Anda di halaman 1dari 29

PROSES INDUSTRI KIMIA: POLYETHYLENE

Disusun Oleh:
Irfan Suryanto

21030113130148

Irma Meiditya

21030113130140

Lyan Dea Sagita

21030113120056

Ricky Kurniawan

21030113130147

Tri Yulianto Nugroho

21030113120049

Rheza Renardi

21030111130112

JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2014

KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Allah SWA karena atas karunia-Nya, Penulis mampu
menyelesaikan makalah yang berjudul Proses Industri Kimia: Polyethylene. Makalah
ini disusun dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Proses Industri Kimia tahun
2014.
Ucapan terimakasih Penulis sampaikan kepada semua pihak yang telah
membantu demi terselesaikannya makalah ini. Terutama penulis sampaikan kepada:
1. Ir. Slamet Priyanto. M.S. selaku dosen mata kuliah Proses Industri Kimia
2. Kedua orang tua dan segenap keluarga yang telah memberi motivasi demi
terselesaikannya makalah ini
3. Segenap anggota kelompok 6 yang telah bekerjasama menyelesaikan makalah
ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih terdapat banyak
kekurangan. Oleh karena itu, Penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun
sehingga dapat menyempurnakan makalah ini dan melaksanakan perbaikan di masa
yang akan datang. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan bagi dunia
ilmu pengetahuan.

Semarang, 28 September 2014

Penulis

ii

DAFTAR ISI
Halaman Judul
Kata Pengantar

ii

Daftar Isi

iii

Daftar Tabel

iv

Daftar Gambar

BAB I. PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang

I.2. Rumusan Masalah

I.3. Tujuan Penulisan

I.4. Manfaat Penulisan

BAB II. KAJIAN PUSTAKA


II.1. Sejarah Polyethylene

II.2. Kebutuhan Polyethylene di Indonesia

II.3. Klasifikasi Polyethylene

BAB III. PEMBAHASAN


III.1. Pengertian Polyethylene

III.2. Karakteristik Polyethylene

III.3. Reaksi Kimia Pembentukan Polyethylene

III.4. Tinjauan Termodinamika

III.5. Tinjauan Kinetika

III.6. Suhu Optimum dan Konversi Maksimum

11

III.7. Proses Pembuatan Polyethylene

14

III.8. Reaktor yang Digunakan

15

III.9. Bahan Baku & Bahan Penunjang Pembuatan Polyethylene

16

III.10. Diagram Alir Proses Pembuatan Produk Polyethylene

17

III.11. Peluang Didirikannya Pabrik Polyethylene

19

III.12. Manfaat Produk Polyethylene

22

BAB IV. PENUTUP


IV.1. Kesimpulan

23

IV.2. Saran

23

DAFTAR PUSTAKA

24

iii

DAFTAR TABEL
Tabel 4.1. Suhu vs Konversi Termodinamika

Tabel 5.1. Suhu vs Konversi Kinetika

10

Tabel 6.1. Suhu vs Konversi

11

Tabel 7.1. Perbandingan Proses Pembuatan Polyethylene

15

Tabel 11.1. Data Impor LLDPE di Indonesia

19

Tabel 11.2. Kebutuhan LLDPE di Empat Negara Besar di ASEAN

20

iv

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Rumus Bangun dan Bentuk Molekul Polyethylene

Gambar 2. Reaksi Inisiasi

Gambar 3. Reaksi Propagasi

Gambar 4. Reaksi Akhir Propagasi

Gambar 5. Nilai Energi Ikatan Beberapa Senyawa

Gambar 6. Grafik Suhu vs Konversi Termodinamika

Gambar 7. Grafik Suhu vs Konversi Kinetika

11

Gambar 8. Grafik Suhu vs Konversi

12

Gambar 9. Diagram Alir Pembuatan Polyethylene Jenis LLDPE

18

Gambar 10. Grafik Kebutuhan LLDPE di Indonesia

19

BAB I
PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Tidak bisa dipungkiri bahwa polimer telah menjadi bagian dari kehidupan
manusia dan tanpa kehadiran mereka (polimer) di sekitar kita, dunia ini serasa
berbeda. Saat ini, polimer telah dikenal mulai dari kantong plastik sampai ke
produk berteknologi tinggi seperti otot buatan atau pembuluh darah, membran
penghantar proton, material untuk pesawat luar angkasa, daln lain-lain. Hal ini
mendorong tumbuhnya penelitian, pengembangan, dan inovasi dalam sintesis,
modifikasi serta fungsionalisasi material polimer secara progresif.
Perkembangan industri polimer di Indonesia masih belum sepadan dengan
perkembangan industri polimer di beberapa negara maju. Bahan baku dan produk
polimer dari teknologi menengah hingga tinggi masih diimpor dari negara lain.
Oleh karena itu, peran aktif sivitas perguruan tinggi, industri, lembaga penelitian
serta instansi terkait lainnya untuk meningkatkan kualitas penelitian, menyiapkan
sumber daya manusia yang handal dan pemanfaatan hasil penelitian sangatlah
penting guna mendukung pengembangan industri polimer nasional.
I.2. Rumusan Masalah
Polimer yang termasuk didalamnya adalah Polyethylene merupakan salah
satu jenis termoplastik yang digunakan secara luas untuk kehidupan manusia. Halhal yang akan dibahas mengenai Polyethylene diantaranya:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.

Apa pengertian Polyethylene?


Apa saja karakteristik yang dimiliki Polyethylene?
Bagaimana reaksi kimia pembentukan Polyethylene?
Bagaimana tinjauan termodinamika, tinjauan kinetika dan suhu optimum
serta konversi maksimum dalam reaksi pembentukan Polyethylene?
Bagaimana kondisi operasi pembuatan produk Polyethylene?
Jenis reaktor apa yang sebaiknya digunakan dalam pembuatan Polyethylene?
Apa saja bahan utama dan bahan penunjang dalam pembuatan produk
Polyethylene?
Bagaimana gambaran diagram alir proses produksi produk Polyethylene?
Bagaimana peluang didirikannya pabrik produk Polyethylene di Indonesia?
Apa manfaat Polyethylene bagi manusia?

I.3. Tujuan Penulisan


a.
b.
c.
d.

