Anda di halaman 1dari 35

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM

ANALISIS MAKANAN DAN KOSMETIK


IDENTIFIKASI DAN PENETAPAN KADAR SENYAWA BORAKS
PADA SAMPEL TAHU

OLEH:
KELOMPOK 2

Ida Ayu Putu Chandra Dewi

1108505002

I Putu Krisnantara Wijana Putra 1108505017


Putu Eka Ayu Sunariyani

1108505046

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS UDAYANA
2014

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Makanan diistilahkan sebagai sesuatu yang mengandung unsur atau zat gizi
yang diperlukan oleh tubuh dan mendatangkan manfaat bagi orang yang
mengkonsumsinya. Pada umumnya bahan makanan mengandung beberapa unsur
atau senyawa seperti air, karbohidrat, protein, vitamin, lemak, enzim, pigmen dan
lain-lain. Makanan yang dijajakan sekarang ini tidak terlepas dari zat atau bahan
yang mengandung unsur berbahaya dan pengawet yang dalam jumlah banyak
menyebabkan kerusakan pada jaringan tubuh (Tumbel, 2010). Salah satu makanan
yang sering ditambahkan zat pengawet berbahaya yaitu boraks adalah tahu.
Tahu adalah makanan yang dibuat dari kacang kedelai yang difermentasikan
dan diambil sarinya (Triastuti dkk, 2013). Sekarang ini marak sekali penggunaan
boraks untuk mengawetkan tahu. Meningkatnya pertumbuhan industri makanan di
Indonesia, telah terjadi peningkatan produksi makanan yang beredar di
masyarakat. Sudah tidak asing lagi bahwa banyak zat-zat berbahaya yang
langsung dicampur sebagai bahan tambahan makanan, salah satu zat yang sering
digunakan yaitu Boraks atau Bleng. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan
Nomor: 722/MenKes/Per/IX/88 tentang BTP, boraks termasuk bahan yang
berbahaya dan beracun sehingga tidak boleh digunakan sebagai BTP.
Mengkonsumsi makanan yang mengandung boraks memang tidak serta berakibat
buruk secara langsung, tetapi boraks akan menumpuk sedikit demi sedikit karena
diserap dalam tubuh. Seringnya mengonsumsi makanan yang mengandung boraks
akan menyebabkan gangguan otak, hati, dan ginjal (Triastuti dkk, 2013).
Untuk menanggulangi oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab,
diperlukan suatu metode untuk mengidentifikasi kandungan boraks dalam
makanan, salah satunya adalah tahu. Metode yang dapat digunakan dapat berupa
uji kualitatif yaitu uji nyala, uji warna kertas kurkuma, dan uji kertas kunyit,
sedangkan uji kuantitatif dapat menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Sehingga

diharapkan dengan adanya metode uji ini dapat menjamin keamanan makanan
yang dikonsumsi oleh masyarakat oleh pihak konsumen.

1.2 Tujuan
1.2.1

Melakukan identifikasi senyawa boraks dalam tahu dengan metode uji


nyala, uji warna kertas kurkuma, dan uji kertas kunyit.

1.2.2

Menetapkan kadar senyawa boraks dalam tahu dengan metode


spektrofotometri UV-Vis.

1.2.3

Melakukan validasi metode analisis senyawa boraks dalam tahu dengan


metode spektrofotometri UV-Vis.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tahu
Tahu adalah suatu produk makanan berupa padatan lunak yang dibuat
melalui proses pengolahan kedelai (Glycne species) dengan prinsip pengendapan
protein, dengan atau tidak ditambah bahan lain yang diizinkan (SNI 1998).
Sedangkan menurut Shurtleff dan Aoyagi (2001), tahu adalah gumpalan protein
dari susu kedelai yang telah dipisahkan dari bagian yang tidak menggumpal
(whey) dengan cara pengepresan.
Tahu merupakan produk kedelai non-fermentasi yang disukai dan digemari
di Indonesia seperti halnya tempe, kecap, dan tauco. Tahu adalah salah satu
produk olahan kedelai yang berasal dari daratan Cina. Pembuatan tahu dan susu
kedelai ditemukan oleh Liu An pada zaman pemerintahan Dinasti Han, kira-kira
164 tahun sebelum Masehi (Shurtleff dan Aoyagi 2001).
Tahu terdiri dari berbagai jenis, yaitu tahu putih, tahu kuning, tahu sutra,
tahu cina, tahu keras, dan tahu kori (Sarwono dan Saragih, 2003). Perbedaan dari
berbagai jenis tahu tersebut ialah pada proses pengolahannya dan jenis
penggumpal yang digunakan.
Komposisi zat gizi dalam tahu cukup baik. Tahu mempunyai kadar protein
sebesar 8-12%, sedangkan mutu proteinnya yang dinyatakan sebagai NPU sebesar
65% (Shurtleff dan Aoyagi 2001). Tahu juga mempunyai daya cerna yang sangat
tinggi karena serat dan karbohidrat yang bersifat larut dalam air sebagian besar
terbuang pada proses pembuatannya. Dengan daya cerna sekitar 95%, tahu dapat
dikonsumsi dengan aman oleh semua golongan umur dari bayi hingga orang
dewasa, termasuk orang yang mengalami gangguan pencernaan (Shurtleff dan
Aoyagi, 2001). Tahu merupakan makanan yang banyak digemari masyarakat,
karena rasa dan kandungan gizinya yang tinggi. Namun dibalik kelezatannya kita
perlu waspada karena bisa saja tahu tersebut mengandung bahan berbahaya.
Perhatikan secara cermat apabila menemukan tahu yang tidak mudah hancur atau
lebih keras dan kenyal dari tahu biasa, kemungkinan besar tahu tersebut

mengandung bahan berbahaya seperti formalin maupun boraks. Selain itu, tahu
yang diberi formalin tidak akan rusak sampai tiga hari pada suhu kamar (25oC)
dan bertahan lebih dari 15 hari pada suhu lemari es ( 10oC). Tahu juga akan
terlampau keras, namun tidak padat. Komposisi kimia pada tahu dapat dilihat pada
Tabel 1, sedangkan syarat mutu tahu berdasarkan Standar Nasional Indonesia 013142-1998 dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 1. Komposisi kimia dalam 100 g tahu (Direktorat Gizi Depkes RI, 1981)
Komposisi

