Anda di halaman 1dari 53

BAB IV

ANALISIS DAN PEMBAHASAN


IV.1. Analisis Rasio Keuangan pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk.
Analisis terhadap laporan keuangan pada PT. Indocement Tunggal
Prakarsa Tbk dengan menggunakan analisis rasio keuangan dan akan
diperbandingkan terhadap rata-rata industri pada industri semen yang tercatat di
Bursa Efek Indonesia. Analisis rasio keuangan yang terdiri dari 3 bagian yaitu :
analisis likuiditas, analisis profitabilitas, dan analisis solvabilitas.Uraiannya
adalah sebagai berikut :
IV.1.1.Analisis Likuiditas
1. Current Ratio pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk Tahun 2008-2010.
Current ratio pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tahun 2008-2010 akan
ditunjukkan pada tabel 4.1 dibawah ini:
Tabel 4.1
Current Ratio PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk tahun 2008-2010.

Tahun

PT. Indocement
Tunggal Prakarsa
Tbk

PT. Holcim
Indonesia Tbk

PT. Semen
Gresik Tbk

Rata-Rata
Industri

2008

1,7
kali

1,6kali

3,3kali

2,2kali

2009

3kali

Naik
1,3kali

1,2kali

Turun
0,4kali

4kali

Naik
0,7
kali

2,7kali

2010

5,5

Naik

1,6kali

Naik

2,9kali

Turun

3,3kali

56

kali

2,5kali

0,4 kali

1,1kali

Sumber : Data sekunder yang telah diolah


Perhitungan Current Ratio adalah Current Asset dibagi dengan Current
Liabilities Berdasarkan hasil perhitungan current ratio dapat diketahui pada
tahun 2008 terdapat hasil perhitungan current ratio sebesar 1,7 kali jika
diperbandingkan dengan rata-rata industri yaitu sebesar 2,2 kali maka perusahaan
pada 2008 tidak cukup likuid dalam kemampuan dalam membayar hutang jangka
pendek karena berada dibawah rata-rata industri. Selain itu, kemampuan dalam
pembayaran hutang jangka pendek PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk lebih
rendah dari PT. Semen Gresik Tbk yaitu 1,7kali dengan 3,3 kali .Berdasarkan
perhitungan current ratio terjadi peningkatan dari tahun 2008 sampai tahun
2009 yaitu meningkat sebesar 1,3 kali peningkatan juga terjadi dari tahun 2009
sampai tahun 2010 yaitu meningkat sebesar 2,5 kali hal tersebut menunjukan
bahwa terjadi peningkatan kemampuan perusahaan dalam membayar hutang
jangka pendeknya.Perbandingan rata-rata industri pada tahun 2009 dan tahun
2010 menunjukan bahwa perusahaan cukup likuid pada tahun 2009 dan tahun
2010 karena current ratio berada diatas rata-rata industri yaitu pada tahun 2009
current ratio sebesar 3 kali dengan rata-rata industri 2,7 kali serta pada tahun
2010 current ratio sebesar 5,5 kali dengan rata-rata industri 3,3 kali perusahaan
dikatakan cukup likuid pada tahun 2009 sampai tahun 2010 karena aset lancar
yang cepat dijadikan uang dapat menutupi kewajiban jangka pendeknya yang
akan jatuh tempo. Pada tahun 2009 kemampuan membayar hutang jangka
pendek PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk lebih rendah dari PT. Semen
57

Gresik yaitu 3 kali dengan4 kali. Pada tahun 2010 kemampuan membayar hutang
jangka pendek PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk lebih tinggi dibandingkan
dengan perusahaan lainnya di satu Industri yang sama.
Kinerja PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk dalam melunasi kewajiban
jangka pendeknya pada tahun 2008 dikatakan tidak likuid karena kenaikan aktiva
lancar lebih kecil dari kenaikan hutang jangka pendek yang sangat signifikan
yaitu aktiva lancar yang mengalami kenaikan. Hal yang menyebabkan kenaikan
aktiva lancar adalah: Kenaikan kas dan setara kas, Kenaikan piutang, kenaikan
persediaan, dan kenaikan uang muka dan jaminan dari tahun sebelumnya. Hal
yang menyebabkan kenaikan Kewajiban jangka pendek adalah: adanya pinjaman
jangka pendek, kenaikan hutang usaha kepada pihak ketiga, kenaikan biaya
hutang yang masih harus dibayar, kenaikan hutang pajak, kenaikan hutang sewa
guna usaha, dan adanya hutang kepada lembaga keuangan yang tidak ada pada
tahun sebelumnya.
Kinerja PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk pada tahun 2009 dalam
melunasi kewajiban jangka pendeknya dikatakan cukup likuid karena kenaikan
aktiva lancar lebih besar dibandingkan dengan penurunan kewajiban jangka
pendek. Hal yang menyebabkan kenaikan aktiva lancar adalah: kenaikan kas dan
setara kas, dan kenaikan piutang usaha dari tahun sebelumnya. Hal yang
menyebabkan penurunan kewajiban jangka pendek adalah: Penurunan pinjaman
jangka pendek, Penurunan hutang sewa pembiayaan, dan tidak ada hutang
kepada lembaga keuangan yang ada pada tahun sebelumnya.

58

Kinerja PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk pada tahun 2010 dalam
melunasi kewajiban jangka pendeknya dikatakan cukup likuid karena kenaikan
aktiva lancar yang lebih besar dari penurunan kewajiban jangka pendek. Hal
yang menyebabkan kenaikan aktiva lancar adalah: kenaikan kas dan setara kas,
kenaikan, kenaikan piutang usaha, kenaikan persediaan, dan kenaikan uang muka
dan jaminan. Hal yang menyebabkan penurunan kewajiban jangka pendek
adalah: penurunan pinjaman jangka pendek penurunan hutang usaha kepada
pihak ketiga, penurunan hutang lain-lain pihak ketiga, penurunan hutang pajak,
penurunan biaya yang masih harus dibayar dan penurunan hutang sewa
pembiayaan yang jatuh tempo pada satu tahun.
Kinerja PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk dalam melunasi kewajiban
jangka pendeknya pada tahun 2008-2009 lebih rendah dibandingkan dengan PT.
Semen gresik Tbk, tetapi lebih tinggi kinerjanya pada tahun 2010. Hal yang
menyebabkan kinerja PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk dalam melunasi
hutang jangka pendek lebih rendah dari PT. Semen Gresik Tbk pada tahun 2008
dan tahun 2009 adalah: aktiva lancar yang dimiliki oleh PT. Semen Gresik Tbk
pada tahun 2008 dan tahun 2009 lebih besar dari PT. Indocement Tunggal
Prakarsa Tbk, meskipun kewajiban lancar pada PT. Semen Gresik Tbk lebih
besar dari PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, tetapi sebanding dengan
peningkatan aktiva lancar yang cukup signifikan.

59

2. Acid Test Ratio pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk Tahun 20082010.
Acid Test Ratio pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tahun 2008-2010 akan
ditunjukkan pada tabel 4.2 dibawah ini:
Tabel 4.2
Acid Test Ratio PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk tahun 2008-2010.

Tahun

PT. Indocement
Tunggal Prakarsa
Tbk

PT. Holcim
Indonesia Tbk

PT. Semen
Gresik Tbk

Rata-Rata
Industri

2008

0,6
kali

1,3
kali

2,6kali

1,5kali

2009

2,2
kali

Naik
1,6 kali

0,9
kali

Turun 0,4
kali

2,9kali

Naik
0,3
kali

2 kali

2010

4,5
kali

Naik
2,3 kali

1,3kali

Naik 0,4
kali

2,2kali

Turun
0,7
kali

2,7 kali

Sumber : Data sekunder yang telah diolah


Perhitungan Acid Test Ratio dihitung dengan current asset dikurang
dengan persediaan dan dibagi dengan current liabilities Berdasarkan hasil
perhitungan Acid Test Ratio dapat diketahui bahwa perusahaan dalam memenuhi
kewajiban jangka pendeknya tanpa memperhitungkan persediaan yaitu pada
tahun 2008 perusahaan tidak cukup likuid dalam kemampuan membayar hutang
jangka pendek karena hasil acid test ratio yaitu sebesar 0,6 kali berada dibawah
rata-rata industri yaitu sebesar 1,5 kali. Selain itu kinerja PT. Indocement
Tunggal Prakarsa Tbk dalam kemampuan membayar hutang jangka pendek lebih
rendah dari PT. Semen Gresik Tbk dan PT. Holcim Indonesia Tbk yaitu sebesar
60

0,6 kali dengan 2,6 kali dan dengan 1,3 kali Pada tahun 2009 terjadi peningkatan
yaitu sebesar 1,6 kali dan dikatakan cukup likuid karena acid test ratio pada
tahun 2009 berada diatas rata-rata yaitu 2,2 kali dengan rata-rata industri 2 kali.
Selain itu, pada tahun 2009 kemampuan dalam pembayaran hutang jangka
pendek tanpa memperhitungkan persediaan pada PT. Indocement tunggal
Prakarsa Tbk lebih rendah dari PT. Semen Gresik Tbk yaitu sebesar 2,2 kali
dengan 2,9 kali. Pada tahun 2010 terjadi peningkatan yaitu sebesar 2,3 kali dan
dikatakan cukup likuid karena acid test ratio pada tahun 2010 berada diatas ratarata yaitu 4,5 kali dengan rata-rata industri 2,7 kali. Selain itu, Pada tahun 2010
kinerja PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk dalam membayar hutang jangka
pendek tanpa memperhitungkan persediaan kinerjanya lebih baik dibandingkan
dengan perusahaan lain di satu industri yang sama. Pada perhitungan acid test
ratio pengurangan persediaan karena persediaan dianggap memerlukan jangka
waktu yang lama untuk diuangkan jika perusahaan memerlukan dana untuk
membayar kewajiban jangka pendek.
Kinerja PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk dalam memenuhi
kewajiban jangka pendeknya tanpa memperhitungkan persediaan yaitu pada
tahun 2008 perusahaan dikatakan tidak cukup likuid dalam kemampuan
membayar hutang jangka pendek karena kenaikan aktiva lancar tanpa persediaan
mengalami kenaikan yang lebih kecil dari kenaikan hutang jangka pendek, selain
itu dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya persediaan paling besar adalah
pada tahun 2008, maka hal itu mempengaruhi kecilnya acid test ratio.

