Anda di halaman 1dari 15

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Makhluk hidup dapat dibagi atas dua bagian besar jika ditinjau dari segi
biologi yaitu, hewan dan tumbuhan. Kedua kelompok ini sangat tergantung
kepada faktor-faktor yang ada di dalam maupun di luar (eksternal) baik secara
langsung maupun tidak langsung. Sehingga untuk mempelajarinya dibutuhkan
ilmu ekologi. Ekologi merupakan bagian kecil dari Biologi. Yang termasuk dalam
ruang lingkup ekologi lingkungan ialah organisme, populasi, komunitas,
ekosistem, dan biosfer. Ekologi merupakan ilmu yang cakupannya amat luas.
Bagaimana reaksi dari organisme atau individu atau kelompok individu terhadap
lingkungan atau sebaliknya juga dipelajari dalam ekologi.
Berdasarkan objeknya, ekologi dapat diklasifikasikan menjadi ekologi
hewan, ekologi tumbuhan, dan sebagainya. Ekologi tumbuhan adalah ilmu yang
mempelajari hubungan timbal balik antara tumbuhan dengan lingkungannya.
Lingkungan hidup tumbuhan dapat dibagi atas dua kelompok yaitu lingkungan
biotik dan abiotik. Dari lingkungan abiotik tumbuhan memperoleh sumber daya
cahaya, hara mineral, dan sebagainya. Sedangkan dari lingkungan biotiknya,
tumbuhan

melakukan

interaksi

baik

intraspesies

maupun

interspesies.

Kekurangan, kelebihan atau ketidakcocokkan baik dalam lingkungan abiotik


maupun lingkungan biotik akan menyebabkan terjadinya stress pada tumbuhan.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tumbuhan tersebar di alam secara
tidak merata (tidak mempunyai jarak yang sama) hal itu disebabkan perbedaan
kondisi lingkungan, sumber daya, tumbuhan tetangga, dan gangguan yang
merupakan faktor yang mempengaruhi pola dinamika populasi tumbuhan.
Perbedaan perangkat kondisi lingkungan tersebut tidak hanya memodifikasi
distribusi dan kelimpahan individu, tetapi juga merubah laju pertumbuhan,
produksi biji, pola percabangan, area daun, area akar, dan ukuran individu.
Distribusi, survival, pola pertumbuhan serta reproduksi mencerminkan adaptasi
tumbuhan terhadap lingkungan tertentu. Keadaan tersebut menjadi suatu bagian
penting dalam ekologi tumbuhan

Dalam konsep ekologi tumbuhan, populasi diartikan sebagai sekelompok


organisme atau individu dari spesies yang sama yang menempati suatu tempat
atau ruang tertentu dan mampu melakukan persilangan diantaranya dengan
menghasilkan keturunan yang subur. Jadi dalam kondisi seperti ini hubungan
antara individu satu dengan individu lainnya dalam populasi ini dapat melalui dua
jalan yaitu hubungan genetik dan hubungan ekologi (Ardhana, 2012).
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah pada penulisan
makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Apa pengertian populasi tumbuhan?
2. Apa yang dimaksud dengan populasi lokal dan ras ekologi?
3. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi dinamika populasi?
4. Apa yang dimaksud dengan hubungan ekologi?
5. Apa saja pola penyebaran individu itu?
6. Apa yang dimaksud dengan pertumbuhan populasi?
C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan penulisan makalah ini
adalah sebagai berikut.
1. Menjelaskan pengertian populasi tumbuhan.
2. Menjelaskan populasi lokal dan ras ekologi.
3. Menyebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi dinamika populasi.
4. Menjelaskan hubungan ekologi.
5. Menjelaskan pola penyebaran individu.
6. Menjelaskan pertumbuhan populasi.
D. Manfaat
Diharapkan penulisan makalah ini dapat memberikan manfaat sebagai berikut.
1. Memperoleh pemahaman tentang struktur populasi tumbuhan.
2. Memperoleh pemahaman tentang dinamika populasi tumbuhan dalam suatu
ekosistem.
3. Memperoleh pemahaman tentang faktor-faktor yang mempengaruhi dinamika
populasi tumbuhan.
4. Mengetahui tentang pola penyebaran populasi.
5. Mengetahui tentang pertumbuhan populasi.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Populasi
Populasi merupakan sekelompok organisme dari spesies yang sama yang
menempati suatu ruang tertentu, dan mampu melakukan persilangan diantaranya
dengan menghasilkan keturunan yang fertil. Jadi hubungan antara organisme satu

