Anda di halaman 1dari 19

Permohonan Pasien atas Tindakan Medis

Fransisca Febriana
10-2010-184
D5
Mahasiswi, Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jakarta Barat
Jalan Arjuna Utara No. 6 Jakarta Barat 11510
Telp. 021-56942061 Fax. 021-5631731
e-mail : anime4eva@live.com
_________________________________________________________________________
PENDAHULUAN
Diagnosis dokter bagi seorang pasien merupakan suatu hal yang menakutkan, karena
pasien dengan terpaksa harus menerima keadaan dirinya dalam kondisi sakit. Apalagi jika
sakit yang ia derita cukup berat, seperti kanker maka pasien akan sulit menerima keadaan
dirinya.
Banyak pasien yang terdiagnosa menderita kanker enggan untuk melanjutkan
pengobatan. Hal tersebut didasari karena rasa keputusasaan, takut, dan kecemasan akan
penyakitnya yang mungkin menurut dirinya tidak dapat disembuhkan. Dengan pemikiran
seperti itu banyak pasien kanker yang memilih untuk tidak berobat atau melakukan eutanasia
atau bunuh diri.
Dalam bidang medis eutanasia sendiri diperbolehkan dengan indikasi medis tertentu ,
namun dalam bidang hukum eutanasia baik aktif maupun pasif tidak diperbolehkan dan ada
tindak pidananya. Dalam makalah ini akan dibahasa etika kedokteran dan aspek hukum
mengenai tindakan eutanasia.

PEMBAHASAN
Skenario PBL V. Seorang pasien berusia 62 tahun datang ke rumah sakit dengan karsinoma
kolon yang telah terminal. Pasien masih cukup sadar berprndidikan cukup tinggi. Ia
memahami benar posisi kesehatannya dan keterbatasan kemampuan ilmu kedokteran saat ini,
ia juga memiliki pengalaman pahit sewaktu kakaknya menjelang ajalnya dirawat di ICU
dengan peralatan bermacam-macam tampak sangat menderita , dan alat-alat tersebut
tampaknya hanya memperpanjang penderitaannya saja. Oleh karena itu ia meminta kepada

dokter apabila dia mendekati ajalnya agar menerima terapi yang minimal saja (tanpa
antibiotika, tanpa peralatan ICU, dll), dan ia ingin mati dengan tenang dan wajar. Namun ia
tetap setuju apabila ia menerima obat-obatan penghilang rasa sakit bila memang dibutuhkan.
Dari skenario ini rumusan masalahnya adalah seorang pasien (62) yang menderita carcinoma
colon stadium terminal, dimana pasien tersebut meminta dokter untuk hanya memberikan
pelayanan minimal kepadanya. Dalam kasus ini dokter menyetujui permintaan pasien setelah
dilakukan informed consent.

Etika Kedokteran
Etika adalah disiplin ilmu yang mempelajari baik buruk atau benar-salahnya suatu
sikap dan atau perbuatan seseorang individu atau institusi dari moralitas. Terdapat dua teori
etika yang paling banyak digunakan orang banyak yaitu teori deontologi dn teleologi.
Denteologi mengajarkan bahwa baik buruknya suatu perbuatan harus dilihat dari
perbuatannya itu sendiri, sedangkan teologi mengajarkan untuk menilai baik-buruknya
tindakan dengan melihat hasilnya dan akibatnya. Deontologi lebih mendasarkan kepada
ajaran agama, tradisi dan budaya, sedangkan teleologi lebih kearah penalaran dan
pembenaran kepada azas manfaat.1
Ada dua macam etika yang harus kita pahami bersama dalam menentukan baik dan buruknya
perilaku manusia terutamanya apabila menyangkut ilmu profesi kedokteran yang berhadapan
dengan pasien:

Etika deskriptif :
Yaitu etika yang berusaha meneropong secara kritis dan rasional sikap dan prilaku
manusia dan apa yang dikejar oleh manusia dalam hidup ini sebagai sesuatu yang
bernilai. Etika deskriptif memberikan fakta sebagai dasar untuk mengambil
keputusan tentang prilaku atau sikap yang mau diambil.

Etika normatif:

Yaitu etika yang berusaha menetapkan berbagai sikap dan pola prilaku ideal yang
seharusnya dimiliki oleh manusia dalam hidup ini sebagai sesuatu yang bernilai.
Etika normatif memberi penilaian sekaligus memberi norma sebagai dasar dan
kerangka tindakan yang akan diputuskan.2

Etika secara umum dapat dibagi menjadi :

Etika Umum :
Mengenai kondisi-kondisi dasar bagaimana manusia bertindak secara etis,,tentang
bagaimana manusia mengambil keputusan etis, teori-teori etika dan prinsip-prinsip
moral dasar yang menjadi pegangan bagi manusia dalam bertindak serta tolak ukur
dalam menilai baik atau buruknya suatu tindakan.Etika umum dapat di analogkan
dengan ilmu pengetahuan, yang membahas mengenai pengertian umum dan teoriteori.

Etika khusus :
Penerapan prinsip-prinsip moral dasar dalam bidang kehidupan yang khusus.
Penerapan ini bisa berwujud :
- mengambil keputusan dan bertindak dalam bidang kehidupan dan kegiatan yang
dilakukan
- menilai perilaku diri dan orang lain dalam bidang kegiatan dan kehidupan khusus
yang
- dilatarbelakangi oleh kondisi yang memungkinkan manusia bertindak etis
- mengambil suatu keputusan atau tindakan, dan teori serta prinsip moral dasar yang
ada dibaliknya.

Etika khusus dibagi lagi menjadi dua bagian :


a. Etika individual, yaitu menyangkut kewajiban dan sikap manusia terhadap dirinya sendiri.
b. Etika sosial, yaitu berbicara mengenai kewajiban, sikap dan pola perilaku manusia sebagai
anggota umat manusia.1,3

A. Prinsip-prinsip etika profesi :


1. Tanggung jawab

Terhadap pelaksanaan pekerjaan itu dan terhadap hasilnya.

