Anda di halaman 1dari 6

PORTOFOLIO

Topik:
Tanggal (Kasus)

Presenter :

Tanggal Presentasi :

Pendamping :

Tempat Presentasi :
Objektif Presentasi :
Keilmuan

Keterampilan

Penyegaran

Tinjauan

Pustaka
Diagnostik
Neonatus

Manajemen
Bayi

Anak

Masalah
Remaja

Dewasa

Istimewa
Lansia

Bumil

Deskripsi :
Tujuan : Diagnosis, Tatalaksana, pencegahan komplikasi pada pasien asma bronkial
Bahan Bahasan

Tinjauan

Riset

Kasus

Audit

Presentasi

Email

Pos

Pustaka
Cara membahas

Diskusi

dan diskusi

Data Pasien:

Nama

: Ny. Y

Umur : 32 tahun

Pekerjaan : Pedagang

Agama : Islam

Alamat

Bangsa : Indonesia

: Muara Bungo

Nama wahana : Puskesmas Muara Bungo I

Telp : -

No. Reg : -

Terdaftar sejak : -

Data utama untuk bahan diskusi :


1. Diagnosis / Gambaran Klinis : Sesak nafas disertai mengi
2. Riwayat Pengobatan

: Pasien memiliki riwayat asma dari kecil dan berobat dengan


salbutamol untuk hilangkan sesaknya

3. Riwayat Kesehatan / Penyakit :


Keluhan Utama

: Sesak nafas disertai mengi

Keluhan Tambahan

: Batuk

Riwayat Perjalanan Penyakit :


2hari yang lalu, os mengeluh sesak nafas disertai mengi, sesak dipengaruhi cuaca
dingin, sesak tidak dipengaruhi posisi tubuh. Sesak disertai batuk, dahak (+) berwarna putih,
kental, banyaknya sendok makan tiap batuk, demam (-).Os kemudian berobat ke
Puskesmas Bungo I.
Batuk bagaimana.. riwayat alergi pada keluarga

Riwayat Penyakit Keluarga :

Ada anggota keluarga pasien yang memiliki keluhan sesak nafas disertai mengi (Ibu
Os)

Riwayat Pekerjaan : Ibu rumah tangga

Riwayat kebiasaan: -

Pemeriksaan Fisik
Status Generalis
Keadaan Umum

: Baik

Kesadaran

: Compos mentis

Berat Badan

: 51 kg

Tinggi Badan

: 164 cm

Tekanan Darah

: 120/80 mmHg

Nadi

: 120 kali/menit, regular, isi dan tegangan cukup

Pernafasan

: 28 kali/menit, thoracoabdominal

Suhu

: 36,8 o C

Status Lokalis
Thoraks:
I : Statis, dinamis simetris kanan dan kiri, bentuk normochest, tidak ada pelebaran sela
iga, penggunaan otot-otot bantu pernafasan (+)
P : Stremfemitus, kanan sama dengan kiri
P : Sonor pada kedua lapang paru

A : Vesikuler (+) normal, ronkhi (-), wheezing (+)


Daftar Pustaka:
1. Riyanto BS, Hisyam B. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. Jakarta: FKUI
2. Alsagaff H, Mukty A. 2002. Dasar - Dasar Ilmu penyakit Paru. Edisi II. Surabaya:
Airlangga University Press.
3. Mansjoer A. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi III. Jakarta: FKUI
4. Mcfadden ER. 2003. Penyakit Asma Bronkial. Jakarta: EGC
Hasil Pembelajaran
1.Etiologi Asma Bronkial
2. Gejala klinis Asma Bronkial
3. Diagnosis Asma Bronkial
4. Penatalaksanaan Asma Bronkial
5. Pencegahan Asma Bronkial
6. Komplikasi Asma Bronkial

1. Subjektif :
2hari yang lalu, os mengeluh sesak nafas disertai mengi, sesak dipengaruhi cuaca
dingin, sesak tidak dipengaruhi posisi tubuh. Sesak disertai batuk, dahak (+) berwarna
putih, kental, banyaknya sendok makan tiap batuk, demam (-).Os kemudian berobat ke
Puskesmas Bungo I.

