Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Vegetasi (dari bahasa Inggris: vegetation) dalam ekologi adalah istilah untuk
keseluruhan komunitas tumbuhan. Vegetasi merupakan bagian hidup yang tersusun dari
tumbuhan yang menempati suatu ekosistem. Beraneka tipe hutan, kebun, padang rumput, dan
tundra merupakan contoh-contoh vegetasi. Analisis vegetasi biasa dilakukan oleh ilmuwan
ekologi untuk mempelajari kelimpahan jenis serta kerapatan tumbuh tumbuhan pada suatu
tempat (Sumardi, 2004).
Analisis vegetasi adalah suatu cara mempelajari susunan dan atau komposisi vegetasi
secara bentuk (struktur) vegetasi dari masyarakat tumbuh-tumbuhan. Unsur struktur vegetasi
adalah bentuk pertumbuhan, stratifikasi dan penutupan tajuk. Untuk keperluan analisis
vegetasi diperlukan data-data jenis, diameter dan tinggi untuk menentukan indeks nilai
penting dari penyusun komunitas hutan tersebut. Dengan analisis vegetasi dapat diperoleh
informasi kuantitatif tentang struktur dan komposisi suatu komunitas tumbuhan (GreigSmith, 1983).
Dalam menganalisis vegetasi, ada beberapa macam metode yang dapat digunakan. Ada
yang menggunakan petak contoh (plot) dan ada yang tak menggunakan petak contoh (plot
less). Metode yang menggunakan petak contoh (plot) di antaranya adalah metode kuadrat,
sedangkan yang tidak menggunakan petak contoh adalah titik menyinggung (point intercpt),
Point Centered Quarter Methods, dan lain-lain. Pemilihan metode ini tergantung pada tipe
vegetasi, tujuan, ketersediaan dana, waktu, tenaga, dan kendala-kendala lainnya. Analisa
vegetasi adalah cara mempelajari susunan (komposisi jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi
atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Maka kegiatan analisa vegetasi erat kaitannya dengan
sampling, artinya cukup dengan menempatkan beberapa petak contoh untuk mewakili habitat
tersebut (Marsono, 2004).
Metode manapun yang dipilih yang penting adalah harus disesuaikan dengan tujuan
kajian, luas atau sempitnya yang ingin diungkapkan, keahlian dalam bidang botani dari
pelaksana (dalam hal ini adalah pengetahuan dalam sistimatik), dan variasi vegetasi secara
alami itu sendiri (Marsono, 2004).
Untuk suatu kondisi hutan yang luas, maka kegiatan analisa vegetasi dapat dilakukan
dengan sampling, bagian dari metodologi statistika yang berhubungan dengan pengambilan

sebagian dari populasi. Dalam sampling ini ada tiga hal yang perlu diperhatikan, yaitu jumlah
petak, cara peletakan petak dan teknik analis vegetasi yang digunakan (Loveless, 1983).
Pada praktikum analisis vegetasi ini, di gunakan metode kuadran atau biasa disebut
kuarter atau plot less method karena tidak membutuhkan plot dengan ukuran besar. Metode
ini cocok untuk menghitung kerapatan, dominasi, dan frekuensi vegetasi yang terdapat di
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Surabaya.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas dapat dibuat rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana mengidentifikasi nama tumbuhan herba yang terdapat di FMIPA
UNESA ?
2. Bagaimana dominansi relatif dari komunitas herba yang terdapat di FMIPA
UNESA ?

