Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN

PENGARUH pH TERHADAP KERJA ENZIM PTIALIN

Disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Fisiologi Hewan/Manusia yang


diampu oleh
Dr. H. Abdul Ghofur, M.Si dan Dra. Hj. Susilowati, M.S

Disusun oleh :
Kelompok 6 / Offering A

1. Adelima Dyah Kartika

(130341603371)

2. Dini Resita Putri

(130341603400)

3. Hanum A.Z

(130341603394)

4. Putri Rama Malini

(130341603370)

5. Shila Avila

(130341603386)

6. Desti Navyta Setia K

(110341421583)

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
OKTOBER 2014

A. Topik

: Pengaruh pH terhadap kerja enzim ptyalin

B. Tanggal : 25 September 2014


C. Tujuan : Untuk mengetahui pengaruh pH terhadap kerja enzim ptialin
D. Dasar Teori :
Semua makhluk hidup memerlukan makanan, makanan itu diperlukan
untuk membangun tubuh, sumber energi, dan regulasi dalam tubuh. Hewan
mempunyai berbagai cara makan, makanan dicerna secara intra atau ekstrasel.
Metazoa yang heterotrof mencerna makanan dengan menggunakan sistem
pencernaan makanan (Wulangi, 1993).
Bahan makanan yang dikonsumsi pada umumnya berupa senyawa organik
misalnya; karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral. Agar makanan dapat
dipergunakan oleh tubuh maka harus dicerna terlebih dahulu baik secara mekanik
maupun secara enzimatik sehingga menjadi molekul-molekul sederhana yang siap
digunakan oleh tubuh (Wulangi, 1993).
Dalam pencernaan secara enzimatik diperlukan enzim-enzim tertentu yang
dihasilkan oleh berbagai kelenjar pada sistem pencernaan makanan. Kelenjar
ludah misalnya pada mamalia menghasilkan enzim ptyalin dan mucin. Enzim
ptyalin, mucin dan air liur (saliva) dihasilkan oleh kelenjar-kelenjar sebagai
berikut:
-

Kelenjar lingualis (glandula lingualis) yang terletak di bawah lidah.

Kelenjar parotis (glandula parotis) yang terletak di bawah telinga.

Kelenjar submaxilary (glandula maxillary) yang terletak di bawah sisi ke


dua tulang rahang (Wulangi, 1993).

Saliva adalah cairan yang bersifat alkali, mengandung musin, enzim


pengencer zat tepung yaitu ptialin dan sedikit zat padat. Fungsi saliva bekerja
secara fisis dan secara kimiawi. Kerja fisisnya adalah membasahi mulut,
membersihkan makanan agar mudah ditelan, dengan hal tersebut saliva
melarutkan beberapa unsur sehingga memudahkan reaksi kimianya. Dimana kerja
kimia ludah disebabkan oleh enzim ptyalin (amilase) yang di dalam lingkungan
alkali bekerja terhadap zat gula dan zat tepung yang telah masak (Wulangi, 1993).