61

Kinerja PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk Kinerja PT. Indocement


Tunggal Prakarsa Tbk dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya tanpa
memperhitungkan persediaan yaitu pada tahun 2009 dan tahun 2010 perusahaan
dikatakan cukup likuid karena aktiva lancar tanpa memperhitungkan persediaan
mengalami kenaikan lebih besar daripada penurunan kewajiban jangka pendek.
Kinerja PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk pada tahun 2008-2009
dalam memenuhi kewajiban jangka pendek tanpa memperhitungkan persediaan
lebih rendah dibanding dengan PT. Semen Gresik Tbk. Hal itu terjadi karena
aktiva lancar tanpa memperhitungkan persediaan yang dimiliki oleh PT. Semen
Gresik Tbk pada tahun 2008 dan tahun 2009 lebih besar dari PT. Indocement
Tunggal Prakarsa Tbk, meskipun kewajiban lancar pada PT. Semen Gresik Tbk
lebih besar dari PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, tetapi sebanding dengan
peningkatan aktiva lancar tanpa memperhitungkan persediaan yang cukup
signifikan.
3. Receivable Turnover pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk Tahun
2008-2010.
Receivable Turnover pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tahun 2008-2010
akan ditunjukkan pada tabel 4.3 dibawah ini:

62

Tabel 4.3
Receivable Turnover PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk tahun 2008-2010.

Tahun

PT. Indocement
Tunggal Prakarsa
Tbk

PT. Holcim
Indonesia Tbk

PT. Semen
Gresik Tbk

Rata-Rata
Industri

2008

11 kali

11
kali

12
kali

11 kali

2009

10 kali

Turun
1 kali

11
kali

13
kali

Naik
1 kali

11 kali

2010

9 kali

Turun
1 kali

11
kali

12
kali

Turun
1 kali

11 kali

Sumber : Data sekunder yang telah diolah


Perhitungan Receivable Turnover adalah Penjualan kredit dibagi piutang
bersih rata-rata. Berdasarkan hasil perhitungan Receivable Turnover dapat
diketahui bahwa kinerja PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. dalam
kemampuan penagihan piutangnya paling baik adalah di tahun 2008 yaitu 11 kali
dan sama dengan rata-rata industri yaitu 11 kali. Dari tahun 2008 sampai tahun
2009 terjadi penurunan kemampuan penagihan yaitu 1 kali. Selain itu pada tahun
2009 kemampuan penagihan piutang dibawah rata-rata industri yaitu 10 kali
dengan 11 kali dan dari tahun 2009 sampai tahun 2010 terjadi penururnan
kemampuan penagihan sebesar 1 kali serta berada dibawah rata-rata industri
yaitu 9 kali dengan 11 kali. Kinerja PT. Indocement Tunggal Prakarsa dalam
penagihan piutangnya pada tahun 2008 sampai 2010 lebih rendah dibandingkan
dengan 2 pesaingnya yaitu PT. Holcim Indonesia Tbk.dan PT. Semen gresik tbk,
maka pada tahun 2009 dan 2010 dikatakan tidak cukup likuid.

63

Kinerja PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk pada tahun 2008 dikatakan
cukup likuid karena sama dengan rata-rata industri. Hal tersebut ditunjukan pada
kenaikan penjualan yang sebanding dengan kenaikan piutang usaha sedangkan
pada tahun 2009 dan tahun 2010 dikatakan tidak cukup likuid karena lebih
rendah dibandingkan dengan rata-rata-rata industri dan lebih kecil dibandingkan
dengan kedua pesaingnya. Hal yang menyebabkan ketidaklikuid pada tahun 2009
dan tahun 2010 adalah kenaikan penjualan yang lebih kecil dibandingkan dengan
kenaikan piutangnya yang cukup signifikan. Hal itu menandakan pada tahun
2008 terdapat modal kerja yang lebih rendah pada piutang sehingga dinyatakan
lebih bagus sedangkan modal kerja pada tahun 2009 dan tahun 2010 cenderung
meningkat dalam piutangnya sehingga dinyatakan kurang bagus.
Kinerja PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk dalam penagihan
piutangnya pada tahun 2008 sampai 2010 lebih rendah dibandingkan dengan PT.
Semen Gresik Tbk dan pada tahun 2009-2010 lebih rendah dibandingkan dengan
PT. Holcim Indonesia Tbk. Hal tersebut terjadi karena penjualan pada PT. Semen
gresik Tbk lebih tinggi dan piutangnya lebih rendah dari PT. Indocement Tunggal
Prakarsa Tbk. sedangkan kinerja PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk dalam
penagihan piutangnya pada tahun 2009-2010 lebih rendah dibandingkan dengan
PT. Holcim Indonesia Tbk karena kenaikan penjualan yang lebih besar
dibandingkan dengan penurunan piutangnya meskipun nilai penjualan dan
piutang dari PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk lebih besar dari PT. Holcim
Indonesia Tbk.

64

4. Average Collection Period pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk Tahun
2008-2010.
Average Collection Period pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tahun 20082010 akan ditunjukkan pada tabel 4.4 dibawah ini:

Tabel 4.4
Average Collection Period PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk tahun 20082010.

Tahun

PT. Indocement
Tunggal Prakarsa
Tbk

PT. Holcim
Indonesia Tbk

PT. Semen
Gresik Tbk

Rata-Rata
Industri

2008

32 hari

33
hari

30
hari

32 hari

2009

37 hari

Naik 4
hari

33
hari

28
hari

Turun
2 hari

33 hari

2010

41 hari

Naik 4
hari

41
hari

Naik 8 hari

30
hari

Naik
2 hari

37 hari

Sumber : Data sekunder yang telah diolah


Perhitungan Average collection Period adalah Receivable Turnover
dibagi dengan 365 hari. Rasio ini lebih rendah lebih bagus karena periode waktu
penagihan piutangnya lebih cepat atau lebih cepat dibayarkan oleh pelanggan
atau cepat menjadi kas.

Berdasarkan hasil perhitungan Average collection

period menunjukkan bahwa periode waktu penagihan yang dapat ditagih pada
tahun 2008 paling baik karena periode penagihan piutang yang dapat ditagih
sebesar 32 hari dan sama dengan rata-rata industri yaitu 32 hari, hal itu
menunjukan bahwa kegiatan penagihan perusahaan dinyatakan cukup baik. Pada
65

tahun 2009 sampai tahun 2010 dikatakan kurang baik karena lebih tinggi dari
pada perhitungan rata-rata industri yaitu sebesar 37 hari dan 41 hari terhadap
rata-rata industri yaitu 33 hari dan 37 hari sehingga dinyatakan kurang baik
dalam periode waktu pengumpulan piutannya yang akan dijadikan sebagai kas.
Selain itu, pada tahun 2008 sampai tahun 2010 kinerja PT. Indocement Tunggal
Prakarsa Tbk dalam periode waktu penagihan piutang yang dapat ditagih lebih
tinggi dibandingkan PT. Semen Gresik Tbk. yaitu sebesar 33 hari, 37 hari, 41
hari dengan 30 hari, 28 hari, dan 30 hari, hal itu menunjukan bahwa pada tahun
2008-2009 kinerja PT. Semen Gresik Tbk lebih unggul dalam penagihan piutang
yang dikumpulkan menjadi kas, sedangkan pada tahun 2009 kinerja PT.
Indocement Tunggal Prakarsa Tbk lebih tinggi dari PT. Holcim Indonesia Tbk
yaitu 37 hari dengan 33 hari, hal itu menunjukan pada tahun 2009 kinerja PT.
Holcim Indonesia Tbk dalam penagihan piutang untuk dijadikan kas lebih baik
dari PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk.
Kinerja PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk dalam penagihan piutang
yang akan dijadikan kas pada tahun 2009 dan tahun 2010 dikatakan kurang baik
karena periode penagihannya lebih lama dibandingkan dengan rata-rata industri
serta lebih rendah bila dibandingkan dengan PT. Semen Gresik Tbk serta pada
tahun 2009 lebih rendah dibandingkan dengan PT. Holcim Indonesia Tbk. Hal
yang menyebabkan periode penagihan perusahaan kurang baik karena kegiatan
dari penagihannya dikatakan kurang baik.
5. Inventory Turnover pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk Tahun 20082010.
66

Inventory Turnover pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tahun 2008-2010


akan ditunjukkan pada tabel 4.5 dibawah ini:
Tabel 4.5
Inventory Turnover PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk tahun 2008-2010.

Tahun

PT. Indocement
Tunggal Prakarsa
Tbk

2008

5 kali

2009

4 kali

2010

4 kali

Turun
1 kali
-

PT. Holcim
Indonesia Tbk

PT. Semen
Gresik Tbk

Rata-Rata
Industri

9 kali

5 kali

6 kali

9 kali

5 kali

6 kali

9 kali

5 kali

6 kali

Sumber : Data sekunder yang telah diolah


Perhitungan Inventory Turnover adalah harga pokok penjualan dibagi
dengan persediaan rata-rata. Inventory Turnover bertujuan untuk mengukur
berapa kali rata-rata persediaan dijual selama satu periode. Berdasarkan hasil
perhitungan Inventory Turnover menunjukkan bahwa rata-rata persediaan dijual
PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk pada tahun 2008 sebesar 5 kali relatif
sama dibandingkan dengan rata-rata industri yaitu sebesar 6 kali, hal ini
menunjukan bahwa pada tahun 2008 perusahaan cukup produktif. Pada tahun
2009 sampai tahun 2010 rata-rata persediaan yang dijual PT. Indocement
Tunggal Prakarsa Tbk. lebih rendah dari rata rata industri yaitu 4 kali di tahun
2009, 4 kali ditahun 2010 dengan 6 kali ditahun 2009 rata-rata industri serta 6
kali di tahun 2010 rata-rata industri, hal tersebut menunjukan bahwa perusahaan
masih kurang produktif dalam mengelola persediaannya. Pada tahun 2008
kinerja PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. dalam mengelola rata-rata
67

