Anda di halaman 1dari 28

Makalah Placenta Previa

Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Sistem Reproduksi 2

Amartiwi (220110100065)
Putri Fatma K (220110100005)
Melia Rahmayanti (220110100029)
Rd.Gita Mujahidah (220110100017)
Putri Utami (220110100137 )
Putri Yani Lubis (220110100113)
Vrian Agus Ramdhan (220110100089)
Dina Sonyah (220110100125)
Sri Hadiyani (220110100041)
Desi Mayangsari (220110100053)
Fitri Wahyuni Putri (220110100077)
Indah Robiatul Adawiah( 220110100101)
Nurul Khaira (220110100006)
Dea Dezita (2201101000136)
Putri Ayu Prima Dewi (220110100112)
Novi Lisnawati (2201101000 )
Fuji Lestari (220110100124)

FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2013

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa Yang Maha Esa
yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
penyusunan makalah ini dengan baik. Makalah ini berjudul Makalah Placenta Previa.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas dan diajukan untuk memenuhi standart proses
pembelajaran pada mata kuliah Sistem Reproduksi.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada
pihak-pihak yang senantiasa memberi dukungan dan materil dalam proses penyusunan
makalah ini.
Meskipun telah berusaha segenap kemampuan,namun penulis menyadari bahwa
makalah ini masih belum sempurna.Oleh karena itu,penulis sangat mengharapkan saran dan
kritik dari semua pihak demi di hari kemudian.
Akhir kata,penulis mengharapkan makalah ini dapat bermanfaat dalam proses
pembelajaran dan bagi siapapun yang membacanya.

Jatinangor ,

Mei 2013

Penulis

BAB I

1.1 Latar belakang

Perdarahan pada kehamilan harus dianggap sebagai kelainan yang berbahaya .


Perdarahan pada kehamilan muda disebut sebagai abortus sedangkan perdarahan pada
kehamilan tua disebut perdarahan anterpartum. Batas teoritis antara kehamilan muda dengan
kehamilan tua adalah 22 minggu mengingat kemungkinan hidup janin diluar uterus .
Perdarahan anterpartum biasanya berbatas pada perdarahan jalan lahir setelah
kehamilan 22 minggu tapi tidak jarang terjadi pula pada usia kandungan kurang dari 22
minggu dengan patologis yang sama. Perdarahan saat kehamilan setelah 22 minggu biasanya
lebih berbahaya dan lebih banyak daripada kehamilan sebelum 22 minggu . Oleh karena itu
perlu penanganan yang cukup berbeda . Perdarahan antepartum yang berbahaya umumnya
bersumber pada kelainan plasenta, sedangkan perdarahan yang tidak bersumber pada
kelainan plasenta umpamanya kelainan serviks biasanya tidak seberapa berbahaya. Pada
setiap perdarahan anterpartum pertama-tama harus selalu dipikirkan bahwa hal itu bersumber
pada kelainan plasenta .
Perdarahan anterpartum yang bersumber dari kelainan plasenta yang secara klinis
biasanya tidak terlampau sukar untuk menentukannya ialah plasenta previa dan solusio
plasenta serta perdarahan yang belum jelas sumbernya . Perdarahan anterpartum terjadi kirakira 3 % dari semua persalinan yang terbagi atas plasenta previa , solusio plasenta dan
perdarahan yang belum jelas penyebabnya
Pada umumnya penderita mengalami perdarahan pada triwulan tiga atau setelah usia
kehamilan , namun beberapa penderita mengalami perdarahan sedikit-sedikit kemungkinan
tidak akan tergesa-gesa datang untuk mendapatkan pertolongan karena disangka sebagai
tanda permulaan persalinan biasa. Baru setelah perdarahan yang berlangsung banyak ,
mereka datang untuk mendapatkan pertolongan .
Setiap perdarahan pada kehamilan lebih dari 22 minggu yang lebih banyak pada
permulaan persalinan biasanya harus lebih dianggap sebagai perdarahan anterpartum apapun
penyebabnya , penderita harus segera dibawah ke rumah sakit yang memiliki fasilitas untuk
transfusi darah dan operasi . Perdarahan anterpartum diharapkan penanganan yang adekuat
dan cepat dari segi medisnya maupun dari aspek keperawatannya yang sangat membantu
dalam penyelamatan ibu dan janinnya.

Angka kematian maternal masih menjadi tolok ukur untuk menilai baik buruknya
keadaan pelayanan kebidanan dan salah satu indikator tingkat kesejahteraan ibu. Angka
kematian maternal di Indonesia tertinggi di Asia Tenggara. Menurut SKRT (Survei
Kesehatan Rumah Tangga) tahun 1992 yaitu 421 per 100.000 kelahiran hidup, SKRT tahun
1995 yaitu 373 per 100.000 kelahiran hidup dan menurut SKRT tahun 1998 tercatat kematian
maternal yaitu 295 per 100.000 kelahiran hidup. Diharapkan PJP II (Pembangunan Jangka
Panjang ke II) (2019) menjadi 60 - 80 per 100.000 kelahiran hidup. Penyebab terpenting
kematian maternal di Indonesia adalah perdarahan (40- 60%), infeksi (20-30%) dan
keracunan kehamilan (20-30%), sisanya sekitar 5% disebabkan penyakit lain yang memburuk
saat kehamilan atau persalinan.
Perdarahan sebagai penyebab kematian ibu terdiri atas perdarahan antepartum dan
perdarahan postpartum. Perdarahan antepartum merupakan kasus gawat darurat yang
kejadiannya berkisar 3% dari semua persalinan, penyebabnya antara lain plasenta previa,
solusio plasenta, dan perdarahan yang belum jelas. Plasenta previa adalah plasenta yang
implantasinya tidak normal, sehingga menutupi seluruh atau sebagian ostium internum; kasus
ini masih menarik dipelajari terutama di negara berkembang termasuk Indonesia, karena
faktor predisposisi yang masih sulit dihindari, prevalensinya masih tinggi serta punya andil
besar dalam angka kematian maternal dan perinatal yang merupakan parameter pelayanan
kesehatan. Di RS Parkland didapatkan prevalensi plasenta previa 0,5%. Clark (1985)
melaporkan prevalensi plasenta previa 0,3%. Nielson (1989) dengan penelitian prospektif
menemukan 0,33% plasenta.

