Anda di halaman 1dari 4

Motivasi Belajar

Guru adalah pendidik yang berperan dalam rekayasa pendagogis. Ia menyusun desaign
pendidikan dan dilaksanakan dalam proses belajar mengajar. Guru bertindak membelajarkan
siswa yang memiliki motivasi intrinsik. Dalam proses belajar mengajar, guru melakukan
tindakan mendidik seperti memberi hadiah, memuji, menegur, menghukum, atau member
nasihat. Tindakan guru tersebut berarti menguatkan motivasi intrinsik tindakan guru tersebut juga
berarti mendorong siswa untuk belajar. Dalam hal ini siswa menghayati motivasi intrinsic atau
motivasi ekstrinsik, dan bertambah bersemangat untuk belajar.
Dengan belajar yang bermotivasi siswa memperoleh hasil belajar Hasil belajar dapat
dikategorikan :
a. hasil belajar sementara
b. hasil belajar bagian
c. hasil belajar tak lengkap, atau
d. hasil belajar lengkap.
1. Unsur-Unsur yang Mempengaruhi Motivasi Belajar
Motivasi belajar ada di dalam diri siswa. Dalam kerangka pendidikan formal, motivasi
belajar ada dalam jaringan rekayasa pendagogis guru yaitu dengan tindakan pembuatan
persiapan belajar, pelaksanaan belajar-mengajar. Maka guru menguatkan motivasi belajar siswa.
Dilihat dari segi emansipasi kemandirian siswa, motivasi belajar semakin meningkat pada
tercapainya hasil belajar. Motivasi belajar merupakan segi kejiwaan yang mengalami
perkembangan, artinya terpengaruh oleh kondisi fisiologis dan kematangan psikologis siswa.
Hal-hal yang mempengaruhi motivasi belajar pada siswa diantaranya :
a. Cita-cita atau aspirasi siswa
Motivasi belajar tampak pada keinginan siswa. Keberhasilan mencapai keinginan tersebut
menumbuhkan kemauan bergiat, bahkan dikemudian hari menimbulkan cita-cita dalam
kehidupan. Timbulnya cita-cita dibarengi oleh perkembangan akal, moral, kemauan,
bahasa, dan nilai-nilai kehidupan. Timbulnya cita-cita juga dibarengi oleh perkembangan
kepribadian. Dari segi emansipasi kemandirian, keinginan yang terpuaskan dapat
memperbesar kemauan dan semangat belajar. Dari segi pembelajaran, penguatan dengan
hadiah atau juga hukuman akan dapat mengubah keinginan menjadi kemauan, dan
kemudian kemauan menjadi cita-cita. Oleh sebab itu, cita-cita akan memperkuat
semangat belajar dan mengarahkan perilaku belajar sehingga akan mewujudkan
aktualisasi diri.
b. Kemampuan Siswa
Keinginan seorang anak perlu dibarengi dengan kemampuan atau kecakapan
mencapainya. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa kemampuan akan memperkuat
motivasi anak untuk melaksanakan tugas-tugas perkembangan.
c. Kondisi Siswa
Kondis i siswa yang meliputi jasmani dan rohani mempengaruhi motivasi belajar.
Seorang siswa yang sedang sakit, lapar, atau marah-marah akan mengganggu perhatian
belajar. Sebaliknya, seorang siswa yang sehat, kenyang, dan gembira akan mudah
menguatkan perhatian. Dengan kata lain, kondisi jasmani dan rohani siswa berpengaruh
pada motivasi belajar.
d. Kondisi Lingkungan Siswa

