Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRAKTIKUM

PENENTUAN KADAR PROTEIN

NAMA

: NINI ASTUTI ALWI

NIM

: H311 12 019

KELOMPOK

: II (DUA)

HARI / TGL. PERCOBAAN : KAMIS / 27 FEBRUARI 2014


ASISTEN

: SARTIKA

LABORATORIUM BIOKIMIA
JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PANGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Protein adalah bagian terbesar tubuh sesudah air, seperlima bagian tubuh
adalah protein. Semua enzim berbagai hormon pengangkut
dan

darah,

matrik

intraseluler

dan

sebagainya

zat-zat gizi

adalah

protein.

Protein berfungsi membangun serta memelihara sel-sel dan jaringan tubuh.


Molekul

pada

protein

lebih

kompleks

daripada

karbohidrat

dan

lemak.

Hal ini kerena molekul dan keanekaragaman unit-unit asam amino yang
membentuknya (Sumardjo, 2009).
Protein

adalah

senyawa

organik

kompleks

berbobot

molekul

tinggi yang merupakan polimer dari monomer-monomer asam amino yang


dihubungkan satu sama lain dengan ikatan peptida (Riawan, 1990).
Protein merupakan salah satu dari biomolekul raksasa, selain polisakarida,
lipid, dan polinukleotida, yang merupakan penyusun utama makhluk hidup.
Selain itu, protein merupakan salah satu molekul yang paling banyak diteliti dalam
biokimia (Sumardjo, 2009).
Penentuan kadar protein dapat dilakukan dengan berbagai metode
yaitu metode Kjeldahl, metode Molish, metode Dumas, metode Lowry, dan metode
Biuret. Penentuan kadar protein dengan menggunakan metode Lowry didasarkan
pada pengukuran absorban larutan standar menggunakan spektrofotometer
(Maharani dan Yusrin, 2010).
Kadar protein yang terkandung dalam setiap bahan berbeda-beda karena itu
percobaan ini dilakukan untuk mengukur kadar protein menggunakan metode Lowry.

1.2 Maksud dan Tujuan Percobaan


1.2.1 Maksud Percobaan
Maksud dari percobaan ini adalah memahami dan mempelajari cara
penentuan kadar protein dalam suatu sampel dengan menggunakan metode Lowry.

1.2.2 Tujuan Percobaan


Tujuan dari percobaan ini adalah menentukan kadar protein dalam suatu
sampel dengan spektofotometer menggunakan metode Lowry.

1.3 Prinsip Percobaan


Adapun prinsip yang dilakukan pada percobaan ini yaitu menentukan kadar
protein dari beberapa sampel cair yang telah dibuat terlebih dahulu dengan
menggunakan metode Lowry dimana pada sampel tersebut ditambahkan Lowry A
dan Lowry B kemudian diukur absorbansinya pada panjang gelombang maksimum
dengan menggunakan spektrofotometer UV-VIS.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Protein terdapat di dalam semua sistem kehidupan dan merupakan suatu


komponen seluler utama yang menyusun sekitar setengah dari berat kering sel.
Setiap sel mengandung ratusan potein yang beebeda-beda tiap jenis sel mengandng
beberapa potein yang khas bagi sel tersebut. Sebagian besar protein disimpan di
dalam jaringan otot dan beberapa organ tubuh lainnya, sedangkan sisanya terdapat di
dalam darah (Sumardjo, 2009).
Kata protein berasal dari protos atau proteos yang berarti pertama atau
utama. Protein merupakan komponen penting atau komponen utama sel hewan atau
manusia. Oleh karena itu sel merupakan pembentuk tubuh kita, maka protein yang
terdapat dalam makanan berfungsi sebagai zat utama dalam pembentukan dan
pertumbuhan tubuh (Poedjiadi dan Suriyanti, 2007). Protein ternyata memegang
peranan yang sangat penting pada organisme, yaitu dalam struktur, fungsi dan
reproduksi (Sumarjdo, 2009).
Proses kimia dalam tubuh dapat berlangsung dengan baik karena adanya
enzim, suatu protein yang berfungsi sebagai biokstatis. Di samping itu hemoglobin
dalam butir-butir darah merah atau eritrosit yang berfungsi sebagai pengangkut
oksigen dari paru-paru ke seluruh bagian tubuh, adalah salah satu jenis potein.
Demikian pula zat-zat yang berperan untuk melawan bakteri panyakit atau yang
disebut antigen, juga suatu protein (Poedjiadi dan Suriyanti, 2007).
Karena protein tersusun atas asam-asam alfa amino, susunan kimianya
mengandung unsur-unsur seperti yang terdapat dalam asam alfa amino penyusunnya,
yaitu karbon, oksigen, hidrogen, dan nitrogen. Molekul protein kadang-kadang