Terhadap dampak dari profesi itu untuk kehidupan orang lain atau masyarakat
pada umumnya.

2. Keadilan untuk memberikan kepada siapa saja apa yang menjadi haknya.
3. Otonomi menuntut agar setiap kaum profesional diberi kebebasan menjalankan
profesinya.1

B. Peranan etika dalam profesi:


1. Suatu kelompok diharapkan akan mempunyai tata nilai untuk mengatur kehidupan
bersama kerana nilai-nilai etika itu tidak hanya milik satu atau dua orang, atau
segolongan orang saja, tetapi milik setiap kelompok masyarakat, bahkan kelompok
yang paling kecil yaitu keluarga sampai pada suatu bangsa.
2. Salah satu golongan masyarakat yang mempunyai nilai-nilai yang menjadi landasan
dalam pergaulan baik dengan kelompok atau masyarakat umumnya maupun dengan
sesama anggotanya, yaitu masyarakat profesional. Golongan ini sering menjadi pusat
perhatian karena adanya tata nilai yang mengatur dan tertuang secara tertulis (yaitu
kode etik profesi) dan diharapkan menjadi pegangan para anggotanya.
3. Sorotan masyarakat menjadi semakin tajam manakala perilaku-perilaku sebagian para
anggota profesi yang tidak didasarkan pada nilai-nilai pergaulan yang telah disepakati
bersama (tertuang dalam kode etik profesi), sehingga terjadi kemerosotan etik pada
masyarakat profesi tersebut. 4,5

C. Tujuan kode etik profesi:


1. Untuk menjunjung tinggi martabat profesi.
2. Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggota.
3. Untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi.
4. Untuk meningkatkan mutu profesi.
5. Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi.
6. Meningkatkan layanan di atas keuntungan pribadi.
7. Mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat.6

Terdapat 4 kaidah dasar dalam etika kedokteran, yaitu:

Prinsip Otonomi

Yaitu prinsip moral yang menghormati hak-hak pasien, terutama hak otonomi pasien
( the rights to self determination). Prinsip moral inilah yang kemudian melahirkan
doktrin informed consent. Maksudnya tiap individu harus diperlakukan sebagai
makhluk hidup yang memiliki otonomi (hak untuk menentukan nasibnya sendiri).
Tindakan konkrit dari autonomi meliputi:1
1. Menghargai hak menentukan nasibnya sendiri
2. Tidak mengintervensi pasien dalam membuat keputusan (pada kondisi elektif)
3. Berterus terang
4

4. Menghargai privasi
5. Menjaga rahasi pasien
6. Menghargai rasionalitas pasien
7. Melaksanakan informed consent
8. Membiarkan pasien dewasa dan kompeten mengambil keputusan sendiri
9. Tidak mengintervensi atau menghalangi autonomi pasien
10. Mencegah pihak lain ,emgintervensi pasien dalam membuat keputusan,
termasuk keluarga pasien sendiri
11. Sabar menunggu keputusan yang akan diambil pasien pada kasus non emergensi
12. Tidak berbohong kepada pasien meskipun demi kebaikan pasien
13. Menjaga hubungan.

Prinsip Beneficence
Yaitu prinsip moral yang mengutamakan tindakan yang ditujukan untuk kebaikan
pasien. Dalam beneficence tidak hanya dikenal perbuatan untuk kebaikan saja,
melainkan juga perbuatan yang sisi baiknya lebih besar dari pada sisi buruknya.
Tindakan konkrit dari beneficience meliputi:
1. Mengutamakan altruisme (menolong tanpa pamrih, rela berkorban untuk
kepentingan orang lain)
2. Menjamin nilai pokok harkat dan martabat manusia
3. Memandang pasien/keluarga/sesuatu tidak hanya sejauh menguntungkan dokter
4. Mengusahakan agar kebaikan/manfaatnya lebih banyak dibandingkan dengan
keburukannya
5. Paternalisme bertanggung jawab/berkasih sayang
6. Menjamin kehidupan baik
7. Pembatasan goal based
8. Maksimalisasi pemuasan kebahagiaan / preferensi pasien
9. Minimalisasi akibat buruk
10. Kewajiban menolong pasien gawat darurat
11. Menghargai hak-hak pasien secara keseluruhan
12. Tidak menarik honorarium di luar kepantasan
13. Maksimalisasi kepuasan tertinggi secara keseluruhan
14. Mengembangkan profesi secara terus-menerus
15. Memberikan obat berkhasiat namun murah
5

16. Menerapkan Golden Rule Principle, dimana kita harus memperlakukan orang
lain seperti kita ingin diperlakukan oleh orang lain.1,4

Prinsip Non-malaficence
Yaitu prinsip moral yang melarang tindakan yang dapat memperburuk keadaan
pasien. Prinsip ini dikenal sebagai primum non nocere atau above all do no
harm. Tindakan konkrit dari non-maleficence meliputi:
1. Menolong pasien emergensi
2. Kondisi untuk menggambarkan criteria ini adalah:
3. Mengobati pasien yang luka
4. Tidak membunuh pasien (tidak melakukan euthanasia)
5. Tidak menghina/mencaci maki/memanfaatkan pasien
6. Tidak memandang pasien hanya sebagai objek
7. Mengobati secara tidak proporsional
8. Mencegah pasien dari bahaya
9. Menghindari misinterpretasi dari pasien
10. Tidak membahayakan kehidupan pasien karena kelalaian
11. Memberiksan semangat hidup
12. Melindungi pasien dari serangan
13. Tidak melakukan white collar crime dalam bidang kesehatan/ kerumah-sakitan
yang merugikan pihak pasien/ keluarganya.