Satuan

Jumlah

Energi

Kal

68

Air

84.8

Protein

7.8

Lemak

4.6

Karbohidrat

1.6

Kalsium

mg

124.0

Fosfor

mg

63.0

Besi

mg

0.8

Vitamin B1

mg

0.06

Tabel 2. Syarat mutu tahu (SNI 01-3142-1998)


Parameter

Satuan

Persyaratan

Bau

Normal tahu

Rasa

Normal tahu

Warna

Putih

normal

atau

kuning normal
Penampakan

Normal tidak berlendir


dan tidak berjamur

Cemaran Mikroba :
Eschericia coli

APM/g

maks. 10

Salmonella

/25g

Negatif

2.2 Bahan Tambahan Makanan


Menurut Peraturan Menteri Kesehatan R.I. No: 329/Menkes/PER/X11/76,
yang dimaksud dengan zat tambahan makanan adalah bahan yang ditambahkan
dan dicampurkan sewaktu pengolahan makanan untuk meningkatkan mutu,
termasuk kedalamnya adalah pewarna, penyedap rasa dan aroma, pemantab,
antioksidan, pengawet, pengemulsi, antigumpal, pemucat, dan pengental
(Donatus, 1990).
Penentuan mutu bahan makanan pada umumnya sangat bergantung pada
beberapa faktor diantaranya cita rasa, warna, tekstur, dan nilai gizinya, disamping
itu ada faktor lain, misalnya sifat mikrobiologis, tetapi sebelum faktor-faktor lain
dipertimbangkan, secara visual faktor warna tampil lebih dahulu dan kadangkadang sangat menentukan. Suatu bahan yang dinilai bergizi, enak, dan teksturnya
sangat baik tidak akan dimakan apabila memiliki warna yang tidak sedap
dipandang atau memberi kesan telah menyimpang dari warna yang seharusnya
(Winarno dan Rahayu, 1994).
Pengawet adalah bahan tambahan makanan yang dapat mencegah atau
menghambat fermentasi, pengasaman atau peruraian lain terhadap makanan yang
disebabkan oleh mikroorganisme. Pengawet kimia adalah semua bahan yang bila
ditambahkan pada pangan dapat mencegah atau menghambat kerusakan kimia
maupun biologis makanan. Garam dapur, gula cuka, rempah atau minyak rempah
tidak termasuk pengawet kimia (BSN, 1995). Bahan tambahan makanan (Food
Additives) diklasifikasikan berdasarkan fungsinya, yaitu sebagai pengawet
(preservatives), memperbaiki atau menjaga nilai nutrisi makanan, menambah atau
memberi

warna

makanan,

menambah

atau

memberi

aroma

makanan,

memperbaiki tekstur makanan dan membantu pada prosesing makanan.


Pengawet makanan digunakan untuk mencegah atau mengurangi kerusakan
biologis dan kimia pada makanan. Untuk mencegah kerusakan kimia terdiri dari
antioksidan (mencegah autooksidasi dari pigmen, lemak, vitamin dan aroma),
senyawa antibrowning (mencegah pencoklatan secara enzimatis maupun non
enzimatis) dan senyawa antistaling (mencegah perubahan tekstur), sedangkan
untuk mencegah kerusakan secara biologis dikenal sebagai antimikroba. Dalam

memilih bahan antimikroba yang akan digunakan sebagai pengawet makanan


harus memperhatikan beberapa faktor, yaitu spektrum aktivitas antimikroba, sifat
fisika-kimia dan komposisi makanan yang diawetkan, jenis dan proses
pengawetan serta sistem penyimpanan yang digunakan (Davidson dan Branen
2005). Pemakaian pengawet pada tahu pada umumnya bertujuan untuk
memperpanjang masa simpan dengan cara mengurangi atau menghambat
perkembangan mikroorganisme. Beberapa senyawa kimia yang diizinkan sebagai
bahan antimikroba pada makanan di negara-negara Uni Eropa dan tercantum
dalam Codex Alimentarius (Tabel 3).
Tabel 3. Peraturan perizinan penunjukkan Food Antimicrobial di Uni Eropa (E
Numbers) dan dalam Codex Alimentarius (INS Numbers)

2.3

Boraks
Boraks (Natrium tertaborat, Na2B4O7.10H2O) merupakan kristal lunak yang

mengandung unsur boron, tidak berwarna, tidak berbau dan mudah larut dalam
air. Bila terekspos di udara kering dan hangat sering dilapisi serbuk warna putih

seperti kapur. Natrium tetraborat mengandung sejumlah Na2B4O7 yang setara


dengan tidak kurang dari 99,0 % dan tidak lebih dari 105,0 % Na2B4O7.10H2O.
Larutan boraks bersifat basa terhadap fenolftalein, mudah larut dalan air mendidih
dan dalam gliserin; tidak larut dalam etanol (Dirjen POM 1995). Boron adalah
unsur mineral alam yang terdapat pada kulit bumi dalam jumlah relatif kecil, yaitu
kurang dari 10 ppm. Konsentrasi pada air laut berkisar antara 0,5 9,6 ppm
dengan rata-rata 4,6 ppm, sedangkan pada air tawar berkisar antara <0,01 1,5
ppm. Di alam boron tidak ditemukan bebas tetapi selalu berikatan dengan oksigen,
biasanya sebagai asam (boric acid, H3BO3) atau garamnya yang disebut borates
misalnya Natrium tetraborat (Na2B4O7.10H2 O) atau yang dikenal dengan boraks.
Asam borat dan garamnya (utamanya boraks atau sodium tetraborat) secara luas
digunakan pada industri gelas, fiberglass, porselin, enamel, keramik glasur dan
meta alloy. Senyawa ini juga digunakan sebagai fire retardant, pupuk, bahan
laundry, herbisida dan insektisida.

