Anda di halaman 1dari 1088

VISIT HTTP://EBOOK4.CO.

NR FOR MORE FREE EBOOK

PENDEKAR GELANDANGAN
SAN SHAO YE DI JIAN - THE SWORD OF THE THIRD LITTLE MASTER

KARYA : GU LONG
SADURAN : CAN ID

SOURCE FROM MYGRAFITY.WORDPRESS.COM (.LIT VERSION)


EBOOK AND PUBLISH BY EBOOK4.CO.NR
HANYA UNTUK PENGGUNAAN PRIBADI, TIDAK UNTUK KOMERSIAL.

HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG



PENDEKAR
GELANDANGAN


Pendekar Gelandangan 1

Bab 1. Jago Pedang Kenamaan

Musim gugur telah menjelang, udara dingin dan sang surya di


sore itu sudah tenggelam di ufuk barat.

Di bawah pepohonan yang mulai gundul berdiri sesosok


bayangan manusia, ia berdiri kaku bagaikan patung dan
seakan-akan sudah melebur dengan suasana kelabu di senja
itu.

Ya, mungkin karena ia sangat tenang. Mungkin juga ia terlalu


dingin.Di balik semacam rasa dingin dan lelah yang merasuk ke
dalam tulang, justru membawa hawa pembunuhan yang
menggidikkan hati orang.

Ia sudah lelah, mungkin lantaran terlalu banyak orang yang


telah dibunuh bahkan orang yang tidak seharusnya
terbunuhpun ikut dibunuh. Ia membunuh orang karena belum
pernah ia diberi kesempatan untuk memilih yang lain.

Di tangannya terdapat sebilah pedang. Sebilah pedang


dengan sarung kulit ikan yang berwarna hitam gelap,
gagangnya terbuat dari emas dengan tiga belas butir mutiara
bertaburan diatasnya. Tidak banyak orang persilatan yang tak
kenal dengan pedang itu, lebih-lebih tak banyak orang yang
tak tahu siapakah pemiliknya!

Orangnya maupun pedangnya sudah tersohor dalam dunia


persilatan semenjak ia masih berusia tujuh belas tahun, kini
usianya mendekati pertengahan, ia tak dapat menanggalkan
pedang itu lagi, dan orang lain tak pernah mengijinkan dirinya
untuk melepaskan pedang itu. Sebab dikala ia menanggalkan
Pendekar Gelandangan 2

pedangnya berarti nyawanya sudah hampir berakhir. Nama


besar, kadangkala bagaikan sebuah buntalan, sebuah buntalan
yang tak dapat kau tanggalkan untuk selamanya.

Bulan sembilan tanggal sembilan belas pukul enam sore. Di


luarkota Liok-yang di tepi jalan raya di bawah pohon kuno.
"Kugorok lehermu, bawa serta pedangmu"

Pukul enam sore waktu sang surya tenggelam di balik bukit.


Matahari telah lenyap, daunpun berguguran terhembus angin
dingin. Seseorang berjalan di jalan raya dengan langkah lebar,
bajunya perlente, mukanya hijau membesi, sebilah pedang
tersoren dipunggungnya, sepasang biji mata yang lebih tajam
daripada sembilu sedang menatap ke atas sebilah pedang di
bawah pohonsana . Langkah kakinya berat dan tetap tetapi
cepat dan cekatan. Ia berhenti tujuh depa di depan pohon
besar itu. "Yan Cap-sa" tiba-tiba tegurnya. "Betul!"

"Benarkah Toh-mia-cap-sa-kiam (tiga belas pedang perenggut


nyawa)mu tiada tandingannya di dunia ini".

"Belum tentu!"

Orang itu segera tertawa, suara tertawanya begitu dingin


seram dan bernada menyindir.

"Aku Ko Thong! It-kiam-cuan-sim (Sebuah tusukan penembus


hati) Ko Thong......!" demikian katanya.

"Aku mengerti!"

"Kau yang mengundang aku kemari?"


Pendekar Gelandangan 3

"Ya, aku tahu kau memang sedang mencariku".

"Tepat, aku memang sedang mencarimu, sebab aku harus


merenggut selembar nyawamu"

"Bukan hanya kau seorang yang ingin membunuhku" sela Yan


Cap-sa dengan suara kaku.

"Justru karena kau terlalu termasyhur maka barang siapa


dapat membunuhmu dia akan segera termasyhur pula".

Ko Thong berhenti sejenak, kemudian sesudah tertawa dingin


katanya lebih lanjut:

"Bukan pekerjaan yang gampang untuk menjadi tenar dalam


dunia persilatan, hanya cara inilah yang akan menghantar aku
menuju ketenaran secara mudah............."

"Bagus sekali"

"Kini aku telah datang, membawa serta pedangku, silahkan


kau gorok leherku!".

"Bagus sekali!"

"Lantas bagaimana dengan hatimu?" Ko Thong bertanya.

"Hatiku telah mati"

"Kalau begitu biar kubuat hatimu mati sekali lagi!"


Pendekar Gelandangan 4

Cahaya pedang tampak berkilauan, tahu-tahu senjatanya


sudah diloloskan dan secepat kilat menusuk ke ulu hati Yan
Cap-sa.

Inilah It-kiam-cuan-sim......... sebuah tusukan penembus hati!.

Dengan tusukan serupa ini, entah berapa banyak sudah hati


orang yang ditembusi.

Ya, hakekatnya tusukan tersebut merupakan sebuah tusukan


maut yang mematikan!.

Akan tetapi tusukan itu tidak berhasil menembusi ulu hati Yan
Cap-sa.

Ketika pedang itu sedang menyambar ke depan, tiba-tiba


tenggorokannya terasa dingin dan anyir....................

Mulut luka akibat tusukan itu hanya satu inci tiga dim........

Pedang Ko Thong sudah rontok, tapi orangnya belum


mampus.

"Aku hanya berharap kau tahu untuk menjadi tenar bukanlah


suatu pekerjaan enak," kata Yan Cap-sa.

Ko Thong hanya bisa memandang musuhnya dengan mata


melotot, nyaris biji matanya ikut melotot keluar.

"Sebab itu lebih baik kau mati saja", lanjut Yan Cap-sa dengan
suara hambar.
Pendekar Gelandangan 5

Ia telah mencabut keluar pedangnya.

Pedang itu pelan-pelan dicabut keluar dari tenggorokan Ko


Thong, ya pelan-pelan.... pelan-pelan.

Karena itu percikan darah tak sampai menodai bajunya.

Ia cukup pengalaman untuk melaksanakan pekerjaan


semacam ini.

Iapun tahu jika pakaiannya sampai terpercik darah, sukar


untuk menghilangkan noda tersebut.

Lebih-lebih lagi untuk membersihkan bau anyir darah dari


tangannya, pekerjaan ini jauh lebih susah.

Malam semakin kelam......., suasana kembali menjadi hening.

Darah yang menetes dari ujung pedang telah berhenti.

Di kala pedang itu sudah dimasukkan ke dalam sarungnya, di


tengah keremangan cuaca tiba-tiba muncul kembali empat
sosok bayangan manusia.

Empat orang dengan empat bilah pedang!

Ke empat orang itu mengenakan pakaian yang perlente,


sikapnya congkak dan mukanya bengis, perkasa sekali
perawakannya.

Yang paling tua adalah seorang kakek yang rambutnya telah


beruban semua, sedang yang paling muda adalah seorang
Pendekar Gelandangan 6

pemuda ingusan.

Yan Cap-sa tidak kenal dengan orang-orang itu, tapi dia tahu
siapakah mereka.

Yang tertua diantara ke empat orang itu sudah tersohor sejak


empat puluh tahun berselang, ia selalu berada di luar
perbatasan.

Ilmu Hui-eng-cap-sa-ci (tiga belas tusukan elang terbang) hasil


ciptaannya sudah menggetarkan wilayah sepanjang
perbatasan.

Kali ini dia sengaja masuk ke daratan dengan membawa satu


tujuan, yakni mencari Yan Cap-sa.

Ia tidak percaya kalau tiga belas tusukan elang terbangnya tak


dapat menandingi tiga belas pedang perenggut nyawa dari
Yan Cap-sa.

Yang termuda usianya terhitung pula sebagai seorang jago


angkatan muda dalam dunia persilatan, dia termasuk seorang
murid yang paling top dalam perguruan Thiam-cong-pay.

Ia berbakat bagus, diapun bersedia menderita.

Hatinya cukup keji, perbuatannya cukup brutal sebab itu


belum sampai setahun mengembara dalam dunia persilatan,
nama besar Bu-cing siau-cu (Bocah muda tak berperasaan)
ChoPing sudah menggetarkan seluruh dunia.

Dua orang lainnya tentu saja merupakan jago-jago lihay pula.


Pendekar Gelandangan 7

Ilmu pedang Ciang-hong-kiam (Jago pedang angin sejuk)


begitu enteng begitu lincah dan begitu cepat, di mana
pedangnya berkelebat lewat, orang hanya merasa seperti ada
angin sejuk berhembus lewat.

Ilmu pedang dari Thi-kiam-tin-sam-san (Pedang baja yang


menindih tiga bukit) berat, mantap dan penuh bertenaga,
pedang yang digunakan mencapai tiga puluh kati beratnya.

Yan Cap-sa kenal dengan mereka, sebab dialah yang


mengundang kedatangan orang-orang itu.

Empat pasang mata dari ke empat orang itu menatap


wajahnya tanpa berkedip, tak seorangpun di antara mereka
yang melirik mayat di tanah walaupun hanya sekejappun.

Mereka tak ingin sebelum pertarungan dimulai, semangat


serta keberanian mereka patah di tengah jalan.

Sebab siapapun yang menggeletak mati di tanah pada


hakekatnya tiada hubungan apapun dengan mereka.

Asal dirinya masih hidup, perduli mati hidup orang lain,


mereka tak akan menggubris, mereka tak akan ambil perduli.

Yan Cap-sa tertawa bahkan senyumnya kelihatan begitu lelah,


katanya, "Tak kusangka kalian telah datang semua!".

"Sebenarnya kukira hanya aku seorang yang kau undang",


jawab Kwan-gwa-hui-eng (Elang terbang dari luar perbatasan)
dengan suara ketus.
Pendekar Gelandangan 8

"Bila suatu pekerjaan dapat ku selesaikan bersamaan


waktunya kenapa musti membuang banyak waktu dan
tenaga?"

"Kini ada empat orang yang telah datang, siapakah yang akan
turun tangan lebih dulu?", sela Cho Ping.

Ia sangat gelisah. Ia gelisah dan ingin cepat-cepat ternama. Ia


lebih gelisah karena ingin segera membinasakan Yan Cap-sa.

"Apa salahnya kalau kita berundi? Siapa menang dia yang


turun tangan lebih dulu!", tegas Thi-kiam-tian-sam-san
mengusulkan.

"Tidak perlu!" tukas Yan Cap-sa tiba-tiba.

"Tidak perlu?".

"Ya, tidak perlu! Kalian boleh turun tangan bersama!".

"Kau anggap kami sebagai manusia macam apa? Manusia


yang mencari kemenangan dengan andalkan jumlah banyak?"
kata Kwan-gwa hui-eng dengan marah-marah.

"Jadi kau keberatan?" ejek Yan Cap-sa.

"Tentu saja keberatan!"

"Tapi aku tidak keberatan!" tiba-tiba pedangnya telah lolos


dari sarung.
Pendekar Gelandangan 9

Cahaya pedang memancar bagaikan cahaya bianglala, dalam


waktu singkat cahaya tajam itu sudah berkelebat lewat dari
hadapan mata ke empat orang itu.

Dalam keadaan begitu sekalipun mereka berkeberatan juga


percuma.

Maka empat bilah pedang hampir bersamaan waktunya telah


diloloskan semua..............

Cho Ping turun tangan paling cepat, paling brutal dan paling
tidak berperasaan.

Elang terbang dari luar perbatasan telah melambung ke udara


dan melancarkan tubrukan ke bawah.

Tiga belas jurus ilmu elang terbang termasuk salah satu jenis
dari Jit-jim-ciang (pukulan tujuh unggas). Kepandaian
semacam itu biasanya menyergap dari atas ke bawah, dengan
kekerasan menindas kaum yang lemah.

Andaikata orang lain yang dihadapinya semenjak tadi orang


itu sudah mampus secara mengerikan.

Tapi sayang musuh yang dihadapinya sekarang lain daripada


yang lain, musuhnya ini terlampau tangguh bagi ukurannya.

Dalam sekejap mata Cho Ping telah melancarkan sembilan


buah tusukan kilat.

Ia tidak menaruh perhatian pada orang lain, semua


konsentrasinya, semua perhatian dan tenaganya hanya tertuju
Pendekar Gelandangan 10

pada Yan Cap-sa seorang.

Hanya satu keinginannya pada waktu itu, yakni


membinasakan orang di hadapan matanya dengan sebuah
tusukan maut.

Sayang ke sembilan buah tusukan mautnya gagal total, tak


satupun diantaranya berhasil mengenai sasaran. Yan Cap-sa
yang sesungguhnya tepat berada dihadapannya tadi kini
sudah lenyap tak berbekas.

Ia menjadi tertegun dan keheranan, menyusul kemudian ia


temukan suatu kenyataan yang mengerikan.

Di atas tanah telah bertambah dengan tiga sosok mayat.

Pada leher setiap mayat bertambah sebuah lubang besar,


darah masih menetes keluar membasahi seluruh permukaan
tanah.

Elang terbang dari luar perbatasan, pedang angin sejuk,


pedang baja yang menindih tiga bukit, tiga orang jago pedang
kelas satu dari dunia persilatan telah tewas secara mengerikan
di ujung pedang Yan Cap-sa dalam waktu sekejap.

Tangan dan kaki ChoPing mulai dingin, peluh dingin telah


membasahi sekujur badannya.

Ketika ia mencoba untuk menengadah, maka tampaklah Yan


Cap-sa sedang berdiri di bawah pohon besar nun jauh disana .

Pedang pembunuh yang mengerikan itu sudah disarungkan


Pendekar Gelandangan 11

kembali.

Sepasang telapak tangan Cho Ping menggenggam makin


kencang, akhirnya ia berbisik:

"Kau........"

"Aku masih belum ingin membereskan nyawamu!" tukas Yan


Cap-sa cepat.

"Kenapa"

"Karena aku masih ingin memberi kesempatan sekali lagi


kepadamu untuk datang membunuhku".

Semua otot-otot hijau di tangan Cho Ping telah menonjol


keluar, peluh sebesar kacang kedelai telah membasahi
jidatnya, ia tak bisa menerima kesempatan seperti ini.

Jelas kejadian ini merupakan suatu penghinaan, suatu


cemoohan bagi nama baiknya!.

Tapi bagaimanapun juga ia tak boleh melepaskan kesempatan


tersebut, sebab inilah satu-satunya kesempatan baginya untuk
melanjutkan hidup dan kemudian melatih diri serta menuntut
balas di kemudian hari.

"Pulanglah!", kata Yan Cap-sa lagi, "Latih kembali pedangmu


selama tiga tahun, kemudian datanglah dan berusahalah
membunuhku lagi".

Cho Ping hanya bisa menggertak gigi, menggigit bibir


Pendekar Gelandangan 12

menahan pergolakan emosi dalam dadanya.

"Aku tahu ilmu pedang dari Thiam-cong-pay cukup bagus, asal


kau mau melatihnya secara bersungguh-sungguh, kesempatan
di kemudian hari pasti masih ada".

Tiba-tiba Cho Ping berkata:

"Seandainya tiga tahun kemudian kau telah mampus di ujung


pedang orang, apa yang harus kulakukan?".

Yan Cap-sa tertawa lebar.

"Kalau sampai terjadi peristiwa semacam itu, maka kau boleh


membunuh orang yang telah membinasakan diriku itu",
katanya.

"Hmm..............! Aku harap lebih baik jagalah dirimu sebaik


mungkin, lebih bagus lagi jika kau belum keburu mampus!"
kata Cho Ping penuh perasaan mendendam.

"Bukan kau saja yang berharap, akupun berharap bisa


demikian!".

Malam semakin kelam, seluruh permukaan jagad telah


diselimuti oleh kegelapan yang mencekam

Pelan-pelan Yan Cap-sa memutar badannya, menghadap ke


tempat yang paling gelap, tiba-tiba menyapa:

"Baik-baikkah kau?"
Pendekar Gelandangan 13

Lewat agak lama, dari balik kegelapan betul juga kedengaran


suara jawaban:

"Aku tidak baik".

Suara itu dingin, kaku, serak dan berat, mirip suara orang tua.

Menyusul jawaban tadi muncul seorang dari kegelapan


dengan langkah lambat, ia mengenakan baju hitam dengan
rambut panjang hitam, sarung pedangnya juga hitam,
mukanya juga hitam, seakan-akan membawa warna kematian,
hanya sepasang biji matanya yang hitam memancarkan sinar
tajam.

Ia berjalan sangat lambat, tapi sekujur tubuhnya seakan-akan


sedang melayang dengan enteng, seperti kakinya tak pernah
menempel di atas permukaan tanah sekilas pandangan ia
lebih mirip sesosok sukma gentayangan daripada seorang
manusia.

Tiba-tiba raut wajah Yan Cap-sa berkerut kencang, lalu


tegurnya lagi:

"Si gagak-kah di situ?"

"Betul!"

Yan Cap-sa menarik napas panjang-panjang, lalu katanya lagi:

"Tidak kusangka akhirnya kita dapat berjumpa kembali!"

"Berjumpa denganku bukan suatu kejadian baik!" si Gagak


Pendekar Gelandangan 14

menerangkan.

Ya, bertemu dengannya memang bukan suatu kejadian yang


menyenangkan.

Burung gagak berbeda dengan burung nuri!.

Tak seorang manusiapun yang suka bertemu dengan burung


gagak.

Bahkan menurut cerita kuno..... menurut kepercayaan orang-


orang kuno......... bila burung gagak telah muncul, pertanda
bencana sudah berada di ambang pintu.

Dan kini si burung gagak sudah datang, bencana apakah yang


di bawa olehnya? ... mungkin saja ia sendiri adalah bencana,
suatu bencana yang tak mungkin dapat dihindari.

Kalau toh memang tak dapat dihindari lagi, lantas apa


gunanya musti murung atau masgul karena hal itu?

Paras muka Yan Cap-sa telah pulih kembali dalam ketenangan


dan keketusannya semula.

Si burung gagak memperhatikan pula pedangnya lalu memuji:

"Ehmm ..... pedang bagus!".

Siapa yang menyimpan benda mestika, dia bakal mati karena


mestika tersebut. Demikian yang dikatakan ujar-ujar kuno.

Sudah barang tentu Yan Cap-sa memahami pepatah kuno itu


Pendekar Gelandangan 15

atau paling sedikit ia pernah mendengarnya.

Yaa, nama besar serta pedangnya ibarat wangi-wangian yang


berharga bagaikan tanduk kambing hutan yang bernilai tinggi
sebagai bahan obat.

"Hingga kini sudah tujuh belas pedang yang kusimpan!"


kembali si burung gagak menerangkan.

"Ehmmm.... Tujuh belas pedang? Tidak sedikit!"

"Yaa, memang tidak sedikit, bahkan ke tujuh belas pedang itu


rata-rata adalah pedang ternama"

"Wah, kalau begitu tidak sedikit jago kenamaan yang sudah


terbunuh ditanganmu!", kata Yan Cap-sa.

"Pedang Ko Thong dan pedang si elang terbang juga ingin


kumiliki!"

"Bereskan saja mayat-mayat mereka itu, otomatis ke empat


bilah pedang mereka akan menjadi milikmu"

"Kau hanya menginginkan pedang dari orang-orang mati?"

"Betul"

"Bunuhlah aku, maka pedangku akan menjadi milikmu pula!"


ejek Yan Cap-sa tiba-tiba.

"Tentu akan kulakukan"


Pendekar Gelandangan 16

"Kalau begitu bagus sekali"

"Tidak, tidak bagus?"

"Apanya yang tidak bagus?"

"Hingga kini aku masih belum mempunyai keyakinan untuk


membinasakan dirimu!"

Mendengar perkataan itu kontan saja Yan Cap-sa tertawa


terbahak-bahak... keras nian tertawanya itu.

Secara tiba-tiba ia merasa bahwa orang ini betul-betul seekor


burung gagak, sebab paling sedikit burung gagak tak pernah
berbohong.

"Terutama terhadap tusukan yang telah kau gunakan untuk


membinasakan si elang terbang dari luar perbatasan tadi",
kata si burung gagak lebih lanjut.

"Oh..... kau tak mampu memecahkan seranganku itu?" kata


Yan Cap-sa sambil tertawa.

"Aku sendiripun tak berhasil menemukan seseorang di dunia


ini yang sanggup memecahkan tusukan tersebut"

"Maksudmu tusukan itu sudah merupakan ilmu pedang yang


tiada tandingannya di dunia?"

"Baik ilmu pedang dari Jit-toa-kiam-pay (tujuh perguruan


pedang terbesar) maupun jago-jago dari empat keluarga
persilatan terbesar sudah pernah kujumpai semuanya"
Pendekar Gelandangan 17

"Bagaimana tanggapanmu tentang kepandaian mereka?"

"Ilmu pedang mereka terlalu ketat dalam pertahanan, terlalu


memandang serius nyawa sendiri, maka dari itu mereka tak
sanggup menandingi dirimu"

Yan Cap-sa menghela napas panjang, katanya:

"Hebat betul ketajaman matamu, sayang pengetahuanmu


kurang luas!"

"Oya", si gagak mendesis.

"Menurut apa yang kuketahui di dunia ini justru masih ada


satu orang yang sanggup memecahkan tusukan maut itu,
bahkan dapat ia lakukan semudah membalikkan telapak
tangan sendiri"

"Kau pernah menyaksikan ilmu pedangnya?" tanya si burung


gagak agak tertarik.

Yan Cap-sa mengangguk, katanya setelah menghela napas


panjang.

"Ilmu pedang yang dimiliki itulah baru merupakan ilmu


pedang yang benar tiada tandingannya di dunia ini!"

"Siapa orang itu?"

Yan Cap-sa tidak langsung menjawab, dia hanya


memperhatikan ketiga buah jari tangannya.
Pendekar Gelandangan 18

"Kau maksudkan Sam-jiu-kiam (pedang tiga tangan) Kim Hui?"


si burung gagak cepat berseru.

Konon menurut cerita orang di kala Sam-jiu-kiam sedang


bertempur melawan orang, maka seolah-olah ia mempunyai
tiga buah tangan yang melancarkan serangan secara bersama.

Pedangnya yang sebuahpun otomatis ikut berubah menjadi


tiga batang pedang.

Sampai dimanakah kecepatan ilmu pedangnya, sampai


dimanakah perubahan jurus yang dimilikinya, semuanya itu
dapat dibayangkan dari julukan yang ia miliki.

Namun Yan Cap-sa menggelengkan kepalanya, ia berkata:

"Bila seseorang ingin membunuh orang secara sungguhan, ia


tidak perlu menggunakan tiga buah tangan, diapun tak perlu
menggunakan tiga batang pedang tajam"

Ya, perkataan itu sungguh benar, seandainya kau sungguh-


sungguh ingin membunuh orang sebatang pedangpun sudah
lebih dari cukup.

"Kau tidak maksudkan dia bukan?" kata burung gagak


kemudian.

"Ya, dialah Sam-sauya!"

"Sam-sauya yang mana? Sam-sauya dari keluarga mana?"


Pendekar Gelandangan 19

"Sam-sauya dari bawah tebing Cui-im-hong, tepi telaga Liok-


sui-ou!"

Tiba-tiba sepasang tangan si burung gagak mengepal


kencang.

"Tapi aku anjurkan kepadamu agar lebih baik jangan


menjumpai dirinya.....!" kata Yan Cap-sa lagi.

Tiba-tiba si burung gagak tertawa.

Ia jarang tertawa, senyumnya tampak begitu kaku, begitu


aneh dan tak sedap dilihat.

"Aku mengucapkan kata-kata semacam itu bukan dengan


maksud untuk bergurau" kata Yan Cap-sa lebih lanjut.

"Aku sedang mentertawakan kau!" kata si gagak.

"Kenapa"

"Kau toh sudah tahu bahwa aku telah datang memangnya kau
anggap aku dapat melepaskan dirimu dengan begitu saja?"

Yan Cap-sa menyatakan sangat setuju dengan ucapan


tersebut.

Kembali si gagak berkata:

"Meskipun aku tidak mempunyai keyakinan untuk


membunuhmu, kau sendiripun tidak mempunyai keyakinan
untuk membunuhku"
Pendekar Gelandangan 20

Yan Cap-sa menyatakan sangat akan kebenaran dari


perkataan itu.

"Sebab itu kau hendak membakar hatiku agar aku berangkat


ke Cui-im-hong dan bertanding lebih dahulu dengan Sam-
sauya tersebut", si gagak melanjutkan.

Kali ini Yan Cap-sa ikut tertawa, ya tertawa lebar malah.

"Kau anggap perkataanku hanya gurauan?" tegur si gagak.

"Tidak, aku sedang mentertawakan diriku sendiri"

"Oya? Kenapa?"

"Sebab apa kupikirkan dalam hati ternyata berhasil kau tebak


dalam sekian pandang belaka"

"Jadi kau tidak bersedia untuk bertarung melawan diriku pada


saat ini?"

"Sangat tidak bersedia"

"Kenapa?"

"Karena aku masih mempunyai janji"

"Janji macam apakah itu?"

"Janji kematian!"
Pendekar Gelandangan 21

"Dimana?"

"Di bawah Cui-im-hong, di depan telaga Liok-siu-ou!"

"Sudah kau ketahui bahwa kepandaianmu belum dapat


menandinginya, mau apa lagi kau kesana ?"

"Suatu perjanjian kematian tidak akan bubar sebelum


berjumpa!"

"Masa kau sengaja hendak menghantar diri untuk dibunuh


olehnya?"

Yan Cap-sa tertawa, jawabnya dengan hambar:

"Apakah kau merasa hidup itu adalah suatu kejadian yang


menyenangkan?"

Si gagak terbungkam, ia tak sanggup menjawab lagi.

Yan Cap-sa masih tertawa, dibalik sekulum senyum itu


terselip suatu nada ejekan yang amat sinis. Kembali katanya:

"Bagi seseorang yang berlatih pedang, cepat atau lambat


akhirnya dia pasti akan mampus di ujung pedang orang. Tiada
kesempatan atau harapan bagimu untuk menghindarinya"

Si gagak masih bungkam.

"Tak terhitung manusia yang kubunuh sepanjang hidup" kata


Yan Cap-sa lebih jauh, "dan kini seandainya aku bisa mampus
pula di ujung pedang seorang jago pedang yang paling
Pendekar Gelandangan 22

tersohor di dunia ini, sekalipun harus mampus aku akan


mampus dengan hati yang rela"

Si gagak menatapnya dengan tajam, lama, lama sekali, tiba-


tiba bisiknya:

"Kalau begitu, pergilah!"

Yan Cap-sa memberi hormat, sepatah katapun tidak


diucapkan lagi, dia putar badan dan segera angkat kaki.

Ia tidak berjalan terlalu jauh, ketika kakinya kembali terhenti,


sebab ia menemukan si burung gagak masih terus mengikuti di
belakangnya, mengikuti terus bagaikan bayangan tubuhnya.

Ketika ia terhenti, si burung gagak ikut berhenti lalu


menatapnya tajam-tajam.

"Aku dapat memahami maksud hatimu!" kata Yan Cap-sa


menerangkan.

"Oya?"

"Aku boleh pergi, mengapa kau boleh ikut?"

"Rupanya kau tidak bodoh!"

"Akan tetapi kau tidak seharusnya musti ikut diriku kesana?"

"Tidak, harus!"

"Kenapa?"
Pendekar Gelandangan 23

"Sebab kau tidak ingin melepas kesempatan yang sangat baik


untuk menyaksikan pertarungan kalian"

Setelah berhenti sebentar, lanjutnya kembali dengan ketus:

"Bila dua orang jago tangguh sedang bertempur mereka tentu


akan mengerahkan segenap kepandaian yang dimilikinya,
seandainya kusaksikan pertarungan itu dari samping, pasti
banyak titik kelemahan yang berhasil kutemukan dibalik
permainan pedang kalian!"

"Yaa, perkataanmu memang masuk di akal", kata Yan Cap-sa


sambil menghela napas.

"Dalam pertarungan tersebut, baik kau atau dia yang menang,


pada akhirnya orang terakhir yang masih hidup sudah pasti
adalah aku!"

"Ya, aku tahu! Pada saat itu si pemenang tentu sudah


kehabisan tenaga, sedang kau telah berhasil menemukan titik-
titik kelemahan dari ilmu pedangnya, bila kau ingin
membunuhnya, itulah kesempatan yang paling baik bagimu"

"Sebab itulah apakah aku harus melepaskan kesempatan


sebaik itu dengan begitu saja?"

"Ya, memang tidak seharusnya?" sahut Yan Cap-sa.

Setelah menghela napas panjang, kembali katanya:

"Hanya sayang kau masih sedikit keliru"


Pendekar Gelandangan 24

"Kekeliruan dibagian yang mana?"

"Pada hakekatnya dalam permainan pedang, Sam-sauya tidak


terdapat titik kelemahan, kau tak bakal menemukannya!"

Sekarang mereka sudah mulai minum arak.

Kedai arak adalah kedai yang paling baik, arak yang diminum
adalah arak yang paling baik, mereka selalu menginginkan
segala sesuatu yang paling top, paling baik.

"Seusai membunuh orang, aku pasti akan minum arak" Yan


Cap-sa menerangkan.

"Tidak membunuh orangpun, aku tetap minum arak" si


burung gagak menanggapi.

"Setelah minum arak, aku pasti akan mencari perempuan"

"Tidak minum arakpun aku mencari perempuan"

Yan Cap-sa tertawa terbahak-bahak.

"Haahhh..... haaaahhhh... haaahhhh..... tidak kusangka kau


adalah seorang bajingan yang suka minum arak dan bermain
perempuan"

"Sama-sama...... setali tiga uang!"

Arakyang mereka minum tidak sedikit jumlahnya.


Pendekar Gelandangan 25

"Tampaknya kaupun seorang bajingan arak dan perempuan,


hari ini biar aku mengalah sekali untukmu" kata Yan Cap-sa
lagi.

"Mengalah apa?"

"Mengalah agar kau saja yang membayar rekening kita!"

"Oohhh... tidak perlu mengalah, tidak perlu sungkan-


sungkan".

"Tidak, kali ini aku harus mengalah, kali ini harus sungkan-
sungkan"

"Tidak perlu, tidak perlu!"

"Aaaaah.... Harus, harus!"

Kalau orang lain bersantap akan berebut untuk membayar


rekeningnya, maka mereka berebut untuk tidak membayar
rekening.

"Bila ingin membunuh orang, biasanya dalam sakuku tidak


membawa barang-barang yang merupakan beban daripada
benda tersebut mengganggu gerak-gerikku!" kata Yan Cap-sa.

"Oooohh.... begitukah!"

"Dan uang merupakan benda yang paling mengganggu!"

Si burung gagak merasa akur dengan pendapat tersebut.


Pendekar Gelandangan 26

Bila seseorang harus membawa beberapa ratus tahil perak


dalam sakunya, mana mungkin baginya untuk mengerahkan
ilmu meringankan tubuhnya semaksimal mungkin?

"Tapi kau toh dapat membawa uang lembaran uang kertas?"


tanya burung gagak kemudian.

"Aku paling benci dengan uang kertas!"

"Kenapa?"

"Untuk selembar uang kertas, entah sudah berapa laksa kali


berganti tangan, dari tangan yang lain, huuuuh...kotornya
bukan kepalang!"

"Kau toh bisa menggunakan mutiara pada gagang pedangmu


itu untuk ditukar dengan uang?"

Kali ini Yan Cap-sa tertawa.

"Kau anggap perkataanku adalah suatu lelucon?" tegur si


urung gagak.

"Yaaa, suatu lelucon yang paling lucu di dunia ini"

Tiba-tiba ia merendahkan suaranya dan berbisik:

"Mutiara-mutiara itu semuanya palsu, yang asli sudah kujual


semenjak dulu-dulu"

Si burung gagak tertegun, ia dibikin tercengang oleh


kenyataan tersebut....
Pendekar Gelandangan 27

"Oleh sebab itulah hari ini aku musti berlalu sungguh-sungguh


dan mempersilahkan kau yang membayar"

"Bila aku tidak datang bersamamu?"

Yan Cap-sa tersenyum, katanya:

"Waktu itu, tentu saja akan kucari akal lain, tapi sekarang kau
sudah ikut datang, buat apa aku musti memikirkan cara
lainnya lagi?"

Si burung gagak tertawa lebar.

"Hei, apa yang kau tertawakan?" tegur Yan Cap-sa.

"Aku mentertawakan kau karena telah salah memilih orang"

Diapun merendahkan suaranya lalu berbisik:

"Keadaankupun tidak jauh berbeda denganmu hari ini.


Sebetulnya aku datang untuk membunuh orang".

"Kau juga benci dengan uang kertas?"

"Yaa, bencinya luar biasa!"

Sekarang giliran Yan-Cap-sa yang tertegun. Sampai sesaat dia


hanya bisa membungkam.

"Maka dari itulah hari ini aku harus bersikap sungkan dan
mempersilahkan kau saja yang membayar" kata si gagak
Pendekar Gelandangan 28

akhirnya.

Sementara Yan Cap-sa masih menghela napas, tiba-tiba


muncul si pemilik rumah makan, katanya sambil tertawa
paksa:

"Kek-koan berdua tak perlu sungkan-sungkan, rekening kalian


berdua telah dibayar oleh orang di bawah lotengsana"

Siapa yang telah membayar rekening mereka?

Kenapa ia membayarkan rekening mereka?

Pada hakekatnya mereka tak pernah memikirkannya,


bertanyapun tentu saja tak pernah.

Terhadap mereka, persoalan tersebut tidak ada artinya.

Bisa makan minum secara gratis memang merupakan suatu


peristiwa yang menyenangkan.

Bila seseorang sedang berada dalam keadaan riang gembira,


seringkali arak yang diminumpun jauh lebih banyak dari
takaran biasa.

Tetapi mereka tidak sampai mabuk.

Di kala mereka sudah hampir mabuk dibuatnya, tiba-tiba dari


bawah loteng muncul dua orang perempuan. Dua orang
perempuan yang amat cantik dengan dandanan yang amat
bagus, perempuan jenis yang paling gampang menggiurkan
hati prialah kedua orang itu.
Pendekar Gelandangan 29

Barang siapa berada dalam keadaan hampir mabuk, dia akan


lebih gampang terpengaruh oleh segala macam godaan,
terutama nafsu birahi.

Yan Cap-sa dan si burung gagak mulai tertarik, mereka sudah


siap menggunakan akal untuk memancing kehadiran kedua
orang itu.

Ternyata mereka tak perlu bersusah payah untuk memancing


kehadiran kedua orang perempuan itu dengan akal.

Ya, mereka telah datang dengan sendirinya.

"Aku bernama Siau-hong!"

"Aku bernama Siau-cui!"

Kemudian sambil tertawa manis dan genit kedua perempuan


itu menambahkan:

"Kami sengaja datang untuk melayani kalian berdua"

Sekarang Yan Cap-sa hanya bisa memandang ke arah si


burung gagak dan si burung gagak memandang ke arah Yan
Cap-sa.

Seandainya mereka pernah mampus di ujung pedang, mereka


masih sempat menyaksikan mimik wajah mereka sekarang,
tentu mereka akan merasa penasaran sekali atas kematian
yang menimpa mereka.
Pendekar Gelandangan 30

Raut wajah maupun sikap mereka sedikitpun tidak mirip jago


kenamaan yang pernah menggetarkan kolong langit, apalagi
mirip seorang jagoan pedang yang tak berperasaan.

Sambil tersenyum kata Siau-hong:

"Kalian berdua mau minum arak di sini atau minum arak di


tempat kami adalah sama saja"

"Ya, benar" sambung Siau-cui, "bagaimanapun juga rekening


kalian berdua telah dibayar orang lain"

Meskipun di dunia ini terdapat banyak orang baik dan


perbuatan baik, namun tidak banyak bisa dijumpai kejadian
sebaik ini.

"Sebenarnya nasibmu sedang mujur? Atau aku yang lagi


mujur?" kata si burung gagak kemudian.

"Tentu saja nasibku yang sedang mujur?"

"Kenapa?"

"Konon bila seseorang sudah mendekati ajalnya, kadangkala


nasibnya secara tiba-tiba dapat berubah menjadi lebih mujur"

Itu kejadian di hari pertama.

Ternyata keadaan pada hari kedua tidak jauh berbeda,


kemanapun mereka pergi selalu ada yang membayarkan
rekening bagi mereka.
Pendekar Gelandangan 31

Tapi siapa yang membayar rekening-rekening mereka itu?


Dan kenapa berbuat demikian?

Baik Yan Cap-sa maupun si burung gagak tak ada yang


bertanya, bahkan dipikirkanpun tidak.

Mereka selalu tidur setelah larut malam, tentu saja


bangunnyapun juga tidak terlalu pagi.

Setiap hari bila mereka sudah melangkah keluar dari pintu


penginapan, sebuah kereta kuda tentu siap menunggu disana
seakan kuatir kala mereka terlalu lelah semalam dan tak
sanggup untuk berjalan kaki lagi......

Tapi berbeda dengan hari ini, mereka ingin berjalan kaki,


mungkin sudah bosan menunggang kereta.

Atau mungkin karena cuaca hari ini tampak sangat baik.

"Jauhkah tebing Cui-im-hong dari sini?" tanya si burung gagak


tiba-tiba.

"Tidak terlampau jauh"

"Berjalan macam begini aku sangat berharap bisa berjalan


agak jauh sedikit tentu saja lebih jauh lebih baik"

"Kita boleh pelan-pelan berjalan ke situ"

Sebuah hutan lebat terbentang di depansana , daunnya hijau


segar dan kelihatan rimbun.
Pendekar Gelandangan 32

"Bagaimana kalau kita minum-minum arak dalam hutan


sebelah depansana ?" kata Yan Cap-sa.

"Tapi mana araknya?"

"Tak usah kuatir, asal kita pingin minum, pasti ada orang yang
menghantarkan arak untuk kita"

Terik matahari memancar dari tangan awang-awang.

Sinar keemas-emasan memancar di atas sebuah jalan raya,


merasa berjalan di depan kereta kuda.

Dari arah lain tiba-tiba muncul pula sebuah kereta kuda


kereta itu meluncur datang dan berhenti di belakang hutan.

Dari atas kereta melompat turun tiga orang, dua dewasa dan
seorang anak-anak.

Dua orang dewasa itu langsung masuk ke hutan sedangkan si


bocah berbaju hijau bertopi kecil itu malah keluar hutan, ia
mengeluarkan seutas tali pinggang berwarna merah dan
mengikatnya di atas dahan pohon-pohon di tepi hutan
tersebut.

Kemudian bocah itupun ikut masuk ke dalam hutan.

Menyaksikan kesemuanya itu, Yan Cap-sa menghela napas


panjang, katanya:

"Tampaknya kita harus berpindah ke tempat lain untuk


minum arak".
Pendekar Gelandangan 33

"Tidak baikkah tempat ini?"

"Oooh.... baik sekali!"

"Kalau baik kenapa musti pindah?"

"Karena benda itu!" seraya berkata Yan Cap-sa menunjuk ke


arah ikat pinggang merah diatas dahan pohon itu.

"Apa maksud benda itu?"

"Maksudnya untuk sementara waktu tempat ini akan menjadi


daerah terlarang, siapapun tak boleh memasuki wilayah
tersebut"

"Hmmm......peraturan darimanakah itu?" si burung gagak


tertawa dingin.

Sebelum Yan Cap-sa membuka suara, tiba-tiba dari dalam


hutan berkumandang suara khim (harpa). Suara itu
melengking di udara dan mewartakan kabar gembira.........

Sepasang tangan si gagak mengepal kencang!

Pada saat itulah tiba-tiba dari jalan raya muncul sebelas


penunggang kuda, penunggang kuda itu rata-rata berbaju
ringkas, bermuka bengis. Setiap orang menyoren golok besar
dipunggungnya, pita merah pada gagang golok itu berkibar
berhembus angin.

Ketika tiba di tepi hutan, para penunggang itu melompat


Pendekar Gelandangan 34

turun dari kudanya masing-masing.

Ternyata mereka semua memiliki gerakan tubuh yang enteng


dan lincah.

Tidak terlalu banyak jago dalam persilatan yang benar-benar


berilmu tinggi tapi ke sebelas orang itu tampaknya sungguh
merupakan jago yang tangguh.

Di antara ke sebelas orang itu, seorang laki-laki berlengan


tunggal mempunyai kecepatan paling hebat, sambil menyerbu
masuk ke dalam hutan bentaknya:

"Serahkan nyawa kalian!"

Permainan khim dari balik hutan masih mengalun merdu,


lembut dan membuat orang merasa nyaman.

Sementara itu, ke sebelas orang laki-laki tadi sudah menyerbu


ke dalam hutan.

"Bukankah orang-orang itu datang dari Tay-heng?" tanya si


burung gagak keheranan.

"Ehmmm.... Tay-heng toa-to memang betul-betul bernyali!"


jawab Yan Cap-sa.

"Menurut pendapatmu, mau apa mereka kemari?"

"Mereka datang untuk menghantar kematian sendiri!"

Baru saja Yan Cap-sa menyelesaikan kata-katanya, sudah ada


Pendekar Gelandangan 35

sesosok tubuh melayang keluar dari hutan dan terbanting


keras-keras di atas tanah.

Ketika tubuhnya mencium permukaan tanah, ia sudah tak


berkutik, bahkan bersuarapun tidak.

Dan orang itu ternyata bukan lain adalah laki-laki berlengan


tunggal yang paling garang.

Petikan khim dari hutan masih kedengaran terus.

Bayangan manusiapun satu demi satu melayang keluar dari


hutan, semuanya berjumlah sebelas orang.

Ke sebelas orang itu sudah melayang keluar semua, ketika


terbanting di atas tanah, tubuh mereka sudah tidak berkutik
lagi.

Ketika mereka menyerbu ke dalam hutan tadi, gerakan


tubuhnya cukup cepat, tapi gerakan sewaktu mereka keluar
ternyata jauh lebih cepat lagi.

"Ternyata mereka betul-betul datang untuk menghantar


kematian!" kata si burung gagak dengan suara dingin.

"Agaknya...... bukan mereka saja yang datang mengantar


kematiannya!"

"Yaa, betul, paling sedikit masih ada aku" sambung si burung


gagak.

"Sekarang masih belum tiba gilirannya bagimu"


Pendekar Gelandangan 36

Si burung gagak tidak bertanya lebih lanjut.

Ya, sebab ia sudah melihat ada dua orang sedang berjalan


melalui jalan raya itu.

Mereka adalah seorang dewasa dan seorang anak-anak.

Yang dewasa masih belum begitu tua, paling banter berumur


tiga puluh tahunan, perempuan lagi.

Sepintas lalu dia tampak lemah dan tak bertenaga,


perempuan itu cukup cantik wajahnya cuma sayang membawa
kepandaian yang sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Yang kecil ialah lebih muda lagi daripada bocah yang


mengikat ikat pinggang di bawah pohon tadi, sepasang biji
matanya yang kecil bulat sedang berkeliaran memandang
kesana kemari.

Siapapun yang menjumpainya pasti akan mempunyai


pendapat yang sama, seorang bocah yang pintar cerdik dan
menarik.

Akan tetapi apa yang dilakukannya seperti bukan suatu


perbuatan yang cerdik.

Mereka sedang berjalan ke hutan itu.

Rupanya kejadian ini cukup menarik perhatian.

Yan Cap-sa berdua terbukti manusia. Macam si burung


Pendekar Gelandangan 37

gagakpun merasa tak tega membiarkan mereka mengantar


kematiannya, ia sudah bersiap siap untuk menghalangi jalan
perginya.

Kedua orang itu agaknya juga melihat tali merah di atas


dahan, tiba-tiba nyonya muda itu berkata:

"Lepaskan ikat pinggang itu!"

Dengan cekatan bocah itu melompat ke depan dan


melepaskan ikat pinggang tadi kemudian ia mengeluarkan
pula sebuah ikat pinggang berwarna hijau dan mengikatnya di
tempat semula.

Setelah menyelesaikan tugasnya pelan-pelan mereka baru


masuk ke dalam hutan.

Dua orang itu seolah-olah tak pernah melihat mayat yang


bergelimpangan di tanah, merekapun tidak memperhatikan si
burung gagak ataupun Yan Cap-sa.

Si burung gagak yang sebetulnya hendak menghalangi dua


orang itu, entah apa sebabnya sekarang ia telah berubah
pikiran.

Apalagi Yan Cap-sa, menggerakkan tubuhnyapun tidak.

Akan tetapi dari sorot mata mereka jelas terpancar suatu


sikap yang aneh sekali.

Pada saat itulah, suara permainan khim dalam hutan tiba-tiba


berhenti.
Pendekar Gelandangan 38

Angin berhembus lewat menggugurkan dedaunan, cahaya


mentari menyinari seluruh jagad.

Setelah irama khim itu terhenti, sampai lama, lama sekali dari
balik hutan belum juga kedengaran suara yang berisik.

Siapapun tak tahu apa yang telah terjadi dalam hutan


tersebut.......

Siapakah pemetik khim itu?

Mengapa irama khim tersebut terhenti secara mendadak?

Apakah si gadis dan bocah itu mengalami nasib yang sama


dengan orang-orang dari Tay-heng-to-bun, dilempar keluar
dalam keadaan tak bernyawa?

Siapapun manusia di dunia ini tentu ingin tahu keadaan yang


sesungguhnya, tidak terkecuali si burung gagak maupun Yan
Cap-sa.

Oleh karena itulah mereka belum pergi, bahkan si kusir kereta


yang mengikuti dari belakangpun ikut membelalakkan
matanya untuk menyaksikan keramaian tersebut.

Tapi tiada keramaian yang dapat ditonton.

Tiada pula seorang manusia yang terlempar dari balik hutan.

Mereka hanya mendengar suara langkah manusia yang


menginjak di atas daun-daun kering, orang itu berjalan sangat
Pendekar Gelandangan 39

ringan dan sangat lambat.

Orang yang berjalan dipaling depan tak lain adalah si bocah


yang mengikatkan tali merah di atas dahan pohon itu.

Dua rang berjalan di belakangnya, mereka berjalan sangat


lambat. Seorang laki-laki dan seorang perempuan, tampaknya
seperti sepasang suami isteri......

Usia mereka berdua tidak terlalu besar, tapi pakaiannya


perlente dan gerak-geriknya cukup berwibawa.

Yang lelaki menyoren pedang dan kelihatannya tampan lagi


perkasa, sedang yang perempuan bukan saja cantik jelita, lagi
pula lembut dan menawan hati.

Seandainya mereka benar-benar adalah suami isteri,


hakekatnya kedua orang itu merupakan sepasang yang cukup
membuat orang menjadi kagum. Sayangnya paras muka kedua
orang itu tampak memucat, seakan-akan ada sesuatu
persoalan yang membuat hati mereka mendongkol.

Sebetulnya mereka hendak naik ke dalam kereta tapi setelah


menjumpai si Burung gagak dan Yan Cap-sa yang berada di
luar hutan, niat tersebut mereka urungkan.

Dua orang itu seperti membisikkan sesuatu kepada sang


bocah, dan bocah itu segera lari mendekat, diawasinya Yan
Cap-sa berdua dengan sepasang mata melotot besar
kemudian tegurnya:

"Bukankah kalian sudah datang lama sekali?"


Pendekar Gelandangan 40

Yan Cap-sa mengangguk.

"Semua peristiwa yang barusan berlangsung telah kalian


saksikan pula?" desak si bocah lebih jauh.

Si Burung Gagak mengangguk.

"Engkau tahu kami datang darimana?"

"Bukit Hwe-gan-san, lembah Ang-im-kok, perkampungan Hee-


ho-san-ceng!"

"Aaaai...rupa-rupanya apa yang kau ketahui tidak sedikit!",


kata si bocah sambil menghela napas.

Meskipun suaranya masih berbau kekanak-kanakan, tapi


caranya berbicara maupun sikapnya sewaktu mengutarakan
ucapan tersebut sangat terlatih dan seakan-akan orang
berpengalaman.

"Siapa namamu?" Yan Cap-sa ganti bertanya.

Tiba-tiba bocah itu menarik muka, katanya:

"Kau tak usah mencari tahu siapa namaku, aku bukan datang
untuk mengikat tali persahabatan dengan kalian!"

"Lantas ada keperluan apa kau datang kemari?" tanya si


burun gagak.

"Kongcu kami ingin meminjam tiga macam benda, setiap


Pendekar Gelandangan 41

orang tiga macam!"

"Tiga macam benda apakah itu?"

"Sebuah lidah dan dua biji mata!"

Yan Cap-sa tertawa dan si burung gagak ikut pula tertawa.

Tiba-tiba bersamaan waktunya dua orang itu turun tangan,


yang seorang mencengkeram lengannya sedang yang lain
mencengkeram kakinya, lalu mereka membentak bersama:

"Terbanglah! Bocah muda......"

Bocah itupun terbang ke atas mengikuti bentakan


tersebut....... "Wesss" Bagaikan bom udara yang meluncur ke
udara, badannya melambung sampai tinggi sekali.

Kongcu itu masih berdiri sambil bergendong tangan seakan-


akan tidak pernah menyaksikan adegan tersebut. Berbeda
dengan isterinya, ia berkerut kening.

Sementara itu, tubuh si bocah yang terlempar ke udara tadi


sudah meluncur kembali ke bawah.

Si burung gagak dan Yan Cap-sa kembali turun tangan


bersama, dengan entengnya ia menerima tubuh si bocah lalu
diletakkan di atas tanah.

Bocah itu sudah ketakutan setengah mati, sepasang kakinya


menjadi lemas dan celananya basah oleh air kencing. Rupanya
bocah itu mengompol karena ngerinya.
Pendekar Gelandangan 42

Sambil tersenyum Yan Cap-sa menepuk bahunya lalu berkata:

"Tidak menjadi soal sewaktu masih kecil dulu akupun sering


dilempar orang ke udara macam keadaan sekarang"

"Betul, dengan berbuat demikian sama pula dengan sedang


berlatih keberanian" si burung gagak menambahkan.

Bocah itu memutar sepasang biji matanya. Kalau dilihat dari


sikapnya itu ia bersiap sedia akan melarikan diri.

"Benda yang diperintahkan untuk diambilkan belum kau


dapatkan, bagaimana pertanggungan jawabmu nanti?", tanya
Yan Cap-sa.

"Aku......."

"Tak usah bingung aku dapat mengajarkan sebuah cara


kepadamu"

Bocah itu berdiam diri, rupanya ia sedang bersiap-siap


menerima petunjuk.

"Bukankah kongcumu bernama Hee-ho kongcu?" tanya Yan


Cap-sa kemudian.

Bocah itu manggut-manggut.

"Apakah dia yang suruh kau mengambil benda tersebut?"

Kembali bocah itu mengangguk.


Pendekar Gelandangan 43

"Kalau memang begitu kau boleh kembali kepadanya sambil


bertanya, kalau toh dia menghendaki ketiga macam benda itu,
mengapa tidak datang untuk mengambilnya sendiri?"

Kembali bocah itu mengangguk, kemudian memutar badan


dan lari meninggalkan tempat itu.

Paras muka Hee-ho kongcu masih belum berekasi apa-apa,


tapi isterinya sudah maju ke muka.

Caranya berjalan begitu lembut tapi suaranya merdu


menawan hati. Ketika tiba di hadapan kedua orang itu,
katanya:

"Aku bernama Si Ko-jin, yang berdiri di sebelahsana adalah


suamiku Hee Ho-seng"

"Oh, rupanya Sau-cengcu Ang-im-kok!" desis Yan Cap-sa


dengan suara ewa.

"Jika kalian berdua sudah pernah mendengar namanya, tentu


kau ketahui bukan, manusia macam apakah dia?"

"Tidak, aku tidak tahu"

"Dia adalah seorang manusia yang sangat berbakat, bukan


saja dalam ilmu silat, ilmu sastrapun cukup tinggi
kepandaiannya. Terutama dalam hal ilmu pedang, jarang
sekali ada orang yang mampu menandinginya"

Sekalipun anak perempuan suka memuji kehebatan


Pendekar Gelandangan 44

suaminya, jarang diantara mereka yang memuji secara begini


rupa di hadapan orang lain, sekalipun memuji dengan
beberapa patah kata, tak urung merah juga pipinya karena
jengah.

Tapi berbeda dengan perempuan ini, mukanya tidak merah,


gerak-geriknya juga tidak jengah, seakan-akan ia sudah biasa
melakukan kata-kata pujian semacam itu, atau memang ia
sedemikian kagum dan hormat kepada suaminya sehingga
memuji keunggulan sang suami merupakan kebanggaan
baginya.

Diam-diam Yan Cap-sa menghela napas..... seandainya bisa


ditemukan perempuan semacam ini, sungguh beruntung
nasibnya.

Kembali Si Ko-jin berkata:

"Terhadap manusia seperti dia, tentu saja kalian berdua tak


akan berkelahi dengannya bukan?"

"Oya?!"

"Yaa, bukan saja berasal dari keturunan keluarga ternama,


iapun menganggap dirinya luar biasa, bila kalian berdua
sampai berkelahi dengannya, maka keadaan tersebut
ibaratnya telur ayam diadu dengan batu, sebab itu kuanjurkan
kepada kalian berdua untuk............"

"Untuk pasrah saja dan mempersembahkan lidah dan


sepasang mata kami kepadanya?" lanjut Yan Cap-sa.
Pendekar Gelandangan 45

Si Ko-jin menghela napas panjang.

"Ya, meskipun cara tersebut kurang sedap tampaknya, paling


sedikit lebih enakan daripada mengirim nyawa sendiri ke
neraka!"

Yan Cap-sa kembali tertawa, tiba-tiba katanya:

"Tentunya kongcu-ya yang lihay dalam ilmu silat maupun ilmu


sastra itu bukan seorang bisu, bukan?"

"Tentu saja bukan! Dia normal dan segar bugar!"

"Lantas ucapan-ucapan semacam itu kenapa tidak dia


ucapkan sendiri?"

"Hmmm.....! Sekalipun dia itu bisu, pantat tentunya punya


bukan? Kenapa kentut sebau itu tidak dia lepaskan sendiri dari
lubang pantatnya.....?" si burung gagak menambahkan.

Paras muka Hee-ho Seng berubah hebat.

"Jika ia tidak mau kemari, kenapa bukan kita saja yang ke


situ?" Yan Cap-sa mengusulkan.

"Bagus!"

"Kau yang akan kesana? Atau aku saja?"

"Kau!"

"Konon pedang seribu ular miliknya bukan saja merupakan


Pendekar Gelandangan 46

sebilah pedang bagus, bahkan terhitung pula sebagai sebilah


pedang yang aneh"

"Ehmmm..... konon memang begitu!"

"Seandainya ia mampus, pedang tersebut akan menjadi milik


siapa?"

"Milikmu!"

"Kau tidak menginginkan pedang itu?"

"Kenapa tidak berusaha untuk mendapatkannya?"

"Karena aku enggan berkelahi dengan cucu kura-kura


semacam dia, apalagi sejak pandangan pertama aku sudah
muak melihat tampang wajahnya"

Belum habis ia mengucapkan kata-kata tersebut, sesosok


bayangan manusia sudah menyambar lewat.

Tahu-tahu Hee-ho Seng telah muncul dihadapannya dengan


wajah hijau membesi, teriaknya dengan suara dingin:

"Engkaulah orang yang sedang kucari!"

"Kalau begitu cepat-cepatlah cabut pedang!" ejek si burung


gagak.

Hee-ho Seng meloloskan pedangnya.

Itulah pedang seribu ular yang tak pernah mempunyai


Pendekar Gelandangan 47

perasaan, sebilah pedang mustika yang dapat menciptakan


beribu-ribu bintang seluruh angkasa.

Ya, tak dapat dibantah pedang itu memang sebilah pedang


aneh.

Di kala tangannya digetarkan, pedang tersebut seolah-olah


telah berubah menjadi beribu-ribu ekor ular perak yang
menciptakan bintang di seluruh angkasa.

Pedang itu memang hebat, seperti patah menjadi beberapa


bagian dalam waktu singkat dan pecahan tersebut
mengancam setiap tempat penting di tubuh manusia.

Tentu saja bagian-bagian penting di tubuh si burung gagak.

Burung gagak bisa terbang, tapi sekarang tak mampu terbang


lagi, tubuhnya berputar kencang sekilas cahaya pedang
berkilauan dan melindungi sekujur badannya.

"Traaaang.....!" beratus-ratus pecahan pedang itu mendadak


merapat kembali, kemudian menusuk ke tenggorokannya.

Rupanya di atas pedang tersebut telah dipasang semacam


tombol rahasia yang bekerja rangkap, bisa dipakai untuk
memecahkan senjata itu menjadi beberapa bagian, bisa juga
digunakan untuk menggabungkannya kembali.

Bila digabungkan kembali maka bentuknya berwujud pedang,


sebaliknya jika dipisahkan maka bentuknya akan berubah
menjadi beratus-ratus senjata rahasia yang antara satu
dengan lainnya diikat dengan seutas benang kuat....
Pendekar Gelandangan 48

Yan Cap-sa menghela napas panjang, katanya:

"Aku yang seharusnya melangsungkan pertarungan ini, sebab


akupun menginginkan pedang itu"

Tiba-tiba terdengar suara dentingan nyaring yang


memekakkan telinga, seperti suara hujan yang menimpa di
atas jendela......

Pada saat itulah si burung gagak telah melancarkan empat


puluh sembilan buah tusukan berantai, semua tusukan
tersebut menghajar telak di setiap keping pedang seribu ular
yang terpecah belah itu.

Pedang seribu ular menjadi lemas kembali, seakan-akan


sebuah ruyung panjang yang memancarkan sinar keperak-
perakkan, pedang si burung telah melingkar pada gagang
ruyung tersebut.

Paras muka Hee-ho Seng berubah hebat, sambil memutar


badan dia melejit ke tengah udara mengikuti gerakan
perputaran tersebut, ia melepaskan diri dari belenggu pedang
musuh, kemudian...... "Kraaak" senjata itu menggabung
kembali menjadi wujud pedang.

Yan Cap-sa segera berkata:

"Pertarungan kalian berlangsung seimbang, tak ada yang


menang tak ada pula yang kalah, sekarang tiba giliranku untuk
melakukan pertempuran!"
Pendekar Gelandangan 49

Hee-ho Seng tertawa dingin, sinar matanya menyapu sekejap


sekeliling tempat itu, mendadak paras mukanya berubah,
bahkan kali ini berubah jauh lebih pucat dari keadaan semula.

Rupanya secara tiba-tiba ia menemukan bahwa ia telah


kehilangan seseorang.

Bocah itu sudah tergeletak di tanah, tampaknya di totok jalan


darahnya oleh orang, sedang Si Ko-jin lenyap tak berbekas.

Sekali tendang Hee-ho Seng membebaskan jalan darah bocah


itu, kemudian bentaknya:

"Siapa yang melancarkan serangan kepadamu?"

"Nyo....nyonya.....!" jawab bocah itu dengan wajah memucat.

"Dan nyonya?"

"Nyonya sudah kabur!"

Bocah itu masih duduk sambil menangis, Hee-ho Seng telah


melakukan pengejaran sedang Yan Cap-sa maupun si burung
gagak tidak menghalangi kepergiannya.

Bila binimu secara tiba-tiba melarikan diri, bagaimana


perasaanmu waktu itu? Rupanya mereka dapat memahami
perasaan orang.

Cuma, ada satu hal yang tak pernah mereka duga, bahkan
mimpipun tak pernah menduganya. Seorang istri yang begitu
lembut, begitu halus, begitu cantik dan memuji suaminya
Pendekar Gelandangan 50

sendiri ternyata sudah kabur dikala suaminya sedang beradu


jiwa dengan orang lain.

Sepintas lalu mereka menyerupai sepasang sejoli yang hidup


harmonis, yang lelaki ganteng sedang yang perempuan cantik
jelita, malah Yan Cap-sa pun merasa kagum.

Tapi, mengapa ia kabur?

Tiba-tiba Yan Cap-sa merasakan suatu kesedihan yang sukar


dilukiskan dengan kata-kata, tentu saja bukan sedih lantaran
dirinya, lebih-lebih tak mungkin bersedih hati karena toa-
sauya itu.

Ia bersedih hati untuk umat manusia di dunia ini.

Siapa yang menduga bahwa banyak kejadian yang tak


berkenan di hati, banyak kejadian yang tak berbahagia, tidak
menyenangkan seringkali bersembunyi dibalik kebahagiaan
dan kegembiraan.

Ya, siapa yang menduga?

Bocah yang duduk menangis di tanah telah pergi, seorang


bocah lain yang lebih kecil muncul sambil tertawa riang.

Larinya tidak terlampau cepat, tetapi sekejap mata telah


berada di hadapan Yan Cap-sa serta si burung gagak.

Paling banter umurnya cuma tujuh delapan tahun.

Seorang bocah yang baru berumur tujuh delapan tahun,


Pendekar Gelandangan 51

ternyata memiliki ilmu meringankan tubuh sedemikian


hebatnya, siapa yang akan percaya kalau kejadian ini adalah
suatu kenyataan?

Tapi Yan Cap-sa dan si burung gagak mau tak mau harus
mempercayainya, karena mereka menyaksikan kejadian
tersebut dengan mata kepala sendiri.

Bocah itu sedang memandang ke arah mereka sambil


tertawa, manis nian tertawanya.

Di waktu-waktu biasa, si burung gagak tidak begitu suka


dengan anak kecil.

Ia selalu beranggapan bahwa bocah cilik ibaratnya seekor


kucing kecil atau anjing cilik, lelaki manapun yang melihatnya
akan menyingkir sejauh-jauhnya.

Tapi kali ini dia tidak pergi, malah sebaliknya bertanya:

"Siapa namamu?"

"Aku bernama Siau Tau-yan (si memuakkan)"

"Tapi kau tidak kelihatan memuakkan, kenapa orang


memanggilmu si memuakkan?"

"Kau sendiri seorang manusia, kenapa orang memanggilmu si


burung gagak?" bocah itu balik bertanya.

Si burung gagak ingin tertawa, tapi ia tak mampu tertawa.


Pendekar Gelandangan 52

Bukankah burung gagakpun merupakan jenis burung yang


paling memuakkan?

"Kau tahu kalau dia bernama burung gagak?" tanya Yan Cap-
sa.

"Hmmm......pertanyaan yang berlebihan!", tukas si


memuakkan.

Ya, pertanyaan Yan Cap-sa memang pertanyaan yang


berlebihan, jika si Memuakkan tak tahu dia bernama si burung
gagak, kenapa ia dapat memanggilnya sebagai si burung
gagak?

Kembali si Memuakkan berkata:

"Bukan saja aku tahu kalau ia bernama si burung gagak,


akupun tahu kau bernama Yan Cap-sa, sebab dahulu ada
orang bernama Yan Jit (walet tujuh) lalu ada pula yang
bernama Yan Ngo (walet lima), karena kau merasa dirimu
masih lebih kuat sebagian bila dibandingkan dengan mereka
berdua yang bergabung, maka kau menamakan dirimu Yan
Cap-sa (Walet tiga belas)!"

Yan Cap-sa tertegun!.

Memang itulah maksud sebenarnya dari nama yang dipakai


sekarang, hal ini merupakan rahasia pribadinya, ia tak habis
mengerti mengapa si Memuakkan dapat mengetahui tentang
hal ini.

"Kau tak usah keheranan" kata si Memuakkan lebih lanjut,


Pendekar Gelandangan 53

"sesungguhnya aku sama sekali tidak tahu kau walet ke


berapa, aku mengetahuinya ini karena enciku menceritakan
kesemuanya ini kepadaku!"

Kejadian ini sungguh berada di luar dugaan.

Nyonya muda yang masuk ke dalam hutan bersamanya tadi


lebih pantas menjadi ibunya daripada encinya.

"Apakah encimu punya nama?" tanya Yan Cap-sa kemudian.

"Tentu saja punya!"

"Siapa namanya?"

"Apakah kau bisu?" Si Memuakkan menukas.

Yan Cap-sa cepat menggeleng.

"Apakah kau tak punya kaki?" kembali si Memuakkan


bertanya.

Yan Cap-sa menundukkan kepalanya seakan-akan sedang


memeriksa apakah ia masih mempunyai kaki atau tidak.

"Kalau kau merasa masih mempunyai kaki, bukan bisa malah,


kenapa tidak menanyakan sendiri kepadanya?"

Yan Cap-sa segera tertawa lebar.

"Yaaaa.... Lantaran aku bukan orang buta, aku masih dapat


melihat!" jawabnya.
Pendekar Gelandangan 54

"Melihat apa?"

Sambil menuding ikat pinggang hijau di atas dahan pohon itu,


kata Yan Cap-sa:

"Kau sendiri yang mengikat ikat pinggang tersebut disana ,


tentunya kau memahami bukan apa maksudnya?"

"Maksudmu tempat ini sudah menjadi milik kami, maka bila


bukan orang bisu yang masuk ke dalam, keluarnya akan
menjadi bisu, mempunyai kaki sewaktu masuk, keluarnya akan
kehilangan kaki?"

Yan Cap-sa tidak membantah, iapun enggan melakukan


perdebatan.

Itulah peraturan dari empat keluarga persilatan di dunia


dewasa ini, peraturan yang diakui setiap orang.

Bila tidak mempunyai ikatan dendam sedalam lautan,


siapapun tak ingin melanggar peraturan tersebut.

Siapapun yang melakukan perjalanan dalam dunia persilatan,


sedikit banyak harus memahami peraturan-peraturan yang
berlaku di dunia pada saat itu, tidak terkecuali Yan Cap-sa.

"Tampaknya segala persoalan dapat kau pahami, sayang ada


satu hal yang tak dapat kau mengerti" kata si memuakkan lagi.

"Oya?"
Pendekar Gelandangan 55

"Sekarang, kendatipun kau tak ingin masuk juga tak mungkin"

"Kenapa?"

"Sebab enciku yang menyuruh aku menitahkan kau masuk!"

Suasana dalam hutan itu tenang dan damai, sampai-sampai


injakan kaki pada daun keringpun kedengaran begitu lembut
dan syahdu.

Semakin masuk ke dalam hutan itu, suasana musim rontok


semakin terasa... bukan udara saja terasa dingin, banyak daun
yang berguguran di tanah.

Mengapa ia hendak menjumpainya? Bahkan mengadakan


pertemuan di bawah empat mata?

Yan Cap-sa tidak habis mengerti, tapi diapun tak perlu


berpikir panjang, sebab ia telah menjumpai dirinya......

Di bawah sebatang pohon tua yang sudah layu, terbentang


sebuah tikar baru, di atas tikar terdapat sebuah khim, sebuah
pedupaan dan sebuah poci arak.

Rupanya benda-benda itu merupakan peninggalan dari Hee-


ho Seng, sebab terlampau terburu-buru ketika ia
meninggalkan tempat itu tadi.

Apakah ia pergi karena diusir? Dan perempuan murung yang


duduk di bawah pohon itulah yang mengusirnya pergi?

Sepintas lalu perempuan itu bukan saja tampak murung dan


Pendekar Gelandangan 56

sedih, tubuhnyapun lemah tak bertenaga, seakan-akan tak


akan tahan menghadapi sebuah pukulan yang paling ringan.

Yan Cap-sa menghampirinya dengan langkah yang pelan dan


sangat berhati-hati seakan-akan kuatir kalau ia sampai dibikin
terkejut.

Ia sudah mendongakkan kepalanya dan mengawasi wajahnya


dengan sepasang mata yang bening.

"Kau yang bernama Toh-mia Yan Cap-sa (Walet tiga belas


perenggut nyawa)...?" tegurnya.

Yan Cap-sa mengangguk.

"Nona datang dari tebing Cui-im-hong?"

Ia kenal dengan ikat pinggang hijau di luar hutansana , itulah


lambang dari Cui-im-hong, telaga Liok-sui-ou.

Siapa tahu dia menggelengkan kepalanya malah.

Yan Cap-sa terpana, ia tak habis mengerti kalau bukan


anggota Cui-im-hong, kenapa berani menggunakan lambang
dari Cui-im-hong?

"Aku datang dari Kanglam, Jit-seng-tong tepatnya", kata


perempuan itu dengan suara yang lemah lembut, "aku
bernama Buyung Ciu-ti!"

Yan Cap-sa makin terperanjat lagi.


Pendekar Gelandangan 57

Jit-seng-tong di wilayah Kanglam termasuk salah satu di


antara empat keluarga besar persilatan.

Buyung Ciu-ti bukan saja merupakan gadis tercantik di dunia


persilatan, iapun tersohor sebagai anak yang berbakti kepada
orang tuanya.

Demi merawat ayah-bundanya yang banyak penyakitan, ia


telah mengorbankan masa remajanya yang paling indah dalam
kehidupannya ini.

Sekarang kenapa secara tiba-tiba ia muncul di sini? Jangan-


jangan pemilik Jit-seng-tong yang disebut orang Kanglam Tay-
hiap Buyung Tin telah meninggal dunia?

Nama besar Jit-seng-tong tidak berada di bawah nama Cui-im-


hong, tapi mengapa ia gunakan lambang dari keluarga lain?

Rupanya Buyung Ciu-ti dapat menebak jitu apa yang


dipikirkan orang, tiba-tiba katanya:

"Ayahku belum mati meski banyak penyakit yang dideritanya,


dalam tigalima tahun beliau belum akan meninggal dunia"

Yan Cap-sa menghembuskan napas panjang.

"Semoga tubuhnya selalu sehat wal'afiat dan bisa hidup


beberapa tahun lagi"

Beberapa patah kata itu betul-betul muncul dari dasar


sanubarinya yang bersih.
Pendekar Gelandangan 58

Buyung Tin memang seorang pendekar sejati yang jujur dan


bijaksana, jarang sudah orang dapat menjadi manusia segagah
dan sejujur dia dalam dunia persilatan dewasa ini.

"Kemunculanku dalam dunia persilatan kali ini tanpa


sepengetahuan dirinya, aku pergi secara diam-diam dan ia
sama sekali tidak tahu", kata Buyung Ciu-ti lagi.

"Kenapa?", Yan Cap-sa ingin mengucapkan perkataan


tersebut.

Tapi sebelum pertanyaan itu diajukan, Buyung Ciu-ti


melanjutkan kembali kata-katanya:

"Sebab aku ingin membunuh seseorang!"

Dibalik sorot matanya yang sayu dan penuh kesedihan, tiba-


tiba memancarkan kesedihan dan kebencian yang luar biasa.
Ia pasti sangat membenci orang itu... tapi siapakah dia?

Yan Cap-sa tidak berani bertanya, diapun tak ingin


mencampuri masalah yang menyangkut empat keluarga besar
persilatan.

Sinar mata Buyung Ciu-ti seolah-olah sedang memandang ke


tempat kejauhan, seakan-akan dia sendiri ikut berada di
kejauhan, lama, lama sekali akhirnya pelan-pelan ia baru
berkata:

"Tentunya kalian tahu bukan bahwa aku adalah seorang anak


yang berbakti kepada orang tua?"
Pendekar Gelandangan 59

Yan Cap-sa membenarkan.

"Selama tujuh tahun belakangan ini sudah empat puluh tiga


kali pinangan yang kutolak", Buyung Ciu-ti melanjutkan.

Tentu saja hanya keturunan orang-orang ternama yang


berhak untuk mengajukan pinangan kepada keluarga Jit-seng-
tong.

"Tahukah kau, mengapa kutolak semua pinangan mereka?",


tanya Buyung Ciu-ti lagi.

"Sebab kau tak tega meninggalkan ayahmu!"

"Kau keliru besar!"

"Oya, Kenapa?"

"Aku bukan anak berbakti seperti yang dibayangkan orang


lain, aku.....aku......"

Sambil menggenggam kencang sepasang tangan sendiri, tiba-


tiba serunya:

"Aku tidak lebih hanya seorang penipu, bukan saja menipu


orang lain, akupun telah menipu diriku sendiri"

Yan Cap-sa terpana.

Ia tak berani memandang lagi ke arahnya, sebab matanya


sudah menjadi merah, air mata setiap saat mungkin akan
meleleh keluar. Ia tak ingin menyaksikan perempuan
Pendekar Gelandangan 60

menangis, diapun tak ingin tahu apa sebabnya perempuan itu


menangis.

Sayang, perempuan itu telah mengemukakan sendiri sebab


musababnya.

"Selama ini aku menolak pinangan orang lain lantaran aku


selalu menunggu dia yang datang meminangku"

"Dia? Siapakah dia?"

Apakah orang yang hendak dibunuhnya itu?

Akhirnya air mata meleleh keluar membasahi pipi Buyung Ciu-


ti, kembali ia berkata:

"Ia pernah berjanji akan datang kemari bahkan berulang kali


memberikan janjinya"

.....namun ia tak pernah datang.

.....seorang laki-laki yang tak berperasaan telah menggunakan


perkawinan sebagai umpan untuk menipu seorang gadis yang
mudah jatuh cinta.

.....bukan hanya dia seorang yang pernah mengalami tragedi


semacam itu.

Ya, sejak dahulu sampai sekarang, tragedi itu sudah berulang


kali terjadi, bahkan hingga kini setiap waktu setiap saat
mungkin akan terulang kembali tragedi semacam ini.
Pendekar Gelandangan 61

Yan Cap-sa tidak bersedih hati oleh tragedi yang


menimpanya.

Sebab tragedi yang menimpa dirinya terhitung suatu tragedi


yang sungguh-sungguh menyedihkan hati. Tragedi orang lain,
sulit untuk menembusi perasaan hati manusia semacam Yan
Cap-sa.

"Aku kenal dengannya pada usia enam belas tahun, ia suruh


aku menunggu dirinya selama tujuh tahun", kata Buyung Ciu-
ti.

Tujuh tahun! Betapa panjangnya waktu..........

Dari usia enam belas sampai usia dua puluh tiga, bukankah
masalah usia merupakan masa terindah bagi seorang gadis
remaja?

Dalam kehidupan seorang manusia, di dunia ini, ada berapa


banyak masa tujuh tahun seperti ini?

Yan Cap-sa mulai menghela napas dalam hati kecilnya.

Ia suruh perempuan itu menunggu selama tujuh tahun, hal ini


sama artinya telah menipu dirinya.

Ia mengira perempuan itu pasti tak dapat menunggu selama


ini, ia mengira dalam tujuh tahun kemudian ia pasti akan
melupakan dirinya.

Yan Cap-sa adalah seorang pria, tentu saja ia sangat


memahami perasaan seorang pria.
Pendekar Gelandangan 62

Tapi apa yang direnungkan tidak sampai diutarakan, ia dapat


merasakan bahwa tujuh tahun dalam penantian adalah suatu
pengalaman yang tak akan terlupakan untuk selamanya,
selama itu berapa banyak air mata telah dicucurkan, berapa
banyak siksaan telah dirasakan.

"Sudah kau lihat bocah tadi?" kembali Buyung Ciu-ti bertanya,


"dia bukan adikku!"

"Bukan?"

"Ya, bukan. Dia adalah putraku, anak hasil hubungan gelapku


dengan orang itu"

Sekali lagi Yan Cap-sa tertegun.

Sekarang dia baru mengerti kenapa ia musti menunggu


selama tujuh tahun, kenapa begitu membenci orang itu.
Bahkan sekarang dia sendiripun ikut berduka atas tragedi yang
menimpa perempuan itu.

"Aku memberitahukan kesemuanya ini kepadamu bukan


lantaran agar kau ikut bersusah hati atas musibah yang
menimpa diriku," kata Buyung Ciu-ti lagi.

Secara tiba-tiba saja suaranya berubah menjadi dingin, sinar


matanya yang sayu ikut berubah pula menjadi setajam
sembilu.

"Ku undang kedatanganmu kemari karena aku berharap agar


kau bunuhkan seseorang bagiku," ia melanjutkan ketus.
Pendekar Gelandangan 63

"Membunuh orang itu?"

"Ya, benar!"

"Sayang, aku hanya membunuh dua jenis manusia!"

"Orang-orang yang mempunyai ikatan dendam denganmu?"

Yan Cap-sa mengangguk.

"Dan yang sejenis lagi adalah orang-orang yang ingin


membinasakan diriku," ia menambahkan.

Sesudah berhenti sejenak, katanya lagi:

"Maka dari itu aku berharap agar kau dapat memahami satu
hal"

"Katakanlah!" kata Buyung Ciu-ti

"Bila kau bertekad ingin membinasakan orang itu, maka kau


harus turun tangan sendiri, sebab tali simpul yang
membelenggu dirimu hanya bisa dibebaskan olehmu sendiri"

"Tapi aku tak dapat berbuat demikian"

"Kenapa?"

"Sebab.....sebab aku tak ingin bertemu lagi dengannya"

"Apakah karena kuatir setelah bertemu lagi dengannya nanti


Pendekar Gelandangan 64

maka kau menjadi tak tega untuk turun tangan?"

Sepasang tangan Buyung Ciu-ti mengepal semakin kencang.

Tentu Yan Cap-sa mengetahui apa yang sedang dipikirkan


perempuan itu, ia menghela napas panjang.

"Aaaai....bila tak tega, buat apa mesti membinasakannya?" ia


berbisik.

Buyung Ciu-ti menatapnya tajam-tajam, tiba-tiba ia berkata:

"Akupun berharap kepadamu agar kau bisa memahami


tentang satu persoalan...."

"Coba katakan!"

"Aku bertekad membinasakan orang itu, bahkan engkau pula


yang harus melaksanakan tugas ini!"

"Kenapa?"

"Sebab orang itu bernama Cia Siau-hong!"

"Cia Siau-hong dari telaga Liok-sui-ou?" kata Yan Cap-sa


dengan wajah agak berubah.

"Ya, dialah orangnya!"

Di ruang tengah perkampungan Sin-kiam-san-ceng yang


berada di bukit Cui-im-hong telaga Liok-sui-ou, terbentang
sebuah papan nama yang besar sekali.
Pendekar Gelandangan 65

Di atas papan nama itu terukirlima huruf besar,lima huruf


yang terbuat dari emas:

"Thian-he-tit-it-kiam" Pedang nomor wahid di dunia.

Bukan berarti orang-orang dari perkampungan itu tekebur


dan membanggakan diri dengan memberi julukan buat
perkampungan sendiri. Julukan itu mereka dapatkan dari
hadiah para jago pedang yang bertanding di puncak bukit Hoa-
san, dengan setail emas murni tiap orang, mereka ciptakan
papan nama itu dan diberikan untuk Cia Thian.

Cia Thian adalah pemilik pertama dari perkampungan Sin-


kiam-san-ceng.

Kejadian ini sudah berlangsung lama, lama sekali, sekalipun


huruf emas pada papan nama itu masih memancarkan sinar
gemerlapan, nama julukan Thian-he-tit-it-kiam sudah tidak
berwujud lagi.

Pada seratus tahun belakangan ini, sudah tiada seorang


manusiapun yang dapat disebut jago pedang nomor wahid di
dunia.

Kejayaan serta kepamoran Sin-kiam-san-ceng pun makin lama


ikut semakin redup sehingga tiba pada generasi ini.

Ya, generasi sekarang memang berbeda dengan generasi-


generasi sebelumnya, sebab pada generasi sekarang telah
muncul seorang manusia yang luar biasa, bukan ilmu
pedangnya saja yang lihay, bahkan sastrapun tak kalah
Pendekar Gelandangan 66

hebatnya.

Orang ini pernah mengalahkan Hoa Sau-kun seorang jago


pedang dari perguruan Hoa-san pada tiga belas tahun
berselang.

Ketika itu dia baru berusia sebelas tahun.

Sejak dilahirkan, orang ini seakan-akan telah membawa


datang segala kebahagiaan dan kejayaan.

Setelah ia dilahirkan, tak seorang manusiapun di dunia ini


dapat menandingi kejayaan serta ketenaran yang
diperolehnya.

Dia adalah seorang jago pedang yang tiada duanya di dunia


ini, seorang manusia berbakat dari dunia persilatan. Bukan
saja ia cerdik, gagah dan perkasa, iapun seorang pendekar
sejati yang berjiwa jujur dan penuh kebijaksanaan.

Dalam sejarah kehidupannya, walaupun siapapun juga orang


itu, jangan harap bisa menemukan setitik kelemahan dari
tubuhnya.

Orang itu bukan lain adalah Sam-sauya (Tuan muda ketiga)


dari perkampungan Sin-kiam-san-ceng.

Orang ini tak lain adalah Cia Siau-hong.

Suasana dalam hutan sangat hening, ditengah kelembaban


udara disekitar tempat itu, terendus bau daun yang mulai
membusuk.
Pendekar Gelandangan 67

Tapi Yan Cap-sa seolah-olah tidak merasakan bau itu, bahkan


napasnya nyaris terenti ketika mendengar nama orang itu.

Lewat lama, lama sekali, ia baru menghembuskan napas


panjang.

"Aku mengetahui orang ini," demikian bisiknya.

"Ya, sudah tentu kau harus tahu, sebab kalian masih


mempunyai sebuah janji yang tak akan buyar sebelum mati"

Yan Cap-sa tak dapat menyangkal perkataan itu, katanya:

"Ya, aku memang telah berjanji untuk menjumpainya"

"Kau tak pernah batalkan setiap perjanjian yang telah kau


buat..... bukan?" tanya Buyung Ciu-ti.

"Selamanya tak pernah!"

"Kalau begitu perjanjianmu kali ini mungkin adalah


perjanjianmu yang terakhir"

"Masa iya?"

"Pernah kusaksikan permainan pedangmu, tapi kau masih


bukan tandingannya!"

"Kalau sudah tahu, mengapa masih menyuruh aku untuk


membunuhnya...?" Yan Cap-sa tertawa getir.
Pendekar Gelandangan 68

"Sebab kau telah bertemu denganku"

"Kau.....!"

"Ilmu pedangnya sudah berhasil melebur jadi satu dengan


perasaan dan jiwanya, hampir boleh dibilang telah melampaui
batas maksimal dari suatu permainan pedang"

"Aaaai....dia memang seorang yang berbakat, akupun pernah


menyaksikan dia turun tangan", Yan Cap-sa menghela napas.

"Sudah kau temukan juga titik kelemahan dibalik permainan


pedangnya?"

"Masa dalam permainan pedangnya masih ada titik


kelemahan? Tidak mungkin ada"

"Ada!"

"Sungguh ada?"

"Pasti ada, meski hanya setitik saja"

"Dan kau tahu?"

"Hanya aku seorang yang tahu!"

Mencorong sinar tajam dari balik mata Yan Cap-sa.

Ia percaya apa yang dikatakan bukan kata-kata bohong,


seandainya di kolong langit masih ada seorang yang
mengetahui titik kelemahan dalam permainan pedang Sam-
Pendekar Gelandangan 69

sauya, maka orang itu pasti adalah dia.

Sebab mereka pernah saling mencintai.

Atau paling sedikit dikala mereka akan memiliki bocah itu,


jiwa dan raga mereka pernah bersatu. Hanya seseorang yang
amat dicintainya yang akan mengetahui rahasia tersebut.

Bagi seorang jago pedang yang tiada taranya di dunia ini, titik
kelemahan di dalam permainan pedangnya merupakan suatu
rahasia yang paling besar dalam sejarah hidupnya.

Bukan saja sepasang matanya saja yang memancarkan sinar


tajam, jantung Yan Cap-sa ikut berdebar keras.

Dia seorang yang berlatih pedang pula.

Ia telah mempersembahkan semua jiwa dan cintanya kepada


pedangnya. Persembahan bukan hanya suatu persembahan
yang agung, melainkan suatu pengorbanan pula yang harus
dibayar dengan segala kesengsaraan dan kesulitan.

Tapi pengorbanannya bukan suatu pengorbanan yang sia-sia.

Sinar kebanggaan di sat berhasil merenggut kemenangan,


sudah cukup untuk menyinari seluruh kehidupannya.

Tujuannya berlatih pedang adalah untuk mencari


kemenangan, bukan mencari kematian.

Ya, sudah pasti tidak!


Pendekar Gelandangan 70

Maka di kala ada kesempatan untuk mencari kemenangan,


siapakah yang sudi melepaskannya dengan begitu saja?

Ketika menjumpai sinar matanya yang mencorong, Buyung


Ciu-ti segera memahami bahwa orang itu sudah dibuat
tertarik oleh perkataannya.

Dengan cepat ia berkata lebih lanjut:

"Oleh sebab itu di kolong langit dewasa ini hanya aku seorang
yang bisa membantumu untuk mengalahkan dia, dan hanya
kau seorang yang sanggup membinasakan dirinya"

"Kenapa hanya aku seorang?"

"Sebab asal salah satu jurus dari ketiga belas pedang


perenggut nyawamu mengalami sedikit perubahan, maka kau
sudah sanggup untuk membinasakan dirinya!"

"Jurus yang mana?"

"Jurus ke empat belas!"

Sudah terang dia tahu kalau Toh-mia-cap-sa-kiam hanya


terdiri dari tiga belas jurus, kenapa sekarang dapat muncul
jurus yang ke empat belas? Kalau orang lain, mungkin dia tak
akan habis mengerti.

Tapi Yan Cap-sa mengerti.


Pendekar Gelandangan 71

Walaupun Toh-mia-cap-sa-kiam hanya terdiri dari tiga belas


macam gerakan jurus, namun perubahan yang dikandung di
dalamnya justru terdiri dari empat belas perubahan.

Pada perubahan yang terakhir itulah terkandung seluruh


intisari dari jurus serangannya. Disitulah tersimpan roh atau
nyawa dari permainan pedangnya.

Roh itu memang tidak nampak, tapi tiada seorang


manusiapun yang menyangkal kalau roh itu tak ada.

Tiba-tiba Buyung Ciu-ti melompat bangun. Jangan dilihat


tubuhnya yang lemah gemulai seolah-olah tak bertenaga,
namun dari balik matanya justru memancarkan sinar tajam
yang melebihi tajamnya sembilu.

Ia sedang memandang ke arah Yan Cap-sa, bahkan sepatah


demi sepatah ia sedang berkata:

"Sekarang aku telah menjadi Cia Siau-hong"

Ketika tujuh patah kata itu diutarakan, sinar matanya seakan-


akan telah berubah menjadi semacam hawa pembunuhan
yang menggidikkan hati! Ya, semacam hawa maut yang hanya
dimiliki oleh sekawanan jago lihay yang sudah terbiasa
membunuh orang.

Mungkinkah perempuan muda yang lemah lembut dan tak


bertenaga itu sudah pernah membunuh orang? Berapa orang
yang telah dibunuhnya?

Yan Cap-sa tidak bertanya, diapun merasa tak perlu bertanya,


Pendekar Gelandangan 72

sebab ia dapat menduganya.

Buyung Ciu-ti telah mematahkan sebatang ranting, lalu


berkata:

"Inilah pedangku!"

Setelah ranting tersebut berada di tangannya, perempuan itu


kembali mengalami perubahan.

Hawa pembunuhan yang mengerikan dan menggidikkan hati


itu bukan hanya terdapat di dalam pancaran matanya saja, di
tubuhnya ada, di seluruh bagian tubuhnya ikut ada.

"Sekarang perhatikan baik-baik, awasi dengan seksama, inilah


satu-satunya titik kelemahan yang terdapat di dalam ilmu
pedangnya", Buyung Ciu-ti berkata.

Segulung angin berhembus lewat, angin itu secara tiba-tiba


terasa begitu dingin.

Tubuhnya, maupun pedangnya sudah mulai melakukan


gerakan, semacam gerakan yang begitu lambat, begitu indah
sebebas angin yang berhembus lewat.

Bila ada angin berhembus lewat, siapakah yang dapat


menahannya?

Siapa pula yang bisa menduga darimana datangnya


hembusan angin itu?

Raut wajah Yan Cap-sa berkerut kencang. Pedangnya pelan-


Pendekar Gelandangan 73

pelan sudah menusuk ke depan.

Pedang itu menusuk tiba-tiba dari suatu arah yang tak dapat
di duga, setelah tertusuk keluar tiba-tiba saja mempunyai
perubahan lagi yang sukar dibayangkan sebelumnya.

Betul juga, dalam perubahan itulah ia menemukan sebuah


titik kelemahan.

Di kala angin puyuh berhembus lewat, benarkah masih


ditemukan bagian-bagian yang terhindar dari hembusan?

Tapi ketika angin puyuh berhembus lewat, benarkah masih


ditemukan bagian-bagian yang terhindar dari hembusan?

Tapi ketika angin puyuh itu berhembus lewat, siapa pula yang
akan menaruh perhatian ke arahsana ?

Tiba-tiba Yan Cap-sa menemukan bahwa telapak tangannya


sudah basah oleh keringat dingin.

Pada saat itulah gerakan tubuh Buyung Ciu-ti berhenti di


tengah jalan.

Ditatapnya Yan Cap-sa dengan pandangan dingin, kemudian


katanya:

"Sekarang apakah kau sudah menemukannya?"

Yan Cap-sa mengangguk.

"Kau dapat menemukannya karena gerakanku sekarang dua


Pendekar Gelandangan 74

puluh empat kali lebih lambat daripada gerakannya"

Yan Cap-sa percaya bahwa perkiraannya itu tepat dan tak


mungkin salah.

Bila seorang jago yang sungguh-sungguh jago memberikan


penilaiannya, maka penilaiannya itu sepuluh kali lipat akan
lebih cocok daripada penilaian petugas pegadaian.

"Bila aku benar-benar turun tangan, meskipun lebih lambat


sedikit darinya, tapi tak akan lambat terlalu banyak", kata
Buyung Ciu-ti.

Yan Cap-sa mau tak mau harus mempercayainya.

Sekarang ia baru menyadari bahwa perempuan yang


tampaknya lemah gemulai seakan-akan tak bertenaga itu
hakekatnya adalah jagoan lihay yang belum pernah
dijumpainya selama hidup.

"Sekarang aku telah bersiap sedia untuk melancarkan


serangan!", kata Buyung Ciu-ti tiba-tiba.

"Melancarkan serangan? Siapa yang hendak kau hadapi?"

"Kau!"

Pelan-pelan Yan Cap-sa menghembuskan napas panjang.

"Apakah kau hendak membuktikan dapatkah aku


memecahkan seranganmu itu?"
Pendekar Gelandangan 75

"Betul!"

"Bila aku berhasil memecahkan serangan tersebut, bukankah


kau bakal mati secara mengenaskan di ujung pedangku?"

"Tentang hal ini kau tak perlu kuatir"

"Seandainya aku belum berhasil juga untuk memecahkan


seranganmu itu....?", Yan Cap-sa bertanya hati-hati.

"Maka kau harus mampus!"

Setelah berhenti sebentar, lanjutnya dengan suara dingin:

"Sebab bila kau belum berhasil juga untuk memecahkan


serangan tersebut, sekalipun kau tetap hidup juga tak akan
mendatangkan manfaat apa-apa untukku, maka lebih baik kau
mati saja"

ooooOOOOoooo
Pendekar Gelandangan 76

Bab 2. Pedang Pembunuh Manusia

Suasana dalam hutan hening, sepi, tak kedengaran suara


apapun, termasuk pembicaraan manusia.

Yan Cap-sa sedang memandang ranting di tangan perempuan


itu sambil termenung, ia seakan-akan sedang memikirkan
sesuatu.

"Mengapa kau belum mencabut pedangmu?", tanya Buyung


Ciu-ti tiba-tiba.

"Pedangku sudah berada di tangan, setiap saat dapat kucabut


keluar, dan kau?"

"Inilah pedangku!"

"Bukan, itu bukan pedang"

"Meskipun wujudnya bukan pedang, tapi dalam


genggamanku dapat berubah menjadi senjata pembunuh"

"Aku tahu. Kau dapat membunuh orang dengan benda itu,


tapi pada hakekatnya wujud sebenarnya tak lain hanya sebuah
ranting kering"

"Asal bisa digunakan untuk membunuh orang meskipun


bentuknya hanya ranting atau pedang sungguhan toh tiada
bedanya"

"Tetap ada bedanya!"


Pendekar Gelandangan 77

"Apa bedanya?"

"Benda itu dapat membunuh orang, tapi hingga kini belum


pernah melakukannya, berbeda dengan pedangku"

Dengan penuh kasih sayang laki-laki itu membelai pedangnya,


lalu berkata lebih lanjut:

"Sudah sembilan belas tahun pedang ini mengikutiku,


manusia yang mampus di ujung pedang inipun sudah
mencapai enam puluh tiga orang"

"Aku tahu, tak sedikit memang manusia yang telah kau


bunuh"

"Sebetulnya pedang ini tidak lebih cuma sebilah pedang yang


sederhana, tapi sekarang ia telah menghirup dari enam puluh
tiga orang, ya, enam puluh tiga orang pembunuh yang tak
berperasaan, enam puluh tiga lembar sukma penasaran"

Ia masih membelai terus pedangnya, setelah menarik napas


panjang, pelan-pelan lanjutnya:

"Aku merasa pedangku sekarang seolah-olah sudah


bernyawa, ia sangat bernapsu ingin menghirup darah orang
lain, ia berharap orang lain dapat mampus di ujung
pedangnya"

"Apakah dia yang memberitahukan ke semuanya itu


kepadamu?", ejek Buyung Ciu-ti sambil tertawa dingin.

"Tentu saja ia tak dapat memberitahukan kepadaku, tapi aku


Pendekar Gelandangan 78

dapat merasakannya"

"Merasakan apa?"

"Bila ia sudah keluar dari sarungnya, seorang pasti akan


terbunuh, kadangkala bahkan aku sendiripun tak sanggup
untuk mengendalikannya"

Apa yang diucapkan bukan cerita tahayul, tapi suatu


kenyataan.

Bila kaupun memiliki pedang semacam ini, bila kaupun


pernah membinasakan enam puluh tiga orang, maka kau pasti
akan mempunyai perasaan seperti ini.

Sekali lagi Yan Cap-sa memperhatikan ranting di tangan itu,


kemudian berkata:

"Ranting kering di tanganmu itu sudah mati, ia tidak


mempunyai gairah untuk membunuh orang, sedang kau
sendiripun tidak bersungguh-sungguh ingin membinasakan
diriku"

Ia mendongakkan kepalanya dan menatap sepasang matanya


tanpa berkedip, kemudian menambahkan:

"Sebab pada hakekatnya kau bukan Cia Siau-hong!"

Bibir Buyung Ciu-ti sudah memucat, mukanya ikut memutih,


mungkin ucapan tersebut sangat mengena dalam hatinya.

Selembar daun melayang jatuh, tepat dihadapannya.


Pendekar Gelandangan 79

Sambil memandang benda itu, gumamnya:

"Apakah daun tersebut kini juga sudah mati?"

"Ya, daun itu sudah mati!"

"Tapi belum lama berselang ia masih berada di atas ranting,


dia masih hidup segar"

Kalau daun belum rontok dari rantingnya tentu saja masih


hidup, setelah terjatuh ke tanah apakah masih dapat
dikatakan hidup?

"Benarkah kehidupan manusia harus menyerupai nasib dari


daun tersebut?", keluh Buyung Ciu-ti.

"Aku dapat memahami perasaanmu", bisik Yan Cap-sa.

"Kau sungguh-sungguh dapat memahami?"

"Ya, untuk menghidupkan bocah itu dan memeliharanya


hingga dewasa, tentu sudah banyak penderitaan yang kau
alami, maka cintamu kepadanya tak mungkin dapat
menandingi rasa benci dan dendammu kepadanya"

Buyung Ciu-ti tidak menyangkal, dia hanya membungkam.

"Oleh karena itu, kaupun tidak merasa sayang terhadap jiwa


dan kehidupanmu," Yan Cap-sa melanjutkan, "asal aku dapat
memecahkan seranganmu itu, meski kau bakal mati di ujung
pedangku, kaupun akan mati dengan hati yang rela".
Pendekar Gelandangan 80

Ia menghela napas panjang, katanya:

"Sayang kau keliru besar!"

"Aku keliru?"

"Ya, karena meskipun aku dapat memecahkan seranganmu,


belum berarti dapat memecahkan serangan dari Cia Siau -
hong".

Ditatapnya perempuan itu tajam-tajam, lalu meneruskan:

"Sebab pedang yang kau gunakan bukan sebilah pedang


pembunuh, kaupun bukan Cia Siau-hong".

Tiba-tiba sepasang tangan Buyung Ciu-ti terjulur ke bawah


dengan lemas, hawa pembunuhan yang semula menyelimuti
wajahnya kini ikut lenyap tak berbekas, air matanya sudah
bercucuran membasahi pipinya.

"Tapi aku dapat mengabulkan permintaanmu itu", kata Yan


Cap-sa lebih lanjut, "bila ada kesempatan, dia pasti akan
kubunuh!"

Buyung Ciu-ti merasakan semangatnya kembali berkobar.

"Kau merasa mempunyai berapa bagian keyakinan?",


tanyanya.

"Sebetulnya sebagianpun tak punya!", jawab Yan Cap-sa


sambil tertawa getir.
Pendekar Gelandangan 81

"Dan sekarang?"

"Sekarang paling sedikitpun sudah ada empatlima bagian"

"Jadi kau telah berhasil menemukan cara pemecahannya?"

"Coba lihatlah!", tiba-tiba Yan Cap-sa memungut sebatang


ranting kering di atas tanah.

Gerakan tubuhnya itu sederhana dan lagi bebal, tapi sinar


mencorong keluar dari balik mata Buyung Ciu-ti.

Perempuan itu tahu, ia telah berhasil menemukannya.

Ya, seandainya ilmu pedang dari Sam-sauya adalah sebuah


gembokan, maka dia telah berhasil menemukan anak kunci
pembuka gembokan tersebut.

Ketika sebuah tusukan dilancarkan, kebetulan ada segulung


angin berhembus lewat.

Tiba-tiba ranting kering di tangan Yan Cap-sa itu berubah


menjadi bubuk yang lembut, dalam waktu yang singkat bubuk
tersebut sudah terhembus hingga lenyap tak berbekas.

Seandainya ia melancarkan serangan dengan memakai


sebilah pedang sungguhan, dapat di bayangkan sampai
dimanakah kekuatan yang disertakan dalam tusukan tersebut.

Buyung Ciu-ti menghembuskan napas panjang dan pelan-


pelan duduk kembali, katanya:
Pendekar Gelandangan 82

"Sekarang, kau pergilah!"

Ketika Yan Cap-sa tiba di luar hutan, si Memuakkan masih


bermain di tempat itu.

Hanya si Memuakkan seorang, pada tangan kirinya


memegang sebuah paha ayam, padahal mulutnya masih
mengunyah buah pir.

Di sekeliling tempat itu tak ada penjaja makanan ataupun


buah-buahan, entah makanan-makanan tersebut ia dapatkan
dari mana.

Yan Cap-sa memang suka dengan bocah ini, apalagi bila


terbayang kembali kisah kehidupannya, ia semakin menaruh
perasaan simpatik.

Untungnya bocah itu sepertinya sudah pandai membawa diri


dan merawat dirinya baik-baik.

Ketika itu, si Memuakkan sedang memandang ke arahnya


dengan sepasang mata yang terbelalak besar.

Yan Cap-sa menghampirinya dan menepuk bahunya, lalu


berkata:

"Cepatlah pulang, encimu sedang menunggu kau"

"Mau apa dia menunggu aku?"

"Karena.....karena dia sangat memperhatikan dirimu"


Pendekar Gelandangan 83

"Buat apa dia menaruh perhatian kepadaku?"

"Apakah kau beranggapan bahwa selama ini tak ada orang


yang pernah menaruh perhatian kepadamu?"

"Ya, selamanya memang tak ada, bahkan separuh


manusiapun tak ada. Aku adalah si Memuakkan, siapapun
muak melihatku, belum pernah ada orang yang tidak muak
melihat tampangku"

Ia menggigit paha ayam di tangannya, lalu menambahkan:

"Tapi, sedikitpun aku tak ambil perduli!"

Memandang raut wajahnya yang manis dan menawan, tiba-


tiba Yan Cap-sa merasa hatinya menjadi kecut.