Prinsip Justice
Yaitu prinsip moral yamg mementingkan fairnes dan keadilan dalam bersikap
maupun dalam mendistribusikan sumber daya (distributive justice). Maksudnya
adalah memperlakukan semua pasien sama dalam kondisi yang sama. Tindakan
konkrit yang termasuk justice meliputi:
1. Memberlakukan segala sesuatu secara universal
2. Mengambil porsi terakhir dari proses membagi yang telah ia lakukan
3. Memberi kesempatan yang sama terhadap pribadi dalam posisi yang sama
4. Menghargai hak sehat pasien (affordability, equality, accessibility, availability,
quality)
5. Menghargai hak hukum pasien

6. Menghargai hak orang lain


7. Menjaga kelompok yang rentan (yang paling merugikan)
8. Tidak membedakan pelayanan pasien atas dasar SARA, status social, dll
9. Tidak melakukan penyalahgunaan
10. Memberikan kontribusi yang relative sama dengan kebutuhan pasien
11. Meminta partisipasi pasien sesuai kemampuannya
12. Kewajiban mendistribusi keuntungan dan kerugian (biaya, beban, sanksi)
secara adil
13. Mengembalikan hak kepada pemiliknya pada saat yang tepat dan kompeten
14. Tidak memberi beban berat secara tidak merata tanpa alasan sah/tepat
15. Menghormati hak populasi yang sama-sama rentan penyakit/gangguan
kesehatan
16. Bijak dalam makroalokasi.5

Euthanasia
Euthanasia dalam Oxford English Dictionary dirumuskan sebagai kematian yang
lembut dan nyaman, dilakukan terutama dalam kasus penyakit yang penuh penderitaan dan
tak tersembuhkan. Istilah yang sangat populer untuk menyebut jenis pembunuhan ini adalah
mercy killing (Tongat, 2003 :44). Sementara itu menurut Kamus Kedokteran Dorland
euthanasia mengandung dua pengertian. Pertama, suatu kematian yang mudah atau tanpa rasa
sakit. Kedua, pembunuhan dengan kemurahan hati, pengakhiran kehidupan seseorang yang
menderita penyakit yang tak dapat disembuhkan dan sangat menyakitkan secara hati-hati dan
disengaja. Secara konseptual dikenal tiga bentuk euthanasia, yaitu:
A. Voluntary euthanasia: euthanasia yang dilakukan atas permintaan pasien itu sendiri
karena penyakitnya tidak dapat disembuhkan dan dia tidak sanggup menahan rasa sakit
yang diakibatkannya
B. Non voluntary euthanasia: di sini orang lain, bukan pasien, mengandaikan, bahwa
euthanasia adalah pilihan yang akan diambil oleh pasien yang berada dalam keadaan tidak
sadar tersebut jika si pasien dapat menyatakan permintaannya
C. Involuntary euthanasia :merupakan pengakhiran kehidupan pada pasien tanpa
persetujuannya.4

Dari penggolongan Euthanasia, yang paling praktis & mudah dimengerti adalah:
A. Euthanasia aktif, tindakan secara sengaja dilakukan oleh dokter atau tenaga kesehatan lain
untuk memperpendek atau mengakhiri hidup pasien. Merupakan tindakan yang dilarang,
kecuali di negara yang telah membolehkannya lewat peraturan perundangan.
B. Euthanasia pasif, dokter atau tenaga kesehatan lain secara sengaja tidak (lagi)
memberikan bantuan medis yang dapat memperpanjang hidup pasien, misalnya
menghentikan pemberian infus, makanan lewat sonde, alat bantu nafas, atau menunda
operasi.
C. Auto euthanasia, seorang pasien menolak secara tegas dengan sadar untuk menerima
perawatan medis & dia mengetahui bahwa hal ini akan memperpendek atau mengakhiri
hidupnya. Dengan penolakan tersebut ia membuat sebuah codicil (pernyataan tertulis
tangan). Auto euthanasia pada dasarnya adalah euthanasia pasif atas permintaan.5

Etika Profesi dalam Kasus Euthanasia


Dalam KODEKI pasal 2 dijelaskan bahwa;
Seorang dokter harus senantiasa berupaya melaksanakan profesinya sesuai dengan
standar profesi tertinggi.
Jelasnya bahwa seorang dokter dalam melakukan kegiatan kedikterannya sebagai seorang
profesi dikter harus sesuai dengan ukuran ilmu tertinggi. Yang dimaksud dengan ukuran
tertinggi dalam melakukan protesi kedokteran mutakhir, yaitu yang sesuai dengan
perkembangan IPTEK Kedokteran, etika umum, etika kedokteran, hukum dan agama, sesuai
tingkat/jenjang pelayanan kesehatan, serta kondisi dan situasi setempat..
KODEKI pasal 7d juga menjelaskan bahwa
setiap dokter harus senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi hidup insani
Artinya dalam setiap tindakan dokter harus bertujuan untuk memelihara kesehatan dan
kebahagiaaan manusia. Mengenai euthanasia, ternyata dapat digunakan dalam tiga arti, yaitu
1. Berpindah ke alam baka dengan tenang dan aman tanpa penderitaan dan bagi yang
beriman dengan nama Allah di bibir.
2. Waktu hidup akan berakhir (sakaratul maut) penderitaan pasien diperingan dengan
memberi obat penenang.
3. Mengakhiri penderitaan dan hidup pasien dengan sengaja atas permintaan pasien
sendiri dan keluanganya. 4,6
Pada suatu saat seorang dokter mungkin menghadapi penderitaan yang tidak tertahankan,
misalnya karena kanker dalam keadaan yang menyedihkan, kurus kering bagaikan tulang di
8

bungkus kulit, menyebarkan bau busuk, menjerit-jerit kesakitan dan sebagainya. Orang yang
berpendirian pro euthanasia dalam butir c, akan mengajukan supaya pasien di beri saja
morphin dalam dosis lethal, supaya ia bebas dan penderitaan yang berat itu. Kita di Indonesia
sebagai umat yang beragama dan benfalsafah/berazaskan Pancasila percaya pada kekuasaan
mutlak dan Tuhan Yang Maha Esa. Segala sesuatu yang diciptakannya serta penderitaan yang
dibebankan kepada makhluknya mengandung makna dan maksud tertentu. Dokter harus
mengerahkan segala kepandaiannya dan kemampuannya untuk meringankan penderitaan dan
memelihara hidup akan tetapi tidak untuk mengakhirinya. Jadi dalam menjalankan prifesinya
seorang dokter tidak boleh melakukan mengakhiri kehidupan seorang pasien yang menurut
ilmu dan pengetahuan tidak mungkin akan sembuh lagi (euthanasia).6