Ekskresi asam borat terutama melalui ginjal dan asam borat adalah satu
satunya senyawa yang dapat diidentifikasi dalam urin dan ditemukan dalam
jumlah > 90% dari total boron yang dikonsumsi (WHO, 2009). Asam borat adalah
asam lemah dengan nilai pKa = 9,2 dan terutama berada dalam bentuk tidak
terdisosiasi (undissociated acid) yaitu H3BO3 dalam larutan air pada pH fisiologis,
seperti halnya garam borat. Nilai pKa suatu asam adalah nilai pH dimana
konsentrasi molekul asam yang terdisosiasi dan yang tidak terdisosiasi berada

dalam jumlah yang seimbang. Ketika pH turun, konsentrasi asam yang tidak
terdisosiasi akan meningkat. Asam kuat memiliki nilai pKa rendah ( 1) dan asam
lemah memiliki nilai pKa tinggi (Brown, 1996).
Asam lemah yang berfungsi sebagai pengawet adalah yang tidak terdisosiasi
pada kondisi pH dari makanan. Aktifitas antimikrobialnya tidak hanya disebabkan
+

oleh konsentrasi H , tetapi juga karena efek penghambatan dari asam tidak
terdisosiasi atau anionnya. Dalam bentuk tidak terdisosiasi beberapa asam lemah
bersifat lipofilik, sehingga dapat dengan mudah menembus membran sel mikroba.
Di dalam sel mikroba, asam akan terdisosiasi karena pH intraseluler lebih tinggi
+

(bersifat basa) dari pada pH ekstraseluler, dan akan terjadi peningkatan H yang
tidak terkendali di dalam sitoplasma sel sehingga terjadi pengasaman dan
menghambat metabolisme dan transport intraseluler (Davidson et al. 2005;
Brown, 1996). Untuk mencegah penurunan pH sitoplasma sel, maka
mikroorganisme berusaha mengeluarkan proton-proton hasil disosiasi tersebut ke
luar sel. Untuk mengeluarkan proton dari dalam sel dibutuhkan energi, sehingga
pertumbuhan mikroorganisme menjadi terhambat bahkan berhenti sama sekali
(Fardiaz 1992).

2.4 Spektrofotometri UV-Vis


Spektrofotometri merupakan suatu metoda analisis yang didasarkan pada
pengukuran serapan sinar monokromatis oleh suatu lajur larutan berwarna pada
panjang gelombamg spesifik dengan menggunakan monokromator prisma atau
kisi difraksi dengan detektor fototube. Spektrofotometri UV-Vis melibatkan
energi elektronik yang besar pada molekul yang dianalisis, sehingga
spektrofotometri UV-Vis lebih banyak dipakai untuk analisis kuantitatif
dibandingkan kualitatif (Mulja dan Suharman, 1995).
Pengukuran absorbansi atau transmitan dalam spektofotometri ultraviolet
dan daerah tampak digunakan untuk analisis kuantitatif dan kualitatif spesies
kimia. Spektrometri UV-Vis terutama digunakan untuk analisis kuantitatif. Bila
digunakan untuk analisis kualitatif, sifatnya sebagai data pendukung, karena profil

spektra UV-Vis suatu senyawa murni adalah karakteristik tetapi tidak spesifik.
Hukum yang digunakan dalam metode ini adalah hukum Lambert- Beer.

Pada setiap panjang gelombang, absorbansi (A) suatu senyawa adalah:


A = .b.c
Dimana :
T

= Persen transmitan

Io

= Intensitas radiasi yang datang

It

= Intensitas radiasi yang diteruskan

= Absorbtivitas molar (L.mol-1cm-1)

= konsentrasi (mol.L -1)

= tebal kuvet (cm)

= absorbansi

Spektra UV-Vis dapat digunakan untuk informasi kualitatif dan sekaligus


dapat digunakan untuk analisis kuantitatif.
1. Aspek Kualitatif
Data spektra UV-Vis secara tersendiri tidak dapat digunakan untuk
identifikasi kualitatif obat atau metabolitnya. Akan tetapi jika digabung
dengan cara lain seperti spektrofotometri inframerah, resonansi magnet inti,
dan

spektroskopi

massa,

maka

dapat

digunakan

untuk

maksud

identifikasi/analisis kualitatif suatu senyawa tersebut. Data yang diperoleh


dari spektroskopi UV-Vis adalah panjang gelombang maksimal, intensitas,
efek, pH dan pelarut. Yang kesemuanya itu dpat diperbandingkan dengan
data yang sudah dipublikasi. Dari spektra yang diperoleh dapat dilihat,
misalnya :
- Serapan (absorbansi) berubah atau tidak karena perubahan pH. Jika
berubah, bagaimana perubahannya apakah dari bathokromik ke
hipsokromik dan sebaliknya atau dari hipokromik ke hiperkromik, dan
sebagainya.

- Obat-obat yang netral misalnya kafein, kloramfenikol; atau obat-obat


yang berisi auksokrom yang tidak terkonjugasi seperti amfetamin,
siklizin, dan penisiklidin.
2. Aspek Kuantitatif
Dalam aspek kuantitatif, suatu berkas radiasi dikenakan pada cuplikan
(larutan sampel) dan intensitas sinar radiasi yang diteruskan diukur
besarnya. Radiasi yang diserap oleh cuplikan ditentukan dengan
membandingkan intensitas sinar yang diserap jika tidak ada spesies
penyerap lainnya. Intensitas atau kekuatan radiasi cahaya sebanding dengan
jumlah foton yang melalui satu satuan luas penampang per detik.
(Gandjar dan Rohman, 2007)
Instrumentasi spektrofotometri UV Vis pada dasarnya terdiri dari :
a.

Sumber radiasi
Sumber radiasi yang umum digunakan adalah lampu deuterium, lampu
tungstein dan lampu merkuri. Lampu deuterium digunakan pada daerah
panjang gelombang 190-380 nm (UV dekat) karena pada daerah tersebut lampu
deuterium memberikan spectrum energi radiasi yang lurus. Lampu tungstein
digunakan sebagai sumber radiasi pada daerah pengukuran sinar tampak
dengan panjang gelombang 389-900 nm. Sumber radiasi merkuri merupakan
sumber radiasi yang mengandung uap merkuri bertekanan rendah yang biasa
digunakan untuk kalibrasi panjang gelombang spektrofotometer UV-Vis pada
daerah 365 nm dan sekaligus mengecek resolusi dari monokromator (Mulja
dan Suharman, 1995).

b.

Monokromator
Monokromator berfungsi untuk menghasilkan radiasi monokromatis dari
sumber radiasi yang memancarkan radiasi polikromatis. Monokromator
spektro-fotometer UV-Vis umumnya terdiri dari : celah (slit) masuk, filter
optik, prisma dan kisi (grating) serta celah keluar (Mulja dan Suharman, 1995).

10

c.