terdapat unsur belerang jika diantara monomer-monomernya terdapat asam amino


sistein atau metionin. Pada protein majemuk, selain unsur-unsur tersebut,
kemungkinan masih mengandung fosfor, besi, atau magnesium. Susunan bagianbagian macam protein tidak jauh berbeda, yaitu sekitar 52,40-54,50% karbon,
6,90-7,30%

hidrogen,

15,50-18,00%

nitrogen,

21,00-23,30%

oksigen,

dan 0,80-2,00% belerang (Sumarjdo, 2009). Dan terdapat pula 0-3% fosfor
(Poedjiadi dan Suriyanti, 2007).
Dewasa ini telah dikenal banyak jenis protein. Adanya perbedaan antara
protein yang satu protein yang lain, pada umumnya, disebabkan oleh adanya
perbedaan jumlah, jenis, dan cara kombinasi asam alfa amino penyusunnya
(Sumarjdo, 2009).
Banyak jenis potein yang telah diketahui. Senyawa-senyawa ini mempunyai
sifat koloid yang menyebabkan sangat sukar dipisahkan dan dimurnikan dari
campurannya. Perbedaan diantara jenis-jenis protein ini terkadang tidak jelas
sehingga sukar sekali untuk menentukan apakah sebuah sediaan protein terbentuk
dari satu macam protein atau dari berbagai macam protein (Sumarjdo, 2009).
Protein mempunyai besar dengan bobot molekul bervariasi antara 5000
sampai jutaan. Dengan cara hidrolisis oleh asam atau enzim, protein menghasilkan
asam-asam amino. Ada 20 jenis asam amino yang terdapat dalam molekul protein.
Asam-asam

amino

ini

terikat

satu

dengan

lain

oleh

ikatan

peptida.

Protein mudah dipengaruhi oleh suhu tinggi, pH, dan pelarut

organik

(Poedjiadi dan Suriyanti, 2007).


Protein merupakan salah satu kelompok bahan makronutrien. Tidak seperti
bahan makronutrien lain (lemak dan karbohidrat), protein ini berperan lebih penting
dalam pembentukan biomolekul daripada sebagai sumber energi. Namun demikian

apabila organisme sedang kekurangan energi, maka protein ini terpaksa dapat juga
dipakai sebagai sumber energi (Sudarmadji dkk., 1996).
Protein adalah suatu polipeptida yang mempunyai bobot molekul yang
sangat bervariasi. Di samping berat molekul yang berbeda-beda, protein mempunyai
sifat yang berbeda-beda pula. Ada protein yang mudah larut dalam air, tetapi ada
juga yang sukar larut dalam air. Rambut dan kuku adalah suatu protein yang tidak
larut dalam air, sedangkan protein yang terdapat dalam bagian putih telur mudah
larut dalam air (Poedjiadi dan Suriyanti, 2007).
Protein memiliki sifat-sifat yaitu kelarutan protein dalam air, sebagai koloid
hidrofil, bersifat amfoter (penahan pH), bentuk protein tergantung pada pH seperti
asam amino, mengikat ion, pembentuk busa, tidak berdialisa melalui selaput,
denaturasi, dan koagulasi (Riawan, 1990).
Protein terbagi atas protein sederhana dan potein kompleks (Riawan, 1990),
Protein sedehana
Protein kompleks

hidrolisis
hidrolisis

hanya asam-asam amino


campuran asam amino + bukan asam amino

(berkonjugasi)
Ada empat tingkat stuktur dasar protein yaitu struktur primer, sekunder,
tersier, dan kuartener. Stuktur primer menunjukkan jumlah, jenis dan urutan asam
amino dalam molekul protein. Oleh karena ikatan antara asam amino ialah ikatan
peptida, maka stuktur primer juga menujukkan ikatan peptida yang urutannya
diketahui. Untuk mengetahui jumlah, jenis dan urutan asam amino dalam protein
dilakukan analisis yang tediri dari beberapa tahap yaitu penentuan jumlah rantai
polipeptida, pemecahan ikatan antara rantai polipeptida, dan analisis urutan asam
amino pada rantai polipeptida (Poedjiadi dan Suriyanti, 2007).

