Anda di halaman 1dari 37

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM UOP

MODUL FLUIDISASI

Oleh:
Danar Aditya S. (1206263401)
Endah Sasmita (1206220724)
Reyhan Jonathan (1206263420)
Rizki Mulia (1206263345)

Departemen Teknik Kimia


Fakultas Teknik Universitas Indonesia
Depok, 2014

Laporan Praktikum Fluidisasi/Kelompok 3R

BAB I
PENDAHULUAN

I.1. Tujuan
1. Tujuan utama dari percobaan ini adalah untuk mengetahui dan mengerti fenomena
fluidisasi dan perbedaan antara unggun terfluidisasi dengan unggun tetap.
2. Mengetahui korelasi antara laju alir udara dengan tinggi unggun dan penurunan
tekanan sepanjang unggun.
3. Mengetahui hubungan antara laju alir udara dengan koefisien transfer panas pada
unggun

I.2. Teori Dasar


Suatu fluida tidak hanya akan ditemui dalam dunia teknik kimia tetapi juga akan
ditemui dalam dunia teknologi bioproses. Suatu gas ataupun cairan akan akan mengalir
dalam suatu unggun. Dalam dunia bioproses seringkali ditemukan contoh aliran
fluidisasi dalam bentuk laminar, misalnya untuk mikrofluida atau fluida yang mengalir
antar mikroorganisme. Selain itu, dalam dunia bioproses suatu fluida juga dapat
mengalir secara turbulen biasanya ditemukan dalam suatu pabrik perusahaan di bidang
teknologi bioproses, biofilter, dan lain sebagainya.
Saat fluida gas ataupun cair dialirkan melalui sebuah unggun tetap yang terdiri
atas partikel-partikel padat, partikel tidak bergerak dan terjadi penurunan tekanan yang
dapat dihitung dengan persamaan Ergun. Jika kecepatan fluida ini ditingkatkan, maka
penurunan tekanan akan meningkat bersamaan dengan gaya seret (drag) pada setiap
partikel dan pada akhirnya, partikel akan bergerak dan menjadi tersuspensi di dalam
fluida. Istilah fluidisasi dan unggun terfluidisasi digunakan untuk menjelaskan
fenomena yang terjadi saat partikel tersuspensi di dalam fluida, karena partikel yang
berupa padatan menjadi bersifat seperti fluida.
Unggun terfluidisasi banyak digunakan pada industri kimia, salah satunya adalah
dalam cracking fraksi berat minyak bumi. Unggun terfluidisasi diketahui memiliki sifat
transfer panas dan pencampuran yang lebih baik dibandingkan unggun tetap.
Saat fluida melalui sebuah unggun partikel padatan dari bawah dengan laju alir
kecil, fluida melewati unggun tanpa menggerakan partikel sama sekali. Apabila partikel

Laporan Praktikum Fluidisasi/Kelompok 3R

berukuran kecil, aliran fluida melalui sela-sela partikel bersifat laminar dan penurunan
tekanan sepanjang unggun tersebut proporsional terhadap kecepatan superfisial Vo. Pada
keadaan turbulen, penurunan tekanan di sepanjang unggun meningkat secara non-linear
dengan bertambahnya kecepatan superfisial fluida.Pada kecepatan tertentu, penurunan
tekanan sepanjang unggun akan sebanding dengan gaya gravitasi dan pada akhirnya
partikel akan bergerak dan terfluidisasi. Saat unggun telah terfluidisasi penuh, penurunan
tekanan akan konstan, tetapi tinggi unggun akan meningkat terus sebanding dengan
kecepatan fluida.

I.2.1. Fenomena Fluidisasi


Jika suatu aliran udara melewati suatu partikel unggun yang ada dalam tabung,
maka aliran tersebut akan memberikan gaya seret (drag force) pada partikel dan
memberikan pressure drop sepanjang unggun. Pressure drop akan naik jika kecepatan
superficial naik. Jika kecepatan superficial rendah, maka unggun mula-mula diam. Jika
kecepatan superficial dinaikkan maka pada suatu saat gaya seret fluida menyebabkan
unggun mengembang dan tahanan terhadap aliran udara mengecil sampai akhirnya gaya
seret

tersebut cukup untuk mendukung gaya parikel unggun dan unggun akan

terfluidisasi.
Fluidisasi dapat terjadi ketika suatu aliran udara melewati suatu partikel unggun.
Aliran udara tersebut akan memberikan gaya seret (drag force) pada partikel serta
pressure drop sepanjang unggun. Pressure drop yang diberikan akan meningkat jika
kecepatan superfisial dinaikkan. Kecepatan superfisial merupakan salah satu faktor
penting dalam fenomena fluidisasi. Partikel unggun akan diam jika kecepatan superfisial
yang rendah. Fluidisasi sendiri dapat terjadi jika gaya seret fluida dapat mendukung gaya
berat dari partikel unggun yang arahnya berlawanan dengan gaya seret. Gaya seret ini
juga menyebabkan unggun mengembang dan tahanan aliran udara mengecil.

Adapun fenomena-fenomena yang dapat terjadi pada proses fluidisasi antara lain:
1. Fenomena fixed bed yang terjadi ketika laju alir fluida kurang dari laju
minimum yang dibutuhkan untuk proses awal fluidisasi. Pada kondisi ini
partikel padatan tetap diam.

Laporan Praktikum Fluidisasi/Kelompok 3R

Gambar 1.1. Fenomena Fixed Bed


2. Fenomena minimum or incipient fluidization yang terjadi ketika laju alir fluida
mencapai laju alir minimum yang dibutuhkan untuk proses fluidisasi. Pada
kondisi ini partikel-partikel padat mulai terekspansi.

Gambar 1.2. Fenomena Minimum or incipient fluidization

3. Fenomena smooth or homogenously fluidization terjadi ketika kecepatan dan


distribusi aliran fluida merata, densitas dan distribusi partikel dalam unggun
sama atau homogeny sehingga ekspansi pada setiap partikel padatan seragam.

Gambar 1.3. Fenomena smooth or homogenously fluidization


4. Fenomena bubbling fluidization yang terjadi ketika gelembunggelembung pada
unggun terbentuk akibat densitas dan distribusi partikel tidak homogen.

Laporan Praktikum Fluidisasi/Kelompok 3R

Gambar 1.4. Fenomena bubbling fluidization

5. Fenomena slugging fluidization yang terjadi ketika gelembung-gelembung besar


yang mencapai lebar dari diameter kolom terbentuk pada partikel-partikel padat.
Pada kondisi ini terjadi penorakan sehingga partikel-partikel padat seperti
terangkat.

Gambar 1.5. Fenomena Slugging Fluidization

6. Fenomena chanelling fluidization yang terjadi ketika dalam ungggun partikel


padatan terbentuk saluran-saluran seperti tabung vertikal.

Gambar 1.6. Fenomena chanelling fluidization

7. Fenomena disperse fluidization yang terjadi saat kecepatan alir fluida


melampaui kecepatan maksimum aliran fluida. Pada fenomena ini sebagian
partikel akan terbawa aliran flu ida dan ekspansi mencapai nilai maksimum.

