sebelum
1,5 mm
Overjet
11-41
Sebelum
2,1 mm
21-31
Sebelum
2,1 mm

42

yang

digerakkan ke arah
distal pada kontrol
sebelumnya stabil.
Terjadi

pergerakan

inklinasi gigi 12 dan


23 ke labial
Sesudah
1,5 mm

Gigi

31

belum
Sesudah
1,5 mm

dan

41

mengalami

perubahan

Aktivasi T-spring
pada gigi 31 dan
41
Slicing

gigi

11,13,22,24(diterus
kan)
Aktivasi

simple

spring gigi 12 dan


23(diteruskan)

yang

Aktivasi T-spring

Sesudah
2,1 mm

digerakkan ke arah

pada gigi 31 dan

distal pada kontrol

41

Sesudah
2,1 mm

sebelumnya stabil.

Gigi

Terjadi

42

pergerakan

inklinasi gigi 12 dan


23 ke labial

Slicing

gigi

11,13,22,24(diterus
kan)
Aktivasi

simple

Overbite
11-41
Sebelum
1,5 mm
21-31
Sebelum
1,5 mm
Overjet
11-41
Sebelum
2,1 mm
21-31
Sebelum
2,1 mm
11.

Gigi
Sesudah
1,5 mm

belum

12.

8/5/2014

41

mengalami

spring gigi 12 dan


23(diteruskan)

perubahan

Gigi
Sesudah
2,1 mm
Sesudah
2,1 mm

42

yang

digerakkan ke arah
distal pada kontrol
sebelumnya stabil.
Terjadi

pergerakan

inklinasi gigi 12 dan


23 ke labial
Sesudah
1,5 mm

Gigi

31

belum
Sesudah
1,5 mm

dan

41

mengalami

perubahan
Gigi

Overjet
11-41
Sebelum
2,1 mm
21-31
Sebelum
2,1 mm
Overbite
11-41
Sebelum
1,5 mm
21-31
Sebelum
1,5 mm

dan

Sesudah
1,5 mm

7/4/2014
Overbite
11-41
Sebelum
1,5 mm
21-31
Sebelum
1,5 mm

31

42

yang

digerakkan ke arah
distal pada kontrol
Sesudah
2,1 mm

sebelumnya stabil.
Terjadi

Sesudah
2,1 mm

inklinasi gigi 12 dan


23

Sesudah
1,5 mm
Sesudah
1,5 mm

pergerakan

ke

labial

sehingga rahang atas


telah terkoreksi
Gigi
belum

31

dan

41

mengalami

perubahan

Aktivasi T-spring
pada gigi 31 dan
41
Slicing

gigi

11,13,22,24(diterus
kan)
Aktivasi

simple

spring gigi 12 dan


23(diteruskan)
Aktivasi T-spring
pada gigi 31 dan
41
Slicing gigi
11,13,22,24(diterus
kan)
Aktivasi simple
spring gigi 12 dan
23(diteruskan)
Pencetakkan untuk
progress report

