Anda di halaman 1dari 8

GIGI TIRUAN LONGGAR

Pertanyaan yang dapat ditanyakan:


1. Gigi tiruan mana yang longgar, rahang atas, rahang bawah, atau kedua-duanya
2. Apakah longgarnya selama dipasang atau saat dipakai berfungsi, seperti saat makan
atau saat berbicara
3. Apakah longgarnya hanya sebagian saja, seperti saat lidah terangkat

Gigi tiruan dapat terlepas karena:


1. Overextended tepi sayap basis sayap basis dipendekkan
2. Underextended reline dan tepi basis diperbaiki
3. Post dam kurang baik post dam diperbaiki
4. Oklusi dan artikulasi kurang baik
5. Xerostomia stimulasi saliva dengan berkumur
6. Ruang lidah terlalu sempit dimensi vertikal dinaikkan, sayap lingual ditipiskan,
atau susunan gigi posterior lebih ke bukal
7. Belum beradaptasi
8. Kebiasaan mendorong lidah atau habitual
9. Terlepas satu sisi selama mastikasi, karena:
a. Basis palatum yang curam ditutupi akrilik
b. Pembuatan desain clasp yang buruk
c. Susunan gigi posterior terlalu terbuka / terlalu kearah lingual
d. Oklusi sentrik tidak harmonis dengan relasi sentrik
e. Pengunyahan satu sisi pasien dianjurkan untuk mengunyah pada dua sisi
10. Terlepasnya gigi tiruan saat tidak beroklusi, karena:
a. Lengan direct retainer kurang retentif
b. Jumlah gigi penyangga tidak sesuai
c. Overextension tepi sayap basis
11. Terlepasnya gigi tiruan saat menggigit, karena:
a. Susunan gigi terlalu ke anterior
b. Kurangnya daerah retentif
c. Post dam yang kurang baik
d. Mukosa flabby pada ridge regio anterior
e. Kebiasaan menggigit yang salah
12. Terlepasnya gigi tiruan karena tidak ada retensi:

a. Processing akrilik menyebabkan kontraksi sehingga palatum tertekan


b. Mukosa flabby pada daerah ridge
13. Terlepasnya gigi tiruan saat batuk, tertawa, menyanyim dan menelan, karena:
a. Tepi overextended
b. Tepi underextended
c. Sayap terlalu cembung

GIGI TIRUAN PATAH


A. BASIS
Tipe fraktur
Fatigue resin akrilik
Merupakan akibat flexing gigi tiruan berulang oleh kekuatan yang terlalu kecil untuk
mematahkan gigi tiruan. Kegagalan basis gigi tiruan disebabkan oleh pertumbuhan retak
progresif yang berasal dari permukaan lancip yang menyebabkan terkonsentrasinya tekanan
pada bagian tersebut. Retak seringkali dimulai pada bagian palatal dari gigi I1 atas yang
berkembang secara perlahan dan berkembang secara cepat sesaat sebelum patah. Kegagalan
tipe ini biasanya terjadi saat gigi tiruan berumur 3 tahun. Fraktur midline akibat fatigue
merupakan tipe gigi tiruan patah paling umum. Selain itu gigi tiruan dapat patah saat pasien
tidak sengaja menjatuhkan gigi tiruan saat sedang dibersihkan. Gigi tiruan patah juga dapat
terjadi saat kecelakaan, dimana pasien mengalami benturan dibagian mulut.

Penyebab fraktur
1. Faktor gigi tiruan
a. Konsentrasi tekanan
Perubahan profil permukaan gigi tiruan berperan sebagai konsentrator tekanan
seperti goresan, median diastema, dan lekukan frenulum yang dalam. Konsentrasi
tekanan dapat terbentuk disekitar pin gigi porselen.
b. Tidak adanya flange labial
Gigi tiruan yang tebuka tidak sekaku gigi tiruan yang memiliki flange, flexing
akan lebih terlihat dan akan mengakibatkan fatigue fracture. Apabila hal ini
merupakan penyebab utama fraktur dan anatomi alveolus anterior pasien tidak
memungkinkan ditambahkannya labial flange pada gigi tiruan baru, dapat
digantikan dengan gigi tiruan kerangka logam.
c. Polimerisasi resin akrilik tidak sempurna

