Anda di halaman 1dari 18

REPRESENTASI IJIME DARI KELOMPOK SISWA DAN GURU KEPADA TOKOH

BOTCHAN; SEBUAH STUDI TERHADAP NOVEL BOTCHAN KARYA NATSUME


SOSEKI

Pahala Alexandra Lumbantoruan1, Sri Ratna Ningsih


Program Studi Jepang, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, Depok
Indonesia
lumbantoruanandroid@gmail.com

Abstrak
Botchan yang menamatkan studinya mendapat tawaran pekerjaan di sebuah daerah di
Shikoku yang cukup jauh dari Tokyo sebagai guru sekolah lanjutan. Botchan yang tidak
memiliki persamaan perilaku dengan warga di sana kerap mendapat ijime. Konsep Shudan
shugi dan Honne Tatemae di Jepang yang secara alami mengatur masyarakat Jepang secara
alami bertingkah laku sesuai tempatnya ternyata menjadi pemicu utama ijime ini.
Kata Kunci: Shudan shugi Ijime Honne Tatemae

Ijime Representation from The Students and Teachers toward Botchan; A study of
Natsume Sosekis Novel Botchan
Abstract
Botchan who has completed his study received an offering job as a senior high teacher
in the area of Shikoku where is quite far from Tokyo. Botchan who has nothing in common
with the behavior of the people there often get ijime. The concept Shudan shugi and Honne
Tatemae in Japan that naturally control Japanese act in front of public and group according to
the place, turned out to be the main drivers of this ijime.
Keywords: Shudan shugi - Ijime - Honne Tatemae

Masuk Universitas Indonesia Agustus 2010 menyelesaikan pendidikannya Februari 2014

Sistem Masyarakat Jepang Dalam Konsep Shudan Shugi


Masyarakat Jepang sering disebut masyarakat yang selalu mementingkan dan sangat
mengutamakan Ba dibandingkan Shikaku atau atribut individu. Ba dapat diartikan sebagai
kelompok, lembaga, institusi, tempat dan sebagainya yang mengacu pada kerangka diri
individu terkait dan bernaung, berlindung atau berada, serta menjunjung kesamaan atau
homogenitas. Masyarakat Jepang sangat menghargai keserasian dan harmoni dalam
kelompoknya. Keanggotaan seseorang dalam masyarakat Jepang di dalam ba adalah
kelompok. Keanggotaan dalam pengertian masyarakat Jepang tidak diikat dengan kontrak,
melainkan secara tidak langsung dengan eksistensi, interaksi, dan partisipasi aktif dalam
kelompok. Mereka menganggap kelompok sebagai suatu kesatuan yang mutlak (keabsolutan).
Karena hidup berkelompok, seseorang sadar akan keterlibatannya dalam suatu masyarakat,
juga terhadap kewajiban-kewajiban yang mengikat dan komitmen terhadap kelompoknya
yang menjadi dasar untuk membentuk suatu kesatuan sosial yang disebut masyarakat atau
dalam bahasa Jepang disebut dengan shakai .
Jepang menjunjung tinggi persamaan dalam satu kelompok. Konsep persamaan ini
membuat apa yang dianggap dalam satu kelompok baik akan berlaku kepada semua anggota
kelompok tersebut, di pihak lain juga, apa yang kurang menyenangkan atau tidak baik dalam
kelompok tersebut akan berlaku juga pada semua anggota kelompoknya. Konsep pemikiran
ini disebut dengan Shudan shugi. Konsep yang berlaku dalam masyarakat Jepang ini
menunjukkan ideologi kebersamaan/ berkelompok yang terikat kokoh berdasarkan rasa
emosional.
,
., .
,.
(Yoshino,1992:19)
Terjemahan:
Orang Jepang memiliki paham berkelompok yang mengatakan bahwa paham tersebut
dipelihara oleh orang Jepang bahwa setiap orang Jepang harus memiliki paham
shuudan ishiki dalam dirinya sendiri. Dan dalam paham shudan shugi tersebut,
muncul ilmu ilmu psikologi masyarakat, ilmu sosial, dan ilmu mengnai karakter
budaya (Yoshino, 1992:19).
shudan shugi diawali dengan adanya kontak dan interaksi yang dilakukan seseorang
untuk saling mengisi dalam setiap kegiatan menghasilkan suatu perasaan kebersamaan yang
kolektif. Kepercayaan yang sama, perasaan yang sama dan tingkah laku yang sama telah
mempersatukan orang-orang Jepang dalam masyarakatnya, dengan hal ini muncul Shudan