Informed Consent
Dalam praktek kedokteran sehari-hari sangatlah wajib dan penting untuk melakukan
informed consent kepada pasien. Dalam hal ini kita telah menjelaskan segala hal tentang
kondisi pasien serta meminta persetujuan pasien atas tindakan yang akan dilakukan ataupun
menerima penolakan dari pasien.
Informed Consent terdiri dari dua kata yaitu informed yang berarti telah mendapat
penjelasan atau keterangan (informasi), dan consent yang berarti persetujuan atau memberi
izin. Jadi informed consent mengandung pengertian suatu persetujuan yang diberikan setelah
mendapat informasi. Dengan demikian informed consent dapat didefinisikan sebagai
persetujuan yang diberikan oleh pasien dan atau keluarganya atas dasar penjelasan mengenai
tindakan medis yang akan dilakukan terhadap dirinya serta resiko yang berkaitan
dengannya.Suatu informed consent baru sah diberikan oleh pasien jika memenuhi minimal 3
(tiga) unsure sebagai berikut :
A. Keterbukaan informasi yang cukup diberikan oleh dokter
B. Kompetensi pasien dalam memberikan persetujuan
C. Kesukarelaan (tanpa paksaan atau tekanan) dalam memberikan persetujuan.
Di Indonesia perkembangan informed consent secara yuridis formal, ditandai
dengan munculnya pernyataan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) tentang informed consent
melalui SK PB-IDI No. 319/PB/A.4/88 pada tahun 1988. Kemudian dipertegas lagi dengan
PerMenKes No. 585 tahun 1989 tentang Persetujuan Tindakan Medik atau Informed
Consent. Hal ini tidak berarti para dokter dan tenaga kesehatan di Indonesia tidak mengenal
dan melaksanakan informed consent karena jauh sebelum itu telah ada kebiasaan pada
pelaksanaan operatif, dokter selalu meminta persetujuan tertulis dari pihak pasien atau
9

keluarganya sebelum tindakan operasi itu dilakukan.Secara umum bentuk persetujuan yang
diberikan pengguna jasa tindakan medis (pasien) kepada pihak pelaksana jasa tindakan medis
(dokter) untuk melakukan tindakan medis dapat dibedakan menjadi tiga bentuk, yaitu:
A. Persetujuan Tertulis, biasanya diperlukan untuk tindakan medis yang mengandung resiko
besar, sebagaimana ditegaskan dalam PerMenKes No. 585/Men.Kes/Per/IX/1989 Pasal 3
ayat (1) dan SK PB-IDI No. 319/PB/A.4/88 butir 3, yaitu intinya setiap tindakan medis
yang mengandung resiko cukup besar, mengharuskan adanya persetujuan tertulis, setelah
sebelumnya pihak pasien memperoleh informasi yang adekuat tentang perlunya tindakan
medis serta resiko yang berkaitan dengannya (telah terjadi informed consent);
B. Persetujuan Lisan, biasanya diperlukan untuk tindakan medis yang bersifat non-invasif
dan tidak mengandung resiko tinggi, yang diberikan oleh pihak pasien;
C. Persetujuan dengan isyarat, dilakukan pasien melalui isyarat, misalnya pasien yang akan
disuntik atau diperiksa tekanan darahnya, langsung menyodorkan lengannya sebagai
tanda menyetujui tindakan yang akan dilakukan terhadap dirinya.6,7,8
Tujuan Pelaksanaan Informed Consent. Dalam hubungan antara pelaksana (dokter)
dengan pengguna jasa tindakan medis (pasien), maka pelaksanaan informed consent,
bertujuan :
A. Melindungi pengguna jasa tindakan medis (pasien) secara hukum dari segala tindakan
medis yang dilakukan tanpa sepengetahuannya, maupun tindakan pelaksana jasa tindakan
medis yang sewenang-wenang, tindakan malpraktek yang bertentangan dengan hak asasi
pasien dan standar profesi medis, serta penyalahgunaan alat canggih yang memerlukan
biaya tinggi atau over utilization yang sebenarnya tidak perlu dan tidak ada alasan
medisnya;
B. Memberikan perlindungan hukum terhadap pelaksana tindakan medis dari tuntutantuntutan pihak pasien yang tidak wajar, serta akibat tindakan medis yang tak terduga dan
bersifat negatif, misalnya terhadap risk of treatment yang tak mungkin dihindarkan
walaupun dokter telah bertindak hati-hati dan teliti serta sesuai dengan standar profesi
medik.7
Perlunya dimintakan informed consent dari pasien karena informed consent mempunyai
beberapa fungsi sebagai berikut :
A. Penghormatan terhadap harkat dan martabat pasien selaku manusia
B. Promosi terhadap hak untuk menentukan nasibnya sendiri
C. Untuk mendorong dokter melakukan kehati-hatian dalam mengobati pasien
D. Menghindari penipuan dan misleading oleh dokter
10