Enzim ptyalin hanya bisa bekerja pada zat tepung bila pembungkus
selulosa pada zat tepung telah pecah, misalnya sesudah dimasak. Kemudian
tepung yang telah dimasak diubah menjadi sejenis gula yang mudah larut yaitu
maltosa. Kerja ini dimulai dari mulut kemudian saliva ditelan bersama makanan,
ptyalin bekerja di dalam lambung selama kira-kira 20 menit atau sampai makanan
menjadi asam karena adanya cairan lambung (Wulangi, 1993).
Enzim ptialin berfungsi dalam proses pencernaan, karena memiliki
kemampuan untuk mengubah amilase menjadi maltosa, maka enzim ptialin ini
disebut juga sebagai enzim amilase. Enzim dalam air liur di produksi oleh
kelenjar sativa dalammulut. Enzim ptialin yang terdapat pada air liur merupakan
enzim amilase dari jenis alfa amilase.
Amilase ludah merupakan penguraian rantai glukosa panjang, tepung kanji
dan glikogen dalam potongan-potongan yang semakin kecil yang akhirnya terurai
maltosa, maltotriosa, maltotetrose dan oligosakarida disekitar titik percabangan
dengan 5 10 kesatuan glukosa yang disebut dengan deketrin perbatasan
(Wulangi, 1993).
Shofyan (2010) bahwa:
Seluruh enzim peka terhadap perubahan derajat keasaman (pH). Enzim
menjadi nonaktif bila diperlakukan pada asam basa yang sangat kuat. Sebagian
besar enzim dapat bekerja paling efektif pada kisaran pH lingkungan yang agak
sempit. Diluar pH optimum tersebut, kenaikan atau penurunan pH menyebabkan
penurunan aktivitas enzim dengan cepat. Pengaruh pH terhadap kerja enzim
dapat terdeteksi karena enzim terdiri atas protein. Jumlah muatan positif dan
negatif yang terkandung di dalam molekul protein serta bentuk permukaan
protein sebagian ditentukan oleh pH.
Ada beberapa faktor untuk menentukan aktivitas enzim berdasarkan efek
katalisnya yaitu persamaan reaksi yang dikatalis, kebutuhan kofaktor, pengaruh
konsentrasi substrat dan kofaktor, pH optimal, daerah temperatur, dan penentuan
berkurangnya substrat atau bertambahnya hasil reaksi. Penentuan ini biasa
dilakukan di pH optimal dengan konsentrasi substrat dan kofaktor berlebih,

menjadikan laju reaksi yang terjadi merupakan tingkat ke 0 (zero order reaction)
terhadap substrat. Pengamatan reaksinya dengan berbagai cara kimia atau
spektrofotometri. Ada dua teori tentang mekanisme pengikatan substrat oleh
enzim, yaitu teori kunci dan anak kunci (lock and key) dan teori induced fit
(Wirahadikusumah, 1989).
pH optimal enzim adalah sekitar pH 7 (netral) dan jika medium menjadi
sangat asam atau sangat alkalis enzim mengalami inaktivasi. Akan tetapi beberapa
enzim hanya beroperasi dalam keadaan asam atau alkalis. Sebagai contoh, pepsin,
enzim yang dikeluarkan ke lambung, hanya dapat berfungsi dalam kondisi asam,
dengan pH optimal 2 (Gaman & Sherrington, 1994).
Enzim memiliki konstanta disosiasi pada gugus asam ataupun gugus basa
terutama pada residu terminal karboksil dan asam aminonya. Namun dalam suatu
reaksi kimia, pH untuk suatu enzim tidak boleh terlalu asam maupun terlalu basa
karena akan menurunkan kecepatan reaksi dengan terjadinya denaturasi.
Sebenarnya enzim juga memiliki pH optimum tertentu, pada umumnya sekitar
4,58, dan pada kisaran pH tersebut enzim mempunyai kestabilan yang tinggi
(Williamson & Fieser, 1992).

Berdasarkan pernyataan di atas, kemampuan enzim yang hilang


disebabkan oleh denaturasi atau perubahan struktur protein dalam enzim akibat
pH ekstrem atau asam basa yang terlalu kuat.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi fungsi enzim diantaranya adalah
(Dwidjoseputro, 1992) :
Suhu
Oleh karena reaksi kimia itu dapat dipengaruhi suhu maka reaksi
menggunakan katalis enzim dapat dipengaruhi oleh suhu. Enzim bekerja pada
suhu optimum. Di samping itu, karena enzim adalah suatu protein maka kenaikan
suhu dapat menyebabkan denaturasi dan bagian aktif enzim akan terganggu
sehingga konsentrasi dan kecepatan enzim berkurang.

