Anda di halaman 1dari 9

OKTOBER 2014 EDISI 18

Maritim 1
JURNAL

Maritim
JURNAL

EDISI 18 OKTOBER 2014

Dari Redaksi
Kamla, Kunci Utama Wujudkan
Indonesia Poros Maritim Dunia

sai Pelantikan Presiden pada 20 Oktober


2014, gagasan presiden terpilih Joko
Widodo tentang Indonesia sebagai Poros
Maritim Dunia bukan lagi terma politik. Ia
akan berubah dalam kebijakan derivatif
yang realistis bertumpu pada profesionalitas peran
masing-masing stakeholder.
Joko Widodo tengah mengirim pesan kuat tentang
pentingnya menomorsatukan kembali potensi
kemaritiman Indonesia yang selama ini kurang
dieksplorasi. Maritim tentu saja bukan hanya tentang
industri kapal atau pelayaran. Maritim bahkan bisa
dimaknakan sebagai manunggalnya rakyat Indonesia
dengan kodrat alam pemberian Tuhan Yang Maha Esa.
Poros Maritim adalah simplifikasi Jokowi untuk
mengajak publik agar tak ingkar pada takdir Negara
Maritim. Jokowi sadar sepenuhnya, Indonesia memiliki
potensi besar untuk menjadi pusat kemaritiman dunia,
bila kepemimpinan nasionalnya efektif.
Undang-Undang Kelautan telah disahkan. Meski tak
seluruhnya mengatur kemaritiman, undang-undang
yang hampir tak lahir ini membuka jalan penting bagi
porsi keamanan laut (kamla) yang lebih baik. Badan
Keamanan Laut (Bakamla) pun diamanatkan undangundang untuk segera dilahirkan. Bakamla dapat
dianggap cara paling solutif, menepis ego sektoral 13
institusi yang kemarin, berwenang di laut.

Mengapa keamanan laut menjadi sangat penting?


Karena Negara Maritim dan keamanan laut itu sepaket.
Tanpa pengawasan dan pengamanan laut memadai,
mustahil dapat menyelamatkan potensi kelautan yang
sungguh besar di Perairan Nusantara.
Undang-Undang Kelautan menjadi pintu menuju
unified platform. Tidak ada lagi istilah koordinasi di
laut. Pada konteks laut, koordinasi merepresentasi
kepermisifan dan kepemimpinan yang lemah.
Berurusan dengan laut, Indonesia harus rigid. Faktanya,
Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) mewakili
kedaulatan dan keamanantermasuk keselamatan
menjadi berimpit.
Empat fungsi laut, yakni geopolitik, transportasi,
resources, dan defence harus direvitalisasi dan disatukan
dalam one policy. Jadi, hanya ada dua institusi yang
bertanggung jawab di laut, ialah TNI AL dan Badan
Keamanan Laut (Bakamla).
Semisal terjadi kecelakaan laut, pihak yang
kompeten untuk bertanggung jawab menjadi jelas.
Kinerja dua lembaga kamla pun menjadi akuntabel,
bisa dievaluasi, dan bisa dimitigasi.
Kesimpulannya, Undang-Undang Kelautan yang
mengintegrasikan multisektor telah memperlihatkan
format yang sama dengan Indonesia Poros Maritim
Dunia. Mari menyongsong era maritim untuk Indonesia
yang lebih baik.

PEMIMPIN UMUM
Sabrun Jamil Amperawan

SEKRETARIS REDAKSI
Dian Purnama Sari

PEMIMPIN USAHA
Adhi Prastowo

PEMIMPIN REDAKSI
A Shalahuddin

REPORTER
Ikawati
Indarti
Tinu Sicara
Damar Budi Purnomo
Anwar Iqbal
Benny Syahputra
Adityo Nugroho