Di sekitar tempat itu tak ada orang lain, sesosok bayangan


manusiapun tak ada, kembali ia tak tahan dan bertanya:

"Kemana perginya temanku?"

"Temanmu yang mana?"

"Si Burung Gagak!"

"Dalam hutan ini tak ada burung gagak, yang ada cuma
burung-burung gereja!"

"Maksudku orang yang berada bersamaku tadi, ia bernama si


burung gagak..." Yan Cap-sa menerangkan.
Pendekar Gelandangan 84

Si Memuakkan mengedipkan matanya, lalu berkata:

"Apakah kau pernah membayar uang jaminan kepadaku?


Pernahkah kau minta kepadaku untuk menjaga dirinya?"

"Tidak pernah!"

"Nah, kalau tidak pernah, dengan dasar apa kau ajukan


pertanyaan kepadaku?"

"Karena.... karena aku rasa kau pasti tahu kemana ia telah


pergi.........."

"Tentu saja aku tahu, tapi dengan dasar apa aku musti
memberitahukan hal ini kepadamu?"

Yan Cap-sa terbungkam, dia hanya bisa tertawa getir.

Ya, kadangkala pertanyaan yang diajukan seorang bocah


memang sukar untuk dijawab sebagaimana mestinya.

Kembali si Memuakkan menggigit buah pir-nya, tiba-tiba ia


berkata:

"Tapi belum tentu aku tak akan memberitahukan kepadamu!"

"Apa yang harus kulakukan sehingga kau bersedia


memberitahukan hal ini kepadaku?"

"Bila kau ingin bertanya kepadaku, sedikit banyak harus kau


bayar dulu ongkos untuk bertanya?"
Pendekar Gelandangan 85

Tangan Yan Cap-sa sudah merogoh sakunya, tapi setengah


harian ia merogoh tak sepotong bendapun yang berhasil
didapatkan.

"Kalau kulihat dari dandananmu serta pakaianmu yang


perlente, tampaknya seperti orang yang kaya, masa kau betul-
betul kosong melompong Cuma kerak kosong belaka?"

"Mungkin, karena selama ini belum pernah ada orang yang


minta ongkos bertanya kepadaku"

Si Memuakkan menghela napas panjang:

"Aaaai.... Kalau toh sang kayu tak dapat mengeluarkan


minyak, terpaksa aku harus mengakui lagi sial. Kalu begitu tulis
saja nota hutang untukku"

"Nota hutang?"

"Bukankah kau ingin bertanya? Siapa bertanya dia harus


membayar ongkos bertanya dan sekarang kau tak punya uang,
lain hari tentu punya bukan.....?"

"Di sini tak ada kertas tak ada pit, aku musti menulis nota
hutang itu dengan apa?"

"Gunakan pedangmu untuk menyayat kulit pohon dan tulislah


nota hutang itu di atas kulit pohon dengan pedangmu"

"Pandai amat kau berpikir!" keluh Yan Cap-sa sambil tertawa


getir.
Pendekar Gelandangan 86

Dalam keadaan begini, terpaksa dia menuruti kemauan orang.

"Berapa yang kau minta?" tanyanya kemudian.

"Satu huruf yang ditulis, sepuluh huruf juga harus ditulis,


kalau toh sama-sama harus menulis lebih baik tulis saja yang
rada banyakan sedikit"

Sepasang biji matanya berputar-putar, lalu terusnya:

"Kalau begitu.....yaaa, tulislah sepuluh laksa tahil perak,


meskipun terlampau sedikit bagiku tak apalah, terhadap orang
miskin macam kau, memang aku harus bertindak bijaksana"

Yan Cap-sa membelalakkan sepasang matanya serta


memperhatikan bocah itu dari atas hingga ke bawah sebanyak
beberapa kali.

Seorang bocah yang baru berusia tujuh tahun, ternyata begitu


buka suara lantas minta sepuluh laksa tahil perak, bagaimana
nantinya setelah dewasa?

"Aku tahu dalam hati kecilmu sekarang sedang berpikir,


sekecil ini aku sudah pandai mencari untung, bagaimana
nantinya setelah menjadi dewasa........"

"Darimana kau bisa tahu apa yang sedang kupikirkan?"

"Sebab perkataan semacam ini sudah berulang kali diajukan


orang lain kepadaku"
Pendekar Gelandangan 87

"Lantas bagaimana kau menjawabnya?"

"Aku jawab, kalau sekarang sudah pandai memeras, setelah


dewasa nanti pasti akan menjadi hartawan yang kaya raya,
alasan semudah ini masa tak bisa kau pahami!"

Yan Cap-sa tertawa, ia benar-benar tertawa.

Bocah ini benar-benar pandai merawat diri.

Bila seorang bocah yang tidak memperoleh perawatan,


ternyata untuk merawat diri sendiripun tak bisa, itu baru
namanya celaka.............

Oleh karena itu jumlah uang yang ditulis Yan Cap-sa dalam
nota hutangnya bukan sepuluh laksa tahil perak,
melainkanlima puluh laksa tahil perak....suatu jumlah yang
cukup lumayan.

Si Memuakkan tertawa lebar setelah membaca tulisan itu,


katanya:

"Aku minta sepuluh laksa, tapi kau memberilima puluh laksa,


tampaknya meski kau miskin, tapi cukup sosial untuk
mengeluarkan uang"

"Kalau orang sosial dalam mengeluarkan uang, apakah dia


yang miskin?"

"Betul, memang seharusnya bukan orang miskin"

"Nah, setiap perkataan yang masuk diakal musti kau catat


Pendekar Gelandangan 88

sebaik-baiknya di dalam hati, bila kau tak ingin miskin, maka


jangan terlalu besar mengeluarkan uang, lebih-lebih lagi
jangan kau buang uangmu dengan begitu saja"

"Punya uang tak boleh royal, bukankah keadaan semacam ini


tak berbeda jauh dengan orang yang tak beruang?"

Sekali lagi Yan Cap-sa tertawa setelah mendengar perkataan


itu.

Ia benar-benar amat menyukai bocah ini, tapi ia lupa untuk


memikirkan soal lainnya......

Ia lupa kalau diapun ingin membinasakan ayah dari si bocah


itu......... bahkan sangat ingin.

Limapuluh laksa tahil perak, yaa! Dengansurat hutang itu ia


dapat menerima suatu jumlah uang yang sangat besar, tapi si
Memuakkan memasukkan nota tersebut dengan begitu saja
ke dalam sakunya, seakan-akan dia menganggap kertas itu
sebagai selembar kertas tak terpakai.

"Walaupun sekarang aku tak punya uang, tapi setiap saat aku
bisa mempunyai uang", kata Yan Cap-sa.

"Aku mengerti, kalau tidak buat apasurat hutangmu musti


kuterima.........."

"Setiap saat kau berjumpa denganku, boleh kau minta uang


tersebut dariku!"

"Aku tahu!"
Pendekar Gelandangan 89

"Oleh karena itu,surat tanda hutang itu musti kau simpan


sebaik-baiknya agar jangan sampai hilang!"

"Kalau sampai hilang, anggap saja kau yang beruntung dan


aku yang lagi sial, tiada sesuatu yang luar biasa"

Sambil mengerdipkan matanya, kembali bocah itu


melanjutkan:

"Seperti juga bila kau cepat mampus, akupun hanya bisa


mengakui kesialanku sendiri, sebab manusia semacam kau
memang bisa mampus setiap saat"

Yan Cap-sa tertawa tergelak.

Ia benar-benar tertawa tergelak, tapi bagaimanakah perasaan


sesungguhnya?

Siapa yang tahu?

Manusia yang hidup dalam dunia persilatan ibaratnya daun


yang terhembus angin puyuh, setiap saat daun tersebut
kemungkinan rontok dan mati................

Ketika ia menyelesaikan gelak tertawanya, si Memuakkan


baru berkata:

"Sahabatmu itu pergi ke belakang bukit sebelah depansana !"

"Mau apa kesana ?"


Pendekar Gelandangan 90

"Tampaknya mau beradu jiwa!"

"Beradu jiwa? Beradu jiwa dengan siapa?"

"Agaknya seorang bocah keparat yang memakai hurufPing


sebagai namanya.....!"

Mungkinkah Cho Ping?

Mungkinkah selama ini dia selalu membuntuti perjalanannya?


Mungkinkah dia yang telah membayar semua rekening buat
mereka?

Kalau memang benar, mengapa ia mencari si Burung Gagak


untuk diajak beradu jiwa?

Yan Cap-sa tidak menguatirkan keselamatan si burung gagak,


ia tahu Cho Ping masih bukan tandingan si burung gagak.

Tapi, dugaan ini ternyata keliru besar.

Rumput-rumput di tebing belakangsana sudah pada layu, tapi


darah yang menodainya tampak merah segar.

Itulah darahnya si burung gagak.

Si gagak sudah roboh, roboh terkapar diantara rumput-


rumput yang layu, darahnya membasahi rerumputan,
menodai pula pakaiannya.

Darah itu meleleh keluar dari tenggorokannya hanya tiga inci


dari tempat yang mematikan.
Pendekar Gelandangan 91

Justru karena masih ada selisih tiga inci, maka ia masih hidup
hingga kini.

Siapakah yang melukainya?

"Apakah Cho Ping?", tegur Yan Cap-sa sambil memburu ke


depan.

Si burung gagak mengangguk.

"Apakah kau yang sengaja mengalah kepadanya?", kembali


Yan Cap-sa bertanya dengan wajah terperanjat.

Si burung menggeleng.

Yan Cap-sa lebih terperanjat lagi, jelas hal ini sudah terjadi,
tapi ia masih belum mempercayainya.

Si burung gagak tertawa getir, katanya:

"Aku tahu kau tak akan percaya, bahkan aku sendiripun tidak
percaya, aku pernah menyaksikan bocah keparat itu turun
tangan"

"Tapi kau....."

"Sebenarnya aku mempunyai keyakinan untuk


merobohkannya dalam tiga jurus, bahkan aku seyakin-
yakinnya"

"Tapi sekarang yang roboh justru adalah kau sendiri!"


Pendekar Gelandangan 92

"Ya, itulah disebabkan oleh kesalahanku sendiri!"

"Kesalahan dalam bagian yang mana?"

"Aku pernah menyaksikan ia turun tangan, perubahan jurus


pedangnya juga telah kupahami, ilmu pedang aliran Thiam-
cong tak nanti sanggup untuk melukaiku"

"Jadi ilmu pedang yang digunakan bukan ilmu pedang Thiam-


cong-pay?"

"Pasti bukan!"

"Lalu ilmu pedang apa yang dia gunakan?"

"Aku tidak tahu"

"Masa kaupun tak dapat mengetahuinya?"

"Perubahan jurus tersebut bukan saja tak dapat kupahami,


bahkan membayangkanpun tidak"

"Hanya satu jurus? Hanya satu jurus saja kau telah terluka di
tangannya.....", Yan Cap-sa tidak percaya.

"Ya, sekalipun kau yang menghadapinya, kaupun tak dapat


menyambut serangan tersebut!", jawab si gagak dingin.

Tiba-tiba ia menghela napas panjang, tambahnya:

"Hingga kini aku masih belum dapat membayangkan,


Pendekar Gelandangan 93

siapakah di dunia ini yang sanggup menerima serangan


tersebut?"

Yan Cap-sa tidak bersuara lagi.

Tapi tubuhnya sudah mulai melakukan suatu gerakan.

Ya, suatu gerakan yang begitu lambat dan begitu indah,


selembut hembusan angin yang sedang menyambar lewat.

Kemudian pedangnya itu pelan-pelan menusuk ke depan.

Pedang itu menusuk datang dari suatu arah yang tak


terbayangkan, setelah menusuk ke luar tiba-tiba diikuti pula
dengan suatu perubahan yang tak dapat dibayangkan
sebelumnya.

Dengan terkejut si gagak memandang ke arahnya, lalu


berteriak keras:

"Betul, jurus serangan inilah yang dia pergunakan!"

Rerumputan telah mengering, darah telah mengering.

Yan Cap-sa duduk termenung di hadapan si burung gagak.

"Darimanakah kau bisa mengetahui kalau jurus itu yang ia


gunakan?", tanya si burung gagak ingin tahu.

"Karena hanya serangan itu yang mampu mengalahkan


dirimu!", jawaban Yan Cap-sa amat lirih.
Pendekar Gelandangan 94

"Sudah jelas jurus serangan itu bukan jurus pedang aliran


Thiam-cong-pay, juga bukan ilmu pedangmu!"

"Tentu saja bukan!"

"Lantas jurus serangan milik siapakah itu?"

"Seharusnya kau dapat menebaknya"

"Jadi, jurus itu milik Sam-sauya?"

"Kecuali dia siapa lagi?"

"Tapi paling sedikit kau bisa menggunakan jurus itu, Cho Ping
juga bisa!"

Yan Cap-sa tertawa getir, ia tak menyangka Cho Ping secara


diam-diam mencuri belajar pula serangan tersebut.

Waktu itu mereka terlalu memusatkan perhatiannya,


hakekatnya mereka tidak memperhatikan kalau di dalam
hutan masih ada orang lain.

Ia lebih-lebih tidak menyangka kalau Cho Ping akan


mempergunakan si burung gagak untuk mencoba jurus
pedangnya.

Tiba-tiba ia teringat akan satu persoalan.

Orang yang akan dicari ChoPing berikutnya pasti adalah Cia


Siau-hong.
Pendekar Gelandangan 95

Cia Siau-hong, Sam-sauya (Tuan muda ketiga) dari


perkampungan Sin-kiam-san-ceng.

Siapakah yang dijumpai Yan Cap-sa dalam hutan? Secara


bagaimana mereka bisa mempelajari ilmu pedang dari Sam-
sauya?

Beberapa persoalan itu tidak ditanyakan si burung gagak,


sebab ia cukup memahami manusia macam apakah Yan Cap-
sa itu.

"Kalau kau ingin pergi ke Sin-kiam-san-ceng, cepatlah pergi,


aku tetap tinggal di sini", demikian katanya.

Yan Cap-sa memang ingin cepat-cepat berangkat kesana,


sebab bila ChoPing dapat mencuri belajar jurus serangan dari
Sam-sauya, berarti telah curi belajar pula jurus pemunah
serangannya.

Ia benar-benar tak ingin menyaksikan orang lain


menggunakan jurus pedangnya untuk memecahkan serangan
dari Sam-sauya.

Sebab hak dan kebanggaan tersebut merupakan miliknya,


sekalipun serangan tersebut tidak berhasil ia pecahkan, yang
pantas mati adalah dia, bukan orang lain.

"Tapi kau sudah terluka, bila kutinggalkan seorang diri di


sini......", mau tak mau dia harus berkuatir bagi keselamatan si
burung gagak.

Burung gagak bukan jenis burung yang disenangi orang,


Pendekar Gelandangan 96

diapun bukan orang yang bersedia menerima kebaikan orang.

Tentu tak banyak orang yang ingin membunuh si burung


gagak.

Si burung gagak tertawa dingin, lalu katanya:

"Kau tak usah kuatir, aku tak mungkin mampus, yang harus
dikuatirkan bukan aku melainkan kau sendiri"

"Aku sendiri?"

"Jarak dari tempat ini sampai ke telaga Liok-sui-ou tidak


terlampau jauh, sepanjang jalan tak mungkin ada orang yang
akan membayarkan rekening-rekeningmu lagi"

Cho Ping pasti sudah mendapatkan kereta yang paling


nyaman dan paling cepat, jalan yang dilaluipun pasti
merupakan jalanan yang paling cepat.

Seseorang yang "tong-pes" alias kantong kempes hanya bisa


melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, sekalipun ia
berhasil mendahului Cho Ping, setelah tiba di perkampungan
Sin-kiam-san-ceng, satu-satunya orang yang bakal menderita
kekalahan mungkin juga dia sendiri.

"Kecuali kau mempunyai nasib yang lebih baik", demikian si


burung gagak berkata, "atau dalam waktu singkat dapat
bertemu seseorang yang punya uang banyak, mengendarai
kuda cepat, kemudian kau merampas uangnya dan merampas
pula kudanya"
Pendekar Gelandangan 97

"Kau tak usah kuatir, pekerjaan semacam itu bukannya tak


dapat kulakukan....", kata Yan Cap-sa sambil tertawa.

Si burung gagak ikut tertawa.

Tiba-tiba dua orang itu mengulurkan tangannya dan saling


menggenggam dengan eratnya.

"Cepatlah pergi," kata si burung gagak lagi, "asal kau belum


mati, pasti akan kusuruh seseorang untuk menghantarkan
pedangku ini untukmu"

"Bukankah kau pernah berkata, seringkali seseorang yang


sudah hampir mati bisa mempunyai nasib yang lebih baik?"

"Ya, aku memang pernah mengatakan demikian"

"Tampaknya nasib baikmu segera akan datang kembali"

Yang muncul adalah sebuah kereta kuda.

Kuda penariknya adalah kuda jempolan, kereta yang


dihelapun kereta ringan, mereka datang sangat cepat.

Baru saja suara putaran roda dan ringkikan kuda kedengaran


di tempat kejauhansana , tahu-tahu kereta itu sudah muncul
di tikungan bukit sebelah depan.

"Aku percaya pekerjaan semacam ini pasti dapat kau


lakukan", kata si burung gagak.

"Tentu saja!"
Pendekar Gelandangan 98

Meskipun di mulut dia berbicara sok berpengalaman, padahal


ketika benar-benar harus melaksanakannya, dia menjadi
bingung.

Ia benar-benar tidak tahu bagaimana harus mulai


menjalankan aksinya itu.....

Tiba-tiba saja ia merasa bahwa untuk menjadi seorang


penyamun bukanlah suatu pekerjaan gampang segampang
apa yang pernah dibayangkan dahulu.

Tampak kereta kuda itu melaju lewat dari sisi tubuhnya, tapi
ia belum menunjukkan tanda akan melancarkan sergapan.

"Nasib mujur semacam ini tak mungkin akan berlangsung


untuk kedua kalinya", kata si burung gagak dengan kening
berkerut.

"Mungkin aku......"

Belum habis perkataan itu diucapkan, tiba-tiba kereta kuda


itu berhenti tepat di hadapan mereka.

Ia tidak melancarkan serangan, tapi kereta itu berhenti


dengan sendirinya.

Dari dalam ruang kereta segera kedengaran seseorang


berkata dengan suara yang parau dan aneh:

"Wahai orang yang buru-buru ingin melanjutkan perjalanan,


silahkan naik ke atas kereta"
Pendekar Gelandangan 99

Si burung gagak memandang ke arah Yan Cap-sa dan Yan Cap-


sa memandang ke arah si burung gagak.

"Orang yang memiliki nasib sangat mujur belum tentu akan


sungguh-sungguh mati dalam waktu singkat"

Yan Cap-sa tertawa terbahak-bahak.

Pintu kereta sudah terbuka, ia melompat naik dan berkata


sambil tertawa tergelak:

"Pokoknya kalau aku masih hidup, tanggung kau bisa


berjumpa lagi denganku, sekalipun tak ingin bertemu juga tak
bisa"

Siapakah yang berada dalam ruangan kereta itu?

Dalam ruang kereta yang bersih dan nyaman hanya ada


seseorang, ia mengenakan jubah lebar berwarna hitam,
kepalanya di bungkus dengan kain hitam dan mukanya
mengenakan pula kain cadar berwarna hitam.

Yan Cap-sa duduk tepat dihadapannya, ia hanya mengajukan


satu pertanyaan setelah berada di dalam kereta:

"Dapatkah kau angkut diriku ke puncak Cui-im-hong telaga


Liok-sui-ou dengan waktu yang paling cepat?

"Dapat!"

Setelah mendengar jawaban tersebut, Yan Cap-sa menutup


Pendekar Gelandangan 100

mulutnya. Bahkan sepasang matanya ikut pula dipejamkan.

Sebetulnya banyak persoalan yang ingin ditanyakan, tapi


sekarang sepatah katapun tidak ditanyakan.

Ya, dia memang bukan seorang manusia bertipe ingin tahu.

Manusia berbaju hitam itu justru menaruh perasaan ingin


tahu terhadap tamunya, dengan sepasang matanya yang
tajam di balik kain cadar berwarna hitam, ia sedang
menatapnya tanpa berkedip.

Jeli amat sepasang matanya itu.

Kereta kuda itu berjalan sangat cepat, selama ini Yan Cap-sa
hanya pejamkan matanya rapat-rapat, entah tertidur entah
tidak.

Ternyata ia tidak tidur.

Sebab sejak orang berbaju hitam itu mengeluarkan sebuah


poci arak dari laci keretanya dan mulai minum,
tenggorokannya ikut bergetar pula.

Orang yang sudah tertidur tak mungkin dapat mencium bau


harumnya arak.

Sekulum senyuman seperti memancar dari balik mata orang


berbaju hitam itu, dia mengangsurkan botol arak tersebut ke
depan, lalu tegurnya:

"Mau minum seteguk dua tegukan arak?"


Pendekar Gelandangan 101

Tentu saja dia mau.

Di kala Yan Cap-sa mengeluarkan tangannya untuk menerima


botol arak itu, keadaannya seperti orang hampir mati
tenggelam yang tiba-tiba berhasil meraih sebuah balok kayu.

Akan tetapi sepasang matanya masih belum terbentang lebar.

Seandainya ia membuka matanya, maka dengan cepat akan


ditemukan bahwa orang berbaju hitam itu mempunyai
sepasang tangan yang sangat indah.

Bagaimanapun lembutnya seorang pria, jarang sekali mereka


dapat memiliki sepasang tangan yang begini indah.

Padahal, perempuan sedikitpun jarang yang memiliki


sepasang tangan seindah ini, jari-jari tangan yang runcing dan
kurus, tapi panjang, dan kulit yang putih lagi halus.

Ketika Yan Cap-sa mengembalikan botol arak itu.....tentu saja


botol yang sudah hampir kosong.

Tanpa sengaja tangannya telah menyentuh sepasang


tangannya.

Untung dia masih mempunyai sedikit perasaan atau paling


sedikit ia masih dapat merasakan bahwa sepasang tangannya
begitu lembut, begitu halus dan menawan.

Tapi ia tidak menunjukkan reaksi apa-apa, seakan-akan


kelembutan serta kehalusan tersebut tidak dirasakan olehnya.
Pendekar Gelandangan 102

Hampir setengah harian lamanya orang berbaju hitam itu


menatapnya, tiba-tiba ia bertanya:

"Sesungguhnya kau ini manusia atau bukan?"

Suaranya masih separau dan seaneh tadi, padahal orang yang


memiliki sepasang tangan sebagus itu tidak seharusnya
mempunyai suara sejelek itu.

Ternyata jawaban dari Yan Yan Cap-sa sederhana sekali.

"Aku adalah manusia!"

"Apakah manusia hidup?"

"Ya, hingga detik ini aku masih hidup!"

"Tapi kau tidak ingin tahu siapakah aku?"

"Aku tahu kaupun seorang manusia, bahkan pasti seorang


yang masih hidup"

"Cukupkah itu?"

"Cukup sekali!"

"Keretaku bukan kudapatkan dari mencuri, arak yang kau


minum juga bukan kuperoleh dengan jalan mencuri, kenapa
tanpa sebab tanpa musabab kau ku undang naik ke kereta, ku
antar kau ke telaga Liok-sui-ou, bahkan mengundang kau
minum arak pula?"
Pendekar Gelandangan 103

"Karena kau sedang senang!"

Jawaban itu membuat si orang berbaju hitam tertegun,


bahkan tidak tanggung-tanggung tertegun sampai setengah
harian, setelah itu ia baru tertawa cekikikan.

Sekarang suaranya telah berubah, ya berubah menjadi begitu


merdu, begitu lengking dan menawan hati.

Kini, barang siapa merasa dirinya manusia, dia pasti akan tahu
kalau orang itu adalah seorang perempuan, bahkan pasti
seorang perempuan yang cantik dan menarik hati.

Setiap pria tentu senang menyaksikan perempuan yang


cantik.

"Kau tidak ingin tahu siapakah diriku?", kembali orang


berbaju hitam itu bertanya.

"Tidak ingin!"

"Kenapa?"

"Karena aku tak ingin mencari kesulitan bagi diriku sendiri"

"Jadi kau tahu kalau aku bakal mendatangkan kesulitan?"

"Bila tanpa sebab musabab seseorang mengundangku naik


kereta dan menjamu minum arak kepadaku, sedikit banyak
orang itu pasti mempunyai penyakit"
Pendekar Gelandangan 104

"Ada penyakit? Atau ada kesulitan?"

"Bila seseorang mempunyai penyakit, maka sedikit banyak dia


pasti akan mendatangkan kesulitan"

Kembali orang berbaju hitam itu tertawa, suara tertawanya


kedengaran semakin menarik hati.

"Mungkin setelah kau mengetahui siapakah aku, sekalipun


bakal menimbulkan banyak kesulitan, kesulitan itu berharga
untuk kau alami"

"Oya?!"

"Tentu saja, sebab aku adalah seorang perempuan yang


cantik dan menawan hati, tentu selalu berharap agar orang
lain ikut menyaksikan keindahannya"

"Oya?!"

"Bila orang lain menolak permohonannya dia pasti akan


menganggap kejadian itu sebagai semacam cemoohan atau
penghinaan, dia pasti akan merasa bersedih hati"

Pelan-pelan orang itu menghela napas panjang, terusnya:

"Bila seorang perempuan sedang bersedih hati atau kesal,


kadangkala ia dapat melakukan segala perbuatan yang
membingungkan!"

"Misalkan perbuatan apa?", tanya Yan Cap-sa.


Pendekar Gelandangan 105

"Misalnya, mungkin saja dia akan mengusir tamu yang telah di


undangnya naik ke dalam kereta"

Yan Cap-sa mulai menghela napas.

Ketika ia mulai bernapas, sepasang matanya sudah


dibuka......tapi hanya sekejap mata kemudian dipejamkan
kembali, seakan-akan ia menjumpai setan mengerikan secara
tiba-tiba.

Ya, karena yang terlihat olehnya sudah bukan seseorang yang


terbungkus di balik kain hitam lagi.

Tentu saja yang dijumpainya ketika itu bukan setan.

Baik di langit maupun di bumi, mana mungkin bisa dijumpai


setan yang menawan hati?

Ia telah menjumpai seorang perempuan.

Seorang perempuan yang betul-betul telanjang bulat, dari


atas hingga bawah tubuhnya berada dalam keadaan polos,
secuil kainpun tak kelihatan, semua bagian tubuhnya kelihatan
jelas, begitu terang membuat orang merasa berdebar.

Tubuh itu begitu halus, begitu putih dan begitu lembut,


sebagian besar berwarna putih pualam, tapi ada bagian-
bagian tertentu yang berwarna hitam.

Belangkah dia? Tentu saja tidak!

Tapi mengapa ada bagian tubuhnya yang tertentu berwarna


Pendekar Gelandangan 106

hitam? Entahlah...... mungkin sudah takdir sejak ia menjadi


dewasa.

Tentu saja nama sesungguhnya dari Yan Cap-sa bukan Yan


Cap-sa, meski demikian sudah pasti nama aslinya juga bukan si
banci atau si dungu.

Ia pernah menjumpai perempuan.

Aneka macam perempuan sudah pernah dijumpainya, ada


yang mengenakan baju lengkap, tapi ada pula yang tanpa
busana.

Ada yang sesungguhnya berpakaian, tapi kemudian pakaian


itu dilepaskan semua.

Bahkan ada pula yang melepaskan semua bajunya dengan


begitu cepat.

Seorang gadis telanjang bulat sesungguhnya tak akan


membuat laki-laki macam Yan Cap-sa menjadi terperanjat.

Ia menjadi terperanjat bukan lantaran perempuan itu


terlampau cantik, juga bukan lantaran pinggangnya terlampau
ramping, atau payudaranya terlalu montok.

Tentu saja lebih-lebih bukan disebabkan sepasang kakinya


yang ramping, gempal dan putih mulus itu.

Persoalan-persoalan seperti di atas tadi paling banter cuma


mengakibatkan jantungnya berdebar, tak mungkin akan
mengejutkan hatinya.
Pendekar Gelandangan 107

Ia terkejut karena perempuan itu pernah dijumpainya, bukan


saja baru ditemui bahkan telah melakukan pula suatu
perbuatan yang mengejutkan.

Tentu saja perempuan itu tak mungkin adalah Buyung Ciu-ti.

Perempuan polos itu ternyata bukan lain adalah istri Hee-ho


Seng yang tampaknya alim dan lemah lembut itu.

Ya, dia bukan lain adalah nyonya muda dari keluarga Hee-ho
yang ada di lembah Ang-im-kok, bukit Hwee-gan-san.

Ilmu pedang dari Hee-ho Seng mungkin tidak terlalu


menakutkan, tapi keturunan keluarganya sangat menakutkan.

Keluarga Hee-ho dari bukit Hwee-gan-san lembah Ang-im-


kok, bukan saja merupakan keluarga persilatan yang ternama,
peraturan rumah tangganya juga paling ketat.

Kemanapun orang-orang Hee-ho-san-ceng pergi, belum


pernah mereka menerima cemoohan atau penghinaan dari
orang lain.

Bila perempuan dari Hee-ho-san-ceng kebetulan keluar


rumah, orang lain tak akan berani memandang mereka walau
hanya sekejappun.

Sebab bila kau melihat mereka lebih lama, kemungkinan


besar biji mata kalian akan di korek ke luar.

Oleh sebab itulah walau siapapun juga bila secara tiba-tiba


Pendekar Gelandangan 108

menemukan bahwa nyonya muda dari keluarga Hee-ho tiba-


tiba duduk dihadapannya dalam keadaan telanjang bulat,
mereka niscaya akan merasa terperanjat.

Kalau masih duduk saling berhadapan masih mendingan.

Sekarang Si Ko-jin sudah duduk di sampingnya, ia duduk


begitu dekat dengannya, bahkan dengusan napasnya yang
agak memburupun kedengaran sangat jelas.

Tentu saja sangat jelas, sebab dengusan napas itu justru


berasal dari sisi telinganya.

Yan Cap-sa seperti orang yang sudah tak bernapas lagi.

Ia tidak termasuk orang yang bodoh, juga bukan tipe manusia


yang gampang mabuk atau terbuai oleh keadaan yang
dihadapinya.

Sejak kakinya melangkah masuk ke dalam kereta tersebut, ia


sudah menduga sedikit atau banyak pasti ada kesulitan yang
bakal dijumpainya.

Tapi ia tak tahu sampai di mana besarnya kesulitan tersebut.

Tapi sekarang dia sudah tahu.

Seandainya ia tahu betapa besarnya kesulitan yang bakal


dijumpainya, ia lebih rela merangkak ke telaga Liok-sui-ou
daripada menunggang kereta kuda itu.
Pendekar Gelandangan 109

Bab 3. Ko-jin yang Menakutkan

Seorang gadis cantik yang telanjang bulat, berbaring di sisimu


bahkan menghembuskan napasnya yang harum di sisi
telingamu.

Pemandangan semacam ini pasti amat menarik, pasti amat


hangat dan bikin hati orang berdebar.

Bila dikatakan Yan Cap-sa sedikitpun tidak tertarik, ucapan itu


pasti bohong dan tak bisa dipercaya.

Bukan orang lain saja yang tak percaya, mungkin dia


sendiripun tidak percaya.

Sekalipun dia tahu dengan pasti kalau perempuan itu sangat


berbahaya, sedemikian bahayanya seperti sebuah gunung
berapi yang setiap saat bisa meletus.

Sekalipun ia dapat tak bernapas, tidak mengendusi bau


harum yang tersiar dari tubuhnya, tapi ia tak dapat membuat
jantungnya tidak berdebar.

Ya, bukan berdebar saja bahkan debaran jantungnya sudah


mencapai ke taraf yang paling top.

Seandainya sejak semula dia tahu kalau bakal terjadi peristiwa


semacam ini, ia benar-benar akan menolak untuk menaiki
kereta itu.

Tapi sekarang ia sudah duduk di dalamnya.


Pendekar Gelandangan 110

Bukan hanya dengusan napas saja di sisi telinganya bahkan


ada juga bisikan yang begitu lembut begitu merayu:

"Mengapa tidak kau pandang tubuhku? Kau takut?"

Sepasang mata Yan Cap-sa telah terbuka, ia sudah


memandang ke arahnya, terutama bagian tubuhnya yang
terlarang.

Si Ko-jin tertawa lebar, katanya dengan wajah berseri:

"Rupanya kau masih dapat disebut seorang laki-laki sejati,


seorang laki-laki yang masih punya nyali"

"Sayang meskipun sudah kulihat selama tiga hari tiga malam,


akupun tak dapat melihatnya", kata Yan Cap-sa sambil tertawa
getir.

"Tidak dapat melihat apa?"

"Tidak dapat kulihat sebetulnya kau ini manusia sungguhan


atau bukan?"

"Seharusnya dapat kau lihat!", kata Si Ko-jin.

Sambil membusungkan payudaranya yang montok berisi dan


meluruskan sepasang pahanya yang putih, perempuan itu
melanjutkan:

"Seandainya aku bukan manusia, menurut tanggapanmu aku


lebih mirip sebagai apa?"
Pendekar Gelandangan 111

Asal mempunyai sepasang mata yang dapat melihat, siapapun


seharusnya mengetahui bahwa dia bukan saja adalah seorang
manusia, seorang perempuan hidup, diapun merupakan
seorang perempuan di antara perempuan, setiap inci setiap
bagian tubuhnya betul-betul adalah tubuh seorang
perempuan.

"Kau sangat mirip dengan seorang perempuan, tapi


apa....yang kau kerjakan sedikitpun tidak mirip!", kata Yan
Cap-sa.

"Kau tentu tidak habis mengerti kenapa kulakukan perbuatan


semacam in?"

"Seandainya aku dapat memahaminya, maka aku sendiripun


bukan seorang manusia!"

"Kau menganggap dirimu terlalu jelek!" tanya Si Ko-jin


kemudian.

"Tidak, aku tidak terhitung terlalu jelek"

"Kau sudah tua"

"Tidak terhitung tua!"

"Kau mempunyai cacat bawaan?"

"Tidak ada!"

"Pernahkah ada perempuan yang menyukaimu?"


Pendekar Gelandangan 112

"Ada beberapa orang"

"Lantas apa yang kau herankan?"

"Seandainya kau adalah perempuan lain, bukan saja aku tak


akan keheranan bahkan akupun tak akan sungkan-sungkan
seperti sekarang, sayang kau.......?", tiba-tiba Yan Cap-sa
berhenti berbicara.

"Aku kenapa?"

"Kau telah mempunyai suami!"

"Cepat atau lambat, seorang perempuan pasti akan menikah,


setelah menikah pasti mempunyai suami!"

Sepintas lalu, ucapan tersebut seperti perkataan yang tak


berguna, tapi kenyataannya bukan.

Karena selanjutnya ia masih mempunyai suatu perkataan


yang cukup hebat, begini katanya:

"Kalau yang dikawininya bukan seorang manusia, apakah ia


terhitung mempunyai suami?"

Pertanyaan itu cukup hebat, tapi selanjutnya ada yang lebih


hebat lagi:

"Semisalnya yang dikawini seorang perempuan adalah seekor


babi, seekor anjing atau sebuah balok kayu, apakah ia dapat
dianggap telah mempunyai suami?"
Pendekar Gelandangan 113

Yan Cap-sa sungguh tak tahu bagaimana musti menjawab


pertanyaan itu, terpaksa ia balik bertanya:

"Apakah Hee-ho Seng adalah seekor babi?"

"Bukan!"

"Sebuah balok kayu?"

"Juga bukan!"

"Kalau begitu dia adalah seekor anjing?"

Si Ko-jin menghela napas panjang.

"Aaaai....seandainya dia adalah seekor anjing, aku malah


merasa agak bahagia"

"Kenapa?"

"Sebab paling sedikit anjing masih mengetahui maksud


manusia, dia masih mempunyai sedikit perikemanusiaan"

Sambil menggigit bibir, ia seperti menahan kesedihan dan


penderitaan, katanya lagi dengan kesal:

"Hee-ho Seng lebih malas dari seekor babi, lebih tak


mengenal kehangatan daripada sebuah balok kayu, dan lebih
pandai menggigit orang daripada seekor anjing. Tapi justru dia
masih berlagak sok hebat, sok luar biasa. Tiga tahun sudah aku
kawin dengannya, tapi setiap hari aku hanya ingin minggat
dari rumah"
Pendekar Gelandangan 114

"Kenapa kau tidak minggat saja?"

"Karena aku belum pernah mendapatkan kesempatan,


biasanya ia tak pernah meninggalkan aku walau hanya
selangkahpun"

Yan Cap-sa sedang mencari, mencari botol berisi arak yang


belum habis diminum itu, dia ingin menggunakan botol arak
tersebut untuk menyumbat mulut sendiri.

Karena sekarang ia benar-benar tak tahu apa yang musti


diucapkan.

Botol arak itu tepat berada dihadapannya, dengan cepat ia


berhasil menemukannya, tapi ia tak dapat menggunakan botol
arak tersebut untuk menyumbat mulut sendiri.

Karena pada saat bersamaan, mulutnya telah disumbat oleh


suatu benda lain, suatu benda yang empuk, lembut dan
berbau harum.

Kebanyakan pria jika mulutnya disumbat dengan benda


tersebut, biasanya akan memberikan suatu reaksi yang wajar,
suatu reaksi yang hampir seragam.

Ya, itulah reaksi seperti yang dilakukan seorang bayi,


menghisap dan menghisap...........

Tapi lain reaksi yang diberikan Yan Cap-sa, ia tidak


menunjukkan reaksi seperti pada umumnya.
Pendekar Gelandangan 115

Ketika benda yang empuk, lembut dan harum itu menyumbat


mulutnya, ia memperlihatkan reaksi seperti secara tiba-tiba
ada seekor ular beracun menerobos masuk ke dalam
mulutnya, seekor ular yang benar-benar sangat beracun.

Reaksi semacam ini tidak terlalu umum dan lagi bisa bikin
orang tak senang hati.

Hampir meledak kemarahan Si Ko-jin saking mendongkolnya,


sambil mencibirkan bibirnya ia mendesis:

"Aku ada racunnya?"

"Tidak ada tampaknya!"

"Dan kau ada?"

"Mungkin juga tak ada!"

"Lantas apa yang kau takuti?"

"Aku cuma mengetahui akan satu persoalan"

"Persoalan apakah itu?"

"Aku hanya ingin tahu sesungguhnya kau ingin aku berbuat


apa?"

"Kau anggap aku bersikap demikian kepadamu karena aku


ingin menyuruh kau melakukan suatu pekerjaan?"

Yan Cap-sa tidak menjawab, dia cuma tertawa.


Pendekar Gelandangan 116

Kalau tertawa tentu berarti mengakui atau membenarkannya.

Si Ko-jin sangat marah, ia benar-benar marah sekali, kalau


marahnya sudah berlangsung setengah harian, apalagi yang
hendak dia lanjutkan?

Sayang bila seseorang sedang marah, maka dia sama sekali


tak ada artinya, maka pada akhirnya dia berbicara juga dengan
sejujurnya.

Ia berkata begini:

"Padahal kali ini bukan untuk pertama kalinya aku minggat


dari rumah, aku sudah mencoba minggat sebanyak tujuh kali"

"Oya?!"

"Kau tebak sudah berapa kali aku kena di tangkap kembali?"

"Tujuh kali!"

Si Ko-jin menghela napas panjang, katanya:

"Hee-ho Seng sesungguhnya tidak mempunyai kepandaian


apa-apa, tapi dia justru mempunyai suatu kepandaian khusus
yang luar biasa!"

"Oya?!"

"Kemanapun aku berusaha melarikan diri, ia selalu


mempunyaa kepandaian untuk menangkapku kembali"
Pendekar Gelandangan 117

"Ehmmmm.....kepandaian semacam ini tentu luar biasa


sekali!", kata Yan Cap-sa sambil tertawa.

"Oleh sebab itulah cepat atau lambat dia pasti akan berhasil
menemukan diriku kembali. Untunglah kali ini keadaannya
jauh berbeda!"

"Bagaimana bedanya?"

"Kali ini di kala ia berhasil menangkap kembali diriku, maka


aku sudah menjadi orangmu"

Ia tidak memberi kesempatan kepada Yan Cap-sa untuk


menyangkal kenyataan tersebut, segera ujarnya kembali:

"Atau paling sedikit dia tentu akan beranggapan bahwa aku


sudah menjadi orangmu!"

Yan Cap-sa tak dapat tertawa, iapun tak dapat menyangkal


atau memberi bantahan.

Barang siapa menyaksikan keadaan mereka sekarang, maka


tak mungkin akan terlintas pikiran kedua dalam benaknya.

Terdengar Si Ko-jin berkata lebih jauh:

"Dia masih mempunyai suatu kepandaian yang lain, yakni ia


sangat pandai menaruh perasaan cemburu"

Setiap pria seringkali memang ketempelan penyakit semacam


ini, penyakit cemburu.
Pendekar Gelandangan 118

"Oleh karena itu, seandainya ia dapat menyaksikan keadaan


kita sekarang, maka dengan segala daya upaya dia pasti akan
berusaha untuk membinasakan dirimu"

Yan Cap-sa tak dapat berbuat lain, kecuali membenarkan


pendapatnya.

Kembali Si Ko-jin berkata:

"Seandainya orang lain hendak membinasakan dirimu,


bahkan dengan segala daya upaya ingin melenyapkan jiwamu,
apa yang musti kau lakukan?"

Sebelum Yan Cap-sa menjawab, ia telah mewakilinya untuk


memberikan jawaban:

"Tentu saja terpaksa kaupun harus membinasakan pula orang


itu"

Yan Cap-sa menghela napas panjang, sekarang ia dapat


memahami maksud dan tujuan perempuan itu.

Dengan lembut Si Ko-jin berkata lagi:

"Akan tetapi kaupun tak usah menghela napas, karena kau


sama sekali tak bakal rugi, ada banyak orang pria yang
bersedia membunuh orang karena ingin mendapatkan
perempuan macam aku"

"Aku percaya pasti terhadap banyak orang lelaki yang dapat


berbuat demikian, tetapi aku........."
Pendekar Gelandangan 119

"Kaupun sama saja!"

"Darimana kau bisa tahu kalau akupun sama saja?"

"Karena setelah sampai pada saatnya, kau pada hakekatnya


tak mempunyai pilihan lain"

Pelan-pelan dia mendongakkan jidat orang dan katanya


kembali:

"Setelah sampai pada waktunya nanti, bila kau tidak


membinasakan dirinya maka dialah yang akan membinasakan
dirimu, maka dari itu lebih baik kita sekarang....."

Ia tidak melanjutkan perkataan tersebut, bukan lantaran ada


semacam benda lunak yang menyumbat mulutnya, justru
mulutnya telah dipergunakan untuk menyumbat bibir orang.

Kali ini Yan Cap-sa tidak lagi menganggapnya sebagai ular


berbisa, tampaknya kali ini pikirannya sudah terbuka.

Sayang, pada saat itulah tiba-tiba si kusir kereta


memperdengarkan desisan kaget.

Dengan terkejut ia berpaling, lewat daun jendela ia dapat


menyaksikan sebuah roda kereta yang ditumpanginya telah
menggelinding lewat dari sisinya dan jatuh di tempat
kejauhan.

Roda tersebut betul-betul adalah roda keretanya.........


Pendekar Gelandangan 120

Pada saat ia menyaksikan roda itu melaju lewat


disampingnya, kereta mereka telah menerjang ke tepi jalan
dan terjungkir balik.

Dengan terjungkirnya sang kereta maka jendelapun berubah


ada di atas.

Seseorang sedang mengawasi mereka dari atas, pandangan


itu dingin, ya, meski wajahnya ganteng tapi memiliki sepasang
mata yang penuh dengan perasaan dendam.

Si Ko-jin menghela napas panjang.

"Coba lihatlah," demikian ia berkata, "bukankah ia benar-


benar punya kepandaian?"

"Betul!", Yan Cap-sa cuma bisa tertawa getir.

Hee-ho Seng adalah keturunan dari keluarga persilatan.

Pada umumnya keturunan dari ketua persilatan tentu


memiliki pendidikan yang tinggi, mereka jarang mengucapkan
kata-kata kasar, sekalipun hendak "mengenyahkan" orang,
biasanya mereka selalu menggunakan istilah "dipersilahkan".

Tapi sampai dimanapun disiplin dan sopannya orang itu,


kesabaran ada batas-batasnya, demikian pula dengan keadaan
Hee-ho Seng pada saat ini.

Sampai sekarang dia masih belum melontarkan makiannya,


kejadian ini sudah terhitung suatu kejadian yang tak mudah.
Pendekar Gelandangan 121

Ia cuma memaki dengan sepatah kata saja:

"Perempuan rendah, gelinding keluarlah dari situ!"

Si Ko-jin memang seorang perempuan yang penurut, ia tidak


membangkang ataupun membantah, ketika ia diminta keluar
serta merta diapun keluar.

Tubuhnya masih dalam keadaan telanjang bulat, secuwil


kainpun tidak melekat di tubuhnya.

Dengan gelisah kembali Hee-ho Seng berteriak:

"Jangan keluar!"

Si Ko-jin segera menghela napas panjang.

"Aaaai...bukankah kau tahu, selamanya aku selalu menuruti


perkataanmu?" demikian ia mengeluh, "tadi kau suruh aku
keluar dan akupun menurut, tapi sekarang kau melarangku
keluar, apa yang harus kulakukan sekarang........?

Sepucat kertas paras muka Hee-ho Seng saking marahnya,


sambil menuding ke arah Yan Cap-sa katanya:

"Kau.......kau.......kau........"

Sesungguhnya ia memang tak berbakat untuk bicara, apalagi


berada dalam keadaan gelisah dan marah, sepatah katapun
tak sanggup diutarakan keluar.

"Rupa-rupanya dia hendak suruh kau menggelinding keluar?",


Pendekar Gelandangan 122

kata Si Ko-jin tiba-tiba.

"Aaaah, tidak mungkin"

"Tidak mungkin?"

"Ya, tentu saja! Sebab aku bukan perempuan memalukan,


kenapa aku musti menggelinding keluar?"

Yan Cap-sa berhenti sebentar, lalu sambil tertawa, katanya


lagi:

"Aku tahu Hee-ho Kongcu adalah seorang pemuda yang


berpendidikan, andaikata ia akan minta aku keluar, maka
dengan sikap yang sopan dan penuh rasa sungkan dia akan
menggunakan istilah silahkan untuk mengundangku keluar"

Paras muka Hee-ho Seng kembali dari merah padam berubah


menjadi pucat pias, sambil menggenggam sepasang
kepalannya kencang-kencang ia berseru:

"Silahkan, silahkan, silahkan........."

Secara beruntun dia mengucapkan kata 'silahkan' sebanyak


tujuh delapan belas kali, malah ketika kata-katanya belum
selesai, Yan Cap-sa telah berada dihadapannya.

Kembali Yan Cap-sa tertawa.

"Sesungguhnya mau apa kau undangku keluar?", katanya.

"Aku persilahkan kau pergi mampus!"


Pendekar Gelandangan 123

Di depan jalan raya berhenti sebuah kereta, di atas pintu


keretanya tertera simbol dari keluarga Hee-ho.

Si bocah dan sang kusir masih duduk di kursi bagian depan,


mereka sedang mengawasi Yan Cap-sa dengan mata melotot.

Sang kusir adalah seorang kakek kurus kecil berambut putih,


sudah puluhan tahun pengalaman kerjanya sebagai kusir
kereta kuda. Jangan dilihat tubuhnya yang ceking, kegesitan
maupun kecakapannya dalam berkusir tak kalah dengan
pemuda manapun.

Gerak-gerik si bocah enteng dan lincah, sudah barang tentu


dia pernah berlatih silat.

Tapi sayang mereka tak sanggup membantu Hee-ho Seng,


sebab itu orang yang harus dihadapi Yan Cap-sa tak lebih
hanya Hee-ho Seng seorang.

Dalam hal ini, Yan Cap-sa merasa amat berlega hati.

Meskipun Hee-ho Seng bukan lawan yang empuk, lebih-lebih


pedang seribu ularnya adalah sejenis senjata yang
mengerikan.

Tapi cukup mengandalkan dia dengan sebilah pedangnya, Yan


Cap-sa masih belum pikirkan persoalan itu di dalam hati.

Ia hanya merasa bahwa kejadian tersebut ada sedikit kurang


beres.
Pendekar Gelandangan 124

Meskipun ia tidak pernah menaruh kesan baik terhadap


manusia yang bernama Hee-hong in, tapi lantaran seorang
perempuan ia harus membunuh suaminya.

Sayang ia tak punya waktu untuk mempertimbangkan lebih


jauh.

Pedang seribu ular dari Hee-ho Seng dengan membawa


kilatan cahaya tajam bagaikan munculnya beribu ekor ular
beracun telah menyerbu ke arahnya.

Sesungguhnya dengan menggunakan jurus serangan yang


manapun dari Toh-mia-cap-sa-kiamnya, ia sanggup untuk
mematahkan ancaman tersebut.

Tapi pada detik yang terakhir, tiba-tiba timbul suatu ingatan


aneh dalam benaknya.

Kalau Cho Ping boleh menggunakan si burung gagak untuk


mencoba jurus pedangnya, kenapa ia tak boleh menggunakan
kesempatan ini untuk mencoba daya kekuatan dari jurus
pedangnya Sam-sauya?

Di kala ingatan tersebut mulai menjalar dalam benaknya,


seenteng hembusan angin sejuk, atau secerah sinar matahari
di pagi hari, pedangnya telah menyambar ke depan.

Jurus serangan yang dipergunakan tak lain adalah jurus


pedang dari Sam-sauya.

Ia tidak begitu hapal dengan jurus serangan itu, bahkan ketika


menggunakannya ia sama sekali tidak merasakan daya
Pendekar Gelandangan 125

kehebatan dari gerakan tersebut.

Tapi sedetik kemudian, ia dapat membuktikan


kedahsyatannya.

Serangan maut ular beracun dari Hee-ho Seng secara tiba-tiba


hancur punah oleh hembusan angin sejuk itu seperti angin
sejuk yang menggoyangkan pohon liu, bagaikan salju yang
mencair oleh teriknya panas matahari. Ancaman itu lenyap
dengan begitu saja.

Malah Hee-ho Seng terlempar sejauh tujuh delapan kaki ke


tengah udara, lalu jauh terbanting di atas atap kereta kudanya
sendiri.

Yan Cap-sa sendiri agak kaget dengan kehebatan itu.

Buru-buru si kusir tua membangunkan Hee-ho Seng,


sementara si bocah membelalakkan matanya sedang
memandang ke arahnya dengan pandangan kaget.

Si Ko-jin sedang menghela napas, tersenyum sambil menghela


napas, tentu saja menghela napas cuma pura-pura, sedang
tersenyum adalah sesungguhnya....

Manis betul senyuman yang menghiasi bibirnya, semanis


madu sesejuk angin semilir di musim panas.......

"Tak kusangka ilmu pedangmu jauh lebih tinggi dari apa yang
kubayangkan semula", dia berkata.

"Ya, aku sendiripun tak menyangka", Yan Cap-sa menimpali


Pendekar Gelandangan 126

sambil menghela napas dan tertawa.

Helaan napasnya bukan berpura-pura senyumannya lebih


tampak kegetirannya daripada manisnya.........

Ia cukup menyadari, andaikata jurus manapun dari Toh-mia-


cap-sa-kiam yang dipergunakan, tak nanti akan menghasilkan
kedahsyatan seperti sekarang ini.

Seandainya tiada petunjuk dari Buyung Ciu-ti, mana mungkin


ia akan tahan menghadapi serangan tersebut?

Kini, sekalipun ia sanggup mengalahkan Sam-sauya, apa pula


nikmatnya kemenangan semua itu?

Yan Cap-sa mulai merasakan kegetiran dalam hatinya,


pergelangan tangannya segera diputar dan pedangnya
disarungkan kembali.

Pada hakekatnya ia tidak memperhatikan Hee-ho Seng lagi, ia


sudah tak menaruh hati lagi kepada orang ini.

Sungguh tak disangka olehnya ketika kepalanya didongakkan,


Hee-ho Seng telah berdiri kembali dihadapannya, ia sedang
memandang dengan tatapan dingin.

Yan Cap-sa menghela napas panjang.

"Apa lagi yang kau inginkan?", ia bertanya.

"Silahkan!"
Pendekar Gelandangan 127

"Oh, kau masih ingin mempersilahkan aku untuk mati?"

Kali ini Hee-ho Seng masih dapat mengendalikan


perasaannya, dengan dingin ia berkata:

"Jurus pedang yang barusan kau gunakan betul-betul suatu


ilmu pedang yang tiada tandingannya di kolong langit"

Yan Cap-sa tak dapat menyangkal akan kebenaran dari


ucapan tersebut.

Bukan saja perkataan itu adalah perkataan yang


sesungguhnya, itupun merupakan perkataan yang penuh rasa
kagum, namun bagi pendengarannya justru terasa tak
tenteram.

Sebab jurus pedang itu bukan jurus ilmu pedangnya.

Kembali Hee-ho Seng berkata:

"Adapun kedatanganku kali ini adalah ingin merasakan


kembali kelihaian dari ilmu pedangmu itu!"

"Kau ingin menjajal lagi jurus pedangku yang barusan ini?"

"Benar!"

Yan Cap-sa tertawa.

Tentu saja bukan tertawa yang sesungguhnya, pun bukan


tertawa dingin, lebih-lebih bukan tertawa getir. Tertawa
semacam ini tak lebih hanya untuk menutupi saja keadaan
Pendekar Gelandangan 128

yang sesungguhnya.

Menutup perasaan serta jalan pikirannya pada waktu itu.

Apabila bocah keparat ini berani mencoba sekali lagi


kehebatan dari jurus pedang itu, apabila bukan gila sudah
pasti ia telah mempunyai pegangan.

Agaknya ia tidak mirip orang yang sedang edan.

Mungkinkah ia telah berhasil menemukan jurus tandingan


dari serangan itu? Bahkan ia merasa begitu yakin untuk
menang?

Perasaan dan pikiran Yan Cap-sa mulai tergerak.

Ia betul-betul ingin melihat dengan cara apakah manusia di


dunia ini dapat memecahkan kehebatan dari jurus pedangnya
itu.

Hee-ho Seng masih menantikan jawabannya.

Dengan perasaan apa boleh buat, terpaksa Yan Cap-sa hanya


bisa mengucapkan sepatah kata:

"Silahkan!"

Begitu ucapan tersebut diutarakan, Hee-ho Seng telah turun


tangan, pedang seribu ularnya telah berubah menjadi ular-ular
perak yang menari dan beterbangan memenuhi angkasa......

Serangan ini tampaknya seperti sebuah serangan tipuan.


Pendekar Gelandangan 129

Yan Cap-sa mengetahuinya, cuma ia tak ambil perduli.

Jurus serangan tipuan atau jurus serangan sesungguhnya dari


pihak lawan, serangan dari Sam-sauya itu masih mampu untuk
menghadapinya.

Kali ini ia pergunakan jurus itu jauh lebih matang dan lancar.

Di saat pedangnya mulai bergerak melakukan perubahan,


"Craaat...." Ular-ular perak musuh yang beterbangan di
angkasa telah bergabung membentuk kembali sebilah pedang.

Cahaya pedang berkilauan memenuhi angkasa sebuah


tusukan kilat telah meluncur masuk.

Tusukan itu sangat sederhana, bukan saja sederhana, bahkan


gerakannya begitu bodoh dan bebal, dan arah yang ditusuk
ternyata tak lain adalah titik kelemahan dari jurus pedang
Sam-sauya.

Yan Cap-sa bena-benar merasa terperanjat.

Ternyata jurus pemecahan yang dipergunakan Hee-ho Seng


saat ini bukan lain adalah jurus pedang yang telah ia
praktekkan dihadapan Buyung Ciu-ti tadi.

Bahkan Buyung Ciu-ti sendiripun mengakui bahwa gerakan


jurus ini merupakan satu-satunya jurus pemecahan yang
sanggup mematahkan serangan dari Sam-sauya.

Sekarang, ia telah menggunakan jurus serangannya untuk


Pendekar Gelandangan 130

mematahkan serangan dari Sam-sauya.

Hee-ho Seng telah menggunakan jurus pemecahan hasil


ciptaannya sendiri untuk membunuh dirinya.

Kini serangan telah dilancarkan, sekalipun hendak dirubahpun


tak mungkin bisa dirubah lagi, mungkinkah ia harus tewas di
ujung pedang dari jurus serangan hasil ciptaannya sendiri?

Ternyata ia tidak mati!

Dengan amat jelasnya dia mengetahui bahwa dibalik jurus


serangan yang dipergunakan terdapat setitik kelemahan,
dengan amat jelasnya dia tahu tusukan lawan mengarah justru
mengarah titik kelemahannya itu.

Tapi setelah tusukan lawan masuk ke dalam lingkaran


serangannya, tiba-tiba gerakan pedangnya kembali melakukan
suatu perubahan yang sama sekali tak terduga.

Perubahan tersebut bukan saja tak pernah disangka olehnya,


bahkan perubahan tersebut tak mungkin bisa ia ciptakan
sendiri.

Perubahan itu pada dasarnya memang sudah terkandung di


dalam gerakan jurus tersebut.

Ibaratnya air terjun dari bukit yang tinggi, ketika mengalir ke


bawah, maka celah-celah kosong yang kau lihat dengan jelas,
ketika tanganmu kau luncurkan ke dalamnya, dengan cepat air
telah menutupi celah-celah kosong tadi.
Pendekar Gelandangan 131

"Triiiing......!" suau dentingan nyaring bergema memecahkan


kesunyian.

Pedang seribu ular telah patah, patah menjadi beribu-ribu


batang kecil. Hee-ho Seng sendiri ikut terpental pula ke tengah
udara, terpental sangat jauh sekali.

Kali ini bahkan si kusir tuapun ikut memandang ke arahnya


dengan pandangan terperanjat, sedemikian terkejutnya
sampai ia lupa untuk merawat keadaan Hee-ho Seng.

Kali ini, Si Ko-jin bukan cuma tertawa belaka malah ia mulai


bersorak sambil bertepuk tangan.

Akan tetapi perasaan Yan Cap-sa kali ini justru makin


tenggelam, seakan-akan tenggelam ke dasar gudang es yang
paling dingin.

Sekarang ia baru mengerti, titik kelemahan yang tertampak


dalam gerakan serangan dari Sam-sauya, pada hakekatnya
bukan titik kelemahan yang bisa ditunggangi.

Sekarang ia baru mengerti, di dunia ini hakekatnya tak


seorang manusiapun sanggup mematahkan serangan
tersebut.

Ya, seorang manusiapun tak ada.

Bila kau ingin mematahkan serangan itu, berarti kau sudah


bosan hidup dan pergi hanya untuk menghantar jiwa sendiri,
bila Cho Ping berani kesitu, diapun pasti akan mampus.
Pendekar Gelandangan 132

Apabila serangan itu bisa dipatahkan, dialah yang berhak


mendapat segala pujian dan kebanggaan, sebaliknya bila tak
mungkin untuk mematahkannya, maka dialah yang
seharusnya tewas.

Hee-ho Seng yang tergeletak di tanah masih belum bangkit


berdiri, noda darah masih mengotori ujung bibirnya.

Si kusir tua dan si bocah telah tertegun seperti patung saking


kaget dan takutnya.

Tapi kuda penghela kereta masih tetap berdiri tegap, barang


siapapun yang menjumpai kuda tersebut, mereka akan segera
tahu bahwa kuda itu adalah kuda jempolan yang sudah
terlatih lama.

Dia ingin sekali merampas kuda itu.

Ia lebih gelisah lagi karena harus cepat-cepat menuju


perkampungan Sin-kiam-san-ceng, sekalipun pergi hanya
untuk menghantar nyawanya, dia harus ke sana.

Ia tak ingin membiarkan Cho Ping menghantar nyawanya


mewakili dia.

Sebab bagaimanapun juga dia adalah seorang jago persilatan.

Orang persilatan selalu mempunyai cara berpikir yang


bertolak belakang dengan keadaan pada umumnya.

Pada saat itulah tiba-tiba ia mendengar ada orang sedang


mendehem pelan.
Pendekar Gelandangan 133

Seorang gelandangan yang berpakaian dekil penuh lubang,


bau dan kotor, sambil berbatuk-batuk tiada hentinya ke luar
dari balik hutan yang sepi.

Tadi siapapun diantara mereka tak pernah menyaksikan orang


ini.

Tadi, agaknya dalam hutan tiada orang semacam ini, tapi


sekarang dengan pasti dan nyata orang itu berjalan ke luar
dari balik hutan. Langkah tubuhnya sangat lambat, batuknya
makin lama semakin keras dan menghebat.

Pertarungan sengit yang barusan berlangsung, sinar pedang


yang berkilauan di angkasa dan mendebarkan hati itu, seakan-
akan tak pernah dilihat olehnya.

Bahkan terhadap orang-orang yang berada di sekitarnya,


diapun seolah-olah tak melihat.

Gadis cantik yang bugil, paling sedikit ada separuh bagian


tubuhnya yang putih dan montok menongol keluar dari balik
jendela kereta.

Tapi dia, seperti tak pernah melihatnya.

Jago pedang yang luar biasa dahsyatnya, dengan sebilah


pedang berhawa pembunuhan.......

Diapun tidak melihatnya.

Dalam pandangan orang itu seakan-akan hanya terdapat


Pendekar Gelandangan 134

seorang saja.... ia seperti hanya melihat kehadiran si kusir tua


yang kecil lagi ceking itu.......

Si kusir tua itu sedang ketakutan setengah mati, sekujur


tubuhnya menyusut menjadi satu, bahkan kelihatan sedang
gemetar keras.

Gelandangan itu masih berbatuk tiada hentinya, ia berjalan


lambat sekali....tiba-tiba ia berhenti, berhenti tepat di
hadapan kereta kuda itu.....

Kusir tua itu lebih terkejut lagi, ia memandang ke arah


gelandangan tadi dengan pandangan terkejut.

Gelandangan itu sudah berhenti berbatuk-batuk, tiba-tiba


sapanya ke arah si kusir tua itu sambil tertawa:

"Baik, bukan?"

"Baik? Apanya yang baik? Baik apanya?"

"Aku maksudkan apakah kau baik?"

"Bagian manaku yang baik?"

"Segala-galanya di tubuhmu semuanya baik!"

Kusir tua itu tertawa getir tapi sebelum ia buka suara,


gelandangan itu sudah berkata lagi:

"Tadi seandainya kau sendiri yang terjunkan diri, sekarang


orang itu sudah mati"
Pendekar Gelandangan 135

Belum lagi kata-katanya habis diucapkan, ia sudah mulai


berbatuk-batuk lagi, bahkan pelan-pelan pergi meninggalkan
tempat itu.

Dengan wajah penuh rasa terkejut, kusir tua itu memandang


ke arahnya tanpa berkedip.

Setiap orang semuanya sedang memandang ke arahnya


dengan pandangan terperanjat, seakan-akan mereka tidak
mengerti apa maksud dari ucapannya itu.

Yan Cap-sa sendiri seperti setengah mengerti setengah tidak,


sesungguhnya dia ingin menyusul orang itu serta menanyakan
lebih jelas lagi.

Sayang gelandangan itu sudah pergi entah kemana, bayangan


tubuhnya telah lenyap tak berbekas.

Sekalipun langkah kakinya sangat lambat, tapi dalam sekejap


mata itulah bayangan tubuhnya sudah lenyap tak berbekas,
bahkan suara batuknya sudah tak kedengaran lagi.

Waktu itu, Si Ko-jin sedang bergumam seorang diri:

"Aneh, aneh...sungguh aneh sekali! Kenapa raut wajah


gelandangan itu seperti ku kenal?"

Si kusir tua sedang bergumam pula:

"Heran...heran...sesungguhnya apa yang sedang dimaksudkan


oleh orang itu?"
Pendekar Gelandangan 136

Sementara itu Yan Cap-sa telah tiba dihadapannya, ia lantas


berkata:

"Apa yang dia katakan, mungkin tak akan dipahami orang lain,
akan tetapi aku faham!"

"Oya?!"

"Bukan aku saja yang faham, kau sendiripun faham!"

Kusir tua itu segera menutup mulutnya sekali lagi ia


mengawasi orang dihadapannya dengan pandangan kaget
bercampur tercengang.

Pelan-pelan Yan Cap-sa berkata lagi:

"Pada dua puluh tahun berselang, jago paling tangguh dalam


lembah Ang-im-kok bukanlah Hee-ho Tiong-san, cengcu yang
sekarang ini?"

"Kalau bukan lo-cengcu, lantas siapa lagi?", kata kusir tua itu
segera membantah.

"Orang itu adalah adik kandungnya yang bernama Hee-ho


Hui-san!"

"Akan tetapi............."

"Akan tetapi pada dua puluh tahun berselang secara tiba-tiba


Hee-ho Hui-san telah lenyap tak berbekas, bahkan kinipun tak
ada yang mengetahui jejaknya, bukankah begitu?", tukas Yan
Pendekar Gelandangan 137

Cap-sa.

Kusir tua itu menghela napas panjang.

"Aaaaai...aku kuatir kalau dia orang tua sudah lama meninggal


dunia", bisiknya lirih.

"Semua orang persilatan mengira dia mati, tetapi


sesungguhnya aku telah mengetahuinya bahwa dia
sesungguhnya belum mati"

"Darimana kau bisa tahu?"

"Karena aku mengetahui jejak dan kabar beritanya!"

"Oya?! Lantas dia orang tua berada dimana?"

"Di sini", jawab Yan Cap-sa tegas.

Kemudian sambil menatap kusir tua itu tajam-tajam. Sepatah


demi sepatah kata ia berkata lagi:

"Kau adalah Hee-ho Hui-san!"

Senja telah lama menjelang tiba, angin yang berhembus kian


lama kian terasa dingin.

Tubuh kusir kereta tua yang menyusut bagaikan kura-kura,


kini telah berdiri tegak, sorot matanya yang sayu dan ketuaan
tiba-tiba memancarkan sinar terang.

Sinar terang itu hanya akan dijumpai di balik sorot mata


Pendekar Gelandangan 138

seorang jagoan yang betul-betul berilmu tinggi.

"Jauh pada dua puluh tahun berselang, kau sudah pandai


menggunakan Toh-mia-cap-sa-kiam", kata Yan Cap-sa berkata.

Kemudian setelah berhenti sebentar, ia memberikan


penjelasannya lebih lanjut:

"Pertarunganmu melawan ayahku di puncak bukit Hoa-san


pada dua puluh tahun berselang, meski tak diketahui orang
lain, tapi aku mengetahuinya"

Kusir tua itu mengepal sepasang tangannya kencang-kencang.

Kembali Yan Cap-sa berkata:

"Dalam pertarungan itu, kau menderita kekalahan total


ditangan ayahku, sebab itu selama dua puluh tahun terakhir
ini kau pasti sudah amat mendalami ilmu Toh-mia-cap-sa-kiam
tersebut, sebab kau selalu ingin mencari kesempatan untuk
membalas dendam!"

Tiba-tiba kusir tua itu menghela napas panjang.

"Aaaaai....sayang ia mati terlampau awal", keluhnya.

Yan Cap-sa berkata lagi:

"Justru karena kau amat mendalami ilmu Toh-mia-cap-sa-


kiam tersebut, maka kau baru tahu kalau disamping ke tiga
belas jurus serangan itu sesungguhnya masih terdapat jurus
yang ke empat belas, dan sebab itu pula kau dapat berpikir
Pendekar Gelandangan 139

untuk menggunakan jurus itu untuk mematahkan seranganku


tadi"

Ia menghela napas panjang, terusnya:

"Sebab kecuali kau, di dunia ini mungkin tak ada orang kedua
yang mampu berbuat demikian"

Ternyata kusir tua itu tidak menyangkal.

"Kemanapun Si Ko-jin melarikan diri, ia tak pernah lolos dari


cengkeraman Hee-ho Seng, tentu saja hal inipun disebabkan
karena ada kau", kata Yan Cap-sa lebih lanjut.

"Oya?!"

"Kepandaian melacaki jejak orang dari Hwe-gan-sin-eng


(Elang Sakti dari kawah berapi) Hee-ho Hui-san adalah nomor
satu di dunia, sejak dua puluh tahun berselang sudah jarang
ada orang di dunia ini yang mampu menandingi
kepandaianmu itu"

"Rupa-rupanya persoalan tentang diriku yang kau ketahui


tidak terlalu sedikit!", sindir si kusir tua dengan suara ewa.

"Ya, memang tidak sedikit!"

Tiba-tiba mencorong sinar mata setajam sembilu dari mata


kusir tua itu, katanya:

"Apakah kaupun tahu kenapa aku lenyap secara tiba-tiba?


Kenapa setelah lenyap tak berbekas aku rela menurunkan
Pendekar Gelandangan 140

derajatku menjadi seorang budak dan menjadi kusir keretanya


Hee-ho Seng?"

"Tentang persoalan itu, aku rasa tak perlu tahu!", jawab Yan
Cap-sa dengan suara ewa.

Persoalan-persoalan semacam itu memang tak perlu ia


ketahui, sebab urusan itu merupakan rahasia pribadi orang
lain, tapi bukan berarti rahasia pribadi orang lain tidak
diketahui olehnya.

Pertikaian antara sesama saudara, cinta gelap antara sang


enso dengan sang ipar, karena kurang berhati-hati
menyebabkan sekali salah melangkah mengakibatkan selama
hidup harus menanggung sesal.

Sesungguhnya tragedi semacam itu sudah seringkali terjadi


dalam suatu keluarga yang besar, bukan berarti hanya dalam
keluarga Hee-ho saja kejadian semacam itu dapat terjadi.

Cuma saja lantaran mereka mempunyai nama yang


cemerlang serta kedudukan yang mulia, maka semua tragedi
serta kejadian yang memalukan yang telah terjadi berhasil
dirahasiakan serapat-rapatnya.

Lenyapnya Hee-ho Hui-san dimasa lampau mungkinkah


karena ia mempunyai hubungan cinta gelap dengan ensonya
sendiri?

Setelah lenyap tak berbekas, diam-diam ia telah kembali lagi,


bahkan rela menjadi budak, menjadi kusir kudanya Hee-ho
Seng, apa sebenarnya yang ia tuju?
Pendekar Gelandangan 141

Mungkinkah Hee-ho Seng adalah anak hasil hubungan


gelapnya dengan sang enso?

Tentang persoalan-persoalan yang bersangkutan dengan


rahasia orang, Yan Cap-sa tak ingin membuat dugaan-dugaan.

Sebab hal itu merupakan rahasia pribadi orang lain, ia tak


perlu untuk mengetahuinya.

Kusir tua itu sedang memandang ke arahnya, memandangnya


dengan menggunakan sepasang matanya yang tidak sayu lagi.

Yan Cap-sa tidak berusaha untuk menghindari pandangan


mata lawan.

Apabila seseorang merasa tak pernah melakukan kesalahan


yang bertentangan dengan batinnya, ia tak perlu menghindari
tatapan mata semacam itu.

Tba-tiba si kusir tua itu mengajukan satu pertanyaan yang


aneh sekali.

"Sekarang kau memakai nama marga apa?"

"Yan, yan dari kata yan-cu atau walet!"

"Jadi kau adalah Yan Cap-sa?"

"Betul!"

"Kau sungguh-sungguh adalah putranya Ho-loji?"


Pendekar Gelandangan 142

"Betul!"

Beberapa patah kata ini bukan saja ditanyakan secara aneh,


ditanyakan secara membingungkan, ternyata jawaban yang
diperoleh pun sama - sama membingungkannya.

Sesungguhnya pertanyaan itu adalah suatu pertanyaan yang


sama sekali tiada artinya.

Pertanyaan semacam itu sesungguhnya tak perlu harus di


jawab, tapi Yan Cap-sa mau tak mau harus menjawabnya.

Sebab ia tahu pertanyaan tersebut bukan sama sekali tak ada


artinya, bahkan ucapan selanjutnya dari kusir tua itu lebih-
lebih tak mungkin kalau tak berarti.

Ia berkata begini:

"Kalau toh kau adalah putranya bapakmu, seharusnya aku


bunuh dirimu!"

Yan Cap-sa tidak membuka suara.

Ia cukup memahami perasaan dari orang tua ini. Bagi


pandangan setiap umat persilatan, suatu kekalahan adalah
penghinaan dan malu, dendam sakit hati seperti ini tak
mungkin bisa terlupakan untuk selama-lamanya.

Dendam sakit hati semacam ini harus dituntut balas.

"Sebetulnya tadi aku ingin menggunakan jurus pedangmu


Pendekar Gelandangan 143

sendiri untuk membunuhmu!" kusir tua itu berkata.

Ia menghela napas panjang, terusnya:

"Sayang cara Hee-ho Seng melancarkan serangannya


terlampau lemah, dan lagi perubahan jurus pedangmu terlalu
mengerikan"

"Sesungguhnya tidak terlampau lemah serangannya itu, cuma


ia sudah kehilangan rasa percayanya pada diri sendiri!"

Kusir tua itu membungkam.

Kembali Yan Cap-sa berkata:

"Justru serangan itu belum begitu hafal bagiku, maka


seandainya kau yang melancarkan serangan tadi,
kemungkinan besar aku sudah tewas di ujung pedangmu"

Kusir tua itu mengakui, pandangan manusia gelandangan tadi


memang terlalu tepat.

Tapi....siapakah dia?

Tidak sedikit tokoh-tokoh persilatan aneh yang berkeliaran


dalam dunia persilatan, kalau orang lain tak ingin
memperlihatkan identitas sendiri, apa gunanya kau mencari
orang itu serta menanyakan asal-usulnya?

"Sekarang........", kata Yan Cap-sa.

"Sekarang sudah jauh berbeda!", kusir tua itu menambahkan.


Pendekar Gelandangan 144

"Di mana letak perbedaannya?"

"Sekarang kau sudah menaruh kepercayaan penuh atas


kehebatan dari jurus pedang itu, maka akupun tak sanggup
untuk mematahkannya"

"Atau paling sedikit kau boleh mencobanya dulu?"

"Tidak perlu!"

"Tidak perlu?"

"Kalau toh banyak persoalan yang tak perlu kau ketahui,


kenapa ada banyak persoalan yang tak perlu kucoba?"

Ia tidak memberi kesempatan bagi Yan Cap-sa untuk


melanjutkan kata-katanya, kembali ia menambahkan:

"Dua puluh tahun berselang, aku kalah di ujung pedang


ayahmu, dan dua puluh tahun kemudian Hee-ho Seng kembali
kalah di ujung pedangmu, apa gunanya bagiku untuk
mencobanya kembali?"

Meskipun perkataan itu diucapkan dengan suara yang datar


dan tawar, tapi siapapun dapat menangkap bahwa di balik
perkataannya itu sebetulnya terkandung rasa sedih yang luar
biasa.

Yan Cap-sa dapat memahami perasaannya.

Yang menjadikan ia berduka mungkin bukan pertarungan


Pendekar Gelandangan 145

pada dua puluh tahun berselang, tapi justru kekalahan pada


hari ini.

Pada akhirnya ia merasakan bahwa kemampuan putranya


ternyata masih belum mampu menandingi kehebatan putra
musuhnya.

Kekalahan ini baru merupakan suatu kekalahan total,


kekalahan mutlak, dan kekalahan semacam ini tak mungkin
bisa di tolong lagi, sekalipun putra musuhnya dibunuh, apa
gunanya?

Pelan-pelan kusir tua itu berkata:

"Hari ini keluarga Hee-ho sudah betul-betul menderita kalah,


orang dari keluarga Hee-ho kami boleh kau bawa pergi sesuka
hatimu!"

Ia sudah bersiap-siap untuk menyerahkan Si Ko-jin kepada


Yan Cap-sa.

Rupanya ia sudah tidak menginginkan menantu semacam itu


lagi.

"Aku sama sekali tak ingin membawa pergi siapapun juga!",


kata Yan Cap-sa tegas.

"Kau benar-benar tidak ingin?"

Yan Cap-sa menggelengkan kepalanya.

"Tapi aku sangat menginginkan............."


Pendekar Gelandangan 146

"Sekalipun kau menginginkan batok kepalaku sekarang juga


akan kupersembahkan untukmu!", tukas si kusir tua itu
dengan mata mencorong sinar tajam.

Yan Cap-sa tertawa.

"Tidak! Aku tidak menginginkan batok kepalamu, aku hanya


ingin meminjam seekor kuda, seekor kuda yang dapat berlari
cepat!"

Kuda itu betul-betul seekor kuda bagus yang dapat berlari


cepat.

Yan Cap-sa membedal kudanya secepat-cepatnya.

Terhadap kuda bagus yang sanggup berlari cepat ini, tiada


rasa sayang barang sedikitpun yang tercermin di atas
wajahnya.

Terhadap kesehatan tubuh sendiripun ia tidak menaruh


perhatian, apalagi terhadap kesehatan seekor kuda?

Terhadap pertarungan yang bakal berlangsung ia sama sekali


tidak mempunyai pegangan apa-apa, diapun tak punya
harapan, sebab dia tahu, tiada seorang manusiapun sanggup
mematahkan serangan dari Sam-sauya.

Ya, sudah pasti tak ada!

Ia hanya berharap bisa tiba di telaga Liok-sui-ou sebelum


kedatangan Cho Ping di situ.
Pendekar Gelandangan 147

Telaga Liok-sui-ou terletak di bawah bukit Cui-im-hong.

Perkampungan Sin-kiam-san-ceng terletak di bawah bukit di


tepi telaga. Bangunannya kuno, tapi kokoh dan besar.

Di pantai seberang telaga merupakan sebuah dusun kecil yang


sebagian besar penduduknya berasal dari marga Cia. Seringkali
orang-orang yang akan menuju ke perkampuangan Sin-kiam-
san-ceng selalu akan berhubungan dulu dengan Cia-ciangkwe
yang berdiam di sana.

Seperti juga dusun-dusun lain, rumah makan milik Cia


ciangkwe ini bernama Sin-hoa-ceng.

Dusun itu bernama dusun Sin-hoa-ceng.

Di kala Yan Cap-sa tiba di dusun Sin-hoa-ceng yang kecil, kuda


itu telah rubuh kepayahan.

Untung orangnya masih tetap segar dan tak ikut roboh.

Ia segera menyerbu masuk ke dalam rumah makan, dia ingin


bertanya kepada Cia ciangkwe apakah Cho Ping telah tiba di
perkampungan Sin-kiam-san-ceng.

Tapi ia tak perlu bertanya lagi. Sebab ketika ia menyerbu


masuk ke dalam, ia segera melihat jawabannya. Ya,
jawabannya yang hidup dan segar.

ooooOOOOoooo
Pendekar Gelandangan 149

Bab 4. Perkampungan Pedang Sakti

Rumah makan Sin-hoa-ceng yang kecil hanya melayani dua


orang.

Ketika Yan Cap-sa menyerbu ke dalam, ia segera menyaksikan


Cho Ping duduk di sudut ruangan.

Ternyata Cho Ping sudah tiba lebih duluan.

Ternyata Cho Ping masih hidup segar bugar.

Mungkinkah ia telah berjumpa dengan Sam-sauya?

Kini terbukti ia masih hidup, jangan-jangan Sam-sauya telah


tewas di ujung pedangnya?

Yan Cap-sa tidak percaya, tapi mau tak mau dia harus
mempercayainya.

Cho Ping bukanlah seorang manusia yang penyabar, begitu


tiba, ia pasti langsung akan menyerbu ke dalam
perkampungan Sin-kiam-san-ceng.

Tak nanti dia akan menunggu di sana dengan begitu


tenangnya.

Barang siapa dapat menyerbu ke dalam perkampungan Sin-


kiam-san-ceng, dan ia masih sanggup ke luar dalam keadaan
hidup, maka hanya ada satu alasan saja sebagai jawabannya.

Orang itu pasti sudah berhasil mengalahkan manusia yang


Pendekar Gelandangan 150

paling berbahaya, manusia paling menakutkan dari


perkampungan Sin-kiam-san-ceng.

Sungguhkah Cho Ping telah mengalahkan Sam-sauya?

Dengan jurus serangan apakah ia berhasil mematahkan


serangan maut dari Sam-sauya?

Yan Cap-sa ingin sekali menanyakan persoalan ini, namun ia


tidak bertanya apa-apa.

Sebab walaupun Cho Ping masih hidup, ia sudah mabuk


hebat.

Ya, sedemikian mabuknya dia, sehingga kesadarannya boleh


dibilang sudah punah.

Untung dalam rumah makan itu masih terdapat orang lain


yang tidak mabuk, ia sedang memandang ke arahnya sambil
gelengkan kepalanya dan menghela napas.

"Tampaknya saudara ini bukan seorang peminum ahli, baru


setengah kati arak ia sudah mabuk"

Bukan seorang peminum arak, kenapa sekarang bisa mabuk


oleh arak?

Mungkinkah mabuk digunakan untuk menutupi kehambaran


setelah suatu kemenangan yang tak berarti? Ataukah dia
hendak menggunakan arak untuk memperbesar
keberaniannya sebelum bertempur, tapi ia mabuk lebih
duluan?
Pendekar Gelandangan 151

Yan Cap-sa tak dapat menahan sabarnya untuk bertanya:

"Kaukah yang bernama Cia ciangkwe?"

Orang yang sedang menggelengkan kepalanya sambil


menghela napas itu segera manggut-manggutkan kepalanya.

"Tahukah kau, apakah saudara ini telah berjumpa dengan


Sam-sauya dari keluarga Cia?", kembali Yan Cap-sa bertanya.

Cia ciangkwe masih juga menggeleng.

"Tidak, aku tidak tahu"

"Apakah ia sudah mendatangi perkampungan Sin-kiam-san-


ceng?"

"Aku tidak tahu"

"Sam sauya, kini berada di mana?"

"Aku tidak tahu!"" Lantas apa yang kau ketahui?", kata Yan
Cap-sa kemudian dengan suara yang dingin.

Cia ciangkwe tertawa lebar.

"Aku hanya tahu saudara adalah Yan Cap-sa, aku hanya tahu
kalau saudara hendak berkunjung ke perkampungan Sin-kiam-
san-ceng!"

Yan Cap-sa ikut tertawa sesudah mendengar perkataan itu.


Pendekar Gelandangan 152

Persoalan yang seharusnya ia ketahui ternyata tidak diketahui


olehnya, sebaliknya persoalan yang seharusnya tidak diketahui
olehnya, dia malahan seperti mengetahui semuanya.

"Dapatkah kau bawa aku ke sana?", kembali Yan Cap-sa


bertanya.

"Dapat!"

Air telaga Liok-sui-ou hijau kebiru-biruan.

Sayang waktu itu musim gugur telah tiba, sepanjang telaga


tidak nampak lagi pohon liu yang berjajar, yang ada cuma
sebuah perahu cepat.

"Perahu ini telah kami sediakan khusus untuk menyambut


kedatanganmu, aku telah menyiapkannya sejak tiga hari
berselang"

Setelah naik ke atas perahu, dalam perahu bukan saja ada


arak dan sayur, di situpun ada sebuah khim, seperangkat alat
permainan catur, sebuah jilid kitab dan sebuah batu cadas
yang keras dan berkilat.

"Benda apakah ini?", tanya Yan Cap-sa kemudian.

"Batu pengasah pedang!", jawab Cia ciangkwe sambil


tertawa.

Kemudian sambil tersenyum ia menjelaskan lebih jauh:


Pendekar Gelandangan 153

"Sudah terlampau banyak orang yang kujumpai sebelum


mereka mendatangi perkampungan Sin-kiam-san-ceng, dan
setiap orang yang sudah naik ke atas perahu ini, biasanya
perbuatan yang mereka lakukan selalu tidak sama!"

Yan Cap-sa tidak memberi komentar, ia hanya mendengarkan


dengan saksama.

"Ada sementara orang, begitu naik ke perahu ia lantas minum


arak sepuas-puasnya"

"Minum arak dapat memperbesar keberanian orang!", Yan


Cap-sa menimpali dari samping.

Ia memenuhi cawan dengan arak lalu meneguknya sampai


habis, setelah itu katanya lagi:

"Cuma setiap orang yang minum arak bukan berarti untuk


memperbesar keberanian saja!"

Cia cingkwe segera menyatakan setuju dengan pandangan itu.


Katanya dengan tersenyum:

"Ya, benar! Ada sementara orang minum arak hanya


dikarenakan ia gemar minum arak"

Yan Cap-sa kembali menghabiskan tiga cawan arak.

"Ada pula sementara orang yang gemar memetik khim, atau


membaca buku, bahkan ada pula yang gemar main catur
seorang diri", kata Cia ciangkwe lagi.
Pendekar Gelandangan 154

Pekerjaan-pekerjaan semacam itu memang bisa


mengendorkan ketegangan yang mencekam perasaan
seseorang. Dengan bermain khim atau membaca buku tau
bermain catur, ketenangan serta kemantapan hatinya dapat
terpelihara dengan baik.

Kata Cia ciangkwe lebih jauh:

"Tapi sebagian besar orang-orang yang naik ke perahu ini,


mereka lebih suka mengasah pedangnya"

Cia ciangkwe memandang sekejap pedang yang dibawa Yan


Cap-sa, lalu katanya:

"Batu pengasah pedang ini adalah sebuah batu pengasah


yang baik sekali kwalitetnya"

Yan Cap-sa segera tertawa.

"Selamanya pedangku tak pernah di asah dengan batu


pengasah pedang....", katanya.

"Kalau tidak diasah dengan batu pengasah pedang, lantas kau


asah pedangmu dengan apa?"

"Dengan tengkuk manusia, terutama tengkuk musuh-


musuhku!"

Ombak menggulung-gulung menuju ke tepi telaga, sinar


matahari senja membiaskan cahayanya ke seluruh jagat.

Bukit Cui-im-hong yang berada di kejauhan tampak indah


Pendekar Gelandangan 155

menawan bagaikan berada dalam lukisan belaka.

Suasana dalam ruang perahu itu amat hening, karena Cia


ciangkwe telah menutup mulut.

Ia tak ingin membiarkan tengkuknya dibuat pengasah pedang


orang, tapi sepasang matanya masih tak tahan untuk melirik
sekejap pedang tersebut, pedang dengan tiga belas butir
mutiara menghiasi di atasnya.

Pedang itu bukan sebilah pedang mestika, tapi merupakan


sebilah pedang kenamaan, bahkan amat termasyhur.

Yan Cap-sa yang sedang memandang keindahan alam di luar


jendela seakan-akan teringat kembali akan suatu rahasia
dalam hatinya.

Entah berapa lama sudah lewat dalam keheningan, tiba-tiba


ia berpaling sambil bertanya:

"Tentu saja kau pernah berjumpa dengan Sam sauya, bukan?"

Cia ciangkwe tak dapat menyangkal.

"Pedang macam apakah yang biasanya dipergunakan?", tanya


Yan Cap-sa lebih lanjut.

Ia pernah menyaksikan Sam sauya turun tangan, tapi ia tidak


melihat jelas pedang yang dipergunakan sebab gerakan
tangan Sam sauya terlampau cepat, maka dia tak tahan untuk
mengajukan pertanyaan ini.
Pendekar Gelandangan 156

"Aku tak tahu!"

Tapi rupanya dugaan kali ini meleset.

Cia ciangkwe tampak termenung sebentar, pelan-pelan


berkata:

"Tahukah kau tentang peristiwa adu pedang di bukit Hoa-san


yang diselenggarakan tempo hari?"

Tentu saja Yan Cap-sa tahu.

"Pedang itulah yang telah dipergunakan Sam-sauya", kata Cia


ciangkwe lebih lanjut.

"Thian-he-tit-it-kiam?"

Pelan-pelan Cia-ciangkwe mengangguk lalu menghela napas.

"Ya, hanya pedang itu merupakan pedang mestika yang


benar-benar tiada tandingannya di kolong langit"

"Perkataanmu memang benar!", Yan Cap-sa mengakui.

"Ada banyak sekali orang yang menumpang perahu ini, tak


lain hanya ingin menyaksikan pedang tersebut"

"Apakah setiap kali kau yang bertanggung jawab untuk


menghantar mereka ke seberang?"

"Biasanya memang selalu demikian, sewaktu berangkat


seringkali kutemani mereka minum arak atau bermain catur"
Pendekar Gelandangan 157

"Sewaktu kembalinya?"

Cia ciangkwe tertawa.

"Sewaktu kembali, seringkali aku harus pulang seorang diri",


katanya.

"Kenapa?"

"Karena begitu mereka menginjakkan kakinya dalam


perkampungan Sin-kiam-san-ceng, biasanya jarang sekali
dapat pulang dalam keadaan selamat!"

Jawaban dari Cia ciangkwe ini cukup tawar dan menggidikkan


hati.

Matahari semakin tenggelam di balik bukit, senjapun semakin


kelam.

Gunung nan hijau di tempat kejauhan kain lama kian terlelap


di balik kegelapan yang makin mencekam, seakan-akan
sebuah lukisan yang warnanya mulai luntur.

Suasna dalam ruang perahu lebih hening lagi, karena Yan Cap-
sa-pun membungkam dalam seribu bahasa.

Kepergiannya kali ini mungkinkah bisa kembali lagi dalam


keadaan hidup? Tiba-tiba ia teringat akan banyak urusan,
banyak persoalan yang sesungguhnya tak pantas dibayangkan
pada saat seperti ini.
Pendekar Gelandangan 158

Ia teringat kembali akan masa kecilnya dulu, terbayang


kembali sobat-sobatnya di kala remaja, lalu teringat pula akan
orang-orang yang tewas di ujung pedangnya.

Di antara sekian banyak orang, adakah beberapa di antaranya


yang sebetulnya tak pantas mati?

Ia teringat kembali akan perempuan pertama yang


menemaninya tidur, waktu itu ia masih seorang anak-anak,
sebaliknya perempuan itu sudah sangat berpengalaman.

Baginya, persoalan itu bukanlah suatu pengalaman yang


menarik hati, tapi sekarang apa mau dikata justru ia teringat
kembali akan peristiwa itu.

Bahkan ia teringat juga akan Si Ko-jin.

Sekarang, mungkinkah dia telah ikut Hee-ho Seng pulang ke


rumahnya? Apakah Hee-ho Seng masih bersedia menerimanya
lagi?

Sesungguhnya persoalan semacam ini tak perlu ia pikirkan,


tidak seharusnya dia bayangkan, dan sebetulnya diapun tak
berharap untuk memikirkannya.

Tapi sekarang ia telah memikirkan semuanya itu, semakin


dipikir bahkan pikirannya semakin kalut.

Pada saat pikirannya lebih kalut, mendadak ia menyaksikan


seseorang berdiri di tepi telaga Liok-sui-ou, di bawah senja
yang kelabu.
Pendekar Gelandangan 159

Pada umumnya bila pikiran seseorang sedang kalut dan


bingung, seringkali tidak gampang baginya untuk melihat
orang lain, apa lagi urusan yang lain.

Tapi di kala pikiran Yan Cap-sa mencapai titik kekalutannya,


justru ia telah melihat orang itu.

Orang itu tidak mempunyai potongan yang istimewa. Orang


itu adalah seorang laki-laki setengah umur, mungkin lebih tua
sedikit dari setengah umur sebab rambutnya banyak yang
mulai beruban, sorot matanya memancarkan pula keletihan
dan ketuaan.

Pakaiannya amat sederhana, seperangkat baju berwarna hijau


dengan sepatu kain dan kaos putih.

Ketika Yan Cap-sa memandang ke arahnya seperti pula ia


sedang memandang senja yang kelabu itu, perasaannya akan
timbul suatu ketenangan, suatu keindahan dan suatu
kenyamanan yang enak dan segar, tiada rasa kaget atau ngeri
atau takut yang tersirap dalam benaknya.

Cia ciangkwe telah menyaksikan pula kehadiran orang itu,


Cuma ia menunjukkan rasa kaget, tercengang bahkan sedikit
rasa ngeri dan takut.

"Siapakah orang ini?", tak tahan Yan Cap-sa bertanya.

Cia ciangkwe tidak menjawab, sebaliknya malah balik


bertanya:

"Masa kau tidak tahu, siapakah cengcu generasi yang lalu dari
Pendekar Gelandangan 160

perkampungan Sin-kiam-san-ceng?"

"Kau maksudkan Cia Ong-sun?", Yan Cap-sa menegaskan.

Cia ciangkwe manggut-manggut.

"Nah, orang yang akan kau jumpai sekarang tak lain adalah
Cia lo-cengcu, Cia Ong-sun!"

Cia Ong-sun bukan seorang jago persilatan yang tersohor


namanya atau seorang pendekar yang disegani setiap orang
dalam dunia persilatan.

Ia menjadi tersohor di dunia karena dia adalah cengcu dari


perkampungan Sin-kiam-san-ceng.

Yan Cap-sa mengetahui hal ini, tapi tak disangka olehnya


kalau Cia cengcu yang dikenal namanya oleh setiap orang itu
tak lebih hanya seorang manusia yang begitu sederhana,
begitu bersahaja dan lembut.

Sepintas lalu meski usianya tidak terlampau tua, tapi


kehidupannya telah mencapai senja yang kelam, seperti juga
ketenangan dan kekelaman yang mencekam suasana ketika
itu, seakan-akan tiada suatu kejadian di dunia ini yang dapat
menggerakkan lagi hatinya.

Tangannya kering tapi hangat dan lembut.

Sekarang ia sedang menggenggam tangan Yan Cap-sa sambil


tertawa.
Pendekar Gelandangan 161

"Tak usah kau perkenalkan dirimu, aku sudah tahu siapakah


kau", demikian ia berkata.

"Tapi cianpwe, kau......"

"Jangan sebut aku sebagai cianpwe", tukas Cia Ong-sun,


"setiap orang yang telah sampai di sini, dia adalah tamu
agungku".

Yan Cap-sa tidak mendebat, diapun tidak sungkan-sungkan


lagi.

Digenggam oleh tangan seperti itu, tiba-tiba saja timbul


perasaan hangat dalam hatinya. Tapi tangan yang lain masih
erat-erat menggenggam pedangnya.

"Rumahku terletak tak jauh di depan sana", kata Cia Ong-sun,


"kita boleh pelan-pelan menuju ke sana"

Kemudian sambil tersenyum katanya lagi:

"Bisa berjalan-jalan bersama manusia macam kau dalam


suasana seperti ini sungguh merupakan suatu peristiwa yang
amat menggembirakan......!"

Meskipun matahari senja telah lenyap dari pandangan, daun-


daunan hijau di atas bukit masih kelihatan begitu anggun dan
menarik.

Harum bunga dari tempat kejauhan tersiar di sela hembusan


angin malam, membuat suasana bertambah nyaman.
Pendekar Gelandangan 162

Di antara sela-sela pepohonan yang lebat, terbentang sebuah


jalan kecil beralas batu.

Tiba-tiba timbul suatu perasaan tenang, perasaan nyaman


yang sudah banyak tahun tak pernah dirasakan lagi.

Dalam keadaan demikian, tiba-tiba saja ia teringat akan


sebuah syair:

Mendaki ke bukit dingin, jalan berliku-liku

Awan putih menyelimuti angkasa, tiada sanak keluarga

Duduk dalam kereta, berhenti di tepi hutan, menikmati


indahnya malam

Bunga dan dedaunan, hanya bersemi di bulan ke dua

Cia Ong-sun berjalan sangat lambat. Baginya walaupun


kehidupan sudah makin menipis, tapi ia tidak gelisah, diapun
tidak cemas.

Perkampungan Sin-kiam-san-ceng yang berdiri kokoh di


tempat kejauhan, mulai tampak secara lamat-lamat.

Tiba-tiba Cia Ong-sun berkata:

"Bangunan ini adalah tinggalan dari nenek moyang kami yang


membangunnya pada dua ratus tahun berselang, hingga kini
corak bangunannya masih belum mengalami perubahan,
walau hanya sedikitpun"
Pendekar Gelandangan 163

Suaranya mendadak berubah menjadi parau dan penuh


kedukaan, lanjutnya:

"Tapi manusia-manusia yang berada di sini telah berubah


semua, bahkan sangat banyak perubahannya"

Yan Cap-sa mendengarkan dengan tenang. Ia dapat


menangkap perasaan dari orang tua ini, meskipun
perasaannya agak tersentuh namun bukan berarti ia berduka.

Karena ia sudah dapat memandang segala sesuatunya dengan


lebih luas dan bebas.

Setiap manusia memang harus mengalami perubahan,


kenapa perubahan tersebut harus disedihkan?

Kembali Cia Ong-sun berkata:

"Orang yang membangun perkampungan ini tak lain adalah


nenek moyang angkatan pertama kami, mungkin kau
mengetahui tentang dirinya, bukan?"

Tentu saja Yan Cap-sa mengetahuinya.

Dua ratus tahun berselang, semua pendekar kenamaan dalam


kolong langit telah berkumpul di bukit Hoa-san,
membicarakan soal ilmu silat dan memperbincangkan soal
ilmu pedang. Kejadian tersebut sungguh merupakan suatu
peristiwa yang mengesankan.

Kalau seseorang dapat memperoleh pujian serta sanjungan


dari segenap pendekar kenamaan di dunia dalam waktu
Pendekar Gelandangan 164

seperti itu, maka orang itu pastilah seorang manusia yang


agung dan luar biasa.

Cia Ong-sun berkata lebih jauh:

"Sejak dia orang tua meninggal dunia, turun temurun


berlangsung beberapa generasi di tempat ini, sekalipun tak
seorang di antara mereka yang mampu menandingi dia orang
tua, tapi setiap kepala keluarga Cia yang memerintah di sini
pasti telah melakukan suatu sejarah yang cemerlang dan suatu
peristiwa yang menggemparkan seluruh dunia".

Ia tertawa dan berganti napas, kemudian melanjutkan:

"Hanya aku seorang yang tak becus, hanya aku seorang yang
tidak menciptakan kejadian apa-apa, aku tak lebih cuma
seorang manusia biasa, seorang yang sesungguhnya tak
pantas menjadi keturunan dari keluarga Cia......."

Tertawanya begitu tenang, begitu lembut dan hangat,


katanya lebih lanjut:

"Oleh karena aku tahu bahwa aku hanya seorang manusia


biasa yang tak becus, maka aku malah bisa menikmati
kehidupan yang sederhana dan aman tenteram"

Yan Cap-sa hanya mendengarkan, tanpa memberi komentar


apa-apa.

"Aku mempunyai dua orang putri dan tiga orang putra", Cia
Ong-sun menambahkan, "putriku yang sulung kawin dengan
seorang pemuda yang berbakat, sayang ia terlalu sombong,
Pendekar Gelandangan 165

maka mereka mati terlalu cepat".

Yan Cap-sa pernah mendengar cerita itu.

Toa-siocia dari keluarga Cia kawin dengan seorang jago


pedang muda belia yang hebat dan pemberani.

Mereka memang mati terlampau awal, mati di tengah malam


perkawinannya, terbunuh dalam kamar pengantin mereka
yang indah dan penuh kehangatan itu.

"Putriku yang kedua juga mati terlampau awal, ia mati karena


murung dan sedih, sebab orang yang dicintainya ternyata
adalah kacung bukuku sendiri, karena ia tak berani berterus
terang, kamipun tidak tahu sebab itu kujodohkan dia dengan
orang lain, tapi sebelum perkawinan itu tiba, ia sudah mati
secara mengenaskan".

Ia menghela napas panjang, tambahnya:

"Padahal jika ia mau berterus terang dan mengungkapkan isi


hatinya, kami tidak akan menolak, kacung bukuku adalah
seorang anak yang baik".

Untuk pertama kalinya ia menghela napas panjang, cuma


helaan napas itu tidak terlalu banyak mengandung nada sedih,
justru lebih banyak perasaan masa bodohnya.

Sebagai seorang manusia, kenapa ia harus sedih atas kejadian


yang sudah lewat?

"Putra sulungku adalah seorang laki-laki yang lemah pikiran,


Pendekar Gelandangan 166

semenjak kecil ia sudah bego dan tak bisa apa-apa, putraku


yang nomor dua karena ingin membalaskan dendam bagi
kematian cicik dan cihunya, ia sendiripun akhirnya tewas di
bukit Im-san."