Sel atau Kuvet


Sel atau kuvet merupakan wadah sampel yang akan dianalisis. Ditinjau dari
cara pemakaiannya dan dari bahan yang dipakai, kuvet dibedakan menjadi
kuvet permanen yang terbuat dari leburan silica (dipakai pada panjang
gelombang 190-1100 nm) atau gelas (dipakai pada panjang gelombang 3801100 nm), dan kuvet disposable satu kali pemakaian yang terbuat dari teflon
atau plastik. Disamping itu ada kuvet yang bermulut lebar untuk mengukur
kadar zat dalam pelarut yang tidak mudah menguap dan kuvet bermulut sempit
untuk mengukur kadar zat aktif dalam pelarut yang mudah menguap (Mulja
dan Suharman, 1995).

d.

Detektor
Detektor merupakan bagian spektrofotometer yang penting karena berfungsi
untuk merubah sinyal radiasi yang diterima menjadi sinyal elektonik.
Syarat detektor yang baik diantaranya:
Kepekaan yang tinggi terhadap radiasi yang diterima, dengan derau yang
minimal.
Mampu memberikan respon terhadap radiasi pada rentang panjang
gelombang yang lebar (UV-Vis).
Respon terhadap radiasi harus serempak.
Respon harus kuantitatif dan sinyal elektronik yang keluar berbanding
lurus dengan radiasi elektromagnetik yang diterima.
Sinyal elektronik yang dihasilkan harus dapat diamplifikasikan oleh
penguat (amplifier) ke rekorder (pencatat) (Mulja dan Suharman, 1995).
Macam detektor yang umumnya digunakan antara lain :
- Detektor fotosel
- Detektor Tabung Foton Hampa
- Detektor Tabung Penggandaan Foton (Vaccum Phototubes)
- Detektor Photo Diode-Array (PDA)

11

2.5 Validasi Metode Analisis


Suatu metode analisis terdiri atas serangkaian langkah yang harus diikuti
untuk tujuan analisis kualitatif, kuantitatif, dan informasi struktur dengan
menggunakan teknik tertentu (Gandjar dan Rohman, 2007). Validasi metoda
analisis adalah suatu tindakan penilaian terhadap parameter tertentu, berdasarkan
percobaan laboratorium, untuk membuktikan bahwa parameter tersebut memenuhi
persyaratan untuk penggunaannya (Harmita, 2004).
Validasi metode analisis menurut Unites States Pharmacopeia (USP)
dilakukan untuk menjamin bahwa metode analisis akurat, spesifik, reprodusibel,
dan tahan pada kisaran analit yang akan dianalisis (Gandjar dan Rohman, 2007).
Suatu metode analisis harus divalidasi untuk melakukan verifikasi bahwa
parameter-parameter kinerjanya cukup mampu untuk mengatasi problem analisis,
karenanya suatu metode harus divalidasi ketika: metode baru dikembangkan untuk
mengatasi problem analisis tertentu, metode yang sudah baku direvisi untuk
menyesuaikan perkembangan atau karena munculnya suatu problem yang
mengarahkan bahwa metode baku itu harus direvisi, penjaminan mutu yang
mengindikasikan bahwa metode baku telah berubah seiring dengan berjalannya
waktu, metode baku digunakan di laboratorium yang berbeda, dikerjakan oleh
analis yang berbeda atau dikerjakan dengan alat yang berbeda, dan untuk
mendemonstrasikan kesetaraan antar dua metode seperti antara metode baru dan
metode baku (Gandjar dan Rohman, 2007).
Menurut USP, ada 8 langkah dalam validasi metode analisis, yaitu presisi,
akurasi, batas deteksi, batas kuantifikasi, spesifitas, linearitas dan rentang,
kekasaran (ruggedness), dan ketahanann (robutness) (Swartz dan Krull, 1997)
Sementara itu, ICH (International Conference on Harmonization) membagi
karakteristik validasi metode yang sedikit berbeda dengan USP. Menurut ICH,
ada 9 langkah dalam validasi metode analisis, yaitu presisi, akurasi, batas deteksi,
batas kuantifikasi, spesifitas, linearitas, kisaran (range), ketahanan (robustness),
dan kesesuaian sistem (Gandjar dan Rohman, 2007).

12

2.5.1 Linearitas
Kebanyakan metode analisis didasarkan pada proses-proses yang metodenya
menghasilkan suatu respon yang linear dan yang meningkat atau menurun secaa
linear sebanding dengan konsentrasi analit (Harmita, 2004). Persamaan suatu garis
lurus menghasilkan y = a + bx
Linearitas adalah kemampuan metode analisis yang memberikan respon
yang secara langsung atau dengan bantuan transformasi matematik yang baik,
proporsional terhadap konsentrasi analit dalam sampel (Harmita, 2004).
Linearitas biasanya dinyatakan dalam istilah variansi sekitar arah garis
regresi yang dihitung berdasarkan persamaan matematik data yang diperoleh dari
hasil uji analit dalam sampel dengan berbagai konsentrasi analit. Perlakuan
matematik dalam pengujian linearitas adalah melalui persamaan garis lurus
dengan metode kuadrat terkecil antara hasil analisis terhadap konsentrasi analit.
Dalam beberapa kasus, untuk memperoleh hubungan proporsional antara hasil
pengukuran dengan konsentrasi analit, data yang diperoleh diolah melalui
transformasi matematik dulu sebelum dibuat analisis regresinya. Dalam praktek,
digunakan satu seri larutan yang berbeda konsentrasinya antara 50 150% kadar
analit dalam sampel. Di dalam pustaka, sering ditemukan rentang konsentrasi
yang digunakan antara 0 200%. Jumlah sampel yang dianalisis sekurangkurangnya delapan buah sampel blanko. Sebagai parameter adanya hubungan
linier digunakan koefisien korelasi r pada analisis regresi linier y = a + bx.
Hubungan linier yang ideal dicapai jika nilai b = 0 dan r = +1 atau 1 bergantung
pada arah garis. Sedangkan nilai a menunjukkan kepekaan analisis terutama
instrumen yang digunakan. Parameter lain yang harus dihitung adalah simpangan
baku residual (Sy). Dengan menggunakan kalkulator atau perangkat lunak
komputer, semua perhitungan matematik tersebut dapat diukur (Harmita, 2004).