1.2. Tujuan
1.1.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui tentang Placenta Previa
1.1.2 Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui penyebab Placenta Previa
2. Untuk mengetahui ASKEP pada pasien Placenta Previa

BAB II
Pembahasan
A. Konsep
1. Definsi
Plasenta Previa berasal dari dua kata yaitu prae yang berarti didepan dan vias yang
berarti jalan. Jadi plasenta previa adalah implantasi abnormal plasenta sehingga menutupi sebagian
atau seluruh ostium uteri internum. (Hanafiah, 2004)
Plasenta previa adalah suatu kondisi dimana letak plasenta dibawah uterus, baik sebagian
maupun seluruhnya menutupi pembukaan serviks sehingga menghalangi bayi untuk keluar dari jalan
lahir (Ostium Uteri Internum). (Morgan, 2009)
Plasenta previa adalah plasenta yang terletak diatas atau sangat dekat dengan ostium uteri
internium. (Leveno, 2009)
Plasenta previa adalah suatu kehamilan dimana plasnta berimplantasi abnormal pada segmen
bawah rahim (SBR), menutupi ataupun tidak menutupi ostium uteri internum (OUI), sedangkan
kehamilan itu sudah viable atau mampu hidup diluar rahim (usia kehamilan > 20 minggu dan/atau
berat janin > 500 gram). (Achadiat, 2004)

2. Etiologi
a. Umur dan paritas
-

Pada primigravida, umur >35 tahun lebih sering dari pada umur <25 tahun

Lebih sering pada paritas tinggi dari pada paritas rendah

b. Hipoplasia endometrium: bila menikah muda dan hamil pada umur muda dimana
rahim belum matang.
c. Endometrium cacat pada bekas persalinan berulang-ulang, bekas operasi, kuretase dan
manual plasenta
d. Korpus luteum bereaksi lambat, dimana endometrium belum siap menerima hasil
konsepsi
e. Tumor-tumor seperti mioma uteri, polip endometrium
f. Malnutrisi

FAKTOR PREDISPOSISI DAN PRESIPITASI

Menurut Mochtar (1998), faktor predisposisi dan presipitasi yang dapat mengakibatkan
terjadinya plasenta previa adalah :
a. Melebarnya pertumbuhan plasenta :
-

Kehamilan kembar (gamelli).

Tumbuh kembang plasenta tipis.

b. Kurang suburnya endometrium :


-

Malnutrisi ibu hamil.

Melebarnya plasenta karena gamelli.

Bekas seksio sesarea.

Sering dijumpai pada grandemultipara.

c. Terlambat implantasi :
-

Endometrium fundus kurang subur.

Terlambatnya tumbuh kembang hasil konsepsi dalam bentuk blastula yang siap
untuk nidasi.

3. Insidensi

Placenta previa terjadi sekitar satu dari setiap 250 kelahiran. Sepertiga dari semua
perdarahan antepartum terjadi karena plasenta previa. Kejadian plasenta previa meningkat
karena peningkatan laju operasi Caesar karena banyaknya luka parut (scar) yang
menyebabkan placenta menempel bukan pada tempatnya. Angka kematian perinatal
plasenta previa adalah 3-4 kali lebih tinggi dari kehamilan normal. Angka kejadian
plasenta previa adalah 0,4 0,6 % dari keseluruhan persalinan. Berdasarkan data yang
didapatkan badan kesehatan dunia World Health Organization (WHO), prevalensi
plasenta previa pada tahun 2008, sekitar 458 dari 100.000 kelahiran setiap tahunnya,
sedangkan prevalensi plasenta previa pada tahun 2009, sekitar 320 dari 100.000
kelahiran. (WHO, 2009)
4. Klasifikasi

Klasifikasi plasenta previa berdasarkan terabanya jaringan plasenta melalui


pembukaan jalan lahir pada waktu tertentu:
a. Plasenta previa totalis : bila seluruh pembukaan jalan lahir tertutup oleh plasenta.
b. Plasenta previa lateralis : bila hanya sebagian pembukaan jalan lahir tertutup oleh
plasenta.

c. Plasenta previa marginalis : bila pinggir plasenta berada tepat pada pinggir
pembukaan jalan lahir.
d. Plasenta previa letak rendah : bila plasenta berada 3-4 cm diatas pinggir pembukaan
jalan lahir.

Menurut Browne:
a. Tingkat 1 (lateral plasenta previa)
Pinggir bawah plasenta berinsersi sampai ke SBR, namun tidak sampai ke pinggir
pembukaan.
b. Tingkat 2 (marginal plasenta previa)
Plasenta mencapai pinggir pembukaan (ostium)
c. Tingkat 3 (complete placenta previa)
Plasenta menutupi ostium sewaktu tertutup dan tidak menutup bila pembukaan hampir
lengkap
d. Tingkat 4 (central plasenta previa)
Plasenta

menutupi

seluruhnya

pada

pembukaan

hampir

lengkap

5. Manifestasi klinis

Menururt FKUI (2000), tanda dan gejala plasenta previa diantaranya adalah:
-

Pendarahan tanpa sebab tanpa rasa nyeri dari biasanya dan berulang, usia gestasi > 22
minggu

Darah biasanya berwarna merah segar.