sugi sebagai suatu ideologi kebersamaan atau paham berkelompok orang Jepang yang
terbentuk dengan kokoh di antara para anggota kelompok karena adanya ikatan emosional
yang disebut dengan nakama ishiki yaitu kesadaran berkelompok.
Nakane Chie seorang ahli antropologi Jepang juga mengatakan seperti berikut. Selfidentity orang Jepang adalah individu yang berpusat pada suatu lingkaran dan di dalam
lingkaran itu, anggota saling berhubungan (terikat) dalam kelompok tersebut. Interaksi datang
dari tempat masing-masing lingkaran individu bertemu individu lain di dalam lingkaran
hubungan, hal ini dapat dilihat sebagai kebutuhan akan pengenalan formal dalam semua
tingkatan masyarakat Jepang 2 . Dalam masyarakat Jepang pertemuan secara teratur dengan
teman dan kenalan merupakan suatu norma umum. Interaksi yang terjadi dalam masyarakat
Jepang dibedakan antara uchi (dalam) dan soto (luar).
Jamie Louis Goekler dalam Uchi-Soto (Inside-Outside) Language: and Culture in Context for
The Japanese as a Foreign Language (JFL) Learner, dikatakan bahwa:
The concepts of uchi (insider) and soto (outsider) may be defined in a variety of ways
that encompass social, cultural, and linguistic spheres. Uchi and soto distinguish Japan
by a duality of inside and outside categories. In-groups and out-groups are not only
reflected in social and cultural constructs. They are also reflected in language use to
determine the status of individuals within these groups. Even more complex, these
groups are not static, but dynamic and ever changing, depending on context and social
situation. While uchi and soto may be reflected in physical space, such as where to
place guests in a home, where people should sit at work, or who is allowed to take the
first bath, the language one uses is based on societal insider and outsider relationships
as well. Linguistically, these relationships are determined mostly by various forms of
speech, which are partly determined by verb use and politeness markedness. Rather
than the ingroup receiving more linguistic politeness, the out-group receives the most
politeness in a given situation. Generally-speaking, when speaking with the out-group,
one must honor those individuals in speech, while the in-group uses humbling speech.
Throughout ones life, membership in one group or another frequently changes,
based on new relationships, such as social networks, jobs, marriage, and other factors
people encounter throughout their lives. (2013; 15)
Uchi (dalam) merupakan wadah bagi seseorang untuk diperhatikan, menerima
dukungan, dan dorongan serta tempat seseorang memiliki komitmen utama. Uchi juga dapat
diartikan sebagai tempat seseorang berasal dan ke mana seseorang kembali. Uchi merupakan
hubungan yang terjadi antara seseorang dan orang lain pada tempat yang sama, yaitu tempat
mereka menjadi anggota dalam satu kelompok yang sama. Uchi seseorang dapat berupa
keluarga, lingkungan teman atau kerja, atau negara. Dalam Uchi seseorang akan merasa
leluasa untuk menampilkan Honne (pikirannya atau motif apa yang disimpan). Soto (luar)

Japanese Journal of Religious Studies, Robert Lee. 1977. The Individualition of the the Self in Japanese History.

merupakan wadah di dalam masyarakat Jepang yang sikap serta tutur sapa harus dijaga dan
tidak sama dengan apa yang dilakukan dalam Honne. Dalam wadah ini masyarakat Jepang
menggunakan pola Tatemae (sikap dan perilaku yang tidak sama dalam pikiran).
Kata honne dan tatemae dapat diartikan sebagai suatu hal yang mendefenisikan
seseorang yang sedang menunjukkan pikirannya atau motif apa yang disimpan (honne) serta
ekspresi wajah yang digunakan dalam berkomunikasi ke luar (tatemae) tidak sama. Honne
dan tatemae merupakan kiasan untuk ekspresi omote (di depan) dan ura (di belakang), yang
menjelaskan karakter umum atau sikap sebagai pertentangan untuk interaksi pribadi.
Masyarakat Jepang pada umumnya mengutamakan keharmonisan yang baik dan solidaritas
berkelompok. Orang Jepang telah diajarkan sejak dini untuk mengikuti maksud dari hatinya
sendiri, tapi tidak untuk menantang secara terbuka. Intinya ialah apa yang di dalam hati tidak
bisa diungkapkan langsung dan diekspresikan kepada lawan bicaranya. (Befu, 1996: 90-91)
Honne adalah pendapat sebenarnya, atau apa yang sebenarnya dipikirkan seseorang.
Honne mengacu pada kenyataan bahwa setiap individual dalam suatu kelompok walaupun
mereka mendahulukan tatemae, mereka akan tetap memiliki motif dan opini sendiri yang
berbeda yang disimpannya dalam hati saja. Hal ini dapat disamakan dengan sikap kejujuran
yang ada pada anak- anak, yaitu sikap yang tidak dapat dipengaruhi oleh orang lain selain
dirinya. (Doi, 2001:36-37)
Tatemae didefinisikan sebagai jenis prinsip atau aturan yang alami dan tepat dalam
kehidupan bermasyarakat. Prinsip dan aturan itu sangat penting, sehingga tatemae
melambangkan prinsip dan aturan yang disetujui oleh sekolompok orang, khususnya bagi
masyarakat Jepang. Karena prinsip dan aturan tersebut dapat diubah pula oleh masyarakat
tersebut sesuai kesepakatan bersama. (Doi, 2001:35-36)
Tatemae itu tidak selalu berupa perbuatan yang baik dan benar secara moral. Tetapi
tatemae juga tidak selalu berupa perbuatan yang buruk dan penuh kepura-puraan. Doi (2001,
hal: 37). Sebagai kesimpulan, Honne merupakan pikiran pribadi dan bukan sebuah
kesempatan bersama, sedangkan Tatemae merupakan pikiran atau tampilan yang seharusnya
ditampilkan dan menjadi sebiah kesepakatan bersama.
Masyarakat akan lebih mengedepankan kepentingan kelompoknya. Bagi orang Jepang
hidup hanya akan berarti apabila berada dalam kelompoknya. Oleh karena itu, mereka sebagai
anggota kelompok akan senantiasa menjaga diri agar diakui dan diterima dan berusaha
menjaga loyalitasnya bagi kelompoknya. Hal ini akan terlihat dengan jelas dalam sebuah
hubungan seorang anak dengan temannya di sekolah.