Laporan Praktikum Fluidisasi/Kelompok 3R

Gambar 1.7. Fenomena disperse fluidization

Fenomena-fenomena fluidisasi tersebut sangat dipengaruhi oleh faktor -faktor:


1. Laju alir fluida dan jenis fluida
2. Ukuran partikel dan bentuk partikel
3. Jenis dan densitas partikel serta faktor interlok antar partikel
4. Porositas unggun
5. Distribusi aliran
6. Distribusi bentuk ukuran fluida
7. Diameter kolom
8. Tinggi unggun

Dalam fluidisasi, karena sifat-sifat partikel padat yang menyerupai sifat fluida
cair dengan viskositas tinggi, metoda pengontakan fluidisasi memiliki beberapa
keuntungan dan kerugian. Keuntungan proses fluidisasi, antara lain:
1. Sifat unggun yang menyerupai fluida memungkinkan adanya aliran zat padat
secara kontinu dan memudahkan pengontrolan.
2. Kecepatan pencampuran yang tinggi membuat reaktor selalu berada dalam
kondisi isotermal sehingga memudahkan pengendaliannya. Sirkulasi butiranbutiran padat antara dua unggun fluidisasi memungkinkan pemindahan jumlah
panas yang besar dalam reaktor
3. Perpindahan panas dan kecepatan perpindahan mass antara partikel cukup
tinggi.
4. Perpindahan panas antara unggun terfluidakan dengan media pemindah panas
yang baik memungkinkan pemakaian alat penukar panas yang memiliki luas
permukaan kecil.

Sebaliknya, kerugian proses fluidisasi antara lain:

Laporan Praktikum Fluidisasi/Kelompok 3R

1. Selama operasi partikel-partikel padat mengalami pengikisan sehingga


karakteristik fluidisasi dapat berubah dari waktu ke waktu.
2. Butiran halus akan terbawa aliran sehingga mengakibatkan hilangnya sejumlah
tertentu padatan.
3. Adanya erosi terhadap bejana dan sistem pendingin
4. Terjadinya gelombang dan penorakan di dalam unggun sering kali tidak dapat
dihindari sehingga kontak antara fluida dan partikel tidak seragam. Jika hal ini
terjadi pada reaktor, konversi reaksi akan kecil.

II.2.2. Jenis-jenis Fluidisasi

1.

Fluidisasi Partikulat
Fluidisasi Partikulat merupakan suatu proses fluidisasi di mana partikel-partikel

bergerak menjauh satu sama lain dan gerekannya bertambah hebat dengan
bertambahnya kecepatan. Tetapi, densitas hamparan rata-rata pada suatu kecepatan
tertentu adalah sama di segala arah hamparan.
Ciri dari proses ini adalah adanya ekspansi hamparan yang cukup besar tetapi
seragam pada kecepatan yang cukup tinggi. Seiring dengan bertambahnya kecepatan
fluida dan penurunan tekanan, maka unggun akan terekspansi dan pergerakan partikel
semakin cepat. Jalan bebas rata-rata suatu partikel di antara tumbukan-tumbukan
dengan partikel lainnya akan bertambah besar dengan meningkatnya kecepatan fluida.
Akibatnya porositas unggun akan meningkat.

2.

Fluidisasi Agregat/ Fluidisasi Gelembung


Hamparan zat padat yang terfluidisasi dalam udara biasanya menunjukkan

peristiwa yang dikenal dengan fludisasi agregat atau gelembung. Fluidisasi ini terjadi
jika kecepatan gas di atas kecepatan fluidisasi minimum. Pada kondisi ini unggun akan
mengalami bubbling dan rongga-rongga seperti gelembung uap akan membangkitkan
sirkulasi partikel unggun.
Dalam

fluidisasi

gelembung

pengembangan

volume

hamparan

terutama

disebabkan oleh volume yang dipakai oleh gelembung gas karena fasa rapat pada
umumnya tidak berekspansi dengan peningkatan aliran. Akan tetapi jika kecepatan
ditambah maka hamparan akan mengembang secara seragam sehingga akhirnya
gelembung mulai terbentuk. Dan jika kecepatan ditingkatka lagi sampai melewati titik

Laporan Praktikum Fluidisasi/Kelompok 3R

gelembung, hamparan itu akan berangsur-angsur mengempis kembali, tetapi akan


mengembung lagi. Dalam fluidisasi agregat fluida akan membuat gelembung pada
padatan unggun dalam tingkah laku yang khusus. Gelembung fluida akan meningkat
melalui unggun dan pecah pada permukaan unggun dan akan terjadi splashing di
mana partikel unggun akan bergerak atas. Seiring dengan meningkatnya kecepatan
fluida, prilaku gelembung akan bertambah besar. Kriteria untuk fluidisasi partikulat dan
agregat dapat ditentukan dengan bilangan Froude : v2/(gDp)

yang dipakai untuk

menentukan apakah suatu sistem akan terfluidisasi partikulat atau terfluidisasi agregat.

3.

Fluidisasi Kontinu.
Bila kecepatan fluida melalui hamparan zat padat cukup besar, maka semua

partikel dalam hamparan itu akan terbawa ikut oleh fluida hingga memberikan suatu
fluidisasi kontinu. Prinsip fluidisasi ini terutama diterapkan dalam pengangkutan zat
padat dari suatu titik ke titik lain dalam suatu pabrik pengolahan di samping ada
beberapa reaktor gas zat padat lama yang bekerja dengan prinsip ini. Contohnya adalah
dalam tranportasi lumpur dan tranportasi pneumatic.

II.2.3. Sifat dan Karakteristik Partikel Unggun


a. Ukuran partikel
Padatan dalam unggun yang terfluidisasi tak pernah sama dalam ukuran dan
mengacu pada distribusi ukuran partikel tersebut. Untuk menghitung ukuran partikel
rata-rata dengan menggunakan diameter rata-rata permukaan (dsv).
b. Densitas padatan
Padatan dapat dibedakan menjadi 3 bagian berdasarkan densitasnya yaitu bulk,
skeletel, dan partikel. Densitas bulk merupakan pengukuran berat dari keseluruhan
partikel dibagi dengan volume partikel. Pengukuran ini menyertakan faktor
kekosongan dalam pori-pori partikel.

Skeletel adalah densitas suatu padatan jika

porositasnya nol. Adapun densitas partikel adalah berat dari suatu partikel dibagi
dengan volumenya dengan menyertakan pori-pori. Jika tidak ada nilai untuk densitas
partikel, maka pendekatan untuk densitas partikel dapat diperoleh dengan membagi
dua densitas bulk.
c. Sphericity

Laporan Praktikum Fluidisasi/Kelompok 3R

Sphericity merupakan faktor bentuk yang dinyatakan sebagai rasio dari area
permukaan volume partikel bulat yang sama dengan partikel itu dibagi dengan area
permukaan partikel.
d. Kecepatan terminal
Kecepatan terminal suatu partikel (Ut) merupakan kecepatan suatu partikel yang
konstan pada saat partikel melewati fluida.
e. Kecepatan Fluidisasi Minimum (Umf)
Kecepatan fluidisasi minimum merupakan kecepatan superficial terendah yang
dibutuhkan untuk terjadinya fluidisasi.
f. Batas partikel
Partikel diklasifikasikan berdasarkan bagaimana partikel tersebut terfluidisasi
dalam udara pada kondisi tertentu. Partikel tersebut dapat diklasifikasikan menjadi:
partikel halus, partikel kasar, kohesif, partikel yang sangat halus, unggun yang
bergerak.
g. Gaya antar partikel
Gaya antar partikel sering kali diabaikan dalam fluidisasi meskipun dalam banyak
kasus gaya ini lebih kuat dibandingkan hydrodynamk yang digunakan dalam banyak
korelasi. Gaya antar partikel yang berhubungan atau berkaitan dengan unggun yang
terfluidisasi, misalnya van der waals, elektrostatik, dan kapilaritas.
h. Daerah batas fluidisasi (fluidization regimes)
Pada kecepatan gas rendah, suatu padatan dalam tabung unggun akan berada pada
kondisi konstan seiring dengan bertambahnya kecepatan gas, gaya seret, dan gaya
buoyant mengalahkan berat partikel serta gaya antar partikel tersebut. Pada fluidisasi
minimum partikel memperlihatkan pergerakan yang minimal dan secara langsung
unggun akan sedikit terangkat.
i. Penurunan tekanan
Seperti yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya, penurunan tekanan akibat
adanya udara yang bergerak menembus partikel unggun. Selain itu, penurunan
tekanan dapat terjadi disebabkan adanya static head, akselerasi dan kehilangan friksi
untuk gas

dan padatan. Untuk aplikasi fluidisasi unggun di luar kondisi ketika

akselerasi penurunan tekanan dapat diterima, penurunan tekanan akan dihasilkan dari
static head padatan. Untuk itu, berat suatu partikel unggun jika dibagi dengan tinggi
padatan akan menghasilkan densitas sesungguhnya dari unggun yang terfluidisasi.