Struktur primer yaitu terbentuknya ikatan-ikatan peptida

dimana jumlah, macam, dan cara terikatnya (urutan) asam-asam amino mempunyai
peranan penting. Gugus R pada satu rantai polipeptida berada dalam posisi trans
(Riawan, 1990):

H2N
C
R1

R2

C
NH

NH
C

R3

R4

CH
NH

NH

COOH

Rn
n

Gambar 1. Gugus R pada rantai polipeptida


Struktur sekunder yaitu berlilitnya rantai-rantai polipeptida sampai terdapat
struktur spiral karena terjadi ikatan hidrogen. Juga distabilkan oleh ikatan

(Riawan, 1990).

Struktur tersier yaitu rantai-rantai yang berlilit itu bergabung satu dengan
lain dengan pertolongan ikatan yang lemah yakni kata hidrogen dan ven der Waals
sampai terbentuk lapisan, serat, atau biji (Riawan, 1990).
Struktur kuartener yaitu protein terdiri atas dua atau empat rantai polipeptida
yang bergabung oleh gaya bukan ikatan kovalen (bukan ikatan peptida atau ikatan
disulfida). Tidak semua protein mempunyai struktur kuartener (Riawan, 1990).
Analisa protein dilakukan dengan beberapa cara yaitu (1) analisa kualitatif:
test Biuret, test Molish, test Xanthoprotein, test Milon, test Ninhidrin dan (2) analisa
kuantitatif: metode Dumas, spektrofotometri UV, titrasi formol, turbidimetri atau
kekeruhan, dan metode Kjeldahl (Maharani dan Yusrin, 2010).

BAB III
METODE PERCOBAAN

3.1 Bahan Percobaan


Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah larutan induk
(BSA 1 mg/mL), larutan standar (0,02; 0,04; 0,06; 0,08; 0,10; 0,12) M, Lowry B
(Na2CO3 2% dalam NaOH 0,1 N, larutan Na-K Tartrat 2% dan larutan
CuSO4.5H2O), Lowry A (larutan Follin Clocalteus dan akuades), larutan sampel,
blanko, akuades, tissue roll dan kertas label.

3.2 Alat Percobaan


Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah rak tabung, tabung
reaksi, gelas kimia 100 mL, gelas kimia 400 mL, pipet skala 0,2 mL,
pipet skala 1 mL, pipet skala 5 mL, filler pipet, corong, labu semprot, sendok tanduk,
batang pengaduk, labu takar 25 mL, pipet tetes, spektrofotometer 20 D+ dan bulb.

3.3 Prosedur Kerja


3.3.1 Pembuatan Larutan Induk
Dalam percobaan ini tidak ada pembuatan larutan induk, karena larutan
induk BSA telah tersedia di laboratorium.

3.3.2 Pembuatan Larutan Standar


Disiapkan 6 buah tabung reaksi yang bersih dan kering. Larutan standar
dibuat di dalam 6 buah tabung reaksi tersebut dengan pengenceran larutan induk,
seperti pada tabel di berikut ini:

Tabel 1. Pembuatan larutan standar


Volume larutan

Volume aquades

Volume Total

induk (mL)

(mL)

(mL)

0,02

0,04

1,96

2,00

0,04

0,08

1,92

2,00

0,06

0,12

1,88

2,00

0,08

0,16

1,84

2,00

0,10

0,20

1,80

2,00

0,12

0,24

1,76

2,00

Konsentrasi (M)

3.3.3 Pembuatan Reagen Lowry


Pada pembuatan pereaksi Lowry A yaitu dengan pencampuran antara follin
dengan akuades dengan perbandingan 1 : 1, digunakan follin sebanyak 2 mL dan
akuades 2 mL. Kemudian dengan menggunakan pipet skala 5 mL, follin dan
akuades dipipet lalu dimasukkan ke dalam gelas kimia 10 mL. Lalu larutan
dihomogenkan.
Pembuatan Lowry B dilakukan dengan mencampurkan Na2CO3 dalam
NaOH 0,1 N, larutan CuSO4.5H2O 1 %, dan larutan Na-K-Tartrat 2 % dengan
perbandingan 100 : 1 : 1. Diambil larutan Na2CO3 dalam NaOH 0,1 N sebanyak
25 mL, ditambahkan dengan 0,25 mL larutan CuSO4.5H2O 1 % dan ditambahkan
lagi dengan 0,25 mL Na-K-Tartrat 2 %, lalu dihomogenkan.

