Anda di halaman 1dari 6

PROSIDING

SEMINAR NASIONAL REKAYASA KIMIA DAN PROSES 2004


ISSN : 1411 - 4216

RAW MIX DESIGN KLINKER SEMEN PORTLAND ALTERNATIF


BERBASIS LIMBAH ASETILEN DAN POZZOLAN ALAM
Anggoro Tri Mursito
Pusat Penelitian Geoteknologi
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bandung
Komplek LIPI Bandung, Jl. Sangkuriang Gedung 70 Bandung 40135
Telp. (022) 2503654 E-mail : anggoro@geotek.lipi.go.id

Abstrak
Limbah asetilen atau yang dikenal oleh masyarakat dengan karbit, yang semakin hari
semakin menumpuk dibuang atau ditempatkan begitu saja akan menimbulkan permasalahan
tersendiri sehingga menimbulkan keinginan untuk memanfaatkan sebagai pengganti bahan
baku semen untuk keperluan bangunan. Limbah asetilen yang dimaksud adalah yang berasal
dari pabrik Asetilen Sedayu dan yang ada di beberapa kota P.Jawa yang dibuang begitu saja
sehingga timbul pemikiran untuk dijadikan sumber CaO selain dari batugamping. Limbah
asetilen disini sebagai pencampur adukan material bangunan misalnya pasir dan kerikil, tetapi
melihat bahan galian pasir tufaan (dalam hal ini adalah trass) di sekitar barat daerah DIY
(Kulonprogo) dan sekitar selatan daerah Jawa Barat (Sukabumi) melimpah sehingga sangat
baik sekali apabila dimanfaatkan apalagi harga material bangunan pasir dan semen yang kian
meningkat. Studi penelitian terdahulu menunjukkan bahwa dan bahan galian trass dapat
digunakan sebagai pengganti material pasir dan semen untuk keperluan pembuatan batako dan
paving blok dengan kuat tekan 29 kg/cm2 sampai dengan 34 kg/cm2. Trass apabila dalam
keadaan tersendiri tanpa ada bahan tambahan lain seperti kapur tohor, tidak akan mengeras,
namun apabila ditambah dengan kapur akan segera mengeras. Mengingat bahwa kandungan
CaO dari trass relatif rendah, maka apabila trass ditambah dengan limbah asetilen juga akan
dapat dijadikan semen. Studi Raw Mix Design untuk perkiraan perbandingan klinker semen
portland alternatif ini, didapatkan perbandingan komposisi bahan mentah antara Limbah
Asetilen sebanyak 3,21 bagian dengan Trass sebanyak 1 bagian atau 76 % Limbah Asetilen
dengan 24% Trass.
Abstract
Acetylene Waste, in society called karbit which is dumped everyday caused environmental
problem and could be used as an alternative cement material and will be acts as a substitutor
for urban building material. In this case, acetylene waste came from Javas Acetylene Factory
as CaO source substituted for lime stone in raw mix processes. Acetylene waste normally mix
with the urban building material (ie = sand, gravel etc). On the other hand, the tuff (=trass)
resource in DIY (Kulonprogo) and West Java (Sukabumi) is quite a lot. Its really good if the
utilization of acetylene waste and tuff will be successful and substitutes the urban building
material which is expensive. The previous research study shows that acetylene waste and
trass can be mixed to be batako and paving blok. According to Uniaxial Compression
Test, those products has Crompresive Strength of 29 kg/cm2 (29 KPa) and 34 kg/cm2 (34 KPa).
Trass itself, without any other additional material like a lime, will not be dried but if we add
a lime then would be dry very fast. CaO content in trass is low, so if trass and acetylene waste
are mixed in different composition then it could be made as a cement material and for blended
cement clinker. According to the Raw Mix Design calculations that the result is specially for
clinker as an alternative portland cement is 3,21 part of Acetylene Waste and for 1 part of
Trass or 76 % and 24%.
Pendahuluan
Kata semen berasal dari bahasa Latin yaitu : Ceementum yang artinya bahan pengikat. Istilah semen
pada jaman sekarang meliputi juga bahan-bahan organik, misalnya Rubber Cement dan Epoxy Cement.
Semen organik ini tidak digunakan dalam bangunan (untuk menjelaskan bahwa istilah semen sangatlah luas
ruang lingkupnya). Istilah semen dalam pengertian umum adalah bahan adhesive dan kohesive, digunakan
JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG

C-15-1

sebagai binder atau bahan pengikat bersama-sama dengan batu kerikil, pasir, batu-bata dsb. Sejak jaman
Romawi, manusia pada jaman tersebut membuat adukan bahan bangunan berasal dari campuran kapur (lime)
dan tanah merah yang berasal dari pelapukan batuan gunung api (reddish vulcanic earth) yang diaduk
bersama air. John Smeaton (1796) menemukan bahwa komponen kapur dan lempung dapat dijadikan bahan
pengikat dengan cara memanaskan bahan tersebut pada suhu tinggi, kemudian menamakannya dengan quicksetting cement. Melimpahnya bahan galian trass di daerah Kulonprogo dan Sukabumi menimbulkan
keinginan untuk memanfaatkannya sebagai bahan baku pembuatan semen portland alternatif bersama dengan
limbah pabrik asetilen di Sedayu. Mengingat bahan baku semen terdiri dari unsur Calcium, Silika, Alumina,
Magnesium dan Besi, maka bukan tidak mungkin bahan baku tersebut diambilkan dari bahan galian trass dan
limbah asetilen.
Bahan Baku Utama Semen Umum
Secara umum bahan baku untuk membuat semen (Pabrik Semen) ada beberapa komponen :
1. Komponen utama
Merupakan bahan baku utama semen, yang terdiri dari : lime component (CaO dominan) dan clay
component (SiO2 , Al2O3 , Fe2O3)
2. Bahan koreksi
Bahan yang ditambahkan sebagai koreksi apabila pada campuran komponen utama belum memenuhi
persyaratan kualitatif atau kuantitatif.
Bahan koreksi biasanya bahan yang mengandung :
SiO2 seperti pasir silika (> 80 % SiO2)
Al2O3 seperti bauksit (50 % Al2O3) , kaolinit (40 % Al2O3) dan laterite (25 % Al2O3)
Fe2O3 seperti pasir besi (> 60 % Fe2O3 ) dan pyrite ash (60 90% Fe2O3)
CaO seperti limestone (90% CaCO3)
3. Bahan tambahan (additive material)
Bahan yang ditambahkan pada semen untuk tujuan tertentu, misalnya :
Gypsum (CaSO4.2H2O) minimum 35 % SO3 untuk mengontrol setting time
Pozzolana (SiO2 + Al2O3 + Fe2O3 ) untuk blended semen
Blastfurnace slag (SiO2 + Al2O3 + Fe2O3 ) untuk blended semen
2. Bahan yang merugikan (deleterious material)
Komponen yang merugikan yang ada dalam bahan dan jumlahnya harus dibatasi, misalnya MgO, Alkali
dan SO3 .
Pembuatan Semen Portland
Bahan baku pembuatan semen portland mempunyai senyawa-senyawa utama seperti semen pada
umumnya antara lain CaO (dari batugamping), SiO2 (dari tanah liat dan pasir silika), Al2O3 (dari tanah liat),
Fe2O3 (dari tanah liat dan pasir besi) dan Ca2SO4 (dari gypsum). Semen merupakan hasil penggilingan
campuran klinker dengan gypsum, dimana komponen kristal utamanya terdiri dari 3CaO.SiO2 (C3S) ;
2CaO.SiO2 (C2S) ; 3CaO.Al2O3 (C3A) ; 4CaO.Al2O3.Fe2O3 (C3AF) dalam perbandingan tertentu.
Tabel 1.
Komposisi kimia semen portland (secara umum)
NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

KOMPOSISI SENYAWA
CaO
SiO2
Al2O3
Fe2O3
MgO
Na2O3
TiO2
Na2O + K2O
SO3
P2O5
Hilang pijar

PROSENTASE
38,0 67,0 %
16,0 26,0 %
4,0 8,0 %
2,0 5,0 %
1,0 5,0 %
0,0 3,0 %
0,0 0,5 %
0,6 1,0 %
0,1 2,5 %
0,0 1,5 %
0,5 3,0 %

Pembentukan komponen utama semen portland pada umumnya mempunyai komposisi 75 % (C3S +
C2S); 10 % (C3A) dan sisanya merupakan impurities yaitu : senyawa-senyawa alkali CaO dan MgO bebas.
Adapun tahapan reaksi pembentukan komponen semen portland adalah sebagai berikut :
JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG

C-15-2

Tabel 2
Tahapan reaksi pembentukan komponen semen portland
TEMPERATUR o C
0 100
100 600