Mengkaji definisi Polyethylene secara lebih luas


Mengkaji karakteristik Polyethylene secara lebih luas
Mengkaji reaksi-reaksi kimia pembentukan Polyethylene
Mengkaji keterkaitan tinjauan termodinamika, tinjaun kinetika, suhu optimum
dan konversi maksimum dalam reaksi pembentukan Polyethylene
1

e. Mengkaji kondisi operasi pembentukan Polyethylene


f. Mengkaji jenis rector yang sesuai untuk proses pembuatan produk Polyethylene
g. Mengkaji bahan baku dan bahan penunjang dalam proses pembuatan produk
Polyethylene
h. Mengkaji peluang didirikannya pabrik produk Polyethylene di Indonesia
i. Mengkaji manfaat Polyethylene bagi kehidupan manusia
I.4 Manfaat Penulisan
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

Mampu mengetahui dan memahami definisi Polyethylene secara menyeluruh


Mampu mengetahui karakteristik Polyethylene secara lebih menyeluruh
Mampu mengetahui reaksi-reaksi kimia pembentukan Polyethylene
Mampu mengetahui sifat termodinamika, kinetika, suhu optimum serta konversi
maksimum dalam reaksi pembentukan Polyethylene
Mampu mengetahui kondisi operasi pembentukan Polyethylene
Mampu mengetahui jenis reaktor yang cocok digunakan dalam produksi
Polyethylen
Mampu mengetahui bahan baku dan bahan penunjang proses pembuatan produk
Polyethylene
Mampu memprediksi peluang didirikannya pabrik produk Polyethylene
Mampu mengetahui manfaat Polyethylene bagi kehidupan manusia

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
II.1. Sejarah Polyethylene
Polyethylene pada dasarnya merupakan resin termoplastik yang diperoleh
dengan cara polimerisasi gas ethylene (C2H4). Polimer dengan tingkat molekular
rendah merupakan cairan yang banyak digunakan sebagai cairan pelumas,
sedangkan polimer dengan tingkat molekular sedang adalah lilin yang antara lain
berwujud parafin. Polimer dengan tingkat molekular tinggi merupakan bahan yang
banyak digunakan dalam industri plastik (Suhendra, 2014).
Adalah Hans von Pechmann, seorang ahli kimia berkebangsaan Jerman yang
pertama kali melakukan percobaan denga cara memanaskan diazometana secara
tidak sengaja. Substansi yang dihasilkan berupa bahan berlilin berwarna putih
yang mengandung rantai CH2 yang panjang. Oleh rekannya, yaitu Friedrich
Tschirner dan Eugen Bamberger substansi tersebut dinamakan Polimetilena
(Suhendra, 2014).
Reginald Gibson dan Eric Fawcett dari ICI, Norwich di Inggris, secara tidak
sengaja juga menemukan substansi yang mirip dengan milik Pechman pada tahun
1933. Substansi tersebut mereka dapatkan secara tidak sengaja juga ketika
campuran benzaldehyde dan ethylene mereka paparkan pada tekanan yang sangat
tinggi. Akhirnya, Michael Perrin berhasil mensintesis substansi serupa dengan
baik pada tahun 1935. Perrin adalah ahli kimia dari ICI, Inggris juga. Sejak 1939
mulai dibuka industri LDPE pertama (Suhendra, 2014).
Seperti kita ketahui, plastik baru mulai mengemuka di seluruh dunia sejak
berlangsungnya Perang Dunia ke II yang pada waktu itu merupakan bahan penting
penyerap panas terutama dalam bidang militer seperti kabel radar. Sejak akhir PD
II, plastik mulai dialokasikan untuk berbagai macam kebutuhan dan bebas
digunakan untuk berbagai keperluan masyarakat. Sejak saat itu, baik sektor
industri maupun sektor yang berhubungan dengan kebutuhan masyarakat mulai
banyak menggunakan Polyethylene. Bahkan di Amerika Serikat sendiri,
Polyethylene menjadi plastik pertama yang mencapai penjualan sebesar 1 trilyun
pound per tahun (Suhendra, 2014).
Dewasa ini, hampir semua negara di seluruh dunia telah menggunakan
material berbahan plastik. Penggunaan Polyethylene sangat beragam dan
mencakup berbagai bidang kehidupan misalnya pengepakan film, kantong plastik
untuk berbagai macam produk makanan, pakaian dan lain-lain, mainan anak-anak,
pipa-pipa yang banyak digunakan dalam industri dan rumah tangga, digunakan
juga dalam pembuatan tong-tong besar yang juga dapat dipakai untuk menampung
bensin dan masih banyak lagi (Suhendra, 2014).
II.2. Kebutuhan Polyethylene di Indonesia
Pertumbuhan permintaan yang tinggi akan produk petrokimia terjadi di
Indonesia. Berdasarkan data dari Nexant, total pertumbuhan permintaan
Polyethylene, Polypropilene, Styrene Monomers, dan Butadiene dalam negeri
diperkirakan lebih dari 4% dalam periode waktu 2012 2018. Sedangkan
kapasitas pabrik Perseroan sebagai berikut:
3

Ethylene
: 600.000 ton/tahun
Propylene
: 320.000 ton/tahun
Mixed C4
: 220.000 ton/tahun
Py-gas
: 280.000 ton/tahun
Polyethylene : 336.000 ton/tahun
Polypropylene : 480.000 ton/tahun
Butadiene
: 150.000 ton/tahun
Sumber: PT. Chandra Asri Petrochemical

II.3. Klasifikasi Polyethylene


Polyethylene terdiri dari berbagai jenis berdasarkan kepadatan dan
percabangan molekul. Sifat mekanis dari polietilena bergantung pada tipe
percabangan, struktur kristal, dan berat molekulnya.
1. Polyethylene bermassa molekul sangat tinggi (Ultra High Molecular Weight
Polyethylene) atau UHMWPE merupakan Polyethylene dengan berat
molekul sangat besar antara 3,1 hingga 5,57 juta dengan densitas 0,935
0,930 g/cm3
2. Polyethylene bermassa molekul sangat rendah (Ultra Low Molecular Weight
Polyethylene) atau ULMWPE atau PE-WAX
3. Polyethylene bermassa molekul tinggi (High Molecular Weight
Polyethylene) atau HMWPE
4. Polyethylene berdensitas tinggi (High Density Polyethylene) atau HDPE
merupakan Polyethylene dengan densitas lebih besar atau sama dengan 0.941
g/cm3.
5. Polyethylene cross-linked berdensitas tinggi ( High Density Cross-linked
Polyethylene) atau HDXLPE
6. Polyethylene cross-linked (Cross-linked Polyethylene) atau PEX atau
XLPE merupakan Polyethylene dengan densitas medium yang terdiri dari
ikatan cross-linked.
7. Polyethylene berdensitas menengah (Medium Density Polyethylene) atau
MDPE merupakan Polyethylene densitas antara 0.9260.940 g/cm3.
8. Polyethylene berdensitas rendah (Low Density Polyethylene) atau LDPE
merupakan Polyethylene dengan kisaran densitas 0.9100.940 g/cm3 dengan
cabang-cabang pendek maupun panjang.
9. Polyethylene linear berdensitas rendah (Linear low density Polyethylene)
atau LLDPE merupakan Polyethylene dengan densitas antara 0.9150.925
g/cm3, berbentuk linear dengan cabang-cabang pendek.
10. Polyethylene berdensitas sangat rendah (Very low density Polyethylene) atau
VLDPE merupakan Polyethylene dengan kisaran densitas 0.8800.915
g/cm3.
Sumber: Ghanie Ripandi Utomo, 2011