dengan organisme lainnya dalam populasi dapat melalui dua jalan yaitu hubungan
genetika dan hubungan ekologi (Syafei, 1990).
Menurut Wirakusumah (2003) dalam Ardhana (2012) pengertian populasi
dirumuskan sebagai kumpulan individu organisme-organisme di suatu tempat
yang memiliki sifat-sifat serupa, mempunyai asal usul yang sama, dan tidak ada
yang menghalangi individu-individu anggotanya untuk berhubungan satu sama
lain mengembangkan keturunan secara bebas. Individu-individu itu merupakan
kumpulan-kumpulan heteroseksual.
B. Populasi Lokal dan Ras Ekologi
Dalam situasi tertentu sekelompok individu ada kemungkinan secara
genetika terisolasi, persilangan hanya memungkinkan terjadi diantara anggota
kelompok itu sendiri. Kelompok organisme-organisme yang terisolasi tersebut
biasanya disebut

populasi lokal. Populasi lokal merupakan unit dasar dalam

proses evolusi, pertukaran gen terjadi secara terus-menerus dalam waktu yang
relatif lama sehingga terjadi struktur gen yang khusus untuk kelompok tersebut
dan akan berbeda dengan struktur gen populasi lokal lainnya meski untuk spesies
yang sama. Hal ini dikarenakan adanya seleksi alami yang beroperasi
terhadapnya, sehingga menghasilkan individu-individu dengan susunan gen yang
memberi kemungkinan untuk bertahan terhadap lingkungan lokal, dan akan
berkembang dalam jumlah yang semakin banyak jika dibandingkan dengan
individu-individu yang tidak tahan (Ardhana, 2012).
Salah satu jalan suatu populasi lokal dapat beradaptasi terhadap suatu
lingkungan adalah dengan pengembangan dan pengelolaan diversitas genetikanya
melalui reproduksi seksual dalam populasi. Hasilnya adalah sekelompok atau
susunan individu-individu yang masing-masing berbeda dalam toleransinya
terhadap lingkungan, salah satunya ada kemungkinan mempunyai kemampuan
yang sangat baik dalam toleransinya terhadap kondisi lingkungan yang ekstrim
daripada rata-rata anggota populasi lainnya. Dengan demikian kehetrogenan
struktur

gen

dari

anggota

populasi

mempersiapkan

populasi

terhadap

kehancurannya akibat lingkungan, misalnya terhadap kemarau yang panjang


(Syafei, 1990).

Hal yang sejalan terjadi pula dalam kurun waktu yang relatif lama dan
lamban sebagai reaksi terhadap perubahan iklim, dalam hal ini bisa ratusan
bahkan ribuan tahun. Dengan demikian keheterogenan struktur gen merupakan
cara dalam mempertahankan hidup, dan ini sebagai mekanisme beradaptasinya
suatu populasi akibat seleksi alami.
seleksi
Populasi Lokal

Adaptasi Genetka
alami

Dalam lingkungan
yang khusus

Melalui individu-individu yang


tahan berdasarkan gen/
kombinasi gen tertentu

Dalam suatu kawasan yang secara umum mempunyai kondisi yang relatif sama,
populasi lokal dari spesies yang ada berkecenderungan untuk memperlihatkan
toleransi terhadap lingkungan yang relatif sama pula, tetapi akan berbeda
toleransinya dengan spesies lokal lainnya (dari spesies yang sama) yang berada
pada kondisi iklim yang berbeda. Populasi lokal seperti ini biasa dikenal dengan
ras ekologi. Contoh yang terkenal dari ras ekologi adalah di Skandinavia dimana
terdapat dua populasi yang secara sistematik dimasukkan dalam satu spesies yang
sama meskipun kedua populasi ini mempunyai karakteristik yang berbeda.
Populasi di daerah pegunungan mempunyai karakteristik bentuk morfologi yang
kerdil dan berbunga cepat, sedangkan populasi di daerah pantai bentuk
morfologinya tinggi tetapi berbunga lambat. Orang semula memperkirakan bila
individu dari populasi di pegunungan dipindahkan atau ditumbuhkan di pantai
maka akan tumbuh dengan karakteristik populasi pantai, demikian pula
sebaliknya. Contoh-contoh lain biasanya akan ditemukan pada daerah kontinental
yang luas. Jadi suatu ras ekologi adalah juga populasi lokal yang terbentuk oleh
karakteritika individu-individunya (Arhana, 2012).
Apabila perubahan lingkungan pada suatu kawasan yang luas berubah
secara teratur, maka adaptasi genetikanya akan terjadi secara teratur pula, dan
dengan demikian sebagai hasilnya akan terjadi perbedaaan yang nyata seperti
pada ras yang terbentuk adalah suatu seri tumbuhan yang berurutan, yang