Ph
Umumnya enzim efektifitas maksimum pada pH optimum, yang lazimnya
berkisar antara pH 4,5-8,0. Pada pH yang terlalu tinggi atau terlalu rendah
umumnya enzim menjadi non aktif secara irreversible.
Konsentrasi enzim
Kecepatan suatu reaksi yang menggunakan enzim tergantung pada
konsentrasi enzim tersebut. Pada suatu konsentrasi substrat tertentu, kecepatan
reaksi bertambah dengan bertambahnya konsentrasi enzim.
Konsentrasi substrat
Hasil eksperimen menunjukkan bahwa dengan konsentrasi substrat akan
menaikkan kecepatan reaksi. Akan tetapi, pada batas tertentu tidak terjadi
kecepatan reaksi, walaupun konsenrasi substrat diperbesar.
Zat-zat penghambat
Zat penghambat bekerja dengan mempengaruhi proses penggabungan
substrat pada bagian aktif dari enzim, sehingga tidak dihasilkan suatu produk.
Suatu enzim hanya dapat bekerja spesifik pada suatu substrat.
Enzim ini memiliki sifat yang khas, artinya hanya mempengaruhi zat tertentu
yang disebut substrat. Substrat adalah molekul yang bereaksi dalam suatu reaksi
kimia dan molekul yang dihasilkan disebut produk..

E. Alat dan Bahan:


Alat :
1. gelas piala 100 cc,
2. tabung reaksi,
3. rak tabung reaksi,
4. gelas ukur 10 cc,
5. corong kaca,
6. pipet,
7. plat tetes.

Bahan :
1. larutan amilum 1%,
2. larutan iodin 10%,
3. larutan buffer pH 3,
4. larutan buffer pH5,
5. larutan buffer pH 7,
6. larutan buffer pH 9,
7. saliva,
8. aquades

F. Cara Kerja
Saliva ditampung sebanyak 5 cc dalam gelas piala

G.

Ditambahkan 5 cc aquades, dikocok, kemudian disaring

Disediakan empat buah tabung reaksi, dengan tabel A, B, C, D

Tabung A diisi dengan 1 cc larutan amilum 1%+ 1 cc larutan buffer pH 3


Tabung B diisi dengan 1 cc larutan amilum 1%+ 1 cc larutan buffer pH 5
Tabung C diisi dengan 1 cc larutan amilum 1%+ 1 cc larutan buffer pH 7
Tabung D diisi dengan1 cc larutan amilum 1%+ 1 cc larutan buffer pH 9

1 cc larutan saliva ditambahakan ke dalam -masing tabung reaksi, lalu dikocok


(dicatat sebagai nol)

Lima menit kemudian diteteskan 4 tetes larutan dari masing-masing tabung reaksi pada empat
lubang deret pertama dari plat tetes (larutan A pada lubang 1, larutan B pada lubang kedua, dst).
Kemudian ditambahkan larutan iodine 10%

Lima menit berikutnya diteteskan masing-masing larutan dalam tabung reaksi pada lubanglubang deret kedua dari plat tetes, kemudian ditambahkan iodine 10%

Diulangi perlakuan tersebut pada deret ketiga, keempat, dan kelima dengan selang waktu
masing-masing 5 menit.

Diamati perubahan warna yang terjadi pada tiap tetesan larutan.

G. Data
Menit ke0
5
10
15
20

3
A

5
B
-+
++++
+++
++++

7
C
-+++
++
++++
++++

9
D
-++
+
++
++

Keterangan :
A : pH3

- : tidak berwarna

+ : kuning kehijauan

B : pH5

-- : putih keruh

++ : kuning

C: pH7

: biru gelap

+++: kuning cerah

D : pH9

: biru lebih gelap

++++: kuning jingga

: biru paling gelap


G. Analisis data
Pada praktikum pengaruh Ph terhadap enzim ptialin berdasarkan
pengamatan dan data yang dilakukan mula-mula menyiapkan 4 tabung reaksi
yang tiap-tiap tabung diberi label A,B,C,dan D. Untuk tabung A diisi dengan 1cc
larutan amilum 1 cc larutan buffer pH 3, selanjutnya tabung B diisi dengan 1 cc
larutan amilum 1%+ 1 cc larutan buffer pH 5, tabung C diisi dengan 1 cc larutan
amilum 1%+ 1 cc larutan buffer pH 7, dan untuk tabung D diisi dengan larutan