XIV. PERBANDINGAN MODEL STUDI SEBELUM DAN SETELAH


PERAWATAN
SEBELUM PERAWATAN

SETELAH PERAWATAN

XV. TINJAUAN PUSTAKA


Oklusi adalah perubahan hubungan permukaan gigi geligi pada maksila
dan mandibula, yang terjadi selama pergerakan mandibula dan berakhir dengan
kontak penuh dari gigi geligi pada kedu rahang. Oklusi terjadi karena adanya
interaksi antara dental system. Secara teoritis oklusi didefenisikan sebagai kontak
antara gigi-geligi yang saling berhadapan secara langsung (tanpa perantara) dalam
suatu hubungan biologis yang dinamis antara semua komponen sistem
stomatognatik terhadap permukaan gigi geligi yang berkontak dalam keadaan
berfungsi.
Maloklusi adalah suatu bentuk oklusi yang menyimpang dari bentuk
standar yang diterima sebagai bentuk normal. Hal tersebut dapat disebabkan
karena tidak ada keseimbangan pertumbuhan dan perkembangan jaringan
dentofasial. Keseimbangan dentofasial disebabkan oleh faktor keturunan,
lingkungan, pertumbuhan, perkembangan, etnik, fungsionil dan patologi yang
saling mempengaruhi.1 Etiologi maloklusi dibagi atas dua golongan yaitu faktor
luar atau faktor umum dan faktor dalam atau faktor lokal. Hal yang termasuk
faktor luar yaitu herediter, kelainan kongenital, perkembangan atau pertumbuhan
yang salah pada masa prenatal dan posnatal, malnutrisi, kebiasaan jelek, sikap
tubuh, trauma, dan penyakit-penyakit dan keadaan metabolik yang menyebabkan
adanya predisposisi ke arah maloklusi seperti ketidakseimbangan kelenjar
endokrin, gangguan metabolis, penyakit-penyakit infeksi.
Hal yang termasuk faktor dalam adalah anomali jumlah gigi seperti adanya
gigi berlebihan (dens supernumeralis) atau tidak adanya gigi (anodontis), anomali
ukuran gigi, anomali bentuk gigi, frenulum labii yang abnormal, kehilangan dini
gigi desidui, persistensi gigi desidui, jalan erupsi abnormal, ankylosis dan karies
gigi.1
Konsep bahwa ada yang ideal untuk setiap komponen oklusi gigi-geligi,
dari suatu pengetahuan dimana variasi atau maloklusi bisa diukur, dimulai dari
hasi penelitian Angle. Angle mendefinisikan oklusi sebagai hubungan ideal dari
gigi-gigi molar pertama atas dan bawah tetap pada bidang sagital.1 Pada oklusi

yang normal cusp mesiobukal gigi molar pertama atas terletak pada bukal groove
gigi molar pertama bawah.2,3
Klasifikasi maloklusi menurut Angle:2,3,5,6
Klas I Maloklusi
Relasi molar normal, puncak cusp mesio bukal molar pertama rahang atas
terletak pada garis bukal molar pertama rahang bawah dan puncak cusp gigi
kaninus rahang atas terletak tepat pada pertemuan kaninus dan premolar pertama
rahang bawah.
Menurut Dr. Martin Dewey, maloklusi klas I terdiri dari beberapa tipe yaitu:
Tipe 1 : gigi berjejal dan caninus sering terletak di labial
Tipe 2 : protrusi atau labioversi gigi incisivus atas
Tipe 3 : satu atau lebih gigi incisivus atas lebih ke lingual terhadap gigi incisivus
bawah (cross bite anterior)
Tipe 4 : cross bite pada gigi molar atau premolar (cross bite posterior)
Tipe 5 : mesial drifting dari gigi molar karena tanggalnya gigi depannya.
Angle mengklasifikasikan maloklusi berdasarkan hubungan anteroposteroir dari
gigi molar satu permanent, Balllard mengklasifikasikan maloklusi berdasarkan
hubungan inssivus. Hubungan klas I muncul bila tepi insisal bawah beroklusi
dengan sepertiga permukaaan palatal dari insisivus atas. Sistem ini sesuai dengan
tujuan yang ingin dicapai Angle, yaitu bahwa pergeseran gigi dapat menyebabkan
hubungan lokal yang menyebabkan maloklusi. Maloklusi klas I meliputi banyak
problem ortodontik. Gambaran klinik variasi skeletal lateral dan vertikal, spacing,
crowding problem lokal dental. Hal-hal tersebut diatas tidak hanya berhubungan
dengan maloklusi klas I saja tetapi dapat terjadi pada maloklusi lain.

Maloklusi Angle Klas I

Klas II Maloklusi
Relasi molar pertama rahang bawah lebih ke distal terhadap molar pertama
rahang atas, puncak bonjol mesio bukal molar pertama rahang atas terletak di
depan garis bukal molar pertama rahang bawah dan puncak cusp gigi kaninus
rahang atas terletak di depan pertemuan gigi kaninus dan premolar pertama rahang
bawah.2,3,5,6 Sub klasifikasi maloklusi Angle Klas II menurut hubungan gigi
insisivus, yaitu :2,4
Divisi I

: Proklinasi insisivus pertama atas dengan peningkatan overjet.

Divisi II

: Retroklinasi insisivus atas dengan overjet mungkin normal atau


sedikit lebih besar dari normal. Insisivus kedua atas proklinasi.