2.5.2 Batas Deteksi (Limit of Detection, LOD) dan Batas Kuantitasi (Limit of
Quantitation, LOQ)
Batas deteksi adalah jumlah terkecil analit dalam sampel yang dapat
dideteksi yang masih memberikan respon signifikan dibandingkan dengan

13

blangko. Batas deteksi merupakan parameter uji batas (Harmita, 2004). Batas
deteksi dapat ditentukan meskipun tidak selalu dapat dikuantifikasi (Gandjar dan
Rohman, 2007).
Batas kuantitasi merupakan parameter pada analisis renik dan diartikan
sebagai kuantitas terkecil analit dalam sampel yang masih dapat memenuhi
kriteria cermat dan seksama (Harmita, 2004).
Penentuan batas deteksi suatu metode berbeda-beda tergantung pada metode
analisis itu menggunakan instrumen atau tidak. Pada analisis yang tidak
menggunakan instrumen batas tersebut ditentukan dengan mendeteksi analit
dalam sampel pada pengenceran bertingkat. Pada analisis instrumen batas deteksi
dapat dihitung dengan mengukur respon blangko beberapa kali lalu dihitung
simpangan baku respon blangko dan formula di bawah ini dapat digunakan untuk
perhitungan:
Q

k Sb
Sl

Q = LOD (batas deteksi) atau LOQ (batas kuantitasi)


k = 3 untuk batas deteksi atau 10 untuk batas kuantitasi
Sb = Simpangan baku respon analitik dari blangko
Sl = Arah garis linear (kepekaan arah) dari kurva antara respon terhadap
konsentrasi = slope (b pada persamaan garis y = a+bx)
Batas deteksi dan kuantitasi dapat dihitung secara statistik melalui garis
regresi linier dari kurva kalibrasi. Nilai pengukuran akan sama dengan nilai b pada
persamaan garis linier y = a + bx, sedangkan simpangan baku blanko sama dengan
simpangan baku residual (Sy/x.) (Harmita, 2004).
a. Batas deteksi (Q)
Karena k = 3 atau 10
Simpangan baku (Sb) = Sy/x, maka
Q

3Sy / x
Sl

b. Batas kuantitasi (Q)

14

10Sy / x
Sl

Cara lain untuk menentukan batas deteksi dan kuantitasi adalah melalui
penentuan rasio S/N (signal to noise ratio). Nilai simpangan baku blanko
ditentukan dengan cara menghitung tinggi derau pada pengukuran blanko
sebanyak 20 kali pada titik analit memberikan respon. Simpangan baku blanko
juga dihitung dari tinggi derau puncak ke puncak, jika diambil dari tinggi puncak
derau atas dan bawah (Np-p) maka s0 = Np-p/5 sedangkan kalau dari puncak derau
bawah saja (puncak negatif) maka s0 = Np/2, selanjutnya perhitungan seperti
tersebut di atas (Harmita, 2004).

15

BAB III
METODE
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat
Gelas beaker
Gelas ukur
Neraca analitik
Pipet ukur
Pipet tetes
Corong gelas
Sendok tanduk
Batang pengaduk
Ballfiller
Labu ukur
Botol Vial
Lap
Kertas perkamen
Aluminium foil
Tanur
Kuvet
Alat Spektrofotometri
Oven
Kertas saring

3.1.2 Bahan
Sampel Tahu
Larutan HCl 10%
Larutan H2SO4 pekat
Larutan kurkumin 1%
Larutan stok baku asam borat 1 mg/mL

16

Metanol
Kunyit
Larutan ammonia
Aquades
Kalsium karbonat

3.2 Perhitungan dan Prosedur Pembuatan Larutan


3.2.1 Pembuatan HCl 10%
Diketahui

: Larutan yang tersedia = HCl 37 % b/v


Volume yang dibuat = 5 mL

Ditanya

: Volume HCl 10% diperlukan = ......?

Jawab

:
C1 x V1
37% x V1
V1

= C 2 x V2
= 10% x 5 mL
= 1,35 mL

Prosedur :
Dipipet 1,35 mL dari larutan HCl 37% b/v, dimasukkan ke dalam labu ukur
5 mL, ditambahkan aquades hingga tanda batas. Digojog hingga homogen.
3.2.2 Pembuatan Larutan Stok Baku Asam Borat
a).

Larutan Stok Baku Induk Asam Borat 1mg/mL

Perhitungan
Diketahui

: Massa Asam borat


V akuades

= 10 mg
= 10 mL

Ditanya

: Konsentrasi (C) =.?

Perhitungan

C=
=

massa asam borat


V larutan

10mg
=1mg/mL
10mL

17

Pembuatan
Ditimbang serbuk asam borat sebanyak 10 mg, kemudian serbuk
dimasukkan ke dalam beaker glass. Selanjutnya serbuk tersebut dilarutkan
dengan 5 mL akuades dan diaduk hingga serbuk terlarut sempurna. Larutan
dimasukkan ke dalam labu ukur 10mL, ditambahkan akuades hingga tanda
batas 10 mL, digojog kembali sampai larutan menjadi homogen.
Konsentrasi larutan stok baku asam borat yang diperoleh sebesar 1 mg/mL.

b).

Larutan Stok Baku Asam Borat 0,1 mg/mL


Perhitungan
Diketahui

: C1
C2

= 1 mg/mL
= 0,1 mg/mL

V2 = 25 mL
Ditanya

: V1 =........?

Perhitungan

V1 . C1

= V2. C2

V1 . 1 mg/mL = 25 mL. 0,1 mg/mL


V1

= 2,5 mL

Pembuatan
Untuk membuat larutan asam borat dengan konsentrasi 0,1 mg/mL, maka
dipipet 2,5 mL larutan asam borat 1 mg/mL kemudian dimasukkan ke dalam
labu ukur 25 mL dan ditambahkan akuades ad sampai tanda batas, digojog
hingga homogen.

18

mg
c).

Larutan Seri Konsentrasi Asam Borat Konsentrasi 10

mg
40

mL ; 60

mg

mL ; 80

mg

mL ; 20

mg

mL ;

mL ;

1. Perhitungan larutan seri konsentrasi 10 g/mL


Diketahui:

C1= 100 g/mL


C2= 10 g/mL
V2= 5 mL

Ditanya:

V1= ........?

Jawab:
V1 . C1
V1 . 100 g/mL
V1

= V2. C2
5 mL. 10 g/mL
= 0,5 mL

Pembuatan:
Untuk membuat larutan asam borat dengan konsentrasi 10 g/mL, maka
dipipet 0,5 mL larutan asam borat 100 g/mL kemudian dimasukkan ke
dalam labu ukur 5 mL dan ditambahkan akuades ad tanpa batas, digojog
hingga homogen.

2. Perhitungan larutan seri konsentrasi 20 g/mL


Diketahui:

C1= 100 g/mL


C2= 20 g/mL
V2= 5 mL

Ditanya:

V1= ........?