Laporan Praktikum Fluidisasi/Kelompok 3R

II.2.4. Sifat-sifat Perpindahan Massa Dalam Unggun yang Terfluidisasi


Perpindahan massa dalam unggun yang terfluidisasi dapat terjadi dengan beragam
cara. Perpindahan massa unggun ke permukaan sangat penting dalam aplikasi pelapisan.
Perpindahan dari permukaan padatan ke fasa gas sangat penting dalam proses
pengeringan, sublimasi dan desorbsi. Perpindahan massa dapat menjadi suatu pembatas
dalam sistem reaksi kimia. Karena pertikel-partikel saling berdekatan dari gas yang
mengelilingi partikle tersebut, maka koefisien perpindahan massa selalu lebih kecil dari
suatu pertikel tunggal yang bergerak dalam udara bebas.

II.2.5. Sifat-sifat Perpindahan Panas Unggun Terfluidisasi


Unggun yang terfluidisasi oleh gelembung-gelembung tercampur dengan sangat baik
karena pertikel-partikel unggun tersirkulasi oleh gelembung udara yang naik. Akibatnya
suhu unggun sangat seragam, walaupun terdapat reaksi yang sangat eksoterm. Jika luas
permukaan tranfer panas antara gas dan unggun cukup tinggi sehingga gas dan partikel
cepat mencapai suhu yang sama. Laju transfer panas yang tinggi juga dapat diperoleh
antara permukaan panas yang tercelup di dalam unggun dengan unggun itu sendiri.

10

Laporan Praktikum Fluidisasi/Kelompok 3R

BAB II
PERCOBAAN

II.1. Alat dan Bahan


Percobaan ini menggunakan unit Fluid Bed Heat Transfer Unit H692 yang tampak
pada gambar di bawah ini:

Gambar 2.2. Peralatan percobaan fluidisasi

II.1.1. Alat
1. Bed Chamber

11

Laporan Praktikum Fluidisasi/Kelompok 3R

Pada percobaan fluidisasi ini, partikel unggun (bed)

diletakkan di dalam

tabung vertikal yang terbuat dari kaca dengan ukuran diameter 105 mm dan tinggi
220 mm. Tabung tersebut juga dilengkapi dengan alat semacam mistar yang terletak
pada bagian dindingnya yang berfungsi untuk mengukur ketinggian bed pada saat
terjadi fluidisasi.
Pada bagian bawah tabung tersebut, terdapat ruang distribusi (distribution
chamber) dan penyuplai udara (air distributor) yang berfungsi untuk menahan
partikel unggun pada saat tidak terjadi fluidisasi. Bagian ini sudah dirancang
sedemikian rupa sehingga udara yang mengalir melewati bed akan sama di setiap
tempat tanpa menyebabkan penurunan tekanan berlebihan. Sedangkan bagian atas
tabung terdiri atas penyaring udara, sehingga bed tidak akan terbawa keluar oleh
udara ketika terjadi fluidisasi.
2. Heater (Surface area = 16 cm2, Diameter x Length = 12.7 x 37 mm)
Heater yang permukaan panasnya bersinggungan langsung dengan unggun
(bed) di dalam

chamber

atau tidak berkontakan langsung, yang fungsinya

memberikan panas ke unggun (bed) baik secara konduksi, konveksi, maupun radiasi
sehingga terjadi aliran perpindahan panas pada unggun yang terfluidisasi. Ukurannya
12.7 mm diameter x 37 mm panjang dengan surface area 16 cm. Suhunya diatur
dengan temperature control.
3. Flow meter
Alat untuk mengukur dan mengatur laju alir udara yang masuk dengan
memutar tombol yang ada untuk menaikkan dan menurunkan logam yang ada di
dalamnya ke skala yang diinginkan.
4. Amperemeter
Alat berupa jarum penunjuk dengan skala-skala tertentu digunakan untuk
mengukur arus listrik (I) yang nantinya nilai I tersebut dapat digunakan untuk
menghitung daya yang dihasilkan (P).
5. Voltmeter
Alat berupa jarum penunjuk dengan skala-skala tertentu digunakan untuk
mengukur tegangan listrik (V) yang nantinya nilai I tersebut dapat digunakan untuk
mengh itung daya yang dihasilkan (P).

12

Laporan Praktikum Fluidisasi/Kelompok 3R

6. Pengukur Temperatur
Pada permukaan heater, terdapat dua buah termokopel yang berfungsi untuk
mengukur temperatur yang terbaca adalah temperatur heater (T1), temperatur di
sekitar probe temperatur (T2), dan temperatur udara yang keluar dari kompresor dan
masuk ke dalam unggun (T3).
7. Orifice Differential Pressure
Alat ukur tekanan P2, yakni tekanan di bagian atas chamber berisi unggun, di
mana nilai tekanan tersebut merupakan tekanan yang telah mengalami kehilangan
tekanan akibat aliran udara yang melewati unggun.
8. Bed Chamber Pressure
Alat ukur tekanan P1, yakni tekanan di bagian bawah chamber berisi unggun
sebelum unggun dilalui oleh aliran udara yang menimbulkan drag force dan
menyebabkan pressure drop hingga akhirnya unggun terfluidisasi.
9. Unggun
Partikel-partikel padatan yang digunakan sebagai unggun (bed) yang diamati
perilakunya melalui fenomena fluidisasi yang diujicobakan. Partikel padatan yang
digunakan dalam percobaan adalah fused alumina (white alumunium oxide, Al2O3)
yang halus dan berwarna putih dengan densitas sebesar 3770 kg/m3
Grit size

54

80

100

Average particle size


(mm)

320

177

125

Minimum particle size


(mm)

460

274

194

Maximum particle size


(mm)

460

274

194

Pour density approx


(kg/m)

1720 1620 1560

II.1.2. Bahan
1. Air (Density of air : 1.2 kg/m3)

13

Laporan Praktikum Fluidisasi/Kelompok 3R

II.2. Prosedur Percobaan


II.2.1. Percobaan 1:
Tujuan Percobaannya adalah mengetahui korelasi antara laju alir udara dengan
tinggi unggun dan penurunan tekanan sepanjang unggun. Prosedur Percobaan:
1.

Pastikan pipa manometer yang berada di dalam chamber berada di dalam


unggun.

2.

Mencatat tinggi awal unggun (Hb0).

3.

Mengatur laju alir udara menjadi 0.2 L/s.

4.

Mencatat ketinggian unggun (Hb) dan tekanan di dalam unggun pada


manometer (h1).

5.

Menarik pipa manometer yang berada di dalam unggun ke luar unggun, lalu
mencatat nilai tekanan pada manometer (h2).

6.

Mengulang langkah 3-5 untuk laju alir 0.4, 0.6, 0.8, 1.0, 1.2, 1.4, 1.6, 1.7 L/s
(secara berurutan).