Riwayat Penyakit Keluarga :

Ada anggota keluarga Os yang memiliki keluhan sesak nafas disertai mengi (Ibu Os)

Riwayat Pekerjaan : Ibu rumah tangga


Riwayat kebiasaan: -

2. Objektif
Hasil pemeriksaan fisik yang menunjang penegakan diagnosis pada kasus ini
adalah:

Keadaan Umum

: Baik

Kesadaran

: Compos mentis

Berat Badan

: 51 kg

Tinggi Badan

: 164 cm

Tekanan Darah

: 120/80 mmHg

Nadi

: 120 kali/menit, regular, isi dan tegangan cukup

Pernafasan

: 28 kali/menit, thoracoabdominal

Suhu

: 36,8 o C

Status Lokalis
Thoraks:
I : Statis, dinamis simetris kanan dan kiri, bentuk normochest, tidak ada pelebaran sela
iga, penggunaan otot-otot bantu pernafasan (+)
P : Stremfemitus, kanan sama dengan kiri
P : Sonor pada kedua lapang paru
A : Bronkial (+) normal, ronkhi (-), wheezing (+)
3. Assessment
Asma oleh The American Thoracic Society (1962): adalah suatu penyakit dengan ciri
meningkatnya respon trakhea dan bronkus terhadap berbagai rangsangan dengan manifestasi
adanya penyempitan jalan napas yang luas dan derajatnya dapat berubah-ubah, baik secara
spontan maupun sebagai hasil suatu pengobatan.

Manifestasi Klinis
Gejala asma yang klasik terdiri atas batuk, sesak dan mengi (wheezing) dan pada
sebagian penderita disertai rasa nyeri di dada. Tetapi ada yang hanya disertai batuk tanpa
sesak. Dengan demikian ada derajat asma :
1. Tingkat pertama
Secara klinis normal, tetapi asma timbul jika ada faktor pencetus.
2. Tingkat kedua
Penderita asma tidak mengeluh dan pada pemeriksaan fisik tanpa kelainan tetapi
fungsi parunya menunjukkan obstruksi jalan nafas. Disini banyak ditemukan pada

penderita yang baru sembuh dari serangan asma


3. Tingkat ketiga
Penderita tidak ada keluhan tetapi pada pemeriksaan fisik maupun maupun fungsi paru
menunjukkan tanda-tanda obstruksi jalan nafas.
4. Tingkat keempat
Penderita mengeluh sesak nafas, batuk dan nafas berbunyi. Pada pemeriksaan fisik
maupun spirometri akan dijumpai tanda-tanda obstruksi jalan napas.
5. Tingkat kelima
Status asmatikus, yaitu suatu keadaan darurat medik berupa serangan akut asma yang
berat, bersifat refrakter terhadap pengobatan yang biasa dipakai.

Penegakkan diagnosis
1. Spirometri untuk menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas reversibel.
Cara yang paling cepat dan sederhana untuk diagnosis asma adalah melihat respon
pengobatan dengan bronkodilator. Pemeriksaan spirometri sebelum dan sesudah
pemberian bronkodilator aerosol (inhaler atau nebulizer) golongan adrenergik.
Peningkatan FEV1 atau FVC sebanyak > 20% menunjukkan diagnosis asma.
Pemeriksaan spirometri tidak saja penting untuk menegakkan diagnosis, tetapi juga
penting untuk menilai berat obstruksi dan efek pengobatan.
2. Tes provokasi bronkial untuk menunjukkan adanya hiperreaktifitas bronkus. Jika
pemeriksaan spirometri normal, untuk menunjukkan adanya hiperreaktifitas bronkus
harus dilakukan tes provokasi histamin, metakolin, alergen, kegiatan jasmani,
hiperventilasi dengan udara dingin bahkan inhalasi dengan aquadestilata. Penurunan
FEV1 sebesar 20% atau lebih setelah tes provokasi adalah bermakna.
3. Pemeriksaan tes kulit
Tujuan tes kulit yaitu menunjukkan adanya antibodi IgE yang spesifik dalam tubuh.
Tes ini hanya menyokong anamnesa, karena alergen yang menunjukkann tes kulit
yang positif tidak selalu merupakan penyebab asma; sebaliknya tes kulit yang negatif
tidak selalu berarti tidak ada faktor kerentanan kulit.
Komplikasi:

4. Plan :

Diagnosis

: Asma Bronkial

Penatalaksanaan :
Obat-obat yang digunakan untuk pengobatan asma secara garis besar dapat dibagi dalam
5 kelompok utama yaitu
1. Beta adrenergik
2. Methylxanthine
3. Glukokortikoid
4. Cromolyn sodium
5. Anti kolinergik
Di samping itu terdapat obat-obat lain yang sering digunakan sebagai terapi tambahan
pada penderita asma seperti ekspektoran dan antibiotik.

Pada kasus pengobatan yang diberikan adalah :

Ambroxol tab 3x30mg

Metilprednisolon tab 3x4mg

Salbutamol 3x4mg

Edukasi Keluarga
-

Menjelaskan kepada pasien tentang hal-hal pemicu terjadinya serangan asma.

Menjelaskan kepada pasien untuk menghindari faktor-faktor pemicu terjadinya


serangan asma.