Anda di halaman 1dari 40

ABSTRAK

Sistem terner cair-cair merupakan suatu bentuk penentuan perbandingan komponen jumlah
komponennya. Diagram sisten terner cair-cair pada percobaan ini diuji coba pada airklorofom-asam cuka. Dengan menggunakan Kaidah Gibb untuk menentukan kedudukan
sistem. Dengan mengetahui massa dari masing-masing zat, akan kedudukan dalam sistem
dapat ditentukan dan ditetapkan pada titik tertentu. Dalam percobaan ini hal yang ingin
dicapai adalah menggambarkan diagram terner cair-cair antara air-kloroform-asam cuka
dan menentukan garis dasi (tie line). Komposisi diagram terner cair ini didapatkan dengan
mencampurkan ketiga komponen dengan perbandingan tertentu sehingga diperoleh suatu
persentase masing-masing komponen dalam senyawa.

DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK..........................................................................................................................1
DAFTAR ISI........................................................................................................................2
DAFTAR GAMBAR...........................................................................................................3
DAFTAR TABEL................................................................................................................4
DAFTAR LAMPIRAN........................................................................................................5
BAB I PENDAHULUAN
a.
b.
c.
d.
e.

Latar Belakang.............................................................................................6
Rumusan Masalah........................................................................................7
Batasan Masalah..........................................................................................7
Tujuan..........................................................................................................8
Manfaat........................................................................................................8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA..........................................................................................9


BAN III METODOLOGI PENELITIAN
a. Alat dan Bahan.............................................................................................22
b. Gambar Alat..................................................................................................22
c. Prosedur Kerja..............................................................................................24
d. Diagram Alir Metode Kerja..........................................................................24
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN.............................................................................26
BAB V KESIMPULAN.......................................................................................................31
APPENDIKS.......................................................................................................................32
DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................................40
DAFTAR NOTASI..............................................................................................................41

DAFTAR GAMBAR
2

Halaman
Gambar 2.1 Diagram Terner................................................................................................14
Gambar 2.2 Diagram Terner................................................................................................15
Gambar 2.3 Diagram Fasa Sistem Tiga Komponen............................................................17
Gambar 2.4 Diagram fasa, pada temperatur dan tekanan tetap...........................................18
Gambar 2.5 Bidang grafik diagram terner untuk tiga komponen........................................18
Gambar 2.6 Penggambaran tie line dari pencampuran dua fasa yang berbeda pada
garis kesetimbangan............................................................................................................19
Gambar 2.7 Macam-macam diagram terner........................................................................20
Ganbar 4.1 Diagram terner 4 tabung reaksi.........................................................................28
Gambar 4.2 Diagram terner kedudukan sistem...................................................................29
Gambar 4.3 Diagram terner pergeseran titik V....................................................................30
Gambar 4.4 Diagram terner posisi V..................................................................................30
Gambar 5.1 Diagram terner tabung I...................................................................................36
Gambar 5.2 Diagram terner tabung II.................................................................................37
Gambar 5.3 Diagram terner tabung III................................................................................38
Gambar 5.4 Diagram terner tabung Iv.................................................................................39

DAFTAR TABEL
3

Halaman
Tabel 4.1 Perbedaan massa komponen................................................................................27
Tabel 4.2 Data mol dan persentase fraksi mol setiap komponen
di masing-masing tabung.....................................................................................................27
Tabel 4.3 Komponen L1 dan L2..........................................................................................29
Tabel 5.1 Massa air yang diperlukan dalam setiap tabung..................................................33
Tabel 5.2 Massa kloroform yang diperlukan.......................................................................33

DAFTAR LAMPIRAN
4

BAB I
5

PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang
Ekstraksi cair/cair (LLE) merupakan proses pemisahan fisika, yang memisahkan

konstituen larutan melalui kontak dengan cairan lain yang tidak saling larut. Konstituen
tersebut tidak akan berubah secara kimiawi.
Pemisahan suatu campuran dalam larutan dapat dipisahkan dengan berbagai cara salah
satunya dengan ekstraksi. Ektraksi merupakan suatu metoda yang didasarkan pada perbedaan
kelarutan komponen campuran pada pelarut tertentu dimana kedua pelarut tidak saling
melarutkan. Bila suatu campuran cair, misalnya komponen A dan B dicampurkan tidak saling
melarutkan sehingga membentuk dua fasa. Maka untuk memisahkannya digunakan pelarut
yang kelarutannya sama dengan salah satu komponen dalam campuran tersebut. Sehingga
ketiganya membentuk satu fasa. Jika kedalam sejumlah air kita tambahkan terus menerus zat
terlarut lama kelamaan tercapai suatu keadaan dimana semua molekul air akan terpakai untuk
menghidrasi partikel yang dilarutkan sehingga larutan itu tidak mampu lagi menerima zat
yang akan ditambahkan. Dapat dikatakan larutan tersebut mencapai keadaan jenuh. Zat cair
yang hanya sebagian larut dalam cairan lainya, dapat dinaikan kelarutannya dengan
menambahkan suatu zat cair yang berlainan dengan kedua zat cair yang lebih dahulu
dicairkan. Bila zat cair yang ketiga ini hanya larut dalam suatu zat cair yang terdahulu, maka
biasanya kelarutan dari kedua zat cair yang terdahulu itu akan menjadi lebih kecil. Tetapi bila
zat cair yang ketiga itu larut dalam kedua zat cair yang terdahulu, maka kelarutan dari kedua
zat cair yang terdahulu akan menjadi besar. Gejala ini dapat terlihat pada sistem kloroformasam cuka-air.
Kloroform memiliki kelarutan sangat kecil dalam air, jika ditambahkan asam cuka maka
kelarutannya akan bertambah besar. Hal ini disebabkan oleh mudahnya asam cuka larut dalam
air dan kloroform dalam berbagai perbandingan. Diagram kesetimbangan fasa adalah suatu
kurva yang mencatat pengaruh suhu, tekanan, komposisi dan jumlah fasa yang ada dalam
suatu sistem kesetimbangan. Jumlah dan jenis fasa yang ada pada beberapa kondisi tergantung
dari jenis dan sifat senyawa yang ada didalamnya. Bila kondisi tekanan konstan, atau efek
tekanan dapat diabaikan, maka kesetimbangan cair-cair sistem biner dapat lebih mudah
digambarkan dalam suatu diagram kelarutan, yaitu plot antara T vs x1.