3.3.4 Preparasi Sampel


Sampel diencerkan 100 kali dengan cara memipet larutan sampel sebanyak
0,02 mL kemudian diencerkan dengan akuades sebanyak 1,98 mL sehingga volume
totalnya menjadi 2 mL.

3.3.5 Penentuan Kadar Protein


Disediakan 6 buah tabung reaksi yang telah berisi 2 mL larutan standar pada
konsentrasi berturut-turut 0,02; 0,04; 00,6; 0,08; 0,10 dan 0,12 mg/mL, 1 buah
tabung reaksi yang diisi blanko sebanyak 2 mL dan 1 buah tabung reaksi yang diisi
2 mL larutan sampel, masing-masing ditambah dengan 2,75 mL reagen Lowry B,
kemudian dikocok dan didiamkan selama 15 menit. Setelah itu ditambah lagi dengan
0,25 mL larutan Lowry A, dikocok dan didiamkan pada suhu kamar selama
30 menit. Lalu diukur absorbansinya dengan spektrofotometer 20D+ pada panjang
gelombang maksimum tertentu (ditentukan terlebih dahulu).

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan


Pada percobaan ini digunakan spektrofotometer untuk menentukan kadar
protein yaitu dengan cara mengukur absorbansinya. Sebelum mengukur absorban
dari masing-masing larutan, terlebih dahulu dilakukan pengukuran panjang
gelombang maksimum. Konsentrasi yang digunakan untuk menentukan panjang
gelombang maksimum adalah 0,06 M. Data panjang gelombang dapat dilihat pada
tabel di bawah ini :
Tabel 2. Data Hasil Penentuan Panjang Gelombang Maksimum
(nm)

Absorban

610

0.044

620

0.057

630

0.055

0.06
Absorbansi

0.05
0.04
0.03
0.02
0.01
0
600

610
620
630
Panjang Gelombang

640

Grafik 1. Hasil Penentuan Panjang Gelombang Maksimum

Setelah didapatkan panjang gelombang maksimum, dengan menggunakan


panjang gelombang ini kita dapat menentukan kadar protein pada masing-masing
konsentrasi dengan menggunakan spektrofotometer. Sehingga didapatkan data di
bawah ini.
Tabel 3. Data Hasil Pengamatan Penentuan Kadar Protein
Konsentrasi

Absorban

0,02

-0.009

0,04

0,009

0,06

0,057

0,08

0,065

0,10

0,097

0,12

0,073

Sampel

0,041

Blanko

0.12

y = 0.9743x - 0.0195
R = 0.814

0.1

absorbansi

0.08
0.06
0.04
0.02
0
0
-0.02

0.02

0.04

0.06

0.08

0.1

0.12

Konsentrasi
Grafik 2. Hasil Pengamatan Penentuan Kadar Protein

0.14

Berdasarkan grafik di atas, diperoleh persamaan y = 0,974x - 0,019.


Data absorbansi yang diperoleh disubstitusikan ke dalam persamaan standar
y = 0,974x - 0,019. Dimana y adalah absorbansi dan x adalah kadar protein.
Diketahui : y = 0,041
0,041 = 0,974x - 0,019
0,974x = 0,06
x

= 0,062 mg/mL

Selanjutnya dikalikan dengan faktor pengenceran sehingga didapatkan :


Kadar protein = 0,062 mg/mL x 100
= 100,06 mg/mL
jadi, kadar protein dalam sampel adalah 100,06 mg/mL.

4.2 Reaksi
Adapun reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:
O

NH2 CH

NH

CH

NH

NH2 CH

CH

NH

CH

NH

CH
R

NH

CH

OH

Cu2+

O
C

CuSO4

HO

ONa +

O
C

NaOH

NH2 CH

OH

O
CH
R

NH

CH
R

NH2

H3PO4(MoO3)13

O
H2N CHC OH
CH2

H2O

O
H2N CHC OH
CH

H3(PMo13O40)
+

atau
H2(PMo13O40)