memperlihatkan keteraturan secara terus-menerus atau kontinu dalam sifat


genetikanya sebagai penentu dalam toleransi terhadap lingkunganya. Populasipopulasi dari sekelompok organisme-organisme dengan karakteristik yang
berbeda secara teratur atau berurutan ini disebut ekoklin. Jadi berdasarkan dua hal
di atas, maka suatu spesies dapat merupakan ras ekologi atau berupa kompleks
dari ekoklin. Dua pendekatan dalam kajian populasi ini, yaitu melalui ekologi
populasi yang mendalami pertumbuhan suatu populasi dan interaksi diantara
populasi-populasi yang berhubungan erat di dalam pengaruh faktor lingkungan
yang terkontrol ataupun tidak terkontrol. Pendekatan lainnya yaitu mempelajari
satu atau lebih populasi lokal dari suatu spesies dalam usaha untuk mempelajari
genetika spesies sebagai penentu toleransinya terhadap kondisi lingkungannya,
kajian ini disebut ekologi gen atau ekologi fisiologi perbandingan. Pembahasan
selanjutnya akan ditekankan pada ekologi populasi. Besarnya suatu populasi di
suatu kawasan tertentu biasanya disebut kerapatan atau kepadatan populasi.
Kerapatan populasi dapat dinyatakan dalam: jumlah individu persatuan luas, atau
dapat pula dinyatakan dalam biomasa persatuan luas (bila populasi tersebut
dibentuk oleh individu-individu dengan ukuran berbeda, ada kecambah, ada
anakan dan tumbuhan dewasa serta tumbuhan tua) (Syafei, 1990).
Dalam perjalanan waktu suatu populasi besarannya akan mengalami
perubahan. Dalam mempelajari perubahan-perubahan ini pengertian kecepatan
memegang peranan penting, dan perubahan populasi ini sangat ditentukan oleh
berbagai faktor (kelahiran atau regenerasi, kematian, perpindahan masuk, dan
perpindahan keluar). Besarnya populasi tumbuhan di alam sangat ditentukan oleh
kapasitas tampungnya, yaitu jumlah terbanyak individu yang dapat ditampung
dalam suatu ekosistem di mana organisme itu masih dapat hidup. Dalam keadaan
ini persaingan intraspesies dalam keadaan maksimal yang dapat ditanggung oleh
organisme tersebut. Berbagai faktor sebagai pendorong untuk terjadinya fluktuasi
ini, yaitu: perubahan musim yang menyebabkan perubahan-perubahan faktor
fisika dan mungkin juga kimia lingkungannya. Contoh yang menarik adalah
kenaikan jumlah plankton yang sangat menyolok pada musim tertentu yang
disebut plankton bloom (Syafei, 1990).
Terjadinya fluktuasi tahunan disebabkan oleh.

1. Faktor dalam, misalnya karakteristik atau toleransi yang berbeda antar tanaman
dewasa dengan kecambah dan anakan pohonnya.
2. Faktor luar, misalnya interaksi dengan populasi lain baik tumbuhan atau
hewan.
C. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Dinamika Populasi
Faktor-faktor yang mempengaruhi keberadaan populasi tumbuhan dengan
dinamikanya antara lain.
1. Kondisi Lingkungan (abiotik) meliputi faktor fisik dan kimia. Faktor fisik
utama yang mempengaruhi ekosistem dan populasi tumbuhan adalah sebagai
berikut.
a. Suhu
Suhu berpengaruh terhadap populasi karena suhu merupakan syarat yang
diperlukan organisme untuk hidup dan melakukan reaksi metabolisme.
Suhu terbaik untuk hidup pada suatu organisme dikenal dengan istilah
b.

c.

suhu optimum.
Cahaya Matahari
Cahaya matahari merupakan unsur vital yang dibutuhkan oleh tumbuhan
sebagai produsen untuk berfotosintesis.
Air
Bagi tumbuhan, air diperlukan dalam pertumbuhan, perkecambahan, dan

d.

penyebaran biji
Tanah
Tanah merupakan tempat hidup bagi organisme. Jenis tanah yang berbeda
menyebabkan organisme yang hidup didalamnya juga berbeda. Tanah juga
menyediakan unsur-unsur penting bagi pertumbuhan organisme, terutama

e.

tumbuhan.
Ketinggian
Ketinggian tempat menentukan jenis organisme yang hidup di tempat
tersebut, karena ketinggian yang berbeda akan menghasilkan kondisi fisik

f.

dan kimia yang berbeda.