Terjadi pada saat tidur atau saat melakukan aktivitas.

Bagian terdepan janin tinggi (floating), sering dijumpai kelainan letak janin

Pendarahan pertama (first bleeding) biasanya tidak banyak dan tidak fatal, kecuali bila
dilakukan periksa dalam sebelumnya. Tetapi perdarahan berikutnya (reccurent
bleeding) biasanya lebih banyak.

Perdarahan dapat terjadi setelah miksi atau defekasi, aktivitas fisik, kontraksi Braxton
Hicks atau koitus

Rasa tidak tegang saat palpasi

DJJ (Denyut Jantung Janin) terdengar

Teraba jaringan plasenta dalam vagina

Penurunan kepala tidak masuk pintu atas panggul

6. Komplikasi

Prolaps tali pusat adalah suatu kondisi medis yang ditandai dengan masuknya tali
pusat kedalam vagina sebelum atau sewaktu persalinan.Hal ini sering ditemukan pada
persalinan

bayi

prematur,sungsang,kehamilan

ganda

dengan

bayi

kembar

dua,tiga,atau lebih.
-

Plasenta melekat

Plasenta abruptio yaitu pemisahan plasenta dari dinding rahim

Plasenta akreta adalah implantasi jonjot korion plasenta hingga memasuki sebagian
lapisan miomentrium.

Plasenta inkreta adalah implantasi jonjot korion plasenta hingga mencapai/memasuki


miometrium.

Plasenta perkreta adalah implantasi jonjot korion plasenta yang menembus lapisan
otot hingga mencapai lapisan serosa dinding uterus .

o
-

Robekan-robekan jalan lahir

Perdarahan sebelum atau selama melahirkan yang dapt menyebabkan histeroktomi


(operasi pengankatan rahim )

Infeksi

Bayi prematuritas ( < 37 minggu )

Kelahiran mati

7. Pemeriksaan Diagnostik

Dengan melihat tanda dan gejala yang terjadi, diagnosis plasenta pervia dapat ditegakkan
berdasarkan
a. Anamnesis perdarahan
-

Perdarahan terjadi tanpa rasa sakit

Dapat sedikit demi sedikit tapi dalam jumlah yang banyak

Dapat berulang-ulang sebelum persalinan berlangsung

Cepat dan jumlah darah ynag hilang dapat menimbulkan gejala klinik pada ibu
dan janin

b. Peemeriksaan fisik
-

pemeriksaan umum
Hasil pemeriksaan umum tergantung penggolongan kehilangan darah. Jika sudah
diketahui kelas kehilangan darah dapat direncanakan :
1. Cairan pengganti untuk sementara. Pemeberian cairan koloid
2. Transfusi darah sesuai dengan jumlah kehilangan darah minimal Hb
mencapai 10 g%

3. Kesadaran bervariasi kesan baik sampai somnolen


4. Tekanan darah dapat normal sampai shock
5. Nadi dapat sedikit meningkat dari normal
-

pemeriksaan obstetri
1. Inspeksi
Rahim membesar sesuai dengan tuanya kehamilan dan mungkin tampak
pergerakan janin
2. Palpasi abdomen
Bagian terendah janin belum masuk PAP, mengambang karena sekitar
osteum uteri tertutup oleh jaringan plasenta.
Terdapat kelainan letak janin intrauteri:letak sungsang,letak lintang atau
bagian terndah miring.

c. pemeriksaan auskultasi
-

Dapat dilakukan dengan funduskopi Laenek atau menggunakan Dopler

Merekam detak jantung janin dengan menggunakan CTG (Kardiotografi)


Hasil pemantauan detak jantung janin tergantung dari jumlah dan cepatnya

kehilangan

darah

maternal

sehingga

dapat

memengaruhi

sistem

sirkulasi

retroplasenter yang selanjutnya akan langsung memengaruhi sirkulasi retroplasenter


yang selanjutnya akan langsung memenngaruhi nutrisi dan pertukaran oksigen atau
karbondioksida intraplasenta. Dengan demikian pada janin di dalam uterus dapat
terjadi
-

Tidak terjadi perubahan apapun karena terjadi perdarahan kelas I sehingga masih
bisa dikompensasi oleh ibu

Terjadi asfiksia ringan sampai berat yang dapat direkam oleh CTG intermitten
atau terus menerus

Keadaan anemia begitu berat sehingga janin intrauteri tidak mungkin ditolong
lagi.

d. pemeriksaan dalam
Sejak penggunaan USG secara luas dalam bidang obstetri kehamilan dengan
perdarahan tidak terlalu banyak dilakukan pemeriksaan dalam. Menghindari
pemeriksaan dalam bertujuan untuk mengurangi kemungkinan bertambahnya
perdarahan.

Sebelum penggunaan USG pemeriksaan dalam merupakan tindakan yang harus


dilakukan untuk
-

Menegakkan diagnosis pasti jenis plasenta previa


Melakukan pemeriksaan dengan spekulum hingga darah keluar dari osteum uteri
dapat dilihat dengan jelas

Melakukan perabaan fornises akan terdapat bantalan antara bagian terendah janin
dengan dinding segmen bawah rahim yang menunjukkan adanya plasenta previa