OH
O

4.3 Pembahasan
Pada percobaan ini ditentukan kadar protein dalam suatu sampel dengan
menggunakan metode Lowry. Penentuan kadar protein ini didasarkan pada reaksi
protein dengan asam fosfotungstat-fosfomolibdat pada suasana alkalis akan
memberikan warna biru yang mana intensitas dari warnanya bergantung pada
konsentrasi dari protein tersebut. Berdasarkan hal inilah sehingga kita dapat
mengukur absorbannya dengan menggunakan spektrofotometer.
Prinsip metode Lowry adalah reaksi antara Cu2+ dengan ikatan peptida dan
reduksi asam fosfomolibdat dan asam fosfotungstat oleh tirosin dan triptofan akan
menghasilkan warna biru. Warna yang terbentuk terutama dari hasil fosfomolibdat
dan fosfotungstat. Oleh karena itu warna yang terbentuk tergantung dari tirosin dan
triptofan yang terdapat dalam protein.
Larutan Lowry yang digunakan pada percobaan ini ada dua macam yaitu
Lowry A dan Lowry B. Asam fosfotungstat dan fosfomolibdat dari larutan Lowry A
berfungsi memberikan warna pada larutan yaitu warna biru, dimana intensitas
warnanya bergantung pada konsentrasi dari protein itu sendiri. Sedangkan pada
pembuatan pereaksi Lowry B, bahan-bahan dalam pereaksi Lowry ini memiliki
fungsi yang berbeda-beda. CuSO4 berfungsi untuk mereduksi fosfomolibdat dan
fosfotungstat, Na-K-Tartrat berfungsi untuk mencegah terjadinya pengendapan kupro
oksida dalam pereaksi Lowry B, sedangkan Na2CO3 digunakan sebagai garam yang

mengkoordinasikan reaksi dalam suasana basa bersama dengan NaOH. Pereaksi


Lowry B diteteskan pada larutan sampel, larutan sampel dan blanko kemudian
dikocok perlahan agar bercampur dengan baik dan didiamkan selama 10 menit agar
reaksi berlangsung sempurna. Setelah itu ditambahkan pereaksi Lowry A,
dihomogenkan lalu didiamkan selama 30 menit pada suhu kamar. Hal ini dilakukan
agar reaksi berlangsung sempurna. Reagen Lowry B ditambahkan terlebih dahulu
agar larutan CuSO4 dapat mereduksi asam fosfotungstat dan fosfomolibdat yang
terdapat pada Lowry A. Asam fosfotungstat dan fosfomolibdat inilah yang
memberikan warna biru pada larutan ini. Setelah itu diukur absorbansinya
menggunakan spektrofotometer.
Pada percobaan ini dilakukan pengenceran 100 kali agar larutan tidak pekat
sehingga absorbannya dapat diukur pada spektrofotometer karena konsentrasi larutan
dan tebal media dapat mempengaruhi pengukuran absorbansi.
Dari percobaan yang telah dilakukan didapatkan persamaan standar
y = 0,974x - 0,019. Dari persamaan tersebut dapat diketahui kadar protein dalam
sampel, yaitu sebesar x = 0,0616 mg/mL, kemudian nilai tersebut dikalikan dengan
faktor pengenceran yang digunakan yaitu 100, sehingga didapatkan kadar protein
dalam sampel adalah 100,061 mg/mL.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Dari percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa kadar protein
dalam sampel adalah 100,06 mg/mL.
5.2 Saran
5.2.1 Saran untuk Laboratorium
Alat-alat yang dibutuhkan dalam praktikum ini sebaiknya diperbanyak agar
praktikum beRjalan dengan lancar, cepat, dan tepat waktu.

5.2.2 Saran untuk Percobaan


Waktu yang digunakan untuk percobaan ini sangat lama, untuk
mengefisiensikan waktu sebaiknya percobaan ini dilakukan lebih awal atau sebelum
waktu yang telah ditentukan pada praktikum serta menggunakan metode lain yang
tidak memakan waktu yang lama dalam penentuan kadar protein.

5.2.3 Saran untuk Asisten


Sebaiknya prosedur dijelaskan dengan mendetail sehingga praktikan tidak
kebingungan dalam langkah-langkah pelaksanaan praktikum.