Jawab:
V1 . C1
V1 . 100 g/mL
V1

= V2. C2
5 mL. 20 g/mL
= 1 mL

19

Pembuatan:
Untuk membuat larutan asam borat dengan konsentrasi 20 g/mL, maka
dipipet 1 mL larutan asam borat 100 g/mL kemudian dimasukkan ke dalam
labu ukur 5 mL dan ditambahkan akuades ad tanpa batas, digojog hingga
homogen.

3. Perhitungan larutan seri konsentrasi 40 g/mL


Diketahui:

C1= 100 g/mL


C2= 40 g/mL
V2= 5 mL

Ditanya:

V1= ........?

Jawab:
V1 . C1
V1 . 100 g/mL
V1

= V2. C2
5 mL. 40 g/mL
= 2 mL

Pembuatan:
Untuk membuat larutan asam borat dengan konsentrasi 40 g/mL, maka
dipipet 2 mL larutan asam borat 100 g/mL kemudian dimasukkan ke dalam
labu ukur 5 mL dan ditambahkan akuades ad tanpa batas, digojog hingga
homogen.

4. Perhitungan larutan seri konsentrasi 60 g/mL


Diketahui:

C1= 100 g/mL


C2= 60 g/mL
V2= 5 mL

Ditanya:

V1= ........?

Jawab:
V1 . C1
V1 . 100 g/mL
V1

= V2. C2
5 mL. 60 g/mL
= 3 mL

20

Pembuatan:
Untuk membuat larutan asam borat dengan konsentrasi 60 g/mL, maka
dipipet 3 mL larutan asam borat 100 g/mL kemudian dimasukkan ke dalam
labu ukur 5 mL dan ditambahkan akuades ad tanpa batas, digojog hingga
homogen.

5. Perhitungan larutan seri konsentrasi 80 g/mL


Diketahui:

C1= 100 g/mL


C2= 80 g/mL
V2= 5 mL

Ditanya:

V1= ........?

Jawab:
V1 . C1
V1 . 100 g/mL
V1

= V2. C2
5 mL. 80 g/mL
= 4 mL

Pembuatan:
Untuk membuat larutan asam borat dengan konsentrasi 80 g/mL, maka
dipipet 4 mL larutan asam borat 100 g/mL kemudian dimasukkan ke dalam
labu ukur 5 mL dan ditambahkan akuades ad tanpa batas, digojog hingga
homogen.

3.2.3 Uji Nyala


Sampel ditimbang sebanyak 10 gram dan dipotong-potong kecil. Sampel
dipanaskan dalam oven pada suhu 120C selama 6 jam. Kemudian sampel
dimasukkan ke dalam cawan porselin, dipijarkan pada tanur dalam suhu
800C. Sisa pemijaran ditambahkan 1-2 tetes asam sulfat pekat dan 5-6 tetes
metanol, kemudian dibakar.

3.2.4 Uji Warna Kertas Kurkuma


Sampel ditimbang sebanyak 50 gram dan dipanaskan dalam oven pada suhu
120C. Setelah tahu kering, tahu ditambahkan dengan 10 gram kalsium

21

karbonat. Kemudian dimasukkan ke dalam tanur hingga menjadi abu selama


6 jam dan dinginkan. Abu ditambahkan 3 ml asam klorida 10%, lalu
dicelupkan kertas kurkumin.

3.2.5 Uji Warna Kertas Kunyit Pada Pengujian Boraks


a. Pembuatan kertas tumerik
Beberapa potong kunyit ukuran sedang ditumbuk dan disaring sampai
dihasilkan cairan kunyit berwarna kuning. Kemudian dicelupkan kertas
saring ke dalam cairan kunyit tersebut dan keringkan.
b. Kertas dengan Kontrol Positif Boraks
Satu sendok the boraks dimasukkan ke dalam gelas yang berisi air dan
diaduk rata. Larutan diteteskan pada kertas tumerik yang sudah disiapkan.
Diamati perubahan warna pada kertas tumerik. Warna yang dihasilkan
tersebut akan dipergunakan sebagai kontrol positif.
c. Pengujian Sampel
Bahan yang akan diuji ditumbuk dan diberi sedikit air. Diteteskan air larutan
dari bahan makanan yang diuji tersebut pada kertas tumerik. Diamati
perubahan warna apa yang terjadi pada kertas tumerik. Apabila perubahan
warna sama dengan pada kertas tumerik kontrol positif, maka bahan
makanan tersebut mengandung boraks.

3.2.6 Pembuatan Larutan baku


Ditimbang sebanyak 10 mg boraks, dimasukkan ke dalam labu ukur 10
kemudian ditambahkan akuades hingga tanda batas, lalu dikocok hingga
homogen (Konsentrasi 1 mg/mL). Dipipet 2,5 mL dari larutan 1 mg/mL,
kemudian dimasukkan ke dalam labu ukur 25 mL dan ditambahkan akuades
hingga tanda batas, digojog hingga homogeny (konsentrasi 0,1 mg/mL).

3.2.7 Pembuatan Larutan Sampel


Sampel tahu yang telah dihaluskan masing-masing ditimbang sebanyak 10
gram di dalam kurs porselen, lalu dikeringkan di oven pada suhu 60C

22

hingga benar-benar kering, kemudian diabukan pada suhu 600C selama 8


jam. Ke dalam abu yang telah dingin ditambahkan 20 ml aquades panas,
sambil diaduk dengan batang pengaduk. Kemudian disaring melalui kertas
saring ke dalam labu ukur, bilas kertas saring dengan akuades panas,
kemudian ditambahkan akuades hingga garis tanda, kocok larutan sampel
tersebut.

3.2.7 Pembuatan Larutan Seri


Dibuat larutan seri dengan konsentari larutan baku 10; 20; 40; 60; 80 ppm,
dengan memipet 0,5 ; 1 ; 2; 3; 4 mL dari larutan 0,1 mg/mL. Dimasukkan
kedalam labu ukur 5 mL dan ditambahkan akuades hingga tanda batas.
Digojog hingga homogen.