Melakukan pemeriksaan pada kanalis servikalis untuk mengakkan diagnosis pasti


jenis plasenta pervia

e. pemeriksaan Ultrasonografi
-

Tampak bayangan plasenta menutupi pintu atas panggul

Tampak terdapatnya pelepasan sebagian plasenta

Bagian janin terendah belum masuk PAP

Detak jantung janin bervariasi dari masih baik sampai tidak berdenyut

8. Pencegahan

a. Istirahat
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah istirahat total. Ini merupakan langkah
penting, dengan istirahat total, Anda memberikan kesempatan untuk mengurangi
kemungkinan keguguran.
b. Konsumsi asam folat
Meningkatkan asupan asam folat dapat meningkatkan fungsi plasenta dalam
memegang rahim. Asam folat ada dalam beberapa sayiuan berdaun hijau. Ini juga
membantu memproduksi hemoglobin dalam sumsum tulang dan melawan anemia.
Mengkonsumsi makanan yang mengandung asam folat sangat membantu dalam
mengurangi risiko keguguran yang sering dikaitkan dengan pendarahan.
c. Tunda seks untuk sementara waktu
Meskipun hubungan seksual selama kehamilan adalah benar-benar sehat dan aman,
tetapi jika Anda mengalami pendarahan vagina, maka dianjurkan untuk menjauhkan
diri dari berhubungan seks sampai Anda mengetahui penyebab pendarahan.
d. Tindakan pencegahan Double Set-up

Apabila perdarahan mengancam jiwa atau kehamilan mendekati aterm, pasien


diperiksa dalam ruang operasi yang dipersiapkan untuk persalinan per vaginam atau
per abdominam yang mendadak
9. Penatalaksanaan

1. Terapi ekspektatif

Tujuan terapi ekspektatif adalah supaya janin tidak terlahir prematur, pasien dirawat
tanpa melakukan pemeriksaan dalam melaui kanalis servisis. Upaya diagnosis
dilakukan secara non invasif. Pemantauan klinis dilaksanakan secara ketat dan baik.

Syarat pemberian terapi ekspektatif :


a. Kehamilan preterm dengan perdarahan sedikit yang kemudian berhenti.
b. Belum ada tanda-tanda in partus
c. Keadaan umum ibu cukup baik (kadar hemoglobin dalam batas normal)
d.

Janin masih hidup.

Rawat inap, tirah baring, dan berikan antibiotik profilaksis.

Lakukan pemeriksaan USG untuk mengetahui implantasi placenta, usia kehamilan,


profil biofisik, letak, dan presentasi janin.

Berikan tokolitik bila ada kontriksi :


1. MgSO4 4 gr IV dosis awal dilanjutkan 4 gr tiap 6 jam
2. Nifedipin 3 x 20 mg/hari
3. Betamethason 24 mg IV dosis tunggal untuk pematangan paru janin

Uji pematangan paru janin dengan Tes Kocok (Bubble Test) dari test
amniosentesis.

Bila setelah usia kehamilan di atas 34 minggu placenta masih berada di sekitar
ostinum uteri internum, maka dugaan plasenta previa menjadi jelas sehingga perlu
dilakukan observasi dan konseling untuk menghadapi kemungkinan keadaan gawat
darurat.

Bila perdarahan berhenti dan waktu untuk mencapai 37 mingu masih lama, pasien
dapat dipulangkan untuk rawat jalan (kecuali apabila rumah pasien di luar kota dan
jarak untuk mencapai RS lebih dari 2 jam) dengan pesan segera kembali ke RS
apabila terjadi perdarahan ulang.

2. Terapi aktif (tindakan segera)

Wanita hamil di atas 22 minggu dengan perdarahan pervaginam yang aktif dan
banyak harus segera ditatalaksana secara aktif tanpa memandang maturitas janin.

Untuk diagnosis placenta previa dan menentukan cara menyelesaikan persalinan,


setelah semua persyaratan dipenuhi, lakukan PDOM jika :
-

Infus / tranfusi telah terpasang, kamar dan tim operasi telah siap

Kehamilan 37 minggu (BB 2500 gram) dan in partu

Janin telah meninggal atau terdapat anomali kongenital mayor (misal :


anensefali)

Perdarahan dengan bagian terbawah jsnin telah jauh melewati PAP (2/5 atau
3/5 pada palpasi luar)

Cara

menyelesaikan

persalinan

dengan

placenta

previa

adalah

1. Seksio Cesaria (SC)

Prinsip utama dalam melakukan SC adalah untuk menyelamatkan ibu, sehingga


walaupun janin meninggal atau tak punya harapan hidup tindakan ini tetap
dilakukan.

Tujuan SC antara lain :


1. Melahirkan janin dengan segera sehingga uterus dapat segera berkontraksi
dan menghentikan perdarahan
2. Menghindarkan kemungkinan terjadinya robekan pada cervik uteri, jika
janin dilahirkan pervaginam

Tempat implantasi plasenta previa terdapat banyak vaskularisasi


sehingga cervik uteri dan segmen bawah rahim menjadi tipis dan mudah
robek. Selain itu, bekas tempat implantasi placenta sering menjadi
sumber perdarahan karena adanya perbedaan vaskularisasi dan susunan
serabut otot dengan korpus uteri.

Siapkan darah pengganti untuk stabilisasi dan pemulihan kondisi ibu

Lakukan perawatan lanjut pascabedah termasuk pemantauan perdarahan,


infeksi, dan keseimbangan cairan dan elektrolit.

2. Melahirkan pervaginam
Perdarahan akan berhenti jika ada penekanan pada placenta. Penekanan tersebut
dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut :

Amniotomi dan akselerasi

Umumnya dilakukan pada placenta previa lateralis / marginalis dengan


pembukaan > 3cm serta presentasi kepala. Dengan memecah ketuban, placent
akan mengikuti segmen bawah rahim dan ditekan oleh kepala janin. Jika
kontraksi uterus belum ada atau masih lemah akselerasi dengan infus oksitosin.

Versi Braxton Hicks


Tujuan melakukan versi Braxton Hicks adalah mengadakan tamponade placenta
dengan bokong (dan kaki) janin. Versi Braxton Hicks tidak dilakukan pada janin
yang masih hidup.

