Anda di halaman 1dari 18

PT PLN (Persero)

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Aspek Teknis Dalam Perhitungan Setting Penghantar

4. ASPEK TEKNIS DALAM PERHITUNGAN SETTING PENGHANTAR

4.1 Konfigurasi jaringan dan Sistem Pentanahan


4.1.1 Klasifikasi Panjang Saluran Transmisi
Panjang

saluran

transmisi

dapat

dikelompokan

berdasarkan

perbandingan impedansi sumber terhadap impedansi saluran yang


diproteksi (Source to Impedance Ratio = SIR) dikelompokan kedalam
tiga kategori yaitu saluran transmisi pendek, menengah dan panjang.
SIR menunjukan kekuatan sistem yang akan diproteksi, semakin kecil
SIR berarti semakin kuat sumber yang memasok saluran transmisi
tersebut, dan sebaliknya.
- Saluran Pendek dengan

SIR 4

- Saluran Menengah dengan

0.5 < SIR < 4

- Saluran Panjang dengan

SIR 0.5

Untuk sistem tegangan yang lebih besar dengan SIR yang sama akan
diperoleh panjang saluran yang lebih besar, dengan demikian
pengelompokan saluran pendek, sedang dan panjang akan berbeda
untuk sistem tegangan yang berbeda. Sebagai pertimbangan, untuk
Saluran transmisi dengan panjang tertentu, impedansi per unit berubah,
lebih dipengaruhi tegangan nominal daripada impedansi ohmik.
Faktor ini bersama dengan perbedaan impedansi hubung singkat pada
tingkat tegangan yang berbeda, menunjukkan bahwa tegangan nominal
mempengaruhi SIR oleh kerena itu jenis relai dan pola proteksi yang
akan dipergunakan harus disesuaikan dengan panjang saluran
transmisi yang dilindungi. Untuk penghantar dengan 2 SIR yang
berbeda dipilih SIR yang terbesar.

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

42

PT PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Aspek Teknis Dalam Perhitungan Setting Penghantar

4.1.2 Sistem Pentanahan


Pada saluran transmisi, umumnya ditanahkan secara langsung (solid),
dengan semua sumber pentanahan terhubung secara fisik ke
pentanahan di terminal. Akan tetapi, beberapa sistem transmisi lama
ditanahkan melalui tahanan pentanahan untuk mengurangi arus
gangguan satu fasa ke tanah.
Sistem pentanahan dengan tahanan dalam hal tertentu lebih sulit
diproteksi. Permasalahan yang mungkin timbul adalah arus gangguan
yang terjadi dapat lebih kecil nilainya dari pada arus beban. Hal ini
dapat mengurangi kehandalan pada skema arus. Masalah lain adalah
arus gangguan yang mengalir sefasa dengan arus beban, yang
menyulitkan

dalam

membedakan

mana

yang

merupakan

arus

gangguan dan arus beban. Kondisi ini mengurangi kemungkinan


penggunaan hanya satu skema relai berbasis impedansi saja pada
sistem transmisi dengan pentanahan sistem tahanan.
Sistem transmisi 150 kV, 275 kV dan 500 kV hanya menggunakan satu
macam

pentanahan

netral

yaitu

pentanahan

langsung

(solid).

Pentanahan ini dapat dikatakan sebagai pentanahan efektif bila


memenuhi Xo/X1 < 3,0 dan Ro/X1 < 1,0). Dengan sistem pentanahan
efektif, arus gangguan fasa-tanah yang timbul cukup besar sehingga
peralatan proteksi dapat bekerja lebih selektif namun memerlukan
waktu pemutusan yang lebih cepat.
Pada sistem transmisi 70 kV menggunakan berbagai macam sistem
pentanahan titik netral yaitu :
- Sistem 70 kV di wilayah Jawa Barat dan DKI Jaya mengunakan
tahanan rendah 40 - 62
- Sistem 70 kV di wilayah Jawa Timur mengunakan tahanan tinggi
200

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

43

PT PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Aspek Teknis Dalam Perhitungan Setting Penghantar

- Sistem 70 kV di wilayah Palembang mengunakan tahanan tinggi


133
- Sistem 70 kV di wilayah Bengkulu dan Sulawesi Utara mengunakan
pentanahan langsung (solid )