persediaan yang dijual lebih rendah dari PT Holcim Indonesia Tbk. yaitu sebesar
5 kali dengan 9 kali. Pada tahun 2009 sampai tahun 2010 kemampuan PT.
Indocement Tunggal Prakarsa Tbk dalam kemampuan rata-rata persediaan yang
dijual sebesar 4 kali di tahun 2009 dan 4 kali di tahun 2010 relatif rendah
dibandingkan dengan 2 pesaingnya yaitu PT. Holcim Indonesia Tbk sebesar 9
kali pada tahun 2009 dan 9 kali di tahun 2010, PT. Semen Gresik Tbk sebesar 5
kali ditahun 2009 dan 5 kali di tahun 2010. Kinerja PT. Indocement Tunggal
Prakarsa Tbk dalam kemampuan rata-rata persediaan yang dijual pada tahun
2008 sampai 2009 mengalami penurunan 1 kali.
Kinerja PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk dalam mengelola
persediaan pada tahun 2008-2010 dikatakan kurang baik karena berada dibawah
rata-rata industri serta mengalami penurunan setiap tahunnya.Pada tahun 2008
hal itu terjadi karena adanya kenaikan persediaan yang sangat signifikan yang
tidak diimbangi dengan kenaikan HPP sehingga dapat disimpulkan masih ada
persediaan yang menumpuk. Pada tahun 2009 hal itu terjadi karena penurunan
hpp yang lebih besar dibandingkan dengan penurunan persediaan sehingga
menimbulkan persediaan menumpuk. Pada tahun 2010 hal itu terjadi karena
adanya kenaikan persediaan yang signifikan terutama pada barang jadi tidak
disertai kenaikan harga pokok produksi yang signifikan sehingga menimbulkan
persediaan yang menumpuk.
Kinerja PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk dalam mengelola
persediaan pada tahun 2008-2010 masih lebih rendah dibandingkan dengan
pesaingnya yaitu PT. Holcim Indonesia Tbk yaitu 6 kali, 4 kali, dan 4 kali
68

dibandingkan dengan 9 kali, hal itu terjadi karena pada PT. Holcim Indonesia
Tbk adanya kenaikan dari HPP yang disertai dengan penurunan persediaan
sehingga persediaan diolah dengan efektif dan tidak ada penumpukan. Hal
tersebut menandakan bahwa pengaturan standar stock PT. Holcim Indonesia Tbk
lebih baik dibandingkan dengan PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk.
Kinerja PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk dalam mengelola
persediaan pada tahun 2009-2010 masih lebih rendah dibandingkan dengan
pesaingnya yaitu PT. Semen gresik Tbk hal itu terjadi karena pengelolaan
persediaan PT. Semen Gresik Tbk dengan standar stock yang lebih bagus
dibandingkan dengan PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk.
6. Average days to sell Inventory pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk
Tahun 2008-2010.
Average days to sell Inventory pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tahun
2008-2010 akan ditunjukkan pada tabel 4.6 dibawah ini:
Tabel 4.6
Average days to Sell Inventory PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk tahun
2008-2010.

Tahun

PT. Indocement
Tunggal Prakarsa
Tbk

PT. Holcim
Indonesia Tbk

PT. Semen Gresik


Tbk

Rata-Rata
Industri

2008

73 hari

41 hari

73 hari

62 hari

2009

91 hari

Naik
18 hari

41 hari

73 hari

68 hari

2010

91 hari

41 hari

73 hari

68 hari

Sumber : Data sekunder yang telah diolah


69

Perhitungan Average days to sell Inventory adalah perputaran persediaan


dibagi dengan 365 hari. Rasio ini lebih rendah lebih baik dikarenakan persediaan
yang dijual lebih cepat. Berdasarkan hasil perhitungan Average days to sell
Inventory menunjukan bahwa pada tahun 2008 rasio hari dalam waktu
pengelolaan persediaan yang cepat dijual pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa
Tbk lebih tinggi dari pada rata-rata industri yaitu 73 hari dengan rata-rata industri
62 hari, hal tersebut menandakan bahwa kinerja pada tahun 2008 kurang baik
karena persediaan yang lebih lambat dijual.Pada tahun 2009 terjadi kenaikan
persentase 18 hari, itu menandakan bahwa hari dimana persediaan yang dijual
bertambah lambat 18 hari , selain itu juga kinerjanya dibawah rata-rata industri
yaitu 91 hari dengan rata-rata industri 68 hari. Pada tahun 2010 rasio hari dalam
waktu persediaan yang cepat dijual pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk
lebih tinggi dari pada rata-rata industri yaitu 91 hari dengan rata-rata industri 68
hari, hal tersebut menandakan bahwa kinerja pada tahun 2010 kurang baik
karena persediaan yang lebih lambat dijual. Dapat disimpulkan bahwa kinerja
PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk pada tahun 2008 sampai tahun 2010
dalam mengelola persediaannya untuk dijual kurang produktif atau masih banyak
persediaan yang menumpuk. Pada tahun 2008 kinerja PT. Indocement Tunggal
Prakarsa Tbk. dalam persediaan yang dijual lebih lambat dari PT. Holcim
Indonesia Tbk yaitu 73 hari dengan 41 hari, hal itu menandakan bahwa PT.
Holcim Indonesia Tbk lebih cepat dalam hari penjualan persediaan dibandingkan
dengan PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. Pada Tahun 2009 dan tahun 2010
kinerja PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk dalam hari penjualan persediaan
70

lebih lambat dari PT. Holcim Indonesia Tbk dan PT. Semen Gresik Tbk yaitu 91
hari pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa, 41 hari pada PT. Holcim Indonesia
Tbk., 73 hari pada PT. Semen Gresik Tbk.
Kinerja PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk dalam waktu pengelolaan
persediaan kurang baik karena berada di atas rata-rata industri serta lebih tinggi
dari kedua pesaingnya dalam waktu pengelolaan persediaan. Hal itu terjadi
karena ketidakefektifan PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk dalam mengelola
persediaannya.
7. Periode konversi persediaan pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk
Tahun 2008-2010.
Periode konversi persediaan pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tahun 20082010 akan ditunjukkan pada tabel 4.7 dibawah ini:
Tabel 4.7
Periode konversi persediaan PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk tahun 20082010.

Tahun

PT. Indocement
Tunggal Prakarsa
Tbk

PT. Holcim
Indonesia Tbk

PT. Semen Gresik


Tbk

Rata-Rata
Industri

2008

57 hari

29 hari

49 hari

45 hari

2009

44 hari

Turun
13 hari

23 hari

Turun 6
hari

36 hari

Turun
13
hari

34 hari

2010

43 hari

Turun
1 hari

31 hari

Naik 8
hari

41 hari

Naik
5 hari

38 hari

Sumber : Data sekunder yang telah diolah

71

Perhitungan periode konversi persediaan adalah persediaan dibagi dengan


penjualan perhari. Rasio ini berguna untuk mengukur

rata-rata waktu yang

dibutuhkan untuk mengonversi bahan baku menjadi barang jadi dan kemudian
menjual barang tersebut. Pada tahun 2008-2010 periode konversi persediaan
berada di atas rata-rata industri. Hal tersebut menunjukan bahwa rata-rata waktu
yang dibutuhkan untuk mengonversi bahan baku menjadi barang jadi dan
kemudian menjual barang lebih lama dan dikatakan kurang baik. Hal ini terjadi
karena adanya persediaan yang menumpuk dan belum diproduksi serta tidak
diimbangi dengan produksinya, dimana produksinya lebih kecil sedangkan
persediaannya menumpuk. Kinerja PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk pada
tahun 2008-2010 dalam periode konversi persediaan juga kalah dengan kedua
pesaingnya.
8. Periode Penerimaan Piutang pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk
Tahun 2008-2010.
Periode Penerimaan Piutang pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tahun 20082010 akan ditunjukkan pada tabel 4.8 dibawah ini:
Tabel 4.8
Periode Penerimaan Piutang PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk tahun 20082010.

Tahun

PT. Indocement
Tunggal Prakarsa
Tbk

PT. Holcim
Indonesia Tbk

PT. Semen Gresik


Tbk

Rata-Rata
Industri

2008

31 hari

39 hari

34 hari

35 hari

2009

44 hari

Naik

35 hari

Turun 4

36 hari

Naik

38 hari

72

13 hari
2010

42 hari

Turun
2 hari

hari
35 hari

2 hari
35 hari

Turun
1 hari

37 hari

Sumber : Data sekunder yang telah diolah


Perhitungan periode penerimaan piutang adalah piutang dibagi dengan
penjualan perhari. Pada tahun 2008 kinerja PT. Indocement Tunggal Prakarsa
Tbk dalam pengumpulan piutang dikatakan cukup baik karena berada dibawah
rata-rata industri, hal tersebut menunjukan bahwa piutang cepat tertagih. Pada
tahun 2009-2010 kinerja PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk dalam
pengumpulan piutang dikatakan kurang baik karena berada di atas rata-rata
industri , hal itu menunjukan piutang yang lama tertagih. kinerja PT. Indocement
Tunggal Prakarsa Tbk dalam pengumpulan piutang juga kalah dengan kedua
pesaingnya. Piutang kedua pesaingnya lebih cepat tertagih.
9. Periode penangguhan hutang pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk
Tahun 2008-2010.
Periode penangguhan hutang pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tahun
2008-2010 akan ditunjukkan pada tabel 4.9 dibawah ini:
Tabel 4.9
Periode penangguhan hutang PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk tahun 20082010.

Tahun

PT. Indocement
Tunggal Prakarsa
Tbk

PT. Holcim
Indonesia Tbk

PT. Semen Gresik


Tbk

Rata-Rata
Industri

2008

18 hari

38 hari

37 hari

31 hari

2009

33 hari

Naik

31 hari

Turun 7

37 hari

34 hari

73

15 hari
2010

26 hari

Turun
7 hari

hari
20 hari

Turun 9
hari

24 hari

Turun
13
hari

23 hari

Sumber : Data sekunder yang telah diolah


Perhitungan

periode penangguhan utang adalah utang dibagi dengan

harga pokok penjualan perhari. Pada tahun 2008-2009 periode penangguhan


utang lebih cepat dari rata-rata industri serta Pada tahun 2010 periode
penangguhan utang lebih lama dari rata-rata industri sebaiknya periode
penangguhan utang lebih lama lebih baik karena berguna untuk memperlancar
aktivitas operasi karena dana pembayaran utang digunakan untuk membiayai
aktivitas operasi sehingga akan memperoleh penjualan dan laba untuk
kelangsungan hidup perusahaan.
10. Periode konversi kas pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk Tahun
2008-2010.
Periode konversi kas pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tahun 2008-2010
akan ditunjukkan pada tabel 4.10 dibawah ini:
Tabel 4.10
Periode konversi kas PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk tahun 2008-2010.