Klas III Maloklusi


Relasi molar pertama rahang bawah lebih ke mesial terhadap molar
pertama rahang atas, puncak cusp mesiobukal molar pertama rahang atas terletak
di belakang garis bukal molar pertama rahang bawah dan puncak cusp gigi
kaninus atas terletak di belakang pertemuan gigi kaninus dan premolar pertama
rahang bawah.
Maloklusi klas III dibagi beberapa tipe, yaitu:
Tipe 1 : hubungan icisor edge to edge
Tipe 2 : incisivus atas menumpang pada incisive bawah seperti hubungan normal
dan incisivus bawah agak berjejal.
Tipe 3 : incisivus atas linguoversi (crossbite anterior), dalam hal ini progeni.

Maloklusi dapat berupa kondisi bad bite atau sebagai kontak gigitan menyilang
(cross bite), kontak gigitan dalam (overbite), gigi berjejal (crowded), atau
protrusive. Hal ini dapat memberikan efekterhadap penampilan estetis, berbicara,
atau kenyamanan dalam mengunyah makanan.3,4,5
Overjet dan overbite mengacu pada hubungan di bidang sagital dan vertikal. Pada
bidang transversal, gigi-gigi psterior juga mempunyai hubungan ideal yang
bervariasi. Pada hubungan yang ideal, gigi-gigi atas harus menumpuk pada gigigigi bawah pada kedua sisi.
Maloklusi dapat mengakibatkan terjadinya gangguan pada pengunyahan, bicara
serta estetik. Gangguan pengunyahan yang terjadi dapat berupa rasa tidak nyaman
saat mengunyah, terjadinya rasa nyeri pada TMJ dan juga mengakibatkan nyeri
kepala dan leher. Pada gigi yang berjejal dapat mengakibatkan kesulitan dalam
pembersihan. Tanggalnya gigi-geligi akan mempengaruhi pada pola pengunyahan
misalnya pengunyahan pada satu sisi.
Perawatan maloklusi dapat dilakukan dengan alat cekat dan alat lepasan.3

Alat Lepasan terdiri dari komponen berikut:


1. Plat Dasar
Merupakan rangka (frame work) dari alat ortodontik lepasan, umumnya
berupa plat akrilik, berfungsi untuk:
-

Mendukung komponen-komponen yang lain , seperti tempat penanaman


basis spring, klammer, busur labial dan lain-lain.

Meneruskan kekuatan yang dihasilkan oleh bagian aktif ke gigi


penjangkar.

Mencegah pergeseran gigi-gigi yang tidak akan digerakkan.

Melindungi spring-spring di daerah palatal.

Menahan dan meneruskan kekuatan gigitan

Plat akrilik dibuat setipis mungkin agar tidak menyita rongga mulut sehingga
bias enak dipakai oleh pasien (comfortable), tetapi cukup tebal agar tetap kuat
jika dipakai di dalam mulut. Umumnya ketebalan plat setebal 1 malam model
(2mm).
2. Klamer/Clasp dan Modifikasinya
Klamer adalah suatu bengkokan kawat merupakan bagian/komponen retentif
dari alat ortodontik lepasan .
Bagian retensi dari Alat Lepasan umumnya berupa cangkolan/klamer/clasp
dan kait / hook, berfungsi untuk :
-

Menjaga agar plat tetap melekat di dalam mulut.

Mempertahankan stabilitas alat pada saat mulut berfungsi.

- Membantu fungsi gigi penjangkar/anchorage, menghasilkan kekuatan


pertahanan yang berlawanan arah dengan kekuatan yang dihasilkan oleh
bagian aktif untuk menggerakkan gigi.
-

Klamer dapat diberi tambahan hook untuk tempat cantolan elastik.

Klamer dipasang pada gigi dapat memberikan tahanan yang cukup terhadap
kekuatan yang dikenakan terhadap gigi yang digerakkan. Dapat menahan gaya
vertikal yang dapat mengangkat plat lepas dari rahang dan menggangu
stabilitas alat.
Pemilihan jenis , jumlah dan letak penempatan klamer pada gigi anchorage
tergantung kepada: jumlah spring yang dipasang, letak spring, serta bentuk
dan jumlah gigi penjangkarnya.
Macam-macam klamer dan modifikasinya yang di pakai sebagai komponen
retentive pada alat ortodontik lepasan adalah :
-

Klamer C / Simple/Buccal Clasp.