amilum 1%+ 1 cc larutan buffer pH 9. Kemudian pada masing-masing tabung


reaksi pada label A-D ditambahkan dengan 1 cc larutan saliva ke dalam masingmasing tabung reaksi, lalu dikocok.
Pada pengujian awal untuk tabung A yang ditambahkan dengan 1 cc
larutan amilum 1%+ 1 cc larutan buffer pH 3 tidak menujukkan perubahan warna,
sedangkan untuk tabung B yang diberi dengan1 cc larutan amilum 1%+ 1 cc
larutan buffer pH 5 menunjukkan perubahan warna menjadi putih keruh, untuk
tabung C yang diberi dengan 1 cc larutan amilum 1%+ 1 cc larutan buffer pH 7
menunjukkan perubahan warna menjadi putih keruh juga, dan untuk tabung D
yang diberi dengan larutan amilum 1%+ 1 cc larutan buffer pH7 menunjukkan
perubahan warna menjadi putih keruh.
Pada pengujian 5 menit berikutnya untuk tabung A yang diberi dengan 1
cc larutan amilum 1%+ 1 cc larutan buffer pH3 menunjukkan perubahan warna
menjadi biru gelap, untuk tabung B yang diberi dengan 1 cc larutan amilum 1%+
1 cc larutan buffer pH 5 menunjukkan perubahan warna menjadi kuning
kehijauan, tabung C yang diberi dengan dengan 1 cc larutan amilum 1%+ 1 cc
larutan buffer pH7 menunjukkan perubahan warna menjadi kuning cerah, dan
untuk tabung D yang diberi dengan larutan larutan amilum 1%+ 1 cc buffer pH7
menunjukkan perubahan warna menjadi berwarna kuning.
Selajutnya pengujian pada waktu 5 menit yang ke-2 diperoleh data untuk
tabung A yang diberi dengan 1 cc larutan amilum 1%+ 1 cc larutan buffer pH3
menunjukkan perubahan warna menjadi biru lebih gelap, untuk tabung B yang
diberi dengan 1 cc larutan amilum 1%+ 1 cc larutan buffer pH 5menujukkan
perubahan warna menjadi kuning jingga, tabung C yang diberi dengan dengan 1
cc larutan amilum 1%+ 1 cc larutan buffer pH7 menunjukkan perubahan warna
menjadi berwarna kuning, dan untuk tabung D yang diberi dengan larutan amilum
1%+ 1 cc larutan buffer pH7 menunjukkan perubahan warna menjadi berwarna
kuning kehijauan.
Untuk pengujian pada waktu 5 menit yang ke-3 diperoleh data untuk
tabung A yang diberi dengan 1 cc larutan amilum 1%+ 1 cc larutan buffer pH3