4.1.3 Jenis Saluran


Saluran transmisi dapat berupa saluran udara atau saluran kabel
maupun kombinasi dari keduanya.
Saluran transmisi yang terdiri dari saluran kabel dan saluran udara,
tetapi saluran kabel lebih dominan maka digunakan proteksi saluran
kabel. Sebaliknya, jika saluran udara yang lebih dominan maka
digunakan proteksi saluran udara. Untuk kasus khusus yang sulit
dibedakan mana yang lebih dominan, perlu ditetapkan berdasarkan
perhitungan-perhitungan sesuai dengan keadaan saluran tersebut.
Sebagian besar gangguan pada saluran udara adalah gangguan
temporer sehingga untuk mempertahankan kontinuitas penyaluran
digunakan penutup balik otomatis, sedangkan pada saluran kabel
gangguan yang terjadi adalah gangguan yang bersifat permanen
sehingga tidak diperlukan penerapan penutup-balik otomatis.
Pada saluran kabel induktansi cenderung lebih kecil dari pada saluran
udara sehingga reaktansi gangguan menjadi lebih kecil. Hal ini menjadi
pertimbangan dalam pemilihan jenis relai.

4.1.4 Konfigurasi Transmisi.


Konfigurasi saluran transmisi dapat berupa jaringan sirkit tunggal,
ganda, radial, loop, T-connection. Konfigurasi ini menjadi pertimbangan
dalam memilih pola proteksi dan pola auto reclose.
Pada konfigurasi saluran transmisi yang pasokan daya pada salah satu
ujung sangat lemah (Weak Infeed), seperti pada jaringan radial,

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

44

PT PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Aspek Teknis Dalam Perhitungan Setting Penghantar

memerlukan fungsi khusus bila menggunakan relai jarak. Sebagai


contoh pada saluran weak infeed digunakan fungsi carrier recieve dan
under voltage untuk mendeteksi gangguan.

4.2 Pengaruh Infeed Current terhadap Distance Relay


Infeed merupakan fenomena penambahan atau pengurangan arus yang
melalui suatu titik yang tidak dirasakan oleh relai. Infeed current akan
mempengaruhi

besaran impedansi yang dideteksi oleh relai sehingga

seolah-olah menjadi lebih besar atau sebaliknya menjadi lebih kecil.


Faktor infeed ini akan berpengaruh pada penentuan setting jangkauan
impedansi pada zone-2 dan zone-3, seperti pada konfigurasi pada
jaringan-jaringan sbb :
4.2.1 Adanya pembangkit pada ujung saluran yang diamankan

I1 + I2
F

I2

A
B

I1

F21

rele A

Gbr-4.2.1: Pengaruh infeed adanya akibat pembangkit di


ujung saluran

Pada saat terjadi gangguan di titik F maka impedansi yang dilihat


relai adalah :
ZRA= VRA / IRA=( I1.ZAB + (I1+I2).ZBF ) / I1
ZRA= ZAB + (I1+I2) / I1.ZBF
ZRA= ZAB + k.ZBF
Jadi, faktor infeed k = (I1+I2) / I1

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

45

PT PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Aspek Teknis Dalam Perhitungan Setting Penghantar

4.2.2 Adanya perubahan dari Saluran transmisi ganda ke tunggal


Jika terjadi gangguan pada titik F impedansi yang terlihat oleh relai A
adalah :
I

2I
F

F21
relai A

Gbr-4.2.2 : Pengaruh infeed saluran ganda ke tunggal

ZRA= VRA / IRA = ( I.ZAB + 2I.ZBF ) / I

ZRA= ZAB + 2.ZBF


Jadi faktor infeed,

k=2

4.2.3. Saluran Transmisi Ganda ke Ganda.


Jika terjadi gangguan pada titik F impedansi yang terlihat oleh relai
A adalah :
I

I1
F

S
I

x
B

(1-x)

F21
relai A

Gbr-4.2.3 : Pengaruh infeed saluran ganda ke ganda

ZRA= VRA / IRA = ( I.ZAB + I1.ZBF ) / I

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

46

PT PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Aspek Teknis Dalam Perhitungan Setting Penghantar