7.

Mengulang percobaan dengan laju alir mulai dari 1.7 L/s, berkurang hingga 0
L/s.

II.2.2. Percobaan 2:
Tujuan Percobaannya adalah mengetahui hubungan antara laju alir udara
dengan koefisien transfer panas pada unggun. Prosedur Percobaan:
1.

Mencatat temperatur udara ruangan yang digunakan (T3).

2.

Memastikan bahwa heater dan thermocouple berada di dalam unggun (posisi


1)

3.

Mengatur temperatur heater menjadi AoC (tergantung asisten)

4.

Mengatur laju alir udara menjadi 0 L/s

5.

Menunggu selama kira-kira 2 menit, lalu mencatat temperatur thermocouple


(T2).

6.

Mengulang langkah 5 untuk laju alir 0.4, 0.8, 1.2, dan 1.7 L/s.

7.

Mengulang langkah 4-6 untuk temperatur heater BoC dan CoC.

8.

Mengulang langkah 3 hingga 7 untuk posisi:

Heater di dalam unggun dan thermocouple di luar unggun (posisi 2).

Heater di luar unggun dan thermocouple di dalam unggun (posisi 3).

Heater dan thermocouple berada di luar unggun (posisi 4).

14

Laporan Praktikum Fluidisasi/Kelompok 3R

III. PENGOLAHAN DATA


III.1. Data Percobaan
III.1.1 Percobaan 1
a) Increasing Velocity
Q (m3/s)

h(m)

0
0.0002
0.0004
0.0006
0.0008
0.001
0.0012
0.0014
0.0016
0.0017

0.056
0.056
0.056
0.056
0.056
0.063
0.078
0.087
0.092
0.111

P1 (mmH2O) P2 (mmH2O)
4.5
4.6
4.9
5.2
5.5
5.5
5.7
5.8
5.9
5.9

2.3
2.3
2.3
2.3
2.3
3
3.5
4.1
4.7
5

b) Decreasing Velocity
Q (m3/s)

h(m)

0.0017
0.0016
0.0014
0.0012
0.001
0.0008
0.0006
0.0004
0.0002
0

0.111
0.099
0.090
0.080
0.065
0.06
0.06
0.06
0.06
0.06

P1 (mmH2O) P2 (mmH2O)
5.9
5.9
5.8
5.8
5.7
5.5
5.2
4.9
4.6
4.4

5
4.7
4.1
3.6
3.1
2.7
2.4
2.4
2.4
2.4

III.1.2. Percobaan 2
a) Tset = 80 C
Keadaan

T = 80 C, Flow Rate = 1
t keT1
T2
T3

h1

h2

Hb

15

Laporan Praktikum Fluidisasi/Kelompok 3R

II

0
1
2
3
1
2
3

60
61
66
63
66.5
66
70

47
48
48
49
38.5
37.5
37

25
25
25.2
26
26
26
26

T = 80 C, Flow Rate = 1.4


t keT1
T2
T3
0
57
43
26
1
55
43
28
2
55
45
26
3
55
45
26
1
57
45
26
2
52
45
28
3
53
45
28

Keadaan
I

II

3
3
3
3
3
3
3

h1
3.8
3.8
3.8
3.8
4.1
4.1
4.1

5.7
5.7
5.7
5.7
5.7
5.7
5.7

6.8
6.8
6.8
6.8
6.8
6.8
6.8

h2
5.9
5.9
5.9
5.9
5.9
5.9
5.9

Hb
8
8
8
8
8
8
8

b) Tset = 120 C
Keadaan
I

II

Keadaan
I

II

T = 120 C, Flow Rate = 1


t keT1
T2
T3
0
128
103
28
1
124
102
28
2
126
101
28
3
125
101
28
1
96
62
28
2
98
53
28
3
107
49
28

h1
3.1
3.1
3.1
3.1
3.1
3.1
3.1

h2
5.8
5.8
5.8
5.8
5.8
5.8
5.8

Hb
6.2
6.2
6.2
6.2
6.2
6.2
6.2

T = 120 C, Flow Rate = 1.4


t keT1
T2
T3
0
93
97
29
1
90
99
29
2
86
100
29
3
85
102
29
1
85
63
29
2
91
62
29
3
78
60
29

h1
4.1
4.1
4.1
4.1
3.1
3.1
3.1

h2
6.1
6.1
6.1
6.1
5.8
5.8
5.8

Hb
8.5
8.8
9
8.5
8.3
8
8

III.2. Perhitungan dan Grafik


Percobaan 1
Increasing Velocity

16

Laporan Praktikum Fluidisasi/Kelompok 3R

Q (m3/s)

h(m)

0
0.0002
0.0004
0.0006
0.0008
0.001
0.0012
0.0014
0.0016
0.0017

0.056
0.056
0.056
0.056
0.056
0.063
0.078
0.087
0.092
0.111

P1 (mmH2O) P2 (mmH2O)
4.5
4.6
4.9
5.2
5.5
5.5
5.7
5.8
5.9
5.9

2.3
2.3
2.3
2.3
2.3
3
3.5
4.1
4.7
5

P
(mmH2O)
2.2
2.3
2.6
2.9
3.2
2.5
2.2
1.7
1.2
0.9

Decreasing Velocity
Q (m3/s)

h(m)

0.0017
0.0016
0.0014
0.0012
0.001
0.0008
0.0006
0.0004
0.0002
0

0.111
0.099
0.090
0.080
0.065
0.06
0.06
0.06
0.06
0.06

P1 (mmH2O) P2 (mmH2O)
5.9
5.9
5.8
5.8
5.7
5.5
5.2
4.9
4.6
4.4

5
4.7
4.1
3.6
3.1
2.7
2.4
2.4
2.4
2.4

P
(mmH2O)
0.9
1.2
1.7
2.2
2.6
2.8
2.8
2.5
2.2
2

Dari data yang didapatkan diatas, dapat dibuat grafik h vs Q dan juga grafik delta P vs
Q seperti berikut.

17

Laporan Praktikum Fluidisasi/Kelompok 3R

Grafik h vs Q
increasing velocity

decreasing velocity

0.12
0.11

h (m)

0.1
0.09
0.08
0.07
0.06
0.05
0.04
0.0003

0.0005

0.0007

0.0009

0.0011

0.0013

0.0015

0.0017

0.0019

0.0017

0.0019

Q (m3/s)

Grafik 1. Hubungan antara h dengan Q

Grafik P vs Q
increasing velocity

decreasing velocity

3.5

P (mmH2O)

3
2.5
2
1.5
1
0.5
0.0003

0.0005

0.0007

0.0009

0.0011

0.0013

0.0015

Q (m3/s)

Grafik 2. Hubungan antara P dengan Q


Percobaan 2
Hasil Perhitungan Percobaan II
A. Grafik Percobaan II
Dari data setiap pengamatan yang diperoleh pada Percobaan II, praktikan membuat
grafik untuk melihat perubahan temperatur yang terjadi seiring bertambahnya waktu.
1. Grafik pada Keadaan I

18

Laporan Praktikum Fluidisasi/Kelompok 3R

a. Tset = 800C

Tset = 800C, Q = 1, pada Keadaan I


Saat T1

Saat T2

Saat T3

70
Suhu, T (Celcius)

60
50
40
30
20
10
0
0

0.5

1.5

2.5

3.5

Waktu, t (s)

Grafik 3. Hubungan waktu terhadap T1, T2, dan T3 pada laju unggun 1 L/s

Tset = 800C, Q = 1.4 L/s, pada Keadaan I


Saat T1

Saat T3

Saat T2

60
Suhu, T (Celcius)

50
40
30
20
10
0
0

0.5

1.5

2.5

3.5

Waktu, t (s)