Tahun

PT. Indocement
Tunggal Prakarsa
Tbk

PT. Holcim
Indonesia Tbk

PT. Semen Gresik


Tbk

Rata-Rata
Industri

2008

70 hari

30 hari

46 hari

49 hari

2009

55 hari

Turun
15 hari

27 hari

Turun 3
hari

35 hari

Turun
11

39 hari

74

hari
2010

59 hari

Naik 4
hari

46 hari

Naik 19
hari

52 hari

Naik
17
hari

52 hari

Sumber : Data sekunder yang telah diolah


Perhitungan periode konversi kas adalah periode konversi persediaan
ditambah dengan periode pengumpulan piutang dikurang dengan periode
penangguhan utang. Pada tahun 2008-2010 periode konversi kas PT. Indocement
tunggal Prakarsa Tbk lebih tinggi dari rata-rata industri hal itu menunjukan
bahwa kinerja perusahaan dalam mengkonversi kas lebih lama, sebaiknya
konversi kas lebih cepat lebih baik karena itu menunjukkan bahwa kas yang
cepat dihasilkan dimana kas tersebut dapat digunakan untuk memperlancar
aktivitas operasi dalam rangka peningkatan penjualan dan meningkatkan laba
untuk perusahaan dan sebaliknya jika konversi kas lebih lama maka akan
semakin tinggi tingkat pendanaan yang dibutuhkan.

IV.1.2. Analisis Profitabilitas


1. Profit Margin pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk Tahun 2008-2010.

Profit Margin pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tahun 2008-2010 akan
ditunjukkan pada tabel 4.11 dibawah ini:
Tabel 4.11
Profit Margin PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk tahun 2008-2010.
75

Tahun

PT. Indocement
Tunggal Prakarsa
Tbk

PT. Holcim
Indonesia Tbk

PT. Semen
Gresik Tbk

Rata-Rata
Industri

2008

18%

6%

21%

15%

2009

25%

Naik
7%

15%

Naik
9%

23%

Naik
2%

21%

2010

28%

14%

Turun
1%

25%

Naik
2%

22%

Naik
3%

Sumber : Data sekunder yang telah diolah


Perhitungan Profit Margin adalah laba bersih dibagi penjualan bersih.
Rasio Profit Margin lebih tinggi lebih baik karena tingginya nilai penjualan yang
menghasilkan tingginya laba bersih, jika rasio ini lebih rendah maka perlu
ditelusuri apakah harga-harga produk relatif lebih rendah dengan biaya yang
relatif tinggi. Berdasarkan hasil perhitungan Profit Margin menunjukan bahwa
pada tahun 2008 kinerja PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk dalam
menghasilkan laba bersih dari setiap penjualan cukup baik yaitu sebesar 18 %
yang dibandingkan dengan rata-rata industri yaitu 15%, pada tahun 2008 kinerja
PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk dalam menghasilkan laba bersih dari
setiap penjualan lebih rendah dibandingkan dengan PT. Semen Gresik Tbk yaitu
18% dengan 21%. Pada tahun 2009 perhitungan Profit Margin menghasilkan
rasio sebesar 25 % berarti ada peningkatan 7% dari tahun 2008, hal ini
menunjukkan kinerja yang baik pada tahun 2009 dalam menghasilkan laba bersih
yang tinggi dari penjualan, selain itu pada tahun 2009 kinerja PT. Indocement
Tunggal Prakarsa Tbk dalam menghasilkan laba bersih dari setiap penjualan
cukup baik karena berada diatas rata-rata industri yaitu 25% dibandingkan
76

dengan 21% di rata-rata industri, pada tahun 2009 kinerja PT. Indocement
Tunggal Prakarsa Tbk. lebih baik dibandingkan dengan 2 pesaingnya karena
rasio profit margin pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk.lebih tinggi
dibandingkan dengan 2 pesaingnya. Pada tahun 2010 hasil perhitungan Profit
margin adalah 28% dan terjadinya kenaikan 3% dari tahun 2009 dan jika
dibandingkan dengan rata-rata industri PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk
memiliki kinerja yang cukup baik dalam menghasilkan laba yang tinggi dari
penjualannya yaitu 28% dibandingkan dengan 22% rata-rata industri. Pada tahun
2010 PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk memiliki kinerja yang cukup baik
dalam menghasilkan laba yang tinggi dari penjualan dibandingkan dengan 2
pesaingnya karena rasio profit margin PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk
lebih tinggi.
Kinerja PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk pada tahun 2008 dalam
menghasilkan laba lebih rendah dibandingkan dengan PT. Semen Gresik Tbk
karena pada tahun 2008 laba dan penjualan yang dihasilkan oleh PT. Semen
Gresik Tbk lebih besar dibandingkan dengan PT. Indocement Tunggal Prakarsa
Tbk.
2. Gross Profit Margin pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk Tahun

2008-2010.
Gross Profit Margin pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tahun 2008-2010
akan ditunjukkan pada tabel 4.12 dibawah ini:
Tabel 4.12
77

Gross Profit Margin PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk tahun 2008-2010.

Tahun

PT. Indocement
Tunggal Prakarsa
Tbk

PT. Holcim
Indonesia Tbk

PT. Semen
Gresik Tbk

Rata-Rata
Industri

2008

41%

37%

44%

41%

2009

48%

Naik
7%

38%

Naik
1%

47%

Naik
3%

44%

2010

50%

38%

47%

45%

Naik
2%

Sumber : Data sekunder yang telah diolah


Perhitungan Gross Profit Margin adalah penjualan bersih dikurangi HPP
dibagi penjualan bersih. Rasio Gross Profit Margin lebih tinggi lebih baik karena
biaya-biaya produksi yang sudah sesuai untuk menghasilkan laba kotor, jika
rasio ini lebih rendah maka perlu ditelusuri apakah harga-harga produk relatif
lebih rendah dengan biaya yang relatif tinggi. Berdasarkan hasil perhitungan
Gross Profit Margin menunjukan bahwa pada tahun 2008 kinerja PT. Indocement
Tunggal Prakarsa Tbk dalam menghasilkan laba kotor cukup bagus karena sama
dengan rata-rata industri. Pada tahun 2009-2010 kinerja PT. Indocement Tunggal
Prakarsa Tbk dalam menghasilkan laba kotor cukup bagus karena berada di atas
rata-rata industri serta lebih besar dari kedua pesaingnya dan mengalami
kenaikan dari tahun 2008-2010. Hal tersebut menandakan bahwa PT. Indocement
Tunggal Prakarsa Tbk cukup baik dalam menghasilkan laba kotor serta
perhitungan hpp yang sudah sesuai dengan harga produk yang sesuai.
Kinerja PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk pada tahun 2008 lebih
rendah dari PT. Semen Gresik Tbk yaitu 41% dengan 44%, hal tersebut terjadi
78

karena penjualan dan laba kotor yang dihasilkan oleh PT. Semen Gresik Tbk
lebih besar dibandingkan PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk.
3. Asset Turnover pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk Tahun 2008-

2010.
Asset Turnover pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tahun 2008-2010 akan
ditunjukkan pada tabel 4.13 dibawah ini:
Tabel 4.13
Asset Turnover PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk tahun 2008-2010.

Tahun

PT. Indocement
Tunggal Prakarsa
Tbk

PT. Holcim
Indonesia Tbk

PT. Semen Gresik


Tbk

Rata-Rata
Industri

2008

0,9 kali

0,6 kali

1,3 kali

0,9 kali

2009

0,8 kali

Turun
0,1 kali

0,8 kali

Naik
0,1 kali

1,2 kali

Turun
0,1 kali

0,9 kali

2010

0,7 kali

Turun
0,1 kali

0,7kali

Turun
0,1 kali

1 kali

Turun
0,2 kali

0,8 kali

Sumber : Data sekunder yang telah diolah


Perhitungan Asset Turnover adalah Penjualan bersih dibagi dengan total
aset rata-rata. Asset Turnover digunakan untuk mengukur

efisiensi sebuah

perusahaan dalam menggunakan asetnya untuk memperoleh penjualan. Pada


tahun 2008 Asset Turnover pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk sebesar
0,9 kali berarti Perusahaan menghasilkan Rp.0,9 untuk setiap rupiah yang telah
diinvestasikan pada asetnya dan sebanding dengan 0,9 kali dengan rata-rata
industri, hal tersebut menunjukan bahwa pada tahun 2008 perusahaan cukup
efisien dalam menggunakan asetnya untuk memperoleh penjualan, tetapi kinerja
79

PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk pada tahun 2008 lebih rendah dari PT.
Semen Gresik Tbk yaitu 0,9 kali dengan 1,3 kali, hal itu menunjukan bahwa PT.
Semen Gresik Tbk mempunyai kinerja lebih baik dalam penggunaan asetnya
untuk menghasilkan penjualan dibandingkan PT. Indocement Tunggal Prakarsa
Tbk. Pada tahun 2009 kinerja PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk dalam
penggunaan asetnya untuk menghasilkan penjualan mengalami penurunan 0,1
kali dari tahun 2008 dan berada dibawah rata-rata industri yaitu 0,8% dengan
0,9% serta kinerjanya kalah dengan pesaingnya PT. Semen Gresik Tbk yaitu
sebesar 0,8 kali dengan 1,2 kali, hal ini menunjukan bahwa kinerja PT.
Indocement Tunggal Prakarsa Tbk pada tahun 2009 kurang efisien dalam
penggunaan aset untuk menghasilkan penjualan, dan perusahaan belum
memaksimalkan

aset

yang

dimilikinya.