C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas dapat diperoleh tujuan sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi nama tumbuhan herba yang terdapat di FMIPA UNESA.
2. Menentukan dominansi relatif dari komunitas herba yang terdapat di FMIPA
UNESA.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Ekologi adalah ilmu yang sudah ada sejak beratus tahun lalu, pencetusnya adalah
Ernest Haekel seorang zoologist berkebangsaan Jerman, kata oekologie berasal dari kata
Oikos yang artinya rumah.dan logos yang artinya ilmu sehingga secara harafiah dimaksudkan
kajian mengenai mahkluk hidup di habitat atau dalam lingkungannya. Pengkajian pada
tingkat hirarkhi makluk hidup disamping memerlukan dukungan dan bantuan dari ilmu lain
juga perkembangan teknologi serta alat, tidak terkecuali dengan ekologi tumbuhan yang
sangat terkait dengan perkembangan ilmu morphologi tumbuhan dan klasifikasi tumbuhalam
serta alat yang dipergunakan untuk kajian lebih dalam (Widoretno, 2012).
Pernyataan organisme-organisme hidup dan lingkungan tidak hidupnya (abiotik)
berhubungan erat tak terpisahkan dan saling pengaruh-mempengaruhi satu sama lain. Satuan
yang mencakup semua organisme di dalam suatu ruang atau daerah yang saling
mempengaruhi dengan lingkungan fisiknya sehingga arus energi mengarah ke struktur
makanan, keanekaragaman biotik, dan daur-daur bahan yang jelas. Dari segi fungsional
ekosistem dapat dianalisis dengan baik menurut segi: (i) sirkuit-sirkuit energi, (ii) rantairantai makanan, (iii) pola-pola keanekaragaman dalam waktu dan ruang, (iv) daur-daur
makan (biogeokimia), (v) perkembangan dan evolusi, dan (vi) pengendalian (cybernetics).
Baik biotik maupun abiotik mempengaruhi sifat-sifat lainnya dan kedua perlu pemeliharaan
kehidupan seperti yang kita miliki di atas bumi ini (Odum, 1998).
Sistem kehidupan ini selalu terjadi hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi
antara makhluk hidup dengan lingkungan/tempat hidupnya membentuk suatu ekosistem.
Salah satu unsur yang paling penting adalah komunitas, yang dalam dunia tumbuhan lebih
dikenal dengan istilah vegetasi (Hariyadi, 1991).
Vegetasi dalam (komunitas) tanaman diberi nama atau digolongkan berdasarkan spesies
atau makhluk hidup yang dominan, habitat fisik atau kekhasan yang fungsional. Dalam
mempelajari vegetasi, pengamat melakukan penelitian. Unit penyusun vegetasi (komunitas)
adalah populasi. Oleh karena itu semua individu yang berada di tempat pengamatan
dilakukan dengan cara mengamati unit penyusun vegetasi yang luas secara tepat sangat sulit
dilakukan karena pertimbangan kompleksitas, luas area, waktu dan biaya. Sehingga
pelaksanaannya bekerja dengan melakukan pencuplikan (sampling) dalam menganalisa
vegetasi dapat berupa bidang (plot/kuadran) garis atau titik (Suprianto, 2001).

Vegetasi terbentuk oleh atau terdiri atas semua spesies tumbuhan dalam suatu wilayah
(flora) dan memperlihatkan pola distribusi menurut ruang (spatial) dan waktu (temporal). Jika
suatu wilayah berukuran luas/besar, vegetasinya terdiri atas beberapa bagian vegetasi atau
komunitas tumbuhan yang menonjol. Sehingga terdapat berbagai tipe vegetasi. Tiap tipe
vegetasi dicirikan oleh bentuk pertumbuhan (growth form atau life form) tumbuhan dominan
(terbesar, paling melimpah, dan tumbuhan karakteristik). Contoh bentuk pertumbuhan
(growth form) termasuk herba tahunan (annual), pohon selalu hijau berdaun lebar, semak
yang meranggas pada waktu kering, tumbuhan dengan umbi atau rhizome, tumbuhan selalu
hijau berdaun jarum, rumput menahun (perennial), dan semak kerdil (Hardjosuwarno, 1990).
Mengamati unit penyusun vegetasi yang luas secara tepat sangat sulit dilakukan karena
pertimbangan kompleksitas, luas area waktu, biaya. Oleh karena itu dalam pelaksanaannya
peneliti bekerja dengan melakukan pencuplikan (sampling). Unit cuplikan atau unit sampling
dalam analisis vegetasi dapat berupa bidang (plot, kuadrat, garis atau titik). Dalam
perkembangannya unit cuplikan yang dipergunakan untuk suatu analisis vegetasi
menggambarkan metode yang di gunakan. Dengan demikian dalam pencuplikan mengenai
suatu vegetasi digunakan berbagai alternatif metode diantaranya: metode kuadrat, metode
garis dan metode titik (Suprianto, 2001).
Kimbal (1999) menyatakan bahwa Analisa vegetasi adalah cara mempelajari susunan
(komposisi jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Untuk
suatu kondisi hutan yang luas, maka kegiatan analisa vegetasi erat kaitannya dengan
sampling, artinya kita cukup menempatkan beberapa petak contoh untuk mewakili habitat
tersebut. Dalam sampling ini ada tiga hal yang perlu diperhatikan, yaitu jumlah petak contoh,
cara peletakan petak contoh dan teknik analisa vegetasi yang digunakan. Dengan analisis
vegetasi dapat diperoleh informasi kuantitatif tentang struktur dan komposisi suatu komunitas
tumbuhan.
Dari segi floristis ekologis pengambilan sampling dengan cara random sampling
hanya mungkin digunakan apabila lapangan dan vegetasinya homogen, misalnya padang
rumput dan hutan tanaman. Pada umumnya untuk keperluan penelitian ekologi hutan lebih
tepat dipakai systematic sampling, bahkan purposive sampling pun boleh digunakan
pada keadaan tertentu. Luas daerah contoh vegetasi yang akan diambil datanya sangat
bervariasi untuk setiap bentuk vegetasi mulai dari 1 dm2 sampai 100 m2. Suatu syarat untuk
daerah pengambilan contoh haruslah representatif bagi seluruh vegetasi yang dianalisis.
Keadaan ini dapat dikembalikan kepada sifat umum suatu vegetasi yaitu vegetasi berupa
komunitas tumbuhan yang dibentuk oleh populasi-populasi. Jadi peranan individu suatu jenis