BAB III
PEMBAHASAN
III.1. Pengertian Polyethylene
Polyethylene adalah bahan termoplastik yang transparan, berwarna putih
yang mempunyai titik leleh bervariasi antara 110-137 0C. Polimer termoplastik
adalah polimer yang dapat mencair dan mengalir pada suhu tinggi. Umumnya
Polyethylene bersifat resisten terhadap zat kimia. Pada suhu kamar, polietilena
tidak larut dalam pelarut organik dan anorganik (Charoen Nakason, 2006 dalam
Putra, 2010).
Polyethylene merupakan hasil polimer dari etena (C2H4) sehingga
menghasilkan polimernya (C2H4)n yaitu polietilena dengan rumus bangun sebagai
berikut:

Gambar 1. Rumus Bangun dan Bentuk Molekul Polyethylene


Sumber: id.wikipedia.org
III.2. Karakteristik Polyethylene
Polyethylene memiliki karakteristik berupa sifat fisika dan sifat kimia
sebagai berikut:
Sifat Fisik:
1. Berat Molekul
: 10.000 - 1.000.000 g/mol
2. Bentuk
: padatan, cairan, slurry
3. Densitas
: 0,91 0,96 9/cm3
4. Titik Lebur
: 109 183 0C
5. Fase
: Padat
6. Warna
: Putih
7. Koefisien Fraksi
: 0,06 0,3
8. Kristalinitas
: 55 85%
9. Kekuatan Tarik
: 1250 4100 psi
10. Konduktivitas Termal : 2,3 3,4 Btu in/hr ft3
Sifat Kimia:
Tidak larut dalam pelarut apapun pada suhu kamar tetapi mengendap oleh
hidrokarbon dan karbon tetraklorida
Tahan terhadap asam/basa, tetapi dapat dirusak oleh asam nitrat pekat
Tidak tahan terhadap cahaya dan oksigen
Bila dipanasi secara kuat akan membentuk sambung silang yang diikuti
dengan pembelahan ikatan secara acak pada suhu lebih tinggi, tetapi di
polimerisasi tidak terjadi
5

Larutan dari suspense Polyethylene dengan tetra klorida pada suhu 60 0C


dapat direaksikan dengan Cl membentuk produk lunak dan kenyal
Pemasukan atom Cl secara acak ke dalam rantai dapat menghancurkan
kekristalan Polyethylene
Sumber: Putra, 2010

III.3. Reaksi Kimia Pembentukan Polyethylene


Polyethylene merupakan salah satu polimer yang dibuat dari sebuah
monomer yaitu ethylene. Kebanyakan polimer dibentuk melalui proses
polimerisasi termasuk juga Polyethylene. Reaksi adisi biasa digunakan untuk
pembuatan Polyethylene, yang terdiri dari tiga tahapan yaitu inisiasi, propagasi,
dan terminasi.
a. Inisiasi, untuk tahap pertama ini dimulai dari penguraian inisiator dan adisi
molekul monomer pada salah satu radikal bebas yang terbentuk. Bila kita
nyatakan radikal bebas yang terbentuk dari inisiator sebagai R, dan molekul
monomer dinyatakan dengan CH2=CH2, maka tahap inisiasi dapat
digambarkan sebagai berikut:

Gambar 2. Reaksi Inisiasi (Ghanie Ripandi Utomo, 2011)


b. Propagasi, dalam tahap ini terjadi reaksi adisi molekul monomer pada
radikal monomer yang terbentuk dalam tahap inisiasi.

Gambar 3. Reaksi Propagasi (Ghanie Ripandi Utomo, 2011)


Bila proses dilanjutkan, akan terbentuk molekul primer yang besar, dimana
ikatan rangkap C=C dalam monomer etilena akan berubah menjadi ikatan
tunggal CC pada polimer Polyethylene.

Gambar 4. Reaksi Akhir Propagasi (Utiya Azizah, 2009)


c. Terminasi, dapat terjadi melalui reaksi antara radikal polimer yang sedang
tumbuh dengan radikal mula-mula yang terbentuk dari inisiator:
(R) CH2 CH2 + R - CH2 CH2- R
Atau antara radikal polimer yang sedang tumbuh dengan radikal polimer
lainnya, sehingga akan membentuk polimer dengan berat molekul tinggi.
6

R-(CH2)n-CH2 + CH2-(CH2)n-R
Sumber: Putra, 2010
III.4. Tinjauan Thermodinamika
Untuk menentukan sifat reaksi apakah berjalan secara eksotermis atau
endotermis, maka perlu pembuktian dengan menggunakan H energi ikat.
C2H4 + H2 (C2H4)n
Energi ikat C-H : 415 kJ/mol
C=C : 611 kJ/mol
H-H : 436 kJ/mol
H = energi ikat reaktan energi ikat produk
= {[611 + (4x415) + 436] [611 + (4x415)]n}
= 2707 (2271)n
Karena polietilen merupakan polimer maka n>1. Bila n=2 maka nilai H= 1838 kJ/mol. Nilai H negatif sehingga reaksinya merupakan reaksi eksotermis.
Sehingga untuk nilai n>1 berapapun itu, nilai H akan selalu negatif.