600 700

700 800
800 900
1100 1200
1200 1450

REAKSI / PERUBAHAN
Penguapan air bebas dari tepung baku.
Penguapan air hidrat dari tanah liat, pada temp 500o C air hidrat dari tanah liat jenis
montmorilonite dan illite akan hilang sedangkan pada temperatur < 500o C air
hidrat dari jenis kaolinite akan hilang.
Penguapan senyawa karbonat (terjadi proses kalsinasi) terutama dari jenis
magnesium karbonat. Karbonat dan senyawa kalsium akan terurai pada temperatur
894o C.
Pembentukan senyawa C3A C2F dan C2S.
Pembentukan senyawa C2A7.
Pembentukan senyawa C2AS , C4AF dan C2S maksimum.
Pembentukan senyawa C3S dan pengurangan CaO bebas. Pada temperatur 1260o C
phase cair mulai terbentuk.
QUARRY
Penyiapan bahan mentah
CRUSHER

RAW MATERIAL STORAGE

DRY PROCESS

WET PROCESS

DRY RAW MILL

WET RAW MILL

PNEUMATIC MIXING &


HOMOGENIZING SILO

BLENDING
AND FEED TANK

ROTARY KILN (DRY) OR


PREHEATER KILN

ROTARY KILN (WET)

Penggilingan campuran
bahan mentah

Pembakaran dan
pendinginan klinker

COOLER

CLINKER STORAGE
Penggilingan semen
CEMENT MILL

CEMENT SILO
Penyimpanan dan
pengiriman semen
BULK & BEG PACKING
Gambar 1
Flow sheet pembuatan semen (skala pabrik)

JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG

C-15-3

Penelitian Limbah Asetilen dan Pozzolan Alam


Pasir tufaan ataupun yang dikenal dengan trass adalah batuan yang dihasilkan dari pelapukan batuan
gunung api yang didominasi oleh silika dan alumina dan sebagai pozzolan yang disediakan oleh alam.
Trass biasa disebut vulcanic glass dan tersusun oleh unsur silika dan alumina, akan tetapi bentuk fisik dari
trass tersebut adalah bermacam-macam antara lain dari segi warna yang dipengaruhi sekali oleh pengotor
terhadap mineral silika dan alumina itu.
2 (Al2O3 2 SiO2) + 7 Ca (OH)2

3 CaO 2 SiO2 H2O + 2 (2 CaO Al2O3 SiO2 2 H2O)

Dari sifat pasir tufaan apabila belum ada campuran bahan lain misalnya batugamping tidak beda
halnya dengan pasir biasa, tetapi apabila ada campuran batugamping (=kapur tohor ; calcination) akan
mengeras dengan sendirinya seperti halnya pasir yang dicampur dengan semen (seperti reaksi kimia di atas).
Memang berbeda dengan kompisisi, kandungan unsur maupun senyawa yang dimiliki oleh pasir
tufaan dengan pasir biasa (=pasir sungai). Perbedaan yang dimiliki oleh pasir tufaan yaitu kandungan
senyawa CaO lebih besar sedangkan pasir sungai kandungan senyawa CaO lebih kecil (tabel 3).
Asetilen yang dimaksud di sini merupakan gas yang dihasilkan oleh Calsium Carbida dengan air pada suhu
kamar yaitu :
CaC2 + 2 H2O

Ca(OH)2 + C2H2

Sehingga yang dimaksud dengan limbah karbit atau asetilen adalah Ca(OH)2 ataupun sering disebut kapur
padam.
Studi penelitian ini dilakukan pada beberapa bahan binder yang sering dipakai dalam campuran
material bangunan misalnya semen, kapur tohor, bata merah dan limbah karbit (=asetilen). Dari analisa
komposisi bahan baku dapat terlihat perbandingan sifat keteknikan dan ekonominya.
Tabel 3
Komposisi Senyawa Kimia Bahan Baku
Senyawa
Bahan Baku
SiO2
Al2O3
Fe2O3
CaO
Na2O3
MgO
MnO
TiO2
P2O5
H2O

