Anda di halaman 1dari 8

BIAYA OVERHEAD PABRIK II

I. Pengertian
Departemenisasi BOP adalah : Pembagian pabrik ke dalam bagian-bagian yang disebut
Departemen dimana BOP akan dibebankan.Departementalisasi biaya overhead pabrik
bermanfaat untuk pengendalian biaya dan ketelitian penentuan harga pokok produk.
Pengendalian biaya overhead pabrik dapat lebih mudah dilakukan dengan cara
menghubungkan biaya dengan pusat terjadinya, sehingga dengan demikian akan
memperjelas tanggung jawab setiap biaya yang terjadi dalam departemen tertentu.
Dengan digunakannya tarif-tarif biaya overhead pabrik yang berbeda-beda untuk tiap-tiap
departemen, maka pesanan atau produk yang melewati departemen produksi akan
dibebani dengan biaya overhead pabrik sesuai dengan tarif departemen yang
bersangkutan. Hal ini berakibat terhadap ketelitian penentuan harga pokok produk.
II. Cara Penentuan Tarif BOP Departementalisasi
Langkah-langkah penentuan tarif biaya overhead departementalisasi adalah sebagai
berikut:
1. Disusun terlebih dahulu anggaran biaya overhead pabrik per departemen
Penyusunan anggaran biaya overhead pabrik per departemen dibagi menjadi empat
tahap utama berikut ini :
a. Penaksiran biaya overhead pabrik langsung departemen atas dasar kapasitas
yang direncanakan untuk tahun anggaran.
b. Penaksiran biaya overhead pabrik tak langsung departemen
c. Distribusi biaya overhead pabrik tak langsung departemen ke departemendepartemen yang menikmati manfaatnya
d. Penjumlahan biaya overhead pabrik per departemen (baik biaya overhead
pabrik langsung maupun tak langsung departemen) untuk mendapatkan
anggaran biaya overhead pabrik per departemen (baik departemen
produksi maupun departemen pembantu).
2. Mengalokasikan biaya overhead pabrik departemen pembantu ke departemen produksi
dengan cara :
a) Metode Alokasi Langsung
Dalam metode alokasi langsung biaya overhead pabrik departemen pembantu
dialokasikan ke tiap-tiao departemen produksi yang menikmatinya. Metode
alokasi langsung digunakan apabila jasa yang dihasilkan oleh deparemen
pembantu hanya dinikmati oleh departemen produksi saja. Tidak ada departemen
pembantu yang memakai jasa departemen pembantu yang lain.
b) Metode Alokasi Bertahap
Metode ini digunakan apabila jasa yang dihasilkan departemen pembantu tidak
hanya dipakai oleh departemen produksi saja tetapi digunakan pula oleh
departemen pembantu yang lain.

Metode alokasi bertahap dibagi menjadi dua kelompok yaitu :


1. Metode alokasi bertahap yang memperhitungkan jasa timbal balik antar
departemen-departemen pembantu. Yang termasuk dalam metode ini adalah :
a) Metode alokasi kontinyu (continuous allocation method)
yaitu biaya overhead pabrik departemen-departemen pembantu
yang saling memberikan jasa dialokasikan secara terus menerus
sehingga jumlah biaya overhead pabrik yang belum dialokasikan
menjadi tidak berarti.
b) Metode aljabar (algebraic method)
Dalam metode ini jumlah biaya tiap-tiap departemen pembantu
dinyatakan dalam persamaan aljabar.
2. Metode alokasi bertahap yang tidak memperhitungkan transfer jasa timbal balik
antar departemen pembantu. Metode alokasi yang termasuk dalam kelompok ini
adalah "metode urutan alokasi yang diatur" (specified order of closing).
III. Perhitungan Tarif Pembebanan Biaya Overhead Pabrik per Departemen
Istilah yang dipakai untuk menggambarkan pembagian biaya overhead
pabrik tak langsung departemen kepada departemen-departemen yang menikmati
manfaatnya, baik departemen produksi maupun departemen pembantu adalah
distribusi biaya overhead pabrik
Istilah yang digunakan untuk menggambarkan pembagian biaya overhead pabrik
departemen pembantu ke departemen produksi, atau dari departemen pembantu ke
departemen pembantu yang lain dan departemen produksi adalah alokasi biaya
overhead pabrik
Istilah yang digunakan untuk menggambarkan pembagian biaya overhead pabrik di
departemen produksi kepada produk adalah pembebanan biaya overhead pabrik

CONTOH SOAL
PT. MUTIARA mengolah produknya melalui tiga departemen produksi yaitu Dept A, Dept
B, dan Dept C, serta tiga departemen pembantu yaitu Dept. X, Dept. Y dan Dept Z.
Budget BOP per departemen untuk tahun 1995 nampak sebagai berikut :
PT. MUTIARA
Budget biaya Produksi Departemen Tahun 1995
Jumlah