3.3 Prosedur Kerja


3.3.1 Pembuatan HCl 10%
Dipipet 1,35 mL dari larutan HCl 37% b/v, dimasukkan ke dalam labu
ukur 5 mL

Ditambahkan aquades hingga tanda batas

Digojog hingga homogen

3.3.2 Uji Nyala


Sampel ditimbang sebanyak 10 gram dan dipotong-potong kecil

Sampel dipanaskan dalam oven pada suhu 120C selama 6 jam

Kemudian sampel dimasukkan ke dalam cawan porselin, dipijarkan


pada tanur dalam suhu 800C

23

Sisa pemijaran ditambahkan 1-2 tetes asam sulfat pekat dan 5-6 tetes
metanol, kemudian dibakar

3.3.3 Uji Warna Kertas Kurkuma


Sampel ditimbang sebanyak 50 gram dan dipanaskan dalam oven pada
suhu 120C

Setelah tahu kering, tahu ditambahkan dengan 10 gram kalsium


karbonat

Kemudian dimasukkan ke dalam tanur hingga menjadi abu selama 6


jam dan dinginkan

Abu ditambahkan 3 ml asam klorida 10%, lalu dicelupkan kertas


kurkumin
3.3.4 Uji Warna Kertas Kunyit Pada Pengujian Boraks
a. Pembuatan kertas tumerik
Beberapa potong kunyit ukuran sedang ditumbuk dan disaring sampai
dihasilkan cairan kunyit berwarna kuning

Kemudian dicelupkan kertas saring ke dalam cairan kunyit tersebut dan


keringkan
b. Kertas dengan Kontrol Positif Boraks
Satu sendok the boraks dimasukkan ke dalam gelas yang berisi air dan
diaduk rata

Larutan diteteskan pada kertas tumerik yang sudah disiapkan. Diamati


perubahan warna pada kertas tumerik
24

Warna yang dihasilkan tersebut akan dipergunakan sebagai kontrol


positif
c. Pengujian Sampel
Bahan yang akan diuji ditumbuk dan diberi sedikit air

Diteteskan air larutan dari bahan makanan yang diuji tersebut pada
kertas tumerik

Diamati perubahan warna apa yang terjadi pada kertas tumerik

Apabila perubahan warna sama dengan pada kertas tumerik kontrol


positif, maka bahan makanan tersebut mengandung boraks
3.3.5 Pembuatan Larutan baku
Ditimbang sebanyak 10 mg boraks, dimasukkan ke dalam labu ukur 10
kemudian ditambahkan akuades hingga tanda batas, lalu dikocok
hingga homogen (Konsentrasi 1 mg/mL)

Dipipet 2,5 mL dari larutan 1 mg/mL, kemudian dimasukkan ke dalam


labu ukur 25 mL dan ditambahkan akuades hingga tanda batas, digojog
hingga homogeny (konsentrasi 0,1 mg/mL).
3.3.6 Pembuatan Larutan Sampel
Sampel tahu yang telah dihaluskan masing-masing ditimbang sebanyak
10 gram di dalam kurs porselen

Lalu dikeringkan di oven pada suhu 60C hingga benar-benar kering,


kemudian diabukan pada suhu 600C selama 8 jam

25

Ke dalam abu yang telah dingin ditambahkan 20 ml aquades panas,


sambil diaduk dengan batang pengaduk

Kemudian disaring melalui kertas saring ke dalam labu ukur, bilas


kertas saring dengan akuades panas, kemudian ditambahkan akuades
hingga garis tanda, kocok larutan sampel tersebut
3.3.7 Pembuatan Larutan Seri
Dibuat larutan seri dengan konsentari larutan baku 10; 20; 40; 60; 80
ppm, dengan memipet 0,5 ; 1 ; 2; 3; 4 mL dari larutan 0,1 mg/mL

Dimasukkan kedalam labu ukur 5 mL dan ditambahkan akuades hingga


tanda batas. Digojog hingga homogen

26

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1

Hasil

4.1.1 Tabel Pengamatan Uji Kualitatif


Uji

Kontrol

Sampel

Uji Nyala

Nyala kehijauan

Uji Warna Kertas

Warna merah

Tidak berwarna

Kurkuma

kecoklatan

(Negatif)

Kuning
(Negatif)

4.1.2 Tabel Penimbangan


No.

Nama Bahan

Jumlah

1.

Sampel Tahu

91,4495 gram

2.

Kunyit

10,045 gram

3.

Boraks

10,1 mg

4.2

Pembahasan
Pentingnya dilakukan penetapan kadar boraks pada sampel tahu adalah

karena

boraks

merupakan

salah

satu

bahan

tambahan

yang

dilarang

penggunaannya di dalam makanan. Makanan yang mengandung bahan tersebut


dinyatakan sebagai makanan berbahaya karena boraks dapat menyebabkan
gangguan otak, hati, lemak, dan ginjal. Boraks dalam jumlah banyak dapat
menyebabkan demam, anuria, merangsang sistem saraf pusat, menimbulkan
depresi, apatis, sianosis, menurunkan tekanan darah, kerusakan ginjal, pingsan,
koma, bahkan kematian (EGVM 2003, Ellenhorn 1997). Berdasarkan bahaya
yang diakibatkan oleh penggunaan boraks tersebut maka perlu dilakukan analisis
boraks pada sampel tahu. Selain itu juga perlu adanya jaminan bahwa tahu yang
dikonsumsi terbebas dari kandungan boraks.

27

Analisis pada boraks dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Sebelum


dilakukan analisis kuantitatif, pertama-tama dilakukan analisis kualitatif untuk
mengetahui keberadaan boraks dalam sampel tahu uji. Analisis kualitatif pada
sampel tahu dilakukan dengan tiga metode yaitu uji nyala api dan uji dengan
kertas tumerik. Pemeriksaan adanya boraks dengan metode uji nyala dilakukan
pada standar boraks dan sampel tahu. Standar dan sampel direaksikan dengan
pereaksi asam sulfat pekat dan metanol. Reaksi tersebut menghasilkan nyala
warna hijau. Selain itu, pada dasarnya setiap unsur memiliki nyala khas yang
hanya dimiliki oleh unsur itu sendiri. Dalam boraks terdapat unsur Br atau Boron.
Unsur Boron memiliki nyala spesifik yaitu hijau sehingga uji positif adanya
boraks akan menghasilkan nyala hijau.
Analisis kualitatif dengan uji nyala api dilakukan dengan cara memijar
sampel dalam tanur dengan suhu 800C selama 6 jam dalam kurs porselin. Sisa
pemijaran ditambahkan 1-2 tetes asam sulfat pekat dan 5-6 tetes metanol.
kemudian dibakar. Apabila timbul nyala hijau, maka menandakan adanya boraks
(Roth, 1998; Tumbel, 2010; Silalahi et al., 2010). Pada metode ini dilakukan
dengan menambahkan H2SO4 dan metanol ke dalam sampel. H2SO4 pada metode
ini berperan untuk memberikan suasana asam pada larutan sehingga boraks dapat
terionisasi menjadi asam borat (Eagleton, 1993). Selanjutnya methanol yang
terprotonasi tersebut akan bereaksi dengan asam borat pada sampel sehingga
membentuk metil borat. Apabila senyawa metil borat ini terbakar oleh nyala maka
akan menghasilkan nyala berwarna hijau (Basset et al., 1991). Adapun reaksi
yang terjadi pada pembentukan senyawa metilborat ini adalah:

Dalam pelaksanaan uji nyala, hasil nyala yang diperoleh untuk kontrol
berwarna hijau dan untuk sampel berwarna kuning. Hal ini menyatakan bahwa
sampel tahu tidak mengandung boraks, karena sampel tidak menghasilkan nyala
hijau.