Polimerisasi resin akrilik yang tidak sempurna dapat menyebabkan berkurangnya


kekuatan basis akrilik dari yang seharusnya.
d. Perbaikan sebelumnya
Apabila gigi tiruan sudah pernah fraktur sebelumnya dan sudah pernah diperbaiki
menggunakan resin akrilik cold-cure, kemungkinan terjadi fraktur pada tempat
yang sama akan besar dikarenakan material cold-cure lebih rentan terhadap
fatigue dibandingkan resin heat-cure. Selain itu, pada kedua sisi garis fraktur basis
gigi tiruan sudah mengalami fatigue sehingga basis akan mudah fraktur kembali
dimasa mendatang.
e. Fit yang buruk
Saat resorpsi alveolar ridge terjadi di bawah gigi tiruan rahang atas, support akan
diberikan terutama oleh palatum durum. Akibatnya, akan terjadi flexing pada gigi
tiruan saat oklusi. Untuk memperbaikinya, gigi tiruan harus dilakukan rebasing
setelah di repair.
f. Kurangnya relief yang adekuat
Apabila mukosa yang menutupi crest lebih kompresibel dibandingkan dengan
mukosa yang menutupi tengah palatum durum, akan terjadi flexing gigi tiruan saat
oklusi. Untuk mengatasi variasi kompresibilitas mukosa dan untuk mencegah
flexing, dapat dibuat palatal relief chamber pada gigi tiruan.
(ridge yg kompresibel akan memberikan support yang lebih rendah gigi tiruan
dapat berputar dan flexing saat oklusi kehilangan border seal / inflamasi
mukosa fatigue resin akrilik fraktur midline)
2. Faktor pasien
a. Faktor anatomi
Keadaan tertentu pada pasien dapat menjadi faktor penentu saat pembuatan gigi
tiruan. Contohnya adalah frenulum labial yang menonjol membutuhkan lekukan
yang dalam pada flange yang mengakibatkan adanya konsentrasi tekanan pada
area tersebut.
b. Beban oklusal tinggi
Hal ini dapat terjadi pada pasien dengan otot mastikasi yang kuat, atau pada
pasien dengan gigi rahang bawah asli masih ada, atau pada pasien dengan
kebiasaan bruxism.

Memperbaiki gigi tiruan (repair)

Jika gigi tiruan yang rusak bisa diperbaiki, biasanya dilakukan repair jika pasien
menginginkan penampilan diperbaiki secara cepat atau merupakan hal yang mendesak.
Repair bisa lebih efektif, lebih murah, dan lebih cepat dibandingkan membuat gigi tiruan
baru.
Gigi tiruan yang patah diposisikan kembali kemudian di fiksasi menggunakan sticky
wax atau cyanoacrylate adhesive sebelum gigi tiruan dikirim ke laboratorium untuk
diperbaiki. Menurut sebuah penelitian, cyanoacrylate adhesive lebih akurat dibandingkan
sticky wax.
Setelah kedua potongan gigi tiruan sudah diposisikan secara akurat dan aman,
kekurangan fit diperiksa, apakah gigi tiruan perlu di reline atau di rebase. Repair gigi tiruan
harus menghasilkan kekuatan yang adekuat, dimensi yang stabil, dan warna yang baik dan
sesuai dengan warna asli basis gigi tiruan.

Pemilihan bahan repair

Resin akrilik cold-cure


Merupakan bahan yang biasa digunakan, namun kekuatan transversalnya kurang baik
(60-65% dari kekuatan asli basis dengan material heat-cure) sehingga dapat
menyebabkan fraktur berulang.

Resin akrilik light-cure


Material ini lebih lemah dibandingkan resin akrilik cold-cure.

Resin akrilik microwave-cure


Memiliki kekuatan transversal yang sebanding dengan material heat-cure, namun
prosesnya dapat mengakibatkan perubahan bentuk pada basis gigi tiruan asli.