E. Mendorong diambil keputusan yang lebih rasional


F. Mendorong keterlibatan publik dalam masalah kedokteran dan kesehatan
G. Sebagai suatu proses edukasi masyarakat dalam bidang kedokteran dan kesehatan.1

Aspek Hukum Informed Consent


Dalam hubungan hukum, pelaksana dan pengguna jasa tindakan medis (dokter, dan
pasien) bertindak sebagai subyek hukum yakni orang yang mempunyai hak dan kewajiban,
sedangkan jasa tindakan medis sebagai obyek hukum yakni sesuatu yang bernilai dan
bermanfaat bagi orang sebagai subyek hukum, dan akan terjadi perbuatan hukum yaitu
perbuatan yang akibatnya diatur oleh hukum, baik yang dilakukan satu pihak saja maupun
oleh dua pihak.Dalam masalah informed consent dokter sebagai pelaksana jasa tindakan
medis, disamping terikat oleh KODEKI (Kode Etik Kedokteran Indonesia) bagi dokter, juga
tetap tidak dapat melepaskan diri dari ketentuan-ketentuan hukun perdata, hukum pidana
maupun hukum administrasi, sepanjang hal itu dapat diterapkan.Pada pelaksanaan tindakan
medis, masalah etik dan hukum perdata, tolok ukur yang digunakan adalah kesalahan kecil
(culpa levis), sehingga jika terjadi kesalahan kecil dalam tindakan medis yang merugikan
pasien, maka sudah dapat dimintakan pertanggungjawabannya secara hukum. Hal ini
disebabkan pada hukum perdata secara umum berlaku adagium barang siapa merugikan
orang lain harus memberikan ganti rugi. Sedangkan pada masalah hukum pidana, tolok ukur
yang dipergunakan adalah kesalahan berat. Oleh karena itu adanya kesalahan kecil (ringan)
pada pelaksanaan tindakan medis belum dapat dipakai sebagai tolok ukur untuk menjatuhkan
sanksi pidana.8
Aspek Hukum Perdata, suatu tindakan medis yang dilakukan oleh pelaksana jasa
tindakan medis (dokter) tanpa adanya persetujuan dari pihak pengguna jasa tindakan medis
(pasien), sedangkan pasien dalam keadaan sadar penuh dan mampu memberikan persetujuan,
maka dokter sebagai pelaksana tindakan medis dapat dipersalahkan dan digugat telah
melakukan suatu perbuatan melawan hukum (onrechtmatige daad) berdasarkan Pasal 1365
Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHPer). Hal ini karena pasien mempunyai hak atas
tubuhnya, sehingga dokter dan harus menghormatinya;Aspek Hukum Pidana, informed
consent mutlak harus dipenuhi dengan adanya pasal 351 Kitab Undang-Undang Hukum
Pidana (KUHP) tentang penganiayaan. Suatu tindakan invasive (misalnya pembedahan,
tindakan radiology invasive) yang dilakukan pelaksana jasa tindakan medis tanpa adanya izin
dari pihak pasien, maka pelaksana jasa tindakan medis dapat dituntut telah melakukan tindak
pidana penganiayaan yaitu telah melakukan pelanggaran terhadap Pasal 351 KUHP.4
11

Sebagai salah satu pelaksana jasa tindakan medis dokter harus menyadari bahwa
informed consent benar-benar dapat menjamin terlaksananya hubungan hukum antara
pihak pasien dengan dokter, atas dasar saling memenuhi hak dan kewajiban masing-masing
pihak yang seimbang dan dapat dipertanggungjawabkan. Masih banyak seluk beluk dari
informed consent ini sifatnya relative, misalnya tidak mudah untuk menentukan apakah suatu
inforamsi sudah atau belum cukup diberikan oleh dokter. Hal tersebut sulit untuk ditetapkan
secara pasti dan dasar teoritis-yuridisnya juga belum mantap, sehingga diperlukan pengkajian
yang lebih mendalam lagi terhadap masalah hukum yang berkenaan dengan informed consent
ini.1,7

Aspek Hukum Pidana


Dalam pengambilan keputusan dalam praktek kedokteran, selain prinsip-prinsip etis,
moral, dan ketentuan-ketentuan profesi, sangatlah perlu untuk mempertimbangkan aspek
pidana juga yang berlaku di Indonesia. Terutama dalam hal euthanasia, masih banyak hal
yang menjadi perdebatan, sehingga perlu diperhatikan banyak aspek yang menyangkut
didalamnya.
Undang-undang yang tertulis dalam KUHP hanya melihat dari sisi dokter sebagai
pelaku utama euthanasia, khususnya euthanasia aktif dan dianggap sebagai pembunuhan
berencana, atau dengan sengaja menghilangkan nyawa seseorang. Sehingga dalam aspek
hukum, dokter selalu pada pihak yang dipersalahkan dalam tindakan euthanasia, tanpa
melihat latar belakang dilakukannya euthanasia tersebut, tidak peduli apakah tindakan
tersebut atas permintaan pasien itu sendiri atau keluarganya, untuk mengurangi penderitaan
pasien dalam keadaan sekarat atau rasa sakit yang sangat hebat yang belum diketahui
pengobatannya. Meskipun euthanasia bukan merupakan istilah yuridis, namun mempunyai
implikasi hukum yang sangat luas, baik pidana maupun perdata. Pasal-pasal dalam KUHP
menegaskan bahwa euthanasia baik aktif maupun pasif tanpa permintaan adalah dilarang.
Demikian pula dengan euthanasia aktif dengan permintaan. Berikut adalah bunyi pasal-pasal
dalam KUHP tersebut:
Pasal 344 KUHP. Barang siapa merampas nyawa orang lain atas permintaan orang itu
sendiri yang jelas dinyatakan dengan kesungguhan hati diancam dengan pidana penjara
paling lama dua belas tahun.
Pasal 345 KUHP. Barangsiapa dengan sengaja membujuk orang lain untuk bunuh diri,
menolongnya dalam perbuatan itu atau memberi sarana kepadanya untuk itu, diancam dengan
pidana penjara paling lama empat tahun, kalau orang itu jadi bunuh diri.
12

