Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN

ANALISA MANUVER JARINGAN


GI WIROBRAJAN

Disusun oleh :
Wisnu Wijanarko 3.39.12.0.23
Yuan Prahapsari

3.39.12.0.24

Program Studi Teknik Listrik


Jurusan Teknik Elektro
Politeknik Negeri Semarang
2014

BAB I
PENDAHULUAN
Manuver atau memanipulasi jaringan distribusi adalah serangkaian kegiatan membuat modifikasi
terhadap operasi normal dari jaringan akibat dari adanya gangguan atau pekerjaan jaringan yang
membutuhkan pemadaman tenaga listrik, sehingga dapat mengurangi daerah pemadaman dan
agar tetap tercapai kondisi penyaluran tenaga listrik yang semaksimal mungkin. Kegiatan yang
dilakukan dalam manuver jaringan antara lain :
1. Memisahkan bagianbagian jaringan yang semula terhubung dalam keadaan bertegangan
ataupun tidak bertegangan dalam kondisi normalnya.
2. Menghubungkan bagianbagian jaringan yang semula terpisah dalam keadaan
bertegangan ataupun tidak bertegangan dalam kondisi normalnya.

Optimalisasi atas keberhasilan kegiatan manuver jaringan dari segi teknis ditentukan oleh
konfigurasi jaringan dan peralatan manuver yang tersedia di sepanjang jaringan. Peralatan yang
dimaksud adalah peralatan peralatan jaringan yang berfungsi sebagai peralatan hubung.

Peralatan tersebut antara lain yaitu :

1. Pemutus Tenaga (PMT)

PMT

Pemutus tenaga (PMT) adalah adalah alat pemutus tenaga listrik yang berfungsi untuk
menghubungkan dan memutuskan hubungan listrik (switching equipment) baik dalam kondisi
normal (sesuai rencana dengan tujuan pemeliharaan), abnormal (gangguan), atau manuver
system, sehingga dapat memonitor kontinuitas system tenaga listrik dan keandalan pekerjaan
pemeliharaan
Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh suatu pemutus tenaga atau Circuit Breaker (CB) adalah :

Harus mampu untuk menutup dan dialiri arus beban penuh dalam waktu yang lama.

Dapat membuka otomatis untuk memutuskan beban atau beban lebih.

Harus dapat memutus dengan cepat bila terjadi hubung singkat.

Celah (Gap) harus tahan dengan tegangan rangkaian, bila kontak membuka.

Mampu dialiri arus hubung singkat dengan waktu tertentu.

Mampu memutuskan arus magnetisasi trafo atau jaringan serta arus pemuatan (Charging
Current)

Mampu menahan efek dari arching kontaknya, gaya elektromagnetik atau kondisi termal
yang tinggi akibat hubung singkat.

PMT tegangan menengah ini biasanya dipasang pada Gardu Induk, pada kabel masuk ke busbar
tegangan menengah (Incoming Cubicle) maupun pada setiap rel/busbar keluar (Outgoing
Cubicle) yang menuju penyulang keluar dari Gardu Induk (Yang menjadi kewenangan operator
tegangan menengah adalah sisi Incoming Cubicle). Ditinjau dari media pemadam busur apinya
PMT dibedakan atas :
- PMT dengan media minyak (Oil Circuit Breaker)
- PMT dengan media gas SF6 (SF6 Circuit Breaker)
- PMT dengan media vacum (Vacum Circuit Breaker)
Konstruksi PMT sistem 20 kV pada Gardu Induk biasanya dibuat agar PMT dan mekanisme
penggeraknya dapat ditarik keluar / drawable (agar dapat ditest posisi apabila ada pemadaman
karena pekerjaan pemeliharaan maupun gangguan).

2. Disconector (DS) / Saklar Pemisah

Adalah sebuah alat pemutus yang digunakan untuk menutup dan membuka pada komponen
utama pengaman/recloser, DS tidak dapat dioperasikan secara langsung, karena alat ini
mempunyai desain yang dirancang khusus dan mempunyai kelas atau spesifikasi tertentu, jika
dipaksakan untuk pengoperasian langsung, maka akan menimbulkan busur api yang dapat
berakibat fatal. Yang dimaksud dengan pengoperasian langsung adalah penghubungan atau
pemutusan tenaga listrik dengan menggunakan DS pada saat DS tersebut masih dialiri tegangan
listrik.