IKLAN DAN PEMASARAN


M Ashim Islam
Yodsa Rienaldo
Andri Rezeki
Allifia Fitriani Citra

FOTOGRAFI DAN
PERISET FOTO
Firmanto Hanggoro

DISTRIBUSI/SIRKULASI
Achmad Subhan
Rudi Kamal
Vidra Hanafi
M Yasin

DEWAN REDAKSI
Rubianto
Sabrun Jamil Amperawan
A Shalahuddin
Adhi Prastowo
K Wisnubroto
Bagus Satriyanto
REDAKTUR PELAKSANA
K Wisnubroto
REDAKTUR
K Wisnubroto
A Shalahuddin
Achmad Fadjar
Arif Giyanto
Suryo AB

DESAIN KREATIF
Sena Putra Pratama
Arwindra
Tania Novianti

HRD
Rahayu Dian Lestari

KOLUMNIS KHUSUS
Prof Dr Ir Budi Susilo Soepandji
dr Hariman Siregar
Dr Chandra Motik Yusuf, SH, MSc
Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri, MS
Ir Daniel M Rosyid PhD, M RINA
Ir Sunaryo, PhD
Ir Harsusanto, MM
Ir Sjaifuddin Thahir, MSc
Ir Tri Achmadi, MSc PhD
KANTOR
Jl Sungai Sambas VI No 1
Kebayoran Baru, Jakarta Selatan,
Indonesia, 12130
Telp +62 21 7229318
Fax +62 21 7229317
redaksi@jurnalmaritim.com
marketing@jurnalmaritim.com
event@jurnalmaritim.com
admin@jurnalmaritim.com
Twitter @JurnalMaritim
www.jurnalmaritim.com

OKTOBER 2014 EDISI 18

Maritim 3
JURNAL

Daftar Isi
PELAYARAN
18
Efisiensi Konektivitas Domestik Melalui

Jalur Short Sea Shipping
KELAUTAN
22
Perbaikan Perikanan, WWF Indonesia

Inisiasi Program Seafood Savers
LOGISTIK
26
Membendung Praktik Rente Peti Kemas
LIPUTAN KHUSUS
30
Stig Traavik:

Efisiensi Bahan Bakar Kunci

Poros Maritim Dunia

LAPORAN UTAMA
Menyongsong Era LNG Shipping
6

KORPORASI
PLN Batam Pelopor CNG Marine dan
34

Mini Plant LNG

10 Wawancara

Presiden Direktur

PT Nusantara Regas

Tammy Meidharma Sumarna

PELABUHAN
Integrasi Ekonomi Lewat Reformasi
36
Logistik Maritim

Pentingnya Pelaksanaan Reformasi
40
Logistik Kemaritiman Di Indonesia

12
Menyambut Era Gas di Industri
Pelayaran

GEOPOLITIK
Kisah Godzilla dari Bumi Marinir Cilandak
44
KEAMANAN LAUT
Bakamla, Energi Baru
48