Apabila hubungan dengan temannya tersebut berjalan dengan baik, ia akan merasa
senang pergi ke sekolah. Sebaliknya, jika hubungan pertemanannya tidak berjalan dengan
baik, anak tersebut akan menolak untuk pergi ke sekolah, yang dalam bahasa Jepang disebut
tokokyohi. Apabila seorang anak sudah mulai masuk masa sekolah, di situlah akan terlihat
kemampuan anak tersebut dalam membentuk dirinya di dalam lingkungan pertemanan dan
berkelompok. Penekanan hidup berkelompok dalam masyarakat Jepang ini secara otomatis
telah memengaruhi seluruh gaya hubungan antarpribadi individu di Jepang.

Ijime dalam Shudan shugi Masyarakat Jepang


Dalam suatu masyarakat yang memiliki berbagai macam pranata kehidupan sosial,
tentunya tidak terlepas dari adanya permasalahan sosial. Salah satu permasalahan sosial yang
umum terjadi dalam masyarakat, yaitu penganiayaan. Penganiayaan atau dalam bahasa Jepang
disebut dengan ijime. Morita dalam Kyoshitsu no Yamai mendefinisikan ijime sebagai sebuah
perilaku agresif seseorang yang memegang posisi dominan dalam proses interaksi-kelompok, dengan
tindakan disengaja atau kolektif, menyebabkan penderitaan mental dan atau fisik yang lain di dalam
grup (1989; 21). Menurut Akiko Dogakinai dalam Ijime: A Social Illness of Japan3, ijime diartikan
sebagai tindakan berupa penganiayaan, penghinaan, penyiksaan, baik segi mental maupun fisik yang
dilakukan dalam kelompok sendiri (2005:2). Ijime merupakan salah satu masalah sosial yang

terjadi dalam masyarakat Jepang.


Sistem shudan shugi dalam masyarakat yang sangat mengutamakan kepentingan
bersama, lama kelamaan berubah menjadi adat istiadat yang dipatuhi setiap lapisan
masyarakatnya. Akan tetapi, di lain pihak sistem ini membuat seseorang yang tidak sama atau
tidak mengikuti kepentingan bersama yang menjadi dasar dari peraturan ini, mendapat ijime
atau penganiayaan.
Nojuu Shinsaku dari Pusat Penelitian Bimbingan Kehidupan Anak-anak di Jepang
menjelaskan bahwa sikap anak-anak di sekolah Jepang memiliki kecenderungan untuk
melakukan tindakan-tindakan dalam bentuk kebersamaan yang kolektif dalam mencapai suatu
tujuan tertentu karena mereka merasa mempunyai motif kegiatan dan tujuan yang sama, yang
timbul karena begitu kuatnya rasa solidaritas dan kebersamaan yang timbul di dalam diri
anak-anak tersebut. Namun, mereka juga cenderung memiliki perilaku menyimpang yang
disebabkan tekanan dan tuntutan dari lingkungan sekitar tempat siswa-siswa sekolah tersebut
tumbuh, yang juga dilakukan dalam bentuk kebersamaan yang kolektif. Perilaku menyimpang
3

Sebuah jurnal yang merujuk pada Fredman, Lauren. (1995, March). Bullied to death in japan (teenagers'
suicides). World Press Review, 42, 25 http://www.atimes.com/atimes/Japan.html dikunjungi pada tanggal 10
Januari 2014 pukul 19.40

ini merupakan perwujudan protes terhadap lingkungan sekitar dan orang-orang dekat, dengan
cara melampiaskan rasa ketidaksukaan, ketidakpuasan, juga keletihan dan kejenuhan yang
dirasakan dengan melakukan tindakan yang disebut dengan ijime. (1989 : 44)
Nojuu menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan ijime sangatlah berbeda dengan
yang disebut dengan perkelahian karena tindakan ini merupakan suatu perbuatan seseorang
yang mempunyai kekuatan dalam beberapa bentuk untuk dapat melakukan penyerangan
searah terhadap siapa yang menjadi lawannya. Orang yang berada dalam posisi kuat
menyerang orang yang berada dalam posisi lemah, baik secara fisik maupun mental. Orang
yang melakukan perbuatan ini juga merasa sangat senang apabila melihat lawannya menderita
atau menjadi kesal. Ijime juga memiliki ciri bahwa tindakan ini tidak akan berakhir dalam
satu kali perbuatan saja, tetapi dilakukan dalam masa yang panjang dan dilakukan secara
berulang-ulang.
Dalam ijime

