Anda di halaman 1dari 9

Elastomer

Aplikasi elastomer
Penggunaan utama bahan elastomer adalah untuk cetakan inlay, mahkota
dan pekerjaan jembatan, atau untuk gigi tiruan sebagian apabila
ditemukan undercut yang sangat besar, sehingga apabila digunakan
cetakan alginat dapat patah sewaktu dilepas dari jaringan. Oleh karena
harganya yang mahal, bahan ini tidak sering dipergunakan pada pencetakan
yang membutuhkan jumlah bahan cetak yang besar (Anusavice, 2004).
1. Polysulfide
Kandungan dasar pasta polimer adalah merkaptan poli fungsional atau
polimer polisulfida dengan rumus struktur umum. Polimer linier ini mengandung
1 mol% cabang untuk memberikan gugus merkaptan yang cukup sebagai tempat
rantai berikatan silang.Polimer ini biasanya berikatan dengan bahan oksida
seperti timahdioksid. Karakteristik warna coklat pada polisulfida adalah
akibattimah teroksidasi ini. Selama reaksi kondensasi timah dioksidadengan
gugus SH polimer polisulfida, terjadi 2 fenomena, yaitu (Anusavice, 2004):
a) Polimerisasi perpanjangan rantai dari reaksi dengan pusat gugus SH.
b) Ikatan silang dari reaksi dengan rantai cabang gugus SH.
Karena gugus kaitan hanya merupakan persentase kecil dari kelompok SH
yang ada, awalnya, reaksi polimerisasi menghasilkan perpanjangan rantai, yang
menyebabkan viskositas meningkat. Reaksi ikatan silang selanjutnya mengikat
rantai-rantai bersamaan membentuk jalinan 3 dimensi yang

menjadikan

terciptanya sifat elastik pada bahan. Awal peningkatan viskositas mempengaruhi


waktu kerja bahan dan merupakan suatu perubahan yang biasa dikenal oleh
dokter gigi ketika menggunakan bahan ini. Reaksi pengerasan mulai pada saat
awal pengadukan dan mencapai nilai maksimal segera setelah pengadukan
sempurna, pada tahap dimana jalinan sifat kelentingan mulai terjadi. Selama
pengerasan akhir, terbentuk suatu bahan dengan elastisitas dan kekuatan cukup
yang dapat dikeluarkan melalui undercut dengan mudah. Reaksi polimerisasi
dari polimer polisulfida adalah eksotermik, banyaknya panas yang dihasilkan

bergantung

pada banyaknya jumlah

Kelembaban

dan

bahan

temperatur mempengaruhi

dan

konsentrasi inisiator.

jalannya

reaksi. Khususnya,

keadaan panas dan lembab dapat mempercepat pengerasan bahan cetak


polisulfida. Hasil reaksi kondensasi dari bahan ini adalah air. Hilangnya molekul
kecil dari bahan yang mengeras memiliki pengaruh yang nyata pada kestabilan
dimensi cetakan(Anusavice, 2004).
Komposisi
Pasta basis

mengandung

polimer

polisulfid,

bahan

pengisinya

yang

cocok(seperti lithopone dan titanium dioksida) untuk memberikan kekuatan yang


diperlukan,

bahan

pembentuk

sifat

plastik(seperti

dibutil

phtlat)