Sekalipun ia tewas, namun kelompok setan dari bukit Im-san


yang telah mencelakai jiwa Toa-siocia dari keluarga Cia, tak
seorangpun yang berhasil lolos dalam keadaan hidup.

"Inilah ketidak beruntungan dari keluarga kami," kata Cia


Ong-sun, "tapi aku tak pernah murung atau menyalahkan
orang lain".

Suaranya masih tetap tenang dan datar:

"Setiap manusia mempunyai takdirnya masing-masing,


beruntungkah dia? Atau sialkah dia? Siapapun tak dapat
menyalahkan siapa. Kalau ia tidak murung karena menerima
rejeki, kenapa harus murung di kala ketimpa sial? Ya, selama
banyak tahun ini pikiran dan caraku berpandangan memang
jauh lebih terbuka!"

Seseorang yang telah mengalami banyak musibah, banyak


kesialan dan tragedi, ternyata masih dapat mempertahankan
ketenangan dan kehalusan budinya, dari sini dapat diketahui
bahwa dia memang seorang manusia yang luar biasa.

Yan Cap-sa merasa sangat kagum, ia betul-betul kagum sekali.

"Setelah jalan pikiranku lebih terbuka," kata Cia Ong-sun lagi,


"aku dapat menarik kesimpulan bahwa kesialan dan musibah
yang selama ini menimpa diriku, kemungkinan besar adalah
Pendekar Gelandangan 167

hukum karma yang harus kami jalankan karena napsu


membunuh dari nenek moyang kami di masa lalu.........."

Tapi mengapa ia harus memberitahukan semua persoalan itu


kepada orang lain? Sesungguhnya persoalan ini adalah urusan
pribadi dari keluarga mereka sendiri, persoalan yang tidak
sepatutnya diketahui orang lain.

...Ia memberitahukan segala sesuatunya itu kepadaku,


mungkinkah lantaran ia telah menganggap diriku sebagai
seorang manusia yang hampir mendekati ajalnya?

...Hanya orang mati saja yang selamanya tak akan


membocorkan rahasia tersebut.

Yan Cap-sa telah berpikir sampai ke situ, tapi ia tak ambil


perduli.

Karena jalan pikirannya telah terbuka pula, bagaimana


pandangan orang lain kepadanya, ia tak akan ambil perduli.

Kembali Cia Ong-sun berkata:

"Tentu saja kau tahu bukan, kalau aku masih mempunyai


seorang putra, ia bernama Cia Siau-hong?"

"Aku tahu!"

"Dia memang seorang bocah yang amat cerdik, dialah roh


kehidupan dari keluarga Cia, kekuatan dari kami!"

"Aku tahu, di kala masih mudanya dulu, ia pernah


Pendekar Gelandangan 168

mengalahkan jago pedang yang paling termasyhur waktu itu,


Hoa Sau-kun!"

"Ilmu pedang yang dimiliki Hoa Sau-kun tidak setinggi apa


yang digembar-gemborkan orang, lagi pula ia terlampau
sombong. Pada hakekatnya ia tak pandang sebelah matapun
terhadap seorang bocah yang berusia belasan tahun"

Pelan-pelan ia melanjutkan:

"Bila seseorang ingin belajar pedang, dia harus berlatih


dengan hati yang bersih dan perasaan yang tulus, keangkuhan
atau sombong, jangan sekali-kali sampai menempel di dalam
tubuhnya, karena kesombongan paling mudah menciptakan
keteledoran dan setiap keteledoran yang bagaimanapun
kecilnya bisa mengakibatkan melayangnya selembar nyawa".

Yan Cap-sa tak dapat menahan diri lagi, ia menghela napas


panjang.

"Hanya cukup mengandalkan hal ini, tidak bisa disangkal lagi


bahwa dia seorang jago pedang yang tiada tandingannya di
dunia dewasa ini.....!"

Tiba-tiba Cia Ong-sun menghela napas lagi.

"Sayang hal inipun merupakan ketidak beruntungan baginya"

"Kenapa"

"Justru karena ia tak pernah memandang rendah siapapun


juga, maka setiap kali berhadapan dengan musuh, ia selalu
Pendekar Gelandangan 169

akan menggunakan segenap kekuatan tubuhnya"

Meskipun ia tidak melanjutkan perkataannya lebih jauh, Yan


Cap-sa telah memahami maksudnya.

Bila setiap kali menghadapi musuh, seseorang selalu


menggunakan segenap kekuatan yang dimilikinya, maka setiap
kali juga pasti ada orang yang menjadi korban di ujung
pedangnya.

Semenjak dulu ia memang sudah tahu bahwa di bawa pedang


Sam-sauya tak pernah ada orang yang lolos dalam keadaan
hidup.

Untuk kesekian kalinya, Cia Ong-sun menghela napas.

"Kesalahan terbesar yang pernah dilakukan selama hidupnya


adalah napsu membunuhnya yang terlampau besar!"

"Tapi hal ini bukan merupakan kesalahannya!"

"Bukan? Ya, memang bukan!"

"Mungkin ia memang tak berhasrat membunuh orang, ia


membunuh orang karena ia tak punya pilihan lain kecuali
berbuat demikian"

Memang sudah menjadi rahasia umum bahwa: 'Bila kau tidak


membunuhku, maka akulah yang akan membunuhmu'.

Yan Cap-sa ikut menghela napas pula.


Pendekar Gelandangan 170

"Aaaai....... bila seseorang sudah berada dalam dunia


persilatan, kadangkala banyak sekali urusan yang harus
dilakukan tanpa sekehendak hatinya sendiri, termasuk dalam
hal membunuh orang!"

Cia Ong-sun menatapnya lama, lama sekali, kemudian pelan-


pelan berkata pula:

"Sungguh tak kusangka, kalau kau dapat memahami


perasaannya!"

"Tentu saja, sebab akupun seringkali membunuh orang!"

"Apakah kaupun sangat ngin membinasakannya?"

"Benar!"

"Kau sangat jujur!"

"Untuk menjadi seorang pembunuh manuia, dia harus


seorang yang jujur, karena orang yang tidak jujur seringkali
harus mati di ujung pedang orang lain"

.....Siapa yang ingin belajar pedang, dia harus jujur dan


berhati lurus, sebab itulah dasar pertama yang harus
dimilikinya.

Cia Ong-sun memandangnya tajam-tajam, tiba-tiba dibalik


sorot matanya itu tercermin suatu sikap yang aneh sekali, lalu
katanya:

"Baik, kalau begitu ikutlah aku!"


Pendekar Gelandangan 171

"Terima kasih banyak!"

Terima kasih banyak! Sesungguhnya ucapan itu hanya


sepatah dua patah kata yang biasa dan sederhana.

Akan tetapi dalam keadaan dan saat seperti ini, ternyata ia


masih juga mengucapkan kata-kata itu, maka suasanapun ikut
berubah menjadi sangat aneh.

Mengapa ia harus mengucapkan terima kasih? Lantaran orang


tua itu dapat memahami perasaannya? Atau karena orang tua
itu bersedia membawanya untuk menghantar kematiannya?

Padahal ia memang datang untuk menghantar kematiannya.

Malam yang gelap sudah menjelang tiba, cahaya lampu mulai


bermunculan dalam gedung perkampungan Sin-kiam-san-ceng
dan mengusir kegelapan dari sekeliling tempat itu.

Mereka telah masuk ke dalam sebuah ruangan di sisi ruang


tengah yang lebar.

Cahaya lampu dalam ruang tengah terang benderang,


sebaliknya sinar lampu dalam ruangan itu redup dan berwarna
kelabu.

Setiap benda yang di sana diselubungi dengan kain hitam


yang berwarna gelap, ini semua menambah seram dan
suramnya suasana di situ.

Mengapa Cia Ong-sun tidak menyambut kedatangan tamu


Pendekar Gelandangan 172

agungnya di ruang tengah yang luas dan terang benderang?


Mengapa ia mengajak tamunya memasuki ruangan sempit
yang suram?

Yan Cap-sa tidak bertanya, ia merasa tidak ada keharusan


baginya untuk bertanya.

Cia Ong-sun telah menyingkap secarik kain hitam yang


menutupi sebuah benda, ternyata benda itu adalah sebuah
papan nama, sebuah papan nama dengan huruf emas
berkilauan:

"THIAN-HE-TIT-IT-KIAM"

"Sejak dulu sampai sekarang, belum pernah ada orang


persilatan yang pernah mendapat penghargaan setinggi ini",
kata Cia Ong-sun, "anak keturunan dari keluarga Cia selalu
menyimpan benda ini dengan hormat dan sayang, namun
kamipun merasa sedikit malu"

"Merasa malu?"

"Ya, karena semenjak dia orang tua pulang ke alam baka, anak
keturunan keluarga Cia tak seorangpun yang pantas untuk
menerima ke lima huruf emas itu lagi"

"Sekalipun demikian, sekarang secara terbuka orang-orang


persilatan telah mengakui bahwa hanya satu orang yang
pantas menerima ke lima huruf emas itu!"

Ya, memang satu orang saja yang pantas menerima


penghargaan setinggi itu.......
Pendekar Gelandangan 173

Tentu saja orang itu tak lain adalah Sam-sauya dari keluarga
Cia.

"Justru karena itulah pedang yang pernah dipergunakan dia


orang tua sewaktu berada di bukit Hoa-san dulu, kini telah
diwariskan pula kepadanya", kata Cia Ong-sun.

Setelah berhenti sebentar, ia menambahkan pula:

"Pedang itu sudah banyak tahun tak pernah digunakan lagi,


baru sekarang kuwariskan kepadanya"

Yan Cap-sa dapat memahami akan hal itu.

Kecuali 'dia', siapa lagi yang pantas menggunakan pedang itu?

"Inginkah kau menyaksikan pedang itu?", tiba-tiba Cia Ong-


sun bertanya lagi.

"Ingin, tentu saja sangat ingin!"

Di balik kain hitam yang menutupi sebuah tonjolon, terlihat


sebuah rak yang terbuat dari kayu.

Di atas rak kayu terlentang sebilah pedang.

Sarung pedang itu berwarna hitam pekat, sekalipun sudah


lama dan kuno, tapi masih tetap utuh dan sempurna.

Kain kuning di ujung gagang pedang telah luntur warnanya,


tapi gagang pedang yang dilapisi perak masih memancarkan
Pendekar Gelandangan 174

sinar yang berkilauan.

Dengan tenangnya Cia Ong-sun berdiri di depan pedang itu,


seperti seseorang yang sedang berdiri di hadapan patung
pemujaannya.

Perasaan Yan Cap-sa ketika itu sama pula dengan perasaan


Cia Ong-sun, bahkan ia lebih bersujud dan menaruh rasa
kagum, karena ia tahu, di dunia dewasa ini hanya pedang ini
yang sanggup membinasakan dirinya.

Tiba-tiba Cia Ong-sun berkata:

"Pedang ini bukan pedang tajam yang ditempa seorang ahli


pandai besi, pedang inipun bukan sebilah pedang antik"

"Tapi pedang ini adalah sebilah pedang kenamaan yang tiada


tandingannya di kolong langit", Yan Cap-sa menyambung
dengan cepat.

Cia Ong-sun mengakuinya.

"Ya, memang pedang itu tiada tandingannya di kolong langit"

"Cuma yang ingin kujumpai sesungguhnya bukanlah pedang


ini"

"Aku tahu!"

"Yang ingin kujumpai adalah pemilik pedang ini, maksudku


pemiliknya yang sekarang"
Pendekar Gelandangan 175

"Saat ini ia sudah berada di hadapanmu!"

Di hadapan Yan Cap-sa adalah rak kayu tempat pedang.

Di belakang rak kayu itu masih terdapat sebuah benda yang


ditutup dengan kain hitam yang lebar, benda itu empat
persegi dan panjang sekali.

Tiba-tiba suatu perasaan bergidik yang sukar dilukiskan


dengan kata-kata muncul dari dasar hatinya, dari dasar hati
langsung menyerang ke dalam otaknya.

Pada saat itulah ia meneruskan suatu firasat jelek yang tak


enak sekali..............

Dia ingin bertanya, tapi tak berani mengajukan pertanyaan


tersebut.

Bahkan ia tak berani mempercayainya, diapun tak ingin


mempercayainya, ia cuma berharap agar perasaan tersebut
hanya suatu kekeliruan yang besar........

Sayang dugaannya itu tidak salah.

Ketika kain hitam itu disingkap, maka terlihatlah sebuah peti


mati.

Peti mati itu masih baru, diatasnya seakan-akan terukir


delapan atau sembilan huruf.

Tapi Yan Cap-sa hanya sempat menangkap tiga huruf saja,


ketika huruf itu adalah:
Pendekar Gelandangan 176

CIA SIAU HONG

.....Walaupun sinar lampu yang memancar dalam ruang


tengah masih terang benderang, tapi bagaimanapun terang
benderangnya sinar lampu, tak mungkin bisa menerangi lagi
hati Yan Cap-sa.

Sebab sinar cemerlang di dalam hatinya, kini sudah lenyap tak


berbekas. Cahaya pedang yang cemerlang telah lenyap tak
berbekas...... satu-satunya pedang yang sanggup
membinasakan dirinya.

"Siau Hong sudah mati selama tujuh belas hari"

Sudah barang tentu ia tak mungkin mati di ujung pedang Cho


Ping, sebab tak ada orang yang sanggup mengalahkan dia.

Ya, memang tak seorang manusiapun yang sanggup


mengalahkannya. Satu-satunya yang bisa mengalahkan dia
hanya takdir!.

Setiap orang tentu mempunyai takdirnya masing-masing,


mungkin karena nasibnya terlampau cemerlang dan ternama,
maka takdir menentukan usianya yang pendek.

Meskipun kematiannya sangat tiba-tiba, namun ia pergi


perasaan tenang.

Sekalipun kelopak mata kakek itu berkaca-kaca oleh air mata,


namun suaranya sangat tenang.
Pendekar Gelandangan 177

"Aku tidak terlampau berduka hati, sebab ia memang sudah


cukup hidup di dunia ini, kehidupannya sudah amat bernilai, ia
memang boleh mati dengan perasaan yang tenang"

Tiba-tiba ia bertanya kepada Yan Cap-sa:

"Kau lebih suka hidup selamanya dengan tenang dan statis?


Ataukah hidup seperti dia, tapi hanya dalam tiga tahun?"

Yan Cap-sa tidak menjawab, ia tak perlu memberikan


jawabannya...........kau suka menjadi meteor di angkasa?
Ataukah menjadi lilin yang redup?

.....Meskipun sinar dari meteor cemerlang, tapi waktunya


sangat pendek, sebaliknya meskipun sinar lilin itu redup, tapi
berlangsung dalam jangka waktu yang lama.

Namun kendatipun ia hanya berlangsung dalam waktu


singkat, dapatkah berjuta-juta batang lilin menandingi
kecemerlangan serta keindahan dari cahayanya?

Walaupun cahaya dalam ruang tengah terang benderang, tapi


Yan Cap-sa lebih suka berjalan di tengah kegelapan.

Kegelapan yang mencekam di padang yang luas tak bertepian.

Tiba-tiba Yan Cap-sa berkata:

"Tadi kau memberitahukan segala sesuatunya kepadaku,


ternyata bukan lantaran kau telah menganggapku seseorang
yang sudah mendekati pada ajalnya"
Pendekar Gelandangan 178

Tentu saja bukan!

Sam-sauya telah mati, kenapa ia bisa mati?

Tiba-tiba Yan Cap-sa berpaling lagi, kepada Cia Ong-sun ia


berkata:

"Mengapa kau memberitahukan semua persoalan itu


kepadaku?"

"Karena aku tahu kau datang untuk mengantar


kematianmu!", jawab Cia Ong-sun hambar.

"Kau tahu?", tanya Yan Cap-sa

"Tentu saja aku tahu, akupun bisa melihat betapa kagum dan
hormatnya sikapmu terhadap Cia Siau-hong, kaupun telah
menyadari bahwa tiada harapan bagimu untuk mengalahkan
dia", kata Cia Ong-sun.

"Tapi mengantarkan kematian sendiri bukanlah suatu


pekerjaan yang pantas di hormati!"

"Benar!"

Ia tertawa, tertawa dengan amat sedihnya:

"Tapi paling sedikit aku menghormati dirimu, sebab aku tak


akan memiliki keberanian seperti ini, aku tak lebih cuma
seorang manusia biasa, lagipula aku sudah tua....."

Suaranya makin lama semakin rendah, semakin lama semakin


Pendekar Gelandangan 179

berat dan berakhir dengan suatu helaan napas panjang.

Hembusan angin di musim gugur persis seperti helaan


napasnya yang berat dan hampa itu.

Pada waktu itulah dari balik kegelapan tiba-tiba menyelinap


ke luar sesosok bayangan manusia, sesosok manusia dengan
sebilah pedang!.

Ya, sesosok bayangan manusia dengan sebilah pedang.

Gerakan manusianya lebih gesit daripada seekor burung


elang, gerakan pedangnya lebih cepat dari pada sambaran
petir.

Ketika orang itu munculkan diri di belakang punggung Cia


Ong-sun, ujung pedangnya langsung menusuk ke
punggungnya.

Yan Cap-sa ikut menyaksikan peristiwa tersebut, tapi ia sudah


tidak sempat lagi untuk melancarkan serangan guna
melindungi keselamatan orang tua itu.

Cia Ong-sun sendiri seolah-olah tidak merasakan sama sekali


akan datangnya tusukan itu, ia cuma menghela napas sambil
membungkukkan badannya mengambil selembar daun kering.

Gerakannya itu lambat, lambat sekali.

Tindakannya mengambil daun kering itu seakan-akan hanya


suatu gerakan spontan yang timbul karena sentuhan
perasaan.
Pendekar Gelandangan 180

Seolah-olah lembaran hidupnya tak jauh berbeda dengan


daun kering itu, selembar daun yang telah rontok dan
mengering.

Tapi justeru dengan gerakannya itu, secara kebetulan sekali ia


berhasil meloloskan diri dari sambaran pedang yang
datangnya secepat sambaran kilat itu.

Pada detik itu pula, tusukan pedang yang jelas sudah hampir
mengenai punggungnya, tahu-tahu telah menusuk di tempat
yang kosong.

Padahal selisih waktu antara yang pertama dengan yang


kedua hakekatnya cuma beberapa detik.

Rupanya penyergap itu telah mengerahkan segenap kekuatan


yang dimilikinya, di kala serangan itu gagal dan tidak mengenai
sasarannya, tak sempat lagi baginya untuk menarik kembali
gerakannya, seluruh tubuh dan kekuatannya segera tergulung
ke depan, dan tusukan pedangnya kini berbalik mengancam
tubuh Yan Cap-sa yang berada dihadapannya.

Sekalipun tusukan tersebut hanya mengandung sisa tenaga


daripada serangannya yang pertama, akan tetapi masih
mengandung cukup kekuatan untuk merenggut nyawa
seseorang.

Dalam keadaan begini, mau tak mau Yan Cap-sa harus


melakukan serangan balasan.

Pedangnya segera di loloskan dari sarungnya dan cahaya


Pendekar Gelandangan 181

pedangpun berkilauan membelah angkasa.

Orang itu segera berjumpalitan di tengah udara, dan


melompat mundur sejauh tujuh depa lebih, mukanya yang
hijau membesi masih membawa tanda-tanda mabuk!

"Cho Ping!"

Tak kuasa lagi Yan Cap-sa menjerit kaget, diantara jeritannya


ada tiga bagian mengandung rasa kaget dan tercengang, tapi
tujuan bagian yang selebihnya adalah perasaan sayang dan
kecewa.

Cho Ping memandang pula ke arahnya, diapun melotot


dengan sinar mata kaget, tercengang bercampur ketakutan,
dia seperti ingin mengucapkan sesuatu, namun tak sepotong
perkataanpun yang sanggup diutarakan keluar.

Tiba-tiba darah kental meleleh keluar dari atas


tenggorokannya, pelan-pelan tubuhnya ikut terkulai pula ke
atas tanah.

Angin dingin di musim gugur itu masih berhembus lewat.

Pelan-pelan Cia Ong-sun memungut kembali selembar daun


kering dan diperhatikan dengan tenang, seolah-olah ia masih
belum merasakan peristiwa yang baru saja terjadi.

Aaaai, meskipun usia daun sangat pendek, namun tahun


depan dia masih akan tumbuh kembali.

Tapi, bagaimana dengan manusia?


Pendekar Gelandangan 182

Pelan-pelan Cia Ong-sun membungkukkan badannya kembali


dan meletakkan daun kering tadi ke tempatnya semula.

Sepanjang peristiwa itu terjadi, Yan Cap-sa memperhatikan


terus gerak-geriknya, rasa kagum dan hormat tanpa terasa
memancar keluar dari balik sorot matanya.

Hingga sekarang ia baru menyadari bahwa kakek yang


sederhana ini hakekatnya adalah seorang tokoh persilatan
yang benar-benar memiliki ilmu silat yang amat tinggi.

Taraf kepandaiannya boleh dibilang sudah mencapai puncak


kesempurnaan yang tiada taranya. Ia telah berhasil
membaurkan kepandaiannya dengan alam semesta di
sekelilingnya.

Oleh karena itulah tak seorang manusiapun dapat


mengetahui rahasia tersebut.

......Di saat musim dingin tiba, kau tak akan menyaksikan


kekuatannya, tapi tanpa kau sadari, kekuatan tersebut dapat
membuat air berubah menjadi beku, membuat manusia mati
karena kedinginan.

"Aku tak lebih cuma seorang manusia biasa.............."

'Kebiasaannya' ini jelas berhasil dilatih dari suatu keadaan


yang tidak biasa.

Berapa orangkah di dunia ini yang sanggup merubah dirinya


menjadi sebiasa dan sesederhana itu?
Pendekar Gelandangan 183

Walaupun sekarang ia berhasil menyaksikan banyak


persoalan, tapi tidak sepotong perkataanpun diucapkan, ia
sudah lama mulai belajar membungkam dan menahan diri.

Cia Ong-sun juga tidak banyak berbicara, dia hanya


mengucapkan sepatah kata dengan nada datar:

"Malam semakin kelam, kau harus segera pergi!"

"Ya, aku harus 'pergi'!"

Maka diapun pergi.

Malam semakin kelam, pelan-pelan Cia Ong-sun menembusi


halaman yang gelap dan menuju ke sebuah loteng kecil di
halaman belakang sana.

Cahaya lentera di atas loteng itu amat redup, seorang


perempuan tua yang berwajah sayu duduk seorang diri di tepi
meja, rupanya ia sedang menantikan sesuatu.

Siapakah yang sedang ia nantikan?

Ketika Cia Ong-sun bertemu dengannya, pancaran sinar


matanya segera menunjukkan perasaan sayang dan kasihan.
Barang siapapun juga yang menyaksikan tatapan tersebut,
mereka pasti akan mengetahui bagaimanakah perasaan kedua
orang itu sekarang.

Mereka adalah sepasang suami isteri yang sudah banyak


tahun hidup bersama banyak suka duka dan kesulitan yang
Pendekar Gelandangan 184

telah mereka rasakan selama ini.

Tiba-tiba perempuan itu bertanya:

"Apakah A-kit belum pulang?"

Dengan mulut membungkam Cia Ong-sun gelengkan


kepalanya.

Dari balik tatapan matanya yang tua dan sayu, air mata mulai
mengembang, tapi suaranya begitu tegas dan mempunyai rasa
percaya pada diri sendiri yang tebal.

"Aku tahu, cepat atau lambat, dia pasti akan pulang,


bukankah begitu?", kata perempuan itu lagi.

"Benar!", Cia Ong-sun mengangguk.

Seseorang apabila sudah mempunyai setitik harapan, maka


nyawapun akan terasa lebih berharga.

Ia tentu berharap bisa hidup di dunia ini untuk selama-


lamanya.

Malam sudah amat kelam.

Di tengah permukaan telaga yang diliputi kegelapan, hanya


ada setitik cahaya yang menyinari sekelilingnya.

Cahaya itu berasal dari balik jendela sebuah perahu. Cia


ciangkwe sedang duduk di tepi jendela sambil minum arak
seorang diri.
Pendekar Gelandangan 185

Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Yan Cap-sa naik ke


dalam perahu, duduk dihadapannya dan memenuhi cawan
dengan arak.

Ketika Cia-ciangkwe menjumpai kedatangannya, sekulum


senyum segera menghiasi bibirnya.

Perahu telah berlayar meninggalkan pantai, pelan-pelan


menembusi kegelapan malam dan berlayar dengan tenang di
atas permukaan air telaga yang jernih.

"Kau tahu kalau aku bakal kemari?"

Cia ciangkwe tertawa.

"Kalau tidak begitu, kenapa aku harus menantikan dirimu?",


sahutnya dengan cepat.

Yan Cap-sa segera menengadahkan kepalanya dan menatap


wajahnya tajam-tajam.

"Apalagi yang kau ketahui?"

"Aku masih tahu bahwa arak ini wangi dan lezat sekali. Tak
ada salahnya jika kita minum agak banyakan"

Yan Cap-sa segera tertawa.

"Masuk di akal, benar juga perkataanmu itu!"

Perahu itu sudah berada di tengah telaga.


Pendekar Gelandangan 186

Agaknya Cia ciangkwe sudah dipengaruhi pula oleh alkohol,


tiba-tiba ia bertanya:

"Sudah kau saksikan pedang itu?"

Yan Cap-sa mengangguk.

"Asal pedang tersebut masih ada, perkampungan Sin-kiam-


san-ceng selamanya masih tetap utuh!", Cia ciangkwe
menambahkan.

Sesudah menghela napas panjang, pelan-pelan terusnya:

"Meskipun orangnya sudah tiada, tapi pedangnya tetap utuh


sepanjang masa!"

Dalam genggaman Yan Cap-sa terdapat pula sebilah pedang.

Ia sedang memperhatikan pedang dalam genggamannya itu


dengan seksama, tiba-tiba ia bangkit dan beranjak dari sana,
langsung menuju ke ujung perahu.

Suasana kegelapan menyelimuti seluruh permukaan telaga.

Tiba-tiba ia cabut keluar pedangnya, setelah mengukir huruf


'Sip' atau sepuluh di ujung perahu, tiba-tiba pedang yang
sudah dua puluh tahun mengikutinya dan sudah membunuh
orang yang tak terhitung banyaknya itu, dilemparkan ke
tengah telaga.

"Plung", percikan butiran air berhamburan kemana-mana,


Pendekar Gelandangan 187

tapi sejenak kemudian permukaan telaga telah pulih kembali


dalam ketenangan. Pedang itu sudah tenggelam ke dasar
telaga dan lenyap tak berbekas.

Dengan terkejut Cia ciangkwe menatap tajam wajah pemuda


itu, lalu tak tahan lagi ia bertanya:

"Mengapa kau tidak mau lagi pedangmu itu?"

"Mungkin suatu waktu aku akan membutuhkannya kembali,


dan waktu itu aku akan balik lagi kemari untuk
mendapatkannya"

"Maka kau mengukir huruf sepuluh di ujung perahu itu


sebagai tanda?"

"Ya, inilah yang dinamakan mengukir perahu memohon


pedang!"

Cia ciangkwe gelengkan kepala sambil menghela napas.

"Tahukah kau bahwa tindakanmu itu adalah suatu perbuatan


yang bodoh sekali?", katanya.

"Aku tahu!"

"Kalau memang tahu, kenapa kau harus berbuat demikian?"

Yan Cap-sa tertawa. "Sebab secara tiba-tiba aku merasa


bahwa dalam kehidupan seseorang, sedikit banyak harus
melakukan beberapa buah pekerjaan yang bodoh,
apalagi..........."
Pendekar Gelandangan 188

Sekulum senyuman penuh arti menghiasi ujung bibirnya.

"Ada banyak persoalan seringkali sukar dikatakan apakah


tindakan itu bodoh atau pintar, kenapa aku tidak pula berbuat
demikian?"

ooooOOOOoooo
Pendekar Gelandangan 189

Bab 5. Suka Duka Seorang Gelandangan

Musim gugur telah lewat, musim dinginpun menjelang tiba.

Angin dingin serasa sayatan pisau menyambar datang dari


empat penjuru.......

Alam memang kejam. Gelandangan menderita.

Menyongsong datangnya hembusan angin dingin, A-kit


membenahi pakaiannya yang tipis dan keluar dari lorong
keluarga Han.

Ia tak tahu kemana harus pergi.

Bayangkan saja, dengan sisa uang sebesar dua puluh tiga biji
uang tembaga, kemana ia mesti melanjutkan hidupnya?

Tapi, bagaimanapun juga ia harus tinggalkan tempat itu.

Ia harus meninggalkan orang-orang yang pernah melepaskan


budi dan kebaikan kepadanya itu.

Ia tidak melelehkan air mata.

Buat gelandangan, tiada artinya air mata, yang ada hanya


darah, dan kini darahnya hampir saja membeku.

Di antara sekian banyak manusia yang tinggal di lorong


keluarga Han, Han toa-nay-nay atau Nyonya besar Han adalah
orang yang paling tersohor. Han toa-nay-nay berdiam di
loteng keluarga Han.
Pendekar Gelandangan 190

Han-keh-lo atau loteng keluarga Han adalah sebuah rumah


pelacuran yang paling termasyhur.

Ketika untuk pertama kalinya ia bertemu dengan Han-toa-


nay-nay, kejadian ini berlangsung di atas sebuah pembaringan
yang dingin, lembab dan kotor.

Di atas papan pembaringan yang dingin dan atos itu penuh


dengan noda bekas muntahan yang tercecer kemana-mana.
Bukan saja kotor, bau lagi.

Keadaannya pada waktu itu tidak jauh lebih baik daripada


pembaringan tersebut.

Ia sudah lima hari mabuk berat, sewaktu sadar


tenggorokannya terasa kering dan pecah-pecah, kepalanya
pusing seperti mau meledak.

Han toa-nay-nay sedang bertolak pinggang dan berdiri di


depan pembaringan sambil mengawasinya.

Perempuan itu mempunyai perawakan setinggi tujuh depa,


pinggangnya sangat lebar dan kasar seperti sebuah gentong,
diantara jari-jari tangannya yang gemuk, pendek dan kasar itu
penuh dihiasi cincin-cincin zamrud dan berlian yang mahal
harganya.

Kulit wajahnya yang gemuk dan kencang itu membuat orang


sukar menilai usianya yang sesungguhnya, sebab ia kelihatan
jauh lebih muda, bahkan di kala hatinya sedang senang,
kadangkala sekulum senyuman nakal yang seringkali bisa
Pendekar Gelandangan 191

dijumpai dalam pancaran mata anak-anak, akan dijumpai pula


dari balik namanya.

Tapi, sekarang tatapan matanya itu tiada senyuman, apalagi


senyuman nakal dari seorang anak-anak.

Dengan sekuat tenaga A-kit menggosok-gosok matanya dan


berusaha dipentangkan selebar mungkin. Dia ingin melihat
dengan lebih jelas lagi, apakah orang yang berdiri
dihadapannya seorang pria ataukah seorang
perempuan..............

Perempuan dengan perawakan semacam ini memang tidak


sering dijumpai dalam masyarakat, apalagi dengan ukurannya
yang serba istimewa itu.

A-kit meronta dan ingin bangun duduk, tapi persendian


tulangnya bagaikan ditusuk-tusuk oleh beribu-ribu batang
jarum tajam, akibatnya sakitnya bukan kepalang.

Ia menghela napas panjang dan bergumam:

"Aaaai....selama dua hari ini aku pasti sudah mabuk, seperti


seekor kucing mabuk!"

"Bukan mirip kucing mabuk, kau lebih mendekati seperti


anjing yang mampus!", kata Han toa-nay-nay.

Lalu setelah menatapnya dengan pandangan dingin, ia


menambahkan:

"Kau sudah mabuk selama lima hari!"


Pendekar Gelandangan 192

Sekuat tenaga A-kit menekan batok kepalanya, ia berusaha


keras mengingat kembali dai benaknya, perbuatan apa saja
yang telah dilakukan selama hari ini?

Tapi dengan cepat ia melepaskan niat tersebut. Ingatannya


sekarang hanya kosong melompong, sebuah nol besar, bahkan
lebih mirip dengan selembar kertas yang putih bersih, tiada
sesuatu apapun yang tersisa.

"Kau datang dari luar daerah?", tanya Han toa-nay-nay


kemudian.

A-kit mengangguk.

Benar, ia datang dari luar daerah, suatu daerah yang jauh


sekali letaknya, demikian jauhnya tempat itu, sehingga hampir
saja tidak teringat lagi olehnya.

"Kau punya uang?", kembali Han toa-nay-nay bertanya.

Kali ini A-kit menggelengkan kepalanya.

Tentang hal ini dia masih teringat jelas, sekeping uang perak
terakhir yang dimilikinya telah ia gunakan untuk membeli
arak.

Tapi dimanakah ia minum sampai mabuk? Jawaban tersebut


sudah dilupakan sama sekali.

"Akupun tahu kalau kau tidak punya", kata Han toa-nay-nay,


"sebab kami telah menggeledah sekujur badanmu, kau
Pendekar Gelandangan 193

hakekatnya lebih rudin daripada seekor anjing mampus"

A-kit memejamkan matanya, dia masih ingin tidur.

Pengaruh alkohol yang telah menyusup ke dalam tulang


belakangnya membuat segenap tenaga dan kekuatannya
punah, dia hanya ingin tahu.

"Masih adakah persoalan yang hendak kau tanyakan


kepadaku?"

"Hanya ada sepatah kata", jawab Han toa-nay-nay dengan


cepat.

"Katakan dengan cepat, aku sedang mendengarkan!"

"Buat seseorang yang tak mempunyai uang, dengan apakah ia


hendak membayar rekeningnya?"

"Membayar rekening?"

"Ya, selama lima hari belakangan ini, kau sudah berhutang


tujuh puluh sembilan tahil perak rekening arak!"

A-kit menarik napas panjang.

"Bukan suatu jumlah yang terlalu besar!", katanya.

"Ya, memang tidak terlalu besar, cuma sekarang setahil


perakpun tidak kau miliki"

Kemudian dengan suara yang dingin ia melanjutkan:


Pendekar Gelandangan 194

"Bagi orang yang menunggak rekening, seringkali ada dua


cara yang bisa kami lakukan?"

A-kit tidak member komentar, dia hanya mendengarkan


dengan seksama.....

Han toa-nay-nay berkata lebih lanjut:

"Kau ingin dipatahkan sebuah pahamu? Ataukah dipatahkan


tiga biji tulang igamu?"

"Terserah!"

"Kau tidak ambil perduli?"

"Aku cuma ingin cepat-cepat dipukul, kemudian seusainya


aku hendak segera tinggalkan tempat ini!"

Han toa-nay-nay melongo, sinar matanya dipenuhi dengan


perasaan ingin tahu.

Pemuda yang dihadapinya ini memang aneh sekali, siapakah


orang ini sesungguhnya? Kenapa ia bisa bersikap begitu acuh,
begitu masa bodoh terhadap keadaan?

Mungkinkah dalam hatinya terdapat sebuah simpul mati yang


tak dapat dilepaskan? Atau mungkinkah ia mempunyai kisah
sedih yang tak terlupakan?

Tak tahan lagi Han toa-nay-nay berkata:


Pendekar Gelandangan 195

"Kau begitu terburu-buru hendak pergi, kemana kau hendak


pergi?"

"Aku tidak tahu!"

"Aaaah....masa kau tidak tahu ke mana hendak pergi?"

"Kemana aku sampai, disanalah yang aku tuju!"

Sekal lagi Han toa-nay-nay perhatikan wajahnya lama sekali,


tiba-tiba katanya:

"Kau masih muda, dan lagi punya tenaga, kenapa tak mau
bekerja untuk membayar hutang?"

Sorot matanya jauh lebih lembut dan halus, katanya lebih


jauh:

"Kebetulan di tempat kami masih ada sebuah lowongan


pekerjaan, setengah tahil perak sehari, apakah kau bersedia
untuk melakukannya?"

"Terserah!"

"Apakah tidak kau tanyakan tempat apakah ini? Dan


pekerjaan apa yang harus kau lakukan?"

"Aku tak ambil perduli, pokoknya ada pekerjaan kulakukan!"

Han toa-nay-nay tertawa terkekeh-kekeh, ditepuknya bahu


anak muda itu keras-keras lalu katanya:
Pendekar Gelandangan 196

"Sekarang pergilah dulu ke dapur untuk mencari air panas dan


bersihkan seluruh badanmu, keadaanmu kini mirip sekali
dengan seekor anjing mampus, baunya lebih busuk daripada
seekor ikan mampus"

Secercah senyuman tampak memancar dari balik sinar


matanya.

"Barang siapa yang ingin bekerja di sini, sekalipun dia bukan


manusia, paling sedikit harus berdandan mirip dengan
manusia!", demikian katanya.

Dalam dapur penuh diliputi bau harum nasi dan kuah daging,
ketika angin dingin berhembus lewat dari sana, terasalah
angin tersebut jauh lebih hangat dan nyaman.

Petugas yang bekerja di dapur adalah sepasang suami-isteri.


Yang laki-laki adalah seorang manusia tinggi besar yang bisu,
sebaliknya yang perempuan kurus kecil, tapi galaknya seperti
sebuah gurdi tajam.

Kecuali suami-isteri berdua, di dalam dapur masih terdapat


lima orang manusia.

Ke lima orang itu adalah perempuan-perempuan berbaju


kusut dengan rambut yang kacau balau tak tersisir, selain
bedak dan gincu yang masih tertinggal di wajahnya, yang
tampak hanya suatu keletihan yang memuakkan.

Usia mereka rata-rata di antara dua puluh sampai tiga puluh


tahunan. Perempuan yang paling tua mempunyai sepasang
payudara yang besar, montok dan menongol keluar. Tentu
Pendekar Gelandangan 197

saja disamping sepasang mata yang jalang dan penuh nafsu


birahi.

Akhirnya A-kit baru tahu bahwa perempuan itu adalah 'toa-


ci'nya nona-nona sekalian, para tamu lebih suka
memanggilnya sebagai 'toa-siu' atau si gajah bengkak.

Sedang nona yang berusia paling muda masih kelihatan


seperti seorang kanak-kanak, pinggangnya amat ramping
dengan dada yang datar, tapi dia pula yang paling laris
dagangannya.

Entahlah, mungkin para lelaki memang memiliki watak buas


dan liar dari seekor binatang, waktu suka daun muda, atau
birahi untuk melalap gadis yang masih tampak seperti kanak-
kanak?

Ketika mereka saksikan A-kit berjalan masuk, dengan sinar


mata tercengang, heran dan kaget, nona-nona itu alihkan
perhatian mereka semua, untung Han toa-nay-nay segera
menyusul masuk.

Dengan suara lantang, Han toa-nay-nay segera berkata:

"Ada banyak pekerjaan yang hanya bisa dikerjakan oleh kaum


pria, padahal pria-pria di sini kalau bukan seperti balok kayu,
dia tentulah pelayan penerima tamu, untunglah sekarang aku
berhasil menemukan seseorang yang lebih mirip dengan
manusia"

Ditepuknya bahu pemuda itu keras-keras kemudian terusnya:


Pendekar Gelandangan 198

"Beritahu kepada anjing-anjing betina ini, siapa namamu?"

"Aku bernama A-kit!"

"Kau tak punya nama marga?"

"Aku bernama A-kit!"

Han toa-nay-nay mengetuk kepalanya keras-keras lalu


tertawa tergelak.

"Haaaaahhhh.....haaahhhhh.....haaaaahhhhh......meskipun
bocah ini mempunyai nama marga, tapi dia mempunyai suatu
kebaikan......."

Perempuan itu tertawa riang:

"Ia tidak terlalu banyak mulut!"

Mulut adalah anggota tubuh yang digunakan untuk makan,


minum dan bukan untuk dipakai banyak berbicara.

Selamanya A-kit tidak banyak berbicara.

Dengan mulut membungkam seribu bahasa ia menuang air


panas, lantas berjongkok dan membersihkan wajahnya.

Tiba-tiba muncul sebuah kaki yang menginjak embernya,


sehingga airnya tertumpah semua.

Kaki itu gemuk sekali dan mengenakan sebuah sepatu


bersulamkan bunga merah yang sangat indah.
Pendekar Gelandangan 199

A-kit bangkit berdiri dan memperhatikan wajah bulat gemuk


dari perempuan itu.

Ia mendengar suara tertawa cekikikan dari para nona


sekalian, tapi suara tersebut seakan-akan berasal dari tempat
yang sangat jauh.

Diapun mendengar si gajah bengkak sedang berteriak keras:

"Kau telah membasuhkan kakiku, hayo cepat diseka sampai


kering!"

Sepatah-katapun tidak diucapkan A-kit"

Dengan mulut membungkam, ia segera berjongkok dan


menyeka kaki yang gemuk itu sampai kering.

Si gajah bengkak segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaaaahhh...haaahhhh...haahhhh....kau memang seorang


anak yang baik, entar malam jika di kamarku tak ada tamu,
kau boleh diam-diam menyelinap ke sana, jangan
kuatir........gratis untukmu!"

"Aku tidak berani!", kata A-kit.

"Masa nyali sekecil inipun tidak kau miliki?"

"Aku seorang lelaki yang tak berguna, aku membutuhkan


pekerjaan ini untuk mencari uang dan membayar hutang!"
Pendekar Gelandangan 200

Maka semenjak itulah A-kit telah mendapat sebuah julukan


baru, semua orang memanggilnya 'A-kit yang tak berguna',
tapi ia sendiri tidak memperdulikannya.

Setiap senja menjelang tiba, para gadispun sibuk bertukar


pakaian yang paling indah dan mendandani diri sendiri
secantik dan semenarik mungkin.

"A-kit yang tak berguna, ambilkan air teh untuk tamu!"

"A-kit yang tak berguna, pergilah ke jalanan dan belikan


beberapa kati arak!"

Bila tengah malam sudah lewat, ia baru bisa bersembunyi di


pojok dapur untuk melepaskan lelahnya.

Dalam keadaan demikian, si bisu tentu akan menyodorkan


semangkuk besar nasi putih dengan daging Ang-sio-bak yang
besar, lalu menyaksikan ia bersantap dan memperhatikannya
dengan pandangan simpati bercampur kasihan.......

Tapi A-kit tak pernah memperdulikannya.

Ada sementara orang selamanya tak suka menerima


pandangan kasihan atau simpati dari orang lain dan A-kit
adalah manusia macam begini.

Sebab bukan saja ia tidak bernyali, diapun tak berguna.

Hingga pada suatu hari, ketika ada dua orang laki-laki


bersenjata yang ingin makan-minum secara gratis, semua
orang baru mengetahui bahwa dia sesungguhnya mempunyai
Pendekar Gelandangan 201

kelebihan yang tidak dimiliki orang lain.

Ia tidak takut sakit.

Ketika laki-laki bersenjata itu ingin pergi tanpa membayar


setelah makan minum, tiba-tiba jalan pergi mereka telah
dihadang oleh A-kit yang tak berguna.

Tentu saja laki-laki itu tertawa dingin sambil mengejek:

"Hmm, rupanya kau ingin mampus?"

"Aku tidak ingin mampus, akupun tak ingin mati kelaparan.


Bila kalian pergi sebelum membayar, sama pula artinya
dengan memecahkan mangkuk nasiku.....", demikian A-kit
berkata.

Baru saja beberapa patah kata itu selesai diucapkan, dua


buah bacokan telah bersarang di tubuhnya.

Tapi ia sama sekali tak bergerak, berkerut keningpun tidak. Ia


cuma berdiri tegap sambil menerima tujuh - delapan buah
bacokan golok tersebut.

Menyaksikan hal tersebut, laki-laki itu memandangnya


dengan terkejut, lalu tanpa mengucap sepatah katapun
merogoh sakunya dan melunasi rekeningnya.

Ketika semua orang memandang ke arahnya dengan terkejut


dan berusaha untuk membimbingnya, tanpa mengucap
sepatah-katapun ia berlalu, kembali ke kamarnya dan
merebahkan diri di atas pembaringan yang dingin dan keras
Pendekar Gelandangan 202

itu, sambil membiarkan peluh dingin membasahi tubuhnya


dan menahan rasa sakit di tubuhnya.

Ia tidak ingin orang lain menganggapnya sebagai pahlawan,


diapun tak ingin membiarkan orang lain menyaksikan
penderitaannya.

Tapi pintu kamarnya tiba-tiba didorong orang, menyusul


kemudian sesosok bayangan manusia menyelinap masuk ke
dalam, setelah menutup pintu kembali, dengan sinar mata
kasihan dan sayang ditatapnya pemuda itu lekat-lekat.

Ia mempunyai sepasang mata yang besar, di samping


sepasang tangan yang ramping, panjang dan halus.

Ia bernama Siau-li, para langganannya lebih suka menyebut


'siluman kecil' kepadanya.

Ketika itu ia sedang menyeka keringat di tubuhnya dengan


tangannya yang kecil.

"Mengapa kau harus berbuat demikian", bisik Siau-li dengan


nada penuh perhatian.

"Sebab pekerjaan ini sudah seharusnya kulakukan, aku


membutuhkan pekerjaan semacam ini", jawabnya singkat.

"Tapi kau masih terlalu muda, banyak pekerjaan lain yang


dapat kau lakukan", jelas perempuan itu amat simpatik dan
sangat menaruh perhatian atas keselamatannya.

Tapi tak sekejap matapun A-kit memperhatikan wajahnya,


Pendekar Gelandangan 203

dengan dingin ia berkata:

"Kaupun mempunyai pekerjaan yang harus kau lakukan,


kenapa tidak segera kau lakukan?"

Siau-li tidak menyerah sampai di situ saja, ia mendesak lebih


lanjut:

"Aku tahu, dalam hati kecilmu tentu terdapat banyak


persoalan yang menyedihkan hatimu"

"Tidak!. Aku tidak punya"

"Dahulu pasti ada seorang perempuan yang pernah melukai


hatimu, bukankah begitu?"

"Rupanya kau sedang bertemu dengan setan di siang hari


bolong!"

"Jika tiada sesuatu yang kau sedihkan, mengapa saat ini kau
dapat berubah menjadi begini?"

"Sebab aku malas, dan lagi seorang setan arak!"

"Apakah kaupun seorang laki-laki yang gemar bermain


perempuan?", tanya Siau-li.

A-kit tidak menyangkal atau mengaku. Ia enggan memberi


jawaban untuk perempuan tersebut.

Kembali Siau-li berkata:


Pendekar Gelandangan 204

"Aku tahu sudah lama, lama sekali kau tak pernah menyentuh
tubuh perempuan, aku tahu......"

Tiba-tiba suaranya berubah menjadi begitu lembut, begitu


halus dan aneh sekali kedengarannya. Tiba-tiba ia menarik
tangan pemuda itu dan dirabakan ke bawah perut di antara
belahan pahanya.......

Ternyata di balik selembar kain bajunya yang tipis,


perempuan itu tidak mengenakan apa-apa lagi.

A-kit dapat merasakan pancaran hawa panas yang dihasilkan


dari selangkangannya......

Memandang goresan luka golok yang masih berlepotan


darah, tiba-tiba sorot mata perempuan itu bertambah tajam
dan bercahaya.

"Aku tahu luka yang kau derita tidak enteng, tapi asal kau
bersedia melayani kebutuhan birahiku....aku jamin rasa sakit
yang kau rasakan sekarang segera akan tersapu lenyap tak
berbekas"

Sambil berkata, perempuan itu menarik tangan A-kit dan


dibawanya menelusuri seluruh bagian tubuhnya yang
telanjang.

Di atas dadanya yang datar, ternyata ia memiliki sepasang


payudara yang kecil tapi keras dan kenyal.

Payudara itu amat nyaman sewaktu diraba, apalagi untuk


meremasnya.....andaikata A-kit seorang pria yang normal,
Pendekar Gelandangan 205

rangsangan tersebut pasti akan berakibat fatal bagi sang nona.

Mustahil seorang laki-laki tidak melalap mangsa yang berada


dihadapannya dalam posisi siap bertempur.

*****************
HILANG
*****************

A-kit tidak menjawab, ia pejamkan matanya rapat-rapat.

Tiba-tiba ia merasakan bahwa perempuan gemuk yang


setengah tua ini menunjukkan pula luapan birahi seperti apa
yang baru saja dijumpai di wajah Siau-li.

Ia tak tega memandangnya lebih jauh.

"Mari, minumlah secawan, aku tahu ulat arakmu pasti sudah


mengkilik-kilik tenggorokanmu, sehingga menimbulkan rasa
gatal yang sukar ditahan lagi."

Sambil tertawa terkekeh ia membuka penutup guci arak dan


menyodorkan ke depan mulutnya.

"Hari ini kau telah bantu aku melakukan pekerjaan, aku harus
baik-baik memerseni dirimu"

A-kit tidak bergerak, diapun tidak memberikan reaksi apa-


apa.

Han toa-nay-nay segera mengerutkan dahinya.


Pendekar Gelandangan 206

"Apakah kau benar-benar adalah seorang lelaki yang tak


berguna?", demikian ia menegur.

"Ya, aku memang laki-laki yang tak berguna".

Ketika A-kit membuka kembali matanya, Han toa-nay-nay


sudah pergi, sebelum meninggalkan tempat itu, ia sempat
meninggalkan sekeping uang perak di atas pembaringannya.

"Uang ini sepantasnya kau dapatkan, barang siapa bersedia


menerima tujuh-delapan buah bacokan, ia tak boleh
menerimanya dengan sia-sia belaka"

Bagaimanapun juga, dia sudah bukan seorang nona cilik lagi.

"Apa yang barusan kau alami, tentunya tak akan kau ingat
selalu bukan......?", demikian katanya.

Ketika A-kit mendengar suara langkah kakinya sudah berada


di luar pintu, ia mulai muntah-muntah.

Peristiwa semacam ini tak akan terlupakan untuk selamanya.

Ketika ia berhenti muntah, dengan tertatih-tatih ia bangkit


berdiri dan keluar dari kamarnya.

Uang perak yang diperoleh dari Han toa-nay-nay itu


diletakkan dalam kuali nasi milik si bisu.

Meskipun angin dingin berhembus kencang, ia tinggalkan


lorong keluarga Han.
Pendekar Gelandangan 207

Ia tahu tak mungkin baginya untuk berdiam lebih lanjut di


tempat semacam itu.

Fajar telah menyingsing.

Warung teh sudah penuh oleh tamu-tamu yang hendak


sarapan. Mereka terdiri dari pelbagai masyarakat yang
berdiam di sekitar tempat itu.

A-kit sedang memegang cawan air teh panas-panas dengan


kedua belah tangan, sebentar-sebentar diteguknya teh itu
dengan penuh kenikmatan.

Di warung itu selain menjual air teh, dijual pula bakpao dan
kueh cah-kwe, tapi ia hanya bisa minum air teh.

Dia hanya memiliki dua puluh tiga biji mata uang tembaga. Ia
berharap bisa memperoleh pekerjaan tetap.

Ia ingin melanjutkan hidupnya. Belakangan ini ia baru tahu,


bahwa untuk melanjutkan hidup bukanlah suatu pekerjaan
yang gampang.

Penderitaan dalam berjuang untuk hidup tak pernah


dibayangkan olehnya sebelum ia lakukan sendiri sekarang. Kini
ia mulai sadar bahwa untuk menjual kejujuran dan tenaganya,
seseorang harus mempunyai jalan. Tapi, ia tidak mempunyai
jalan.

Tukang batu mempunyai grupnya sendiri, tukang kayu


mempunyai perkumpulannya sendiri, bahkan tukang pikul dan
kuli kasarpun mempunyai organisasi. Bila seseorang bukan
Pendekar Gelandangan 208

termasuk di dalam perkumpulannya, maka jangan harap dia


bisa memperoleh pekerjaan.

Sudah dua hari ia menderita kelaparan.

Pada hari yang ketiga, uang sebesar tujuh biji mata uang
tembaga untuk minum air tehpun sudah tidak dimiliki lagi. Dia
hanya bisa berdiri di luar warung sambil makan angin.

Ia sudah hampir roboh ketika seseorang menepuk bahunya


sambil bertanya:

"Pekerjaan memikul kotoran manusia sanggup kau lakukan


tidak? Sehari dengan upah lima pence?"

A-kit cuma bisa memandang orang itu dengan terbelalak, ia


tak mampu berbicara lagi, karena tenggorokannya terasa
seperti di sumbat dengan suatu benda.

Ia hanya bisa mengangguk, mengangguk tiada hentinya.

Hingga lama, lama sekali, ia baru dapat mengutarakan rasa


terima kasih yang dialaminya ketika itu.

Rasa terima kasihnya waktu itu adalah luapan perasaan yang


murni dan bersungguh-sungguh.

Sebab yang diberikan orang itu kepadanya bukan hanya tugas


untuk memikul kotoran manusia melainkan suatu kesempatan
untuk melanjutkan hidup.

Akhirnya ia dapat juga melanjutkan hidupnya.


Pendekar Gelandangan 209

Dan orang yang telah memberi kesempatan kepadanya itu


bernama Lo Biau-cu.

Lo Biau-cu benar-benar berasal dari wilayah Biau.

Ia mempunyai perawakan tubuh yang tinggi besar, kekar,


bertampang jelek tapi bertubuh kekar penuh berotot. Sewaktu
tertawa terlihat dua baris giginya yang putih dan kuat.

Telinga kirinya kelewat panjang, diatasnya malah terlihat


bekas yang menunjukkan bahwa dulunya ia memakai giwang.

Ia sedang memperhatikan A-kit dengan seksama.

Ketika waktu istirahat tengah hari, tiba-tiba ia bertanya:

"Sudah berapa hari kau menderita kelaparan?"

"Apakah kau mengetahui bahwa aku sedang kelaparan?", A-


kit balik bertanya.

"Hari ini hampir saja kau jatuh tak sadarkan diri sebanyak tiga
kali.....!"

A-kit menundukkan kepalanya, memandang kaki sendiri yang


masih berlepotan kotoran manusia.

"Pekerjaan semacam ini adalah pekerjaan yang sangat berat,


aku kuatir kau tak sanggup bertahan lebih jauh"

"Lantas mengapa kau datang mencari diriku?"


Pendekar Gelandangan 210

"Sebab keadaanku waktu pertama kali datang kemari tak jauh


berbeda dengan keadaanmu tadi. Jangankan pekerjaan lain,
pekerjaan untuk memikul kotoranpun tidak berhasil
kudapatkan"

Dari dalam sakunya dia mengeluarkan sebuah bungkusan


kertas, Dari dalam bungkusan itu dikeluarkan dua buah kueh
dan sebatang asinan wortel.

Ia membagi separuh dari bekalnya itu untuk A-kit.

A-kit menerima pemberian itu tanpa sungkan-sungkan dan


segera melahapnya, bahkan kata 'terima kasih' pun lupa
diucapkan.

Lo Biau-cu hanya memandang ke arah pemuda itu dengan


sekulum senyuman menghiasi bibirnya, tiba-tiba ia bertanya:

"Malam ini kau hendak tidur di mana?"

"Aku tidak tahu"

"Aku mempunyai rumah, rumahku besar sekali, kenapa kau


tidak tidur di rumahku saja?"

"Kalau kau suruh aku ke sana, aku akan ikut ke sana!"

Rumah besar dari Lo Biau-cu memang tidak terhitung kecil,


atau paling sedikit lebih besar sedikit daripada sangkar burung
dara.
Pendekar Gelandangan 211

Ketika mereka pulang ke rumah, seorang nyonya tua yang


rambutnya telah beruban, sedang menanak nasi di dapur.

"Dia adalah ibuku, ahli sekali dalam memasak hidangan-


hidangan yang lezat", kata Lo Biau-cu memperkenalkan.

A-kit melirik sekejap ke arah batang sayur dan bubur kasar


yang berada dalam kuali, kemudian katanya:

"Ehmmmm..... sudah ku cium bau harumnya semenjak tadi"

Tertawalah nenek itu, ia mengambilkan semangkuk besar


bubur baginya.

Tanpa sungkan-sungkan A-kit menerimanya dan langsung


dimakan. Diapun tidak mengucapkan kata 'terima kasih'.

Paras muka Lo Biau-cu menunjukkan perasaan puas, katanya


kemudian:

"Dia bernama A-kit. Dia adalah seorang pemuda yang baik!"

"Jika tidak kuketahui akan hal itu, memangnya kubiarkan ia


bersantap di sini?", jawab nenek itu sambil mengetuk
mangkuk putranya.

"Malam ini bolehkah ia tidur bersama-sama dengan kita?", Lo


Biau-cu kembali bertanya.

Sambil memicingkan matanya, nenek itu melirik sekejap ke


arah A-kit, lalu katanya:
Pendekar Gelandangan 212

"Bersediakah kau untuk tidur seranjang dengan putraku?


Apakah kau tidak takut merasa bau badannya?"

"Dia tidak bau!"

"Kau adalah bangsa Han, bangsa Han seringkali menganggap


kami orang-orang Biau adalah manusia yang paling bau!"

"Aku adalah bangsa Han, aku lebih bau daripadanya!", A-kit


berbantah.

Nenek itu segera tertawa tergelak, diketuknya kepala pemuda


itu dengan sendok kayu, seperti pula sedang mengetuk kepala
putranya.

Setelah tergelak sekian lama, ia berkata lebih jauh:

"Cepat makan, mumpung masih panas! Setelah kenyang,


cepat naik ke pembaringan untuk beristirahat, dengan
demikian besok baru punya tenaga untuk bekerja lagi"

A-kit sedang bersantap, bahkan bersantap dengan gerakan


paling cepat.

Kembali nenek itu berkata:

"Cuma, sebelum naik ke pembaringan nanti, kau mesti


melakukan suatu pekerjaan lebih dulu!"

"Apa yang harus kulakukan?", tanya A-kit.

"Cuci bersih dulu kakimu sebelum naik ke pembaringan, kalau


Pendekar Gelandangan 213

tidak si Boneka pasti marah!"

"Siapa si Boneka itu?"

"Dia adalah putriku, adik perempuannya!"

"Tapi seharusnya ia adalah seorang tuan putri, sebab sejak


dilahirkan ia lebih pantas menjadi seorang tuan putri"

Di ruang belakang berjajar tiga buah pembaringan,


diantaranya yang paling bersih dan empuk tentu saja milik si
tuan putri.

A-kit ingin sekali menjumpai tuan putri itu.

Tapi ia merasa terlalu lelah, setelah menghabiskan bubur


sayur, sepasang kelopak matanya terasa berat sekali bagaikan
diberi beban sebesar beribu-ribu kati.

Sekalipun tidur berdesakan dengan seorang laki-laki semacam


Lo Biau-cu bukan sesuatu yang menyenangkan, tapi dengan
cepatnya ia sudah tertidur lelap.

Di tengah malam ia pernah terbangun satu kali, dalam


remang-remangnya cuaca ia seakan-akan menyaksikan
seorang gadis yang berambut panjang sedang duduk
termangu di muka jendela. Akan tetapi ketika diperhatikan
untuk kedua kalinya, ia sudah menyembunyikan tubuhnya di
balik selimut.

Keesokan harinya ketika mereka makan berangkat bekerja,


gadis itu masih tidur, bahkan separuh badannya bersembunyi
Pendekar Gelandangan 214

di balik selimut, seolah-olah ia sedang menghindari suatu


malapetaka yang menakutkan.

A-kit hanya menyaksikan rambutnya yang panjang dan hitam


terurai di atas bantal.

Fajar belum menyingsing, kabut tebal masih menyelimuti


permukaan tanah.

Mereka berjalan melawan hembusan angin yang serasa


menusuk tulang.

Tiba-tiba Lo Biau-cu bertanya:

"Kau telah berjumpa dengan si Boneka?"

A-kit gelengkan kepalanya.

Dia hanya menyaksikan rambutnya yang hitam dan panjang.

"Ia bekerja di rumah gedung seorang hartawan kaya, sebelum


larut malam tak mungkin bisa pulang", Lo Biau-cu
menerangkan.

Lalu sambil tersenyum katanya lagi:

"Ya, maklumlah! Orang kaya biasanya memang tidur sampai


larut malam......"

"Aku mengerti!"

"Cepat atau lambat kau harus berjumpa dengannya", kata Lo


Pendekar Gelandangan 215

Biau-cu lebih jauh.

Dengan pancaran sinar bangga dan kagum, ia meneruskan:

"Asal kalian telah bertemu, kau pasti menyukainya, sebab


kami selalu bangga atas prestasinya"

A-kit dapat merasakan kebanggaan orang, ia percaya gadis itu


pastilah seorang tuan putri yang patut disayangi.

Di waktu beristirahat tengah hari, di kala ia sedang menikmati


bakpao pemberian si nenek, tiba-tiba muncul tiga orang laki-
laki menghampirinya. Walaupun baju mereka compang-
camping, topinya dikenakan miring ke bawah sehingga
menutupi sebagian wajahnya, sebilah pisau kecil terselip di
pinggang mereka.

Waktu itu mulut luka bekas bacokan di tubuhnya belum


merapat, bahkan kadangkala masih terasa sakit.

Salah seorang di antara ketiga orang itu, seorang laki-laki


dengan sepasang matanya yang berbentuk segi tiga,
memperhatikan wajahnya dengan seksama, kemudian sambil
mengulurkan tangannya ia berseru:

"Bawa kemari!"

"Apanya yang bawa kemari?", tanya A-kit keheranan.

"Meskipun kau baru datang, seharusnya kau memahami


peraturan di tempat ini!"
Pendekar Gelandangan 216

"Peraturan apa?", tanya A-kit tidak habis mengerti.

"Upah kerja yang kau dapatkan harus dibagi menjadi tiga


bagian, dan sekarang akan kutarik untuk sebulan lebih dulu"

"Aku cuma mempunyai tiga biji mata uang tembaga!"

Laki-laki bermata segi tiga itu segera tertawa dingin.

"Heeehhh...heeehh....heeeehhh....cuma tiga biji mata uang


tembaga?. Nyatanya kau bisa menikmati bakpao putih!"

Sebuah pukulan yang keras dan telak menjatuhkan bakpao


dalam genggaman A-kit.

Bakpao tersebut menggelinding di tanah dan terjatuh di atas


kotoran.

Dengan mulut membungkam, A-kit memungutnya kembali


dan mengelupas kulit bagian luarnya.

Dia harus makan bakpao tersebut, sebab dengan perut


kosong tak mungkin punya tenaga untuk bekerja.

Menyaksikan perbuatan A-kit, laki-laki bermata segi tiga itu


segera tertawa tergelak.

"Haaahhhh....haaahhh...haaaahhh...bakpao berselai kotoran,


entah bagaimana rasanya?"

A-kit tidak menjawab.


Pendekar Gelandangan 217

"Huuuuh......makanan semacam itupun kau lahap,


sesungguhnya kau ini manusia atau anjing!", damprat laki-laki
bermata segitiga.

"Terserah kepadamu, apa yang kau katakan itulah aku"

Kemudian sambil mengigit bakpaonya, A-kit berkata lebih


lanjut:

"Aku hanya mempunyai tiga biji mata uang tembaga, kalau


kau menghendaki, nah ambillah!"

"Kau tahu siapakah aku?", bentak laki-laki itu.

A-kit gelengkan kepalanya.

"Kau pernah dengar nama si kusir kereta?", kembali laki-laki


itu membentak.

Sekali lagi A-kit gelengkan kepalanya.

Orang itu berkata lebih jauh:

"Si kusir kereta adalah anak buah Thi tau toako kami. Thi tau
toako adalah saudara cilik dari toa tauke!"

Kemudian sambil menunjuk ke hidung sendiri katanya lagi:

"Dan aku adalah saudara kecil dari si kusir kereta. Kau anggap
aku sudi menerima tiga biji mata uang tembagamu yang bau
itu?"
Pendekar Gelandangan 218

"Kalau kau tidak sudi, biarlah untukku saja", ujar A-kit.

Laki-laki bermata segitiga itu tertawa tergelak, tiba-tiba ia


menendang ke selangkangan pemuda tersebut.

A-kit menjerit kesakitan, saking mulasnya dia sampai


terbungkuk-bungkuk......

"Hmm.......! Kalau bajingan ini tidak diberi sedikit pelajaran,


dia tentu tak akan tahu tebalnya bumi dan tingginya langit!",
omel laki-laki itu dengan geramnya.

Ketiga orang itu sudah bersiap sedia turun tangan. Tiba-tiba


muncul seseorang yang segera menghadang di hadapan
mereka. Orang itu mempunyai perawakan yang satu kali lipat
lebih besar daripada tubuh mereka.

Laki-laki bermata segi tiga itu mundur setengah langkah, lalu


teriaknya dengan lantang:

"Lo Biau-cu, lebih baik kau tak usah turut campur dalam
urusan kami!"

"Dalam hal ini bukan terhitung campur tangan urusan orang


lain lagi", teriak Lo Biau-cu.

Sambil menarik tangan A-kit, ia menambahkan:

"Sebab orang ini adalah saudaraku!"

Laki-laki bermata segi tiga itu melirik sekejap ke arah


tangannya yang kasar dan besar itu, kemudian sambil tertawa
Pendekar Gelandangan 219

katanya:

"Kalau dia memang saudaramu, apakah dapat kau jamin


bahwa upah kerjanya akan disetor tiga bagian kepada kami?"

"Dia pasti akan melunasinya!", Lo Biau-cu berjanji.

Senja itu ketika mereka membawa tubuh yang penat lagi bau
pulang ke rumah, A-kit masih basah oleh keringat dingin,
tendangan itu tidak enteng baginya.

Lo Biau-cu memperhatikan sekejap wajahnya, kemudian tiba-


tiba bertanya:

"Jika orang lain memukul dirimu, apakah kau selalu tidak


membalas pukulan tersebut?"

A-kit termenung agak lama, lama sekali dia baru berkata:

"Sebelum sampai di sini, aku pernah bekerja di suatu rumah


pelacuran, orang-orang di sana telah menghadiahkan sebuah
julukan untukku"

"Apakah julukan itu?"

"Mereka selalu memanggilku sebagai A-kit yang tak berguna"

Suasana dalam dapur kering dan hangat.

Ketika mereka baru sampai di pintu depan, suara teriakan


gembira dari si nenek sudah kedengaran.
Pendekar Gelandangan 220

"Hari ini tuan putri kita akan makan di rumah, kita semua
bakal ada daging untuk bersantap!"

Seperti seorang anak kecil, sambil tertawa katanya lebih


lanjut:

"Setiap orang akan mendapat sepotong daging secara adil,


sepotong daging yang besar lagi lezat!"

Suara tertawa dari si nenek selalu mendatangkan rasa hangat


dan gembira di dalam hati kecil A-kit, tapi terkecuali untuk hari
ini, sebab akhirnya ia telah berjumpa dengan si Tuan Putri.

Dapur yang sempit telah ditaruh kursi yang banyak, sewaktu


bersantap mereka harus duduk berdesak-desakan, tapi ada
sebuah kursi yang masih dalam keadaan kosong.

Kursi itu khusus disediakan untuk tuan putri mereka, dan


sekarang ia sudah duduk di kursi itu, tepat berhadapan muka
dengan A-kit.

Dia mempunyai sepasang mata yang besar dan jeli, sepasang


tangan yang ramping dan putih halus, rambutnya yang hitam
dan panjang disanggul di atas kepala, dengan sikapnya yang
agung tapi lembut, ia memang tampak seperti seorang tuan
putri sungguhan.

Seandainya baru pertama kali ini A-kit berjumpa dengannya,


seperti juga orang-orang lain, dia pasti akan menghormatinya
bahkan menyayangi dirinya pula. Sayang perjumpaannya
sekarang bukanlah perjumpaan yang pertama kalinya.
Pendekar Gelandangan 221

Pertama kali ia bertemu dengan nona ini di dapurnya Han


toa-nay-nay, yakni di sisi si gajah bengkak. Waktu itu dia
duduk sambil mengangkat tinggi-tinggi sepasang kakinya,
sehingga sepasang kakinya yang kecil mungil terlihat jelas.

Waktu itu A-kit tidak memperhatikannya walau sekejap, tapi


secara diam-diam ia selalu memperhatikan dirinya.

Kemudian ia baru tahu bahwa nona itu adalah orang termuda


dan teramai dagangannya di antara anak buah Han toa-nay-
nay lainnya.

Di sana ia bernama 'Siau-li', tapi orang lain lebih suka


menyebutnya sebagai siluman kecil.

Untuk kedua kalinya mereka berjumpa di dalam kamar di kala


ia terkena tujuh-delapan bacokan golok.

Sampai kini ia belum melupakan liukan tubuhnya yang


telanjang di balik selembar kain tipis yang mengerudungi
badannya.

Waktu itu dia harus menggunakan tenaga dan pikiran yang


paling besar untuk mengendalikan diri, bahkan sewaktu
mengutarakan kata:

"Enyah!"

Sesungguhnya dia mengira pertemuan di antara mereka


sudah berakhir pada malam itu, sungguh tak disangka kini
mereka harus berjumpa kembali................
Pendekar Gelandangan 222

Cuma saja, siluman kecil yang jalang dan genit itu kini sudah
berubah menjadi si boneka yang agung bagaikan tuan putri,
bahkan merupakan satu-satunya tumpuan harapan dari
mereka sekeluarga.

Mereka semua adalah sahabat-sahabatnya. Ia diberi makan,


diberi tempat tinggal bahkan menganggap dirinya sebagai
saudara sendiri.

A-kit menundukkan kepalanya. Sungguh amat sakit hatinya


saat ini, sedemikian sakitnya sehingga bagaikan disayat-sayat
dengan pisau tajam.

Sementara itu si nenek telah menarik tangannya sambil


berkata dengan wajah berseri:

"Hayo cepat kemarilah dan jumpai tuan putri kita!"

Terpaksa A-kit beranjak dan menghampiri nona itu, kemudian


agak gelagapan katanya:

"Baik-baikkah kau?"

Nona itu memandang sekejap ke arahnya, wajahnya tanpa


emosi, seakan-akan belum pernah dijumpainya manusia yang
bernama A-kit itu, dia hanya berkata dengan tawar:

"Duduklah, mari kita makan daging!"

A-kit kembali duduk di tempatnya, seakan-akan ia mendengar


suaranya sedang berkata:
Pendekar Gelandangan 223

"Terima kasih tuan putri!"

Lo Biau-cu yang mendengar perkataan itu segera tertawa


terbahak-bahak.

"Haaahhh.....haaahhh...haahhh....kau tak usah memanggil


tuan putri kepadanya, seperti juga kami semua, harus
memanggilnya sebagai si boneka!"

Ia memilihkan sepotong daging asin yang paling besar dan


paling tebal untuk A-kit, kemudian katanya:

"Hayo cepat, makan daging, setelah kenyang kita harus tidur


sebaik-baiknya!"

Malam itu A-kit tak dapat tidur.

Malam sudah semakin larut. Lo Biau-cu yang tidur di sisinya


sudah mendengkur. Si Boneka yang berada di ranjang lain
rupanya juga sudah tertidur nyenyak.

Tapi A-kit harus berbaring dengan mata terpentang lebar,


peluh dingin mengucur ke luar tiada hentinya.

Hal ini bukan saja dikarenakan hatinya secara lamat-lamat


terasa sakit, luka-luka bekas bacokan di tubuhnyapun ikut
terasa sakit, bahkan sakitnya bukan kepalang.

Memikul kotoran manusia bukan suatu pekerjaan yang


ringan, dan selama ini mulut luka bekas bacokan golok itu tak
pernah merapat.
Pendekar Gelandangan 224

Akan tetapi ia tak pernah memperhatikannya. Ia seakan-akan


acuh terhadap luka-luka di tubuhnya.

Kadangkala sewaktu dia harus memikul kotoran manusia yang


berat, seringkali mulut luka di bahunya terasa merekah dan
pecah, tapi ia selalu busungkan dadanya sambil mengertak gigi
rapat-rapat. Ia tak ambil perduli terhadap siksaan badaniah
yang dideritanya.

Sayang bagaimanapun jua, tubuhnya bukan terdiri tulang besi


otot kawat. Sore tadi ia telah menemukan bahwa beberapa
buah mulut lukanya mulai membusuk dan menyiarkan bau
yang memuakkan.

Setelah berbaring di atas pembaringan, ia mulai merasakan


sekujur badannya menggigil kedinginan, peluh dingin
mengucur keluar tiada hentinya, kemudian secara tiba-tiba
badannya menjadi panas bagaikan digarang di atas api. Dari
setiap mulut lukanya seolah-olah muncul bara api yang
membakar dengan hebatnya.

Ia masih berusaha dengan sekuat tenaga untuk


mengendalikan diri, berusaha menahan penderitaan, akan
tetapi sekujur tubuhnya sudah mulai mengejang keras, ia
merasa tubuhnya seakan-akan terjatuh ke bawah, terjatuh ke
dalam jurang yang gelap dan tidak nampak dasarnya.

Di antara sadar tak sadar, ia seakan-akan mendengar jeritan


kaget dari sahabatnya, tapi ia sudah tidak mendengar lagi.
Pendekar Gelandangan 225

Dari kejauhan diapun seakan-akan mendengar orang sedang


memanggil namanya, suara itu begitu lembut dan halus, tapi
berasal dari tempat yang amat jauh.........

Akan tetapi ia dapat mendengarnya dengan jelas.

ooooOOOOoooo
Pendekar Gelandangan 226

Bab 6. Pantang Menyerah

Seorang pemuda yang tiada masa depan, seorang


gelandangan yang air matanya telah mengering, ibarat
selembar daun yang terhembus angin, seperti pula ganggang
di air, tiada tumpuan harapan, tiada pula masa
depan....................

Dalam keadaan demikian, mungkinkah ada orang dikejauhan


yang rindu kepadanya, memperhatikan keadaannya?

Kalau ia memang mendengar panggilan orang itu, mengapa ia


masih belum juga kembali, kembali ke sisi orang itu?

Sesungguhnya kesedihan dan penderitaan apakah yang


terkandung dalam hatinya, sehingga rahasia tersebut enggan
diutarakan kepada orang lain?

Sang surya telah memancarkan sinar keemas-emasan ke


empat penjuru. Hari ini udara cerah.

A-kit tidak selalu berada dalam keadaan pingsan, ia sudah


sadar beberapa kali, setiap kali tersadar kembali, ia selalu
merasa seakan-akan ada seseorang sedang duduk di sisinya
sambil menyeka keringat yang membasahi jidatnya.

Ia tak pernah melihat jelas wajah orang itu, sebab sesaat


kemudian ia kembali jatuh tak sadarkan diri.

Menanti ia dapat melihat jelas raut wajah orang itu, sinar


matahari kebetulan sedang mencorong masuk lewat daun
jendela dan menyinari rambutnya yang hitam dan mulus.
Pendekar Gelandangan 227

Ia mempunyai sepasang mata yang sayu, sorot mata penuh


perasaan sedih dan kuatir.

A-kit memejamkan kembali sepasang matanya.

Tapi pada saat itulah ia mendengar nona itu berkata:

"Aku tahu kau tidak memandang harga diriku. Kau


memandang hina aku si perempuan rendah, tapi aku tak akan
menyalahkan dirimu"

Ucapan tersebut diucapkan dengan tenang dan mantap,


sebab nona itupun sedang berusaha untuk mengendalikan
perasaannya.

"Akupun tahu, dalam hatimu pasti terdapat banyak


penderitaan dan kedukaan yang tak dapat diutarakan keluar,
akan tetapi kau tak perlu menyiksa diri secara begini kejam"

Suasana dalam ruangan itu hening, tidak terdengar suara


orang lain, tentu saja Lo Biau-cu sudah berangkat bekerja.

Tak mungkin bagi rekannya itu untuk meninggalkan pekerjaan


apapun yang tersedia, sebab ia tahu hanya dengan bekerja
baru ada nasi untuk makan.

Tiba-tiba A-kit mementangkan matanya lebar-lebar dan


mendelik ke arahnya, kemudian dengan ketus katanya:

"Seharusnya kaupun tahu, bahwa aku tak mungkin mampus!"


Pendekar Gelandangan 228

"Seandainya kau ingin mampus, sekarang kau pasti sudah


mampus beberapa kali!", sahut si boneka.

"Lantas mengapa kau tidak pergi untuk melakukan


pekerjaanmu?"

"Aku sudah tak akan pergi lagi!"

Suaranya begitu tenang, begitu datar, sedikitpun tanpa emosi.

Kemudian setelah berhenti sejenak, lanjutnya dengan


hambar:

"Sejak kini, aku tak akan kembali lagi ke tempat seperti itu!"

"Kenapa?", tanya A-kit tak tahan.

Tiba-tiba si Boneka tertawa dingin.

"Apakah kau mengira sejak lahir aku sudah menyukai


pekerjaan semacam itu?"

A-kit menatap tajam wajahnya, seolah-olah berusaha


menembusi hatinya, lalu tanyanya lagi:

"Sejak kapan kau memutuskan untuk tidak ke sana lagi?"

"Hari ini!"

A-kit menutup mulutnya, ia merasa hatinya mulai sakit lagi.

......Tiada seorang manusiapun yang semenjak dilahirkan


Pendekar Gelandangan 229

sudah menyukai pekerjaan semacam itu, tapi setiap orang


harus hidup, setiap orang harus bersantap.

......Dia adalah satu-satunya tumpuan harapan dari ibu dan


kakaknya, ia harus mencarikan daging untuk ibu dan kakaknya.

......Ia tak boleh membuat kecewa ibu dan kakaknya.

......Mungkinkah kejalangan dan kecabulannya disebabkan


suatu penderitaan dalam hati yang tak terlampiaskan keluar?
Maka dengan sekuat tenaga ia berusaha menyiksa diri,
merendahkan derajat sendiri?

......Tapi sekarang ia telah bertekat untuk tidak melanjutkan


pekerjaannya, sebab ia tak ingin dipandang hina oleh orang
lain.

Andaikata A-kit masih mempunyai air mata, mungkin pada


saat ini telah bercucuran, sayang ia tak lebih hanya seorang
gelandangan.

Gelandangan itu tanpa perasaan, diapun tak punya air mata.

Oleh sebab itu dia harus pergi meninggalkan tempat itu,


sekalipun harus merangkak, dia harus merangkak ke luar dari
situ.

Sebab ia sudah mengetahui perasaan nona itu, ia tak dapat


menerimanya tapi diapun tak ingin melukai perasaannya.

Bukan saja orang telah memberi kesempatan hidup


kepadanya, merekapun telah memberi kasih sayang dan
Pendekar Gelandangan 230

kehangatan yang belum pernah di alaminya selama ini. Ia tak


dapat menyedihkan hati mereka.

Si Boneka menatap tajam wajahnya, seakan-akan ia telah


menebak suara hatinya. Tiba-tiba katanya:

"Bukankah kau ingin pergi lagi?"

A-kit tidak menjawab, ia meronta dan berusaha bangun,


kemudian dengan sekuat tenaga melangkah keluar dari
ruangan itu.

Si Boneka tidak menghalanginya. Dia tahu meskipun tubuh


orang itu bukan terdiri dari tulang besi otot kawat, tapi ia
memiliki jiwa dan tekad yang lebih keras dari baja.

Jangankan menghalangi, berdiripun tidak, cuma air mata


tampak membasahi pipinya.

A-kit sama sekali tidak berpaling.

Kekuatan tubuhnya tak mungkin bisa membawanya pergi


jauh, mulut luka di tubuhnya lamat-lamat mulai terasa sakit.

Tapi bagaimanapun juga ia harus pergi, sekalipun selangkah


kemudian ia bakal terjerumus ke dalam selokan, sekalipun dia
bakal mampus dan membusuk seperti tikus, ia tak ambil
perduli.

Siapa tahu, belum sempat dia berjalan keluar dari pintu, si


nenek sambil membawa keranjang sayur telah pulang ke
rumah, sorot matanya yang penuh kasih sayang itu dengan
Pendekar Gelandangan 231

sinar mata yang membawa nada menegur menatapnya tajam-


tajam, kemudian tegurnya:

"Kau tidak boleh bangun, aku telah belikan sedikit kuah


daging yang akan membantu menyehatkan tubuhmu dengan
cepat. Setelah minum kuah daging badanmu baru akan
bertenaga kembali. Hayo, cepat kembali ke dalam rumah dan
berbaring!"

A-kit memejamkan matanya rapat-rapat.

......Betulkah gelandangan tiada perasaan?

......Benarkah gelandangan tiada air mata?

Tiba-tiba ia menggunakan segenap sisa tenaga yang


dimilikinya untuk menerjang lewat dari sisi si nenek dan
menyerbu keluar pintu.

Banyak persoalan sulit rasanya untuk dijelaskan, lantas apa


gunanya mesti dijelaskan?

Lorong sempit itu gelap, lembab dan kotor. Sinar matahari tak
dapat menyorot masuk ke situ.

Sambil mengertak gigi menahan sakit yang kian menjadi, ia


menerobos maju ke depan.

Tiba-tiba dari lorong sana ia saksikan seseorang sedang


menerjang masuk pula ke dalam lorong dengan langkah
sempoyongan.
Pendekar Gelandangan 232

Sekujur badan orang itu berlepotan darah, pakaian yang


koyak-koyak telah berubah pula menjadi merah karena noda
darah, bahkan tulang wajahnya kelihatan seperti remuk.

"Lo Biau-cu!"

A-kit menjerit kaget dan menerjang maju ke muka.

Lo Biau-cu menerjang pula ke mari, kedua orang itu saling


berpelukan.

"Lukamu belum sembuh, mau apa ke luar rumah?", tegur Lo


Biau-cu dengan segera.

Meskipun luka yang di deritanya sangat parah, tapi ia tak


ambil perduli, ia lebih menguatirkan keadaan dari sahabatnya.

"Aku........aku.......", A-kit tak dapat melanjutkan kembali kata-


katanya. Ia harus mengertak gigi menahan golakan emosinya.

"Apakah kau ingin meninggalkan tempat ini?", tanya Lo Biau-


cu.

Sekuat tenaga dipeluknya tubuh sahabatnya itu lalu


menjawab:

"Aku tak akan pergi sekalipun dibunuh, aku tak akan pergi!"

Dengan lima buah bacokan golok dan empat biji tulang iga
terhajar patah, andaikata bukan seorang laki-laki sejati,
siapakah yang mampu mempertahankan diri?
Pendekar Gelandangan 233

Si nenek memperhatikan keadaan putranya yang


mengenaskan itu dengan air mata bercucuran.

Lo Biau-cu masih juga tertawa, malah katanya dengan suara


keras:

"Apa artinya luka-luka sekecil ini? Paling banter besok


pagipun akan sembuh dengan sendirinya!"

"Mengapa kau bisa terluka separah ini?", tanya si nenek


dengan penuh rasa kuatir.

"Aku terpeleset, karena tergesa-gesa dan kurang berhati-hati,


aku terjatuh dari atas loteng!"

Sekalipun seorang nenek yang tak akan mengenali huruf


sebesar gajahpun tak akan percaya kalau luka macam begitu
adalah luka-luka akibat terpeleset dan terjatuh dari loteng.

Sekalipun memang benar terjatuh dari loteng yang tingginya


mencapai tujuh delapan kaki, tak nanti luka yang dideritanya
bakal separah sekarang ini.

Tapi, si nenek ini jauh berbeda dengan nenek lainnya.

Iapun mengetahui bahwa luka tersebut bukan luka akibat


terjatuh dari loteng, diapun jauh lebih menguatirkan
keselamatan putranya daripada orang lain.

Akan tetapi ia tidak mendesak lebih jauh, hanya pesannya


dengan air mata bercucuran:
Pendekar Gelandangan 234

"Jika akan menuruni anak tangga, lain kali kau harus lebih
berhati-hati, jangan sampai terpeleset lagi!"

Kemudian dengan wajah penuh kesedihan ia berlalu dari


sana, masuk ke dapur untuk memasak kuah dagingnya.

Ya, itulah pekerjaan yang harus dilakukan kaum wanita. Ia


cukup memahami bahwa kaum pria selamanya paling benci
kalau pekerjaan yang dilakukan dicampuri pula oleh kaum
wanita.

Sekalipun perempuan itu adalah ibu kandungnya sendiri.

Dengan termangu A-kit mengawasi bayangan punggungnya


yang tinggi besar, meskipun tiada air mata lagi yang
bercucuran, paling sedikit sepasang matanya masih memerah.

......Betapa agungnya seorang ibu, betapa agungnya


perempuan itu, sebab justru karena di dunia ini masih
terdapat perempuan semacam ini, maka umat manusia masih
bisa melanjutkan hidupnya.

Menunggu sampai perempuan itu sudah masuk ke dalam


dapur, A-kit baru berpaling dan menatap tajam wajah Lo Biau-
cu.

"Siapa yang melukai dirimu?"

"Siapa yang melukai diriku?", Lo Biau-cu ikut tertawa, "siapa


yang berani melukaiku?"

"Aku tahu kalau kau tidak bersedia memberitahukan


Pendekar Gelandangan 235

kepadaku, apakah kau ingin menyaksikan aku pergi menanyai


mereka sendiri?"

Senyuman yang menghiasi wajah Lo Biau-cu segera


membeku, dengan wajah serius katanya:

"Sekalipun aku telah dilukai orang, tapi soal ini adalah urusan
pribadiku sendiri, tak perlu kau mencampurinya"

"Ya, sebab dia takut kau pergi menerima gebuk lagi dari
mereka", sambung si Boneka yang selama ini hanya berdiri di
bawah jendela jauh di dalam ruangan sana.

"Aku...........", A-kit tak sanggup melanjutkan kata-katanya.

Kembali si Boneka tertawa dingin sambil menukas:

"Heeeehhh........heeeehh.......heeeehhh........padahal diapun
tak usah merisaukan soal ini, sekalipun dia harus menerima
gebuk lantaran dirimu, kaupun tak nanti akan membantunya
untuk melampiaskan rasa mengkal ini"

Setelah berhenti sejenak, tambahnya lagi dengan suara


dingin:

"Karena saudara A-kit yang tak berguna ini selamanya paling


tak suka berkelahi"

Terjelos rasanya perasaan A-kit, ia menundukkan kepalanya


rendah-rendah. Sekarang tentu saja ia telah paham mengapa
rekannya digebuk orang hingga menjadi begitu rupa, ia belum
lupa dengan manusia-manusia bengis bermata segi tiga itu.
Pendekar Gelandangan 236

Diapun bukannya tidak tahu, meskipun ucapan dari si boneka


bernada tajam bagaikan jarum, namun air mata telah
mengembang dalam kelopak matanya........

Akan tetapi ia tak dapat melampiaskan rasa mendongkol itu


buat sahabatnya, ia tak dapat pergi berkelahi, diapun tidak
berani.

Ia membenci diri sendiri, bencinya setengah mati.

Pada saat itulah, tiba-tiba ia mendengar seseorang berkata


dengan dingin:

"Dia bukannya tak suka berkelahi, dia takut digebuk!"

Itulah suara dari si manusia bermata segi tiga.

Yang datang bukan cuma dia seorang, dua pemuda yang


menyelinapkan sebilah pisau di pinggangnya menemani
kedatangan orang itu. Yang seorang berwajah panjang dengan
kaki yang panjang pula, sambil bertolak pinggang ia berdiri di
belakang mereka berdua, pakaiannya amat bagus dan
perlente.

Sambil mengacungkan jempolnya, laki-laki bermata segi tiga


itu menuding orang di belakangnya itu sambil
memperkenalkan:

"Dia adalah lo-toa kami yang bernama 'si kusir kereta'


sekalipun nama itu digadaikan ke rumah pegadaian juga laku
beberapa ratus tahil perak"
Pendekar Gelandangan 237

Seluruh kulit tubuh Lo Biau-cu mengejang keras, teriaknya


dengan suara parau:

"Mau apa kalian datang kemari?"

"Jangan kuatir!", jawab laki-laki bermata segi tiga itu sambil


tertawa seram, "setelah puas menggebuk, kami tak akan
datang untuk mencari gara-gara lagi denganmu"

Ia berjalan menghampiri A-kit kemudian menepuk-nepuk


bahunya sambil mengejek:

"Bocah keparat inipun bukan manusia sembarangan, rasanya


toaya sekalian juga enggan untuk mencari gara-gara
dengannya"

"Lantas siapa yang kalian cari?", teriak Lo Biau-cu.

"Heeehhh....heeehhh.....heeehhh...siapa lagi? Tentu saja


mencari adik perempuanmu!"

Tiba-tiba ia memutar tubuhnya dan menatap si Boneka tajam-


tajam, sinar buas memancar keluar dari sepasang mata
segitiganya yang menyeramkan itu.

"Hayo kita berangkat, siau-moay-cu!"

Paras muka si Boneka berubah hebat.

"Kaa.......kalian.......kalian hendak membawaku pergi


kemana?", bisiknya dengan suara gemetar.
Pendekar Gelandangan 238

Laki-laki bermata segitiga itu tertawa dingin.

"Heeeeehhh.....heeeehh....heeeeehh......kemana kita harus


pergi, kesitulah kita pergi. Lebih baik kau tak usah berlagak
pilon di hadapan kami........mengerti!"

Si Boneka mundur terus selangkah demi selangkah dengan


ketakutan.

"Apakah beristirahat seharipun tak boleh?", keluhnya.

"Kau adalah orang yang paling laris di antara orang-orangnya


Han toa-nay-nay, sehari tidak bekerja, berapa tahil perak kita
bakal rugi? Kalau tak ada uang untuk kita, dengan apa kita
musti makan?"

"Tapi Han toa-nay-nay telah mengabulkan permintaanku,


dia................."

"Anggap saja apa yang telah ia katakan sebagai kentut anjing


yang paling bau, andaikata tak ada kami bersaudara, sampai
hari inipun dia tak lebih cuma seorang pelacur, pelacur tua
yang sehari menjadi pelacur, sehari pula harus menjajakan
tubuhnya.................."

Si boneka tak ingin laki-laki itu melanjutkan kata-kata


kotornya, dengan suara keras ia menukas:

"Kumohon kepada kalian lepaskanlah diriku selama dua hari


ini, mereka semua telah terluka, tidak enteng luka yang
mereka derita.........kumohon kepada kalian, bermurahlah hati,
Pendekar Gelandangan 239

lepaskanlah aku selama dua hari ini............."

"Mereka? Siapakah mereka?", jengek laki-laki bermata segi


tiga itu, "sekalipun yang seorang adalah kakakmu, yang
seorang lagi itu manusia macam apa?"

Dua orang laki-laki yang membawa pisau belati itu segera


maju bersama sambil berkata pula:

"Kami kenal dengan bajingan cilik ini. Ia pernah bekerja


sebagai pelayan di gedungnya Han toa-nay-nay, sudah pasti
dia punya hubungan gelap dengan pelacur kecil itu"

"Bagus, bagus sekali!", kata laki-laki bermata segi tiga itu.

Tiba-tiba sambil memutar tubuhnya, ia menampar wajah A-kit


keras-keras, kemudian makinya:

"Sungguh tak kusangka kau pelacur kecil masih mempunyai


simpanan gendak macam bajingan cilik ini.................Hmmm,
bila kau tak mau ikut kami pergi, pertama-tama dialah yang
akan kami bereskan dulu"

Sambil mengancam, ia menggerakkan kakinya lagi untuk


menendang selangkangan A-kit.

Tapi si Boneka sudah keburu menubruk ke muka, menubruk


ke atas tubuh A-kit, teriaknya setengah menjerit:

"Sampai matipun aku tak akan pergi bersama kalian, lebih


baik kalian bunuhlah aku lebih dulu"
Pendekar Gelandangan 240

"Pelacur busuk, kau benar-benar pingin mampus?", hardik


laki-laki bermata segi tiga itu.

Kali ini sebelumnya ia sempat mengangkat kakinya, Lo Biau-cu


telah menarik bahunya sambil membentak.

"Kau mengatakan dia sebagai apa?"

"Pelacur busuk, tahu dengan Pelacur busuk?"

Apapun tidak diucapkan lagi oleh Lo Biau-cu, kepalannya yang


lebih besar dari mangkuk itu langsung ditonjokkan ke wajah
laki-laki bermata segi tiga itu.

Sekalipun laki-laki itu kena dijotos keras-keras, akan tetapi dia


sendiripun harus menerima dua buah tendangan keras dari
dua orang di sampingnya, begitu keras tendangan itu
membuatnya kesakitan dan berguling di atas tanah dengan
keringat dingin bercucuran.

Pada saat itulah si nenek menerjang keluar dari dapur dengan


membawa sebilah pisau dapur, jeritnya:

"Kalian kawanan bajingan, aku lo-tay-po akan beradu jiwa


dengan kalian semua!"

Pisau itu langsung dibacokkan ke atas tengkuk dari laki-laki


bermata segi tiga itu.

Tentu saja bacokan tersebut tidak mengenai sasarannya.

Tahu-tahu pisau dapur itu sudah dirampas oleh laki-laki


Pendekar Gelandangan 241

bermata segi tiga, kemudian sekali mengayunkan tangannya,


dengan gaya bantingan yang manis, ia banting tubuh nenek itu
keras-keras ke atas tanah.

Si Boneka segera menerjang ke depan ibunya dan memeluk


erat-erat nenek itu sambil menangis tersedu-sedu.

Nenek reyot yang sepanjang hidupnya harus menderita dan


sengsara hidupnya ini mana sanggup menerima bantingan
yang sangat keras itu........

"Hmmm, dia sendiri yang kepingin mampus....", kata laki-laki


itu.

Kata 'mampus' baru saja diucapkan keluar, sambil berpekik


keras, bagaikan harimau terluka dengan sempoyongan Lo
Biau-cu menerkam ke depan.

Sekalipun sekujur badannya telah babak belur penuh dengan


luka, bahkan tenaga untuk berdiripun tak ada, akan tetapi ia
masih nekad untuk beradu jiwa.

Ia memang bersiap-siap untuk beradu jiwa dengan kawanan


bajingan itu.

"Kau juga kepingin mampus?", bentak laki-laki bermata segi


tiga itu dengan suara mengerikan.

Dalam genggamannya masih memegang pisau dapur yang


baru saja berhasil dirampasnya itu, asal ada pisau maka ia
dapat membunuh orang.
Pendekar Gelandangan 242

Manusia semacam laki-laki itu tak pernah takut untuk


membunuh orang, pisaunya langsung diayunkan ke depan
untuk menusuk dada Lo Biau-cu.

Sepasang mata Lo Biau-cu telah memerah darah, hakekatnya


ia tak ingin menghindari tusukan tersebut, iapun tak dapat
menghindarinya, akan tetapi tusukan itu justru mengenai
sasaran yang kosong.

Baru saja ujung pisau itu akan menusuk ke dadanya, Lo Biau-


cu telah terdorong pergi dari situ.

A-kitlah yang mendorongnya.

Padahal A-kit sendiri tak sanggup berdiri tegap, akan tetapi


ternyata ia berdiri juga, malah tepat berdiri di hadapan laki-
laki bermata segi tiga itu.

"Kaa.....kalian terlalu menyiksa orang, kalian terlalu menyiksa


orang......", katanya kepada laki-laki itu.

Suaranya amat parau, mungkin lantaran terpengaruh oleh


emosi, ia tak sanggup melanjutkan kembali kata-katanya.

Laki-laki bermata segi tiga itu tertawa dingin.

"Heeehhhh....heeeehhhh...heehhh...apa yang kau inginkan?


O, atau mungkin ingin membalas dendam kepada kami?"

"Aku....aku....."

"Pokoknya kalau mau memang jantan dan bernyali, ambillah


Pendekar Gelandangan 243

pisau dapur ini dan gunakanlah untuk membunuh aku",


tantang laki-laki bermata segi tiga itu.

Ternyata ia benar-benar mengangsurkan pisau dapur itu ke


hadapannya, malah katanya kembali:

"Asal kau punya keberanian untuk membunuh orang, aku


akan takluk kepadamu! Aku akan menganggapmu sebagai
seorang laki-laki sejati"

A-kit tidak menyambut pisau dapur itu.

Tangannya masih gemetar keras, sekujur tubuhnya ikut


gemetar, bahkan gemetar tiada hentinya.

Laki-laki bermata segi tiga itu tertawa tergelak, ia cengkeram


rambut si Boneka lalu menyeret perempuan itu, bentaknya:

"Hayo jalan!"

Si Boneka tidak ikut pergi.

Tiba-tiba tangannya dicekal oleh sebuah tangan lain, sebuah


tangan yang kuat dan bertenaga. Ia merasa tulang
belakangnya hampir saja tergenggam remuk.

Ternyata tangan yang menggenggam tangannya itu adalah


tangan dari A-kit, A-kit yang tak berguna.

Laki-laki bermata segi tiga itu mendongakkan kepalanya, lalu


dengan terkejut menatapnya lekat-lekat.
Pendekar Gelandangan 244

"Kau....kau berani melawan aku?", teriaknya.

"Aku tidak berani, aku adalah manusia tak becus, aku tak
berani membunuh orang, akupun tak ingin membunuh orang"

Pelan-pelan ia mengendorkan genggamannya.

"Kalau begitu akulah yang akan membunuhmu!", teriak laki-


laki bermata segi tiga itu dengan segera.

Dengan mempergunakan pisau dapur itu, ia tusuk


tenggorokan A-kit dengan kecepatan bagai kilat.

A-kit sama sekali tak bergerak, diapun tidak bermaksud untuk


menghindarkan diri, cuma lengannya dikebaskan pelan ke
depan, lalu kepalannya menyodok ke muka.

Sebetulnya laki-laki bermata segi tiga itu turun tangan lebih


dahulu, akan tetapi sebelum tusukan tersebut berhasil
menembusi tenggorokan lawan, kepalan A-kit telah bersarang
lebih dulu di atas dagunya.

Tiba-tiba saja seluruh tubuhnya terangkat dan melayang ke


udara.

"Blaaang....!" Punggungnya menghancurkan daun jendela dan


mencelat ke luar dari ruangan kemudian..."Duuukkk!" setelah
menumbuk lagi di atas dinding rendah, tubuhnya baru
terhenti.

Sekujur tubuhnya telah berubah menjadi lemas bagaikan


segumpal lumpur yang tiba-tiba tercerai berai, selamanya ia
Pendekar Gelandangan 245

tak sanggup untuk bangkit kembali.

Setiap orang tertegun, setiap orang memandang ke arah A-kit


dengan sinar mata terkejut.

A-kit sama sekali tidak memandang ke arah mereka, sepasang


matanya terasa kosong melompong sama sekali tanpa
perasaan, sama sekali tanpa emosi, seakan-akan
perbuatannya itu justru menambah penderitaan dan siksaan
dalam batinnya.

Si kusir kereta yng selama ini hanya bertolak pinggang di


muka rumah, tiba-tiba melompat ke atas sambil membentak:
"Bereskan dia!"

Kata-kata itu merupakan kata sandi dari para berandal kota


yang artinya lawan mereka harus dibunuh sampai mati.

Dua orang berandal muda yang membawa pisau belati itu


ragu-ragu sejenak, akhirnya mereka cabut ke luar pisau
belatinya.

Kedua bilah pisau belati itu pernah menusuk tujuh-delapan


kali di tubuh A-kit, dan sekarang pada saat yang bersamaan
digunakan untuk menusuk bagian mematikan di bawah ketiak
lawan.

Sayang, tusukan mereka kali ini mengenai sasaran kosong.

Tanpa diketahui sebab musababnya, tiba-tiba saja kedua


orang berandal muda yang kekar dan berotot itu roboh ke
atas tanah dan tertelungkup dengan keadaan yang lemas
Pendekar Gelandangan 246

bagaikan segumpal tanah berlumpur.

Sebab ketika A-kit merentangkan sepasang tangannya,


tenggorokan mereka berdua telah terbabat telak. Ketika
mereka roboh ke tanah, kesempatan menjeritpun tak ada.

Paras muka si kusir kereta berubah hebat, selangkah demi


selangkah ia mundur terus ke belakang.

A-kit sama sekali tidak memandang ke arahnya walau cuma


sekejap matapun, hanya katanya dengan hambar:

"Berhenti!"

Kali ini si kusir kereta sangat penurut, ia seakan-akan berubah


menjadi seorang anak yang penurut, ketika di minta untuk
berhenti, ia betul-betul berhenti.

"Sesungguhnya aku sudah tak ingin membunuh orang lagi,


mengapa kalian memaksaku untuk berbuat lagi?", kata A-kit
dengan suara mengeluh.

Kemudian ia menundukkan kepalanya dan memandang


sepasang tangannya dengan wajah sedih dan penuh
penderitaan.