Bentuk diagram hasil kelarutan tersebut dilukiskan dalam segitiga sama sisi yang
disebut diagram terner, yang terjadi pada suhu dan tekanan yang tetap. Tiap sudut segitiga
tersebut menggambarkan suatu komponen murni. Diagram fasa yang digambarkan sebagai
segitiga sama sisi menjamin dipenuhinya sifat ini secara otomatis sebab jumlah jarak ke
sebuah titik didalam segitiga sama sisi yang diukur sejajar dengan sisi-sisinya sama dengan
panjang sisi segitiga itu yang dapat diambil sebagai satuan panjang. Berdasarkan hukum fasa
Gibbs jumlah terkecil peubah bebas yang diperlukan untuk menyatakan keadaan suatu sistem
dengan tepat pada kesetimbangan dilengkapkan sebagai : V = C P + 2; dengan V = jumlah
derajat kebebasan, C = jumlah komponen, dan P = jumlah fasa. Dalam ungkapan ini,
kesetimbangan mempengaruhi suhu, tekanan, dan komposisi sistem. Jumlah fasa dalam
sistem zat cair tiga komponen tergantung pada daya saling larut antar zat cair tersebut dan
suhu percobaan. Jumlah derajat kebebasan untuk sistem tiga komponen (sistem terner) pada
suhu dan tekanan tetap dapat dinyatakan sebagai V = 3 P. Sistem 3 komponen sebenarnya
banyak memungkinkan yakni pada percobaan ini digunakan sistem 3 komponen yang terdiri
atas zat cair yang sebagian tercampur. Pada diagram terner kurva yang melengkung dalam
segitiga merupakan kelarutan antar ketiga zat. Didalam kurva terdisi dari 2 fasa cair-cair.
Garis dasi atau line tie merupakan garis penentuan komposisi yang letaknya tidak sejajar
dengan garis AB. Pada praktikum sistem terner cair-cair yang digunakan antara airkloroform-asam cuka, sistem 3 zat cair yang sebagian dibagi menjadi : Tipe 1 yaitu
pembentukan sepasang zat cair bercampur sebagian; Tipe 2 yaitu pembentukan 2 pasang zat
cair bercampur sebagian; dan Tipe 3 : Pembentukan 3 pasang zat cair bercampur sebagian.
B.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, masalah yang dapat muncul dalam penelitian ini

diantaranya :
1.
2.
3.
4.
C.

Konsentrasi asam cuka yang digunakan untuk percobaan


Mengatur kestabilan suhu yang digunakan pada saat percobaan
Tercapai atau tidaknya kesetimbangan antara air-kloroform-asam cuka
Kesalahan dari praktikan dalam melakukan percobaan ini
Batasan Masalah
Agar percobaan ini ini tidak meluas dalam pembahasannya, maka berdasarkan rumusan

masalah diatas, dilakukan pembatasan masalah sebagai berikut :


1. Asam cuka yang digunakan adalah asam cuka yang telah disediakan oleh Asisten
Laboratorium.
7

2. Proses titrasi yang menggunakan suhu stabil dilakukan pada suhu kamar yang cenderung
stabil.
3. Melakukan pencampuran dan pengocokan serta penimbangan yang tepat dan hati-hati
agar tercapainya kesetimbangan.
4. Praktikan melakukan percobaan dengan teliti dan hati-hati.
D.

Tujuan Percobaan
Berdasarkan rumusan dan batasan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini adalah :

1. Menggambarkan diagram sistem terner cair-cair antara Air-Kloroform-Asam Cuka.


2. Menentukan garis dasi (line tie).
E.
1.

Manfaat Percobaan
Manfaat dilakukannya percobaan ini adalah:
Menerapkan ilmu-ilmu yang sudah diperoleh dalam bentuk percobaan dan penulisan
laporan dalam bentuk karya tulis ilmiah yang digunakan sebagai latihan dalam

2.

penulisan skripsi.
Menambah ilmu pengetahuan mengenai penggambaran diagram sistem terner cair-cair
serta penentuan garis dasi (tie line).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Menurut (Sukardjo, 1997).Sistem zat adalah suatu zat yang dapat diisolasikan dari zatzat lain dalam suatu bejana inert, yang menjadi pusat perhatian dalam mengamati pengaruh
perubahan temperatur, tekanan serta konsentrasi zat tersebut. Sedangkan komponen adalah
yang ada dalam sistem, seperti zat terlarut dan pelarut dalam senyawa biner. Banyaknya
komponen dalam sistem C adalah jumlah minimum spesies bebas yang diperlukan untuk
menentukan komposisi semua fasa yang ada dalam sistem. Definisi ini mudah diberlakukan
jika spesies yang ada dalam sistem tidak bereaksi sehingga kita dapat menghitung banyaknya.
Menurut Dogra SK & Dogra S, (2008 ) Suatu fase didefenisikan sebagai bagian system
yang seragam atau homogeny diantara keadaan submakroskopiknya, tetapi benar benar
terpisah dari bagian system yang lain oleh batasan yang jelas dan baik. Campuran padatan
atau dua cairan yang tidak saling bercampur dapat membentuk fase terpisah. Sedangkan
campuran gas-gas adalah satu fase karena sistemnya yang homogen. Symbol umum untuk
jumlah fase adalah P, Kelarutan suatu zat adalah suatu konsentrasi maksimum yang dicapai
suatu zat dalam suatu larutan. Partikel-partikel zat terlarut baik berupa molekul maupun
berupa ion selalu berada dalam keadaan terhidrasi (terikat oleh molekul-molekul pelarut air).
Makin banyak partikel zat terlarut makin banyak pula molekul air yang diperlukan untuk
menghindari partikel zat terlarut itu. Setiap pelarut memiliki batas maksimum dalam
melarutkan zat. Untuk larutan yang terdiri dari dua jenis larutan elektrolit maka dapat
membentuk endapan (dalam keadaan jenuh)
Menurut Tim dosen kimia fisik.( 2010 ),Pasangan cairan yang bercampur sebagian
dapat dibagi dalam empat tipe :
1. Tipe I , campuran dengan temperatur kelarutan kritis maksimum,misalnya system
air - fenol.
2. Tipe II , campuran dengan temperatur kelarutan kritis minimum, misalnya system
air - trimetil amin.
3. Tipe III , campuran dengan temperatur kelarutan kritis maksimum dan minimum,
misalnya system air nikotin.
4. Tipe IV , campuran yang tidak mempunyai temperatur kelarrutan kritis.