untuk

menghasilkan kekentalan yang tepat bagi pasta, sulfur 0,5%. Untuk


menungkatka reaksi yang disebut sebagai pasta katalis atau aselator reaksi
mengandung timah dioksid yang menghasilkan sifat warna cokelat gelap.
Manipulasi
Pasta katalis dan pasta basis dikeluarkan denagn panjang yang sama pada
lembaran kaca pengaduk. Pasta katalis mula- mula dikumpulkan pada spatula
tahan karat dan kemudian diistribusikan di atas pasta basis, diaduk di lembar
pengadukan.
Polisulfid
Yaitu bahan cetak elastomerik yang paling sedikit kekakuannya. Kelenturan
ini denagn tekanan minimal, memiliki ketahanan tertinggi terhadap robekan.
Biokompatibilitas
Polisulfid mempunyai hasil hitung kematian sel yang terendah (kurang
memiliki efek pada kehidupan sel).
Keuntungan
Waktu kerja lama
Tebukti akurat
Ketahanan robek tinggi
Sedikit hidrofibik
Harga tidak mahal
Wakktu penyimpanan lama
Kerugian
Memerlukan sendok cetak perseorangan
Harus diisi dengan stone secepatnya
Berpotensi terhadap distorsi yang nyata
Aroma mengganggu pasien
Kotor dan menimbulakan noda pada pakaian

Hasil pengisian berikutnya kurang akurat


2. Silikon
a) Silikon Kondensasi
Polimerisasi dari bahan ini melibatkan reaksi dengan trifungsi dan
tetrafungsi alkil silikat, biasanya tetraetil orthosilikat, dengan adanya rantai oktoat
mengandung timah. Reaksi ini dapat terjadi pada temperatur rata-rata, jadi
bahan ini sering disebut silikon vulkanisasi temperatur ruangan (RTV).
Pembentukan elastomer terjadi melalui ikatan silang antara kelompok terminal
dari polimer silikon dan alkil silikat untuk membentuk jalinan kerja 3 dimensi. Etil
alkohol adalah produk samping reaksi pengerasan kondensasi. Penguapan etil
alkohol selanjutnya ikut diperhitungkan dalam besarnya kontraksi yang terjadi
pada karet silikon yang mengeras(Anusavice, 2004).
1. Komposisi bahan
Bahan cetak silikon kondensasi dikemas sebagai pasta basis dan suatu
pasta katalis atau cairan dengan kekentalan rendah. Karena polimer silikon
merupakan suatu cairan, silikon koloidal atau logam oksida ukuran mikro
ditambahkan sebagai pengisi untuk menbentuk suatu pasta. Silikon memiliki
tingkat energi kohesif yang rendah dan karena itu punya interaksi molekul
yang lemah. Pengaruh bahan pengisi terhadap kekuatan adalah hal yang
penting, ukuran partikel harus dalam kisaran optimal 5-10m. Partikel yang
lebih kecil cenderung berkumpul bersama-sama tapi partikel yang lebih besar
tidak berperan untuk memperkuat. Bahan dengan kekentalan tinggi atau putty
untuk mengatur pengerutan polimerisasi yang besar dari bahan cetak silikon
kondensasi. Bahan ini mengandung pengisi cukup banyak sehingga polimer
yang ada menjadi lebih sedikit dan pengerutan polimerisasinya juga lebih
kecil. Ekspansi termal keseluruhan lebih sedikit dibandingkan polimer karena
partikel pengisi memiliki koefisien ekspansi termal lebih kecil. Polimer ini tidak
memilki karakteristik warna. Kondensasi bahan pasta silikon dan putty dapat
dibuat dalam berbagai jenis warna. Merah muda, pastel, hijau dan ungu
adalah warna yang sering ditemukan (Anusavice, 2004).

2. Manipulasi
Silikon kondensasi dikemas dalam pasta basis dan cairan katalis atau
reaktor. Bahan putty dikemas sebagai pasta yang amat kental dan suatu
cairan aselerator. Untuk menghasilkan bahan yang teraduk sempurna adalah
tidak mudah ketika putty dan cairan yang mengandung minyak dicampur.
Dengan sistem manapun, tehnik pencampuran terbaik adalah meremas
bahan tersebut dengan jari (Anusavice, 2004).
3. Waktu kerja dan pengerasan
Temperatur

memiliki

pengaruh

nyata

terhadap

kecepatan

proses pengerasan dari bahan cetak silikon kondensasi. Mendinginkan bahan


atau mengaduknya pada permukaan dingin memperlambat proses reaksi.
Mengubah perbandingan basis dan katalis adalah metode lain yang efektif
dan