Klamer Adams / Adams Clacp.

Klamer kepala panah / Arrow Head Clasp

Bentuk modifikasi (Kawat tunggal, Ring, Triangulair, Arrowhea, Pinball)

3. Pir-Pir Pembantu/ Auxilliary Springs


Pir-pir pembantu (auxilliary springs) adalah pir-pir ortodontik yang digunakan
untuk menggerakkan gigi-gigi yang akan dikoreksi baik secara individual atau
beberapa gigi secara bersama-sama.
Macam-macam spring :
-

Pir Jari / Finger spring


Pir jari merupakan bagian retentif dari alat ortodontik lepasan yang
menyerupai jari-jari sebuah lingkaran memanjang dari pusat lingkaran ke
sisi lingkaran (lengkung gigi).

Pir Simpel / Simple spring


Berfungsi untuk menggerakkan gigi individual ke arah labial atau bukal.
Dibuat dengan mematrikan kawat pada satu titik pada mainwire,
membentuk sudut 45 terhadap garis singgung lingkaran mainwire
kemudian dibengkokkan sejajar mainwire mendekati dan menempel pada
gigi yang akan digerakkan dari arah palatinal/lingual.

Pir Lup / Loop spring / Buccal retractor spring


Pir ini dipakai untuk meretraksi gigi kaninus atau premolar ke distal.

Pir Kontinyu / Continous spring


Pir ini berfungsi untuk mendorong dua gigi atau lebih secara bersamasama kearah labial/bukal misalnya gigi-gigi insisivus, kaninius atau
premolar.

4.

Busur Labial/Labial Arch/Labial Bow


Sesuai dengan namanya busur labial merupakan kawat melengkung yang
menempel pada permukaan labial gigi-gigi.
Fungsi Busur labial :

5.

Untuk meretraksi gigi-gigi depan ke arah lingual/palatianal.

Untuk mempertahankan lengkung gigi dari arah labial.

Untuk mempertinggi retensi dan stabilitas alat.

Untuk tempat pematrian pir-pir (auxilliary springs)

Busur Lingual (Lingual Arch/Mainwire)

Merupakan lengkung kawat dibagian palatinal / lingual gigi anterior


berfungsi untuk :
-

Mempertahankan lengkung gigi bagian palatinal / lingual.

Tempat pematrian auxilliary springs auxilliary

Untuk mempertahankan kedudukan auxilliary springs

Meningkatkan stabilitas alat di dalam mulut

Pergerakan gigi
Ada beberapa tipe pergerakan gigi yang terjadi selama perawatan orthodonsi
yang dikelompokan sebagai berikut:4
1. Pergerakan tipping
Tekanan yang diaplikasikan pada satu titik pada mahkota gigi akan
menyebabkan gigi miring menjauhi asal tekanan
2. Pergerakan rotasi
Rotasi gigi dalam soketnya membutuhkan aplikasi tekanan ganda. Tekanan ini
bias diperoleh baik dengan mengaplikasikan tekanan pada satu titik di
mahkota gigi dan stop untuk mencegah pergerakan bagian lain dari
mahkota, atau yang lebih efisien adalah dengan mengaplikasikan tekanan
berlawanan terhadap daerah-daerah gigi yang berbeda.
3. Pergerakan bodily
Pergerakan bodily mempunyai arti pergerakan translasi yang menyeluruh dari
sebuah gigi ke posisinya yang baru, dengan semua bagian dari gigi bergerak
dalam jumlah yang setara. Karena tekanan hanya dapat diaplikasikan langsung
pada mahkota gigi, tekanan harus diaplikasikan pada daerah mahkota yang
lebar, dan setiap pergerakan tilting harus dibatasi, jika ingin diperoleh
pergerakan bodily.
4. Pergerakan torque
Pergerakan akar diinginkan dengan hanya sedikit pergerakan mahkota.
5. Pergerakan vertikal
Pergerakan gigi secara vertikal memerlukan aplikasi tekanan pada daerah
mahkota gigi yang luas.