satu atau sekelompok besar orang melawan sekelompok kecil atau

beberapa orang melawan satu orang. Ijime juga dapat diartikan sebagai suatu tindakan kejam
yang meliputi penganiayaan, pemerasan, penyangkalan, pencemohan, dan pengolok-olokan
yang terkadang, bahkan mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang. Ijime merupakan proses
evaluasi kehidupan dalam bermasyarakat. Maksudnya ialah ada kalanya seorang anak di-ijime
dan ada kalanya pula anak tersebut yang melakukan ijime kepada temannya. Melalui ijime
seorang anak belajar menyesuaikan diri dalam masyarakat. Misalnya, dengan cara berkelahi
seorang anak ingin menunjukkan apa yang ada di dalam dirinya dan apa yang ia inginkan
sebenarnya.
Anak-anak sekolah ini melakukan ijime untuk mendapatkan rasa memiliki atau
popularitas

di

antara

rekan-rekannya,

memelihara

kepemimpinan

kelompok,

dan

memengaruhi anak lain dengan ancaman agar bertindak atau berhubungan dengan mereka,
yang bertujuan untuk memuaskan diri pelaku ijime. Kebanyakan tindakan ijime di sekolah
merupakan suatu bentuk teror psikologis sehingga membuat anak yang menjadi korban
mengalami stres atau depresi. Pada umumnya, banyak siswa yang sering menyaksikan ijime
justru tidak melakukan apa pun untuk menghentikan peristiwa tersebut dan mereka lebih
memilih untuk tidak terlibat. Bentuk-bentuk ijime 4 terbagi atas agresi fisik, intimidasi,
isolasi/pengucilan intimidasi, cyber-intimidasi, nama panggilan, dan pengrusakan properti.
Dalam pembahasan ini akan digunakan empat diantaranya yaitu intimidasi, isolasi/pengucilan

Roin, Ann dkk. 2013, Anti Bullying Procedures for Primary and Post Primary School, (2013), hal. 9-10.

intimidasi, nama panggilan, dan pengrusakan properti. Pengertian dari empat konsep ini ialah
sebagai berikut:

1. Intimidasi. Beberapa perilaku ijime mengambil bentuk intimidasi. Hal ini didasarkan
pada penggunaan bahasa tubuh yang sangat agresif dengan suara yang digunakan
sebagai senjata. Terutama dengan ekspresi wajah yang menjengkelkan dapat menjadi
ekspresi wajah yang menyampaikan agresi atau tidak suka.
2. Isolasi/ pengucilan dan intimidasi. Ini terjadi ketika seseorang sengaja diisolasi,
dikecualikan atau diabaikan oleh beberapa atau semua dari anggota kelompok. Praktek
ini biasanya diprakarsai oleh orang yang terlibat dalam perilaku ijime dan sulit untuk
dideteksi. Ini dapat juga disertai dengan penghinaan di tempat umum, dengan
membisikkan penghinaan tentang mereka cukup keras untuk didengar. Intimidasi
relasional terjadi ketika upaya seseorang untuk bersosialisasi dan membentuk
hubungan dengan rekan-rekan yang berulang kali ditolak atau dirusak.
3. Nama panggilan. Memanggil seseorang dengan julukan yang kurang menyenangkan
di depan umum agar mendapatkan perhatian. Si korban akan merasa malu karena
biasanya julukan tersebut adalah karakter atau pun kebiasaan si korban.
4. Pengrusakan properti atau kondisi. Properti pribadi dapat menjadi fokus perhatian
untuk perilaku ijime. Hal ini dapat berakibat pada pengrusakan pada pakaian, ponsel
atau perangkat lain, buku-buku, dan lainnya.

Jepang Pada Masa Restorasi Meiji (1868 - 1912)


Pada tahun 1868, Keshogunan Tokugawa yang memerintah Jepang pada masa feodal
kehilangan kekuasaan. Sebagai akibatnya, kekuasaan kaisar yang dirampas kaum Tokugawa
jauh dari zaman zaman sebelumnya dipulihkan ke posisi tertinggi. Kaisar mengambil nama
Meiji sebagai nama pemerintahannya sehingga zaman ini dikenal sebagai Restorasi Meiji.
Ketika Kaisar Meiji dikembalikan menjadi kepala Jepang pada tahun 1868, bangsa Jepang
masih merupakan negara militer lemah, dan kurang mengalami perkembangan teknologi.
Kekuatan Barat - Eropa dan Amerika Serikat - memaksa Jepang untuk
menandatangani perjanjian yang membatasi kontrol atas perdagangan luar negeri sendiri.
Jepang memenangkan dua perang, salah satunya berhasil melawan kekuatan utama Eropa,
Rusia.

