Anda di halaman 1dari 5

DEFINISI

Istilah selulitis biasanya digunakan untuk menunjukkan peradangan yang belum


nekrotis dari kulit dan jaringan subkutan, proses ini biasanya berhubungan dengan infeksi
bacterial akut pada kulit yang tidak melibatkan fasia atau otot. Infeksi yang terjadi menyebar
ke dalam hingga ke lapisan dermis dan sub kutis. Infeksi ini biasanya didahului luka atau
trauma dengan penyebab tersering Streptococcus beta hemolitikus dan Staphylococcus
aureus. Pada anak usia di bawah 2 tahun dapat disebabkan oleh Haemophilus influenza,
keadaan anak akan tampak sakit berat, sering disertai gangguan pernapasan bagian atas, dapat
pula diikuti bakterimia dan septikemia.Selulitis ditandai dengan tanda-tanda peradangan lokal
pada lokasi infeksi seperti eritema, teraba hangat, dan nyeri serta terjadi limfangitis dan
sering bergejala sistemik seperti demam dan peningkatan hitungan sel darah putih.
Selulitis yang mengalami supurasi disebut flegmon, sedangkan bentuk selulitis
superfisial yang mengenai pembuluh limfe yang disebabkan oleh Streptokokus beta
hemolitikus grup A disebut erisepelas. Tidak ada perbedaan yang bersifat absolut antara
selulitis dan erisepelas yang disebabkan oleh Streptokokus. Sebagian besar kasus selulitis
dapat sembuh dengan pengobatan antibiotik. Infeksi dapat menjadi berat dan menyebabkan
infeksi seluruh tubuh jika terlambat dalam memberikan pengobatan.

ETIOLOGI
Penyebab selulitis paling sering pada orang dewasa adalah Staphylococcus aureus dan
Streptokokus beta hemolitikus grup A sedangkan penyebab selulitis pada anak adalah
Haemophilus influenza tipe b (Hib), Streptokokus beta hemolitikus grup A, dan
Staphylococcus aureus. Streptococcuss beta hemolitikus group B adalah penyebab yang
jarang pada selulitis. Selulitis pada orang dewasa imunokompeten banyak disebabkan oleh
Streptococcus pyogenes dan Staphylococcus aureus sedangkan pada ulkus diabetikum dan

ulkus dekubitus biasanya disebabkan oleh organisme campuran antara kokus gram positif dan
gram negatif aerob maupun anaerob. Bakteri mencapai dermis melalui jalur eksternal
maupun hematogen. Pada imunokompeten perlu ada kerusakan barrier kulit, sedangkan pada
imunokopromais lebih sering melalui aliran darah. Onset timbulnya penyakit ini pada semua
usia.

EPIDEMIOLOGI
Prevalensi yang tepat bagi kasus selulitis sulit dipastikan karena kejadian selulitis ini
sangat jarang dilaporkan. Namun, selulitis adalah infeksi yang relatif umum, mempengaruhi
semua kelompok ras dan etnis. Tidak ada perbedaan yang signifikan dalam kejadian selulitis
pada pria dan wanita, dan tidak ada kecenderungan usia biasanya digambarkan. Meskipun
demikian, studi telah menemukan insiden selulitis yang lebih tinggi pada orang tua yang
berumur lebih dari 45 tahun dan pada anak-anak usia di bawah 3 tahun.
Kelompok usia tertentu memiliki risiko yang lebih tinggi dalam beberapa skenario yang
unik, seperti berikut:
-

Secara historis, selulitis bukal disebabkan oleh H influenzae tipe B lebih umum pada
anak-anak muda dari 3 tahun.

Selulitis wajah lebih sering terjadi pada orang dewasa yang lebih tua dari 50 tahun,
namun, selulitis wajah pneumokokus terjadi terutama pada anak-anak muda yang
beresiko untuk terkena pneumokokus bakteremia.

Selulitis perianal, biasanya dengan kelompok A Streptococcus beta-hemolitik


(GABHS), terjadi pada anak-anak berusia kurang dari 3 tahun.