ZRA= ZAB + I1/I.ZBF

I1=2I.(2L-X)./2L

ZRA = ZAB + (2.L-X)/L. ZBF


Jadi faktor infeed, K = (2.L-X)/L
Untuk gangguan F dekat rel B ( X = 0 ) faktor infeed k = 2
Untuk gangguan F dekat rel C ( X= 1 ) faktor infeed k = 1
Untuk gangguan F diantara rel B dan rel C , infeed antara
1 k 2

4.4.4. Saluran transmisi tunggal ke ganda


Jika terjadi gangguan pada titik F impedansi yang terlihat oleh relai
A adalah :
I1
F

S
I

x
B

(1-x)

F21
relai A

Gbr-4.2.4 : Pengaruh infeed saluran tunggal ke ganda

ZRA = (I.ZAB+I1.ZBF)/I
ZRA= ZAB + I1/I.ZBF
I1 = I.(2L-X)./2L
ZRA = ZAB + (2.L-X)/2L. ZBF

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

47

PT PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Aspek Teknis Dalam Perhitungan Setting Penghantar

Jadi faktor infeed K = (2L-X) / 2L

- Untuk gangguan F dekat rel B ( X = 0 ) faktor infeed k = 1


- Untuk gangguan F dekat rel C ( X= 1 ) faktor infeed k = 0.5
- Untuk gangguan F diantara rel B dan rel C , infeed antara
0.5k1

4.3 Pengaruh Tahanan Gangguan


Tahanan gangguan merupakan tahanan murni, bila tambah secara
vektoris dengan impedansi saluran maka akan menggeser lokus impedan
menjadi lebih besar sehingga relai menjadi lebih lambat (Z2,Z3) atau tidak
trip sama sekali (diluar jangkauan seting). Besaran tahanan gangguan
sangat bervariasi tergantung penyebabnya. Penyebab adanya tahanan
gangguan pada

SUTT/SUTET adalah

menimbulkan busur api akibat

terjadi hubung singkat yang

terkena pohon, layangan, binatang,

manusia dan sambaran petir.

4.3.1 Tahanan Gangguan Satu sumber

If
E

ZLA

Zs

RF
R
F

Gbr-4.3.1a : Konfigurasi gangguan tanah

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

48

PT PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Aspek Teknis Dalam Perhitungan Setting Penghantar

X
ZL

RF/(1+K0)

Gbr-4.3.1b : Pengaruh tahanan gangguan dengan 1 sumber

Impedansi yang terukur oleh relai :


Z relai =

Vrelai / Irelai

= VR / ( IR+K0.IN )
= ZL1+ RF/ (1+Ko)
Dimana :

ZL1 = impedansi urutan positif


RF = tahanan gangguan
K0 = kompensasi urutan nol (0-1)

Jadi tahanan gangguan pada system satu sumber merupakan


tahanan murni (Rf) yang ditambahkan ke impedansi saluran (ZL).

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

49

PT PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Aspek Teknis Dalam Perhitungan Setting Penghantar

4.3.2 Tahanan Busur Dua Sumber

IfA
EA

IfB
ZLB

ZLA

ZSA

ZSB

EB

RF
R

Gbr-4.3.2a : Konfigurasi gangguan tanah pada jaringan paralel

ZL

RF

Gbr-4.3.2 : Pengaruh tahanan gangguan dgn 2 sumber

Rf sisi A

IfA+IfB

Ra

Ra

IfA

Rf sisi B

IfA+IfB

IfB

Ra

Ra

IfA

IfB

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

Ra

Ra

IfA
IfB

50

PT PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Aspek Teknis Dalam Perhitungan Setting Penghantar

Dimana :
If

= besar arus gangguan

IfA = kontribusi arus gangguan dari sisi A


IfB = kontribusi arus gangguan dari B
Bila IA dan IB tidak sefasa maka dengan penjumlahan vektoris Ra
akan mempunyai sudut tidak nol. Bila dari A tahanan busur
mengarah keatas, dari B mengarah ke bawah.
Pengukuran Impedansi :
Zrelai = Vrelai/Irelai
= VR/(IR+Ko.IN)
=ZL1+(Io/IRoA).RF/(1+Ko)

Dimana :

Io = IRoA + IRoB

ZL1

= impedansi urutan positif

RF

= tahanan gangguan

Ko

= kompensasi urutan nol (0-1)

IRoA = kontribusi arus urutan nol dari sumber A


IRoB = kontribusi arus urutan nol dari sumber B
Io

= total arus urutan nol yang mengalir di RF

4.4. Pengaruh Mutual Impedansi


Bila SUTT menggunakan satu tower digunakan untuk sirkit-1 dan sirkit-2
maka akan timbul mutual inductive kopling diantara dua sirkit tersebut.
Untuk pengukuran impedansi urutan positif dan negative pengaruh mutual
kopling sangat kecil sehingga dapat diabaikan.