Gambar 5. Nilai Energi Ikatan Beberapa Senyawa (Asri Wahyu, 2012)


Reaksi bersifat dapat balik (reversibel) atau searah (irreversibel) dapat
ditentukan secara termodinamika, yaitu berdasarkan persamaan Vant Hoff

Dengan,
= -RT ln K
Dimana:
7

= Energi Gibbs produk Energi Gibbs reaktan

= Konstanta kesetimbangan reaksi

= Suhu
(Levenspiel, 1957)
ln

Sehingga,

= 2

Jika H merupakan perubahan entalpi standar (panas reaksi) dan dapat diasumsikan
konstan terhadap suhu, maka persamaan dapat diintegralkan menjadi :
ln

2
1

=-

1
2

1
1

Data-data energi Gibbs (Gibbs heat of formation)


Gof C2H4
Gof H2
Gof C2H2

= 68, 2 kJ/mol
= 0 kJ/mol
= 209,2 kJ/mol
G = - RT ln K
(Levenspiel, 1957)

- 141 kJ/mol = - (8,314) (298) ln K


2477,572 = ln K
K = 1,057
Berdasarkan perhitungan, nilai K diatas 1, maka reaksi polimerisasi etilen merupakan
reaksi searah (irreversible).
Setelah mendapatkan nilai konstanta kesetimbangan (K), maka kita dapat mencari
konversi dengan rumus di bawah ini :
=

+1
(Levenspiel, 1957)

Didapatkan data sebagai berikut:


Tabel 4.1. Suhu vs Konversi Termodinamika
Suhu (K)

Konversi
Termodinamika

97

0.562

127

0.5406

157

0.526

187

0.522

217

0.519
8

247

0.517

277

0.515

307

0.5139

337

0.5127

367

0.5116

397

0.5107

427

0.51

457

0.5093

Dari data di atas didapat hubungan suhu vs konversi termodinamika


0.57
0.56
0.55
konversi

0.54
0.53
0.52
Konversi Termodinamika

0.51
0.5
0.49
97
127
157
187
217
247
277
307
337
367
397
427
457

0.48

suhu (K)

Gambar 6. Grafik Suhu vs Konversi Termodinamika (Asri Wahyu, 2012)


Sumber: Asri Wahyu, 2012
III.5. Tinjauan Kinetika
Ditinjau dari kinetika reaksinya, kecepatan reaksi pembentukan polietilena
akan semakin besar dengan kenaikan suhu. Hal ini dapat dijelaskan dengan
persamaan Arhenius :
k = A e Ea/RT
Dengan :
k

= konstanta kecepatan reaksi

= factor frekuensi tumbukan


9

Ea

= energi aktivasi

= konstanta

= suhu
(Levenspiel, 1957)

Dari persamaan di atas, harga A, Ea, R adalah tetap, sehingga harga k hanya
dipengaruhi oleh suhu, dengan kenaikan suhu maka kecepatan reaksi akan
semakin besar, pembentukan polietilena juga makin cepat. Berdasarkan pada
referensi nilai k pada pembentukan polietilena adalah:
k=16,1664 x e-3980/1.987T
(Problems at Unit 700 Polyethylene Production, 1999,p.805)
Setelah mendapatkan nilai konstanta kecepatan reaksi (k), maka kita dapat
mencari konversi dengan rumus di bawah ini :
-ln (1- Xa)= kt
(Levenspiel, 1957)
Didapatkan data sebagai berikut:
Tabel 5.1. Suhu vs Konversi Kinetika
Suhu (K)

Konversi Kinetika

97

0.0001

127

0.00015

157

0.00298

187

0.02204

217

0.09334

247

0.2597

277

0.515

307

0.77

337

0.9273

367

0.986

397

0.9984

427

0.99989

457

0.9999
10

Dari data di atas didapat hubungan suhu vs konversi termodinamika:


1.2
konversi

1
0.8
0.6
0.4

Tinjauan Kinetika

0.2
0
97 127157187217247277307337367397427457
suhu (K)

Gambar 7. Grafik Suhu vs Konversi Kinetika (Asri Wahyu, 2012)


Sumber: Asri Wahyu, 2012
III.6. Suhu Optimum dan Konversi Maksimum
Tabel 6.1. Suhu vs Konversi
Suhu (K)

Konversi
Termodinamika

Konversi
Kinetika

97

0.562

0.0001

127

0.5406

0.00015

157

0.526

0.00298

187

0.522

0.02204

217

0.519

0.09334

247

0.517

0.2597

277

0.515

0.515

307

0.5139

0.77

337

0.5127

0.9273

367

0.5116

0.986

397

0.5107

0.9984

427

0.51

0.99989

457

0.5093

0.9999

11

1.2
1

konversi

0.8
0.6
konversi termodinamika
0.4

Konversi kinetika

0.2
0
97 127 157 187 217 247 277 307 337 367 397 427 457
suhu (K)

Gambar 8. Grafik Suhu vs Konversi (Asri Wahyu, 2012)


Dari hasil perhitungan yang ditinjau dari tinjauan thermodinamika dan kinetika
diperoleh titik suhu optimum, yaitu pada suhu 277 K atau 40C dengan konversi
51,5%. Jika konversi optimum hasil perhitungan dibandingkan dengan konversi
optimum pada pabrik Industri Polyethylene yang sedang komersial saat ini, terjadi
penyimpangan sekitar 47%. Untuk meningkatkan konversi dari 51,5% menjadi 97%
digunakan katalis dan dilakukan recycle berulang-ulang pada produk sampingnya
supaya didapatkan produk utama dalam jumlah yang maksimal.
Diambil masing-masing 3 titik yaitu pada suhu 247 K, 277 K, dan 307 K:
Konversi Termodinamika
=
Dimana:
Xa
K

+1

= Konversi Termodinamika
= Konstanta kesetimbangan
(Levenspiel, 1957)

Suhu: 247 K
G = -RT ln K
-141 = -8,314 (247) ln K
ln K = -141/ (-8,314). (247)
ln K = 0,0687
K = 1,071
Xa = K/( K+1)
=1,071/ (1,071+1)
=0,517
Suhu: 277 K
G = -RT ln K
-141 = -8,314 (277) ln K
12

ln K = -141/ (-8,314). (277)


ln K = 0,0612
K = 1,063
Xa = K/( K+1)
=1,063/ (1,063+1)
=0,515

Suhu: 307 K
G = -RT ln K
-141 = -8,314 (307) ln K
ln K = -141/ (-8,314). (307)
ln K = 0,0552
K = 1,063
Xa = K/( K+1)
=1,063/ (1,063+1)
=0,515
Konversi Kinetika
-ln (1- Xa)= kt
(Levenspiel, 1957)
Suhu 247 K