Traksi dengan Cunam Willet


Kulit kepala janin dijepit dengan Cunam Willet, kemudian diberi beban
secukupnya sampai perdarahan berhenti. Tindakan ini kurang efektif untuk
menekan placentadan seringkali menyebabkan perdarahan pada kulit kepala.
Tindakan ini biasanya dikerjakan pada janin yang telah meninggal dan
perdarahan yang tidak aktif.

B. Patofisiologi (lampiran)
C. Asuhan Keperawatan
I. Pengkajian
Identitas
Nama

: -

Nama suami

: -

Umur

: -

Umur

: -

Agama

: -

Agama

: -

Pendidikan

:-

Pendidikan

: -

Pekerjaan

: -

Pekerjaan

: -

Suku

: -

Suku

: -

Alamat

: -

Alamat

: -

A. Anamnesa
1. Alasan kunjungan saat ini
Alasan klien datang ke poliklinik kebidanan untuk apa, mengapa.
2. Riwayat haid
Menarche

: tidak teridentifikasi

Siklus

: tidak teridentifikasi

Banyaknya : tidak teridentifikasi

Lamanya

: tidak teridentifikasi

Sifat darah : tidak teridentifikasi


HPHT

3. Riwayat perkawinan
Tanyakan sudah menikah berapa kali? Pada usia berapa klien menikah? bagaimana
hubungan dengan suami? Berapa usia perkawinan? Dalam kasus tidak teridentifikasi
4. Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu
Ditanyakan kehamilan ke berapa?
Sebelumnya apakah pernah keguguran atau tidak?
5. Riwayat kehamilan sekarang
a. Trimester I
Bagaimana keluhan klien saat trimester I
b. Trimester II
Bagaimana kehamilan klien pada saat trimester II
c. Trimester III
Bagaimna kehamilan klien pada saat trimester III
HPHT

Tanggal kunjungan :
Perhitungan taksiran persalinan ( PT ) menurut Naegele
Patokan HPHT ( Hari pertama Haid Terakhir )
Rumus ( tanggal + 7, bulan - 3, tahun + 1 )
HPHT

PT
Menghitung Usia Kehamilan berdasarkan HPHT

Usia kehamilan :
Menghitung usia kehamilan berdasarkan TFU cm
Rumus Mc. Donald
TFU (cm) x 2/7 = usia kehamilan dalam bulan
TFU (cm) x 8/7 = usia kehamilan dalam minggu
Riwayat kesehatan ibu dan keluarga
d. Riwayat penyakit yang pernah atau sedang di derita
Tanyakan apakah klien menderita penyakit yang serius seperti jantung, hipertensi,
hepar, DM, anemia, campak, malaria, TBC. Gagguan mental dan operasi. Ditanyakan
apakah ada keluarga yang mengalami penyakit serius tersebut dari 3 generasi keatas.
Dalam kasus tidak teridentifikasi.

e. Prilaku kesehatan
Tanyakan apakah selama kehamilan ada keluhan sakit apa saja dan tindakan apa yang
dilakukan untuk meredakannya apakah mengkonsumsi obat terentu? pernah minumminuman yang mengandung alkohol atau obat-obatan sejenisnya serta jamu atau
rokok. dalam kasus tidak teridentifikasi.
Tanyakan apakah klien pernah atau sering melakukan senam hamil atau tidak?
jika sebelumnya pernah mengalami proses persalinan, tanyakan apakah masih ingat
dengan proses persalinan?
f. Immunisasi
Tanyakan riwayat imunisasi, lengkap/tidak seperti tetanus (TT)?
6. Riwayat psikologis
a. Tanyakan bagaimana pengaruh budaya dan nilai- ilai suku dalam pengambilan
keputusan
b. Tanayakan bagaimana kecenderungan perilaku sebagai orang tua seperti : (
bagaimana keingninannya untuk memriksakan kehamilannya, dan keingintahuan
tentang persiapan persalinan dll )
c. Tanyakan kesiapan keluarga untuk menerima anggota keluarga baru seperti ( fisik,
alokasi sumber, rencana bersalin, sosialisasi kepada seluruk keluarga dan lain-lain)
d. Mengkaji gaya hidup seperti merokok, minum alcohol dan drug
e. Ibu merasa cemas dengan keadaan kondisinya saat ini dan berharap janinnya tidak
mengalami masalah berat.
f. Ibu senang dengan kehamilan saat ini karena kehamilan ini sangat diharapkan
7. Aktivitas sehari-hari
a. Nutrisi
Tanyakan pola makan,jenis makanannya (apakah ada pantangan jenis makanan
tertentu yang tidak boleh dikonsumsi/tidak), frekuensi dan komposisi makanan
seimbang atau tidak. sebelum hamil dan sesudah hamil. Apakah ada kenaikan berat
badan selama hamil dengan kehamilan sebelumnya? Apakah ada pjt atau tidak.
b. Eliminasi
Tanyakan pola eliminasi (BAB dan BAK) apakah ada konstipasi atau inkontinensia?
Sebelum dan sesudah kehamilan?
c. Istirahat dan tidur
Tanyakan bagaimana pola tidur apakah terganggu atau tidak,ada insomnia/sering
terbangun di malam hari sebelum hamil dan sesudah hamil?
d. Pola istirahat
Apakah istirahatnya terganggu atau tidak?
e. Personal hygiene

Bagaimana

personal

hygiene

seperti

mandi

(frekuensi),

ganti

pakaian,

keramas.sebelum hamil dan sesudah hamil.


f. Aktivitas / olah raga
Tanyakan bagaimana aktivitas sehari-harinya?
Tanyakan apakah sering olahraga (jenis,frekuensi)? .
g. Seksualitas dan kontrasepsi :
Bagaimana aktivitas seksual dengan suaminya, apakah ada masalah?
Tanyakan apakah sebelumnya menggunakan alat kontrasepsi (jenisnya, dan apakah
ada keluhan)?