Resin akrilik heat-cure


Memiliki sifat mekanik yang paling baik, namun memburuhkan prosedur laboratorium
yang lebih kompleks dan harganya lebih mahal.

Meningkatkan kekuatan repair

Pemilihan bahan repair

Desain permukaan repair


Teknik umum yang digunakan adalah dengan pemberian bevel dan sedikit dikasarkan
pada permukaan yang fraktur untuk meningkatkan kekuatan ikatan antara repair dan resin
aslinya dengan memperluas area ikatan.

Perlakuan kimia terhadap permukaan


Resin repair berikatan lebih kuat dengan permukaan repair jika dibasahi dengan
monomer metil metakrilat, diklorometana, atau ethyl acetone.

Penggunaan bahan penguat


Dapat digunakan karbon, kaca, aramid fibres, atau kawat logam. Merupakan salah satu
cara yang sangan efektif untuk meningkatkan kekuatan resin repair cold-cure. Saat
melakukan tahap ini, kawat terkelupas dengan alumina dan diberikan kondisioner logam
untuk meningkatkan adhesi dengan resin akrilik.

Eliminasi kontaminasi wax atau saliva


Dibutuhkan teknik yang hati-hati untuk menghindari kontaminasi wax atau saliva pada
permukaan repair.

Mengganti gigi tiruan yang rusak dengan gigi tiruan yang lebih kuat
Apabila repair tidak berhasil dan fraktur tetap terjadi, diindikasikan untuk membuat basis
gigi tiruan dengan bahan yang lebih kuat.
1. Cobalt-chromium alloy
Walaupun Co-Cr menghasilkan basis gigi tiruan dengan kekuatan dan fit yang baik,
namun memiliki beberapa kekurangan, yaitu:
a. Berat
Gigi tiruan rahang atas yang menggunakan bahan Co-Cr cenderung lebih berat
dibandingkan yang menggunakan basis akrilik. Oleh karena itu, apabila retensinya
kurang, gigi tiruan dapat jatuh.
b. Kurang bisa disesuaikan
Contohnya apabila post dam membutuhkan modifikasi, hanya bisa dicapai pada batas
yang sangat kecil. Sifat Co-Cr yang kurang bisa disesuaikan dan berat ini dapat di
minimalisir dengan membatasi komponen Co-Cr menjadi horseshoe-shape palatal ke
basis akrilik.

2. Material basis gigi tiruan polimer yang dimodifikasi


Material polimer dapat dimodifikasi dan diperkuat. Contoh modifikasi polimer termasuk
penambahan elastomer atau pembuatan acrylic-elastomer copolymers. Elastomer
menyerap energy of impact dan oleh karena itu menyediakan proteksi untuk resik akrilik.
Impact polymers seperti itu lebih mahal dibandingkan polimer basis gigi tiruan
konvensional.
3. Penguatan basis gigi tiruan
Bahan-bahan berikut ini digunakan dalam menguatkan dan meng-kaku-kan polimer basis
gigi tiruan konvensional. Saat fiber penguat digunakan, harus diposisikan dan dibentuk
untuk mendapatkan kinerja yang optimal. Bahan-bahan tersebut dapat diberikan
kondisioner untuk meningkatkan ikatannya dengan material basis gigi tiruan. Bahanbahan tersebut harus diposisikan pada area yang menerima tekanan maksimum, pada
sudut yang tepat untuk mencegah fraktur, dan harus tertutup seluruhnya didalam basis
gigi tiruan agan fiber tidak mengiritasi mukosa.
a. Carbon fibres
Gigi tiruan rahang atas dikuatkan dengan carbon fibre pada palatal untuk
mengurangi fleksibilitas basis gigi tiruan. Hal ini mengurangi insiden fraktur pada
kelompok pasien dengan risiko tinggi, namun memiliki kekurangan yaitu
warnanya hitam.
b. Ultra-high-modulus polyethylene fibres (UHMPE)
Terdapat 2 bentuk, yaitu discrete woven yang dimasukkan ke dalam basis gigi
tiruan atau chopped fiibre yang tergabung didalam powder polimer sebelum resin
dicampur.
c. Glass fibres
Penambahan glass fibres ke dalam resin akrilik dapat meningkatkan fatigue
resistance, flexural strength, dan impact strength.
d. Metal strengtheners