=
=16,1664 3980/1,987.247
=0,0050109

-ln (1- Xa) = kt


-ln (1-Xa) = 0,0050109 (60)
1-Xa

= 0,740

Xa

= 0,260

Suhu 277 K

=
=16,1664 3980/1,987.277
=0,01206

-ln (1- Xa) = kt


-ln (1-Xa) = 0,01206 (60)
1-Xa

= 0,485

Xa

= 0,515
13

Suhu 307 K

=
=16,1664 3980/1,987 307
=0,0245

-ln (1- Xa) = kt


-ln (1-Xa) = 0,0245 (60)
1-Xa

= 0,2299

Xa

= 0,770
Sumber: Asri Wahyu, 2012

III.7. Proses Pembuatan Polyethylene


Polyethylene dapat dibuat dalam beberapa macam proses dan setiap proses
memiliki kondisi operasi yang berbeda-beda. Beberapa macam proses pembuatan
produk Polyethylene diantaranya:
a. High Pressure Process
Dalam proses high pressure ini dapat digunakan dua jenis reaktor yaitu
Autoclave reaktor dan Turbular reaktor (jacketed tube) yang mempunyai
kondisi operasi yang berbeda seperti:
Autoclave Reactor
- Tekanan operasinya antara 150-200 MPa
- Waktu tinggal 30-60 detik
Turbular Reactor
- Tekanan operasi yang digunakan antara 200-250 MPa
- Temperatur reaksinya tergantung dari jenis inisiator oksigen maka
temperatur reaksinya 1900 0C dan jika menggunakan inisiator
peroxycarbonate maka temperatur reaksinya menjadi 1400 0C.
b. Suspension (Slurry) Process
Dalam proses ini Polyethylene disuspensikan dalam diluent hidrokarbon
untuk mempermudah proses. Ada 2 macam proses dalam suspension (slurry)
process, yaitu autoclave process dan loop reaktor process.
Autoclave Process
- Tekanan operasinya 0,5-1 MPa
- Temperature reaksinya antara 80-900 0C
- Diluents yang digunakan adalah hexane
- Katalis yang digunakan dicampur dengan alkyl alumunium
Loop Reactor Process
- Tekanan operasinya 3-4 MPa
- Temperature reaksinya 1000 0C
- Diluents yang digunakan adalah isobutene

14

Jika menggunakan Philip type maka katalisnya adalah campuran Ti


dan alkyl alumunium
c. Gas Phase Process
Union Carbide banyak digunakan dalam proses ini dengan menggunakan
reaktor fluidized bed. Disebut gas phase process karena hampir semua bahan
baku disuplai dalam bentuk gas.
- Tekanan operasi yang digunakan antara 0.7-2 MPa
- Temperatur reaksinya antara 80-100 oC
- Poison catalyst : CO2, CO, H2O
Sumber: Putra, 2010
Tabel 7.1. Perbandingan Proses Pembuatan Polyethylene
Faktor
Gas
Slurry
Slurry
Liquid
Proses
Teknis
Phase
Phase
Phase
Phase
Tekanan
(Unipol)
(Philip)
(SDK)
(Dupont)
Tinggi
(ICI)
300 psig
400 psig
43,5
1500020000Tekanan
kg/cm2
18000 psig
30000
Operasi
80-100
90-110
80-90
220-260
200-300
Temperatur
Operasi (0C)
Fluidized
Loop
Vertical
Stirred
Autoclave
Jenis
Bed
reaktor,
jacketed,
reaktor
reaktor,
Reaktor
Autoclave
Loop
Turbular
reaktor
reaktor
reaktor
1-5 jam
1,5 jam
2-5 menit
30 detik - 2
Waktu
menit
Tinggal
Isobutane, Isobutane, Cyclohexa
Butene-1
Diluent
Hexane
Hexane
ne
0,01-0,4
0,01-0,3
0,01-0,3
0,01-0,3
0,01-0,3
C4/C2
(molar)
LLDPE,
HDPE
HDPE
LDPE,
LLDPE
Tipe
HDPE
HDPE,
Polyethylene
LLDPE
Sumber: Putra, 2010
III.8. Reaktor yang Digunakan
Dari penjelasan di atas, reaktor yang baik digunakan untuk produksi
polietilena adalah Fluidized Bed Reaktor. Hal ini dikarenakan reaktor ini dapat
digunakan untuk mereaksikan bahan dalam keadaan banyak fasa. Reaktor jenis
ini menggunakan fluida yang dialirkan melalui katalis padatan sehingga katalis
akan terolak sedemikian rupa dan akhirnya katalis tersebut dapat dianalogikan
sebagai fluida juga. Kelebihan lain dari penggunaan fluidized bed reaktor adalah:
a. Reaktor mempunyai kemampuan untuk memproses fluida dalam jumlah yang
besar
b. Pengendalian temperatur lebih baik
c. Pencampuran (mixing) yang bagus untuk katalis dan reaktan
d. Operasi bekerja optimal pada suhu 70 C dan tekanan 15 atm sehingga mudah
dikontrol
15

e. Konversi yang dihasilkan di atas 97% overall


f. Isobutana yang digunakan sebagai komonomer dapat di recycle sehingga
menghemat biaya
g. Tidak ada produk samping pada polimerisasi
Sedangkan, kerugian dari reaktor ini adalah:
a. Partikel mengalami keausan yang dapat menyebabkan mengecilnya ukuran
partikel yang berada di dalam reaktor dan ikut mengalir bersama aliran gas
sehingga perlu digunakan alat cyclone separator dan aliran listrik
disambungkan pada garis antara reaktor dan generator
b. Adanya peningkatan keabrasifan dimana penyebabnya adalah partikel padat
di dalam proses cracking pada fluidized bed
c. Tidak mempunyai fleksibilitas terhadap perubahan panas
Sumber: Putra, 2010
III.9. Bahan Baku dan Bahan Penunjang Pembuatan Produk Polyethylene
Salah satu produk Polyethylene adalah LLDPE (Linear low Density
Polyethylene). Teknologi yang dapat dipakai dalam pembuatan LLDPE meliputi
polimerisasi fase gas, polimerisasi dalam larutan, dan polimerisasi suspense.
Setiap proses memiliki spesifikasi katalis tertentu yang membantu jalannya
reaksi.
Bahan baku yang digunakan pada LLDPE plant terdiri dari bahan baku
utama dan bahan baku penunjang. Bahan baku utama yang digunakan
yaitu ethylene dan bahan baku penunjang terdiri dari nitrogen, hidrogen
dan comonomer.
Bahan Baku Utama
LLDPE plant menggunakan bahan baku utama yaitu ethylene. Ethylene ini
diperoleh dari hasil produksi Ethylene plant.
Sifat Fisik Ethylene (CH2=CH2):
- Berat Molekul
: 28,05 g/mol
- Spesific gravity
: 0,57-102/4
- Fase
: gas
- Titik Didih
: -103,9 oC
- Titik Leleh
: -169 oC
- Temperatur Kritis
: 9,15 oC
- Tekanan Kritis
: 50,4 bar
- Volume Kritis
: 131 cm3/mol
Bahan Baku Penunjang
a. Comonomer
Comonomer yang digunakan pada LLDPE plant yaitu 1-butene
(CH2=CHCH2CH3). Sifat-sifat fisik dari comonomer tersebut yaitu:
- Berat Molekul
: 56,10 g/mol
- Spesific gravity
: 0,6013
- Fase
: cair
- Titik didih
: -5 oC
- Titik leleh
: -130 oC
- Temperatur kritis
: 146,85 oC
16

b.

c.

d.

e.