tumbuhan sangat penting. Sifat komunitas akan ditentukan oleh keadaan individu-individu
tadi, dengan demikian untuk melihat suatu komunitas sama dengan memperhatikan individuindividu atau populasinya dari seluruh jenis tumbuhan yang ada secara keseluruhan. Ini
berarti bahwa daerah pengambilan contoh itu representatif bila didalamnya terdapat semua
atau sebagian besar dari jenis tumbuhan pembentuk komunitas tersebut (Suprianto, 2001).
Dengan demikian pada suatu daerah vegetasi umumnya akan terdapat suatu luas
tertentu, dan daerah tadi sudah memperlihatkan kekhususan dari vegetasi secara
keseluruhan.yang disebut luas minimum (Odum, 1998).
Struktur suatu komunitas alamiah bergantung pada cara di mana tumbuhan atau hewan
tersebar atau terpencar di dalamnya. Pola penyebarannya bergantung pada sifat fisikokimia
lingkungan maupun keistimewaan biologis organisme itu sendiri. Keragaman itu tak terbatas
dari pola penyebaran demikian yang terjadi dalam alam secara kasar dapat dikelaskan
menjadi tiga kategori: (i) penyebaran teratur atau seragam, di mana individu-individu terdapat
pada tempat tertentu dalam komunitas, (ii) keberadaan acak atau kebetulan, di mana individuindividu menyebar dalam beberapa tempat dan mengelompok dalam tempat lainnya, (iii)
penyebaran berumpun, di mana individu-individu selalu ada dalam kelompok-kelompok dan
sangat jarang terlihat sendiri secara terpisah (Michael,1994).
Hipotesis individualistik (individualistric hypothesis), yang pertama kali diutarakan
oleh H.A Gleason, menggambarkan komunitas sebagai suatu persekutuan yang terjadi secara
kebetulan pada spesies-spesies yang ditemukan di daerah yang sama, yang semata-mata
karena spesies-spesies itu kebetulan mempunyai kebutuhan abiotik yang sama, misalnya
suhu, curah hujan, dan jenis tanah. Pandangan alternatif, hipotesis interaktif (interactive
hypothesis), yang didukung oleh F.E. Clements, melihat komunitas sebagai suatu kumpulan
spesies yang berhubungan dekat, yang terlibat persekutuan tersebut karena interaksi biotik
yang bersifat wajib, sehingga menyebabkan komunitas itu berfungsi sebagai suatu unit yang
bersatu padu (Kimbal, 1990).
Menurut Herianto (2009), bentuk komunitas disuatu tempat ditentukan oleh keadaan
dan sifat-sifat individu sebagai reaksi terhadap faktor lingkungan yang ada, dimana individu
ini akan membentuk populasi didalam komunitas tersebut. Komunitas secara dramatis
berbeda-beda dalam kekayaan spesiesnya (species richness), jumlah spesies yang mereka
miliki. Mereka juga berbeda dalam hubungannya dalam kelimpahan relatif (relative
abundance) spesies. Beberapa komunitas terdiri dari beberapa spesies yang umum dan
beberapa spesies yang jarang, sementara yang lainnya mengandung jumlah spesies yang sama
dengan jumlah spesies yang semuanya umum ditemukan. Keanekaragaman jenis seringkali

disebut heterogenitas jenis, karakteristik unik dari komunitas suatu organisasi biologi dan
merupakan gambaran struktur dari komunitas. Komunitas yang mempunyai keanekaragaman
tinggi lebih stabil dibandingkan dengan komunitas yang memiliki keanekaaragaman jenis
rendah.

Analisa vegetasi adalah salah satu cara untuk mempelajari tentang susunan

(komposisi) jenis dan bentuk struktur vegetasi (masyarakat tumbuhan). Analisi vegetasi
dibagi atas tiga metode yaitu : (1) minimal area, (2) metode kuadrat dan (3) metode jalur atau
transek. Salah satu metode dalam analisa vegetasi tumbuhan yaitu dengan menggunakan
metode transek. Untuk mempelajari suatu kelompok hutan yang luas dan belum diketahui
keadaan sebelumnya paling baik dilakukan dengan transek. Cara ini paling efektif untuk
mempelajari perubahan keadaan vegetasi menurut keadaan tanah, topografi dan elevasi.
Komunitas secara dramatis berbeda-beda dalam kekayaan spesiesnya (spesies ricaness)
jumlah yang mereka miliki. Mereka juga berada dalam kelimpahan relatif (relatif abdance),
spesies, beberapa komunitas terdiri dari beberapa spesies yang umum dan beberapa spesies
yang jarang sementara yang lainnya mengandung jumlah spesies yang di dalam komunitas
mempunyai dampak yang sangat besar pada ciri umumnya, konsep ini memiliki suatu
komunitas yang berbeda kekayaan spesies yang sama tetapi jumlahnya lebih terbagi secara
beranekaragam. Mepertimbangkan kedua komponen keanekaragaman yaitu kekayaan spesies
dan kelimpahan relatif (Campbell, 2002).
Menurut Anonim (2012), analisis kuantitatif komunitas tumbuhan.Untuk analisis ada
beberapa metode pengambilan sampel, yaitu:
1. Metode kuadrat (Quadrat methode)
2. Metode transek (Transeck methode)
3. Metode loop (Loop methode)
4. Metode titik (Point less/point methode)
5. Metode garis (Line method)
Menurut Lestari (2012), metode transek biasa digunakan untuk mengetahui vegetasi
tertentu seperti padang rumput dan lain-lain atau suatu vegetasi yang sifatnya masih
homogen. Terdapat 3 metode transek:
1.