Angin
Angin selain berperan dalam menentukan kelembapan juga berperan

g.

dalam penyebaran biji tumbuhan tertentu.


Garis lintang

Garis lintang secara tak langsung menyebabkan perbedaan distribusi


organisme di permukaan bumi. Ada organisme yang mampu hidup pada
garis lintang tertentu saja.
2. Kompetisi
Interaksi yang terjadi antarspesies anggota populasi akan memengaruhi
terhadap kondisi populasi karena tindakan individu dapat mempengaruhi
kecepatan pertumbuhan atau kehidupan populasi. Menurut Odum (1993),
setiap anggota populasi dapat memakan anggota-anggota populasi lainnya,
bersaing terhadap makanan, mengeluarkan kotoran yang merugikan lainnya,
dapat saling membunuh, dan interaksi tersebut dapat searah ataupun dua arah
(timbal balik). Oleh karena itu, dari segi pertumbuhan atau kehidupan
populasi, interaksi antarspesies anggota populasi dapat berupa interaksi yang
positif, negatif dan nol. Dengan kata lain, anggota-anggota populasi saling
bersaing dan berkompetisi untuk mempertahankan kehidupan untuk eksis
pada tempat tertentu. Kompetisi antara tanaman terjadi karena faktor tumbuh
yang terbatas. Faktor yang dikompetisikan antara lain unsur hara, cahaya,
CO2, cahaya dan ruang tumbuh. Besarnya daya kompetisi tumbuhan
kompetitor tergantung pada beberapa faktor antara lain jumlah individu dan
berat tanaman kompetitor, siklus hidup tanaman kompetitor, periode tanaman,
dan jenis tanaman

3. Gangguan
Dapat berupa hama yang menganggu pada pertumbuhan dengan cara
memakan bagian dari tumbuhan tersebut dan penyakit yang mengganggu
pertumbuhan yang disebabkan serangan mikroorganisme pada bagian atau
keseluruhan tubuh tumbuhan yang dapat menyebabkan kematian. Selain itu,
ulah manusia juga dapat menjadi gangguan bagi pertumbuhan dan populasi
tumbuhan.
4. Ketersediaan Propagul (biogeografi)
Propagul adalah bagian-bagian tumbuhan yang nantinya berkembang menjadi
tumbuhan baru. Misalnya: biji, batang (pada perbanyakan stek batang).
Propagul dapat beradaptasi untuk penyebaran jarak dekat mapun jauh.

D. Hubungan Ekologi
Besarnya suatu populasi di suatu kawasan tertentu biasanya dinyatakan
sebagai kerapatan atau kepadatan populasi. Kerapatan populasi dinyatakan dalam
jumlah individu persatuan luas. Dalam perjalanan waktu besarnya suatu populasi
akan mengalami perubahan yang ditentukan oleh berbagai faktor seperti kelahiran
atau regenerasi, kematian, imigrasi, dan emigrasi jika berkaitan dengan hewan.
Sedangkan jika kajiannya tentang ekologi tumbuhan maka dinamika populasi
berkaitan dengan kajian suksesi karena pada tumbuhan tidak terjadi adanya
pergerakan atau perpindahan tempat. Adanya generasi baru yang muncul akibat
biji yang datang dari luar petak contoh kemungkinan akan terjadi. Dengan
demikian populasi tumbuhan tergantung dari populasi semula generasi baru (B)
dan kematian (D) (Arhana, 2012).
Besarnya populasi tumbuhan di alam sangat ditentukan oleh daya
tampungnya, yaitu jumlah terbanyak individu yang dapat ditampung dalam suatu
ekosistem dimana organisme itu masih dapat hidup. Dalam keadaan ini persaingan
intraspesies adalah dalam keadaan maksimal yang dapat ditanggung oleh
organisme tersebut. Meskipun dalam pembahasan di atas populasi seolah tetap
pada kapasitas tampungnya tetapi pada kenyataannya berkecenderungan untuk
berfluktuasi di atas dan di bawah kapasitas tampungnya. Berbagai faktor sebagai
daya pendorong untuk terjadinya fluktuasi yaitu perubahan musim yang
menyebabkan perubahan faktor fisika dan mungkin juga kimia lingkungannya
(Syafei, 1990).
E. Pola Penyebaran Individu
Ardhana (2012) menyebutkan bahwa penyebaran atau distribusi tumbuhan
dalam suatu populasi bisa bermacam-macam, pada umumnya memperlihatkan tiga
pola penyebaran, yaitu
1. Penyebaran secara acak jarang terdapat di alam. Penyebaran ini biasanya
terjadi apabila faktor lingkungan sangat beragam untuk seluruh daerah di
mana populasi berada, selain itu tidak ada sifat-sifat untuk berkelompok dari
organisme tersebut. Dalam tumbuhan ada bentuk-bentuk organ tertentu yang
menunjang untuk terjadinya pengelompokan tumbuhan.
2.