Grafik 4. Hubungan waktu terhadap T1, T2, dan T3 pada laju unggun 1.4 L/s

b. Tset = 1200C

19

Laporan Praktikum Fluidisasi/Kelompok 3R

Tset = 1200C, Q = 1 L/s,


pada Keadaan I
Saat T1

Saat T3

Saat T2

Suhu , T (Celcius)

140
120
100
80
60
40
20
0
0

0.5

1.5

2.5

3.5

Waktu, t (s)

Grafik 5. Hubungan waktu terhadap T1, T2, dan T3 pada laju unggun 1 L/s

Tset = 1200C, Q = 1.4 L/s,


pada Keadaan I
Saat T1

Saat T3

Saat T2

Suhu, T (Celcius)

120
100
80
60
40
20
0
0

0.5

1.5

2.5

3.5

Waktu, t (s)

Grafik 6. Hubungan waktu terhadap T1, T2, dan T3 pada laju unggun 1.4 L/s

2. Grafik pada Keadaan II


a. Tset = 800C

20

Laporan Praktikum Fluidisasi/Kelompok 3R

Tset = 800C, Q = 1, pada Keadaan II


Saat T1

Saat T3

Saat T2

80
Suhu, T (Celcius)

70
60
50
40
30
20
10
0
0

0.5

1.5

2.5

3.5

Waktu, t (s)

Grafik 7. Hubungan waktu terhadap T1, T2, dan T3 pada laju unggun 1 L/s

Tset = 800C, Q = 1.4 L/s, pada Keadaan II


Saat T1

Saat T3

Saat T2

60
Suhu, T (Celcius)

50
40
30
20
10
0
0

0.5

1.5

2.5

3.5

Waktu, t (s)

Grafik 8. Hubungan waktu terhadap T1, T2, dan T3 pada laju unggun 1 L/s

21

Laporan Praktikum Fluidisasi/Kelompok 3R

Tset = 1200C, Q = 1 L/s,


pada Keadaan II
Saat T1

Saat T3

Saat T2

Suhu, T (Celcius)

120
100
80
60
40
20
0
0

0.5

1.5

2.5

3.5

Waktu, t (s)

Grafik 9. Hubungan waktu terhadap T1, T2, dan T3 pada laju unggun 1 L/s

Tset = 1200C, Q = 1.4 L/s,


pada Keadaan II
Saat T1

Saat T3

Saat T2

Suhu, T (Celcius)

100
80
60
40
20
0
0

0.5

1.5

2.5

3.5

Waktu, t (s)

Grafik 10. Hubungan waktu terhadap T1, T2, dan T3 pada laju unggun 1.4 L/s

III.2.1 Pengolahan Data Percobaan II


Melihat hubungan kecepatan superfisial, kedalaman kerendaman (h termokopel),
ukuran partikel terhadap koefisien transfer panas pada permukaan yang tercelup dalam
unggun fluidisasi.

Menentukan koefisien perpindahan panas

22

Laporan Praktikum Fluidisasi/Kelompok 3R

Langkah Pertama : Menentukan nilai Bilangan Nusselt, Nu


Untuk mengetahui nilai koefisien perpindahan panas, k, melalui Bilangan Nusselt,
Nu. Hubungan Nu dengan k diperoleh dari rumus:

Bilangan Nusselt berbeda untuk setiap bentuk permukaan yang mengalami perpindahan
panas. Pada percobaan ini, partikel unggun dianggap berbentuk bola. Untuk partikel
berbentuk bola, digunakan persamaan empiris yang dikemukakan oleh Morelus dan
Schweinzer :
(

dimana Ar merupakan bilangan Archimedes dan Pr adalah bilangan Prandtl

Langkah Kedua : Menentukan Nilai Ar


Ar

f p f gxsv3
2

dimana diketahui nilai tiap masing-masing variable adalah :

g = 9.8 m/s
(

Langkah Ketiga : Menentukan Nilai Pr


a. Menentukan nilai Cp
Nilai Cp (kapasitas panas pada tekanan konstan) merupakan fungsi suhu berdasarkan
persamaan,

nilai konstanta a, b, c, dan d untuk fluida (udara) diperoleh dengan menggunakan


software physprop.
Tabel 1. Data konstanta a, b, c, dan d

23

Laporan Praktikum Fluidisasi/Kelompok 3R

28.0872

0.001965

4.80E-06

-1.96E-09

b. Menentukan nilai konduktivitas termal (k)


Nilai konduktivitas termal (k) merupakan fungsi suhu berdasarkan persamaan di dapat
dari referensi website engineeringtoolbox.com

Tabel 2. Nilai k untuk udara


T (OC)

T (K)

k (W/m K)

-150

123

0.0116

-100

173

0.016

-50

223

0.0204

273

0.0243

20

293

0.0257

40

313

0.0271

60

333

0.0285

80

353

0.0299

100

373

0.0314

120

393

0.0328

140

413

0.0343

160

433

0.0358

180

453

0.0372

200

473

0.0386

250

523

0.0421

24

Laporan Praktikum Fluidisasi/Kelompok 3R

300

573

0.0454

350

623

0.0485

400

673

0.0515

Nilai k untuk Udara


0.06

y = 7E-05x + 0.0042
R = 0.9971

k (W/m K)

0.05
0.04
0.03
0.02
0.01
0
0

200

400

600

800

T (K)

Grafik 11. Hasil Plot Nilai k untuk Udara

Dengan mengeplot nilai k terhadap T, maka akan diperoleh grafik seperti di atas,
sehingga hubungan konduktivitas termal dan temperatur dapat dinyatakan dalam
persamaan sebagai berikut:

c. Menghitung bilangan Prandtl

Langkah Keempat : Menentukan Nilai h

25

Laporan Praktikum Fluidisasi/Kelompok 3R

Tabel 3. Perhitungan Data

Keadaan
I

II

II

II
I

T (C) Q (L/s)
80
1
80
1
80
1
80
1
80
1
80
1
80
1
80
1.4
80
1.4
80
1.4
80
1.4
80
1.4
80
1.4
80
1.4
120
1
120
1
120
1
120
1
120
1
120
1
120
1
120
1.4
120
1.4

Q
(m3/s)
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001
0.0014
0.0014
0.0014
0.0014
0.0014
0.0014
0.0014
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001
0.0014
0.0014

T(C)
25
25
25
26
26
26
26
26
28
26
26
26
28
28
28
28
28
28
28
28
28
29
29

T (K)
298
298
298
299
299
299
299
299
301
299
299
299
301
301
301
301
301
301
301
301
301
302
302

k
0.02506
0.02506
0.02506
0.02513
0.02513
0.02513
0.02513
0.02513
0.02527
0.02513
0.02513
0.02513
0.02527
0.02527
0.02527
0.02527
0.02527
0.02527
0.02527
0.02527
0.02527
0.02534
0.02534

Cp
1301.465
1301.465
1301.465
1304.15
1304.15
1304.15
1304.15
1304.15
1309.566
1304.15
1304.15
1304.15
1309.566
1309.566
1309.566
1309.566
1309.566
1309.566
1309.566
1309.566
1309.566
1312.297
1312.297

my
1.9
1.9
1.9
2.01
2.01
2.01
2.01
2.01
2.12
2.01
2.01
2.01
2.12
2.12
2.12
2.12
2.12
2.12
2.12
2.12
2.12
2.23
2.23

