Anda di halaman 1dari 4

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
Vigor merupakan derajat kehidupan benih dan diukur berupa; benih yang
berkecambah, kecepatan perkecambahan, jumlah kecambah normal, pada berbagai
lingkungan yang memadai, selain itu juga harus diperhatikan semua atribut
perkecambahan secara morfologi dan fisiologis yang mempengaruhi kecepatan,
keseragaman pertumbuhan benih pada berbagai lingkungan, ini merupakan tolak ukur
ketahanan benih (fisiologis) atau kesehatannya (Delouche

dalam Kuswanto,

1996).Vigor benih dalam hitungan absolut merupakan indikasi viabillitas benih yang
menunjukkan benih kuat tumbuh di lapang dalam kondisi yang suboptimum, dan tahan
untuk disimpan dalam kondisi yang tidak ideal (Sadjad, 1993).
Secara umum vigor diartikan sebagai kemampuan benih untuk tumbuh normal
pada keadaan lingkungan yang sub optimal. Vigor benih di cerminkan oleh dua
informasi tentang viabilitas, masing-masing yaitu kekuatan tumbuh dan daya simpan
benih. Kedua nilai fisiologis ini menempatkan benih pada kemungkinan kemampuannya
untuk tumbuh menjadi tanaman mormal meskipun keadaan biofisik lapangan sub
optimal atau suatu periode simpan yang lama (Sutopo, 2002). Semai dengan tingkat
vigor yang tinggi mungkin dapat dilihat dari penampilan fenotipe kecambah atau
bibitnya

(Sadjat,

1993).

Sutopo (2002), menyatakan bahwa pada hakekatnya vigor benih harus relevan dengan
tingkat produksi yang tinggi. Vigor yang tinggi dicirikan antara lain oleh:

Tahan disimpan lama

Tahan terhadap serangan hama dan penyakit

Cepat dan merata tumbuhnya

Mampu menghasilkan tanaman dewasa yang normal dan berproduksi baik dalam
keadaan lingkungan tumbuh yang sub optimal.
Ekstensifikasi pertanian sering mendapat hambatan karena jumlah lahan yang
sesuai untuk dijadikan lahan pertanian semakin terbatas. Lahan yang terbatas ini selalu
menjadi masalah, di satu sisi produksi tanaman harus ditingkatkan untuk memenuhi
ketahanan pangan, di lain sisi tanah dan produktivitasnya bermasalah. Sebagian tanah
tersebut tidak sesuai dijadikan sebagai lahan pertanian karena adanya faktor pembatas
seperti tanah masam, salin, dll.

Salinitas adalah tingkat keasinan atau kadar garam terlarut dalam air. Salinitas
juga dapat mengacu pada kandungan garam dalam tanah. Di Indonesia semakin sering
dijumpai tanah salin akibat akumulasi garam yang tinggi di lapisan permukaan. Semua
jenis tanah yang tersebar di daerah arid dan semi arid serta sepanjang pesisir pantai
dapat berkembang menjadi tanah salin dengan akumulasi garam yang tinggi di lapisan
permukaan. Masalah salinitas timbul apabila konsentrasi NaCl, Na2CO3, Na2SO4 dan
garam-garaman Mg terdapat dalam jumlah berlebihan. Garam NaCl .Menurut Rusell
(1958), kadar garam yang tinggi dapat menaikkan tekanan osmosis. Hal adalah yang
paling dominan karena Natrium (Na+) akan terakumulasi pada lapisan tanah atas dalam
jumlah yang berlebihan.
Hal ini dapat mengurangi kesanggupan benih mengabsorbsi air dan secara tidak
langsung akan menghambat perkecambahan benih, karena benih tidak memperoleh
kadar air yang cukup. Hal ini sesuai dengan pendapat Kamil (1979) yang menyatakan
bahwa, jika konsentrasi suatu larutan di sekitar biji tinggi dapat menyebabkan tidak atau
kurang meresapnya air ke dalam biji sehingga mengakibatkan benih tidak berkecambah.
Bintoro et al. (1990) menyatakan bahwa, toleransi tanaman terhadap salinitas
tergantung pada jenis dan tingkat pertumbuhan tanaman. Dengan kata lain tanaman
mempunyai batas toleransi yang berbeda terhadap salinitas. Kebanyakan tanaman
pertanian sangat peka terhadap kandungan garam dalam tanah. Benih yang ditanam di
daerah yang mempunyai salinitas tinggi sangat sulit atau tidak dapat berkecambah sama
sekali. Hal ini disebabkan terhambatnya serapan air oleh benih dan terjadi keracunan
oleh ion-ion yang menyusun garam tersebut.
Vigor kekuatan tumbuh benih merupakan derajat kehidupan benih dan diukur
berupa; benih yang berkecambah, jumlah kecambah normal, kecepatan perkecambahan
(speed of germination), laju pertumbuhan kecambah (seedling growth rate) pada
berbagai lingkungan yang memadai, selain itu juga harus diperhatikan semua atribut
perkecambahan secara morfologi dan fisiologis yang mempengaruhi kecepatan,
keseragaman pertumbuhan benih pada berbagai lingkungan, ini merupakan tolak ukur
ketahanan benih (fisiologis) atau kesehatannya (Kuswanto, 1996).
Benih yang memiliki vigor rendah menurut Copeland (1980) akan berakibat
terjadinya:
a). Kemunduran benih