Lingkungan siswa dapat berupa keadaan alam, lingkungan tempat tinggal, pergaulan
sebaya, dan kehidupan kemasyarakatan.Sebagai anggota masyarakat maka siswa dapat
terpengaruh oleh lingkungan sekitar. Bencan alam, tempat tinggal yang kumuh, ancaman
rekan yang nakal, perkelahian antarsiswa, akan mengganggu kesungguhan belajar. Oleh
sebab itu, kondisi lingkungan yang sehat, kerukunan hidup, ketertiban pergaulan perlu
dipertinggi mutunya. Dengan lingkungan yang aman, tenteram, tertib, dan indah, maka
semangat dan motivasi belajar mudah diperkuat.
e. Unsur-unsur Dinamis dalam Belajar dan Pembelajaran
Siswa memiliki perasaan, perhatian, kemauan, ingatan, dan pikiran yang mengalami
perubahan berkat pengalaman hidup. Pengalaman dengan teman sebayanya berpengaruh
pada motivasi dan perilaku belajar.Lingkungan siswa yang berupa lingkungan alam,
lingkungan tempat tinggal, dan pergaulan juga mengalami perubahan. LIngkungan
budaya siswa yang berupa surat kabar, majalah, radio, televise, dan film semakin
menjangkau siswa. Kesemua lingkungan tersebut mendinamiskan motivasi belajarOleh
sebab itu, guru professional diharapkan mampu memanfaatkan semua itu agar tercipta
kondisi dinamis yang bagus bagi pembelajaran.
f. Upaya Guru dalam Membelajarkan Siswa
Guru adalah pendidk yang berkembang. Sebagai pendidik, partisipasi dan teladan
perilaku yang baik merupakan salah satu upaya membelajarkan siswa. Upaya guru
membelajarkan siswa terjadi di sekolah dan di luar sekolah. Upaya pembelajaran di
sekolah meliputi hal-hal berikut :
1. Menyelenggarakan tertib belajar di sekolah
2. Membina disiplin belajar dalam tiap kesempatan
3. Membina belajar tetib pergaulan
4. Membina belajar tetib lingkungan sekolah.
2. Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar
Tenaga Pengajar (Guru)
Motivasi mempunyai nilai dalam pengajaran, adalah menjadi tanggung jawab guru agar
pengajaran yang diberikannya berhasil dengan baik. Keberhasilan ini banyak bergantung
pada usaha guru untuk dapat membangkitkan motivasi pada siswanya untuk belajar.
Dalam garis besarnya motivasi mengandung nilai-nilai sebagai berikut:
Motivasi menentukan tingkat berhasii atau kegagalan perbuatan belajar siswa. Belajar
tanpa motivasi kiranya sulit untuk berhasil. Pengajar yang bermotivasi pada hakikatnya
adalah pengajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan, dorongan, motif, minat yang
dimiliki oleh siswa. Pengajaran yang bermotivasi membentukaktivitasdan imaginitas
pada gum untuk berusaha secara sungguh-sungguh mencari cara-cara yang sesuai dan
serasi guna membangkitkan dan memelihara motivasi belajar siswa. Guru senantiasa
berusaha agar siswa-siswa pada akhirnya memiliki self motivasi dan yang baik. Berhasil
atau tidak berhasilnya dalam membangkitkan penggunaan motivasi dalam pengajaran
sangat erat hubungan dengan aturan disiplin dalam kelas. Ketidakberhasilan dalam hai ini
mengakibatkan timbulnya masalah disiplin dalam kelas. Azas motivasi menjadi salah satu
bagian yang integral dari asas-asas mengajar. Penggunaan motivasi dalam mengajar