Perusahaan

diharapkan

untuk

meningkatkan lagi penjualannya atau mengurangi sebagian aktiva yang kurang


produktif, pada tahun 2009 perusahaan menghasilkan Rp.0,8 untuk setiap rupiah
yang diinvestasikan pada asetnya. Pada tahun 2010 kinerja PT. Indocement
Tunggal Prakarsa Tbk. mengalami penurunan sebesar 0,1 kali dari tahun 2009
dan berada dibawah rata-rata industri yaitu sebesar 0,7kali dengan 0,8 kali serta
lebih rendah dengan pesaingnya PT. Semen Gresik Tbk yaitu 0,7 kali dengan 1
kali, hal tersebut menunjukan bahwa pada tahun 2010 kinerja PT. Indocement
Tunggal Prakarsa Tbk

kurang efisien dalam penggunaan aset untuk

menghasilkan penjualan dan perusahaan belum memaksimalkan penggunaan


asetnya. Perusahaan diharapkan untuk meningkatkan penjualannya atau
mengurangi sebagian aktiva yang kurang produktif. Pada tahun 2010 PT.
80

Indocement Tunggal Prakarsa Tbk menghasilkan asset turnover sebanyak 0,7


kali berarti perusahaan menghasilkan penjulan Rp.0,7 untuk setiap rupiah yang
diinvestasikan pada asetnya.
Kinerja PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk dalam efisiensi
penggunaan assetnya untuk menghasilkan penjualan pada tahun 2009-2010
dikatakan kurang baik karena Kenaikan penjualannya lebih kecil dibandingkan
dengan kenaikan total aktivanya, dan dapat disimpulkan bahwa kenaikan total
asset tidak dapat mendorong kenaikan penjualan serta bisa dilihat dari perputaran
persediaannya dan perputaran piutang yang kurang baik di tahun 2009 dan tahun
2010 sehingga berpengaruh pada keefektifan penggunaan total asset untuk
menghasilkan penjualan.
Kinerja PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk dalam efisiensi
penggunaan assetnya untuk menghasilkan penjualan pada tahun 2008-2010 lebih
rendah dibandingkan dengan PT. Semen Gresik Tbk, hal itu terjadi karena PT.
Semen Gresik Tbk lebih efektif dalam pengelolaan aktivanya untuk
menghasilkan penjualan dibandingkan dengan PT. Indocement Tunggal Prakarsa
Tbk.
4. Return on Asset pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk Tahun 2008-

2010.
Return on Asset pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tahun 2008-2010 akan
ditunjukkan pada tabel 4.14 dibawah ini:
Tabel 4.14
81

Return on Asset PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk tahun 2008-2010.

Tahun

PT. Indocement
Tunggal
Prakarsa Tbk

PT. Holcim Indonesia


Tbk

PT. Semen Gresik


Tbk

Rata-Rata
Industri

2008

16%

4%

26%

15%

2009

22%

Naik 6%

12%

Naik 8 %

28%

Naik 2%

21%

2010

22%

9%

Turun 3%

25%

Turun 3%

19%

Sumber : Data sekunder yang telah diolah


Perhitungan Return on Asset adalah laba bersih dibagi dengan aset ratarata. Return on asset berguna untuk mengetahui seberapa besar laba bersih yang
dihasilkan perusahaan yang diukur dari nilai asetnya. Pada tahun 2008 tingkat
pengembalian aset sebesar 16% berada diatas rata-rata industri yaitu 15% ,tetapi
tingkat pengembalian aset perusahaan masih lebih rendah dari PT. Semen Gresik
Tbk yaitu 16% dengan 26%. Pada tahun 2009 tingkat pengembalian aset PT.
Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. berada di atas rata-rata industri yaitu 22%
dibandingkan dengan 21%, tetapi tingkat pengembalian aset perusahaan masih
lebih rendah dibandingkan dengan pesaingnya PT. Semen Gresik Tbk yaitu 22%
dengan 28% selain itu terjadi peningkatan 6% dari tahun 2008 sampai tahun
2009. Pada tahun 2010 tingkat pengembalian atas aset PT. Indocement Tunggal
Prakarsa Tbk berada diatas rata-rata industri yaitu sebesar 22 % dengan 19%,
tetapi rasionya masih rendah dari pesaingnya PT. Semen Gresik Tbk yaitu 22%
dengan 25%. Pada perhitungan rasio return on assets PT. Indocement Tunggal
Prakarsa Tbk. dari tahun 2008 sampai tahun 2010, tingkat pengembalian atas aset

82

cukup baik karena berada diatas rata-rata industri hal itu menunjukan bahwa laba
bersih yang meningkat dari tahun ke tahun.
Kinerja

PT. Indocement

Tunggal

Prakarsa Tbk dalam

tingkat

pengembalian assetnya masih lebih rendah dibandingkan dengan PT. Semen


Gresik Tbk karena laba dan total asset yang dihasilkan oleh PT. Semen Gresik
Tbk lebih besar dibandingkan dengan PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk.
5. Return on Equity pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk Tahun 2008-

2010.
Return on Equity pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tahun 2008-2010 akan
ditunjukkan pada tabel 4.15 dibawah ini:

Tabel 4.15
Return on Equity PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk tahun 2008-2010.

Tahun

PT. Indocement
Tunggal Prakarsa
Tbk

PT. Holcim Indonesia


Tbk

PT. Semen Gresik


Tbk

Rata-Rata
Industri

2008

21%

10%

31%

21%

2009

26%

Naik
5%

27%

Naik 17%

33%

Naik 2%

29%

2010

25%

Turun
1%

12%

Turun
15%

30%

Turun 3%

22%

Sumber : Data sekunder yang telah diolah

83

Perhitungan Return on Equity adalah laba bersih dibagi dengan ekuitas


pemegang saham biasa. Rasio ini digunakan untuk mengukur seberapa banyak
laba bersih dalam rupiah yang diperoleh dari setiap rupiah yang diinvestasikan
oleh para pemilik. Pada tahun 2008 tingkat pengembalian atas ekuitas pemegang
saham biasa dianggap cukup baik karena rasionya sama dengan rata-rata industri
yaitu 21%, tetapi tingkat pengembalian atas ekuitas pemegang saham biasa pada
PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. masih lebih rendah bila dibandingkan
dengan PT. Semen Gresik Tbk yaitu 21% dengan 31%. Pada tahun 2009 tingkat
pengembalian atas pemegang saham biasa mengalami kenaikan 5% tetapi lebih
rendah dari rata-rata industri yaitu 26% dengan 29%. Selain itu, tingkat
pengembalian atas ekuitas pemegang saham biasa pada PT. Indocement Tunggal
Prakarsa Tbk. masih lebih rendah bila dibandingkan dengan PT. Semen Gresik
Tbk dan PT. Holcim Indonesia Tbk yaitu 26% dengan 33% dan dengan 27%, hal
itu menunjukan bahwa tingkat pengembalian atas pemegang saham biasa pada
PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk di tahun 2009 dianggap kurang baik
karena rasionya berada di bawah rata-rata industri dan dibawah

kedua

pesaingnya, maka itu menunjukan bahwa manajemen tidak mampu dalam


memperoleh return on equity. Pada tahun 2010 tingkat pengembalian atas
pemegang saham biasa pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk cukup baik
karena berada diatas rata-rata industri yaitu 25% dengan 22%, meskipun
mengalami penurunan 1% dari tahun 2009, tetapi Pada tahun 2010 tingkat
pengembalian atas pemegang saham biasa pada PT. Indocement Tunggal
Prakarsa Tbk masih lebih rendah dibandingkan dengan PT. Semen Gresik Tbk.
84

hal ini karena laba bersih yang dihasilkan PT. Semen Gresik Tbk pada tahun
2008 sampai tahun 2010 lebih banyak dibandingkan PT. Indocement Tunggal
Prakarsa Tbk.
Kinerja PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk dalam mengukur seberapa
banyak laba bersih dalam rupiah yang diperoleh dari setiap rupiah yang
diinvestasikan pada tahun 2009 dikatakan kurang baik karena rasionya dibawah
rata-rata industri serta lebih rendah dibandingkan dengan kedua pesaingnya
karena Kenaikan ekuitas yang lebih besar dibandingkan dengan kenaikan laba
bersih dari tahun sebelumnya sehingga menghasilkan rasio yang lebih kecil.
Kinerja PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk dalam mengukur seberapa
banyak laba bersih dalam rupiah yang diperoleh dari setiap rupiah yang
diinvestasikan pada tahun 2009 lebih rendah jika dibandingkan dengan PT.
Semen Gresik Tbk karena laba bersih yang dihasilkan lebih besar dari PT.
Indocement Tunggal Prakarsa Tbk serta kenaikan laba yang lebih besar
dibandingkan dengan kenikan ekuitas.
Kinerja PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk dalam mengukur seberapa
banyak laba bersih dalam rupiah yang diperoleh dari setiap rupiah yang
diinvestasikan pada tahun 2009 lebih rendah jika dibandingkan dengan PT.
Holcim Indonesia Tbk karena kenaikan laba bersih dari tahun sebelumnya
diimbangi dengan penurunan ekuitas maka rasio menjadi lebih tinggi dari PT.
Indocement Tunggal Prakarsa Tbk.

85

6. Earning per Share pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk Tahun 2008-

2010.
Earning per Share pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tahun 2008-2010
akan ditunjukkan pada tabel 4.16 dibawah ini.
Tabel 4.16
Earning per Share PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk tahun 2008-2010.

Tahun

PT. Indocement
Tunggal Prakarsa Tbk

PT. Holcim Indonesia


Tbk

PT. Semen Gresik


Tbk

Rata-Rata
Industri

2008

Rp.474,16

Rp.37

Rp.426

Rp.312

2009

Rp.746,12

Naik
Rp.271,96

Rp.117

Naik
Rp.80

Rp.566

Naik
Rp.140

Rp.476

2010

Rp.876,05

Naik
Rp.129,9

Rp.108

Turun
Rp.9

Rp.613

Naik
Rp.47

Rp.532

Sumber : Data sekunder yang telah diolah


Perhitungan Earning per Share adalah laba bersih dibandingkan dengan
rata-rata tertimbang saham biasa yang beredar. Pengukuran ini berguna untuk
mengukur setiap laba bersih yang diperoleh dari setiap lembar saham.
Perbandingan pada perusahaan di satu industri yang sama tidak dilakukan karena
pada jumlah saham yang beredar di antara perusahaan besarnya beranekaragam.
Pada tahun 2008 Earning per Share PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk
adalah Rp.474,16. Pada tahun 2009 Earning per Share PT. Indocement Tunggal
Prakarsa Tbk adalah Rp.746,12 dan mengalami peningkatan sebesar Rp.271,96
dari tahun 2008. Pada tahun 2010 Earning per Share PT. Indocement Tunggal
Prakarsa Tbk adalah Rp.876,05 dan mengalami peningkatan Rp.129,9 dari tahun
86

2010. Laba bersih yang dihasilkan dari setiap lembar saham pada PT.
Indocement Tunggal Prakarsa Tbk lebih unggul dibandingkan dengan kedua
pesaingnya.
7. Price Earning Ratio

pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk Tahun

2008-2010.
Price Earning Ratio pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tahun 2008-2010
akan ditunjukkan pada tabel 4.17 dibawah ini:
Tabel 4.17
Price Earning Ratio PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk tahun 2008-2010.