Ya, ia sangat sedih dan menderita, sebab sepasang tangannya


kembali telah berlepotan darah, darah manusia!.

Tiba-tiba si kusir kereta membusungkan dadanya lalu


berteriak dengan suara lantang:
Pendekar Gelandangan 247

"Sekalipun kau membunuh pula diriku, jangan harap kau


sendiri dapat meloloskan diri!"

"Aku tak akan pergi!", jawab A-kit

Kemudian dengan mimik wajah lebih sedih dan menderita,


sepatah demi sepatah ia melanjutkan:

"Sebab aku sudah tiada jalan lain untuk pergi!"

Ketika kusir kereta itu menyaksikan musuhnya menundukkan


kepala dan lengah, ia segera bertindak cepat. Kesempatan
sebaik ini tak akan disia-siakan dengan begitu saja. Tiba-tiba ia
turun tangan, sebilah pisau terbang disambitkan ke arah dada
A-kit.

Tapi pisau terbang itu secara tiba-tiba terbang kembali lagi,


bahkan menancap di atas bahu kanannya, tepat menembusi
tulang persendian dan memotong urat syarafnya.

Dengan begitu, maka tangan itupun praktis menjadi lumpuh


untuk selamanya, tak mungkin lagi dipakai untuk membunuh
orang.

"Aku tak akan membunuhmu, karena aku berharap kau bisa


pulang dalam keadaan hidup", kata A-kit pelan, "beritahu
kepada Thi-tau toako kalian, beritahu juga kepada toa-tauke
kalian, akulah pembunuhnya. Bila mereka ingin membalas
dendam, datang saja mencariku. Jangan menyeret mereka
yang tak berdosa dan tak tahu urusan"

Peluh dingin telah membasahi seluruh tubuh si kusir kereta,


Pendekar Gelandangan 248

sambil mengertak gigi menahan sakit, katanya:

"Bajingan cilik, anggap saja kau memang hebat!"

Setelah melompat keluar dari pintu ruangan, tiba-tiba ia


berpaling sambil teriaknya kembali:

"Jika kau memang betul-betul hebat, sebutkan namamu!"

"Aku bernama A-kit, A-kit yang tak berguna!"

Malam sudah semakin larut, cahaya lampu yang redup


menyinari ruangan sempit di balik lorong yang apek.

Sinar redup yang kemerah-merahan itu menyinari mayat si


nenek di atas pembaringan, menyinari pula wajah si Boneka
dan Lo Biau-cu yang pucat pias bagaikan mayat.

Inilah ibu mereka, ibu kandung yang dengan susah payah


memelihara mereka serta membesarkan mereka hingga
menjadi dewasa, tapi apakah balasan mereka?

A-kit berdiri jauh di sudut ruangan, di tempat yang remang-


remang sambil menundukkan kepalanya, ia seakan-akan tidak
berani berhadapan muka dengan mereka.

Sebab, sebetulnya nenek itu tak perlu mati konyol, asal ia


berani menghadapi kenyataan, maka perempuan tua yang
baik hati itu tak akan mati secara mengenaskan.

Tiba-tiba Lo Biau-cu berpaling ke arahnya, kemudian katanya:


Pendekar Gelandangan 249

"Pergilah kau!"

Kulit wajahnya telah mengejang lantaran sedih dan tersiksa,


kembali katanya:

"Kau telah membalaskan dendam buat ibu kami, sebetulnya


kami berterima kasih kepadamu, tetapi.......tetapi saat ini
kamipun tak sanggup untuk menahan dirimu lagi"

A-kit tidak bergerak, diapun tidak berkata apa-apa.

Ia dapat memahami maksud hati Lo Biau-cu. Ia diminta pergi


karena mereka tak ingin menyulitkan dirinya lagi.

Tapi, bagaimanapun juga ia tak akan pergi.

Tiba-tiba Lo Biau-cu berteriak keras:

"Sekalipun kami pernah melepaskan budi kepadamu, budi itu


telah kau balas. Sekarang mengapa kau tidak juga pergi
meninggalkan tempat ini?"

"Benarkah kau mengharap kepergianku? Baiklah, hanya ada


satu cara untuk memaksaku pergi dari sini"

"Bagaimana caranya?"

"Bunuhlah aku, kemudian gotong mayatku meninggalkan


tempat ini!"

Lo Biau-cu menatapnya tajam-tajam, tiba-tiba airmatanya


jatuh bercucuran membasahi pipinya, dengan suara keras ia
Pendekar Gelandangan 250

berseru:

"Aku tahu kau mempunyai ilmu silat yang tinggi, kau anggap
masih mampu untuk menghadapi mereka, tapi tahukah
engkau manusia-manusia macam apakah mereka itu?"

"Aku tidak tahu!"

"Bukan saja mereka punya uang, merekapun mempunyai


kekuasaan, tukang pukul yang dipelihara toa tauke nya paling
sedikit mencapai tiga sampai lima ratus orang, diantaranya
yang paling lihay adalah manusia yang bernama Thi-tau (si
kepala baja), Thi-jiu (si tangan baja) dan Thi-hau (si harimau
baja). Konon mereka semua dulunya adalah perompak-
perompak ulung yang membunuh orang tak berkedip di
samudra bebas, kemudian karena dicari terus oleh petugas
negara, akhirnya mereka berganti nama dan menyembunyikan
diri di sini"

Setelah berhenti sejenak, kembali teriaknya:

"Sekalipun ilmu silat yang kau miliki terhitung lumayan juga,


akan tetapi setelah kau jumpai ketiga orang itu, maka hanya
kematian yang bakal kau temui!"

"Pada hakekatnya aku memang tiada jalan lain kecuali tetap


berdiam di sini!"

Ia menundukkan kepalanya rendah-rendah, bayangan hitam


tampak menyelimuti seluruh wajahnya.

Sekalipun Lo Biau-cu tidak menyaksikan sendiri perubahan


Pendekar Gelandangan 251

mimik wajahnya, akan tetapi ia dapat mendengar kepedihan


serta kebulatan tekadnya dari ucapan tersebut.

Kepedihan terhitung pula sejenis kekuatan, semacam


kekuatan yang dapat mendorong seseorang untuk melakukan
banyak perbuatan yang tak berani ia lakukan diwaktu-waktu
biasa.

Akhirnya Lo Biau-cu menghela napas panjang.

"Baiklah, jika kau memang ingin mampus, marilah kita


mampus bersama-sama...", katanya.

"Bagus, bagus sekali!", terdengar seseorang menanggapi dari


luar pintu dengan suara dingin dan mengerikan.

"Blaaang......!" pintu dapur yang begitu tebal dan kuat itu


mendadak di hantam sehingga muncul sebuah lubang yang
besar.

Sebuah kepalan tangan menjulur masuk ke dalam pintu, tapi


dengan cepatnya di tarik kembali.

Menyusul kemudian......."Blaaaaang...." di atas dinding rumah


yang berada di sisi pintu muncul pula sebuah lubang besar.

Keras dan dahsyat memang pukulan kepalan orang itu!.

Pelan-pelan A-kit berjalan ke luar dari tempat kegelapan dan


maju ke muka untuk membuka pintu.

Di luar pintu berdiri sekelompok manusia, seorang laki-laki


Pendekar Gelandangan 252

berperawakan tinggi besar dan berpakaian perlente sedang


menggosok-gosok kepalan tangan kanannya dengan tangan
kiri.

Ketika A-kit muncul membukakan pintu, dengan sinar mata


tajam ditatapnya orang itu lekat-lekat, kemudian tegurnya:

"Engkaukah yang bernama A-kit yang tak berguna?"

"Ya, akulah orangnya!"

"Aku bernama Thi-kun (kepalan baja) A-yong!"

"Terserah apapun namamu, bagiku adalah sama saja"

"Hmm! Sekalipun nama itu sama, namun kepalanku tidak


sama!", jengek Kepalan Baja A-yong dengan ketus.

"Oooh....benarkah begitu?"

"Hmm! Konon orang bilang kau lelaki yang hebat, jika berani
kau sambut sebuah kepalanku, maka akupun akan
menganggapmu sebagai laki-laki yang hebat pula"

"Silahkan!"

Paras muka Lo Biau-cu berubah hebat. Si Boneka


menggenggam tangannya erat-erat. Tangan mereka berdua
telah berubah menjadi sedingin es.

Mereka semua telah melihat bahwa A-kit tak ingin hidup lagi,
kalau tidak mengapa ia begitu berani untuk menyambut
Pendekar Gelandangan 253

pukulan baja yang sanggup menjebolkan dinding rumah itu?

Akan tetapi, bagaimanapun jua hanya sebuah jalan kematian


yang mereka miliki, mati sekarang juga boleh, mati belakang
juga sama saja, apa pula bedanya suatu kematian?

Tiba-tiba Lo Biau-cu menerjang ke depan kemudian teriaknya


setengah menjerit:

"Kalau kau berani, hayo pukul aku lebih dulu!"

"Kenapa tidak berani?", ejek A-yong, si Kepalan Baja itu


sambil tertawa sinis.

Begitu ia berkata akan memukul, kepalannya langsung


disodok ke muka menghantam raut wajah Lo Biau-cu.

Setiap orang dapat mendengar suara remuknya tulang


belulang, cuma yang remuk bukan tulang wajah Lo Biau-cu.
Yang remuk adalah tulang kepalan dari si Kepalan Baja A-yong.

A-kit turun tangan secara tiba-tiba, kepalan tersebut tepat


menghajar di atas kepalan lawan, setelah itu sambil putar
tubuhnya, sebuah kepalan lain mampir pula di atas perutnya.

Si Kepalan Baja A-yong kesakitan setengah mati bagaikan


udang yang dimasukkan ke dalam air mendidih, tubuhnya
langsung melingkar dan bergulingan di atas tanah.

Pelan-pelan A-kit mengalihkan kembali perhatiannya ke arah


kawanan manusia di belakangnya.
Pendekar Gelandangan 254

Manusia-manusia itu datang dengan membawa senjata


lengkap, akan tetapi tak seorangpun di antara mereka yang
berani berkutik.

"Beritahu kepada toa-tauke kalian, apabila ingin merenggut


nyawaku, lebih baik carilah pembantu-pembantu yang
lumayan, sebab manusia-manusia semacam itu masih belum
pantas untuk dihadapkan kepadaku!", kata A-kit.

Daun-daun di kebun belakang telah memerah, bunga sakura


mekar bagaikan emas yang berkilauan.

Sambil bergendong tangan, toa-tauke sedang menikmati


bunga sakura sambil gumamnya:

"Menunggu kepiting-kepiting besar dari telaga Yang-teng-ou


di kirim sampai kemari, siapa tahu waktunya bersamaan
dengan mekarnya bunga-bunga sakura ini"

Ia menghembuskan napas panjang, lalu gumamnya lagi:

"Oooh.......betapa indahnya waktu itu, betapa indahnya saat


seperti itu....."

Sekelompok manusia berdiri di belakangnya, seorang laki-laki


setengah umur yang mengenakan baju berwarna hijau dengan
potongan seperti seorang siucay yang gagal dalam ujian
berdiri sangat dekat dengannya, sementara Kepalan Baja A-
yong dengan tangan yang dibalut dengan kain berdiri paling
jauh........

Baik mereka yang berdiri sangat dekat, maupun mereka yang


Pendekar Gelandangan 255

berdiri paling jauh, di saat toa-tauke sedang menikmati bunga,


tak seorang manusiapun berani membuka suara.

Toa-tauke membungkukkan badannya seperti mau mencium


harumnya bunga, tiba-tiba tangannya berkelebat dan
menjepit seekor ulat terbang dengan kedua jari tangannya,
setelah itu pelan-pelan tanyanya:

"Menurut kalian, siapa nama orang itu?"

Manusia berbaju hijau itu memandang ke arah Kepalan Baja


A-yong.

Serta merta Kepalan Baja A-yong menjawab:

"Ia bernama A-kit, A-kit yang tak berguna!"

"A-kit? A-kit yang tak berguna?"

Dengan mempergunakan kedua buah jari tangannya ia


menjepit ulat terbang itu sampai mati kemudian sambil
memutar badannya, ia menatap A-yong tajam-tajam, katanya
lagi dengan suara dingin:

"Ia bernama A-kit yang tak berguna dan kau bernama Kepalan
Baja A-yong.....?"

"Benar!"

"Kepalanmu yang lebih keras atau kepalannya yang lebih


keras?", tanya toa-tauke lagi.
Pendekar Gelandangan 256

Kepalan Baja A-yong menundukkan kepalanya memandang


kepalan sendiri yang dibalut kain, terpaksa ia harus
mengakuinya:

"Kepalannya lebih keras daripada kepalanku!"

"Kau yang lebih berani? Atau dia?"

"Dia lebih pemberani!"

"Kau yang tak berguna atau dia?"

"Aku yang tak berguna!"

Toa-tauke menghela napas panjang.

"Aaaai....jadi kalau begitu, aku rasa semestinya namamu tidak


cocok memakai nama sekarang"

"Benar!"

"Kalau memang begitu, mengapa tidak kau rubah namamu


menjadi Si Sampah yang Tak Berguna A-kau (si anjing)?"

Paras muka Kepalan Baja A-yong yang pucat pias seperti


mayat, kini mulai mengejang keras.

Manusia berbaju hijau yang selama ini hanya berdiri


membungkam di sisi gelanggang, tiba-tiba maju sambil
memberi hormat, lalu katanya:

"Ia telah berusaha dengan sepenuh tenaga"


Pendekar Gelandangan 257

Sekali lagi toa-tauke menghela napas panjang, sambil


mengulapkan tangannya ia berkata:

"Lebih baik suruh dia enyah saja dari sini!"

"Baik!"

"Beri juga sedikit uang untuk merawat lukanya, setelah luka


itu sembuh baru datang menjumpai diriku lagi"

Dengan suara lantang manusia berbaju hijau itu segera


berteriak:

"Toa tauke suruh kau mengambil seribu tahil perak di kasir,


kenapa tidak cepat-cepat kau ucapkan terima kasih?"

Kepalan Baja A-yong segera maju dan menyembah berulang


kali.

Toa-tauke kembali menghela napas panjang, sambil


memandang ke arah manusia berbaju hijau itu dengan
senyuman getir di kulum, katanya:

"Begitu membuka suara lantas mengeluarkan seribu tahil


perak, kau benar-benar seorang yang royal!"

"Sayang seribu kali sayang, yang kuroyalkan bukan harta


milikku sendiri.....", sambung manusia berbaju hijau itu sambil
tertawa.

Toa-tauke tertawa terbahak-bahak.


Pendekar Gelandangan 258

"Haaahhh.......haaaahhhh.......haaahhhhh......ada suatu
kebaikan paling besar yang kau miliki, yakni kau suka berbicara
terus terang!"

Menunggu gelak tertawanya telah berhenti, manusia berbaju


hijau itu baru berbisik:

"Aku masih ada beberapa perkataan jujur hendak


kusampaikan kepadamu........"

Toa-tauke segera mengulapkan tangannya seraya berseru:

"Kalian mundur semua!"

Dengan cepat semua orang mengundurkan diri dari situ.

Suasana dalam halaman belakang kembali menjadi hening.

Matahari sore telah terbenam dan meninggalkan bayangan


tubuh toa-tauke yang amat panjang di permukaan tanah.

Ia sedang menikmati bayangan tubuh sendiri.

Sungguhpun tubuhnya gemuk lagi pendek, akan tetapi ia lebih


suka menikmati bayangan tubuhnya yang kurus dan jangkung
itu.

Sebaliknya manusia berbaju hijau itu kurus lagi jangkung, tapi


ketika ia membungkukkan badannya, toa-tauke tak usah lagi
memandangnya sambil mendongakkan kepalanya.
Pendekar Gelandangan 259

Sekalipun ia sudah membungkukkan badannya, namun suara


bisikannya masih tetap amat rendah:

"A-kit yang tak berguna itu sesungguhnya bukan seorang


manusia yang tak berguna"

Toa-tauke hanya mendengarkan dengan seksama.

Setiap kali orang ini sedang berbicara, toa-tauke selalu akan


mendengarkannya dengan seksama.

"Kepalan Baja A-yong berasal dari perguruan Khong-tong,


meskipun belakangan ini pihak Khong-tong kekurangan
manusia berbakat, tapi ilmu silat mereka yang tunggal tetap
merupakan kepandaian yang hebat"

"Ehmmm........ilmu silat aliran Khong-tong memang tidak


termasuk kepandaian jelek"

"Di antara murid-murid partai Khong-tong, A-yong selalu


merupakan jagoan yang paling keras. Sebelum diusir dari
perguruannya ia pernah membereskan empat orang hwesio
dari partai Siau-lim dan dua jago pedang dari partai Bu-tong"

"Tentang kejadian-kejadian tersebut aku sudah tahu, kalau


tidak mengapa aku musti membuang uang sebesar delapan
ratus tahil perak sebulan untuk menggajinya?"

"Akan tetapi A-kit yang tak berguna dapat memusnahkan


dirinya dalam sekali gebrakan. Dari sini dapat diketahui bahwa
A-kit sesungguhnya bukan seorang manusia sembarangan!"
Pendekar Gelandangan 260

Toa-tauke tertawa dingin tiada hentinya.

"Yang lebih mengherankan lagi, ternyata tak seorang


manusiapun yang mengetahui asal usulnya walaupun sudah
dilakukan penyelidikan terhadap wilayah seluas beberapa
ratus li di sekitar sini"

"Jadi kau telah mengadakan penyelidikan yang seksama?"

"Aku telah mengirimkan enam puluh tiga orang untuk


melakukan penyelidikan. Mereka semua merupakan manusia-
manusia yang paling tajam pendengarannya di tempat ini. Kini
sudah tiga puluh satu orang yang telah kembali, namun
mereka tidak berhasil mendapatkan berita apa-apa"

Sebetulnya toa-tauke sedang berjalan ke muka dengan


langkah yang pelan, tiba-tiba ia berpaling sambil berhenti, lalu
tegurnya:

"Sebenarnya apa yang ingin kau katakan?"

"Selama orang ini berada di sini, cepat atau lambat dia pasti
akan merupakan bibit bencana buat kita"

"Kalau begitu kau cepat-cepat kirim orang untuk membekuk


manusia tersebut!"

"Tapi, siapa yang akan kita utus?"

"Thi-tau.........! Si Kepala Baja"

"Ilmu Yau-tau-kuan-teng (minyak kepala menggapai puncak)


Pendekar Gelandangan 261

dari Toa Kang memang jarang ada orang yang bisa


menandinginya"

"Ya, dengan mata kepalaku sendiri kusaksikan ia menumbuk


sebatang pohon hingga tumbang", kata Toa-tauke.

"Sayang sekali A-kit bukan sebatang pohon!"

"Kepandaian gwakangnya juga termasuk hebat sekali!"

"Tapi jika dibandingkan ilmu kepalan baja dari A-yong, paling


banter cuma lebih lihay sedikit"

"Jadi menurut pendapatmu, diapun tak akan mampu


menghadapi A-kit yang tak berguna itu?"

"Bukannya tak mampu, cuma aku tidak terlampau yakin akan


kemenangannya", jawab manusia berbaju hijau itu.

Kemudian setelah berhenti sejenak, pelan-pelan sambungnya:

"Aku masih ingat pesan dari toa-tauke, apabila tidak merasa


yakin akan suatu pekerjaan, lebih baik janganlah kau lakukan!"

Sambil tersenyum toa-tauke manggut-manggut, agaknya ia


merasa puas sekali dengan ucapan tersebut.

Ia senang kalau orang lain mengingat selalu perkataannya,


lebih baik lagi kalau setiap patah katanya dapat teringat
dengan jelas.

"Setelah kupikir pulang pergi, akhirnya aku berkesimpulan


Pendekar Gelandangan 262

bahwa hanya satu orang dari pihak kami yang sanggup


menghadapinya", kata manusia berbaju hijau itu kemudian.

"Kau maksudkan Thi-hau, si Macan Baja?"

Manusia berbaju hijau itu manggut-manggut.

"Tentu saja toa-tauke juga mengetahui asal-usulnya, orang ini


cerdik dan cekatan, dalam pertarungan-pertarungan biasa
jarang sekali ia perlihatkan ilmu silatnya yang sebetulnya,
padahal ilmu silat yang dimilikinya beberapa kali lipat lebih
tinggi dari kepandaian Toa Kang maupun A-yong.......!"

"Sampai kapan dia baru akan tiba kembali di sini?"

"Tugas yang ia laksanakan kali ini tidak terlampau sulit.


Menurut pendapatku, paling cepat harus menunggu belasan
hari lagi"

Paras muka Toa-tauke segera berubah membesi, katanya:

"Apakah sekarang kita sudah tak punya aksi lain untuk


menghadapi A-kit yang tak berguna ini?"

"Tentu saja ada!"

Setelah tersenyum, laki-laki berbaju hijau itu menambahkan:

"Hanya ada satu cara yang bisa kita lakukan untuk


menghadapi dirinya"

"Cara yang bagaimanakah itu?"


Pendekar Gelandangan 263

"Mengulur waktu!"

Kemudian tambahnya lebih jauh:

"Kita mempunyai ilmu silat, kitapun mempunyai uang,


sebaliknya bagi mereka soal makanpun masih merupakan
persoalan, apalagi setiap saat mereka harus waspada
menghadapi kita. Di waktu malam mereka tentu tak dapat
tidur nyenyak, maka jika kita mengulur waktu tiga sampai lima
hari lagi, tanpa kita turun tanganpun, mereka bakal konyol
dengan sendirinya"

Toa-tauke tertawa tergelak, ditepuknya bahu orang itu keras-


keras, kemudian pujinya:

"Bocah muda, kau betul-betul hebat, tak heran kalau orang


lain memanggilmu sebagai Tiok-yap-cing"

Tiok-yap-cing juga merupakan nama dari sejenis arak keras,


jarang sekali ada orang yang bisa minum arak tersebut tanpa
jatuh mabuk.

Tiok-yap-cing juga merupakan nama dari sejenis ular beracun,


racunnya jahat sekali dan tiada tandingannya di kolong langit.

Tiba-tiba Toa-tauke bertanya:

"Sekalipun kita tidak pergi mencarinya, bagaimana


seandainya dia yang datang mencari kita?"

"Bila seseorang hendak mencari orang lain untuk beradu jiwa,


Pendekar Gelandangan 264

mungkinkah dia akan membawa seorang laki-laki dungu yang


sedang terluka parah serta seorang lonte busuk yang hanya
bisa menjajakan tubuhnya?"

"Tidak mungkin"

"Maka dari itu, apabila dia akan keluar untuk mencari kita,
berarti orang Biau itu pasti akan ditinggalkan dengan begitu
saja"

"Tapi dia toh bisa menyembunyikan mereka?"

"Semua orang dalam kota adalah orang-orang kita, lagi pula


aku telah memasang mata-mata di sekitar rumahnya,
dapatkah ia membawa mereka pergi menyembunyikan diri?"

"Heeeehh.....heeehhhh......heeehhhhh......kecuali mereka
dapat seperti cacing-cacing yang bisa menerobos masuk ke
dalam tanah", kata Toa-tauke sambil tertawa dingin.

"Kali ini A-kit bersedia mengadu jiwa lantaran dia memikirkan


nasib kedua orang bersaudara itu, andaikata mereka berdua
sampai terjatuh di tangan kita, bukankah A-kit secara otomatis
akan berada pula dalam cengkeraman toa-tauke?"

Mendengar perkataan itu, toa-tauke segera mendongakkan


kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

"Haaaahhhh...........haaaahhhh.....haaahhhhh......bagus, bagus
sekali, kalau begitu mari kita minum arak menikmati bunga di
sini sambil menunggu mereka datang menghantar
kematiannya"
Pendekar Gelandangan 265

Tiok-yap-cing tersenyum.

"Aku jamin tak sampai tiga hari, mereka pasti sudah tiba di
sini"

Senja telah menjelang tiba.

Baru saja si Boneka mengambil semangkuk kuah daging, air


matanya setitik demi setitik telah jatuh berlinang.

Kuah daging tak akan membuat orang mengucurkan air mata,


yang membuat air matanya berlinang adalah orang yang
membeli daging itu serta memasak kuah tersebut. Kini kuah
dagingnya masih utuh, tapi orangnya sudah dikubur dalam
tanah.

Siapakah yang akan tega makan kuah daging tersebut? Tetapi


dia harus menyuruh mereka makan kuah daging itu, sebab
mereka membutuhkan tenaga, orang yang lapar tak mungkin
punya tenaga.

Setelah membesut air matanya, ia membawa dua mangkuk


kuah daging dan dua biji bakpao kering itu keluar dari dalam
dapur.

A-kit masih tetap duduk di sudut ruangan, di tempat yang


remang-remang.

Ia menghampirinya dan meletakkan semangkuk kuah daging


dan sebiji bakpao di atas meja tepat dihadapannya. A-kit
belum juga berkutik, iapun tidak berkata apa-apa.
Pendekar Gelandangan 266

Kemudian si Boneka dengan membawa sisa semangkuk kuah


daging dan sebiji bakpao itu meletakkan di hadapan kakaknya.

"Mumpung kuah daging ini masih panas, cepatlah kalian


makan!", katanya lirih.

"Bagaimana dengan kau?", tanya Lo Biau-cu.

"Aku........aku tidak lapar!"

Benarkah ia tidak lapar?

Bila seseorang sudah dua hari semalam tidak makan apa-apa,


mungkinkah ia tidak merasa lapar?

Ia tidak lapar karena itulah sisa makanan terakhir yang


mereka miliki, justru karena mereka lebih membutuhkan
kekuatan daripada dirinya sendiri.

Lo Biau-cu mendongakkan kepalanya memandang gadis itu,


kemudian sambil menahan linangan air matanya, ia berbisik:

"Perutku agak kurang beres, tak akan muat untuk makan


sebanyak ini, mari kita makan seorang setengah"

"Apakah tak boleh kalau aku tidak makan?", tanya si Boneka


sambil menahan linangan air matanya.

"Tidak! Tidak boleh!"

Baru saja Lo Biau-cu akan membagi bakpao itu menjadi dua


Pendekar Gelandangan 267

bagian, tiba-tiba A-kit bangkit berdiri lalu berkata:

"Kuah daging ini untuk si Boneka!"

"Tidak boleh, itu bagianmu!", teriak Lo Biau-cu segera dengan


suara lantang.

Tapi A-kit tidak ambil perduli, ia berlalu dari ruangan itu


dengan langkah lebar.

Si Boneka segera maju sambil menarik tangannya.

"Heeey....kau hendak pergi ke mana?"

"Keluar rumah untuk makan!", jawab A-kit.

"Di rumah masih ada makanan, mengapa kau harus makan di


tempat luar.......?"

"Ya, karena aku tak ingin makan bakpao!"

Boneka menatapnya tajam-tajam.

"Kalau tak ingin makan bakpao, lantas ingin makan apa?


Bukankah ingin makan kepalan baja?"

A-kit membungkam dalam seribu bahasa.

Akhirnya air mata si Boneka jatuh bercucuran membasahi


seluruh wajahnya, dengan lembut ia berkata:

"Aku dapat memahami maksud hatimu, bila waktu terus


Pendekar Gelandangan 268

menerus di ulur seperti ini, maka akhirnya kita akan lebih


menderita. Aku saja tidak tahan apalagi kau, akan
tetapi...........!"

Seperti hujan gerimis air matanya jatuh bercucuran, dengan


pedih katanya lagi:

"Akan tetapi kau harus tahu, semua orang di kota ini adalah
orang mereka, buat apa kau musti pergi menghantar
kematianmu?"

"Sekalipun harus menghantar kematian, hal itu jauh lebih baik


daripada menunggu kematian di sini!"

ooooOOOOoooo
Pendekar Gelandangan 269

Bab 7. Orang Yang Nekad

Malam itu amat terang.

Betapapun indahnya suasana malam, dalam pandangan orang


yang sedang suram, keadaan tersebut tetap terasa
menyuramkan.

Angin musim gugur menghembus kencang, seorang nyonya


penjual gula-gula dengan kepala dibungkus kain hijau dan baju
menutupi tengkuknya sedang menjajakan dagangannya di
lorong itu.

Di mulut lorong sana terdapat pula seorang peminta-minta


buta yang sedang duduk di sudut tembok sambil menggigil
kedinginan.

A-kit berjalan menghampiri perempuan itu, lalu sambil


berhenti tegurnya:

"Apa yang kau jajakan?"

"Gula-gula kacang kaperi, gula-gula kaperi yang manis lagi


wangi, dua puluh lima rence uang tembaga untuk satu
katinya", jawab perempuan itu.

"Ehmmm, tidak mahal!"

"Kau ingin membeli berapa kati?"

"Seratus kati!"
Pendekar Gelandangan 270

"Tapi aku hanya membawa paling banyak belasan kati!"

"Kalau ditambah kau, maka jumlahnya akan mencapai seratus


kati, akan ku beli gula-gula itu berikut kau juga!"

Dengan ketakutan perempuan itu menyusut mundur ke


belakang, kemudian sambil tertawa paksa katanya:

"Aku hanya menjual gula-gula kacang kaperi, orangnya tidak


ikut dijual!"

"Tapi aku bersikeras akan membelinya"

Sambil berkata tiba-tiba ia turun tangan mencengkeram


orang itu sambil menyingkap gaunnya.

"Tolong.....tolong......ada penyamun, ada orang hendak


menggagahi diriku......", jerit perempuan itu dengan panik.

Tapi teriakan tersebut tidak dibiarkan berlangsung lebih


lanjut, sebab dagunya tahu-tahu sudah dijepit orang sekeras-
kerasnya.

"Hmmmmm.......! Kalau kau seorang perempuan kenapa bisa


tumbuh jenggot.....?", tegur A-kit dengan ketus.

Betul juga perkataan itu, meski dagunya bersih tapi masih ada
bekas-bekas jenggot yang tidak merata.

"Aku lihat kau pasti adalah seorang gila, semua orang gila
sudah sepantasnya kalau digebuk sampai mampus", kata A-kit
lebih jauh.
Pendekar Gelandangan 271

Sekuat tenaga orang itu menggelengkan kepalanya, lalu


berkata dengan suara tergagap:

"Aku....aku bukan orang gila....aku tidak gila!"

"Kalau kau tidak gila, kenapa menjajakan gula-gula kacang


kaperi di tempat semacam ini, daerah disekitar lorong ini
hanya ada manusia-manusia miskin yang untuk makanpun
susah, siapa yang akan membeli gula-gula mahal seperti itu?"

Mula-mula orang itu tertegun, kemudian dari balik matanya


memancarkan sinar ngeri dan ketakutan.

"Seandainya kau tidak ingin ku gebuk sampai mampus, lebih


baik mengaku saja secara terus terang, siapa yang suruh kau
datang kemari?"

Belum sempat orang itu buka suaranya, peminta-minta buta


yang semula berjongkok di ujung tembok sambil menggigil
kedinginan itu mendadak melompat bangun lalu kabur
mengambil langkah seribu dari situ.

.....Orang-orang miskin disekitar lorong itupun saking


miskinnya tak mampu mengisi perut sendiri, kalau bukan tiada
penyakit, tak nanti ada peminta-minta yang mendatangi
tempat itu.

A-kit segera tertawa dingin, kembali tanyanya:

"Kini rekanmu telah melarikan diri, kalau kau masih juga tak
mau mengaku secara terus terang, bila sampai digebuk
Pendekar Gelandangan 272

mampus di tempat ini seperti seekor anjing liar, mungkin


orang yang membereskan jenazahmu pun tak ada........."

Akhirnya orang itu tak berani untuk tidak berbicara terus


terang, jawabnya ketakutan:

"Aku....aku diutus oleh Tiok-yap-cing!"

"Siapakah Tiok-yap-cing itu?"

"Dia adalah kunsu dari toa-tauke, salah seorang diantara dua


orang paling tenar di hadapan toa tauke"

"Yang seorang lagi siapa?"

"Dia adalah Thi-hau. Ilmu silatnya jauh lebih hebat berkali-kali


lipat daripada Thi-tau si kepala baja, bersama Tiok-yap-cing
merupakan sepasang pembantu yang paling utama dari toa-
tauke, siapapun tak ada yang berani mengusik mereka"

"Tahukah kau, kini dia berada di mana?"

"Konon ia sedang menjalankan tugas di luar kota, mungkin


setengah bulan lagi baru akan kembali ke sini"

"Bagaimana dengan si Kepala Baja?"

"Dia mempunyai tiga orang gundik, gundiknya yang nomor


tiga paling disayang olehnya, lagi pula ia selalu suka berjudi
bersamanya, maka seringkali mereka berada di tempat
tersebut"
Pendekar Gelandangan 273

"Di mana rumahmu?", tanya A-kit lagi.

Mendengar pertanyaan tersebut, orang itu menjadi sangat


terkejut segera tanyanya:

"Toaya, kenapa kau menanyakan alamat rumahku? Mau apa


kau?"

"Apa yang kutanyakan kepadamu lebih baik jawab sejujurnya,


sebab hanya orang mati yang tak punya alamat rumah!"

Dengan muka masam terpaksa ia mengakui:

"Hamba tinggal di gang Ci-ma-kang"

"Siapa saja yang berada di rumahmu?"

"Ada biniku, anakku termasuk pelayan semuanya berjumlah


enam orang!"

"Kalau begitu mulai sekarang akan berubah menjadi delapan


orang!"

"Kenapa?", tanya orang itu tidak mengerti.

"Sebab aku akan mengundangkan dua orang tamu untuk


berdiam selama dua hari di rumahmu, bila kau berani
membocorkan rahasia tersebut, maka aku jamin anggota
keluargamu pada waktu itu akan berubah menjadi tinggal
seorang"

Setelah berhenti sejenak, tambahnya dengan dingin:


Pendekar Gelandangan 274

"Hanya tinggal pelayanmu itu!"

Malam telah menjelang tiba.

Cahaya lampu menyinari batok kepala Thi-tau (kepala baja)


Toa-kang yang gundul. Sedemikian mengkilapnya kepala itu
seakan-akan sebuah bola yang baru diangkat dari gentong
minyak.

Semakin mengkilap batok kepalanya, menandakan semakin


gembira hatinya pada waktu itu.

Tamu yang berdatangan pada malam ini luar biasa


banyaknya, orang yang ikut berjudipun luar biasa melimpah
ruahnya, kecuali sang bandar tidak terhitung, maka ia bersama
gundiknya nomor tiga ini paling sedikit berhasil menggaet
keuntungan sebesar seribu tahil perak lebih.

Kartu yang berada di tangannya sekarang adalah 'dua empat'


berarti berjumlah enam, sekalipun tidak terlalu bagus juga
tidak terlalu jelek, kartu yang lain berada dalam genggaman
gundiknya yang nomor tiga.

Sam-ih-thay (gundik ke tiga) telah melepaskan kerah bajunya,


sehingga kelihatan kulit lehernya yang putih mulus, dengan
sepasang tangannya yang halus dan lentik, ia memegang
selembar kartunya, kemudian sambil mengerling sekejap ke
arahnya, ia bertanya:

"Bagaimana?"
Pendekar Gelandangan 275

"Apa yang kau butuhkan?", tanya si kepala baja Toa-kang.

"Emas enam perak lima si bangku kecil!"

Kontan saja si kepala baja Toa-kang merasakan semangatnya


berkobar, ia segera membentak keras:

"Emas enam perak lima si bangku kecil yang amat bagus!"

"Ploook.........!, lembaran kartu 'empat enam' nya telah


dibanting keras-keras ke atas meja.

Berserilah wajah Sam-ih-thay, sambil tertawa cekikikan,


katanya:

"Memang itulah yang kebutuhan, monyet jantan!"

Ternyata kartu yang berada di tangannya adalah 'kosong tiga'.

"Haaah...... haaaaahhhh...... haaahhhhhh........ yang


kuinginkan juga kau si monyet betina", sambung si kepala baja
sambil tertawa tergelak, "kita memang sepasang sejoli yang
ideal!"

'Kosong tiga' dijodohkan 'empat enam' berarti sepasang raja


monyet, berarti pula Ci-cun-po, angka paling tinggi.

"Ci-cun-po, makan semua!", teriak si kepala baja Toa-kang


dengan suara lantang.

Sepasang lengannya segera di rentangkan siap menyapu


seluruh uang yang berada di atas meja.
Pendekar Gelandangan 276

"Tunggu sebentar!", tiba-tiba seseorang berseru dengan


suara ketus.

Rumah perjudian milik Sam-ih-thay selalu terbuka untuk


umum, barang siapa merasa memiliki uang untuk
dipertaruhkan, dia dipersilahkan ikut masuk ke gedung
tersebut, maka manusia dari pelbagai lapisan masyarakat
dapat di temui di sana.

Thi-tau si kepala baja Toa-kang bukan seorang manusia yang


takut urusan, selamanya belum pernah pula ada orang yang
berani menerbitkan keonaran di situ.

Akan tetapi orang yang mengucapkan kata-kata tersebut


bukan saja tampak asing sekali, diapun bukan mirip seorang
yang datang untuk berjudi, sebab pakaiannya terlalu kotor dan
penuh tambalan, siapapun tak ada yang tahu secara
bagaimana ia bisa masuk ke situ.

Kontan saja Thi-tau si kepala baja Toa-kang melototkan


sepasang matanya bulat-bulat, kemudian menegur:

"Barusan, apakah kau yang sedang melepaskan kentut?"

Walaupun tampang muka orang itu sederhana saja, namun


sikapnya amat dingin dan tenang. Jawabnya dengan suara
hambar:

"Aku tidak melepaskan kentut, aku sedang mengucapkan


kata-kata yang adil dan Kong-too!"
Pendekar Gelandangan 277

"Kau bilang aku tak boleh makan uang itu? Dengan dasar apa
aku tak boleh memakannya?"

"Dengan dasar apa pula kau hendak makan semua uang


tersebut?"

"Dengan dasar sepasang raja monyet ini!"

"Sayang sekali setelah kartu cadangan itu berada di


tanganmu, sebutannya bukan si raja monyet lagi"

"Lalu disebut apa?", tanya si kepala baja Toa-kang sambil


menahan hawa amarahnya.

"Namanya Ti-pat-kay, si raja babi yang sudah dicukur kelimis


batok kepalanya, hayo bayar ganti rugi!"

Paras muka si kepala baja Toa-kang kontan saja berubah


hebat.

Paras muka setiap orang juga ikut berubah, semua orang


dapat melihat bahwa tujuan dari kedatangan orang itu adalah
mencari gara-gara.

Siapakah yang mempunyai nyali sebesar ini? Siapakah yang


begitu berani mencari gara-gara dengan Thi-tau Toako?

Serentak semua begundalnya melompat bangun sambil


membentak dengan penuh kegusaran:

"Kau bajingan cilik, telur busuk kecil, siapa namamu? Datang


dari mana......?"
Pendekar Gelandangan 278

"Aku bernama A-kit, A-kit yang tak berguna!"

Seketika itu juga semua suara yang memenuhi ruangan


berhenti serentak, tentu saja saudara-saudara yang berada di
kota pernah mendengar nama dari 'A-kit'.

Tiba-tiba Thi-tau Toa-kang tertawa dingin, lalu ejeknya:

"Heehhh.... heeehhhh.... heeehhhh.... bagus, bagus sekali, tak


kusangka kau si bajingan cilik betul-betul bernyali dan berani
mengantarkan diri sendiri!"

"Aku hanya ingin menyaksikan saja"

"Menyaksikan apa?"

"Menyaksikan apakah betul kalau kepalamu lebih keras


daripada baja murni!"

Si kepala baja Toa-kang segera tertawa terbahak-bahak.

"Haahhh..... haaahh.... haaahhhh bagus, akan kusuruh


sepasang matamu menjadi melek lebar!", katanya.

Selembar batu marmer besar yang digunakan sebagai alas


meja segera disodorkan ke hadapannya, ternyata meja yang
beratnya paling sedikit ada tujuh-delapan puluh kati itu
seakan-akan selembar kertas tipis saja dalam genggamannya.

Batu itu ada banyak macam jenisnya, batu marmer bukan saja
merupakan jenis batu yang termahal, marmer merupakan juga
Pendekar Gelandangan 279

batu yang paling keras, akan tetapi ia menumbuk batu


marmer itu dengan batok kepalanya.....

"Praaaak.....!". Batu marmer yang tebalnya melebihi kue


keranjang itu ternyata hancur menjadi berkeping-keping
setelah kena di terjang batok kepalanya itu.

Seolah sebuah bola yang baru diambil dari genangan minyak


tanah, batok kepala itu kelihatan begitu licin dan mengkilap.

"Bagus.....!", semua begundal dan anak buahnya bertepuk


tangan sambil bersorak sorai.

Menanti suara sorak-sorai itu sudah mulai mereda, pelan-


pelan A-kit baru berkata:

"Bagus....bagus....bagus macam Ti-pat-kay si siluman babi!"

Waktu itu si kepala baja Toa-kang sedang berbangga hati


karena di sorak dan dipuji oleh segenap orang yang berada
dalam ruangan itu. Betapa geramnya dia setelah mendengar
kata-kata hinaan itu, paras mukanya kontan berubah hebat.

"Kau bilang apa?", jeritnya dengan geram.

"Aku bilang kau persis seperti Ti-pat-kay, sebab kecuali babi,


siapapun tak akan berbuat sebodoh kau, menggunakan batok
kepala sendiri untuk diadu dengan batu keras"

"Lalu apa yang musti ku tumbuk? Menumbuk dirimu?", teriak


Thi-tau Toa-kang sambil tertawa seram.
Pendekar Gelandangan 280

"Tepat sekali!"

Baru saja A-kit menyelesaikan kata-katanya, seperti harimau


lapar yang menerkam mangsanya Thi-tau sudah
mencengkeram bahunya, lalu diangkat ke udara seperti
mengangkat meja beralas batu marmer tadi.

Thi-tau bukan saja kepalanya hebat, tangannya juga hebat,


beberapa macam gerakan tubuhnya itu bukan saja dilakukan
dengan kecepatan luar biasa, ketepatannya juga
mengagumkan, dia tahu yang akan ditumbuk olehnya
sekarang bukan meja, melainkan seorang manusia hidup yang
mempunyai tangan dan kaki.

Oleh sebab itu begitu turun tangan dia lantas mencengkeram


jalan darah Cian-keng-hiat di atas bahu A-kit, agar orang itu
tak mampu berkutik, kemudian baru menumbuk dengan
kepalanya.

Tak seorang manusiapun sanggup menahan terjangan dari


batok kepala bajanya, agaknya A-kit yang tak berguna segera
akan berubah menjadi A-kit yang tak bernyawa.

Sekali lagi semua begundal dan anak buahnya bersorak sambil


memuji tiada hentinya.

Tapi sorak-sorai mereka kali ini terhenti dengan segera, sebab


A-kit sama sekali tidak remuk tertumbuk, sebaliknya batok
kepala Thi-tau Toa-kang yang lebih keras dari baja itu telah
dihajar sampai hancur, hancur dalam sekali pukulan.

Perduli siapapun orangnya, bila jalan darah Cian-keng-hiat


Pendekar Gelandangan 281

pada bahunya sudah dicengkeram, maka sepasang tangannya


tak mungkin bisa digunakan lagi, sungguh tak disangka
sepasang tangan A-kit ternyata masih bisa bergerak dengan
leluasa.

Batok kepala Thi-tau Toa-kang yang sebenarnya tak mempan


dipukul dengan martil seberat ribuan katipun, kali ini harus
menyerah oleh sebuah pukulan telapak tangan yang sangat
pelan.

Jeritan ngeri yang menyayatkan hati serta rontaan telah


berhenti, seluruh ruangan seakan-akan tercekam dalam
suasana yang tegang dan menyesakkan napas.

Tanpa bergerak sedikitpun jua A-kit tetap berdiri di tempat


semula, sepasang biji matanya yang coklat sama sekali tanpa
perasaan, seolah-olah seperti sebuah jurang yang tiada tara
dalamnya.

Setiap orang sedang memperhatikannya, setiap orang


menggembol senjata di tubuhnya, akan tetapi tak seorang
manusiapun yang berani bergerak dari tempat semula.

A-kit yang tak berguna ternyata telah mendatangkan suatu


perasaan ngeri dan seram yang mendirikan bulu roma bagi
semua orang yang tiap hari kerjanya bergelimpangan di ujung
golok dan percikan darah manusia ini.

........Sesungguhnya siapakah orang itu?

........Setelah membunuh orang, mengapa sikapnya masih


setenang itu?
Pendekar Gelandangan 282

........Berapa banyak manusia yang pernah dibunuhnya di


masa lalu?

Apa pula yang sedang dipikirkan dalam hatinya?

Ternyata tak seorangpun yang tahu bahwa batinnya waktu itu


sedang menjerit:

"Lagi-lagi aku membunuh orang, mengapa aku harus


membunuh orang lagi......?"

Angin musim gugur mengibarkan kertas penutup jendela.

Akhirnya A-kit mendongakkan kepalanya, ia baru merasa


kalau seorang perempuan sedang berdiri dihadapannya.

Dia adalah seorang perempuan yang sangat cantik, seorang


perempuan cantik yang membawa daya pikat serta daya
pesona yang membawa daya pikat serta daya pesona yang
cukup menggetarkan perasaan siapapun.

Ia tahu, perempuan itu pastilah gundik nomor tiga dari Thi-


tau Toa-kang.

Begitu dekat ia berdiri dihadapannya, begitu lama ia menatap


wajahnya di balik sorot matanya yang jelis terlintas suatu
perasaan yang aneh sekali, perasaan itu bukan kesedihan,
bukan pula perasaan benci dan dendam, tapi lebih mendekati
rasa kaget, tercengang dan bimbang.

Secara diam-diam semua orang yang berada dalam ruangan


Pendekar Gelandangan 283

itu telah mengundurkan diri dan kabur terbirit-birit. Kini


tinggal dia seorang yang belum angkat kaki dari sana.

"Aku telah membunuh laki-lakimu!", kata A-kit kemudian


dengan suara dingin dan kaku.

"Aku tahu! Sekalipun kau tidak membunuhnya, cepat atau


lambat pada suatu ketika dia pasti akan mati pula di tangan
orang lain!"

Suara perempuan itu amat datar, tenang bahkan mendekati


keketusan, kembali katanya:

"Manusia macam dia, semenjak dilahirkan sudah ditakdirkan


sebagai seorang pemburu nyawa manusia!"

"Mungkin saja aku akan membunuh pula dirimu, sebetulnya


sejak tadi kau harus pergi dari sini", kata A-kit pula.

"Tidak, bukan aku yang harus pergi tapi kaulah yang musti
angkat kaki dengan segera dari sini"

A-kit tertawa dingin.

Tapi Sam-ih-thay berkata lagi:

"Setelah kau bunuh si kepala baja, toa-tauke tak akan


melepaskan dirimu dengan begitu saja"

"Aku memang sedang menunggu dirinya", sela A-kit dengan


cepat.
Pendekar Gelandangan 284

Sam-ih-thay kembali menatap wajahnya tajam-tajam, mimik


wajahnya berubah makin aneh dan makin istimewa, tiba-tiba
katanya:

"Aku kenal denganmu, dahulu aku pasti sudah pernah


berjumpa denganmu!"

"Kau pasti telah salah melihat orang"

"Tidak, aku tak bakal salah melihat"

Dengan nada yang meyakinkan, perempuan itu berkata lebih


jauh:

"Aku adalah seorang pelacur, sejak berusia empat belas tahun


sudah mulai menjadi pelacur, entah berapa ratus ribu lelaki
yang pernah kujumpai, tapi tidak banyak laki-laki macam kau
yang pernah kujumpai!"

Tiba-tiba sorot mata A-kit-pun memancarkan suatu


pergolakan emosi yang aneh sekali, pelan-pelan ia memutar
tubuhnya dan berjalan keluar dari ruangan itu.

Memandang bayangan punggungnya, tiba-tiba mencorong


sinar terang dari balik mata Sam-ih-thay, teriaknya keras-
keras:

"Aku sudah teringat, aku sudah teringat, kau adalah......."

Perkataan itu tak sempat diselesaikan.

Sebab A-kit secepat kilat telah memutar badan, menyumbat


Pendekar Gelandangan 285

bibirnya dan memeluk pinggangnya erat-erat.

Ia tak ingin membunuh perempuan ini, tapi mulutnya harus


segera disumbat.

Ia tidak mengijinkan siapapun mengetahui rahasia pribadinya.

Cahaya lampu dalam kamar tidur amat lembut dan sejuk.

Ia melemparkan tubuhnya ke atas pembaringan dan dia


(perempuan) berbaring sambil menatap ke arahnya, sepasang
matanya telah berkaca-kaca, lalu ujarnya dengan sedih:

"Mengapa kau berubah menjadi begini? Mengapa begitu


banyak perubahan yang kau alami?"

"Sebab setiap orang pasti sedang berubah!", jawab A-kit.

"Tapi perubahan apapun yang kau alami, aku masih dapat


mengenali dirimu!"

Sambil menahan air mata yang bercucuran, kembali katanya:

"Tahukah kau bahwa satu-satunya pria yang benar-benar


kucintai sepanjang hidupku hanya dirimu......,yaa, kau pasti
tidak akan tahu, sebab aku tak lebih hanya salah seorang di
antara sekian banyak perempuan yang kau kenali, apalagi aku
tak lebih cuma seorang pelacur yang rendah martabat dan
akhlaknya"

Lama sekali A-kit termenung, mendadak suaranya berubah


menjadi halus dan lembut:
Pendekar Gelandangan 286

"Akupun masih ingat denganmu, kau bernama Kim Lan-hoa!"

Kim Lan-hoa memandangnya dengan pesona, tiba-tiba ia


menangis tersedu-sedu, sambil memeluk ke dalam
pangkuannya, ia berseru:

"Ooooh....aku puas, aku puas! Asal kau masih teringat selalu


akan diriku, sekalipun harus mati akupun akan mati dengan
mata meram"

"Tapi aku justru berharap agar orang lain dapat melupakan


diriku!"

Perempuan itu memeluk tubuhnya semakin kencang, seperti


anak sungai air matanya jatuh bercucuran.

"Aku tahu, aku pasti akan menuruti perkataanmu, rahasiamu


tak akan kukatakan kepada siapapun, sekalipun harus mati,
rahasiamu tak akan kukatakan kepada orang lain"

Sepanjang hidupnya, toa-tauke mempunyai tiga macam


benda yang merupakan kebanggaannya, salah satu di
antaranya adalah sebuah pembaringan terbesar di dunia ini.

Bukan paling besar saja, pembaringan itupun paling istimewa


dan paling megah, kemanapun kau pergi, jangan harap bisa
ditemui pembaringan kedua kecuali itu.

Ini bukan mengibul.

Sekarang masih tengah hari, toa-tauke masih berbaring di


Pendekar Gelandangan 287

atas pembaringan, sembilan orang gundiknya yang paling


disayangi menemaninya di atas pembaringan.

Pelan-pelan seorang dayang munculkan diri dalam ruangan,


lalu dengan napas agak tersengal ia berbisik:

"Kata Hoa-sianseng, dia ada urusan penting yang harus


disampaikan kepada loya!"

Toa-tauke ingin duduk, tapi akhirnya berbaring lagi.

"Suruh dia masuk!", katanya kemudian.

Tapi gundik-gundinya segera memprotes.

"Tapi keadaan kami setengah bugil, mana boleh kau suruh


pria lain masuk kemari!"

Toa-tauke tersenyum.

"Kalau cuma pria ini sih tak menjadi soal!"

"Kenapa?", ada yang bertanya.

"Sebab bagiku dia jauh lebih berguna daripada kalian


bersembilan digabungkan menjadi satu!"

Sekalipun semalaman bergadang, wajah Tiok Yap-cing masih


tampak cerah dan bersinar, seakan-akan sama sekali tidak
lelah.

Toa-tauke seringkali memuji akan kehebatan tenaga serta


Pendekar Gelandangan 288

semangatnya, ibaratnya sebuah mesin tenun, asal toa-tauke


minta berjalan, dia tak akan berhenti.

Ia berdiri di depan pembaringan toa-tauke dengan kepala


tertunduk, sinar matanya tidak liar, meski ada sembilan orang
perempuan cantik setengah bugil berada dihadapannya,
namun baginya perempuan-perempuan itu seakan-akan
patung-patung arca yang sama sekali tiada harganya.

Terhadap soal ini, toa-tauke pun merasa puas sekali. Ia


mempersilahkan Tiok Yap-cing untuk duduk, kemudian baru
bertanya:

"Kau bilang ada urusan penting hendak disampaikan


kepadaku, urusan penting apakah itu?"

Sekalipun baru saja duduk Tiok Yap-cing segera bangkit


kembali sambil menundukkan kepalanya.

"A-kit telah menemukan mata-mata yang kusiapkan disekitar


sana, ia telah kabur bersama Biau-cu kakak beradik"

Dengan kepala yang tertunduk lebih rendah ia melanjutkan:

"Akulah yang teledor, akulah yang gegabah, aku sudah


menilai terlampau rendah A-kit yang tak berguna itu, silahkan
toa-tauke menjatuhkan hukuman berat atas keteledoranku
ini!"

Mula-mula ia menjelaskan dulu duduknya persoalan dengan


kata-kata paling singkat dan sederhana, kemudian segera
mengakui akan kesalahan sendiri serta mohon dijatuhi
Pendekar Gelandangan 289

hukuman, beginilah cara kerjanya yang selalu disiplin, ia tak


pernah menutupi kesalahan sendiri, lebih-lebih tak pernah
menghindari segala pertanggungan jawabnya.

Toa-tauke paling suka dengan sikapnya yang bertanggung-


jawab serta jujur itu, maka walaupun keningnya berkerut,
ucapannya sedikitpun tidak keras.

"Setiap orang pasti pernah berbuat salah, duduklah lebih


dahulu sebelum berbicara lebih jauh!"

"Baik!"

Setelah ia duduk, toa-tauke baru bertanya lagi:

"Peristiwa ini kapan terjadinya?"

"Kemarin malam sekitar jam sebelas sampai jam dua belas!"

"Hingga kini apakah kau masih belum berhasil menemukan


mereka?"

"Jejak A-kit sudah berhasil kami ketahui, tapi Biau-cu kakak


beradik seakan-akan lenyap dengan begitu saja, sampai
sekarang jejaknya belum kita temukan"

"A-kit berada dimana?"

"Selalu berada dalam kamarnya Sam-ih-thay dari Toa-kang!"

Paras muka toa-tauke berubah membesi, katanya cepat:


Pendekar Gelandangan 290

"Kau maksudkan si kepala baja telah.........."

"Ya!"

"Kapan ia ke situ?"

"Tak lama setelah lewat tengah malam!"

Paras muka toa-tauke berubah semakin tak sedap dipandang,


katanya kemudian:

"Dalam setengah jam saja ia berhasil menyembunyikan Biau-


cu heng-te dua orang manusia hidup secara begitu rahasia,
mengapa kalian dengan waktu semalaman suntuk masih juga
tidak berhasil menemukannya?"

Tiok Yap-cing kembali bangkit berdiri sambil menundukkan


kepalanya.

"Tidak terlalu banyak tempat yang bisa digunakan sebagai


tempat persembunyian kedua orang bersaudara itu di kota ini,
aku telah mengirim orang untuk memeriksa setiap pelosok
tempat yang kemungkinan besar bisa digunakan sebagai
tempat persembunyian, tapi tak seorangpun yang berhasil
menemukan kedua orang itu!"

Toa-tauke segera tertawa dingin tiada hentinya.

"Heeeehhh....... heeeehhhh......... heeeeehh..... sungguh tak


kusangka kalianpun tak mampu untuk menandingi si A-kit
yang tak berguna"
Pendekar Gelandangan 291

Tiok Yap-cing tak berani bersuara.

Kali ini toa-tauke pun tidak mempersilahkan kepadanya untuk


duduk kembali. Lewat lama sekali pelan-pelan ia baru
bertanya:

"Benarkah si kepala baja mampus di tangannya?"

"Menurut cerita orang yang menyaksikan sendiri jalannya


peristiwa itu, hanya dalam sekali pukulan saja batok kepala si
kepala baja yang kuat dan keras itu telah hancur berkeping-
keping"

Sekali lagi paras muka toa-tauke berubah hebat.

"Berhasil kalian mengetahui ilmu silat aliran manakah yang


dipergunakannya?"

"Tidak!"

Kemudian tambahnya lagi:

"Justru karena tak ada orang yang mengetahui asal usul ilmu
silatnya, hal ini semakin membuktikan bahwa orang itu pasti
mempunyai asal usul yang besar sekali!"

"Belakangan ini adakah seorang jago lihay dalam dunia


persilatan yang tiba-tiba melenyapkan dirinya?"

"Tentang soal ini akupun telah mengadakan penyelidikan, di


antara sekian banyak jago persilatan, hanya Tay-to (Pembegal
ulung) Tio Tok-heng, Thian-sat-seng (Bintang langit
Pendekar Gelandangan 292

pembunuh) Cian Gong serta Yan Cap-sa yang tiba-tiba lenyap


dari peredaran dunia!"

Kembali toa-tauke mengernyitkan alis matanya, sudah barang


tentu ia pernah mendengar juga nama-nama dari ketiga orang
itu.

Sementara ia masih merenung, Tiok Yap-cing telah berkata


lagi:

"Akan tetapi bila kita bandingkan perawakan, tampang wajah


serta usia mereka bertiga, ternyata tak sedikitpun yang mirip
dengan tampang wajah serta perawakan A-kit"

Kontan saja toa-tauke tertawa dingin.

"Heeeehhhh.......... heeeehhh....... heeeehhhh..... masa orang


itu datang dari langit? Atau tumbuh dari tanah?"

Tiba-tiba ia mengepal sepasang tinjunya dan dihantamkan


keras-keras di atas meja kecil di ujung pembaringan, lalu
katanya dengan suara menyeramkan:

"Perduli dari manapun asalnya, tangkap dulu orang itu, baru


berbicara kemudian, sebab bila orang sudah mati, maka ia tak
perlu diketahui asal usulnya lagi"

"Benar!"

"Perduli dengan cara apapun, perduli berapa besar biaya yang


harus dikeluarkan, aku menginginkan selembar jiwanya itu!"
Pendekar Gelandangan 293

"Baik!"

Perintah dari toa-tauke biasanya akan segera dilaksanakan


tanpa membantah, akan tetapi kali ini Tiok Yap-cing tidak
beranjak, ia tetap berdiri di tempat semula.

Gejala semacam ini belum pernah ia perlihatkan sebelumnya.


Dengan gusar toa-tauke lantas menegur:

"Apakah kau masih ada perkataan lain yang hendak


diucapkan?"

Tiok Yap-cing masih agak ragu-ragu, tapi akhirnya sambil


memberanikan diri katanya:

"Meskipun dia hanya seorang diri, meskipun tidak sulit bila


kita menginginkan jiwanya, tapi korban di pihak kita pasti akan
parah sekali, aku rasa cara ini sedikit kurang berharga!"

"Lantas menurut maksudmu!"

"Orang itu ibaratnya sebilah golok yang telah diloloskan dari


sarungnya, tergantung di tangan siapakah golok tersebut
tergenggam".

"Ooh....maksudmu kau minta aku membeli golok tersebut


untuk kepentingan kita?"

"Ia bersedia menjual nyawa untuk Biau-cu bersaudara,


manusia macam itu karena dia merasa pernah berhutang budi
kepada mereka, sebaliknya jika toa-tauke pun bersedia
memberi sedikit kebaikan kepadanya, siapa tahu kalau diapun
Pendekar Gelandangan 294

bersedia menjual nyawanya untuk toa-tauke?"

Toa-tauke termenung dan berpikir sesaat lamanya, pelan-


pelan paras mukanya berubah menjadi lebih lembut dan
kalem, katanya kemudian:

"Menurutmu, sanggupkah kita membelinya?"

"Setiap orang mempunyai harga yang berbeda-beda, paling


sedikit kita harus pergi mencobanya lebih dahulu!"

"Pergi mencobanya?"

"Ya, aku ingin pergi ke sana sendiri untuk melihat keadaan!",


sahut Tiok Yap-cing sambil membungkukkan badan memberi
hormat.

"Kau toh sudah tahu bahwa dia adalah sebilah golok yang
telah lolos dari sarungnya, siapa tahu hanya sedikit terbentur
saja darahmu akan bercucuran? Apa gunanya kau musti
menyerempet bahaya?"

"Sekujur badanku dari atas sampai bawah adalah menjadi


milik toa-tauke, apa artinya beberapa tetes darah bagiku?"

Tiba-tiba toa-tauke melompat turun dari pembaringannya


dan menggenggam erat-erat tangannya.

"Aku tidak berputra dan kaulah putraku, kau harus berhati-


hati dalam tugas ini!", katanya.

Tiok Yap-cing menundukkan kepalanya seakan-akan air mata


Pendekar Gelandangan 295

bercucuran dari kelopak matanya, jangankan dia, orang yang


berada di sekeliling sanapun ikut terharu oleh adegan
tersebut.

Menunggu ia telah mengundurkan diri, toa-tauke baru


menghembuskan napas panjang-panjang, kepada para
gundiknya ia berkata:

"Sekarang tentunya kalian sudah mengetahui bukan, bagiku


dia jauh lebih berharga daripada kalian bersembilan
digabungkan menjadi satu?"

Seorang perempuan yang bertahi lalat di ujung bibirnya, tiba-


tiba menyela dengan genit:

"Aku hanya sempat mengetahui satu hal"

"Hal yang mana?"

"Sesungguhnya dia jauh lebih pandai menjilat pantat daripada


kami bersembilan digabungkan menjadi satu!"

Mendengar ucapan tersebut, toa-tauke tertawa terbahak-


bahak.

"Haaahhhh.........haaahhhh......haaaahhhhh......bagus sekali
perkataanmu itu, bagus sekali perkataanmu itu!"

Mendadak ia menghentikan gelak tertawanya, perempuan itu


ditatapnya lekat-lekat, kemudian bertanya:

"Seandainya kusuruh kau lakukan suatu pekerjaan,


Pendekar Gelandangan 296

bersediakah kau untuk melaksanakannya?'

Menggunakan kesempatan itu perempuan tadi mulai merayu


dan menjeratnya seperti seekor ular.

"Pekerjaan apa yang harus kulakukan?", bisiknya lirih.

"Sejak malam ini, aku minta kau menemaninya tidur!", kata


toa-tauke dengan dingin.

A-kit masih tidur.

Ia terlalu lelah, ia membutuhkan tidur yang nyenyak, sebab


banyak pekerjaan yang sedang menanti untuk dia kerjakan,
dan tenaga badannya harus dipulihkan kembali secepatnya.

Ketika ia mendusin dari tidurnya, Kim Lan-hoa masih


berbaring disisinya, dengan mata terpentang lebar, ia sedang
mengawasi ke arahnya, mengawasi dengan tatapan mata yang
lembut dan penuh perasaan cinta.

A-kit kembali memejamkan matanya.

"Adakah seseorang yang datang kemari semalaman


kemarin?", ia bertanya.

"Tidak ada!"

A-kit merasakan seluruh otot badannya mengendor, tapi


perasaannya justru makin mengencang.

Ia tahu sesaat menjelang tibanya badai angin dan hujan yang


Pendekar Gelandangan 297

deras, biasanya suasana ketika itu paling sepi dan sumpek,


seperti juga sesaat menjelang tibanya fajar, biasanya
merupakan waktu yang paling gelap.

Perubahan apakah yang kemudian bakal terjadi? Akibat apa


yang pada akhirnya bakal dijumpai?

Ia sama sekali tidak tahu!

Ia cuma tahu bahwa persoalan itu telah membelenggu


dirinya, ia tak mungkin dapat lepas tangan lagi.

Ya, andaikata dia lepas tangan, maka Lo Biau-cu, si Boneka


dan Kim Lan-hoa segera akan mati mengenaskan.

Yang paling penting adalah dia juga tahu bahwa dalam kota
masih terdapat banyak manusia macam mereka, menantikan
bantuannya di tepi liang api neraka yang membara.

Dari luar ruangan tiba-tiba terdengar suara langkah manusia.

Langkah manusia itu sangat berat, seakan-akan sengaja


dibuat agar kedengaran orang, kemudian A-kit pun
mendengar ada orang sedang berbatuk ringan.

Ia menunggu orang itu masuk ke dalam, lama sekali ia


menanti, tapi suasana di luar sana justru sebaliknya, malah
menjadi hening dan tak kedengaran sedikitpun suara.

Paras muka Kim Lan-hoa pucat pias bagaikan kertas, dia tak
bisa menebak manusia macam apakah di luar sana, tapi bila
ditinjau dari keberaniannya untuk menghadapi seseorang
Pendekar Gelandangan 298

yang mampu menghancurkan kepala si kepala baja dalam


sekali pukulan, dapat diketahui bahwa orang itu pasti bukan
manusia sembarangan.

A-kit menepuk-nepuk bahunya lalu pelan-pelan bangkit


berdiri dan mengenakan pakaian.

Ia telah merasakan bahwa orang yang sedang menunggunya


di luar itu pasti seseorang yang paling susah dihadapi.

Jenazah si kepala baja telah diangkut pergi, akan tetapi kartu


'ci-cun-po' terakhir yang dipegangnya masih tertinggal di meja.

Tiok Yap-cing duduk di tepi meja itu sambil membelai kartu-


kartu tersebut dengan jari tangannya, kemudian sambil
tersenyum ia berkata:

"Konon kesempatan seseorang untuk mendapatkan kartu


semacam ini hanya seper-sepuluh laksa bagian, atau
maksudnya sekalipun kau bertaruh Pay-kiu selama lima puluh
tahun dan tiap hari bertaruh terus menerus, kesempatan
untuk peroleh kartu semacam inipun paling banter tak akan
melebihi tiga puluh kali"

Ia bukan bergumam seorang diri, ia tahu A-kit telah berjalan


keluar dan sedang mengawasinya dengan tenang.

Sambil tersenyum ia berpaling, lalu ujarnya lagi.

"Oleh karena itu barang siapa berhasil mendapatkan kartu


semacam ini, nasibnya pasti mujur sekali!"
Pendekar Gelandangan 299

"Sayang orang yang mendapatkan kartu tersebut semalam


mempunyai nasib yang kurang mujur!", sambung A-kit.

Tiok Yap-cing menghela napas panjang.

"Apa yang telah kau ucapkan sesungguhnya merupakan kata-


kata yang ingin kukatakan pula, perubahan nasib seseorang
dapat terjadi dalam sekejap mata, siapakah yang mampu
menjaga terus nasib mujurnya sendiri?"

Ia mendongakkan kepalanya menatap wajah A-kit, kemudian


pelan-pelan berkata lagi:

"Oleh karena itu jika seseorang telah memperoleh


kesempatan, dia harus baik-baik menggunakan kesempatan
tersebut dan jangan membuangnya dengan begitu saja!"

"Apa lagi yang ingin kau katakan?", kata A-kit kemudian


tenang.

"Kesempatan baik untuk saudara, kini telah datang!"

"Kesempatan macam apakah itu?"

"Apa yang dicari seorang manusia setelah berjuang dan


bergumul dengan nasib sepanjang hidupnya? Aku rasa yang
dicari tak lebih hanya nama serta kedudukan"

Ia tersenyum, setelah berhenti sejenak, sambungnya:

"Kini saudara telah menemukan kesempatan semacam itu,


hal ini sungguh merupakan suatu kejadian yang patut diberi
Pendekar Gelandangan 300

selamat dan patut digirangkan........!"

A-kit menatapnya tajam-tajam, seakan-akan paku yang


memantek di atas dinding tembok, tiba-tiba tegurnya:

"Kaukah yang bernama Tiok Yap-cing?"

Tiok Yap-cing masih saja tersenyum.

"Aku she Yap bernama Yap Cing-tiok, tapi orang lain lebih
suka memanggilku sebagai Tiok Yap-cing!"

Ia masih juga tersenyum, malah senyuman tersebut kelihatan


aneh sekali.

"Apakah toa-tauke yang suruh kau datang kemari?", kembali


A-kit menegur pelan.

Tiok Yap-cing mengaku.

"Kalau begitu akupun ingin memberitahukan satu persoalan


kepadamu!", ujar A-kit lebih jauh.

"Persoalan apakah itu?"

"Kadangkala perjuangan seseorang melawan kehidupan


bukan lantaran ingin mendapatkan nama serta kedudukan!"

"Kecuali kedua macam itu, apa pula yang bisa dicari


manusia?"

"Kehidupan bebas!"
Pendekar Gelandangan 301

"Kehidupan bebas?", ulang Tiok Yap-cing.

Ia benar-benar tidak mengerti makna dari dua patah kata


tersebut, kembali ia bertanya:

"Sesungguhnya apa yang kau harapkan?"

"Aku menginginkan setiap orang dapat melewatkan


penghidupannya menurut pikiran dan selera masing-masing
secara bebas dan leluasa!"

Ia tahu Tiok Yap-cing lebih-lebih tak akan memahami makna


dari perkataannya itu, maka ia menjelaskan lagi:

"Meskipun ada sementara orang lebih suka menjual diri, tapi


ada pula sementara orang yang lebih suka hidup miskin dan
menderita daripada menurunkan moral hidupnya sendiri,
karena bagi anggapan mereka selama dirinya masih bisa hidup
dengan hati tentram, sekalipun sedikit menderita juga tidak
menjadi soal!"

"Benarkah di dunia yang lebar ini terdapat manusia semacam


itu?"

"Banyak sahabatku adalah manusia semacam ini, masih ada


pula banyak orang lain yang begini juga, sayang kalian justru
tidak memperbolehkan mereka melewatkan penghidupan
menurut selera serta keinginan mereka sendiri, maka......"

"Maka kenapa?", tukas Tiok Yap-cing.


Pendekar Gelandangan 302

"Maka bila kalian menginginkan aku pergi dari sini, hanya ada
satu syarat yang harus dipenuhi!"

"Apa syaratmu itu?"

"Asal kalian melepaskan orang-orang itu, maka akupun akan


melepaskan kalian, asal toa-tauke menyanggupi sendiri
permintaanku ini dan berjanji tak akan memaksa siapapun
untuk melakukan pekerjaan apapun yang tidak diinginkan,
akupun segera angkat kaki dari sini!"

"Apakah kau bersikeras menginginkan toa-tauke


menyanggupi sendiri permintaanmu itu?"

"Ya!"

"Sepuluh laksa tahil perak tak dapat merubah jalan pikiranmu


itu?"

"Tidak dapat!"

Tiok Yap-cing mempertimbangkan sebentar usul itu,


kemudian pelan-pelan ia bertanya:

"Jadi kau benar-benar ingin bertemu dengan toa-tauke?"

A-kit manggut-manggut tanda membenarkan.

"Hari ini juga aku ingin bertemu dengannya!"

Tiok Yap-cing menatapnya sekejap kemudian bertanya:


Pendekar Gelandangan 303

"Kau ingin bertemu dengannya dimana?"

"Terserah dimanapun dia menghendaki!"

"Bagaimana kalau di gedungnya Han toa-nay-nay?"

"Di sanapun boleh juga!"

"Bagaimana kalau pertemuan itu diselenggarakan pada saat


malam, malam nanti.....?"

"Baik!"

Tiok Yap-cing segera bangkit berdiri dan siap meninggalkan


tempat itu, tapi sebelum beranjak, tiba-tiba dengan sekulum
senyuman menghiasi ujung bibirnya, ia bertanya:

"Oya, aku belum sempat menanyakan namamu.......dapatkah


kau memberitahukannya?"

"Aku bernama A-kit......"

Setelah berhenti sejenak, ia menambahkan lagi:

"A-kit yang tak berguna!"

Memang hingga bayangan punggung Tiok Yap-cing lenyap


dari pandangan mata, A-kit kembali menundukkan kepalanya
memandang kartu 'ci-cun-po' tersebut sambil termenung.....

Lama sekali ia termenung dengan mulut membungkam, ia


sedang mengingat kembali perkataan dari Tiok Yap-cing itu
Pendekar Gelandangan 304

serta mencoba untuk mengupasnya satu demi satu.

........Kesempatan baik telah datang, kesempatan semacam ini


harus baik-baik dipergunakan dan tak boleh dilepaskan
dengan begitu saja........tapi kesempatan macam apakah yang
telah mereka berikan kepadanya itu.......?

Ia tidak berpikir lebih lanjut.

Ya, ia tidak meneruskan kembali pemikirannya karena secara


tiba-tiba teringat olehnya akan suatu peristiwa yang
mengerikan.

Menanti ia menyerbu masuk ke dalam kamar, Kim Lan-hoa


telah lenyap tak berbekas.

ooooOOOOoooo
Pendekar Gelandangan 305

Bab 8. Siapakah A-kit?

Toa-tauke duduk di atas kursinya yang besar dan lebar


dengan amat santai, memandang Tiok Yap-cing yang berdiri
dihadapannya, tiba-tiba timbul perasaan salah dan minta maaf
dalam hati kecilnya.

Sudah enam tahun ia bekerja baginya, pekerjaannya selalu


paling beres dan sengsara dari siapapun, tapi kenikmatan
hidup yang berhasil dicicipinya justru jauh lebih sedikit dari
orang lain.

Sekarang bukan saja semalam suntuk ia bergadang, setitik air


dan sebutir nasipun belum masuk ke dalam perutnya, namun
ia masih mampu melakukan tugasnya untuk toa-tauke tanpa
menunjukkan sikap lelah atau mengantuk barang sedikitpun
jua, seakan-akan asal toa-tauke suka dengan pekerjaannya,
hal ini sudah merupakan suatu kebanggaan serta kepuasan
baginya.......

.........Pada jaman sekarang, makin sedikit memang


menjumpai manusia yang bekerja begitu giat dan tekun serta
begitu setia kepada majikannya.

Toa-tauke menghela napas di hati kecilnya, lama kemudian ia


baru bertanya dengan suara lirih:

"Kau telah berjumpa dengan A-kit?"

Tiok Yap-cing manggut-manggut.

"Orang itu benar-benar adalah sebilah golok yang telah


Pendekar Gelandangan 306

diloloskan dari sarungnya, bahkan sebilah golok cepat".

"Kau berhasil membelinya untuk kita?"

"Sekarang belum berhasil!"

"Apakah lantaran harga yang dimintanya terlampau tinggi!"

"Aku telah membawa sepuluh laksa tahil perak untuknya, tapi


setelah kujumpainya, aku segera tahu bahwa sepuluh kali lipat
uang yang kubawapun tak ada gunanya"

"Kenapa?"

"Sewaktu aku ke sana, di atas meja masih bertumpukan uang-


uang perak, bukan saja ia tidak menyentuh uang-uang
tersebut, bahkan memandang sekejappun tidak"

Untuk mencegah toa-tauke tidak mengerti, kembali ia


menambahkan:

"Sebenarnya ia sudah sedemikian miskinnya sehingga uang


untuk membeli makananpun tak punya, tapi dalam keadaan
demikian toh ia masih tidak memandang sekejappun ke arah
uang perak sebanyak itu. Dari sini dapat diketahui bahwa yang
diinginkan olehnya bukanlah benda-benda tersebut!"

"Lantas apa yang dia inginkan?", tanya toa-tauke ingin tahu.

"Dia hanya mempunyai satu permintaan, ia minta agar kita


membiarkan setiap orang melakukan penghidupannya sesuai
dengan selera serta keinginan masing-masing"
Pendekar Gelandangan 307

"Apa maksud perkataannya itu?"

"Maksudnya ia minta agar kita lepas tangan dan


menghentikan semua kegiatan dagang yang sedang kita
lakukan sekarang ini"

Paras muka toa-tauke segera berubah membesi.

Tiok Yap-cing kembali berkata:

"Selain daripada itu diapun berharap bisa berjumpa muka


dengan toa-tauke, ia minta toa-tauke menyanggupi sendiri
syarat yang dimintanya itu!'

"Bagaimana jawabanmu?"

"Aku telah membuatkan perjanjian untuk toa-tauke malam


nanti kita bertemu dengannya di gedung Han toa-nay-nay!"

Hawa amarah segera terpancar ke luar dari balik sorot


matanya, dengan dingin ia menegur:

"Semenjak kapan kau telah berhak mengambilkan keputusan


bagiku?"

"Tak seorangpun yang berhak mengambil keputusan bagi toa-


tauke!", jawab Tiok Yap-cing cepat-cepat sambil
menundukkan kepalanya.

"Dan kau?"
Pendekar Gelandangan 308

"Aku tidak lebih hanya mewakili toa-tauke untuk


membuatkan sebuah tali jeratan agar ia menghantarkan
tengkuknya sendiri ke dalam lubang jeratan tersebut"

Toa-tauke membenarkan kembali gaya duduknya di kursi,


wajahnya tampak jauh lebih lembut dan tenang.

"Sewaktu aku bercakap-cakap dengannya di luar, tiba-tiba


kutemukan suatu kejadian aneh!", kata Tiok Yap-cing lebih
jauh.

"Kejadian apakah itu?"

"Kutemukan gundik ke tiga dari Thiat-tau sedang mengintip


keluar ruangan dari celah-celah pintu, lagi pula ia selalu
mengawasinya dengan wajah yang tegang dan penuh
perasaan kuatir"

"Thiat-tau mendapatkan perempuan itu dari mana?", tanya


toa-tauke sambil menggenggam kencang-kencang sepasang
kepalannya.

"Perempuan itu bernama Kim Lan-hoa, dulu adalah seorang


pelacur kenamaan di sekitar Hwee-yang, banyak sekali jago
persilatan kenamaan yang menjadi tamu kehormatan dalam
ranjangnya!"

Mencorong sinar tajam dari balik mata toa-tauke, katanya


dengan segera:

"Maksudmu dahulu dia pasti kenal dengan A-kit yang tak


berguna itu...."
Pendekar Gelandangan 309

"Bukan cuma kenal, mereka pasti mempunyai hubungan yang


akrab sekali! Hubungan istimewa!"

"Oleh sebab itu dia pasti mengetahui tentang asal usul A-kit?"

"Ya, pasti!"

Toa-tauke kembali menatapnya tajam-tajam.

"Sekarang tentunya ia sudah tidak berada di tempat A-kit


sana, bukan?", tanyanya.

"Ya, sekarang ia tidak berada di sana!"

Toa-tauke menghembuskan napas penuh kepuasan.

"Lalu dia berada di mana?", tanyanya lagi.

"Di luar bersama Biau-cu kakak beradik!"

Sinar mata toa-tauke semakin bersinar tajam pekiknya:

"Darimana kau berhasil menemukan mereka?"

"Setiap pelosok kota yang mungkin bisa mereka gunakan


sebagai tempat persembunyian telah kugeledah semua", kata
Tiok Yap-cing, "tapi jejak kedua orang itu tetap lenyap tak
berbekas......"

"Maka kaupun mulai mencari dari tempat yang paling tak


mungkin?", sambung toa-tauke sambil mengerdipkan
Pendekar Gelandangan 310

matanya.

Dari balik sorot mata Tiok Yap-cing segera memancarkan


keluar rasa kagum dan memuji yang sangat tebal, katanya:

"Apa yang dapat kupikirkan, tentu saja telah berada pula


dalam perhitungan toa-tauke!"

"Di...manakah kau berhasil menemukan mereka berdua?"

"Salah satu diantara dua orang yang kukirim sebagai mata-


mata itu bernama Toa-gou, meskipun ia sangat cekatan dan
pintar, sayang nyalinya sangat kecil, lagipula dia adalah
seorang lelaki yang amat menyayangi keluarganya, hampir
sebagian besar uang yang berhasil diperolehnya selalu dibawa
pulang untuk dipakai oleh seluruh keluarganya!"

"Maka kaupun lantas berpendapat, besar kemungkinan A-kit


telah mempergunakan titik kelemahannya itu untuk menindas
Toa-gou agar ia mau menerima Biau-cu kakak-beradik untuk
bersembunyi dalam rumahnya?"

"Aku hanya berpendapat bahwa dua orang manusia hidup


yang begitu besar tak mungkin bakal lenyap tak berbekas
seperti uap yang membuyar di angkasa!"

Toa-tauke segera tertawa.

"Sesungguhnya tindakan yang diambil A-kit cukup pintar,


sayang dia tak mengira kalau di tempatku sinipun masih
terdapat seseorang yang jauh lebih pintar daripadanya!"
Pendekar Gelandangan 311

Sikap Tiok Yap-cing semakin merendah dan menghormat,


sambil menundukkan kepalanya lebih rendah, ia berkata:

"Aku dapat berhasil karena selamanya tak berani kulupakan


setiap nasehat serta petunjuk yang toa-tauke berikan
kepadaku tiap-tiap harinya!"

Gelak tertawa toa-tauke semakin gembira, katanya lagi:

"Sekarang asal kita dapat mengetahui asal usulnya dari mulut


Kim Lan-hoa, kemudian mempergunakan Biau-cu kakak
beradik sebagai umpan, maka masakan ia tidak akan
mengantarkan tengkuk sendiri masuk ke dalam tali jeratan?"

"Aku hanya kuatir kalau Kim Lan-hoa tak bersedia mengaku


terus terang.....!", kata Tiok Yap-cing mengemukakan
kekuatirannya.

"Bukankah dia seorang pelacur?", tanya toa-tauke.

"Benar!"

"Pernahkah kau jumpai seorang pelacur yang benar-benar


setia kepada cintanya terhadap seorang pria?"

"Tidak pernah!"

"Pernahkah kau jumpai seorang pelacur yang benar-benar tak


mau uang dan tak mau nyawanya lagi?"

"Tidak pernah!"
Pendekar Gelandangan 312

Toa-tauke segera tertawa terbahak-bahak.

"Dan aku sendiripun tidak pernah!", sambungnya.

Seprei itu putih bagaikan salju, bahkan membawa bau harum


bunga anggrek yang sedap.....

A-kit merobek kain tersebut dan dibuatnya menjadi kain


pembalut untuk membalut luka-luka bacokan di tubuhnya.

Dia tahu toa-tauke tak akan menerima syarat yang diajukan


itu, diapun tahu malam nanti pasti akan terjadi suatu
pertempuran yang amat sengit.

Akan tetapi dia tidak ambil perduli.

Namun, mau tak mau ia harus memikirkan kembali


keselamatan Kim Lan-hoa.

........Aku pasti akan menuruti perkataanmu, sekalipun harus


mati, rahasiamu tak akan kuberitahukan kepada siapapun.

Meskipun bekas air mata yang ditinggalkan di atas wajahnya


telah mengering, tapi suaranya seakan-akan masih
berkumandang dari sisi telinganya.

Dapatkah dipercaya kata-katanya itu?

Seseorang apabila dirinya sendiripun dapat diperjual-belikan,


siapakah yang akan percaya bahwa dia rela mati daripada
menjual orang lain.......?
Pendekar Gelandangan 313

A-kit mengikat kencang-kencang robekan kain itu di atas


dadanya.

Dalam hatinyapun muncul simpul mati, beribu-ribu macam


simpul mati yang sukar dibebaskan, sebagai ia bukan datang
dari langit, tentu saja diapun mempunyai masa silamnya yang
kelabu.

Dalam waktu-waktu yang sudah lewat itu dia pernah bersedih


hati, ia pernah bergembira, tentu saja diapun mempunyai
perempuan.

Ia tidak pernah percaya kepada perempuan macam apapun.

Dalam pandangannya perempuan tidak lebih hanya semacam


perhiasan, semacam alat pemuas dikala kau membutuhkan
mereka, mereka akan bersikap seperti seekor kucing, dengan
jinak-jinak merpati masuk ke dalam pelukannya........

Tapi di kala ia merasa jemu, mereka akan dicampakkan


dengan begitu saja bagaikan sampah.

Terhadap masalah ini tak pernah merahasiakan, diapun tak


pernah menyesal, sebab ia selalu beranggapan bahwa ia
memang telah ditakdirkan untuk merasakan kenikmatannya
seorang perempuan.

Bila ada perempuan mencintainya, mencintainya setengah


mati, bahkan saking cintanya sampai rela mati dalam
pelukannya, maka ia selalu beranggapan bahwa perempuan
semacam ini memang pantas hidup sengsara.
Pendekar Gelandangan 314

Oleh sebab itu, apabila sekarang Kim Lan-hoa menghianati


dirinya, dia akan menganggap hal tersebut sebagai kesialan
buat dirinya.

Iapun sama sekali tidak ambil perduli.

Karena ia telah bersiap sedia untuk beradu jiwa.

Seorang manusia dengan selembar nyawa, entah manusia


macam apapun itu, entah nyawa apakah itu, asal ia sendiri
telah bersiap sedia untuk beradu jiwa, maka apa lagi yang
mesti diperdulikan.

..........Tapi benarkah ia sungguh-sungguh tak ambil perduli?

...........Benarkah dalam hatinya terdapat suatu keluhan yang


tak dapat diutarakan kepada orang lain?

..........Benarkah ia pernah menderita suatu luka yang


selamanya tak dapat disembuhkan kembali?

Siapa yang tahu?

Bahkan dia sendiripun telah lupa......paling sedikit dengan hati


yang bersungguh-sungguh dia berharap dapat melupakan
kesemuanya itu........

Ya, kalau dia sendiripun telah melupakan kesemuanya itu,


siapa lagi yang mengetahuinya?

Di atas meja terdapat sesuatu mutiara dan sebilah pisau.


Pendekar Gelandangan 315

Di samping meja duduk tiga orang..... Toa-tauke, Tiok Yap-cing


dan Kim Lan-hoa.

Toa-tauke tidak berbicara apa-apa.

Bilamana tidak perlu, ia tak pernah bersuara.........jika ada


orang telah mewakilinya untuk berbicara, buat apa dia musti
buka suara sendiri.

Orang yang buka suara lebih dahulu tentu saja Tiok Yap-cing.

Suara pembicaraannya selalu lembut dan halus.

"Untaian mutiara tersebut merupakan mutiara yang paling


bagus, bila dikenakan oleh seorang perempuan cantik, tentu
saja akan kelihatan bertambah cantik, sekalipun dikenakan
oleh seorang perempuan tidak cantik, banyak juga laki-laki
yang akan merasa bahwa secara tiba-tiba ia berubah menjadi
amat cantik"

"Aku tahu!", kata Kim Lan-hoa.

"Kau adalah seorang perempuan yang amat cantik, tapi setiap


perempuan tentu akan tiba pula saatnya menjadi tua!"

"Aku tahu!"

"Bagaimanapun cantiknya seorang perempuan di kala usianya


sudah tua, dia pasti akan berubah menjadi tidak cantik lagi!"

"Aku tahu!"
Pendekar Gelandangan 316

"Setiap perempuan selalu membutuhkan laki-laki, tapi setelah


tiba pada saat itu, kau akan merasakan bahwa mutiara
selamanya jauh lebih penting dan berharga daripada seorang
laki-laki"

"Aku tahu!"

Pelan-pelan Tiok Yap-cing membelai mata pisau yang tajam,


kemudian katanya lagi:

"Benda ini adalah sebilah pisau, sebilah pisau yang dapat


dipakai membunuh orang"

"Aku tahu!"

"Bagaimanapun cantiknya seorang perempuan, apabila pisau


itu sampai menembus ulu hatinya, maka mutiara tak berguna
lagi baginya, laki-lakipun tak berguna pula baginya"

"Aku tahu!", kembali Kim Lan-hoa menjawab.

"Jika kau disuruh memilih, maka kau lebih suka ditusuk oleh
pisau ini atau lebih suka mengenakan mutiara tersebut?"

"Mutiara!"

Tiok Yap-cing menatapnya lekat-lekat, lama, lama sekali,


pelan-pelan ia baru bertanya lagi:

"Tahukah kau A-kit yang tak berguna itu She apa? Dan
bernama siapa? Ia datang darimana?"
Pendekar Gelandangan 317

"Aku tidak tahu!"

Tiok Yap-cing tertawa.

Pada saat ia mulai tertawa, pisau di tangannya ikut


menyambar ke depan dan menyobek telinga kiri Kim Lan-hoa.

Sambaran tersebut bukan cuma gertak sambal belaka, ia tahu


hanya kenyataan yang disertai dengan cucuran darah baru
benar-benar dapat menimbulkan rasa ngeri dan takut bagi
perempuan itu.

Betul juga badan Kim Lan-hoa menyusut ke belakang karena


ngeri dan takut.

Ia telah menyaksikan darahnya yang merah, diapun


menyaksikan pula separuh bagian telinganya yang rontok
bersama cucuran darah tersebut.

Akan tetapi ia tidak merasa sakit, perasaan ngeri dan seram


yang mencekam perasaannya waktu itu hampir saja membuat
dia lupa akan arti kata dari sakit.

Paras muka Tiok Yap-cing masih tenang tanpa emosi, katanya


dengan suara hambar:

"Kalau cuma telinga hilang separuh, cacat tersebut masih


dapat ditutup oleh rambut, tapi bila hidung yang terpapas
separuh, wah! Jelek sudah wajahmu waktu itu!"

"Baik, aku akan berbicara.....", tiba-tiba Kim Lan-hoa berteriak


keras-keras.
Pendekar Gelandangan 318

Tiok Yap-cing segera tersenyum dan menurunkan kembali


pisau tajamnya dari wajah perempuan itu, ujarnya:

"Asal kau bersedia berbicara terus terang, untaian mutiara itu


akan menjadi milikmu!"

"Padahal sekalipun tidak kujelaskan, seharusnya kalian juga


tahu siapakah dia!"

"Oya? Lantas siapakah dia?"

"Dia adalah raja akhirat yang menghendaki nyawa kalian!"

Sebelum ucapan tersebut diutarakan habis, tubuhnya telah


menerjang ke arah meja, dengan sepasang tangannya ia
menggenggam pisau di meja itu, kemudian di tusukan ke dada
sendiri.

Paras muka toa-tauke berubah hebat, sambil menjambak


rambutnya, ia membentak keras-keras:

"Kau tidak lebih cuma seorang pelacur busuk, kenapa kau


musti mati lantaran seorang pria?"

Wajah Kim Lan-hoa telah berubah menjadi pucat pias


bagaikan mayat, darah kental masih meleleh menodai ujung
bibirnya, meski begitu dia masih hidup, ia masih sempat
mengutarakan suara hatinya:

"Karena hanya dialah seorang pria sejati, kalian tak lebih


cuma segerombolan anak jadah yang lebih rendah
Pendekar Gelandangan 319

martabatnya daripada seekor anjing budukan atau seekor


babi. Aku bisa mati deminya, aku.....aku sudah merasa
gembira sekali"

Dalam ruangan tak kedengaran suara, sedikit suarapun tidak


ada.

Entah berapa lama sudah lewat, tiba-tiba toa-tauke bertanya:

"Janji yang kau buat dengannya apakah berlangsung malam


nanti?"

"Benar!", jawab Tiok Yap-cing.

"Kalau begitu, sekarang juga kau harus menyusul ke sana dan


aturlah segala persiapan di sekitar tempat itu"

"Toa-tauke benar-benar hendak ke situ?"

Toa-tauke manggut-manggut.

"Ya, aku ingin bertemu dengannya!", ia menyahut.

Kemudian ia menjelaskan lebih jauh.

"Karena aku benar-benar tidak menyangka kalau dalam dunia


ini masih terdapat seorang pria yang dapat membuat seorang
pelacur mengorbankan selembar jiwanya dengan rela demi
menutup rahasianya. Aku ingin tahu sesungguhnya
keistimewaan apakah yang dimiliki orang itu?"

Tiok Yap-cing menutup mulutnya rapat-rapat.


Pendekar Gelandangan 320

Ia tahu semua keputusan yang telah diambil oleh toa-tauke


selamanya tak dapat dirubah oleh siapapun jua.

Tapi toa-tauke justru bertanya lagi kepadanya:

"Bagaimana pendapatmu?"

Tiok Yap-cing tidak segera menjawab.

Masalah tersebut mempunyai sangkut paut yang amat besar


dengan situasi di sekelilingnya, ia tidak boleh teledor atau
melakukan kesalahan walau sekecil apapun, dia harus
menganalisa serta mempertimbangkannya kembali sebelum
mengambil keputusan.

"Menurut pendapatmu, berbahayakah keadaanku waktu itu?,


toa-tauke kembali bertanya.

Tiok Yap-cing termenung dan berpikir beberapa saat lamanya,


kemudian pelan-pelan ia menjawab:

"Selama Biau-cu kakak beradik masih berada dalam


cengkeraman kita, mungkin saja ia tak berani bertindak secara
gegabah"

"Soal itu akupun telah memikirkannya!"

"Tapi bila seseorang sanggup menyuruh seorang pelacur


mampus baginya, mungkin saja perbuatan macam apapun
sanggup pula dilakukan olehnya!"
Pendekar Gelandangan 321

"Misalnya perbuatan apa?", tanya toa-tauke.

"Ada sekelompok manusia, walaupun di hari-hari biasa selalu


setia kawan dan berjiwa kesatria, akan tetapi setelah tiba
pada saat yang dibutuhkan, seringkali ia tak segan-segan
untuk mengorbankan temannya bagi keberhasilan dari
tujuannya"

"Kapankah saat yang dibutuhkan itu akan tiba?"

"Di saat ia memutuskan untuk melakukan suatu usaha besar!"

Toa-tauke tidak bertanya lebih jauh.

Tentu saja ia dapat memahami maksud dari Tiok Yap-cing,


barang siapa sanggup membinasakan dia, maka kejadian
tersebut pasti akan merupakan suatu peristiwa besar yang
akan menggetarkan seluruh dunia persilatan.

"Sebelum malam hari menjelang tiba nanti, aku pasti akan


membawa seluruh jago terbaik kita untuk berkumpul di
gedungnya Han toa-nay-nay. Jago terbaik kita masih dapat
digunakan paling sedikit masih ada tiga puluh orang"

"Belum cukupkah jago-jago sebanyak itu untuk melindungi


keselamatan jiwaku?", kata toa-tauke.

"Mungkin lebih dari cukup, mungkin juga belum cukup,


selama hal ini masih ada kemungkinan membahayakan
jiwamu, aku tak akan berani untuk melakukannya!"

"Asal mereka semua menghadang di hadapanku, paling


Pendekar Gelandangan 322

sedikit aku kan bisa mengundurkan diri dari sana!"

"Tapi tujuan sasarannya hanya toa-tauke seorang, asal kami


sedikit teledor, maka kemungkinan besar dia akan segera
turun tangan, serangannya itu mungkin tak bisa ditahan oleh
siapapun"

Ia menghela napas panjang, kemudian terusnya:

"Andaikata Thi-hou (Harimau baja) berada di sini, tentu


keadaannya sama sekali berbeda"

"Jadi maksudmu, aku tak boleh ke sana?"

"Seandainya toa-tauke bersikeras ingin menjumpainya, tentu


saja kau boleh pergi ke situ, cuma........."

"Cuma kenapa?"

"Kita toh tidak musti membiarkan ia berjumpa dengan toa-


tauke!"

Tiok Yap-cing tidak menjelaskan lebih jauh, dia tahu toa-tauke


segera akan memahami maksudnya.

Barang siapa dapat menangkap macam toa-tauke tersebut,


jelas hal itu bukan dilakukan secara untung-untungan, ia harus
mempunyai kepandaian serta kecerdasan yang melebihi orang
lain.

Betul juga, ternyata toa-tauke tidak membuatnya menjadi


kecewa, demikian ia berkata:
Pendekar Gelandangan 323

"Oleh karena ia belum pernah bertemu denganku, maka kita


boleh sembarangan mencari seseorang untuk menyaru
sebagai diriku guna menjumpainya, sedang aku dengan
menyaru sebagai pengikutnyapun sama saja masih dapat
bertemu dengannya"

"Ya, seandainya dia hendak turun tangan, sebagai sasarannya


pasti orang itu, sedang toa-tauke sendiri dapat mengundurkan
diri dari situ dengan selamat"

"Bagus, suatu ide yang sangat bagus!", puji toa-tauke sambil


tersenyum.

"Tidak bagus, sedikitpun tidak bagus!", tiba-tiba seseorang


berseru dari luar pintu.

Tempat itu merupakan kamar baca dari toa-tauke, juga


merupakan tempat paling rahasia yang biasanya dipergunakan
sebagai tempat perundingan rahasia dengan pembantu-
pembantu setianya.

Tanpa seijin toa-tauke, siapapun tidak berani menerjang


masuk ke pintu luar.

Tapi orang itu telah berada di luar pintu.

Maksud hati toa-tauke selamanya tak pernah dibantah oleh


siapapun, jika toa-tauke sudah mengatakan 'baik', maka hal itu
pasti baik, selamanya tak ada orang yang berani berdebat.

Tapi orang itu terkecuali.


Pendekar Gelandangan 324

Selama berada di hadapan toa-tauke, hanya orang ini yang


berani melakukan perbuatan yang tidak berani dilakukan
orang lain, hanya dia pula yang berani mengucapkan kata-kata
yang tak berani diucapkan orang lain..........

Sebab pekerjaan yang dapat ia lakukan bagi toa-tauke tak


mungkin bisa dilakukan pula oleh orang lain.

Begitu mendengar suaranya, dengan wajah berseri Toa-tauke


segera berteriak:

"Thi-hou telah pulang!"

Semangkuk besar mie daging sapi yang masih panas dan


mengepulkan asap baru saja dihidangkan, kuahnya kental dan
diatasnya ditambah dengan dua butir telur serta dua batang
tulang bay-kut, tampaknya nikmat sekali rasanya.

Tapi A-kit tidak tahu bagaimanakah perasaan hatinya pada


waktu itu........?

Sudah lama tak pernah ia nikmati makanan selezat ini,


baginya hidangan semacam itu sudah merupakan suatu
kenikmatan, diapun ingin sekali mengajak teman-temannya
untuk merasakan pula kenikmatan tersebut.

Ia ingin sekali pergi ke rumah Toa-gou untuk menjumpai Biau-


cu dan si Boneka.

Akan tetapi ia tak berani menyerempet bahaya.


Pendekar Gelandangan 325

Ketika meninggalkan rumah perjudian milik Thi-tau (si kepala


baja), di atas meja masih bertumpuk uang perak hasil taruhan
semalam.

Dia hanya membawa pergi setahil perak yang terkecil.

Dia harus makan sedikit untuk mengembalikan tenaga dalam


tubuhnya, dan dia harus memaksakan diri untuk
menghabiskan semangkuk mie itu.

Warung penjual mie itu kecil, berada di lorong sempit dan


sangat gelap.

A-kit duduk di sebuah sudut ruangan yang paling gelap sambil


menundukkan kepalanya, pelan-pelan makan mie.

Ia tak ingin melihat orang lain, diapun tak ingin orang lain
melihatnya.

Dia hanya ingin menghabiskan semangkuk mie tersebut


dengan tenang, tetapi ia belum menghabiskan mie itu.

Pada saat dia mulai melahap telur yang kedua, tiba-tiba dari
atas atap rumah yang terbuat dari papan-papan kayu lama itu
berhamburan segenggam debu yang segera mengotori
mangkuk berisi mie itu.

Menyusul kemudian......"Kreteeek" atap rumah terbuka


sebuah lubang besar dan seseorang melayang turun ke
bawah, sambil mendekam di belakang tubuhnya ia berbisik
lirih:
Pendekar Gelandangan 326

"Jangan bergerak, jangan bersuara, kalau tidak kuhabisi


segera selembar nyawamu!"

A-kit tidak bergerak pun tidak berbicara apa-apa.

Satu-satunya pelayan yang berada dalam warung mie itu


berdiri dengan kaki lemas saking takutnya, sebab ia telah
menyaksikan sebilah golok yang memancarkan sinar tajam
dalam genggaman orang itu, diapun menyaksikan pula
sepasang mata bagaikan binatang buas yang liar dan
menggidikkan hati.

Ya, mata itu seperti mata binatang buas yang sedang diburu-
buru oleh pemburu dan terpojok tak sanggup kabur lagi,
sebab di balik sinar matanya yang liar terselip juga rasa
ketakutan ngeri serta hawa pembunuhan yang menggidikkan
hati.

"Kau duduk, pelan-pelan duduk!", perintah orang itu lagi


kepada pelayan warung mie tersebut, "berlagaklah seakan-
akan tak pernah menyaksikan sesuatu apapun"

Pelayan segera duduk di atas sebuah bangku bobrok dan tak


berani berkutik, sekujur badannya hampir lemas karena
ketakutan.