Bertolak dari ketentuan Pasal 344 KUHP tersebut tersimpul, bahwa pembunuhan atas
permintaan korban sekalipun tetap diancam pidana bagi pelakunya. Dengan demikian, dalam
konteks hukum positif di Indonesia euthanasia tetap dianggap sebagai perbuatan yang
dilarang. Dengan demikian dalam konteks hukum positif di Indonesia, tidak dimungkinkan
dilakukan pengakhiran hidup seseorang sekalipun atas permintaan orang itu sendiri.
Perbuatan tersebut tetap dikualifikasi sebagai tindak pidana, yaitu sebagai perbuatan yang
diancam dengan pidana bagi siapa yang melanggar larangan tersebut.
Dalam ketentuan Pasal 338 KUHP secara tegas dinyatakan, Barang siapa sengaja
merampas nyawa orang lain diancam, karena pembunuhan dengan pidana penjara paling
lama lima belas tahun.
Sementara dalam ketentuan Pasal 340 KUHP dinyatakan, Barang siapa dengan sengaja dan
dengan rencana lebih dulu merampas nyawa orang lain diancam, karena pembunuhan
berencana, dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu
paling lama dua puluh tahun.
Di luar dua ketentuan di atas juga terdapat ketentuan lain yang dapat digunakan untuk
menjerat pelaku euthanasia, yaitu ketentuan Pasal 356 (3) KUHP yang juga mengancam
terhadap Penganiayaan yang dilakukan dengan memberikan bahan yang berbahaya bagi
nyawa dan kesehatan untuk dimakan atau diminum.
Selain itu patut juga diperhatikan adanya ketentuan dalam Bab XV KUHP khususnya Pasal
304 dan Pasal 306 (2). Dalam ketentuan Pasal 304 KUHP dinyatakan, Barang siapa dengan
sengaja menempatkan atau membiarkan seorang dalam keadaan sengsara, padahal menurut
hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan, dia wajib memberikan kehidupan,
perawatan atau pemeliharaan kepada orang itu, diancam dengan pidana penjara paling lama
dua tahun delapan bulan atau denda paling banyak tiga ratus rupiah.
Sementara dalam ketentuan Pasal 306 (2) KUHP dinyatakan, Jika mengakibatkan kematian,
perbuatan tersebut dikenakan pidana penjara maksimal sembilan tahun.
Dua ketentuan terakhir tersebut di atas memberikan penegasan, bahwa dalam konteks hukum
positif di Indonesia, meninggalkan orang yang perlu ditolong juga dikualifikasi sebagai
tindak pidana. Dua pasal terakhir ini juga bermakna melarang terjadinya euthanasia pasif
yang sering terjadi di Indonesia.1,7,8

13

Pemeriksaan Medis
A. Pemeriksaan Fisik
Tanda-tanda Ca Colon tergantung pada letak tumor. Tanda-tanda yang biasanya terjadi
adalah :

Perdarahan pada rectal

Anemia

Perubahan feces

Kemungkinan darah ditunjukan sangat kecil atau lebih hidup seperti mahoni atau bright-red
stooks. Darah kotor biasanya tidak ditemukan tumor pada sebelah kanan kolon tetapi
biasanya (tetapi bisa tidak banyak) tumor disebelah kiri kolon dan rectum.
Pemeriksaan rektal dengan jari (Digital Rectal Exam), di mana dokter memeriksa keadaan
dinding rektum sejauh mungkin dengan jari; pemeriksaan ini tidak selalu menemukan adanya
kelainan, khususnya kanker yang terjadi di kolon saja dan belum menyebar hingga rectum.
Hal pertama yang ditunjukkan oleh Ca Colon adalah :

teraba massa

pembuntuan kolon sebagian atau seluruhnya

perforasi pada karakteristik kolon dengan distensi abdominal dan nyeri

Ini ditemukan pada indikasi penyakit Cachexia.9

B. Pemeriksaan Psikososial.
Orang-orang sering terlambat untuk mencoba perawatan kesehatan karena khawatir dengan
diagnosa kanker. Kanker biasanya berhubungan dengan kematian dan kesakitan. Banyak
orang tidak sadar dengan kemajuan pengobatan dan peningkatan angka kelangsungan hidup.
Deteksi dini adalah cara untuk mengontrol Ca Colon dan keterlambatan dalam mencoba
perawatan kesehatan dapat mengurangi kesempatan untuk bertahan hidup dan menguatkan
kekhawatiran klien dan keluarga klien. Orang-oarang yang hidup dalam gaya hidup sehat dan
mengikuti oedoman kesehatan mungkin merasa takut bila melihat pengobatan klinik, klien ini
mungkin merasa kehilangan kontrol, tidak berdaya dan shock. Proses diagnosa secara umum
meluas dan dapat menyebabkan kebosanan dan menumbuhkan kegelisahan pada pasien dan
keluarga pasien. Perawat membolehkan klien untuk bertanya dan mengungkapkan perasaanya
selama proses ini.10