Limbah Asetilen
(%)
2,80
5,51
0,62
67,40
0,04
0,06
0
0,24
0
0

Kapur Tohor
(%)
0
0
0,04
96,74
0,41
0,45
0,01
0
0,17
0

Trass
(%)
48,17
21,63
13,02
0,92
0,43
5,42
0,31
1,20
0,30
9,21

Hasil dan Pembahasan


Dari beberapa studi penelitian pendahuluan di atas dapatlah ke dalam suatu bentuk struktur
pemikiran tertentu, khususnya bahan limbah asetilen digunakan sebagai pengganti batugamping dan trass
digunakan sebagai pengganti dari tanah liat, pasir silika dan pasir besi.
Memang dirasakan senyawa-senyawa yang terkandung di bahan tersebut kurang dari persyaratan
yang ditentukan, tetapi walaupun begitu akan dicoba untuk memikirkan secara logis mengenai hal itu.
Dalam diskripsi tersebut menghasilkan suatu pemikiran bahwa proses pembuatan semen portland skala
pabrik dapat dimodifikasi menjadi skala laboratorium tertentu dengan tidak mengabaikan syarat-syarat
yang harus dipenuhi untuk pembuatan semen portland tersebut. Pembuatan semen portland alternatif dapat
dijelaskan sebagai berikut :
Menerapkan metode portland cement dry process.
1. Proses oksidasi dari limbah asetilen
Limbah asetilen Ca(OH)2 mempunyai kandungan senyawa CaO sekitar 67,4 % sedangkan untuk
mengubah limbah asetilen tersebut menjadi kapur tohor yaitu dengan memanaskan limbah asetilen
tersebut pada suhu 150 - 250oC dengan tujuan untuk menghilangkan air kristal di dalam limbah asetilen
tersebut.
JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG

C-15-4

2.

3.

4.

Untuk menghemat energi dapat dipanaskan secara langsung pada saat pembuatan klinker semen porland
nantinya.
Penggilingan dan pengeringan bahan mentah
Tujuan dilakukan proses ini adalah untuk mendapatkan ukuran dan komposisi umpan kiln yang baik.
Penggilingan bahan mentah dalam hal ini adalah trass dilakukan dengan menggunakan crusher, tetapi
terlebih dahulu dilakukan pengeringan dengan open, agar nantinya di dalam penggilingan trass tersebut
tidak menemukan kesulitan ataupun menghindari terjadinya kelengketan bahan mentah dengan dinding
crusher.
Limbah asetilen yang akan digunakan sebagai bahan mentah untuk proses pembuatan semen portland
tidak dilakukan penggilingan karena limbah tersebut sudah dalam bentuk powder jika sudah dikeringkan
terlebih dahulu.
Bahan mentah tersebut dapat juga langsung dicampur terlebih dahulu, kemudian baru dilakukan
pengeringan langsung dan penggilingan juga dapat dilakukan bersamaan.
Pembakaran dan pendinginan klinker
Proses pembakaran dimaksudkan untuk membentuk klinker dari reaksi kimia antara oksida-oksida yang
terdapat dalam bahan mentah. Limbah asetilen dicampur dengan trass yang sudah digiling tadi ke dalam
rotary kiln sampai pada suhu 1200 1450o C sehingga pada saat pembakaran tersebut akan terbentuk
senyawa-senyawa C3A, C2F, C2S dan C2A7 . Pembentukan senyawa C2AS , C4AF dan C2S maksimum
dan pembentukan senyawa C3S dan pengurangan CaO bebas.
Penggilingan klinker
Klinker hasil pembakaran digiling bersama dengan gypsum untuk dijadikan semen. Prosesnya dilakukan
dalam suatu alat berupa ball mill dengan dua kamar. Kamar pertama berisi bola baja berukuran besar
(berfungsi sebagai intermediet size reduction) sedangkan kamar satunya berisi bola baja lebih kecil
(berfungsi sebagai fine size reduction). Gypsum yang digunakan dapat berupa gypsum alam ataupun
artificial gypsum yang banyak dijual dipasaran.
Fungsi gypsum disini adalah sebagai retarder yaitu untuk mengontrol kecepatan pengerasan semen
bila suatu saat digunakan untuk membuat beton dengan melakukan reaksi hidrasi tinggi maupun rendah.

Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisa awal terhadap penelitian pendahuluan mengenai penggunaan limbah
asetilen dan bahan galian trass untuk menghasilkan beberapa produk misalnya semen portland alternatif dan
dari beberapa perhitungan raw mix design untuk pembuatan klinker semen, maka dapat ditarik beberapa
kesimpulan :
1. Ditinjau dari segi bahan baku pembuatan semen portland alternatif yaitu limbah asetilen dan trass yang
banyak terdapat di Jabar dan Jateng maka kedua bahan tersebut layak digunakan sebagai bahan
alternatif.
2. Berdasarkan hasil analisa kimia dari trass dan limbah asetilen menunjukkan keduanya memenuhi syarat
sebagai bahan mentah semen portland alternatif karena campuran dari keduanya sudah menunjukkan
komposisi standart semen portland pasar.
3. Dari hasil perhitungan raw mix design terhadap kedua bahan mentah tersebut maka didapat
perbandingan Limbah Asetilen sebanyak 3,21 bagian dengan Trass sebanyak 1 bagian atau 76 % Limbah
Asetilen dengan 24% Trass.
4. Komposisi senyawa kimia semen portland alternatif berbasis limbah asetilen dengan bahan galian trass
adalah sebagai berikut : SiO2 16,99 %, Al2O3 11,69 %, Fe2O3 4,46 %, CaO 64,6 %, MgO 1,67 %,
TiO2 0,59 % dan sisanya merupakan komposisi LOI dengan senyawa tambahan.
Daftar Pustaka
1. Baab, K. A. and Kraner, H. M. (1948), Investigation of Abrasion Resistance of Various Refractories,
The American Ceramics Society Journal, vol 31 No. 11 November 1948.
2. Burns, J. J. (1950),Pump Part Last Longer With Silicon Carbide, Engineering and Mining Journal,
December 1950.
3. Frank C. Roe (1967), Application of Ceramic Materials in Ore Processing Equipment Show
Continued Growth, Mining Engineering Journal, USA.
4. J.H.De Bussy, (1971), Material and Technique Vol II, Longman Published,
5. Kirk RE and Othmer DF (1984), Encyclopedia of Chemical Technology, 2nd edition, vol 4, John Wiley
and Sons, New York
6. PT.Semen Gresik (Persero) (1997), Raw Mix Design, Kursus Eselon III Laboratorium ICCI-ASI, Tuban
Jawa Timur

JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG

C-15-5

LAMPIRAN PERHITUNGAN RAW MIX DESIGN


Perhitungan raw mix design disini yang dimaksud adalah perhitungan proporsi bahan mentah untuk
menghasilkan raw mix dengan komposisi tertentu. Perhitungan ini juga sangat tergantung pada jumlah bahan
baku yang dipakai, serta komponen komposisi raw mix yang disyaratkan. Sebenarnya perhitungan raw mix
dapat dillakukan dengan berbagai macam metode, tetapi disini akan dihitung menggunakan target LSF (Lime
Saturation Factor) dari KSK ataupun sering disebut dengan rumus Kind. KSK sering digunakan di Rusia
untuk menghitung komposisi bahan mentah untuk proses perubahannya menjadi klinker. KSK (Kinds
Formula) didasarkan pada asumsi bahwa Lime Saturation tidak sepenuhnya dihasilkan hanya dari derajat
pengikatan CaO dan Silika saja.
Berdasarkan bahan mentah yang akan dipakai dalam pembuatan semen portland ini maka dapat
ditentukan komposisi dari bahan mentah tersebut.

KSK =

C (1.65 A + 0.35 F )
2.8S

Hasil akhir dari perhitungan yang akan dilakukan adalah perbandingan bahan mentah antara Limbah Asetilen
dengan Trass.
Asumsi campuran

Limbah Asetilen = X bagian


Trass
= 1 bagian

XC1 + C 2 ((1,65 XA1 + A2) (0,35 XF1 + F 2))

+
X +1
X +1
KSK = X + 1
2,8 XS1 + S 2
X +1
Sehingga untuk mendapatkan Raw Mix atau Kiln Feed dengan KSK = 0,92 dari kedua bahan tersebut harus
dicampur Limbah Asetilen (X) sebanyak 3,21 bagian dengan Trass sebanyak 1 bagian atau 76 % Limbah
Asetilen dengan 24% Trass.
Tabel 4
Raw Mix Design

S
A
F
C
M

OXIDES

1
LIMBAH ASETILEN
(LA)

2
TRASS
(TR)

3
LA

4
TR

5
RAW MIX

6
CLINKER

SiO2
Al2O3
Fe2O3
CaO
MgO
TiO2
LOI
TOTAL

2.80
5.51
0.62
67.40
0.06
0.24
23.37
100.00

48.17
21.63
13.02
0.92
5.42
1.20
9.64
100.00

2.14
4.20
0.47
51.39
0.05
0.18
17.82
76.25

11.44
5.14
3.09
0.22
1.29
0.29
2.29
23.75

13.58
9.34
3.57
51.61
1.33
0.47
20.11
100.00

16.99
11.69
4.46
64.60
1.67
0.59

JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG

100.00

C-15-6