Anda di halaman 1dari 13

PROPOSAL TUGAS AKHIR

THERMAL ENERGY EFFICIENCY PADA GEDUNG KOMERSIAL


MENGGUNAKAN THERMAL ENERGY STORAGE

AKHMAD FARUQ ALHIKAMI


NRP : 2410 100 026

DOSEN PEMBIMBING :
Totok Ruki Biyanto, PhD
Dr. Gunawan Nugroho, ST, MT.

PROGRAM STUDI S1 TEKNIK FISIKA


JURUSAN TEKNIK FISIKA
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA
2014

LEMBAR PENGESAHAN
PROPOSAL TUGAS AKHIR
JURUSAN TEKNIK FISIKA FTI-ITS
1.
2.
3.

4.
5.
6.
7.
8.
9.

Judul
: Studi Penerapan
Bidang Studi
: Rekayasa Energi dan Pengkondisian Lingkungan
Mata Kuliah pilihan yang diambil :
Rekayasa Kenyamanan Thermal
Pengendalian Proses
Mesin Mesin Fluida
Teknik Optimasi
Komputasi Dinamika Fluida
a. Nama
: Akhmad Faruq Alhikami
b. NRP
: 2410 100 026
c. Jenis Kelamin
: Laki-laki
Jangka Waktu
: 1 Semester / 5 bulan
Pembimbing I
: Totok Ruki Biyanto, PhD
Pembimbing II
: Dr. Gunawan Nugroho, ST, MT.
Usulan Proposal ke
: I (Satu)
Status
: Baru
Surabaya, Oktober 2014
Pengusul Proposal,

Akhmad Faruq Alhikami


NRP. 2410 100 026
Mengetahui/Menyetujui,
Pembimbing I

Pembimbing II

Totok Ruki Biyanto, PhD


NIP. 19710702 199802 1 001

Dr. Gunawan Nugroho, ST, MT.


NIP. 19771127 200212 1 002

Kepala Laboratorium Rekayasa Energi


dan Pengkondisian Lingkunan

Ir. Sarwono, M.M


NIP. 19580530 198303 1 002

I.
Judul
Thermal Energy Efficiency pada Gedung Sektor Komersial menggunakan Thermal Energy
Storage .
II.

Mata Kuliah Pilihan Bidang Minat Yang Diambil


1. Rekayasa Kenyamanan Thermal
2. Mesin Mesin Fluida
3. Komputasi Dinamika Fluida
4. Teknik Optimasi

III. Pembimbing
1. Totok Ruki Biyanto, PhD
2. Dr. Gunawan Nugroho, ST, MT.
IV.

Latar Belakang
Dari hasil servei dan audit yang dilakukan oleh Badan Pengkaijan dan Penerapan
Teknologi (BPPT) dan Japan Internaional Coorporation Agency ( JICA) pada tahun 2012
yang sebagaian besar dilakukan di jakarta, diperoleh beberapa data mengenai intensitas energi
listrik di bangunan dan distribusi penggunaan listrik dibangunan komersial.
Energi listrik paling besar digunakan untuk menjalankan sistem pengkondisian udara,
yang mencapai 65 % untuk hotel, rumah sakit 57 %, pusat pembelanjaan mencapai 57 %,
kantor pemerintahan 55 % dan gedung perkantoran mencapai 47 %. Dari angka ini bisa
dilihat bahwa potensi penghematan energi terbesar di gedung-gedung komersial adalah pada
sistem pengkondisian udara.[1] Dengan menerapkan teknologi yang tepat pada sistem tersebut
diharapkan dapat menekan penggunaan energi disektor komersial.[1]

Gambar 1. Distribusi tipikal penggunaan listrik sektor komersial


Di Indonesia, Perusahaan Listrik Negara (PLN) telah menetapkan Tarif Dasar Listrik
(TDL) sesuai dengan waktu beban puncak (WBP) yakni pukul 17.00 wib hingga 22.00 wib
dan luar waktu beban puncak (LWBP) yakni pukul 22.00 wib hingga 17.00 WIB. Kedua
bagian ini memiliki harga operasi yang berbeda. Untuk penggunaan pada WBP, PLN akan
memberikan tarif yang lebih mahal dibandingkan dengan penggunaan pada LWBP.[2]
Perbedaan harga operasi PLN ini merupakan salah satu penyebab membengkaknya biaya
operasional gedung pada penggunaan sistem pengkondisian udara.