Metode Line Intercept (Line transect)


Metode line intercept biasa digunakan oleh ahli ekologi untuk mempelajari komunitas
padang rumput. Dalam cara ini terlebih dahulu ditentukan dua titik sebagai pusat garis
transek. Panjang garis transek dapat 10 m, 25 m, 50 m, 100 m. Tebal garis transek
biasanya 1 cm. Pada garis transek itu kemudian dibuat segmen-segmen yang panjangnya
bisa 1 m, 5 m, 10 m. Dalam metode ini garis-garis merupakan petak contoh (plot).

Tanaman yang berada tepat pada garis dicatat jenisnya dan berapa kali terdapat/
dijumpai. Metode transek-kuadrat dilakukan dengan cara menarik garis tegak lurus,
kemudian di atas garis tersebut ditempatkan kuadrat ukuran 10 X 10 m, jarak antara
kuadrat ditetapkan secara sistematis terutama berdasarkan perbedaan struktur vegetasi.
Selanjutnya, pada setiap kuadrat dilakukan perhitungan jumlah individual (pohon
dewasa, pohon remaja, anakan), diameter pohon, dan prediksi tinggi pohon untuk setiap
jenis pengamatan terhadap tumbuhan dilakukan pada segmen-segmen tersebut.
Selanjutnya mencatat, menghitung dan mengukur panjang penutupan semua spesies
tumbuhan pada segmen-segmen tersebut. Cara mengukur panjang penutupan adalah
memproyeksikan tegak lurus bagian basal atau aerial coverage yang terpotong garis
transek ketanah.
2.

Metode Belt Transect


Metode ini biasa digunakan untuk mempelajari suatu kelompok hutan yang luas dan
belum diketahui keadaan sebelumnya. Cara ini juga paling efektif untuk mempelajari
perubahan keadaan vegetasi menurut keadaan tanah, topograpi, dan elevasi. Transek
dibuat memotong garis-garis topograpi, dari tepi laut kepedalaman, memotong sungai
atau menaiki dan menuruni lereng pegunungan. Lebar transek yang umum digunakan
adalah 10-20 meter, dengan jarak antar transek 200-1000 meter tergantung pada
intensitas yang dikehendaki. Untuk kelompok hutan yang luasnya 10.000 ha, intensitas
yang dikendaki 2 %, dan hutan yang luasnya 1.000 ha intensitasnya 10 %. Lebar jalur
untuk hutan antara 1-10 m. Transek 1 m digunakan jika semak dan tunas di bawah
diikutkan, tetapi bila hanya pohon-pohonnya yang dewasa yang dipetakan, transek 10 m
yang baik.

3.

Metode Strip Sensus


Metode ini sebenarnya sama dengan metode line transect, hanya saja penerapannya
untuk mempelajari ekologi vertebrata teresterial (daratan). Metode strip sensus meliputi,
berjalan disepanjang garis transek, dan mencatat spesies-spesies yang diamati
disepanjang garis transek tersebut. Data yang dicatat berupa indeks populasi (indeks
kepadatan).
Metode transek sangat baik digunakan. Untuk mempelajari suatu kelompok hutan yang

luas dan belum diketahui keadaan sebelumnya. Cara ini paling efektif untuk mempelajari
perubahan keadaan vegetasi menurut keadaan tanah, topografi, dan elevasi (Lestari, 2012).

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang praktikan gunakan adalah pengamatan karena tidak terdapat
variabel yang mempengaruhi, diantaranya yaitu variabel kontrol, variabel manipulasi,

dan

variabel respon.
B. Waktu dan Tempat
Praktikum Nilai Penting Komunitas Herba dilaksanakan pada hari Senin, 29
September 2014. Penelitian dilaksanakan di FMIPA UNESA.
C. Alat dan Bahan
Alat:
a) Meteran gelang
b) Tali rafia
c) Timbangan
d) Cethok
e) Termometer Hg atau alkohol
f)

pH dan kelembaban tanah

g) Tonggak kayu
h) Buku identifikasi
i)

Plot kuadrat ukuran (1x1) m2

Bahan:
a) Kantong plastik
b) Karet gelang
c) Kertas dan pulpen

D. Prosedur Kerja
1.

Menentukan luas area yang diteliti sepanjang garis transek di FMIPA UNESA.
Mengukur setiap jarak disepanjang 1m garis transek. Menandai tiap-tiap transek
sebagai titik cuplikan tiap kelompok.