Dua cairan dikatakn misibel sebagian jika A larut dalam B dalam yang terbatas dan
demikian pula dengan B, larut dalam A dengan jumlah yang terbatas . bentuk yang paling
umum dari diagram fase T X cair cair pada tekanan tetap , biasanya 1atm.
Menurut Rahman Ijang & Mulyani Sry. (2004 ).Diagram ini dapat di peroleh secara
eksperimen dengan menambahkan suatu zat cair ke dalam cairan murni lain pada tekanan
tertentu dengan variasi suhu , Fasa merupakan keadaan materi yang seragam di seluruh
bagiannya, tidak hanya dalam komposisi kimianya tetapi juga dalam keadaan fisiknya. Suatu
fasa didefenisikan sebagai bagian sistem yang seragam atau homogen diantara keadaan
submakroskopiknya, tetapi benar-benar terpisah dari bagian sistem yang lain oleh batasan
yang jelas dan baik. Campuran padatan atau dua cairan yang tidak saling bercampur dapat
membentuk fasa terpisah. Sedangkan campuran gas-gas adalah satu fasa karena sistemnya
yang homogen. Simbol umum untuk jumlah fasa adalah P. Gas atau campuran gas adalah fasa
tunggal ; Kristal adalah fasa tunggal dan dua cairan yang dapat bercampur secara total
membentuk fasa tunggal. Campuran dua logam adalah sistem dua fasa (P=2), jika logamlogam itu tidak dapat bercampur, tetapi merupakan sistem satu fasa (P=1), jika logamlogamnya dapat dicampur. Pada perhitungan dalam keseluruhan termodinamika kimia, J.W
Gibbs menarik kesimpulan tentang aturan fasa yang dikenal dengan Hukum Fasa Gibbs,
jumlah terkecil perubahan bebas yang diperlukan untuk menyatakan keadaan suatu sistem
dengan tepat pada kesetimbangan.
Jumlah komponen dalam suatu sistem didefenisikan sebagai jumlah minimum dari
variable bebas pilihan yang dibutuhkan untuk menggambarkan komposisi tiap fasa dari
suatu system.
Temperatur kritis atas Tuc adalah batas atas temperatur dimana terjadi pemisahan fasa.
Di atas temperatur batas atas, kedua komponen benar-benar bercampur. Pada temperatur ini
terdapat gerakan termal yang lebih besar menghasilkan kemampuan campur yang lebih besar
pada kedua komponen.
Menurut Atkins PW, (1999).Beberapa sistem memperlihatkan temperatur kritis Tlc,
dimana dibawah temperatur itu kedua komponen bercampur dalam segala perbandingan dan
diatas temperatur itu kedua komponen membentuk dua fasa. Salah satu contohnya adalah airtrietilamina. Dalam hal ini pada temperatur rendah kedua komponen lebih dapat campur
karena komponen-komponen itu membentuk kompleks yang lemah, pada temperatur lebih
lebih tinggi kompleks itu terurai dan kedua komponen kurang dapat bercampur
(Mulyani Sry, 2000).
10

Menurut Mulyani Sry, (2000). Kelarutan suatu zat adalah suatu konsentrasi maksimum
yang dicapai suatu zat dalam suatu larutan. Partikel-partikel zat terlarut baik berupa molekul
maupun berupa ion selalu berada dalam keadaan terhidrasi (terikat oleh molekul-molekul
pelarut air). Makin banyak partikel zat terlarut makin banyak pula molekul air yang
diperlukan untuk menghindari partikel zat terlarut itu. Setiap pelarut memiliki batas
maksimum dalam melarutkan zat. Untuk larutan yang terdiri dari dua jenis larutan elektrolit
maka dapat membentuk endapan (dalam keadaan jenuh). Pemisahan suatu larutan
dalamcampuran dapat dilakukan dengan berbagai cara salah satunya dengan ekstraksi.
Ektraksi merupakan suatu metoda yang didasarkan pada perbedaan kelarutan komponen
campuran pada pelarut tertentu dimana kedua pelarut tidak saling melarutkan.
Bila suatu campuran cair, misalnya komponen A dan B dicampurkan tidak saling
melarutkan sehingga membentuk dua fasa. Maka untuk memisahkannya digunakan
pelarutyang kelarutannya sama dengan salah satu komponen dalam campuran tersebut.
Sehingga ketiganya membentuk satu fasa.
Jika kedalam sejumlah air kita tambahkan terus menerus zat terlarut lama kelamaan
tercapai suatu keadaan dimana semua molekul air akan terpakai untuk menghidrasi partikel
yang dilarutkan, sehingga larutan itu tidak mampu lagi menerima zat yang akan ditambahkan.
Kita katakan larutan itu mencapai keadaan jenuh. Zat cair yang hanya sebagian larut
dalam cairan lainya, dapat dinaikan kelarutannya dengan menambahkan suatu zat cair yang
berlainan dengan kedua zat cair yang lebih dahulu dicairkan. Bila zat cair yang ketiga ini
hanya larut dalam suatu zat cair terdahulu, maka biasanya kelarutan dari kedua zat cair yang
terdahulu itu akan menjadi lebih kecil. Tetapi bila zat cair yang ketiga itu larut dalam kedua
zat cair yang terdahulu, maka kelarutan dari kedua zat cair yang terdahulu akan menjadi besar.
Gejala ini dapat terlihat pada sistem kloroform-asam cuka-air. Bila asam cuka
ditambahkan kedalam suatu campuran heterogen, kloroform dan air pada suhu tertentu,
kelarutan kloroform dalam air akan bertambah, sehingga pada suatu saat akan menjadi
homogen. Jumlah asam cuka yang harus ditambahkan untuk mencapai titik homogen (pada
suhu tertentu tadi), tergantung dari komposisi campuran kloroform dalam air
Pemisahan suatu larutan dalam campuran dapat dilakukan dengan berbagai cara salah
satunya dengan ekstraksi. Ektraksi merupakan suatu metoda yang didasarkan pada perbedaan
kelarutan komponen campuran pada pelarut tertentu dimana kedua pelarut tidak saling
melarutkan.

11

Pemisahan dari campuran menjadi komponen-komponennya adalah salah satu proses


terpenting di industri kimia. Prosedur yang umum untuk melakukan pemisahan ini destilasi,
sebuah operasi yang berdasar pada fenomena fisik, dimana uap dan cairan berada pada
kondisi komposisi setimbang yang biasanya berbeda. Faktanya, bagian menguap dari fasa
cairnya telah dihasilkan pada pemisah parsial pada awal pencampuran. Tingkat dari
pemisahan akan di tentukan dengan fasa uap dan cairan. Hubungan antar komposisi dari
kedua fasa pada kesetimbangan biasanya disajikan dengan diagram keseimbangan fasa.
Metode penyajiannya harus tetap dengan jumlah variabel yang bersangkutan. Gibbs
menampilkannya dalam keadaan setimbang beserta jumlah variabel yang bersangkutan.
Berikut ini adalah hubungan yang relevan.
F