Orang itu lagi-lagi memberi perintah kepada A-kit:

"Lanjutkan makan mie mu itu, makan sampai habis!"

A-kit melanjutkan kembali daharnya melahap mie sapi di


hadapannya......
Pendekar Gelandangan 327

Bakpao yang telah terjatuh ke dalam tinjapun dia makan,


apalagi dalam mangkuk mie hanya kejatuhan abu, sudah
barang tentu ia lebih-lebih tak ambil perduli.

Ia dapat merasakan ketegangan serta kengerian yang


mencekam orang di belakangnya itu, entah apa yang sedang
ditakuti orang itu? Tapi dia tak ingin tahu.

Setelah menyaksikan laki-laki tinggi besar itu, sebagian besar


orang yang berlalu lalang di atas jalan raya segera
membungkukkan badannya sambil menundukkan kepalanya
rendah-rendah.

Dengusan napas orang yang bersembunyi di belakang A-kit


bertambah memburu, bahkan sekujur badannya seakan-akan
ikut gemetar tiada hentinya......

......Laki-laki tinggi besar inikah yang sedang ia takuti?

......Siapakah laki-laki kekar itu? Kenapa begitu banyak orang


yang jeri kepadanya?

A-kit kembali menundukkan kepalanya sambil mulai makan


mie.

Di saat ia sedang menundukkan kepalanya itu, seakan-akan


dilihatnya laki-laki kekar itu melirik sekejap ke dalam warung
mie, sinar matanya terasa begitu tajam bagaikan sambaran
petir.

Untung dia hanya melirik sekejap, kemudian dengan langkah


Pendekar Gelandangan 328

lebar berlalu dari sana.

Pada waktu itulah A-kit baru melihat bahwa di pinggangnya


tergantung seutas tali, pada ujung tali itu terikatlah enam
orang manusia.

Pakaian yang dikenakan ke enam orang itu sangat perlente


dan mewah, bahkan ikat pinggang, topi, sepatu dan kaus
kakipun merupakan benda-benda mewah yang mahal
harganya.

Akan tetapi raut wajah ke enam orang itu sudah babak belur,
ada yang matanya bengkak, hidungnya berdarah, bahkan ada
pula tangan dan kakinya patah, namun orang-orang itu
bagaikan anjing jinak dengan tenangnya mengikuti helaan tali
laki-laki tersebut ke manapun ia pergi.

Menanti ke enam orang itu sudah berlalu, orang yang


bersembunyi di belakang A-kit baru menghembuskan napas
lega, genggamannya pada gagang golok ikut mengendor.

Tiba-tiba A-kit bertanya:

"Apakah orang-orang itu adalah sahabatmu?"

"Tutup mulut!", dengan marah orang itu malah membentak.

"A-kit tidak membungkam, sebaliknya malahan berkata lagi:

"Kalau kau memang berhasil melarikan diri, kenapa tidak kau


tolong pula rekan-rekanmu itu?"
Pendekar Gelandangan 329

Belum habis ucapan tersebut diutarakan, mata golok telah


ditempelkan di atas tengkuknya, menyusul kemudian dengan
marah orang itu mengancam:

"Jika kau berani bersuara lagi, segera kucabut selembar


jiwamu!"

Belum lagi ucapannya itu selesai diucapkan, kembali ada


seseorang menyambung dengan suara dingin:

"Sekalipun kau tidak bersuara, aku tetap menginginkan


selembar jiwamu itu!"

Laki-laki tinggi besar yang tampak dengan jelas telah keluar


dari pintu warung, tiba-tiba telah berjalan kembali, dan secara
tiba-tiba ia telah berdiri di hadapan A-kit.

Sepasang matanya memancarkan serentetan sinar yang lebih


tajam dari petir, tulang jidatnya tinggi menonjol keluar,
hidungnya mancung seperti elang dan mulutnya sangat lebar.

Sambil menundukkan kepalanya A-kit masih melanjutkan


santapannya untuk melahap mie itu.

Tiba-tiba orang yang bersembunyi di belakangnya itu


menempelkan goloknya di tengkuk orang, lalu ancamnya:

"Jika kau berani turun tangan, akan kubunuh orang ini lebih
dahulu!"

"Kalau orang itu kau bunuh, maka aku tak akan membunuh
dirimu", jawab laki-laki tersebut tenang.
Pendekar Gelandangan 330

Kemudian dengan suara yang lebih berat dan seram ia


menambahkan:

"Paling sedikit akan kusuruh kau hidup tiga tahun lebih lama,
agar kau merasakan tiga tahun siksaan hidup"

A-kit masih saja menundukkan kepalanya sambil makan mie.

Mendadak orang yang bersembunyi di belakangnya itu


melompat ke muka, goloknya secepat sambaran kilat langsung
dibacokkan ke atas batok kepala laki-laki kekar itu.

Laki-laki tersebut sama sekali tidak bergerak, kepalanya juga


tidak bergerak, tangannya hanya dijulurkan ke muka dan tahu-
tahu pergelangan tangan orang itu sudah tergenggam.

"Kreeekkk.....!", tulang pergelangan tangan orang itu segera


remuk dan.......

"Traaang.......!", golok dalam genggamannya terjatuh ke


tanah, menyusul kemudian orang itu ikut berlutut ke tanah.

Di tatapnya kemudian orang itu dengan dingin, lalu laki-laki


tadi berkata dengan dingin:

"Mau ikut aku tidak?"

Saking sakitnya air matapun ikut bercucuran membasahi


wajah orang itu, ia menganggukkan kepalanya berulang kali.

"Aku mau ikut! Aku mau ikut!"


Pendekar Gelandangan 331

Laki-laki itu tertawa dingin, sebelum menyeretnya keluar dari


warung, tiba-tiba ia berpaling dan melotot kepada A-kit.

A-kit masih menundukkan kepalanya sambil makan mie.

Tiba-tiba laki-laki itu tertawa dingin sambil mendesis:

"Saudara, pandai benar kau menahan diri!"

A-kit sama sekali tidak mendongakkan kepalanya, dia hanya


berkata:

"Aku lapar sekali, aku hanya ingin makan mie!"

Kembali laki-laki itu melotot ke arahnya sekian lama, akhirnya


berpaling kepada pelayan warung tersebut sambil berkata:

"Masukkan ongkos mie itu ke dalam rekeningku!"

"Baik!", jawab sang pelayan cepat sekali.

"Terima kasih!", A-kit mendesis.

"Tidak usah!"

Pada ujung tali telah bertambah lagi dengan seorang


manusia, tujuh orang diikat menjadi satu dengan seutas tali,
keadaan mereka mirip sekali dengan segerombolan anjing
yang dituntun oleh seorang manusia.

Akhirnya A-kit menghabiskan semangkuk mie daging itu.


Pendekar Gelandangan 332

Setelah kenyang ia baru bangkit berdiri dan berjalan ke


hadapan pelayan warung itu seraya bertanya:

"Siapakah orang itu?"

Rupanya rasa kaget di hati pelayan itu belum hilang, ia balik


bertanya dengan suara gemetar:

"Orang yang mana?"

"Orang yang barusan membayarkan rekening mie-ku!"

Pelayan tersebut segera celingukan ke sana kemari, kemudian


sambil merendahkan suaranya, ia berbisik:

"Dia adalah seorang manusia yang paling susah dilayani!"

"Siapa namanya?"

"Thi-hou, si Harimau Baja, badannya lebih keras dari baja dan


sikapnya lebih garang daripada seekor harimau!"

A-kit tertawa getir, dibalik tertawanya itu terseliplah nada


mengejek yang sukar dilukiskan dengan kata-kata.

"Orang yang dapat menuntun tujuh ekor serigala bagaikan


menuntun anjing, tentu saja ia akan lebih garang daripada
seekor harimau!"

Tiba-tiba suara pelayan itu semakin di rendahkan bisiknya


lagi:
Pendekar Gelandangan 333

"Kau kenal dengan dia?"

"Tidak, aku tidak kenal!"

Senyuman di ujung bibirnya berubah semakin aneh, pelan-


pelan lanjutnya lebih jauh:

"Tapi aku tahu, bahwa dengan cepat kami akan segera


berkenalan!"

"Thi-hou telah pulang!"

Sekarang ia berdiri di hadapan Toa-tauke, meskipun


pinggangnya ditekuk dalam-dalam namun sikapnya
menunjukkan kesombongan serta rasa hormatnya yang tak
mungkin dibuat-buat.

Ia sombong karena dia telah menyelesaikan suatu pekerjaan


besar bagi orang yang dihormatinya.

"Kau telah kembali jauh lebih awal daripada apa yang kami
bayangkan semula!", demikian toa-tauke berkata.

"Ya, karena gerombolan serigala itu sesungguhnya bukan


serigala, melainkan hanya anjing-anjing budukan!", jawab
Harimau Baja.

Toa-tauke segera tersenyum.

"Selama berada di hadapanmu, sekalipun mereka benar-


benar seekor serigala juga akan berubah menjadi seekor
Pendekar Gelandangan 334

anjing!"

Thi-hou ikut tertawa, ia bukan seorang manusia munafik, ia


suka mendengarkan pujian orang lain, terlebih pujian dari toa-
tauke nya yang paling dihormati.

"Dimanakah gerombolan anjing-anjing itu sekarang?",


kembali toa-tauke bertanya.

"Enam ekor anjing mati sudah kuberikan kepada serigala,


sedang tujuh ekor anjing hidup telah kubawa pulang!"

"Seekorpun tidak ada yang terlepas?"

"Sebenarnya di tengah jalan tadi ada seekor diantaranya yang


hampir saja lolos, aku tidak menyangka kalau dalam celananya
masih tersembunyi sebilah golok"

"Dimanakah golok itu sekarang?"

"Sekarang golok itu sudah kutusukkan ke dalam lubang


pantatnya"

Toa-tauke terbahak-bahak setelah mendengar perkataan itu.


Ia paling suka dengan cara kerja Thi-hou, karena cara kerjanya
beraneka ragam, semua tindakan yang dilakukan Thi-hou
selalu paling langsung, paling sederhana dan paling manjur.

"Siapa yang hendak kau temui tadi?", tiba-tiba Thi-hou


bertanya.

"Dia bernama A-kit!"


Pendekar Gelandangan 335

"A-kit?"

"Aku tahu nama tersebut pasti belum pernah kau dengar,


sebab hakekatnya itu bukan nama aslinya, dan lagi ia paling
suka kalau orang lain menganggapnya sebagai seorang
manusia yang tak berguna"

"Padahal ia berguna sekali?"

"Bukan saja berguna, bahkan mungkin saja sangat ternama,


sebab seringkali ada sementara orang yang tak ingin orang lain
menyebut nama aslinya lantaran nama tersebut terlampau
ternama dalam dunia persilatan"

Thi-hou dapat memahami maksud ucapan tersebut, karena ia


sendiripun demikian, ia sudah puluhan tahun
menyembunyikan nama aslinya.

"Sebenarnya kami telah berjanji akan berjumpa muka malam


nanti, tapi Siau-yap kuatir aku ketimpa musibah!", kata toa-
tauke lagi.

Thi-hou segera tertawa dingin.

"Heeeehhhh..... heehhhh..... heeeehhhhh.... nyali Siau-yap


selamanya memang lebih kecil daripada selembar daun"

"Kau tak dapat menyalahkan dia, bila seorang bisa melakukan


pekerjaan dengan teliti dan berhati-hati, tak akan ia jumpai
hal-hal yang kurang menyenangkan hati"
Pendekar Gelandangan 336

Tiok Yap-cing selama ini hanya sebagai seorang pendengar


setia, ia hanya tersenyum belaka. Menunggu Thi-hou sudah
tidak bersuara lagi, ia baru berkata:

"Pada waktu itu mau tak mau aku harus bertindak lebih
berhati-hati, sebab Hou-toako belum pulang kemari"

"Bagaimana sekarang?", Thi-hou bertanya.

"Sekarang tentu saja berbeda!"

Ia masih saja tertawa, tapi suara tertawanya membuat orang


yang mendengarkan menjadi tak enak badan, katanya lagi:

"Sekarang apabila toa-tauke ingin bertemu dengan seseorang,


asal Hou-toako mau turun tangan, dengan segera orang itu
berhasil ditangkapnya!"

"Kau kira aku tidak sanggup?", seru Thi-hou dengan mata


mendelik.

"Kalau Hou-toako sendiripun tak sanggup, lantas siapakah


manusia di dunia ini yang sanggup melakukannya?"

Sepasang kepalan Thi-hou telah menggenggam kencang.

"Kau sudah lelah!", tiba-tiba toa-tauke berkata.

Kepada Tiok Yap-cing kembali ujarnya:

"Kini Thi-hou telah pulang, tak ada salahnya kalau kau pulang
dulu dan tidurlah barang dua jam!"
Pendekar Gelandangan 337

"Baik"

"Seandainya di atas pembaringanmu ada orang sedang


menunggumu untuk menemani kau tidur, kaupun tak usah
kaget, lebih-lebih lagi tak usah sungkan-sungkan"

"Baik!"

"Tidak terbatas siapapun orang itu!"

"Baik!"

Tiok Yap-cing segera mengundurkan diri, ia tidak bertanya


siapakah orang itu, diapun tidak menanyakan yang lain. Setiap
ucapan toa-tauke selamanya ia hanya menuruti tanpa
membantah, iapun tak pernah banyak bertanya.

Hingga Tiok Yap-cing keluar dari pintu ruangan, Thi-hou masih


mendelik ke arahnya, sepasang kepalannya masih tergenggam
kencang-kencang sehingga otot-otot hijaunya pada menonjol
ke luar, biji matanya ikut berputar dengan liar.

Sebagian besar orang yang kebetulan menyaksikan biji


matanya berkeliaran liar, biasanya mereka akan menyingkir
jauh-jauh, bahkan semakin jauh semakin baik.

Toa-tauke mengawasi biji matanya yang berkeliaran itu


tajam-tajam, tiba-tiba ia bertanya:

"Sudah berapa lama kau mengikuti aku?"


Pendekar Gelandangan 338

"Lima tahun!"

"Belum, belum lima tahun. Yang tepat adalah empat tahun


sembilan bulan dua puluh empat hari"

Biji mata Thi-hou tidak jelalatan lagi, sinar kagum dan hormat
segera memancar keluar dari balik matanya, ia tak menyangka
kalau toa-tauke dapat mengingat-ingat segala persoalan kecil
itu sedemikian jelasnya, biasanya orang yang memiliki daya
ingatan yang bagus, selalu akan mendatangkan perasaan
kagum dan hormat bagi orang lain.

Toa-tauke kembali bertanya:

"Tahukah kau sudah berapa lama Siau-yap mengikuti diriku?"

"Ia jauh lebih lama daripadaku"

"Benar, ia sudah enam tahun mengikuti aku, tepatnya enam


tahun tiga bulan tiga belas hari!"

Thi-hou tidak berani bersuara.

Kembali Toa-tauke bertanya:

"Selama kau mengikuti diriku, sudah empat puluh tujuh laksa


uang perak yang kau hamburkan dan tujuh puluh sembilan
orang perempuan yang kau cicipi, tapi dia?"

Thi-hou tidak tahu.

"Aku telah memberitahu kepada kasir, bahwa berapapun


Pendekar Gelandangan 339

yang kalian berdua gunakan, aku akan melayani terus, tapi


dalam enam tahun ini seluruhnya dia hanya menggunakan
uang sebesar tiga ribu tahil perak"

Thi-hou si harimau baja berusaha menekan sabar, tapi


akhirnya meledak juga kesabarannya itu, dia berseru:

"Maklumlah tauke, ada orang yang pandai menghamburkan


uang, tapi ada pula yang tidak mampu.........?"

"Diapun tidak mempunyai perempuan!", kembali toa-tauke


berkata.

Thi-hou kembali bersabar agak lama, toh akhirnya ia tak


tahan juga, kembali serunya:

"Siapa tahu kalau hal ini disebabkan dia pada hakekatnya


bukan seorang pria jantan?"

"Akan tetapi pekerjaan yang ia lakukan bagiku tidak bisa


dikatakan lebih sedikit dari apa yang telah kau kerjakan
untukku!"

Thi-hou tak mau mengakuinya, tapi diapun tak berani


menyangkal.

Kembali toa-tauke berkata:

"Pekerjaan yang ia lakukan bagiku bukan termasuk pekerjaan


yang dapat mengangkat nama atau mempopulerkan nama
baiknya, dia tak suka uang dan tak mau main perempuan pula,
coba pikirlah apa yang ia tuju selama ini.......?"
Pendekar Gelandangan 340

Thi-hou lebih-lebih tak berani membuka suara.

"Kecuali nama, kekayaan dan perempuan, masih ada


perbuatan apa lagi di dunia ini yang bisa menggerakkan
perasaan seorang pria?", tanya toa-tauke lebih lanjut.

Thi-hou mengetahuinya, tapi ia tak berani mengutarakannya


keluar.

"Itulah kekuasaan!", akhirnya toa-tauke mengucapkannya


sendiri.

Apabila seorang pria telah berhasil memegang tampuk


kekuasaan, apapun yang diinginkan dapat segera diperoleh,
apa lagi yang merisaukan hatinya?

"Apapun tidak ia inginkan", kata toa-tauke lagi, "siapa tahu


karena dia hanya mengincar kedudukanku ini!"

Mencorong sinar tajam dari balik mata Thi-hou, katanya:

"Asal toa-tauke mengucapkan sepatah kata, setiap saat aku


dapat membekuk batang leher keparat itu!"

"Kau yakin sanggup membekuk batang lehernya?"

"Aku........"

"Aku tahu akan kepandaian silatmu, akupun tahu banyak


orang kenamaan yang pernah keok di tanganmu selama ini!",
kata toa-tauke.
Pendekar Gelandangan 341

Thi-hou tidak menyangkal, iapun tidak menunjukkan perasaan


puasnya.

"Selama enam tahun ini, belum pernah kuutus Siau-yap untuk


turut serta dalam suatu gerakan atau suatu operasi, karena
aku sendiripun selalu menganggap bahwa ia adalah seorang
manusia yang tidak memiliki kepandaian silat!", ucap toa-
tauke menyengir.

"Pada dasarnya ia memang tidak memiliki kepandaian apa-


apa"

"Keliru......! Keliru........! Kau keliru, akupun keliru!"

"Oya?", si macan baja kurang percaya.

"Ya, hingga hari ini aku baru tahu bahwa diapun seorang jago
silat kelas satu!"

"Jago silat macam apakah dia itu?", tidak tahan Thi-hou


bertanya, "Toa-tauke pernah menyaksikan ia mempergunakan
goloknya?"

"Ya, hari ini aku baru menyaksikan sendiri, kepandaiannya


mempergunakan golok jauh lebih bagus dari kepandaian golok
manapun yang pernah kujumpai selama ini!"

......Mata golok baru saja berkelebat, separuh telinga Kim Lan-


hoa telah tersayat kutung menjadi dua.

"Bukan cuma cepat saja gerakan goloknya, lagi pula sangat


Pendekar Gelandangan 342

tepat dan mantap, tapi hingga kini dia selalu menyembunyikan


kepandaian lihaynya itu, mungkin saja hingga kini dia masih
menganggap aku tidak mengetahuinya"

Sesudah tersenyum, kembali ujarnya:

"Tapi diapun keliru besar, sekalipun aku tak pernah makan


daging babi, paling tidak aku toh pernah menyaksikan babi
yang sedang berjalan"

Senyumannya masih begitu tenang, begitu santai, seolah-olah


tak pernah terjadi sesuatu apapun.

Thi-hou mulai gusar, agak kesal ia setelah mendengar kata-


kata tersebut, katanya kemudian:

"Aku bukannya tak pernah bertemu dengan orang yang


pandai mempergunakan golok!"

"Aku tahu jago-jago lihay yang berasal dari Ngo-hou-toan-


bun-to (Golok sakti panca harimau pemutus nyawa), Ban Sin-
to, Jit Ciau-to dan Tay-heng-kuay-to, semuanya pernah keok di
tanganmu, paling tidak jumlahnya telah mencapai dua sampai
tiga puluh orang lebih"

"Ya, termasuk Hui-long-to (Golok serigala terbang) Kang Tiong


yang ku bekuk hari ini, jumlahnya persis mencapai tiga puluh
orang"

"Akupun tahu bahwa kau pasti masih sanggup untuk


melenyapkan dari muka bumi!"
Pendekar Gelandangan 343

"Setiap waktu setiap saat aku sanggup melaksanakan tugas


ini!"

"Tapi sekarang masih belum perlu!"

"Mengapa?"

"Sebab aku tahu paling tidak hingga kini ia masih belum


berniat untuk menghianati diriku"

"Bila harus menunggu sampai toa-tauke mengetahui hal ini,


aku kuatir waktu itu keadaan sudah terlalu lambat!"

"Tidak, tidak mungkin terlalu terlambat!"

"Kenapa?"

"Sebab diapun seorang pria, bagaimanapun macam pria


tersebut, biasanya ia tak akan sanggup menyimpan rahasia
hatinya, apabila berada di hadapan perempuan yang
disukainya"

Di atas meja kecil terletak sebuah pot bunga, dalam pot ada
beberapa kuntum bunga, dipetiknya sekuntum lalu diciumnya
sebentar, kemudian katanya kembali:

"Jika perempuan itu cukup pintar, dan lagi seringkali berada di


sisi pembaringannya, maka sekalipun tidak ia katakan,
perempuan itupun akan mengetahuinya juga"

"Masa ada perempuan yang disukainya?"


Pendekar Gelandangan 344

"Tentu saja ada!"

"Siapa?"

"Ki-ling!"

Toa-tauke tahu bahwa Thi-hou pasti tidak kenal siapakah Ki-


ling tersebut, maka ia menjelaskan lebih jauh:

"Ki-ling adalah perempuan yang mempunyai tahi lalat pada


ujung bibirnya dan kubawa pulang dari Chin-hui-ho itu"

Thi-hou memang bukan termasuk orang bodoh, ia segera


paham:

"Oh, dan dia pula perempuan yang sedang menantinya tidur


pada malam nanti di atas pembaringannya!"

Toa-tauke tersenyum, ia tahu dia telah membuat Thi-hou


memahami dua persoalan.

......Toa-tauke adalah seorang manusia yang tidak gampang


dihadapi, ia tak akan mengijinkan orang lain membohonginya.

......Orang yang benar-benar dipercayai toa-tauke dan betul-


betul menjadi orang kepercayaannya hanya Thi-hou seorang.

Ia tahu hanya mengandalkan dua hal tersebut sudah cukup


untuk memperoleh imbalan berupa kesetiaan Thi-hou
terhadapnya.

Sambil tersenyum ia memejamkan matanya, diam-diam Thi-


Pendekar Gelandangan 345

hou telah mengundurkan diri, ia percaya si harimau baja ini


pasti mempunyai akal bagus untuk menghadapi A-kit.

Selain itu diapun tahu bahwa Thi-hou pasti pergi menjumpai


Thi-jiu (tangan baja) A-yong untuk menanyakan cara apa yang
telah dipergunakan A-kit.

Di kala mengerjakan tugas lain, meskipun orang ini seringkali


menunjukkan sikap serta cara kerja yang gegabah dan
sembrono, akan tetapi bila bertemu dengan musuh yang
tangguh dan lihai, maka ia akan berubah jauh lebih cerdik,
jauh lebih cekatan dari siapapun jua.

Sejak angkat nama pada sepuluh tahun berselang, jarang


sekali korbannya bisa lolos dalam keadaan selamat.

Walaupun toa-tauke sedang memejamkan matanya, seakan-


akan ia menyaksikan A-kit roboh terkapar di ujung pedang Thi-
hou dan sedang bermandikan darah kental sendiri.

ooooOOOOoooo
Pendekar Gelandangan 346

Bab 9. Duel

Ruangan itu nyaman dan bersih.

Toa-tauke tak pernah menelantarkan atau mencemooh anak


buahnya, A-yong pun belum kehilangan nilai keseluruhan dari
kepentingannya untuk melaksanakan suatu tugas.

Hanya saja tangannya masih dibalut, apalagi sakitnya


setengah mati.

Sewaktu Thi-hou masuk ke dalam ruangan, ia sedang


berbaring di atas pembaringan, ia berharap Han toa-nay-nay
bisa mencarikan seorang perawan baginya untuk
menghilangkan kekesalannya selama ini.

Tapi dia tahu, orang yang masuk ke dalam kamarnya sekarang


pastilah Thi-hou.

Selamanya hanya Thi-hou seorang yang berani memasuki


kamarnya tanpa mengetuk pintu lebih dulu.

Kendatipun ia merasa sangat tidak puas terhadap sikapnya


ini, namun ketidak puasannya itu tidak pernah diutarakan
kepada siapapun.

Ia membutuhkan seorang sahabat macam Thi-hou, terutama


dalam keadaan seperti ini, teman semacam itu lebih-lebih lagi
dibutuhkan, kendatipun demikian, seandainya Thi-hou mati,
diapun tak akan melelehkan setitik air matapun.

Dengan pandangan tajam Thi-hou mengamati tangannya yang


Pendekar Gelandangan 347

dibungkus rapat oleh kain putih itu, kemudian sambil


mengernyitkan dahi tegurnya:

"Parahkah lukamu itu?"

A-yong hanya bisa tertawa getir.

Tentu saja luka yang dideritanya amat parah, bahkan mungkin


lengannya tak bisa dipergunakan lagi selamanya, tapi tentang
soal ini, dia harus merahasiakan sebaik-baiknya.

Ia tahu toa-tauke tak akan memelihara seorang manusia tak


berguna yang sudah tak ada harapannya dalam suatu jangka
waktu yang lama.

"Siapakah yang telah melukaimu?", Thi-hou mulai membuka


pembicaraan.

"Ia mengatakan dirinya bernama A-kit, A-kit yang tak


berguna!"

"Tapi ia telah melukai dirimu, membinasakan Toa-kang!"

A-yong tertawa getir.

"Mungkin ia tak berguna dalam hal lain, tapi ilmu silatnya


jelas sangat berguna"

"Dengan benda apakah ia melukai dirimu?"

"Dengan apa lagi? Tentu saja menggunakan tangannya!"


Pendekar Gelandangan 348

Sebenarnya dia ingin mengatakan dilukai dengan sebuah


benda yang terbuat dari besi, tapi ia tak berani berbohong,
sebab masih terdapat banyak orang yang menyaksikan
peristiwa tersebut dengan mata kepalanya sendiri ketika itu.

Sepasang alis mata Thi-hou yang tebal berkernyit semakin


kencang.

Ia tahu ilmu silat A-yong terutama dalam hal telapak tangan


bajanya mempunyai kesempurnaan yang meyakinkan.

Bukan suatu pekerjaan yang gampang bila seseorang ingin


melukai telapak tangan bajanya hanya mempergunakan
tangan telanjang.

"Aku tahu kau pasti ingin bertanya kepadaku ilmu slat apakah
yang telah ia gunakan?", kata A-yong.

Thi-hou mengakuinya, sebab ia memang bukan datang untuk


menjenguk si sakit.

"Sayang aku sendiripun tidak tahu, ilmu silat dari aliran


manakah yang telah ia pergunakan"

Hawa gusar memancar keluar lewat sorot mata Thi-hou,


katanya:

"Sudah hampir dua-tiga puluh tahun kau melatih ilmu silatmu,


tidak sedikit pula manusia yang telah kau bunuh, selama
dalam dunia persilatan reputasimu cukup baik, tapi sekarang
orang lain telah menghajarmu sedemikian rupa, sebaliknya
kau malah tidak tahu dengan ilmu silat apakah orang melukai
Pendekar Gelandangan 349

dirimu"

"Serangannya terlampau cepat, hingga sulit diikuti dengan


pandangan mata.....", keluh A-yong.

Thi-hou tertawa dingin, tiba-tiba ia mencengkeram tangan A-


yong yang terluka dan melepaskan kain pembalut tangannya
itu.

"Hei, mau apa kau?", A-yong segera menegur dengan paras


muka berubah hebat.

"Aku ingin memeriksanya"

A-yong segera tertawa paksa.

"Sebuah lengan yang sudah rusak, masa ada yang menarik


untuk dilihat.....?", katanya.

"Ada!"

"Menurut tabib dari Ciang-po-thong, mereka telah


membalutkan tanganku ini sebaik-baiknya, ia minta kepadaku
agar dalam dua hari ini jangan sekali-kali menyentuhnya"

"Aaaahhh.....! Telur busuk maknya!", damprat Thi-hou.

Terpaksa A-yong menutup kembali mulutnya, sebab kain


pembalut yang membalut tangannya kini sudah terlepas
semua.

Menyaksikan telapak tangannya itu, paras muka Thi-hou ikut


Pendekar Gelandangan 350

berubah hebat.......

Telapak tangan baja yang pernah dilatih selama hampir dua


puluh tahun, kini boleh dibilang sudah hancur remuk dan tak
ketolongan lagi....

Tangan itu jelas dihancurkan dengan hanya menggunakan tiga


batang jari tangan, sebab pada punggung tangannya masih
tertinggal tiga bekas jari tangan yang berwarna semu hitam.

....Ilmu silat apakah yang sesungguhnya dilatih oleh A-kit yang


tak berguna?

Tiba-tiba Thi-hou menghela napas panjang, ujarnya:

"Bagaimanapun juga, kita masih terhitung bersahabat!"

"Ya, sejak dulu sampai sekarang kita memang bersahabat!",


A-yong menimpali sambil tertawa paksa.

"Sebab itu kau tak usah kuatir, aku tak akan memberitahukan
peristiwa ini kepada siapapun"

"Peristiwa apa?", suara tertawa A-yong kedengaran makin


dipaksakan.

"Sejak kini tanganmu sudah cacad seumur hidup dan tak bisa
dipakai lagi........"

Senyuman A-yong segera membeku, kelopak matanya


menyusut dan wajah wajahnya berubah menjadi pucat pias.
Pendekar Gelandangan 351

"Sayangnya, sekalipun aku telah merahasiakan peristiwa ini


bagimu, cepat atau lambat toa-tauke pasti akan
mengetahuinya juga, sebab itu..........lebih baik susunlah
rencana baru untuk menghadapi kehidupanmu di masa
mendatang........!"

A-yong tertunduk lemas, tiba-tiba ia berteriak dengan suara


lantang:

"Aku masih tetap dapat membunuh orang bagi toa-tauke


walaupun hanya mempergunakan tangan sebelah!"

Thi-hou tertawa dingin.

"Membunuh manusia macam apa? Membunuh manusia yang


lebih tak berguna daripada dirimu?"

Dari sakunya dia ambil keluar setumpuk uang kertas, lalu


tanpa dihitung lagi diangsurkan ke hadapan A-yong, katanya:

"Cepat atau lambat uang ini pasti kau butuhkan, baik-baiklah


kau simpan dan tak usah digunakan terlalu royal"

Selesai mengucapkan kata-kata itu, tanpa berpaling lagi ia


keluar dari ruangan tersebut.

Ketika Tiok Yap-cing masuk ke ruangan, uang kertas itu masih


tergeletak di atas pembaringan.

A-yong masih memandang tumpukan uang kertas itu dengan


mata mendelong dan wajah termangu.
Pendekar Gelandangan 352

"Aku datang khusus untuk menengok keadaan penyakitmu",


kata Tiok Yap-cing dengan lembut, "secara kebetulan juga
kudengar pembicaraan kalian"

"Kau telah mendengarnya? Itu memang lebih baik!"

"Bagaimanapun juga ia memang masih cukup baik sikapnya


kepadamu......", Tiok Yap-cing menambahkan.

"Ya, ia memang bersikap baik kepadaku, bahkan baik sekali,


maka dia suruh aku menyimpan baik-baik tumpukan uangnya
itu"

Tiba-tiba ia tertawa tergelak:

"Haaaahhhhh......haaaahhhhh.....haahhhh......disimpan untuk
apa? Memangnya aku akan pergunakan sedikit uang busuknya
itu untuk berdagang kecil-kecilan? Atau membuka sebuah
kedai kecil penjual daging sapi?"

Seperti orang gila ia tertawa terbahak-bahak, tiba-tiba


disambarnya uang di pembaringan itu dan dibantingnya keras-
keras di atas tanah.

Kemudian ia menjatuhkan diri ke atas pembaringan dan


menangis tersedu-sedu.

Tiok Yap-cing cukup memahami perasaannya ketika itu, ia


membiarkannya menangis sekian lama, kemudian baru
berbisik dengan lembut:

"kau tak usah kuatir, baik-baiklah merawat lukamu, apapun


Pendekar Gelandangan 353

yang bakal terjadi, aku pasti akan carikan akal bagimu untuk
menghadapinya"

Toa-tauke memejamkan matanya, ia menerima semangkuk


kuah jinsom dari sebuah tangan yang hangat, halus dan
lembut.

Pelan-pelan ia menghirup kuah tersebut dua tegukan, lalu


bertanya:

"Di mana Ki-ling?"

"Sudah pergi ke tempat tinggalnya Yap-sianseng!"

"Apakah Yap sianseng telah melakukan......?"

"Ya, mereka telah mengadakan hubungan satu kali!"

Toa-tauke tersenyum.

Ia percaya Tiok Yap-cing tak akan berani membangkang


perintahnya, perintah apapun yang diturunkan Toa-tauke
kepada seseorang, belum pernah ada yang berani
membangkangnya.

Maka Toa-tauke kembali bertanya:

"Di mana Thi-hou?"

"Ia sedang keluar!"

"Tidak bilang mau kemana?"


Pendekar Gelandangan 354

"Katanya dia akan menengok A-yong, tapi sekarang mungkin


ia sedang menuju ke gedungnya Han toa-nay-nay!"

Toa tauke mengerutkan dahinya, tapi dengan cepat ia


mengerti maksud dan tujuannya melakukan tindakan
tersebut.

Tentu saja ia bukan pergi mencari perempuan.

........Ketika A-kit muncul dalam kota untuk pertama kalinya, ia


muncul di gedung milik Han toa-nay-nay. Untuk menyelidiki
asal usul A-kit, tentu saja ia harus mencari Han toa-nay-nay,
sebab paling tidak apa yang diketahuinya tentang A-kit akan
jauh lebih banyak bila dibandingkan orang lain.

Ia biasa berpikir sampai ke situ, hal ini membuktikan bahwa


persiapan yang dilakukan Thi-hou jauh lebih teliti dan
sempurna dibandingkan sebelumnya.

Maka tertawa toa-tauke pun jauh lebih cerah, jauh lebih


riang..........

Sekarang setiap persoalan telah berada di bawah


pengaruhnya, setiap orang telah berada dalam
cengkeramannya.

Perduli siapapun yang berani mengganggunya, perduli


siapapun berani membohonginya, jangan harap mereka dapat
lolos dari hukumannya.

Hukuman yang ia jatuhkan selamanya adil, tapi cukup


Pendekar Gelandangan 355

mengerikan.

Thi-hou duduk di hadapan Han toa-nay-nay sambil menatap


matanya tajam-tajam, ketika ia merasa bahwa sinar mabuk
yang terpancar keluar dari matanya sudah jauh berkurang,
pelan-pelan ia baru berkata:

"Kau seharusnya tahu kenapa aku datang kemari?"

Han toa-nay-nay memicingkan sepasang matanya sehingga


tinggal satu garis, sahutnya:

"Aku tahu tugas yang kau kerjakan kali ini cukup payah,
kebetulan saja aku menerima kiriman barang baru diantaranya
ada seorang masih asli dan orisinil!"

"Aku bukan datang untuk mencari perempuan!"

"Oh, jangan-jangan selera Hou-toaya belakangan ini sudah


mengalami perubahan dan kau ingin mencari orang lelaki
untuk mencicipinya!"

Paras muka Thi-hou berubah membesi, katanya dengan


dingin:

"Jika kau masih mabuk, aku mempunyai cara untuk


membuatmu menjadi sadar kembali!"

Senyuman yang menghiasi ujung bibir Han toa-nay-nay segera


berubah membeku.

"Sekarang apakah kau sudah sadar kembali?", tegur Thi-hou


Pendekar Gelandangan 356

kemudian.

"Ya!"

"Sekarang tentunya sudah kau ketahui siapakah yang sedang


kucari?"

"Orang yang sedang kau cari pastilah A-kit, A-kit yang tak
berguna!"

"Konon ia pernah bekerja di sini dan keluar dari tempat


ini...........!"

"Ya, ia memang pernah mengendon beberapa waktu di


tempatku ini!"

"Ia datang darimana?"

"Siapapun tidak ada yang tahu dari mana dia berasal, ketika
sampai di sini ia sudah mabuk hebat, ia mabuk sampai
beberapa hari lamanya dan dalam keadaan tidak sadar"

Thi-hou menatapnya tajam, menatap hingga ia merasa bahwa


perempuan itu bukan lagi berbohong, pertanyaan baru
dilanjutkan:

"Secara bagaimana kau telah menerimanya bekerja di sini?"

"Aku menerimanya lantaran ia tak punya uang untuk


membayar rekening, dan lagi kelihatannya ia cukup
mengibakan hati orang!"
Pendekar Gelandangan 357

"Ditambah lagi ia masih muda, tampangnya cakep lagi!",


sambung Thi-hou menyindir.

Agak merah jengah selembar wajah Han-toa-nay-nay, serunya


dengan cepat:

"Sekalipun dia tampan, tapi aku sama sekali tidak mempunyai


hubungan apa-apa dengannya"

"Ya, tentu saja tiada hubungan sebab ia sama sekali tidak


tertarik kepadamu!"

Han toa-nay-nay menghela napas panjang.

"Aaaai......jangankan aku, perempuan yang lebih cantik dan


bahenolpun tidak merangsang gairahnya, ia sepertinya tidak
tertarik sama sekali oleh perempuan macam apapun"

"Selama berada di sini pekerjaan agak istimewa apakah yang


pernah ia lakukan?", kembali Thi-hou bertanya.

Setiap pertanyaan ia ajukan dengan amat cepat, ini


menunjukkan bahwa sebelumnya semua pertanyaan tersebut
telah disusun olehnya secara cermat dan teliti.

Namun Han-toa-nay-nay mau tidak mau harus memikirkan


dahulu sebelum menjawab, karena ia tahu hanya sepatah kata
saja salah berbicara maka akibatnya akan mempengaruhi
selembar jiwanya sendiri.

"Sesungguhnya ia tidak melakukan suatu pekerjaan istimewa


selama berada di sini", demikian jawabnya kemudian, "apa
Pendekar Gelandangan 358

yang dilakukan tidak lebih hanya mencucikan mangkuk buat


kami, mengambilkan air teh......."

Tiba-tiba ia teringat akan sesuatu pekerjaan yang agak


istimewa, segera tambahnya:

"Iapun telah mewakiliku untuk menerima beberapa kali


tusukan pisau!"

"Siapa yang melakukan tusukan tersebut?"

"Agaknya saudara cilik dari si kusir kereta!"

"A-kit telah membunuh mereka?"

"Tidak, ia sama sekali tidak melancarkan serangan balasan"

Tiba-tiba kelopak mata Thi-hou menyusut menjadi kecil sekali,


serunya tertahan:

"Masa ia hanya berdiri belaka sambil menerima tusukan-


tusukan pisau setan cilik itu?"

"Ya, jangankan membalas, bergerak sedikitpun tidak!"

Biji mata Thi-hou mulai melompat.

Di kala biji matanya sedang melompat, bukan berarti dia


hendak membunuh manusia, kadangkala hal ini merupakan
pertanda jelek bagi dirinya sendiri.

Ia dibesarkan dari lingkungan yang miskin dan serba


Pendekar Gelandangan 359

kekurangan, semenjak kecil ia sudah berkeliaran di antara


kaum berandal dan pencoleng-pencoleng kota, tentu saja ia
pernah merasakan tusukan pisau orang.

Sebelum ia merasakan tusukan yang pertama, biji matanya


telah melompat pula seperti kali ini.

Karena waktu itu dia telah berani menantang lotoa yang


berkuasa di wilayah tersebut, ia tahu bahwa dirinya akan
berhadapan dengan seorang musuh tangguh yang sangat
menakutkan.

Kini lompatan biji matanya hampir sama seperti lompatan


yang pernah dirasakan ketika itu.

.......Sebenarnya manusia macam apakah yang akan


dihadapinya kali ini?

.......Dia adalah seorang jago tangguh yang sanggup mengetuk


hancur telapak tangan baja A-yong dengan ketiga buah jari
tangannya, tapi mengapa dia hanya berdiri di sana saja untuk
menerima tusukan-tusukan pisau dari setan-setan cilik itu?

.......Kenapa ia harus merasakan penderitaan, penghinaan


serta rasa malu yang sesungguhnya tak usah ia rasakan?

Han toa-nay-nay masih juga menghela napas kembali ujarnya:

"Waktu itu mimpipun kami tidak menyangka bahwa dia


adalah seorang manusia macam begini!"
Pendekar Gelandangan 360

"Menurut pendapatmu, manusia macam apakah dia?"

"Sepintas lalu ia seperti seorang manusia yang benar-benar


tak berguna, bagaimanapun kau aniaya dan cemooh dirinya, ia
seperti tak ambil perduli, iapun tak mau tahu berapa besar
penderitaan dan penghinaan yang bakal dihadapinya,
pokoknya ia menerima semua yang menimpa dirinya dengan
rela dan pasrah"

"Sebenarnya ia boleh saja tak usah menerima penderitaan


dan siksaan seperti ini!"

"Ya, akupun mendengar bahwa semalam ia berhasil


membinasakan Thi-tau toa-ya!"

"Menurut pendapatmu, apa sebabnya ketika itu dia rela


menerima tusukan orang tanpa melancarkan serangan
balasan?"

Han-toa-nay-nay termenung dan berpikir sebentar, lalu


sahutnya:

"Mungkin pada waktu itu dia masih tak ingin membiarkan


orang lain tahu bahwa ia pandai bersilat, diapun tak ingin
membiarkan orang lain mengetahui pengalamannya di masa
lampau"

Setelah berpikir sebentar, kembali ujarnya:

"Mungkin saja di masa lampau dia pernah melakukan suatu


perbuatan yang memalukan dan tak ingin diketahui orang
Pendekar Gelandangan 361

lain"

"Tidak benar!", kata Thi-hou.

"Tidak benar?"

"Ia berdiri di sana tanpa bergerak sambil mewakilimu


menerima beberapa tusukan pisau, coba bayangkan kebaikan
apa yang berhasil ia dapatkan dari perbuatannya itu?"

"Sama sekali tak ada kebaikan apa-apa!", sahut Han-toa-nay-


nay dengan cepat.

"Ya, memang tak ada manfaat apa-apa, sebab sekalipun ia


tidak mewakilimu untuk menerima tusukan-tusukan tersebut,
kau masih tetap bersikap baik kepadanya!"

"Bagaimanapun aku bersikap kepadanya, ia sama sekali tak


ambil perduli.......!"

"Sekarang lantaran Biau-cu kakak beradik ia bersedia adu jiwa


dengan toa-tauke, coba pikirkan manfaat apa yang berhasil
diperolehnya?"

"Lebih-lebih tak ada lagi!"

"Manusia semacam ini, mungkinkah ia bisa melakukan


perbuatan memalukan yang tak ingin diketahui orang lain?"

Han toa-nay-nay tidak berbicara lagi, sebab ia sudah tahu


bahwa dugaannya keliru besar.
Pendekar Gelandangan 362

"Ia bisa berbuat demikian pasti lantaran pernah mendapat


pukulan batin yang cukup berat, pukulan batin tersebut
membuat pandangannya terhadap segala persoalan menjadi
berubah, ia menjadi putus asa dan kecewa, sehingga dengan
hati rela menerima semua penderitaan, semua penghinaan
serta cemoohan yang dilimpahkan atas dirinya, diapun pasti
berbuat demikian lantaran keluarganya atau namanya
terlampau termasyhur, sekarang lantaran ia telah berubah
menjadi begini, maka ia tak akan membiarkan orang lain
mengetahui masa silamnya"

Perkataan tersebut bukan ia ucapkan untuk di dengar Han-


toa-nay-nay, sebaliknya tak lain sedang memberi keterangan
dan analisa pada diri sendiri tentang manusia yang bernama
A-kit.

Kendati begitu Han-toa-nay-nay telah mendengar semua


perkataan itu dengan jelas.

Ia selalu menganggap Thi-hou sebagai seorang manusia yang


garang, ganas dan berangasan, belum pernah ia jumpai
sikapnya setenang hari ini, lebih-lebih tak disangka olehnya
kalau ia dapat berpikir secermat dan seteliti sekarang ini.

Sudah banyak tahun ia kenal dengan manusia yang bernama


Thi-hou ini, tapi hingga sekarang dia baru merasakan bahwa
dia masih mempunyai raut wajah lain.

Kebengisan serta keberangasannya mungkin hanya sejenis


tameng, sejenis pelindung yang melindungi watak serta
karakter yang sebenarnya, agar orang lain tak dapat
mengetahui kecerdasan dan kenekatannya dalam menghadapi
Pendekar Gelandangan 363

setiap persoalan agar orang lain tidak berjaga-jaga terhadap


dirinya.

Menyaksikan wajahnya yang tenang serta sepasang matanya


yang tajam bagaikan sembilu, tiba-tiba Han toa-nay-nay
merasakan suatu kengerian dan keseraman yang sukar
dilukiskan dengan kata-kata.

Bahkan secara diam-diam ia mulai merasakan kuatir bagi


keselamatan jiwa manusia yang bernama A-kit.

Terlepas manusia macam apakah A-kit itu, tapi yang pasti


musuh tangguh yang dihadapinya sekarang jelas jauh lebih
menakutkan daripada apa yang diduganya semula.

Pertarungan yang bakal berlangsung kali ini mungkin saja


merupakan pertarungannya yang terakhir, semua kejayaan,
kecemerlangan serta nama besar yang pernah diperolehnya
dulu kemungkinan akan segera terkubur untuk selamanya di
dalam tanah.

........Mungkin itulah akibat dari harapan yang selalu


mencekam perasaannya selama ini.

........Orang yang mati di sini tidak lebih hanya A-kit yang tak
berguna, nama baik serta kejayaannya di tempat kejauhan
masih tetap utuh dan bertahan untuk selamanya.

Han toa-nay-nay menghela napas dalam hatinya, ketika ia


menengadah kembali tampak Thi-hou dengan sepasang
matanya yang lebih tajam dari sembilu sedang mengawasinya
lekat-lekat.
Pendekar Gelandangan 364

Tiba-tiba Thi-hou berkata:

"Padahal kau tak perlu menguatirkan keselamatan jiwanya!"

"Aku.........."

"Begitu turun tangan ia berhasil membinasakan Thi-tau,


menghancurkan tangan Thi-ciang, bahkan kepandaian apakah
yang dipergunakan juga tidak diketahui orang, ini
membuktikan bahwa kepandaian silatnya benar-benar telah
mencapai puncak kesempurnaan. Setelah aku pikir pulang
pergi akhirnya kurasakan bahwa orang yang berhasil melatih
ilmu silatnya hingga mencapai tingkatan seperti ini tak lebih
dari lima orang dan diantara ke lima orang ini, hanya satu
orang yang mempunyai usia semuda dia!"

"Siapakah orang itu?", tanya Han toa-nay-nay tanpa terasa.

"Sebenarnya orang itu sudah mati, tapi aku selalu


menganggap dia tak akan mati secepat itu!"

"Kau anggap A-kit adalah orang itu?"

Pelan-pelan Thi-hou mengangguk.

"Seandainya A-kit benar-benar adalah orang itu, dalam


pertarungan tersebut akulah yang bakal mati!"

Han toa-nay-nay menghembuskan napas lega dalam hatinya,


meski perasaan tersebut tak sampai diperlihatkan pada
wajahnya.
Pendekar Gelandangan 365

Ia adalah seorang perempuan yang cukup berpengalaman,


tentu saja ia mengerti pada saat apakah dan cara
bagaimanakah dia harus menyatakan kuatir serta simpatiknya
kepada orang lain.

Pelan-pelan ia menggenggam tangan Thi-hou, lalu katanya


dengan lembut:

"Kalau sudah tahu demikian, kenapa kau musti menjual


nyawamu demi kepentingan orang lain? Kenapa kau harus
pergi mencarinya?"

Thi-hou menundukkan kepalanya memandang tangan Han-


toa-nay-nay yang gemuk dan penuh gajih itu, lalu sahutnya
lirih:

"Aku belum tentu harus pergi ke situ!"

Kali ini Han toa-nay-nay benar-benar dapat menghembuskan


napas lega.

Kedengaran Thi-hou berkata lebih jauh:

"Meskipun aku tidak pergi, tapi ada seseorang lain yang harus
pergi ke sana"

"Siapakah orang itu?"

"Kau!"

Han toa-nay-nay kelihatan amat terkejut.


Pendekar Gelandangan 366

"Kau suruh aku pergi mencari A-kit?"

"Ya, kau harus membawanya menjumpaiku!"

Han toa-nay-nay ingin tertawa paksa, tapi ia tak mampu


tertawa.

"Darimana aku bisa tahu saat ini dia berada di mana?",


katanya dengan jantung berdebar keras.

Seperti mata elang Thi-hou menatapnya dengan dingin dan


menyeramkan, sejenak kemudian baru ujarnya lagi:

"Kau pasti mengetahuinya, sebab pada saat ini hanya ada satu
tempat yang bisa ia datangi!"

"Tempat manakah itu?"

"Di sini!"

"Kenapa dia pasti dapat datang ke mari?"

"Karena ia telah berjanji dengan toa-tauke bahwa malam ini


akan berjumpa di tempat ini, tentu saja dia akan datang lebih
dulu ke mari untuk melihat keadaan di sini, dia harus tahu
perangkap dan jebakan apakah yang telah disiapkan toa-tauke
di sini!"

Menyusul kemudian kembali ujarnya:

"Dalam kota ini hanya tempat ini merupakan tempat yang


Pendekar Gelandangan 367

paling dikenal olehnya, aku lihat setiap orangpun menaruh


kesan yang cukup baik kepadanya, ia bisa mencari
sembarangan tempat untuk menyembunyikan diri, orangnya
toa-tauke pasti tak akan menemukannya, sebab kalau aku,
mungkin saja akupun dapat berbuat demikian!"

Han-toa-nay-nay menghela napas panjang.

"Aaaaaiii.....sayang dia bukan Hou-toaya, ia tidak secermat


dan seteliti Hou-toaya, jadi belum tentu dia akan berbuat
demikian!"

Thi-hou tertawa dingin.

"Hou toaya, jika kau tidak percaya, silahkan mengadakan


penggeledahan sendiri di seluruh gedungku ini", kata Han toa-
nay-nay.

Ia tertawa paksa, lalu terusnya:

"Bukankah Hou-toaya juga hapal sekali dengan gedung ini?"

Thi-hou menatapnya tajam-tajam, selang sesaat kemudian


tegurnya:

"Ia benar-benar tidak datang kemari?"

"Seandainya ia telah datang, masa aku tidak tahu?"

Sekali lagi Thi-hou menatapnya lama sekali, tiba-tiba ia


bangkit berdiri, lalu dengan langkah lebar berlalu dari situ.
Pendekar Gelandangan 368

Sang surya telah condong ke langit barat.

Han toa-nay-nay duduk seorang diri di situ sambil termangu-


mangu, hingga ia merasa yakin kalau Thi-hou sudah jauh
meninggalkan tempat itu. Pelan-pelan dia baru bangkit berdiri,
menghela napas dan bergumam seorang diri:

"A-kit wahai A-kit, sebenarnya siapakah kau? Masih belum


cukupkah kesulitan yang kau cari buat dirimu sendiri? Kenapa
kau masih mencarikan begini banyak kesulitan bagi orang
lain?"

Di belakang dapur terdapat sebuah rumah kayu kecil dan


bobrok, dalam rumah kayu itu hanya terdapat sebuah
pembaringan, sebuah meja dan sebuah kursi.

Inilah rumah tinggal si koki yang bisu, meskipun kotor dan


sempit, baginya sudah merupakan sebuah sorga-loka yang
nyaman.

Setelah bekerja keras seharian penuh, di tempat inilah


mereka akan berbaring dengan tenang dan tenteram serta
melakukan pekerjaan yang mereka inginkan.

Di atas pembaringan itulah mereka telah lewatkan masa


penghidupan yang paling manis, paling indah dan paling
syahdu.

Sekalipun suaminya jelek dan kasar, sekalipun istrinya ceking


dan kecil, akan tetapi mereka dapat memberikan kegembiraan
Pendekar Gelandangan 369

dan kepuasan bagi lawan jenisnya, sebab mereka tahu hanya


dengan berbuat demikianlah mereka baru dapat meraih
kebahagiaan yang didambakan.

Apa yang mereka miliki akan mereka nikmati pula sepuas


mungkin. Terhadap penghidupan mereka yang serba pas-
pasan dan sederhana, merekapun merasa sangat puas.

Sekarang mereka suami isteri berdua duduk di atas


pembaringan mereka, sepasang tangannya yang berada di
atas meja saling menggenggam dengan kencangnya.

Memandang kemesraan mereka berdua, A-kit menghela


napas panjang dalam hatinya, ..........kenapa aku selalu tak
dapat merasakan penghidupan yang tenang dan penuh
kedamaian seperti yang mereka alami?

Di atas meja tersedia tiga piring hidangan kecil, di situpun


tersedia poci berisi arak.

Ketika si bisu menuding poci arak, istrinya lantas menjelaskan:

"Arak itu bukan arak baik, tapi benar-benar arak asli, si bisu
tahu kalau kau paling suka minum arak!"

A-kit tidak berbicara.

Tenggorokannya seakan-akan telah tersumbat, dia tahu


penghidupan yang mereka lewatkan sudah cukup payah dan
menderita untuk memperoleh dua poci arak ini, mungkin
mereka harus mengorbankan satu stel mantel dingin yang
dimilikinya.
Pendekar Gelandangan 370

Ia sangat berterima kasih atas maksud baik mereka


terhadapnya, tapi hari ini ia tak boleh minum arak, setetes
arakpun tak boleh membasahi bibirnya.

Ia cukup memahami keadaan sendiri, asal ia mulai minum


arak maka tak akan berhenti sebelum ia benar-benar mabuk.

Jika ia mabuk hari ini, maka jiwanya pasti akan melayang di


tangan toa-tauke dan ia tak akan lolos dari cengkeramannya
dalam keadaan hidup.

Si bisu mengernyitkan alis matanya dan sang istripun


menjelaskan:

"Kenapa kau tidak minum? Meskipun arak kami bukan arak


berkwalitet baik, paling tidak bukan kami peroleh dengan jalan
mencuri!"

Bentuk tubuhnya persis seperti sebuah gurdi, apalagi sewaktu


berbicara, tajamnya melebihi sebuah gurdi.

A-kit tidak menjadi marah atau tak senang hati, karena di


tahu perempuan itu seperti pula suaminya mempunyai sebuah
hati yang hangat dan penuh kasih sayang.

Iapun tahu dalam menghadapi manusia macam mereka, ada


banyak persoalan yang selamanya tak mungkin dapat
dijelaskan.

Oleh sebab itu, terpaksa dia harus minum arak itu.


Pendekar Gelandangan 371

Selamanya tak dapat menampik kebaikan orang apalagi orang


itu adalah manusia macam si bisu.

Menyaksikan ia mengeringkan secawan arak, si bisupun


tertawa, cepat ia penuhi kembali cawannya yang kosong itu
dengan arak, meskipun banyak perkataan hendak diucapkan
keluar, dari tenggorokannya hanya bisa mengeluarkan suara
parau yang panjang pendek tak menentu.

Untunglah ia mempunyai seorang isteri yang telah lama


mendampinginya, ia dapat memahami perasaan hati suaminya
waktu itu.

Maka dengan suara lirih ia menjelaskan:

"Si bisu ingin memberitahukan kepadamu, bahwa kau


bersedia minum araknya berarti kau telah menghargainya, ia
telah menganggapmu sebagai sahabat yang paling karib,
saudara yang paling baik!"

Ketika A-kit mendongakkan kepalanya, ia dapat merasakan


sorot mata si bisu yang penuh dengan perasaan persahabatan
serta keakraban yang hangat.

Ya, dalam keadaan ini mana mungkin arak tersebut tidak ia


teguk sampai habis?

Si bisu sendiripun meneguk satu cawan arak, lalu menghela


napas dengan puas. Baginya minum arak sudah merupakan
suatu perbuatan yang amat sulit untuk tercapai, seperti juga ia
begitu mendambakan suatu persahabatan yang akrab dan
hangat.
Pendekar Gelandangan 372

Ia suka minum arak, tapi sangat jarang ada arak yang bisa
diminum, ia suka berteman tapi belum pernah ada orang yang
bersedia menganggapnya sebagai teman.

Sekarang kedua-duanya telah ia dapatkan, terhadap


kehidupan manusia, ia tidak mempunyai keinginan yang lain
lagi, dia hanya merasa puas dan amat berterima kasih.

Ya, ia berterima kasih kepada Thian karena telah memenuhi


segala sesuatu yang diinginkan.

Menyaksikan mimik wajahnya itu, A-kit merasa


tenggorokannya seakan-akan kembali tersumbat. Sumbatan
tersebut hanya bisa disingkirkan dengan minum arak
sebanyaknya, maka sudah banyak arak yang berpindah ke
dalam perutnya.

Dalam keadaan beginilah tiba-tiba Han toa-nay-nay


menerobos masuk ke dalam, dengan terkejut dan mata
terbelalak ditatapnya cawan kosong di tangannya itu,
kemudian tegurnya:

"Hei, kau lagi-lagi sedang minum arak?"

"Hanya minum sedikit!", jawab A-kit.

"Kau sendiri juga tahu bahwa pada hari ini tidak sepantasnya
kau minum arak, kenapa kau minum arak juga?"

"Karena si bisu adalah sahabatku!"


Pendekar Gelandangan 373

Han toa-nay-nay menghela napas panjang.

"Teman, teman, berapa tahilkah harganya seorang teman?


Apakah ia jauh lebih berharga daripada selembar jiwamu
sendiri?"

A-kit tidak menjawab, diapun tidak perlu menjawab.

Siapapun jua pasti dapat mengetahui, bahwa ia memandang


suatu persahabatan jauh lebih berharga daripada selembar
nyawa sendiri.

.......Nyawa sebenarnya hanya sesuatu yang kosong, sekalipun


kekosongan tersebut dapat diisi dengan pelbagai persoalan
yang berharga, tapi kalau di antaranya kekurangan suatu
persahabatan, maka berapa banyak lagi yang masih tersisa?

Han toa-nay-nay sendiripun seorang peminum arak, ia cukup


memahami bagaimanakah perasaan dari seorang setan arak
yang mulai minum arak lagi setelah berpantang banyak
waktu?

Dalam suasana menjelang pertarungannya melawan manusia


macam toa-tauke dan manusia macam Thi-hou, keadaan
semacam itu justru akan menghancurkan semangat dan
tenaga seseorang.

Tiba-tiba Han toa-nay-nay mengulurkan tangannya dan


menyambar poci arak di meja, diteguknya hingga habis sisa
arak yang masih tertinggal dalam poci tersebut.

Arak berkwalitet rendah biasanya merupakan arak keras,


Pendekar Gelandangan 374

sinar matanya segera menunjukkan tanda-tanda mabuk,


sambil melotot ke arah A-kit segera tegurnya:

"Tahukah kau barusan ada manusia macam apa yang datang


mencari jejakmu.......?"

"Thi-hou maksudmu?"

"Tahukah kau manusia macam apakah itu?"

"Seorang manusia yang sangat lihay!"

Han toa-nay-nay segera tertawa dingin.

"Heeehhh.......heeeeehhh.....heeeeehhh....bukan cuma lihay,


bahkan jauh lebih lihay daripada apa yang kau bayangkan
semula!"

"Oya?"

"Bukan saja dia mengetahui bahwa kau pasti berada di sini,


lagi pula diapun bisa menduga siapakah kau?"

"Siapakah kau?"

"Seorang yang sebenarnya sudah mati!"

Paras muka A-kit sedikitpun tidak berubah, hanya ujarnya


dengan ewa:

"Tapi sekarang aku toh masih hidup!"


Pendekar Gelandangan 375

"Diapun tidak percaya kalau kau telah mati, tapi aku


percaya!"

Setelah berhenti sejenak, dengan suara lantang dia lantas


berteriak kembali:

"Aku percaya, dia pasti dapat membuat kau mati sekali lagi!"

"Kalau aku adalah seorang yang seharusnya sudah mati, apa


salahnya kalau mati sekali lagi?"

Han toa-nay-nay tidak dapat berbicara lagi.

Terhadap manusia semacam ini, dia benar-benar merasa


kehabisan akal dan daya, terpaksa ujarnya setelah menghela
napas panjang.

"Padahal Thi-hou sendiripun mengakui, seandainya kau


benar-benar adalah orang itu, maka dia sendiripun bukan
tandinganmu, tapi kau......mengapa kau justru
menghancurkan dirimu sendiri? Kenapa kau justru minum
arak dalam keadaan seperti ini?"

Makin berbicara kobaran hawa amarah dalam dadanya makin


memuncak, dibantingkan poci arak itu ke atas tanah keras-
keras, kemudian makinya kalang kabut:

"Apalagi arak yang diminum adalah arak kwalitet rendah


semacam Sau-to-cu yang bisa membuat nyawapun ikut
terminum ludas!"

Paras muka A-kit masih tetap dingin tanpa emosi, ia hanya


Pendekar Gelandangan 376

mengucapkan dua patah kata:

"Keluar kau!"

"Apa? Kau tahu aku adalah manusia macam apa di sini? Kau
suruh aku keluar dari sini?", teriak Han toa-nay-nay sambil
mencak-mencak kegusaran.

"Aku tidak ambil perduli siapakah kau dan apa jabatanmu di


sini, aku hanya tahu tempat ini adalah rumah temanku, entah
siapapun yang berani berteriak dan berkaok-kaok dalam
rumah sahabatku, aku pasti akan mempersilahkannya keluar
dari sini"

"Tahukah kau siapa yang telah memberikan rumah ini


kepadanya?"

Pelan-pelan A-kit bangkit berdiri, sambil memandang


wajahnya lekat-lekat dia berseru:

"Aku hanya tahu aku minta kepadamu untuk keluar dari sini,
lebih baik kau segera ke luar dari tempat ini!"

Dengan terperanjat Han toa-nay-nay memandang ke arahnya,


lalu selangkah demi selangkah mundur ke belakang.

Dalam sekejap mata itulah dia baru merasakan bahwa A-kit


yang tak berguna ini seakan-akan telah berubah menjadi
seseorang yang lain, berubah menjadi begitu sadis begitu
kejam dan tidak berperasaan.

Setiap perkataan yang ia ucapkan kini telah berubah menjadi


Pendekar Gelandangan 377

perintah, entah siapapun juga orang itu, mereka tak akan


berani membangkang perintahnya itu.

Karena pada saat itu, siapapun juga akan merasakan bahwa


barang siapa berani membangkang perintahnya, maka dia
akan segera merasa menyesal.

Seseorang tak nanti akan mengalami perubahan sedemikian


cepatnya, hanya seseorang yang sudah lama terbiasa memberi
perintah kepada orang lain yang bisa memiliki kewibawaan
sebesar ini.

Hingga mundur sampai di pintu luar, Han toa-nay-nay baru


berani mengucapkan kata-kata seperti apa yang ingin dia
katakan:

"Kau pasti orang itu, kau pasti adalah orang itu!"

"Bukan!", seseorang menyambung ucapannya secara tiba-tiba


dari belakang tubuhnya.

Ketika Han toa-nay-nay memutar tubuhnya, ia telah


menyaksikan Thi-hou si harimau baja telah berdiri di situ.

Wajahnya sekaku batu karang yang terkikis oleh hembusan


angin, begitu kasar, begitu seram dan begitu mantap.

Wajah Han-toa-nay-nay mulai berkerut dan gemetar keras


lantaran ngeri dan takut, bisiknya tergagap:

"Kau......kau bilang dia........dia bukan?"


Pendekar Gelandangan 378

"Terlepas siapakah dia dahulunya, sekarang ia telah berubah,


sekarang ia telah berubah menjadi seorang setan arak yang
sama sekali tak ada gunanya!"

"Dia bukan setan arak, jelas dia bukan setan arak!", bantah
Han-toa-nay-nay.

"Perduli siapakah dia, hanya manusia pengecut, hanya setan


arak saja yang berani minum arak menjelang berlangsungnya
suatu duel!"

"Tapi akupun tahu bahwa dalam dunia persilatan terdapat


tidak sedikit pendekar arak, dia harus minum sampai mabuk
lebih dahulu sebelum kepandaian saktinya dapat
dipergunakan!"

Thi-hou tertawa dingin.

"Cerita-cerita tentang pendekar arak hanya bisa dipakai untuk


membohongi anak kecil!"

"Tapi setiap kali aku sudah minum arak, tanpa terasa nyaliku
menjadi bertambah besar!", bantah Han toa-nay-nay lagi.

"Seorang lelaki yang sejati, tidak akan mempergunakan arak


untuk membesarkan nyalinya"

"Setelah minum arak, tenagaku pun terasa bertambah lebih


besar dan kuat........"

"Pertarungan antara dua orang jago lihay, bukan tenaga yang


dipertarungkan"
Pendekar Gelandangan 379

Han toa-nay-nay bukannya seorang perempuan yang tak


pernah bergaul dengan masyarakat luas, tentu saja diapun
memahami ucapan tersebut.

Sesungguhnya ia sengaja mengajak Thi-hou mengobrol


dengan tujuan agar membuyarkan perhatian orang itu serta
menciptakan kesempatan baik A-kit.

Entah mau kabur, atau hendak turun tangan, ia dapat


membantu A-kit untuk menciptakan kesempatan baik itu.

Akan tetapi A-kit sama sekali tidak berkutik, bergeserpun


tidak.

Kembali si harimau baja berkata:

"Arak dapat membuat reaksi seseorang menjadi lambat,


membuat dugaannya menjadi keliru, dalam pertarungan
antara sesama jago lihay, hanya sedikit kesalahan yang
dilakukan akan mengakibatkan suatu kegagalan total"

Kata-kata semacam itu sudah tidak ditujukan lagi kepada Han


toa-nay-nay, sepasang matanya yang tajam telah menatap
wajah A-kit tanpa berkedip, kemudian sepatah demi sepatah
kata, dia melanjutkan:

"Kalau ada dua orang jago lihay sedang bertarung, bila kalah
dalam satu gerakan saja, maka akibatnya adalah kematian
yang mengerikan!"

Paras muka A-kit sama sekali tidak memperlihatkan


Pendekar Gelandangan 380

perubahan emosi, hanya tanyanya dengan suara ewa:

"Kau adalah seorang jago lihay?"

"Kalau toh aku sudah mengetahui siapakah kau, seharusnya


kau juga telah mengetahui siapakah aku!"

"Aku hanya tahu kau adalah orang yang mengundang aku


makan bakmi daging sapi, sayang kau tidak memberi uang
untuk membayar rekening tersebut, jadi rekening itu akhirnya
aku bayar sendiri"

Setelah berhenti sebentar, lanjutnya lagi dengan suara tawar:

"Walaupun aku bukan seorang jago lihay, tapi aku tak pernah
makan makanan orang tanpa membayar!"

Thi-hou menatapnya lekat-lekat, sekujur tubuhnya terutama


setiap bagian tulang persendiannya tiba-tiba
memperdengarkan suara letupan-letupan nyaring bagaikan
berondong mercon.

Itulah ilmu tenaga gwakang yang sudah mencapai tingkat


kesempurnaan yang paling tinggi, orang menyebutnya sebagai
ilmu It-cuan-pian (serenteng mercon).

Dalam dunia persilatan dewasa ini hanya dua orang yang


berhasil melatih ilmunya hingga mencapai ke tingkatan
setinggi ini.

Mereka adalah Hong-im-lui-hou (Harimau geledek penimbul


badai) Lui Ceng-thian, yang belum pernah menjumpai
Pendekar Gelandangan 381

tandingannya selama hidup dan selama ini berkeliaran di


wilayah Liau-pak, serta Giok-pah-ong (Raja bengis kemala) Pek
Im-shia, seorang pentolan kaum Liok-lim yang selama dua
puluh tahun menguasai bukit Ci-lian-san.

Sejak berhasil menguasai sebagian besar dunia persilatan,


Giok-pah-ong pun mengundurkan diri dari keramaian dunia,
jejaknya sudah jarang sekali ditemukan dalam dunia
persilatan.

Jejak si Harimau geledek penimbul badai pada hakekatnya


memang misterius dan jarang ditemui orang, apalagi
belakangan ini bahkan kabar beritanyapun tak kedengaran
lagi.

Ada orang yang mengatakan bahwa dia telah tewas di ujung


pedang seorang jago pedang kenamaan, tapi ada pula orang
yang mengatakan bahwa ia telah mati bersama si jago pedang
itu.

Konon menurut cerita yang tersiar di dalam dunia persilatan,


jago pedang yang dimaksudkan itu tak lain adalah Yan Cap-sa,
si jago pedang yang tiada tandingannya di kolong langit.

Bahkan ada pula orang yang berkata bahwa Lui Ceng-thian


telah menggabungkan diri dengan suatu organisasi rahasia
dalam dunia persilatan, ia telah menjadi salah seorang
pentolan di antara delapan pentolan yang memimpin
organisasi rahasia tersebut.

Menurut cerita, organisasi rahasia itu jauh lebih rahasia lagi


bila dibandingkan dengan perkumpulan Cing-liong-hwee (naga
Pendekar Gelandangan 382

hijau) yang termasyhur di masa lampau, bahkan kekuasaannya


jauh lebih besar dan luas........

Setelah berkumandangnya serentetan bunyi mercon tadi,


tubuh Thi-hou yang tinggi besar seakan-akan berubah lebih
besar dan mengerikan.

Tiba-tiba ia menghembuskan napas panjang sambil


membentak keras:

"Masihkah kau tidak tahu siapa aku ini?"

A-kit menghela napas panjang.

"Aaaaiiii......hanya satu hal yang masih belum kupahami!",


sahutnya.

"Dalam hal yang mana?"

"Seharusnya kau tewas di ujung pedang Yan Cap-sa, kenapa


sekarang kau malah menjadi kaki-tangannya orang lain?"

Thi-hou menatapnya tajam-tajam, mendadak diapun


menghela napas panjang.

"Aaaaiiiii.......ternyata memang kau, ternyata memang benar-


benar kau, aku tak salah lagi!"

"Kau mempunyai keyakinan?"

"Kecuali kau, siapakah manusia di dunia ini yang begitu berani


bersikap kurang ajar kepada aku Lui Ceng-thian?"
Pendekar Gelandangan 383

"Apakah toa-tauke mu juga tidak berani?"

Thi-hou tidak menjawab, kembali katanya:

"Hampir selama tujuh tahun terakhir ini, setiap waktu setiap


saat aku selalu mengharapkan bisa memperoleh kesempatan
baik untuk berduel denganmu, tapi justru kau juga orang yang
paling tidak ingin kutemui, karena aku sama sekali tidak
mempunyai keyakinan untuk bisa menangkan dirimu......."

"Pada hakekatnya kau sama sekali tidak mempunyai


kesempatan tersebut!"

"Tapi hari ini kesempatan baikku telah tiba, belakangan ini


terlalu banyak arak yang kau minum, kesempatanmu untuk
berlatih diri tentu jauh lebih berkurang"

A-kit tak dapat menyangkal kebenaran dari ucapannya itu.

"Sekalipun hari ini aku bakal mati di ujung pedangmu",


demikian Thi-hou melanjutkan, "itupun merupakan apa yang
ku idamkan selama ini, jadi matipun tak akan menyesal, cuma
saja........."

Tiba-tiba sinar matanya memancarkan hawa pembunuhan


yang sangat mengerikan, terusnya:

"Cuma dalam pertarungan kita hari ini, baik siapa akan


menang dan siapa akan kalah, kita tak boleh membiarkan
orang ke tiga yang mengetahui rahasia kita ini menyiarkan
rahasia tersebut di luaran"
Pendekar Gelandangan 384

Paras muka A-kit berubah hebat.

Thi-hou telah memutar badannya secepat kilat sebuah


kepalan segera di sodok ke depan, tubuh Han toa-nay-nay
seketika itu juga mencelat jauh sekali dari tempat semula.

Ketika tubuhnya tergeletak di tanah, selamanya ia tak dapat


menjual belikan tubuh dan masa remaja setiap perempuan di
dunia ini lagi, diapun tak akan sanggup untuk membocorkan
rahasia dari siapapun juga.

Paras muka A-kit berubah sepucat kertas, namun ia tidak


mencegah perbuatannya itu.

Thi-hou menghembuskan napas panjang, tenaga baru kembali


pulih, katanya kemudian:

"Apakah dua orang yang berada dalam rumah ini adalah


sahabatmu?"

"Benar!"

"Aku tidak ingin membinasakan temanmu, tapi dua orang itu


bagaimanapun jua harus mati!"

"Kenapa?"

"Di kolong langit dewasa ini ada berapa orang yang mampu
mengalahkan Lui Ceng-thian?", tanya Thi-hou dingin.

"Tidak terlalu banyak"


Pendekar Gelandangan 385

"Bila kau berhasil menang, tentunya kaupun tidak ingin


membiarkan orang lain membocorkan rahasia dari hasil
pertarungan ini kepada orang lain, bukan?"

A-kit tak dapat menyangkal perkataan tersebut.

Asal tidak ada orang lain yang membocorkan rahasia mereka,


andaikata ia menang, maka yang dikalahkan olehnya tidak
lebih hanya seorang budak di bawah pimpinan Toa-tauke,
sebaliknya jika dia yang kalah, maka yang mati tidak lebih
hanya seorang A-kit yang tak berguna.

Bagaimana jika A-kit tetap hidup? Dan bagaimana pula jika ia


mati?

"Mati hidup kita bukan persoalan", kembali Thi-hou berkata,


"tapi rahasia kita tak boleh sekali-kali sampai bocor dan
diketahui orang lain"

A-kit membungkam dalam seribu bahasa, wajahnya berubah


semakin pucat pasi.

"Kalau memang demikian, mengapa kau masih juga belum


turun tangan sendiri?", tegur Thi-hou.

A-kit termenung lama sekali, akhirnya pelan-pelan ia baru


berkata:

"Aku tidak dapat pergi, sebab mereka semua adalah sahabat-


sahabatku.......!"
Pendekar Gelandangan 386

Thi-hou menatapnya lekat-lekat, mendadak ia menengadah


dan tertawa terbahak-bahak.

"Haaaaahhhh..... haaaahhhhh..... haaahhhhh.... teringat di


kala kau malang melintang dalam dunia persilatan dengan
sebilah pedangmu dan tidak menemui tandingan di mana-
mana, nyawa siapakah yang pernah kau hargai seperti ini?
Demi memperoleh kemenangan perbuatan apapun pernah
kau lakukan, tapi sekarang kenapa kau tidak tega turun tangan
terhadap dua orang manusia semacam itu?"

Kemudian sambil menengadah kembali ia tertawa tergelak.

"Haaaahhhhh....... .haaaaaahhh...... haaahhhh....aku tahu kau


sendiripun pernah berkata, untuk menjadi seorang jago
pedang yang tiada tandingannya di kolong langit, maka kau
musti tidak berperasaan dan tidak kenal rasa kasihan, tapi
sekarang.....? Heeehhhhh....... heeehhhhh.... heeeehhhh....
sekarang kau telah berubah, kau sudah bukan jago pedang
yang tiada tandingannya di kolong langit lagi. Dalam
pertarungan ini kau sudah pasti akan menderita kekalahan
total!"

Tiba-tiba A-kit mengepal sepasang telapak tangannya


kencang-kencang, kelopak matapun ikut menyurut.

"Padahal apakah kau hendak membunuh mereka atau tidak,


aku sama sekali tidak ambil perduli, sebab asal aku berhasil
mengalahkan dirimu, asal aku mampu membinasakan dirimu,
apakah mereka bisa pergi dari cengkeramanku dengan begitu
saja?"
Pendekar Gelandangan 387

Kali ini A-kit benar-benar terbungkam, dia benar-benar tak


sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Setelah hening sejenak, Thi-hou si Harimau Baja, kembali


berkata lebih jauh:

"Sekalipun kau telah mengalami perubahan, tapi kau tetap


masih hidup, di manakah pedangmu?"

A-kit tidak menjawab, pelan-pelan ia membungkukkan badan


dan memungut sebatang ranting dari atas tanah.

"Itukah pedangmu?", jengek Thi-hou setelah mengawasi


beberapa kejap ranting kayu yang berada dalam genggaman
A-kit itu.

A-kit tetap tenang, bahkan suaranya kedengaran agak


hambar:

"Aku telah banyak mengalami perubahan, demikian pula


dengan pedangku, senjata itupun ikut mengalami banyak
perubahan!"

"Bagus........bagus sekali........!"

Hanya kata-kata itu saja yang sanggup diucapkan, dalam


keadaan demikian kecuali beberapa patah kata tadi, apalagi
yang sanggup diutarakan keluar?

Tiba-tiba bunyi gemerutukan yang amat nyaring bagaikan


bunyi serenteng mercon kembali berkumandang memecahkan
kesunyian.
Pendekar Gelandangan 388

Sekali lagi dia telah menghimpun segenap tenaga dalam


kekuatannya untuk bersiap-siap melancarkan serangan.

Tenaga dalam yang paling dia andalkan adalah tenaga


gwakang yang telah dilatihnya hingga mencapai puncak
kesempurnaan itu, suatu kepandaian sakti yang sukar
ditemukan keduanya di dunia ini.

Dan orangnya memang tak lain adalah Lui Ceng-thian, si jago


tangguh yang malang melintang dalam dunia persilatan
selama ini tanpa berhasil ditemukan tandingannya.

Dalam hatinya penuh diliputi keyakinan serta percaya pada


diri sendiri, dan tampaknya ia sudah mempunyai keyakinan
serta persiapan yang cukup masak untuk menghadapi
pertempuran kali ini.

ooooOOOOoooo
Pendekar Gelandangan 389

Bab 10. Pedang Si A-kit

Sinar matahari senja memancar merah bagaikan darah, tapi


darah belum sampai mengalir ke luar.

Pedang A-kit masih berada dalam genggamannya.

Meskipun senjata tersebut bukan sebilah pedang sungguhan,


sekalipun hanya sebatang ranting kering yang terjatuh dari
atas dahan, tapi setelah berada di tangannya segera berubah
menjadi sebuah senjata pembunuh yang tak terkirakan
dahsyatnya.

Ketika ilmu sakti 'serentengan mercon' dari Lui Ceng-thian


baru saja dikerahkan, ketika seluruh tubuhnya sedang
dipenuhi oleh daya penghancur serta rasa percaya pada diri
sendiri, pedang A-kit telah menusuk ke depan, persis menutul
di atas persendian tulang yang baru saja mengeluarkan bunyi
gemeretukan itu.

Serangan itu dilakukan sangat enteng dan sedikit


mengambang, bahkan ranting kering itupun ikut bergetar
mengikuti bunyi gemerutukan persendian tulang itu.

Mula pertama ranting itu berada di atas jari manis tangan


kirinya, kemudian melompat naik ke atas pergelangan tangan,
lalu melompat lagi ke atas sikut kiri, bahu, punggung.....

Begitu ilmu sakti 'serentengan mercon' dikerahkan, ibaratnya


guntur yang membelah bumi, untuk sesaat tak mungkin bisa
dihentikan di tengah jalan.........
Pendekar Gelandangan 390

Sekujur tubuh Thi-hou ibaratnya sudah tertempel pada


ranting kering tersebut, bergerak sedikitpun tak bisa.

Ketika ranting kayu itu melompat naik ke atas bahu kirinya,


wajah orang itu telah berubah menjadi pusat pasi seperti
mayat, peluh dingin sebesar kacang mengucur keluar bagaikan
hujan gerimis.

Menanti setiap persendian tulang di sekujur tubuhnya telah


berbunyi dan pada akhirnya berhenti pada jari kelingking pada
tangan kanannya, ranting kayu itu tiba-tiba berubah menjadi
bubuk dan membuyar terhembus angin dingin.

Tubuhnya masih juga berdiri tak bergerak di tempat semula,


peluh dingin yang membasahi wajahnya tiba-tiba saja menjadi
kering dan merekah, bola matanya penuh dengan jalur-jalur
merah darah.

Lama sekali ia menatap wajah A-kit, akhirnya meluncur juga


sepatah kata. Suaranya ketika itu ikut berubah menjadi berat,
rendah dan parau.

Sepatah demi sepatah kata ia bertanya:

"Ilmu pedang apakah itu?"

"Itulah ilmu pedang yang khusus dipergunakan untuk


memecahkan ilmu 'serentengan mercon'!"

"Bagus, bagus......."

Ketika kata 'bagus' yang kedua kalinya terlontar keluar dari


Pendekar Gelandangan 391

mulutnya, mendadak tubuhnya yang lebih kuat dari sebuah


patung Lo-han baja itu mulai lemas, mulai ambruk dan roboh
ke tanah.......

Tubuhnya yang kuat dan keras bagaikan baja, kini telah


berubah menjadi lemas dan sama sekali tak berguna lagi.

Bubuk ranting masih terbang menyebar mengikuti hembusan


angin, tapi tubuhnya telah berhenti bergerak untuk
selamanya.

Sinar matahari sore telah pudar.

Pelan-pelan A-kit membuka telapak tangannya, sepotong


ranting kering yang masih berada dalam genggamannya
segera berubah menjadi bubuk dan ikut tersebar mengikuti
hembusan angin.

Itulah suatu kekuatan yang amat menakutkan, bukan saja


ranting kering itu telah tergetar hancur menjadi bubuk,
tangannya ikut tergetar pula sehingga terasa kaku.

Akan tetapi ia sendiri sama sekali tidak mempergunakan


tenaganya walau hanya sedikit jua.

Semua kekuatan terpancar keluar dari setiap persendian yang


meletup-letup di sekujur badan Thi-hou, dan dia tak lebih
hanya menggunakan tenaga yang ada untuk meminjam tenaga
belaka, dengan mempergunakan getaran serta kekuatan yang
terpancar ke luar dari tulang persendian Thi-hou. Yang
pertama dia menghancurkan tulang persendian, kedua yang
berada di atas seluruh tubuhnya pula.
Pendekar Gelandangan 392

Sekarang seluruh tulang persendian di sekujur tubuh Thi-hou


telah terpukul hancur...... terpukul hancur oleh kekuatannya
sendiri.

Seandainya A-kit pun mengerahkan tenaganya, maka


kemungkinan besar kekuatan tersebut akan berbalik mengalir
ke dalam ranting, menyusup lengan dan menghantam isi
perutnya.

Itulah yang dikatakan bila dua orang jago lihay sedang


bertarung, mereka bukan bertarung dengan kekuatan.

Thi-hou sendiri memahami pelajaran tersebut, sayang ia


menilai terlalu rendah musuhnya yang bernama A-kit ini.

......Kau telah berubah, kau sudah bukan seorang jago pedang


yang tiada tandingannya lagi di dunia ini, kau pasti akan
menderita kalah dalam pertarungan ini.

Sombong, tinggi hati, pada hakekatnya persis seperti arak,


bukan saja dapat salah dalam penilaian, dapat pula membuat
orang menjadi mabuk.

A-kit telah minum arak, iapun telah memberikan pula sepoci


kepadanya.......'sepoci kesombongan'.

A-kit tidak mabuk, tapi ia telah mabuk.

......Yang dipertarungkan oleh jago-jago lihay bukan cuma


kekuatan dan kepandaian silat, merekapun harus beradu
kecerdasan.
Pendekar Gelandangan 393

Bagaimanapun juga, memang selalu lebih baik daripada kalah,


untuk mendapatkan kemenangan. Orang memang musti
berusaha serta memperjuangkannya dengan cara apapun.

Ketika angin berhembus lewat, A-kit masih juga berdiri


termangu di tempat semula, saat itulah ia menemukan bahwa
si bisu suami isteri masih berdiri di luar rumah mereka sambil
memandang ke arahnya.

Sorot mata si bisu memancarkan suatu perubahan mimik


wajah yang aneh, sedangkan istrinya tertawa dingin tiada
hentinya.

"Heeeehhhh..... heeeehhh.... heehhhhhh.... sekarang kami


baru tahu manusia macam apakah kau sebenarnya", demikian
ia berseru.

A-kit tidak menjawab, sebab diapun sedang bertanya pada


diri sendiri:

"Manusia macam apakah sebenarnya aku ini?"

Jawab bininya si bisu:

"Sesungguhnya kau tak boleh minum arak, tapi kau memaksa


untuk minumnya, hal ini disebabkan kau tahu bahwa Thi-hou
pasti akan datang, kaupun ingin membunuh kami, tapi tidak
juga melakukannya, ini disebabkan karena kau tahu bahwa
hakekatnya kami tak akan berhasil kabur, kalau tidak mengapa
kau biarkan Thi-hou membunuh Han-toa-nay-nay?"
Pendekar Gelandangan 394

Nada suaranya selalu lebih tajam daripada sebuah gurdi,


terusnya lebih jauh:

"Kau sengaja berbuat demikian karena kau berharap Thi-hou


menganggapmu telah berubah, sengaja membuat ia tak
pandang sebelah mata kepadamu, dan kini setelah kau
membunuhnya, kenapa masih belum juga datang ke mari
untuk membunuh kami suami isteri berdua? Apakah kau tidak
tahu kalau sampai kami membocorkan rahasiamu kepada
orang lain?"

Pelan-pelan A-kit berjalan maju ke depan.

Dengan penuh kemurkaan bininya si bisu telah membanting


uang perak itu keras-keras ke tanah, lalu teriaknya lebih jauh:

"Dari dalam periuk nasi tak akan muncul uang sendiri,


kamipun tidak menginginkan uang perakmu, kalau toh kau
anggap sudah tidak berhutang lagi kepada kami, kamipun
tidak merasa berhutang lagi kepadamu........."

A-kit mengulurkan tangannya pelan-pelan ke depan.

Tapi bukan uang perak di atas tanah yang diambil, diapun


tidak membunuh mereka, ia tak lebih hanya menggenggam
tangan si bisu.

Si bisupun menggenggam tangannya.

Ke dua orang itu sama-sama tidak bersuara, seakan-akan di


dunia ini banyak terdapat persoalan dan perasaan yang
sesungguhnya tak dapat diutarakan dengan perkataan.
Pendekar Gelandangan 395

Persoalan di antara kaum pria, sesungguhnya terdapat pula


banyak hal yang tidak akan dipahami oleh kaum perempuan.

Sekalipun seorang perempuan sudah banyak tahun hidup


berdampingan dengan seorang pria, walaupun mereka sudah
hidup senang bersama menderita bersama selama banyak
waktu, belum berarti ia dapat memahami seluruh jalan pikiran
serta perasaan dari lelaki tersebut.

.......Pria sendiri belum tentu juga benar-benar bisa


memahami jalan pemikiran serta perasaan dari kaum
perempuan.

Akhirnya A-kit berkata:

"Meskipun kau tak pandai berbicara, tapi apa yang ingin kau
katakan di dalam hati telah kupahami semua!"

Si bisu manggut-manggutkan kepalanya, air mata tampak


mengembang dalam kelopak matanya, kemudian meleleh
keluar........

"Aku percaya kau tak akan membocorkan rahasiaku, aku amat


mempercayai dirimu!", kembali A-kit berkata.

Sekali lagi digenggamnya tangan si bisu kencang-kencang,


kemudian tanpa berpaling lagi ia pergi meninggalkan tempat
itu.

Ia tak tega untuk berpaling, sebab diapun tahu sepasang


suami-isteri yang sederhana itu mungkin tak akan merasakan
Pendekar Gelandangan 396

lagi penghidupan meski sengsara tapi amat tenang dan penuh


kedamaian itu.

Tanpa terasa ia mulai berpikir kepada diri sendiri.

.......Sesungguhnya manusia macam apakah aku ini? Kenapa


selalu mendatangkan banyak kesulitan serta kesengsaraan
bagi orang lain?

.......Perbuatanku ini sebenarnya betul atau salah?

Ketika ia telah pergi jauh, air mata dalam kelopak mata si bisu
benar-benar tak dapat di bendung lagi, bagaikan hujan deras
melelehlah air mata itu dengan derasnya.

Bininya masih juga mengomel:

"Hanya kesulitan yang ia berikan untuk kita berdua, kenapa


kau masih bersikap demikian kepadanya?"

Dalam hati kecilnya si bisu menjerit:

".....Karena ia tidak memandang hina diriku, karena ia


menganggap aku sebagai sahabatnya, kecuali dia belum
pernah ada orang yang benar-benar menganggapku sebagai
seorang sahabatnya"

Untuk pertama kalinya perempuan itu tidak berhasil


memahami jeritan di dalam hati suaminya, karena ia tak
pernah dapat memahami arti kata dari suatu 'persahabatan',
iapun tak tahu berapa beratkah bobot dari persahabatan
dalam hati seorang pria.
Pendekar Gelandangan 397

Seorang pria yang benar-benar sejati, seorang lelaki jantan


yang gagah perkasa.

Mayat Thi-hou diangkut pulang dengan mempergunakan


selembar pintu kayu, kini mayat tersebut membujur di dalam
gardu segi empat dalam kebun bunga......

Senja telah menjelang tiba, cahaya lentera mulai dipasang


orang di sekitar gardu itu.

Sambil bergendong tangan dengan tenangnya Tiok Yap-cing


mengawasi mayat yang berbaring di atas pintu kayu itu,
wajahnya amat hambar sedikitpun tanpa emosi.

Seakan-akan ia sudah tidak merasa kaget atau tercengang lagi


dalam menghadapi kejadian seperti ini.

Menanti Toa-tauke muncul secara tergesa-gesa, rasa sedih


dan murung baru muncul dan menghiasi wajahnya.

Toa-tauke telah melompat masuk, ketika menyaksikan


jenazah dari Thi-hou membujur dalam gardu tersebut, ia
melompat sambil berteriak penuh kemarahan:

"Apakah lagi-lagi hasil perbuatan dari A-kit?"

Tiok Yap-cing menundukkan kepalanya, lalu menjawab


dengan sedih:

"Tak pernah kusangka klau secepat ini ia dapat menemukan


A-kit, lebih-lebih tak pernah kusangka kalau ia bakal mati
Pendekar Gelandangan 398

dalam keadaan yang begini mengenaskan!"

Toa-tauke tidak berhasil menemukan luka di tubuhnya, maka


kembali Tiok Yap-cing memberi penjelasan:

"Sebelum menemui ajalnya seluruh tulang persendian dalam


tubuhnya telah kena dihajar sampai hancur lebur"

"Dihancurkan oleh benda apa?"

"Aku tidak berhasil menebaknya!"

Kembali Tiok Yap-cing termenung sebentar, kemudian ujarnya


lebih lanjut:

"Aku hanya dapat mengetahui bahwa A-kit tidak


mempergunakan golok atau pedang, iapun tidak
mempergunakan benda keras!"

"Dari dasar apakah kau dapat berkata demikian?", Toa-tauke


segera bertanya dengan perasaan ingin tahu.

"Di atas pakaian yang digunakan Thi-hou, sama sekali tidak


ditemukan tanda-tanda bekas kena di pukul benda besi, pun
tidak dijumpai pakaian yang robek, sebaliknya malah
tertinggal bekas-bekas hancuran kayu"

Sepasang mata Toa-tauke terbelalak lebar-lebar.

"Masakah benda yang dipergunakan A-kit tidak lebih hanya


sebuah tongkat kayu?", teriaknya.
Pendekar Gelandangan 399

"Ya, kemungkinan sekali memang demikian!"

"Tahukah kau kepandaian apakah yang telah dilatih oleh Thi-


hou?"

"Agaknya ilmu Kim-ciong-cang, atau Thi-bu-san dan


sebangsanya, jelas semua kepandaian yang dilatihnya adalah
sejenis kepandaian yang termasuk kepandaian Gwa-kang!"

"Pernahkah kau menyaksikan sendiri kepandaian yang


dimilikinya itu.....?"

"Tidak!"

"Aku pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri, justru


lantaran kepandaian yang dimilikinya terlampau tangguh
maka aku tak pernah menanyakan asal-usulnya lagi setelah
menerima dia sebagai anak buahku, kemudian baru diketahui
bahwa dia bukan lain adalah Im-tiong-kim-kong (Manusia
raksasa dari Im-tiong) Huo Lo-sam yang sudah termasyhur
namanya selama banyak tahun di wilayah Liau-pak!"

"Aku pernah mendengar persoalan ini dari Toa-tauke!", Tiok


Yap-cing segera menerangkan.

"Meskipun ia pernah dipaksa dan dikejar oleh Lui Ceng-thian


sehingga tak mampu untuk kabur lagi, tapi aku yakin kalau
kepandaian silat yang dimilikinya sama sekali tidak selisih
banyak jika dibandingkan dengan kepandaian yang dimiliki
oleh orang she Lui tersebut, diapun tak selisih banyak pula
dengan Giok Pah-ong (Raja bengis pualam) tersebut!"
Pendekar Gelandangan 400

Tiok Yap-cing tidak berani membantah.

Tak ada orang yang berani mencurigai ketajaman mata Toa-


tauke, sebab semua persoalan yang sudah melewati
pertimbangan dari Toa-tauke tak mungkin bakal salah lagi.

"Tapi ternyata kau mengatakan bahwa A-kit yang tak


berguna, hanya mengandalkan sebuah tongkat kayu telah
berhasil meremukkan seluruh tulang persendian di
tubuhnya?", seru Toa-tauke lebih lanjut.

Tiok Yap-cing tak berani buka suara.

Toa-tauke menggenggam sepasang kepalannya kencang-


kencang, kembali ia bertanya:

"Kau jumpai mayatnya di mana?"

"Di gedung kediaman Han toa-nay-nay!"

"Tempat itu bukan sebuah kuburan, tentunya ada beberapa


orang yang menyaksikan mereka bertarung bukan?"

"Tempat di mana pertarungan itu berlangsung adalah sebuah


halaman kecil di belakang dapur yang merupakan sebuah
tempat berisi kayu bakar serta tumpukan sampah. Nona-nona
sekalian jarang sekali berkunjung ke situ, maka kecuali A-kit
dan Thi-hou sendiri, hanya tiga orang yang ikut hadir di sana
pada waktu itu"

"Siapakah ke tiga orang itu?"


Pendekar Gelandangan 401

"Han toa-nay-nay serta sepasang suami isteri si bisu yang


bekerja sebagai koki di dapur!"

"Sekarang apakah kau telah membawa mereka datang


kemari?"

"Belum!"

"Kenapa?", tanya Toa-tauke dengan marah.

"Karena mereka telah dibunuh oleh A-kit untuk


menghilangkan saksi hidup!"

Semua otot-otot hijau di atas jidat Toa-tauke pada menonjol


keluar semua, sambil gigit bibir menahan emosi, ia berseru:

"Baik, baik, begitu banyak orang yang ku pelihara, sudah


banyak tahun ku pelihara kalian semua, tapi kalian betul-betul
bodoh seperti gentong nasi, masa untuk menghadapi seorang
bocah keparat pemikul tinjapun tak becus!"

Tiba-tiba ia melompat sambil meraung lagi keras-keras:

"Mengapa kalian masih belum juga menyingsingkan lengan


bajumu dan berangkat?"

Menanti hawa amarahnya sudah agak reda, Tiok Yap-cing


baru berbisik dengan suara rendah:

"Karena kami masih harus menunggu beberapa orang lagi!"

"Siapa yang akan kita tunggu?"


Pendekar Gelandangan 402

Tiok Yap-cing berbisik dengan suara yang lebih rendah lagi:

"Menunggu beberapa orang yang bisa kita pakai untuk


menghadapi manusia yang bernama A-kit!"

Segera mencorong ke luar sinar tajam dari balik mata Toa-


tauke, diapun merendahkan suaranya sambil berbisik:

"Apakah kau merasa yakin pasti berhasil?"

"Ya, aku yakin!"

"Bagaimana kalau kau sebutkan dahulu sebuah nama dulu di


antaranya.....?"

Tiok Yap-cing membungkukkan badan dan membisikkan


sesuatu di sisi telinganya.

Semakin tajam sinar mata yang memancar ke luar dari balik


mata Toa-tauke.

Dari balik bajunya Tiok Yap-cing mengambil ke luar segulung


kertas, lalu ujarnya lagi:

"Inilah daftar nama yang ia berikan untukku, dia akan


bertanggung jawab untuk membawa datang semua orang
tersebut"

Setelah menerima gulungan kertas tersebut, Toa-tauke


segera bertanya lagi:
Pendekar Gelandangan 403

"Sampai kapan mereka baru akan tiba di sini?"

"Paling lambat besok sore!"

Toa-tauke segera menghembuskan napas panjang.

"Aaaaiii......baiklah atur semua persiapan bagiku, besok sore


akan kutemui A-kit!"

"Baik!"

Kembali Toa-tauke menepuk-nepuk bahunya lalu berkata lagi:

"Aku hanya tahu dalam persoalan apapun kau pasti dapat


aturkan segala sesuatunya bagiku"

Sekulum senyuman kembali menghiasi ujung bibirnya, ia


berkata lebih jauh:

"Malam ini kau boleh beristirahat dengan nyenyak, besok


pagipun boleh bangun rada lambat, perempuan itu.........."

Ia tidak melanjutkan kembali kata-katanya.

Tiok Yap-cing segera membungkukkan badannya memberi


hormat, katanya sambil tertawa paksa:

"Aku tahu, aku pasti tak akan menyia-nyiakan maksud baik


Toa-tauke terhadap diriku!"

Toa-tauke tertawa terbahak-bahak.


Pendekar Gelandangan 404

"Haaaahhhh.......... haaaahhhhhh...... haaahhhhhh....... bagus,


bagus sekali!"

Jenazah Thi-hou masih membujur di sana, tapi ia tidak


memandang barang sekejappun.

Toa-tauke belum pergi lama, Thi-jiu (si tangan baja) A-yong


telah memburu datang, ia berlutut di hadapan jenazah Thi-
hou dan menangis tersedu-sedu.

Menyaksikan keadaan tersebut, Tiok Yap-cing segera


mengernyitkan alis matanya, lalu menegur:

"Air mata seorang lelaki sejati tak akan mengucur keluar


secara sembarangan, manusia yang telah mati tak akan hidup
kembali, apalagi yang kau tangisi?"

"Aku bukan menangis baginya, aku menangisi diriku sendiri",


sahut A-yong sedih.

Lalu sambil menggigit bibir dan mengepal sepasang tinjunya,


ia berkata lebih jauh:

"Karena pada akhirnya aku telah menyaksikan dengan mata


kepala sendiri bagaimanakah nasib dari orang-orang yang
bekerja baginya!"

"Sikap Toa-tauke terhadap orang toh terhitung baik


sekali.....", kata Tiok Yap-cing.

"Tapi sekarang setelah Thi-hou mati, paling tidak Toa-tauke


harus aturkan penguburannya dengan sepantasnya......."
Pendekar Gelandangan 405

"Toa-tauke tahu bahwa aku bisa mengaturkan segala


sesuatunya itu baginya", tukas Tiok Yap-cing dengan cepat.

"Kau? Thi-hou mampus lantaran urusan Toa-tauke ataukah


karena urusanmu?"

Dengan cepat Tiok Yap-cing menutup bibirnya, tapi dua


puluhan orang laki-laki kekar yang berdiri dalam gardu persegi
enam telah berubah wajah sesudah mendengar perkataan itu.

Siapapun tahu betapa setianya Thi-hou terhadap Toa-tauke,


siapapun tak ingin mempunyai nasib seperti apa yang
dialaminya sekarang.........

Kembali Tiok Yap-cing menghela napas panjang, katanya:

"Aku tak mau tahu Thi-hou mati karena siapa, aku hanya tahu
jika sekarang Toa-tauke suruh aku mati, aku akan segera
berangkat untuk mati!"

Malam telah menjelang tiba.

Tiok Yap-cing menembusi jalan kecil di belakang gardu persegi


enam, berjalan ke luar dari pintu sudut dan masuk ke sebuah
lorong sempit di luar dinding pekarangan.

Setelah menembusi tikungan lorong sempit tadi, muncullah


sebuah pintu kecil.

Ia mengetuk pintu itu tiga kali, lalu mengetuk lagi dua kali,
pintupun segera terbuka, itulah sebuah halaman kecil yang
Pendekar Gelandangan 406

redup, gelap dan sama sekali tak bercahaya.