Kebutuhan belajar
Jadwal dan kegiatan pemeiksaan
-

Pengkajian kehamilan

Pertumbuhan dan perkembangan janin

Tes diagnostk yang harus dilakukan

Konseling perawatan diri.

Persiapan persalinan
a. Menjelaskan tanda- tanda menjelang kehamilan
b. Menganjurkan tidak mengkonsumsi makanan beraroma menjelang persalinan
c. Mendiskusikan tempat dan penolong saat bersalin
d. Mengidentifikasi keperluan ibu untuk persalinan dan post partum
e. Managemen laktasi
f. Family planning
g. Persiapan sibling rivalvy

B. Pemeriksaan
1. Keadaan umum
a. kesadaran

:-

b. tanda-tanda vital
TD

: -

RR

: -

Nadi

: -

c. Temperatur

: tidak teridentifikasi

d. Berat badan

: Sebelum hamil

: tidak teridentifikasi

Sesudah hamil

: tidak teridentifikasi

Kenaikan BB selama hamil : tidak teridentifikasi


e. Tinggi badan : tidak teridentifikasi

f.

Ukuran lila

: tidak teridentifikasi

2. Pemeriksaan fisik
a. Inspeksi
1) Rambut

: apakah lurus, tidak ada ketombe, dan tidak mudah rontok


keadaan bersih. Dalam kasus tidak teridentifikasi.

2) Muka

: apakah bentuk simetris,flek, pucat, oedema.dalam kasus tidak


teridentifikasi.

3) Mata

: apakah

simetris,

pembengkakan

pada

kelopak

mata,

konjungtiva pucat, seklera ikterik/tidak, berfungsi dengan


baik/tidak, keadaan bersih/tidak.
4) Hidung

: apakah bentuk simetris/tidak, keadaan bersih/tidak, dan ada


pembesaran polip/tidak. Dalam kasus tidak teridentifikasi.

5) Mulut

: apakah ada kelalinan/tidak , terdapat stomatitis/tidak, keadaan


gigi

bersih/tidak,

ada

carises/tidak,

ada

pembesaran

tonsil/tidak.dalam kasus tidak teridentifikasi.


6) Telinga

: apakah bentuk simetris/tidak, keadaan bersih/tidak, fungsi


pendengaran baik/tidak. dalam kasus tidak teridentifikasi.

7) Leher

: apakah ada pembesaran kelenjar thyroid/tidak, kelenjar


limpa/tidak, dan

ada pembengkakan vena jugularis/tidak.

dalam kasus tidak teridentifikasi.


8) Dada

: pernafasan

baik/tidak,

ada

sesak

napas/tidak,

payudara

menonjol hiperpigmentasi , ada benjolan/tidak, colostrums


belum keluar/sudah. dalam kasus tidak teridentifikasi.
9) Abdomen

: apakah bentuk simetris/tidak, membesar sesuai dengan usia


kehamilan, ada cacat/tidak, ada bekas operasi/tidak, apakah ada
nyeri

tekan

pada

saat

dipalpasi.

Dalam

kasus

tidak

teridentifikasi.
10) Punggung

: ada kelainan/tidak

11) Genetalia

: ada pengeluaran darah pervcaginam/tidak, banyaknya, tidak


/ada hemaroid, ada oedema, varises/tidak
Keadaan klitoris, maturitas seksnya, labia dan perineum
jaringan parut atau bekas trauma

12) Ektermitas

: apakah bentuk simetris, cacat, oedema atau tidak.

b. Palpasi
Posisi kaki menekuk

1. Leopold I
untuk mengetahui letak fundus uterus. Palpasi dan kumpulkan uterus hingga
teraba massa dan patokan inci ada diatas sampai dengan simpisis pubis, palpasi
dan rasakan , TFU terpegang antara Px dengan pusat, pada fundus teraba keras
bulat melenting berarti kepala, kalau bulat tetapi tidak melenting berarti bokong.
2. Leopold II

untuk menentukan dimana letak punggung dan bagian bagian kecil dari janian.
Cara melakukannya : 1. kedua telapak tangan pemeriksa diletakkan di kedua
samping abdomen sambil menekan agak dalam. 2. Pada telapak tanagn yang
satu, akan teraba tahanan keras, yaitu punggung janin. 3. Pada telapak tanagan
yang lainnya kan teraab bagian- bagaian kecil janin yaitu lengan dan tungkai
janin.
3. Leopold III :
untuk menetukan apa yang terdapat di bagian bawah dan apakah bagian bawah
ini sudah atau belum terpegang oleh PAP ( pintu Atas Panggul ) cara
melakukannya : 1. Pemeriksa menggunakan tanagn kanan. 2. Pemeriksa
menggunakan kutub ( bagian bawah ) janin antara ibu jari dan jari-jari lainnya. 3.
Tentukan apakah bagian bawah masih dapat digoyangkan atau tidak .
Pada perasat ini kepala kaan teraba lebih menonjol pada satu sisa ( cephalic
prominence ). Pada presentasi belakang kepala ( vertex ), bagian kepala yang
menonjol ini terdapat sepihak dengan bagian bagian kecil janin. Apabila
ternyata kepala sudah PAP, pemeriksaan lebih teliti dilanjutkan dengan perasat
leopold IV.
4. Leopold IV :
untuk menentukan apa yang menjadi bagian bawah dan berapa masuknya
bagian bawah kedalam rongga panggul. Cara melakukannya : 1. Pemeriksa
menghadap kea rah kaki ibu. 2. Dengan kedua tanagn, tetukan pa yang menjadi
bagian bawah. 3. Tentukan apakh bgian-bagian bawah sudah masuk PAP, dan
berapa masuknya bagian bawah kedaalm rongga panggul. Jika kedua tanagn
dirapatkan paad permukaan dari bagian terbawah dari kepala yang masih teraba
dar luar, maka :

Convergent : hanya bagian kecil dari kepala turun kedalam rongga panggul.