Departemen Produksi
Departemen Pembantu
Dept A Dept B Dept C Dept X Dept Y Dept Z

Biaya bahan baku


B. tenaga kerja langs
Biaya bahan penolong
Biaya bahan bakar
Biayakesejht. karyawan
Biaya reparasi mesin
Biaya penyusutan
Biaya asuransi
Biaya listrik
Total
:

6500
8750
2900
2000
2310
2750
1800
1000
2000
30010

3250
3750
1100
1000
800
500
200
600
11200

1800
2250
1000
500
600
550
172
500
7372

700
1275
500
600
500
400
190
350
4515

400
700
100
100
400
150
188
250
2288

200
500
150
2000
60
300
75
94
200
3579

150
275
50
50
150
125
156
100
1056

Taksiran jasa departemen pembantu yang dipakai oleh departemen produksi :


Departemen Produksi
Dept A
Dept B
50%
30%
40%
35%
45%
45%

Dept. pembantu Z
Dept. pembantu Y
Dept. pembantu X

Dept C
20%
25%
10%

Atas dasar data diatas saudara diminta mengalokasikan BOP departemen pembantu ke
departemen produksi dengan metode alokasi langsung, dan hitunglah berapa besar biaya
produksi tiap departemen produksi.

PENYELESAIAN :
PT. MUTIARA
Alokasi BOP Dept pembantu ke Dept Produksi
(dalam ribuan)
Departemen produksi

Departemen Pembantu

Keterangan
Jumlah BOP dept
Alokasi BOP dept Z
Alokasi BOP dept Y
Alokasi BOP dept X
Jumlah alokasi BOP
dari dept pembantu
Jumlah BOP dept prod
setelah menerima alokasi
dari dept pembantu

Dept A
4200
315,5
1151,6
534,6

Dept B
3322
189,3
1007,63
534,6

Dept C
2540
126,2
719,75
118,8

2001,7

1731,55

964,75

6201,7

5053,55

3504,75

Dept X
1188
(1188)
0

Dept Y
2879
(2879)
0

Dept Z
631
(631)
0

Biaya produksi :
Dept A : (6.201,7 + 3.250 + 3.750)
Dept B : (5.053,55 + 1.800 + 2.250)
Dept C : (3.504,75 + 700 + 1.275)

= Rp 13.201,7
= Rp 9.085,55
= Rp 5.479,75

SOAL - SOAL PRAKTIKUM


KASUS 1
Sebuah industri tekstil PT. CC
G mendistribusikan budget BOP tidak langsung departemen dengan ketentuan sebagai
berikut :
Elemen Biaya

Biaya penyusutan pabrik


Biaya listrik pabrik
Biaya asuransi kebakaran
Biaya perawatan mesin
Gaji pegawai

Jumlah

Rp. 180.000,Rp. 60.000,Rp. 420.000,Rp. 75.000,Rp. 240.000,-

Dasar Distribusi

Luas lantai ( m2 )
Kwh
Luas lantai (m2 )
Nilai mesin
Jumlah karyawan

Berdasarkan hasil penelitian pabrik pada tahun 1994, diperoleh data sebagai berikut :
Departemen

Produksi A

Luas lantai (m2)

10.500

Kwh

240.000

Nilai mesin (Rp)

4.500.000

Jumlah karyawan

40

Produksi B
Pembantu X
Pembantu Y
Pembantu Z

7.500
4.500
3.000
4.500

30.000

240.000
60.000
30.000
30.000

600.000

3.000.000
3.000.000
2.250.000
2.250.000

15.000.000

40
24
24
32

160

Diminta :
Hitunglah jumlah budget biaya overhead pabrik tidak langsung departemen untuk departemen
produksi A dan B, serta departemen pembantu X, Y dan Z.

JAWABAN :

KASUS 1
PT. CCG
) Biaya Penyusutan :
Distrbusi biaya penyusutan pabrik sebesar Rp. 180.000, Dasar distribusi adalah luas lantai = 30.000 m2
Rp. 180.000,2
Distribusi per m = = Rp. 6,- / m2
30.000
Dept. A

Luas lantai (m2)


10.500
Distribusi
Rp. 63.000

Dept. B

7.500
Rp. 45.000

Dept. X

4.500
Rp. 27.000

Dept. Y

3.000
Rp. 18.000

Dept. Z

4.500
Rp. 27.000

) Biaya Listrik Pabrik :


Distrbusi biaya listrik pabrik sebesar Rp. 60.000, Dasar distribusi adalah Kwh = 600.000 Kwh
Rp. 60.000,Distribusi per Kwh = = Rp. 0,1 / Kwh
600.000

Jumlah Kwh
Distribusi

Dept. A

240.000
Rp. 24.000

Dept. B

240.000
Rp. 24.000

Dept. X

60.000
Rp. 6.000

) Biaya Asuransi Kebakaran :


Distrbusi biaya asuransi kebakaran besar Rp. 420.000, Dasar distribusi adalah luas lantai = 30.000 m2
Rp. 420.000,2
Distribusi per m = = Rp. 14,- / m2
30.000