Seorang kakek bungkuk menutup pintu itu, lalu diberi palang


kayu di belakangnya.

"Mana orangnya?", tegur Tiok Yap-cing dengan suara dalam.

Kakek bungkuk itu tidak menjawab, dia hanya menggeserkan


sebuah gentong air dari sudut ruangan, lalu memindahkan
sebuah ubin batu dari permukaan lantai.

Gentong air maupun ubin batu itu bukan benda yang enteng,
tapi sewaktu memindahkannya ternyata ia seperti tidak
ngotot, seakan-akan sama sekali tidak mempergunakan
tenaga.

Sebercak sinar lirih memancar keluar dari bawah ubin, dan


menyinari undak-undakan batu.

Sambil bergendong tangan pelan-pelan Tiok Yap-cing


menuruni undak-undakan batu itu.

Ruangan bawah tanah itu lembab dan gelap, di sudut ruangan


duduk dua orang, ternyata mereka adalah si bisu dengan
bininya.

Tentu saja mereka belum mampus, A-kit sama sekali tak


melenyapkan jiwa mereka, tapi siapapun tidak tahu mengapa
mereka bisa sampai di situ.

Bahkan mereka sendiripun tidak tahu.


Pendekar Gelandangan 407

Mereka cuma teringat batok kepalanya dipukul orang secara


tiba-tiba, ketika sadar kembali tahu-tahu mereka sudah
berada di sini.

Hawa amarah masih menghiasi raut wajah si bisu, sebab


begitu ia sadar kembali dari pingsannya, sang bini lantas mulai
menggerutu tiada hentinya:

"Aku tahu hanya kesulitan dan kesialan yang ia berikan untuk


kita berdua, aku sudah tahu kalau kali ini........"

Perkataan itu tidak berkelanjutan karena ia telah


menyaksikan seseorang menuruni anak tangga batu, meskipun
sekulum senyuman masih menghiasi ujung bibirnya, tapi di
bawah sinar lampu yang redup, tampaklah betapa
misteriusnya orang itu.

Tak tahan lagi ia bergidik dan merinding, dipegangnya lengan


suaminya yang besar dan kasar itu erat-erat.

Tiok Yap-cing tersenyum sambil memandang ke arah mereka


berdua, ujarnya dengan lembut:

"Kalian tak usah takut, aku bukan datang untuk mencelakai


kalian, aku tidak lebih hanya ingin mengajukan beberapa buah
pertanyaan kepada kamu berdua"

Dari sakunya dia mengeluarkan setumpuk daun emas dan dua


keping uang perak putih, sambil disodorkan ke muka ia
berkata:

"Asal kalian bersedia menjawab dengan sejujurnya, semua


Pendekar Gelandangan 408

emas dan perak ini akan menjadi milik kalian, uang tersebut
sudah lebih dari cukup bagi kalian sebagai modal untuk
membuka sebuah warung makan kecil"

Si Bisu menggigit bibirnya kencang-kencang, sementara


isterinya menunjukkan sinar mata yang rakus, selama
hidupnya belum pernah ia menjumpai uang emas sebanyak
itu. Perempuan manakah yang tidak suka uang emas?

Senyuman yang menghiasi bibir Tiok Yap-cing lebih lembut


dan hangat.

Ia paling suka menyaksikan orang lain menunjukkan titik


kelemahan di hadapan mukanya, diapun telah melihat bahwa
cara yang ia pergunakan pasti akan mendatangkan hasil
seperti apa yang ia harapkan.

Maka ia segera bertanya:

"Sebelum mereka langsungkan pertarungan, pernahkah


kedua orang itu terlihat dalam suatu pembicaraan sengit?"

"Ya, pernah!"

"Benarkah nama asli dari Thi-hou adalah Lui Ceng-thian?


Hong-im-lui-hou (Harimau guntur angin dan mega) Lui Ceng-
thian?"

"Agaknya betul!", jawab bininya si bisu, "aku seperti


mendengar ia mengakuinya sendiri, tidak banyak orang dalam
dunia persilatan yang bisa mengalahkan Lui Ceng-thian!"
Pendekar Gelandangan 409

Tiok Yap-cing tersenyum.

Sekalipun dalam soal ini Thi-hou berhasil membohongi Toa-


tauke, tapi tak akan mampu untuk membohonginya, tak
pernah ada orang yang mampu membohonginya.

Maka ia kembali bertanya:

"Apakah A-kit telah menyebutkan namanya sendiri?"

"Tidak!", kembali bininya si bisu menjawab, "tapi aku lihat


Thi-hou sepertinya telah mengetahui siapa gerangan
dirinya......."

Selama ini si bisu hanya melotot ke arahnya, hawa amarah


memenuhi sorot matanya, tiba-tiba telapak tangannya
melayang dan........."Plok!", sebuah tamparan bersarang telak
di atas wajahnya membuat perempuan itu hampir saja
terangkat ke udara.

Perempuan itu dengan kalap berteriak:

"Aku sudah hidup sengsara denganmu semenjak muda,


kesempatan baik telah tiba, kenapa kita mesti melepaskannya
dengan begitu saja? Atas dasar apa kau harus menjaga rahasia
buat temanmu yang mendatangkan kesialan itu? Kebaikan apa
yang telah ia berikan kepada kita?"

Sekujur badan si bisu gemetar keras, ia benar-benar amat


mendongkol dan marah.

Kini, perempuan tersebut sudah bukan istri yang baik dan


Pendekar Gelandangan 410

lembut lagi, sekarang dia sudah menjadi seorang perempuan


tamak yang bersedia menjual segala-galanya demi untuk
mendapatkan uang emas.

Perempuan yang tak mau mengakui lagi suaminya lantaran


emas bukan cuma dia seorang, pun dia bukan perempuan
yang terakhir.

Secara tiba-tiba saja ia menemukan bahwa perempuan itu


dulu bersedia hidup sengsara dengannya lantaran selama ini
belum pernah ada kesempatan baik yang pernah dijumpainya,
coba kalau tidak, mungkin semenjak dulu-dulu ia telah pergi
meninggalkannya.

Jalan pemikiran tersebut ibaratnya sebuah jarum tajam yang


masuk ke dalam hati kecilnya.

Dia masih saja berteriak keras:

"Kau melarang aku mengucapkannya keluar, tapi aku justru


sengaja mengucapkannya, kalau kau tidak ingin menikmati
kebahagiaan sekarang juga, kau boleh enyah, enyah makin
jauh semakin baik, aku.........."

Belum sampai ucapan tersebut di selesaikan, si bisu telah


menerkam ke depan, sekuat tenaga dicekiknya leher
perempuan itu, sedemikian besarnya tenaga yang dipakai
untuk mencekik sehingga seluruh otot-otot hijau pada
lengannya pada menonjol keluar.

Tiok Yap-cing sedikitpun tidak bermaksud melerai atau


mencegah terjadinya tragedi tersebut, ia hanya menonton
Pendekar Gelandangan 411

dengan tenang dari samping, malah sekulum senyum


menghiasi ujung bibirnya.

Menanti si bisu menemukan bahwa tenaga yang


dipergunakan untuk mencekik terlampau besar, ketika dia
mengetahui napas isterinya sudah berhenti, ia baru
melepaskan cekikannya, sayang sudah terlalu lambat.

Dengan terkejut ditatapnya sepasang tangannya sendiri,


kemudian diperhatikan pula istrinya yang sudah menjadi
mayat, air mata dan keringat dingin mengucur keluar dengan
derasnya seperti hujan yang bercucuran.

Tiok Yap-cing segera tersenyum, katanya:

"Bagus, bagus sekali! Kau memang seorang lelaki sejati, tidak


banyak kaum pria di dunia ini yang sanggup mencekik
mampus bini sendiri dalam waktu singkat, aku sangat
mengagumimu!"

Si Bisu memperdengarkan suara raungan rendah seperti


pekikan binatang buas, tiba-tiba ia putar badan dan
menerkam ke depan.

Tiok Yap-cing segera mengebaskan ujung bajunya untuk


menahan gerak maju si Bisu, katanya dengan dingin:

"Yang membunuh binimu toh kau sendiri dan bukan aku,


kenapa kau musti menerkam aku?"

Tanpa berpaling lagi ia berjalan ke luar dari bawah tanah,


belum sampai melangkah undak-undakan batu, tiba-tiba ia
Pendekar Gelandangan 412

mendengar suara benturan nyaring.......

"Braaaaaakkkk........!"

Tak usah berpaling ia sudah tahu bahwa suara itu berasal dari
kepala manusia yang membentur di atas dinding batu, hanya
batok kepala yang hancur baru akan memperdengarkan suara
semacam ini.

Tiok Yap-cing belum juga palingkan kepalanya.

Terhadap kejadian tersebut, ia tidak merasa di luar dugaan,


pun tidak merasa bersedih hati, bukan saja ia telah
memperhitungkan akibat tersebut, masih banyak nasib
manusia yang berada dalam cengkeramannya.

Terhadap keberhasilannya ia merasa puas, dia harus mencari


akal untuk baik-baik memberi hadiah kepada diri sendiri.

******************
Hal: 53-54 hilang.
******************

"Aaaahhh.....! Kesemuanya ini tidak lain karena kau terlalu


pandai bersandiwara, ternyata kau bisa membuat dia mengira
bahwa kau paling benci kepadaku, dan membuat dia sudah
menjadi telur busuk tuapun masih merasa sangat bangga"

Dengan ujung jarinya pelan-pelan Ki-ling membuat lingkaran


di atas dada kekasihnya, lalu berbisik lagi:

"Tapi aku sendiripun merasa tidak habis mengerti,


Pendekar Gelandangan 413

sesungguhnya permainan setan apakah yang sedang kau


lakukan selama ini?"

"Permainan setan apa yang sedang kulakukan?"

"Bukankah kau telah mencarikan lagi sejumlah bala bantuan


untuk membantu si kura-kura tua itu?"

"Ehmmm! Benar......."

"Siapa-siapa saja yang telah kau undang datang?"

"Pernahkah kau mendengar tentang Hek-sat (Pembunuh


hitam)?"

Ki-ling gelengkan kepalanya berulang kali.

"Apakah Hek-sat adalah seorang manusia?", ia balik bertanya.

"Bukan, bukan cuma seorang manusia melainkan sekelompok


manusia!"

"Kenapa mereka harus mencari nama yang tak begitu sedap


didengar untuk diri sendiri?"

"Karena pada hakekatnya mereka seperti semacam penyakit


menular, barang siapa bertemu dengan mereka, maka jangan
harap jiwanya bisa ketolongan lagi!"

"Manusia macam apa saja yang tergabung dalam kelompok


tersebut.....?"
Pendekar Gelandangan 414

"Manusia beraneka ragam ada semua dalam kelompok itu,


ada yang berasal dari aliran rendah, ada pula yang berasal dari
partai Bu-tong atau partai Siau-lim, tapi lantaran melanggar
peraturan, maka mereka dikeluarkan dari perguruan, bahkan
ada pula yang datang dari Hu-siang-to di lautan Timur, orang-
orang itu dinamakan orang suku Ainu yang kebanyakan
mengembara ke daratan kita!"

Suku Ainu adalah penduduk asli Jepang yang kebanyakan


berdiam di pulau Okinawa.

"Apakah mereka semua memiliki serangkaian ilmu silat yang


amat luar biasa hebatnya?"

Tiok Yap-cing manggut-manggut.

"Ya, cuma bagian yang benar-benar paling menakutkan dari


mereka bukanlah ilmu silat yang mereka miliki!"

"Lantas apa?"

"Mereka adalah sekelompok manusia yang paling tidak tahu


malu dan paling tak menyayangi nyawa sendiri!"

Mendengar ucapan tersebut, Ki-ling menghela napas panjang,


mau tak mau dia harus mengakuinya juag:

"Ya, manusia semacam ini memang benar-benar amat sukar


untuk dilayani........"

"Oleh karena itu kau baru merasa heran, kenapa aku musti
mencari orang-orang itu untuk membantu kura-kura tua guna
Pendekar Gelandangan 415

menghadapi A-kit........?"

"Ehmmm! Benar........."

Tiok Yap-cing kembali tersenyum.

"Kenapa tidak kau bayangkan, sekarang bahkan Thi-hou yang


tersohor karena kelihayannya pun sudah mampus, kalau tiada
orang-orang itu yang melindungi keselamatan jiwanya, mana
ia berani pergi menjumpai A-kit? Kalau A-kit bahkan
wajahnyapun tak pernah djumpai, mana mungkin jiwanya bisa
direnggut?"

Dengan cepat Ki-ling dapat memahami maksud hatinya, meski


demikian toh tak tahan ia bertanya lagi:

"Setelah ada orang-orang semacam itu yang melindungi


keselamatan jiwanya, mana mungkin dia bakal mampus?"

"Ya, justru dia akan mampus dengan lebih cepat lagi!"

"Masakah manusia-manusia yang begitu lihaypun masih juga


buka tandingan dari A-kit?", Ki-ling nampak kurang percaya.

"Pasti bukan tandingannya!"

"Maka dari itu, kali ini dia sudah pasti akan mampus!"

"Kemungkinan besar memang demikian!"

Ki-ling segera melompat bangun dan menindih di atas


badannya dengan kening berkerut tiba-tiba ia berseru:
Pendekar Gelandangan 416

"Tapi kau telah melupakan akan satu hal!"

"Oya?"

"Setelah kematian Toa-tauke, bukankah yang bakal dihadapi


A-kit adalah kau sendiri?"

"Kemungkinan besar memang demikian!"

"Sampai waktunya, apa yang siap kau lakukan?"

Tiok Yap-cing hanya tersenyum dan tidak menjawab.

"Apakah kau sudah mempunyai cara bagus untuk


menghadapinya?, desak Ki-ling lagi.

Tiok Yap-cing tidak menyangkal, tapi diapun tidak berkata


apa-apa........

"Kau yakin pasti berhasil?"

"Kapan sih kulakukan pekerjaan yang tidak kuyakini?", tiba-


tiba Tiok Yap-cing balik bertanya.

K-ling segera menghembuskan napas lega, dengan ujung


bajunya ia mengerling sekejap ke arahnya, lalu ujarnya:

"Menanti kejadian itu telah berlangsung, sudah barang tentu


kau adalah Toa-tauke baru, bagaimana dengan aku?"

"Tentu saja kau adalah nyonya tauke!", jawab Tiok Yap-cing


Pendekar Gelandangan 417

sambil tertawa tergelak.

Ki-ling tertawa merdu, seluruh tubuhnya menindih di atas


badan pemuda itu, lalu sambil menggigit pelan ujung
telinganya, ia berbisik:

"Lebih baik kau musti ingat, nyonya tauke hanya ada satu,
kalau tidak maka........"

Perkataannya belum habis diucapkan ketika tiba-tiba Tiok


Yap-cing menutup bibirnya sambil berbisik rendah:

"Siapa?"

Bayangan manusia berkelebat lewat di luar jendela, menyusul


seseorang menjawab dengan suara yang rendah dan parau:

"Aku, Cui losam!"

"Silahkan masuk......!", bisik Tiok Yap-cing lagi sambil


menghembuskan napas panjang.

Kembali sesosok bayangan manusia berkelebat lewat,


"Kreeekkk", daun jendela di buka orang, cahaya lampu pun
berkelebat lebat, tahu-tahu seseorang telah berdiri di
hadapan mereka. Ketika sinar lampu menimpa di atas
wajahnya, maka tampaklah raut mukanya yang hijau membesi
serta bibirnya yang tampak kejam dan buas.

Sepasang matanya tajam tersembunyi di balik topi lebarnya


yang terbuat dari anyaman bambu dan menatap bahu Ki-ling
yang telanjang lekat-lekat.
Pendekar Gelandangan 418

Sekalipun sebagian besar tubuh Ki-ling sudah tersembunyi di


balik selimut, tapi barang siapapun yang berada di situ pasti
dapat menyaksikan dengan jelas sebagian kecil tubuhnya yang
berada di luar, dan dari bagian yang terlihat itu orang pasti
bisa membayangkan keseluruhan dari tubuhnya yang
telanjang itu, tak bisa disangkal lagi bagian tubuh lainnya yang
bugil sudah pasti sama halus dan putihnya seperti kulit pada
bahunya.

Sudah barang tentu Ki-ling juga bisa menduga, apa yang


mereka pikirkan di kala kaum pria sedang memperhatikannya.

Akan tetapi ia sama sekali tidak menarik kembali bagian


tubuhnya yang berada di luar selimut, ia paling suka
menyaksikan kaum lelaki memandang ke arahnya dengan
sinar mata seperti itu.

Cui losam merendahkan lagi topi lebarnya sehingga hampir


menutupi sebagian besar wajahnya, dengan dingin ia
bertanya:

"Siapakah perempuan itu?"

"Dia adalah orang kita sendiri. Tidak menjadi soal!", jawab


Tiok Yap-cing cepat.

Ki-ling mencibirkan bibirnya, tiba-tiba diapun bertanya:

"Cui losam yang ini bukankah Im-li-kim-kong (Kim kong dalam


mega) Cui losam yang dimaksudkan?"
Pendekar Gelandangan 419

Sambil tersenyum Tiok Yap-cing manggut-manggut.

"Betul, banyak tahun sudah kami telah berkenalan ketika kita


masih ada di wilayah Liau pak tempo hari"

"Oleh karena itu kaupun sudah tahu kalau Thi-hou


sesungguhnya bukan dia.......?", sambung Ki-ling lagi.

Menyinggung soal Thi-hou, sepasang tangan Cui losam segera


mengepal kencang-kencang.

Tiok Yap-cing tertawa katanya:

"Sekarang perduli siapakah Thi-hou itu sudah tidak menjadi


soal lagi, karena aku telah membunuhnya untuk dia!"

"Sekarang apakah jenazahnya masih ada di sini?", tanya Cui


losam sambil menahan geramnya.

"Ya, masih berada di luar, setiap waktu setiap saat kau boleh
mengangkutnya pergi!"

Cui losam mendengus dingin.

Kalau seseorang yang sudah matipun mayatnya tidak


dilepaskan dengan begitu saja, dari sini dapat diketahui bahwa
permusuhan serta rasa dendam mereka berdua sudah benar-
benar amat mendalam.

"Dimana orang-orang yang ku kehendaki?", Tiok Yap-cing


gantian bertanya kepadanya.
Pendekar Gelandangan 420

"Aku telah berjanji membawa mereka datang, tentu saja


mereka pasti akan datang!"

"Ke sembilan orang itu pasti akan datang semua?"

"Ya, seorangpun tak akan berkurang!"

"Kita akan bertemu muka di mana?"

"Merekapun amat suka bermain perempuan, mereka semua


pernah mendengar pula kalau di sini terdapat seorang
perempuan yang bernama Han toa-nay-nay!"

Tiok Yap-cing segera tersenyum, katanya:

"Sekalipun saat ini Han toa-nay-nay sudah tidak ada lagi, tapi
aku masih dapat menjamin bahwa mereka tentu akan
memperoleh kepuasan seperti apa yang diharapkan!"

Setajam sembilu sorot mata Cui losam yang memancar keluar


dari balik topi lebarnya, dengan dingin dia berkata:

"Kau harus memberi kepuasan secukupnya untuk mereka,


sebab kepuasan itu merupakan kepuasan paling akhir yang
bisa mereka rasakan!"

Tiok Yap-cing mengernyitkan alis matanya.

"Kenapa bisa dibilang kepuasan yang terakhir kalinya?", dia


balik bertanya.

Cui losam tertawa dingin.


Pendekar Gelandangan 421

"Heeeehhhh..... heeehhhh..... heeehhhhh.... kau sendiri


seharusnya juga tahu, adapun kedatangan mereka kali ini
bukan untuk membunuh, melainkan hanya datang untuk
menghantar kematian sendiri!"

"Menghantar kematian sendiri?"

"Kalau Thi-hou yang tangguhpun bisa disingkirkan oleh A-kit.


Merekapun pasti ikut terbunuh pula di tangannya!"

Kali ini Tiok Yap-cing tertawa, katanya:

"Waaahhhh........rupa-rupanya dalam persoalan apapun aku


tak mungkin bisa mengelabui dirimu!"

Cui losam kembali mendengus.

"Hmmm. Aku bisa hidup sampai sekarang, semuanya


bukanlah menggantungkan pada nasib!"

"Oleh karena itu kau pasti bisa hidup lebih jauh!"

"Hammm!", Cui losam cuma mendengus.

"Lagi pula akupun menjamin kehidupanmu selanjutnya pasti


akan jauh lebih bahagia daripada kehidupanmu yang lewat!",
Tiok Yap-cing menambahkan lebih jauh.

"Oya?"

"Oleh karena itu sekalipun orang lain mati karena nasibnya


Pendekar Gelandangan 422

buruk, kaupun tak usah merasa terlampau sedih"

Sekali lagi Cui losam menatapnya tajam-tajam, lama, lama


sekali, pelan-pelan ia baru berkata:

"Walaupun aku turut serta dalam golongan Hek-sat, tapi


orang-orang itu bukanlah terhitung teman-temanku"

"Tentu saja mereka masih belum pantas untuk menjadi


sahabatmu!"

"Pada hakekatnya aku memang tak berteman, seorang


temanpun tidak kumiliki, karena selamanya aku tak pernah
percaya kepada siapapun juga!"

Dengan cepat Tiok Yap-cing dapat memahami maksud


sesungguhnya dari perkataan itu.

"Oleh karena itu kaupun tidak terlalu percaya terhadap apa


yang kuucapkan sekarang!", sambungnya.

Cui losam tertawa dingin.

"Tapi kau tak perlu kuatir", sambung Tok Yap-cing lebih jauh,
"aku dapat memberi jaminan kepadamu!"

"Jaminan apa?"

"Apapun yang kau kehendaki pasti akan kupenuhi!"

"Aku menghendaki agar kau menulis sepucuk surat


keterangan yang isinya menerangkan bahwa kau telah suruh
Pendekar Gelandangan 423

aku melaksanakan pekerjaan itu......!"

"Boleh!", Tiok Yap-cing segera menyanggupi tanpa berpikir


panjang lebih jauh.

"Aku minta agar sebelum tengah hari besok, kau musti setor
uang sebesar sepuluh laksa tahil perak ke dalam bank 'Lip-
gwan' atas nama pribadi!"

"Boleh!"

Pelan-pelan Cui losam mengalihkan sorot matanya ke atas


bahu Ki-ling yang telanjang kemudian menambahkan:

"Dan akupun menghendaki perempuan ini!"

Sekali lagi Tiok Yap-cing tertawa.

"Aaaahhhh.....! Kalau cuma urusan itu sih gampang, sekarang


juga kau boleh membawanya pergi!"

Tiba-tiba ia menyingkap kain selimut yang menutupi tubuh Ki-


ling.

Ketika angin dingin berhembus masuk dari luar jendela, tiba-


tiba tubuh perempuan itu kembali bergetar keras seperti
seekor ular.

Tiba-tiba saja Cui losam merasakan segulung hawa panas


menyembur naik ke dalam tenggorokannya, ternyata bagian
lain dari perempuan ini jauh lebih indah dan mempesonakan
dari pada apa yang dibayangkan semula......
Pendekar Gelandangan 424

Sekujur tubuh Ki-ling gemetar semakin keras, sepasang


pahanya dikempit kencang-kencang.

Menyaksikan adegan yang begitu merangsang dan


menggairahkan, Cui losam merasakan tenggorokannya
seakan-akan sudah tercekik kencang.

Pada saat itulah, tiba-tiba selimut disingkap orang lagi,


menyusul kemudian serentetan cahaya pedang berkelebat
lewat. Tahu-tahu sebilah pedang sudah menusuk di atas
tenggorokannya.

Sepasang matanya segera menongol ke luar, melotot ke


wajah Tiok Yap-cing tanpa berkedip.

Para muka Tiok Yap-cing sama sekali tidak berubah, hanya


ujarnya dengan hambar:

"Tentunya kau tak pernah menyangka kalau aku masih bisa


mempergunakan pedang!"

Dari tenggorokan Cui losam hanya memperdengarkan suara


gemuruh yang mengerikan, sepatah katapun sudah tak
mampu diucapkan lagi.

Ia bisa hidup sampai sekarang sesungguhnya sudah


merupakan suatu perjuangan yang tidak gampang, ternyata
kali ini ia mampus dengan cara yang begitu gampang.

Di ujung pedang itu masih ada noda darah.


Pendekar Gelandangan 425

Tiba-tiba Ki-ling menghela napas lagi, katanya:

"Bukan hanya dia yang tidak menyangka, bahkan aku


sendiripun tidak pernah mengira!"

"Kau tidak mengira kala aku bisa mempergunakan pedang?",


Tiok Yap-cing berkata.

"Kau bukan saja pandai menggunakan pedang, lagi pula pasti


adalah seorang jago lihay!"

Tiok Yap-cing tertawa dingin.

"Heeehhhh.....heeehhhh....heeehhhhh....sekarang tentunya
kau sudah mengerti, bukan saja aku adalah seorang jago,
bahkan merupakan jago diantara jago lihay"

Tiba-tiba sinar mata Ki-ling memancarkan inar takut dan


ngeri, sambil menubruk ke depan dan menempelkan tubuhnya
yang telanjang di atas tubuhnya ia memohon:

"Tapi kau tentunya sudah tahu bukan bahwa aku tak akan
membocorkan rahasiamu, aku seakan-akan sudah tahu kalau
kau tak akan menghadiahkan tubuhku untuk orang lain!"

Tiok Yap-cing termenung agak lama, akhirnya ia memeluk


pinggangnya dan menjawab dengan lembut:

"Aku mengerti!"

Ki-ling menghembuskan napas panjang.


Pendekar Gelandangan 426

"Asal kau bersedia mempercayaiku, pekerjaan apapun jua


pasti akan kulakukan untukmu!", bisiknya.

"Sekarang aku justru mempunyai sebuah tugas penting yang


harus kau lakukan!"

"Pekerjaan apakah itu?"

"Gantikan kedudukan Han toa-nay-nay untuk melayani


saudara-saudara dari kelompok Hek-sat, berusahalah mencari
akal agar mereka merasa puas dalam segala hal, dengan
begitu mereka baru bersedia menjual nyawanya demi Toa-
tauke, mengadu jiwa untuk membunuh, A-kit pun pasti tak
akan melepaskan mereka!"

Tiba-tiba ia berkata lagi sambil tertawa:

"Cuma semua persoalan itu adalah pekerjaan untuk besok


sore, sekarang tentu saja kita masih ada pekerjaan lain yang
harus diselesaikan dengan segera!"

Bila seorang perempuan benar-benar berhasil kau taklukkan,


dia memang bersedia pula untuk melakukan semua pekerjaan
yang kau perintahkan kepadanya.

Ketika Ki-ling sadar kembali, ia merasakan sekujur tubuhnya


lemas tak bertenaga, pinggangnya terasa linu dan amat sakit,
bahkan hampir saja sepasang matanya tak sanggup
dipentangkan kembali.

Menanti sepasang matanya betul-betul sudah terpentang


lebar, ia baru mengetahui bahwa Tiok Yap-cing telah tiada di
Pendekar Gelandangan 427

sisi pembaringan lagi, sementara noda darah dan mayat yang


semula membujur dan mengotori lantai, kini sudah lenyap tak
berbekas.

Lam sekali dia menyembunyikan kembali tubuhnya di balik


selimut, seakan-akan sedang teringat kembali kegilaan dan
kehangatan permainan mereka semalam.

Tapi menanti ia sudah merasa yakin bahwa Tiok Yap-cing


betul-betul sudah tidak berada di rumah tersebut, dengan
cepatnya dia melompat bangun, hanya menutupi tubuhnya
dengan selembar jubah panjang dan bertelanjang kaki dia lari
keluar dari pintu ruangan.

Tapi begitu pintu dibuka dan ia bermaksud melangkah keluar


dari situ, dengan cepat perempuan itu berdiri tertegun.

Apa yang ia lihat di situ?

Mungkinkah ada sesuatu yang mengerikan hatinya atau suatu


pemandangan yang membuatnya terperanjat?

Ternyata seorang kakek bertubuh bungkuk yang rambutnya


telah berubah semua telah berdiri angker di luar pintu.

Seluruh wajahnya penuh bercodet, mukanya seram dan


mengerikan, sekulum senyuman yang aneh dan misterius
selalu menghiasi ujung bibirnya hingga membuat kakek itu
tampak begitu seram dan menggidikkan hati siapapun jua.

Ketika itu dia sedang mengawasi ke arahnya dengan sinar


mata yang cukup mendirikan bulu roma orang.
Pendekar Gelandangan 428

Ki-ling menjerit lengking saking kagetnya.

"Aaaahhhhh......! Siapa........siapakah kau.........?", teriaknya


keras-keras.

Bukan potongan tubuhnya atau mimik wajahnya saja yang


tampak menggidikkan hati, ternyata suara dari kakek bungkuk
itu jauh lebih parau, lebih dingin dan mengerikan daripada
Cui-losam.

"Heeehhhh...... heeeeehhhhh..... heeeehhhhh..... aku sengaja


datang untuk menyampaikan kabar penting untukmu!",
jawabnya kemudian.

Ki-ling menarik napas panjang-panjang. Ia berusaha keras


untuk menenangkan hatinya yang berdebar cepat serta
pikirannya yang makin kalut itu.

Sesaat kemudian, ketika perasaannya berhasil ditenangkan


kembali, ia baru bertanya:

"Kabar berita apakah itu?"

"Saudara-saudara dari Hek-sat telah datang lebih pagi,


sekarang mereka sedang menanti nona di gedung kediaman
Han toa-nay-nay!"

"Apakah kau hendak menemani aku ke sana?"

Gelak tertawa kakek bungkuk itu betul-betul menakutkan.


Pendekar Gelandangan 429

"Heeeeehhhh......heehhhhh....heeeehhhhh.....Yap-sianseng
telah berpesan, jika aku berani meninggalkan nona selangkah,
maka sepasang kakiku hendak dipenggal untuk makanan
anjing"

ooooOOOOoooo
Pendekar Gelandangan 430

Bab 11. Pembunuh Hitam

Tempat itu bukan pantai pohon Yang-liu, di sanapun tiada


hembusan angin atau rembulan di angkasa.

A-kit sendiripun belum mabuk.

Semalam, hampir saja dia mabuk, untungnya ia tak sampai


mabuk lupa daratan.

Ia telah mengunjungi banyak warung penjual arak, diapun


banyak kali ingin berhenti membeli arak dan minum sampai
mabuk, tapi ia tak mampu mengendalikan diri.

Hingga tengah malam tiba, ia benar-benar sudah tak dapat


mengendalikan perasaannya lagi, maka diapun pergi mencari
Biau-cu dan gadis menamakan diri si Boneka itu.

Ia percaya pada waktu ia menemukan mereka, kedua orang


itu pasti sudah selamat dan aman tenteram.

Karena walaupun Toa-gou bukan seorang yang benar-benar


bisa dipercaya, tapi rumah tangganya betul-betul adalah
sebuah rumah tangga yang benar dan bahagia.

Begitu wajar, begitu biasa dan amat tenteram.

Dalam keluarga semacam ini, tak mungkin ada orang yang


akan berkunjung lagi di tengah malam buta, seharusnya
mereka sudah tidur semua.

Maka dalam keadaan demikian, secara diam-diam ia dapat


Pendekar Gelandangan 431

menyusup masuk ke dalam, pergi menggenggam tangan Biau-


cu, memperhatikan sepasang mata si Boneka. Sekalipun
tindakannya itu akan mengejutkan istri Toa-gou, dia pun bisa
minta maaf kepadanya sebelum ngeloyor pergi meninggalkan
tempat itu.

Ia pernah berjumpa dengan istrinya Toa-gou, dia adalah


seorang perempuan yang sederhana jujur, asal suaminya dan
anak-anaknya bisa hidup dengan baik, ia sudah merasa amat
puas sekali.

Keluarga mereka adalah di bimbing dan dibangun dari


keharmonisan keluarga, kehematan mereka menabung, serta
sepasang tangan yang pandai jahit menjahit itu.

Rumah itu adalah sebuah rumah kecil yang sederhana, terdiri


dari tiga buah ruangan dengan sebuah ruang tengah, kamar
paling kecil dipakai untuk dayangnya, dia dan suaminya serta
anak yang paling bungsu menempati kamar paling besar,
sedang sebuah kamar lainnya dipakai oleh putra sulung serta
putrinya.

Tahun ini putra sulungnya baru sebelas tahun.

A-kit pernah berkunjung satu kali ke rumah mereka yaitu


ketika menghantar si Boneka dan Biau-cu ke situ. Ia pernah
pula menyaksikan kehidupan keluarga mereka, bukan saja
perasaan A-kit tersentuh, diapun merasa amat keheranan....

Ia heran kenapa setelah seseorang mempunyai keluarga


semacam ini, dia masih bisa melakukan pekerjaan semacam
itu?
Pendekar Gelandangan 432

"Aku berbuat demikian demi memelihara kehidupan


keluargaku", Toa-gou pernah menerangkan, "demi
kelangsungan hidup, demi seluruh isi keluargaku, terpaksa
pekerjaan apapun harus kulakukan"

Mungkin saja apa yang dia katakan adalah pengakuan yang


sejujurnya, mungkin juga bukan. Ketika mendengar pengakuan
tersebut, A-kit merasakan hatinya agak pedih dan sakit.

Sesudah melampaui masa kehidupan yang penuh


kesengsaraan dan pahit getir, ia baru mengetahui bahwa
untuk kelangsungan hidup seseorang di dunia ini
sesungguhnya tidak segampang apa yang pernah ia bayangkan
dulu. Mereka seringkali memang dipaksa untuk melakukan
suatu pekerjaan yang sebenarnya sangat tidak dikehendaki.

Walaupun dia hanya berkunjung sekali, tapi kesan yang


ditinggalkan rumah tangga itu dalam benaknya amat
mendalam sekali, oleh sebab itu ketika ia berkunjung kembali
ke sana, sengaja dibelinya sebungkus gula-gula untuk
dihadiahkan kepada putra-putri mereka.

Tapi kini gula-gula itu sudah berserakan di atas lantai.

Sebab ia tidak menjumpai lagi Toa-gou suami isteri, iapun


tidak menjumpai putra-putrinya, bahkan sang dayangpun
sudah tidak kelihatan lagi batang hidungnya......

Pada hakekatnya hanya seorang yang berdiam dalam rumah


itu......hanya Biau-cu seorang yang duduk termangu-mangu di
ruang tamu, duduk di hadapan sebuah meja perjamuan yang
Pendekar Gelandangan 433

penuh dengan sayur dan arak dengan sepasang mata


mendelong.

Perabot dalam ruangan tamu amat sederhana, di atas meja


pemujaan berdirilah dua buah patung yang pada hakekatnya
tiada perbedaan lagi di tempat manapun juga......yakni patung
dari Kwan-im Pousat serta Kwan Kong.

Meja sembahyang itu berada di tepi dinding persis depan


meja tersebut sebuah meja yang sudah kuno, kotor dan lapuk,
tapi sekarang justru tersedia aneka macam hidangan yang
lezat dan nikmat, jelas bukan arak dan sayur yang bisa dicicipi
oleh manusia semacam mereka ini.

Seguci arak Tiok Yap-cing yang berusia dua puluh tahun,


ditambah kepiting besar, udang bago serta Ang-sio-hi-sit.

Biau-cu seperti duduk tertegun di depan arak dan hidangan


yang lezat-lezat itu. Sepasang matanya kosong melompong,
wajahnya kaku sama sekali tiada emosi.

Seketika itu juga A-kit merasakan hatinya berat dan seolah-


olah terjatuh dari atas tebing yang tingginya mencapai
beberapa ratus kaki.

Dari pandangan matanya yang kosong dan hampa itu, ia telah


merasakan suatu firasat serta alamat yang tak enak, seakan-
akan dia tahu bahwa bencana telah berada di depan mata.

Biau-cu mendongakkan kepalanya dan memandang sekejap


ke arahnya, tiba-tiba ia berkata:
Pendekar Gelandangan 434

"Duduk!"

Di hadapannya tersedia sebuah bangku kosong, A-kit pun


duduk di tempat yang telah tersedia itu.

Tiba-tiba Biau-cu mengangkat cawannya dan berkata lagi:

"Minum!"

Di depan meja tersedia cawan, dalam cawan telah berisi


penuh arak wangi.......

Tapi A-kit tidak meneguk arak tersebut.

Biau-cu segera menarik muka, katanya:

"Sayur dan nasi ini khusus disediakan untukmu, arak itupun


khusus disiapkan bagimu!"

"Maka dari itu aku harus meneguknya?", sambung A-kit.

"Ya, harus!"

A-kit ragu-ragu sejenak, akhirnya ia meneguk isi cawan itu


hingga habis ludas.

"Ehmm.......inilah arak Tiok Yap-cing", katanya.

"Ya, Tiok Yap-cing adalah arak bagus!"

"Walaupun arak bagus, sayang bukan orang baik!"


Pendekar Gelandangan 435

Raut wajah Biau-cu berkerut kencang telinganya yang besar


seperti kipas mulai kelihatan agak gemetar.

"Kau pernah menjumpai manusia yang bernama Tiok Yap-cing


itu.....?", kembali A-kit bertanya.

Biau-cu mengigit bibir menahan diri, tiba-tiba ia mengambil


seekor kepiting besar dan di lemparkan ke hadapannya.

"Makan!", ia berseru keras.

Itulah kepiting gemuk yang baru saja dikeluarkan dari


kukusan, dagingnya yang putih dan penuh itu mengepulkan
asap putih.

Ini membuktikan bahwa sayur dan arak itu belum lama


dihidangkan di atas meja.

Mungkin Tiok Yap-cing telah memperhitungkan bahwa A-kit


pasti akan tiba di situ, maka sengaja ia siapkan sayur dan arak
untuk menantikan kehadirannya?.

Lama kelamaan A-kit tak dapat mengendalikan diri lagi, tiba-


tiba ia bertanya:

"Sekarang di manakah orangnya?"

"Siapa?"

"Tiok Yap-cing!"

Biau-cu segera mengangkat sepoci penuh arak wangi.


Pendekar Gelandangan 436

"Inilah Tiok Yap-cing!", katanya, "Tiok Yap-cing berada di sini!"

Tangannya sudah gemetar, sedemikian gemetarnya sehingga


hampir saja poci arak itu tak sanggup digenggam lagi dengan
baik.

A-kit menyambut poci arak itu, ia baru merasa bahwa tangan


sendiri ternyata lebih dingin daripada poci arak itu sendiri.

Sekarang ia telah mengetahui bahwa dugaan sendiri


sesungguhnya keliru besar, sebab ia sudah terlalu menilai
rendah manusia yang bernama Tiok Yap-cing itu.

Walaupun kekeliruan dugaannya tak sampai membinasakan


dirinya, tapi sudah pasti telah mencelakai orang lain.

Kembali ia penuhi cawan arak sendiri yang telah kosong itu,


kemudian ia baru mempunyai keberanian untuk bertanya:

"Di manakah si Boneka?"

Meskipun sepasang kepalan Biau-cu mengepal kencang-


kencang, tapi toh masih gemetar sangat hebat, tiba-tiba ia
berteriak keras:

"Kau masih ingin menjumpainya atau tidak?"

"Masih ingin!"

"Kalau begitu lebih baik turutilah perkataanku: 'Banyak


makan, banyak minum dan sedikit bertanya'!"
Pendekar Gelandangan 437

Benar juga sejak itu A-kit tidak lagi bertanya kepadanya,


walau hanya sepatah katapun.

Biau-cu suruh dia makan, diapun makan dengan lahap, Biau-


cu suruh dia minum, diapun minum dengan rakus, arak Tiok
yap-cing yang seharusnya wangi dan enak, ketika masuk ke
dalam mulutnya ternyata telah berubah menjadi getir, kecut
dan amat tak sedap.

Tapi, bagaimanapun kecut dan getirnya arak tersebut, dia


harus meneguknya terus, bahkan sekalipun arak itu arak
beracun, diapun harus meneguknya sampai habis.

Biau-cu hanya memandang dirinya, di antara sepasang


matanya yang kosong dan hampa, tiba-tiba terpercik butiran
air mata.

A-kit tidak tega menyaksikan dirinya, dia pun tak berani


memandang ke arahnya.

Biau-cu sendiripun meneguk beberapa cawan arak secara


beruntun, tiba-tiba berkata lagi:

"Di belakang rumah sana ada pembaringan!"

"Aku tahu!"

"Setelah kenyang bersantap dan puas minum arak, tidurpun


baru terasa nyenyak!"

"Aku tahu!"
Pendekar Gelandangan 438

"Bila tidurnya nyenyak, semangat badan baru menyala,


dengan kekuatan serta semangat yang berkobar-kobar, kau
baru bisa pergi membunuh orang!"

"Membunuh Toa-tauke?"

Biau-cu manggut-manggut.

"Setelah Toa-tauke terbunuh, kau baru bisa bertemu dengan


si Boneka.......", bisiknya.

Ketika ia selesai mengucapkan kata-kata itu, air mata yang


mengembang dalam kelopak matanya hampir saja meleleh
keluar membasahi pipinya.

Kelopak mata A-kit pun ikut mengembang kempis, ucapan


tersebut diulanginya sekali lagi.

"Setelah Toa-tauke terbunuh, aku baru bisa bertemu dengan


si Boneka........."

Sehabis mengucapkan perkataan itu, ia segera mulai


bersantap lagi dengan lahap, minum dengan gencar.........

Biau-cu tidak ambil diam, malah ia minum lebih banyak dan


makan lebih cepat daripada rekannya.

Kedua orang itu sama-sama tidak berbicara lagi, seguci besar


arak wangi dan semeja penuh hidangan lezat, dalam waktu
singkat telah tersapu habis oleh kedua orang itu.
Pendekar Gelandangan 439

"Sekarang aku harus pergi tidur!", kata A-kit kemudian.

"Pergilah!"

Pelan-pelan A-kit bangkit berdiri dan berjalan ke ruang


belakang, ketika tiba di depan pintu ia tak tahan untuk
berpaling dan memandang rekannya sekejap, dia baru tahu
kalau wajah Biau-cu telah basah kuyup oleh air matanya yang
meleleh keluar....

Di bawah sinar lentera, Toa-tauke sedang merentangkan


gulungan kertas yang diserahkan Tiok Yap-cing kepadanya, di
atas kertas tercantumlah nama dari sembilan orang.

Pek Bok. Seorang murid dari partai Bu-tong, telah diusir dari
perguruannya dan gemar mengenakan dandanan seorang
imam, senjatanya pedang, tinggi badan enam depa delapan
inci, ciri-ciri: Muka kuning, badan ceking, di antara alis
matanya ada tahi lalat.

Toh- hwesio. Berasal dari Siau-lim-pay, berdandan seorang


Tauto ( hwesio yang memelihara rambut), tinggi badan
delapan depa, kepandaian andalannya Hu-hou-lo-han-sin-kun
(Pukulan sakti Lo-han penakluk harimau), ciri-ciri: Memiliki
tenaga dalam yang maha sakti.

Hek-kui. Seorang gelandangan dari wilayah Kwan-si,


menggunakan golok dan gemar membunuh orang, tinggi
badan enam depa dan sepanjang tahun mengenakan baju
hitam, goloknya merupakan golok lemas yang bisa dipakai
sebagai ikat pinggang.
Pendekar Gelandangan 440

Suzuko. Seorang gelandangan dari negeri Kiu-ciu-kok yang


ada di pulau Tang-ing-to, senjatanya sebilah samurai yang
panjangnya delapan depa, gemar membunuh orang.

Kanyo, adik Suzuko. Seorang jago dari negeri matahari terbit


yang ahli dalam ilmu meringankan tubuh dan senjata rahasia.

Ting Ji-long. Sesungguhnya dia adalah serang hartawan dari


wilayah Kwan-tiong, setelah kekayaannya ludas, ia mulai
mengembara dalam dunia persilatan, gemar minum arak dan
main perempuan, senjata andalannya pedang.

Cing Coa. Tinggi badan enam depa tiga inci, otaknya hebat
dan tipu muslihatnya bisa diandalkan.

Lo-cay. Usianya paling tua, jenggotnya panjang, gemar minum


arak dan sering mabuk, sejak dulu sudah merupakan
pembunuh bayaran, tak sedikit korban yang tewas di
tangannya, belakangan ini karena sering minum sampai
mabuk, pekerjaannya banyak yang terbengkalai.

Hu Tau. Seorang lelaki kekar yang mempunyai tinggi badan


sembilan depa, senjatanya sebuah kampak besar,
perawakannya besar dan kuat, wataknya amat berangasan.

Ketika selesai membaca nama dari ke sembilan orang itu, Toa-


tauke baru menghela napas panjang, sambil mendongakkan
kepalanya dia bertanya pelan:

"Bagaimana menurut pendapatmu?"

Yang ditanya adalah seorang laki-laki yang berusia masih amat


Pendekar Gelandangan 441

muda, tapi mukanya segar dan memancarkan kecerdikan yang


luar biasa.

Di hari-hari biasa jarang sekali ada orang yang menyaksikan


dia berada di samping toa-tauke, tentu saja tak ada yang
mengetahui pula bahwa dia sesungguhnya adalah seseorang
yang makin hari dipandang semakin tinggi oleh toa-tauke, oleh
karena itu orang-orang memanggilnya dengan sebutan 'Siau-
te' atau adik cilik. Ia sendiri tampaknya sudah melupakan pula
nama aslinya.

Di waktu-waktu biasa ia jarang sekali berbicara, hanya ketika


toa-tauke mengajukan pertanyaan kepadanya, ia baru
menjawab:

"Tampaknya ke sembilan orang itu semuanya adalah


pembunuh-pembunuh yang sangat berpengalaman!"

Toa-tauke menyetujui pendapatnya itu.

"Ya, memang! Tidak sedikit jumlah orang yang telah mereka


bunuh!", sahutnya.

"Ehmmm......."

"Menurut pendapatmu, sanggupkah mereka menghadapi A-


kit yang tak berguna itu?, kembali Toa-tauke bertanya.

Siau-te ragu-ragu sebentar, kemudian jawabnya:

"Mereka semuanya terdiri dari sembilan orang, sedang A-kit


hanya mempunyai sepasang tangan, orang yang mereka
Pendekar Gelandangan 442

bunuh tentu saja jauh lebih banyak dari A-kit!"

Toa-tauke tersenyum, gulungan kertas itu diserahkan


kepadanya lalu berkata lagi:

"Esok pagi suruhlah orang untuk menyambut kedatangan


mereka, asal mereka telah datang semua, hantar mereka ke
gedung kediaman Han toa-nay-nay.........."

"Baik!"

"Mereka pasti datang secara tidak berombongan, sebab kalau


sembilan orang melakukan perjalanan bersama, rombongan
itu tentu akan menarik perhatian banyak orang"

"Benar!"

Toa-tauke tersenyum, dia ulangi sekali lagi apa yang telah


diucapkannya tadi:

"Kau musti ingat baik-baik, bila ingin membunuh orang, lebih


baik jangan sampai menarik perhatian orang"

Fajar telah menyingsing.

Pasar pagi telah mulai, waktu itu merupakan waktu yang


paling ramai untuk kedai-kedai teh.

Dalam kedai-kedai teh inilah merupakan pergerakan dari


saudara-saudara kecil anak buah Toa-tauke.

Di antara sekian banyak orang bahkan ada diantaranya yang


Pendekar Gelandangan 443

belum pernah berjumpa dengan Toa-tauke sendiri, akan tetapi


mereka semua bersedia untuk menjual nyawa buat Toa-tauke.

Selama ini Toa-tauke dapat berkuasa dan menancapkan


kakinya di sini, tak lebih karena ada banyak sekali kurcaci-
kurcaci yang bersedia menjadi anak buahnya tanpa di minta.

Oleh sebab itu ketika ada orang menanyakan Toa-tauke,


serentak mereka melompat bangun.

Orang yang menanyakan tentang Toa-tauke ini adalah


seorang laki-laki yang perawakan tubuhnya seperti batang
tombak, tapi di pinggangnya tersoren sebilah pedang.

Ia amat jangkung, tapi sangat ceking, pakaian yang dipakai


adalah baju ringkas berwarna hitam, gerak-geriknya sangat
lincah dan gesit, tapi angkuhnya bukan kepalang.

Ia datang sambil menunggang kuda cepat, bersamanya


mengikuti pula dua orang lainnya, dilihat dari debu yang
melekat di wajah mereka, tak bisa diragukan lagi orang-orang
itu pasti baru datang dari tempat yang jauh sekali.

Begitu kuda cepat itu berhenti berlari, seperti anak panah


yang terlepas dari busurnya, ia lantas menyusup masuk ke
dalam ruangan, kemudian setelah memandang sekejap semua
orang yang berada di sana dengan sepasang matanya yang
lebih tajam dari elang, segera tanyanya:

"Adakah saudara-saudara dari Toa-tauke yang berada di sini?"

Tentu saja ada.


Pendekar Gelandangan 444

Ketika mendengar perkataan itu, paling tidak ada belasan


orang yang segera melompat ke luar dari dalam kedai teh itu.

"Kalian semua adalah saudara-saudaranya Toa-tauke?",


manusia berbaju hitam itu segera bertanya.

Lotoa dari anak buah Toa-tauke yang berada di sekitar tempat


itu bernama Tiang San, dengan cepat ia balik bertanya:

"Ada urusan apa kau datang mencari Toa-tauke kami?"

"Ada sedikit barang yang ingin kujual kepadanya!", jawab


manusia berbaju hitam itu cepat.

"Benda apakah itu?"

"Nyawa dari kami bertiga!"

"Kalian bermaksud menjualnya dengan harga berapa?"

"Sepuluh laksa tahil perak!"

Tiang-san segera tertawa.

"Tiga lembar nyawa manusia sepuluh laksa tahil perak tidak


terhitung terlalu mahal!"

"Ya, siapa bilang kalau terlalu mahal!"

Tiba-tiba Tiang San menarik mukanya hingga tampak jauh


lebih jelek lagi, jengeknya:
Pendekar Gelandangan 445

"Tapi tidak kutemui dengan andalkan apa kalian berani


memberi harga sepuluh laksa tahil perak?"

"Apa lagi? Tentu saja mengandalkan pedangku ini!"

Ketika ucapan terakhir diutarakan, pedangnya sudah


diloloskan dari sarung dan......"Criiiing!", desingan angin tajam
menembusi angkasa menyusul kemudian..."Triiiing!" tahu-
tahu tiga buah cawan teh yang ada di meja sudah ditembusi
oleh ujung pedang hingga berlubang.

Ketika cawan-cawan teh itu diangkat ke udara dengan pedang


tersebut, ternyata cawan itu tidak pecah atau hancur, ini
menunjukkan bahwa dalam mempergunakan kekuatan
maupun dalam kecepatan, ia telah melakukannya dengan
begitu cepat dan tepat, sehingga sekalipun seseorang yang tak
pandai mempergunakan pedangpun akan mengetahuinya.

Paras muka Tiang San segera berubah hebat.

"Bagaimana?", tanya manusia berbaju hitam itu.

"Bagus, suatu ilmu pedang yang cepat sekali!"

"Bagaimana kalau dibandingkan dengan manusia yang


bernama A-kit itu....?"

"A-kit?"

"Konon di sini telah muncul seorang manusia yang bernama


A-kit, katanya ia sering memusuhi Toa-tauke!"
Pendekar Gelandangan 446

"Ooohhh...jadi kalian sengaja datang kemari untuk membantu


Toa-tauke guna menyelesaikan persoalan ini?"

"Barang bagus selamanya toh harus ditawarkan kepada orang


yang mengerti mutu barang!"

Mendengar itu, Tiang San menghela napas dan tertawa paksa,


katanya:

"Aku jamin Toa-tauke pasti adalah seseorang yang


mengetahui kwalitet barang"

"Sayang ke tiga saudara ini bukan barang berkwalitet baik!",


seseorang menyambung secara tiba-tiba dengan suara dingin.

Tiang San tertegun.

Ucapan tersebut bukan diutarakan oleh salah seorang di


antara saudara-saudaranya, orang yang berbicara itu berada
di belakang manusia berbaju hitam itu.

Dua orang yang barusan dengan jelas diketahui sebagai rekan


komplotannya, kini secara tiba-tiba berubah menjadi tiga
orang.

Siapapun tak tahu sedari kapan orang itu menggabungkan diri


dengan mereka, siapapun tak tahu dari mana ia datang?

Orang itu mengenakan juga seperangkat pakaian berwarna


hitam, perawakan tubuhnya jauh lebih ceking daripada
manusia berbaju hitam itu, ketika berdiri di antara dua orang
Pendekar Gelandangan 447

rekannya yang tinggi besar, ia kelihatan begitu kecil dan


mengenaskan sehingga menimbulkan kesan bagi siapapun
bahwa setiap saat ia dapat dijepit sampai gepeng.

Tapi dua orang rekannya yang tinggi besar itu justru bergerak
sedikitpun tidak.

Sebenarnya mereka bukan termasuk manusia-manusia yang


tak berani menampilkan keberaniannya setelah dihina dan
dianiaya orang lain.

Mereka sudah banyak tahun mengikuti lelaki berbaju hitam


itu, pernah juga menghadapi beratus-ratus kali pertarungan
besar kecil mati dan hidup.

Ketika mendengar suara pembicaraan tadi, manusia berbaju


hitam itu segera menyusup ke depan, tanpa berpaling lagi ia
membentak keras:

"Tangkap dia!"

Heran! Ternyata kedua orang rekannya sama sekali tidak


memberi reaksi apa-apa, cuma paras muka mereka sedikit
berubah, berubah menjadi sangat aneh.

Manusia berbaju hitam itu segera berpaling, tapi paras


mukanya ikut berubah pula.

Bukan saja paras muka kedua orang rekannya telah berubah


warna, malah panca indera merekapun telah mengalami
perubahan, berubah menjadi begitu jelek, begitu berkerut dan
menyeramkan, kemudian darah kental hampir bersamaan
Pendekar Gelandangan 448

waktunya meleleh keluar dari telinga, mata, hidung dan mulut


mereka.

Laki-laki ceking berbaju hitam yang berdiri di antara mereka


berdua masih tetap tenang, paras mukanya tidak berubah,
bahkan sedikit pancaran emosipun tak ada.

Mukanya sangat kecil, matanya juga kecil, cuma di balik


sepasang matanya tersembunyilah senyuman yang keji
bagaikan bisanya ular paling beracun di dunia ini.

Ular beracun tak dapat tertawa, tapi seandainya ular beracun


bisa tertawa, tampangnya pasti persis dengan tampangnya.

Memandang sepasang matanya yang berbisa, tanpa terasa


manusia berbaju hitam itu bergidik dan menggigil keras,
segera tegurnya dengan suara keras:

"Kau yang telah membunuh mereka?"

"Kecuali aku masih ada siapa lagi?", jawab laki-laki berbaju


hitam yang mempunyai sepasang mata berbisa seperti ular
beracun itu dingin.

"Siapa kau?"

"Hek-kui (Setan hitam) dari Hek-sat (Pembunuh hitam)!"

Mendengar empat huruf tersebut, paras muka laki-laki


berbaju hitam itu berubah semakin mengerikan.

"Aku she Tu, bernama Tu Hong", katanya lambat.


Pendekar Gelandangan 449

"Hek-sat-kiam (Pedang malaikat hitam) Tu Hong?", tanya si


setan hitam sinis.

Tu Hong manggut-manggut.

"Selama ini kau boleh dibilang kita bagaikan air sumur yang
tidak melanggar air sungai, kau........"

"Kalau memang begitu, tidak sepantasnya kalian datang


kemari", tukas Setan hitam cepat.

"Apakah persoalan ini sudah kalian sanggupi?"

"Memangnya kami tak boleh menyanggupi?", Hek-kui


mengejek ketus.

"Aku tahu asal persoalan yang telah disanggupi oleh Hek-sat,


maka orang lain tak boleh mencampurinya!"

"Kalau kau sudah tahu, ini lebih baik lagi!"

"Tapi aku sama sekali tidak tahu kalau kalian telah


menyanggupi tugas ini!", keluh Tu Hong.

"Oya? Lantas?"

"Maka kau tidak perlu harus membunuh orang.......!"

"Tidak! Aku harus membunuh!"

"Kenapa?"
Pendekar Gelandangan 450

"Sebab aku gemar membunuh orang!"

Dia memang bicara jujur, siapapun yang pernah menyaksikan


sepasang matanya, seharusnya dapat merasakan juga bahwa
dia memang gemar membunuh orang.

Tu Hong sedang mengawasi mata lawan, raut wajah mereka


berdua sama-sama berkerut, menyusul kemudian pedang Tu
Hong telah menusuk ke depan dengan suatu kecepatan tinggi.

Tenaga yang disertakan dalam tusukannya kali ini jauh lebih


kuat daripada tenaga yang dipakai untuk menembusi cawan
teh, kecepatannya tentu saja berkali-kali lipat lebih hebat.

Sasaran dari tusukan itu adalah Hek-kui, bukan


tenggorokannya, sebab sasaran di atas dada lebih luas dan
tidak gampang untuk dihindari.

Tapi Hek-kui berhasil menghindarkan diri.

Ketika tubuhnya berkelit ke samping, dua orang laki-laki kekar


yang berada di kedua belah sisinya segera roboh ke arah Tu
Hong.

Dalam kejutnya Tu Hong mengangkat tangannya untuk


menangkis tapi Hek-kui telah menyusup ke bawah ketiaknya.

Tiada seorangpun menyaksikan Hek-kui turun tangan, mereka


hanya menyaksikan paras muka Tu Hong mendadak berubah
hebat, seperti juga kedua orang rekannya, bukan cuma paras
mukanya yang berubah, letak panca inderanya ikut pula
Pendekar Gelandangan 451

berubah, berubah menjadi mengejang keras dan jeleknya


mengerikan hati orang, kemudian darah kental bersamaan
waktunya meleleh keluar dari ke tujuh lubang inderanya.

Dalam ruangan warung teh segera tersiar bau busuk yang


menusuk hidung, dua orang manusia berjongkok dengan
wajah merah membara, rupanya celananya sudah basah
kuyup.

Tapi tiada seorangpun yang mentertawakan mereka, sebab


setiap orang hampir pucat nyalinya karena ketakutan.

Membunuh orang bukan suatu kejadian yang menakutkan,


yang menakutkan justru caranya melakukan pembunuhan
tersebut, baginya membunuh orang bukan cuma membunuh
saja, melainkan termasuk sejenis seni, semacam kenikmatan
yang mendatangkan perasaan nyaman di badan.

Hingga sekujur tubuh Tu Hong menjadi dingin dan kaku, Hek-


kui masih menempel di bawah ketiaknya sambil menikmati
bagaimana rasanya menyaksikan orang lain menghadapi
ajalnya.

Jika kaupun bisa merasakan perubahan suhu tubuh seseorang


yang menempel di tubuhmu makin lama makin dingin dan
kaku, maka kau dapat memahami kenikmatan macam apakah
yang telah dirasakan olehnya itu.

Entah lewat berapa lama kemudian, Tiang San baru berani


beranjak dari tempatnya semula.

Tiba-tiba Hek-kui mendongakkan kepala dan memandang ke


Pendekar Gelandangan 452

arahnya, kemudian berkata:

"Tentunya sekarang kau sudah tahu siapakah aku, bukan?"

"Ya!", Tiang San menundukkan kepalanya.

Ia tak berani memandang wajah orang itu, pakaiannya telah


basah oleh keringat dingin.

"Kau takut kepadaku?", Hek-kui bertanya.

Tiang San tak dapat menyangkal, pun tak berani menyangkal.

"Aku tahu kaupun tentu pernah juga membunuh orang,


kenapa kau takut kepadaku?"

"Karena......karena......."

Tiang San tak dapat menjawab, diapun tak berani menjawab.

Tiba-tiba Hek-kui bertanya lagi:

"Kau pernah berjumpa dengan Pek Bok?"

"Belum!", Tiang San gelengkan kepalanya berkali-kali.

"Bila kau dapat menyaksikan caranya membunuh orang, saat


itulah baru akan kau pahami membunuh orang dengan cara
apakah baru disebut benar-benar membunuh orang!"

Telapak tangan Tiang San telah basah oleh keringat


dingin........mungkinkah cara Pek Bok membunuh orang jauh
Pendekar Gelandangan 453

lebih cepat, jauh lebih kejam dan buas daripadanya?

Kembali Hek-kui bertanya:

"Pernah kau berjumpa dengan Kanyo dan Suzuko?"

"Belum pernah!"

"Bila kau telah berjumpa dengan mereka, kau baru akan


mengerti harus manusia macam apakah baru bisa disebut
manusia yang gemar membunuh orang......!"

Dengan suara hambar ia melanjutkan kata-katanya lebih


lanjut:

"Aku membunuh orang paling tidak masih ada alasannya, tapi


mereka membunuh orang hanya lantaran hobby, untuk
membuat dirinya gembira, senang dan puas!"

"Jadi, asal mereka senang, maka setiap waktu, setiap saat


mereka akan membunuh orang?", tak tahan Tiang San
bertanya.

"Ya, setiap waktu setiap saat, manusia dari jenis apapun!"

Tu Hong telah roboh pula.

Setelah terkapar di tanah, semua orang baru dapat melihat


bahwa pakaian di bawah ketiaknya sudah basah oleh darah
kental, namun tak ada yang melihat golok dari Hek-kui.

Hanya Tiang San yang menyaksikan kilatan goloknya, hanya


Pendekar Gelandangan 454

dalam sekali kelebatan saja tahu-tahu sudah masuk kembali ke


balik ujung bajunya.....

Di atas ujung baju terdapat pula noda darah.

Tiba-tiba Hek-kui bertanya lagi:

"Tahukah kau bagaimana rasanya darah?"

Tiang San segera menggelengkan kepalanya.

Hek-kui mengulurkan tangannya dan menyodorkan ujung


baju itu ke hadapannya.

"Asal kau mencicipinya sekarang, akan kau ketahui bagaimana


rasanya darah!", demikian ia berkata.

Sekali lagi Tiang San gelengkan kepalanya berulang kali, kali


ini dia menggeleng terus tiada hentinya, sebab lambungnya
mulai mual dan beraduk-aduk tak keruan, hampir saja semua
isi perutnya tumpah keluar.......

Melihat itu Hek-kui segera tertawa dingin:

"Heeehhhhh........heeehhhh.......heeehhhh.....apakah anak
buah Toa-tauke semuanya adalah gentong-gentong nasi yang
untuk mencicipi rasanya darahpun tidak berani?"

"Tidak!"

Jawaban itu sebenarnya berasal dari luar pintu, tapi tahu-tahu


sudah berada di belakang tubuhnya.
Pendekar Gelandangan 455

Dengan suatu gerakan cepat Hek-kui memutar tubuhnya, ia


menyaksikan seorang pemuda berbaju hijau yang bertubuh
jangkung dan tampan telah berdiri tegap di belakangnya.

Usia yang sebenarnya mungkin masih muda sekali, tapi di atas


wajahnya telah dihiasi kerutan-kerutan yang menandakan
bahwa ia pernah tersiksa dan hidup menderita selama banyak
tahun, maka tampaknya ia menjadi jauh lebih tua dari usia
yang sesungguhnya.

"Kau juga merupakan anak buah dari Toa-tauke?", Hek-kui


bertanya.

"Ya, akupun anak buahnya, aku bernama Siau-te!"

"Kau pernah mencicipi bagaimana rasanya darah?"

Siau-te membungkukkan badannya memungut pedang milik


Tu Hong itu, lalu ujung pedangnya ditusukkan ke atas
genangan darah hingga senjata itu penuh berlepotan darah.

Setelah menjilat darah di ujung pedang, tiba-tiba ia


membalikkan tangannya dan menggurat pula di atas lengan
kirinya hingga terluka dan darah mengucur keluar. Dengan
mulutnya ia menjilat pula darah yang baru meleleh ke luar itu.

Kemudian ia baru mendongakkan kepalanya, dengan paras


muka tak berubah katanya hambar:

"Darah orang hidup rasanya asin, darah orang mati rasanya


asin rada getir!"
Pendekar Gelandangan 456

Paras muka Hek-kui agak berubah menghadapi kejadian


tersebut, ujarnya dengan dingin:

"Aku tidak bertanya sebanyak itu!"

"Kalau ingin melakukan suatu pekerjaan, maka pekerjaan


tersebut harus dilakukan selengkap dan senyata mungkin",
Siau-te menerangkan.

"Siapa yang mengucapkan kata-kata tersebut?"

"Toa-tauke yang bilang!"

Tiba-tiba Hek-kui tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhhhh.......haaaahhhh....haaahhhhh......bagus-bagus,
dapat melakukan pekerjaan untuk manusia semacam ini,
rasanya kedatangan kita kali ini tidak terhitung sia-sia belaka"

"Kalau begitu harap ikutilah diriku!", ucap Siau-te sambil


membungkukkan badan memberi hormat.

Ketika ia memutar tubuhnya dan berjalan ke luar, setiap


orang memancarkan rasa hormat dan kagumnya yang luar
biasa.

Hanya sorot mata Tiang San yang memancarkan rasa malu,


menyesal dan penuh penderitaan.

Ia tahu, tamat sudah riwayatnya.


Pendekar Gelandangan 457

Tengah hari menjelang tiba.

Suasana lalu-lintas di tengah kota yang ramai dan hiruk pikuk


mendadak menjadi tenang.

"Proook! Proook! Proook!", suara kayu yang beradu dengan


batu berkumandang memecahkan kesunyian.

Mula-mula suara itu masih berada sangat jauh sekali, tapi


dalam waktu singkat sudah berada dekat sekali dengan tengah
kota.

Itulah dua orang manusia yang memakai sepatu bakiak dari


kayu yang tingginya lima inci. Dengan langkah lebar mereka
berjalan di tengah jalan raya.

Kalau dilihat dari rambutnya yang awut-awutan serta


tampangnya yang garang, kedua orang itu mirip gelandangan
dari negeri matahari terbit, jubah mereka lebar, salah seorang
di antaranya mengenakan ikat pinggang yang tujuh inci
lebarnya, sebilah samurai yang panjangnya delapan depa
tersoren di pinggangnya, sementara sepasang tangannya
disembunyikan di balik ujung bajunya yang lebar.

Yang seorang lagi memakai jubah hitam dengan bakiak hitam


pula, bahkan wajahnya berwarna hitam pekat pula seperti
pantat kuali, tampaknya misterius dan menyeramkan.

Rupanya Suzuko dan Kanyo telah datang!

Setelah menjumpai mereka berdua, setiap orang menutup


mulutnya, sekalipun tak ada orang yang mengenali mereka,
Pendekar Gelandangan 458

tapi setiap orang dapat merasakan hawa pembunuhan yang


terpancar keluar dari tubuh mereka berdua.

Seorang perempuan muda yang montok dan bahenol sedang


membopong anaknya yang berusia lima bulan keluar dari
ruang belakang Sui-tek-siang.

Sui-tek-siang adalah sebuah rumah pemintalan benang sutera


yang amat besar, nyonya muda itu bukan lain adalah istri
majikan muda rumah pemintalan yang baru dikawininya
belum lama berselang.

Tentu saja umurnya masih muda, mana cakep lagi wajahnya,


tentu saja tubuhnya sudah amat masak dan dewasa terutama
setelah beranak, ibaratnya sebidang tanah subur yang baru
ditimpa hujan di musim semi yang segar, ia tampak lebih
matang, lebih montok dan merangsang.

Melihat wajah perempuan tiu, kontan saja sepasang mata


Kanyo dan Suzuko melotot sebesar gundu.

"Wouww....! Seorang nona cakep yang bahenol.......", Suzuko


berteriak memuji.

"Wouw! Wouw! Ayu betul......!, sambung Kanyo.

Sebetulnya perempuan muda itu sedang menggoda si bocah


dalam bopongannya, melihat dua orang asing itu, selembar
wajahnya yang merah masak seperti buah apel kontan
berubah menjadi pucat pasi karena terkejut dan ketakutan.

Suzuko telah menyerbu ke depan, baru saja seorang pelayan


Pendekar Gelandangan 459

toko menyambut kedatangannya dengan senyum di kulum,


cahaya golok berkelebat lewat, tahu-tahu lengan kirinya sudah
terpapas kutung.

Anak-anak mulai menangis karena ketakutan, ibu-ibu pada


lemas kakinya karena kaget dan ketakutan, suasana kacau
balau tak karuan.

Sambil masih menggenggam samurainya yang berlepotan


darah, Suzuko menyeringai sambil tertawa seram, katanya:

"Nona cantik, tak usah takut, aku suka nona ayu, aku paling
suka nona manis!"

Ia sudah bersiap-siap menubruk lagi ke depan, kali ini sudah


tiada orang yang berani menghalangi perjalanannya lagi, tapi
pinggangnya tiba-tiba dicengkeram oleh Kanyo, lalu diangkat
ke atas, sikutnya menyodok dan tubuhnya segera terbang
meninggalkan tempat itu.

Kanyo tertawa terbahak-bahak, katanya:

"Haaahhhhh.....haaaaahhhh......haaaahhhh....nona ayu
milikku, nona cantik menjadi bagianku, kau......."

Kata-kata itu belum sempat diselesaikan ketika Suzuko sudah


melambung di udara dan menubruk ke arahnya sambil
membacok dengan senjata samurainya.

Bacokan itu cukup ganas, tepat dan cepat, yang digunakan


adalah gerakan Ing-hong-it-to-cian (Sebuah bacokan golok
menyambut angin) dari ilmu samurai negeri Matahari Terbit,
Pendekar Gelandangan 460

seakan-akan ia merasa benci sekali sehingga kalau bisa dalam


sekali bacokan saja batok kepalanya dipenggal menjadi dua
bagian.

Dua orang ini benar-benar suka membunuh orang dimanapun


dan saat apapun, bahkan membunuh siapa saja yang
diinginkan.

Tapi kepandaian Kanyo tidak termasuk cetek, ia berguling di


atas tanah dan meloloskan diri dari ujung samurai lawan, lalu
sambil memutar badan ia lepaskan tiga buah senjata rahasia
yang berbentuk bintang hitam sudut besi, semacam senjata
rahasia khas dari negeri Hu-sang (Jepang).

Gara-gara bini orang lain, ternyata dua orang bersaudara ini


telah melibatkan diri dalam suatu pertarungan yang seru dan
mati-matian.

Permainan samurai Suzuko sangat hebat dan ganas, setiap


bacokannya selalu tertuju pada bagian-bagian mematikan di
tubuh Kanyo.

Sebaliknya gerakan tubuh Kanyo jauh lebih aneh lagi, dia


berguling-guling di atas tanah sambil melepaskan aneka
macam senjata rahasia dengan tiada hentinya.

"Traaaang....!, tiba-tiba terdengar suara dentingan nyaring


berkumandang memecahkan keheningan, tiga batang senjata
rahasia bintang besi kena terpapas rontok, menyusul
kemudian samurai itupun ditahan orang.

Seorang imam berjubah biru yang tinggi dan kurus dengan


Pendekar Gelandangan 461

rambut yang disanggul dengan sebuah tusuk konde kayu putih


berdiri di hadapan mereka dengan sebilah pedang baja
terhunus.

Setelah merontokkan senjata rahasia, menangkis samurai,


menendang tubuh Kanyo hingga menggelinding sejauh lima
kaki serta memerseni tiga buah tempelengan ke wajah
Suzuko, dengan dingin ia berkata:

"Kalau ingin mencari nona cakep, pergi saja ke rumahnya Han


toa-nay-nay, perempuan yang sudah punya anak bukan nona
yang boleh diajak untuk bermain-main!"

Dua orang gelandangan dari negeri Hu-sang (Jepang) yang


ganas, buas dan kejam ini sama sekali tak berani berkutik
setelah berhadapan dengan tosu itu, mereka hanya berdiri
dengan kepala tertunduk. Jangankan mengucapkan sesuatu,
mau kentutpun tak berani dilepaskan.

Dari antara kerumunan orang banyak tiba-tiba berkumandang


suara tertawa dingin, lalu seseorang berkata:

"Tosu itu pastilah Pek Bok yang kata orang telah diusir dari
bukit Bu-tong, sungguh tak disangka pada saat ini dia malah
bergaya soknya bukan kepalang"

Seseorang yang lain segera menanggapi sambil tertawa pula,


suaranya lebih-lebih lagi tak sedap didengar:

"Kalau bukan bergaya sok di hadapan orang sendiri,


memangnya kau suruh ia jual tampang kepada siapa?"
Pendekar Gelandangan 462

Paras muka Pek Bok sama sekali tidak berubah, hanya saja
tahi lalatnya yang tepat berada di sudut alis mata tiba-tiba saja
mulai berdenyut tiada hentinya, dengan dingin ia berkata:

"Tampaknya tempat ini memang benar-benar sangat ramai,


sampai dua bersaudara dari keluarga Cu pun ikut tiba pula di
sini!"

Gelak tertawa nyaring segera berkumandang kembali dari


balik kerumunan orang banyak.

"Haaaaahhhh.....haaaahhhh......haahhh....sungguh tak
kusangka hidung kerbau tua ini memiliki ketajaman
pendengaran yang mengagumkan!"

Di tengah gelak tertawa itu, dua rentetan cahaya pedang


berkelebat lewat seperti pelangi membelah angkasa, satu dari
kiri yang lain dari kanan langsung menusuk tiba.

Pek Bok sama sekali tidak berkutik, Kanyo dan Suzuko segera
maju menyongsong datangnya ancaman itu.

Tapi merekapun tiada kesempatan untuk turun tangan, sebab


di belakang bayangan manusia terbungkus dua rentetan
cahaya pedang itu masih ada lagi dua sosok bayangan manusia
yang menempel terus di belakang mereka seperti bayangan.

Ketika dua bersaudara Cu meluncur ke depan sambil


melancarkan serangan, kedua sosok bayangan manusia di
belakangnya ikut pula meluncur ke depan.

Terdengar jeritan ngeri yang menyayatkan hati


Pendekar Gelandangan 463

berkumandang memecahkan keheningan, di tengah kilatan


cahaya pedang darah segar berhamburan ke empat penjuru,
dua sosok bayangan manusia rontok ke atas tanah, punggung
mereka masing-masing tertancap sebilah pisau pendek yang
tembus tubuhnya hingga tinggal gagangnya.

Dua orang lainnya berjumpalitan sekali di udara dan


melayang turun pula ke atas tanah, mereka berdiri persis di
tepi genangan darah.

Yang seorang berwajah kehijau-hijauan, sedang yang lain


masih berwajah mabuk, kedua orang itu tak lain adalah Ting Ji-
long dan Cing Coa, si ular hijau.

Ting Ji-long masih juga menghela napas panjang, sambil


memandang dua sosok mayat yang terkapar di tanah, ia
bergumam tiada hentinya:

"Sungguh mengecewakan! Sungguh mengecewakan!


Ternyata kepandaian yang dimiliki Cu-keh-siang-kiam
(Sepasang pedang dari keluarga Cu) tidak lebih cuma begitu
saja, kami selalu menguntil di belakang mereka, tapi bagaikan
orang mati saja, sedikitpun tidak merasakan apa-apa"

"Oleh karena itulah sekarang mereka baru menjadi orang


mati beneran......", sambung Cing Coa hambar.

Sekulum senyuman segera tersungging di ujung bibir Pek Bok


yang dingin dan kaku.

"Ilmu meringankan tubuh dari Cing Coa selamanya memang


bagus sekali, sungguh tak nyana ilmu meringankan tubuh yang
Pendekar Gelandangan 464

dimiliki Ji-long pun memperoleh kemajuan yang pesat"

"Ya, tentu saja harus mendapatkan kemajuan karena untuk


sementara waktu aku masih tak ingin mati!"

Bagi mereka yang bekerja dalam bidang semacam ini, jika kau
masih tak ingin mati, maka setiap waktu setiap saat kau harus
baik-baik melatih diri.

Pek Bok kembali tersenyum:

"Bagus, bagus sekali, persoalan ini memang telah diselesaikan


secara bagus sekali!", katanya.

Ting Ji-long mengerdipkan matanya berulang kali, tiba-tiba ia


bertanya lirih:

"Apakah yang terbaik?"

"Yang terbaik tentu saja masih pedangku ini", jawab Pek Bok
dengan angkuh sambil membelai pedangnya.

Pedang itu telah diloloskan dari sarungnya.

Tak ada orang yang berani membantah ucapan sombong dari


imam tersebut, karena tak ada orang yang bisa menahan
permainan pedangnya. Ia sendiripun sangat memahami akan
kelebihannya ini, lagi pula setiap saat setiap waktu selalu
menyinggungnya kembali untuk memperingatkan orang
lain......

Di antara kelompok pembunuh hitam, selamanya ia memang


Pendekar Gelandangan 465

duduk pada kedudukan yang paling tinggi dan terhormat.

Mendadak terjadi kegaduhan lagi di antara kerumunan orang


banyak, di antara jeritan-jeritan kaget tampak semua orang
melarikan diri tercerai-berai ke empat penjuru.

Seorang laki-laki yang penuh berlepotan darah berlarian


mendekat dengan cepat.

Dengan kening berkerut Cing Coa segera berbisik:

"Entah si Hu Tau telah menerbitkan keonaran apa lagi?"

Pek Bok tertawa dingin.

"Heeehhhh......heeeehhh.....heeeeehhh......sekalipun begitu,
yang terkena bencana sudah pasti bukan dia!", katanya.

Melihat mereka semua, Hu Tau menghentikan larinya dan


menampilkan sepercik senyum kegirangan.

"Waaahhh.....akhirnya aku berhasil juga menyusul kalian


semua......!", teriaknya keras.

"Ada apa?"

"Lo Cay lagi-lagi minum arak sampai mabuk, sekarang ia


sedang bekerja keras melawan serombongan piausu yang
datang dari wilayah Hoo-pak....!"

Pek Bok lagi-lagi tertawa dingin.


Pendekar Gelandangan 466

"Hmmm....! Lagi-lagi dia yang menerbitkan keonaran!"

"Sewaktu aku menjumpainya tadi, ia sudah terkena dua


pukulan!", cerita Hu Tau, "sungguh tak nyana setelah aku
terjun ke gelanggangpun masih tidak tahu, terpaksa aku mesti
membuka sebuah jalan berdarah untuk mencari bala bantuan"

"Hmm.....!", Pek Bok mendengus.

"Rombongan piausu itu betul-betul luar biasa hebatnya",


desak Hu Tau lagi, "hayo kita cepat-cepat ke situ, kalau tidak
Lo Cay tentu akan mampus di tangan mereka"

"Kalau begitu biarkan saja dia mampus!", kata Pek Bok


semakin ketus.

Hu Tau tampak terperanjat.

"Biarkan dia mampus?", serunya.

"Ya, kedatangan kita kali ini adalah untuk membunuh orang,


bukan untuk menolong orang"

Ternyata Pek Bok betul-betul telah pergi, tentu saja semua


orang harus pergi pula mengikutinya.

Hu Tau berdiri termangu-mangu setengah harian lamanya di


situ, akhirnya diapun menyusul rekan-rekan lainnya.

Di tengah jalan raya mereka membunuh orang, lalu pergi


dengan begitu saja, sekalipun di sekitar situ berkumpul
ratusan orang, mereka pun cuma bisa mengiringi kepergian
Pendekar Gelandangan 467

orang-orang itu dengan mata terbelalak lebar-lebar.

Tak ada orang berani mengganggu mereka, sebab mereka


adalah manusia-manusia tak punya muka dan tak ingin hidup.

Ternyata masih ada juga orang yang lebih tak tahu malu dan
tak ingin hidup!.

Hingga mereka pergi jauh, kembali muncul seorang tauto


yang gemuk besar sambil memikul sebuah tongkat baja
sebesar telur itik, dengan langkah lebar ia berjalan melewati
Sui-tek-siang dan menuju ke rumah makan yang berada di
seberang jalan.

Baru saja nyonya muda itu menghembuskan napas lega dan


menurunkan anaknya, sambil duduk menghilangkan rasa
kaget, mendadak........"Blaaang!", meja kasir yang kuat dan
tebal itu mendadak terhajar hancur oleh toya baja si hwesio
yang besar itu.

Tampaknya bobot toya itu mencapai ribuan kati lebih,


bayangkan saja andaikata dipakai untuk memukul orang,
kehebatannya tentu saja mengerikan sekali.

Rumah pemintalan kain yang sudah berdiri tiga ratus tahun


lebih itu segera porak poranda dibuatnya.

Di antara dua belas orang pelayan yang bekerja di situ, ada


yang tangannya kutung, ada kakinya kutung, ada yang tak bisa
berdiri, ada pula yang sudah putus nyawa. Nyonya muda itu
tergeletak di tanah dalam keadaan tak sadarkan diri.
Pendekar Gelandangan 468

Hwesio itu segera menghampirinya, bagaikan mencengkeram


anak ayam saja ia tangkap tubuh perempuan itu,
mengempitnya di bawah ketiak dan berlalu dari situ dengan
langkah lebar.

Semua orang yang telah menyaksikan keganasan serta tenaga


alamnya yang luar biasa, siapakah yang berani menghalangi
tingkah-lakunya itu?

Meskipun harus mengempit tubuh seseorang, langkah si


hwesio masih tetap cepat dan tegap, dalam waktu singkat ia
telah menyusul rekan-rekannya, berpaling, menyengir dan
melewati Pek Bok sekalian, dalam waktu singkat bayangan
tubuhnya telah lenyap dari pandangan.

"Jangan-jangan hwesio itu sudah edan?", Cing Coa


mengemukakan pendapatnya dengan alis mata berkerut.

Dengan dingin Pek Bok menjawab:

"Pada dasarnya dia memang telah mengidap penyakit edan,


setiap dua sampai tiga hari, dia musti menyalurkan hajadnya
itu dengan seorang perempuan cantik!"

"Tapi perempuan yang dibawanya tadi seperti si nona cantik


yang kita persoalkan barusan", seru Suzuko.

Kanyo tidak mengucapkan sepatah katapun, tiba-tiba dia


percepat larinya menyusul ke depan.

Tentu saja Suzuko tak sudi ketinggalan, iapun mempercepat


langkah kakinya menyusul rekannya itu.
Pendekar Gelandangan 469

Tiba-tiba dari depan lorong sebelah depan sana


berkumandang jeritan ngeri yang memilukan hati, tampaknya
suara jeritan itu mirip sekali dengan jeritan dari si hwesio.

Menanti semua orang menyusul ke situ, tubuh si hwesio yang


beratnya mencapai ratusan kati itu sudah digantung orang di
atas sebuah pohon besar.

Matanya melotot keluar, celananya basah kuyup, air mata,


ingus, air liur, air seni dan kotoran manusia sama-sama
mengalir keluar dengan derasnya, hal ini menimbulkan bau
busuk yang bisa di cium orang dari jarak yang amat jauh.

Hwesio itu bukan saja berkekuatan dahsyat, ilmu gwakang


yang dimilikinya pun tidak jelek, tapi dalam sekejap mata ia
telah mati digantung orang di atas pohon, sementara
pembunuhnya sudah tidak nampak lagi batang hidungnya.

Pek Bok memutar tangannya menggenggam kencang gagang


pedangnya, peluh dingin telah membasahi telapak tangannya,
sambil tertawa dingin tiada hentinya ia berseru:

"Bagus, bagus, suatu gerakan tubuh yang sangat cepat!"

Cing Coa mengerutkan pula dahinya.

"Tak pernah kusangka kalau disekitar tempat ini masih


terdapat seorang jago selihay ini, caranya turun tangan
ternyata lebih buas dan keji daripada kita!"

Ting Ji-long membungkukkan badannya, seakan-akan ia


Pendekar Gelandangan 470

merasa sangat mual dan tak tahan lagi ingin tumpah.

Sementara itu Hu Tau sedang mengerang penuh kegusaran:

"Hei, kalau kau memang bernyali untuk membunuh orang,


kenapa tidak berani untuk unjukkan diri dan berjumpa dengan
locu sekalian?"

Suasana dalam lorong itu tetap sepi, hening dan tak


kedengaran suara apa-apa, bahkan sesosok bayangan
manusiapun tak tampak.

Yang dikuatirkan Suzuko ternyata bukan persoalan tersebut,


tiba-tiba ia bertanya:

"Ke mana perginya si nona cantik itu?"

Sekarang semua orang baru mengetahui bahwa perempuan


yang dikempit oleh si hwesio tadi sekarang telah lenyap tak
berbekas, tongkat baja yang tak pernah dilepaskan si hwesio
walaupun sedang tidurpun kini telah lenyap tak berbekas.

Mungkinkah perempuan yang cantik dan bahenol itu


sesungguhnya adalah seorang jago lihay yang sengaja
menyembunyikan kepandaiannya?

ooooOOOOoooo
Pendekar Gelandangan 471

Bab 12. Serba Bertentangan

Toa-tauke duduk di atas kursi berlapiskan kulit harimau yang


secara khusus didatangkan dari kantornya. Memandang tujuh
jago yang berada dihadapannya, ia mengangguk terus sambil
tersenyum, rupa-rupanya kehadiran jago-jago tersebut sangat
memuaskan hatinya.

Tentu saja senyuman ramah menghiasi pula ujung bibir Tiok


Yap-cing, asal Toa-tauke gembira, dia pasti gembira pula.

Namun Pek Bok sekalian tampaknya tak mampu tertawa


menyaksikan kematian si hwesio dalam keadaan mengerikan,
perasaan semua orang mulai tak enak dan tak nyaman.

......Sesungguhnya siapa yang telah membunuhnya?


Mungkinkah perempuan itu sengaja menyaru sebagai babi
untuk mencaplok harimau? Ataukah di sekitar tempat itu
masih terdapat jago-jago lihay lainnya?

Tiok Yap-cing tersenyum, katanya:

"Konon begitu masuk ke dalam kota, kalian lantas melakukan


beberapa peristiwa yang menggemparkan seluruh kota?
Sungguh bagus sekali!"

"Sedikitpun tidak bagus!", jawab Pek Bok dengan nada dingin.

"Tapi sekarang setiap penduduk kota tak seorangpun yang


tidak tahu kalau kalian semua betul-betul lihay!"

Pek Bok tutup mulutnya rapat-rapat, semua rekannya tutup


Pendekar Gelandangan 472

pula mulut mereka rapat-rapat, meskipun setiap orang


memiliki seperut penuh air getir, namun tak segumpalpun
yang mampu ditumpahkan keluar.

Sebenarnya mereka semua memang ingin menanamkan


sedikit pengaruhnya dengan melakukan beberapa peristiwa
yang brutal dan hebat di dalam kota, siapa tahu rekan mereka
justru malah mampus secara aneh dan misterius, seandainya
peristiwa ini sampai diceritakan ke luar, bukankah tindakan
tersebut sama artinya dengan meruntuhkan semangat sendiri
dengan mengunggulkan orang lain?

Tiba-tiba Hu Tau meraung keras:

"Sungguh menjengkelkan!"

"Kenapa saudara Hu Tau marah-marah tanpa sebab?",


dengan seramah mungkin Tiok Yap-cing bertanya.

Baru saja Hu Tau ingin berbicara, ketika dilihatnya Pek Bok


dan Cing Coa semuanya sedang mendelik ke arahnya, cepat-
cepat ia berubah ucapannya dengan berseru:

"Aku suka marah-marah, kalau lagi gembira hatiku, akupun


akan marah-marah sendiri!"

"Ooohhh......itu lebih bagus lagi!", teriak Tiok Yap-cing


semakin tertawa lebar.

"Apanya yang bagus?", dengan geramnya Hu Tau melototkan


sepasang matanya lebar-lebar.
Pendekar Gelandangan 473

"Dengan mengandalkan tabiat saudara yang suka marah-


marah, hal ini sudah cukup untuk memecahkan nyali orang!"

"Tetapi aku justru tak pernah marah-marah!", sela Ting Ji-long


dari samping.

"Inipun bagus sekali!"

"Apanya yang bagus?"

"Di waktu tenang bagaikan seorang perawan, di kala bergerak


selincah kelinci, kalau di hari-hari biasa tidak diumbar, sekali
diumbar pasti mengejutkan hati orang"

Ting Ji-long segera tertawa.

"Tampaknya apapun yang bakal kami katakan, kau selalu


mempunyai kemampuan untuk memuji dan mengumpak kami
semua. Ehmmm.......rupanya dalam bidang ini kau memang
memiliki kepandaian yang bisa diandalkan"

Tiok Yap-cing ikut tersenyum pula.

"Aku sih tidak memiliki kepandaian hebat seperti kalian


semua, aku tak lebih hanya mengandalkan sedikit kepandaian
semacam ini untuk mencari sesuap nasi......."

Selama ini Toa-tauke hanya mendengarkan pembicaraan


mereka dengan senyuman di kulum, tiba-tiba ia bertanya:

"Apakah kalian telah datang semua?"


Pendekar Gelandangan 474

"Sudah!", jawab Pek Bok.

"Tapi seingatku rasanya orang yang ku undang kali ini


seluruhnya berjumlah sembilan orang!"

"Ehmmm......memang sembilan orang!"

"Kemana perginya yang dua lainnya?"

"Sekalipun mereka berdua tidak datang juga sama saja!",


ucap Pek Bok dengan suara dingin.

"Oya?"

"Asal kami bertujuh telah datang, sekalipun hendak


melakukan pekerjaan apapun sudah terlebih dari cukup"

"Untuk menghadapi A-kit juga lebih dari cukup?"

"Untuk menghadapi manusia macam apapun, kekuatan kami


sekarang sudah lebih dari cukup!"

Toa-tauke tertawa.

"Aku tahu belakangan ini ilmu pedang totiang telah peroleh


kemajuan yang amat pesat, sedang kepandaian dari beberapa
rekan lainnya juga telah mendapat kemajuan yang hebat,
cuma ada satu persoalan yang masih juga membuat hatiku tak
tenang!"

"Persoalan apakah itu?"


Pendekar Gelandangan 475

Sambil tersenyum Toa-tauke segera memberi tanda, dua


orang laki-laki kekar segera muncul dari luar pintu sambil
menggotong sebuah toya sian-cang yang terbuat dari baja
murni.

Paras muka Pek Bok berubah hebat.

Paras muka setiap anggota Hek-sat ikut berubah pula.

Ujar Toa-tauke:

"Aku rasa toya sian-cang ini pasti kalian kenali, bukan?"

Mereka tentu saja kenali benda itu, sebab itulah senjata


andalan dari Toh- hwesio, dengan mata kepala mereka sendiri
pernah disaksikan berpuluh-puluh orang tewas di ujung toya
tersebut.

"Konon toya sian-cang ini selamanya tak pernah berpisah


dengan Toh- hwesio barang sejengkalpun, kenapa pada saat
ini bisa berada di tangan orang lain?", kata Toa-tauke.

"Pinto justru ingin bertanya kepadamu, darimana kau


dapatkan toya sian-cang tersebut?", seru Pek Bok dengan
paras muka berubah.

"Ada seseorang yang sengaja menghantarnya ke mari, ia


minta kepadaku agar mengembalikannya kepada kalian!"

"Sekarang di manakah orang itu?"

"Masih berada di sini!"


Pendekar Gelandangan 476

"Di mana?"

"Itu dia, ada di situ!"

Toa-tauke menuding ke belakang, semua orang segera


mengalihkan sinar matanya ke arah mana yang ditunjuk,
tampaklah seseorang berdiri di luar pintu.

Itulah seorang perempuan yang montok, cantik dan bahenol.


Ternyata dia bukan lain adalah nyonya muda yang pernah
ditemui di rumah pemintalan Sui-tek-siang tadi.

Mungkinkah perempuan ini betul-betul adalah seorang jago


lihay yang sengaja menyembunyikan kepandaian silatnya dan
sanggup menggantung mati Toa- hwesio di atas pohon dalam
waktu singkat?

Siapapun tak dapat melihatnya, siapapun tak akan


mempercayainya, tapi mau tak mau mereka harus
mempercayainya juga.

Tiba-tiba Kanyo berpekik keras, tubuhnya bergelinding di


tanah sambil menubruk ke depan, tiga batang bintang baja
disambit ke muka dengan kecepatan luar biasa.

Tubuh si nyonya muda itu berkelit ke samping dan


menyembunyikan diri ke belakang pintu.

Sekali lagi Kanyo meraung keras, lalu roboh terjengkang ke


atas tanah, tiga batang senjata rahasia berbentuk bintang
menancap di atas dadanya, itulah senjata rahasia yang ia
Pendekar Gelandangan 477

lepaskan sendiri.

Paras muka Pek Bok berubah menjadi pucat pias seperti


mayat, sekujur tubuh rekan-rekannya telah menjadi dingin
pula seperti es.

Sesosok bayangan manusia muncul kembali pelan-pelan dari


balik pintu, dialah si nyonya muda yang baru saja melahirkan
anak itu.

Dengan terkejut Suzuko memandang ke arahnya, lalu


bergumam seorang diri dengan suara lirih:

"Nona cantik ini ternyata betul-betul bukan nona untuk


menghibur diri, dia adalah seorang siluman perempuan!"

Nyonya muda itu berpaling ke arahnya lalu tertawa manis.

"Sukakah kau dengan siluman perempuan?", tegurnya.

Sekalipun suaranya kedengaran agak gemetar, tapi


senyumannya itu sungguh manis dan menawan hati.

Sepasang mata Suzuko berubah menjadi merah padam


seperti api yang menyala, sambil menggenggam kencang
gagang samurainya, selangkah demi selangkah ia maju ke
depan.

"Hati-hati!", Pek Bok segera memperingatkan.

Sayang peringatan itu datangnya agak terlambat, Suzuko


telah merentangkan sepasang tangannya sambil menubruk ke
Pendekar Gelandangan 478

depan, dia hendak memeluk perempuan itu ke dalam


rangkulannya.

Ternyata ia menubruk tempat kosong.

Tubuh nyonya muda itu telah menyurut kembali ke balik


pintu. Baru saja ia hendak menyusulnya, tiba-tiba jeritan ngeri
yang menyayatkan hati berkumandang lagi memecahkan
kesunyian, selangkah demi selangkah ia mundur ke belakang.

Sebelum orang lain sempat menyaksikan raut wajahnya,


mereka telah menjumpai sebagian ujung golok menongol di
balik punggungnya, darah segar berhamburan memenuhi
seluruh lantai.

Menunggu ia roboh tertelentang di atas tanah, semua orang


baru dapat lihat jelas senjata tersebut.

Ternyata senjata itu adalah sebilah samurai yang panjangnya


delapan depa, senjata itu menusuk dari dadanya hingga
tembus di punggung dan senjata itu bukan lain adalah senjata
andalannya sendiri.

Sekali lagi si nyonya muda itu munculkan diri di depan pintu,


lalu menatap mereka lekat-lekat.

Di balik biji matanya yang indah dan jeli, terpancarlah


perasaan sedih, marah dan ngerinya.

Kali ini tak ada orang yang berani maju untuk melancarkan
tubrukan lagi, bahkan paras muka Tiok Yap-cing pun ikut
berubah sangat hebat.
Pendekar Gelandangan 479

Hanya Toa-tauke seorang yang tenang dan wajahnya sama


sekali tak berubah, ujarnya dengan suara hambar:

"Manusia macam beginikah yang secara khusus kau undang


untuk melindungi keselamatan jiwaku?"

Pertanyaan tersebut ditujukan kepada Tiok Yap-cing.

Tiok Yap-cing menundukkan kepalanya rendah-rendah, ia tak


berani buka suara.

"Dengan mengandalkan kepandaian mereka semua,


sanggupkah A-kit dihadapi?"

Paras muka Tiok Yap-cing telah berubah menjadi pucat pias


seperti mayat, kepalanya semakin ditundukkan rendah-
rendah.

Toa-tauke menghela napas panjang ujarnya:

"Coba lihatlah, untuk menghadapi seorang perempuan saja


mereka tak mampu, mana mungkin........."

Tiba-tiba Pek Bok menukas pembicaraannya yang belum


selesai itu, kedengaran ia membentak keras:

"Sobat, kalau toh sudah datang kemari, kenapa masih


bersembunyi terus di luar pintu? Tidak beranikah kau untuk
menampilkan diri?"

"Siapa yang sedang kau ajak berbicara?", Toa-tauke segera


Pendekar Gelandangan 480

menegur.

"Sahabat yang berada di luar pintu!"

"Apakah di luar pintu ada sahabatmu?", tanya Toa-tauke lagi.

Pelan-pelan ia menggelengkan kepalanya, lalu menjawab


sendiri pertanyaan tersebut.

"Pasti tidak ada, aku berani menjamin di luar pasti tak ada
sahabatmu.....!"

Suasana di luar pintu memang amat sepi dan tak kedengaran


suara jawaban. Satu-satunya orang yang berdiri di luar pintu
tak lain adalah nyonya muda dari rumah pemintalan kain itu.

Kalau tadi dia masih sanggup untuk membunuh dua orang


dengan mempergunakan senjata andalan mereka sendiri,
maka sekarang ia kelihatan ketakutan setengah mati.

Pek Bok tertawa dingin, ia segera memberi tanda kepada


rekan-rekannya untuk bertindak.

Ting Ji-long dan Cing Coa segera melayang ke tengah udara,


satu dari kiri yang lain dari kanan, mereka menerobos ke luar
lewat daun jendela, gerakan tubuhnya sangat enteng dan
lincah persis seperti seekor burung walet yang sedang
terbang.

Bersamaan waktunya Hu Tau menggerakkan pula kampaknya,


sambil meraung keras ia ikut menerkam ke depan.
Pendekar Gelandangan 481

Bayangan manusia berkelebat lewat, tiba-tiba saja Hek Kui


telah mendahului di depannya.

Tapi si nyonya muda itu telah lenyap tak berbekas.

Ke empat orang itu bekerja sama dengan bagus dan ketatnya,


kiri kanan depan belakang semuanya melakukan gerakan
hampir bersamaan waktunya, baik di belakang pintu ada
orang yang bersembunyi atau tidak, perduli siapapun
orangnya, dengan kepungan semacam ini rasanya sulit bagi
orang itu untuk meloloskan diri.

Terutama sekali pedang dari Hek Kui, tusukan mautnya yang


menembusi tenggorokan belum pernah kehilangan
sasarannya.

Tapi aneh sekali, sudah sekian lama ke empat orang itu keluar
dari ruangan, akan tetapi suasana di luar sana tetap tenang
dan hening, sama sekali tak kedengaran sedikit suarapun.

Tanpa sadar Pek Bok meraba gagang pedangnya, peluh dingin


telah mengucur ke luar membasahi jidatnya.

Pada saat itulah........"Blaaaang!", daun jendela sebelah kiri


ditumbuk hingga terbuka lebar, sesosok bayangan manusia
melayang masuk ke dalam.

Hampir bersamaan waktunya daun jendela sebelah kananpun


terpentang lebar, lagi-lagi sesosok bayangan manusia
melayang masuk ke dalam.

Ke dua orang itu mencapai permukaan tanah hampir


Pendekar Gelandangan 482

bersamaan waktunya........

"Braaaakkk!", seperti dua buah karung goni yang berat


mereka terbanting keras-keras di tanah.

Ternyata kedua orang itu bukan lain adalah Cing Coa serta
Ting Ji-long yang telah menyusup ke luar selincah burung
walet itu.

Di saat tubuh mereka roboh terkapar di tanah, Hu Tau dan


Hek Kui telah kembali pula, Cuma saja si Hu Tau pulang tanpa
kepala dan Hek Kui betul-betul sudah menjadi Kui (setan).

Batok kepala Hu Tau dipenggal oleh senjata kampaknya


sendiri, sedang pedang Hek Kui sudah tidak berada dalam
genggamannya lagi, cuma di atas tenggorokannya kini sudah
bertambah dengan sebuah lubang besar yang mengucurkan
darah segar.

Tangan Pek Bok masih menggenggam gagang pedang,


sementara peluh dingin yang membasahi jidatnya mengucur
keluar bagaikan curahan hujan deras.................

Dengan hambar Toa-tauke berkata:

"Bukankah semenjak tadi telah kukatakan bahwa di luar pintu


tak ada sahabatmu, kau tidak percaya, nah! Sekarang
tentunya kau sudah paham bukan bahwa di luar situ paling
banter hanya satu dua orang utusan dari neraka yang akan
merenggut nyawa kalian semua"

Otot-otot hijau di tangan Pek Bok yang menggenggam pedang


Pendekar Gelandangan 483

telah menonjol semua seperti ular melingkar, tiba-tiba ia


berseru:

"Bagus, bagus sekali!"