Pr (x 10^5)
98674.5114
98674.5114
98674.5114
104311.22
104311.22
104311.22
104311.22
104311.22
109864.637
104311.22
104311.22
104311.22
109864.637
109864.637
109864.637
109864.637
109864.637
109864.637
109864.637
109864.637
109864.637
115486.28
115486.28

Pr
0.986745
0.986745
0.986745
1.043112
1.043112
1.043112
1.043112
1.043112
1.098646
1.043112
1.043112
1.043112
1.098646
1.098646
1.098646
1.098646
1.098646
1.098646
1.098646
1.098646
1.098646
1.154863
1.154863

Ar
239.791205
239.791205
239.791205
214.2635702
214.2635702
214.2635702
214.2635702
214.2635702
192.6055202
214.2635702
214.2635702
214.2635702
192.6055202
192.6055202
192.6055202
192.6055202
192.6055202
192.6055202
192.6055202
192.6055202
192.6055202
174.0727242
174.0727242

Nu
0.260055
0.260055
0.260055
0.25234
0.25234
0.25234
0.25234
0.25234
0.245189
0.25234
0.25234
0.25234
0.245189
0.245189
0.245189
0.245189
0.245189
0.245189
0.245189
0.245189
0.245189
0.23864
0.23864

h
52.13578088
52.13578088
52.13578088
50.73046357
50.73046357
50.73046357
50.73046357
50.73046357
49.56746617
50.73046357
50.73046357
50.73046357
49.56746617
49.56746617
49.56746617
49.56746617
49.56746617
49.56746617
49.56746617
49.56746617
49.56746617
48.37701687
48.37701687

26

Laporan Praktikum Fluidisasi/Kelompok 3R

II

120
120
120
120
120

1.4
1.4
1.4
1.4
1.4

0.0014
0.0014
0.0014
0.0014
0.0014

29
29
29
29
29

302
302
302
302
302

0.02534
0.02534
0.02534
0.02534
0.02534

1312.297
1312.297
1312.297
1312.297
1312.297

2.23
2.23
2.23
2.23
2.23

115486.28
115486.28
115486.28
115486.28
115486.28

1.154863
1.154863
1.154863
1.154863
1.154863

174.0727242
174.0727242
174.0727242
174.0727242
174.0727242

0.23864
0.23864
0.23864
0.23864
0.23864

48.37701687
48.37701687
48.37701687
48.37701687
48.37701687

Kemudian, memplot hubungan antara kenaikan waktu dengan perubahan h pada laju 1 L/s dan 1.4 L/s untuk setiap keadaan I dan keadaan II

Q = 1 L/s
52.5
52
51.5
51
Keadaan I, Tset = 80 C

50.5
50

Keadaan II, Tset = 120 C

49.5

Keadaan I, Tset = 120 C

49

Keadaan II, Tset = 80 C

48.5
48
0

Waktu, t (s)

Grafik 12. Hubungan antara t dengan h saat Q = 1 L/s

27

Laporan Praktikum Fluidisasi/Kelompok 3R

Q = 1.4 L/s
51
50.5

50
Keadaan I, Tset = 80 C

49.5

Keadaan I, Tset = 120 C


Keadaan I, Tset = 120 C

49

Keadaan II, Tset = 80 C

48.5

48
0

Waktu, t (s)

Grafik 13. Hubungan antara t dengan h saat Q = 1,4 L/s

28

Laporan Praktikum Fluidisasi/Kelompok 3R

IV.ANALISIS PERCOBAAN
IV.1. Analisis Percobaan
Percobaan fluidisasi dilakukan dengan tujuan utama untuk mengetahui dan mengerti
fenomena fluidisasi dan perbedaan unggun terfluidisasi (fluidized bed) dan unggun tetap
(fixed bed). Untuk memenuhi kedua tujuan utama tersebut, percobaan dilakukan dalam dua
rangkaian besar prosedur. Pertama, untuk menguji hubungan antara laju alir fluida dengan
penurunan tekanan (pressure drop) dan tinggi unggun. Kedua, untuk menguji pengaruh
transfer panas pada partikel terfluidisasi.
Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, fluidisasi adalah suatu istilah untuk
menjelaskan fenomena ketika partikel yang berupa padatan menjadi bersifat seperti fluida
karena adanya driving force tertentu. Pada percobaan ini, partikel bed yang ingin difluidisasi
adalah Al2O3 dengan udara sebagai penggeraknya. Udara yang dialirkan berasal dari alat
yang disebut kompresor.
Ketika tidak ada aliran udara atau laju alir udara sangat kecil, bed akan berada pada
kondisi tetap karena adanya gaya tarik antarpartikel yang besar. Dalam keadaan ini, bed
dinamakan unggun tetap (fixed bed). Apabila bed dialiri udara dengan laju tertentu yang
menyebabkan bergeraknya partikel bed, maka akan timbul gelombang-gelombang seperti
unggun yang dibentuk oleh partikel bed.
Udara yang dialirkan pada awalnya memiliki laju alir maksimum. Hal ini dilakukan
untuk menghilangkan kerapatan partikel (packed) sehingga dapat saling terpisah.
Penghilangan kerapatan yang besar ini dapat terjadi karena adanya gaya seret (drag force)
antarpartikel yang besar oleh laju alir fluida tertentu sehingga dapat menghilangkan gaya
interlock partikel. Akhirnya, partikel-partikel pun terlihat bergerak-gerak. Dengan alasan
inilah praktikum dilakukan dengan mengalirkan fluida dari laju alir (Q) maksimum menuju
nol (decreasing) dan kembali dari nol dinaikkan hingga maksimum (increasing).
Gelembung udara yang terbentuk, biasanya merata pada seluruh bagian fluida.
Semakin besar laju alir fluida, maka semakin besar dan banyak pula gelembung yang

29

Laporan Praktikum Fluidisasi/Kelompok 3R

terbentuk, karena sebagian besar fluida yang berlebih mengalir sebagai gelembung. Namun,
ini terjadi ketika ukuran partikel yang digunakan seragam. Sementara pada percobaan ini,
ukuran partikel bed berbeda sehingga gelembung yang terbentuk tidak merata atau lebih
banyak pada bagian atas bed saja. Partikel yang lebih kecil atau ringan akan terseret oleh
aliran fluida (terfluidisasi) terlebih dahulu. Pemisahan ini disebut sebagai segregasi, yaitu
partikel yang lebih ringan terfluidisasi dahulu dan naik ke bagian atas kolom. Segregasi
menyebabkan sulitnya kondisi fluidisasi sempurna tercapai. Fluidisasi sempurna terjadi
ketika gelembung terbentuk merata pada tiap bagian fluida. Dengan demikian, dapat ditarik
kesimpulan bahwa fluidisasi yang terjadi adalah fluidisasi tak sempurna.
IV.1.2 Percobaan I
Tujuan dari percobaan I adalah untuk mengetahui hubungan antara laju alir fluida
dengan penurunan tekanan dan tinggi unggun. Data yang diambil adalah variasi laju alir
udara yang semakin menurun (decreasing flowrate) dan peningkatannya (increasing
flowrate) serta tinggi unggun. Pada percobaan ini, laju alir fluida yang diuji yaitu antara 01,7 L/s dengan interval 0,2 L/s hingga 1,6 L/s dan dilanjutkan dengan interval 0.1 L/s
hingga 1,7 L/s
IV.1.2.1. Hubungan Laju Alir Fluida dan Tinggi Unggun
Pada saat bed dialiri fluida dengan laju tertentu, maka akan timbul gelembunggelembung yang menyebabkan partikel bed terfluidisasi. Gelembung tersebut akan
menyebabkan ketinggian unggun bertambah. Ketinggian awal diukur ketika bed dalam
keadaan belum terfluidisasi, sedangkan ketinggian akhir diukur dari panjang loncatan
gelembung partikel yang paling tinggi setelah terjadi kondisi steady. Ini dikarenakan pada
loncatan tertinggi, gaya seret yang timbul menjadi gaya seret maksimum yang dapat
dihasilkan pada kecepatan superfisial tertentu.
Ketika laju alir udara dinaikkan (kecepatan superfisial diperbesar), maka penurunan
tekanan pun ikut meningkat. Namun, selama kecepatan superfisial masih di bawah
kecepatan minimum fluidisasi, maka partikel bed tidak akan bergerak. Apabila laju alir
udara dinaikkan lagi hingga besarnya sama dengan kecepatan minimum fluidisasi, maka
penurunan tekanan akan sama dengan gaya berat partikel sehingga unggun akan berada