praktis dalam

mengubah

kecepatan pengerasan

bahan

cetak

ini

(Anusavice, 2004).
4. Elastisitas
Sifat elastis bahan silikon kondensasi lebih ideal dibandingkan polisulfid.
Bahan ini menunjukkan deformasi permanen minimal dandapat kembali ke
bentuk semula dengan cepat bila diregangkan. Bahan ini tidak terlalu kaku
sehingga tidak sulit mengeluarkan dari undercut tanpa meyebabkan distorsi
(Anusavice, 2004).
5. Rheologi
Bahan tersebut dapat memberikan respon elastik. Bahan ini cenderung
bereaksi sebagai suatu elastik bila diregangkan dengan cepat, jadi cetakan
harus dikeluarkan dengan cepat sehingga deformasi yang terjadi adalah
elastik dan kembali ke bentuk semula (Anusavice, 2004).
6. Stabilisasi dimensi
Pengerutan
memerlukan

polimerisasi

suatu

yang

modifikasi

berlebihan

tehnik

dari

pembuatan

silikon kondensasi
cetakan

supaya

menghasilkan cetakan yang akurat (Anusavice, 2004).


Sebagai

tambahan

dari

besarnya

pengerutan

ketika

mengeras,

ketidakstabilan dimensi juga disebabkan oleh penguapan produk reaksi yaitu

etil alkohol. Model yang paling akurat diperoleh dengan mengisi cetakan
dengan menggunakan gypsum stone langsung setelah setelah cetakan
dikeluarkan dari mulut(Anusavice, 2004).
7. Biokompatibilitas
Adanya kemungkinan tertinggalnya bahan yang robek pada sulkus
gingiva. Karena bahan silikon tidak radiopak, sulit dideteksi adanya robekan
bahan cetak. Seringkali peradangan gingiva menyertai adanya benda asing
dan diduga akibat iritasi preparasi gigi atau sementasi restorasi (Anusavice,
2004).
o Keuntungan
Tersedia waktu kerja dan waktu pengerasan yang cukup
Aroma menyenangkan dan tidak menimbulkan bercak
Memiliki ketahan robek yang cukup
Memiliki sifat elastik yang dikeluarkan
Distorsi lebih sedikit ketika dikeluarkan
Kerugian
Cukup akurat jika langsung dituang
Kestabilan dimensi buruk
Berpotensi pada distorsi yag nyata
Metode puttywash merupakan teknik yang sensitif
Sedikit lebih mahal
a) Silikon dengan Reaksi Tambahan (Vinylpolysiloxane)
1. Komposisi
Baik pasta basis dan katalis mengandung bentuk vinil silikon.
Pasta basis

mengandung

polymethyl

hydrogen siloxane

serta

pre-

polymer siloxane lain (Anusavice, 2004).


Pasta katalis mengandung divinyl polymethyl siloxanedan pre-polimer
lain. Bila pasta katalis mengandung aktivator garam platinum berarti pasta
yang berlabel basis harus mengandung hibridsilikon (Anusavice, 2004).
Satu kerugian bahan cetak silikon adalah sifat hidrofobik. Untuk
mengatasinya dengan reaksi tambahan lebih hidrofilik.Untuk mengembalikan
permukaan dari cetakan hidrofilik, bahan permukaan ditambahkan pada pasta.
Bahan permukaan ini memungkinkan bahan cetak membasahi jaringan lunak
lebih baik dan dapat diisi dengan stone secara lebih efektif. Pengisian