bukan saja melengkapi prosedur mengajar, tetapi juga menjadi faktor yang menentukan
pengajaran yang efektif. Demikian pengajaran asas motivasi adalah sangat penting dalam
proses belajar dan mengajar.
Dalam rangka mendorong motivasi siswa untuk belajar di sekolah yang menganut
pandangan demokratis, dengan menciptakan belajar dikemukakan oleh Keneth M. Mover
adalah:
1. Pujian. Karena pujian mempunyai nilai besar bagi siswa untuk belajar.
2. Manfaat minat yang telah dimiliki siswa yang bersifat ekonomis.
3. Kegiatan-kegiatan yang merangsang minat siswa. Guru merangsang minat
disesuaikan dengan kondisi siswa.
4. Rasa cemas yang besar menimbulkan kesulitan belajar bagi siswa.
5. Tugas terlalu sukar dan bantuan tidak ada maka akan menjadikan siswa menjadi
frustrasi
6. Tekanan kelompok siswa biasanya bersifat pasif dalam kelompok hal ini tidak baik
dalam hubungan antara anggota kelompok.
Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk memotivasi para peserta didik, antara lain:
a. Sikap percaya guru pada kemampuan siswa
Banyak hal yang mempengaruhi siswa yang dibawanya ke sekolah seperti
kepribadiannya, pengalaman masa lalunya, kehidupan di rumah, dsb. Faktor-faktor ini
memang dapat mempengaruhi seberapa keras mereka berupaya di sekolah. Namun
demikian, faktor-faktor tersebut tidak banyak dapat diubah oleh para guru. Hal paling
penting yang dapat dilakukan guru sepenuhnya adalah perilaku dan kepercayaan guru itu
sendiri terhadap peserta didik. Meyakini bahwa setiap peserta didik dapat belajar dan
karenanya memiliki potensi untuk berkembang secara maksimal dapat mempengaruhi
pola pendekatan pembelajaran guru di sekolah menjadi lebih telaten dan promotif.
Sehingga, menimbulkan kepercayaan diri siswa dan keyakinan bahwa mereka dapat
mengatasi permasalahan-permasalahan pembelajaran yang mereka hadapi.
b. Menciptakan situasi belajar yang positif Menciptakan lingkungan belajar yang
menyenangkan, aman, dan nyaman, penting untuk dapat memotivasi siswa.
c. Membangun perhatian dan nilai-nilai intrinsik siswa
Membangun perhatian dan motivasi intrinsic peserta didik merupakan hal yang penting.
Beberapa hal yang dapat membangun minat dan keingin tahuan para siswa yaitu
1. Hubungkan pelajaran dengan kehidupan sehari-hari siswa
2. Gunakan nama siswa dalam memberi ilustrasi yang positif
3. Sajikan materi pelajaran dalam bentuk cerita secara bersemangat. Misalnya : ''Ketika
kalian memesan milkshake (sebut merek terkenal tertentu) kesukaan kalian, maka dia
tidak akan mencair meskipun kalian panaskan di dalam oven. Hal itu disebabkan oleh
bahan pengemulsi yang terbuat dari ganggang yang sedang kita pelajari ini.''
4. Selain itu penggunaan permainan, simulasi, perjalanan edukatif, pembicara tamu
dapat memotivasi siswa untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran di
sekolah
d. Mengatur Tingkat Kesulitan Tugas
Tugas-tugas yang terlalu mudah hanya menuntut sedikit upaya dan tidak menghasilkan
keinginan untuk sukses sehingga otomatis tidak bias memotivasi. Demikian pula tugas
yang terlalu sulit dikerjakan seberapa besar pun upaya mereka juga tidak memotivasi

bahkan mungkin menimbulkan frustasi. Oleh karena itu tingkat kesulitan tugas-tugas
yang diberikan harus proporsional.
e. Memanfaatkan
balikan
(feedback)
Feedback mengenai performa yang baik dapat menumbuhkan motivasi intrinsik.
Sebaliknya, feedback terkait performa yang kurang baik dapat menjadi masukan yang
berguna bagi peserta didik untuk dapat memperbaikinya asal memang benar-benar
ditindak lanjuti. Oleh karena itu, soal-soal evaluasi yang telah diberikan sebaiknya
dibahas kembali sehingga peserta didik mengetahui kegagalan mereka dalam
menyelesaikan beberapa soal tersebut.
f. Memperhatikan
kebutuhan
siswa
Secara umum kebutuhan siswa akan determinasi diri yaitu kemampuan untuk
menentukan pilihan-pilihan akan terpenuhi ketika mereka merasa diberi hak untuk
memberi pernyataan mengenai lingkungan kelas mereka dan tugas-tugas belajar mereka.
g. Fasilitasi
pembentukan
kelompok
dan
kohesi
kelompok
Membangun sebuah lingkungan kelas yang positif dapat memotivasi siswa untuk meraih
prestasi. Hal ini menuntut perhatian terhadap kebutuhan sosial dan emosional siswa di
samping kebutuhan akademik mereka. Bekerja dalam kelompok dengan target yang
terukur dan kompetitif dapat menjadi pendorong semangat siswa dalam menunaikan
tugas-tugas
belajar
mereka.