Tahun

PT. Indocement
Tunggal Prakarsa Tbk

2008

12,2 kali

2009

11,2 kali

2010

18,2 kali

PT. Holcim Indonesia Tbk

PT. Semen Gresik Tbk

Rata-Rata
Industri

26 kali

9,8 kali

16 kali

Turun 1
kali

9,3 kali

Turun 16,7
kali

9,4 kali

Turun 0,4
kali

10 kali

Naik 7 kali

20 kali

Naik 10,7
kali

14,2 kali

Naik 4,8 kali

17,4 kali

Sumber : Data sekunder yang telah diolah


Perhitungan Price Earning Ratio adalah harga pasar perlembar saham
dibagi dengan Earning PerShare. Price Earning Ratio berguna sebagai alat
untuk mengetahui kemampuan perusahaan untuk memprediksi laba bersih,
apabila rasio ini tinggi nilainya berarti sahamnya mahal. Pada tahun 2008, Price
Earning Ratio PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk adalah 12,2 kali, lebih
rendah jika dibandingkan dengan rata-rata industri yaitu 12,1 kali serta lebih
rendah dibandingkan dari PT. Holcim Indonesia Tbk dan lebih tinggi dari PT.
87

Semen Gresik Tbk, hal tersebut menunjukan bahwa harga saham perusahaan
yang tidak terlalu mahal serta perusahaan mampu menghasilkan laba bersih.
Pada tahun 2009, Price Earning Ratio PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk
adalah 11,2 kali dan mengalami penurunan sebesar 1 kali dari tahun 2008 serta
rasionya lebih tinggi dibandingkan kedua pesaingnya, hal tersebut menunjukan
mahalnya harga saham pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. Pada tahun
2010, Price Earning Ratio PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk adalah 18,2
kali,serta peningkatan 7 kali dari tahun 2009, rasio ini lebih tinggi bila
dibandingkan dengan rata-rata industri yaitu 17,4 kali serta lebih tinggi dari
pesaingnya PT. Semen Gresik Tbk yaitu 18,2 kali dengan 15,4 kali, hal tersebut
menunjukan bahwa harga saham PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk masih
mahal harganya.
8. Payout Ratio pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk Tahun 2008-2010.

Payout ratio pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tahun 2008-2010 akan
ditunjukkan pada tabel 4.18 dibawah ini:
Tabel 4.18
Payout Ratio PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk tahun 2008-2010.

Tahun

PT. Indocement
Tunggal Prakarsa Tbk

2008

8,4%

2009

20%

2010

26%

Naik 11,6%
Naik 6%

PT. Holcim Indonesia


Tbk

PT. Semen Gresik


Tbk

Rata-Rata
Industri

35%

14%

48%

Naik 13%

23%

50%

Naik 2%

25%

Sumber : Data sekunder yang telah diolah


88

Perhitungan Payout Ratio adalah dividen kas dibagi dengan laba bersih.
Pada rasio ini jika rasio lebih rendah maka menandakan bahwa perusahaan
menginvestasikan kembali sebagian besar dari laba bersih untuk usaha mereka
karena perusahaan yang memiliki tingkat pertumbuhan yang tinggi. PT. Holcim
Indonesia tidak membagikan deviden dari tahun 2008 sampai tahun 2010 dan itu
bisa dilihat dilaporan keuangannya tidak dicantumkan adanya deviden dan
karena adanya kuasi reorganisasi. Pada tahun 2008 rasio pembayaran pada PT.
Indocement Tunggal Prakarsa Tbk lebih rendah dari rata-rata industri dan dari
pesaingnya, hal itu menandakan bahwa PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk
menginvestasikan sebagian laba bersihnya untuk perkembangan bisnis mereka.
Pada tahun 2009 rasio pembayaran pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk
lebih rendah dari rata-rata industri dan dari pesaingnya, hal itu menandakan
bahwa PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk menginvestasikan sebagian laba
bersihnya untuk perkembangan bisnis mereka serta mengalami kenaikan 11,6%
dari tahun 2008 yang menandakan bahwa peningkatan perusahaan dalam
membagikan devidennya. Pada tahun 2010 rasio pembayaran pada PT.
Indocement Tunggal Prakarsa Tbk lebih tinggi dari rata-rata industri yaitu 26%
dengan 25% serta mengalami peningkatan 6 % dari tahun 2009, hal itu
menandakan bahwa peningkatan perusahaan dalam membagikan devidennya
dibandingkan dengan investasi kembali. Pada tahun 2010 rasio pembayaran PT.
Indocement Tunggal Prakarsa Tbk lebih rendah dari PT. Semen Gresik Tbk, hal
itu menandakan bahwa PT. Semen Gresik Tbk lebih banyak melakukan
pengembalian deviden.
89

IV.1.3. Analisis Solvabilitas


1. Debt to Total Asset Ratio pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk Tahun

2008-2010.
Debt to Total Asset Ratio pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tahun 20082010 akan ditunjukkan pada tabel 4.19 dibawah ini:
Tabel 4.19
Debt to Total Asset Ratio PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk tahun 20082010.

Tahun

PT. Indocement
Tunggal Prakarsa
Tbk

PT. Holcim
Indonesia Tbk

PT. Semen Gresik


Tbk

Rata-Rata
Industri

2008

24%

66%

23%

38%

2009

19%

Turun
5%

54%

Turun
12%

20%

Turun
3%

31%

2010

15%

Turun
4%

35%

Turun
19%

22%

Naik 2%

24%

Sumber : Data sekunder yang telah diolah


Perhitungan Debt to Total Asset Ratio adalah total utang dibagi dengan
total aset. Rasio ini menunjukan kemampuan perusahaan dalam melunasi
kewajiban yang jatuh tempo, apabila rasio ini lebih rendah maka lebih disukai
oleh kredior karena menandakan bahwa perusahaan masih mampu dalam
melakukan pembayaran kewajibannya. Pada tahun 2008 Debt to Total Asset
Ratio pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk dikatakan cukup baik karena
dibawah rata-rata industri yaitu 24% dengan 38%, hal ini menunjukan bahwa PT.
Indocement Tunggal Prakarsa Tbk mampu dalam melunasi kewajibannya karena
90

total asetnya yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan total kewajibannya,
tetapi pada tahun 2008 PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk masih lebih tinggi
dibandingkan dengan PT. Semen Gresik Tbk yaitu 24% dengan 23%. Pada tahun
2009 Debt to Total Asset Ratio PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk lebih
rendah dari rata-rata industri yaitu 19% dengan 31% dan lebih rendah dari kedua
pesaingnya serta mengalami penurunan 5% dari tahun 2008, hal itu menunjukan
bahwa pada tahun 2009 PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk memiliki
kemampuan dalam melunasi kewajibannya dan sangat disukai oleh kreditor.
Pada tahun 2010 Debt to Total Asset Ratio PT. Indocement Tunggal Prakarsa
Tbk lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata industrinya yaitu 15% dengan
24% dan lebih rendah dibandingkan dengan dengan kedua pesaingnya serta
mengalami penurunan 4% dari tahun 2009, hal ini menunjukkan pada tahun 2010
PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk memiliki kemampuan dalam melunasi
kewajibannya dan sangat disukai oleh kreditor karena pada tahun 2010 PT.
Indocement Tunggal Prakarsa Tbk memiliki total aset yang lebih besar
dibandingkan dengan total kewajiban. Pada tahun 2008-2010 terjadi penurunan
Debt Total Ratio pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk karena terjadi
kenaikan total asset yang disertai penurunan Total kewajiban.
Kinerja PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk pada tahun 2008 masih
lebih tinggi dari PT. Semen Gresik Tbk ,hal itu terjadi karena PT. Semen Gresik
Tbk memiliki total aset yang lebih besar serta memiliki total kewajiban yang
lebih kecil dibandingkan dengan PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk.

91

2. Timed Interest Earned pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk Tahun

2008-2010.
Timed Interest Earned pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tahun 2008-2010
akan ditunjukkan pada tabel 4.20 dibawah ini:
Tabel 4.20
Timed Interest Earned PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk tahun 2008-2010.

Tahun

PT. Indocement
Tunggal Prakarsa Tbk

PT. Holcim Indonesia


Tbk

PT. Semen Gresik


Tbk

Rata-Rata
Industri

2008

0,2 kali

0,02 kali

1,4 kali

0,5 kali

2009

1,1 kali

Naik 0,9
kali

0,04 kali

Naik 0,02
kali

2,3 kali

Naik 0,9
kali

1,1 kali

2010

2,6 kali

Naik 1,5
kali

0,06 kali

Naik 0,02
kali

1,8 kali

Turun 0,5
kali

1,5 kali

Sumber : Data sekunder yang telah diolah


Perhitungan Timed Interest Earned

adalah laba sebelum pajak

penghasilan dan beban bunga dibagi dengan beban bunga. Rasio ini berguna
untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk melunasi pembayaran bunga
ketika jatuh tempo tanpa memperhitungan pajak yang dibebankan . Pada tahun
2008 kemampuan perusahaan untuk melunasi pembayaran bunga ketika jatuh
tempo. Dikatakan kurang baik karena lebih rendah dari rata-rata industri yaitu
0,2 kali dengan 0,5 kali, selain itu lebih rendah dibandingkan pesaingnya PT.
Semen Gresik Tbk, hal itu menandakan ketidakmampuan perusahaan dalam
melakukan pembayaran bunga atas pinjaman. Pada tahun 2009 Timed Interest
Earned PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk lebih sama dibandingkan dengan
rata-rata industri yaitu 1,1 kali dengan 1,1 kali, selain itu lebih rendah
92

dibandingkan pesaingnya yaitu PT. Semen Gresik Tbk, hal itu menandakan
kemampuan perusahaan dalam melakukan pembayaran bunga atas pinjaman,
tetapi lebih baik dibandingkan tahun 2008 karena mengalami kenaikan 0,9 kali.
Pada tahun 2010 Timed Interest Earned PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk
lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata industri yaitu 2,6 kali dengan 1,5 kali,
dan mengalami kenaikan 1,5 kali dari tahun 2009, hal itu menunjukan
perusahaan mampu melakukan pembayaran bunga yang jatuh tempo pada tahun
2010 dan terus mengalami peningkatan dari tahun- tahun sebelumnya, Pada
tahun 2010 kemampuan perusahaan dalam melakukan pembayaran bunga atas
pinjaman lebih tinggi dibandingkan kedua pesaingnya.
Kinerja Perusahaan pada tahun 2008 Pada PT. Indocement Tunggal
Prakarsa Tbk dikatakan kurang mampu dalam melunasi pembayaran bunga
ketika jatuh tempo tanpa memperhitungan pajak yang dibebankan dikarenakan
Penurunan laba usaha sebelum bunga dan pajak lebih besar dibandingkan dengan
penurunan beban bunga dari tahun sebelumnya.
Kinerja PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk pada tahun 2008-2009
masih lebih rendah dibandingkan PT. Semen Gresik Tbk karena PT. Semen
Gresik Tbk memiliki laba sebelum bunga dan pajak yang lebih besar
dibandingkan dengan PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk serta memiliki
beban bunga yang lebih rendah dibandingkan dengan PT. Indocement Tunggal
Prakarsa Tbk.
IV.2. Analisis Metode Economic Value Added (EVA)
93

Analisis metode Economic Value Added (EVA) berguna untuk


menghitung nilai tambah ekonomis dari perusahaan untuk pemegang saham.
Analisis terhadap laporan keuangan PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk
dengan

menggunakan

metode

Economic

Value

Added

(EVA)

akan

diperbandingkan dengan rata-rata industri pada industri semen yang tercatat di


Bursa Efek Indonesia. Langkah-langkah Perhitungan Economic Value Added
(EVA) adalah sebagai berikut:
1. Perhitungan Net Operating Profit After Tax (NOPAT)
2. Perhitungan Invested Capital
3. Perhitungan Cost of Capital (COC)
4. Perhitungan Weight Average Cost of Capital (WACC)
5. Perhitungan Economic Value Added (EVA)
IV.2.1. Perhitungan Net Operating Profit After Tax (NOPAT)
1. Perhitungan Net Operating Profit After Tax (NOPAT) pada PT. Indocement

Tunggal Prakarsa Tbk serta kedua pesaingnyaTahun 2008-2010.