Dari hasil audit yang dilakukan BPPT dan JICA menjelaskan, gedung komersial seperti
hotel, pusat pembelanjaan, rumah sakit, gedung perkantoran pemerintah dan swasta
memiliki profil beban listrik yang berbeda.[1] Hampir semua gedung sektor komersial
tersebut beroperasi mulai pukul 07.00 wib hingga 22.00 wib. Waktu operasi gedung telah
melewati WBP, padahal pada saat WBP, PLN menerapan tarif yang lebih mahal sehingga
membuat beban listrik gedung semakin meningkat dan hampir 55 % dari total beban listrik
gedung sektor komersial adalah sistem pengkondisian udara, salah satu teknologi yang dapat
menekan beban listrik pada sistem pengkondisian udara adalah sistem thermal energy storage
(TES).
TES merupakan sebuah teknologi yang dapat menggeser beban pendinginan gedung
yang terjadi pada saat waktu beban puncak pukul 17.00 wib hingga 22.00 wib menjadi luar
waktu beban puncak. Salah satu sistem TES adalah chilled water storage (CWS). TES dapat
mengurangi beban pendinginan hinga 30-40 % dan beban listrik gedung sebesar 10-20%.[3]
Dari seluruh latar belakang yang telah dielaskan diatas, dalam proposal Tugas Akhir ini
penulis akan melakukan studi Thermal Energy Efficiency pada Gedung Komersial
menggunakan TES, dengan keluaran desain TES dan chiller yang efisien dan efektif sehingga
TES dapat menggeser beban pendinginan saat WBP menjadi LWBP.
V. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang sebelumnya, maka permasalahan yang dapat diambil yaitu,
bagaimana mendesain TES dan sistem chiller yang paling efektif dan efisien untuk menggeser
beban pendinginan saat WBP menjadi LWBP.
VI. Tujuan
Adapun tujuan dari penelitian tugas akhir ini adalah untuk mendesain TES dan sistem
chiller yang paling efektif dan efisien sehingga TES dapat menggeser beban pendinginan
WBP menjadi LWBP.
VII. Batasan Masalah
Adapun batasan masalah dalam penelitian tugas akhir ini, antara lain:
1. Gedung yang digunakan adalah gedung sektor komersial
VIII. Tinjauan Pustaka
Berikut merupakan beberapa penelitian sebelumnya terkait dengan Tugas Akhir ini:
1.
Balai Besar Teknologi Energi BPPT. 2012. Perencanaan Efisiensi dan
Elastisitas Energi 2012. Pada Modul ini dijelaskan tentang peluang penghematan
konsumsi energy pada bangunan dan insutri di Indonesia, dengan dilampirkan berbegai
data efisiensi dan elastisitas energy serta kondisi energy di Indonesia.
2.
M.M Rahman,M.G Rasul, M.M.K Khan. 2011. Feasibility of thermal energy
storage systems in an institutional building in subtropical climates in Australia. Pada
jurnal ini penulis melakukan investigasi kelayakan dari sistem TES pada gedung sekolah,
yakni menghitung cost saving yang diperoleh dari penerapan sistem TES pada bangunan
tersebut
3.
A. Bahtia. 2012. Air Conditioning with Thermal Energy Storage. Pada
jurnal ini dilakukan analisis dari sistem Thermal Energy Storage pada Air Conditioning,
dengan menggunakan Chilled water dan juga Ice Cell atau sistem TES menggunakan
perantara Ice untuk sistem pendingin, penulis telah melakukan analisis penerapan sistem
ini pada bangunan mulai dari ukuran tanki, kapasitas dari chiller hingga control yang
digunakan.
4.
A.H. Kassim, Aziz.M.B.A, Zain.Z.M 2011. Simulation and Performance of
Thermal Energy Storage System at Engineering Complex, UiTM Shah Alam,
Selangor. Pada jurnal ini penulis melakukan simulasi sistem TES menggunakan visual
basic, dengan memasukkan data riil Thermal Energy Storage menggunakan Chilled

