Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Makanan merupakan salah satu kebutuhan pokok bagi kehidupan manusia. Tanpa

adanya makanan maka manusia tidak dapat melangsungkan hidupnya. Makanan


berfungsi untuk memelihara proses tubuh dalam pertumbuhan atau perkembangan serta
mengganti jaringan tubuh yang rusak, memperoleh energi untuk melakukan aktivitas
sehari-hari, mengatur metabolisme dan berbagai keseimbangan air, mineral, dan cairan
tubuh yang lain. Selain itu, makanan juga berperan dalam mekanisme pertahanan tubuh
terhadap berbagai penyakit (Notoatmodjo, 2003).
Agar makanan dapat berfungsi sebagaimana mestinya maka perlu diperhatikan
kualitas makanan melalui ketersediaan zat-zat gizi yang terkandung didalamnya dan
bebas dari cemaran mikroba. Makanan yang terkontaminasi oleh mikroorganisme akan
mengakibatkan gangguan kesehatan karena mikroorganisme tersebut dapat memproduksi
racun yang dapat menyebabkan timbulnya suatu penyakit (Mulia, 2005).
Makanan yang terkontaminasi dapat disebabkan oleh hygiene sanitasi makanan
yang tidak memenuhi syarat kesehatan. Untuk mendapatkan makanan dan minuman yang
memenuhi syarat kesehatan maka perlu diadakan pengawasan terhadap hygiene sanitasi
makanan dan minuman yang diutamakan pada usaha yang bersifat umum seperti restoran,
rumah makan, ataupun pedagang kaki lima mengingat bahwa makanan dan minuman
merupakan media yang potensial dalam penyebaran penyakit (Depkes RI, 2004).
Makanan jajanan adalah makanan dan minuman yang diolah oleh pengrajin
makanan di tempat penjualan dan atau disajikan sebagai makanan siap santap untuk
dijual bagi umum selain yang disajikan oleh jasa boga, rumah makan atau restoran, dan

hotel (Depkes, 2003). Makanan jajanan ini masih mengandung resiko yang cukup
potensial menyebabkan terjadinya penyakit atau ganguan kesehatan. Oleh karena itu,
makanan jajanan yang kita konsumsi haruslah terjaga kebersihannya.
Salah satu jenis makanan jajanan yang beredar di masyarakat adalah siomay.
Siomay merupakan jenis makanan jajanan yang digemari masyarakat. Harga yang relatif
murah dan keberadaannya yang mudah dijangkau membuat banyak orang tertarik untuk
mengkonsumsinya.
Umumnya pedagang menjajakan siomay di pinggir-pinggir jalan raya, pasar
tradisional dan sekolah-sekolah. Tempat penjualan yang tidak terkoordinir dan tidak
menetap menyebabkan dagangan yang dijual tidak memenuhi syarat kesehatan. Kondisi
yang demikian memungkinkan siomay dapat tercemar. Pencemaran juga dapat terjadi
pada semua tahap proses produksi yang dilalui baik pada proses pengolahan hingga
penyajian ke tangan konsumen.
Dalam kegiatan proses produksi makanan dan minuman, pentingnya tindakan
hygiene sanitasi juga analisis bahaya dan titik pengendalian kritis (HACCP : Hazard
Analysis Critical Control Point) yang merupakan salah satu upaya untuk mrnghindari
pencemaran terhadap hasil produksi. Terdapat 6 (enam) prinsip hygiene sanitasi yang
harus diperhatikan dalam proses pengolahan makanan dan minuman yaitu pemilihan
bahan makanan, penyimpanan bahan makanan, pengolahan makanan, penyimpanan
makanan masak, pengangkutan makanan, dan penyajian makanan (Depkes RI, 2004).
Dalam penyajian siomay biasanya pedagang menggunakan peralatan makan yang
biasanya dicuci secara asal-asalan dengan air dan dikeringkan dengan kain yang telah

digunakan secara berulang-ulang. Kemudian diletakkan begitu saja di gerobak penjualan.


Oleh sebab itu, besar kemungkinan peralatan makan tersebut tercemar bakteri.
Bakteri merupakan salah satu zat pencemar yang berpotensi dalam kerusakan
makanan dan minuman. Pada suhu dan lingkungan yang cocok, satu bakteri akan
berkembang biak lebih dari 500.000 sel dalam 7 jam dan dalam 9 jam telah berkembang
menjadi 2.000.000 sel, kemudian dalam 12 jam sudah menjadi 1.000.000.000 sel. Karena
pertumbuhannya yang sangat cepat, maka kemungkinan untuk menjadi penyebab
penyakit besar sekali. Makanan yang masih dijamin aman untuk dikonsumsi paling lama
adalah dalam waktu 6 jam, karena lebih dari itu kondisi makanan sudah tercemar berat
dan tidak layak untuk dikonsumsi (Depkes RI, 2004).
Salah satu bakteri yang terdapat dalam makanan jajanan adalah Escherichia coli.
Dalam persyaratan mikrobiologi Escherichia coli dipilih sebagai indikator tercemarnya
air atau makanan karena keberadaan bakteri Escherichia coli dalam sumber air atau
makanan merupakan indikasi pasti terjadinya kontaminasi tinja manusia (Chandra, 2007).
Adanya Escherichia coli menunjukkan suatu tanda praktik sanitasi yang tidak baik
karena Escherichia coli bisa dipindahsebarkan dengan kegiatan tangan ke mulut atau
dengan pemindahan pasif melalui air, makanan, susu dan produk-produk lainnya
(Supardi, 1999).
Bakteri Escherichia coli yang terdapat pada makanan atau minuman yang masuk
kedalam tubuh manusia dapat menyebabkan penyakit seperti kolera, disentri,
gastroenteritis, diare dan berbagai penyakit saluran pencernaan lain (Nurwantoro, 1997).
Namun bakteri ini secara relatif mudah dibunuh dengan pemanasan yaitu akan mati pada
suhu 60C selama 30 menit (Depkes RI, 1991).