Kemenangan tersebut telah memberikan pengakuan penuh dunia internasional

terhadap Jepang. Keberhasilan Jepang dalam modernisasi telah menciptakan suatu keadaan

Jepang yang benar benar meniru negara barat dari segala bidang contohnya politik, ekonomi,
dan pendidikan.
Selama dua puluh tahun kemudian, 1870-an dan 1880-an, prioritas utama tetap
kepada reformasi domestik yang ditujukan untuk mengubah institusi sosial dan ekonomi
Jepang sepanjang garis model yang disediakan oleh negara-negara Barat yang kuat. Jepang
berkembang dengan kecepatan yang luar biasa, energi, dan kerja sama dari masyarakat. Para
pemimpin Meiji menciptakan ideologi sipil berpusat di kaisar sebagai ideologi penyatu
bangsa Jepang dalam menanggapi tantangan Barat, orang-orang Jepang di masa itu jarang
melihat kaisar, tetapi mereka melaksanakan perintahnya tanpa pertanyaan. Jutaan orang tibatiba bebas untuk memilih pekerjaan mereka dan bergerak tanpa pembatasan. Dengan
menyediakan lingkungan yang baru keamanan politik dan keuangan, pemerintah
dimungkinkan berinvestasi dalam industri dan teknologi baru.
Pemerintah melakukan target terhadap beberapa rencana seperti: pembangunan jalur
kereta api dan pelayaran, sistem telekomunikasi, transportasi laut, pertambangan, sistem
pertahanan, dan sistem manufaktur (membuat gula, kaca, tekstil, semen, kimia, dan lainnya).
Pemerintah juga memperkenalkan sistem pendidikan nasional dan konstitusi, menciptakan
parlemen yang terpilih disebut Diet. Tujuan utama pemerintah Jepang melakukan reformasi
ini adalah untuk mendapatkan dukungan internasional pada masa modern. Pada periode
Tokugawa, pendidikan populer telah menyebar dengan cepat, dan pada tahun 1872
pemerintah menetapkan sistem nasional untuk mendidik seluruh penduduk.
Pada akhir periode Meiji, hampir semua orang menghadiri sekolah umum gratis
setidaknya selama enam tahun. Pemerintah dengan ketat mengontrol sekolah, memastikan
bahwa selain keterampilan seperti matematika dan membaca, semua siswa belajar "pelatihan
moral" yang menekankan pentingnya tugas mereka untuk kaisar, negara dan keluarga mereka.
Sejak tahun 1889, konstitusi tersebut diberlakukan oleh kaisar kepada semua warga negara
Jepang dan hanya kaisar saja yang dapat mengubahnya. Negara-negara barat akhirnya setuju
untuk merevisi perjanjian pada tahun 1894, mengakui Jepang sebagai sama pada prinsipnya
meskipun tidak dalam kekuasaan internasional. Invasi Jepang pertama terjadi pada tahun 1894
terhadap Cina yang dimenangkan oleh Jepang sendiri. Selain negara Cina, Jepang juga
berhasil mengalahkan Rusia pada tahun 1905 yang cukup mencengangkan negara negara
Barat. (Gordon 2003: 9 - 111 )

NATSUME SOSEKI
Natsume Soseki (1867-1916) merupakan nama pena dari Natsume Kinnosuke, salah
satu novelis Jepang terkemuka dan komposer dari haiku Jepang. Soseki paling dikenal untuk
novel "Kokoro" dan "Wagahai wa Neko de aru. Natsume Soseki bukan hanya novelis paling
terkemuka, tetapi juga salah satu pelopor dari studi sastra Inggris di Jepang modern. Ia lahir di
Edo (Tokyo). Pada saat itu, Jepang telah menghadapi serangkaian perubahan revolusioner
yang disebut Restorasi Meiji yang bertujuan untuk membangun Jepang menjadi sebuah
negara modern dan mengikuti gaya barat.
Reformasi drastis dari struktur sosial di Jepang ini juga sangat memengaruhi
kehidupan dan pikiran Soseki itu. Perhatian awalnya adalah sastra klasik Cina, tetapi di harihari sekolahnya jurusan bahasa Inggris dari Universitas Kekaisaran Tokyo tempat dia belajar,
ia memiliki ambisi besar untuk menjadi tokoh internasional. Selama beberapa tahun setelah
lulus, ia mengajar bahasa Inggris di Tokyo dan di sekolah-sekolah provinsi, sampai suatu titik
balik yang penting tiba dalam hidupnya, pemerintah Jepang menunjuk dia sebagai salah satu
siswa ke luar negeri pertama untuk penelitian dan belajar bahasa Inggris di Inggris tahun
1900-1902. Pengalamannya di Inggris memberikan kesempatan baginya untuk memperdalam
pemahamannya tentang the 'light and the dark' peradaban Barat dan modernisasi.
Setelah kembali ke Jepang pada tahun 1903, ia mengajar di Universitas Kekaisaran
Tokyo dan di beberap tempat lain. Dia juga menulis cerita serial Wagahai - ha - Neko - dearu,
1905 di majalah Haiku. Dengan novel ini sebagai awal, bakat luar biasa sebagai novelis tibatiba dikembangkan. Pada tahun 1907, ia memutuskan untuk mengundurkan diri dari profesi
guru dan bekerja pada sebuah perusahaan surat kabar, Asahi Shimbun, sebagai novelis dengan
kontrak eksklusif. Setelah itu, ia menulis cerita serial untuk surat kabar hampir setiap tahun:
Gubijinso ( 1908 ), Sanshiro ( 1909 ), Sorekara ( 1910 ) , Mon ( 1911 ), Higansugimade
( 1912 ), Kojin ( 1914 ), Kokoro ( 1914 ), Michikusa (1915).
Pada awalnya novelnya penuh humor, tetapi kemudian ia menjelajahi kedalaman
psikologi manusia, isolasi dan egoisme, dan apalagi menganalisis kontradiksi dalam
masyarakat Jepang. Pada 9 Desember 1916, Soseki meninggal karena ulkus lambung,
meninggalkan novel terakhirnya, Meian (1907) belum selesai. Meskipun kegiatan sebagai
seorang penulis profesional tidak berlangsung lebih dari sepuluh tahun, ia menulis banyak
karya yang telah dibaca oleh generasi demi generasi pembaca Jepang.