- Tekanan kritis
: 40,43 bar
- Volume kritis
: 293,3 cm3/mol
- Larut dalam pelarut organik tetapi tidak dapat larut dalam air
Nitrogen
Sifat fisik dari nitrogen yaitu:
- Berat Molekul
: 28,02 g/mol
- Spesific gravity
: 0,8081
- Fase
: gas
- Titik didih
: -195,8 oC
- Titik leleh
: -209,86 oC
- Temperatur kritis
: -147 oC
- Tekanan kritis
: 34 bar (abs)
Hidrogen
Sifat fisik hydrogen (H2) adalah sebagai berikut:
- Berat Molekul
: 2,016 g/mol
- Spesific gravity
: 0,0709-252,7
- Fase
: gas
- Titik didih
: -252,7 oC
- Titik leleh
: -259,1 oC
- Temperatur kritis
: -1240 oC
- Tekanan kritis
: 13 bar (abs)
Katalis
Katalis yang digunakan LLDPE adalah katalis M-1
Katalis M-1 terdiri dari metal aktif Titanium yang di-support dengan silika
dan aluminium. Berdiameter 700-900 m.
Karakteristik:
- Memiliki distribusi berat molekul (MWD) terbatas
- Harga Melt Index tinggi dan densitas yang cukup luas
- Aktivitas yang baik (2-4 ppm Ti)
- Produktivitas Katalis 3000-5000 kg resin/kg katalis
- Penggunaan: untuk memproduksi LLDPE
Co-catalyst
Co-catalys
yang
biasa
digunakan
adalah
Al(C2H5)3
atau
Triethylalumunium. Sifat fisik Triethylalumunium yaitu:
- Berat Molekul
: 114,17 g/mol
- Densitas
: 0,834 g/ml
- Viskositas
: 2,6 mPa.sg
Sumber: Putra, 2010

III.10. Diagram Alir Proses Pembuatan Produk Polyethylene


Umpan berupa C2H4, C4H8, H2, dan N2 dialirkan menuju ke mix point untuk
selanjutnya dialirkan ke reaktor fluidized bed. Pada N2, alirannya dibagi menjadi
2 produk yaitu nitrogen bertekanan tinggi (NBT) dan nitrogen bertekanan rendah
(NBR). NBT digunakan sebagai carrier gas pada reaktor fluidized bed yang
17

beroperasi pada 85 0C dan 12 bar sedangkan NBR digunakan sebagai purger gas
untuk Product Purge Bin.
Umpan yang dialirkan pada fluidized bed akan mengalami reaksi
polimerisasi yang akan menghasilkan resin LLDPE dengan tingkat konversi 10%
setiap pass-nya. Umpan yang tidak terkonversi disesuaikan kembali tekanannya
agar sesuai dengan tekanan operasi yang dibutuhkan untuk fluidisasi dalam
fluidized bed. Setelah itu, untuk mempertahankan suhu operasi di dalam reaktor
dipergunakan cycle gas cooler. Untuk menurunkan energi aktivasi reaksi, maka
ditambahkan katalis TiCl3 dan co-katalis Al(C2H5)3 (TEAL). Setelah terbentuk
produk berupa resin LLDPE (500 900 m), maka secara periodic dialirkan ke
product chamber, lalu diumpankan ke product blow tank secara gravitasi.
Kemudian, produk dari blow tank dibawa ke product purge bin yang
beroperasi pada 100 oC dan 1 atm. Pada purge bin, impuritas yang terbawa akan
disingkirkan dengan N2 yang dialirkan pada cone I dan katalis serta co-katalis
dideaktivasi dengan hidrolisis menggunakan steam yang dialirkan pada cone II,
menurut reaksi:
2TiCl3 + 4H2O 2TiO2 + 6HCl + H2
Al(C2H5)3 + 3H2O Al(OH)3 + 3C2H6
Setelah itu, resin LLDPE dialirkan ke mixer yang bersuhu 160 oC. Dengan
suhu ini resin LLDPE akan meleleh. Lelehan ini akan dialirkan ke pelletizer.
Pada pelletizer, lelehan ini akan dibentuk menjadi pellet LLDPE, lalu disalurkan
ke gudang produk. Impuritis yang berupa gas akan ter-purging keluar dari purge
bin melalui filter. Gas yang lolos melalui filter akan dialirkan ke scrubber yang
beroperasi pada 100 oC dan 1 atm. Pada scrubber akan terjadi pelarutan HCl yang
terdapat di dalam gas. Ouput dari scrubber berupa larutan HCl akan ditampung di
tangki HCl. Ouput dari scrubber yang lainnya akan dialirkan ke flash drum yang
beroperasi pada 40 oC dan 85 bar. Untuk selanjutnya, senyawa yang
terkondensasi di flash drum akan dipergunakan sebagai fuel boiler pada unit
utilitas.
Sumber: Putra, 2010

Gambar 9. Diagram Alir Pembuatan Polyethylene Jenis LLDPE (Putra, 2010)