Perhitungan Net Operating Profit After Tax (NOPAT) pada PT. Indocement
Tunggal Prakarsa serta kedua pesaingnya Tahun 2008-2010 akan ditunjukkan
pada tabel 4.21 dibawah ini:
Tabel 4.21
Perhitungan Net Operating Profit After Tax (NOPAT) PT. Indocement Tunggal
Prakarsa serta kedua pesaingnya Tbk tahun 2008-2010.
94

(Disajikan dalam jutaan rupiah)


Tahun

PT. Indocement
Tunggal Prakarsa Tbk

PT. Holcim Indonesia


Tbk

PT. Semen Gresik


Tbk

2008

1,869,216.00

491,001.00

2,570,152.00

2009

2,788,369.00

1,447,027.00

3,373,113.00

2010

3,199,222.00

1,063,202.00

3,685,214.00

Sumber : data diolah dari laporan keuangan masing masing perusahaan di satu
industri semen yang tercata di BEI.
Perhitungan Net Operating Profit After Tax (NOPAT) pada PT.
Indocement Tunggal Prakarsa Tbk mengalami kenaikan dari tahun 2008-2010
hal tersebut terjadi karena adanya peningkatan laba usaha serta terjadi keniakan
penghasilan bunga serta penurunan rugi kurs bersih dari tahun 2008-2010. Net
Operating Profit After Tax (NOPAT) tertinggi pada tahun 2010.
Perhitungan

Net Operating Profit After Tax (NOPAT) PT. Holcim

Indonesia Tbk mengalami peningkatan dari tahun 2008 sampai tahun 2009 hal
tersebut terjadi karena laba usaha yang terus meningkat, sedangkan penurunan
terjadi pada tahun 2010 jika dibandingkan dari tahun 2009, hal tersebut terjadi
karena penurunan laba usaha. Net Operating Profit After Tax (NOPAT) tertinggi
pada tahun 2009.
Perhitungan Net Operating Profit After Tax (NOPAT) pada PT. Semen
Gresik Tbk mengalami peningkatan dari tahun 2008-2010,hal tersebut terjadi
karena adanya peningkatan laba usaha setiap tahunnya dari tahun 2008-2010.
Net Operating Profit After Tax (NOPAT) tertinggi pada tahun 2010.

95

Perhitungan NOPAT PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk lebih rendah


dari PT. Semen Gresik Tbk, hal itu terjadi karena Laba Usaha dari PT. Semen
Gresik Tbk lebih besar dibandingkan dengan PT. Indocement Tunggal Prakarsa
Tbk.

IV.2.2. Perhitungan Invested Capital


1. Perhitungan Invested Capital pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk

serta kedua pesaingnya Tahun 2008-2010.


Perhitungan Invested Capital pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk serta
kedua pesaingnya Tahun 2008-2010 akan ditunjukkan pada tabel 4.22 dibawah
ini.
Tabel 4.22
Invested Capital PT. Indocement Tunggal Prakarsa serta kedua pesaingnya Tbk.
tahun 2008-2010.
(Disajikan dalam jutaan rupiah)
Tahun

PT. Indocement
Tunggal Prakarsa Tbk

PT. Holcim Indonesia


Tbk

PT. Semen Gresik


Tbk

2008

11,286,706.00

8,208,985.00

10,602,961.00

2009

13,276,514.00

7,265,366.00

12,951,307.00

2010

13,998,440.00

10,417,249.00

15,562,997.00

96

Sumber : data diolah dari laporan keuangan masing masing perusahaan di satu
industri semen yang tercatat di BEI.
Perhitungan Invested Capital pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk
mengalami peningkatan dari tahun 2008 sampai tahun 2010, hal tersebut terjadi
karena adanya peningkatan ekuitas perusahaan setiap tahunnya. Invested Capital
pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk tertinggi berada di tahun 2010.
Perhitungan Invested Capital pada PT. Holcim Indonesia Tbk tertinggi
pada tahun 2010. Invested Capital pada PT. Holcim Indonesia Tbk mengalami
penurunan dari tahun 2008-2009, sedangkan Invested Capital pada PT. Holcim
Indonesia Tbk mengalami peningkatan di tahun 2010 jika dibandingkan dengan
tahun sebelumnya, hal tersebut terjadi karena adanya peningkatan ekuitas
perusahaan.
Perhitungan Invested Capital pada PT. Semen Gresik Tbk mengalami
peningkatan dari tahun 2008 sampai tahun 2010, hal tersebut terjadi karena
adanya peningkatan ekuitas perusahaan dari tahun 2008 sampai tahun 2010.
Perhitungan Invested Capital pada PT. Semen Gresik Tbk tertinggi pada tahun
2010.
IV.2.3. Perhitungan Cost of Capital (COC)
Perhitungan Cost of Capital Pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk
serta perusahaan semen di satu industri semen yang tercatat di Bursa Efek
Indonesia terdiri dari Cost of debt dan Cost of Equity. Komposisi modal dari PT.

97

Indocement Tunggal Prakarsa Tbk serta perusahaan semen yang lain di satu
industri yang sama terdiri dari hutang dan saham biasa. Berikut perhitungannya:
1. Menghitung Cost of Debt ( Biaya hutang)
Perhitungan Cost of Debt ( Biaya hutang) dapat dihitung dengan
menggunakan rumus:
Ki = kd (1 T)
Untuk mencari kd dapat dihitung dengan menggunakan rumus :
Beban Bunga
Kd =
Hutang Jangka Panjang
Tarif pajak untuk masing-masing perusahaan di industri semen yang
tercatat di Bursa Efek Indonesia dapat dilihat pada tabel 4.23 dibawah ini.
Tabel 4.23
Tarif Pajak PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk serta kedua pesaingnya pada
tahun 2008-2010.
Tahun

PT. Indocement
Tunggal Prakarsa Tbk

PT. Holcim Indonesia


Tbk

PT. Semen Gresik


Tbk

2008

25%

6%

29%

2009

28%

30%

28%

2010

24%

28%

23%

Sumber :data diolah dari laporan keuangan masing masing perusahaan di satu
industri semen yang tercata di BEI.

98

Perhitungan biaya hutang pada masing-masing perusahaan di industri


semen yang tercatat di Bursa Efek Indonesia dapat dilihat pada tabel-tabel
dibawah ini.
Tabel 4.24
Biaya hutang PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk serta kedua pesaingnya
tahun 2008-2010.
Tahun

PT. Indocement
Tunggal Prakarsa Tbk

PT. Holcim Indonesia


Tbk

PT. Semen Gresik


Tbk

2008

11%

5%

5%

2009

4%

11%

4%

2010

1%

7%

2%

Sumber: data diolah dari laporan keuangan masing masing perusahaan di satu
industri semen yang tercata di BEI.
Biaya hutang pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk yang tertinggi
adalah pada tahun 2008 yaitu sebesar 11%,dan terendah pada tahun 2010 yaitu
1%. Hal tersebut menandakan biaya hutang yang tinggi disebabkan karena
peningkatan hutang perusahaan serta peningkatan tarif pajak dan begitu juga
sebaliknya jika biaya hutang yang rendah maka disebabkan turunnya hutang
perusahaan serta diikuti penurunan tarif pajak.
Biaya hutang pada PT. Holcim Indonesia Tbk. tertinggi adalah pada tahun
2009 dan terendah pada tahun 2008, hal tersebut menunjukan bahwa di tahun
2009 terjadinya peningkatan hutang dan tarif pajak sedangkan pada tahun 2008
terjadi penurunan huatng dan tarif pajak.

99

Biaya hutang pada PT. Semen Gresik Tbk tertinggi adalah pada tahun
2008 dan terendah pada tahun 2010, hal tersebut terjadi karena pada tahun 2008
terjadinya peningkatan hutang dan tarif pajak sedangkan pada tahun 2010
terjadinya penurunan hutang dan tarif pajak sehingga timbul biaya hutang yang
rendah.
Perbandingan biaya hutang pada industri semen pada tahun 2008 bahwa
biaya hutang yang tertinggi adalah PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk yaitu
11%, hal itu menandakan bahwa PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk memiliki
tingkat hutang yang tinggi serta tarif pajak yang tinggi dibandingkan dari kedua
pesaingnya. Pada tahun 2009 biaya hutang tertinggi ada pada PT. Holcim
Indonesia Tbk yaitu 11%, hal ini menandakan bahwa PT. Holcim Indonesia Tbk
memiliki tingkat hutang yang tinggi serta tarif pajak yang tinggi dibandingkan
dari kedua pesaingnya. Pada tahun 2010 biaya hutang tertinggi ada pada PT.
Holcim Indonesia Tbk yaitu 7%, hal ini menandakan bahwa PT. Holcim
Indonesia Tbk memiliki tingkat hutang yang tinggi serta tarif pajak yang tinggi
dibandingkan dari kedua pesaingnya.
2. Menghitung Cost of Equity
Perhitungan Cost of Equity dapat dihitung dengan menggunakan
pendekatan CAPM (Capital Asset Pricing Model) yaitu ks = Rf + (Rm Rf).
Perhitungan Cost of equity pada masing- masing perusahaan semen yang tercatat
di BEI dapat dilihat pada tabel-tabel dibawah ini.
Tabel 4.25
100