Penyebaran secara merata, umumnya terdapat pada tumbuhan. Penyebaran


semacam ini terjadi apabila ada persaingan yang kuat antara individu-individu

10

dalam populasi tersebut. Pada tumbuhan misalnya persaingan untuk


mendapatkan nutrisi dan ruang.
3.

Penyebaran secara berkelompok, adalah yang paling umum di alam, terutama


untuk hewan. Pengelompokan ini disebabkan oleh berbagai hal seperti
berikut.
a. Respon dari organisme terhadap perbedaan habitat secara lokal.
b. Respon dari organisme terhadap perubahan cuaca musiman.
c. Akibat dari cara atau proses reproduksi atau regenerasi.
d. Sifat-sifat organisme dengan organ vegetatifnya yang menunjang untuk
terbentuknya kelompok atau koloni.

Gambar 1. Pola distribusi pada suatu populasi


Syafei (1990) menjelaskan bahwa dalam ekologi populasi dikembangkan
suatu cara untuk memahami pola distribusi dari individu dalam populasinya,
diantaranya yaitu dengan memanfaatkan penyebarab Poisson dengan asumsi
pertama individu-individu menyebar secara acak. Perlu diingat cara ini akan
memberikan hasil yang baik apabila jumlah individu setiap satu meter peregi
adalah rendah. Berdasarkan asumsi penyebaran individu-individu maka dapat
diketahui jika.
a. Penyebaran acak (random) maka dapat didefinisikan bahwa varian (v) adalah
sama dengan harga rata-rata.
b. Penyebaran berkelompok (clumped) didefinisikan jika varian lebih besar dari
harga rata-rata.
c. Penyebaran merata (regular) apabila varians lebih kecil dari harga rata-rata.
Populasi tidaklah statis, individu akan muncul dari waktu ke waktu
sedangkan yang tua akan mati dan hilang dari ekosistemnya. Apabila pertambahan
yang baru lebih banyak jika dibandingkan dengan yang mati tua maka populasi

11

mengarah ke bertambah besar. Sebaliknya apabila yang mati tua lebih banyak
daripada yang baru muncul maka populasi mengecil. Untuk menggambarkan
apakah populasi suatu jenis tumbuhan dikomunitasnya berkembang atau mengecil
dalam ekologi tumbuhan sering dijabarkan dalam gambaran struktur umur dari
populasi tadi yang dinyatakan dengan diameter pohon sebagai gambaran dari
kelas umur. Dalam hal ini adanya korelasi antara diameter pohon dengan umur
tumbuhan dijadikan sebagai dasar pemikiran (Syafei, 1990).
F. Pertumbuhan Populasi
Laju pertumbuhan populasi dinyatakan dalam jumlah individu, yang
dalam pertambahan populasi dibagi jangka waktu terjadinya penambahan ini dan
dapat dirumuskan sebagai berikut.
Laju pertumbuhan= N/ t
Dimana:
N = jumlah individu populasi asal
= besar perubahan
T= waktu
Jadi N menunjukkan setiap perubahan individu dalam populasi, dan t
interval waktu dari perubahan itu. Ada beberapa cara untuk menghitung natalitas
tetapi selalu dihubungkan dengan mortalitas yang juga terjadi. Keseluruhan proses
ini disebut sebagai laju pertumbuhan. Konsep dasar dari fenomena pertumbuhan
populasi adalah pertumbuhan eksponensial. Pertambahan populasi dapat
dinyatakan dengan perbedaan antara natalitas dan mortalitas secara instan. Jadi
N dalam persamaan di atas dN dan dt, dalam persamaan dt besarnya perubahan
pada suatu momen waktu. Sehingga laju pertumbuhan populasi dapat dirumuskan
dN/dt.