Sejajar : separuh dari kepala masuk kedalam rongga panggul.

Divergent : bagian terbesar dari kepala masuk ke dalam rongga panggul dan
ukuran terbesar dari kepala sudah melewati PAP.

c. Auskultasi
1. Auskultasi bunyi jantung janin , bising tali puast, gerakan janin
2. Uterin souffle atau bising rahim : sifat bisisng dan frekuensinya = denyut nadi
ibu
3. Souffl funic ( bising tali pusat ) sifatnya meniup akibat tapi pusat tertekan.
4. DJJ baru diengar paad akhir bulan ke lima, ultrasound atau doptone akhir bulan
ke tiga
5. Frekuensi, normalnya 120 160 x/menit.
Tempat DJJ terdengar pada :
- Presentasi kepala : dibagian punggung kiri sampai kanan dibagian pusat
- Presentasi punggung kiri atau kanan : bunyi jantung terdengar disebelah kiri
atau kanan
- Presentasi bokong ( letak sugsang ) : kira kira sekitar pusat

II. Analisa Data


no
1

Data
DS :
- keluar darah sejak pagi
DS :
TD = 100/70 mmHg
Nadi = 100 x/menit
RR = 24 x/menit

Etiologi
Abortus

Terbentuk jaringan parut

Abnormal vaskularisasi
endometrium

Zigot mencari tempat


implantasi yang lebih baik

Vzigot tertanam rendah

Plasenta berdekatan dengan


ostium internum

Diam di ostium

Masalah
Kekurangan volume cairan


Plasenta previa

Pergeseran jaringan disekitar


rahim

Pelepasan plasenta dari


dinding uterus

Robekan sinus marginal


plasenta

Perdarahan tanpa nyeri

Cairan intravaskuler

Ds : perdarahan terus
menerus

Kekurangan cairan
Abortus

Do: nadi , TD ,
Terbentuk jaringan parut

Abnormal vaskularisasi
endometrium

Zigot mencari tempat


implantasi yang lebih baik

Vzigot tertanam rendah

Kurang pengetahuan

Plasenta berdekatan dengan


ostium internum

Diam di ostium

Plasenta previa

Pergeseran jaringan disekitar


rahim

Pelepasan plasenta dari


dinding uterus

Sinus uteri robek

Tidak di lakukan pemeriksaan

Ds: ibu merasa cemas


Do: perdarahan terus
menerus

Kurang pengetahuan
Abortus

Terbentuk jaringan parut

Abnormal vaskularisasi
endometrium

Zigot mencari tempat


implantasi yang lebih baik

Vzigot tertanam rendah

Ansietas


Plasenta berdekatan dengan
ostium internum

Diam di ostium

Plasenta previa

Pergeseran jaringan disekitar


rahim

Pelepasan plasenta dari


dinding uterus

Sinus uteri robek

Perdarahan terus menerus

Ansietas

III. Nursing Care Plan (NCP)


No
1.

Diagnosa
Kekurangan
Volume
Cairan b.d
perdarahan
masif
DS :
- Pada tanggal
04-04-2010
Pkl. 14.25
klien datang
dengan
keluahan
keluar darah
sejak tadi pagi

Tujuan
- Klien menunjukkan
keseimbangan cairan
yang dibuktikan oleh
tanda-tanda vital yang
stabil

Intervensi
Mandiri :

Rasional

Evaluasi, laporkan dan


catat jumlah serta sifat
kehilangan darah.
Lakukan penghitungan
pembalut; timbang
pembalut/pengalas

Perkiraan
kehilangan darah
membantu
membedakan
diagnosa. Setiap
gram peningkatan
pembalut sama
dengan
kehilangan kirakira 1 ml darah

Lakukan tirah baring.


Instruksikan klien untuk
menghindara valsava
manuver dan koitus

Perdarahan dapat
berhenti dengan
reduksi aktivitas.
Peningkatan
tekanan abdomen
atau orgasme
(yang
meningkatkan
aktivitas uterus)
dapat
merangsang
perdarahan

Posisikan klien dengan


tepat, telentang dengan
panggul ditinggikan
atau posisi semi Fowler
pada plasenta previa.
Hindari posisi
Trendelenburg

Menjamin
keadekuatan
darah yang
tersedia untuk
otak; peninggian
panggul
menghindari
kompresi vena
kava. Posisi semi
Fowler
memungkinkan
janin bertindak
sebagai tampon.
Posisi
Trendelenburg
dapat
menurunkan
keadaan
pernapasan ibu

Pantau aktivitas uterus,


status janin, dan adanya
nyeri tekan abdomen.

DS :
TD =
100/70
mmHg
Nadi =
100
x/menit
RR = 24
x/menit

Membantu
menentukan sifat
hemoragi dan
kemungkinan
jasil dari

peristiwa
hemoragi. Nyeri
tekan biasanya
ada pada
kehamilan
ektopik yang
ruptur atau
abrupsi plasenta.
Hindari pemeriksaan
rektal atau vagina

Dapat
meningkatkan
hemoragi,
khususnya bila
plasenta previa
marginal atau
total terjadi

Simpan jaringan atau


hasil konsepsi yang
keluar

Dokter perlu
mengevaluasi
kemungkinan
retensi
jaringan/membra
n; pemeriksaan
histologi
mungkin perlu

Kolaborasi

2.