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

51

PT PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Aspek Teknis Dalam Perhitungan Setting Penghantar

Namun untuk pengukuran impedansi urutan nol maka pengaruh mutual


kopling tidak bisa diabaikan.
Proteksi penghantar yang hanya menggunakan pengukuran arus, seperti
pembanding phase atau pilot wire tidak dipengaruhi oleh mutual kopling.

4.4.1. Satu sumber dua sirkit

ZL
E

ZS

ZL

Gbr-4.4.1 : Pengaruh mutual dgn 1 sumber dan 2 sirkit

Pengukuran Impedansi :
Zrelai = Vrelai / Irelai
= VR / (IR+Ko.IN)
= n.ZL1 (1+(IHo/IGo).(Z0M/ (2ZL1+ZLo))
= n.ZL1 (1+FM)

Jadi Relai undereach dengan faktor : (IHo/IGo).(Z0M(2ZL1+ZLo))


Dimana :
ZL1 = impedansi saluran
ZLo = impedansi urutan nol

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

52

PT PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Aspek Teknis Dalam Perhitungan Setting Penghantar

ZOM= impedansi mutual urutan nol


IHo= arus mutual urutan nol
IGo= arus urutan nol
FM= factor mutual

4.4.2 Dua sumber dua sirkit

ZL

ZL

ZS

ZS

ZL

Gbr-4.4.2 : Pengaruh mutual dgn 2 sumber dan 2 sirkit

ZGR = n.ZL1 (1+(IH0/IG0).KM/(2.IG1/IG0+K0))


ZGR = n.ZL1 (1+faktor)
dimana,

KM = ZMo/ZL1
Ko=(ZLo-ZL1)/3.ZL1

Jadi Relai undereach dengan faktor = KM.(IHo/IGo/(2.IG1/IGo+Ko)


Dimana : ZL1= impedansi saluran

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

53

PT PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Aspek Teknis Dalam Perhitungan Setting Penghantar

ZLo=impedansi urutan nol


ZOM= impedansi mutual urutan nol
IHo= arus mutual urutan nol
IGo= arus urutan nol
KM= kompensasi mutual urutan nol
Ko=kompansasi urutan nol
Faktor= factor mutual

4.4.3. Satu sumber dua sirkit yang diground dua sisi

ZL

ZS

ZL

Gbr-4.4.3 : Pengaruh mutual 2 sirkit dgn line-1 di ground

Pengukuran Impedansi :
Zrelai

= Vrelai / Irelai
=VR/(IR+K0.IN)
= ZL1 (1 ZM0.ZM0/(ZL0.(2ZL1+ZL0))
= ZL1 (1 faktor)

Jadi Relai overreach dengan faktor :


ZM0 .ZM0/(ZL0.(2ZL1+ZL0))

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

54

PT PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Aspek Teknis Dalam Perhitungan Setting Penghantar

Dimana :

ZL1= impedansi saluran urutan positif


ZLo=impedansi urutan nol
ZOM= impedansi mutual urutan nol
IHo= arus mutual urutan nol
IGo= arus urutan nol
Faktor= factor mutual

Dengan kompensasi mutual :


Pengukuran Impedansi :
Zrelai

= Vrelai / Irelai
=VR/(IR+Ko.IN+KM.IHo) = ZL1

dimana, KM = ZM0/ZL1
Ko = (ZLo-ZL1)/3.ZL1
Imo = Arus mutual urutan nol

4.5 Pengaruh Pembebanan


Salah satu hal yang sangat mempengaruhi setelan relai proteksi adalah
beban, namun sebaliknya, arus beban maksimum akan mempengaruhi
sensitivitas deteksi gangguan (fault detection sensitivity).
Pada pembebanan penghantar yang besar, jangkauan impedansi relai
jarak dapat masuk ke impedansi beban sehingga dibutuhkan fungsi
khusus pada relai jarak untuk membatasi jangkauan relai.