Perhitungan Cost of Equity PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk tahun 20082010.
Tahun

Tingkat
suku
bunga
SBI (Rf)

Return
Market
(Rm)

BETA

Cost of
Equity

Total Equity
(dalam Jutaan
rupiah)

Biaya
Ekuitas
(dalam
Jutaan
rupiah)

2008

8,64%

1.36%

0.536412
046

8,9%

8,500,193.00

756,517.00

2009

7,14%

1.23%

1.141713
865

7,7%

10,680,725.00

822,415.00

2010

6,50%

0.70%

0.606086
609

6,53%

13,077,390.00

853,953.00

Sumber : Data diolah


Hasil Perhitungan Cost of Equity PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk
tahun 2008-2010 yang tertinggi adalah pada tahun 2010 yaitu 853,953.00 dan
terendah pada tahun 2008 yaitu 756,517.00.
Tabel 4.26
Perhitungan Cost of Equity PT. Holcim Indonesia Tbk tahun 2008-2010.
Tahun

Tingkat
suku
bunga
SBI (Rf)

Return
Market
(Rm)

BETA

Cost of
Equity

Total Equity
(dalam
Jutaan
rupiah)

Biaya
Ekuitas
(dalam
Jutaan
rupiah)

2008

8,64%

1.36%

1.630299
196

9,4%

2,804,264.00

263,600.00

2009

7,14%

1.23%

1.309910
004

7,8%

3,314,890.00

258,561.00

101

2010

6,50%

0.70%

1.040108
97

6,6%

6,822,608.00

450,292.00

Sumber: data diolah


Hasil Perhitungan Cost of Equity PT. Holcim Indonesia Tbk tahun 20082010 yang tertinggi adalah pada tahun 2010 yaitu450,292.00 dan terendah pada
tahun 2009 yaitu 258,561.00.
Tabel 4.27
Perhitungan Cost of Equity PT. Semen Gresik Tbk tahun 2008-2010.
Tahun

Tingkat
suku
bunga
SBI (Rf)

Return
Market
(Rm)

BETA

Cost of
Equity

Total Equity
(dalam Jutaan
rupiah)

Biaya
Ekuitas
(dalam
Jutaan
rupiah)

2008

8,64%

1.36%

1.232399
731

9,2%

8,069.585.00

742,401.00

2009

7,14%

1.23%

0.957843
919

7,4%

10,197,679.00

754,628.00

2010

6,50%

0.70%

0.640940
83

6,53%

12,006,438.00

784,020.00

Sumber: data diolah


Hasil Perhitungan Cost of Equity PT. Semen Gresik Tbk tahun 2008-2010
yang tertinggi adalah pada tahun 2010 yaitu 784,020.00 dan terendah pada tahun
2008 yaitu 742,401.00.
IV.2.4. Perhitungan Weight Average Cost of Capital (WACC)
102

Perhitungan Weight Average Cost of Capital (WACC) dapat dihitung


dengan menggunakan biaya- biaya yang terdiri dari hutang dan ekuitas dikalikan
dengan setiap proporsinya. Berikut hasil perhitungan Weight Average Cost of
Capital (WACC) pada industri semen yang tercatat di Bursa Efek Indonesia
disertai dengan penjelasannya.
Tabel 4.28
Weight Average Cost of Capital (WACC) PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk
serta kedua pesaingnya tahun 2008-2010.
Tahun

PT. Indocement
Tunggal Prakarsa Tbk

PT. Holcim Indonesia


Tbk

PT. Semen Gresik


Tbk

2008

9,3%

6,4%

8,1%

2009

6,9%

9,4%

6,6%

2010

5,7%

6,7%

5,5%

Sumber: data diolah


Perhitungan Weight Average Cost of Capital (WACC) PT. Indocement
Tunggal Prakarsa Tbk dari tahun 2008-2010, menunjukan bahwa WACC tertinggi
adalah pada tahun 2008 yaitu 9,3%, hal tersebut terjadi karena tingginya biaya
hutang dan biaya ekuitas dibandingkan dengan tahun 2009-2010. WACC paling
rendah berada pada tahun 2010 yaitu 5,7%, hal tersebut terjadi karena rendahnya
biaya hutang dan biaya ekuitas dari tahun 2008-2009.
Perhitungan Weight Average Cost of Capital (WACC) PT. Holcim
Indonesia Tbk dari tahun 2008-2010 menunjukan bahwa WACC tertinggi berada
pada tahun 2009 yaitu 9,4%, hal tersebut terjadi karena tingginya biaya hutang
serta ekuitas. WACC terendah berada pada tahun 2008 yaitu 6,4%, hal tersebut
103

terjadi karena biaya hutang dan biaya ekuitas yang lebih rendah dibandingkan
tahun 2009-2010.
Perhitungan Weight Average Cost of Capital (WACC) PT. Semen Gresik
Tbk dari tahun 2008-2010, menunjukan bahwa WACC tertinggi adalah pada
tahun 2008 yaitu 8,1%, hal tersebut terjadi karena tingginya biaya hutang dan
biaya ekuitas dibandingkan dengan tahun 2009-2010. WACC paling rendah
berada pada tahun 2010 yaitu 5,5%, hal tersebut terjadi karena rendahnya biaya
hutang dan biaya ekuitas dari tahun 2008-2009.
IV.2.5. Perhitungan Economic Value Added (EVA)
Perhitungan Economic Value Added (EVA) adalah EVA=NOPAT(WACCxInvested Capital).WACC dikalikan dengan Invested Capital akan
menghasilkan Cost Of Capital (COC). Apabila EVA>0 (positif), EVA=0 maka
menyatakan bahwa keuntungan yang dihasilkan oleh perusahaan sudah sesuai
dengan harapan tingkat pengembalian yang diharapkan oleh investor dan mampu
menutupi biaya modal yang timbul untuk mendapatkan keuntungan tersebut
bahwa perusahaan mempunyai kinerja yang baik serta memberikan nilai tambah
kepada pemegang saham, EVA<0 (negatif) menunjukan bahwa kinerja
manajemen kurang baik serta tidak adanya nilai tambah ekonomis dalam
perusahaan dan menyatakan bahwa keuntungan yang diperoleh perusahaan tidak
sesuai dengan harapan tingkat pengembalian yang diharapkan oleh investor, dan
biaya-biayanya tidak tertutupi. Berikut Analisis dengan menggunakan metode

104

Economic Value Added (EVA) pada industri semen yang tercatat di Bursa Efek
Indonesia yang disertai dengan penjelasannya.
Tabel 4.29
Perhitungan Economic Value Added PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk tahun
2008-2010.
Tahun

NOPAT

WACC

Invested Capital

Cost Of
Capital
(COC)

Economic
Value Added
(EVA)

2008

1,869,216.00

9,3%

11,286,706.00

1,049,663.00

819,552.00

2009

2,788,369.00

6,9%

13,276,514.00

916,079.00

1,872,290.00

2010

3,199,222.00

5,7%

13,998,440.00

797,911.00

2,401,311.00

Sumber:

data diolah
Perhitungan Economic Value Added PT. Indocement Tunggal Prakarsa

Tbk pada tahun 2008-2010, menunjukkan nilai Economic Value Added yang
positif, hal tersebut menunjukan kinerja manajemen yang baik dari tahun 20082010 serta adanya nilai tambah bagi pemegang saham, nilai tambah terus
meningkat dari tahun 2008 sampai tahun 2010 dan tertutupinya biaya modal dari
tahun 2008-2010 karena NOPAT lebih besar dibandingkan dengan biaya
modalnya.
Tabel 4.30
Perhitungan Economic Value Added PT. Holcim Indonesia Tbk tahun 2008-2010.
Tahun

NOPAT

WACC

Invested Capital

Cost Of
Capital
(COC)

Economic
Value Added
(EVA)

2008

491,001.00

6,4%

8,208,985.00

525,375.00

(34,374.00)

2009

1,447,027.00

9,4%

7,265,366.00

682,944.00

764,083.00

2010

1,063,202.00

6,7%

10,417,249.00

697,955.00

365,247.00

105

Sumber: data diolah


Perhitungan Economic Value Added PT. Holcim Indonesia Tbk pada
tahun 2008 mengalami EVA negatif hal tersebut menunjukan bahwa kinerja
perusahaan yang buruk dan tidak ada nilai tambah bagi pemegang saham, hal
tersebut terjadi karena biaya modal yang lebih besar dibandingkan dengan
NOPATnya sehingga mengakibatkan biaya modal yang tidak tertutupi, sedangkan
pada tahun 2009-2010 menunjukan EVA positif, hal tersebut menunjukan bahwa
kinerja manajemen cukup baik dan adanya nilai tambah bagi pemegang saham
serta biaya modal yang dapat ditutupi.

Tabel 4.31
Perhitungan Economic Value Added PT. Semen Gresik Tbk tahun 2008-2010.

Tahun

NOPAT

WACC

Invested Capital

Cost Of
Capital
(COC)

Economic
Value Added
(EVA)

2008

2,570,152.00

8,1%

10,602,961.00

858,839.00

1,711,312.00

2009

3,373,113.00

6,6%

12,951,307.00

854,786.00

2,518,327.00

2010

3,685,214.00

5,5%

15,562,997.00

855,964.00

2,829,250.00

Sumber : data diolah


Perhitungan Economic Value Added PT. Semen Gresik Tbk pada tahun
2008-2010, menunjukkan nilai Economic Value Added yang positif, hal tersebut
106

menunjukan kinerja manajemen yang baik dari tahun 2008-2010 serta adanya
nilai tambah bagi pemegang saham.
Kinerja PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk pada tahun 2008-2010 jika
dinilai menggunakan Metode Economic Value Added (EVA) dinyatakan cukup
baik dan lebih baik dari pesaingnya yaitu PT. Holcim Indonesia Tbk, tetapi
kinerjanya dalam menghasilkan nilai tambah masih lebih rendah dibandingkan
dengan PT. Semen Gresik Tbk, hal itu terjadi karena NOPAT yang dihasilkan
oleh PT. Semen Gresik Tbk lebih besar dari PT. Indocement Tunggal Prakarsa
Tbk serta biaya modal yang lebih kecil dibandingkan dengan PT. Indocement
Tunggal Prakarsa Tbk, maka dari itu PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk
harus lebih meningkatkan laba usahanya serta mengurangi biaya-biaya yang
kurang bermanfaat.

107

108