Berdasarkan penelitian Nababan (2007) pada bumbu pecel yang dijual di pasar
Kota Medan diketahui bahwa dari 10 sampel yang diperiksa ternyata tidak mengandung
bakteri Escherichia coli, tetapi ditemukan bakteri Coliform pada semua sampel. Namun
pada penelitian Sembiring (2010) pada susu kental manis yang merupakan bahan
tambahan pada makanan dan minuman yang dijual di sepanjang Jl. Dr. Mansyur
diketahui bahwa dari 20 sampel susu kental manis yang diperiksa, terdapat 5 sampel
mengandung bakteri Escherichia coli.
Siomay merupakan makanan jajanan yang berasal dari proses pencampuran
dimana bahan utamanya adalah kentang, bakso, telur, tahu, dan sayuran yang telah
direbus kemudian dicampur dengan bumbu kacang (bumbu siomay) sebagai pelengkap
makanan siomay. Bumbu siomay tersebut terbuat dari kacang tanah olahan yang
dicampur dengan bawang putih, bawang merah, cabai, gula merah, air dan garam.
Sekarang ini banyak pedagang yang menjual berbagai jenis makanan jajanan
keliling dengan menggunakan sepeda, gerobak sorong atau dilokasi usahanya sendiri.
Seperti yang dapat kita amati di sepanjang Jl. Dr. Mansyur Padang Bulan Medan terdapat
banyak pedagang yang menggunakan gerobak sorong dan sepeda untuk menjajakan
makanannya. Salah satunya adalah padagang siomay.
Gerobak-gerobak siomay berjejer dan selalu ramai dikunjungi mahasiswa maupun
pengunjung yang sengaja singgah saat melintasi jalan tersebut. Cita rasa siomay yang
enak berasal dari bumbu kacangnya yang kental membuat siomay ini terasa lebih nikmat.
Secara keseluruhan cita rasa siomay cocok untuk semua lidah karena rasanya
tidak terlalu pedas dan juga tidak terlau manis. Adapun pengolahannya kebanyakan
masih dikerjakan secara tradisional oleh pembuatnya. Namun sangat disayangkan karena

masih banyak pedagang yang kurang memperhatikan hygiene sanitasi pengolahan


makanan yang dijualnya sehingga rentan terkontaminasi oleh mikroorganisme patogen
penyebab penyakit.
Berdasarkan pemaparan tersebut, maka penulis ingin mengetahui mengenai
hygiene sanitasi pengelolaan bumbu siomay yang dijajakan di Jl. Dr. Mansyur Padang
Bulan Medan dengan menggunakan standar yang telah ditetapkan dalam Keputusan
Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 942/Menkes/SK/VII/2003 tentang Pedoman
Persyaratan Hygiene Sanitasi Makanan Jajanan dan kandungan bakteri Escherichia coli
pada bumbu siomay berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.
715/Menkes/SK/V/2003 tentang Persyaratan Hygiene Sanitasi Jasaboga.

1.2.

Perumusan Masalah
Cita rasa makanan siomay yang terletak pada bumbu kacang (bumbu siomay)

yang tidak terlalu pedas dan juga tidak terlalu manis membuat masyarakat baik anak-anak
hingga dewasa menyukai makanan tersebut sehingga banyak yang mengkonsumsinya.
Namun akibat dari hygiene sanitasi dalam pengolahannya tidak diperhatikan maka tidak
menutup kemungkinan bumbu siomay tersebut mengandung mikroorganisme penyebab
penyakit. Demikian juga dengan bumbu siomay yang dijual di sepanjang Jl. Dr. Mansyur
Padang Bulan Medan, kemungkinan juga mengandung mikroorganisme penyebab
penyakit seperti bakteri Escherichia coli.

1.3.

Tujuan

1.3.1. Tujuan Umum


Untuk mengetahui gambaran hygiene sanitasi pengelolaan bumbu siomay dan
kandungan bakteri Escherichia coli bumbu siomay yang dijual di sepanjang Jl. Dr.
Mansyur Padang Bulan Medan tahun 2011.

1.3.2. Tujuan Khusus


1. Untuk mengetahui hygiene sanitasi pemilihan bahan baku makanan
2. Untuk mengetahui hygiene sanitasi penyimpanan bahan baku makanan
3. Untuk mengetahui hygiene sanitasi pengolahan bumbu siomay
4. Untuk mengetahui hygiene sanitasi penyimpanan bumbu siomay
5. Untuk mengetahui hygiene sanitasi pengangkutan bumbu siomay
6. Untuk mengetahui hygiene sanitasi penyajian bumbu siomay
7. Untuk mengetahui ada tidaknya bakteri Escherichia coli pada bumbu siomay.

1.4.

Manfaat Penelitian
1. Sebagai masukan bagi instansi yang terkait untuk meningkatkan upaya
penyehatan bahan makanan.
2. Sebagai informasi bagi masyarakat tentang keamanan dalam mengonsumsi
makanan yang dijual oleh pedagang keliling.
3. Sebagai masukan bagi peneliti lain untuk melakukan penelitian selanjutnya.