C. Pemeriksaan laboratorium
14

Nilai hemaglobin dan Hematocrit biasanya turun dengan indikasi anemia. Hasil tes Gualac
positif untuk accult blood pada feces memperkuat perdarahan pada GI Tract. Pasien harus
menghindari daging, makanan yang mengandung peroksidase (Tanaman lobak dan Gula bit)
aspirin dan vitamin C untuk 48 jam sebelum diberikan feces spesimen. Perawat dapat menilai
apakah klien pada menggumakan obat Non steroidal anti peradangan (ibu profen)
Kortikosteroid atau salicylates. Kemudian perawat dapat konsul ke tim medis tentang
gambaran pengobatan lain. Makanan-makanan dan obat-obatan tersebut menyebabkan
perdarahan. Bila sebenarnya tidak ada perdarahan dan petunjuk untuk kesalahan hasil yang
positif. Dua contoh sampel feses yang terpisah dites selama 3 hari berturut-turut, hasil yang
negatif sama sekali tidak menyampingkan kemungkinan terhadap Ca Colon. Carsinoma
embrionik antigen (CEA) mungkin dihubungkan dengan Ca Colon, bagaimanapun ini juga
tidak spesifik dengan penyakit dan mungkin berhubungan dengan jinak atau ganasnya
penyakit. CEA sering menggunakan monitor untuk pengobatan yang efektif dan
mengidentifikasi kekambuhan penyakit.9,10

D. Pemeriksaan radiografi
Pemeriksaan dengan enema barium mungkin dapat memperjelas keadaan tumor dan
mengidentifikasikan letaknya. Tes ini mungkin menggambarkan adanya kebuntuan pada isi
perut, dimana terjadi pengurangan ukuran tumor pada lumen. Luka yang kecil kemungkinan
tidak teridentifikasi dengan tes ini. Enema barium secara umum dilakukan setelah
sigmoidoscopy dan colonoscopy. Computer Tomografi (CT) membantu memperjelas adanya
massa dan luas dari penyakit. Chest X-ray dan liver scan mungkin dapat menemukan tempat
yang jauh yang sudah metastasis.

E. Pemeriksaan Diagnosa lainnya


Tim medis biasanya melakukan sigmoidoscopy dan colonoscopy untuk mengidentifikasi
tumor. Biopsi massa dapat juga dilakukan dalam prosedur tersebut.9

Rencana Terapi
Perawatan penderita tergantung pada tingkat staging kanker itu sendiri dan komplikasi
yang berhubungan. Endoskopi, ultrasonografi dan laparoskopi telah terbukti berhasil dalam
pentahapankanker kolorektal pada periode praoperatif. Metode pentahapan yang dapat
digunakan secara luas adalah klasifikasi Duke:

Kelas A tumor dibatasi pada mukosa dan sub mukosa


15

Kelas B penetrasi melalui dinding usus

Kelas C Invasi ke dalam sistem limfe yang mengalir regional

Kelas D metastasis regional tahap lanjut dan penyebaran yang luas

Terapi akan jauh lebih mudah bila kanker ditemukan pada stadium dini. Tingkat
kesembuhan kanker stadium 1 dan 2 masih sangat baik. Namun bila kanker ditemukan pada
stadium yang lanjut, atau ditemukan pada stadium dini dan tidak diobati, maka kemungkinan
sembuhnya pun akan jauh lebih sulit.

Gambar 1. Stadium Ca Colon (sumber: www.google.com)

Di antara pilihan terapi untuk penderitanya, operasi masih menduduki peringkat


pertama, dengan ditunjang oleh radiasi dan kemoterapi mungkin juga digunakan untuk
membantu pembedahan, untuk mengontrol dan mencegah kekambuhan kanker.10

A. Pelaksanaan tanpa pembedahan.


Tim medis dapat menilai kanker tiap pasien untuk menentukan rencana pengobatan yang baik
dengan mempertimbangkan usia, komplikasi penyakit dan kualitas.
1. Terapi radiasi
Persiapan penggunaan radiasi dapat diberikan pada pasien yang menderita Ca kolorektal
yang besar, walaupun ini tidak dilaksanakan secara rutin. Terapi ini dapat menyebabkan
kesempatan yang lebih banyak dari tumor tertentu, yang mana terjadi fasilitas reseksi
tumor selama pembedahan. Radiasi dapat digunakan post operatif sampai batas
penyebaran metastase. Sebagai ukuran nyeri, terapi radiasi menurunkan nyeri,
perdarahan, obstruksi usus besar atau metastase ke paru-paru dalam perkembangan
penyakit. Perawat menerangkan prosedur terapi radiasi pada klien dan keluarga dan

16

memperlihatkan efek samping (contohnya diare dan kelelahan). Perawat melaksanakan


tindakan untuk menurunkan efek samping dari terapi.
2. Kemoterapi
Obat non sitotoksik memajukan pengobatan terhadap Ca kolorektal kecuali batas tumor
pada anal kanal. Bagaimanapun juga 5 fluorouracil (5-FU,Adrucil) dan levamisole
(ergamisol) telah direkomendasikan terhadap standar terapi untuk stadium khusus pada
penyakit (contoh stadium III) untuk mempertahankan hidup. Kemoterapi juga digunakan
sesudah pembedahan untuk mengontrol gejala-gejala metastase dan mengurangi
penyebaran metastase. Kemoterapi intrahepatik arterial sering digunakan 5 FU yang
digunakan pada klien dengan metastasis liver.1

B. Penatalaksanaan dengan Pembedahan


Tindakan ini dibagi menjadi Curative, Palliative, Bypass, Fecal diversion, dan Open-andclose.

i.

Bedah Curative dikerjakan apabila tumor ditemukan pada daerah yang terlokalisir.
Intinya adalah membuang bagian yang terkena tumor dan sekelilingnya. Pada keadaan
ini mungkin diperlukan suatu tindakan yang disebut TME (Total Mesorectal Excision),
yaitu suatu tindakan yang membuang usus dalam jumlah yang signifikan. Akibatnya
kedua ujung usus yang tersisa harus dijahit kembali. Biasanya pada keadaan ini
diperlukan suatu kantong kolostomi, sehingga kotoran yang melalui usus besar dapat
dibuang melalui jalur lain. Pilihan ini bukanlah suatu pilihan yang enak akan tetapi
merupakan langkah yang diperlukan untuk tetap hidup, mengingat pasien tidak mungkin
tidak makan sehingga usus juga tidak mungkin tidak terisi makanan / kotoran; sementara
ada bagian yang sedang memerlukan penyembuhan. Apa dan bagaimana kelanjutan dari
kolostomi ini adalah kondisional dan individual, tiap pasien memiliki keadaan yang
berbeda-beda sehingga penanganannya tidak sama.

ii.