Pengoperasian DS tidak dapat secara bersamaan melainkan dioperasikan satu per satu karena
antara satu DS dengan DS yang lain tidak berhubungan, biasanya menggunakan stick (tongkat
khusus) yang dapat dipanjangkan atau dipendekkan sesuai dengan jarak dimana DS itu berada,
DS sendiri terdiri dari bahan keramik sebagai penopang dan sebuah pisau yang berbahan besi
logam sebagai switchnya.

Disconecting Switch (DS)

3. Air Break Switch (ABSw)


Air Break Switch (ABSw) adalah peralatan hubung yang berfungsi sebagai pemisah dan biasa
dipasang pada jaringan luar. Biasanya medium kontaknya adalah udara yang dilengkapi dengan
peredam busur api / interrupter berupa hembusan udara. ABSw juga dilengkapi dengan peredam

busur api yang berfungsi untuk meredam busur api yang ditimbulkan pada saat membuka /
melepas pisau ABSw yang dalam kondisi bertegangan .
Kemudian ABSw juga dilengkapi dengan isolator tumpu sebagai penopang pisau ABSw , pisau
kontak sebagai kontak gerak yang berfungsi membuka / memutus dan menghubung / memasukan
ABSw , serta stang ABSw yang berfungsi sebagai tangkai penggerak pisau ABSw.
Perawatan rutin yang dilakukan untuk ABSw karena sering dioperasikan, mengakibatkan pisaupisaunya menjadi aus dan terdapat celah ketika dimasukkan ke peredamnya / kontaknya. Celah
ini yang mengakibatkan terjadi lonjakan bunga api yang dapat membuat ABSw terbakar.

Air Break Switch Gambar 3.16. Handle ABSW

Pemasangan ABSw pada jaringan, antara lain digunakan untuk :


a. Penambahan beban pada lokasi jaringan
b. Pengurangan beban pada lokasi jaringan
c. Pemisahan jaringan secara manual pada saat jaringan mengalami gangguan.

ABSW terdiri dari :


1. Stang ABSW
2. Cross Arm Besi
3. Isolator Tumpu
4. Pisau Kontak
5. Kawat Pentanahan

6. Peredam Busur Api


7. Pita Logam Fleksibel

4. Load Break Switch (LBS)


Load Break Switch (LBS) atau saklar pemutus beban adalah peralatan hubung yang digunakan
sebagai pemisah ataupun pemutus tenaga dengan beban nominal. Proses pemutusan atau
pelepasan jaringan dapat dilihat dengan mata telanjang. Saklar pemutus beban ini tidak dapat
bekerja secara otomatis pada waktu terjadi gangguan, dibuka atau ditutup hanya untuk
memanipulasi beban.

Load Break Switch ( LBS )

5. Recloser ( Penutup Balik Otomatis / PBO )


Recloser adalah peralatan yang digunakan untuk memproteksi bila terdapat gangguan, pada sisi
hilirnya akan membuka secara otomatis dan akan melakukan penutupan balik (reclose) sampai
beberapa kali tergantung penyetelannya dan akhirnya akan membuka secara permanen bila
gangguan masih belum hilang (lock out). Penormalan recloser dapat dilakukan baik secara
manual maupun dengan sistem remote. Recloser juga berfungsi sebagai pembatas daerah yang
padam akibat gangguan permanen atau dapat melokalisir daerah yang terganggu

Recloser mempunyai 2 (dua) karateristik waktu operasi (dual timming), yaitu operasi cepat (fast)
dan operasi lambat (delay)
Menurut fasanya recloser dibedakan atas :

Recloser 1 fasa

Recloser 3 fasa

Menurut sensor yang digunakan, recloser dibedakan atas :

Recloser dengan sensor tegangan (dengan menggunakan trafo tegangan) digunakan di


jawa timur

Recloser dengan sensor arus (dengan menggunakan trafo arus) digunakan di jawa tengah

Recloser

BAB II
PEMBAHASAN
Pada Gardu Induk Wirobrajan memiliki 4 feeder dengan tegangan tiap feeder adalah 20 kV. Tiap
feeder menyuplai beberapa daerah, sebagai contoh untuk feeder 1 menyuplai 4 daerah yaitu
Ngestiharjo-Pakuncen, Tegalrejo, Bumijo A dan Bumijo B. Untuk manuver jaringan yang akan
dilakukan pada GI Wirobrajan ini, maka disimulasikan gangguan terjadi pada feeder 1.
PERSIAPAN MANUVER

Mengetahui keadaan operasi normal maupun darurat dari bagian jaringan yang mutakir.