2.

Tiap kelompok mengambil setiap titik sebanyak 4 (empat) kali dengan cara
memasang plot kuadrat ukuran (1x1) m2.

3.

Pada masing-masing plot kuadrat, menghitung jumlah populasi herba yang ada
pada tiap plot, dan menghitung berapa jenis spesies yang ada pada tiap plot.

4.

Mengidentifikasi spesies tumbuhan pada sub titik pusat.

5.

Mengambil daun atau bagian dari pohon tersebut untuk dibuat herbarium agar
mempermudah melakukan identifikasi.

6.

Mengukur pH tanah dan kelembaban tanah masing-masing dengan menggunakan


soil pH menggunakan soil tester.

7.

Mengukur suhu tanah dengan termometer alkohol atau Hg.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Tabel 1: Data Kelas Hasil Analisis Vegetasi Herba FMIPA UNESA
Nama
Tumbuhan
Ageratum
conzyoides L.
Altenanthea
assilis
Bidens pilosa
L.
Blumea
tenella
Bougainvillea
spectabilis
Branchiaria
paspaloides
Centipeda
minima
Cleoma
rutidosperma
Croton hirtus
L. Herit
Curcumae
domesticae
rhizoma
Commelina
diffusa
Cyperus
cephalotes
Cyperus
brevifoirus
Cyperus
malaccensis
Centella
Asiatica
Draceana
sanderiana
Eclipta alba
Eragrostis
tenella
Enhydra
fluctuans

Plot I
Plot II
Plot III
Plot IV
Plot V
ProsenProsenProsenProsenProsenJumJumJumJumJumtase
tase
tase
tase
tase
lah
lah
lah
lah
lah
(%)
(%)
(%)
(%)
(%)
5

1.538

0.299

0.613

46

14.154

1.497

84

25.767

71

26.592

1.719

56

17.231

17

5.090

2.454

2.247

44

12.607

1.538

0.000

0.000

15

5.618

0.000

0.000

0.000

0.000

0.573

0.000

0.287

19

5.846

0.000

2.395

37

11.350

0.000

0.000

0.307

1.124

2.292

1.846

0.000

0.920

10

3.745

0.287

0.615

7.485

1.534

11

4.120

13

3.725

0.000

0.000

0.749

0.000

0.000

59

16.905

0.000

0.287

25

0.000

0.000

0.000

36

10.778

18

5.538

18

5.389

0.613

64

19.692

42

12.575

90

27.607

30

11.236

62

17.765

11

3.385

26

7.784

22

6.748

2.996

35

10.029

0.000

0.000

1.840

1.846
0.308

0.000
0.000

0.000
0.000
0.000

6
1

39

0.000

0.299

12.000

11

3.293

12

3.681

32

0.000

0.000

2.247
0.000

0.000
0.000

0.000

0.000

11.985

34

9.742

10

Emilia
sonchifolia
CL. DC.
Euphorbia
hirta
Gamphrena
celosioides
Heliotrotium
indicum L.
Monochoria
hastata
Murdania
nudiflora
Pennisetum
purpureum
Phyllanthus
urunaria L.
Phyla
nodiflora
Phyllanthus
debilis
Rhoe discolor
Sansiviera
trifasciata
Saraca indica
Sagittaria
guayanensis
Schefflera
grandiflora
Syzygium
oleina
Typhonium
trilobatum
Uraria
lagopodioides
Vernonia
cinerea
Jumlah

2.154

10

3.077

1.231

3.593

1.534

2.247

0.000

1.840

0.749

5.689

11

3.374

14

5.243

16

4.585

0.308

0.000

0.920

18

6.742

2.006

0.000

0.000

0.000

0.000

0.287

2.462

0.000

0.000

0.000

0.308

10

2.994

0.000

0.000

0.615

2.395

1.231

1.796

0.000
0.000

19
1

5.689
0.299

12

3.681
0.000

1.498
0.000

11

3.152
0.000

0.000
0.923

0.920
0.000

0.749
0.000

0.000
1.796

1.719
0.000

0.000

1.198

0.000

2.247

0.000

2.154

0.000

0.000

0.000

0.000

0.000

0.000

0.000

0.000

0.287

0.000

0.000

1.534

0.000

2.006

12

4.494

12

3.438

267

0.000
100.000

349

0.000
100.000

325

12

19

2.761

0.000

0.000

58

17.365

0.000

0.000
100.000

1
334

0.299
100.000

0.000
100.000

326

0.573
0.000

0.000
20

5.731

3.371

0.000

0.000

0.000

Tabel 2: Kualitas Tanah Vegetasi Herba FMIPA UNESA


Parameter yang Diukur
pH

Suhu (oC)