30

Laporan Praktikum Fluidisasi/Kelompok 3R

dalam kondisi hampir terfluidisasi. Apabila laju alir fluida lebih dinaikkan lagi (kecepatan
superfisial diperbesar), gaya seret fluida akan menjadi lebih besar daripada tahanan bed
(gaya berat dan kohesi partikel) sehingga partikel bed akan mulai terfluidisasi. Semakin
tinggi kecepatan superfisial, semakin tinggi pula loncatan unggun akibat semakin
meningkatnya rasio gaya seret terhadap tahanan partikel bed.
IV.1.2.2. Hubungan Laju Alir Fluida dan Pressure Drop
Pengambilan data dilakukan dengan cara menaikkan dan menurunkan laju alir udara
(kecepatan superfisial). Dengan mengubah variasi laju alir fluida, maka diperoleh data
berupa tekanan dan ketinggian unggun sebelum terfluidisasi dan setelah terfluidisasi.
Selain ketinggian unggun, laju alir fluida juga mempengaruhi penurunan tekanan
(pressure drop). Ketika suatu aliran fluida melewati partikel bed, akan timbul gaya seret
(drag force) pada partikel. Gaya seret berbanding lurus dengan gaya berat, yang menyatakan
kelembaman suatu materi. Gaya berat sebanding dengan penurunan tekanan. Dengan
demikian, semakin besar laju alir udara (kecepatan superfisial), semakin besar pula
penurunan tekanan yang terjadi. Namun, pada laju alir tertentu penurunan tekanan yang
terjadi akan konstan, yakni ketika gaya seret fluida sudah dapat mengimbangi gaya berat
partikel, sehingga tekanan menjadi tetap.
IV.1.2. Percobaan II
IV.1.2.1. Pengaruh Transfer Panas pada Partikel Terfluidisasi
Percobaan 2 melakukan pengukuran terhadap T2 (suhu termokopel) dan T3 (suhu
bed). Percobaan ini dilakukan dengan memberikan perlakuan berbeda pada termokopel.
Keadaan I yaitu pada saat kedua heater dan termokopel tercelup, sedangkan keadaan II yaitu
pada saat heater tercelup dan termokopel berada di atas unggun. Hal ini dilakukan bertujuan
untuk mengetahui hubungan antara laju alir udara dengan koefisien transfer panas pada
unggun.
Pada peristiwa ini terjadi perpindahan panas yang berpindah dari heater (sumber
panas) ke partikel bed. Praktikan mengamati bahwa semakin lama waktu percobaan, suhu
partikel bed akan naik mendekati suhu heater. Semakin dalam heater dicelupkan, maka

31

Laporan Praktikum Fluidisasi/Kelompok 3R

semakin besar tingkat perpindahan panasnya. Hal ini disebabkan heater memiliki lebih
banyak kontak dengan permukaan partikel bed yang suhunya lebih kecil sehingga panas
akan lebih banyak berpindah ke partikel bed daripada ke udara (heat loss yang terjadi lebih
kecil).
Sebelum terjadi fluidisasi, partikel akan diam. Ketika heater dicelupkan ke dalam
bed, maka terjadi perpindahan panas secara konduksi antara dua permukaan zat padat, yaitu
dari heater ke partikel bed. Ukuran partikel berpengaruh terhadap tingkat perpindahan
panas. Semakin kecil ukuran partikel, semakin cepat suhunya meningkat, karena rasio luas
permukaan dengan volumnya besar sehingga panas dengan cepat berpindah.
Perpindahan panas yang terjadi ketika bed dalam keadaan tetap akan meningkatkan
suhu partikel bed yang berada di dekat heater hingga mendekati suhu heater. Saat terjadi
fluidisasi, terjadi pergantian kontak antara heater dengan partikel bed lain yang suhunya
lebih kecil. Aliran fluida ini akan menyebabkan pergantian kontak yang terus-menerus
(antara heater dengan satu partikel dan partikel-partikel yang lain) sehingga suhu masingmasing partikel menjadi merata (homogen).
IV.2 ANALISIS PERHITUNGAN DAN GRAFIK
IV.2.1. Percobaan 1
Perhitungan
Dari data yang didapat, tinggu awal unggun sebelum diberi laju alir adalah 5,6 cm.
Selanjutnya Q dinaikan sampai menyentuh Q maksimal alat yaitu 1.7 L/s dimana tinggi
unggun menjadi 11.1 cm. Terjadi perubahan ketinggian yang berbanding lurus dengan
semakin besarnya laju alir. Hal ini sesuai dengan teorinya. Walaupun dari data yang
kelompok kami peroleh tidak selalu saat kecepatan aliran ditambahkan maka tinggi unggun
akan bertambah. Pada data saat laju alir 0.2 L/s hingga 0.8 L/s tinggi unggun tetap pada
kisaran 5.6 cm. Hal ini mungkin disebabkan karena alat ukur yang kami pakai yaitu
penggaris yang menempel pada chamber tingkat ketelitiannya kurang. Mungkin saja pada
saat kecepatan tersebut tinggi unggun bertambah sebesar 0.5 cm atau bahkan 0.05 cm, akan
tetapi karena kurang besarnya skala dari pengukur yang dipakai sehingga pengamatan yang

32

Laporan Praktikum Fluidisasi/Kelompok 3R

dilakukan praktikanpun kurang teliti. Hal selanjutnya juga bisa disebabkan oleh kurang
cepatnya praktikan membaca pergerakkan unggun sehingga tinggi yang didapatkan tidak
representatif. Hal ini disebabkan karena pergerakan unggun saat terfluidisasi cukup cepat
sehingga sulit untuk mengukur ketinggian pastinya dengan penggaris. Tekanan (P) yang
didapat pada percobaan ini juga berbanding lurus dengan kecepatan aliran. Dimana tekanan
yang didapat cenderung naik. Hal ini sesuai dengan teori dimana semakin tinggi kecepatan
yang dihasilkan maka akan semakin tinggi pula tekanan yang dihasilkan.
Selain data diatas praktikan juga melakukan percobaan untuk kecepatan aliran yang
menurun yaitu dari 1.7 L/s hingga 0 L/s. Pada kecepatan aliran ini tinggi unggun yang
dihasilkan menurun dari 11.1 hingga 6 cm. Sehingga dapat disimpulkan data yang diambil
sudah benar. Tinggi awal data ini sama (kebalikannya) seperti pada saat kecepatan aliran
saat menaik namun tinggi akhir berbeda, hal ini mungkin disebabkan karena adanya gas
yang masih terperangkap didalam unggun.
Grafik
Dari data-data diatas lalu praktikan olah untuk menjadi grafik. Terdapat 2 buah
grafik yaitu pertama grafik hubungan Tinggi unggun (Hb) Vs. Laju Alir Udara (Q) dan yang
kedua grafik hubungan antara delta P vs Laju Alir Udara (Q). Akan tetapi bila dilihat pada
grafik data untuk kecepatan dari besar ke kecil lebih cenderung mengalami penurunan yang
stabil setiap tingkatnya, berbeda dengan data kecepatan aliran dari kecil kebesar yang dalam
beberapa titik tidak mengalami perubahan. Menurut teori seharusnya titik-titik persebaran
baik untuk data kecepatan aliran kecil ke besar maupun besar ke kecil sama, sehingga
kemungkinan terjadi ketidaktelitian pada percobaan. Kesalahan ini akan dibahas dalam
analisa kesalahan.
IV.2.2. Percobaan 2
Perhitungan
a. Pada laju alir, Q = 1 L/s
Pada pengolahan data diperoleh bahwa pada kondisi temperatur 800C pada keadaan I
(saat heater dan termokopel tercelup), suhu heater, T1, (dengan hasil : 600C, 610C, 660C)