Plat ekspansi
Plat ekspansi merupakan alat ortodontik lepasan yang sering digunakan
pada kasus gigi depan berjejal yang ringan. Kekurangan ruang guna mengatur
gigi-gigi tersebut diperoleh dengan menambah perimeter lengkung gigi
menggunakan plat ekspansi. Pada pasien dewasa, pelebaran yang dihasilkan
merupakan gerakan ortodontik, yaitu hanya melebarkan lengkung gigi dengan
cara tipping, merubah inklinasi gigi.
Sifat plat ekspansi ; Lepasan atau removable : alat bisa dipasang dan
dilepas oleh pasien , mempunyai sumber kekuatan untuk menngerakkan gigi,
yaitu sekrup ekspansi atau coffin spring, atau pir-pir penolong ( auxilliary spring).
Mekanis : merubah posisi gigi secara mekanis , alat tidak mudah lepas, karena
retensi yang diperoleh dari Adams clasp atau Arrowhead clasp serta verkeilung
dari plat dasar yang menempel pada permukaan lingual atau palatinal gigi.
Elemen-elemen plat ekspansi
Plat ekspansi terdiri dari :
1. Plat dasar akrilik
2. Klamer yang mempunyai daya retensi tinggi, misalnya Adams clasp atau
Arrowhead clasp.
3. Elemen ekspansif, dapat berupa sekrup ekspansi maupun coffin spring
4. Busur labial ( labial arch )
5. Kadang dilengkapi juga dengan spur atau taji, tie-bar dan pir-pir penolong
(auxilliary spring ).

XV. PEMBAHASAN
Pada pemeriksaan model diagnostik saat oklusi didapatkan lengkung gigi
rahang bawah dalam keadaan normal dalam hubungannya dengan gigi-gigi rahang
atas. Karena, gigi molar pertama telah hilang maka pengklasifikasian berdasarkan
relasi kaninus. Berdasarkan klasifikasi maloklusi menurut Angle, dimana relasi
gigi kaninus berada di pertemuan gigi kaninus dan premolar rahang bawah adalah
maloklusi Angle Klas I.2,3,4,6

Etiologi dari pasien ini dilihat secara umum karena kehilangan gigi molar
sehingga menyebabkan pergeseran gigi-geligi pada bagian posterior dan gigi tetap
berjejal di anterior bawah.
Dari perhitungan dengan menggunakan metode Pont, pertumbuhan
lengkung gigi pada regio inter M mengalami mengalami kontraksi sebesar 2,2.
Dari perhitungan dengan determinasi lengkung terdapat kekurangan ruang pada
rahang atas sebelah kanan sebesar 1,15 mm dan sebelah kiri kekurangan ruang
sebesar 0,95 mm. Sedangkan rahang bawah sebelah kanan terdapat kelebihan
ruang sebesar 0, mm dan rahang bawah sebelah kiri terdapat kekurangan ruang
sebesar 0,18 mm.
indeks fossa canina 44,12 %, dimana indeks interfossa canina lebih dari
44% sehingga lengkung basal dapat menampung gigi dalam lengkung ideal.
Namun karena indeks fossa canina lebih besar dari indeks inter P1, lengkung gigi
tidak dapat menampung gigi.
Perawatan orthodonti pada pasien ini dilakukan dengan menggunakan alat
orthodonti lepasan (removable) pada rahang atas yang dimulai pada tanggal 2
November 2013 sampai 8 Mei 2014 dan memperoleh hasil sebagai berikut:

SEBELUM PERAWATAN
Overjet
11-41 = 2,1 mm
21-31 = 2,1 mm
Overbite
11-41 = 1,5 mm
21-31 = 1,5 mm

SETELAH PERAWATAN
Overjet
11-41 = 2,1 mm
21-31 = 2,1 mm
Overbite
11-41 = 1,5 mm
21-31 = 1,5 mm

Pasien datang pada tanggal 9 November 2013 untuk kontrol yang pertama.
Pada kontrol pertama ini dilakukan aktifasi finger spring pada gigi 42 ke arah
distal.
Pada kontrol ke dua tanggal 23 November 2013 belum ada pergerakan
signifikan pada gigi-gigi malposisi. Aktifasi finger spring pada gigi 42 ke arah