21-22

11

B. Analisis
Berdasarkan data hasil pengamatan analisis vegetasi herba yang dapat diidentifikasi di
FMIPA UNESA adalah sebanyak 38 spesies dengan jumlah total 1601 individu yang dibagi
dalam 5 plot dan masing-masing plot memiliki jumlah yang berbeda. Adapun nama spesies
yang ditemukan melalui identifikasi tersebut adalah Ageratum conzyoides L., Althenanthea
assilis, Bidens pilosa L., Blumea tenella, Bougainvillea spectabilis, Branciarhia paspaloides,
Centipeda minima, Cleoma rutidosperma, Croton hirtus L. Herit., Curcumae domesticae
rhizoma, Commelina diffusa, Cyperus cephalotes, Cyperus brevifoirus, Cyperus malaccensis,
Centella asiatica, Draceana sanderiana, Eclipta alba, Eragrostis tenella, Enhydra fluctuans,
Emilia sonchifolia CL. DC, Euphorbia hirta, Gamphrena celosioides, Heliotrotium indicum
L., Monochoria hastata, Murdania nudiflora, Pennisetum purpureum, Phyllanthus urunaria
L., Phyla nodiflora, Phyllanthus debilis, Rhoe discolor, Sansiviera trifasciata, Saraca indica,
Sagittaria guayanensis, Schefflera grandiflora, Syzygium oleina, Thyponium trilobatum,
Uraria lagopodioides, dan Vernonia cinerea.
Pada plot pertama jumlah individu total 325 dengan tumbuhan herba yang memiliki
jumlah paling banyak adalah Cyperus brevifoirus sebanyak 64 individu dengan prosentase
19,692% dan tumbuhan herba yang memiliki jumlah paling sedikit adalah Eclipta alba,
Heliotrotium indicum L., dan Pennisetum purpureum sebanyak 1 individu dengan prosentase
0,308%. Pada plot kedua jumlah individu total 334 dengan tumbuhan herba yang memiliki
jumlah paling banyak adalah Uraria lagopodioides sebanyak 58 individu dengan prosentase
17,365% dan tumbuhan herba yang memiliki jumlah paling sedikit adalah Ageratum
conzyoides, Eragrostis tenella, Rhoe discolor, dan Vernonia cinerea sebanyak 1 individu
dengan prosentase 0,299%. Pada plot ketiga jumlah individu total 326 dengan tumbuhan
herba yang memiliki jumlah paling banyak adalah Cyperus brevifoirus sebanyak 90 individu
dengan prosentase 27,607% dan tumbuhan herba yang memiliki jumlah paling sedikit adalah
Centipeda minima sebanyak 1 individu dengan prosentase 0,307%. Pada plot keempat jumlah
individu total 267 dengan tumbuhan herba yang memiliki jumlah paling banyak adalah
Altenanthea assilis sebanyak 71 individu dengan prosentase 26,592% dan tumbuhan herba
yang memiliki jumlah paling sedikit adalah Curcumae domesticate rhizoma, Euphorbia hirta,
dan Sansiviera trifasciata sebanyak 2 individu dengan prosentase 0,749%. Sedangkan pada
plot kelima jumlah individu total 349 dengan tumbuhan herba yang memiliki jumlah paling
banyak adalah Cyperus brevifoirus sebanyak 62 individu dengan prosentase 17,765% dan
tumbuhan herba yang memiliki jumlah paling sedikit adalah Branchiaria paspaloides,

12

Cleoma rutidosperma,

Cyperus cephalotes, Monochoria hastate, dan Syzygium oleina

sebanyak 1 individu dengan prosentase 0,287%.


Berdasarkan analisis dari setiap plot yaitu plot pertama, kedua, ketiga, keempat dan
kelima didapatkan spesies yang paling banyak jumlah dan prosentasenya adalah tumbuhan
Cyperus brevifoirus, sedangkan yang memiliki jumlah dan prosentase paling sedikit adalah
tumbuhan Monochoria hastata dan Syzygium oleina.