menunjukkan perubahan warna menjadi biru paling gelap,untuk tabung B yang


diberi dengan 1 cc larutan amilum 1%+ 1 cc larutan buffer pH 5 menujukkan
perubahan warna menjadi kuning cerah, tabung C yang diberi dengan dengan 1 cc
larutan amilum 1%+ 1 cc larutan buffer pH7 menunjukkan perubahan warna
menjadi kuning jingga, dan untuk tabung D yang diberi dengan larutan amilum
1%+ 1 cc larutan buffer pH7 menunjukkan perubahan warna menjadi berwarna
kuning.
Dan untuk pengujian pada waktu 5 menit yang ke-4 diperoleh data untuk
tabung A yang diberi dengan 1 cc larutan amilum 1%+ 1 cc larutan buffer pH3
menunjukkan perubahan warna menjadi biru paling gelap, untuk tabung B yang
diberi dengan 1 cc larutan amilum 1%+ 1 cc larutan buffer pH 5 menujukkan
perubahan warna menjadi berwarna kuning jingga, tabung C yang diberi dengan
dengan 1 cc larutan amilum 1%+ 1 cc larutan buffer pH7 menunjukkan perubahan
warna menjadi kuning jingga, dan untuk tabung D yang diberi dengan larutan
amilum 1%+ 1 cc larutan buffer pH7 menunjukkan perubahan warna menjadi
berwarna kuning.
H. Pembahasan
Praktikum kali membahas mengenai pengaruh pH terhadap enzim ptialin.
Masing-masing tabung reaksi diisi dengan larutan buffer pada pH yang berbedabeda. Digunakan beberapa macam pH yang berbeda-beda agar dapat ditentukan
pada pH berapa enzim bekerja dengan baik (pH optimum).
Pada percobaan menit ke 0 hasilnya yaitu tabung A tidak menujukkan
perubahan warna, tabung B, C, dan D menunjukkan perubahan warna menjadi
putih keruh. Dari hasil tersebut amilum belu terdeteksi oleh iodin, seharusnya
hasil yang didapat adalah warna biru (++++) karena pada menit ke 0 amilum
masih belum di uraikan oleh ptialin. Terjadi ketidaksesuaian antara teori dengan
hasil yang diperoleh, ini dapat disebabkan oleh kesalahan praktikan dalam
menghomogenkan larutan.
Pada menit ke 5, 10, 15, 20, perubahan warna setelah ditetesi Iodin
semakin lama waktunya semakin pekat warna yang dihasilkan, hal tersebut tidak

sesuai dengan teori. Iodin yang berfungsi untuk mendeteksi butir amilum, akan
memberikan reaksi biru tua jika terdapat butir amilum. Enzim ptialin berfungsi
untuk menghidrolisis amilum. Seharusnya semakin lama waktunya maka akan
semakin habis amilum yang terdapat dalam larutan, sehingga warna yang
dihasilkan setelah ditetesi iodin tidak biru tua akan tetapi justru semakin pudar.
Terjadi ketidaksesuaian antara teori dengan hasil yang diperoleh, ini dapat
disebabkan oleh kesalahan praktikan dalam menghomogenkan larutan sebelum
percobaan, sehingga amilum tidak tersebar merata.
Meskipun terdapat berbagai kesalahan dalam praktikum, tetapi dari hasil
praktikum dapat diketahui bahwa pH optimum dari enzim ptialin adalah 7. Hal
tersebut terjadi karena pada pH tersebut aktivitas enzim sangat tinggi, ini terbukti
dari warna larutan yang ditetesi iodin menunjukkan warna yang paling pekat.
I.

Kesimpulan
pH berpengaruh terhadap kerja enzim ptialin. Enzim ptialin dapat
bekerja lebih efektif bila berada pada pH yang relatif netral yaitu pada ph 7
sampai 8.

J.

Daftar Pustaka

Dwidjoseputro, 1992, Pengantar fisiologi tumbuhan, Gramedia Pustaka Utama,


Jakarta.
Shofyan, Mohamad. 2010. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Aktivitas Enzim.
(Online). (http://forum.upi.edu/index.php?topic=13725.0, diakses tanggal
26 Februari 2013).
Gaman, P.M & K.B. Sherrington. (1994). Ilmu Pangan, Pengantar Ilmu Pangan,
Nutrisi dan Mikrobiologi. Universitas Gadjah Mada press. Yogyakarta
Wulangi, K.S. 1993. Prinsip-prinsip Fisiologi Hewan. DepDikBud. Jakarta.
Williamson,K.L & L.F.Fieser. (1992). Organic Experiment 7th Edition. D C
Health ang Company. United States of America.
Wirahadikusumah, M. (1989). Biokimia : protein, enzim, dan asam nukleat.
Institut Teknologi Bandung. Bandung.