Anda di halaman 1dari 7

MAKALAH VAKSIN

DZULHIYANA L.T
1310015098
Tutor : drg. Verry Asfirizal

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Istilah '' vaksin '' berasal dari Edward Jenner 1796. Penggunaan istilah Vaksin berasal dari bahasa latin
vacca (sapi) dan vaccinia (cacar sapi). Vaksin adalah bahan antigenik yang digunakan untuk menghasilkan
kekebalan aktif terhadap suatu penyakit sehingga dapat mencegah atau mengurangi pengaruh infeksi oleh
organisme alami atau liar. Vaksin cacar tidak dapat dipisahkan dari Edward Jenner (1749-1823).Jenner
menyusun tulisan ilmiahnya tentang kekebalan terhadap cacar pada manusia yang pernah tertular cacar sapi.Ia
juga melakukan survei nasional yang mendukung teorinya. Sesudah penemuan Jenner diuji coba dan
dikonfirmasi banyak ilmuwan vaksinasi cacar mulai meluas di London untuk kemudian menyebar di Inggris,
seluruh Eropa, dan dunia. Pasteur (1885) memperkenalkan cara penanggulangan penyakit akibat gigitan
tersangka rabies dengan menggunakan cara vaksinasi menggunakan vaksin anti rabies (VAR). Seperti halnya
obat, tidak ada vaksin yang bebas dari risiko efek samping. Namun keputusan untuk tidak memberi vaksin juga
lebih berisiko untuk terjadinya penyakit atau lebih jauh menularkan penyakit pada orang lain.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Sejarah Vaksin
Vaksin berasal dari bahasa latin vacca (sapi) dan vaccinia (cacar sapi). Edward Jenner sedang
menyuntikkan vaksin Dunia sudah selayaknya mengucapkan terima kasih untuk pionir-pionir seperti Jenner dan
Pasteur.Mereka telah menemukan vaksin yang mencegah tingginya angka kesakitan dan kematian.Namun
demikian, kondisi masih memprihatinkan, bahkan dirasakan tragis, karena menurut laporan Badan Kesehatan
Dunia (WHO), hampir dua juta anak-anak masih menjadi korban penyakit tiap tahun. Menutup tahun-tahun pada
abad ke-19 dan memasuki abad ke-20 ditandai dengan munculnya achievements of great vaccine
scientist seperti Pasteur. Sejak Jenner vaccinia200 tahun yang lalu diperkenalkan, sembilan penyakit utama
manusia telah dapat dikendalikan dengan penggunaan vaksin: smallpox (1798), rabies (1885), plague (1897),
difteri (1923), pertusis (1926), tuberculosis/BCG (1927), tetanus (1927), dan yellow fever (1935).Beberapa
vaksin digunakan secara individu di daerah dengan resiko penyakit seperti rabies dan plague, tetapi tidak
pernah digunakan secara sistematis dalam skala global.Antara lain pada vaksin BCG pada tanggal 24 April
1927, dokter Albert Calmette dan seorang peneliti bernama Camille Guerin berhasil menemukan vaksin untuk
mengobati penyakit TBC, yang dinamakan vaksin bacillus calmette guerin (BCG).
2.2. Definisi Vaksin
Vaksin adalah bahan antigenik yang digunakan untuk menghasilkan kekebalan aktif terhadap suatu
penyakit sehingga dapat mencegah atau mengurangi pengaruh infeksi oleh organisme alami atau liar. Vaksin
dapat berupa galur virus atau bakteri yang telah dilemahkan sehingga tidak menimbulkan penyakit.Vaksin dapat
juga berupa organisme mati atau hasil-hasil pemurniannya (protein, peptida, partikel serupa virus, dsb.). Vaksin
akan mempersiapkan sistem kekebalan manusia atau hewan untuk bertahan terhadap serangan patogen
tertentu, terutama bakteri, virus, atau toksin. Vaksin juga bisa membantu sistem kekebalan untuk melawan selsel degeneratif (kanker).Pemberian vaksin diberikan untuk merangsang sistem imunologi tubuh untuk
membentuk antibodi spesifik sehingga dapat melindungi tubuh dari serangan penyakit yang dapat dicegah
dengan vaksin.Ada beberapa jenis vaksin. Namun, apa pun jenisnya tujuannya sama, yaitu menstimulasi reaksi

kekebalan tanpa menimbulkan penyakit. Ketika seorang individu divaksinasi terhadap penyakit atau
infeksi, mengatakan difterinya sistem kekebalan tubuh siap untuk melawan infeksi.Setelah divaksinasi ketika
orang
terkena bakteri yang menyebabkan tubuh persneling untuk melawan infeksi. Vaksin memanfaatkan
kemampuan alami tubuh untuk belajar bagaimana untuk menghilangkan hampir semua penyebab penyakit
kuman, atau mikroba, yang menyerang itu.Setelah divaksinasi tubuh "mengingat" bagaimana melindungi diri
dari mikroba yang dialami sebelumnya.