Bahkan sekarang karya-karyanya memberikan dorongan kepada banyak orang Jepang.


Karya karya ini

mengungkapkan berbagai topik, seperti orang yang biasa melawan

kesulitan ekonomi, konflik antara tugas dan keinginan, loyalitas dan mentalitas kelompok
dibandingkan kebebasan dan individualitas , industrialisasi yang pesat dari Jepang dan
dampak sosialnya, penghinaan peniruan Jepang terhadap budaya Barat, dan pandangan
pesimis tentang sifat manusia. Natsume dianggap Bapak Modernisme dalam sastra Jepang5.
BOTCHAN
Novel Botchan merupakan salah satu novel klasik terpopuler karya Natsume Soseki
yang ditulis pada tahun 1906. Novel ini bertemakan moralitas dan berdasarkan pengalaman
pribadi Natsume Soseki sebagai guru Bahasa Inggris yang di kirim ke Matsuyama (Prefektur
Ehime, Shikoku) pada tahun 1899 - 190110. Tokoh utama dalam cerita ini adalah Botchan,
lahir di Tokyo dan tinggal di Matsuyama, merupakan pengalaman pertamanya tinggal di
tempat lain. Latar novel ini adalah jaman Meiji (1868-1912).
Soseki mencoba menggambarkan keadaan masyarakat Jepang yang mulai berubah di
zaman tersebut. Botchan merupakan panggilan sopan untuk anak laki-laki terpandang atau
hampir sama dengan kata tuan muda. Panggilan ini merupakan panggilan yang diberikan
Kiyo, seorang perempuan tua yang membantu mengurus rumah di keluarga Botchan. Novel
ini menceritakan kisah hidup seorang anak laki-laki yang memiliki masa kecil yang kurang
menyenangkan.
Botchan, yang merupakan anak terakhir dari dua bersaudara, sejak kecil kekurangan
kasih sayang, bahkan hampir tak diinginkan kehadirannya oleh kedua orangtuanya mereka.
Kedua orang tuanya selalu mengatakan bahwa ia adalah anak yang tidak berguna dan selalu
membandingkannya dengan kakak laki-lakinya yang berkulit putih dengan karakter
lembutnya, yang menurut Botchan, lebih pantas menjadi seorang perempuan. Ketika Botchan
lulus SMU, tepat enam tahun setelah ibunya meninggal, ayahnya meninggal karena penyakit
apoplexy. Kemudian, sang kakak yang diterima bekerja di kantor cabang sebuah perusahaan
di Kyushu. Kakak Botchan kemuadian menjual rumah mereka dan membagi uang sebesar
600 kepada Botchan.
Kiyo sementara ikut bersama keponakannya, seorang panitera pengadilan yang hidup
berkecukupan dan baik hati. Kiyo menyuruh Botchan untuk berjanji akan membawanya
kembali ketika Botchan sukses dan memiliki rumah sendiri. Setelah itu, Botchan mulai
menjalani hidup sendiri dan ia menggunakan uang dari kakaknya untuk melanjutkan sekolah.
5