Mengetahu kemampuan seluruh peralatan yang terpasang pada jaringan.

Mengikuti secara kronologis keadaan yang terjadi pada jaringan, manuver-manuver yang
berlangsung.

Mengetahui tata cara komunikasi dalam operasi jaringan.

Mempersiapkan perlengkapan manuver.

Perlengkapan pengaman.

Peralatan kerja, K3 /K2, Alat ukur dan SOP.

Sarana transportasi / kendaraan.

PROSEDUR DALAM MELAKSANAKAN MANUVER


Manuver secara manual : mengirim petugas ketempat / lapangan.
Manuver dilakukan dari GH / gardu Induk.

ANALISA SIMULASI GANGGUAN


1. Sebelum Gangguan
Dalam hal ini kita menganalisis feeder 1 dan feeder 2. Gangguan disimulasikan terjadi pada
JTM diantara Tegalrejo dan Bumijo A.

Gambar 2.1 Single Line Diagram sebelum terjadi gangguan.

Dapat dilihat pada gambar diatas ABSw masih dalam keadaan CLOSE (belum terjadi
gangguan). Gangguan disimulasikan terjadi pada Feeder 1. Kemudian Bumijo A dan
Bumijo B akan disuplai dari Feeder 2, yaitu dari Gardu Distribusi Pasar Kembang. Berikut
ini adalah data yang diperoleh sebelum terjadi gangguan :
a) Daya
-

Feeder 1

: 6404 kVA

Feeder 2

: 5886 kVA

b) Drop tegangan
Feeder 1

Tegalrejo

: 0,75% (Bus 888)

Bumijo A

: 0,74% (Bus 1066)

Bumijo B

: 0,65% (Bus 1120)

Gambar drop tegangan pada daerah Tegalrejo sebelum gangguan

2. Setelah Gangguan
Saat terjadi gangguan seperti gambar 2.2 di bawah, maka akan diisolir oleh recloser melalui
SSO. Hal ini mengakibatkan suplai daya ke Bumijo A dan Bumijo B terputus.

Gambar 2.2 Single Line Diagram setelah terjadi gangguan.

Dapat dilihat pada gambar diatas ABSw sudah dalam keadaan OPEN (yang menandakan
sudah terjadi gangguan). Kemudian Bumijo A dan Bumijo B disuplai dari Feeder 2, yaitu
dari Gardu Distribusi Pasar Kembang. Berikut ini adalah data yang diperoleh setelah terjadi
gangguan :
a) Daya
-

Feeder 1

: 4204 kVA

Feeder 2

: 8089 kVA

b) Drop tegangan
Feeder 1

Tegalrejo

: 0,32% (Bus 888)

Bumijo A

: 0,67% (Bus 1066)

Bumijo B

: 0,65% (Bus 1120)

Gambar drop tegangan pada daerah Tegalrejo setelah gangguan

Dari data yang diperoleh saat sebelum dan sesudah terjadi gangguan dapat dinyatakan bahwa
manuver jaringan bisa dilakukan karena besarnya drop tegangan setelah manuver tidak melebihi
standar yang telah ditentukan yaitu 5%.
Sedangkan besarnya daya yang disalurkan feeder 1 setelah terjadi gangguan berkurang dari 6404
kVA menjadi 4204 kVA, hal ini dikarenakan pengurangan beban pada feeder 1 yaitu Bumijo A
dan Bumijo B. Sebaliknya pada feeder 2 terjadi penambahan beban sehingga daya yang disuplai
oleh feeder 2 bertambah dari 5886 kVA menjadi 8089 kVA.

sumber:
http://dayatthepieceofworld.blogspot.com
http://anak-elektro-ustj.blogspot.com/2011/11/ayo-sama-sama-belajar-3_10.html
http://www.gunadarma.ac.id/library/abstract/gunadarma_10403022-ssm_fti.pdf

Anda mungkin juga menyukai