= C P + 2

Dalam ungkapan diatas, kesetimbangan dipengaruhi oleh suhu, tekanan dan komposisi
sistem. Jumlah derajat kebebasan untuk sistem tiga komponen pada suhu dan tekanan tetap
dapat dinyatakan sebagai :
F = 3 P
Jika dalam sistem hanya terdapat satu fasa, maka F = 2, berarti untuk menyatakan
keadaan sistem dengan tepat perlu ditentukan konsentrasi dari dua komponennya. Sedangkan
bila dalam sistem terdapat dua fasa dalam kesetimbangan, maka F = 1, berarti hanya satu
komponen yang harus ditentukan konsentrasinya dan konsentrasi komponen yang lain sudah
tertentu berdasarkan diagram fasa untuk sistem tersebut. Oleh karena sistem tiga kompoen
pada suhu dan tekanan tetap mempunyai jumlah derajat kebebasan paling banyak dua, maka
diagram fasa sistem ini dapat digambarkan dalam satu bidang datar berupa suatu segitiga
sama sisi yang disebut diagram terner.
Jumlah fasa dalam sistem zat cair tiga kompoen tergantung pada daya saling larut antar
zat cair tersebut dan suhu percobaan. Andaikan ada tiga zat cair A, B dan C. A dan B saling
larut sebagian. Penambahan zat C kedalam campuran A dan B akan memperbesar atau
memperkecil daya saling larut A dan B.
Cara terbaik untuk menggambarkan sistem tiga komponen adalah dengan mendapatkan
suatu kertas grafik segitiga. Konsentrasi dapat dinyatakan dengan istilah persen berat atau
fraksi mol. Fraksi mol tiga komponen dari sistem terner (C = 3) sesuai dengan: XA + XB +
XC = 1. Diagram fasa yang digambarkan segitiga sama sisi, menjamin dipenuhinya sifat ini
secara otomatis, sebab jumlah jarak ke sebuah titik di dalam segitiga sama sisi yang diukur
sejajar dengan sisi-sisinya sama dengan panjang sisi segitiga itu, yang dapat diambil sebagai
12

satuan panjang. Puncak-puncak dihubungi ke titik tengah dari sisi yang berlawanan yaitu : Aa,
Bb, Cc. Titik nol mulai dari titik a, b, c dan A,B,C menyatakan komposisi adalah 100% atau 1,
jadi garis Aa, Bb, Cc merupakan konsentrasi A,B,C merupakan konsentrasi A,B,C.
Jumlah fasa dalam sistem zat cair tiga komponen bergantung pada daya saing larut
antara zat cair tersebut dan suhu percobaan. Apabila pada suhu dan tekanan yang tetap
digunakan kurva bimodal untuk menentukan kelarutan C dalam berbagai komposisi A dan B.
Pada daerah di dalam kurva merupakan daerah dua fasa, sedangkan yang di luarnya adalah
daerah satu fasa. Untuk menentukan kurva bimodal yaitu dengan menambahkan zat B ke
dalam campuran A dan C.
Menurut Kusumastuti. A, (2007). Sistem tiga komponen aturan fasa menghasilkan F= 5
P. Bila terdapat satu fasa,maka F = 4, oleh karenanya penggambaran secara geometrik yang
lengkap memerlukan ruang berdimensi empat. Bila tekanan tetap, ruang tiga dimensi dapat
digunakan. Bila suhu maupun tekanan tetap, maka F = 3 P dan sistem dapat digambarkan
dalam ruang dua dimensi: P = 1,F = 2. Bivarian, P = 2, F = 1. Unvarian; P = 3, F = 0, invarian.
Suatu sistem tiga komponen mempunyai dua pengubah komposisi yang bebas, sebutsaja X2
dan X3. Jadi komposisi suatu sistem tiga komponen dapat dialurkan dalam koordinatcartes
dengan X2 pada salah satu sumbunya, dan X3 pada sumbu yang lain yang dibatasi oleh garis
X2+X3=1. karena X itu tidak simetris terhadap ketiga komponen, biasanya, komposisi
dialurkan pada suatu segitiga sama sisi dengan tiap-tiap sudutnya menggambarkan suatu
komponen murni, bagi suatu segitiga sama sisi, jumlah jarak dari seberang titik didalam
segitiga ketiga sisinya sama dengan tinggi segitiga tersebut. Jarak antara setiap sudut
ketengah-tengah sisi yang berhadapan dibagi 100 bagian sesuai dengan komposisi dalam
persen. Untuk memperoleh suatu titik tertentu dengan mengukur jarak terdekat ketiga sisi
segitiga.
Diagram kesetimbangan fasa adalah suatu kurva yang mencatat pengaruh suhu, tekanan,
komposisi dan jumlah fasa yang ada dalam suatu sistem kesetimbangan. Jumlah dan jenis fasa
yang ada pada beberapa kondisi tergantung dari jenis dan sifat senyawa organik yang ada
didalamnya. Bila kondisi tekanan konstan, atau efek tekanan dapat diabaikan, maka
kesetimbangan cair-cair sistem biner dapat lebih mudah digambarkan dalam suatu diagram
kelarutan, yaitu plot antara T vs x1. Kurva-kurva binodal yang ada menunjukkan adanya
komposisi-komposisi dari fasa yang timbul bersamaan. Komposisi pada campuran tiga
komponen atau sistem terner ditampilkan dalam bentuk diagram segitiga sama sisi dengan
satuan tinggi yang equivalent dengan jumlah komposisinya. Komposisi masing-masing fasa
13

dalam kesetimbangan dihubungkan dengan suatu garis yang disebut dengan tie lines atau
connodals. Sistem terner tipe satu memiliki satu pasang zat yang tidak saling larut
(immiscible) dan dua pasang zat yang saling larut (miscible). Untuk kesetimbangan sistem
terner dari campuran air + asam cuka + kloroform merupakan sistem tipe satu.
Menurut Wardhono,(2009). Untuk campuran yang terdiri atas tiga komponen,
komposisi (perbandingan masing-masing komponen) dapat digambarkan di dalam suatu
diagram segitiga sama sisi yang disebut dengan Diagram Terner. Komposisi dapat dinyatakan
dalam fraksi massa (untuk cairan) atau fraksi mol (untuk gas). Diagram tiga sudut atau
diagram segitiga berbentuk segitiga sama sisi dimana setiap sudutnya ditempati komponen
zat. Sisi-sisinya itu terbagi dalam ukuran yang menyatakan bagian 100% zat yang berada pada
setiap sudutnya
Jumlah fasa dalam sistem zat cair tiga kompoen tergantung pada daya saling larut antar
zat cair tersebut dan suhu percobaan. Andaikan ada tiga zat cair A, B dan C. A dan B saling
larut sebagian. Penambahan zat C kedalam campuran A dan B akan memperbesar atau
memperkecil daya saling larut A dan B. Pada percobaan ini hanya akan ditinjau sistem yang
memperbesar daya saling larut A dan B. Dalam hal ini A dan C serta B dan C saling larut
sempurna. Kelarutan cairan C dalam berbagai komposisi campuran A dan B pada suhu tetap
dapat digambarkan pada suatu diagram terner. Prinsip menggambarkan komposisi dalam
diagram terner dapat dilihat pada gambar (1) dan (2) di bawah ini.

Gambar 2.1 Diagram Terner

14

Titik A, B dan C menyatakan kompoenen murni. Titik-titik pada sisi AB, BC, dan AC
menyatakan fraksi dari dua komponen, sedangkan titik didalam segitiga menyatakan fraksi
dari tiga komponen. Titik P menyatakan suatu campuran dengan fraksi dari A, B, dan C
masing-masing sebanyak x, y, dan z.