Suaranya berubah menjadi sangat parau, terusnya:

"Sungguh tak kusangka 'Dengan gigi membalas gigi, dengan


darah membalas darah" telah datang!"

"Kau keliru besar!", tiba-tiba dari luar pintu berkumandang


suara tertawa dingin yang amat singkat.

"Apakah yang datang adalah Mao-toa-sianseng?"

"Kali ini tebakanmu benar!"

Pek Bok segera tertawa dingin tiada hentinya.

"Bagus, kepandaian bagus, dengan cara yang sama melakukan


pembalasan yang sama. Kalian memang tidak malu menjadi
keturunan keluarga Buyung di wilayah Kanglam!"

Ketika menyinggung soal 'keluarga Buyung dari Kanglam',


tiba-tiba dari luar pintu berkumandang suara geraman gusar
seperti auman binatang buas yang sangat mengerikan.

Cahaya pedang di balik pintu berkelebat lewat, Pek Bok telah


meluncur ke luar dengan kecepatan luar biasa, cahaya pedang
bagaikan selapis mega melindungi seluruh tubuhnya.

Tiok Yap-cing tidak berani ikut keluar, ia berdiri kaku tanpa


Pendekar Gelandangan 484

bergerak barang sedikitpun jua, iapun tidak melihat jelas


orang di luar pintu itu, hanya tahu-tahu terdengar
suara...."Kreeeek!" serentetan cahaya tajam meluncur datang
dan menancap di atas dinding, ternyata cahaya tersebut
adalah sebagian ujung pedang yang patah.

Menyusul kemudian........."Kreeekk! Kreeeekkk!" kembali ada


tiga kutungan pedang melayang masuk dan menancap di atas
dinding.

Kemudian selangkah demi selangkah Pek Bok mundur


kembali ke dalam ruangan, mukanya pucat pias seperti mayat,
pedang dalam genggamannya kini tinggal gagang
pegangannya saja.

Dengan suatu gerakan yang luar biasa, pedang panjangnya


yang terbuat dari baja murni itu tahu-tahu sudah dikutungi
menjadi beberapa bagian.......

Di luar pintu kedengaran seseorang tertawa dingin, kemudian


berkata:

"Sekalipun tidak mempergunakan ilmu silat keluarga Buyung,


aku toh masih tetap dapat membunuhmu!"

Pek Bok ingin mengucapkan sesuatu, tapi di tahan kembali,


mendadak ia muntah darah segar, sewaktu tubuhnya roboh di
atas tanah, paras mukanya yang pucat pias itu kini telah
berubah menjadi hitam pekat.

Toa-tauke tersenyum, pujinya:


Pendekar Gelandangan 485

"Kepandaian itu memang bukan kepandaian dari keluarga


Buyung, inilah ilmu pukulan Hek-sah-ciang (Pukulan pasir
hitam)!"

"Sungguh tajam sepasang matamu!", puji orang yang ada di


luar pintu.

"Kali ini aku benar-benar telah merepotkan Mao-toa-


sianseng!"

Dari luar pintu Mao-toa-sianseng menjawab:

"Kalau hanya untuk membunuh beberapa orang manusia


bangsa tikus begini mah, bukan terhitung merepotkan, coba
kalau berganti Ciu Ji yang melakukan pekerjaan ini, mungkin
orang-orang itu akan mampus lebih cepat lagi!"

"Apakah Ciu Ji sianseng dengan cepat akan sampai pula di


sini?", Toa-tauke kembali bertanya.

"Ya, dia pasti akan datang!"

Toa-tauke menghembuskan napas panjang, katanya:

"Ilmu pedang Ciu Ji sianseng memang tiada bandingannya di


dunia ini, sudah lama aku mengaguminya!"

"Meskipun ilmu pedangnya belum tentu sudah tiada


tandingannya lagi di dunia ini, namun tidak banyak jumlah
orang yang bisa menangkap permainan pedangnya!"

Toa-tauke tertawa terbahak-bahak. Mendadak ia berpaling ke


Pendekar Gelandangan 486

arah Tiok Yap-cing yang berada di sisinya.

Paras muka Tiok Yap-cing telah berubah menjadi pucat ke


abu-abuan, ia benar-benar merasa takut sekali.

"Sudah kau dengar semua pembicaraan itu?", tegur Toa-tauke


kemudian.

"Sudah, sudah kudengar semua!"

"Dengan bersedianya Mao-toa-sianseng dan Ciu-ji sianseng


membantu usaha kita, bukan suatu pekerjaan yang gampang
bagi si A-kit untuk merenggut selembar nyawaku!"

"Ya, benar!", Tiok Yap-cing membenarkan.

Toa-tauke mendengus dingin, kembali ujarnya dengan


hambar:

"Bila kau menginginkan pula nyawaku, aku rasa hal inipun tak
bisa kau laksanakan dengan gampang"

"Aku......."

Tiba-tiba Toa-tauke menarik muka, katanya dingin:

"Maksud baikmu dapat kupahami, tapi seandainya aku benar-


benar mengandalkan perlindungan dari beberapa orang jago
silat yang kau undang itu, hari ini selembar jiwaku pasti sudah
melayang!"

Tiok Yap-cing tak berani bersuara.


Pendekar Gelandangan 487

Ia berlutut terus tanpa bergerak, berlutut dengan tubuh tegak


lurus, berlutut di hadapan Toa-tauke.

Sekarang ia baru merasa bahwa orang ini ternyata jauh lebih


lihay daripada apa yang dibayangkan semula.

Toa-tauke sama sekali tidak memandang lagi ke arahnya,


bahkan sekejappun tidak, sambil ulapkan tangannya ia
berseru:

"Kau telah lelah, lebih baik pergilah tinggalkan tempat ini!"

Tiok Yap-cing tidak berani melakukannya.

Di luar pintu telah siap menunggu seorang utusan dari neraka


yang akan merenggut nyawa orang, tentu saja ia tak berani ke
luar dari situ secara sembarangan.

Tapi diapun tahu, setiap ucapan yang telah diutarakan oleh


Toa-tauke merupakan perintah, jika ia berani membangkang
perintah Toa-tauke berarti hanya kematian yang akan diterima
olehnya.

Untunglah pada saat semacam itu, tiba-tiba dari halaman luar


kedengaran seseorang berteriak keras:

"A-kit telah datang"

Malam itu malam yang dingin sekali.

Angin dingin berhembus kencang dan menggoyangkan


Pendekar Gelandangan 488

ranting serta daun.

Pelan-pelan A-kit berjalan menembusi lorong sempit itu.

Setelah bulan berselang, ketika ia sedang berjalan melewati


lorong sempit iyu, masih tidak tahu jalan yang manakah yang
bakal ditempuh olehnya.

Tapi sekarang ia telah mengetahuinya.

.......Manusia macam apakah dia, harus pula melewati jalan


yang macam apa pula.

.......Sekarang di hadapan matanya hanya ada satu jalan yang


bisa dilewati, pada hakekatnya ia tidak mempunyai pilihan lain
kecuali melalui kenyataan tersebut.

Ketika pintu gerbang di buka lebar, tampaklah sebuah jalan


terbentang jauh ke depan, jalan itu penuh berliku-liku dan
menembusi semak belukar........

Seorang pemuda yang tampan, halus dan sopan berdiri serius


di tepi pintu, dengan sikap yang sungguh-sungguh dan penuh
rasa hormat, ia menegur:

"Engkau datang untuk mencari siapa?"

"Mencari Toa-tauke kalian!", jawab A-kit.

Pemuda itu mendongakkan kepalanya memandang sekejap


wajah orang itu, tapi dengan cepat ia menunduk kembali
sambil berbisik:
Pendekar Gelandangan 489

"Dan saudara adalah........?"

"Aku adalah A-kit, A-kit yang tak berguna!"

Sikap si anak muda itu jauh lebih hormat dan sopan lagi,
dengan cepat katanya:

"Toa-tauke sedang menunggu di ruang kebun, silahkan!"

A-kit menatapnya tajam-tajam, mendadak ia bertanya:

"Dahulu, rasanya aku belum pernah berjumpa denganmu!"

"Ya, belum pernah!"

"Siapa namamu?"

"Aku bernama Siau Te!"

Tiba-tiba ia tertawa dan menambahkan:

"Akulah yang lebih pantas disebut Siau Te yang tak berguna,


sebab aku benar-benar tak berguna!"

Siau Te berjalan di muka membawa jalan, sedang A-kit pelan-


pelan mengikuti di belakangnya.

Dia tak ingin membiarkan pemuda itu berjalan di


belakangnya.

Ia telah merasakan bahwa Siau Te yang tak berguna mungkin


Pendekar Gelandangan 490

berkali-kali lipat lebih berguna dari pada siapapun juga.

Selesai menelusuri halaman sempit itu, ia telah menyaksikan


hancuran daun jendela, yang berada di sebelah kiri ruangan.

Di balik daun jendela, seakan-akan ia menyaksikan ada cahaya


golok yang berkilauan.

Golok tersebut berada di tangan Tiok Yap-cing.

Barang siapa berani melanggar perintah To-tauke, dia harus


mati!

Tiba-tiba Tiok yap-cing mencabut ke luar samurai yang


menancap di atas tubuh Suzuko.....sekalipun harus mati, ia
merasa lebih baik mati ditangan sendiri.

Tangannya secepat kilat dibalik dan golok itu dibacokkan ke


atas tenggorokan sendiri.

Mendadak......"Triiiiing!", percikan bunga api berhamburan ke


empat penjuru, ternyata golok yang berada di tangannya telah
dihajar sampai mencelat dari genggamannya dan
......."Toook!", menancap kembali di atas daun jendela.

Sebutir batu kecil ikut rontok pula ke tanah mengikuti


kejadian tadi.

Toa-tauke segera tertawa.

"Suatu kekuatan sambitan yang hebat, tampaknya A-kit


benar-benar sudah datang"
Pendekar Gelandangan 491

Belum habis perkataan itu, ia telah melihat si A-kit.

Walaupun sudah tidur seharian penuh, lagi pula tidur dengan


pulas sekali, A-kit masih merasa agak lelah.

Suatu perasaan lelah yang muncul dari dasar hatinya, seakan-


akan dalam hati kecilnya telah tumbuh bibit rumput yang
sangat beracun.

Pakaian yang ia kenakan masih merupakan pakaian kasar


yang dekil dan penuh tambalan itu, mukanya yang pucat telah
dipenuhi cambang hitam, bukan saja ia kelihatan sangat lelah,
tua dan lemah lagi, bahkan rambutnya sudah lama tak pernah
di cuci.

Meskipun demikian, sepasang tangannya sangat bersih dan


rapi, kukunya di potong pendek, teratur dan rapi.

Toa-tauke sama sekali tidak memperhatikan sepasang


tangannya. Kaum lelaki memang jarang sekali memperhatikan
tangan pria lainnya.

Dengan sinar mata yang tajam ia memperhatikan wajah A-kit


dari atas sampai ke bawah, ia sudah memperhatikannya
berulang kali, tiba-tiba tegurnya:

"Kau yang bernama A-kit?"

A-kit berdiri ogah-ogahan di situ, sedikitpun tidak


memberikan reaksi apa-apa, pertanyaan yang tak perlu
jawaban tak pernah ia menjawabnya.
Pendekar Gelandangan 492

Tentu saja Toa-tauke mengetahui siapakah dia, tapi ada satu


hal tidak ia pahami.

"Mengapa kau menyelamatkan orang ini?"

Orang yang dimaksud tentu saja Tiok Yap-cing.

"Yang kuselamatkan bukan dia!", jawab A-kit.

"Kalau bukan dia lantas siapa?"

"Si Boneka!"

Kelopak mata Toa-tauke mulai menyusut kecil, katanya lagi:

"Oooooh......jadi lantaran si Boneka berada di tangannya,


maka kematiannya berarti pula kematian bagi si Boneka?"

Dengan sinar mata setajam sembilu ditatapnya wajah Tiok


Yap-cing lekat-lekat, kemudian ujarnya lagi:

"Tentu saja kau juga tahu bukan, bahwa ia tak akan


membiarkan kau mampus......?"

Tiok Yap-cing tidak menyangkal.

Dadu sudah dilempar, angka sudah tertera, sandiwara ini


tidak penting dilangsungkan lebih jauh, dan apa yang
diperankan pun sudah waktunya untuk berakhir.

Sekarang, satu-satunya perbuatan yang bisa ia lakukan adalah


Pendekar Gelandangan 493

menunggu lemparan dadu dari A-kit, dia ingin tahu angka


berapa yang akan diperolehnya.

Sekarang ia sudah tidak berkeyakinan lagi untuk


mempertaruhkan bahwa A-kit pasti akan menangkan
pertarungan ini.

Toa-tauke menghela nafas panjang, katanya:

"Selama ini aku selalu menganggapmu sebagai orang


kepercayaanku, sungguh tak kusangka kalau selama ini kau
hanya bersandiwara saja di hadapan mukaku"

"Ya, peranan yang bagus kita perankan sesungguhnya adalah


peranan yang saling bermusuhan!", Tiok yap-cing
mengakuinya.

"Oleh karena itulah sebelum sandiwara ini berakhir, di antara


kita berdua harus ada seorang yang mampus lebih dahulu!",
ujar Toa-tauke kembali.

"Seandainya sandiwara ini harus dilangsungkan mengikuti


skenario yang telah ku susun, maka yang bakal mampus
seharusnya adalah kau!", Tiok yap-cing menyengir.

"Dan sekarang?"

Tiok Yap-cing tertawa getir, sahutnya:

"Sekarang perananku sudah berakhir, yang memegang


peranan penting dalam permainan sandiwara sekarang adalah
A-kit"
Pendekar Gelandangan 494

"Peranan apakah yang ia perankan sekarang?"

"Peranannya adalah seorang pembunuh, sedang orang yang


akan dibunuhnya adalah kau!"

Toa-tauke segera berpaling ke arah A-kit, lalu tanyanya


dengan suara dingin:

"Apakah kau hendak memerankan perananmu itu lebih


jauh?"

A-kit tidak menjawab.

Secara tba-tiba saja ia merasakan adalah hawa pembunuhan


yang amat hebat, bagaikan jarum yang tajam sedang menusuk
punggungnya.

Hanya pembunuh yang benar-benar ingin membunuh orang


serta mempunyai kemampuan yang meyakinkan untuk
membunuh orang, baru akan memancarkan hawa
pembunuhan semacam ini.

Tak bisa diragukan lagi saat ini ada manusia semacam ini yang
berada di belakang punggungnya, bahkan ia mulai merasakan
pula bahwa kulit tubuh bagian tengkuknya secara tiba-tiba
mulai mengejang keras dan membeku.

Tapi ia tidak berpaling.

Sekarang, walaupun ia hanya berdiri seenaknya dengan gaya


yang santai, sesungguhnya semua anggota tubuhnya dan
Pendekar Gelandangan 495

seluruh kulit badannya berada dalam keadaan siap siaga


penuh, sedikitpun tiada titik kelemahan.

Asal ia berpaling, maka posisi semacam itu tak akan bisa


dipertahankan lagi, sekalipun hanya keteledoran yang amat
sedikit saja, akibatnya akan mempengaruhi juga kelangsungan
hidupnya.

Ia tak boleh memberikan kesempatan semacam ini kepada


pihak lawan.

Pihak lawan jelas sedang menantikan kesempatan semacam


itu, hampir setiap orang yang hadir dalam ruangan itu dapat
merasakan hawa pembunuhan yang amat mencekam itu,
pernapasan semua orang nyaris terhenti, sementara peluh
sebesar kacang telah membasahi jidatnya.

A-kit belum juga berkutik, malah ujung jaripun sama sekali


tidak bergerak.

Bila seseorang yang dengan jelas mengetahui bahwa ada


orang hendak membunuhnya, tapi ia masih bisa berdiri tak
berkutik, boleh dibilang setiap urat syaraf di tubuh orang ini
pasti sudah berhasil dilatihnya hingga lebih tangguh dari
kawat baja.

Sekarang A-kit malahan memejamkan sepasang matanya.

Orang yang hendak membunuhnya berada di belakang


punggung, ia tak usah memperhatikannya dengan mata, sebab
dia tak akan melihatnya.
Pendekar Gelandangan 496

Yang penting, ia harus memperhatikan kekosongan dan


konsentrasi pikirannya.

Tentu saja orang itupun seorang jago tangguh, hanya seorang


jago tangguh yang punya pengalaman ratusan kali
pertarungan serta membunuh orang dalam jumlah yang tak
terhitung baru akan memiliki kesabaran dan ketenangan
seperti ini, sebelum kesempatan yang dinantikan tiba, dia tak
akan turun tangan secara gegabah.

Kini suasana di sekeliling tempat itu menjadi hening dan sepi,


bahkan hembusan anginpun seolah-olah ikut terhenti.

Butiran keringat sebesar kacang kedelai mengalir keluar


melewati ujung hidungnya dan membasahi seluruh tubuh Toa-
tauke.

Ia biarkan keringat itu mengucur keluar, ia tidak berusaha


untuk menyekanya.

Kini tubuhnya ibarat sebuah anak panah yang sudah berada di


atas gendewa, bukan saja tegang dan serius, makan pikiran
lagi. Ia betul-betul tidak habis mengerti, mengapa kedua orang
itu bisa bersikap begitu sabar dan tahan uji.

Ia mulai tak mampu mengendalikan perasaannya, tiba-tiba


tegurnya:

"Tahukah kau bahwa di belakang punggungmu ada orang


yang siap membunuh dirimu?"

A-kit tidak mendengar, tidak melihat dan tidak bergerak.


Pendekar Gelandangan 497

"Tahukah kau siapakah orang itu?", kembali Toa-tauke


menegur.

A-kit tidak tahu.

Dia hanya tahu entah siapapun orang itu, sekarang dia pasti
tak akan berani untuk turun tangan.

"Mengapa kau tidak mencoba untuk berpaling dan


memeriksa sendiri, siapa gerangan orang itu?, Toa-tauke
mendesak lebih lanjut.

A-kit tidak berpaling tapi membuka sepasang matanya lebar-


lebar, karena secara tiba-tiba ia merasakan kembali segulung
hawa pembunuhan yang amat dahsyat.

Kali ini hawa membunuh itu datangnya dari depan.

Ketika ia membuka matanya, maka tampaklah seseorang


berdiri di depan sana agak jauh dari posisinya, orang itu
bertubuh jangkung, memakai dandanan seorang tosu,
menggembol pedang, bermuka pucat dan memancarkan
keangkuhan yang luar biasa.

Sepasang alis matanya yang tebal hampir bersambungan


antara yang satu dengan lainnya, wajah semacam ini penuh
memancarkan rasa benci dan dendam yang luar biasa.

Ketika A-kit membuka matanya, ia segera berhenti bergerak.

Ia telah menyaksikan seluruh jiwa, semangat dan tenaga tosu


Pendekar Gelandangan 498

itu telah terhimpun menjadi satu, bila semua kekuatan


tersebut di lontarkan keluar maka akibatnya akan sukar
dilukiskan dengan kata-kata.

Ia sendiripun tak berani sembarangan bergerak, diawasinya


sepasang tangan A-kit lekat-lekat, mendadak ia bertanya,
mendadak ia bertanya:

"Mengapa kau tidak membawa serta pedangmu itu?"

A-kit hanya membungkam, tidak berkata apa-apa.

Toa-tauke tidak dapat mengendalikan rasa sabarnya, ia


berseru:

"Apakah kau tahu kalau senjata andalannya adalah sebilah


pedang?"

Tosu itu mengangguk.

"Ya, dia memiliki sepasang tangan yang bagus sekali!"

Toa-tauke belum pernah memperhatikan sepasang tangan A-


kit, hingga kini ia baru mengetahui bahwa tangannya dengan
orangnya betul-betul sangat tidak serasi.

Tangannya terlalu bersih, terlalu rapi dan terawat.

"Inilah kebiasaan kami!", tosu itu menerangkan lagi.

"Kebiasaan apa?"
Pendekar Gelandangan 499

"Kami tidak akan menodai pedang kami sendiri!"

"Oleh karena itu tangan kalian harus selalu bersih dan


terawat rapi?"

Tosu itu mengangguk.

"Ya, kuku kamipun harus digunting pendek-pendek!",


sahutnya.

"Kenapa?"

"Sebab kuku yang terlalu panjang hanya mengganggu kita


sewaktu memegang pedang, asal pedang sudah berada di
tangan, maka kami tidak akan membiarkan benda apapun
mengganggu kita!"

"Ya, ini memang suatu kebiasaan yang baik!", kata Toa-tauke.

"Tidak banyak orang yang mempunyai kebiasaan baik seperti


ini!", sambung si tosu.

"Oya?"

"Bila ia bukan jago pedang yang sudah punya pengalaman


menghadapi beratus-ratus kali pertarungan, tak nanti
kebiasaan baik semacam ini akan berlangsung lama!"

"Orang yang bisa dianggap Ciu Ji sianseng sebagai jago


pedang, sudah pasti merupakan seorang jago yang lihay dalam
menggunakan pedang......!"
Pendekar Gelandangan 500

"Ya, sudah pasti!"

"Tapi berapa banyakkah manusia yang bisa lolos dari ujung


pedang Ciu Ji sianseng dalam keadaan hidup?"

"Tidak banyak!", Ciu Ji sianseng kelihatan amat bangga.

Ia sombong tentu saja, karena mempunyai alasan untuk


bersikap demikian.

Selama setengah abad berkelana dalam dunia persilatan,


seluruh wilayah Kanglam telah dijelajahi olehnya, dari sepuluh
orang jago pedang terlihay di wilayah Kanglam, ada tujuh
orang diantaranya telah ia jumpai, tapi belum pernah ada
seorangpun diantara mereka yang bisa menyambut ke tiga
puluh jurus serangannya.

Ilmu pedangnya bukan saja aneh dan ganas, kecepatan serta


reaksinyapun luar biasa sekali, jauh di luar dugaan siapapun.

Ke tujuh orang jago pedang yang tewas di ujung pedangnya


rata-rata tewas karena sebuah tusukan yang mematikan,
terutama sekali Hong-lui-sam-ci (Tiga tusukan kilat angin
geledek) dari San-tian-tui-hong-kiam (Pedang kilat pengejar
angin) Bwe Cu-gi, betul-betul merupakan kepandaian yang
jarang dijumpai dalam dunia persilatan.

Ketika ia membunuh Bwe Cu-gi, jurus serangan itulah yang


dipergunakan.

Ketika Bwe Cu-gi menyerangnya dengan jurus Hong-lui-sam-


ci, maka dengan mempergunakan jurus serangan yang sama ia
Pendekar Gelandangan 501

melancarkan serangan balasan.

Kalau ilmu pedang seseorang bisa disebut sebagai San-tian-


tui-hong-kiam (Pedang Kilat Pengejar Angin), maka
kecepatannya bisa dibayangkan betapa hebatnya.

Akan tetapi ketika ujung pedang Bwe Cu-gi masih berada tiga
inci dari tenggorokannya, pedangnya yang dilancarkan
belakangan ternyata telah menembusi tenggorokan Bwe Cu-gi
lebih dahulu.

Ada seorang anak buah Toa-tauke yang mengikuti jalannya


pertarungan itu dengan mata kepala sendir, menurut
laporannya:

"Tusukan pedang yang dilancarkan Ciu Ji sianseng itu ternyata


tak seorangpun yang mengetahui bagaimana caranya ia turun
tangan sekalipun ada empat puluhan orang jago lihay dunia
persilatan yang hadir di situ, semua orang hanya merasakan
berkelebatnya cahaya pedang, tahu-tahu darah segar telah
membasahi seluruh pakaian Bwe Cu-gi".

Oleh sebab itulah Toa-tauke menaruh kepercayaan penuh


terhadap orang ini, apalagi sekarang masih ada satu-satunya
keturunan dari keluarga Buyung yang bernama Mao It-leng
mengadakan kontak dengannya.

Sekalipun Mao It-leng tidak akan turun tangan paling tidak ia


dapat membuyarkan perhatian A-kit.

Pada hakekatnya menang kalahnya pertarungan ini sudah ia


tentukan semenjak dulu.
Pendekar Gelandangan 502

Duduk di atas kursi kebesarannya yang berlapiskan kulit


harimau, perasaan Toa-tauke tenang dan mantap bagaikan
bukit Tay-san, katanya sambil tertawa:

"Sejak Cia Sam-sauya dari Sin-kiam-san-ceng ditemukan mati,


Yan Cap-sa membuang pedangnya ke sungai, jago pedang
manakah di dunia ini yang sanggup menandingi Ciu Ji
Sianseng? Apabila Ciu Ji Sianseng menginginkan papan nama
emas "Thian-he-tit-it-kiam" dari keluarga Cia itu, hakekatnya
tak lebih hanya tinggal soal waktu saja"

Dikala sedang gembira, ia tak pernah lupa memuji orang lain


dengan kata-kata yang indah, sayangnya ucapan tersebut tak
didengar sama sekali oleh Ciu Ji sianseng.

Begitu mendengar nama 'Ciu Ji sianseng', tiba-tiba saja


kelopak mata A-kit berkerut kencang, seakan-akan ditusuk
oleh sebatang jarum secara tiba-tiba, sebatang jarum beracun
yang telah berubah menjadi merah karena darah dan dendam
sakit hati.

Ciu Ji sianseng sama sekali tak kenal dengan pemuda rudin


yang berwajah layu itu, bahkan berjumpapun tak pernah.

Ia tidak habis mengerti kenapa orang ini menunjukkan sikap


seperti itu? Ia tak menyangka kalau orang ini bisa
menunjukkan reaksi seperti itu lantaran mendengar namanya.

Ia hanya mengetahui satu hal.......

Kesempatan baik baginya telah datang.....


Pendekar Gelandangan 503

Bagaimanapun tenang dan mantapnya seseorang, apabila


secara tiba-tiba mengalami rangsangan yang jauh di luar
dugaan dari luar, maka reaksinya akan berubah menjadi
lambat.

Sekarang tak bisa disangkal lagi kalau pemuda ini telah


mengalami rangsangan tersebut.

Dendam sakit hati, kadangkala merupakan juga suatu


kekuatan, suatu kekuatan yang menakutkan sekali, tapi
sekarang mimik wajah yang ditampilkan A-kit bukanlah
dendam sakit hati, melainkan suatu penderitaan, suatu
kesedihan yang sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Luapan emosi semacam ini hanya bisa membuat orang


menjadi lemah dan tak bertenaga saja.

Ciu Ji sianseng sama sekali tak ingin menunggu sampai A-kit


betul-betul roboh tak bertenaga, ia sadar jika kesempatan baik
ini hilang, maka selamanya tak akan datang kembali.

Pedang samurai sepanjang delapan depa milik Suzuko masih


memantek di atas daun jendela.

Tiba-tiba Ciu Ji sianseng mencabutnya secara kilat dan


melemparkannya ke arah A-kit.

Dia masih mempunyai sebuah tangan lain yang menganggur.

Pedang yang tersoren di punggungnya itu tahu-tahu sudah


diloloskan dari sarungnya.
Pendekar Gelandangan 504

Berhasilkah A-kit menyambut pedang samurai yang


dilemparkan ke arahnya?

Ciu Ji sianseng telah mempersiapkan sebuah serangan


mematikan yang benar-benar luar biasa.

Sekarang ia sudah punya keyakinan yang kuat.

A-kit telah menyambut samurai tersebut.

Sebenarnya pedang yang ia pergunakan adalah sebilah


pedang yang panjangnya dari gagang pedang sampai ke ujung
pedangnya hanya tiga depa sembilan inci.

Gagang samurai ini sendiri panjangnya sudah mencapai satu


depa lima inci, biasanya para busu dari negeri Hu-sang
(Jepang) memegang samurainya dengan kedua belah
tangannya, mereka mempunyai gerakan jurus golok yang jauh
berbeda dengan jurus-jurus golok daratan Tionggoan, apalagi
dibandingkan dengan ilmu pedang.

Dengan samurai di tangan, maka keadaannya ibarat tukang


besi menempa baja dengan pena, sastrawan melukis dengan
palu, daripada ada lebih baik sama sekali tidak ada.

Tapi ia menyambut juga pedang samurai itu.

Ternyata ia seakan-akan kehilangan kemampuannya untuk


melakukan penilaian, ia tak dapat melakukan penilaian apakah
tindakannya ini betul atau salah.
Pendekar Gelandangan 505

Pada saat ujung jarinya tangannya menyentuh gagang pedang


samurai itu, cahaya pedang telah membelah angkasa dan
meluncur datang dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Pedangnya yang tiga depa tujuh inci itu sudah menguasai


seluruh ruang geraknya, itu berarti pedang samurai yang
delapan depa panjangnya itu tak mungkin bisa digunakan lagi.

Cahaya pedang berkelebat lewat, tahu-tahu ujung pedang itu


telah tiba di atas tenggorokan A-kit.

Tiba-tiba A-kit menggetarkan tangannya,......."


Kreeeekkk......!", tiba-tiba saja pedang samurai itu patah
menjadi dua bagian.

Ya, pedang samurai itu patah menjadi dua bagian dari tempat
di mana terkena sambitan batu itu.

Batu tersebut tepat menghajar di bagian tengah tubuh


pedang samurai itu.

Ketika ujung samurai yang tiga depa panjangnya itu rontok ke


tanah, segera muncul kembali ujung golok yang panjangnya
tiga depa.

Ujung pedang dari Ciu Ji sianseng ibaratnya ular berbisa telah


menerobos masuk ke mari, jaraknya dengan tenggorokan
tinggal tiga inci saja, hakekatnya tusukan itu memang suatu
tusukan yang tepat dan mematikan.

Sejak dari mencabut golok sampai melontarkannya ke depan,


mencabut pedang serta melancarkan serangan, setiap
Pendekar Gelandangan 506

tindakan serta perbuatannya semua dilakukan dengan


perhitungan yang masak serta sasaran yang tepat.

Sayang sekali ada satu hal yang tidak ia perhitungkan.

"Triiiing......!", percikan bunga api memancar ke empat


penjuru, tahu-tahu kutungan pedang samurai itu telah
menyongsong pedangnya.......bukan mata pedang yang di arah
melainkan ujung pedangnya.

Tak ada orang yang bisa menyongsong datangnya ujung


pedang yang sekarang menusuk tiba dengan kecepatan
bagaikan sambaran kilat itu.

Tak ada orang yang bisa melepaskan serangan dengan begitu


cepat dan begitu tepatnya.

........Mungkin bukannya sama sekali tak ada orang, mungkin


saja masih ada satu orang.

Tapi mimpipun Ciu Ji sianseng tidak menyangka kalau A-kit lah


orangnya......

Begitu ujung pedangnya bergetar, ia segera merasakan ada


semacam getaran yang sangat aneh menyusup masuk lewat
tubuh pedangnya, menembusi tangan, lengan dan bahunya.

Kemudian ia seolah-olah merasa ada segulung angin


berhembus lewat.

Kutungan pedang samurai di tangan A-kit ternyata berubah


menjadi segulung angin yang berhembus lewat pelan-pelan.
Pendekar Gelandangan 507

Ia dapat menyaksikan kilatan pedang samurai itu, dapat


merasakan pula hembusan angin itu, tapi ia sama sekali tak
tahu bagaimana caranya untuk menghindari dan menangkis
datangnya ancaman tersebut.

.........Ketika angin berhembus datang, siapakah yang mampu


menghindarinya? Siapakah yang tahu angin itu akan
berhembus datang dari mana?

Tapi ia tidak putus asa, karena dia masih ada seorang teman
yang sedang menanti di belakang A-kit.

Sebagian besar orang persilatan selalu beranggapan bahwa


ilmu pedang yang dimiliki Ciu Ji sianseng jauh lebih hebat
daripada kepandaian Mao-toa-sianseng, ilmu silatnya jauh
lebih menakutkan daripada ilmu silat Mao-toa-sianseng.

Hanya dia seorang yang tahu bahwa pandangan semacam ini


sesungguhnya suatu pandangan yang bodoh sekali dan
menggelikan, dan hanya dia seorang pula yang tahu
seandainya Mao-toa-Sianseng menginginkan jiwanya, ia akan
memperolehnya cukup dalam satu jurus belaka.

Serangannya baru benar-benar merupakan suatu jurus


serangan yang mematikan, ilmu pedang yang dimilikinya baru
betul-betul merupakan suatu ilmu pedang yang menakutkan
sekali, tak seorangpun manusia yang dapat menilai kecepatan
dari jurus serangan tersebut, tak ada pula orang yang tahu
sampai di manakah kekuatan serta perubahan gerakan yang
dimilikinya, sebab pada hakekatnya belum pernah ada orang
yang sanggup menyaksikannya.
Pendekar Gelandangan 508

Sudah banyak tahun ia hidup bersama dengan Mao-toa-


sianseng, sudah seringkali mereka menentang bahaya maut
bersama, hidup gembira bersama, tapi bahkan dia sendiripun
hanya sempat melihat satu kali saja.

Ia percaya asal Mao-toa-sianseng melancarkan serangan


tersebut, kendatipun A-kit masih sanggup menghindarkan diri,
tak nanti ia memiliki sisa kekuatan untuk melukai orang.

Ia percaya sekarang Mao-toa-sianseng pasti sudah


melancarkan serangannya, sebab di saat yang amat kritis
itulah ia mendengar seseorang membentak keras:

"Ampuni selembar jiwanya!"

Diiringi bentakan tersebut, desingan angin segera terhenti,


cahaya golokpun seketika lenyap tak berbekas, pedang yang
ada di tangan Mao-toa-sianseng tahu-tahu sudah berada di
belakang tengkuk A-kit.

ooooOOOOoooo
Pendekar Gelandangan 509

Bab 13. Nama dari Toa Siocia

Hawa pedang serasa dingin menggidikkan, ibaratnya lapisan


salju di puncak bukit nun jauh di sana yang sepanjang tahun
tak pernah meleleh, kau tak perlu menyentuhnya tapi dapat
merasakan hawa dingin dari ujung pedang yang tajam,
membuat darah dan tulang belulangmu menjadi kaku dan
membeku karena kedinginan.

Pedang sesungguhnya memang dingin, tapi bila di tangan


seorang yang benar-benar jago, baru akan memancarkan
hawa pedang yang begini dingin dan menggidikkan hati.

Sebilah pedang menyambar datang dan tiba-tiba berhenti di


tengah jalan, jaraknya dengan nadi besar di belakang leher A-
kit tinggal setengah inci lagi.

Nadi darahnya sedang berdenyut keras, otot-otot hijau di tepi


nadi yang mengejang keluarpun ikut berdenyut keras.

Akan tetapi orangnya sama sekali tidak bergerak.

Sewaktu bergerak ia lebih cepat dari hembusan angin, tapi


sewaktu berdiri tegak lebih kokoh dari bukit karang, tapi ada
kalanya bukit karangpun akan longsor dan berguguran.

Bibirnya telah merekah kekeringan, seperti batu-batu karang


di atas puncak bukit yang merekah kena hembusan angin.

Air mukanya persis seperti batu karang, sedikitpun tanpa


pancaran emosi, kaku dan dingin.
Pendekar Gelandangan 510

Apakah dia tak tahu kalau pedang itu menusuk satu inci lagi
ke depan maka darah segar dalam tubuhnya akan memancar
keluar?

Apakah ia benar-benar tidak takut mati?

Terlepas apakah ia benar-benar tidak takut mati atau tidak,


yang pasti kali ini dia pasti akan mampus.

Ciu Ji Sianseng menghembuskan napas panjang, Toa-tauke


menghembuskan pula napasnya panjang-panjang, mereka
hanya menunggu tusukan dari Mao-toa-sianseng itu
ditusukkan lebih ke depan.

Sepasang mata Mao-toa-sianseng menatap tajam-tajam urat


nadi di belakang tengkuk yang sedang berdenyut keras itu,
sinar matanya memancarkan suatu perubahan yang aneh
sekali, seakan-akan penuh mengandung rasa benci yang
mendalam, seolah-olah juga mengandung penuh penderitaan
dan siksaan.

Kenapa tusukan itu tidak dilanjutkan?

Apa yang sedang ia nantikan?

Ciu Ji sianseng mulai tak sabar, tiba-tiba ia berteriak:

"Hayo lanjutkan tusukanmu itu, jangan kau menguatirkan


keselamatan jiwaku!"

Kutungan samurai di tangan A-kit masih berada setengah inci


di atas tenggorokannya, tapi dalam genggamannya masih ada
Pendekar Gelandangan 511

sebilah pedang, kembali ia berseru:

"Aku yakin masih sanggup menghindari tusukannya itu!"

Mao-toa-sianseng tidak memberikan reaksi apa-apa.

Ciu Ji sianseng kembali berseru:

"Sekalipun aku tak mampu menghindarkan diri, kau harus


membinasakannya, selama orang ini belum mati, maka tiada
jalan kehidupan lagi untuk kita, kita mau tak mau harus
menyerempet bahaya untuk melanjutkan pertarungan ini"

Toa-tauke segera berteriak pula:

"Tindakan semacam ini tak bisa dikatakan sebagai


menyerempet bahaya lagi, kesempatan yang kalian miliki jauh
lebih besar daripada kesempatannya"

Tiba-tiba Mao-toa-sianseng tertawa tergelak, gelak


tertawanya itu sama anehnya seperti pancaran sinar matanya,
pada saat ia mulai tertawa itulah pedangnya telah ditusuk ke
depan, menusuk ke muka melewati sisi tengkuk A-kit dan
menusuk bahu Ciu Ji sianseng.

"Triiiing....!, pedang yang berada dalam genggaman Ciu Ji


Sianseng terjatuh ke tanah, darah kental berhamburan
kemana-mana dan memercik di atas wajahnya sendiri.

Raut wajahnya itu segera mengejang keras karena rasa kaget


dan tercengang yang kelewat batas, tapi yang jelas terpancar
adalah rasa gusarnya yang berkobar-kobar.
Pendekar Gelandangan 512

Toa-tauke ikut pula melompat bangun dari tempat duduknya.

Siapapun tidak menyangka akan terjadinya perubahan ini,


siapapun tidak tahu kenapa Mao Toa sianseng dapat berbuat
demikian.

Mungkin hanya dia sendiri dan A-kit saja yang tahu.

Paras muka A-kit sama sekali tidak menampilkan emosi,


rupanya perubahan tersebut sudah jauh berada dalam
dugaannya.

Tapi sinar matanya justru memancarkan cahaya penderitaan,


bahkan penderitaan lebih mendalam daripada yang diderita
Mao Toa Sianseng........

Cahaya pedang berkelebat lewat, tahu-tahu pedang itu sudah


dimasukkan kembali ke dalam sarungnya.

Tiba-tiba Mao Toa Sianseng menghela napas panjang.

"Aaaaiiii.....bukankah sudah ada lima tahun kita tak pernah


berjumpa muka.......?"

Perkataan itu ditujukan pada A-kit, tampaknya bukan saja


mereka saling mengenal, bahkan merupakan pula sahabat
karib selama banyak tahun.

Kembali Mao Toa-sianseng berkata:

"Selama banyak tahun ini apakah penghidupanmu bisa kau


Pendekar Gelandangan 513

lewatkan secara baik-baik? Apakah pernah menderita sakit


yang parah?"

Sahabat yang sudah banyak tahun tak pernah berjumpa, tiba-


tiba saja bertemu kembali antara satu dengan lainnya, tentu
saja kata-kata pertama yang diucapkan adalah saling
menanyakan keadaan, pertanyaan ini merupakan suatu
pertanyaan yang amat sederhana dan umum sekali.

Tapi sewaktu mengucapkan kata-kata itu, tampaklah mimik


wajahnya seakan-akan sedang menahan suatu penderitaan
yang sangat hebat.

Sepasang lengan A-kit mengepal kencang, bukan saja ia tidak


berbicara, berpalingpun tidak.

"Kalau toh aku telah berhasil mengenalimu, kenapa kau masih


belum mau berpaling juga, agar aku dapat menyaksikan
wajahmu?", kembali Mao Toa sianseng berkata.

"Tiba-tiba A-kit pun menghela napas panjang.

"Aaaaiiii......kalau toh kau telah mengenali diriku, buat apa


lagi memperhatikan wajahku?"

"Kalau begitu, paling tidak kaupun harus melihat aku telah


berubah menjadi seperti apa sekarang ini!"

Meskipun perkataan itu diucapkan dengan nada yang ringan,


justru suaranya amat parau dan seperti orang yang sedang
menjerit.
Pendekar Gelandangan 514

Akhirnya A-kit telah memalingkan wajahnya, tapi begitu


kepalanya berpaling, air mukanya segera berubah hebat.

Yang sedang berdiri dihadapannya tak lebih hanya seorang


kakek berambut putih, sesungguhnya tiada sesuatu yang aneh
atau istimewa, atau menyeramkan hati orang.

Tapi rasa kejut yang memancar keluar dari mimik wajahnya


sekarang jauh lebih hebat daripada rasa kagetnya ketika
bertemu dengan makhluk aneh yang menyeramkan.

Mao Toa sianseng kembali tertawa, suara tertawanya


kedengaran jauh lebih aneh lagi.

"Coba lihatlah, bukankah aku sudah banyak berubah?",


katanya.

A-kit ingin menjawab, tapi tak sepotong suarapun yang keluar


dari tenggorokannya.

"Andaikata kita saling berjumpa di tengah jalan secara tidak


sengaja, aku rasa belum tentu kau dapat mengenali diriku",
kata Mao Toa sianseng.

Tiba-tiba ia berpaling dan bertanya kepada Toa-tauke:

"Bukankah kau sedang keheranan, karena ia bisa begitu


terperanjat ketika bertemu denganku barusan?"

Terpaksa Toa-tauke hanya mengangguk, ia tidak habis


Pendekar Gelandangan 515

mengerti hubungan apakah yang sesungguhnya terjalin di


antara mereka berdua?

Mao Toa sianseng kembali bertanya:

"Coba kau lihatlah dia, berapa kira-kira usianya tahun


ini........?"

Toa-tauke memperhatikan A-kit sekejap, kemudian dengan


agak ragu menjawab:

"Paling tidak baru berusia dua puluh tahunan, belum


mencapai tiga puluh tahun!"

"Dan aku?"

Toa-tauke memperhatikan pula rambutnya yang telah


beruban serta wajahnya yang penuh keriput, meskipun dalam
hati kecilnya ingin menyebut beberapa tahun lebih muda, toh
tak dapat menyebutnya terlalu sedikit.

"Bukankah kau melihat usiaku paling tidak sudah mencapai


enam puluh tahunan?", kata Mao Toa-sianseng tiba-tiba.

"Sekalipun kau sudah berusia enam puluh tahunan, tapi


kelihatannya masih berusia sekitar lima puluh tiga-empat
tahunan", buru-buru Toa-tauke menambahkan.

Mendadak Mao Toa-sianseng tertawa terbahak-bahak,


seakan-akan belum pernah mendengar cerita lelucon yang
selucu itu, tapi dibalik suara tertawanya itu justru sama sekali
tidak membawa nada tertawa, bahkan jauh lebih mirip orang
Pendekar Gelandangan 516

yang sedang menangis.

Toa-tauke memperhatikan dirinya sekejap, lalu


memperhatikan pula diri A-kit, katanya:

"Apakah tebakanku keliru besar?"

Akhirnya A-kit menghembuskan napas panjang, katanya:

"Aku termasuk shio macan, tahun ini berusia tiga puluh dua
tahun!"

"Dan dia?"

"Ia lebih tua tiga tahun daripada diriku!"

Dengan rasa kaget Toa-tauke memperhatikannya, siapapun


tak akan percaya kalau orang yang berwajah penuh keriput
dan berambut putih itu baru berusia tiga puluh lima tahun.

"Kenapa secepat itu ia berubah menjadi setua ini?"

"Karena dendam sakit hati!"

Dendam sakit hati yang terlalu dalam, seperti juga kesedihan


yang kelewat batas, selalu membuat proses ketuaan
seseorang berlangsung jauh lebih cepat daripada siapapun.

Toa-tauke memahami juga teori tersebut, tapi tak tahan


kembali ia bertanya:

"Siapa yang ia benci?"


Pendekar Gelandangan 517

"Akulah yang ia benci!"

"Kenapa ia sangat membenci dirimu?", tanya Toa tauke


sambil menarik napas panjang-panjang untuk melegakan
dadanya yang sesak.

"Karena aku telah melarikan calon istrinya yang bakal


dinikahi!"

Paras muka A-kit kembali berubah menjadi tawar tanpa


emosi, dengan hambar ia melanjutkan:

"Waktu itu sesungguhnya aku berangkat ke rumahnya dengan


tujuan untuk menyampaikan selamat kepadanya, tapi justru
pada malam kedua setelah mereka tukar cincin, kubawa kabur
bakal bininya!"

"Karena kaupun mencintai perempuan itu?", tanya Toa-tauke.

A-kit tidak menjawab pertanyaan itu secara langsung, tapi


berkata lagi dengan suara dingin:

"Setengah bulan kemudian setelah kubawa kabur bakal


bininya itu, akupun kembali meninggalkannya!"

"Kenapa kau harus melakukan perbuatan semacam ini?"

"Karena aku senang!"

"Jadi asal kau senang, maka perbuatan macam apapun akan


ku lakukan......?"
Pendekar Gelandangan 518

"Benar!"

Sekali lagi Toa-tauke menghembuskan napas panjang.

"Aaaaiii....sekarang aku jadi paham sekali!"

"Apa yang kau pahami?"

"Barusan ia tidak membunuhmu karena dia tidak ingin kau


mati terlalu cepat, dia ingin membuatmu seperti dirinya
merasakan penderitaan batin yang hebat dan mati secara
pelan-pelan"

Mendadak Mao Toa-sianseng menghentikan gelak


tertawanya, lalu meraung keras:

"Kentut busuk makmu!"

Toa-tauke tertegun.

Tampaklah Mao Toa-sianseng sedang mengepal sepasang


tinjunya kencang-kencang, dengan pandangan mata tak
berkedip ditatapnya A-kit tajam-tajam, kemudian sepatah
demi sepatah kata dia berkata:

"Aku harus membuatmu dapat melihat diriku, sebab aku


harus membuatmu memahami akan satu persoalan"

A-kit sedang memperhatikan dengan seksama.

"Yang kubenci bukan dirimu melainkan diriku sendiri", kata


Pendekar Gelandangan 519

Mao Toa-sianseng, "sebab itu aku baru menyiksa diriku sendiri


sehingga berubah menjadi begini rupa!"

A-kit termenung sejenak, akhirnya pelan-pelan dia


mengangguk.

"Ya, aku mengerti!"

"Kau benar-benar sudah mengerti?"

"Ya, aku benar-benar sudah mengerti!"

"Kau dapat memaafkan diriku?"

"Aku.......aku sudah memaafkan dirimu semenjak dahulu!"

Mao Toa-sianseng menghembuskan napas panjang seakan-


akan ia telah melepaskan suatu beban yang beribu-ribu kati
beratnya dari atas bahunya.

Kemudian ia menjatuhkan diri berlutut, berlutut di hadapan


A-kit sembari bergumam:

"Terima kasih banyak, terima kasih banyak......."

Ciu Ji sianseng selama ini hanya memandang ke arahnya


dengan wajah terkejut, tapi sekarang ia tak dapat
mengendalikan diri lagi, segera bentaknya dengan gusar:

"Ia telah melarikan binimu, kemudian meninggalkannya pula,


tapi sekarang kau malah minta maaf kepadanya, kau malah
minta kepadanya untuk memaafkan dirimu,
Pendekar Gelandangan 520

kau.....kau....kenapa kau tidak membiarkan aku untuk


membunuhnya?"

Tadi pedangnya sudah bergerak, ia sudah mempunyai


kesempatan untuk turun tangan, ia dapat melihat bahwa
perhatian A-kit sudah mulai dipecahkan oleh pembicaraannya,
tapi ia tak menyangka kalau sahabatnya malahan turun tangan
menyelamatkan A-kit.

Mao Toa-sianseng menghela napas panjang.

"Aaai...kau mengira aku betul-betul sedang menolongnya


barusan?", ia bertanya.

"Memangnya bukan?", teriak Ciu Ji sianseng marah.

"Sesungguhnya bukan dia yang kutolong, tapi kaulah! Kau


harus tahu, seandainya tusukan tadi kau lakukan juga, maka
yang tewas bukan dia melainkan dirimu!"

Setelah tertawa getir ia melanjutkan:

"Sekalipun aku terhitung seorang yang lupa budi, serangan


kita lancarkan bersamapun belum tentu dapat melukai dirinya
barang seujung rambutpun!"

Kini kegusaran yang membakar Ciu Ji Sianseng telah berubah


menjadi rasa kaget dan tercengang.

Ia tahu sahabatnya ini bukan seseorang yang gemar


berbohong, tapi tak tahan ia bertanya juga:
Pendekar Gelandangan 521

"Serangan gabungan kita tadi hakekatnya sudah merupakan


suatu serangan yang tiada taranya, masa ia sanggup untuk
mematahkannya?"

"Ya, ia bisa!"

Rasa hormat dan kagum segera menyelimuti wajahnya, ia


melanjutkan:

"Dalam dunia dewasa ini hanya dia seorang yang dapat


melakukannya, hanya satu cara yang bisa dipergunakannya!"

"Kau maksudkan Thian-tee-ki-hun (Langit dan bumi musnah


bersama).....?", seru Ciu Ji Sianseng dengan paras muka
berubah.

"Betul, bumi hancur langit goncang, langit dan bumi akan


musnah bersama!"

"Apakah dia adalah orang itu?", jerit Ciu Ji sianseng terkesiap.

"Dialah orangnya!"

Dengan sempoyongan Ciu Ji sianseng mundur beberapa


langkah, seakan-akan ia sudah tak sanggup untuk berdiri tegak
lagi.

"Selama hidup aku hanya pernah melakukan suatu perbuatan


berdosa yang tak terampuni", kata Mao Toa sianseng
selanjutnya, "andaikata tiada seseorang yang merahasiakan
kejadian tersebut, sejak semula aku sudah mati tanpa tempat
kubur"
Pendekar Gelandangan 522

"Dia pula orangnya!"

"Benar!"

Pelan-pelan dia melanjutkan:

"Peristiwa itu sudah terjadi banyak tahun berselang, selama


beberapa tahun ini akupun pernah bertemu dengannya, tapi
ia selalu tak memberi kesempatan bagiku untuk berbicara,
belum pernah ia mendengarkan sepatah kataku hingga
selesai, sekarang..........."

Sekarang bagaimana? Perkataan inipun tidak berkelanjutan.

Tiba-tiba sekilas cahaya tajam tanpa menimbulkan suara


apapun menyambar datang, tahu-tahu sebatang kutungan
pisau sepanjang tiga depa telah menancap pada punggungnya.

Darah segar berhamburan kemana-mana ketika tubuh Mao


Toa sianseng sedang roboh ke tanah.

Tiok Yap-cing seakan-akan sedang tertawa. Tapi bukan dia


yang melancarkan serangan itu.

Orang yang melancarkan serangan sama sekali tidak tertawa,


padahal di hari-hari biasa pemuda itu selalu memperlihatkan
sekulum senyumannya yang manis dan menawan hati, tapi
sekarang ia sama sekali tidak tertawa.

Menyaksikan ia melancarkan serangannya, Toa-tauke tampak


amat terperanjat.
Pendekar Gelandangan 523

A-kit ikut terperanjat.

Ciu Ji Sianseng bukan cuma terkejut bahkan gusar sekali,


dengan suara keras ia membentak:

"Siapakah orang ini?"

"Aku bernama Siau Te!", pemuda itu menjawab.

Pelan-pelan ia maju ke depan, lalu berkata lebih jauh:

"Aku tidak lebih hanya seorang bocah cilik yang tidak punya
nama dan tak ada gunanya. Tidak seperti kalian jago-jago
kenamaan, jago pedang ternama dan orang gagah yang
disegani tiap manusia. Tentu saja manusia-manusia ternama
macam kalian tak akan membunuh diriku!"

"Barang siapa membunuh orang, maka terlepas siapakah dia,


hukumannya adalah sama saja!", kata Ciu Ji Sianseng dengan
gusar.

Ia mengambil kembali pedangnya yang tergeletak di tanah.

Paras muka Siau Te sama sekali tidak berubah, katanya tiba-


tiba:

"Hanya aku seorang yang berbeda, aku tahu pasti kau tak
akan membunuhku!"

Ciu Ji Sianseng telah menggenggam pedangnya, tapi tak tahan


ia bertanya juga:
Pendekar Gelandangan 524

"Kenapa?"

"Sebab begitu kau turun tangan, maka pasti ada orang yang
akan mewakiliku untuk membunuhmu!"

Sambil berkata, tiba-tiba ia memandang ke arah A-kit dengan


sinar mata yang sangat aneh.

"Siapa yang akan mewakilimu untuk membunuhnya?", tak


tahan A-kit bertanya.

"Tentu saja kau!"

"Kenapa aku musti membantumu untuk membunuhnya?"

"Sebab walaupun aku tak punya nama dan tak berguna, tapi
aku justru mempunyai seorang ibu yang baik sekali, apalagi
kaupun kenal sekali dengannya!"

Paras muka A-kit segera berubah.

"Apakah ibumu adalah........adalah......."

Tiba-tiba saja suaranya menjadi parau dan ia tak mampu


mengucapkan nama tersebut, nama yang ia selalu berusaha
untuk melupakannya tapi tak akan terlupakan untuk
selamanya.

Siau Te segera membantunya untuk melanjutkan perkataan


itu:
Pendekar Gelandangan 525

"Ibuku tak lain adalah Toa siocia dari keluarga Buyung di


wilayah Kanglam, yaitu Siau sumoay dari Mao Toa
sianseng......."

Dengan senyuman di kulum, Tiok Yap-cing segera


melanjutkan pula perkataan itu:

"Adapun nama besar dari Toa-siocia ini tak lain adalah Buyung
Ciu-ti......!"

Sepasang tangan A-kit telah menjadi dingin dan kaku,


demikian dinginnya hingga merasuk ke tulang sumsum.

Siau Te memandang sekejap ke arahnya kemudian berkata


lagi dengan nada hambar:

"Berulangkali ibuku telah berpesan, barang siapa berani


berbicara sembarangan di tempat luaran sehingga merusak
nama baik dari keluarga persilatan Buyung, sekalipun aku
tidak membunuhnya, dan kaupun pasti tak akan
menyanggupinya, apalagi Mao Toa sianseng ini pada dasarnya
adalah anggota perguruan keluarga Buyung, maka aku
berbuat demikian sesungguhnya tak lebih hanya membantu
ibuku untuk membersihkan perguruan dari anasir-anasir
jahat"

A-kit mengepal sepasang tangannya kencang-kencang,


kemudian bertanya:

"Sedari kapan ibumu memegang tampuk pimpinan keluarga


Buyung?"
Pendekar Gelandangan 526

"Oh, masih belum begitu lama!"

"Kenapa ia tidak menahanmu di sampingnya?"

Siau Te menghela napas panjang, katanya:

"Karena aku tak lebih hanya seorang bocah yang malu


diketahui orang, pada hakekatnya aku tidak pantas untuk
masuk menjadi anggota keluarga Buyung, karenanya aku
harus ikut orang lain dan menjadi seorang manusia
gelandangan yang tak ada harganya!"

Paras muka A-kit sekali lagi berubah hebat, sorot matanya


penuh memancarkan rasa sedih dan penderitaan. Lewat lama
sekali ia baru bertanya pelan:

"Berapa umurmu tahun ini?"

"Tahun ini aku baru berusia lima belas tahun!"

Sekali lagi Toa-tauke merasa terkejut, siapapun tak akan


menyangka kalau pemuda yang berada dihadapannya ini
sebenarnya tak lebih hanya seorang bocah yang baru berusia
lima belas tahun.

"Aku tahu orang lain pasti tak akan mengira kalau tahun ini
aku baru berusia lima belas tahun, seperti juga orang lain tak
akan tahu kalau tahun ini Mao Toa sianseng sebenarnya baru
berusia tiga puluh lima tahun!", demikian Siau Te berkata.

Tiba-tiba ia tertawa, suara tertawanya begitu memedihkan


hati, ia melanjutkan:
Pendekar Gelandangan 527

"Hal ini mungkin dikarenakan penghidupanku selama ini jauh


lebih menderita daripada anak-anak lainnya, karena itu
pertumbuhankupun jauh lebih cepat daripada pertumbuhan
orang lain!"

Pengalaman yang penuh penderitaan memang merupakan


faktor terpenting bagi kematangan yang lebih awal bagi
sementara anak.

Ciu Ji sianseng memandang sekejap ke arahnya, lalu


memandang pula ke arah A-kit, tiba-tiba sambil mendepakkan
kakinya berulang kali ke tanah, ia membopong jenazah
sahabatnya dan tanpa berpaling lagi pergi meninggalkan
tempat itu.

Toa-tauke tahu bila dia pergi dari situ maka mau tak mau
diapun harus ikut angkat kaki dari sana, tak tahan segera
teriaknya:

"Ciu Ji sianseng, harap berhenti dulu!"

Dengan dingin Siau Te berkata:

"Ia sadar bahwa dalam kehidupannya kali ini sudah tiada


harapan untuk membalas dendam lagi, kalau tidak pergi dari
sini, mau apa berdiam terus di tempat ini?"

Perkataan itu sangat menyinggung perasaan orang, seringkali


kaum pria dunia persilatan akan beradu jiwa lantaran
perkataan tersebut.
Pendekar Gelandangan 528

Tapi sekarang, sekalipun Ciu Ji sianseng mendengarnya


dengan jelas, diapun akan berpura-pura tidak mendengar,
sebab apa yang diucapkan olehnya memang merupakan suatu
kenyataan yang tak mungkin dibantahnya lagi.

Oleh sebab itu dia tak mengira kalau Ciu Ji sianseng akan balik
kembali ke dalam ruangan itu.

Baru saja ke luar dari pintu gerbang, ia telah mundur kembali


ke dalam ruangan, bahkan mundur dengan selangkah demi
selangkah, wajahnya yang pucat membawa suatu perubahan
wajah yang aneh, jelas bukan rasa sedih atau marah,
melainkan rasa kejut dan takut.

Ia sudah tak termasuk pemuda yang berdarah panas lagi,


diapun bukan seseorang yang tak tahu berat entengnya
persoalan.

Tidak seharusnya ia mundur kembali ke dalam ruangan,


kecuali hanya itulah satu-satunya jalan yang dapat ditempuh
olehnya.

Siau Te segera menghela napas panjang, gumamnya:

"Sebetulnya aku mengira dia adalah seorang manusia yang


pintar, tapi kenapa justeru mencari penyakit buat dirinya
sendiri?"

"Sebab ia sudah tiada jalan lain kecuali berbuat demikian!",


seseorang mendadak menyambung dari luar pintu dengan
suara dingin.
Pendekar Gelandangan 529

Suara itu sebenarnya masih berada di tempat yang amat jauh,


tapi tahu-tahu di luar halaman kedengaran suara detakan
nyaring dan suara itu sudah muncul dari luar pintu.

Menyusul suara detakan tadi, orang itupun sudah masuk ke


dalam ruangan, dia adalah seorang manusia cacat yang aneh
sekali, kaki kanannya sudah kutung dan diganti dengan kaki
kayu, sebuah codet besar berada di mata sebelah kirinya
sehingga tampak tulangnya yang berwarna putih.

Biasanya orang cacat semacam ini tampangnya pasti jelek dan


menyeramkan, tapi orang ini ternyata di luar kebiasaan
tersebut.

Bukan saja dandanannya rajin dan perlente, bahkan ia


terhitung seorang laki-laki yang mempunyai daya pikat yang
amat besar, malahan codet di mata kirinya itu justru
memperbesar daya pikat kelaki-lakiannya.

Dalam ruangan itu terdapat orang-orang yang masih hidup,


ada pula orang-orang yang sudah mati, tapi ia seperti tidak
melihatnya sama sekali, begitu masuk ke dalam ruangan
segera tegurnya dengan dingin:

"Siapakah tuan rumah tempat ini?"

Toa-tauke memandang sekejap ke arah A-kit, lalu


memandang ke arah Tiok Yap-cing, akhirnya sambil tertawa
paksa menjawab:

"Sekarang agaknya masih aku!"


Pendekar Gelandangan 530

Manusia cacat itu memutar biji matanya lalu berkata dengan


angkuh:

"Ada tamu dari jauh yang berkunjung kemari, kenapa sebuah


kursipun tidak tersedia? Apakah kau tidak merasa bahwa
tindakanmu sedikit kurang sopan?"

Ketika Toa-tauke masih ragu-ragu, sambil tertawa paksa Tiok


Yap-cing telah mengangkat kusir sambil bertanya:

"Siapakah nama saudara?"

Manusia cacat itu sama sekali tidak memperdulikannya, dia


hnaya menunjukkan ke empat buah jari tangannya.

"Oooohhh.... maksud tuan masih ada tiga orang sahabat lagi


yang akan datang kemari?", tanya Tiok Yap-cing masih tetap
tertawa.

"Ehmmm!"

Tiok Yap-cing segera mempersiapkan tiga buah bangku lagi,


baru saja ia menjajarkannya menjadi satu, dari tengah udara
telah melayang turun kembali dua sosok bayangan manusia.

Bukan saja gerakan tubuhnya enteng seperti daun kering yang


rontok ke tanah, wajahnyapun kurus kering tak berdaging,
pinggangnya menyoren sebuah bambu yang panjangnya tiga
depa, potongan badannyapun ceking sekali macam sebatang
bambu.

Tapi pakaian yang dikenakan perlente sekali, sikapnyapun


Pendekar Gelandangan 531

sangat angkuh, terhadap manusia-manusia hidup dan mati


yang berada dalam ruangan, ia memandangnya bagaikan
orang mati semua.

Seorang yang lain justru merupakan kebalikannya, dia adalah


seorang laki-laki gemuk yang selalu tersenyum. Pada jari-jari
tangannya yang putih dan gemuk mengenakan tiga buah
cincin yang berbatu sangat indah, nilainya tak terkirakan.
Kukunya tajam dan panjang sehingga kelihatannya seperti
tangan seorang nyonya kaya.

Sepasang tangan seperti ini sudah tentu paling tidak cocok


untuk menggunakan pedang, manusia semacam inipun tidak
mirip seorang ahli dalam ilmu meringankan tubuh.

Tapi kalau ditinjau dari caranya sewaktu melayang turun dari


tengah udara tadi, sudah pasti ilmu meringankan tubuhnya
sama sekali tidak lebih lemah daripada kakek ceking macam
bambu itu.

Menyaksikan kehadiran ke tiga orang itu, paras muka Ciu Ji


sianseng telah berubah menjadi pucat kelabu.

Mendadak dari luar pintu kedengaran pula seseorang yang


berbatuk tiada hentinya, sambil berbatuk-batuk pelan-pelan
orang itu berjalan masuk ke dalam ruangan.

Dia adalah seorang hweesio tua yang berwajah penyakitan,


bajunya compang-camping dan punggungnya bungkuk.

Menjumpai kehadiran hweesio tua itu, paras muka Ciu Ji


sianseng semakin memucat. Setelah tertawa sedih, katanya:
Pendekar Gelandangan 532

"Bagus, bagus sekali, sungguh tak kusangka kaupun telah


datang kemari!"

Hweesio tua itu menghela napas panjang.

"Aaaai.....kalau aku tidak datang, siapa yang akan datang?


Kalau aku tidak masuk ke neraka, siapa pula yang akan masuk
ke neraka?"

Sewaktu mengucapkan kata-kata tersebut suaranya lemah tak


bertenaga, bukan saja seperti orang penyakitan bahkan mirip
sekali dengan seseorang yang sudah lama menderita sakit,
bahkan sakitnya parah sekali!.

Akan tetapi siapapun yang ada dalam ruangan itu sekarang,


pasti tahu bahwa dia adalah seseorang yang mempunyai asal-
usul serta kedudukan yang luar biasa.

Tentu saja Toa-tauke pun mempunyai pandangan demikian, ia


telah mengetahui bahwa hweesio tersebut kemungkinan
besar adalah satu-satunya bintang penolong yang bisa
diharapkan.

Bagaimanapun juga seorang pendeta pasti mempunyai hati


yang penuh welas asih, dia tak akan membiarkan seseorang
menderita tanpa berusaha untuk menolongnya.

Maka dengan penuh rasa hormat, Toa Tauke segera bangkit


berdiri, kemudian sambil tertawa paksa katanya:

"Untung saja tempat ini bukan neraka, kalau taysu sudah


Pendekar Gelandangan 533

sampai di sini, maka kau tidak akan merasakan pelbagai


penderitaan lagi!"

Hweesio tua itu kembali menghela napas panjang.

"Aaaai....tempat ini kalau bukan neraka, lantas tempat


manakah yang disebut neraka? Kalau aku tidak menderita,
siapa pula yang akan menderita......?"

Sekali lagi Toa-tauke tertawa paksa.

"Setelah berada di sini, taysu akan menderita apa lagi?",


katanya.

"Menaklukkan iblis juga penderitaan, membunuh orangpun


merupakan penderitaan!"

"Aaaah....taysu juga membunuh orang?"

"Kalau aku tidak membunuh orang, siapa yang akan


membunuh orang? Kalau aku tidak membunuh orang, kenapa
bisa masuk neraka?"

Toa-tauke tak sanggup mengucapkan kata-katanya lagi.

Tiba-tiba manusia cacat itu bertanya:

"Kau tahu siapa aku?"

Toa tauke menggelengkan kepalanya.

Barang siapapun di dunia ini apabila ia sudah menjadi Toa-


Pendekar Gelandangan 534

tauke seperti dia, orang yang dikenal pasti tak akan terlalu
banyak.

Manusia cacat itu kembali bertanya:

"Kau harus tahu siapakah aku ini, berapa banyakkah manusia


di dunia ini yang mempunyai mata sebuah, tangan sebuah dan
kaki sebuah macam aku, tapi bisa mempergunakan sepasang
pedang!"

Ia bukan terlampau menyombongkan diri, sebab manusia


semacam dia mungkin tak akan ditemukan keduanya dalam
dunia persilatan dewasa ini.

Satu-satunya orang yang mempunyai ciri semacam dia tak lain


adalah jago pedang ketiga dari sepuluh jago pedang wilayah
Kanglam yang disebut orang sebagai Yan-cu-siang-hui (Si walet
yang terbang bersama) Tam Ci-hui.

Tentu saja Toa-tauke pun mengetahui tentang orang ini, maka


ia segera bertanya:

"Kau adalah Tam tayhiap?"

"Betul!", jawab manusia cacat itu dengan angkuh, "aku adalah


Tam Ci-hui, akupun datang untuk membunuh orang!"

"Masih ada aku Liu Kok-tiok", kakek ceking itu segera


menambahkan dengan cepat.

Kok-tiok-kiam termasuk juga salah seorang jago pedang dari


wilayah Kanglam. Ia merupakan salah seorang dari sepuluh
Pendekar Gelandangan 535

jago pedang wilayah Kanglam, tujuh orang rekannya telah


tewas di ujung pedang Ciu Ji sianseng.

Dengan dingin Tam Ci-hui berkata:

"Siapakah orang yang hendak kami bunuh hari ini, rasanya


sekalipun tidak kuucapkan kaupun sudah tahu!"

Toa tauke segera menghembuskan napas panjang, katanya


sambil tertawa paksa:

"Untungnya saja kedatangan kalian kemari bukan untuk


membunuh diriku......!"

"Tentu saja bukan kau!"

Belum habis perkataannya itu, tubuhnya sudah melompat ke


tengah udara, pedangnya diloloskan dari sarung dan diantara
kilatan cahaya ia langsung menusuk ke arah Ciu Ji sianseng.

Ciu Ji sianseng memungut kembali pedangnya dan


mengayunkan senjata tersebut untuk menyongsong
datangnya ancaman tersebut.

"Traaaang....!", sepasang pedang saling membentur satu


sama lainnya, tiba-tiba cahaya pedang tersebut berubah arah
dan meluncur ke arah tubuh Toa-tauke.

Belum lenyap senyuman di ujung bibir Toa-tauke, kedua belah


pedang itu sudah menembus tenggorokan serta jantungnya.

Tak seorangpun yang menduga bakal terjadi perubahan


Pendekar Gelandangan 536

tersebut, juga tak seorangpun yang menghalanginya.

Sebab di kala sepasang pedang itu saling membentur satu


sama lainnya, Tiok Yap-cing telah dirobohkan oleh hweesio tua
itu.

Pada saat yang bersamaan pula, Kok-tiok-kiam serta si gemuk


berusia setengah umur yang selalu tersenyum itu telah tiba di
samping Siau Te.

Pedang Kok-tiok-kiam belum sampai diloloskan dari


sarungnya, dengan gagang pedangnya ia sudah menumbuk iga
kiri Siau Te.

Siau Te ingin menyusup ke depan, tapi pedang Ciu Ji Sianseng


dan Tam Ci-hui kebetulan sedang meluncur datang dari
hadapannya.

Terpaksa dia harus berkelit ke samping kanan, sebuah tangan


lembut seperti tangan nyonya kaya telah menunggu di sana,
tiba-tiba kukunya yang lembut itu meluncur ke depan, sepuluh
buah kuku tajam bagaikan sepuluh pedang pendek yang tajam
tahu-tahu sudah tiba di tenggorokan serta alis matanya.

Sekarang ia sudah tak sanggup untuk menyelamatkan diri lagi,


tampaknya ia akan segera tewas di ujung kuku tajam itu.

Tapi A-kit tak dapat membiarkan ia mati, yaa, tak dapat!.

Baru saja pedang panjang milik Kok-tiok-kiam diloloskan dari


sarungnya, mendadak sesosok bayangan manusia berkelebat
lewat dari hadapannya, tahu-tahu pedang itu sudah berpindah
Pendekar Gelandangan 537

tangan, kemudian cahaya pedang kembali berkelebat lewat,


mata pedang tahu-tahu sudah menempel di tenggorokannya.

Mata pedang itu tidak ditusukkan lebih lanjut, sebab kuku


dari laki-laki gemuk berusia setengah umur itupun tidak
melanjutkan tusukannya.

Gerakan dari setiap orang telah terhenti, setiap orang sedang


memperhatikan pedang di tangan A-kit.

Sebaliknya A-kit sedang memperhatikan kesepuluh buah kuku


yang lebih tajam dari pedang itu.

Waktu yang teramat singkat itu dirasakan seperti setahun


lamanya, akhirnya hweesio tua itu menghela napas panjang.

"Sungguh cepat amat gerakan tangan saudara!", katanya.

"Akupun bisa membunuh orang!", kata A-kit.

"Tapi apa hubungannya antara persoalan ini dengan dirimu?"

"Sama sekali tak ada!"

"Kalau memang begitu, kenapa mesti mencampuri urusan


ini?"

"Sebab orang itu justru mempunyai sedikit hubungan dengan


diriku!"

Hweesio tua itu memandang sekejap ke arah Siau Te, lalu


memandang pula tangan nyonya kaya itu, akhirnya dia
Pendekar Gelandangan 538

menghela napas panjang.

"Aaaai......seandainya kau bersikeras hendak menolongnya,


aku kuatir hal ini akan sulit sekali"

"Kenapa?"

"Karena tangan itu!"

Pelan-pelan ia melanjutkan kembali kata-katanya:

"Karena tangan tersebut adalah tangan Siu-hun-jiu (Tangan


perenggut nyawa) dari Hok-kui-sin-sian (Dewa rejeki dan
kemuliaan) yang bisa menutul besi menjadi emas, menutul
kehidupan menjadi kematian. Sekalipun kau membunuh Liu
Kok-tiok, sicu muda itupun pasti akan mati!"

"Apakah kalian tidak sayang mempergunakan nyawa dari Liu


Kok-tiok untuk ditukar dengan selembar jiwanya?"

Setiap orang memperhatikan pedang yang berada di tangan


A-kit itu.

"Benar!", ternyata jawaban dari hweesio tua itu cukup singkat


tapi jelas.

Paras muka A-kit segera berubah.

"Ia tak lebih hanya seorang bocah, kenapa kalian harus


membinasakannya.....!", ia bertanya.

Tiba-tiba hweesio tua itu tertawa dingin.


Pendekar Gelandangan 539

"Dia hanya seorang bocah?", ejeknya, "dia tak lebih hanya


seorang bocah? Aku rasa tidak terlalu banyak bocah semacam
dia di dunia ini"

"Tahun ini usianya belum mencapai lima belas tahun!",


kembali A-kit berkata.

"Hmmm....! Kalau begitu kami tak akan membiarkan dia untuk


hidup sampai usia enam belas tahun!"

"Kenapa?"

Hweesio tua tidak menjawab, sebaliknya malah balik


bertanya:

"Tahukah kau tentang Thian-cun?"

"Thian-cun?"

Hweesio tua kembali menghela napas, pelan-pelan ia


mengucapkan delapan bait syair:

"Langit bumi tidak berperasaan.

Setan dan malaikat tidak bermata.

Segala benda dan makhluk di dunia tak berdaya.

Mati dan hidup tidak berbeda.

Rejeki dan bencana tidak berpintu.


Pendekar Gelandangan 540

Langit dan bumi,

alam semesta dan alam baka,

hanyalah aku yang dipertuan."

"Siapakah yang berkata begini? Sungguh besar amat


lagaknya!", seru A-kit sambil berkerut kening.

"Itulah bait syair yang diucapkan ketika perguruan Thian-cun


dibuka secara resmi, bahkan langit dan bumi, setan dan
malaikatpun tidak ia pandang sebelah matapun, apalagi hanya
manusia. Apa yang mereka perbuat bisa kau bayangkan
sendiri"

"Benar!", sambung Ciu Ji sianseng, "daya pengaruh mereka


sedemikian luasnya sehingga sama sekali tidak berada di
bawah perkumpulan Cing-liong-hwe di masa lalu, sayangnya
dalam dunia persilatan justru masih terdapat kami beberapa
orang yang masih percaya dengan tahayul dan apa mau
dibilang justru kamilah yang selalu diincar"

"Oleh karena itulah dendam pribadi antara sepuluh jago


pedang dari Kanglam dengan Ciu Ji sianseng sudah berubah
menjadi tak seberapa lagi", lanjut Tam Ci-hui, "asal dapat
melenyapkan pengaruh jahat mereka, sekalipun batok kepala
sendiripun aku orang she Tam rela berkorban, apalagi hanya
sedikit dendam pribadi"

"Perkumpulan yang mengkoordinir pengaruh jahat di tempat


ini tak lain adalah sebagian dari kekuasaan di bawah pimpinan
Pendekar Gelandangan 541

Thian-cun", kata Ciu Ji sianseng.

"Untuk sementara waktu kami masih belum sanggup untuk


melenyapkan mereka ke akar-akarnya karena itu terpaksa
harus kami kerjakan dari cabang-cabangnya yang terkecil!",
hweesio tua itu menambahkan.

"Bocah yang hendak kau tolong itu adalah orang yang dikirim
dari pihak Thian-cun!"

"Perintah dari Thian-cun selamanya diturunkan lewat dirinya,


ialah yang secara diam-diam mengendalikan semua keadaan
di sini, Toa-tauke maupun Tiok Yap-cing tidak lebih hanya
boneka-boneka di bawah perintahnya......!"

Hweesio tua itu berhenti sebentar, kemudian pelan-pelan


melanjutkan lebih jauh:

"Sekarang tentunya kau sudah mengerti bukan, kenapa kami


tak dapat melepaskannya dengan begitu saja?"

Paras muka A-kit pucat pias seperti mayat, dengan nama


besar serta kedudukan sepuluh jago pedang dari wilayah
Kanglam, sudah barang tentu mereka tak akan mencelakai
seseorang bocah tanpa alasan yang kuat, apa yang mereka
ucapkan mau tak mau harus dipercaya juga.

"Sekarang setelah kau mengetahui duduk persoalan yang


sebenarnya, apakah kau masih ingin menyelamatkan
jiwanya?", hweesio tua itu bertanya lagi.

"Benar!", jawab A-kit.


Pendekar Gelandangan 542

Paras muka Hweesio tua itu segera berubah hebat.

Tidak menunggu ia buka suara, A-kit telah bertanya lagi:

"Apakah dia adalah pemimpin dari Thian-cun itu?"

"Tentu saja bukan!"

"Siapakah pemimpin dari Thian-cun?"

"Pemimpin dari Thian-cun, tentu saja bernama Thian-cun!"

"Andaikata ada seseorang ingin mempergunakan selembar


nyawanya untuk ditukar dengan nyawa bocah ini, bersediakah
kalian menerimanya?"

"Tentu saja bersedia, cuma sayang sekalipun kami bersedia,


barter ini sudah pasti tidak akan bisa berlangsung
sebagaimana mestinya......"

"Kenapa?"

"Sebab tak ada orang yang bisa membunuh Thian-cun, tak


ada orang yang bisa menandinginya!"

Tiba-tiba suaranya terhenti di tengah jalan, dengan


menampilkan suatu mimik wajah yang sangat aneh, ia seperti
melayangkan pikirannya ke tempat yang jauh, lewat lama
sekali, pelan-pelan ia baru menambahkan:

"Mungkin ada seseorang yang sanggup melakukannya!"


Pendekar Gelandangan 543

"Siapa?"

"Sam........"

Dia hanya mengucapkan sepatah kata, lalu berhenti lagi,


setelah menghela napas panjang terusnya:

"Sayang orang ini sudah tiada lagi di dunia ini, sehingga


sekalipun dibicarakan juga tak berguna"

"Tapi apa salahnya kalau kau katakan kembali?"

Sorot mata hweesio itu seakan-akan sedang memandang


kejauhan lagi, kemudian gumamnya:

"Di atas langit di bawah bumi hanya ada dia seorang dengan
sebilah pedangnya yang tiada keduanya di dunia ini, hanya
ilmu pedangnya baru betul-betul terhitung ilmu pedang yang
tiada tandingannya di dunia ini!"

"Kau maksudkan.........."

"Yang kumaksudkan adalah Sam sauya!"

"Sam sauya yang mana?"

"Sam sauya dari lembah Cui-hui-kok, telaga Liok-sui-oh,


perkampungan Sin-kiam-san-ceng, Sam sauya dari keluarga
Cia, Cia Siau-hong adanya!"

Tiba-tiba wajah A-kit menunjukkan mimik wajah yang sangat


Pendekar Gelandangan 544

aneh, seakan-akan pikiran dan perasaannya sedang berada


pula di tempat yang amat jauh.

Lama, lama sekali, sepatah demi sepatah kata ia baru


menjawab:

"Akulah Cia Siau-hong!"

Di atas langit di bawah bumi hanya ada seorang manusia yang


bernama Cia Siau-hong.

Bukan saja dia adalah seorang jago pedang yang tiada


tandingannya di kolong langit, diapun seorang manusia yang
berbakat, semenjak dilahirkan, ia telah mendapatkan segala
kasih sayang dan segala keberhasilan, tak seorang manusiapun
yang dapat menandinginya.

Ia cerdik lagi tampan, tubuhnya sehat dan badannya tinggi


kekar, sekalipun orang yang membenci dirinya, memusuhi
dirinya dan mempunyai dendam sakit hati sedalam lautan
dengannya, mau tak mau mengagumi juga kehebatannya itu.

Perduli siapapun orang itu, semuanya tahu bahwa Cia Siau-


hong adalah manusia semacam itu, tapi siapa pula yang benar-
benar dapat memahami dirinya.

Siapa pula yang betul-betul bisa menyelami perasaannya dan


mengenali kepribadiannya?

ooooOOOOoooo
Pendekar Gelandangan 545

Bab 14. Sam Sauya

Apakah ada orang yang benar-benar memahaminya? Baginya


hal itu bukan suatu masalah.

Karena ada sementara orang yang semenjak dilahirkan


memang tidak membutuhkan pengertian dari orang lain,
seperti juga malaikat atau dewa atau sebangsanya.

Justru karena tiada seorang manusiapun yang memahami


malaikat, maka ia baru mendapat penghormatan serta
sembahan dari umat manusia di dunia ini.

Dalam pandangan dan perasaan di dunia, Cia Siau-hong


hakekatnya sudah mendekati malaikat.

Tapi bagaimana dengan A-kit?

A-kit tidak lebih hanya seorang gelandangan dari dunia


persilatan, ia tak lebih hanyalah A-kit yang tak berguna.

Bagaimana mungkin Cia Siau-hong bisa berubah menjadi


manusia seperti A-kit? Tapi sekarang justru ia berkata
demikian:

"Akulah Cia Siau-hong!"

Benarkah itu?

Hweesio tua itu tertawa. Ia tertawa terbahak-bahak.

"Haaaaahhhh..... haaaahhhhh...... haaahhhh.... engkaukah Cia


Pendekar Gelandangan 546

Siau-hong, Sam sauya dari keluarga Cia?"

"Ya, akulah orangnya!", jawab A-kit.

Ia tidak tertawa.

Persoalan ini sebenarnya adalah rahasianya, juga merupakan


penderitaannya, sebenarnya ia lebih suka mati daripada
mengutarakannya kembali, tapi sekarang ia telah
mengucapkannya.

Sebab ia tak dapat membiarkan Siau Te mati, hal ini jelas tak
akan boleh sampai terjadi.

Akhirnya hweesio tua itu menghentikan gelak tertawanya,


dengan dingin ia berkata:

"Tapi sayang, setiap umat persilatan telah mengetahui bahwa


ia telah mati!"

"Dia belum mati!"

Sinar matanya penuh pancaran rasa sedih dan penderitaan,


katanya lebih lanjut:

"Mungkin perasaannya telah mati, tapi orangnya sampai


sekarang belum mati!"

"Justru oleh karena perasaannya telah mati, maka ia telah


berubah menjadi A-kit?", tanya hweesio tua itu sambil
menatapnya lekat-lekat.
Pendekar Gelandangan 547

Pelan-pelan A-kit mengangguk, sahutnya dengan sedih:

"Sayang sekali perasaan A-kit belum mati, oleh karena itu


mau tak mau Cia Siau-hong harus hidup lebih lama!"

"Aku percaya kepadanya!", tiba-tiba Ciu Ji sianseng berkata.

"Kenapa kau percaya?", tanya si hweesio tua.

"Karena kecuali Cia Siau-hong, tak ada orang kedua yang


dapat membuat Mao It-leng bertekuk lutut!"

"Akupun percaya!", Lui Kok-tiok melanjutkan.

"Kenapa?", kembali si hweesio tua bertanya.

"Karena kecuali Cia Siau-hong, aku betul-betul tak dapat


menemukan orang kedua yang bisa merampas pedangku
dalam satu gebrakan saja?"

"Dan kau?"

Yang ditanya si hweesio tua itu adalah Hok-kui-sin-sian-jiu


(Tangan dewa rejeki dan kemuliaan).

Sin-sian-jiu tidak bersuara, tapi tangannya yang seperti


tangan nyonya kaya itu pelan-pelan diturunkan ke bawah,
kuku-kukunya yang lebih tajam daripada pedangpun ikut
menjadi lemas.

Hal itu sudah merupakan jawabannya yang terbaik.


Pendekar Gelandangan 548

Cia Siau-hong sekali membalikkan tangannya, pedang Kok-


tiok-kiam telah disarungkan kembali, disarungkan ke dalam
sarung pedang yang terselip di pinggang Liu Kok-tiok.

Siau Te telah memutar badannya dan berhadapan muka


dengannya, memandang wajahnya itu tiba-tiba sinar matanya
menunjukkan suatu perubahan aneh yang sukar dilukiskan
dengan kata-kata.

Hok-kui-sin-sian-jiu telah menggunakan kembali sepasang


tangannya yang mirip tangan nyonya kaya itu untuk menepuk
bahunya, lalu sambil tersenyum berkata:

"Apakah kau telah lupa untuk melakukan suatu perbuatan?


Lupa untuk mengucapkan terima kasih kepada Sam sauya atas
budi pertolongannya untuk menyelamatkan jiwamu?"

Siau Te menundukkan kepalanya, akhirnya pelan-pelan ia


maju ke depan, lalu pelan-pelan menjatuhkan diri berlutut di
atas tanah.

Cia Siau-hong menarik tangannya, wajah yang semula layu


dan penuh kerutan lelah, seakan-akan telah bersinar kembali.

Tiba-tiba Siau Te menengadahkan kepalanya dan bertanya:

"Mengapa kau.....kau menolongku?"

Cia Siau-hong tidak menjawab, dia hanya tertawa, tertawa


penuh kegirangan, tapi seakan-akan juga penuh kepedihan
Pendekar Gelandangan 549

hati.

Senyumannya masih menghiasi ujung bibirnya, tapi ternyata


urat nadi pada lengan kanannya telah dicengkeram.

Siau Te lah yang mencengkeram urat nadinya, yang digunakan


adalah salah satu ilmu cengkeraman yang terlihay dari Jit-cap-
ji-siau-ki-na-jiu-hoat (Tujuh puluh dua macam ilmu
mencengkeram).

Pada saat yang bersamaan itulah Tam Ci-hui telah melayang


ke udara dan melepaskan sebuah tendangan ke arah Cia Siau-
hong.

"Criiing.....!", mendadak dari balik kaki kayunya memantul ke


luar sebilah pedang, dan baru saja tubuhnya melayang ke
udara, pedang itu sudah menusuk ke atas bahu Cia Siau-hong.

Itulah pedangnya yang kedua.

Dan itu pula alat pembunuhnya yang sesungguhnya dan telah


mengangkat namanya selama ini.

Cia Siau-hong tidak menghindarkan diri dari tusukan pedang


itu.

Sebab pada detik itulah ia sedang memperhatikan Siau Te,


dibalik sinar matanya sama sekali tiada pancaran sinar kaget,
gusar atau ngeri, yang ada hanya rasa sedih, kecewa dan
penderitaan.

Hingga ujung pedang itu menembusi bahunya dan darah


Pendekar Gelandangan 550

segar berhamburan ke mana-mana, sinar matanya masih


belum juga bergeser dari posisinya semula.

Waktu itu Ciu Ji sianseng dan pedang Liu Kok-tiok telah


menusuk datang pula, selain itu masih ada pula tangan maut
yang lembut seperti tangan nyonya kaya itu, Hok-kui-sin-sian-
siu-hun-jiu.

Cia Siau-hong masih belum juga berkutik, berkelitpun tidak.

Walaupun urat nadi pada tangan kanannya telah


dicengkeram, tapi ia masih mempunyai tangan yang lain.

Tapi kenapa ia belum juga berkutik?

Apakah jago pedang yang tiada tandingannya di kolong langit


ini tak mampu membebaskan diri dari cengkeraman seorang
bocah kecilpun?

Pedang milik Ciu Ji sianseng jauh lebih cepat daripada pedang


milik Liu Kok-tiok.

Yang ditusuk adalah lutut kiri Cia Siau-hong, sekalipun lutut


kiri bukan tempat yang mematikan di tubuh manusia, namun
cukup membuat seseorang tak mampu bergerak lagi.

Serangannya itu tepat dan ganas, kalau ingin melukai tempat


mematikan di tubuh Cia Siau-hong, percayalah serangannya
tak bakal meleset.

Mereka sama sekali tidak ingin mencabut jiwanya dengan


segera. Tapi terhadap tusukan itupun Cia Siau-hong tidak
Pendekar Gelandangan 551

menghindar, di mana pedangnya berkelebat lewat, percikan


darah segar segera menodai seluruh wajah Siau Te.

Menyusul kemudian pedang dari Liu Kok-tiok pun menusuk


tiba.

Tiba-tiba Siau Te meraung keras, ia melepaskan


cengkeramannya pada tangan Cia Siau-hong dan
mendorongnya dengan sekuat tenaga, kemudian dengan
mempergunakan lengan sendiri menangkis datangnya tusukan
pedang Kok-tiok-kiam itu, secara tepat ujung pedang menusuk
persendian tulangnya........

"Kau gila?", bentak Liu Kok-tiok dengan gusar, ia mencoba


untuk mencabut pedangnya tapi tidak berhasil.

Tam Ci-hui melejit ke udara dan berjumpalitan beberapa kali,


pedang pada kaki kayunya dan pedang di tangan serentak
direntangkan dan menyerang dengan jurus andalannya, Yan-
cu-siang-hui.

Berbareng itu pula pedang Ciu Ji sianseng menyabet dari


samping memapas wajah Cia Siau-hong.

Tiga bilah pedang dari tiga arah yang berlainan secepat


sambaran kilat dan sekeji ular berbisa menerobos masuk ke
depan.

"Taaaakk......!", tiba-tiba pedang Ciu Ji sianseng miring ke


samping karena terhantam suatu kekuatan besar hingga
menancap pada kaki kayu dari Tam Ci-hui.
Pendekar Gelandangan 552

Karena kehilangan keseimbangan tubuhnya, kontan saja


tubuh Tam Ci-hui terjatuh dari tengah udara, "Kraaaak.....",
lengannya patah menjadi dua dan pedangnya lenyap tak
berbekas.

Pedang Kok-tiok-kiam telah dijepit oleh Siau Te, tetapi Siau Te


sendiripun terpantek oleh pedang Kok-tiok-kiam.

Dalam keadaan inilah, tangan-tangan maut dari Hok-kui-sin-


sian-jiu telah muncul kembali di tenggorokan dan alis mata
Siau Te.

Tiba-tiba cahaya pedang berkelebat lewat, sepasang sepuluh


jari tangan nyonya kaya yang tajam itu sudah tersayat kutung,
satu demi satu rontok ke tanah, darah kental berceceran
sampai di mana-mana.

Cahaya pedang sekali lagi berkelebat lewat, darah segar


kembali memancar ke empat penjuru, ketika Liu Kok-tiok
roboh terkapar ke tanah, Siau Te sudah melayang ke luar dari
pintu.

Tak seorangpun yang mengejar ke depan, karena di depan


pintu telah berdiri seseorang.

Setelah merampas pedang, mengayun pedang, membacok


kuku, menusuk orang serta mendorong Siau Te keluar dari
pintu tadi, Cia Siau-hong telah menghadang di depan pintu
dengan tubuhnya.

Sekarang, setiap orang sudah tahu bahwa dia adalah Cia Siau-
hong. Dalam genggamannya masih ada pedang, siapa yang
Pendekar Gelandangan 553

berani sembarangan berkutik bila di tangan Sam sauya dari


keluarga Cia masih menggenggam sebilah pedang?

Sekalipun ia sudah terluka, sekalipun darah kental masih


bercucuran dari mulut lukanya, tak seorangpun berani
sembarangan berkutik.

Menunggu ia sudah mundur lama sekali dari situ, hweesio tua


baru menghela napas panjang, katanya:

"Benar-benar suatu ilmu pedang yang tiada ke duanya di


dunia ini, benar-benar dia adalah Cia Siau-hong yang tiada
bandingannya di kolong langit.......!"

Tiok Yap-cing kena dirobohkan tadi dan selalu tergeletak


dengan tubuh kaku di tanah itu mendadak berkata:

"Ilmu pedangnya memang sungguh bagus dan indah, tapi


belum tentu sudah tiada ke duanya lagi di dunia ini!"

Pelan-pelan ia bangun dan berduduk, sekulum senyuman


bahkan menghiasi ujung bibirnya.

Ternyata si hweesio tua tidak terperanjat, dia hanya melotot


sekejap ke arahnya lalu berkata dengan ketus:

"Ilmu pedang yang dimiliki Yan sianseng tentu saja bagus


pula, kenapa kau tidak mencabut pedang dan menyerangnya
tadi? Seharusnya kau menantang dia untuk berduel satu
lawan satu!"

Tiok Yap-cing kembali tersenyum.


Pendekar Gelandangan 554

"Aku tak mampu menandinginya!", ia mengakui.

"Masa kau tahu ada yang dapat menandingi dirinya?"

"Paling tidak masih ada seorang!"

"Hujin maksudmu?"

Tiok Yap-cing hanya tersenyum dan tidak menjawab,


sebaliknya ia malah bertanya:

"Kau pernah menyaksikan hujin (nyonya) turun tangan?"

"Belum pernah!"

"Itulah disebabkan hujin tak perlu turun tangan sendiri,


sekalipun dia ingin membunuh seseorang!"

"Tapi siapakah yang mampu mewakilinya untuk


membinasakan Cia Siau-hong.....?"

"Yan Cap-sa!"

Hweesio tua itu termenung lama sekali, kemudian kembali


menghela napas panjang.

"Aaaai....betul, Yan Cap-sa! Orang itu seharusnya memang


Yan Cap-sa......!, bisiknya kemudian.

"Dalam dunia dewasa ini, kecuali hujin mungkin dia seorang


yang mengetahui titik kelemahan dari ilmu pedang yang
Pendekar Gelandangan 555

dimiliki Cia Siau-hong!"

"Tapi semenjak ia mengukir tanda di perahu dan


menenggelamkan pedangnya ke dasar telaga Liok-sui-oh,
belum pernah ada seorang manusiapun yang pernah
menyaksikan jejaknya dalam dunia persilatan, mana mungkin
dia mencari Cia Siau-hong demi kepentingan hujin?"

"Ya, ini memang tak mungkin!"

"Maksudmu Cia Siau-hong yang akan mencarinya?"

"Inipun tak mungkin!", sahut Tiok Yap-cing.

Setelah tersenyum, ia menambahkan:

"Tapi aku yakin, dalam suatu kesempatan yang tak terduga,


mereka pasti akan saling berjumpa muka!"

"Benarkah suatu perjumpaan yang tak terduga?"

Tiok Yap-cing mengebaskan ujung bajunya sambil beranjak,


sahutnya dengan hambar:

"Apakah ada rasa cinta? Ataukah tiada rasa cinta? Ada


maksud? Ataukah tiada maksud? Siapa yang dapat
membedakan ke dua hal tersebut dengan tenang dan jelas?"

Malam telah tiba, seluruh halaman rumah itu berada dalam


suasana yang hening dan gelap, tapi Cia Siau-hong berjalan
dengan langkah cepat, ia tak memerlukan cahaya lampu, tapi
ia dapat menemukan jalanan yang terbanting di sana.
Pendekar Gelandangan 556

Di dalam halaman rumah itulah, di saat malam yang sama


heningnya, entah berapa kali ia telah bangun dari tidurnya dan
berdiri di tengah hembusan angin malam yang dingin dan
merasakan kesepian.

Bintang-bintang yang tersebar di langit malam ini jauh lebih


suram daripada kemarin, demikian pula Cia Siau-hong yang
kini bukanlah A-kit yang tak berguna kemarin.

Semua kejadian dalam dunia ibaratnya buah-buah catur,


sering berubah dan sering berganti, siapakah yang dapat
meramalkan kejadian apa yang bakal dialaminya besok?

Kini satu-satunya orang yang paling ia kuatirkan adalah orang


yang berada di sampingnya sekarang.

Siau Te berjalan di sampingnya dengan mulut membungkam,


sesudah menembusi halaman rumah yang gelap, mendadak ia
berhenti sambil berkata:

"Kau pergilah!"

"Kau tidak pergi?"

Siau Te gelengkan kepalanya berulang kali, di tengah


kegelapan malam, wajahnya tampak pucat pasi seperti mayat,
lewat lama sekali pelan-pelan ia baru berkata:

"Jalan yang kita tempuh sesungguhnya bukanlah sebuah jalan


yang sama, lebih baik kau melewati jalanmu dan aku
menempuh jalananku!"
Pendekar Gelandangan 557

Cia Siau-hong memperhatikan kembali paras mukanya yang


pucat, ia merasakan hatinya sakit sekali.

Setelah lewat agak lama ia baru bertanya lagi:

"Apakah kau tak dapat beralih ke jalanan lain?"

"Tidak dapat!", Siau Te berteriak keras sambil mengepal


sepasang tangannya kencang-kencang.

Tiba-tiba ia memutar badannya sambil menerjang keluar, tapi


baru saja tubuhnya melompat, ia sudah terjatuh kembali dari
tengah udara.

Wajahnya semakin memucat, peluh dingin mengucur keluar


bagaikan hujan, dia ingin meronta dan bangun berdiri tapi
untuk berdiri tegakpun ia sudah tak mampu.

Sebenarnya dia mengira tusukan dari Liu Kok-tiok tadi masih


sanggup ditahan olehnya, tapi sekarang ia merasakan bahwa
mulut lukanya makin lama semakin sakit, semakin dirasakan
semakin tak tahan.

Akhirnya diapun jatuh tak sadarkan diri.

Ketika sadar kembali, ia dapatkan dirinya sedang berbaring


dalam sebuah ruangan yang kecil dengan lampu yang redup.

Cia Siau-hong duduk di bawah sinar lampu sambil


memperhatikan sepotong ujung pedang yang panjangnya
setengah inci.
Pendekar Gelandangan 558

Itulah ujung pedang dari Kok-tiok-kiam.

Ketika Kok-tiok-kiam dicabut keluar tadi, masih tertinggal


sepotong ujung pedang dalam sendi tulangnya, rasa sakit
tersebut sungguh amat berat untuk dirasakan.

Andaikata Cia Siau-hong tidak memiliki sepasang tangan yang


kuat, mana mungkin kutungan ujung pedang itu dapat dicabut
keluar?

Tapi pakaiannya hingga kini belum mengering, telapak


tangannya masih berkeringat, hingga kini tangannya baru
mulai gemetar.

Siau Te memandang ke arahnya, tiba-tiba ia berkata:

"Tusukan pedang ini sebenarnya ditujukan ke tubuhmu!"

"Aku tahu", Cia Siau-hong tertawa getir.

"Oleh karena itulah meski kau telah mengobati lukaku,


akupun tak usah berterima kasih kepadamu!"

ooooOOOOoooo
Pendekar Gelandangan 559

Bab 15. Benang Cinta Yang Tak Mudah Putus

"Yaaa, kau memang tak perlu berterima kasih........", Cia Siau-


hong berbisik.

"Oleh karena itulah bila aku hendak pergi meninggalkan


tempat ini, kaupun tak usah menahan diriku lagi!"

"Kapan kau akan pergi?"

"Sekarang!"

Tapi Siau Te tak dapat pergi, karena ia masih belum memiliki


tenaga untuk berdiri.

Pelan-pelan Cia Siau-hong bangkit berdiri dan berjalan ke


ujung pembaringan, sambil mengawasi tajam-tajam
mendadak ia bertanya:

"Dulu, pernahkah kau berjumpa denganku?"

"Walaupun orang yang belum pernah berjumpa denganmu,


pasti pernah menyaksikan lukisanmu yang dibuat khusus oleh
orang lain!"

Cia Siau-hong sama sekali tidak bertanya siapa yang telah


melukis wajahnya. Ia sudah tahu siapakah orang ini.

"Aku hanya pernah memberitahukan kepada seseorang!"

"Siapa?"
Pendekar Gelandangan 560

"Thian-cun!"

"Ooooh....karena itu diapun menyusun rencana tersebut


untuk membinasakan diriku?", kata Siau-hong.

"Iapun tahu, bukan suatu pekerjaan yang gampang untuk


membinasakan dirimu!"

"Kalau begitu, Tam Ci-hui, Liu Kok-tiok, Hok-kui-sin-sian-jiu


serta hweesio tua adalah orang-orangnya Thian-cun?"

"Ciu Ji sianseng juga orang mereka!", Siau Te menambahkan.

Lama sekali Cia Siau-hong termenung, ia seperti lagi


memikirkan suatu persoalan penting, kemudian pelan-pelan
baru bertanya:

"Apakah Thian-cun adalah ibumu?"

Sesungguhnya pertanyaan ini sudah lama sekali ingin


diajukan, hanya selama ini ia tak berani untuk
menanyakannya.

Jawaban dari Siau Te ternyata cepat sekali.

"Benar, Thian-cun adalah ibuku. Sekarang akupun tak perlu


merahasiakan lagi di hadapanmu!"

"Seharusnya kau tak perlu merahasiakan persoalan itu di


hadapanku, karena di antara kita berdua tidak seharusnya
mempunyai rahasia lagi!", kata Cia Siau-hong dengan sedih.
Pendekar Gelandangan 561

"Kenapa?", Siau Te menatapnya lekat-lekat.

Kesedihan dan penderitaan kembali memancar ke luar dari


balik mata Cia Siau-hong, gumamnya:

"Kenapa? Kenapa? Masakah kau benar-benar tidak tahu


kenapa?"