Fungsi pada relai jarak yang membatasi jangkauan antara lain : blinder,
load encroachment, dll.
Untuk menghindari malakerja relai akibat pembebanan, perlu dilakukan
setting pada jangkauan resistif tidak boleh melebihi setengah impedansi
beban maksimum, khususnya seperti pada distance relay dengan
karakteristik quadraliteral (Gbr 4.5)
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

55

PT PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Aspek Teknis Dalam Perhitungan Setting Penghantar

Gbr-4.5 Pengaruh pembeban terdapat kakarakteristik kerja distance relay

4.6 Pola Proteksi


Agar gangguan sepanjang SUTT dapat ditripkan dengan seketika pada
kedua sisi ujung saluran, maka relai jarak perlu dilengkapi fasilitas
teleproteksi.

4.6.1 Pola Dasar (Basic Scheme)


Ciri-ciri Pola dasar :

Tidak ada fasilitas sinyal PLC

Untuk lokasi gangguan antara 80 100 % relai akan bekerja


zone-2 yang waktunya lebih lambat (tertunda).

Z1

Z1
TRIP

Z2

TZ2

Z3

TZ3

OR

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

TRIP

OR

TZ2

TZ3

Z2

Z3

56

PT PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Aspek Teknis Dalam Perhitungan Setting Penghantar

TZ2 = Timer zone 2


TZ3 = Timer zone 3

Gambar 4.6.1 : Pola Proteksi pindah jangkauan tak

sampai diperkenankan (PUTT)

4.6.2 Pola PUTT (Permissive Underreach Transfer Trip)


Prinsip Kerja dari pola PUTT :

Pengiriman sinyal trip (carrier send) oleh relai jarak zone-1.

Trip seketika oleh teleproteksi akan terjadi bila relai jarak zone-2
bekerja disertai dengan menerima sinyal. (carrier receipt).

Bila terjadi kegagalan sinyal PLC maka relai jarak kembali ke


pola dasar.

Dapat menggunakan berbeda type dan relai jarak.

CS

CS

Z1

Z1
TRIP

Z2

CR

TZ2

TRIP
OR

OR

AND

CS = sinyal kirim
CR = sinyal terima

TZ2

AND

Z2

CR

Z2 = trip zone 2
TZ2 = waktu trip zone 2

Gambar 2.5.2 : Pola Proteksi pindah jangkauan tak sampai


diperkenankan (PUTT)

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

57

PT PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Aspek Teknis Dalam Perhitungan Setting Penghantar

4.6.3 Pola POTT (Permissive Overreach transfer Trip)


Prinsip Kerja dari pola POTT :

Pengiriman sinyal trip (carrier send) oleh relai jarak zone-2.

Trip seketika oleh teleproteksi akan terjadi bila relai jarak zone-2
bekerja disertai dengan menerima sinyal (carrier receipt).

Bila terjadi kegagalan sinyal PLC maka relai jarak kembali ke


pola dasar.

Dapat menggunakan berbeda type dan relai jarak.


CS

CS

Z1

Z1
TRIP

Z2

TZ2

CR

AND

TRIP

OR

CR = sinyal terima

OR

TZ2

Z2

AND

CR

tZ2 = waktu trip zone 2

Gambar 2.5.3: Pola Proteksi pindah jangkauan


lebih diperkenankan (POTT)

4.6.4 Pola Blocking (Blocking Scheme)


Prinsip Kerja dari pola PUTT :

Pengiriman sinyal block (carrier send) oleh relai jarak zone-3


reverse.

Trip seketika oleh teleproteksi akan terjadi bila relai jarak zone-2
bekerja disertai dengan tidak ada penerimaan sinyal block.
(carrier receipt).

Bila terjadi kegagalan sinyal PLC maka relai jarak akan


mengalami mala kerja.

Membutuhkan sinyal PLC cukup half duplex.

Relai jarak yang dibutuhkan merk dan typenya sejenis.

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

58

PT PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Aspek Teknis Dalam Perhitungan Setting Penghantar

Z1

Z1
TRIP
Z2

TZ2

CR

AND

Z3

OR

TRIP
OR

TZ2

AND

TZ2

TZ3

Z2

CR

Z3
Rev

Rev

AND

CS

CS

AND

Gambar 2.5.4. Ranglaian Logic

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

59