water yang telah dipasang di UiTM shah Alam Selangor, dengan tujuan menghitung
performansi dari Thermal Energy Storage pada sistem yang telah dibangun.
5.
Khusairi M.M, Abdullah.H, Hazran,H 2011. A Study on the Optimization of
Control Strategy of Thermal Energy Storage System for Building Air Condtioning.
Pada Jurnal ini Penulis telah melakukan study mengenai control strategi pada thermal
energy storage dengan menggunakan 2 buah strategi control, yakni control tekanan dan
control delta temperature.
6.
S.P.Agus. 1999. Analisa Retrofit CWS untu Hotel M dengan
memanfaatkan Tarif Listrik Murah.Pada jurnal ini penulis melakukan penelitian
mengenai CWS pada Hotel M, dengan menghitung Analisa ekonomi pemasangan CWS
dengan tanpa CWS mulai dari sisi Storage tank dan juga performasi Chiller.
IX. Teori Penunjang
9.1. Definisi Sektor Komersial dan Profil Penggunaan Listrik
Sektor komersial adalah sektor yang terdiri dari perusahaan yang tidak terlibat pada
transportasi atau industri pengolahan atau manufaktur dan aktivitas industri lainnya seperti
pertanian,pertambangan atau konstruksi. Usaha komersial meliputi hotel, motel, restoran,
penjualan besar sepertimall, supermarket, penjulana ritel, laundry institusi pendidikan,
sosial dan kesehatan, kantor swasta dan kantor pemerintahan dan pelayanan publik
lainnya apabila perusahaan yang mengoperasikannya dianggap komersial.[1]
Dalam penelitian ini, sektor komersial dibedakan menjadi dua, pemerintah dan
swasta. Pemerintah hanya meliputi kantor-kantor pemerintah daerah dan pemerintah
pusat, sisanya seperti kantor swasta, sekolah, hotel, mall dan rumah sakit dimasukkan
kedalam sektor swasta.[1]
Berikut beberapa profil penggunaan listrik dari sektor komersial:

Gambar 1. Beban Listrik Harian Gedung


Pemerintahan

Gambar 2. Beban Listrik Harian Kantor Swasta

Gambar 3. Beban Listrik Harian Rumah sakit

Gambar 4. Beban Listrik Harian Pusat Pembelanjaan

Gambar 5. Beban Listrik Harian Hotel


9.2. Tarif Dasar Listrik dan Golongan Penggunaan Tarif
PLN telah menetapkan TDL sesuai dengan golongan tarif, golongan tarif pada
PLN terbagi menjadi :
a. Golongan pelayanan umum
b. Golongan rumah tangga
c. Golongan tarif bisnis
d. Golongan tarif industri
e. Golongan tarif kantor pemerintahan dan penerangan umum
Untuk rumah sakit termasuk dalam golongan pelayanan umum, dan untuk hotel
dan pusat pembelanjaan dan kantor swasta termasuk dalam golongan tarif bisnis
sedangkan untuk kantor pemerintahan masuk dalam golongan tarif kantor
pemerintahan dan penerangan umum.[2]
Tabel 1. TDL september 2014
No

1
2
3
4

GOL
TARIF

R-3/TR
P-1/TR
B-2/TR
B-3/TR

Batas Daya
Biaya Beban
(RpkVA/bulan)
5.600 VA keatas
5.600 VA s.d 200 kVA
6.600 VA s.d. 200 kVA
Diatas 200 kVA