2.3. Jenis-Jenis Vaksin


1. Vaksin Toksoid
Vaksin yang dibuat dari beberapa jenis bakteri yang menimbulkan penyakit dengan memasukkan
racun dilemahkan ke dalam aliran darah.Bahan bersifat imunogenik yang dibuat dari toksin
kuman.Hasil pembuatan bahan toksoid yang jadi disebut sebagai natural fluid plain toxoid yang mampu
merangsang terbentuknya antibodi antitoksin.Imunisasi bakteri toksoid efektif selamasatu tahun.Contoh :Vaksin
Difteri dan Tetanus
2. Vaksin Acellular dan Subunit
Vaksin yang dibuat dari bagian tertentu dalam virus atau bakteri dengan melakukan kloning dari gen
virus atau bakteri melalui rekombinasi DNA, vaksin vektor virus dan vaksin antiidiotipe.Contoh:Vaksin Hepatitis
B, Vaksin Hemofilus Influenza tipe b (Hib) dan Vaksin Influenza.
3. Vaksin Rekombinan
Vaksin rekombinan memungkinkan produksi protein virus dalam jumlah besar. Gen virus yang
diinginkan diekspresikan dalam sel prokariot atau eukariot. Sistem ekspresi eukariot meliputi sel bakteri E.coli,
yeast, dan baculovirus.Dengan teknologi DNA rekombinan selain dihasilkan vaksin protein juga dihasilkan
vaksin DNA. Penggunaan virus sebagai vektor untuk membawa gen sebagai antigen pelindung dari virus
lainnya, misalnya gen untuk antigen dari berbagai virus disatukan ke dalam genom dari virus vaksinia dan

imunisasi hewan dengan vaksin bervektor ini menghasilkan respon antibodi yang baik. Susunan
vaksin ini (misal hepatitis B) memerlukan-epitop organisme yang patogen. Sintesis dari antigen vaksin tersebut
melalui isolasi dan penentuan kode gen epitop bagi sel penerima vaksin.
4. Vaksin DNA (Plasmid DNA Vaccines)
Vaksin dengan pendekatan baru dalam teknologi vaksin yang memiliki potensi dalam menginduksi
imunitas seluler. Dalam vaksin DNA gen tertentu dari mikroba diklon ke dalam suatu plasmid bakteri yang
direkayasa untuk meningkatkan ekspresi gen yang diinsersikan ke dalam sel mamalia. Setelah disuntikkan DNA
plasmid akan menetap dalam nukleus sebagai episom, tidak berintegrasi kedalam DNA sel (kromosom),
selanjutnya mensintesis antigen yang dikodenya. Selain itu vektor plasmid mengandung sekuens nukleotida
yang bersifat imunostimulan yang akan menginduksi imunitas seluler. Vaksin ini berdasarkan isolasi DNA
mikroba yang mengandung kode antigenyang patogen dan saat ini sedang dalam perkembangan penelitian.
Hasil akhir penelitian pada binatang percobaan menunjukkan bahwa vaksin DNA (virus dan bakteri)
merangsang respon humoral dan selular yang cukup kuat,sedangkan penelitian klinis pada manusia saat ini
sedang dilakukan.
5. Vaksin Hepatitis B
Vaksin Hepatitis B dapat mencegah penyakit Hepatitis B dan berbagai komplikasinya yang serius yaitu
sirosis dan kanker.Vaksinasi Hepatitis B dibuat dari bagian virus, bukan seluruh virus tersebut sehingga vaksin
hepatitis tidak dapat menimbulkan penyakit hepatitis. Vaksin Hepatitis B diberikan 4 serial, pemberian serial ini
memberikan efek proteksi jangka panjang bahkan seumur hidup.
6. Vaksin Pneumokokus
Persatuan kesehatan sedunia menempatkan penyakit Pneumokokus yaitu penyakit yang dapat
dicegah dengan vaksin sebagai penyebab no.1 kematian anak-anak di bawah umur 5 tahun di seluruh dunia.
Bakteri Pneumonia (Pneumokokus) dapat menyebabkan penyakit Pneumokokus. Biasanya ditemukan di dalam
saluran pernafasan anak-anak yang disebarkan melalui batuk atau bersin.Kini terdapat lebih dari 90 jenis
Pneumokokus yang diketahui, namun hanya lebih kurang 10% yang bisa menyebabkan penyakit yang serius di
seluruh dunia. Jenis 19A adalah bakteri yang muncul di dunia dan dapat menyebabkan penyakit pneumokokus
yang sangat serius dan resisten terhadap antibiotik. Pneumokokus menyerang beberapa bagian tubuh yang
berbeda, diantaranya adalah:

