Anda di halaman 1dari 4

BAKTEREMIA

Siska (0907101010180)
Pendidikan Dokter FK Unsyiah
1.

Definisi
Bakteremia adalah keadaan dimana terdapatnya bakteri yang mampu hidup dalam

aliran darah secara sementara, hilang timbul atau menetap. Bakteremia merupakan infeksi
sistemik yang berbahaya karena dapat berlanjut menjadi sepsis yang angka kematiannya
cukup tinggi (Chuck dan Sande, 1996; Sjahrurachman, 2004).
2.

Insidensi
Pada anak yang usianya kurang dari 3 bulan, risiko bakteremia adalah 1,2-11%. Pada

anak usia 3-36 bulan, risiko sebesar 10-90% tergatung kriteria-kriteria. Penelitian
menunjukkan bahwa 2-15% dari infant dengan usia di bawah 3 bulan yang demam
mengalami bakteremia (Nicholas, 2012).
3.

Patofisiologi
Patofisiologi dari bakteremia tidak sepenuhnya dimengerti. Mekanisme awal yaitu

adanya kolonisasi bakteri pada mukosa saluran pernafasan ataupun permukaan mukosa
lainnya, bakteri dapat menembus masuk ke dalam vaskular disebabkan oleh faktor host dan
faktor organisme (bakteri) itu sendiri. Bla bakteri telah memiliki akses ke dalam aliran darah,
mereka dapat membentuk infeksi fokal, atau infeksi yang telah ada dapat berkembang
menjadi septikemia, dimana sekuel dari septikemia diantaranya syok, DIC (Disseminated
Intravascular Coagulation), kegagalan multi organ dan kematian (Harper dan Fleisher,
1993).
Demam diidentifikasikan sebagai kenaikan temperatur disebabkan oleh pengaturan
ulang pusat termoregulator pada hipotalamus oleh sitokin. Sitokin dapat diproduksi pada
respon terhadap virus atau bakteri atau oleh kompleks imun (Nicholas, 2012).
4.

Manifestasi Klinis
Durasi dari demam lebih pendek pada pasien dengan temuan positif berupa patogen

bakterial pada kultur darahnya dibandingkan pada pasien dengan kultur darah negatif.
Seringkali, demam merupakan tanda satu-satunya pada bakteremia. Pada saat keadaan
menuju pada sepsis, gejala yang lebih buruk dapat dijumpai. Temperatur, nadi, laju
pernafasan dan tekanan darah dapat sangat berguna dalam dugaan kepada sepsis dan juga
untuk menentukan risiko dari bakteremia (Nicholas, 2012). Takikardi, takipneu, atau

hipotensi pada infant dengan keadaan demam atau hipotermia adalah tanda dari sepsis dan
memerlukan evaluasi lengkap (Harper dan Fleisher, 1993).

5.

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium rutin perlu dilakukan. Perhitungan leukosit adalah parameter

pemeriksaan laboratorium pada bakteremia. Inteleukin (IL-1, IL-6) dan tumor necrosis factor (TNF-) meningkat pada serum dan cairan serebrospinal pada sepsis gram positif dan gram
negatif, kadar nya meningkat seiring dengan peningkatan derajat keparahan. Telah ditemukan
juga bahwa faktor-faktor tersebut juga meningkat pada bakteremia (Kupperman, 1999).
6.

Diagnosis Banding
Bakteremia terkait komunitas adalah diagnosis banding dari malaria pada daerah

endemik (Nielsen, 2012). Demam pada anak yang dicurigai sebagai bakteremia, dapat dibuat
beberapa diagnosis banding untuk infeksi yang mendasari, yang dapat dibuktikan dengan
kultur darah.
7.

Diagnosis
Evaluasi anak dimulai dari menentukan apakah pasien benar-benar demam tanpa sebab

(fever wisthout a asource/FWS). Anak yang letargik dan pasien dengan infeksi fokal dan
sepsis diberikan terapi yang sesuai, dan anak dengan hasil temuan pemeriksaan fisik nonfokal lebih lanjut dievaluasi akan bakteremia (Baker, 1999). Kultur darah dengan temuan
bakteri patogen positif adalah kriteria baku yang digunakan dalam mendefinisikan bakteremia
(Nicholas, 2012).
8.