*)
*)
*)
**)

REGULER
Biaya Pemakaian
(Rp/kWh)
Dan Biaya kVArh
(Rp/kVArh)
1.531,66
1.531,66
1.531,66
Blok WBP = k x
1.155.69
Blok LWBP =
1.155,69
kVArh =
1.265,60***)

Pra Bayar
(Rp/kWh)

1.531,66
1.531,66
1.531,66

Catatan:
*) Diterapkan Rekening Minimum (RM);
RM 1 = 40 ( Jam Nyala) x Daya tersambung (kVA) x Biaya Pemakaian
**) Diterapkan Rekening Minimum (RM);
RM2 = 40 (Jam Nyala) x Daya tersambung (kVA) x Biaya pemakian LWBP
Jam nyala ; kWh perbulan dibagi dengan kVA tersambung
***) Biaya kelebihan pemakaian daya reaktif (kVArh) dikenakan dalam hal faktor daya rata rata setiap
bulan kurang dari 0.85
K = Faktor perbandingan antara harga WBP dan LWBP nilai ( 1.4 <K<2)

9.3. Teknologi Sistem Penyimpanan Energi ( Thermal Energy Storage System)


Thermal energy storage (TES) merupakan metode yang memproduksi dan
menyimpan pendinginan pada saat tarif listrik murah atau LWBP dan pendinginan ini
akan digunakan pada saat tarif listrik mahal atau WBP , konsep dari TES ini sangat
sederhana, air yang didinginkan oleh chiller pada saat (LWBP) lalu disimpan pada tanki
yang terisolasi. Penyimpanan air dingin ini akan digunakan untuk space conditioning
pada saat siang hari atau hot afternoon, dengan menggunakan pompa sirkulasi serta
peralatan energi lainnya[5], keuntungan dari Thermal energy system ini A. Bahtia
dalam Bukunya Air Conditioning Systems telah menjelaskan beberapa keuntungan
sebagai berikut:
a.
Load Shifting (Penggeseran Beban)
b.
Lower Capital Outlays (Biaya Perkapita berkurang)
c.
Efficiency in Operation (Operasi yang efisien).[8]
Sistem TES dapat meringankan kinerja Chiller, kinerja chiller tidak bergantung
pada variasi profil beban pendinginan. Pada sistem konvensional yang biasa disebut
AC Central, kinerja chiller dipaksa untuk bekerja memenuhi seluruh beban pendinginan
ruangan.
9.4. Chilled Water Storage
CWS (Penyimpanan air produksi chiller), pada umumnya membutuhkan tempat
yang cukup luas untuk instalasinya, Tanki isolator dari besi atau batu bata dari sistem
CWS dapat diletakkan pada posisi bawah gedung (above or below ground), berikut
desian skematik dari CWS, dalam sistem dibawah ini, Chiller akan bekerja pada saat
LWBP untuk melakukan proses charging, secara umum dilakukan pada malam hari
pukul 22.00 wib sampai 17.00 wib, sedangkan untuk proses discharging chiller akan
off mode , dan dilakukan distribusi chilled water menuju beban pendinginan
bangunaan.

Gambar 6. Thermal Energy Storage system dengan menggunakan Stratified CWS


(Sumber NATGUN)
Pada sistem ini volume tanki bergantung pada perbedaan temperatur antara air
yang disuplai dari storage dan air yang kembali dari beban pendinginan. Perbedaan
temperatur T menjadi kunci utama dari sistem ini. Untuk sistem uang beroperasi
pada perbedaan temperatur 15 oF, storage akan menampung 15 Btu per pound air
sesuai dengan persamaan berikut

Q m c p (Tm Ts )................................(1)

Dengan,
Q = jumlah kalor yang disimpan di dalam storage tank
m = jumlah massa air yang disimpan di dalam storage tank
cp= panas spesifik air
Tm= Temperatur maksimum chilled water dari Air handling unit (AHU)
Ts= temperatur chilled water dari chiller yang masuk ke storage tank
Atau menggunakan persamaan beikut:
m c P T
TR
...............................( 2)
3024
Dengan,
TR = Ton Refrigerant
Volume tanki dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut :
V