b). Makin sempitnya keadaan lingkungan dimana benih dapat tumbuh


c). Kecepatan berkecambah menurun
d). Kepekaan akan serangan hama
e). Meningkatnya jumlah kecambah abnormal
f). Rendahnya produksi tanaman
Vigor benih adalah kemampuan tumbuh benih menjadi tanaman berproduksi normal
dalam kondisi sub optimum.. beberapa

kondisi sub optimum dilapang misalnya :

kondisi kekeringan, tanah salin, tanah asam, tanah penyakit, dsb.Benih yang mampu
mengatasi kondisi tersebut termasuk lot benih bervigor tinggi ( anonim,2011).
Pada hakekatnya vigor benih harus relevan dengan tingkat produksi, artinya dari
benih yang bervigor tinggi akan dapat dicapai tingkat produksi yang tinggi. Vigor benih
yang tinggi dicirikan antara lain tahan disimpan lama, tahan terhadap serangan hama
penyakit, cepat dan merata tumbuhnya serta mampu menghasilkan tanaman dewasa
yang normal dan berproduksi baik dalam keadaan lingkungan tumbuh yang sub optimal.
Pada umumnya uji vigor benih hanya sampai pada tahapan bibit. Karena terlalu sulit
dan mahal untuk mengamati seluruh lingkaran hidup tanaman. Oleh karena itu
digunakanlah kaidah korelasi misal dengan mengukur kecepatan berkecambah sebagai
parameter vigor, karena diketahui ada korelasi antara kecepatan berkecambah dengan
tinggi rendahnya produksi tanaman. Rendahnya vigor pada benih dapat disebabkan oleh
beberapa hal antara lain faktor genetis, fisiologis, morfologis, sitologis, mekanis dan
mikrobia ( Jurnalis kamil ).
Salinitas adalah tingkat keasinan atau kadar garam terlarut dalam air. Salinitas juga
dapat mengacu pada kandungan garam dalam tanah. Kandungan garam pada sebagian
besar danau, sungai, dan saluran air alami sangat kecil sehingga air di tempat ini
dikategorikan sebagai air tawar. Kandungan garam sebenarnya pada air ini, secara
definisi, kurang dari 0,05%. Jika lebih dari itu, air dikategorikan sebagai air payau atau
menjadi saline bila konsentrasinya 3 sampai 5%. Lebih dari 5%, ia disebut brine
(http://id.wikipedia.org/wiki/Salinitas)

Garam-garaman utama yang terdapat dalam air laut adalah klorida (55%), natrium
(31%), sulfat (8%), magnesium (4%), kalsium (1%), potasium (1%) dan sisanya (kurang
dari 1%) teridiri dari bikarbonat, bromida, asam borak, strontium dan florida

Salinitas adalah banyaknya zat yang terlarut. Zat yang terlarut ini meliputi garamgaram anorganik, senyawa-senyawa organik yang berasal dari organisme hidup dan gasgas terlarut. Fraksi terbesar dari bahan terlarut terdiri dari garam-garam anorganik yang
berbentuk ion-ion. Enam jenis anorganik membentuk 99,28% berat dari bahan
anorganik padat. Ion-ion adalah klor, natrium, sulfat, magnesium, kalsium dan kalium,
sedangkan lima iom berikutnya yaitu bikarbonat, bromida, asam borat dan stronsium
menambah 0,71% berat, sehingga 11 ion ini membentuk 99,99% berat zat terlarut
(Nybakken, 1992)

http://miraaryuni15.blogspot.com/2013/12/uji-vigor-terhadap-kekeringan.html