DAFTAR PUSTAKA

Maharani, E. T. dan Yusrin, 2010, Kadar Protein Kista Artemia Curah yang Dijual
Petambak Kota Rembang dengan Variasi Suhu Penyimpanan, Jurnal
Biokimia Protein UNISMU, 1(1): 30-35.
Peodjiadi, A., dan Suyanti, T., 2007, Dasar-Dasar Biokimia, UI-Press, Jakarta.
Riawan, S., 1990, Kimia Organik, Binarupa Aksara, Jakarta.
Sudarmadji, S., Haryono B., dan Suhardi, 1996, Analisa Bahan Makanan dan
Pertanian, Liberty Yogyakarta Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Sumardjo, D., 2009, PengantarKimia, Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

LEMBAR PENGESAHAN

Makassar, 4 Maret 2014


ASISTEN

PRAKTIKAN

SARTIKA

NINI ASTUTI ALWI

Lampiran I
Bagan Kerja
1. Pembuatan Larutan Induk BSA 1 mg/mL
10 mg BSA

- Dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL


- Dilarutkan dengan akuades hingga tanda garis
- Dihomogenkan
Hasil

2. Pembuatan Larutan Standar


a. Larutan Standar 0,02 mg/mL
Larutan BSA 1 mg/mL
Dipipet sebanyak 0,04 mL ke dalam tabung reaksi
Ditambahkan akuades sebanyak 1,96 mL
Dihomogenkan
Diberi label
Hasil
b. Larutan Standar 0,04 mg/mL
Larutan BSA 1 mg/mL
Dipipet sebanyak 0,08 mL ke dalam tabung reaksi
Ditambahkan akuades sebanyak 1,92 mL
Dihomogenkan
Diberi label
Hasil

c. Larutan Standar 0,06 mg/mL


Larutan BSA 1 mg/mL
Dipipet sebanyak 0,12 mL ke dalam tabung reaksi
Ditambahkan akuades sebanyak 1,88 mL
Dihomogenkan
Diberi label
Hasil

d. Larutan Standar 0,08 mg/mL


Larutan BSA 1 mg/mL
Dipipet sebanyak 0,16 mL ke dalam tabung reaksi
Ditambahkan akuades sebanyak 1,84 mL
Dihomogenkan
Diberi label
Hasil

e. Larutan Standar 0,10 mg/mL


Larutan BSA 1 mg/mL
Dipipet sebanyak 0,20 mL ke dalam tabung reaksi
Ditambahkan akuades sebanyak 1,80 mL
Dihomogenkan
Diberi label
Hasil

f. Larutan Standar 0,12 mg/mL


Larutan BSA 1 mg/mL
Dipipet sebanyak 0,24 mL ke dalam tabung reaksi
Ditambahkan akuades sebanyak 1,76 mL
Dihomogenkan
Diberi label
Hasil

3. Pembuatan Reagen Lowry


a. Pembuatan Reagen Lowry A
2 mL follin
Ditambahkan akuades sebanyak 2 mL
Dihomogenkan
Hasil

b. Pembuatan Reagen Lowry B


25 mL Na2CO3 2% dalam NaOH 0,1 N
Ditambahkan 2,5 mL CuSO4

Ditambahkan 2,5 mL K-Na-Tartrat 2%

Dihomogenkan
Hasil

Preparasi Sampel
Larutan Sampel

Dipipet 0,02 mL ke dalam tabung reaksi

Dilarutkan dengan akuades hingga 2 mL

Dihomogenkan

Hasil

Preparasi Kadar Protein


2 mL blanko

2 mL larutan standar

Dimasukkan ke dalam masing-masing tabung reaksi

Ditambahkan dengan 2,75 mL larutan Lowry B

Didiamkan selama 15 menit

Ditambahkan dengan 0,25 mL larutan Lowry A

Didiamkan selama 30 menit

Diukur absorbannya dengan menggunakan


spektrofotometer 20 D+

Data

2 mL larutan sampel

Lampiran II
Perhitungan
1. Perhitungan Larutan Standar
Pembuatan larutan standar ini didasarkan pada rumus:
V1 M1 = V2 M2
1. Untuk konsentrasi 0,02 mg/mL

2. Untuk konsentrasi 0,04 mg/mL

3. Untuk konsentrasi 0,06 mg/mL

4. Untuk konsentrasi 0,08 mg/mL

5. Untuk konsentrasi 0,1 mg/mL

6. Untuk konsentrasi 0,12 mg/mL

2. Perhitungan Kadar Protein Dalam Sampel


Slope = a = 0,974
Intercept = b = -0,019
Dari grafik, didapatkan persamaan y = 0,974x 0,019, dimana y = 0,041
0,041 = 0,974x 0,019
0,06

= 0,974x

= 0,062

maka konsentrasi kadar protein = x . FP


= 0,062 x 100
= 100,06 mg/mL

Anda mungkin juga menyukai