cetakanlebih mudah, karena stone basah memilki afinitas yang lebih


besar untuk afinitas hidrofilik (Anusavice, 2004).
2. Manipulasi
Vynil polysiloxane encer dan agak kental dikemas dalam 2 pasta,
sementara bahan putty dikemas dalam 2 toples yang terdiri atas bahan basis
dengan kekentalan tinggi dan bahan katalis. Bahan ini punya kekentalan yang
hampir sama. Jadi bahan tersebut lebih mudah diaduk dibandingkan dengan
silikon kondensasi. Kesamaan konsistensi pasta dan sifat menipis dengan
tarikan, membuat bahan cetak vynil polysiloxane cocok untuk digunakan
dengan alat otomatis ketika melakukan pengadukan dan pengambilan bahan.
Umumnya digunakan untuk bahan dengan kekentalan rendah dan sedang.
Alat ini punya keunggulan, dengan menggunakan alat mekanis tersebut
terdapat keseragaman dalam membagi dan mengaduk bahan, semakin kecil
kemungkinan masuknya udara ke dalam adukan, serta waktu pengadukan
menjadi lebih singkat. Jadi kemungkinan kontaminasi jadi lebih sedikit. Bahan
cetak yang telah teraduk tersebut dimasukkan langsung kedalam sendok
cetak yang telah dilapisi adhesif atau pada gigi yang telah direparasi bila ujung
semprit telah terpasang (Anusavice, 2004).
Seringkali perbedaan warna dari kedua pasta bagitu sedikit sehingga
sulit menemukan secara visual apakah banyaknya jumlah basis dan katalis
telah teraduk merata. Tidak adanya perbedaan warna juga mempersulit upaya
memastikan bahwa adukan telah homogen (Anusavice, 2004).
3. Waktu kerja dan pengerasan
Kebalikan dengan silikon kondensasi, lamanya pengerasan silikon
tambahan nampak lebih sensitif terhadap temperatur daripada polisulfid.
Waktu kerja dan pengerasan dapat diperpanjang sampai100% dengan
penambahan retarder yang dipasok oleh masing-masing pabrik dan dengan
pendinginan alas pengaduk. Begitu bahan cetak dimasukkan ke dalam mulut,
bahan tersebut dengan cepat menghangat dan waktu pengerasan tidak lebih
panjang jika dibanding dengan retarder kimia. Retarder tidak praktis dengan
alat pengaduk otomatis (Anusavice, 2004).

4. Elastisitas
Bahan cetak vynil polysiloxane merupakan bahan bersifat elastik paling
ideal

yang

ada

selama

ini.

Distorsi

ketika

mengeluarkan

melalui

undercutumumnya tidak terjadi, karena bahan punya nilai regangan dalam


tarikan terendah (Anusavice, 2004).
5. Kestabilan dimensi
Bahan cetak vynil polysiloxane adalah yang paling stabil dimensinya.
Tidak ada penguapan produk hasil reaksi samping yangmenyebabkan
pengerutan bahan. Bahan yang mengeras secara klinis hampir mengalami
proses reaksi sempurna, sehingga sedikit sekali residu polimerisasi yang
menghasilkan perubahan dimensi. Perubahan dimensi umumnya berasal dari
pengerutan

termal begitu bahan

mendingin

dari

temperatur

mulut ke

temperatur ruangan (Anusavice, 2004).


6. Biokompatibilitas
Bahan ini dapat ditolerir oleh jaringan hidup. Bahaya tertinggalnya
sebagian bahan selama mengeluarkan cetakan dapat dihindari dengan
penanganan bahan yang tepat dan pemeriksaan tepi cetakan secara cermat
untuk menjamin tidak ada daerah yang robek (Anusavice, 2004).
Keuntungan
Waktu pengerasan lebih pendek
Mudah diaduk alat otomatis
Kekuatan robek sedang
Kakuratan amat tinggi
Distorsi tidak terdeteksi ketika dibuka
Bila hidrofilik, amat sesuai dengan gypsum
Kerugian
Terbentuknya gas hidrogen pada beberapa bahan
Bahan hidrofilik tetap memerlukan penanganan hati- hati dan lingkungan amat
-kering
Lebih mahal, khususnya alat pengaduk otomatis.
3. Polyether
Jenis polyether ini mempunyai pasta dasar yang mengandung suatu
polyether tidak jenuh dengan gugus ujung imine, bahan plastisizer dan bahan
pengisi. Pasta pereaksi mengandung aromatik sulfonat sebagai kontitusi

utamanya bersama-sama dengan plastisizer dan bahan pengisi anorganik.