Dept. Y

30.000
Rp. 3.000

Dept. Z

30.000
Rp. 3.000

Dept. A

Luas lantai (m2)


10.500
Distribusi
Rp. 147.000

Dept. B

7.500
Rp. 105.000

Dept. X

4.500
Rp. 463.000

Dept. Y

3.000
Rp. 42.000

Dept. Z

4.500
Rp. 63.000

) Biaya Perawatan Mesin :


Distrbusi biaya perawatan mesin sebesar Rp. 75.000, Dasar distribusi adalah nilai mesin = Rp. 15.000.000,Rp. 75.000,Distribusi nilai mesin = = Rp. 0,005
Rp. 15.000.000,Dept. A

Nilai mesin (Rp) 4.500.000


Distribusi
Rp. 22.500

Dept. B

3.000.000
Rp. 15.000

Dept. X

3.000.000
Rp. 15.000

Dept. Y

2.250.000
Rp. 11.250

Dept. Z

2.250.000
Rp. 11.250

) Gaji Pegawai :
Distrbusi biaya gaji pegawai sebesar Rp. 240.000, Dasar distribusi adalah jumlah karyawan = 160 karyawan
Rp. 240.000,Distribusi nilai mesin = = Rp. 1.500,- / karyawan
160
Dept. A

Nilai mesin (Rp)


40
Distribusi
Rp. 60.000

Dept. B

40
Rp. 60.000

Dept. X

24
Rp. 36.000

Dept. Y

24
Rp. 36.000

Dept. Z

32
Rp. 48.000

Ringkasan perhitungan diatas adalah sebagai berikut :


Elemen Biaya Yang
Didistribusikan

Dept. Produksi

Dept. Pembantu

Jumlah

Penyusutan Pabrik
Listrik Pabrik
Asuransi Kebakaran
Perawatan Mesin
Gaji Pengawas

180.000
60.000
420.000
75.000
240.000

63.000
24.000
147.000
22.500
60.000

40.000
24.000
105.000
15.000
60.000

27.000
6.000
63.000
15.000
36.000

18.000
3.000
42.000
11.250
36.000

27.000
3.000
63.000
11.250
48.000

Jumlah Budget BOP


Tidak Langsung Dept.

975.000

316.500

249.000

147.000

110.250

152.250

KASUS 2
PT. KELAPA DUA bergerak dalam bidang manufaktur yang mempunyai data-data sebagai
berikut :
Departemen Produksi
A
Budget
BOP
sebelum Rp. 180.000,alokasi
50 %
Jasa dari Dept. X
40 %
Jasa dari Dept. Y
40.000 jam
Dasar Pembebanan
60 %
Tarif Tetap
40 %
Tarif Variabel

Departemen Pembantu

Rp. 131.000,-

Rp. 155.000,-

Rp. 84.000,-

40 %

10 %

55 %

5%

50.000 jam
50 %
50 %

Diminta :
1. Buatlah Tabel Alokasi Budget BOP dari departemen pembantu X dan Y ke departemen
produksi A dan B, dengan menggunakan metode aljabar.
2. Hitunglah Tarif BOP Tetap dan Variabel untuk masing-masing departemen.

JAWABAN :
KASUS 2
PT. KELAPA DUA
1. Tabel Alokasi Budget BOP :
Departemen Produksi

Departemen Pembantu

Budget BOP sebelum alokasi

Rp. 180.000

Rp. 131.000

Rp. 155.000

Rp. 84.000

Jasa dari Dept. X


Jasa dari Dept. Y

Rp. 80.000
Rp. 40.000

Rp. 64.000
Rp. 55.000

( Rp. 160.000 )
Rp. 5.000

Rp. 16.000
( Rp. 100.000 )

Rp. 120.000

Rp. 119.000

( Rp. 155.000 )

( Rp. 84.000 )

Rp. 300.000

Rp. 250.000

Budget BOP setelah alokasi

Perhitungan :
X = 155.000 + 0,05 Y (1)
Y = 84.000 + 0,10 X (2)
0,05 Y = 155.000 X
[ x 1 ] 0,05 Y = 155.000 X
Y = 84.000 + 0,1 X [ x 10 ]
10 Y = 840.000 + X +
9,95 Y = 995.000
Y = Rp. 100.000,X = 155.000 + 0,05 ( 100.000 ) = Rp. 160.000,2. Perhitungan tarif BOP :
Departemen A
Tarif BOP per jam :
Rp. 300.000
40.000
Rp. 250.000
50.000

Rp. 7,5

Departemen B

Rp. 5,-

Tarif BOP Tetap :


60 % x Rp. 7,50
50 % x Rp. 5,-

Rp. 4,5

Rp. 2,5

Tarif BOP Variabel :


40 % x Rp. 7,50
50 % x Rp. 5,-

Rp. 3,

Rp. 2,5