www.ucl.ac.uk/library/.../soseki-pamphlet.pdf

Tiga tahun kemudian Botchan lulus dari Sekolah Fisika dan mendapat panggilan untuk
mengajar matematika di sebuah SMU di pulau Shikoku dengan bayaran JPY40 per bulan.
Daerah tempat Botchan mengajar, Matsuyama, sangat kecil oleh karena itu, gosip atau pun
rumor sangat cepat menyebar di daerah ini. Botchan memiliki julukan khusus terhadap guruguru di SMU tersebut seenak hatinya, seperti si Rubah untuk kepala sekolah, si Landak untuk
guru matematika senior, si Kemeja Merah untuk guru kepala, si Penjilat Kampungan untuk
guru seni, dan sebagainya.
Para murid didikannya di sekolah tersebut kurang menghormatinya sebagaimana
murid seharusnya menghormati guru mereka. Botchan sering dipermalukan oleh siswasiswanya. Tidak hanya di saat jam sekolah, ketika Botchan mendapatkan tugas piket malam
pun, siswanya menjahili dia dengan memasukkan belalang di balik selimut Botchan. Ternyata,
tak hanya muridnya yang memperlakukan Botchan seperti itu, bahkan di antara guru di
sekolah tersebut juga menginginkan penderitaan Botchan.
Misalnya anak anak sekolah Matsuyama yang menyelipkan banyak belalang ke
dalam tempat tidur Botchan ketika sedang piket menjaga sekolah. Si Kemeja Merah dan
Penjilat Kampungan yang selalu melakukan ejekan setiap bertemu dengan Botchan. Suatu
hari, ketika ia duduk-duduk di ruangan majelis guru, terdengar seorang guru yang
menuduhnya pergi ke pemandian air panas yang dikenal sebagai tempat berkumpulnya para
perempuan pandai seni Jepang (geisha). Belum selesai masalah, Botchan yang babak belur
karena berusaha melerai sebuah perkelahian oleh murid-murid sekolahnya, malah dituduh
sebagai provokator. Akhirnya, bersama teman pengajarnya, Hotta alias si Landak (Yama
Arashi), Botchan bersama-sama merencanakan siasat dan berusaha membongkar kebenaran
yang sebenarnya.
Setelah mengetahui bahwa semua tuduhan yang menimpanya adalah perbuatan wakil
kepala sekolah yang semula ia kira orang yang baik dan patut dihormati, Botchan akhirnya
memantapkan hatinya untuk mengundurkan diri sebagai guru di sekolah tersebut dan pulang
ke Tokyo bertemu dengan Kiyo. Di Tokyo, Botchan mendapat pekerjaan sebagai asisten
masinis. Meskipun gajinya tidak seberapa jika dibandingkan dengan gaji saat menjadi guru di
Shikoku, Kiyo merasa cukup bangga pada Botchan. Tak lama setelah mendapatkan pekerjaan
dan tempat tinggal baru, Kiyo meninggal karena Pneumonia.

Bentuk-Bentuk Ijime yang dialami Botchan


Ijime dengan bentuk pengrusakan properti
Menyenangkan sekali, kataku sambil merenggangkan kaki, namun tiba
tiba ada yang merayap di kedua kakiku. Karena terasa agak kasar, tentunya bukan kutu
busuk, maka aku mengibas ibaskan kaki di dalam selimut. Lalu, semakin banyak
yang mengena di kakiku, di tulang keringku lima tempat, di pahaku dua tempat, dan di
bawah pantatku, tergencet, ada satu tempat, dan ada yang merayap sampai ke pusarku.
Betul betul mengagetkan. Segera aku bangun dan kutarik selimutku, dan dari dalam
kasur berloncatan lima atau enam puluh ekor belalang. Sebelum mengetahui
keberadaan mereka, aku agak takut, tetapi begitu kuketahui bahwa itu belalang, serta
merta saja aku menjadi kesal............... (Botchan Si Anak Bengal; 61)
Segera saja aku memanggil tiga siswa penghuni asrama sebagai perwakilan. Siswa
yang datang justru enam orang. Tapi, bagiku, mau enam orang, mau sepuluh orang,
tidak menjadi masalah. Dengan tetap memakai pakaian tidur yang kusisingkan
lengannya, aku memulai pengadilanku.
Mengapa kalian masukkan belalang ke dalam tempat tidurku?
Belalang apa itu? salah seorang menjawab dengan bersikap yang sangat
tenang. Di sekolah ini, mungkin bukan hanya kepala sekolah, muridnya pun pandai
menggunakan ekspresi polos. (Botchan Si Anak Bengal; 63)
Ini merupakan Ijime pertama yang dialami oleh Botchan. Botchan baru tiba beberapa
hari di Matsuyama Gakkou 6 . Botchan langsung diperintahkan oleh kepala sekolah untuk
mengambil jatah menjaga sekolah pada malam hari. Matsuyama Gakkou`tidak hanya terdiri
dari sekolah saja, tetapi juga menyediakan asrama untuk siswa. Dalam cerita ini, yang
diceritakan adalah pada saat Botchan menjaga sekolah yang dekat asrama siswa laki laki.
Pada saat dia meninggalkan ruang piketnya yang isinya tempat tidur, para siswa laki laki
memasukkan belalang ke dalam kasur dan selimut Botchan agar dia merasa gatal dan
terganggu pada saat tidur. Yang paling membuat Botchan kesal adalah para siswa laki laki
tidak mengakuinya malah menuduh Botchan berhayal.
Ijime kali ini merupakan bentuk dari ijime pengrusakan properti. Pengrusakan properti
di sini tidak hanya berarti merusak benda, namun perubahan kondisi juga merupakan salah
satu perusakan properti. Kondisi yang nyaman bagi seseorang ketika berubah menjadi kondisi
yang tidak nyaman terhadap dirinya, serta hal ini disebabkan oleh orang lain yang dilakukan
secara sengaja, hal ini dapat disebut juga ijime dengan bentuk pengrusakan properti. Dalam
kutipan ini tidak ada barang yang dirusak oleh para siswa laki laki tersebut, akan tetapi ada
bentuk yang berubah yakni kamar yang sedianya hanya ada kamar berisi kasur, bantal dan
selimut sekarang berubah dengan adanya pengrusakan keadaan semula berupa belalang yang
cukup mengganggu.