Gambar 2.2 Diagram Terner


Menurut Tim Dosen Kimia Fisika (2012)Titik X menyatakan suatu campuran dengan
fraksi A = 25%, B = 25%, dan C =50%. Titik-titik pada garis BP dan BQ menyatakan
campuran dengan perbandingan dengan jumlah A dan C yang tetap, tetapi dengan jumlah B
yang berubah. Hal yang sama berlaku bagi garis-garis yang ditarik dari salah satu sudut
segitiga kesisi yang ada dihadapannya. Daerah didalam lengkungan merupakan daerah dua
fasa. Salah satu cara untuk menentukan garis binoidal atau kurva kelarutan ini ialah dengan
cara menambah zat B ke dalam berbagai komposisi campuran A dan C. Titik-titik pada
lengkungan menggambarkan komposisi sistem pada saat terjadi perubahan dari jernih menjadi
keruh. Kekeruhan timbul karena larutan tiga komponen yang homogen pecah menjadi dua
larutan konjugat terner.
Sementara Dogra, (2009) menyatakan Satu fasa membutuhkan dua derajat kebebasan
untuk menggambarkan sistem secara sempurna, dan untuk dua fasa dalam kesetimbangan,
satu derajat kebebasan. Jadi, dapat digambarkan diagram fasa dalam satu bidang. Cara terbaik
untuk menggambarkan sistem tiga komponen adalah dengan mendapatkan suatu kertas grafik
segitiga
Menurut Oktaviana, (2012).Konsentrasi dapat dinyatakan dalam istilah % berat atau
fraksi mol. Bila komposisi masing-masing dinyatakan dalam persen berat masing-masing
15

komponen, maka perlu diketahui massa jenis tiap komponen untuk menghitung beratnya
masing-masing.
m=XV
menurut R. A. Alberty dan F. Daniels. (1983) Bila berat masing-masing komponen
sudah dihitung, hitung persen berat masing-masing komponen (fraksi dari masing-masing
komponen). Alas segitiga menggambarkan komposisi campuran air-kloroform. Oleh karena
itu, sistem tiga komponen pada temperatur dan tekanan tetap mempunyai jumlah derajat
kebebasan paling banyak dua, maka diagram fasa sistem ini dapat digambarkan dalam fasa
bidang datar berupa suatu segitiga sama sisi yang disebut diagram Terner .
Bila asam cuka ditambahkan kedalam suatu campuran heterogen kloroform dan air pada
suhu tertentu, kelarutan kloroform dalam air akan bertambah, sehingga pada suatu ketika akan
menjadi homogen. Jumlah asam cuka yang harus ditambahkan untuk mencapai titik homogen
(pada suhu tertentu tadi), tergantung dari komposisi campuran kloroform dalam air
Dengan ini dapat digambarkan diagram fasa yang menyatakan susunan dua komponen.
Diagram ini digambarkan sebagai segitiga sama sisi. Air dan asam cuka dapat bercampur
seluruhnya, demikian juga dengan kloroform dan asam cuka. Air dan kloroform hanya dapat
campur sebagian (Atkins, 2006).
Asam etanoat atau asam cuka adalah senyawa kimia asam organik yang dikenal sebagai
pemberi rasa aroma dalam makanan. Asam cuka memilih rumus empiris C 2H4O2. Rumus ini
seringkali ditulis dalam bentuk CH3COOH,CH3COOH atau CH3CO2H. Asam cuka merupakan
salah satu asam karboksilat paling sederhana, setelah asam formal.
Asam cuka lebih suka pada air dibandingkan kepada kloroform oleh karenanya
bertambahnya kelarutan kloroform dalam air lebih cepat dibandingkan kelarutan air dalam
kloroform. Penambahan asam cuka berlebih lebih lanjut akan membawa sistem bergerak ke
daerah satu fasa (fasa tunggal). Namun demikian, saat komposisi mencapai titik a3, ternyata
masih ada dua lapisan walaupun sedikit.
Menurut R. A. Alberty dan F. Daniels. (1983). Bila asam cuka ditambahkan kedalam
suatu campuran heterogen kloroform dan air pada suhu tertentu, kelarutan kloroform dalam
air akan bertambah, sehingga pada suatu ketika akan menjadi homogen. Jumlah asam cuka
yang harus ditambahkan untuk mencapai titik homogen (pada suhu tertentu tadi), tergantung
dari komposisi campuran kloroform dalam air
Adanya suatu zat terlarut mempengaruhi kelarutan zat terlarut lainnya. Efek garamkeluar (setting-out) adalah berkurangnya kelarutan suatu gas (atau zat bukan-ion lainnya) di
16

dalam air jika suatu garam ditambahkan. Efek garam ke dalam (setting-in) juga dapat terjadi,
dimana sistem terner lebih pekat (dalam arti mempunyai air lebih sedikit) dari pada sistem
biner. Garam juga dapat mempengaruhi kelarutan elektrolit lain, seperti amonium klorida,
aluminium sulfat dan air.
Dengan ini dapat digambarkan diagram fasa yang menyatakan susunan dua
komponen. Diagram ini digambarkan sebagai segitiga sama sisi.

Gambar 2.3 Diagram Fasa Sistem Tiga Komponen


Menurut Sukardjo, (2005: 273-274).
Sudut-sudut A, B, C menyatakan susunan komponen murni. Campuran antara A dan
B, A dan C serta B dan C, terletak pada sisi-sisi segitiga. Campuran antara a, B dan C terletak
dalam segitiga. Suatu campuran berisi 30% A, 20% B dan 50% C terletak dititik D
Menurut Atkins, (2006: 218).Air dan asam asetat dapat bercampur seluruhnya,
demikian juga dengan kloroform dan asam asetat. Air dan kloroform hanya dapat campur
sebagian. Apa yang terjadi jika ketiganya berada bersama-sama.
Menurut Alamsyah, (2011).Asam asetat , asam etanoat atau asam cuka adalah
senyawa kimia asam organik yang dikenal sebagai pemberi rasa aroma dalam makanan. Asam
cuka memilih rumus empiris C2H4O2. Rumus ini seringkali ditulis dalam bentuk CH3COOH,CH3COOH atau CH3CO2H. Asam asetat murni (disebut asam asetat glasial) adalah
cairan higroskopis tak berwarna dan memiliki titik beku 16,7 0C. Asam asetat merupakan salah
satu asam karboksilat paling sederhana, setelah asam formal

17

Menurut Atkins, (2006) Adanya suatu zat terlarut mempengaruhi kelarutan zat terlarut
lainnya. Efek garam-keluar (setting-out) adalah berkurangnya kelarutan suatu gas (atau zat
bukan-ion lainnya) di dalam air jika suatu garam ditambahkan. Efek garam ke dalam
(setting-in) juga dapat terjadi, dimana sistem terner lebih pekat (dalam arti mempunyai air
lebih sedikit) dari pada sistem biner. Garam juga dapat mempengaruhi kelarutan elektrolit
lain, seperti amonium klorida, aluminium sulfat dan air. Titik b menunjukkan kelarutan
klorida dalam air: campuran denagn komposisi b1 terdiri atas klorida yang tak larut dan
larutan jenuh dengan komposisi b.

Gambar 2.4 Diagram fasa, pada temperatur dan tekanan tetap


Untuk campuran yang terdiri atas tiga komponen, komposisi (perbandingan masingmasing komponen) dapat digambarkan di dalam suatu diagram segitiga sama sisi yang disebut
dengan Diagram Terner. Komposisi dapat dinyatakan dalam fraksi massa (untuk cairan) atau
fraksi mol (untuk gas).Diagram tiga sudut atau diagram segitiga berbentuk segitiga sama sisi
dimana setiap sudutnya ditempati komponen zat. Sisi-sisinya itu terbagi dalam ukuran yang
menyatakan bagian 100% zat yang berada pada setiap sudutnya. Untuk menentukan letak titik
dalam diagram segitiga yang menggambarkan jumlah kadar dari masing-masing komponen
dilakukan sebagai berikut.

18

Gambar 2.5 Bidang grafik diagram terner untuk tiga komponen


Pada salah satu sisinya ditentukan dua titik yang menggambarkan jumlah kadar zat
dari masing-masing zat yang menduduki sudut pada kedua ujung sisi itu. Dari kedua titik itu
ditarik garis sejajar dengan sisi dihadapnya, titik dimana kedua garis itu menyilang,
menggambarkan kadar masing-masing zat.

Gambar 2.6 Penggambaran tieline dari pencampuran dua fasa yang berbeda pada garis
kesetimbangan
Menurut Ita hidayatul sholihah.(2012) Titik-titik dimana terjadi kesetimbangan antara
wujud satu fasa dengan dua fasa dari campuran ketiga komponen tersebut, apabila
dihubungkan akan membentuk suatu diagram yang menunjukan batas-batas antara daerah
(region) satu fasa dengan daerah (region) dua fasa. Dua macam campuran pada titik
kesetimbangan dapat dihubungkan menjadi tie line apabila keduanya dicampurkan
menghasilkan campuran akhir yang berada pada daerah dua fasa. Sebagai contoh adalah
Gambar 2, campuran pada titik a dan titik b bila digabungkan memberikan hasil akhir pada
titik M, dimana pada titik ini berlaku hukum lengan-pengungkit (lever-arm rule)
Panjang ruas M = Massa b
Panjang ruas bM = Massa
Menurut Geankoplis, C.J.(1985) Pada ekstraksi dimana diluen maupun solven
sedikit saling larut ( partially miscible system) maka baik komponen diluen maupun
solven terdapat di kedua fase, yaitu fase

ekstrak dan rafinat. Oleh karena itu data

keseimbangan harus menunjukkan hubungan ketiga komponen di kedua fase tersebut, atau
dikenal sebagai diagram terner. Beberapa macam diagram terner yaitu:
19

a. diagram segitiga sama kaki (triangular coordinate),


b. Diagram segitiga siku-siku (rectangular coordinates) dan korelasinya dengan diagram
YX (McCabe Thiele diagram ),
c. Diagram segitiga atas dasar bebas solven.
contoh a:

Gambar 2.7 Macam-macam diagram terner


Grafik triangular ini menyajikan data keseimbangan ketiga kompenen dalam satu
diagram.Untuk kepentingan perhitungan neraca massa di ekstraktor, lebih menguntungkan
jika digunakan rectangular coordinates.
Contoh b: Diagram segitiga siku-siku (rectangular coordinates) dan korelasinya
dengan diagram YX (McCabe Thiele diagram ).
20

Pada titik potong sumbu X dan Y, fraksi diluen adalah nol. Sumbu X menujukkan
fraksi solut, dapat dibaca sebagai fraksi solut di fase Ekstrak (YA) dan fraksi solut di fase
Rafinat (XA). Sumbu Y menunjukkan fraksi solven, dapat dibaca sebagai fraksi solven di fase
Ekstrak (YS) dan fraksi solven di fase Rafinat ( XS).
Garis keseimbangan Ekstrak merupakan titik-titik (YA, YS).
Garis keseimbangan Rafinat merupakan titik-titik ( XA, XS).
Contoh: diketahui fraksi solut di rafinat = XA*, ingin dicari komposisi di fase ekstrak yang
berkeseimbangan dengan rafinat.
1. mula-mula diketahui XA* terletak di kurva segitiga pada garis rafinat.
2. Tarik garis dari X=XA* ke kurva McCabe- Thiele, sehingga diperoleh titik T yang
mempunyai koordinat (XA*, YA*). Pada titik T hanya bisa diketahui fraksi solut XA*
3.
4.
5.
6.

dan YA* saja, sedangkan solven yaitu YS* tidak terbaca.


Buat titik potong garis Y=YA* dengan garis diagonal XA=YA.
Tarik garis dari titik potong ini ke arah kurva segitiga sampai memotong garis ekstrak.
Bacalah komposisi YA* dan YS*.
Resume:
Di fase Rafinat: XA=XA*
XS=XS*
XD = 1- (XA*+XS*)
Di fase ekstrak: YA=YA*
YS=YS*
YD= 1 (YA*+YS*)

BAB III
21

METODOLOGI PENELITIAN

a. Alat dan Bahan


Alat
1. Buret
2. Standar dan klem
3. Labu erlenmeyer
4. Gelas ukur 5 mL
5. Pipet tetes
6. Corong pisah
7. Kaca arloji
8. Batang pengaduk
9. Spatula
10. Gelas piala 50 mL

: 3 buah
: 7 buah
: 1 buah
: 5 buah
: 1 buah
: 1 buah
: 1 buah
: 1 buah
: 2 buah

Bahan
1. Air
2. Asam cuka (CH3COOH)
3. Kloroform (CHCl3)
4. NaOH

3.2 Gambar Alat


Buret, Standar dan klem

Labu erlenmeyer

Gelas ukur 5 mL

Spatula

22

Corong pisah

Kaca arloji

Batang pengaduk

Gelas piala 50 mL

Pipet tetes

b. Prosedur Kerja
Aquades dan kloroform, masing-masing ditempatkan kedalam 2 buah buret.
Kedalam 4 erlenmeyer dimasukkan aquades dan kloroform dengan massa yang
berbeda-beda, dimana kedalam erlenmeyer tersebut berturut-turut digunakan 4 gram
air dan 1 gram kloroform, 3 gram air dan 2 gram kloroform, 2 gram air dan 3 gram
kloroform, serta 1 gram air dan 4 gram kloroform. Sehingga diperoleh sampel I, II, III,
dan IV. Setiap sampel kemudian dititrasi dengan Asam cuka sampai kekeruhan hilang.
Selain itu, sampel V dimana terdapat massa air dan kloroform yang sama, yaitu
2,5 gram, dan ditambahkan dengan 1 gram Asam cuka yang kemudian dikocok
sehingga terjadi kesetimbangan.
23

Pada kedua larutan tersebut akan terbentuk 2 lapisan yang yang harus
dipisahkan. Hasilnya akan ditimbang, dan langkah terakhir adalah menitrasi kedua
lapisan tadi dengan basa (NaOH) untuk mengetahui kadar asam cuka yang terdapat
pada kedua lapisan dalam sampel V.
c. Diagram Alir Metode Kerja
Aquades

Dimasukkan kedalam 2 buret


Ditetapkan 4 komposisi

4 gr air +

3 gr air +

1 gr kloroform

2 gr kloroform

Kloroform

2 gr air +
1 gr air +
Dimasukkan kedalam 4 erlenmeyer
3 grDititrasi
kloroform
4 gr kloroform
setiap komposisi
dengan

CH3COOH

Dicatat setiap volume yang terpakai

Hasil

2,5 gr air + 2,5 gr kloroform


Dimasukkan kedalam erlenmeyer
Ditambahkan
1 gr CH3COOH
Dikocok
Dipisahkan kedua larutan (L1dan L2)
Dimasukkan kedalam 2 erlenmeyer
Ditimbang
Dititrasi dengan
NaOH
24

Diamati
Hasil

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Sistem terner cair merupakan suatu sistem pencampuran larutan yang terdiri dari tiga
komponen senyawa yang berbeda pada temperatur yang sama. Suatu larutan terkadang
memiliki komposisi penyusun tertentu, yang mana jika dilihat dari adanya perubahan visual
ketika senyawa-senyawa tersebut dicampurkan.
Pada dasarnya dalam sistem terner cair-cair ini menggunakan prinsip perbedaaan
densitas dan kelarutan antara satu komponen dengan komponen lainnya. Adanya penambahan
zat/senyawa ketiga akan mempengaruhi persentase kedua zat/ senyawa pada larutan
sebelumnya.
Air dan kloroform merupakan senyawa yang tidak saling melarutkan. Hal ini
disebabkan adanya perbedaan massa jenis (densitas) antara keduanya. Pada temperatur kamar
air memiliki densitas sekitar 1 gr/ml, sedangkan kloroform berkisar 1,43 gr/ml. Dan ketika
dicampurkan terlihat perbedaan yang menunjukkan terjadi pemisahan antara kedua senyawa
tersebut sehingga tidak saling bercampur. Larutan yang berada diatas merupakan air
25

dikarenakan air memilki densitas yang lebih kecil, sedangkan larutan yang berada di bawah
merupakan kloroform karena densitasnya yang lebih besar.
Asam asetat merupakan senyawa asam lemah yang dapat bereaksi dengan air maupun
kloroform. Asam asetat hanya sebagian kecil mengionisasi dalam air namun memliki daya
larut yang cukup besar sehingga mudah saling melarutkan. Hal ini disebabkan oleh adanya
reaksi ikatan hidrogen yang terjadi diantara keduanya sehingga molekul dalam kedua senyawa
tersebut dapat berikatan. Sedangkan asam asetat dalam kloroform akan mengalami reaksi
kesetimbangan, karena kedua senyawa tersebut bereaksi.
Reaksinya

3 CH3COOH + CHCl3 3CH3COOCl + CH4


Reaksi tersebut berlangsung dengan ditandai timbulnya kekeruhan pada larutan.
Adanya asam asetat ini pada kedua larutan tersebut membuat komposisi larutan menjadi
suatu perbandingan yang dapat ditentukan persentasenya. Asam asetat larut dalam air dan
kemudian bereaksi dengan kloroform akan membuat larutan sedikit homogen yang di tandai
dengan adanya kekeruhan. Tentunya reaksi tersebut tergantung pada komposisi masingmasing komponen penyusunnya.
Dari setiap percobaan yang dilakukan terhadap empat tabung erlenmenyer yang
komposisi penyusun air dan kloroform yang berbeda didapatlah komposisi dari asam asetat
yang digunakan agar timbul reaksi kekeruhan. Berikut adalah tabel komposisi penyusun
dalam setiap tabung erlenmeyer yang digunakan.
Tabel 4.1 perbandingan volume dan massa komponen dalam masin-masing tabung
Zat cair
Volume (ml)
Massa (gram)
I
II
III
IV
I
II
III
IV
Kloroform
0,7 1,35
2
2,7
1
2
3
4
Air
4
3
2
1
4
3
2
1
Asam astetat
4,6 3,6
3,4
3,1
5,0278 3,9348 3,7162 3,3883
Berdasarkan hasil tersebut diketahui bahwa semakin banyak volume air yang digunakan,
maka volume asam asetat akan semakin besar. Ini dikarenakan semakin banyak air yang
digunakan maka semakin banyak volume asam asetat yang dapat dilarutkan.
Dari data di atas dapat digunakan dalam perhitungan persentase masing-masing
komponen dalam setiap tabung. Berdasarkan perhitungan diketahui persentase fraksi mol dari
setiap senyawa di setiap tabung, yaitu dalam tabel berikut.
Tabel 4.2 Data mol dan persentase fraksi mol setiap komponen di masing-masing tabung
Mol
Persentase Fraksi mol (%)
Zat Cair
I
II
III
IV
I
II
III
IV
26

Kloroform
Air
Asam Asetat

0,0084 0,017 0,0251 0,0335 2,70684 6,83441 12,9218 23,5773


0,2222 0,167 0,1111 0,0556 71,8817 68,0593 57,1908 39,1317
0,0785 0,061 0,058 0,0529 25,4114 25,1062 29,8874 37,291

Dengan mengetahui persentase masing-masing komponen, maka dapat dibuat sketsa


diagram terner cair masing-masing tabung. Sehingga dengan menggabungkan keempat titiktitik dari masing-masing diagram maka terbentuklah sebuah kurva garis. Kurva ini disebut
kurva binodal. Berikut adalah kuva binodal percobaan yang telah dilakukan:

Gambar 4.1 Diagram terner 4 tabung reaksi


Keteraturan dalam garis-garis tersebut menunjukkan bahwa komposisi akan berubah
seiring dengan penambahan ketiga campuran tersebut. Sehingga dengan begitu dapat
diketahui pengaruh masing-masing komponen terhadap persentase larutan.
Kurva melengkung atau juga dapat di sebut sebagai garis dasi (Tie Line) dalam segitiga
mewakili kelarutan antara ketiga zat. Garis XY menunjukkan keseimbangan antara dua fasa
yaitu air dan kloroform, terlihat pada Gambar. 4.2. Garis XY diperoleh berdasarkan
pencampuran dari 2,5 gram air; 2,5 gram kloroform; dan 1 gr asam cuka pada erlemeyer keV. Campuran ini kemudian dipisahkan dengan menggunakan corong pisah setelah sebelumnya
dikocok. Setelah didapat dua komponen yaitu L1 dan L2, dipisahkan ke dalam erlemeyer
27

yang berbeda dan di titrasi dengan NaOH untuk mengetahui kadar asam cuka yang
terkandung di masing-masinganya.

Gambar 4.2 Diagram terner kedudukan sistem


Titik V (berwarna merah) pada Diagram Terner gambar diatas merupakan kedudukan
sistem hasil pemisahan campuran pada labu erlemeyer V yang dapat di lihat pada tabel kolom
massa berikut :
Tabel 4.3 Komponen L1 dan L2
Komponen
L1
L2

Massa

Jumlah

(gr)
1,15
4,36

(mL)
10,3
4,7

Basa Asam

Cuka

(gr)
-

Titrasi menggunkan NaOH dilakukan untuk mengetahui kadar asam cuka yang
terkandung pada campuran V tidak dapat terlaksana dengan baik. Hal ini disebabkan karena
tidak adanya indikator yang disediakan untuk menetukan bahawa titrasi selesai di lakukan.
Jumlah basa yang tertera pada tabel merupakan hasil uji coba tanpa indikator, apakah terjadi
perubahan warna pada larutan yang pratikan titrasi.
Keadaan larutan pada tabung elrlemeyer V sendiri tidak dapat bercampur, hal ini di
buktikan dengan keruhnya larutan yang terbentuk. 1 mL asam cuka tidak cukup melarutkan
air dan kloroform yang memiliki kelarutan yang sangat kecil dalam air. Sehingga penentuan
titik V sebagai penentuan titik bahwa larutan tercampur tidak dapat di tentukan.
Berdasarkan literatur, keseimbangan larutan yang di maksud terjadi jika ketiga komponen
(dalam hal ini air, aasam cuka, dan kloroform) memiliki perbandingan yang tepat. Seperti
28

pada buku penuntun pratikum kimia fisik, keseimbangan sistem dan titik campurannya
bergeser ketika jumlah larutannya : 60% kloroform | 10% air | 40% asam cuka. Berdasarkan
hal ini, dapat diperhitungkan bahwa titik V akan bergeser ke posisi V, seperti yang di
tunjukkan pada gambar berikut, sama seperti contoh yang terdapat pada buku penuntun.

Gambar 4.3 Diagram terner pergeseran titik V


Jika titik ditentukan berdasarkan campuran awal yaitu 2,5 gram air; 2,5 gram kloroform;
dan 1 gr asam cuka, dan kemudian di pisahkan dalam dua tempat yang berbeda, titik V akan
menempati posisi seperti gambar dibawah. Dimana kedua fasa masih memiliki perbedaan fasa
dengan bukti terdapatnya lapisan.

29

Gambar 4.4 Diagram terner posisi V

BAB V KESIMPULAN
1. Diagram terner digambarkan dengan bentuk segitiga sama sisi. Dengan tiap
puncaknya mewakili sebuah komposisi, seperti air, kloroform, dan asam cuka.
2. Garis tie line di tentukan berdasarkan keseimbangan yang terbentuk antara dua
komponen, yaitu air dan kloroform.

30

APPENDIKS
1. Menentukan konsentrasi 3 komponen / campuran :
- mol H2O
- mol CHCl3
- mol CH3COOH
2. Menentukan % mol H2O, CHCL3, CH3COOH
3. Menentukan CH3COOH
4. Buat grafik 3 komponen dari sampel L1= CH3COOH + H2O
L2 = CH3COOH + CHCL3
5. buat grafik L1 dan L2
Perhitungan
Diketahui :

Ditanya

:
Volume air, kloroform, dan asam asetat yang digunakan ?
Mol air, kloroform, dan asam asetat yang digunakan ?
Fraksi mol dari setiap komponen ?
Diagram terner masing-masing tabung ?\
Kurva binodal ?

penyelesaian
A. Menentukan komponen masing-masing senyawa
1. Menentukan volume air yang digunakan
31

Tabel 5.1 Massa air yang diperlukan dalam setiap tabung


zat cair

I
4

air

Tabung I

Tabung II

Tabung III

Tabung IV

II
3

Massa
III
2

IV
1

2. Mentukan volume kloroform yang digunakan


Tabel 5.2 Massa kloroform yang diperlukan

zat cair
kloroform

Tabung II

Tabung III

Tabung IV

I
1

II
2

32

Massa
III
3

Tabung I
IV
4

3. Mentukan massa asam asetat yang digunakan


Tabung I

Tabung II

Tabung III

Tabung IV

B. Menentukan mol masing-masing komponen


1. Menentukan mol air pada setiap tabung
Tabung I

Tabung II

Tabung III

Tabung IV

2. Menentukan mol kloroform pada setiap tabung yang digunakan


Tabung I

Tabung II

Tabung III

Tabung IV

33

3. Menentukan mol Asam asetat yang digunakan saat titrasi


Tabung I

Tabung II

Tabung III

Tabung IV

C. Menentukan persentase fraksi mol setiap komponen


1. Menetukan persentase pada tabung I
Air

Kloroform

Asam asetat

34

Gambar 5.1 Diagram terner tabung I


2. Menentukan persentase tabung II
Air

Kloroform

Asam asetat

35

Gambar 5.2 Diagram terner tabung II


3. Menentukan persentase tabung III
Air

Kloroform

Asam asetat

36

Gambar 5.3 Diagram terner tabung III


4. Menentukan persentase tabung IV
Air

Kloroform

Asam asetat

37

Gambar 5.4 Diagram terner tabung IV

38

DAFTAR PUSTAKA
Alamsyah.

2012.

Asam

Asetat,

Asam

Etanoat

atau

Asam

Cuka.

http://www.kimia.upi.edu. Diakses Senin, 7 april 2014.


Atkins, P. W. 2006. Kimia Fisika. Jakarta: Erlangga
Dogra,S& Dogra SK .2008. Kimia FIsik dan Soal Soal. UI Press : Jakarta
Dogra, S.K. 2009. Kimia Fisik dan Soal-Soal. Jakarta: UI-PRESS
Geankoplis, C.J., 1985, Transport Processes and Unit Operation, Prentice Hall,
Inc.,Singapore.
Ita Hidayatul Sholihah. 2012 . Sistem Terner. http://id.scribd.com/doc/136517462/LaporanPraktikum-Diagram-Terner. Diakses senin, 7 april 2014.
Oktaviana, Dian. 2012. Campuran Tiga Komponen (Diagram Biner). http://www.scrib.com.
Diakses Senin, 7 april 2014
Rahman Ijang & Mulyani Sry. 2000. Kimia Fisika I. Jurusan kimia FMIPA UNM : Makassar
Sukardjo. 2005. Kimia Fisika. Jakarta:erlangga
Tim dosen kimia fisik.2010.Penuntun Praktikum Kimia Fisik I . FMIPA UNM : Makassar

39

DAFTAR NOTASI
No
1
2
3
4
5

Simbol

Keterangan

Satuan

V
Mr
n

massa
massa jenis
volume
massa relatif unsur
mol

g atau kg
g/cm3
L atau mL
gr/mol
Mol

40