12

Gambar 2. Kurva Eksponensial


Kenyataannya teori pertumbuhan populasi senantiasa mendapatkan
perlawanan dari lingkungan yang menurunkan natalitas dan meningkatkan
mortalitas. Perlawanan lingkungan diberi simbol K dan dapat dirumuskan dalam
rumus sebagai berikut.
dN/dt = r.N (K-N)/K
pembatasan terhadap potensi biotik suatu populasi yang berlaku pada ukuran
populasi tertentu oleh perlawanan lingkungan dari sederetan kondisi tertentu oleh
perlawanan lingkungan dari sederetan kondisi tertentu disebut daya dukung
(carrying capacity) yang biasanya disebabkan oleh habisnya pakan atau ruang.
Hubungan potensi biotik, kurva pertumbuhan populasi dan daya dukung
lingkungan yang terjadi pada spesies-spesies populasi hewan ataupun vegetasi dan
mikroorganisme yang kurvanya mengikuti kecenderungan bentuk S (sigmoid).

Gambar 3. Kurva Sigmoid

13

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Populasi merupakan sekelompok organisme dari spesies yang sama yang
menempati suatu ruang tertentu, dan mampu melakukan persilangan
diantaranya dengan menghasilkan keturunan yang fertil.
2. Populasi lokal merupakan unit dasar dalam proses evolusi, pertukaran gen yang
terjadi secara terus-menerus dalam waktu yang relatif lama sehingga terjadi

14

struktur gena yang khusus untuk kelompok tersebut dan akan berbeda dengan
struktur gen populasi lokal lainnya meski untuk spesies yang sama.
3. Dalam suatu kawasan yang secara umum mempunyai kondisi yang relatif
sama, populasi lokal dari species yang ada berkecenderungan untuk
memperlihatkan toleransi terhadap lingkungan yang relatif sama pula, tetapi
akan berbeda toleransinya dengan species lokal lainnya (dari spesies yang
sama) yang berada pada kondisi iklim yang berbeda. Populasi lokal seperti ini
biasa dikenal dengan ras ekologi.
4. Populasi-populasi dari sekelompok organisme-organisme dengan karakteristik
yang berbeda secara teratur atau berurutan ini disebut ekoklin.
5. Dua pendekatan dalam kajian populasi ini, yaitu melalui ekologi populasi dan
ekologi gen atau ekologi fisiologi perbandingan.
6. Faktor-faktor yang mempengaruhi keberadaan populasi tumbuhan dengan
dinamikanya antara lain suhu, cahaya matahari, air, tanah, ketinggian, angin,
garis lintang, kompetisi, gangguan, dan ketersediaan propagul (biogeografi).
7. Dinamika populasi berkaitan dengan kajian suksesi dan besarnya populasi
tumbuhan di alam sangat ditentukan oleh daya tampungnya.
8. Pola penyebaran populasi pada umumnya terdiri dari penyebaran acak, teratur,
dan berkelompok.

B. Saran
Dalam penulisan makalah ini masih memiliki kekurangan dalam referensi
yang digunakan karena itu untuk memperbaikinya diperlukan referensi lain yang
lebih mendukung perbaikan dari makalah yang kami buat.

15

DAFTAR PUSTAKA
Arhdana, I Putu Gede. 2012. Ekologi Tumbuhan. Denpasar: Udayana Press.
Damayanti, Kristina. 2012. Ekologi Tumbuhan. (Online),
(http://www.scribd.com/doc/129534843/makalahekologi-1, diakses
tanggal 6 April 2014).
Ekawati, Risma. 2011. Populasi. (Online), (http://roryblogrory.blogspot.com/2011/12/populasi.html, diakses tanggal 6 April 2014).
Odum, Eugene P. 1993. Dasar-Dasar Ekologi. Yogyakarta: UGM Press.
Syafei, Eden Surasma. 1990. Pengantar Ekologi Tumbuhan. Bandung: FMIPA
IPB.