.........................................................(3)

Dengan,
V= Volume tanki
m = jumlah massa air
= massa jenis air
9.5. Figure Of Merit
Figure of merit (FOM) digunakan untuk menunjukkan kapasitas pendinginan yang
hilang pada chilled water yang disimpan selama proses charging dan discharging. FOM
didefinisikan sebagai :
FOM

qdis
mwc pw (Trc To ) ............................(4)

qch
mwc pw (Trc , in Ti )

Dengan,
qdis = kapasitas pendinginan selama proses discharging, Btu/h
qch = kapasitas pendinginan teoritis selama proses charging, Btu/h
c pw = spesific heat air, Btu/lb.oF
Trc = temperatur chilled water yang kembali dari AHU dan mengisi tangki storage
selama proses discharge, oF
Trc , in = temperatur rata-rata chilled water yang masuk selama proses discharge, oF
To = temperatur chilled water yang keluar dari storage, oF
Ti = temperatur chilled water yang masuk selama proses discharge, oF
Semakin kecil kapasitas pendinginan yang hilang pada CWS maka semakin besar nilai
FOM.[6]
9.6. Kerja Chiller

Pada profil beban pendinginan yang variatif, terdapat perbedaan beban pendinginan
dari waktu ke waktu. Pada saat beban pendinginan turun, kapasitas pendinginan yang
harus disediakan chiller juga turun, namun pemakaian energi chiller mungkin menjadi
meningkat dikarenakan naiknya nilai kilowatt per ton pada chiller. Sejumlah penelitian
yang dikonsumsi chiller selama ini, konsumsi energi pada chiller tergantung pada
berbagai faktor yang akan menghasilkan nilai penyimpanan energi dalam bentuk
pengurangan harga kebutuhan saat periode on-peak dan efisiensi pengoperasian chiller.
Tabel 1 menjenjelaskan sistem pengkondisian udara chilled water tanpa thermal
storage.
Tabel 2. Unjuk Kerja Chiler.

Tabel 2 menunjukkan kebutuhan energi chiller untuk mengurangi atau


meniadakan pengoperasian chiller pada beban tinggi, sistem yang baik pada CWS
adalah bukan mengisi storagae tank kapan saja dan kapasitas kapan saja, tetapi harus
diamati storage tank dan chillernya.[5]
9.7. Perbedaan Temperatur dan Thermocline
Profil temperatur yang terbentuk selama proses chraging ataupun discharging
pada stratified tank memiliki interval yang bervariasi setiap waktu. Profil temperatur
dapat diilustrasikan dalam diagram height-temperature H-T pada saat permulaan,
pertengahan, dan mendekati akhir proses charging, seperti ditunjukkan Gambar 7. Pada
pertengahan proses charging, chilled water dibagi atas tiga daerah, yaitu daerah bawah
adalah air yang lebih dingin dan lebih berat, termocline, dan daerah atas adalah air yang
lebih hangat dan lebih ringan.
Thermocline adalah daerah dimana terdapat perbedaan temperatur yang terlalu
tajam. Temperatur air bervariasi antara 42oF sampai 60oF. Thermocline memisahkan

antara chilled water yang lebih dingin dengan chilled water yang lebih hangat. Semakin
tipis daerah Thermocline, maka semakin kecil pula kerugian akibat pencampuran.