Ketakutan b.d
ancaman

Klien dapat
mendiskusikan

Dapatkan/tinjau ulang
pemeriksaan darah
cepat; HDL, titer Rh,
kadar fibrinogen, hitung
trombosit, APTT, PT,
dan kadar HCG

Menentukan
jumlah darah
yang hilang dan
dapat
memberikan
informasi
mengenai
penyebab. Ht
harus
dipertahankan
diatas 30% untuk
mendukung
transpor oksigen
dan nutrien

Siapkan untuk kelahiran


sesaria bila ada diagnosa
berikut : plasenta previa
bila janin matur,
kelahiran vagina tidak
mungkin, dan
perdarahan berlebihan
atau tidak teratasi
dengan tirah baring

Hemoragi
berhenti bila
plasenta diangkat
dan sinus-sinus
vena tertutup

Mandiri :

kematian pada
diri sendiri
dan/atau janin
DO :

Klien
tampak
cemas
dengan
kondisin
ya dan
berharap
agar
janinnya
tidak
mengala
mi
masalah
berat
karena
kehamila
n sangat
diharapk
an

mengenai diri,
janin, dan masa
depan kehamilan,
mengenali
ketakutan yang
sehat dan tidak
sehat
Melaporkan/menunj
ukkan
berkurangnya,
ketakutan dan/atau
perilaku yang
menunjukkan
ketakutan

Diskusikan situasi dan


pemahaman tentang
situasi dengan klien dan
pasangan

Memberikan
informasi tentang
reaksi individu
terhadap apa
yang terjadi

Pantau respons verbal


dan nonverbal
klien/pasangan

Menandakan
tingkat rasa takut
yang sedang
dialami klien
/pasangan
Meningkatkan
rasa kontrol
terhadap situasi
dan memberikan
kesempatan pada
klien untuk
mengembangkan
solusi sendiri

Dengan masalah klien


dan dengarkan secara
aktif

Berikan informasi
dalam bentuk verbal
dan tertulis, dan beri
kesempatan klien untuk
mengajukan pertanyaan.
Jawab pertanyaan
dengan jujur.

Pengetahuan
akan membantu
klien mengatasi
apa yang sedang
terjadi dengan
lebih efektif.
Informasi tertulis
nantinya
memungkinkan
klien untuk
meninjau ulang
informasi karena
akibat tingkat
stres, klien tidak
dapt
mengasimilasi
informasi.
Jawaban yang
jujur dapat
meningkatkan
pemahaman
dengan lebih baik
serta menurunkan
rasa takut.

Libatkan klien dalam


perencanaan dan
berpartisipasi dalam
perawatan sebanyak
mungkin

Menjadi mampu
melakukan
sesuatu untuk
membantu
mengontrol
situasi dapat
menurunkan rasa
takut

Jelaskan prosedur dan


arti gejala-gejala

3.

Kurang
Pengetahuan
b.d kurangnya
sumbersumber
informasi
mengenai
kondisi yang
dialami

Klien
berpartisipasi
dalam proses
belajar
Klien
mengungkapkan
dalam istilah
sederhana,
patofisiologi
dan implikasi
situasi klinis

Pengetahuna
dapat membantu
menurunkan rasa
takut dan
meningkatkan
rasa kontrol
terhadap situasi

Mandiri :
Jelaskan tindakan dan
rasional yang
ditentukan untuk
kondisi hemoragi. Beri
penguatan informasi
yang diberikan oleh
pemberi perawatan
kesehatan lain

Memberikan
informais,
memperjelas
kesalahan
konsep, dan
dapat membantu
menurunkan
stress yang
berhubungan

Berikan kesempatan
bagi klien untuk
mengajukan pertanyaan
dan mengungkapkan
kesalahan konsep.

Memberikan
klarifikasi dari
kosnep yang
salah, identifikasi
masalah-masalah,
dan kesempatan
untuk mulai
mengembangkan
keterampilan
koping

Diskusikan
kemungkinan implikasi
jangka pendek pada
ibu/janin dari keadaan
perdarahan

Memberikan
informasi tentang
kemungkinan
komplikasi dan
meningkatkan
harapan realistis
dan kerja sama
dengan aturan
tindakan

Sumber :
Achadiat, Chrisdiono M. 2004. Prosedur Tetap Obstetri dan Ginekologi. Jakarta : EGC
Leveno, Kenneth J. dkk. 2009. Obstetri Williams : Panduan Ringkas. Edisi 21. Alih Bahasa Brahm
U. Pendit Jakarta : EGC
Morgan, Geri dan Hamilton, Carole. 2009. Obstetri dan Ginekologi : Panduan Praktik. Edisi 2. Alih
Bahasa Ramona P. Kapoh. Jakarta : EGC

Manuaba, ida bagus Gde. Penuntun diskusi obstetri dan ginekologi.1993. Jakarta:ECG.
Manuaba. Ida Bagus Gde, dkk. Pengantar Kuliah Obstetri.2007. Jakarta;EGC
Mansjoer, Arief. 2001. Kapita Selekta Kedokteran , edisi ketiga . Media Aesculapius FKUI
.Jakarta
Marilynn

E.

Doenges

&

Mary

Frances

Moorhouse,

2001, Rencana

Perawatan

Maternal/Bayi, edisi kedua. Penerbit buku kedokteran EGC. Jakarta.


Murah, Manoe dkk. 199. Pedoman Diagnosis Dan Terapi Obstetri Dan Ginekologi. Bagian
/SMF obstetri dan ginekologi FK Unhas . Ujung Pandang.
Sandra M. Nettina. 2001. Pedoman Praktik Keperawatan. Penerbit buku kedokteran EGC.
Jakarta.
Sarwono. 1997. Ilmu Kebidanan. Yayasan bina pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta.