Anda di halaman 1dari 26

A.

Sistem Pelayanan Kesehatan


Definisi
Menurut Prof. Dr. Soekidjo Notoatmojo Pelayanan kesehatan adalah sub sistem
pelayanan kesehatan yang tujuan utamanya adalah pelayanan preventif (pencegahan) dan
promotif(

peningkatan

kesehatan

dengan

sasaran

masyarakat.

Menurut Levey dan Loomba (1973) Pelayanan Kesehatan Adalah upaya yang
diselenggarakan sendiri/secara bersama-sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan
meningkatkan kesehatan, mencegah, dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan
kesehatan perorangan, keluarga, kelompok, atau masyarakat.
Menurut Dubois & Miley (2005 : 317) :Sistem pelayanan kesehatan merupakan jaringan
pelayanan interdisipliner, komprehensif, dan kompleks, terdiri dari aktivitas diagnosis,
treatmen, rehabilitasi, pemeliharaan kesehatan dan pencegahan untuk masyarakat pada
seluruh kelompok umur dan dalam berbagai keadaan.
Menurut Zastrow (1982 : 319 322) : Pelayanan kesehatan diorganisasi dalam komponen
:
1)

Praktek dokter sendiri, kurang disupervisi, hanyabertanggungjawab kepada pasien, relatif


terisolasi.

2) Setting pelayanan rawat jalan berkelompok, seperti balai-balai pengobatan atau klinik-klinik
khusus (seperti klinik ginjal, balai pengobatan gigi) atau yang diselenggarakan di perguruan
tinggi atau sekolah-sekolah, di pabrik-pabrik, di perusahaan-perusahaan atau tempat-tempat
kerja lain.
3) Setting Rumah sakit.
4) Perawatan dalam rumah
5) Pelayanan kesehatan masyarakat yang diorganisir dalamberbagai tingkatan : lokal, regional,
oleh pemerintah pusat atau nasional, dan internasional.
Jadi pelayanan kesehatan adalah subsistem pelayanan kesehatan yang tujuan utamanya
adalah promotif (memelihara dan meningkatkan kesehatan), preventif (pencegahan), kuratif
(penyembuhan), dan rehabilitasi (pemulihan) kesehatan perorangan, keluarga, kelompok atau
masyarakat, lingkungan.
Sistem terbentuk dari subsistem yang saling berhubungan dan saling mempengaruhi.
Subsistem ini terdiri dari Input, Proses, Output, Dampak, Umpan Balik dan Lingkungan.

1.Input
Merupakan subsistem yang akan memberikan segala masukan untuk berfungsinya
sebuah sistem.
Input sistem pelayanan kesehatan : potensi masyarakat, tenaga & sarana kesehatan, dsb.

2.Proses
Kegiatan yang mengubah sebuah masukan menjadi sebuah hasil yang diharapkan dari
sistem tersebut.
Proses dalam pelayanan kesehatan: berbagai kegiatan dalam pelayanan kesehatan.
3.Output
Merupakan hasil yang diperoleh dari sebuah proses.
Output pelayanan kesehatan : pelayanan yang berkualitas dan terjangkau sehingga
masyarakat sembuh dan sehat.
4.Dampak
Merupakan akibat dari output atau hasil suatu sistem, terjadi dalam waktu yang relatif
lama.
Damapk sistem Pelayanan kesehatan : masyarakat sehat, angka kesakitan dan kematian
menurun.
5.Umpan Balik
Merupakan suatu hasil yang sekaligus menjadi masukan. Terjadi dari sebuah sistem
yang saling berhubungan dan saling mempengaruhi.
Umpan balik dalam pelayanan kesesahatan : kualitas tenaga kesehatan.

6.Lingkungan
Semua keadaan di luar sistem tetapi dapat mempengaruhi pelayanan kesehatan.
Contoh : Di dalam pelayanan kesehatan Puskesmas,
Input : Dokter, Perawat, Obat-obatan.
Proses : Kegiatan pelayanan puskesmas.

Output : Pasien sembuh atau tidak sembuh.


Dampak : Meningkatnya status kesehatan masyarakat.
Umpan Balik : Keluhan-keluhan pasien terhadap pelayanan.
Lingkungannya : Masyarakat dan instansi-instansi diluar puskemas tersebut.

Tingkat Pelayanan Kesehatan


Merupakan bagian dari sistem pelayanan kesehatan yang diberikan pada masyarakat.
Menurut Leavel & Clark dalam memberikan pelayanan kesehatan harus memandang pada
tingkat pelayanan kesehatan yang akan diberikan, yaitu :
a). Health Promotion (Promosi Kesehatan)
Merupakan tingkat pertama dalam memberikan pelayanan melalui peningkatan
kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan status kesehatan masyarakat
Contoh : Kebersihan perorangan, perbaikan sanitasi lingkungan, dsb

b). Specifik Protection (Perlindungan Khusus)


Perlindungan khusus adalahmasyarakat terlindung dari bahaya atau

penyakit-

penyakit tertentu
Contoh : Imunisasi, perlindungan keselamatan kerja
c). Early Diagnosis and Prompt Treatment (Diagnosis Dini & Pengobatan Segera)
Sudah mulai timbulnya gejala penyakit dan dilakukan untuk mencegah penyebaran
penyakit.
Contoh : Survey penyaringan kasus

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Sistem Pelayanan Kesehatan


1. Pergeseran masyarakat dan konsumen
Hal ini sebagai akibat dari peningkatan pengetahuan dan kesadaran konsumen
terhadap peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit dan upaya pengobatan. Sebagai

masyarakat yang memiliki pengetahuan tentang masalah kesehatan yang meningkat, maka
mereka mempunyai kesadaran yang lebih besar yang berdampak pada gaya hidup terhadap
kesehatan. akibatnya kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan meningkat.
2. Ilmu pengetahuan dan teknologi baru
Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di sisi lain dapat meningkatkan
pelayanan kesehatan karena adanya peralatan kedokteran yang lebih canggih dan memadai
walau di sisi yang lain juga berdampak pada beberapa hal seperti meningkatnya biaya
pelayanan kesehatan, melambungnya biayakesehatan dan dibutuhkannya tenaga profesional
akibat pengetahuan dan peralatan yang lebih modern.

3. Isu legal dan etik.


Sebagai masyarakat yang sadar terhadap haknya untuk mendapatkan pelayanan
kesehatan dan pengobatan , issu etik dan hukum semakin meningkat ketika mereka menerima
pelayanan kesehatan. Pemberian pelayanan kesehatan yang kurang memadai dan kurang
manusiawi maka persoalan hukum kerap akan membayanginya.
4. Ekonomi
Pelayanan kesehatan yang sesuai dengan harapan barangkali hanya dapat dirasakan
oleh orang-orang tertentu yang mempunyai kemampuan untuk memperoleh fasilitas
pelayanan kesehatan yang dibutuhkan, namun bagi klien dengan status ekonomi rendah tidak
akan mampu mendapatkan pelayanan kesehatan yang paripurna karena tidak dapat
menjangkau

biaya

pelayanan

kesehatan.

5. Politik
Kebijakan pemerintah dalam sistem pelayanan kesehatan akan berpengaruh pada
kebijakan tentang bagaimana pelayanan kesehatan yang diberikan dan siapa yang
menanggung biaya pelayanan kesehatan
Bentuk Pelayanan Kesehatan

1). Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama (Primer)


Pelayanan kesehatan jenis ini diperlukan untuk masyarakat yang sakit ringan dan
masyarakat yang sehat untuk meningkatkan kesehatan mereka atau promosi kesehatan. Oleh
karena itu jumlah kelompok ini dalam suatu populasi sangat besar (lebih kurang 85 %).
Pelayanan yang diperlukan oleh kelompok ini bersifat pelayanan kesehatan dasar.
Contohnya : Puskesmas,Puskesmas keliling, klinik.

2). Pelayanan Kesehatan Tingkat Kedua (Sekunder)


Pelayanan kesehatan jenis ini diperlukan oleh kelompok masyarakat yang
memerlukan perawatan inap, yang sudah tidak dapat ditangani oleh pelayanan kesehatan
primer.
Contoh : Rumah Sakit tipe C dan Rumah Sakit tipe D dan memerlukan tersedianya tenagatenaga spesialis.

3) Pelayanan Kesehatan Tingkat Ketiga (Tersier)


Pelayanan kesehatan ini diperlukan untuk kelompok masyarakat atau pasien yang
sudah tidak dapat ditangani oleh pelayanan kesehatan sekunder. Pelayanan sudah kompleks
dan

memerlukan

tenaga-tenaga

super

spesialis

Contohnya: Rumah Sakit tipe A dan Rumah sakit tipe B.


Dalam suatu sistem pelayanan kesehatan, ketiga strata atau jenis pelayanan tersebut
tidak berdiri sendiri-sendiri namun berada didalam suatu sistem dan saling berhubungan.
Apabila pelayanan kesehatan primer tidak dapat melakukan tindakan medis tingkat primer
maka ia menyerahkan tanggung jawab tersebut ke tingkat pelayanan diatasnya, demikian
seterusnya. Penyerahan tanggung jawab dari satu pelayanan kesehatan ke pelayanan
kesehatan

yang

lain

ini

disebut

rujukan.

B. Sistem Rujukan
Menurut SK Menteri Kesehatan RI No 32 tahun 1972 sistem rujukan adalah suatu
sistem penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang melaksanakan pelimpahan tanggung
jawab timbal balik terhadap satu kasus masalah kesehatan secara vertical dalam arti dari unit

yang berkemampuan kurang kepada unit yang lebih mampu atau secara horizontal dalam arti
antar unit-unit yang setingkat kemampuanya. Dari batasan tersebut dapat dilihat bahwa hal
yang dirujuk bukan hanya pasien saja tapi juga masalah-masalah kesehatan lain, teknologi,
sarana, bahan-bahan laboratorium, dan sebagainya. Disamping itu rujukan tidak berarti
berasal dari fasilitas yang lebih rendah ke fasilitas yang lebih tinggi tetapi juga dapat
dilakukan diantara fasilitas-fasilitas kesehatan yang setingkat.
Tujuan
Tujuan rujukan adalah dihasilkannya pemerataan upaya kesehatan dalam rangka
penyelesaian masalah kesehatan secara berdaya dan berhasil guna.
Tujuan Sistem Rujukan adalah agar pasien mendapatkan pertolongan pada fasilitas
pelayanan kesehatan yang lebih mampu sehingga jiwanya dapat terselamatkan, dengan
demikian dapat menurunkan angka kematian.
Jenis Rujukan
Sistim Kesehatan Nasional membedakannya menjadi dua macam yaitu:
1). Rujukan Kesehatan
Rujukan ini berkaitan dengan upaya pelayanan kesehatan dalam pencegahan penyakit
dan peningkatan derajat kesehatan. Rujukan ini dibedakan menjadi tiga yaitu :
Rujukan teknologi
Rujukan sarana
Rujukan Operasional
2). Rujukan Medik
Rujukan ini berkaitan dengan upaya pelayanan kedokteran dalam penyembuhan
penyakit serta pemulihan kesehatan. Rujukan medic terdiri dari penderita, pengetahuan, dan
bahan laboratorium :
-

Transfer of patient : konsultasi penderita untuk keperluan diagnostic, pengobatan, tindakan


operatif dll.

Transfer of knowledge : pengiriman tenaga kesehatan yang lebih kompeten atau ahli untuk
meningkatkan mutu layanan setempat.

Transfer of specimen : pengiriman bahan untuk pemeriksaan laboratorium yang lebih


lengkap.

Jalur Rujukan
Dalam kaitan ini jalur rujukan untuk kasus gawat darurat dapat dilaksanakan sebagai berikut :
1.

Dari kader dapat langsung merujuk ke Puskesmas Pembantu, Pondok bersalin atau Bidan
Desa, Puskesmas Rawat Inap, dan Rumah sakit pemerintah atau swasta.

2. Dari posyandu dapat langsung menuju ke Puskesmas Pembantu, Pondok bersalin atau Bidan
Desa, Puskesmas Rawat Inap, dan Rumah sakit pemerintah atau swasta.
3.

Dari Puskesmas Pembantu dapat langsung merujuk ke Rumah Sakit tipe D/C atau Rumah
Sakit Swasta

4. Dari Praktik dr. swasta, Praktik bidan, Praktik perawat, Puskesmas, RB, BP dapat langsung
merujuk ke Rumah Sakit tipe D/C atau Rumah Sakit Swasta
5.

Dari Rumah Sakit tipe D/C bila tidak bisa menangani dapat langsung merujuk ke Rumah
Sakit tipe A/B
Persiapan Rujukan
Persiapan yang harus diperhatikan dalam melakukan rujukan :

Bidang : Pastikan pasien didampingi oleh tenaga kesehatan yang kompeten dan memiliki
kemampuan untuk melaksanakan kegawatdaruratan.

Alat : Bawa perlengkapan dan bahan-bahan yang diperlukan, seperti spuit, infus set,
tensimeter, dan stetoskop.

Keluarga : Beritahu keluarga tentang kondisi terakhir pasien dan alasan mengapa ia dirujuk.
Anggota keluarga yang lain harus menerima pasien ke tempat rujukan.

Surat : Beri surat ke tempat rujukan yang berisi identifikasi pasien, alasan rujukan, uraian
hasil rujukan, asuhan, atau obat-obat yang telah diterima pasien.

Obat : Bawa obat-obat esensial diperlukan selama perjalanan merujuk.

Kendaraan : Siapkan kendaraan yang cukup baik untuk memungkinkan pasien dalam kondisi
yang nyaman dan dapat mencapai tempat tujuan dalam waktu cepat.

Uang : Ingatkan keluarga untuk membawa uang dalam jumlah cukup untuk membeli obat
dan bahan kesehatan yang diperlukan di tempat rujukan.

C. GAKIN
Jaminan pemeliharan kesehatan bagi keluarga miskin dan kurang mampu (GAKIN)
adalah jaminan pemeliharaan kesehatan yang diberikan kepada keluarga miskin dan kurang

mampu yang membutuhkan pelayanan kesehatan meliputi rawat jalan dan rawat inap
sebagaimana yang ditetapkan, baik di Puskesmas maupun di Rumah Sakit yang ditunjuk di
Wilayah.
Prosedur Rawat Jalan Bagi Peserta JPK GAKIN/SKTM di RSUD
Bawa Rujukan

Pulang

LoketVerifikasi Tindakan

Apotik

PenunjangDiagnostik

PoliSpesialis

LoketVerifikasi
GAKIN/ SKTM

LoketPendaftaran

SuratRujukan

PasienDatang Membawa Kartu Berobat JPK Gakin/SKTM (RT/RW/Lurah)

Prosedur rawat inap bagi peserta GAKIN/SKTM di Rumah Sakit


Pulang

Admisi

Penunjangdiagnostic / Apotik

Lapor ke Loket GAKIN/


SKTM

R.PerawatanKelas III

Administrasi

PasienDatang Membawa Kelengkapan Dokumen

Paket Pelayanan Esensial (PPE) Yang Didapatkan

Ruang Rawat Inap Kelas III

Konsultasi Medik

Penunjang Medik

Operasi

Pelayanan Rehabilitasi Medik

Perawatan Intensif ( ICU, PICU/ICU )

Obat Dan Alat Kesehatan

Pelayanan Darah

Kegawat Daruratan

Hemodialisa

Prosedur Mendapatkan Layanan Program JPK GAKIN


Pemegang Kartu GAKIN

Kartu GAKIN, RASKIN, BLT PKH, Kader Kesehatan (Program Pemerintah lainnya)

Foto kopi kartu keluarga (KK)

Rujukan dari puskesmas, tidak perlu apabila emergensi

KTP

Pasien Panti

Sertifikat panti

Surat keterangan kepalah panti atau rumah singgah

Daftar nama penghuni panti

KLB/Kebanjiran/Kebakaran

Surat keterangan dari posko atau Puskesmas

Orang Terlantar

Surat keterangan Polisi

Surat keterangan dari direktur Rumah Sakit

Surat keterangan dari Dinas Bintal dan Kessos

Rujukan

Pasien SKTM

Kartu BBM (BLT/PKH)

Surat keterangan tidak mampu

Rujukan

D. Jamkesmas
Jamkesmas ( Jaminan Kesehatan Masyarakat ) adalah sebuah program jaminan
kesehatan untuk warga Indonesia yang memberikan perlindungan sosial dibidang kesehatan
untuk menjamin masyarakat miskin dan tidak mampu yang iurannya dibayar oleh pemerintah
agar kebutuhan dasar kesehatannya yang layak dapat terpenuhi.Program ini dijalankan oleh
Departemen Kesehatan sejak 2008. Program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas)
diselenggarakan berdasarkan konsep asuransi sosial.
Tujuan
1) Mewujudkan portabilitas pelayanan sehingga pelayanan rujukan tertinggi yang disediakan
Jamkesmas dapat diakses oleh seluruh peserta dari berbagai wilayah.
2) Agar terjadi subsidi silang dalam rangka mewujudkan pelayanan kesehatan yang
menyeluruh bagi masyarakat miskin.
Kepesertaan Jamkesmas
Peserta Program Jamkesmas adalah setiap orang miskin dan tidakmampu yang
terdaftar dan memiliki kartu dan berhak mendapatkan pelayanan kesehatan. Jumlah sasaran
peserta sebesar 19,1 juta Rumah Tangga Miskin (RTM) atau sekitar 76,4 juta jiwa. Jumlah
tersebut berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2009, yang dijadikan dasar
penetapan jumlah sasaran peserta secara nasional oleh Menkes. Berdasarkan Jumlah Sasaran
Nasional tersebut Menkes membagi alokasi sasaran kuota Kabupaten/Kota.
Bupati/Walikota wajib menetapkan peserta Jamkesmas Kabupaten/Kota dalam satuan
jiwa berisi nomor, nama dan alamat peserta dalam bentuk Keputusan Bupati/Walikota.
Administrasi kepesertaan Jamkesmas meliputi: registrasi, penerbitan dan pendistribusian

kartu kepada peserta. Untuk administrasi kepesertaan Depkes menunjuk PT Askes (Persero),
dengan kewajiban melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Data peserta yang telah ditetapkan Pemda, kemudian dilakukan entry oleh PT Askes
(Persero) untuk menjadi database kepesertaan di Kabupaten/Kota.
2. Entry data setiap peserta.
3. Berdasarkan database tersebut kemudian kartu diterbitkan dan didistribusikan kepada
peserta.
4. PT Askes (Persero) menyerahkan kartu peserta kepada yang berhak, mengacu kepada
penetapan Bupati/Walikota dengan tanda terima yang ditanda tangani/cap jempol peserta atau
anggota keluarga peserta.
5.

PT Askes

(Persero)

melaporkan

hasil

pendistribusian

kartu

peserta

kepada

Bupati/Walikota, Gubernur, Depkes, Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi dan Kabupaten/Kota


serta rumah sakit setempat.
Berikut bagan alur kepesertaan Jamkesmas :
SasaranNasional

SasaranKab/Kota Berdasarkan Kuota

SKB

SinkronisasiDatabase kab/kota

PenetapanSK Bupati/ Walikota

EntryDatabase Kepesertaan

BlankoKartu

TerbitKartu

DistribusiKartu

Peserta

Tata Laksana Pelayanan Kesehatan


Setiap peserta Jamkesmas berhak mendapat pelayanan kesehatandasar meliputi
pelayanan kesehatan Rawat Jalan (RJ) dan Rawat Inap (RI), serta pelayanan kesehatan
rujukan Rawat Jalan Tingkat Lanjutan (RJTL), Rawat Inap Tingkat Lanjutan (RITL) dan
pelayanan gawat darurat. Pelayanan kesehatan dalam program Jamkesmas menerapkan
pelayanan berjenjang berdasarkan rujukan dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Pelayanan rawat jalan tingkat pertama diberikan di Puskesmas dan jaringannya. Pelayanan
rawat jalan lanjutan diberikan di Balai Kesehatan Mata Masyarakat (BKMM), Balai Besar
Kesehatan Paru Masyarakat (BBKPM), BKPM/BP4/BKIM dan rumah sakit (RS).
2. Pelayanan rawat inap diberikan di Puskesmas Perawatan dan ruang rawat inap kelas III
(tiga) di RS Pemerintah termasuk RS Khusus, RS TNI/POLRI dan RS Swasta yang
bekerjasama dengan Departemen Kesehatan

3. Pada keadaan gawat darurat (emergency) seluruh Pemberi Pelayanan Kesehatan (PPK)
wajib memberikan pelayanan kepada peserta walaupuntidak memiliki perjanjian kerjasama.
Penggantian biaya pelayanan kesehatan diklaimkan ke Departemen Kesehatan melalui Tim
Pengelola Kabupaten/Kota setempat setelah diverifikasi sesuai dengan ketentuan yang
berlaku pada program ini.
4. RS/BKMM/BBKPM/BKPM/BP4/BKIM melaksanakan pelayanan rujukan lintas wilayah
dan biayanya dapat diklaimkan oleh Pemberi Pelayanan Kesehatan
(PPK) yang bersangkutan ke Depkes.
Prosedur untuk memperoleh pelayanan kesehatan bagi peserta, sebagai
berikut:
1. Peserta yang memerlukan pelayanan kesehatan dasar berkunjung ke Puskesmas dan
jaringannya.
2. Untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, peserta harus menunjukkan kartu yang
keabsahan kepesertaannya merujuk kepada daftar masyarakat miskin yang ditetapkan oleh
Bupati/Walikota setempat. Penggunaan SKTM hanya berlaku untuk setiap kali pelayanan
kecuali pada kondisi pelayanan lanjutan terkait dengan penyakitnya.
3. Apabila peserta Jamkesmas memerlukan pelayanan kesehatan rujukan, maka yang
bersangkutan dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan rujukan disertai surat rujukan dan kartu
peserta yang ditunjukkan sejak awal sebelum mendapatkan pelayanan kesehatan, kecuali
pada kasus emergency.
Pelayanan tersebut meliputi :
1.

Pelayanan

rawat

jalan

lanjutan

(spesialistik)

di

Rumah

Sakit,

BKMM/BBKPM/BKPM/BP4/BKIM.
2. Pelayanan Rawat Inap kelas III di Rumah Sakit.
3. Pelayanan obat-obatan.
4. Pelayanan rujukan spesimen dan penunjang diagnostic.
Untuk memperoleh pelayanan rawat jalan di BKMM/BBKPM/BKPM/ BP4/BKIM
dan RS peserta harus menunjukkan kartu peserta. Bila berkas sudah lengkap, petugas PT
Askes (Persero) mengeluarkan Surat Keabsahan Peserta (SKP), dan peserta selanjutnya
memperoleh pelayanan kesehatan.

Pada

dasarnya

manfaat

yang

disediakan

untuk

masyarakat

miskin

bersifatkomprehensif sesuai indikasi medis, kecuali beberapa hal yang dibatasi dan tidak
dijamin. Pelayanan kesehatan komprehensif tersebut meliputi antara lain:
1. Pelayanan Kesehatan di Puskesmas dan Jaringannya.
a. Rawat Jalan Tingkat Pertama (RJTP), dilaksanakan pada Puskesmas dan jaringannya baik
dalam maupun luar gedung meliputi pelayanan :
1) Konsultasi medis, pemeriksaan fisik dan penyuluhan kesehatan.
2) Laboratorium sederhana (darah, urin, dan feses rutin).
3) Tindakan medis kecil.
4) Pemeriksaan dan pengobatan gigi, termasuk cabut/tambal.
5) Pemeriksaan ibu hamil/nifas/menyusui, bayi dan balita.
6) Pelayanan KB dan penanganan efek samping (alat kontrasepsi disediakan BKKBN).
7) Pemberian obat.
b. Rawat Inap Tingkat Pertama (RITP), dilaksanakan pada Puskesmas Perawatan, meliputi
pelayanan :
1) Akomodasi rawat inap.
2) Konsultasi medis, pemeriksaan fisik dan penyuluhan kesehatan.
3) Laboratorium sederhana (darah, urin, dan feses rutin).
4) Tindakan medis kecil.
5) Pemberian obat.
6) Persalinan normal dan dengan penyulit (PONED).
c.

Persalinan

normal

yang

dilakukan

di

Puskesmas

non-perawatan/bidan

di

desa/Polindes/dirumah pasien/praktek bidan swasta.


d. Pelayanan gawat darurat (emergency).
2. Pelayanan kesehatan di RS dan di BKMM/BBKPM/BKPM/BP4/BKIM
a. Rawat Jalan Tingkat Lanjutan (RJTL), dilaksanakan pada Puskesmas yang menyediakan
pelayanan

spesialistik,

poliklinik

spesialis

RS

Pemerintah,

BKMM/BBKPM/BKPM/BP4/BKIM meliputi:
1) Konsultasi medis, pemeriksaan fisik dan penyuluhan kesehatan oleh dokter
spesialis/umum.

2) Rehabilitasi medic.
3) Penunjang diagnostic : laboratorium klinik, radiologi dan elektromedik.
4) Tindakan medis kecil dan sedang.
5) Pemeriksaan dan pengobatan gigi tingkat lanjutan.
6) Pelayanan KB, termasuk kontap efektif, kontap pasca persalinan/keguguran, penyembuhan
efek samping dan komplikasinya (alat kontrasepsi disediakan oleh BKKBN).
7) Pemberian obat yang mengacu pada Formularium Rumah Sakit.
8) Pelayanan darah.
9) Pemeriksaan kehamilan dengan risiko tinggi dan penyulit.

b. Rawat Inap Tingkat Lanjutan (RITL), dilaksanakan pada ruang perawatan kelas III RS
Pemerintah, meliputi :
1) Akomodasi rawat inap pada kelas III.
2) Konsultasi medis, pemeriksaan fisik dan penyuluhan kesehatan.
3) Penunjang diagnostic : laboratorium klinik, radiologi dan elektromedik.
4) Tindakan medis.
5) Operasi sedang dan besar.
6) Pelayanan rehabilitasi medis.
7) Perawatan intensif (ICU, ICCU, PICU, NICU, PACU).
8) Pemberian obat mengacu Formularium RS program Jamkesmas.
9) Pelayanan darah.
10)Bahan dan alat kesehatan habis pakai.
11)Persalinan dengan risiko tinggi dan penyulit.
c. Pelayanan gawat darurat (emergency).
3. Pelayanan Yang Dibatasi (Limitation), meliputi:
a. Kacamata diberikan dengan lensa koreksi minimal +1/-1 dengan nilai maksimal Rp
150.000,- berdasarkan resep dokter.
b. Intra Ocular Lens (IOL) diberi penggantian sesuai resep dari dokter spesialis mata,
berdasarkan harga yang paling murah dan ketersediaan alat tersebut di daerah.
c. Alat bantu dengar diberi penggantian sesuai resep dari dokter THT, pemilihan alat Bantu
dengar berdasarkan harga yang paling murah dan ketersediaan alat tersebut di daerah.

d. Alat bantu gerak (tongkat penyangga, kursi roda, dan korset) diberikan berdasarkan resep
dokter dan disetujui Direktur Rumah Sakit atau pejabat yang ditunjuk dengan
mempertimbangkan alat tersebut memang dibutuhkan untuk mengembalikan fungsi dalam
aktivitas social peserta tersebut. Pemilihan alat bantu gerak berdasarkan harga yang paling
efisien dan ketersediaan alat tersebut di daerah.
e. Pelayanan penunjang diagnostik canggih. Pelayanan ini diberikan hanya pada kasus-kasus
life-saving dan kebutuhan penegakkan diagnose yang sangat diperlukan melalui pengkajian
dan pengendalian oleh Komite Medik.
4. Pelayanan Yang Tidak Dijamin (Exclusion), meliputi:
a. Pelayanan yang tidak sesuai prosedur dan ketentuan.
b. Bahan, alat dan tindakan yang bertujuan untuk kosmetika.
c. General check up.
d. Prothesis gigi tiruan.
e. Pengobatan alternatif (antara lain akupunktur, pengobatan tradisional) dan pengobatan lain
yang belum terbukti secara ilmiah.
f. Rangkaian pemeriksaan, pengobatan dan tindakan dalam upaya mendapat keturunan,
termasuk bayi tabung dan pengobatan impotensi.
g. Pelayanan kesehatan pada masa tanggap darurat bencana alam.
h. Pelayanan kesehatan yang diberikan pada kegiatan bakti sosial.