18

III.11. Peluang Didirikan Pabrik Polyethylene


Polyethylene merupakan salah satu industri yang masuk dalam industri
petrokimia. Konsumsi produk industri petrokimia masih besar, akan tetapi
Indonesia masih tergolong negara dengan rendahnya konsumsi plastik perkapita
yang baru mencapai 9 kg per kapita per tahun, sementara Malaysia 44 kg,
Singapura 75 kg, Thailand 18 kg dan Philipina 9 kg.
Peluang didirikannya pabrik Polyethylene khususnya jenis Linear Low
Density Polyethylene cukup besar mengingat kebutuhan Linear Low Density
Polyethylene nasional dalam kurun waktu lima tahun terakhir cenderung
meningkat, tetapi sebagian masih dipenuhi dari negara lain seperti, Arab Saudi,
Amerika Serikat, Kanada, Singapura, Korea Selatan, Jerman dan Jepang. Hal ini
terjadi karena produksi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan
tersebut sehingga harus impor dari luar negeri. Untuk itu industri Linear Low
Density Polyethylene mempunyai prospek yang cukup baik untuk dikembangkan
di Indonesia. Disamping untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri yang tiap
tahunnya cenderung meningkat, juga untuk meningkatkan sumber daya manusia.
Maka perancangan pabrik Linear Low Density Polyethylene merupakan
pemikiran yang menarik untuk ditelaah.
Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan kapasitas
perancangan pabrik Linear Low Density Polyethylene yaitu:
1. Prediksi Kebutuhan Linear Low Density Polyethylene di Indonesia
Kenaikan kebutuhan LLDPE ini dapat dilihat dari peningkatan kebutuhan
dalam negeri tiap tahunnya, seperti pada tabel 7.1
Tabel 11.1. Data Import Linear Low Density Polyethylene di Indonesia
Tahun
Kebutuhan (ton)
2007
198.670
2008
256.391
2009
296.709
2010
332.976
2011
407.395
2012
411.856
Sumber: digilib.unila.ac.id
Dari data di atas, maka terbuka peluang untuk dapat memenuhi kebutuhan
Linear Low Density Polyethylene dalam negeri pada tahun-tahun mendatang
yang akan mengalami peningkatan yang cukup banyak.

19

Gambar 10. Grafik kebutuhan Linear Low Density Polyethylene di Indonesia


(digilib.unila.ac.id, 2010)
Berdasarkan data tersebut, dapat diperkirakan kebutuhan Linear Low Density
Polyethylene di Indonesia pada tahun 2018 dengan persamaan garis lurus:
y = ax + b
Keterangan: y = kebutuhan Linear Low Density Polyethylene, ton/tahun
x = tahun ke
b = intercept
a = gradien
Diperoleh persamaan garis lurus: y = 44435x = 16181 (ton/tahun)
Dari persamaan di atas diketahui bahwa kebutuhan Linear Low Density
Polyethylene di Indonesia pada tahun 2018 adalah 549.401 ton/tahun.
2. Ketersediaan Bahan Baku
Bahan baku yang digunakan adalah ethylene, diperoleh dari PT. Chandra Asri
Petrochemical Center, Cilegon. Sedangkan hydrogen dan comonomer
diperoleh dari PT. Bayer Material Science Indonesia, Cilegon, Banten dengan
kapasitas produksi 35.000 ton/tahun. Bahan pembantu berupa Katalis M-1
diperoleh dari Beyond Industries Co., Ltd, Cina dengan kapasitas produksi
20.000 ton/tahun.
3. Kapasitas yang Telah Diproduksi
Pabrik Linear Low Density Polyethylene yang telah berdiri di Indonesia
antara lain PT. Chandra Asri Petrochemical Center (CAPC) yang berlokasi di
Cilegon dengan kapasitas produksi 200.000 ton/tahun dan PT. TITAN
Petrokimia Nusantara yang berlokasi di Cilegon dengan kapasitas produksi
225.000 ton/tahun.
Berdasarkan hal tersebut, dalam perancangan pabrik Linear Low Density
Polyethylene ini dipilih kapasitas 150.000 ton/tahun dengan pertimbangan
sebagai berikut:
a. Prediksi kebutuhan dalam negeri akan Linear Low Density Polyethylene
pada tahun 2018 sebesar 549.401 ton, dimana 75% telah dipenuhi oleh
pabrik yang sudah adasedangkan sisanya 25% dipenuhi oleh pabrik ini
sehingga kebutuhan dalam negeri dapat terpenuhi.
b. Selain dapat memenuhi kebutuhan Linear Low Density Polyethylene
dalam negeri, pabrik LLDPE ini juga diharapkan dapat menbantu
perekonomian Indonesia dengan mengekspor produk tersebut ke luar
negeri, khususnya ke negara-negara besar ASEAN, seperti Malaysia,
Thailand, Filipina, dan Singapura mengingat kebutuhan akan LLDPE di
negara-negata tersebut cenderung meningkat setiap tahunnya. Kebutuhan
LLDPE di empat negara besar di ASEAN dapat dilihat pada tabel 11.2.
Tabel 11.2. Kebutuhan LLDPE di Empat Negara Besar di ASEAN
Negara
Tahun
Kebutuhan
Malaysia
2012
336.992,388
Thailand
2012
201.339,650
Filipina
2012
80.436,156
20

Singapura
2011
Sumber: digilib.unila.ac.id

714.781,248

c. Dari aspek bahan baku, kebutuhan bahan baku utama dapat tercukupi dari
dalam negeri
d. Dapat merangsang berdirinya industri furniture, otomotif dan industri
lainnya yang menggunakan bahan baku Linear Low Density Polyethylene
e. Dapat menciptakan lapangan kerja baru
Sumber: digilib.unila.ac.id
4. Lokasi Pabrik
Lokasi suatu pabrik memberikan pengaruh yang besar terhadap lancarnya
kegiatan industri. Ada beberapa faktor yang harus dipertimbangkan untuk
menentukan lokasi pabrik yang akan dibangun agar secara teknis dan
ekonomi manguntungkan. Pabrik Linear Low Density Polyethylene
direncanakan akan didirikan di kawasan Tanjung Bintang, Lampung Timur
dengan pertimbangan sebagai berikut:
a. Bahan Baku
Bahan baku utama berupa ethylene diperoleh dari PT. Chandra Asri
Petrochemical Center, Cilegon. Sedangkan bahan penunjang lainnya
berupa hydrogen dan comonomer diperoleh dari PT. Bayer Material
Science Indonesia, Cilegon, Banten.
b. Pemasaran
Lokasi pabrik mendekati pasar bertujuan agar produk cepat sampai ke
konsumen, menghindari kerusakan selama pengiriman dan agar dapat
menekan baiya transportasi. Produk LLDPE diutamakan untuk memenuhi
kebutuhan dalam negeri. Dalam hal ini, Tanjung Bintang sangat
mendukung mengingat letaknya sangat strategis yaitu dekat dengan
konsumen terutama Sumatera dan pulau Jawa.
c. Transpotasi
Kawasan industri Tanjung Bintang dekat dengan pelabuhan Internasional
Panjang, sehingga member kemudahan untuk keperluan transportasi
impor dan ekspor. Akan dibangunnya jalan Trans tol sumatera yang
tersedia juga member keuntungan tersendiri untuk memudahkan
pengangkutan bahan baku dan produk.
d. Tenaga Kerja
Daerah Kawasan industri Tanjung Bintang, merupakan kawasan industri
dan lokasinya dekat dengan ibu kota negara sebagai pusat pendidikan
sehingga mudah untuk memperoleh tenaga kerja ahli. Sedangkan tenaga
kerja yang berpendidikan menengah atau kejuruan dapat diambil dari
daerah sekitar pabrik.
e. Utilitas
Fasilitas pendukung berupa air, listrik dan bahan bakar tersedia cukup
memadai karena merupakan kawasan industri. Kebutuhan tenaga listrik
dipenuhi oleh PT. PLN yang lokasinya tidak jauh dari kawasan industri
dan generator sebagai penunjang. Kebutuhan air dapat diperoleh dari
sungai, karena lokasi pabrik yang dekat dengan sungai.
21