distal (diteruskan). Dilakukan slicing pada gigi 11,13,22,24. Aktivasi simple


spring gigi 12 dan 23.
Pada kontrol ketiga tanggal 7 Desember 2013 terdapat pergerakan gigi 32
ke arah distal. Belum ada perubahan pada gigi-gigi 12 dan 23. Aktifasi finger
spring pada gigi 42 ke arah distal (diteruskan). Dilakukan slicing pada gigi
11,13,22,24. Aktivasi simple spring gigi 12 dan 23.
Pada kontrol ke empat tanggal 21 Desember2013 terdapat pergerakan gigi
42 ke arah distal.Terdapat perubahan inklinasi gigi 12 dan 23 ke arah labial
Aktifasi finger spring pada gigi 42 ke arah distal (diteruskan). Dilakukan slicing
pada gigi 11,13,22,24. Aktivasi simple spring gigi 12 dan 23.
Pada kontrol ke lima dan keenam tanggal 3 Januari 2014 dan 20 Januari
2014, terjadi pergerakkan gigi 42 ke arah distal. Terjadi pergerakan ke labial gigi
12 dan 23. Gigi 31 dan 41 belum mengalami perubahan karena alat belum
diaktifkan. Aktifasi finger spring pada gigi 42 ke arah distal (diteruskan).
Dilakukan slicing pada gigi 11,13,22,24. Aktivasi simple spring gigi 12 dan 23.
Pada kontrol ketujuh pada tanggal 2 Februari 2014 Terjadi pergerakkan
gigi 42 ke arah distal, gigi 12 dan 23 bergerak ke labial dan gigi 31 dan 41 belum
mengalami perubahan karena alat belum diaktifkan. Maka, dilakukan pemotongan
bagian lengan finger spring pada gigi 42 dan aktivasi T-spring pada gigi 31 dan
41. Slicing gigi 11,13,22,24 dan aktivasi simple spring gigi 12 dan 23 diteruskan.
Pada kontrol ke delapan pada tanggal 13 Maret 2013, gigi 42 yang
digerakkan ke arah distal pada kontrol sebelumnya stabil. Terjadi pergerakan ke
labial gigi 12 dan 23. Gigi 31 dan 41 belum mengalami perubahan. Aktivasi dan
slicing masih sama seperti kontrol sebelumnya.
Pada kontrol ke sembilan sampai kontrol terakhir (ke-11), posisi gigi
dalam keadaan stabil. Gigi 12 dan 23 inklinasinya telah mengalami perubahan ke
labial. Gigi 42 yang digerakkan ke distal stabil, namun gigi 41 dan 31 belum
mengalami perubahan. Kemudian, dilakukan pencetakan rahang atas dan rahang
bawah pasien untuk membuat progress report. Dilakukan instruksi yang sama
kepada pasien agar menggunakan alat 24 jam kecuali pada saat makan dan sikat
gigi.

XV. KESIMPULAN
Pasien dengan kasus maloklusi angle kelas 1 tipe 5 tipe dental dapat
dilakukan perawatan dengan menggunakan alat ortodonti lepasan. Pemeriksaan,
analisa, dan rencana perawatan yang tepat penting dalam menentukan
keberhasilan perawatan.
Keberhasilan perawatan ditunjang oleh komunikasi dan sikap pasien yang
kooperatif dalam menjalankan perawatan dimana pasien rutin memakai alat
lepasan setiap hari dan rajin kontrol.

DAFTAR PUSTAKA
1. Profit,WR. Contemporary Orthodontic. 2nd ed. Toronto:Mosby Year
Book, 2001:2-16
2. Foster, T. D. 1997. Buku Ajar Ortodonsi. Ed. 3. Jakarta: EGC. Hal. 192210.
3. Houston. W.J.B. 1989. Diagnosis Orthodonsi. Ed 3. Jakarta: EGC. Hal. 11
4. Dewi, Oktavia. 2007. Analisis Hubungan Maloklusi dengan kualitas
Hidup Pada Remaja Medan Tahun 2007. Tesis tidak diterbitkan. Medan:
FKG USU
5. Bishara, Samir. 2001. Text Book of Othodonti. Toronto: Saunders
Company. Hal. 98, 290.
6. Salzmann, J. A. Orthodontics in daily practice. London: J.B Lippincott
Company. 1957. Hal. 246-260.
7. Ardhana, W. Alat Orthodontik Lepasan. Yogyakarta:UGM, 2011:4-28
8. Spiro J. Chaconas. Orthodontics. 1982. London: John Wrigh PSG Inc.
p.24,26,27,30