Bedah paliatif dikerjakan pada kasus terjadi penyebaran tumor yang banyak, dengan
tujuan membuang tumor primernya untuk menghindari kematian penderita akibat ulah
tumor

primer

tersebut.

Terkadang

tindakan

ini

ditunjang

kemoterapi

dapat

menyelamatkan jiwa. Bila penyebaran tumor mengenai organ-organ vital maka


pembedahan pun secara teknis menjadi sulit, sehingga dokter mungkin memilih teknikk
bedah bypass atau fecal diversion (pengalihan tinja) melalui lubang. Pilihan terakhir pada
17

kondisi terburuk adalah open and close, di mana dokter membuka daerah operasinya,
kemudian secara de facto melihat keadaan sudah sedemikian rupa sehingga tidak
mungkin dilakukan apa-apa lagi atau tindakan yang akan dilakukan tidak memberikan
manfaat bagi keadaan pasien, kemudian di tutup kembali. Tindakan ini sepertinya sudah
tidak pernah dilakukan lagi mengingat sekarang sudah banyak tersedia laparoskopi dan
radiografi canggih untuk mendeteksi keberadaan dan kondisi kanker jauh sebelum
diperlukan operasi.9,10

C. Penatalaksanaan pasien Karsinoma Kolon Terminal


Pembedahan merupakan pilihan terbaik untuk memperpanjangkan jangka hayat hidup
pasien. Melalui pembedahan dokter akan membuang bagian tumor kolon dan mencantumkan
bagian yang sehat bersama. Pilihan lain adalah cryotherapy yaitu membekukan dan
membuang tumor tersebut. Kemudian, kemoterapi dilakukan untuk membunuh sel-sel yang
tersisa setelah pengangkatan dan biasanya ditujukan pada organ yang terinfeksi. Metode yang
digunakan adalah heptic artery infusion di mana targetnya langsung ke hati.10

KESIMPULAN
Berdasarkan kasus diatas dapat disimpulkan bahwa, yang dibutuhkan

adalah

perawatan dan pendampingan, baik bagi pasien maupun bagi pihak keluarga. Perhatian dan
kasih sayang sangat diperlukan bagi penderita sakit terminal, bukan lagi bagi kebutuhan fisik,
tetapi lebih pada kebutuhan psikis dan emosional, sehingga baik secara langsung maupun
tidak kita dapat membantu pasien menyelesaikan persoalan-persoalan pribadinya dan
kemudian hari siap menerima kematian penuh penyerahan kepada penyelenggaraan Tuhan
Yang Maha Esa. Bagaimanapun pasien adalah manusia yang masih hidup, maka perlakuan
yang seharusnya adalah perlakuan yang manusiawi kepadanya. Jelas bahwa hukum (pidana)
positif di Indonesia belum memberikan ruang bagi euthanasia baik euthanasia aktif maupun
euthanasia pasif. Tanpa harus mengesampingkan pendapat lain, kesimpulan normatif ini
urgen untuk disampaikan mengingat berbagai hal. Pertama, munculnya permintaan tindakan
medis euthanasia hakikatnya menjadi indikasi, betapa masyarakat sedang mengalami
pergeseran nilai kultural. Namun tetap saja pasien memiliki hak autonomi dimana pasien
berhak menetukan apa yang terbaik untuk dirinya, sehingga dengan adanya hak autonomi
tersebut seorang pasien boleh meminta eutanashia kepada dokter yang merawatnya. Namun
tindakan tersebut harus tetap dengan indikasi dan alasan yang tepat. Dan dokter yang

18

melakukannya harus melakukan informed consent sejelas-jelasnya kepada pasien maupun


keluarganya.

DAFTAR PUSTAKA
1. Budi S, Syamsu Z, Siswaja TD. Bioetik dan hukum kedokteran.Pengantar bagi
mahasiswa kedokteran dan hukum. Jakarta: Pustaka Dwipar; 2007.h.29-35, 77-80.
2. Kode Etik Kedokteran. http://www.ilunifk83.com/t130-kode-etik-kedokteran-indonesia.
18 Januari 2009. Diunduh 7 Januari 2014.
3. Sampurna B. Bioetik dan hukum kedokteran. Jakarta: Pustaka Dwipar, 2007
4. Samil, Suprapti R. Etika kedokteran indonesia. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo, 2001.
5. Euthanasia.

http://www.fk.uwks.ac.id/elib/arsip/departemen/.../euthanasia%20(13).pdf.

30 Desember 2008. Diunduh 7 Januari 2014.


6. Aspek

Hukum

dalam

Pelaksanaan

Euthanasia

di Indonesia.

http://hukumkes.wordpress.com/2008/03/15/aspek-hukum-dalam-pelaksanaaneuthanasia-di-indonesia/. 15 maret 2008. Diunduh 7 Januari 2014.


7. Rekam

Medis dan

Informed

Consent.

http://repository.ui.ac.id/contents/koleksi/11/b6fa37a62692182ad455b08bac8ac3d8bc639
f55.pdf. 27 April 2009. Diunduh 7 Januari 2014.
8. Staf pengajar bagian kedokteran forensik fakultas kedokteran UI. Peraturan perundangundangan bidang kedokteran. Jakarta: Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan
Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1994.
9. Kanker Kolon. Edisi: 15 April 2011. Diunduh dari:
http://www.scribd.com/doc/8343664/KANKER-KOLON, 7 Januari 2014.
10. Mengenal Kanker Kolon. Edisi: 15 September 2008. Diunduh dari:
http://www.drarief.com/mengenal-kanker-kolon/, 7 Januari 2014.

19