B. CENGKRAM
Lengan cengkream rusak
Penyebab lengan cengkram patah:
1. Flexure berulang saat masuk dan keluar undercut yang parah
Bila support jaringan periodontal lebih besar dibandingkan limit fatigue lengan
cengkram, kegagalan pada logam akan terjadi terlebih dahulu. Sebaliknya gigi

penyangga akan goyang dan lepas. Meletakkan lengan cengkram pada area retensi
minimum yang dapat diterima, yang ditentukan oleh tahap surveying, dapat mencegah
tipe kerusakan ini.
2. Kegagalan struktur lengan cengkram
Lengan cengkram yang tidak terbentuk dengan sempurna atau tidak melalui tahap
finishing dan polishing yang sesuai dapat rusak pada titik terlemah. Hal ini dapat
dicegah dengan menyediakan ketajaman yang sesuai untuk lengan cengkram retentif
yang fleksibel dan bentuk yang seragam pada lengan cengkram non-retentif yang
kaku. Cengkram patah dapat dicegah dengan cara mengingatkan pasien untuk
melepas GTSL dengan cara menggeser lengan cengkram dari gigi menggunakan kuku
tangan.
Cengkram wrought-wire dapat disesuaikan berulang kali dalam setahun tanpa
mengalami kegagalan. Cengkram patah dapat terjadi bila angka penyesuaian
berlebihan. Lengan cengkram wrought-wire juga dapat rusak karena rekristalisasi
logam. Hal ini dapat dicegah dengan memilih wrought wire yang sesuai, menghindari
temperatur yang melebihi 1300oF saat burnout, dan menghindari temperatur yang
berlebihan saat casting. Saat wrought wire dilekatkan ke framework dengan solder,
teknik penyolderan harus menghindari terjadinya rekristalisasi kawat tersebut. Untuk
itu, penyolderan sebaiknya dilakukan secara elektrik untuk menghindari overheating.
3. Penanganan yang ceroboh oleh pasien
Contohnya adalah distorsi lengan cengkram karena pasien tidak sengaja menjatuhkan
GTSL. Lengan cengkram retentif yang rusak dapat digantikan dengan lengan retentif
wrought-wire yang tertanam di dalam basis resin atau dilekatkan ke basis metal
menggunakan solder elektrik. Hal ini untuk menghindari pembuatan lengan cengkram
yang barus seluruhnya.

Occlusal rest rusak


Occlusal rest yang patah hampir selalu terjadi pada bagian yang melintasi marginal ridge.
Preparasi occlusal rest seats yang tidak sesuai merupakan penyebab yang umum: occlusal
rest yang melintasi marginal ridge yang tidak direndahkan saat preparasi dapat
menyebabkan pembuatan rest terlalu tipis atau rest harus ditipiskan karena dapat
mengganggu oklusi pasien. Penyolderan dapat memperbaiki occlusal rest yang rusak.

Distorsi atau patah pada komponen lainnya (konektor mayor dan minor)

Distorsi pada konektor mayor dan minor biasanya terjadi karena penyalahgunaan oleh
pasien karena konektor dibuat dengan ketebalan yang adekuat untuk memastikan kekaku-annya dan bentuk permanen dalam keadaan normal. Konektor mayor dan minor
menjadi lemah karena penyesuaian untuk mencegah atau mengeliminasi tekanan ke
jaringan. Penyesuaian yang berulang pada konektor mayor dan minor dapat
mengakibatkan hilangnya ke-kaku-an hingga konektor tidak dapat berfungsi secara
efektif lagi.

Referensi:
1. Carr AB, Brown DT. McCrackens Removable Partial Prosthodontics. 12th ed.
Elsevier. Canada, 2011.
2. Basker RM, Davenport JC, Thomason JM. Prosthetic Treatment of the Edentulous
Patient. 5th ed. Wiley-Blackwell. New Delhi, 2011.
3. Diktat Prostodonsia