Meningitis (Radang selaput otak)


5

Bakteremia (infeksi dalam darah)

Pneumonia (infeksi Paru-paru)

Otitis Media (infeksi Telinga)


Penyakit Pnemokokus sangat serius dan dapat menyebabkan kerusakan otak, ketulian, dan kematian.

2.6 Manfaat Vaksin

Dalam hal penyakit, lebih bijaksana untuk mencegah daripada mengobati.Salah satu caranya adalah
dengan memberikan vaksinasi.Vaksinasi sangat membantu untuk mencegahpenyakit-penyakit infeksi yang
menular baik karena virus atau bakteri, misalnya polio, campak, difteri, pertusis (batuk rejan), rubella (campak
Jerman), meningitis, tetanus, Haemophilus influenzae tipe b (Hib), hepatitis, dll.
Sebenarnya setiap anak lahir dengan sistem kekebalan penuh terdiri dari sel, kelenjar, organ, dan
cairan yang berada di seluruh tubuhnya untuk melawan bakteri dan virus yang menyerang.Sistem kekebalan
mengenali kuman yang memasuki tubuh sebagai penjajah asing, atau antigen, dan menghasilkan zat protein
yang disebut antibodi untuk melawan mereka.Suatu sistem kekebalan tubuh yang sehat dan normal memiliki
kemampuan untuk menghasilkan jutaan antibodi untuk membela serangan terhadap ribuan antigen setiap
hari.Mereka melakukannya-secara alami sampai-sampai orang bahkan tidak menyadari mereka sedang
diserang dan membela diri. Ketika serangan sudah terlalu banyak dan tubuh tidak mampu bertahan, barulah
orang akan merasakan sakit atau berbagai gejala penyakit. Banyak antibodi akan menghilang ketika mereka
telah menghancurkan antigen menyerang, tetapi sel-sel yang terlibat dalam produksi antibodi akan bertahan
dan menjadi sel memori. Sel memori ini dapat mengingat antigen asli dan kemudian mempertahankan diri
ketika antigen yang sama mencoba untuk kembali menginfeksi seseorang, bahkan setelah beberapa dekade
kemudian. Perlindungan ini disebut imunitas.
Vaksin mengandung antigen yang sama atau bagian dari antigen yang menyebabkan penyakit, tetapi
antigen dalam vaksin adalah dalam keadaan sudah dibunuh atau sangat lemah. Ketika mereka yang
disuntikkan ke dalam jaringan lemak atau otot, antigen vaksin tidak cukup kuat untuk menghasilkan gejala dan
tanda-tanda penyakit, tetapi cukup kuat bagi sistem imun untuk menghasilkan antibodi terhadap mereka. Sel-sel
memori yang menetap akan mencegah infeksi ulang ketika mereka kembali lagi berhadapan dengan antigen
penyebab penyakit yang sama di waktu-waktu yang akan datang.
.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Vaksin mengandung antigen yang sama atau bagian dari antigen yang menyebabkan penyakit, tetapi
antigen dalam vaksin adalah dalam keadaan sudah dibunuh atau sangat lemah. Ketika mereka yang
disuntikkan ke dalam jaringan lemak atau otot, antigen vaksin tidak cukup kuat untuk menghasilkan gejala dan
tanda-tanda penyakit, tetapi cukup kuat bagi sistem imun untuk menghasilkan antibodi terhadap mereka. Sel-sel
memori yang menetap akan mencegah infeksi ulang ketika mereka kembali lagi berhadapan dengan antigen
penyebab penyakit yang sama di waktu-waktu yang akan datang. Dengan demikian, melalui vaksinasi, anakanak mengembangkan kekebalan tubuh terhadap penyakit yang mestinya bisa dicegah. Namun perlu juga
diingat bahwa karena vaksin berupa antigen, walaupun sudah dilemahkan, jika daya tahan anak
atau host sedang lemah, mungkin bisa juga menyebabkan penyakit. Karena itu pastikan anak/host dalam
keadaan sehat ketika akan divaksinasi. Jika sedang demam atau sakit, sebaiknya ditunda dulu untuk
imunisasi/vaksinasi.