Setting terjadi dengan reaksi cross-link gugus imine, ini adalah reaksi
polimerisasi kation (Anusavice, 2004).
a) Komposisi
Karet

polyether

dipasok

berupa

pasta.

Basis

mengandung

polimer polieter, suatu silika koloidal sebagai pengisi, dan suatu bahan pembuat
plastik seperti glikoleter atau phtalat. Pasta aselerator mengandung alkil sulfonat
aromatik sebagai tambahan terhadap bahan pengisi dan pembuat plastis
(Anusavice, 2004).
b) Sifat-Sifat Umum Polieter
1. Ketepatan
Keenceran bahan sebagian besar tergantung pada komposisinya.Beberapa
polisulfida tersedia dengan variasi kekentalan, misalnya light bodied untuk
disuntikkan dengan spuit dan medium sertaheavy bodied untuk dipakai
dengan sendok cetak. Pasta elastomer yang belum dicampur biasanya
berbentuk pseudoplastis (Anusavice, 2004).
Terjadi sedikit kontarksi sewaktu bahan setting, disebabkan olehkarena
adanya kontraksi polimerisasi. Juga dapat terjadi kontraksi sewaktu
pendinginan dari suhu mulut ke suhu kamar (Anusavice, 2004).
Bahan ini cukup elastis dan sanggup ditarik melalui undercut. Pada
umumnya lebih kuat dan tidak mudah patah dibandingkan dengan alginat.
Bahan polyether lebih keras bila dibandingkan dengan elastomer lainnya,
karena itu lebih sukar dibuka (Anusavice, 2004).
Pada
penyimpanan
dapat
terjadi
kontraksi

sebagai akibat

terus berlangsungnya polimerisasi. Penguapan hasil sampingan yang


mudah terbang, merupakan sumber kontraksi lain. Stabilitas dimensionil
polyether sangat jelek pada udara yang lembab (Anusavice, 2004).
Bahan ini pada umumnya kompatibel dengan bahan model dan die,
meskipun dapat menyebabkan sedikit lunak pada permukaan gips keras.
Evolusi awal hidrogen dari bahan yang mengandung organo-hidrogen
siloksan

menyebabkan

(Anusavice, 2004).

timbulnya

bintil-bintil

pada permukaan

stone

2. Pada umumnya bahan ini tidak toksis dan tidak mengiritasi. Beberapa pasta
elastomer yang mengandung lead dioksida mempunyai bau dan rasa yang
tidak menyenangkan (Anusavice, 2004).
3. Waktu setting tergantung pada komposisi bahan misal, jumlah pereaksi dan
sebagainya. Terdapat air dan suhu yang tinggi juga mempercepat waktu
setting polisulfida (Anusavice, 2004).
4. Stabilitas bahan yang belum dicampur pada penyimpanan tidak selalu ideal,
beberapa pereaksi tidak stabil setelah lebih dari 2 tahun,tetapi dapat tahan
lebih lama bila disimpan pada refrigator (Anusavice, 2004).
c) Manipulasi
Awalnya

polyether

dikemas

hanya

dalam

kekentalan.

Bahan pseudoplastis memungkinkan satu adukan digunakan baik untuk bahan


semprit maupun sendok cetak. Kemudian, pabrik pembuat menyediakan pasta
tambahan yang dapat digunakan untuk menghasilkan suatu adukan pengencer.
Komponen bahan memerlukan perumusan ulang untuk mengadaptasi bahan bila
ingin digunakan dengan alat pengaduk otomatis. Meskipun alat ini dapat
digunakan

dengan

berhasil,

kebanyakan

polyether

masih diaduk dengan

menggunakan tangan. Selain itu untuk bersaing dengan silikon tambahan, pabrik
pembuat menyadari bahwa klinisi lebih menyukai beragam viskositas dari vinyl
polysiloxane. Jadi polyether diubah sehingga dapat dipasok dengan keragaman
viskositas. Sebagai akibatnya, kekerasan polyether juga berkurang (Anusavice,
2004).

Anda mungkin juga menyukai