Siau Te kembali menggelengkan kepalanya.

"Kalau begitu aku ingin bertanya kepadamu, kalau toh ibumu


hendak membunuhku, kenapa kau malah menyelamatkan
diriku?"

Siau Te masih juga gelengkan kepalanya, rasa sedih dan


bingung menyelimuti juga wajahnya, tiba-tiba ia melompat
bangun dari pembaringan, mengerudungi kepala Cia Siau-
hong dengan kain selimutnya dan sekali tendang pintu depan
ia telah menerjang ke luar dari sana.

Seandainya Cia Siau-hong ada niat untuk melakukan


pengejaran, sekalipun mempergunakan seribu atau selaksa
lembar selimut untuk mengerudungi kepalanya juga tak akan
mampu untuk menghalangi niatnya.

Tapi ia tidak melakukan pengejaran, sebab ketika melepaskan


selimut dari kepalanya, ia telah menyaksikan Buyung Ciu-ti.

Di bawah sinar bintang yang dingin dan terang, di tengah


malam yang cerah dan bersih dan di dalam halaman kecil yang
sepi dan tenang, tumbuhlah sebatang pohon Pek yang telah
layu.
Pendekar Gelandangan 562

Di bawah pohon itulah tampak seseorang berdiri seorang diri


di sana, pakaiannya berwarna polos dan sederhana.

Tak ada yang tahu dari mana ia datang, tak ada pula yang
tahu sejak kapankah ia datang.

Di kala ia (perempuan) hendak datang, diapun datang, di kala


dia hendak pergi, siapapun tak dapat menghalangi.

Ada orang mengatakan bahwa ia adalah bidadari dari


khayangan, ada pula yang mengatakan bahwa dia adalah peri
cantik dari bumi, tapi terlepas apapun yang dikatakan orang
banyak, selamanya ia tak pernah ambil perduli.

Sudah ada lima belas tahun lamanya.

Dalam lima belas tahun yang panjang, empat ribu hari yang
tak panjang tak pendek, panas ya dingin, manis dan getir,
masih ada berapa banyak orangkah yang tetap hidup? Ada
berapa pula yang telah mati? Ada berapa orang tetap biasa
saja? Ada berapa pula yang telah berubah? Akan tetapi ia
tidak berubah.

Lima belas tahun berselang, ketika untuk pertama kali


berjumpa dengannya, ia sudah berada dalam keadaan seperti
sekarang ini. Tapi berapa banyak perubahan yang telah ia
(lelaki) alami?

Pepohonan di tengah halaman bergoyang terhembus angin,


lampu lentera dalam ruanganpun bergoyang-goyang
dimainkan angin.
Pendekar Gelandangan 563

Ia tidak masuk ke dalam ruangan, dan iapun tidak keluar dari


ruangan, mereka hanya saling berpandangan dengan tenang.

Hubungan di antara mereka berdua selalu memang demikian,


sukar untuk di raba oleh siapapun.

Tak ada yang bisa memahami perasaan cinta kasihnya


kepadanya, dan tak ada pula yang tahu apa yang sedang ia
pikirkan.

Perduli apapun yang sedang ia pikirkan, paling tidak tiada


tanda-tanda sedikitpun yang bisa kau temukan di atas
wajahnya.

Sudah sejak lama ia belajar menyembunyikan perasaan di


hadapan orang lain, terutama terhadap lelaki ini.

Ia menggerakkan tangannya dan membenahi rambutnya yang


kusut terhembus angin, tiba-tiba ia tertawa, jarang sekali ia
tertawa.

Senyuman itu seperti juga dengan orangnya, begitu cantik,


anggun dan mengambang, seperti pula angin lembut di musim
semi, siapakah yang dapat menangkapnya?

Suaranya seperti juga kelembutan angin di musim semi,


katanya lirih:

"Sudah berapa lama? Lima belas tahunkah? Atau sudah enam


belas tahun?"
Pendekar Gelandangan 564

Ia tidak menjawab, karena dia tahu bahwa perempuan itu


pasti mengingat lebih jelas daripadanya, mungkin saja iapun
dapat mengingat-ingat setiap peristiwa yang terjadi setiap
harinya dulu.

Senyuman perempuan itu makin lembut dan hangat.

"Agaknya kau masih belum berubah", katanya masih seperti


dulu, tidak begitu suka berbicara.

Dengan dingin Cia Siau-hong menatap wajahnya lama, lama


sekali, ia baru bertanya dengan ketus:

"Masih ada persoalan apa lagi yang hendak kita bicarakan?"

Tiba-tiba senyumannya lenyap, kepalanya ditundukkan


rendah-rendah.

Ya.......sudah tak ada lagi.......sudah tak ada lagi......

Benarkah sungguh-sungguh tak ada? Apapun tak ada lagi?


Tidak, tidak mungkin!

Tiba-tiba perempuan itu mendongakkan kepalanya dan


menatapnya tajam-tajam, katanya:

"Seandainya di antara kita berdua benar-benar sudah tiada


persoalan lagi, kenapa aku musti datang mencarimu?"

Sesungguhnya kalimat semacam ini lebih pantas diajukan Cia


Pendekar Gelandangan 565

Siau-hong kepadanya, tapi sekarang ia telah mengajukannya


bagi diri sendiri.

Kemudian iapun memberi jawaban bagi dirinya sendiri:

"Aku datang, karena aku hendak membawa pergi bocah itu,


dahulu kalau toh kau sudah tidak mau dirinya lagi, kenapa
musti kau ganggu dirinya sekarang, sehingga mendatangkan
kepedihan dan penderitaan baginya?"

Kelopak matanya menyusut kencang, seakan-akan di tusuk


oleh jarum yang tajam secara tiba-tiba.

Perempuan itupun menyusupkan kelopak matanya, ia berkata


lebih jauh: "Aku datang karena aku hendak memberitahukan
kepadamu bahwa kau harus mati!"

Suaranya berubah menjadi dingin seperti es, seakan-akan


berubah menjadi seseorang yang lain secara mendadak.

"Begitu pula aku hendak membuat kau mati di tanganku kali


ini", Cia Siau-hong mendengus dingin.

"Hmmm! Jika Thian-cun ingin membunuh orang, kenapa


musti turun tangan sendiri?"

"Untuk membunuh orang lain, selamanya aku tak pernah


melakukannya sendiri, tapi terkecuali bagimu!", Buyung Ciu-ti
menegaskan.

Segulung angin kembali berhembus lewat dan sekali lagi


mengacaukan rambutnya yang panjang.
Pendekar Gelandangan 566

Angin itu belum lagi berhembus lewat, ia telah menubruk ke


depan, menubruk seperti seorang gila, seakan-akan ia telah
berubah lagi menjadi seperti orang yang lain.

Sekarang ia sudah bukan seorang gadis yang anggun, cantik


dan lembut bagaikan hembusan angin di musim semi lagi.

Diapun tidak mirip Buyung hujin yang cerdik, keji dan


berkekuasaan besar serta disegani tiap umat persilatan lagi.

Sekarang ia tak lebih hanya seorang perempuan biasa,


perempuan yang terbelenggu oleh benang cinta, dan menjadi
bingung karena tak sanggup mengendalikan diri.

Ia tidak menunggu sampai Cia Siau-hong turun tangan lebih


dulu, diapun tidak menunggu sampai ia memperlihatkan titik
kelemahannya yang mematikan itu lebih dahulu.

Bahkan tubrukannya kali ini dilakukan secara mengawur,


kepandaian silat yang dimilikinya sama sekali tak digunakan.

Sebab ia amat mencintai laki-laki itu, tapi membenci pula laki-


laki itu, cintanya setengah mati, tapi bencinya juga setengah
mati.

Oleh karena itu dia hanya ingin beradu jiwa dengannya,


sekalipun tak mampu, diapun akan tetap beradu dengannya.

Terhadap perempuan semacam ini, darimana mungkin Cia


Siau-hong dapat mengembangkan ilmu pedangnya yang tiada
tandingan di dunia itu?
Pendekar Gelandangan 567

Sudah beratus-ratus pertarungan yang dialami, sudah


bermacam-macam jago lihay dunia persilatan yang pernah di
hadapi, sudah berulang kali pula mengalami masa krisis yang
mengancam jiwanya.

Tapi sekarang, pada hakekatnya dia tak tahu apa yang musti
dilakukan untuk menghadapi kejadian ini.

Lentera di atas meja ditendang hingga terbalik.

Buyung Ciu-ti seperti perempuan gila telah menyerbu ke


dalam ruangan, kalau dilihat dari sikapnya sekarang, seakan-
akan dia hendak menggigit setiap bagian tubuh Siau-hong
dengan geram.

Jika Siau-hong mau, sekali pukulan yang dilontarkan pasti


dapat merobohkan dirinya, karena seluruh tubuhnya sekarang
sudah penuh dengan titik kelemahan.

Tapi ia tak dapat turun tangan, iapun tak tega untuk turun
tangan. Bagaimanapun juga ia tetap seorang pria,
bagaimanapun juga dia adalah perempuan yang pernah
menjadi istrinya.

Maka dia hanya dapat mundur ke belakang.

Tidak banyak tempat dalam ruangan yang dapat dipakai


untuk mengundurkan diri, sekarang ia terpojok dan tak
sanggup menghindar lagi.

Pada saat itulah sekilas cahaya pedang tiba-tiba muncul dari


Pendekar Gelandangan 568

tangan Buyung Ciu-ti, lalu bagaikan seekor ular beracun


menusuk tubuhnya.

Tusukan itu bukan tusukan pedang seorang perempuan


sinting, tusukan itu adalah tusukan dari pedang pembunuh.

Tusukan itu bukan saja amat cepat, ganasnya bukan kepalang,


apalagi datangnya pada saat dan keadaan yang sama sekali tak
terduga oleh lawannya, menusuk datang ke bagian tubuhnya
yang tak pernah di duga.

Bukan saja tusukan itu menggunakan jurus pedang yang


dahsyat, di sini juga terhimpun seluruh intisari dari jurus-jurus
senjata yang paling ampuh di dunia ini.

Tusukan itu sesungguhnya merupakan sebuah tusukan yang


pasti akan bersarang telak, tapi sayangnya tusukan tersebut
sama sekali tidak mengenai sasaran.

Kecuali Cia Siau-hong, tak ada orang kedua di dunia ini yang
sanggup menghindarkan diri dari tusukan semacam itu, karena
tiada seorang manusiapun di dunia ini yang lebih memahami
tentang Buyung Ciu-ti daripada dirinya.........

Ia dapat menghindarkan diri dari tusukan tersebut, bukan


dikarenakan ia telah memperhitungkan dengan tepat saat dan
arah tusukan tersebut, melainkan ia telah memperhitungkan
dengan tepat manusia macam apakah Buyung Ciu-ti itu?

Sedemikian pahamnya dia tentang perempuan itu, mungkin


jauh lebih banyak daripada ia memahami dirinya sendiri.
Pendekar Gelandangan 569

Ia tahu bahwa perempuan itu bukan seorang perempuan gila,


diapun tahu bahwa ia tak akan mungkin tak bisa
mengendalikan diri.

Ketika mata pedang menyambar lewat bawah ketiaknya, ia


telah mencengkeram urat nadi di tangan perempuan itu,
waktu dan arah serangannyapun tak kalah cepatnya.

Pedang pendek itu segera rontok, tubuhnya pun ikut menjadi


lemas, sekujur badannya jatuh lemas di dalam pelukannya.

Terasa lembut, halus dan hangatnya tubuh perempuan itu.

Cuma sepasang tangannya terasa dingin dan kaku.

Malam yang panjang telah berakhir, fajarpun menyingsing


dari ufuk timur, ketika sinar keemas-emasan itu memancar
masuk lewat jendela, tepat menyorot di atas wajahnya.

Titik-titik air mata telah membasahi wajahnya, sepasang mata


yang bening dan jeli sedang memandang ke arahnya dengan
terkesima.

Tapi Cia Siau-hong tidak melihatnya.

Tiba-tiba Buyung Ciu-ti berkata:

"Masih ingatkah kau sewaktu kita berjumpa untuk pertama


kalinya dulu, waktu itu akupun hendak membunuhmu, tapi
kau telah merampas pedangku serta memelukku dengan cara
seperti ini"
Pendekar Gelandangan 570

Cia Siau-hong masih juga tidak mendengarnya, tapi ia tak


pernah melupakan hari semacam itu.........

Waktu itu adalah musim semi.

Di atas bukit yang berlapiskan rumput hijau bagaikan


permadani, di bawah sebatang pohon besar yang rindang,
berdirilah seorang gadis tanggung yang berbaju sederhana.

Ketika perempuan itu berjumpa dengannya, iapun tertawa,


senyumannya lebih lembut dan lebih indah dari hembusan
angin di musim semi.

Maka diapun balas tersenyum kepadanya.

Menyaksikan senyum yang lebih manis dan lebih menawan


itu, diapun menghampirinya, memetik sekuntum bunga dan
memberikan kepadanya, tapi perempuan itu justru memberi
sebuah tusukan kepadanya.

Ujung pedang ketika menyambar lewat dari sisi


tenggorokannya, ia cengkeram tangan perempuan itu.

"Kau adalah Sam-sauya dari keluarga Cia?", dengan terkejut


gadis itu memandang ke arahnya.

"Darimana kau bisa tahu tentang aku?", dia balik bertanya.

"Sebab kecuali Sam-sauya dari keluarga Cia, tak seorang


manusiapun yang sanggup merampas pedangku ini dalam satu
gebrakan"
Pendekar Gelandangan 571

Ia tidak bertanya kepada gadis itu apakah sudah banyak orang


yang terluka di ujung pedangnya, diapun tidak bertanya
kepadanya kenapa ia harus melukai orang.

Sebab ketika itu musim semi sangat indah, bunga sedang


mekar dan menyiarkan bau harum, ia merasakan betapa
lembut dan halusnya tubuh dara itu.

Karena waktu itu, diapun sedang berusia muda remaja.

Bagaimana dengan sekarang?

Sekarang, apakah dia masih mempunyai perasaan yang sama


seperti apa yang telah dialaminya dulu?

Buyung Ciu-ti masih saja berbisik dengan lirih:

"Aku tak ambil perduli apa yang sedang kau pikirkan


sekarang, yang pasti aku tak akan melupakan hari itu, sebab
pada saat itu juga aku telah mempersembahkan seluruh
tubuhku untukmu, ya tanpa ku sadari dengan keadaan yang
tak jelas, aku telah menyerahkan diri kepadamu, sebaliknya
kau setelah pergi ternyata tak pernah ada kabar beritanya
lagi!"

Cia Siau-hong masih saja membungkam, seakan-akan masih


belum mendengar apa yang dia katakan.

Perempuan itu berkata lebih lanjut:

"Menanti kami berjumpa kembali untuk ke dua kalinya, aku


telah tukar cincin, kau datang khusus untuk menyampaikan
Pendekar Gelandangan 572

selamat kepadaku.......!"

"Walaupun perasaanku amat membencimu ketika itu, tapi


setelah berjumpa denganmu, aku merasa kehilangan
pegangan dan tak tahu apa yang musti kulakukan"

"Maka malam kedua setelah aku tukar cincin, tanpa ku sadari


aku telah pergi meninggalkan rumah untuk mengikutimu,
siapa tahu kau telah meninggalkan aku dengan begitu saja,
pergi untuk tak kembali lagi!"

"Sekarang walaupun hatiku merasa lebih benci kepadamu,


tapi.........tapi......aku masih berharap kau dapat seperti dulu
lagi, membohongi aku sekali lagi dan membawaku pergi,
sekalipun kali ini kau akan membunuhku, akupun tak akan
menggerutu lagi kepadamu!"

Suaranya masih tetap lembut dan merdu, benarkah ia dapat


tidak mendengarkan? Benarkah ia tak mendengar?

Ia memang sudah dua kali membohonginya, tapi perempuan


itu masih begini baik kepadanya. Bila ia begitu tak
berperasaan, betulkah hatinya sudah sedingin salju?

"Aku tahu, kau tentu mengira aku telah berubah!", dengan air
mata bercucuran Buyung Ciu-ti berkata lagi, "tapi sekalipun
aku telah berubah menjadi manusia macam apapun di
hadapan orang lain, terhadapmu aku selalu tak akan
berubah!"

Tiba-tiba Cia Siau-hong mendorongnya ke belakang, lalu


tanpa berpaling lagi pergi meninggalkan tempat itu.
Pendekar Gelandangan 573

Tapi Buyung Ciu-ti masih saja tak mau melepaskannya, ia


masih membuntuti terus di belakangnya.

Sinar matahari di luar jendela telah memancar ke empat


penjuru, di atas bukit nun jauh di depan sana tampak sebuah
tanah berumput yang menghijau dan segar bagaikan
permadani.

Tiba-tiba Siau-hong berpaling dan menatap perempuan itu


dengan ketus.

"Apakah kau baru senang bila sudah kubunuh?", tegurnya.

Air mata di atas wajah Buyung Ciu-ti belum mengering, tapi


dia memaksakan diri untuk tertawa.

"Asal kau merasa gembira, bunuhlah aku!", sahutnya.

Cia Siau-hong telah memutar badannya dan melanjutkan


kembali perjalanannya.

Perempuan itu masih mengikuti di belakangnya, tiba-tiba ia


berkata:

"Coba lihatlah mulut lukamu itu masih mengucurkan darah,


paling tidak kau harus membiarkan aku untuk membalut
lukamu itu terlebih dahulu!"

Tapi Cia Siau-hong tidak memperdulikan.

Perempuan itu kembali berkata:


Pendekar Gelandangan 574

"Walaupun aku yang menyuruh orang untuk pergi


melukaimu, tapi kejadian itu adalah suatu kejadian yang lain,
asal kau bersedia untuk buka mulut, maka setiap saat aku
dapat pergi membunuh orang-orang itu demi kau.......!"

Langkah kaki Cia Siau-hong makin lambat, akhirnya tak tahan


lagi ia berpaling, di antara sinar matanya yang dingin dan kaku
telah muncul luapan perasaan.

Entah perasaan itu adalah perasaan cinta? Atau perasaan


benci? Tapi yang pasti kesemuanya itu adalah suatu luapan
perasaan yang telah merasuk ke tulang sumsum dan tak akan
terlupakan untuk selamanya.

Bukit yang kokohpun bisa longsor, bukit salju yang keraspun


dapat meleleh, apalagi hati manusia?

Sekalipun semua tahu bila bukit sampai longsor, maka


bencana akan segera timbul, di kala longsoran bakal terjadi,
siapakah yang sanggup untuk mencegahnya?

Perempuan itu lagi-lagi sudah membenamkan diri dalam


pelukannya.

Musim semi kembali tiba, rumput-rumput mulai menghijau.

Pelan-pelan Cia Siau-hong duduk di atas tanah perbukitan itu


dan mengawasi orang yang berbaring di sisinya.

Ia sedang bertanya kepada diri sendiri:


Pendekar Gelandangan 575

"Sesungguhnya aku telah menelantarkan dia? Ataukah dia


telah menelantarkan aku?"

Tak seorang manusiapun bisa menjawab pertanyaan ini,


termasuk pula dirinya sendiri.

Dia hanya tahu bagaimanapun baik atau jeleknya, perduli


siapa yang telah menelantarkan dia, asal kedua orang itu
berada menjadi satu, saat itulah merupakan saat yang paling
aman dan tenteram, saat-saat bahagia untuk menghilangkan
segala kesedihan dan duka nestapa.

Ia sendiripun tak tahu perasaan macam apakah ini, dia hanya


tahu jika antara manusia dengan manusia sudah terikat oleh
perasaan semacam ini, maka sekalipun menderita atau
tertipu, diapun rela dan pasrah.

Sekalipun harus mati, rasanya juga tak menjadi soal.

Pelan-pelan perempuan itu mendongakkan kepalanya dan


memandang ke arahnya dengan terpesona, kemudian
bisiknya:

"Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan dalam hatimu?"

"Kau tahu?"

"Ya, kau hendak menyuruhku untuk membubarkan Thian-cun,


membawa kembali bocah itu dan melewatkan penghidupan
yang tenang dan tenteram selama beberapa tahun!"

Ia memang telah menebak tepat apa yang dipikirkan Cia Siau-


Pendekar Gelandangan 576

hong kini........

Sekalipun dia adalah seorang gelandangan, dalam nadinya


mengalir darah seorang petualang, tapi diapun mempunyai
saat-saat bosan dan kesal.

Terutama di kala ia sadar dari mabuknya di tengah malam


yang hening terbayang kembali kekasih hatinya, siapakah yang
dapat menanggung derita dan kesepian seperti itu?

Pelan-pelan perempuan itu menggenggam tangannya,


kemudian bertanya lagi:

"Tahukah kau, apa yang sedang kupikirkan sekarang?"

Tentu saja dia tak tahu, hati perempuan memang sukar


diduga, apalagi dia adalah perempuan semacam ini.

Tiba-tiba perempuan itu kembali tertawa, suara tertawanya


aneh sekali.

"Aku sedang berpikir, jangan-jangan kau memang benar-


benar seorang dungu.......!"

"Seorang dungu?", Cia Siau-hong tidak mengerti.

"Tahukah kau, Thian-cun adalah suatu organisasi maha besar


yang telah menyita banyak tenaga, pikiran dan keringatku
untuk membangunnya. Kenapa aku musti memusnahkannya
dengan begitu saja tanpa suatu hasil apapun yang berhasil ku
dapat? Kalau toh kau sudah tidak maui bocah itu lagi, kenapa
aku musti membawanya datang untuk diberikan kepadamu?"
Pendekar Gelandangan 577

Cia Siau-hong merasakan hatinya seperti terjatuh ke dalam


jurang, sekujur badannya menjadi dingin dan kaku, hawa
dingin yang menusuk tulang serasa muncul dari dasar telapak
kakinya dan menyusup naik hingga ke atas kepalanya.

Menyaksikan mimik wajahnya itu, gelak tertawa Buyung Ciu-ti


semakin keras dan makin menggila.

"Haaahhhhh....... haaaaahhhh...... haaaaahhhhhh.... paling


tidak kaupun musti berpikir, apa kedudukanku sekarang? Apa
pula jabatanku kini? Masakah aku kesudian untuk
menanakkan nasi dan mencucikan pakaian bagimu?"

Ia masih saja tertawa tiada hentinya.

"Haaaahhhhhh..... haaaahhhh..... haaaahhhhhh sekarang


ternyata kau suruh aku melakukan pekerjaan semacam ini,
kalau kau bukan seorang yang dungu, lantas siapakah yang
dungu?"

Benarkah Cia Siau-hong adalah seorang dungu?

Sejak berusia lima tahun ia mulai belajar pedang, berusia


enam tahun mulai mengupas intisari dari ilmu pedang, umur
tujuh tahun dapat menghapalkan bacaan dan syair jaman
Tong di luar kepala, padahal anak-anak lain yang sebaya
dengannya masih belum bisa memakai celana sendiri.

Akan tetapi di hadapan Buyung Ciu-ti sekarang, ia berubah


menjadi seakan-akan seorang dungu yang seratus persen
orisinil.
Pendekar Gelandangan 578

Pelan-pelan Cia Siau-hong bangkit berdiri, setelah


memandang sekejap ke arahnya ia bertanya:

"Sudah selesaikan perkataanmu itu?"

"Kalau sudah selesai lantas kenapa? Apakah kau hendak


membinasakan diriku?"

Tiba-tiba suara tertawanya berubah menjadi isak tangis,


sambil menangis tersedu-sedu serunya:

"Baik, baiklah, bunuhlah aku! Jika begini sikapmu kepadaku,


bunuh saja diriku sekarang juga, sebab bagaimanapun juga
akupun sudah tak ingin hidup lagi"

Tangisannya menyedihkan sekali, tapi wajahnya sedikitpun


tidak menampilkan rasa sedih barang sedikitpun, mendadak ia
merendahkan suaranya dan berbisik:

"Terlalu banyak perempuan yang menyukaimu, aku tahu


lambat laun kau tentu melupakan diriku, sebab itu setiap
lewat beberapa tahun aku harus baik-baik mereparasikan
dirimu, agar selama hidup kau tak akan melupakan diriku
lagi!"

Selesai mengucapkan beberapa patah kata itu, suara


tangisannya makin diperkeras, tiba-tiba ia menempeleng
muka sendiri sekeras-kerasnya hingga sembab merah dan
membengkak besar, lalu teriaknya lagi keras-keras:

"Kenapa kau tidak sekalian membinasakan diriku? Kenapa kau


Pendekar Gelandangan 579

memukuli aku hingga menjadi begini rupa? Buat apa kau


menyiksa diriku terus menerus........?"

Sambil menutupi muka sendiri dan menangis tersedu-sedu, ia


lari turun dari bukit tersebut, seakan-akan Cia Siau-hong
benar-benar sedang mengejarnya sambil memukuli tubuhnya.

Padahal seujung jaripun Cia Siau-hong tidak menyentuh


tubuhnya, tapi saat itulah tiba-tiba dari bawah bukit sana telah
muncul beberapa sosok bayangan manusia.

Seorang nyonya berwajah anggun yang berada di paling


depan segera menyongsong kedatangannya dan memeluk
perempuan itu ke dalam rangkulannya.......

Di belakang perempuan anggun itu mengikuti tiga orang


manusia, yang seorang adalah kakek yang rambutnya telah
beruban semua, tetapi langkah kakinya masih tegap dan
gagah, pinggangnya lurus seperti batang pit, di tangannya
membawa sebuah kantong yang terbuat dari kain kuning.

Di belakang kakek itu adalah seorang laki-laki yang telah tua


rengka meski usianya di antara setengah umur, mukanya kotor
dan dekil oleh debu, rupanya baru saja melakukan perjalanan
jauh.

Sedangkan orang yang berjalan di paling belakang adalah


seorang nona kecil yang bertubuh ramping, sambil berjalan
diam-diam ia membesut air matanya.

Hampir saja Cia Siau-hong tak dapat mengendalikan


perasaannya untuk berteriak keras:
Pendekar Gelandangan 580

"Si Boneka!"

Nona cilik yang berjalan di paling belakang itu ternyata


memang betul-betul adalah si Boneka yang selama ini
keselamatan jiwanya selalu dikuatirkan.

Tapi ia tidak berteriak memanggilnya, sebab tiga orang


lainnya juga dikenali olehnya, bahkan perkenalan mereka
telah berlangsung sangat lama sekali.

Kakek berambut putih yang masih tampak kekar dan gagah


itu adalah nku-tio (paman)nya yang bernama Hoa Sau-kun.

Dua puluh tahun berselang, Yu-siu-kiam-khek Hoa Sau-kun


berhasil merobohkan delapan jagoan paling tangguh dari
partai Thiam-cong dan Bu-tong tanpa pernah menderita kalah
barang sekalipun, pamornya menjadi lebih tersohor setelah ia
kawin dengan seorang adik misan dari ketua Sin-kiam-san-
ceng generasi yang lalu Cia Ngo-cu, adik misannya itu bernama
Hui-hong-li-kiam-kek (Jago pedang perempuan burung Hong
terbang) Cia Hong-hong. Sejak perkawinan itu, ilmu pedang
naga dan burung hong mereka bersatu padu dan tak pernah
menjumpai seorang musuhpun yang sanggup merobohkan
mereka, semua orang persilatan.

Siapa tahu pada saat itulah di luar dugaan ia telah menderita


kekalahan total di tangan seorang bocah ingusan yang baru
berusia sepuluh tahun dan kebetulan sekali bocah yang
merobohkannya itu tak lain adalah Cia Siau-hong.

Perempuan berwajah anggun yang sedang memeluk Buyung


Pendekar Gelandangan 581

Ciu-ti dalam rangkulannya itu tak lain adalah ko-koh (bibi)-nya


Cia Hong-hong.

Laki-laki gemuk bengkak berusia setengah umur itupun dari


marga Cia juga, dia masih famili jauhnya dan lagi sejak kecil ia
telah bermain dengan orang ini.

Sewaktu masih kecil dulu, seringkali ia ngeloyor ke rumah


makan di pantai telaga sana untuk minum arak.

Laki-laki gemuk berusia setengah umur itu bukan lain adalah


Cia ciangkwe dari warung arak itu.

Tapi mengapa mereka bisa sampai di situ? Kenapa si Boneka


bisa melakukan perjalanan bersama mereka?

Cia Siau-hong merasa tak habis mengerti, diapun tak dapat


menduganya, apa yang dipikirkan sekarang hanyalah berusaha
untuk kabur sejauh-jauhnya dari sana, dan jangan sampai
ketahuan oleh mereka semua.

Sayang sekali mereka telah melihat kehadirannya di sana. Hoa


Sau-kun sedang memandang keadaannya sambil tertawa
dingin, sedang si Boneka sedang memandang ke arahnya
sambil mengucurkan air mata.

Cia ciangkwe dengan napas ngos-ngosan sedang merangkak


naik ke atas bukit, begitu sampai di hadapan Cia Siau-hong, ia
lantas membungkukkan badan dan memberi hormat, sapanya
sambil tertawa:

"Sam Sauya, sudah lama tak berjumpa, baik-baikkah kau


Pendekar Gelandangan 582

selama ini?"

Cia Siau-hong sesungguhnya hidup dalam keadaan tak baik,


tapi terhadap orang baik yang secara diam-diam memberikan
sedikit arak kepadanya semenjak ia berusia delapan-sembilan
tahun ini, mau tak mau dia musti tertawa juga, kemudian balik
bertanya:

"Kenapa kau bisa sampai di sini?"

Cia ciangkwe tak pandai berbohong, terpaksa dia harus


berbicara terus terang:

"Nona Buyung yang mengajak kami semua datang kemari!"

"Mau apa dia undang kalian datang kemari?"

Cia ciangkwe agak ragu-ragu, dia tak tahu untuk menjawab


pertanyaannya kali ini, dia musti bicara sejujurnya atau tidak.

Untunglah sambil tertawa dingin Cia Hong-hong telah


berseru:

"Mau apa lagi? Kami datang untuk menyaksikan perbuatan


bagus yang sedang kau lakukan!"

Cia Siau-hong menutup mulutnya rapat-rapat. Dia tahu


bibinya ini bukan cuma wataknya tak baik, kesan
terhadapnyapun kurang baik sebab tak seorang
perempuanpun di dunia ini yang senang menyaksikan
suaminya dikalahkan, walaupun orang itu adalah
keponakannya sendiri ataupun bukan................
Pendekar Gelandangan 583

Sayang, bibi tetap adalah bibi, perduli bagaimanapun


kesannya kepadamu, ia sama saja adalah bibimu.

Walaupun ia telah menutup mulutnya, tapi Cia Hong-hong tak


mau melepaskannya dengan begitu saja.

"Sungguh tak kusangka kalau Cia kita bisa muncul seorang


manusia semacam kau", demikian ia memaki, "bukan saja
pandai mempermainkan perempuan, bahkan anak sendiripun
sudah tak mau!"

Lalu sambil menuding bekas-bekas jari tangan di atas wajah


Buyung Ciu-ti, ia berkata lebih lanjut:

"Kau sudah menipunya dua kali, meninggalkannya dua kali,


tapi ia masih mencintaimu dengan sepenuh hati, kenapa kau
memukulnya pula sehingga menjadi begini rupa?"

"Dia....dia...tidak......", air mata bercucuran membasahi


seluruh wajah Buyung Ciu-ti.

"Kau tak usah banyak bicara!", tukas Cia Hong-hong dengan


marah, "semua pembicaraan kalian dalam rumah penginapan
kecil itu telah kami dengar semua dengan amat jelasnya, kalau
toh sepatah katapun ia tak berani menyangkal, mengapa kau
harus membantunya untuk menghilangkan dosa-dosanya itu?"

Lalu setelah berhenti sebentar ia bertanya lagi:

"Cia ciangkwe, apakah semua pembicaraan tersebut telah kau


dengar pula dengan jelas?"
Pendekar Gelandangan 584

"Benar!", Cia ciangkwe manggut-manggut.

"Kau suka mempermainkan perempuan bagi kami bukan


urusan, kamipun enggan untuk mencarinya, tapi nona Buyung
mempunyai hubungan yang luar biasa dengan keluarga Cia
kami, sekalipun kau sudah tak mau anakmu lagi, kami keluarga
Cia mau tak mau harus mengakuinya sebagai cucu kami, lebih-
lebih terhadap menantu kita ini!"

Cia Siau-hong tidak bersuara, bibirnya sedang bergetar keras


menahan emosi.

Sekarang, ia telah memahami semua intrik dan rencana busuk


yang telah diatur Buyung Ciu-ti.

Rupanya sengaja ia mengundang datang orang-orang itu dan


mengaturnya untuk bersembunyi di sekitar rumah penginapan
kecil itu, kemudian sengaja mengucapkan kata-kata itu agar
bisa mereka dengar, agar di kemudian hari ia tak dapat
menyangkalnya lagi sekalipun ingin menyangkalnya.

Kini ia sudah merupakan pemilik dari perkampungan keluarga


Buyung di wilayah Kanglam dan ketua Thian-cun, jelas
perempuan itu belum puas, ia masih merencanakan terus
untuk merampas pula perkampungan Sin-kiam-san-ceng yang
tersohor itu.

Jikalau pihak keluarga Cia telah mengakui mereka ibu dan


anak, tentu saja secara otomatis dia akan menjadi nyonya
ketua perkampungan Sin-kiam-san-ceng, itu berarti
perkampungan itu cepat atau lambat akan terjatuh ke
Pendekar Gelandangan 585

tangannya.

"Apalagi yang hendak kau tanyakan?", Cia Hong-hong kembali


bertanya.

Cia Siau-hong tidak menjawab, walaupun semua kejadian


telah terpikir olehnya, namun sepatah katapun ia tidak
berbicara.

"Sekarang aku ingin bertanya kepadamu, apakah peraturan


pertama dari keluarga Cia kita?", teriak Cia Hong-hong.

Paras muka Cia Siau-hong belum sempat berubah, air muka


Cia ciangkwe telah berubah hebat.

Diapun mengetahui akan peraturan rumah tangga dari


keluarga Cia, peraturan pertama menyebutkan tentang soal
berzinah.......'Barang siapa berani berzinah dengan istri orang
atau memperkosa anak gadis orang lain, maka dia akan
dijatuhi hukuman penggal sepasang kakinya'.

Cia Hong-hong tertawa dingin, katanya:

"Sekarang kau telah melanggar peraturan yang pertama dari


undang-undang rumah tangga kita, kendatipun toako akan
membelamu, aku tetap tak akan mengampuni dirimu!"

Tangannya segera diulapkan, dari bawah bukit segera muncul


seorang bocah cilik yang mempersembahkan sebilah pedang.

Ketika pedang itu diloloskan dari sarungnya, hawa dingin yang


merasuk tulang segera menyebar ke empat penjuru.
Pendekar Gelandangan 586

Kembali Cia Hong-hong berkata dengan suara keras:

"Sekarang juga aku akan melaksanakan hukuman bagi


keluarga Cia kita, kenapa kau masih belum juga berlutut untuk
menerima hukuman?"

ooooOOOOoooo
Pendekar Gelandangan 587

Bab 16. Senjata Dalam Buntalan

Cia Siau-hong tidak berlutut.

Sambil tertawa dingin Cia Hong-hong berseru kembali:

"Bukti dan saksi semua telah hadir di depan mata, apakah kau
masih belum mengaku salah? Apakah kau hendak melanggar
undang-undang rumah tangga?"

Perempuan itu tahu belum pernah ada orang yang berani


menentang undang-undang rumah tangga. Barang siapa
menentang peraturan rumah tangga maka ia akan dicemooh
dan dihina oleh setiap umat persilatan yang ada dalam dunia.

Kini di dalam genggamannya bukan cuma ada sebilah pedang


melainkan masih ada seutas tali pula, seutas tali yang dibuat
dari pelbagai peraturan umat persilatan yang sudah turun
temurun selama ratusan tahun lamanya dan tali itu jelas telah
membelenggu Cia Siau-hong kencang-kencang.

Siapa tahu Cia Siau-hong justru tak mau tunduk.

Paras muka Cia Hong-hong berubah hebat. Sesungguhnya dia


adalah seorang perempuan yang beruntung, bukan saja
memiliki keluarga yang baik, diapun mempunyai suami yang
baik, tidak banyak jago persilatan yang berani pandang enteng
dirinya.

Oleh sebab itulah dia angkuh, sombong dan selalu berwatak


nyonya besar, selamanya tak pernah ia pandang sebelah mata
kepada orang lain.
Pendekar Gelandangan 588

Apa yang dipikirkan segera akan dia laksanakan, pedangnya


segera digetarkan dan siap melancarkan serangan.

Akan tetapi tak pernah ia sangka, Cia ciangkwe yang selalu


terengah-engah dan gerak-geriknya selalu lamban itu
mendadak menjadi cepat sekali, tahu-tahu ia sudah berada di
hadapannya sambil tertawa paksa.

"Hoa hujin, harap jangan gusar dulu!", katanya.

"Apa yang hendak kau lakukan?", hardik Cia Hong-hong.

"Aku rasa mungkin juga Sam sauya mempunyai kesulitan yang


tak dapat diterangkan kepada orang lain, sekalipun Hoa-hujin
hendak menghukumnya dengan mempergunakan peraturan
rumah tangga, paling tidak kau harus membicarakan dahulu
persoalan ini dengan lo-tayya!"

Cia Hong-hong segera tertawa dingin tiada hentinya.

"Heeeehhhh....... heeeeehhhh...... heeeeehhhhh..... kau selalu


membahasakan aku sebagai Hoa-hujin, apakah kau sedang
memperingatkanku bahwa aku sudah bukan anggota keluarga
Cia lagi?"

Tentu saja memang begitulah maksud dari Cia ciangkwe,


cuma ia tak berani mengakuinya secara berterus terang,
kepalanya segera digelengkan berulang kali.

"Hamba tidak berani! Hamba tidak berani!"


Pendekar Gelandangan 589

"Hmmm.....! Sekalipun aku sudah bukan anggota keluarga Cia


lagi, pedang ini masih merupakan pedang dari keluarga Cia"

Pedangnya segera digetarkan dan bentaknya keras-keras:

"Pedang inilah peraturan rumah tangga!"

"Ucapan dari Hoa-hujin memang ada betulnya juga, hanya


ada satu hal yang tidak siaujin pahami"

"Dalam hal mana?"

Cia ciangkwe masih saja tersenyum di kulum, katanya:

"Aku tidak habis mengerti kenapa peraturan rumah tangga


dari keluarga Cia dapat sampai terjatuh ke tangan keluarga
Hoa?"

Paras muka Cia Hong-hong kembali berubah hebat, lalu


dengan gusar teriaknya:

"Sungguh besar amat nyalimu, berani bersikap begitu kurang


ajar kepada nyonya besarmu?"

"Hamba tidak berani!"

Ketika ke tiga patah kata itu meluncur keluar dari mulutnya,


tiba-tiba tangan kirinya mencengkeram tangan Cia Hong-hong,
lalu tangan kanannya menumbuk dan menyambar, tahu-tahu
pedang yang berada di tangan Cia Hong-hong itu sudah
berpindah tangan dan ia segera mundur sejauh tiga kaki dari
posisi semula.
Pendekar Gelandangan 590

Jurus serangan itu dipergunakan dengan amat sederhana,


bersih, cepat dan tepat, perubahan gerakan yang terkandung
di dalamnya amat sulit dilukiskan dengan kata-kata.

Ketika Cia Siau-hong merampas pedang milik Liu Kok-tiok


tempo hari, jurus serangan inilah yang telah dipergunakan.

Sekujur badan Cia Hong-hong telah menjadi kaku, saking


gusarnya air muka nyonya itu berubah menjadi hijau
membesi, teriaknya:

"Dari mana kau pelajari jurus serangan itu?"

Sambil tertawa lirih sahut Cia ciangkwe:

"Kalau Hoa-hujin masih kenal dengan jurus serangan ini, hal


tersebut lebih baik lagi!"

Pelan-pelan ia melanjutkan:

"Jurus serangan itu diwariskan langsung dari Loya-cu


kepadaku, dia orang tua berulang kali memesan kepadaku
agar setelah mempelajari jurus ini, janganlah dipergunakan
secara sembarangan, tapi bila melihat ada pedang keluarga
Cia berada di tangan orang dari marga lain, maka kau harus
pergunakan jurus ini untuk merampasnya kembali!"

Setelah tertawa ia menambahkan lebih jauh:

"Apa yang telah dipesan oleh Loya-cu sudah barang tentu tak
berani ku ingkari!"
Pendekar Gelandangan 591

Saking jengkelnya Cia Hong-hong sampai tak mampu


mengucapkan sepatah katapun, manik-manik dan mainan
yang dikenakan di atas kepalanya bergoyang tiada hentinya
hingga menimbulkan suara yang amat nyaring.

Diapun tahu bahwa jurus serangan ini memang benar-benar


merupakan jurus simpanan dari keluarga Cia, lagi pula
selamanya hanya diwariskan kepada anak lelaki dan tidak
diwariskan kepada menantu laki-laki, diwariskan kepada
menantu perempuan dan tidak diwariskan kepada anak
perempuan.

Pedangnya berhasil dirampas orang dalam sekejap mata, hal


ini disebabkan dia sendiripun tidak memahami intisari dari
rahasia jurus serangan tersebut.

Tiba-tiba Hoa Sau-kun menegur:

"Apa hubunganmu dengan keluarga Cia?"

Walaupun orang itu berperawakan tinggi besar dan


tampaknya seram, tapi caranya berbicara ternyata lemah
lembut dan lirih sekali.

Sesungguhnya ia tidak bertampang semacam ini, sejak kalah


di ujung pedang Sam sauya, selama banyak tahun ini rupanya
ia tekun berlatih diri terus menerus sehingga tenaga dalamnya
benar-benar sudah mencapai kesempurnaan, itu pula
sebabnya dia selalu dapat mengendalikan diri.

"Kalau dihitung-hitung, sebenarnya siau-jin tak lebih hanya


Pendekar Gelandangan 592

seorang keponakan jauh dari lo-tayya", sahut Cia ciangkwe.

"Kau tahu pedang apakah itu?"

"Pedang ini adalah salah satu dari empat bilah pedang


mestika yang ditinggalkan oleh nenek moyang keluarga Cia"

Cahaya pedang berkelebat lewat, hawa pedang segera


memancar ke empat penjuru.

"Pedang bagus!", Hoa Sau-kun segera berseru sambil


menghela napas panjang.

"Ya, ini memang sebilah pedang yang bagus sekali!"

"Apakah kau pantas atau berhak untuk mempergunakan


pedang mestika ini......?"

"Tidak pantas!"

"Kenapa kau tidak menyerahkan saja pedang ini kepada Sam-


sauya mu itu.....?"

"Ya, siaujin memng ada maksud untuk berbuat demikian!"

Ia memang berbicara sesungguhnya, semenjak tadi sudah


timbul maksudnya untuk melakukan hal tersebut, cuma saja ia
tidak mengerti apa maksud Hoa Sau-kun berkata demikian.

Tapi ia dapat melihat bahwa Cia Hong-hong telah memahami


maksud suaminya.
Pendekar Gelandangan 593

Mereka adalah suami isteri yang telah menanggung derita


bersama, sudah hampir dua puluh tahun lamanya mereka
hidup bersama, sekarang suaminya hendak menyuruh orang
untuk menyerahkan pedang yang seharusnya menjadi
miliknya itu kepada orang lain, tapi ia sama sekali tidak
menampilkan rasa gusar atau mendongkol sebaliknya justru
terpancar sinar kuatir dan kelembutan yang hangat.

Karena hanya dia seorang yang mengerti maksudnya, dan


diapun tahu bahwa istrinya mengerti.

ooooOOOOoooo
Pendekar Gelandangan 594

Bab 17. Beradu Kepandaian

Kini pedang itu sudah berada di tangan Cia Siau-hong.

Tapi mereka berdua tak seorangpun yang berpaling untuk


memandang lagi barang sekejappun. Mereka hanya saling
berpandangan dengan mulut membungkam.

Entah berapa lama sudah lewat, tiba-tiba Hoa Sau-kun


berkata:

"Lima beberapa hari lagi adalah bulan sebelas tanggal lima


belas......."

"Ya, agaknya masih ada delapan hari lagi!", Cia Hong-hong


membenarkan sambil mengangguk.

"Sampai hari itu, maka kau kawin denganku sudah genap dua
puluh tahun lamanya"

"Ya, aku masih ingat!"

"Sejak kecil aku telah bersumpah, sebelum menjadi tenar aku


tak akan kawin"

"Aku mengerti!"

"Aku menjadi tenar setelah berusia empat puluh tahun.


Ketika menikah denganmu, usiaku menjadi dua puluh tahun
lebih tua daripada usiamu waktu itu"

Cia Hong-hong segera tertawa.


Pendekar Gelandangan 595

"Sampai sekarang kau toh masih berusia dua puluh tahun


lebih tua daripadaku", katanya.

Di tempat itu, bukan cuma ada mereka berdua saja, tapi


secara tiba-tiba kedua orang itu telah membicarakan tentang
persoalan pribadi mereka berdua.

Suara mereka begitu lembut dan halus, mimik wajahnyapun


kelihatan aneh sekali, bahkan sewaktu tertawapun tampak
sekali tertawanya sangat aneh..........

"Dalam dua puluh tahun ini, hanya kau seorang yang tahu
penghidupan macam apakah yang telah ku jalani selama ini?"

"Aku tahu, kau........kau selalu merasa telah berbuat salah


kepada diriku"

"Karena aku kalah, aku sudah bukan Hoa Sau-kun ketika


mengawini dirimu tempo dulu walau ke manapun juga aku
sudah tak punya muka untuk menampilkan diri lagi, tapi
kau............."

Ia maju ke depan dan menggenggam tangan istrinya erat-


erat, terusnya lebih jauh:

"Kau belum pernah menggerutu kepadaku, selalu menerima


tabiat anehku dengan penuh kerelaan, tanpa kau, mungkin
aku sudah mampus!"

"Kenapa aku musti menggerutu kepadamu selama dua puluh


tahun ini, bila ku bangun setiap hari, aku dapat menyaksikan
Pendekar Gelandangan 596

kau berbaring di sampingku. Bagi seorang perempuan, masih


ada rejeki apa lagi yang melebihi keadaan semacam itu?"

"Tapi sekarang aku sudah tua, siapa tahu ketika suatu pagi
kau bangun dari tidurmu, tahu-tahu kau jumpai aku sudah
pergi meninggalkan dirimu.......?"

"Tetapi........"

Hoa Sau-kun tidak membiarkan ia melanjutkan kata-katanya,


dengan cepat ia menukas:

"Setiap orang, cepat atau lambat, pasti akan mengalami


keadaan seperti itu, selamanya akan memandang tawar
terhadap kejadian semacam ini, tapi aku tak akan membiarkan
orang berkata bahwa Ko nay-nay dari keluarga Cia telah kawin
dengan seorang suami yang tak berguna, tak becus. Aku harus
membuktikan ketidak-becusanku di depan orang lain"

"Ya, aku mengerti"

Hoa Sau-ya menggenggam tangannya lebih kencang.

"Kau sungguh-sungguh telah mengerti?", bisiknya.

Cia Hong-hong mengangguk, air matanya telah jatuh


bercucuran membasahi pipinya.

Hoa Sau-kun menghembuskan napas panjang.

"Terima kasih", kembali bisiknya.


Pendekar Gelandangan 597

Terima kasih.

Itulah dua patah kata yang sederhana tapi mengandung


maksud yang dalam.

Pada saat semacam ini, dibalik ucapan yang sederhana itu


justru tersembunyi suatu luapan perasaan cinta, luapan
perasaan haru dan rasa sayang yang tak terlukiskan besarnya.

Air mata si Boneka telah membasahi seluruh ujung bajunya.

Sekarang bahkan dia sendiripun telah memahami maksudnya,


bahkan diapun tak tega untuk bersedih hati bagi mereka
berdua.

Hoa Sau-kun telah duduk di atas rumput.

Rumput-rumput itu telah menguning dan kering.....walaupun


dalam pandangan muda-mudi, lapangan itu masih tetap hijau
dan penuh keindahan, hal inipun tak lain disebabkan bahwa
dalam perasaan setiap orang, musim semi yang indah selalu
ada, tapi setiap kali musim kemaraupun akan dijumpai.

Mereka sudah menjadi suami-isteri selama banyak tahun,


cinta kasih mereka telah mempunyai dasar yang cukup kuat.

Ia telah duduk, buntalan kain yang dibawanya itu telah


diletakkan di atas lututnya, lalu pelan-pelan menengadah dan
memandang ke arah Cia Siau-hong.

Cia Siau-hong memahami pula maksud hatinya itu, cuma saja


ia masih menunggu hingga ia mengatakannya sendiri.
Pendekar Gelandangan 598

Akhirnya Hoa Sau-kun berkata juga:

"Yang kupergunakan sekarang sudah bukan sebilah pedang


lagi!"

"Oya?"

"Semenjak kalah di ujung pedangmu, aku telah bersumpah


tak akan mempergunakan pedang lagi seumur hidupku!"

Ia memandang sekejap buntalan di atas lututnya, lalu berkata


lebih lanjut:

"Selama dua puluh tahun ini aku telah melatih sejenis senjata
tajam lainnya, setiap hari setiap malam aku selalu berharap
suatu ketika dapat melangsungkan kembali suatu pertarungan
melawanmu!"

"Ya, aku mengerti!"

"Tapi aku sudah kalah di ujung pedangmu, prajurit yang telah


kalah perang, biasanya tak cukup bernyali untuk bertarung
kembali, maka bila kau tak akan menyalahkan dirimu....!"

Cia Siau-hong mengawasinya lekat-lekat, mendadak terpancar


ke luar rasa kagum di balik wajahnya.

Dengan wajah tanpa emosi, dia hanya mengatakan sepatah


kata saja dengan hambar:

"Silahkan.....!"
Pendekar Gelandangan 599

Buntalan itu terbuat dari kain berwarna kuning dan dijahit


secara rapat, di luarnya masih diselubungi pula dengan sebuah
kain yang panjang, kain itupun diikat dengan rapat sekali.

Semacam tali simpul yang tidak gampang untuk


memutuskannya. Untuk membebaskan tali simpul semacam
ini, satu-satunya cara yang paling cepat adalah menariknya
hingga putus, atau sekali bacok memutuskan semua tali itu.

Tapi Hoa Sau-kun tidak berbuat demikian, dua puluh


tahunpun dapat ia lewatkan dengan sabar, apalagi hanya
waktu beberapa menit.

Ia lebih suka untuk membuang lebih banyak tenaga dengan


melepaskan ikatan tali itu satu persatu.

Ataukah mungkin karena dia sudah tahu bahwa masa


berkumpul lebih pendek dari masa berpisah, sehingga dia
ingin berkumpul lebih lama lagi dengan istrinya?

Cia Hong-hong memandang ke arahnya, tiba-tiba ia menyeka


kering air matanya, lalu sambil berjongkok di sampingnya ia
berkata:

"Mari kubantu!"

Kain itu sebetulnya ia juga yang mengikatnya, maka tentu saja


ia dapat membukanya lebih cepat pula.

Dengan jelas dia tahu bahwa pertarungan suaminya kali ini


adalah untuk mempertahankan mati dan hidup, kehormatan
Pendekar Gelandangan 600

atau penghinaan.

Diapun tahu bahwa kepergian suaminya kali ini belum tentu


bisa kembali lagi, tapi kenapa ia tak mau mengulur waktu
untuk beberapa saat lebih lama?

Karena ia tak ingin waktu yang cukup lama itu sampai


melenyapkan keberanian serta kepercayaannya pada diri
sendiri.

Karena ia berharap, pertarungan ini bisa dimenangkan oleh


suaminya........

Hoa Sau-kun memahami maksud hati istrinya. Cia Hong-hong


pun tahu bahwa suaminya dapat memahami maksudnya itu.

Betapa sulitnya saling pengertian ini, tapi betapa bahagianya


pula mereka.

Setiap orang agaknya telah dibuat terharu oleh gerak-gerik ke


dua orang itu, hanya Buyung Ciu-ti seorang yang tidak
memperhatikan mereka walau sekejap matapun, ia hanya
mengawasi terus buntalan berwarna kuning itu..........

Dalam hati kecilnya ia sedang berpikir:

"Senjata rahasia macam apakah yang sebenarnya


disembunyikan di balik buntalan itu? Dapatkah dipergunakan
untuk mengalahkan Cia Siau-hong......?"

Sewaktu masih mudanya dulu, Hoa Sau-kun sudah diakui


khalayak umum sebagai seorang jago yang berilmu tinggi.
Pendekar Gelandangan 601

Sejak dikalahkan Cia Siau-hong, mungkin saja kesehatan


tubuhnya banyak merosot, dan sulit untuk dipulihkan kembali
seperti kekuatan di masa jayanya dulu.

Apalagi ilmu pedang Cia Siau-hong adalah ilmu pedang yang


menakutkan, ia dapat meresapi akan hal itu, maka jika ia telah
memilih sebilah senjata lain sebagai pengganti pedang untuk
menghadapi Sam sauya, maka hal mana sudah pasti bukan
suatu kejadian yang gampang.

Di pandang dari sikapnya yang begitu sayang pada buntalan


tersebut, dapat diketahui bahwa senjata yang dipilihnya ini
pasti adalah suatu senjata yang jarang ditemui dalam dunia
persilatan, lagi pula pasti tajamnya luar biasa.

Sudah dua puluh tahun lamanya ia melatih diri dengan tekun


dan rajin, kini dengan memberanikan diri telah
mempertaruhkan jiwa raganya, bahkan mempertaruhkan pula
perpisahannya dengan sang istri yang sudah banyak tahun
hidup sengsara bersamanya, hal ini menunjukkan bahwa
tantangannya kepada Cia Siau-hong untuk berduel kembali
pasti disertai dengan suatu keyakinan yang dapat
dipertanggung-jawabkan.

Pelan-pelan Buyung Ciu-ti menghembuskan napas panjang,


terhadap pertimbangan yang dibuatnya ia mempunyai
keyakinan yang lebih mantap lagi.

Sekarang bilamana ada orang berani bertaruh dengannya,


maka kemungkinan besar ia akan mempertaruhkan bahwa
Hoa Sau-kun yang akan menangkan pertarungan ini.
Pendekar Gelandangan 602

Jika ingin mengetahui skor taruhannya, maka dia akan


memegang Hoa Sau-kun dengan tujuh lawan tiga, atau paling
rendahpun enam banding empat.......

Ia percaya dugaannya ini pasti tak akan keliru terlalu besar.

Akhirnya buntalan itu terbuka, senjata yang berada di dalam


buntalan tersebut ternyata tak lain hanya sebuah tongkat
kayu.

Tongkat itu adalah sebuah tongkat yang amat biasa,


walaupun terbuat dari bahan yang bermutu tinggi, jelas tak
dapat dibandingkan dengan tempaan pedang mestika yang
tajamnya bukan kepalang.

Inikah senjata yang telah dilatihnya dengan tekun dan penuh


keseriusan selama dua puluh tahun?

Hanya mengandalkan tongkat tersebut, dia hendak


menghadapi kecepatan pedang dari Sam sauya?

Ketika menjumpai tongkat kayu itu, Buyung Ciu-ti entah harus


merasa kaget dan tercengang, ataukah harus merasa kecewa?

Mungkin setiap orang akan merasa terkejut dan kecewa


sekali, tapi tidak demikian dengan Cia Siau-hong.

Hanya dia seorang yang mengerti bahwa pilihan Hoa Sau-kun


adalah pilihan yang sangat tepat.

Tongkat sesungguhnya merupakan sejenis senjata yang paling


kuno bagi umat manusia kita. Sejak jaman dahulu kala, di saat
Pendekar Gelandangan 603

manusia hendak berburu binatang untuk makan, atau sewaktu


harus melindungi diri, mereka selalu mempergunakan senjata
ini.

Justru karena benda itu merupakan sejenis senjata yang


terkuno, lagi pula setiap orang selalu mempergunakannya
untuk memukul orang atau mengusir anjing, maka sedikit
banyak orang akan memandang remeh senjata tersebut,
padahal mereka lupa bahwa semua senjata yang ada di dunia
ini pada dasarnya berkembang dari benda tersebut.

Jurus-jurus serangan dari tongkat itu sendiri mungkin


terlampau sederhana, tapi bila berada di tangan seorang jago
silat yang benar-benar lihay, justru tongkat itu bisa dipakai
sebagai tombak, sebagai pedang, sebagai senjata penotok
jalan darah dan bisa juga digunakan sebagai senjata Poan-
koan-pit.........

Pokoknya semua perubahan jurus serangan dari aneka


senjata tajam yang ada di dunia ini, sesungguhnya
dikembangkan dari jurus-jurus sederhana dari gerakan tongkat
itu sendiri.

Hoa Sau-kun telah menyimpan sebuah tongkat yang


sederhana sedemikian rapat dan rahasianya, inipun bukan
cuma suatu perbuatan gila-gilaan, melainkan terhitung pula
semacam pertarungan batin, bertarung terhadap batin sendiri.

Ia harus menaruh rasa hormat dan sayang terlebih dulu


terhadap tongkat itu, kemudian baru akan tumbuh
kepercayaannya terhadap senjata tersebut......
Pendekar Gelandangan 604

"Kepercayaan" sesungguhnya merupakan senjata ampuh lagi


pula terhitung senjata paling tajam dan paling manjur.

Buyung Ciu-ti pun seorang yang pintar sekali, dengan cepat ia


dapat memahami teori tersebut.

Tapi masih ada satu hal yang tidak ia pahami!

Ia tidak mengerti kenapa Hoa Sau-kun tidak mempergunakan


tongkat emas, tongkat perak atau tongkat besi, melainkan
justru memilih sebuah tongkat kayu yang segera akan kutung
jika di tebas.

Rasa percayanya kepadanya pun jauh tidak lebih mantap dari


sebelum ini.

Sang surya baru terbit, mata pedang membiaskan sinar


berkilauan ketika tertimpa sinar sang surya, hingga kelihatan
jauh lebih tajam dan cemerlang daripada sinar sang surya
sendiri.

Hoa Sau-kun telah bangkit berdiri, dia hanya memandang


sekejap ke arah bininya dengan sinar mata terakhir, kemudian
dengan langkah lebar berjalan menuju ke arah Cia Siau-hong.

Selama ini Cia Siau-hong hanya berdiri tenang di sana, berdiri


menantikan kedatangannya, paras mukanya tenang tanpa
emosi, seakan-akan hatinya tidak terpengaruh oleh semua
peristiwa yang telah berlangsung tadi.

Untuk menjadi seorang pendekar pedang yang bagus dan luar


biasa, maka syarat pertama adalah harus dingin, keji dan tidak
Pendekar Gelandangan 605

berperasaan.

Terutama sesaat sebelum menjelang berlangsungnya


pertarungan, ia lebih-lebih tak boleh terpengaruh oleh
suasana ataupun keadaan macam apapun yang sedang terjadi
di hadapannya.

.......Sekalipun binimu sedang tidur dengan laki-laki lain di


hadapanmu, kaupun musti berpura-pura tidak melihatnya.

Ucapan itu sangat populer sekali di antara para pendekar


pedang pada jaman tersebut, sekalipun tak ada yang tahu
siapa yang memulai dengan kata-kata semacam itu, tapi
semua orang mengakui bahwa perkataan itu memang betul
dan masuk di akal, hanya mereka yang bisa berbuat demikian,
dia pula yang bisa hidup jauh lebih panjang dari orang lain.

Agaknya Cia Siau-hong dapat berbuat demikian.

Hoa Sau-kun mengawasinya lekat-lekat, rasa kagum dan


hormat terpancar keluar dari balik matanya.

Cia Siau-hong sedang mengawasi tongkat kayunya dengan


termangu, tiba-tiba ia berkata:

"Ehmm, suatu senjata yang bagus sekali!"

"Ya, memang senjata yang bagus!"

"Silahkan!"

Hoa Sau-kun manggut-manggut, tongkat di tangannya telah


Pendekar Gelandangan 606

dikebaskan ke luar, dalam waktu singkat ia telah melancarkan


tiga buah serangan kilat.

Ke tiga serangan tersebut dilancarkan secara berantai dengan


perubahan yang cepat tapi lincah, yang digunakan ternyata
bukan jurus-jurus ilmu pedang.

Buyung Ciu-ti diam-diam menghela napas, ia dapat


merasakan, asal Cia Siau-hong menggunakan sebuah jurus
serangannya yang tangguh, niscaya tongkat kayu itu bakal
kutung.

Siapa tahu kenyataannya jauh berbeda dengan apa yang


diduganya semula, ternyata Cia Siau-bong tidak
mempergunakan jurus serangan seperti apa yang diduganya
semula, melainkan memukul tangan Hoa Sau-kun dengan
punggung pedangnya.

Mencorong sinar tajam dari balik mata Buyung Ciu-ti, hingga


sekarang dia baru tahu kenapa Hoa Sau-kun mempergunakan
tongkat kayu sebagai senjatanya.

Sebab ia tahu, tak nanti Cia Siau-hong akan memapas tongkat


kayu itu dengan pedangnya, Sam-sauya dari keluarga Cia tak
akan mencari keuntungan di atas senjata.

Bila ia tidak bersedia untuk memapas tongkat kayu itu dengan


pedangnya, berarti dalam melancarkan seranganpun ia akan
merasakan rintangan-rintangan yang menyulitkan diri sendiri.

Oleh karena itulah pilihan Hoa Sau-kun untuk menggunakan


tongkat kayu sebagai senjatanya merupakan suatu tindakan
Pendekar Gelandangan 607

cerdik yang sama sekali di luar dugaan siapapun.

Tak tahan lagi Buyung Ciu-ti tersenyum, ia maju ke muka dan


mencekal tangan Cia Hong-hong yang dingin, kemudian
bisiknya lembut:

"Jangan kuatir, kali ini Hoa Sianseng tak bakal kalah!"

Bila ada dua orang jago lihay sedang bertempur, seringkali


menang kalahnya hanya ditentukan di dalam satu jurus
gebrakan belaka, cuma jurus yang menentukan menang kalah
itu tidak selalu harus jurus pertama, mungkin pada jurus yang
ke sekian puluh, mungkin juga pada jurus yang ke sekian ratus.

Sekarang pertarungan telah berlangsung lima puluh gebrakan,


Hoa Sau-kun telah melancarkan tiga puluh tujuh jurus
,sebaliknya Cia Siau-hong hanya membalas tiga belas jurus.

Sebab mata pedangnya setiap waktu setiap saat selalu harus


berusaha untuk menghindari tongkat kayu dari Hoa Sau-kun.

.......Apa yang menjadi tujuan serta cita-cita dari seorang


pendekar pedang adalah mencari kemenangan, seringkali
mereka tidak memperdulikan cara licik apapun yang musti
dilakukan, yang penting tujuan tersebut berhasil diraih.

Cia Siau-hong tidak melakukan hal tersebut, karena ia terlalu


angkuh, terlalu tinggi hati.

'Barangsiapa tinggi hati, dia pasti kalah'

Terbayang akan ucapan tersebut, Buyung Ciu-ti merasa


Pendekar Gelandangan 608

hatinya makin gembira.

Pada saat itulah mendadak berkumandang memecahkan


keheningan. "Plaaakk!", tongkat kayu itu menghantam di atas
punggung pedang dan menggetarkan pedang Cia Siau-hong
sehingga bergetar keras dan mencelat ke atas udara.

Cia Siau-hong mundur beberapa langkah dari situ dan


kemudian mengucapkan dua patah kata yang selama ini
belum pernah diucapkan olehnya:

"Aku kalah!"

Selesai mengucapkan kedua patah kata itu dia putar badan


dan tanpa berpaling turun dari tanah gundukan tersebut.

Hoa Sau-kun tidak menghalangi, diapun tidak menyusulnya,


justru Cia ciangkwe yang menyusulnya.

Si Boneka ingin menyusul pula, tapi Buyung Ciu-ti segera


menarik tangannya sambil berkata dengan lembut:

"Mari ikut aku pulang, jangan lupa di tempatku sana masih


ada seseorang yang menantikan kedatanganmu untuk
merawatnya!"

Sementara itu pedang tersebut telah terjatuh ke tanah dan


persis menancap di samping Cia Hong-hong dengan gagang
pedang menghadap ke atas, asal dia menggerakkan
tangannya, maka senjata tersebut segera akan tercabut
olehnya, seakan-akan ada orang yang secara khusus mengirim
kembali pedang itu kepadanya.
Pendekar Gelandangan 609

Cia Siau-hong telah pergi jauh, tapi Hoa Sau-kun masih berdiri
di tempat tanpa berkutik barang sedikitpun jua.

Dalam pertarungan ini, ia telah mengalahkan Cia Siau-hong


yang tiada tandingannya di kolong langit dan melampiaskan
rasa dendam yang telah tertanam selama dua puluh tahun
dalam dadanya, tapi tiada sinar kemenangan yang terpancar
pada wajahnya, malah sebaliknya kelihatan begitu murung,
sedih dan masgul.

Lewat lama sekali, pelan-pelan ia baru berjalan balik, langkah


kakinya tampak sangat berat, seakan-akan sedang menghela
seuntai rantai besi yang beratnya bukan kepalang.

Cia Hong-hong tidak bersorak gembira bagi kemenangan


suaminya, diapun tidak mencabut pedang yang menancap di
tanah, dengan mulut membungkam perempuan itu hanya
maju ke depan dan menggenggam tangannya.

Ia dapat memahami perasaan suaminya, diapun mengerti


kenapa suaminya kelihatan sedih dan masgul setelah berhasil
meraih kemenangan dalam pertarungan itu.

"Kau sudah tidak menghendaki pedang itu lagi?", tiba-tiba


Hoa Sau-kun bertanya.

"Pedang itu milik keluarga Cia, sedang aku sudah bukan


anggota keluarga Cia lagi!"

Hoa Sau-kun memandang ke arahnya, pancaran sinar lembut


dan terima kasih mencorong ke luar dari balik matanya. Lewat
Pendekar Gelandangan 610

lama sekali, tiba-tiba ia berpaling ke arah Buyung Ciu-ti dan


menjura dalam-dalam, katanya:

"Aku ingin memohon bantuan tentang sesuatu dari hujin!"

"Katakan saja!", ucap Buyung Ciu-ti.

"Bersediakah hujin buatkan sebuah tugu batu di sisi pedang


tersebut?"

"Tugu? Tugu macam apa yang kau maksudkan?"

"Cantumkan di atas tugu tersebut yang mengatakan bahwa


pedang itu pedang Sam sauya, barang siapa berani
mencabutnya untuk dipergunakan, maka Hoa Sau-kun pasti
akan memburunya kembali, bukan saja pedang itu akan ku
buru kembali, bahkan akan ku buru pula batok kepalanya
sekalipun ia kabur ke ujung langit, aku tetap akan
mengejarnya sampai dapat!"

Kenapa ia melakukan hal itu bagi musuh besarnya? Tidakkah


hal ini suatu peristiwa yang aneh?

Buyung Ciu-ti tidak bertanya, pun tidak merasa keheranan,


segera sahutnya:

"Aku segera akan suruh orang buatkan tugu di sini, tak sampai
setengah hari tentu sudah siap, cuma saja........"

"Kenapa?"

"Seandainya ada bocah nakal atau orang dusun yang


Pendekar Gelandangan 611

kebetulan lewat di sini, lalu mencabut pedang tersebut dan


membawanya kabur, bagaimana jadinya? Mereka toh tidak
kenal dengan Sam sauya, tidak pula dengan Hoa sianseng,
bahkan membaca tulisanpun belum tentu bisa, lantas apa
yang musti dilakukan?"

Ia tahu bahwa Hoa Sau-kun belum sampai berpikir ke situ,


maka diapun mengemukakan idenya:

"Biar kubangunkan sebuah gardu pedang di situ, lalu


menyuruh orang menjaganya siang malam secara bergilir,
entah bagaimana pendapat Hoa sianseng? Cocok dengan
seleramu tidak!"

Cara tersebut memang terhitung cara yang paling bagus dan


sempurna, kecuali rasa terima kasih dan terharu, apalagi yang
bisa dikatakan Hoa Sau-kun?

Kembali Buyung Ciu-ti menghela napas sedih, katanya:

"Kadangkala aku betul-betul merasa tak habis mengerti,


perduli apapun yang ia lakukan terhadap orang lain, orang lain
selalu bersikap sangat baik kepadanya"

Hoa Sau-kun termenung dan berpikir sebentar, kemudian


sahutnya:

"Ya, mungkin hal ini disebabkan karena dialah Cia Siau-hong!"

Di belakang bukit sana merupakan sebuah hutan pohon Hong


dengan daunnya yang berwarna merah membara seperti api.
Pendekar Gelandangan 612

Baru saja Cia Siau-hong mencari sebuah batu untuk duduk,


Cia ciangkwe telah menyusul ke sana, tiada peluh yang
membasahi tubuhnya, napaspun tidak tersengal-sengal.

Setelah menjadi ciangkwe siapapun selama puluhan tahun


dalam rumah makan, siapapun pasti akan berubah menjadi
pandai bersandiwara, cuma siapa saja tentu akan tiba saatnya
untuk lupa bersandiwara.

Hingga kini, Cia Siau-hong baru merasakan bahwa dirinya


belum pernah sungguh-sungguh memahami orang tersebut.

Tak tahan ia bertanya kepada diri sendiri:

"........Aku pernah sungguh-sungguh memahami siapa, Buyung


Ciu-ti? Ataukah Hoa Sau-kun?"

Cia ciangkwe menghela napas panjang, katanya:

"Sejak kecil sampai kau menjadi dewasa, aku selalu


mendampingimu, tapi hingga sekarang aku baru menemukan
bahwa sesungguhnya aku sendiripun tak tahu manusia macam
apakah dirimu itu, setiap perbuatan yang kau lakukan seakan-
akan tak pernah kufahami!"

Cia Siau-hong tidak memberitahukan kepadanya apa yang


hendak ia ucapkan dalam hatinya, hanya dengan suara
hambar dia bertanya:

"Persoalan apakah yang tidak kau fahami?"

Cia ciangkwe menatapnya lekat-lekat kemudian balik


Pendekar Gelandangan 613

bertanya:

"Kau benar-benar kalah?"

"Kalah ya kalah, benar-benar atau tidak toh sama saja!"

"Bibi ya bibi, perduli ia telah kawin dengan siapapun tetap


sama saja!", sambung Cia ciangkwe.

"Kalau kau sudah mengerti, itu lebih baik lagi!"

Cia ciangkwe menghela napas panjang lalu tertawa getir.

"Mengertipun tidak lebih baik, jadi orang memang lebih baik


rada bodoh dan dungu!"

Tampaknya Cia Siau-hong enggan untuk melanjutkan


pembicaraannya tentang persoalan itu, dengan cepat ia
mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain, tanyanya:

"Sebenarnya bagaimana ceritanya sehingga kau bisa sampai


di sini?"

"Aku mendengar orang bilang kau berada di sini, maka tanpa


berhenti ku larikan kuda menyusul kemari, sebelum kau
berhasil kutemukan, nona Buyung telah menemukan diriku
lebih dulu!"

"Kemudian?"

"Kemudian ia membawaku menuju ke rumah penginapan


kecil di bawah tebing sana. Ketika ia pergi menjumpai dirimu,
Pendekar Gelandangan 614

kami disuruh menunggu di luar, tentu saja kami tak berani


sembarangan menerjang masuk ke dalam sana!"

"Bukankah kalian tak berani masuk karena kuatir mengganggu


perbuatan baik kami?", tegur Cia Siau-hong dingin.

Cia ciangkwe segera tertawa getir.

"Terlepas dari semua persoalan, bagaimanapun jua hubungan


kalian toh jauh lebih istimewa daripada orang lain"

Cia Siau-hong tertawa dingin tiada hentinya, tiba-tiba ia


bangkit berdiri, lalu serunya:

"Sekarang kau telah bertemu denganku, sudah boleh pulang


kau dari sini!"

"Kau tidak pulang?"

"Sekalipun aku hendak pulang, rasanya tak perlu kau


membawakan jalan bagiku, aku masih cukup tahu jalan mana
yang musti di tempuh untuk kembali ke rumah sendiri"

Cia ciangkwe menatapnya tajam-tajam, kemudian bertanya:

"Kenapa kau tidak pulang? Sesungguhnya kesulitan apakah


yang terkandung di dalam hatimu sehingga enggan
memberitahukannya kepada orang lain......?"

Cia Siau-hong tidak menjawab, ia telah bersiap-sedia untuk


pergi meninggalkan tempat itu.
Pendekar Gelandangan 615

"Kau hendak pergi ke mana?", Cia ciangkwe segera bertanya,


"apakah masih seperti waktu-waktu yang lalu, pergi
bergelandangan dan menyiksa diri sendiri?"

Pada hakekatnya Cia Siau-hong sama sekali tidak


memperdulikan kata-katanya lagi.

Mendadak Cia ciangkwe melompat bangun, lalu serunya


dengan suara lantang:

"Aku sama sekali tak ingin mengurusi persoalanmu, tapi ada


satu hal yang bagaimanapun jua musti kau urusi"

Akhirnya Cia Siau-hong memandang juga sekejap ke arahnya,


kemudian bertanya:

"Urusan apakah itu?"

"Bagaimanapun juga kau tidak seharusnya membiarkan


anakmu mengawini seorang pelacur!"

"Pelacur?", bisik Cia Siau-hong sambil menyipitkan matanya.

"Aku tahu dua bersaudara dari suku Biau itu adalah


sahabatmu, akupun tahu bahwa mereka berdua adalah orang
baik, akan tetapi......"

"Darimana kau bisa tahu tentang kesemuanya itu?", tukas


Ciau Siau-hong cepat.

Sebelum Cia ciangkwe sempat buka suara, dari luar hutan


kedengaran seseorang menimpali:
Pendekar Gelandangan 616

"Akulah yang memberitahukan kesemuanya itu kepadanya!"

Orang itu berada di luar hutan, suaranya masih amat jauh.

Secepat anak panah yang terlepas dari busurnya, Cia Siau-


hong menyusup ke luar dari hutan dan mencekal tangan orang
itu.

Tangan itu dingin sekali seperti seekor ular


berbisa.........Bukankah Tiok Yap Cing adalah sejenis ular paling
beracun di antara pelbagai jenis ular beracun yang ada?

"Kau belum mampus.....?", tegur Cia Siau-hong sambil tertawa


dingin tiada hentinya.

Tiok Yap-cing tersenyum.

"Hanya bukan orang baik yang berumur panjang. Aku bukan


orang baik-baik!"

"Kau ingin mampus?"

"Tidak ingin!"

"Kalau begitu lebih baik kau cepat angkat kaki dan menyingkir
jauh-jauh dari sini, selama hidup jangan sampai berjumpa lagi
denganku......"

"Sebetulnya aku memang hendak pergi, cuma ada sebuah


hadiah yang musti kusampaikan terlebih dulu sebelum pergi
meninggalkan tempat ini!"
Pendekar Gelandangan 617

"Hadiah apa?", sekali lagi kelopak mata Cia Siau-hong


menyipit menjadi kecil sekali.

"Tentu saja hadiah perkawinan untuk nona suku Biau itu


dengan Siau Te, apalagi perkawinan ini diselenggarakan oleh
Buyung Ciau-ti hujin dengan Yu-liong-kiam-kek suami isteri
sebagai saksi, bagaimanapun juga hadiah ini harus dihantar
sampai ke tempat tujuannya"

Sesudah tersenyum, kembali ia bertanya:

"Apakah Sam-sauya pun berminat untuk mengirim hadiah


kepadanya?"

Sepasang tangan Cia Siau-hong telah berubah menjadi dingin


bagaikan es......

"Hujin menaruh belas kasihan atas nasib dan penderitaan


yang dialami nona Biau-cu selama ini", kata Tiok Yap-cing
kembali, "dia pun tahu bahwa Sam sauya amat menaruh belas
kasihan kepada orang lain, maka akhirnya diputuskan untuk
mengawinkannya kepada Siau Te"

Mendadak sepasang tangan Cia Siau-hong mengepal kencang.

Peluh dingin segera bercucuran membasahi wajah Tiok Yap-


cing, buru-buru ujarnya kembali:

"Tapi aku tahu bahwa Sam sauya pasti tak akan setuju dengan
perkawinan tersebut!"
Pendekar Gelandangan 618

Dengan merendahkan suaranya ia berkata lebih jauh:

"Cuma sejak kecil Siau Te pun mempunyai tabiat yang keras


kepala, bila ada orang yang melarangnya mengerjakan
sesuatu, mungkin ia malah sengaja melakukannya, oleh
karena itu jika Sam sauya ingin menyelesaikan persoalan ini,
cara yang terbaik adalah melenyapkan sang pembawa
perkara!"

Ada semacam manusia tampaknya sejak dilahirkan telah


berbakat untuk menyelesaikan persoalan rumit dari orang
lain, tak bisa disangsikan lagi Tiok Yap-cing adalah manusia
semacam ini.

Tanpa kobaran api, tak mungkin makanan apapun yang di


masak dalam kukusan dapat matang, tanpa pengantin
perempuan, tentu saja pesta perkawinan tak mungkin bisa
diselenggarakan.

Sepasang tangannya yang mengepal kini telah mengendor,


Cia Siau-hong kembali bertanya:

"Sekarang mereka berada di mana?"

Tiok Yap-cing menghembuskan napas panjang, sahutnya:

"Betul semua orang di kota ini tahu bahwa di sini ada seorang
manusia yang bernama Toa-tauke, tapi tidak banyak yang
pernah berjumpa dengannya, lebih-lebih lagi yang mengetahui
tempat tinggalnya"

"Kau tahu?", Cia Siau-hong bertanya.


Pendekar Gelandangan 619

Sekali lagi Tiok Yap-cing memperlihatkan senyumannya.

"Untung saja aku tahu!"

"Mereka berada di situ?"

"Ciu Ji sianseng, Tam Ci-hui serta Yu-liong-kiam-khek suami


isteri juga berada di situ, mereka semua amat setuju dengan
perkawinan tersebut dan tak mungkin akan biarkan orang lain
membawa kabur pengantin perempuannya!"

Setelah tersenyum ujarnya kembali:

"Untung saja mereka sudah lelah sekali, malam ini mereka


pasti akan tertidur lebih awal, setelah malam tiba, asal ada
aku yang membawa jalan, maka Sam sauya hendak pergi
dengan membawa siapapun akan bisa kau lakukan dengan
leluasa"

Cia Siau-hong menatapnya tajam-tajam, lalu berkata dingin:

"Kenapa kau musti menaruh perhatian yang begitu besar


terhadap persoalan ini?"

Tiok Yap-cing menghela napas panjang.

"Aaaai......nona Biau-cu pasti menaruh kesan yang kurang baik


kepadaku, sedangkan Siau Te justru adalah putra tunggal
hujin, bila perkawinan ini jadi dilangsungkan, maka di
kemudian hari aku kuatir tak akan ada kehidupan yang baik
lagi bagiku!"
Pendekar Gelandangan 620

Setelah memandang sekejap mulut luka Cia Siau-hong, ia


berkata lebih lanjut:

"Tapi penghidupanku sekarang masih terhitung lumayan,


dalam setiap pelosok kota ini masih terdapat tabib pintar,
masih ada arak bagus, dan aku mengetahui semuanya....."

Malam telah kelam.

Pelan-pelan Hoa Sau-kun merangkak bangun dari


pembaringannya, mengenakan pakaian kemudian pelan-pelan
membuka pintu dan berjalan keluar dari ruangan itu.

Cia Hong-hong sama sekali tidak tertidur, iapun tidak


memanggilnya dan bertanya hendak ke mana ia pergi?

Ia cukup memahami perasaan suaminya, ia tahu dalam


keadaan seperti ini ia pasti ingin berjalan-jalan seorang diri di
tempat luaran.

Selama banyak tahun belakangan ini meski mereka amat


jarang tidur bersama seperti hari ini, tapi setiap kali ia selalu
dapat membuat istrinya merasa puas dan bahagia, terutama
sekali pada hari ini, kelembutan dan kepuasan yang diberikan
kepadanya, hakekatnya seperti pengantin baru saja........

Ia memang seorang suami yang baik, ia telah berusaha


dengan keras untuk menunaikan semua kewajiban dan
tanggung jawabnya sebagai seorang suami, bagi seorang
kakek yang telah berusia enam puluh tahun lebih, hal itu
sudah terhitung tidak gampang.
Pendekar Gelandangan 621

Memandang bayangan punggungnya yang tinggi besar dan


kekar itu berjalan ke luar dari ruangan, luapan terima kasih
dan sayang menyelimuti perasaan perempuan itu. Ia berharap
dirinyapun telah melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai
seorang isteri dengan sebaik-baiknya, agar ia dapat hidup
beberapa tahun lagi, dan melewatkan beberapa tahun
penghidupan yang tenang dan penuh kegembiraan,
melupakan perhatian dunia persilatan, melupakan Cia Siau-
hong dan melupakan pertarungan di atas bukit tersebut.

Ia berharap di kala ia kembali nanti, semuanya telah


terlupakan olehnya, ia sendiripun enggan untuk berpikir
terlalu banyak.

Kemudian dalam kelelapan tersebut, iapun tertidur, tertidur


lama sekali, tapi Hoa Sau-kun belum juga kembali.

Kebun bunga yang besar dan lebar berada dalam keheningan


dan kegelapan luar biasa.

Seorang diri Hoa Sau-kun duduk dalam gardu persegi enam di


luar jembatan Kui-ci-kiau, ia duduk lama sekali di sana.

Setelah melampaui suatu hubungan yang mesra dan penuh


keriangan dengan istrinya, ia masih belum juga dapat tertidur.

Ia tak dapat melupakan pertarungan di atas bukit tersebut,


perasaannya penuh diliputi penderitaan, penyesalan dan rasa
sedih.

Malam semakin kelam, ketika ia hendak kembali ke kamarnya


Pendekar Gelandangan 622

untuk tidur, tiba-tiba tampak sesosok bayangan manusia


berkelebat lewat dari belakang bukit-bukitan sana, di atas
bahunya seakan-akan membopong sesosok tubuh manusia.

Ketika ia menyusul ke situ, ternyata bayangan itu sudah


lenyap tak berbekas.

Tapi dari gunung-gunungan sana, ia seakan-akan menangkap


suara dari Tiok Yap-cing sedang berkata:

"Sekarang apakah kau telah percaya bahwa orang yang


dibawa pergi olehnya itu adalah si Boneka?"

Suara Tiok Yap-cing masih penuh dengan nada pancingan,


kembali katanya:

"Pada malam ibumu tukar cincin, ia telah membawa kabur


ibumu dari sisi tunangannya, dan sekarang ia membawa kabur
binimu, bahkan aku sendiripun tidak habis mengerti, kenapa ia
senang melakukan perbuatan semacam itu?"

"Tutup mulut!", tiba-tiba terdengar suara seorang pemuda


membentak dengan penuh kegusaran.

Tentu saja pemuda tersebut adalah Siau Te.

Tiok Yap-cing tidak berusaha untuk tutup mulut, kembali


ujarnya:

"Aku pikir saat ini mereka pasti telah kembali ke rumah si


Boneka yang dulu, meskipun tempatnya kuno dan bobrok, tapi
tenang dan bersih, mereka menyangka tak akan ada orang
Pendekar Gelandangan 623

yang bisa menemukan mereka di situ, lebih baik kaupun ikut


ke sana, sebab......."

Belum lagi ia menyelesaikan kata-katanya, sesosok bayangan


tubuh telah meluncur ke luar dari balik gunung-gunungan
secepat sambaran kilat.

Untung saja ketika itu Hoa Sau-kun telah melompat naik ke


atas gunung-gunungan dan mendekam di atas puncaknya.

Ia kenali orang itu sebagai Siau Te, dan diapun kenali orang
yang berjalan di belakangnya bukan lain adalah Tiok Yap-cing.

Tapi untuk sementara waktu ia masih belum menampakkan


diri, karena ia telah bertekad untuk membongkar intrik keji ini
hingga sama sekali terbuka.

Ia bertekad melakukan suatu perbuatan baik bagi Cia Siau-


hong.

Sambil bergendong tangan Tiok Yap-cing berjalan cepat


pelan-pelan menelusuri jalanan kecil dan dengan cepat
menemukan ruangan tempat tidurnya yang bermandikan
cahaya.

Ia tinggal dalam ruangan terpencil yang tak jauh letaknya dari


gunung-gunungan itu, di luar bangunan tumbuh beratus-ratus
batang bambu serta beberapa kuntum bunga seruni.

Bila kamar itu berlampu, berarti Ki Ling masih menantikan


kedatangannya, hari itu setiap persoalan yang dilakukan
seakan-akan semuanya berjalan lancar, ia berhak untuk
Pendekar Gelandangan 624

menikmati malam itu dengan penuh kegembiraan dan


keasyikan, bahkan mungkin diiringi dengan sedikit arak.

Pintu itu tak terkunci, orang yang tinggal di situpun tak perlu
mengunci pintu, sebab dikuncipun tak ada gunanya.

Ia telah membayangkan bagaikan Ki Ling dengan tubuhnya


yang bugil sedang berbaring di atas pembaringan menantikan
kedatangannya, tapi tidak mengira kalau masih ada seseorang
yang lain berada di situ.

Ternyata Ciu Ji sianseng pun sedang menantikan


kedatangannya.

Di depan lampu ada arak, arak tersebut sudah habis di


minum, agaknya tak sedikit yang diminum Ciu Ji sianseng,
berarti pula sudah lama ia menanti di situ......

Duduk di sampingnya sambil menuang arak adalah Ki Ling.

Ia sama sekali tidak telanjang bulat, ia mengenakan pakaian,


bahkan mengenakan dua stel.

Tapi, meskipun mengenakan dua stel pakaian, sekalipun


digabungkan juga tak lebih tipis daripada selapis kabut.

"Ooooh.....tak kusangka kalau Ciu Ji sianseng pun pandai


menikmati suasana", tegur Tiok Yap-cing sambil tertawa.

Ciu Ji sianseng meletakkan cawan araknya, kemudian berkata:

"Sayang sekali arak ini arakmu, perempuan itupun


Pendekar Gelandangan 625

perempuanmu, sekarang kau telah kembali, maka setiap


waktu setiap saat kau boleh menerimanya kembali"

"Oooh, tak perlu!"

"Tak perlu?"

Tiok Yap-cing tertawa, ujarnya:

"Sekarang arak itu arakmu dan perempuan itu perempuanmu,


tak ada salahnya kalau kau memakainya dan menikmatinya
pelan-pelan!"

"Dan kau sendiri......?"

"Aku akan menyingkir"

Ternyata ia benar-benar hendak menyingkir dari situ.

Ciu Ji sianseng memandang ke arahnya, rasa kaget,


tercengang dan curiga menyelimuti sorot matanya, menanti ia
saksikan orang sudah akan keluar dari pintu, tiba-tiba serunya
dengan keras:

"Tunggu sebentar!"

Tiok Yap-cing segera berhenti sambil bertanya:

"Masih ada perkataan apa lagi yang hendak kau katakan?"

"Aku hanya ingin berkata sepatah kata saja!"


Pendekar Gelandangan 626

Tiok Yap-cing memutar badannya menghadap ke arahnya dan


menantikan jawabannya.

Ciu-ji sianseng menghela napas panjang, katanya:

"Ada sementara persoalan sebetulnya tidak pantas untuk


kutanyakan kepadamu, tapi aku amat ingin tahu sebenarnya
manusia macam apakah kau ini? Dan sesungguhnya jalan
pikiran apakah yang mendekam dalam ingatanmu itu.....?"

Tiok Yap-cing kembali tertawa, katanya:

"Aku tidak lebih hanya seorang manusia yang gemar


bersahabat, terutama sekali bersahabat dengan seorang
teman seperti kau!"

Ciu Ji sianseng pun ikut tertawa.

Wajahnya masih tertawa, tapi kelopak matanya telah


menyurut kecil, kembali ia bertanya:

"Masih ada berapa orang sahabatmu lagi yang telah kau


jual?"

"Hei, apa yang sedang kau katakan?", seru Tiok Yap-cing


hambar, "sepatah katapun tidak kufahami?"

"Semestinya kau mengerti, karena hampir saja kau


menghianati diriku satu kali!"

Ia tidak memberi kesempatan bagi Tiok Yap-cing untuk buka


suara, kembali katanya:
Pendekar Gelandangan 627

"Hek-sat sebetulnya temanmu pula, tapi kau telah


mempergunakan Mao It-leng untuk membunuh mereka. Tam
Ci-hui, Liu Kok-tiok, Hok-kui-sin-sian-jiu serta hweesio tua itu
bila datang membantu tepat pada saat yang telah
direncanakan, Mao It-leng pun tidak akan sampai mati, tapi
kau sengaja melepaskan tanda terlalu lambat, karena kau
masih ingin meminjam tangan Cia Siau-hong untuk
membunuh Mao It-leng"

Tiok Yap-cing tidak membantah, pun tidak mendebat, ia


malah menarik sebuah bangku dan duduk dengan santai
sambil mendengarkan pembicaraan tersebut.

Ciu Ji sianseng berkata lebih jauh:

"Siau Te sebenarnya juga sahabatmu, tapi kau telah


menjualnya kepada Cia Siau-hong, sekalipun Cia Siau-hong
tidak tega membunuhnya, tapi mungkin ia akan
menumbukkan kepalanya sendiri ke atas dinding, apalagi
melihat perempuannya sendiri dibawa kabur orang. Hmm....,
kecuali kau yang sanggup menahan diri dalam keadaan
semacam ini, tak ada orang lain yang bisa berpeluk tangan
belaka semacam kau!"

Tangannya telah meraba gagang pedang di meja, katanya


lebih lanjut:

"Oleh karena itu sengaja aku hendak bertanya kepadamu,


sampai kapan kau baru akan menghianatiku? Dan kepada
siapa akan hendak kau jual?"
Pendekar Gelandangan 628

Tiok Yap-cing kembali tertawa, sambil berdiri dan menoleh ke


jendela, ujarnya:

"Di luar udara dingin mencekam, Hoa sianseng, kalau toh


sudah kemari, kenapa tidak masuk untuk minum dulu
beberapa cawan arak?"

ooooOOOOoooo
Pendekar Gelandangan 629

Bab 18. Senyuman Di Balik Pisau

Daun jendela tidak bergerak, pintupun terbuka sendiri tanpa


hembusan angin.

Lewat lama sekali, pelan-pelan Hoa Sau-kun baru berjalan


masuk lewat ke dalam.

Empat puluh tahun berselang, sudah beratus-ratus kali


pertarungan yang pernah ia alami, entah sudah berapa kali
pula dipecundangi orang.

Hingga kini ia masih dapat hidup, hal ini disebabkan ia adalah


seorang manusia yang selalu waspada dan berhati-hati.

Ditatapnya Tiok Yap-cing dengan dingin lalu katanya:

"Sebenarnya aku tak pantas datang, tapi sekarang telah


datang, kata-kata semacam itu semestinya tak pantas
kudengar, tapi sekarang telah kudengar, maka dari itu akupun
ingin bertanya kepadamu, sesungguhnya manusia macam
apakah kau ini? Perhitungan apa yang sesungguhnya telah kau
rencanakan dalam hatimu?"

Tiok Yap-cing tersenyum, sahutnya:

"Aku tahu bahwa pada malam ini Hoa sianseng tentu tak
dapat tidur, kau tentu masih teringat dengan pertarungan pagi
tadi, maka sedari tadi aku sudah berencana untuk menghantar
arak wangi bagi Hoa sianseng untuk menghilangkan
kemasgulan dan kekesalan hatimu!"
Pendekar Gelandangan 630

Jawaban yang sama sekali tiada hubungan dengan apa yang


ditanyakan tadi, seakan-akan ia tidak mendengar apa yang
diucapkan Hoa Sau-kun barusan dan telah membebaskan
dirinya secara mudah dari semua tuduhan yang dilontarkan
kepadanya tadi.

Betul juga, paras muka Hoa Sau-kun segera berubah hebat,


dengan suara lantang bentaknya:

"Kenapa aku tak bisa tidur? Kenapa aku musti menghilangkan


kemasgulan dan kemurungan?"

"Sebab Hoa sianseng adalah seorang kuncu, seorang laki-laki


sejati!"

Tiba-tiba senyuman di bibirnya berubah menjadi penuh


kelicikan dan sindiran, ia menambahkan:

"Cuma sayang, kaupun bukan betul-betul seorang kuncu


sejati!"

Sepasang tangan Hoa Sau-kun telah gemetar keras, jelas ia


sedang berusaha keras untuk mengendalikan hawa
amarahnya.

"Siapakah yang menang dan siapa yang kalah dalam


pertarungan pagi tadi, aku pikir kau pasti lebih jelas dari pada
siapapun"

Tangan Hoa Sau-kun gemetar semakin keras, tiba-tiba ia


menyambar separuh guci arak di meja dan sekaligus
meneguknya sampai habis.
Pendekar Gelandangan 631

"Jika kau adalah seorang kuncu sejati, kau sudah mengakui


kekalahanmu ketika berada di hadapan binimu tadi"

Hoa Sau-kun mengepal sepasang tangannya kencang-


kencang, kemudian katanya dengan suara gemetar:

"Lanjutkan kata-katamu!"

"Bila kaupun seperti aku, seorang manusia siaujin yang tulen,


maka tak akan kau pikirkan persoalan semacam itu dalam hati,
sayang sekali kaupun bukan seorang siaujin tulen, oleh karena
itu hatimu baru menderita dan tersiksa karena merasa malu,
menyesal dan merasa dirimu telah berbuat kesalahan kepada
Cia Siau-hong!"

Setelah berhenti sebentar, dengan suara dingin ia


melanjutkan:

"Maka dari itu bila sekarang ada orang bertanya kepadamu,


manusia macam apakah sesungguhnya dirimu, maka tiada
halangan bagimu untuk memberitahu kepadanya bahwa kau
bukan saja seorang kuncu gadungan, kau merupakan juga
seorang munafik!"

Hoa Sau-kun menatapnya tajam-tajam kemudian selangkah


demi selangkah maju menghampirinya sambil berkata:

"Benar, aku adalah manusia munafik, tapi aku toh sama saja
dapat membunuh orang!"

Tiba-tiba suaranya menjadi kabur dan tidak jelas, sorot


Pendekar Gelandangan 632

matanya ikut membuyar dan menjadi sayu dan kuyu.........

Menyusul kemudian iapun roboh terkapar di tanah.

Dengan terkejut Ciu Ji sianseng memandang ke arahnya, dia


ingin bergerak namun tidak bergerak sedikitpun.

"Bukankah kau tidak habis mengerti kenapa secara tiba-tiba ia


bisa roboh terkapar?", tanya Tiok Yap-cing tiba-tiba.

"Dia mabuk.......?"

"Dia sudah merupakan seorang kakek yang bertubuh lemah,


apalagi minum arak begitu cepat, seandainya dalam arak itu
tidak kucampuri dengan obat pemabuk, mungkin ia masih
belum roboh juga"

"Obat pemabuk?", seru Ciu Ji sianseng dengan paras muka


hebat.

"Walaupun obat pemabuk jenis ini berbau keras dan rasanya


getir, namun bila dicampurkan ke dalam arak Tiok Yap-cing
yang berusia tua, maka tidaklah gampang untuk
membedakannya, aku telah mencobanya beberapa kali dan
setiap kali rasanya cukup mendatangkan hasil yang
diharapkan"

Tiba-tiba Ciu Ji sianseng membentak gusar, dia ingin


menubruk ke depan, tapi tubuhnya segera menumbuk meja
hingga jatuh tertelungkup.

Tiok Yap-cing tersenyum, katanya:


Pendekar Gelandangan 633

"Padahal kaupun mestinya dapat membayangkan sendiri


sebagai seorang siaujin semacam aku, masa dapat
memberikan arak sebagus ini untuk dinikmati orang lain?"

Ciu Ji sianseng yang tergeletak di tanah berusaha untuk


berpegangan di sisi meja dan bangun berdiri, tapi baru saja
bangun kembali ia sudah roboh ke tanah.

"Sesungguhnya akupun musti berterima kasih kepadamu",


kata Tiok Yap-cing kembali, "Hoa Sau-kun sudah tersohor
karena ketelitian serta kewaspadaannya, andaikata ia tidak
melihatmu minum arak tersebut, tak nanti dia akan minum
juga arak tersebut, siapa tahu justru karena kau minum arak
amat lambat, maka obat pemabuk itu baru bekerja pada saat
ini........"

Ciu Ji sianseng merasa ucapannya itu kian lama kian


bertambah jauh, orang yang berdiri di hadapannya pun makin
lama semakin jauh, kemudian apapun tak terdengar lagi
olehnya, dan apapun tidak terlihat lagi olehnya.

Tiba-tiba Ki Ling menghela napas panjang, katanya sambil


tertawa getir:

"Sebetulnya aku mengira ambisimu tak lain hanya ingin


menjatuhkan Toa-tauke belaka, tapi sekarang.........sekarang
bahkan aku sendiripun tak tahu manusia apakah sebetulnya
dirimu ini dan apa saja yang kau rencanakan dalam hatimu?"

"Ya, selamanya kau tak akan tahu!", Tiok Yap-cing tertawa.


Pendekar Gelandangan 634

Ketika Cia Hong-hong terbangun dari impian buruknya,


seluruh badannya basah kuyup oleh keringat dingin.

Dalam mimpinya ia saksikan suaminya pulang dan berdiri di


depan pembaringan dengan tubuh berlumuran darah, darah
itu menindih tubuhnya hingga membuat ia tak sanggup
bernapas.

Ketika ia tersadar kembali hanya kegelapan yang menyelimuti


sekitar tempat itu, lampu yang disulut suaminya tadi kini telah
padam.

ooooOOOOoooo
Pendekar Gelandangan 635

Bab 19. Keturunan Keluarga Kenamaan

Dalam ruangan tiada cahaya lampu, seorang diri Cia Siau-


hong duduk dalam kegelapan, duduk di atas kursi di mana
tempat itu selalu mereka kosongkan bila sedang bersantap
dan khusus disediakan buat tuan putri.

......Semenjak dilahirkan, semestinya dia adalah seorang tuan


putri, bila bertemu dengannya, maka kau pasti akan
menyukainya, kami merasa bangga karena dia.

Api dalam tungku telah padam, bahkan abupun telah dingin.

Dapur nan sempit dan kecil, selamanya tak akan


memancarkan kehangatan lagi seperti dulu, bau harum kuah
daging yang dapat menghangatkan badan sampai ke lubuk
hatipun selamanya tak akan terendus kembali.

Tapi di tempat itulah ia pernah merasakan kepuasan dan


ketentraman yang sebelumnya tak pernah ia rasakan atau
jumpai.

......Aku bernama A-kit, A-kit yang tak berguna.

......Hari ini tuan putri kita pulang makan, kita semua akan
mendapat daging untuk bersantap, setiap orang akan
mendapatkan sepotong daging, sepotong daging yang besar,
besar sekali.

Ketika daging dihidangkan, sorot mata setiap orang


mencorong tajam, setajam sinar pedang.
Pendekar Gelandangan 636

Cahaya pedang berkelebat lewat, hawa pedang memancar ke


empat penjuru, darah berhamburan ke mana-mana dan
musuh besar roboh tak bernyawa.

......Aku adalah Sam sauya dari keluarga Cia, akulah Cia Siau-
hong.

......Akulah Cia Siau-hong yang tiada keduanya dalam dunia


ini.

Sesungguhnya siapakah di antara kedua orang ini yang jauh


lebih gembira dan bahagia?

A-kit? Atau Cia Siau-hong?

Pelan-pelan pintu didorong orang, sesosok bayangan tubuh


yang ramping dan halus masuk ke dalam.

Tempat itu adalah rumahnya, ia sangat hapal dengan setiap


macam benda yang berada di sana, sekalipun tidak
melihatnya, iapun dapat merasakannya.

Orang yang membawanya pulang adalah seorang laki-laki


asing yang bertubuh gemuk, tapi memiliki ilmu meringankan
tubuh yang jauh lebih enteng daripada seekor burung walet,
mendekam di atas tubuhnya bagaikan berjalan di atas awan.

Ia tidak kenal dengan orang itu.

Ia mau mengikutinya karena ia berkata ada orang sedang


menantikannya, lantaran orang ya