Gambar 7. Profil Temperatur dan Thermocline pada stratified tank (Wank.S.K,


1994)
FOM suatu stratified tank tidak memiliki hubungan dengan perbedaan temperatur
antara temperatur chilled water dari tangki selama proses discharging (To) dan temperatur
chilled water masuk ke tangki selama proses charging (Ti). untuk seluruh proses charging
dan discharging, nilai To selama discharging selalu lebih besar dari pada nilai rata-rata Ti,
karena adanya kerugian akibat percampuran dan penyerapan panas, dengan aliran air
konstant. Semakin kecil (To-Ti) maka semakin besar FOM.
Gambar 9 menunjukkan kurva temperatur chilled water versus volume tangki selama
proses charging dan discharging untuk seluruh langkah CWS pada stratified tank. Temperatur
masuk dan keluar diukur pada bagian awal difuser atas dan bawah. Selama proses charging,
chilled water yang kembali dari AHU keluar dari tangki didinginkan didalam chiller dan
masuk kembali ke dalam tangki melalui difuser bawah. Temperatur masuk chilled water ke
dalam storage tank berkurang secara gradual bersamaan dengan bertambahnya volume
chilled water dalam storage tank. Hal ini dikarenakan nilai pertukaran kalor terlalu besar
terhadap air yang masuk dari air yang lebih hangat disekitarnya, perpipaan dan dinding tangki
pada awal proses charging.

Gambar 8. Kurva temperatur chilled water vs volume tanki selama proses charging
dan discharging (Wang.S.K,1994)
Selama proses discharging, chilled water didalam storage tank keluar dari
tangki dan disuplai ke cooling coils pada AHU dan terminal, chilled water yang
kembali masuk ke storage tank melalui difusser atas. Temperatur chilled wateryang
keluar dari storage tank (To) bertambah secara gradual bersamaan dengan
berkurangnya volume chilled water dalam storage tank. Karena chilled water didalam
storage tank memiliki perbedaan temperatur pada Thermocline. (To)secara gradual
bertambah selama proses discharging.
Temperatur keluar chilled water yang kembali selama proses charging Trc,o dan
temperatur masuk chilled water yang kembali selama proses dischraging Trc,i harus
dikontrol antara 55oF dan 60 oF hingga kenaikannya dapat diatur dalam tanki storage.
[6]

X. Metodologi Penelitian

Gambar 9. Flowchart Penelitian

XI.

Jadwal Kegiatan
Penelitian tugas akhir ini akan dilaksanakan dengan jadwal sebagai berikut:
Tabel 3. Jadwal Kegiatan Tugas Akhir
No.

2
3
4
5
6

Jadwal Kegiatan

Bulan ke2
3
4

Studi Literatur
- Sistem TES serta modifikasi
- Konsumsi HVAC gedung komersial
- kinerja chiller dan Storage tank pada
CWS
- Beban pendinginan WBP dan LWBP
Perhitungan Beban Pendinginan pada WBP dan
LWBP
Perhitungan Efisiensi beban pendinginan dan
beban listrik
Desian TES dan Chiller sesuai standard dan
kebutuhan
Analisa Data
Penulisan Laporan

XII. Daftar Pustaka


[1]. Balai Besar Teknologi Energi BPPT. 2012. Perencanaan Efisiensi dan Elastisitas
Energi 2012,BPPT
[2] Perusahaan Listrik Negara, Tarif Dasar Tenaga Listrik www.pln.co.id, diakses pada 9
am pada September 2014
[8] A. Bahtia. 2012. Air Conditioning with Thermal Energy Storage. Continuing
Education and Development, Inc.
[4] Takasago Thermal Engineering Co. Ltd, Operating Strategies of Thermal Energy
Storage, http://www.tte-net.co.jp, diaskes pada September 2014.
[5] S.P.Agus. 1999 Analisa Retrofit CWS pada Hotel M dengan memanfaatkan Tarif
Listrik Murah. Teknik Mesin, Universitas Indonesia.
[6] Wang,S,K.1994.Handbook of Air Conditioning and Refrigeration. New York: McGrawHill
[7] Rishel,J.B.1996.HVAC Pump Handbook. New York: McGraw-Hill
[3] Syed Mahmood Hasnain, Naif Mohammed Alabbadi, Need for thermal-storage
air-conditioning in Saudi Arabia. Applied Energy 65 (1e4) (2000) 153e164