Pasien lansia dengan selulitis cenderung untuk terjadi tromboflebitis

FAKTOR RESIKO
Terdapat beberapa faktor yang meningkatkan resiko terjadinya selulitis yaitu :-

Luka di kulit sama ada luka kecil, luka bakar, atau sebarang fraktur yang dapat
menjadi lokasi masuknya bakteri.

Gigitan dan serangan serangga, gigitan hewan atau manusia.

Riwayat penyakit pembuluh darah perifer, diabetes mellitus.

Tindakan terhadap penyakit jantung, paru-paru, atau gigi, yang baru-baru ini dijalani
oleh penderita.

Pemakaian obat imunosupresan atau kortikosteroid.

Obesitas bukan sahaja dapat meningkatkan resiko terkena selulitis malah


meningkatkan kecenderungan terjadinya rekuren.

Kondisi kulit. Beberapa penyakit kulit seperti eczema, athletes foot, chickenpox, dan
shingles, dapat menyebabkan kerusakan kulit hingga meningkatkan resiko selulitis.

FAKTOR PREDISPOSISI
Faktor predisposisi selulitis adalah: kaheksia, diabetes melitus, malnutrisi,
disgamaglobulinemia, alkoholisme, dan keadaan yang dapat menurunkan daya tahan tubuh
terutama bila diseratai higiene yang jelek. Selulitis umumnya terjadi akibat komplikasi suatu
luka atau ulkus atau lesi kulit yang lain, namun dapat terjadi secara mendadak pada kulit yang
normal terutama pada pasien dengan kondisi edema limfatik, penyakit ginjal kronik atau
hipostatik.

GEJALA KLINIS
Gambaran klinis tergantung akut atau tidaknya infeksi. Umumnya semua bentuk
ditandai dengan kemerahan dengan batas jelas, nyeri tekan dan bengkak. Penyebaran
perluasan kemerahan dapat timbul secara cepat di sekitar luka atau ulkus disertai dengan
demam dan lesu. Pada keadaan akut, kadang-kadang timbul bula. Dapat dijumpai
limfadenopati limfangitis. Tanpa pengobatan yang efektif dapat terjadi supurasi lokal
(flegmon, nekrosis atau gangren).
Selulitis biasanya didahului oleh gejala sistemik seperti demam, menggigil, dan
malaise. Daerah yang terkena terdapat 4 kardinal peradangan yaitu rubor (eritema), color
(hangat), dolor (nyeri) dan tumor (pembengkakan). Lesi tampak merah gelap, tidak berbatas
tegas pada tepi lesi tidak dapat diraba atau tidak meninggi. Pada infeksi yang berat dapat
ditemukan pula vesikel, bula, pustul, atau jaringan neurotik. Ditemukan pembesaran kelenjar
getah bening regional dan limfangitis ascenden. Pada pemeriksaan darah tepi biasanya
ditemukan leukositosis.
Periode inkubasi sekitar beberapa hari, tidak terlalu lama. Gejala prodormal berupa:
malaise anoreksia; demam, menggigil dan berkembang dengan cepat, sebelum menimbulkan
gejala-gejala khasnya. Pasien imunokompromis rentan mengalami infeksi walau dengan
patogen yang patogenisitas rendah. Terdapat gejala berupa nyeri yang terlokalisasi dan nyeri
tekan. Jika tidak diobati, gejala akan menjalar ke sekitar lesi terutama ke proksimal. Kalau
sering residif di tempat yang sama dapat terjadi elefantiasis.
Lokasi selulitis pada anak biasanya di kepala dan leher, sedangkan pada orang dewasa
paling sering di ekstremitas karena berhubungan dengan riwayat seringnya trauma di
ekstremitas. Pada penggunaan salah obat, sering berlokasi di lengan atas. Komplikasi jarang
ditemukan, tetapi termasuk glomerulonefritis akut (jika disebabkan oleh strain nefritogenik

streptococcus, limfadenitis, endokarditis bakterial subakut). Kerusakan pembuluh limfe dapat


menyebabkan selulitis rekurens.