f. Perijinan
Pemerintah menetapkan bahwa daerah Tanjung Bintang sebagai kawasan
industri, sehingga segala macam perijinan menjadi lebih mudah dan
fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan sudah tersedia seperti kebutuhan listrik,
air dan bahan bakar.
Sumber: digilib.unila.ac.id
III.12. Manfaat Produk Polyethylene
1. LDPE memiliki aplikasi yang cukup luas, terutama sebagai wadah
pembungkus. Produk lainnya dari LDPE meliputi wadah makanan dan
wadah di laboratorium, permukaan anti korosi, bagian yang membutuhkan
fleksibilitas, kantong plastik, dan bagian elektronik. Selain itu juga
dipergunakan untuk membuat kertas tahan air, kain tanpa tenunan, pelapis,
pembebas cetakan, permolisan, dan lain-lain.
2. UHMWPE digunakan sebagai onderdil mesin pembawa kaleng dan botol,
bagian yang bergerak dari mesin pemutar, roda gigi, penyambung,
pelindung sisi luar, bahan anti peluru, dan sebagai implan pengganti bagian
pinggang dan lutut dalam operasi.
3. HDPE sangat tahan terhadap bahan kimia sehingga memiliki aplikasi yang
luas, siantaranya: kemasan detergen, kemasan susu, tanki bahan bakar, kayu
plastik, meja lipat, kursi lipat, kantong plastik, system perpipaan transfer
panas bumi, system perpipaan gas alam, pipa air, dan pembungkus kabel.
4. MDPE biasa digunakan pada pipa gas.
5. LLDPE diproduksi untuk berbagai macam barang, antara lain:
a. Film
: plastik, plastik pembungkus baju, plastik karung
b. Kabel
: pembungkus kabel tegangan rendah
c. Injection
: kursi plastik, ember, gelas dan piring plastik
Sumber: Putra, 2010

22

BAB IV
PENUTUP
IV.1. Kesimpulan
1. Polyethylene adalah bahan termoplastik yang transparan, berwarna putih yang
mempunyai titik leleh bervariasi antara 110-137 0C.
2. Polyethylene memiliki sifat fisika dan sifat kimia yang membedakannya
dengan jenis polimer lain.
3. Reaksi kimia pembentukan Polyethylene termasuk reaksi adisi yang terdiri dari
tahap yaitu Inisiasi, Propagasi, dan Terminasi.
4. Secara termodinamika reaksi kimia pembentukan Polyethylene merupakan
Reaksi Eksotermis.
5. Secara kinetika reaksi kimia pembentukan Polyethylene merupakan reaksi
yang Irreversibel (tidak dapat balik atau reaksi satu arah).
6. Suhu optimum dan konversi maksimum berdasarkan perhitungan dipeoleh 227
K dan 51,5 %; menyimpang sekitar 47% dari pabrik Polyethylene yang sedang
produktif saat ini.
7. Terdapat tiga proses pembuatan Polyethylene yaitu High Pressure Process,
Suspension (Slurry) Process, dan Gas Phase Process
8. Jenis reactor yang sesuai digunakan dalam proses produksi Polyethylene
adalan Fluidized Bed Reaktor.
9. Bahan baku pembuatan Polyethylene adalah Ethylene, sedangkan bahan baku
penunjangnya berupa comonomer, nitrogen, hidrogen, katalis M-1, dan cocatalyst
10. Di Indonesia sangat berpeluang didirikan pabrik Polyethylene jenis LLDPE
mengingat kebutuhan LLDPE yang terus meningkat setiap tahunnya.
11. Produk Polyethylene memiliki banyak sekali kegunaan diantaranya plastic
pembungkus baju, wadah makanan, pembungkus kabel tekanan rendah, dan
lain-lain.
IV.2. Saran
1. Industri petrokimia yang sudah berkembang sebaiknya melakukan
penambahan kapasitas produksi Polyethylene sehingga kebutuhan dalam
negeri bisa terpenuhi tanpa harus melakukan impor dari negara lain.
2. Sivitas perguruan tinggi khususnya generasi muda sebaiknya terus melakukan
penelitian mengenai peluang pendirian pabrik Polyethylene agar produksi
Polyethylene dapat terus berkembang kea arah yang lebih baik.

23

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 1999. Problems at Unit 700 Polyethylene Production page 805. diakses pada
28 September 2014 pukul 15.05
Anonim. 2010. Peluang Pabrik Polyethylene di Indonesia. digilib.unila.ac.id. diakses
pada 28 september 2014 pukul 14.23
Anonim. 2014. Polietilena. id.wikipedia.org. diakses pada 22 September 2014 pukul
16.54
Azizah, Utiya. 2009. Polimer Berdasarkan Reaksi Pembentukannya. chem-is-try.org.
diakses pada 22 September 2014 pukul 16.57
Levenspiel, Octave. 1957. Chemical Reaction Engineering. Second edition.
PT. Chandra Asri Petrochemical. 2012. Leveraging Assets and Continuing to Build &
Grow. diakses pada 17 September 2014 pukul 21.59
Putra. 2010. Industri Linear Low Density Polyethylene. repository.usu.ac.id. diakses
pada 22 September 2014 pukul 16.59
Suhendra. 2014. Info Seputar Polietilen. http://www.arwanaplastik.com/informasiseputar-Polyethylene/. diakses pada 21 September 2014 pukul 21.52
Utomo, Ghanie Ripandi. 2011. Polietilen. bilangapax.blogspot.com. diakses pada 22
September 2014 pukul 16.44
Wahyu, Asri. 2012. Proses Industri Kimia Fix. www.scribd.com. diakses pada 28
September 2014 pukul 14.21

24

Anda mungkin juga menyukai