28

Selanjutnya dilakukan uji dengan menggunakan kertas kurkumin. Uji ini


memerlukan kertas tumerik. Selanjutnya, dibuat kertas tumerik yang berfungsi
sebagai kontrol positif dengan meneteskan beberapa mL larutan boraks pada
kertas tumerik. Warna yang dihasilkan tersebut akan dipergunakan sebagai
kontrol positif. Pada kertas tumerik tersebut juga diteteskan larutan sampel sisa
pemijaran.Warna yang timbul diamati dan dibandingkan dengan kontrol positif.
Uji ini didasarkan pada reaksi yang terjadi antara asam borat dengan kurkumin
yang menghasilkan kompleks berwarna dari garam dikurkuminato-boronium
(rososianin) (Balaban et al., 2008; Triastuti dkk, 2013). Adapun reaksi kompleks
yang terbentuk antara kurkumin dan asam borat yaitu:

Gambar 4.1 Kompleks Risosiasin


Pada uji ini, hasil uji kualitatif boraks dengan metode kertas tumerik juga
menunjukkan hasil negatif apabila dibandingkan dengan kontrol positif.
Dari dua metode uji kualitatif boraks yaitu uji nyala dan uji kertas tumerik
pada sampel tahu menunjukkan bahwa tidak ada sampel tahu yang mengandung
boraks (hasil negatif). Oleh karena hasil uji kualitatif dari dua metode tersebut
negatif, maka analisis kuantitatif tidak perlu dilakukan karena berdasarkan hasil
uji kualitatif memberikan hasil negatif adanya boraks pada sampel tahu uji.

29

BAB V
PENUTUP

Berdasarkan hasil praktikum yang dilakukan, maka dapat disimpulkan


bahwa dari kedua uji kualitatif adanya boraks pada tahu melalui uji nyala dan uji
dengan kertas tumerik, seluruhnya menunjukkan hasil yang negatif sehingga dapat
dikatakan bahwa tidak ada zat pengawet boraks pada sampel tahu yang diuji.
Penetapan kadar boraks tidak dapat dilakukan karena uji kualitatif menunjukkan
hasil negatif.

30

DAFTAR PUSTAKA

Badan Standardisasi Nasional (BSN). 1995. Bakso Ikan. SNI 01-3819-1995.


Jakarta: Badan Standardisasi Nasional.
Balaban, A. T., C. Parkanyi., I. Ghiviriga., J-J Aaron., Z. Zajickova., dan O. R.
Martinez. 2008. CurcuminBenzodioxaborole Chelates. Arkivoc. Hal. 19.
Basset J. et al. 1991. Vogel Analisis Kuantittif Anorganik. Jakarta: Buku
Kedokteran EGC.
Brown, S. 1996. Strategy Manufacturing for Competitive Advantage. London:
Prentice Hall.
Davidson PM, Sofos JN, Branen AL. 2005. Antimicrobials in Food. Boca Raton:
CRC Press.
Direktorat Gizi Departemen Kesehatan RI. 1981.Daftar Komposisi Bahan
Makanan. Jakarta: Bhatara Karya Aksara.
Ditjen POM. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta : Departemen
Kesehatan Republik Indonesia.
Donatus, I., A. 1990. Toksikologi Pangan. Yogyakarta: UGM.
Eagleton, M. 1993. Concise Encyclopedia Chemistry. Berlin: Walter de Gruyter.
Hal. 142-143.
Ellenhorn MJ. 1997. Ellenhorns Medical Toxicology : Diagnosis and Treatment
of Human Poisoning. Canada: Williams & Wilkins Inc.
Expert Group on Vitamins and Minerals (EGVM). 2003. Safe Upper Levels for
Vitamins and Minerals. United Kingdom: Food Standards Agency.
United Kingdom.
Fardiaz dan D. Fardiaz. 1992.

Pengantar Teknologi Pangan, Jakarta:

PT.Gramedia Pustaka Utama.


Gandjar, I. G. dan A. Rohman. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta:
Penerbit Pustaka Pelajar.
Harmita. 2004. Petunjuk Pelaksanaan Validasi Metode dan Cara Perhitungannya.
Makalah Ilmu Kefarmasian. Vol. I, No. 3 117-135.

31

Mulja, M. dan Suharman. 1995. Analisis Instrumental. Surabaya: Airlangga


University Press.
Roth, H. J. 1988. Analisis Farmasi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Sarwono,S. dan Saragih Y.P. 2003. Membuat Aneka Tahu. Jakarta : Penebar
Swadaya.
Silalahi, J., I. Meliala, dan L. Panjaitan. 2010. Pemeriksaan Boraks di dalam
Tahu di Medan. Majalah Kedokteran Indonesia, Vol.60, No. 11. Hal
521-525.
Swartz, M. E. dan Krull, I. S. 1997. Analytical Method Development and
Validation. USA : Marcel Dekker.
Triastuti, E., Fatimawali, dan M. R. J. Runtuwene. 2013. Analisis Boraks Pada
Tahu yang Diproduksi di Kota Manado. Jurnal Ilmiah Farmasi. Vol 2.
No. 01.
Tumbel, M. 2010. Analisis Kandungan Boraks Dalam Mie Basah yang Beredar di
Kota Makassar. Jurnal Chemica. Vol 11. No 1.
Winarno, F.G. dan S.F. Rahayu. 1994. Bahan Tambahan untuk Makanan dan
Kontaminan. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

32

LAMPIRAN

33

Gambar 1. Kertas Tumerik

Hasil warna dari kontrol

Hasil warna dari sampel

34