C. Pembahasan
Berdasarkan analisis vegetasi herba diatas, diperoleh hasil identifikasi herba di FMIPA
UNESA sebanyak 38 spesies dengan jumlah total 1601 individu yang dibagi dalam 5 plot dan
masing-masing plot memiliki jumlah yang berbeda. Adapun nama spesies yang ditemukan
melalui identifikasi tersebut adalah Ageratum conzyoides L., Althenanthea assilis, Bidens
pilosa L., Blumea tenella, Bougainvillea spectabilis, Branciarhia paspaloides, Centipeda
minima, Cleoma rutidosperma, Croton hirtus L. Herit., Curcumae domesticae rhizoma,
Commelina diffusa, Cyperus cephalotes, Cyperus brevifoirus, Cyperus malaccensis, Centella
asiatica, Draceana sanderiana, Eclipta alba, Eragrostis tenella, Enhydra fluctuans, Emilia
sonchifolia CL. DC, Euphorbia hirta, Gamphrena celosioides, Heliotrotium indicum L.,
Monochoria hastata, Murdania nudiflora, Pennisetum purpureum, Phyllanthus urunaria L.,
Phyla nodiflora, Phyllanthus debilis, Rhoe discolor, Sansiviera trifasciata, Saraca indica,
Sagittaria guayanensis, Schefflera grandiflora, Syzygium oleina, Thyponium trilobatum,
Uraria lagopodioides, dan Vernonia cinerea.
Analisis dari setiap plot yaitu plot pertama, kedua, ketiga, keempat dan kelima
didapatkan didapatkan spesies paling banyak jumlah dan prosentasenya adalah tumbuhan
Cyperus brevifoirus yaitu pada plot pertama sebanyak 64 individu dengan prosentase
19,692%, plot kedua sebanyak 42 individu dengan prosentase 12,575%, plot ketiga sebanyak
90 individu dengan prosentase 27,607%, plot keempat sebanyak 30 individu dengan
prosentase 11,236% dan plot kelima sebanyak 62 individu dengan prosentase 17,765%.
Sedangkan spesies paling sedikit jumlah dan prosentasenya adalah tumbuhan Monochoria
hastata dan Syzygium oleina yang hanya terdapat pada plot kelima sebanyak 1 individu
dengan prosentase 0,287%.
Cyperus brevifoirus tumbuh pada ketinggian dengan elevasi 0 - 1000 m dari permukaan
laut. Cyperus brevifoirus yang biasa dikenal dengan rumput teki ini banyak tumbuh di daerah
terbuka seperti tempat pembuangan, tepi jalan, yang merupakan gulma yang potensial.
Cyperus brevifoirus sering ditemukan pada tempat-tempat yang menerima curah hujan lebih

13

dari 1000 mm pertahun dengan kelembapan 60 85 %. Kondisi terbaik untuk pertumbuhan


Cyperus brevifoirus dengan suhu rata-rata 25C (Hidayat, 2008). Kondisi ini hampir sama
dengan kondisi fisik di area FMIPA UNESA yang memiliki suhu sekitar 21-22oC, maka
tumbuhan ini dapat tumbuh dan berkembang dengan optimum. Menurut Hidayat (2008),
Cyperus brevifoirus menyukai tempat yang memperoleh banyak cahaya. Meskipun tumbuh
pada kisaran tipe tanah dan tingkat kesuburan yang luas, Cyperus brevifoirus tumbuh dengan
baik pada tempat bertanah basah yang tinggi kesuburannya. pH tanah untuk menumbuhkan
Cyperus brevifoirus berkisar antara 4,0 7,5 yang mana juga hampir sama dengan pH di area
FMIPA UNESA yaitu 7, sehingga sangat cocok untuk pertumbuhan dan perkembangan
Cyperus brevifoirus.
Monochoria hastata dapat tumbuh di daerah yang tergenang air dan akan cepat tumbuh
dan berkembang bila memperoleh cahaya yang cukup banyak dan air perairan melimpah.
Gulma ini sangat peka terhadap faktor lingkungan pada umur sepertiga sampai setengah umur
tanaman dengan kondisi kurang menguntungkan akan membuat gulma ini cepat mati, maka
seyogyanya gulma harus dikendalikan pada saat tersebut. Monochoria hastata tumbuh di
tempat lembab, becek, dan terutama dijumpai di sawah-sawah dengan pH tanah 6,9, tinggi
genangan 18 cm, dan frekuensi genangan 82,2%. Monochoria hastata dapat tumbuh optimal
pada suhu berkisar antara 15-20oC (Moenandir, 1998). Sedangkan suhu di area FMIPA
UNESA berkisar antara 21-22oC. Perbedaan suhu yang sangat tinggi inilah yang
mengakibatkan tumbuhan ini tidak bisa hidup. Sedangkan untuk pH tidak terlalu berpengaruh
karena Monochoria hastata dapat tumbuh pada pH normal.
Syzygium oleina atau yang biasa disebut tanaman pucuk merah merupakan tanaman
yang berciri khas memiliki daun yang berwarna merah dan hijau. Tanaman pucuk merah
dapat tumbuh di berbagai jenis tanah seperti top soil, latosol, dan alluvial. Beberapa hal yang
menentukan sifat fisik tanah adalah tekstur, struktur, konsistensis, kemiringan tanah,
fermeabilitas, ketebalan lapisan tanah dan kedalaman permukaan air. Tanaman pucuk merah
dapat tumbuh subur pada tanah gembur dan fermeabilitas sedang. Sifat kimia tanah dapat
dilihat dari tingkat keasaman dan komposisi kandungan mineral di dalamnya. Tanaman
pucuk merah dapat tumbuh pada pH tanah antara 4,0- 6,5, sedangkan pH optimum 5- 5,5.
Tanah yang memiliki pH rendah dapat dinaikkan dengan pengapuran ataupun pemupukan
Dolomite. (Sari, 2014).

14

BAB V
PENUTUP

A. Simpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan diatas, diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
1.

Vegetasi herba FMIPA UNESA terdapat 38 spesies dengan jumlah total 1601
individu. Nama spesies yang ditemukan melalui identifikasi tersebut adalah
Ageratum conzyoides L., Althenanthea assilis, Bidens pilosa L., Blumea tenella,
Bougainvillea spectabilis, Branciarhia paspaloides, Centipeda minima, Cleoma

15

rutidosperma, Croton hirtus L. Herit., Curcumae domesticae rhizoma, Commelina


diffusa, Cyperus cephalotes, Cyperus brevifoirus, Cyperus malaccensis, Centella
asiatica, Draceana sanderiana, Eclipta alba, Eragrostis tenella, Enhydra
fluctuans, Emilia sonchifolia CL. DC, Euphorbia hirta, Gamphrena celosioides,
Heliotrotium indicum L., Monochoria hastata, Murdania nudiflora, Pennisetum
purpureum, Phyllanthus urunaria L., Phyla nodiflora, Phyllanthus debilis, Rhoe
discolor, Sansiviera trifasciata, Saraca indica, Sagittaria guayanensis, Schefflera
grandiflora, Syzygium oleina, Thyponium trilobatum, Uraria lagopodioides, dan
Vernonia cinerea.
2. Spesies yang paling banyak jumlah dan prosentasenya adalah tumbuhan Cyperus
brevifoirus yaitu pada plot pertama sebanyak 64 individu dengan prosentase
19,692%, plot kedua sebanyak 42 individu dengan prosentase 12,575%, plot ketiga
sebanyak 90 individu dengan prosentase 27,607%, plot keempat sebanyak 30
individu dengan prosentase 11,236% dan plot kelima sebanyak 62 individu dengan
prosentase 17,765%. Sedangkan spesies paling sedikit jumlah dan prosentasenya
adalah tumbuhan Monochoria hastata dan Syzygium oleina yang hanya terdapat
pada plot kelima sebanyak 1 individu dengan prosentase 0,287%.

B. Saran
Tanaman herba pada area sekitar FMIPA telah banyak yang kering, sebaiknya
dilakukan penyiraman yang rutin agar tanaman herba tidak kering dan rusak, sehingga
dapat menjadikan vegetasi dari tanaman herba semakin bermacam-macam.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2012. Analisis Kuantitatif Komunitas Tumbuhan. http://ekologi.edu.net. diakses 10


Oktober 2014.
Greig-Smith, P. 1983. Quantitative Plant Ecology, Studies in Ecology. Oxford: Blackwell
Scientific Publications.

16

Hardjosuwarno, Sunarto. 1990. Dasar-Dasar Ekologi Tumbuhan. Yogyakarta: Universitas


Negeri Gadjah Mada.
Hariyadi, Wito. 1991. Biologi. Surabaya: SIC Surabaya.
Heriyanto. 2009. Ekologi Tumbuhan. http://heriyanto-riyan.blogspot.com/. diakses 10
Oktober 2014.
Hidayat, Nur. 2008. Dekstrin. www.ptp2007.wordpress.com/2008/01/22/dekstrin/. diakses 21
Oktober 2014.
Kimball, John W. 1990. Biologi. Jakarta: Erlangga.
Kimball. 1999. Biologi Edisi kelima Jilid II . Jakarta: Erlangga.
Lestari, Endah. 2012. Metode Transek.

http://ndhh-lestari.blogspot.com/2012/02/metode-

transek.html. diakses 10 Oktober 2014.


Lovelles, A.R. 1983. Biologi . Jakarta: Erlangga.
Marsono, Djoko. 2004. Konservasi Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup. Yogyakarta:
BIGRAF Publishing.
Michael, P. 1994. Metode Ekologi untuk Penyelidikan Ladang dan Laboratorium. Jakarta:
Dinas Kehutanan.
Moenandir, J. 1998. Persaingan Tanaman Budidaya dengan Gulma. Jakarta: CV. Rajawali.
Odum, Eugene P. 1998. Dasar-Dasar Ekologi Edisi Ketiga. Jogjakarta: UGM Press.
Sari,

Intan.

2014.

Budidaya

Tanaman

Pucuk

Merah.

http://tanamanpucukmerah.blogspot.com. diakses 21 Oktober 2014.


Sumardi dan S.M, Widyastuti. 2004. Dasar-dasar Perlindungan Hutan. Yogyakarta: UGM
Press.
Suprianto. 2001. Pengantar Praktikum Ekologi Tumbuhan. Jurusan Pendidikan Biologi
FMIPA UPI.
Widoretno.

2012.

Ekologi

Tumbuhan.

http://sriwidoretno.staff.fkip.uns.ac.id/ekologi-

tumbuhan/. diakses 10 Oktober 2014.

17