Kedaulatan Laut NKRI
PERSPEKTIF
Brigjen Pol DR Bambang Usadi, MM
52

Good and Clean Governance pada Institusi
Maritim
Willy F Sumakul
56

Strategi Maritim Cocok untuk Pertahanan
Indonesia
M Riza Damanik
58

Menjadi Bangsa-Laut
ARCHIPELAGO
Surga Burung Pulau Rambut
64

ILUSTRASI COVER: GTT.fr/diolah

Maritim
JURNAL

EDISI 18 OKTOBER 2014

Dari Pembaca
Joeswanto Karijodimejo, Direktur Utama PT Janata Marina Indah, dan mantan Ketua
Umum Iperindo
Sejauh ini dan sepanjang sepengetahuan saya sebagai praktisi di industri perkapalan lebih
dari tiga puluh lima tahun, saya masih belum melihat langkah konkret dari pemerintah
bagaimana mendorong pertumbuhan industri komponen kapal.
Pudjatmanto, Humas PT Biro Klasifikasi Indonesia (BKI)
Saat ini salah satu yg perlu dikembangkan dalam dunia perkapalan adalah scrapping
shipyard. Sekarang banyak kapal-kapal tua yg sudah seharusnya discrap, akan tetapi masih
tetap boleh dipakai. Ke depan perlu didorang regulasi yang akan mewajibkan scrapping bagi
kapal-kapal yang sudah berusia tua.
Rio Pratama, Mahasiswa FIKOM YAI, Jakarta
Pesona 17.504 pulau di Indonesia dengan bentangan garis pantai 95.181 km dari Sabang
sampai Merauke menjadi sajian terindah bagi para penikmat wisata bahari dunia.
Disayangkan banyak masyarakat Indonesia sendiri masih lebih senang bepergian ke negara
lain untuk berwisata. Dengan demikian pendapatan pariwisata Indonesia masih sejalan
dengan pengeluaran masyarakat kita sendiri yang berwisata ke luar negeri. Sungguh patut
disayangkan.
Edo Pratama, Mahasiswa FISIP Universitas Nasional, Jakarta
Definisi maritim memang masih simpang siur di kalangan masyarakat. Dalam pengamatan
saya sebagai mahasiswa, pengertian maritim lebih ditekankan kepada segala aktivitas
pelayaran dan perniagaan/perdagangan yang berhubungan dengan kelautan atau
disebut pelayaran niaga. Sedangkan hal lain yang menyangkut eksplorasi, eksploitasi atau
penangkapan ikan bukan merupakan kemaritiman. Meski demikian, kita sebagai bangsa
Indonesia memang memiliki keunikan tersendiri dari segi geografis, sebagai negara
kepulauan terbesar di dunia, sehingga kita bisa menerjemahkan sendiri makna maritim yang
sesuai dengan karakteristik negara kita yang unik.
Andreas Kambey, Mahasiswa Bina Sarana Informatika, Depok
Laut Indonesia yang luas menyimpan beraneka ragam kekayaan seperti ikan, terumbu
karang, dan makhluk lainnya. Namun, untuk mendapatkan kebutuhan hidup dari sumber
laut di Indonesia, kadang nelayan masih suka menangkap ikan dengan cara yang salah untuk
mendapatkan ikan di laut seperti memberi racun atau bahkan tidak segan menggunakan
bom yang dapat merusak terumbu karang. Hal ini tentu harus ditindaklanjuti dengan lebih
baik lagi agar laut Indonesia tetap terjaga.

OKTOBER 2014 EDISI 18

Maritim 5
JURNAL

LAPORAN UTAMA

JURNAL MARITIM/FIRMANTO
JURNAL MARITIM/WISNUBROTO

Menyongsong Era
LNG Shipping
Potensi deposit gas Indonesia yang amat besar serta memiliki geografis kepulauan
menjadi peluang bagi pasar distribusi dan angkutan laut LNG skala kecil.

ekanan
membengkaknya
subsidi bahan bakar
minyak (APBN) pada
tahun ini membuat
pemerintah kesulitan bergerak
untuk mendorong pertumbuhan
ekonomi. Pemerintah dan
DPR sudah menetapkan pada
RAPBN 2015 alokasi subsidi BBM
- termasuk di dalamnya untuk
LPG dan biodiesel - sebesar Rp276
triliun! Di satu sisi, kalangan juga
pengusaha menjerit dengan
ketidakpastian penaikan harga jual

Maritim
JURNAL

BBM. Mereka juga mengeluhkan


tingginya tarif listrik tapi tidak
diimbangi dengan pelayanan yang
baik. Stimulus anggaran untuk
infrastruktur dan pelayanan sosial
masyarakat diperkirakan tidak
lebih baik dari tahun sebelumnya
sehingga pertumbuhan ekonomi
pada tahun 2015-2016 diprediksi
tidak mencapai di atas 6%.
Persoalan subsidi BBM yang
mendera ini tak lantas membuat
peluang lain memanfaatkan energi
alternatif sebagai pendorong
industri tertutup. Pemanfaatan gas

EDISI 18 OKTOBER 2014

domestik yang belum maksimal


serta wilayah kepulauan Indonesia
yang begitu luas diharapkan
membuat sistem logistik nasional
lebih efisien. Kesenjangan
ekonomi antara wilayah barat dan
timur diharapkan bisa ditutupi
dengan sistem transportasi
laut yang efisien baik dengan
menggunakan bahan bakar gas
ataupun menjadi feeder gas untuk
kebutuhan listrik dan industri
bagi wilayah timur sendiri atau
mensuplai gas untuk wilayah barat.
Demikian benang merah yang