Penatalaksanaan
Pasien dengan kultur darah positif harus diberikan antibotik dimana bakteri oatogen

tersebut rentan terhadap antibotik yang diberikan. Kesesuaian terapi antibiotik harus dikaji
ulang dalam 24 jam setelah laporan kepekaan/kerentanan tersedia dari laboratorium. Ketika
bakteremia berhubungan dengan meningitis, antibotik yang digunakan harus dapat menembus
sawar darah otak. Jangan memberikan antibiotik yang memiliki efek samping yang serius
atau menimbulkan reaksi alergi. Pada kasus bakteri yang resisten, dibutuhkan pemberian
kombinasi obat. Beberapa pasien bacteremia (misalnya, mereka dengan neutropenia atau
endokarditis) dapat memerlukan dua agen antimikroba yang sesuai (Gross et al., 1994).
Pemberian antipiretik dapat dilakukan untuk menghambat sintesis dan pelepasan
prostaglandin yang memediasi efek pirogen endogen pada hipotalamus, yang mengembalikan

set-point temperatur ke pengaturan yang normal. Antipiretik yang dapat diberikan adalah
ibuprofen dan acetaminophen (Nicholas, 2012).

9.

Komplikasi
Apabila infeksi berlanjut kepada sepsis, dapat menyebabkan kematian. Dari semua

infeksi fokal yang berkembang karena bakteremia pneumokokus, meningitis pneumokokus


memiliki risiko tertinggi untuk morbiditas dan mortalitas yang signifikan, termasuk risiko 2530% dari gejala sisa neurologis seperti tuli, retardasi mental, kejang, dan kelumpuhan
(Nicholas, 2012)
10. Prognosis
Bila infeksi bakteri yang serius terjadi, termasuk pneumonia, septic arthritis,
ostemyelitis, selulitis, meningitis dan sepsis, kematian dapat terjadi. Evaluasi, pengobatan,
dan penatalaksanaan dari bayi demam dan anak-anak beresiko untuk bakteremia secara
signifikan mengurangi risiko untuk infeksi bakteri yang serius dan gejala sisa (Nicholas,
2012).

DAFTAR PUSTAKA
Baker MD. Evaluation and management of infants with fever. Pediatr Clin North Am. Dec
1999;46(6):1061-72.
Chuck S dan Sande M. 1996. Penyakit menular. Dalam: Ronardy DH, editor. Penuntun terapi
medis. Jakarta, EGC.
Gross, P. A, Trisha L. B., Dellinger, E. P., Krause, P. J., Martone, W. J., McGowan, J. E.,
Sweet, R. L. dan Wenzel, R.P. 1994. Quality Standard for the Treatment of
Bacteremia. Clinical Infectious Diseases 18: 428-30.
Harper MB, Fleisher GR. Occult bacteremia in the 3-month-old to 3-year-old age
group. Pediatr Ann. Aug 1993;22(8):484, 487-93.
Kuppermann N. 1996. Occult bacteremia in young febrile children. Pediatr Clin North Am,
46(6): 1073-109.
Nicholas, J. B. 2012. Bacteremia. http://emedicine.medscape.com/article/961169-overview
[diakses April 2013].
Nielsen, M.V., Sarpong, N., Krumkamp, R., Dekker, D., Loag, W., Amemasor, S., Agyekum,
A., Marks, F., Huenger, F., Krefis, A. C., Hagen, R.M., Sarkodie, Y. A., May, J. dan
Schwarz, N.G. 2012. Incidence and Characteristics of Bacteremia among Children in
Rural Ghana. Plos One, 7.

Sjahrurachman, A., Ikaningsih dan Sudiro, T.M. 2004. Profil etiologi bakteremia dan
resistensinya terhadap antibiotik di RSCM Jakarta tahun 1999-2002. Majalah
Kedokteran Indonesia, 54.