Anda di halaman 1dari 43

BAB II

LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian Bandul
Bandul adalah benda yang terikat pada sebuah tali dan dapat berayun secara bebas dan
periodik yang menjadi dasar kerja dari sebuah jam dinding kuno yang mempunyai ayunan.
Dalam bidang fisika, prinsip ini pertama kali ditemukan pada tahun 1602 oleh Galileo Galilei,
bahwa perioda (lama gerak osilasi satu ayunan, T) dipengaruhi oleh panjang tali dan percepatan
gravitasi.
Gerak osilasi (getaran) yang populer adalah gerak osilasi pendulum (bandul). Pendulum
sederhana terdiri dari seutas tali ringan dan sebuah bola kecil (bola pendulum) bermassa m yang
digantungkan pada ujung tali, gaya gesekan udara kita abaikan dan massa tali sangat kecil
sehingga dapat diabaikan relatif terhadap bola. Dengan bandulpun kita dapat mengeahui grafitasi
di tempat bandul tersebut diuji.
Bandul sederhana adalah sebuah benda kecil, biasanya benda berupa bola pejal,
digantungkan pada seutas tali yang massanya dapat diabaikan dibandingkan dengan massa bola
dan panjang bandul sangat besar .dibandingkan dengan jari-jari bola. Ujung lain tali
digantungkan pada suatu penggantung yang tetap, jika bandul diberi simpangan kecil. dan
kemudian dilepaskan, bandul akan berosilasi (bergetar) di antara dua titik, misalnya titik A dan
B, dengan periode T yang tetap. Seperti sudah dipelajari pada percobaan mengenai, getaran, satu
getaran (1 osilasi) didefinisikan sebagai gerak bola dari A ke B dan kembali ke A, atau dari B ke
A dan kembali ke B, atau gerak dari titik a ke A ke B dan kembali ke titik O.
Ada beberapa parameter (atau variabel) pada bandul, yaitu periodenya (T), ), massa bandul (m),
dan simpangan sudut (O) panjangnya (l ).
(Sumber : Giancoli. 2001. Fsica Edisi relima, Jilid 2. Erlangga.)
2.2 Gerak Osilasi
Gerak osilasi (getaran) yang populer adalah gerak osilasi pendulum (bandul). Pendulum
sederhana terdiri dari seutas tali ringan dan sebuah bola kecil (bola pendulum) bermassa m yang
digantungkan pada ujung tali, sebagaimana tampak pada gambar di bawah. Dalam menganalisis
gerakan pendulum sederhana, gaya gesekan udara kita abaikan dan massa tali sangat kecil
sehingga dapat diabaikan relatif terhadap bola. Gaya yang bekerja pada bola adalah gaya berat
(w = mg) dan gaya tegangan tali FT. Gaya berat memiliki komponen mg cos teta yang searah tali

dan mg sin teta yang tegak lurus tali. Pendulum berosilasi akibat adanya komponen gaya berat
mg sin teta. Karena tidak ada gaya gesekan udara, maka pendulum melakukan osilasi sepanjang
busur lingkaran dengan besar amplitudo tetap sama.Hubungan antara panjang busur x dengan
sudut teta dinyatakan dengan persamaan :
x= L
(ingat bahwa sudut teta adalah perbandingan antara jarak linear x dengan jari-jari
lingkaran (r) jika dinyatakan dalam satuan radian. Karena lintasan pendulum berupa lingkaran
maka kita menggunakan pendekatan ini untuk menentukan besar simpangannya. Jari-jari
lingkaran pada kasus ini adalah panjang tali L)
Periode Bandul sederhana dapat kita tentukan menggunakan persamaan :
T=2
Dimana :
T = priode
l = panjang tali
g = gravitasi bumi
Frekunsi Bandul Sederhana
F=

F=

F=

T adalah periode, f adalah frekuensi, L adalah panjang tali dan g adalah percepatan
gravitasi.Berdasarkan persamaan di atas, tampak bahwa periode dan frekuensi getaran pendulum
sederhana bergantung pada panjang tali dan percepatan gravitasi. Karena percepatan gravitasi
bernilai tetap, maka periode sepenuhnya hanya bergantung pada panjang tali (L). Dengan kata
lain, periode dan frekuensi pendulum tidak bergantung pada massa beban alias bola pendulum.
Anda dapat dapat membuktikannya dengan mendorong seorang yang gendut di atas ayunan.
Bandingkan dengan seorang anak kecil yang didorong pada ayunan yang sama.
(Sumber : Maria. 2007. Kimia dan Kecakapan Hidup.Ganeca.)
2.3 Gerak Harmonik Sederhana

Gerak harmonik sederhana adalah gerak bolak balik benda melalui suatu titik
keseimbangan tertentu dengan banyaknya getaran benda dalam setiap sekon selalu konstan.
Gerak Harmonik Sederhana dapat dibedakan menjadi 2 bagian, yaitu (1) Gerak Harmonik
Sederhana (GHS) Linier, misalnya penghisap dalam silinder gas, gerak osilasi air raksa/ air
dalam pipa U, gerak horizontal / vertikal dari pegas, dan sebagainya; (2) Gerak Harmonik
Sederhana (GHS) Angular, misalnya gerak bandul/ bandul fisis, osilasi ayunan torsi, dan
sebagainya.
Telaah terhadap bunyi dan getaran sangat berkait bahkan tidak dapat dipisahkan
dengan kajian tentang ayunan atau yang disebut juga dengan istilah osilasi. Gejala ini dalam
kehidupan kita sehari-hari contohnya adalah gerakan bandul jam, gerakan massa yang digantung
pada pegas, dan bahkan gerakan dawai gitar saat dipetik. Ketiganya merupakan contoh-contoh
dari apa yang disebut sebagai ayunan.
Beberapa Contoh Gerak Harmonik Sederhana
1.

Gerak harmonik pada bandulKetika beban digantungkan pada ayunan dan tidak diberikan

gaya, maka benda akan dian di titik keseimbangan B. Jika beban ditarik ke titik A dan
dilepaskan, maka beban akan bergerak ke B, C, lalu kembali lagi ke A. Gerakan beban akan
terjadi berulang secara periodik, dengan kata lain beban pada ayunan di atas melakukan gerak
harmonik sederhana.
2.

Gerak harmonik pada pegas Semua pegas memiliki panjang alami sebagaimana tampak

pada gambar 2. Ketika sebuah benda dihubungkan ke ujung sebuah pegas, maka pegas akan
meregang (bertambah panjang) sejauh y. Pegas akan mencapai titik kesetimbangan jika tidak
diberikan gaya luar (ditarik atau digoyang).Syarat sebuah benda melakukan Gerak Harmonik
Sederhana adalah apabila gaya pemulih sebanding dengan simpangannya. Apabila gaya pemulih
sebanding dengan simpangan x atau sudut 0 maka pendulum melakukan Gerak Harmonik
Sederhana.
Gaya pemulih pada sebuah ayunan menyebabkannya selalu bergerak menuju titik
setimbangnya. Periode ayunan tidak berhubungan dengan dengan amplitudo, akan tetapi
ditentukan oleh parameter internal yang berkait dengan gaya pemulih pada ayunan tersebut.
Periode adalah selang waktu yang diperlukan oleh suatu benda untuk melakukan satu
getaran lengkap. Getaran adalah gerakan bolak-balik yang ada di sekitar titik keseimbangan di
mana kuat lemahnya dipengaruhi besar kecilnya energi yang diberikan. Satu getaran frekuensi
adalah satu kali gerak bolak-balik penuh. Satu getaran lengkap adalah gerakan dari a-b-c-b-a.

Periode ayunan Bandul adalah:


T=2
L = Panjang Tali
g = Percepatan Gravitasi
Untuk menentukan g kita turunkan dari rumus di atas:
T = 4 * (L/g)
g = 4 * (L/T)
g = 4 * tan ; tan = L / T
Periode juga dapat dicari dengan 1 dibagi dengan frekuensi. Frekuensi adalah
benyaknya getaran yang terjadi dalam kurun waktu satu detik. Rumus frekuensi adalah jumlah
getaran dibagi jumlah detik waktu. Frekuensi memiliki satuan hertz / Hz.
(Sumber: I Made Satriya.2007.Penuntun Praktikum Fisika Dasar (Farmasi).Bali)

BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
3.1
3.1.1
3.1.2
3.1.3
3.2.1
3.2.2
3.2.3
3.2.4

Alat Dan Bahan


Bandul matematis dan perlengkapannya
Stop watch
Mistar
3.2
Cara Kerja
Bandul matematis diatur dengan panjang tali 50cm. Kemudian bandul tersebut diusahakan
berada dalam keadaan seimbang.
Bandul tersebut diberi simpangan kecil kemudian dilepaskan. Diusahakan agar ayunan
mempunyai lintasan dalam bidang tidak berputar.
Waktu yang dibutuhkan untuk 8 getaran dicatat. Lalu percobaan tersebut diulangi sebanyak 5
kali.
Kemudian diulangi dengan panjang tali yang berbeda.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
No
1

Panjang tali
50cm

Sudut
300

Putaran
8 kali

Waktu
11 s

Periode
2,258 s

2
3
4
5

50cm
50cm
40cm
40cm
40cm
30cm
30cm
30cm
20cm
20cm
20cm
10cm
10cm
10cm

300

8 kali

300

8 kali

300

8 kali

300

8 kali

11 s
11 s
10 s
10 s
10 s
9s
9s
9s
8s
8s
8s
6s
6s
6s

2,020 s
1,749 s
1,428 s
1,010 s

4.2 Pembahasan
Pada percobaan diatas dengan panjang tali yang sama memiliki hasil yang sama pada
perhitungan waktu dalam satu putaran bandul.Hal ini disebabkan percepatan yang diberikan pada
bandul bernilai sama, begitu pula pada simpangan yang diberikan.
Ketika panjang tali dirumah maka waktu yang diperoleh dalam satu putaran bandul akan
semakain cepat.Sehingga dapat disimpulkan semakin rendah tali yang di pakai semakin cepat
waktu yang dibutuhkan beban untuk mencapai satu putaran penuh.Kemudian gravitasi akan
sangat berpengaruh dalam penentuan jumlah prioda pada bandul.
BAB V
KESIMPULAN.
1.

Dengan melakukan percobaan diatas kita dapat mengetahui berapa pengaruhnya kecepatan
gravitasi pada kehidupan sehari hari.

2. Semakin pendek tali maka akan semakin sedikit pula waktu yang diperlukan dalam satu putaran
bandul.
3.

.Dengan melakukan percobaan diatas kita dapat mengetahui berapa pengaruhnya kecepatan
gravitasi pada kehidupan sehari hari

DAFTAR PUSTAKA
1. Giancoli, Douglas C. 2001. Fsica Edisi relima, Jilid 2. Jakarta : Erlangga.
2. Suharsini, Maria, dkk. 2007. Kimia dan Kecakapan Hidup. Jakarta: Ganeca.

3. Wibawa, I Made Satriya. 2007. Penuntun Praktikum Fisika Dasar (Farmasi). BaliLAMPIRAN
II.Perhitungan

LAMPIRAN III.TUGAS
1. Apakah osilasi bandul matimatis memenuhi keadaan gerak harmonis sederhana?jelaskan
2. Buatlah grafik hubungan periode (T) dengan panjang tali (I)
1.

Jawaban:
Menurut saya ya, osilasi bandul matematis telah memenuhi gerak sederhana karena telah
melakukan getaran penuh sampai 8 kali dengan gesekan di udara dan massa tali yang diabaikan.

2. Grafik .
PRETES
1. Terangkan keadaan osilasi bandul matematis
Jawaban: jika sebuah benda kecil dengan berat kita gantungkan pada sebuah tali penggantung
(ringan tidak mulur) dan berayun dengna rangam selaras
2. Buktikan persamaan (4.1)
Jawaban:

+ g sin
:

+g

+ =0

:w =
:

BAB I
PENDAHULUAN
1.1
1.2
1.3
Daya listik.

Judul Praktikum
Tanggal Praktikum
Tujuan Percobaan

: Daya Listrik
: 05 Oktober 2012
: Mempelajari hubungan Tegangan pada

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Penjelasan Daya Listrik.
Pada Sistem pengapian magneto terdapat beberapa kekurangan, yaitu:
1. Kumparan pengapian yang dipakai haruslah mempunyai nilai Induktansi yang besar, sehingga
unjuk kerjanya di putaran tinggi mesin kurang memuaskan.
2. Bentuk fisik kumparan pengapian yang dipakai relatif besar.
3. Pemakaian kontak pemutus (breaker contact) menuntut perawatan dan penggantian komponen
tersendiri.
4. Membutuhkan Pencatu daya yang mempunyai keluaran dengan Beda potensial listrik yang
relatif rendah dan Kuat arus listrik yang relatif besar. Hal ini menuntut pemakaian komponen
penghubung yang mempunyai nilai Resistansi serendah mungkin.
Listrik Arus bolak-balik listrik AC (alternating current) adalah arus listrik dimana
besarnya dan arahnya arus berubah-ubah secara bolak-balik.
Berbeda dengan listrik arus searah dimana arah arus yang mengalir tidak berubah ubah dengan
waktu. Bentuk gelombang dari listrik arus bolak-balik biasanya berbentuk gelombang sinusoida,
karena ini yang memungkinkan pengaliran energi yang paling efisien. Namun dalam aplikasiaplikasi spesifik yang lain, bentuk gelombang lain pun dapat digunakan, misalnya bentuk
gelombang segitiga (Triangular Wave) atau bentuk gelombang segi empat (Square Wave). Secara
umum, listrik bolak-balik berarti penyaluran listrik dari sumbernya (misalnya PLN) ke kantorkantor atau rumah-rumah penduduk. Namun ada pula contoh lain seperti sinyal-sinyal radio atau
audio yang disalurkan melalui kabel, yang juga merupakan listrik arus bolak-balik. Di dalam
aplikasiaplikasi ini, tujuan utama yang paling penting adalah pengambilan informasi yang
termodulasi atau terkode di dalam sinyal arus bolak-balik tersebut. (Baylis,. 2001)
2.2 Pengertian Daya Listrik
Daya listrik didefinisikan sebagai laju hantaran energi listrik dalam rangkaian listrik.
Satuan SI daya listrik adalah watt. Arus listrik yang mengalir dalam rangkaian dengan hambatan
listrik menimbulkan kerja. Peranti mengkonversi kerja ini ke dalam berbagai bentuk yang
berguna, seperti panas (seperti pada pemanas listrik), cahaya (seperti pada bola lampu), energi
kinetic (motor listrik), dan suara (loudspeaker). Listrik dapat diperoleh dari pembangkit listrik
atau penyimpan energi seperti baterai. (Johnson, Keith)
2.3 Energi Listrik.

1.
2.
3.
4.

1.
2.
3.

Energi listrik merupakan suatu bentuk energi yang berasal dari sumber arus. Energi listrik
dapat diubah menjadi bentuk lain, misalnya:
Energi listrik menjadi energi kalor / panas, contoh: seterika, solder, dan kompor listrik.
Energi listrik menjadi energi cahaya, contoh: lampu.
Energi listrik menjadi energi mekanik, contoh: motor listrik.
Energi listrik menjadi energi kimia, contoh: peristiwa pengisian accu, peristiwa penyepuhan
(peristiwa melapisi logam dengan logam lain).
Jika arus listrik mengalir pada suatu penghantar yang berhambatan R, maka sumber arus
akan mengeluarkan energi pada penghantar yang bergantung pada:
Beda potensial pada ujung-ujung penghantar (v)
Kuat arus yang mengalir pada penghantar (I).
Waktu atau lamanya arus mengalir (t).
Berdasarkan pernyataan di atas, dan karena harga V = R.i, maka persamaan energi listrik
dapat dirumuskan dalam bentuk:
W = V.i.t =(R.i).i.t
W = i2.R.t (dalam satuan watt-detik).
dan karena i = V/R, maka persamaan energi listrik dapat pula dirumuskan dengan:
W = i2.R.t =
(V/R.R.t
W = V.t/R (dalam satuan watt-detik).
Keuntungan menggunakan energi listrik:
a.Mudah diubah menjadi energi bentuk lain
b. Mudah ditransmisikan.
c. Tidak banyak menimbulkan polusi/ pencemaran lingkungan.
.2.4 Arus Listrik
Adalah mengalirnya elektron secara terus menerus dan berkesinambungan pada konduktor akibat
perbedaan jumlah elektron pada beberapa lokasi yang jumlah elektronnya tidak sama. satuan
arus listrik adalah Ampere. Arus listrik bergerak dari terminal positif (+) ke terminal negatif (-),
sedangkan aliran listrik dalam kawat logam terdiri dari aliran elektron yang bergerak dari
terminal negatif (-) ke terminal positif(+), arah arus listrik dianggap berlawanan dengan arah
gerakan elektron.
2.5 Kuat Arus listrik
Adalah arus yang tergantung pada banyak sedikitnya elektron bebas yang pindah
melewati suatu penampang kawat dalam satuan waktu.
Definisi : Ampere adalah satuan kuat arus listrik yang dapat memisahkan 1,118
milligram perak dari nitrat perak murni dalam satu detik.
Rumus rumus untuk menghitung banyaknya muatan listrik, kuat arus dan waktu:
Q=Ixt
I = Q/t t=Q/I
Dimana:
Q = Banyaknya muatan listrik dalam satuan coulomb
I = Kuat Arus dalam satuan Amper.
t = waktu dalam satuan detik.
Kuat arus listrik biasa juga disebut dengan arus listrik muatan listrik memiliki muatan
positip dan muatan negatif.

Muatan positip dibawa oleh proton, dan muatan negatif dibawa oleh elektro. Satuan
muatan coulomb (C), muatan proton +1,6 x 10-19C, sedangkan muatan elektron -1,6x 10-19C.
Muatan yang bertanda sama saling tolak menolak, muatan bertanda berbeda saling tarik menarik.
2.5 Tahanan dan Daya Hantar Penghantar
Penghantar dari bahan metal mudah mengalirkan arus listrik, tembaga dan aluminium
memiliki daya hantar listrik yang tinggi. Bahan terdiri dari kumpulan atom, setiap atom terdiri
proton dan elektron. Aliran arus listrik merupakan aliran elektron. Elektron bebas yang mengalir
ini mendapat hambatan saat melewati atom sebelahnya. Akibatnya terjadi gesekan elektron
denganatom dan ini menyebabkan penghantar panas. Tahanan penghantar memiliki sifat
menghambat yang terjadi pada setiap bahan.
Tahanan didefinisikan sebagai berikut :
1 (satu Ohm) adalah tahanan satu kolom air raksa yang panjangnya 1063 mm dengan
penampang1mm pada temperatur 0 C"
Daya hantar didefinisikan sebagai berikut:
Kemampuan penghantar arus atau daya hantar arus sedangkan penyekat atau isolasi adalah
suatu bahan yang mempunyai tahanan yang besar sekali sehingga tidak mempunyai daya hantar
atau daya hantarnya kecil yang berarti sangat sulit dialiri arus listrik
Rumus untuk menghitung besarnya tahanan listrik terhadap daya hantar arus:
R = 1/G

G = 1/R

Dimana:
R = Tahanan/resistansi(ohm)
G = Daya hantar arus /konduktivitas
(Fatt, 2003)
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
3.1
1.
2.
3.
4.
3.2

Alat Dan Bahan


Batrai 2 buah
Volt meter
Kabel penghubung
Power supply

Cara Kerja
1. Kabel penghubung dipasang ke volt meter
2. Kemudian ambil batre kemudian dihubungkan ke kabel penghubung .
3. Ujung-ujung batre dihubung kan ke kabel penghubung ke volt meter kemudian di hubungka ke
power supply satu ketanda positif dan yang ujung satunya lagi ke tanda negative.
4. Kemudian diambil data dan mengamati tegangan pada volt meter .

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1

Hasil
No
1
2
3
4
5

4.2

Tegangan
(Volt)
1,5
3,105
4,5
6
7,5

Kuat arus
(Ampere)
0,05
0,05
0,05
0,05
0,05

Hambatan ()

Daya (Watt)

30
62,1
90
120
150

0,775
0,155
0,225
0,3
0,375

Pembahasan

Dengan melakukan percobaan diatas kita dapat mengetahui bahwa jika beda potensialnya 1,5
volt dan dialiri arus sebesar 0,05 ampere akan menghasilkan 0,075 watt. Dan begitu juga halnya
jika beda potensialnya 3,105 volt dan dialiri arus sebesar 0,05 ampere akan menghasilkan 0,155
watt. Maka kedua hal tersebut dapat kita simpulkan bahwa Semakin besar hambatanya maka
semakin besar beda potensial yang dihasilkan dan semakin besar daya yang diberikan.
BAB V
KESIMPULAN
1.
2.
3.
4.

Tegangan (beda potensial) diukur menggunakan alat volt meter.


Kuat Arus yang diberikan pada setiap baterai bernilai sama.
Daya berbanding lurus dengan kuat arus pangkat dua dan berbanding terbalik dengan hambatan.
Dapat disimpulkan dari percobaan diatas merupakan rangkaian seri dikarenakan kuat arus yang
sama. Seperti pada persamaan pada rangkaian seri :
I1=I2=I3=I...
DAFTAR PUSTAKA

1. Baylis, D. Booth, G. McDuell, B. 2001. Science, 2nd Edition.


London : Letts Educational
2. Fatt, C.K. 2003. Science Adventure. Singapore : Federal Publication.
3. Johnson, Keith. 1996. Physics for you. Cheltenham : Stanley Thornes
PERHITUNGAN
V=IR; 1,5 V= 0,05 A x R; R=30.
Untuk mencari daya dapat dihitung menggunakan persamaan
P= IR; P= (0,05V) x 31; P=0,075watt.
Ketika tegangan diperbesar menjadi 3,105 V dan kuat arus 0,05 A maka:
P = (0,05V) x 62,1; P =0,155 watt.

Ketika tegangan 4,5 V, kuat arus 0,05 A maka:


P= (0,05V) x 90 ; P =0,225 watt.
Pada tegangan 6 V, kuat arus 0,05 A maka:
P = (0,05V) x 120; P =0,3watt.
Jika tegangan 7,5V dan kuat arus 0,05 A, maka:
P = (0,05V) x 150; P =0,375 watt.
TUGAS
1. Buatlah grafik hubungan antara tegangan sumber (Vs) dengan daya total (Ptot) dari data bagian A
dan jelaskan!
Jawab :
Diketahui
P=5
V =220
Maka,
R lampu = V2/P
=(220)2/5W
=9680
Ptot = Vs/R ab
= (220) 2/9680
=5

Semakin besar tegangan maka akan semakin besar pula daya totalnya.
2. Pernyataan sama dengan No.1 tetapi data dari bagian B!
P = 10 W
V =220
Maka,
R lampu = V2/P
=(220)2/10W
=4840
Ptot = Vs/R ab
= (220) 2/4840= 10W
3. Jelaskan mengapa daya yang digunakan pada rangkaian hubungan seri berbeda dengan daya
pada hubungan paralel. Berikan alasan berdasarkan percobaan.
Jawab:
Hal ini dikarenakan kuat arus yang diberikan pada lampu pada rangkaian seri selalu bernilai
sama sedangkan pada rangkaian paralel kuat arus berbanding lurus dengan tegangan.
4. Ditinjau dari faktor ekonomis hubungan manakah yang lebih menghemat daya listrik.

Jawab: Hubungan rangkaian paralel yang nilai nya lebih ekonomis. Seperti pada point 3 dapat
dilihat rangkaian paralel merupakan rangkaian yang kuat arusnya berbanding lurus dengan
tegangan sehingga dapat menghemat arus listrik lebih banyak, hal ini dapat kita lihat pada
rangkaian listrik yang lebih sering digunakan dalam rumah tangga adalah rangkaian listrik
paralel.

PRETES
1.Gambarkanlah cara pemasangan volt meter dan Ampheremeter pada rangkaian
Jawab:
R1
R2
7A

2. Jika rangkaian seperti berikut.Tentukan besar hambatan totalnya


a. V = I.R
R1 = I.V
R 1= 7A . 220 V
R 1= 1540
b. V = I.R
R2= I.V
R 2= 7A . 220 V
R 2= 1540
c. R total = R1 + R2
= 1540 +1540
= 3080

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Judul Praktikum
: Hukum OHM
1.2 Tanggal Praktikum
: 05 Oktober 2012
1.3 Tujuan Percobaan
: Mempelajari berapa tegangan diantara
ujung-ujung hambatan.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Hukum Ohm
Hubungan antara tegangan arus dan hambatan ini disebut hukum Ohm.Ditemukan oleh
George Simon Ohm dan dipublikasikan pada sebuah paper pada tahun 1820. The Galvanic
Circuit Investigated Mathematically. Prinsip Ohm ini adalah besarnya arus listrik yang mengalir
melalui sebuah penghantar metal pada rangkain, Ohm menentukan sebuah persamaan yang
simple menjelaskan hubungan antara tegangan, arus dan hambatan yang saling hubungan.
E=I.R
I=E/R
R=I/E
Keterangan:
Arus dinyatakan dengan Ampere, bersimbol I
Hambatan dinyatakan dengan ohm, bersimbol R
Tegangan dinyatakan dengan volt, bersimbol V atau E
(Baylis. 2001)
2.2
Hukum
Kircouff
Hukum
ini
dapat
dinyatakan
sebagai
:
1. Jumlah aljabar arus sesaat yang memasuki titik cabang adalah nol.
2. Jumlah aljabar tegangan terpasang sesaat dalam suatu sosok tertutup sama dengan jumlah
aljabar
tegangan
balik
sesaat
dalam
sosok
tersebut.
Arti dari hukum yang pertama jelas jika arus yang menuju ketitik cabang disebut positif
maka arus yang berlawanan arahnya harus disebut negative, dan hukum tersebut menyatakn
bahwa besarnya arus yang memasuki titik cabang sama dengan besar arus yang
meninggalkannya. Pada dasarnya hokum kedua menyatakan integral medan listrik disekeliling
sosok, namun kita perlu menetapkan perjanjian tanda. Perjanjian ini dapat dirumuskan:
Q=Stto
I
(t)
dt.
2.3
Hambatan
Jenis
Hambatan merupakan sifat sasaran bahan yang bersangkutan, dan bergantung hanya
pada sifat bahan penyussun maupun geometernya. Sebaliknya kehambatan hanya bergantung
pada sifat bahan penghantar. Penghantar yang bentuknay mudah yang dicairkan terutam oleh

hambatannya disebut penghambat atau resistor biasanya dilambangkan dengan. Penghambat


dapat dihubungkan dengsan satu yang lain mermbentuk jaringan hambatan.
Hambatan seri R : R1 + R2
Hambatan pararel 1/R : 1/R1 + 1/R2
2.4 Rangkaian Seri
R = R + R + ....Rn V = R . I
V = V + V + ....Vn Jadi V = R . I
I = I + I +....In V = Rn . I
Dalam rangkaian seri, tahanan-tahanan tersebut dihubungkan sedemikian
rupa seperti pada gambar sehingga arus I yang sama mengalir pada setiap tahanan. Pada
rangkaian seri kuat arus (I) yang melalui masing-masing tahanan yang besar tegangan (V)
berbanding terbalik dengan hambatan (R). Hal ini sesuai dengan hukum ohm.(Keith,1996)
Kebanyakan rangkaian listrik tidaklah hanya terdiri dari beberapa sumber tegangan dan
resistor yang dihubungkan seri. Tiap muatan yang sama di R, akan melalui R dan R juga
hingga arus yang melalui R, R, R haruslah sama.(Fatt, 2003)
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
3.1
1.
2.
3.
4.
5.
1.
2.
3.
4.

Alat Dan Bahan


Batrai 2 buah
Voltmeter Batre 1 buah
Kabel penghubung secukupnya
Voltmeter 1 buah
Power supply DC 1 buah
3.2 Cara Kerja
Kabel penghubung dipasang ke volt meter
Kemudian ambil batre kemudian dihubungkan ke kabel penghubung .
Ujung-ujung batre dihubung kan ke kabel penghubung ke voltmeter kemudian di hubungkan ke
power supply satu ketanda positif dan yang ujung satunya lagi ke tanda negative.
Kemudian diambil data dan mengamati tegangan pada volt meter
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
No
1
2

Tegangan (V)
1,5
3,105

Kuat arus (A)


0,05
0,05

Hambatan ()
30
62,1

3
4
5

4,5
6
7,5

0,05
0,05
0,05

90
120
150

4.1 Pembahasan

Pada percobaan diatas, tegangan diketahui dengan menggunakan alat volt meter. Kuat
arus dapat diketahui dengan alat. Pada percobaa pertama, diketahui tegangannya adalah 1,5 V
dan memiliki kuat arus 0,05 A.ini diukur pada satu buah baterai.
Dari grafik diatas dapat disimpulkan semakin tinggi tegangan suatu batrai dengan diberi
arus yang sama maka diperoleh hambatan yang tinggi pula.
Dengan mempelajari hukum ohm kita dapat mengetahui beda potensial yang ada pada
suatu benda yang menghasilkan arus. Dalam percobaan ini kita dapat mengetahui bahwa Jumlah
kuat arus yang masuk dalam titik percabangan sama dengan jumlah kuat arus yang keluar dari
titik percabangan.
BAB V
KESIMPULAN
1. Hubungan antara tegangan arus dan hambatan ini disebut hukum Ohm.Ditemukan oleh George
Simon Ohm.
2. Arus Searah yaitu arus listrik yang dihasilkan oleh elemen Galvanis, Akkumulator, Generator
searah, Batere, Hambatan dapat dihitung dengan menggunakan hukum OHM.
3. Hambatan merupakan sifat sasaran bahan yang bersangkutan, dan bergantung hanya pada sifat
bahan penyussun maupun geometernya.
4. V adalah tegangan atau beda potensia listrik dengan satuan volt.
5. I adalah kuat arus listrik yang mengalir dengan satuan Ampere.
6. R adalah hambatan listrik (resistor) dengan satuan ohm ()

DAFTAR PUSTAKA
Baylis, D. Booth, G. McDuell, B. 2001. Science, 2nd Edition. London : Letts Educational
Fatt, C.K. 2003. Science Adventure. Singapore : Federal Publication.
Johnson, Keith. 1996. Physics for you. Cheltenham : Stanley Thornes.
PERHITUNGAN
Hambatan (R) =

;R=

; R= 30 .

Jika diketahui tegangannya 3,105 V dengan kuat arus 0,05 A, maka:


R=

;R=

; R=62,1.

Jika tegangan adalah 4,5 V dan kuat arus 0,05 A, maka:


R=

; R=

; R= 90 .

Diketahui tegangan adalah 4,5 V dan kuat arus 0,05 A, maka:


R=

;R=

; R= 120 .

Jika tegangan adalah 7,5V dan kuat arus 0,05 A, maka:


R=

;R=

; R= 150 .

TUGAS
1. Buatlah grafik hubungan antara tegangan ukur(V ukur ) dengan kuat arus listrik untuk (I) untuk R
lampu 220 V/ 5 W
Jawab:
R lampu = V2/P
=(220)2/5W
=9680
I = V/R
= 220/9680
=0,02 A

2. Pertanyaan sama seperti No.1 tetapi R lampu 220V/15 W


Jawab :
R lampu = V2/P
=(220)2/15W
=3226
I = V/R
= 220/3226
=0,068 A

3. Jelaskan kemiringan Slope grafik tersebut.


Jawab:
Pada grafik diatas dapat dilihat garis yang sejajar lurus pada kordinat x,y.Dimana x sebagai Kuat
Arus dan y sebagai Tegangan.Dapat disimpulkan bahwa Kuat arus (I) berbanding lurus dengan
Tegangan maka dapat dikatakan sebagai rangkaian paralel.
I=V
4. Berikan alasan anda , apa fungsi lampu pada rangkaian tersebut.
Jawab:
Fungsi lampu pada rangkaian diatas adalah sebagai hambatan atau resistor.
PRETES
1. Jika diketeahui spesifikasi bola lampu adalah 220 V/25 W,maka tentukan besar beban lampu
tersebut.
Jawab:
Diketeahui
V = 220
P = 25 W
Beban = Hambatan
Maka :
R lampu = V2/P
= (220)2/25W
= 1936
2. Apa guna kita mempelajari hukum Ohm dan dimana aplikasi dlam ilmu Teknik?
Jawab : Menghitung muatan suatu rangkaian listrik dalam kehidupan sehari - hari.Sedangkan
aplikasinya dalam ilmu Teknik dapat dilihat ketika seorang lulusan teknik yang bekerja pada
pabrik mampu memahami, menggunakan serta mampu mengendalikan perlatan-perlatan yang
bermuatan atau menggunakan listrik sebagai prinsip kerjanya.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Judul Praktikum
: Jangka Sorong (Vernier Capiler)
1.2 Tanggal Praktikum : 05 Oktober 2012
1.3 Tujuan Percobaan
: Dapat dan mahir menggunakan jangka
sorong untuk mengukur diameter benda.
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Jangka Sorong


Jangka sorong adalah alat ukur yang ketelitiannya dapat mencapai seperseratus
milimeter. Terdiri dari dua bagian, bagian diam dan bagian bergerak. Pembacaan hasil
pengukuran sangat bergantung pada keahlian dan ketelitian pengguna maupun alat. Sebagian
keluaran terbaru sudah dilengkapi dengan display digital. Pada versi analog, umumnya tingkat
ketelitian adalah 0.05mm untuk jangka sorang dibawah 30cm dan 0.01 untuk yang di atas 30cm.
Jangka sorong adalah suatu alat ukur panjang yang dapat dipergunakan untuk mengukur panjang
suatu benda dengan ketelitian hingga 0,1 mm. keuntungan penggunaan jangka sorong adalah
dapat dipergunakan untuk mengukur diameter sebuah kelereng, diameter dalam sebuah tabung
atau cincin, maupun kedalam sebuah tabung (Kamajaya,2007)
Secara umum, jangka sorong terdiri atas 2 bagian yaitu rahang tetap dan rahang geser.
Jangka sorong juga terdiri atas 2 bagian yaitu skala utama yang terdapat pada rahang tetap dan
skala nonius (vernier) yang terdapat pada rahang geser.Sepuluh skala utama memiliki panjang 1
cm, dengan kata lain jarak 2 skala utama yang saling berdekatan adalah 0,1 cm. Sedangkan
sepuluh skala nonius memiliki panjang 0,9 cm, dengan kata lain jarak 2 skala nonius yang saling
berdekatan adalah 0,09 cm. Jadi beda satu skala utama dengan satu skala nonius adalah 0,1 cm
0,09 cm = 0,01 cm atau 0,1 mm. Sehingga skala terkecil dari jangka sorong adalah 0,1 mm atau
0,01
cm.
Ketelitian dari jangka sorong adalah setengah dari skala terkecil. Jadi ketelitian jangka sorong
adalah : Dx = x 0,01 cm = 0,005 cm.
Dengan ketelitian 0,005 cm, maka jangka sorong dapat dipergunakan untuk mengukur
diameter sebuah kelereng atau cincin dengan lebih teliti (akurat). Untuk mencapai suatu tujuan
tertentu di dalam fisika, kita biasanya melakukan pengamatan yang disertai dengan pengukuran.
Pengamatan suatu gejala secara umumtidak lengkap apabila tidak ada data yang didapat dari
hasil pengukuran. Lord Kelvin,seorang ahli fisika berkata, bila kita dapat mengukur yang sedang
kita bicarakan danmenyatakannya dengan angka-angka, berarti kita mengetahui apa yang sedang
kita bicarakan itu.
Pengukuran merupakan penentuan besaran, dimensi/kapasitas, biasanya terhadap suatu
standar atau satuan pengukuran. Pengukuran tidak hanya terbatas pada kuantitas fisik, tetapi juga
dapat diperluas untuk mengukur hampir semua benda yang bisa dibayangkan, seperti tingkat
ketidakpastian. Dalam mengukur panjang suatu benda, selain memperhatikan ketelitian alat
ukurnya, juga memperhatikan jenis dan macam benda yang akan diukur. Begitu banyak alat ukur
yang bisa digunakan untuk mengukur benda. Untuk mengukur massa sebuah benda kita dapat
menggunakan neraca atau timbangan. Alat ukur waktu dapat berupa stopwatch, jam. Termometer
merupakan alat untuk mengukur suhu. Alat yang dipergunakan untuk mengukur kuat arus listrik
adalah amperemeter sedangkan volmeter merupakan alat untuk mengukur beda potensial
(tegangan listrik).
Untuk pengukuran hambatan listrik biasa digunakan ohmmeter. Penggaris atau mistar
adalah salah satu alat ukur panjang yang paling sering digunakan pada kehidupan sehari-hari.
Selain penggaris, alat ukur yang digunakan untuk mengukur panjang adalah jangka sorong dan
mikrometer sekrup, namun mikrometer sekrup lebih pantas digunakan untuk mengukur tebal
sebuah benda. Dari ketiga alat ukur tersebut, mikrometer sekrup lah yang memiliki tingkat
ketelitian yang paling tinggi yaitu 0,005 mm. Maka dari itu, mikrometer sekrup sangat cocok
digunakan sebagai alat untuk mengukur tebal benda.

1.
2.
3.
4.
5.

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Karena mengukur merupakan kegiatan untuk membandingkan sesuatu dengan sesuatu


lainnya yang digunakan sebagai standar acuan dengan menggunakan alat ukur, maka hal-hal
yang perlu diperhatikan dalam menggunakan alat ukur adalah
Batas ukur dan batas kerja alat, yaitu nilai minimum dan nilai maksimum yang dapat diukur
dengan alat itu. Sebelum menggunakan alat-alat, kita harus membaca dahulu batas kerja alat itu
Ketelitian alat (akurasi alat ukur), yaitu nilai terkecil yang dapat diukur dengan teliti oleh alat
tersebut.
Kesalahan titik nol (zero error), yaitu penunujukan skala awal ketika alat belum digunakan.
Kesalahan kalibrasi alat, yaitu kesalahan teknik pada pembuatan skala dari alat itu sendiri.
Kesalahan penglihatan (paralaks), yaitu kesalahan yang disebabkan oleh cara mengamati yang
kurang tepat. Bisa saja karena kedudukan mata pengamat tidak tepat.
Untuk menghindarinya, maka kedudukan mata pengamat harus tegak lurus pada tanda
yang dibaca. Maka dari itu, alat ukur yang memiliki tingkat ketelitian yang tinggi diantaranya
jangka sorong dan mikrometer sekrup.
Apa yang Anda lakukan sewaktu melakukan pengukuran? Misalnya anda mengukur
panjang meja belajar dengan menggunakan jengkal, dan mendapatkan bahwa panjang meja
adalah 7 jengkal. Dalam pengukuran di atas Anda telahmengambil jengkal sebagai satuan
panjang. Kenyataan dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melakukan pengukuran terhadap
besaran tertentu menggunakan alat ukur yang telah ditetapkan. Misalnya, kita menggunakan mistar
untuk mengukur panjang. Pengukuran sebenarnya merupakan proses pembandingan nilai besaran yang belum
diketahui dengan nilai standar yang sudah ditetapkan . Pengukuran panjang dapatdilakukan dengan
menggunakan alat yang bervariasi tingkat ketelitiannya misalnyadengan mistar, jangka sorong
dan micrometer skrup.
Ketelitian alat merupakanukuran terkecil yang dapat diukur oleh alat tersebut dengan
teliti.Semua angka yang diperoleh dari hasil pengukuran yang terdiri dari angka pastidan tafsiran
disebut angka penting.
Untuk menentukan banyaknya angka penting padasuatu hasil pengukuran harus
mempertimbangkan aturan-aturan angka penting yangterdiri dari :
Semua angka bukan nol adalah angka penting
Angka nol yang terletak diantara angka-angka bukan nol termasuk
angka penting
Angka nol di sebelah kanan angka bukan nol termasuk angka
pentingkecuali jika ada
penjelasan lain
Angka nol yang terletak di sebelah kiri angka bukan angka nol bukanangka penting
Pembulatan keatas dilakukan untuk angka 5 atau lebih sedangkan angkakurang dari 5
dihilangkan
Hasil perkalian dan pembagian mempunyai angka penting yang sama banyaknya dengan
bilangan yang memiliki angka penting paling sedikit
Hasil perkalian angka decimal dengan angka eksak merupakan angkaeksak
Hasil penambahan dan pengurangan merupakan angka dibelakang komayang paling sedikit.
(Ahmad ,2006)
Nonius
Banyak alat ukur dilengkapi dengan nonius. Alat bantu ini membuat alat
ukur berkemampuan lebih besar, karena jarak antara dua garis skala bertetangga seolah-olah
menjadi lebih kecil. Biasanya pembagiuan skala utama dan nonius adalah 9 - 10 bagian skala
nonius.

2.2

2.3

Selanjutnya marilah kita lihat hasil pengukuran lain dengan alat bantu nonius tersebut
seperti yang ditunjukkan pad gambar. Skala 0 pada nonius tidak berimpit dengan salah satu
angka pada skala alat ukur, melainkan terletak antara kedudukan 8.4 dan 8.5.
Dalam pengukuran ini kita yakin bahwa harga X yang diukur adalah lebih besar dari 8.4
tetapi lebih kecil dari 8.5. Berapakah harga X emnurut hasil pembacaan ini ? Cobalah anda
perhatikan Gambar 2 lebih teliti lagi. Ternyata salah satu garis skala nonius yang berimpit
dengan skala alat ukur yaitu skala ke-6 dari skala nonius. Dalam keadaan pengukuran semacam
ini menunjukkan bahwa harga X yang diukur adalah 8.46.
Kegunaan jangka sorong
Untuk mengukur suatu benda dari sisi luar dengan cara diapit;
Untuk mengukur sisi dalam suatu benda yang biasanya berupa lubang (pada pipa, maupun
lainnya) dengan cara diulur;
Untuk mengukur kedalamanan celah/lubang pada suatu benda dengan cara
"menancapkan/menusukkan" bagian pengukur. Bagian pengukur tidak terlihat pada gambar
karena berada di sisi pemegang.
Mengukur Diameter Luar
Cara mengukur diameter, lebar atau ketebalan benda:Putarlah pengunci ke kiri, buka
rahang, masukkan benda ke rahang bawah jangka sorong, geser rahang agar rahang tepat pada
benda, putar pengunci ke kanan.
Mengukur Diameter Dalam
Cara mengukur diameter bagian dalam sebuah pipa atau tabung : Putarlah pengunci ke
kiri, masukkan rahang atas ke dalam benda , geser agar rahang tepat pada benda, putar pengunci
ke kanan.
2.4 Mengukur Kedalaman Benda
Cara mengukur kedalaman benda : Putarlah pengunci ke kiri, buka rahang sorong hingga
ujung lancip menyentuh dasar tabung, putar pengunci ke kanan.

Cara pembacaan skala jangka sorong yaitu :

Mula-mula perhatikan skala nonius yang berimpit dengan salah satu skala utama.
Hitunglah berapa skala hingga ke angka nol. Pada gambar, skala nonius yang berimpit dengan
skala utama adalah 4 skala. Artinya angka tersebut 0,4 mm.
Selanjutnya perhatikan skala utama. Pada skala utama, setelah angka nol mundur ke
belakang menunjukkan angka 4.7 cm. Sehingga diameter yang diukur sama dengan 4,7 cm + 0,4
mm = 4,74 cm.(Budi,2007)

BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
3.1

Alat Dan Bahan


1. Jangka sorong 4(empat) buah
2. Pipa plastik (PVC) kecil 1 buah
3. Pipa plastik (PVC) besar 1 buah
3.2
Cara Kerja
A. Pengukuran diameter luar
1. Pipa diletakkan secara melintang diantara rahang AB lalu roda R digeser sehingga benda
tersebut tepat terjepit diantara rahang tersebut.
2. Angka skala pada skala utama yang berada di sebelah kiri dari angka nol nonius dibaca. Setelah
itu dilihat garis skala nonius yang keberapa yang terhimpit dengan garis skala utama. Hasil
penjumlahan angka pada skala utama dengan angka nonius x 0,05 mm merupakan hasil
pengukuran tersebut.
B. Pengukuran diameter dalam
1. Pipa dimasukkan ke dalam rahang CD kemudian roda R digeser ke arah luar sehingga kedua
rahang itu tepat menyentuh sisi bagian dalam pipa.
2. Selanjutnya dilakukan pembacaan pengukuran dengan cara yang sam seperti pada no. 2 di atas.
C. Pengukuran tinggi
1. Pipa diletakkan secara tegak di atas meja lalu roda R digeser ke arah luar sehingga tangkai T
kelihatan ke dalam pipa sehingga menyentuh meja dan pinggir jangka sorong menyentuh bagian
atas pipa.
2. Selanjutnya dilakukan pembacaan pengukuran seperti pada no.2 A di atas.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
NO

1.

2.

Jenis

Pipa PVC
kecil

Pipa PVC
besar

Diameter
luar

Diameter
dalam

20,1 mm

10,8 mm

70,65 mm

0,5 mm

20,1 mm

10,8 mm

70,65 mm

0,5 mm

20,1 mm

10,8 mm

70,65mm

0,5 mm

20,1 mm

10,8 mm

140,6 mm

0,5 mm

20,1 mm

10,8 mm

140,6 mm

0,5 mm

20,1 mm

10,8 mm

140,6 mm

0,5 mm

Tinggi

Ketebalan

4.2 Pembahasan.
Pengukuran menggunakan alat jangka sorong ini betujuan untuk membandingkan besaran
atau mendapatkan satuan yang dibutuhkan. Kesalahan dapat terjadi dalam pengukuran
menggunakan alat-alat pengukuran eksperimental.
Percobaan dilakukan pada pipa PVC dengan mengukur diameter dalam, diameter luar,
tinggi serta ketebalan.
Maka diperoleh skala utama yang nantinya kami tambahkan dengan skala noniusnya.
Pengukuran yang kami lakukan dalam satuan milimeter.
Hasil yang kami peroleh cenderung sama, kami menyimpulkan hasil yang didapat sama
dikarenakan keakuratan pada pengukuran yang kami lakukan,
Akan tetapi, pengukuran juga dipengaruhi dari ketepatan pengukuran suatu alat, seperti
jangka sorong yang dipergunakan adalah 0,05 mm.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil dalam suatu pengukuran, salah satunya
ialah kesalahan pada pembacaan pada pengukuran. Dalam percobaan ini pengukuran dilakukan
dengan beberapa orang yang berbeda dan dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali

BAB V
KESIMPULAN
1. Pengukuran mengunakan jangka sorong memiliki ketelitian 0,5mm.
2. Keakuratan hasil pada pengukuran cenderung melebatkan pula ketelitian dalam mengamati skala
pada alat ukur yang salah satunya adalah jangka sorong.
DAFTAR PUSTAKA
1. Jaelani, ahmad,dkk. 2006.Fisika untuk SMA/MA.Bandung:Rama widya.
2. Kanginan,Marthen.2007.Fisika untuk SMA kela X.Cimahi :Erlangga.
3. Purwanto,Budi. 2007 .Sains Fisika l Konsep dan Penerapannya .Solo : Tiga Serangkai.
1.

TUGAS
Jika diketahui jumlah garis nonius 10 dan jaraknya 9 mm,hitunglah berapakah ketelitian dari
jangka sorong tersebut?
Jawaban:
Dik: skala nonius=10
Jarak=9
=
= 0,05

A. Tujuan :
1. Memahami pengaruh panjang tali, massa beban dan besar sudut simpangan pada hasil
pengukuran.
2. Menentukan percepatan gravitasi dengan metode ayunan Fisis.
B. Alat dan Bahan
1. Tali kasur
2. Bandul (lebih baik yang berbentuk seperti bola)
3. tiang penyangga (statip)
4. Stopwatch
5. Busur derajat
Tips : untuk menunjang keberhasilan praktikum ayunan matematis ini, dapat dilakukan dengan,
Dalam praktikum ayunan matematis ini, usahakan menggunakan sudut simpangan
maksimal 10 derajat.
Gunakan bandul yang berupa bola, karena dapat meminimalkan gesekan udara dalam
praktikum ayunan matematis.
C. Landasan Teori
Bandul matematis atau ayunan matematis setidaknya menjelaskan bagaimana suatu titik
benda digantungkan pada suatu titk tetap dengan tali. Jika ayunan menyimpang sebesar sudut
terhadap garis vertical maka gaya yang mengembalikan :
F = - m . g . sin
Untuk dalam radial yaitu kecil maka sin = = s/l, dimana s = busur lintasan bola dan l =
panjang tali , sehingga :

F = mgs/l

Kalau tidak ada gaya gesekan dan gaya puntiran maka persamaan gaya adalah :

Ini adalah persamaan differensial getaran selaras dengan periode adalah :

Harga l dan T dapat diukur pada pelaksanaan percobaan dengan bola logam yang cukup berat
digantungkan

dengan

kawat

yang

sangat

ringan

(Anonim,

2007).

Beban yang diikat pada ujung tali ringan yang massanya dapat diabaikan disebut bandul. Jika
beban ditarik kesatu sisi, kemudian dilepaskanmaka beban akan terayun melalui titik
keseimbangan menuju ke sisi yang lain. Bila amplitudo ayunan kecil, maka bandul sederhana itu
akan melakukan getaran harmonik. Bandul dengan massa m digantung pada seutas tali yang
panjangnya l. Ayunan mempunyai simpangan anguler dari kedudukan seimbang. Gaya pemulih
adalah

komponen

gaya
-

tegak

lurus

tali.

sin

maka
m

sin

a = - g sin
Untuk getaran selaras kecil sekali sehingga sin = . Simpangan busur s = l atau =s/l , maka
persamaan menjadi: a= gs/l . Dengan persamaan periode getaran harmonik.

Dimana
l
g=
T=

:
=

panjang
percepatan

periode

tali
gravitasi

bandul

(meter)
(ms-2)

sederhana

(s)

Dari rumus di atas diketahui bahwa periode bandul sederhana tidak bergantung pada massa dan
simpangan bandul, melaikan hanya bergantung pada panjang dan percepatan gravitasi, yaitu:

(Hendrra,2006)
Gerak osilasi yang sering dijumpai adalah gerak ayunan. Jika simpangan osilasi tidak terlalu
besar, maka gerak yang terjadi dalam gerak harmonik sederhana. Ayunan sederhana adalah suatu

sistem yang terdiri dari sebuah massa dan tak dapat mulur. Ini dijunjukkan pada gambar dibawah
ini. Jika ayunan ditarik kesamping dari posisi setimbang, dan kemudian dilepasskan, maka massa
m akan berayun dalam bidang vertikal kebawah pengaruh gravitasi. Gerak ini adalah gerak
osilasi dan periodik. Kita ingin menentukan periode ayunan. Pada gambar di bawah ini,
ditunjukkan sebuah ayunan dengan panjang 1, dengan sebuah partikel bermassa m, yang
membuat sudut terhadap arah vertical. Gaya yang bekerja pada partikel adalah gaya berat dan
gaya tarik dalam tali. Kita pilih suatu sistem koordinat dengan satu sumbu menyinggung
lingkaran gerak (tangensial) dan sumbu lain pada arah radial. Kemudian kita uraikan gaya berat
mg atas komponenkomponen pada arah radial, yaitu mg cos , dan arah tangensial, yaitu mg sin
. Komponen radial dari gaya-gaya yang bekerja memberikan percepatan sentripetal yang
diperlukan agar benda bergerak pada busur lingkaran.Komponen tangensial adalah gaya
pembalik pada benda m yang cenderung mengembalikan massa keposisi setimbang. Jadi gaya
pembalik adalah :
F = mg sin
Perhatikan bahwa gaya pembalik di sini tidak sebanding dengan akan tetapi sebanding dengan
sin . Akibatnya gerak yang dihasilkan bukanlah gerak harmonic sederhana. Akan tetapi, jika
sudut adalah kecil maka sin (radial). Simpangan sepanjang busur lintasan adalah x=l ,
dan untuk sudut yang kecil busur lintasan dapat dianggap sebagai garis lurus. Jadi kita peroleh :

Gambar 1. Gaya-gaya yang bekerja pada ayunan sederhana


Jadi untuk simpangan yang kecil, gaya pembalik adalah sebanding dengan simpangan, dan
mempunyai arah berlawanan. Ini bukan laian adalah persyaratan gerak harmonic sederhana.
Tetapan
mg/l
menggantikan
tetapan
k
pada
F=-kx.
Perioda ayunan jika amplitude kecil adalah:

(Sutrisno, 1997).
Contoh dari kategori ayunan mekanis, yaitu pendulum. Kita akan memulai kajian kita dengan
meninjau persamaan gerak untuk sistem yang dikaji seperti dalam gambar 2.

Gaya pemulih muncul sebagai konsekuensi gravitasi terhadap bola bermassa M dalam bentuk
gaya gravitasi Mg yang saling meniadakan dengan gaya Mdv/dt yang berkaitan dengan
kelembaman. Adapun frekuensi ayunan tidak bergantung kepada massa M.

BANDUL MATEMATIS

A. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
1. Tujuan praktikum :
a.

Menyelidiki gerakan bandul matematis.

b. Menghitung percepatan gravitasi.


2. Waktu praktikum : Selasa, 6 November 2012
3. Tempat praktikum : Laboratorium Fisika Dasar, Lantai II, Fakultas Matematika dan
Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Mataram.

B. ALAT DAN BAHAN PRAKTIKUM

1. Alat-alat Praktikum :
a.

Stopwatch

b. Meteran
c.

Statif

d. Benang
2. Bahan-bahan praktikum :
a.

Beban atau bandul

C. LANDASAN TEORI

Contoh gerak osilasi adalah gerak osilasi bandul. Gerak bandul merupakan gerak
harmonik sederhana hanya jika amplitudo geraknya kecil. Bandul sederhana terdiri dari tali
dengan panjang L dan beban bermassa m. Gaya yang bekerja pada tali dan bebean adalah gaya
tegangan tali dan gaya berat. Periode untuk banduk sederhana dinyatakan dengan persamaan :

T = 2

Menurut persamaan ini, semakin panjang tali, semakin besar periodenya. Dari persamaaan
diatas, percepatan gravitasi dapat dihitung. Kita hanya perlu mengukur panjang tali dan waktu
untuk n osilasi dan kemudian membaginya dengan n ( banyaknya percobaan ) untuk mengurangi
kesalahan dalam pengukuran waktu. Kemudian percepatan gravitasi dapat ditentukan dengan
persamaan :
g=

( Tipler, 1998 : 440 ).

Sebagian besar bandul di dalam dunia nyata tidak sederhana. Menunjukkan sebuah
bandul fisis yang tergeneralisasi. Bandul fisis tidak akan berguna jika kita menggantungkan pada
pusat massanya. Secara formal, ini bertepatan dengan pemasukan h=0. Ini akan
mengimplikasikan dan memprediksikan T bahwa bandul semacam ini tidak akan pernah
menyelesaikan satu ayuanan. Suatu bandul sederhana sepanjang l0 dengan periode T yang sama
dapat disamakan dengan bandul fisis yang berosilasi teradap titk gantung tertentu dengan
peridode tertentu dengan periode T. Bandul fisis mencakup bandul sederhana sebagaikasus
khusus. Menghasilkan persamaan :

T = 2

= 2

T = 2

( Halliday 1978:617 ).

Jika bandul ditarik kesamping dari posisi setimbangnya kemudian dilepas, maka bandul
akan berayun dalam bidang vertikal karena pengaruh gaya gravitasi. Geraknya merupakan osilasi
dengan periodik. Kita ingin menentukan beberapa gerak periode bandul ini untuk simpangan
berlainan arah. Ini tidak lain dari pada kriteria gerak harmonik sederhana. Konstan
menyatakan konstanta k dalam F = - kx. Jadi periode bandul sederhana jika amplitudonya kecil
adalah :

T = 2

T = 2

T = 2

Perhatikan periode ini tidak bergantung pada massa partkel yang digantungkan ( Rasnick, 1985 :
79 ).
Suatu gerak yang berulang pada selang waktu yang tetap disebut gerak peridoik. Jika
geraknya adalah bolak-balik pada jalan yang sama, gerak ini disebut osilasi atau gerakan. Ayunan
sederhana adalah suatu sistem yang terdiri dari sebuah massa titik yang digantung dengan tali
tanpa massa dan tak dapat mulur. Jika osilasi tak terlalau besar maka gerak yang terjadi adalah
gerak harmonik sederhana ( Sutrisno, 1997:79 ).

D. PROSEDUR PERCOBAAN
1. Mula-mula panjang tali diambil 120 cm. Bandul diayunkan dengan simpangan tidak melebihi
30o. Tentukan waktu yang diperlukan untuk 10 ayunan. Ulangi sebanyak 4 kali, dengan panjang
tali yang berbeda dan lebih kecil dari 120 cm. Percobaan ini dilakukan untuk beban 50 gram.
2.

Lakukan langkah 1 sebanyak 5 kali untuk panjang tali berturut-turut lebih pendek 10 cm.
Peercobaan ini dilakukan unutk beban 100 gram.

E. HASIL PENGAMATAN
n = 10 kali ( jumlah ayunan )
No.

Beban (Bandul)

Panjang Tali (m)

Waktu Ayunan (s)

1.

1,2

22,45

21,42

M1

0,8

19,17

50 gram

0,4

14,08

0,2

10,17

0,1

8,14

0,3

12,10

M2

0,6

16,60

100 gram

0,9

19,89

1,1

21,78

F. ANALISIS DATA

1. Untuk massa beban (m1)


a.

Metode last quare

No
1.

l (cm)
1,2

t (sekon)
22,45

T (s) = t/n
2,245

T2 =y (s2)
5,04

1,44

x.y
6,048

2.

21,42

2,142

4,59

4,59

3.

0,8

19,17

1,917

3,67

0,64

2,036

4.

0,4

14,08

1,408

1,98

0,16

0,792

5.

0,2
3,6

10,17
87,29

1,017
8,729

1,03
16,31

1,03
3,28

0,206
15,572

1) b

=
= 4,38
b

= 9,0042 ms-2

2) Nilai SD

x nst

= x 1 mm

0.5 mm

= 0.0005 m

x nst

= x 0.1 s

= 0.05 sekon

T2 =

g =

=4

l=

n2 l t-2

= 0,144 m

t=

= 3,4916 s

= - 26,68

= (- 26,68x 0.00005)2 + (-26,68 x 0.05)2

= 0,1341

% error =

x 100 %

x 100 %

= 1,49 %

Nilai pendekatan :

= ( 9,0042 0,1341) m/s2

b. Massa benda (m1)

X1

= 0,2

X2

= 0,4

Y1

= 1,03

Y2

= 1,98

tan

= 4,75

= 8,3028 m/s2

2. Untuk massa benda (m2)

a.

Last square

No

l (m)

t (sekon)

T (s) = t/n

T2 = y (s2)

X2

x.y

1) b

1.

0,1

8,14

0,814

0,66

0,01

0,066

2.

0,3

12,10

1,210

1,46

0,09

0,438

3.

0,6

16,60

1,660

2,76

0,36

1,656

4.

0,9

19,89

1,989

3,96

0,81

3,564

5.

1,1
78,51

21,78
3

2,178
7,851

4,74
13,58

1,21
2,48

5,214
10,938

=
= 4,34
b

=
= 9,087 ms-2
2) Nilai SD

= 4

n2 l t-2

= - 30,57

x nst

= x 1 mm

0.5 mm

= 0.0005 m

x nst

= x 0.1 s

= 0.05 sekon

l=

= 0,12 m

t=

= 3,14 s

= (-30,57 x 0.0005) + (-30,57 x 0,005)

= 15,36 x 10-2

= 0,1536 m

Nilai pendekatan :

= ( 9,087 0,1536) m/s2

b. Perhitungan nilai percepatan gravitasi dengan metode grafik

Massa benda (m2)

X1

= 0,1

X2

= 1,1

Y1

= 0,66

Y2

= 4,74

tan

= 4,08

=
= 9,67 ms-1

G. PEMBAHASAN
Salah satu contoh dari gerak harmonik sederhana adalah gerak osilasi bandul.
Disebut sederhana hanya jika amplitudo geraknya kecil. Sedangkan jika amplitudo geraknya
besar maka disebut dengan bandul sederhana. Pada praktikum ini dilakukan percobaan terhadap
bandul sederhana saja. Salah satu contoh dari bandul sederhana adalah ketika digantungkan
sebuah beban pada ujung seutas tali yang ujung atasnya terjepit, kemudian mengayunkan beban
tersebut bolak-balik pada suatu jarak yang pendek. Bandul matematis terdiri atas sebuah partikel
bermassa m yang digantungkan pada tali yang massanya dapat diabaikan. Bandul bebas berayun
bolak-balik.ayunan ini bersifat periodik, sehingga kita dapat menghitung periode pada bandul
sederhana. Periode pada gerak osilasi bandul sederhana adalah :

T=2

Sehingga dari persamaan diatas kita dapat menghitung percepatan gravitasi dengan
menggunakan gerak osilasi bandul. Kita hanya perlu mengukur panjang tali dengan
menggunakan meteran dan periode dengan menentukan waktu satu osilasi. Percepatan gravitasi
ditentukan dengan persamaan:
g=
pada percobaan ini, tujuan kita adalah untuk mempelajari gerak osilasi pada bandul dan
menentukan percepatan gravitasi pada sisitem gerak tersebut. Dilakukan dua percobaan, pertama
percobaaan pada beban dengan massa 100 gram dengan penambahan panjang tali dan kedua
percobaan pada beban bermassa 50 gram dengan pengurangan panjang tali.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa, semakin panjang tali semakin lama waktu
ayunan. Ini membuktikan bahwa periode berbanding lurus dengan panjang tali. Berdasarkan
analisis data, dapat dihasilkan untuk dua percobaan tersebut dengan %error= 1%. Ada beberapa
faktor penyebab kesalahan ini antara lain:
1.

Pada pengukuran sudut simpangan dengan menggunakan busur derajat. Ketelitian dalam
meletakkan dan melihat skala busur derajat sangat perlu diperlu diperhatikan karena sudut
simpangan tidak boleh melebihi 30o.

2. Pada pengukuran panjang tali.


3. Pada pengukuran waktu yang dibutuhkan untuk melakukan 10 ayunan.

H. PENUTUP

1. Kesimpulan
a.

Besarnya periode bandul matematis dapat ditentuka dengan menggunakan persamaan :

T=2

b. Besarnya percepatan gravitasi dari percobaan yang dilakukan dengan menggunakan beban m1
dan m2 dapat menggunakan metode Least Square dan menggunakan metode grafik. Percepatan
gravitasi ditentukan dengan menggunakan persamaan:
g=

2. Saran
Agar hasil perhitungan dan pengamatan lebih akurat, hendaknya dalam praktikum,
pengukuran dan perhitungan dilakukan dengan lebih teliti.

DAFTAR PUSTAKA

Halliday, dkk. 1978. Dasar-dasar Fisika Jilid 1. Tanggerang:


Binarupa Aksara Publisher.
Tipler. 1998. Fisika Untuk Sains dan Teknik Jilid 1. Jakarta : Erlangga.