33

Laporan Praktikum Fluidisasi/Kelompok 3R

termokopel, T2, (dengan hasil 470C, 480C, 480C) dan bed, T3 (dengan hasil 250C, 250C,
25.50C) cenderung naik. Sementara, pada kondisi temperatur 800C pada keadaan II, yaitu
pada saat heater tercelup sedangkan termokopel di atas unggun, suhu heater, T1 (dengan
hasil 66.50C, 660C, 700C), menurun kemudian naik pada t = 3, termokopel , T2 (dengan
hasil 38.50C, 37.50C, 370C), cenderung menurun dan bed , T3, konstan pada suhu 260C.
Pada pengolahan data diperoleh bahwa pada kondisi temperatur 1200C pada keadaan
I, yaitu pada saat heater dan termokopel tercelup, suhu heater, T1 (dengan hasil 1240C ,
1260C , 1250C ) menurun sampai t = 1 kemudian meningkat pada t = 2 menurun lagi,
termokopel, T2 ( dengan hasil 1020C , 1010C , 1010C ) menurun dan bed, T3, cenderung
konstan pada suhu 280C. Sementara, pada kondisi temperatur 1200C pada keadaan II, yaitu
pada saat heater tercelup sedangkan termokopel di atas unggun, suhu heater, T1 (dengan
hasil 960C , 980C , 1070C ) naik, termokopel, T2 ( dengan hasil 620C , 530C , 490C )
cenderung menurun dan bed, T3 konstan pada suhu 280C.

b. Pada laju alir, Q = 1.4 L/s


Pada pengolahan data diperoleh bahwa pada kondisi temperatur 800C pada keadaan I
(saat heater dan termokopel tercelup), suhu heater, T1 konstan pada suhu 550C, termokopel
,T2, ( dengan hasil 430C , 450C , 450C ) naik dan bed, T3 ( dengan hasil 280C , 260C , 260C
) cenderung menurun. Sementara, pada kondisi temperatur 800C pada keadaan II (saat
heater tercelup sedangkan termokopel di atas unggun), suhu heater ,T1, ( dengan hasil 570C
, 520C , 530C ) menurun kemudian naik pada t = 2, termokopel ,T2, konstan pada suhu 450C
dan bed ,T3 ( dengan hasil 260C , 280C , 280C ) cenderung naik.
Pada pengolahan data diperoleh bahwa pada kondisi temperatur 1200C pada keadaan
I (saat heater dan termokopel tercelup), suhu heater, T1, (dengan hasil 900C , 860C , 850C)
menurun, termokopel, T2, (dengan hasil 990C , 1000C , 1010C) naik dan bed, T3, cenderung
konstan pada suhu 290C. Sementara, pada kondisi temperatur 1200C pada keadaan II (saat
heater tercelup sedangkan termokopel di atas unggun), suhu heater, T1, ( dengan hasil
850C, 910C, 780C) fluktuatif, termokopel, T2 (dengan hasil 630C, 620C, 600C) cenderung
menurun dan bed ,T3 konstan pada suhu 290C.
Pada keadaan I, hasil menunjukkan pada masing-masing suhu heater yang fluktuatif
, suhu bed cenderung konstan tetapi nilai terbesarnya juga terdapat pada saat suhu set 130oC.

34

Laporan Praktikum Fluidisasi/Kelompok 3R

Hal ini sesuai dengan teori ketika heater yang menempel pada unggun, jika suhunya
semakin tinggi maka panas akan terkonduksi melalui partikel unggun yang berupa alumina
(Al2O3) dan panas tersebut akan terukur oleh thermocouple yang berada di dalam unggun.
Namun pada laju alir yang dinaikkan temperature unggun cenderung konstan atau turun. Hal
tersebut berkaitan dengan transfer panas yang akan berubah ketika terjadi fenomena
fluidisasi.
Pada saat posisi heater di dalam unggun dan thermocouple di atas unggun, hasil
menunjukkan temperature unggun cenderung konstan. Disini nilai perubahan suhu heater
tertinggi didapat pada suhu 120oC. Hal ini sesuai teori yang menyatakan suhu tertinggilah
yang akan perubahan suhu paling besar.

Grafik
Setelah data dihitung sehingga didapatkan angka Nuselt untuk menghitung koefisien
transfer panas, dibuat grafik hubungan antara koefisien transfer panas dengan kenaikan laju
alir. Seperti pada Grafik hubungan antara laju alir udara dengan koefisien transfer panas
pada setiap (t vs h) pada laju alir 1 L/s dan1.4 L/s. Nilai koefisien transfer massa untuk tiaptiap laju alir pada variasi suhu heater hampir sama. Nilai koefisien ini akan naik seiring
kenaikan laju air. Pada saat laju alir bertambah akan terjadi fenomena fuidisasi. Maka dari
itu dapat dikatakan fenomena ini mempengaruhi transfer panas. Hal ini dapat terjadi karena
terjadikenaikan turbulensi pada udara. Akibatnya, peristiwa bubbling semakin terlihat.
Peristiwa bubbling yang mengalami kenaikan aktivitas akan membentuk gelembung yang
semakin besar pula dalam waktu singkat. Hal ini akan mempermudah terjadinya transfer
panas antara fluida (udara) dengan unggun sebab pergerakan medium penghantar yang juga
semakin besar.

35

Laporan Praktikum Fluidisasi/Kelompok 3R

BAB 3
KESIMPULAN
Pada praktium fluidisasi diperoleh beberapa kesimpulan, seperti :
-

Bed atau unggun sudah mulai terfluidisasi ketika, drag force dengan bed sudah
seimbang/sama besar gaya berat bed tersebut

Besar kecepatan superficial berbanding lurus dengan pressure drop, sehingga semakin
besar kecepatan superficial, semakin besar juga besar pressure drop, tetapi pada waktu
tertentu pressure drop akan menjadi konstan

Besar kecepatan superficial juga berbanding lurus dengan ketinggian bed, sehingga
semakin besar kecepatan superficial, akan semakin tinggi bed, tetapi juga akan konstan
pada waktu tertentu

Guna bed atau unggun adalah mendispersikan kalor/panas yang ada, sehingga pada kasus
ini, lebih baik digunakan fluidized bed, karena membuat perpindahan panas merata

Semakin besar kecepatan superficial, akan semakin besar juga besar koefisien
perpindahan panas

Kondisi yang baik dalam penggunaan heater adalah saat heater tercelup kedalam fluida
karena kalor/panas akan lebih cepat ditransferkan ke partikel-partikel bed, sedangkan saat
heater diangkat (tidak tercelup), profilnya akan semakin menurun

36

Laporan Praktikum Fluidisasi/Kelompok 3R

BAB 4

DAFTAR PUSTAKA

37