Nama sekolah tempat Botchan mengajar. Dalam bahasa Jepang, Gakkou berarti sekolah.

Ijime yang berakhir dengan pengrusakan properti ini sebenarnya berawal dari ijime
intimidasi. Hari pertama Botchan masuk dan mengajar di kelas para siswa laki laki tersebut,
dia sudah diganggu dengan kebisingan di kelas agar Botchan tidak merasa nyaman dan
memilih menerima perilaku dari para siswa laki laki ini. Botchan menerima perlakuan ini
karena dia merupakan pihak minoritas dalam kelompok masyarakat tempat dia berada,
sehingga memaksanya untuk mau tidak mau menerima perlakuan dari kelompok masyarakat
di tempat dia berada. Awal Botchan tidak disukai oleh para siswa ini ketika Botchan pergi ke
tempat makan tempura 7 dan dango 8 di daerah tersebut. Masyarakat di Ehima Matsuyama
menganggap seorang guru yang digaji hanya 40 satu bulan kurang pantas makan dango yang
harganya 4. Hal ini dianggap bermewah mewah dan tidak mencerminkan sikap seorang
guru. Konsep Shudan shugi yang dijelaskan sebelumnya sangat jelas terletak dalam perihal
ini. Masyarakat Matsuyama kurang senang melihat perilaku yang berbeda dengan mereka
sendiri. Apa yang menjadi adat istiadat atau kebiasaan di daerah tersebut harus dipatuhi agar
dapat dianggap bagian dari daerah tersebut secara sosial.
Ijime Dengan Bentuk Pemanggilan Nama
Dalam kutipan dibawah ini, si Kemeja Merah (guru kepala) mengajak si Botchan dan
Penjilat Kampungan (Yoshikawa) untuk pergi memancing. Botchan yang kurang suka cara
mereka memancing dan hanya memperhatikan Kemeja Merah dan Penjilat Kampungan diejek
terus sepenjang mereka berada di dalam perahu.
Aku tidak memperhatikan kata kata lain, tetapi saat mendengar kata belalang
dari mulut si Penjilat Kampungan, aku tersentak. Entah apa maksudnya, pada saat
mengatakan kata belalang si Penjilat Kampungan mengatakannya dengan suara keras,
seolah agar masuk ke telingaku dengan jelas, lalu yang selanjutnya dengan sengaja
disamarkannya.
Dan si Hotta...
Mungkin begitu...
Tempura... hahaha,
Mengompori...
Dango juga?
7

Tempura adalah makanan Jepang yang terdiri dari sayuran, seafood atau bahan makanan lain yang diolah
dengan cara digoreng. http://jepang101.wordpress.com/tag/tempura/ dikunjungi pada tanggal 1 Januari 2014
pukul 19:19 WIB.
8
Dango adalah salah satu camilan yang populer di Jepang. Kue tradisional ini terbuat dari campuran tepung
beras dan air. Setelah tepung beras dicampur dengan air dan dibentuk seperti bola-bola. Lalu adonan dikukus
atau direbus hingga matang. Setelah dango matang barulah adonan bola-bola tersebut ditusuk memakai tusukan
satai dari bambu yang disebut kushi dango. Tiap tusuk biasanya berisi 3-4 buah kue dango.
http://food.detik.com/read/2011/10/13/130644/1743236/482/dango-camilan-unik-dari-negeri-sakura dukunjungi
pad tanggal 1 Januari 2014 pukul 19:23 WIB.

Meski kata katanya terputus, tetapi kalau diperkirakan dari kata kata
belakang, tempura, dan dango, pasti mereka sedang membicarakan diriku. Kalau mau
bicara, bicaralah dengan suara yang lebih keras, dan kalau mau bicara rahasia,
sebaiknya jangan mengajakku. Manusia yang sangat menyebalkan.... (Botchan Si
Anak Bengal; 87-88)
Dalam cerita ini, masih berada di dalam perahu ketika Kemeja Merah, Penjilat
Kampungan, dan Botchan pergi memancing. Setelah mengejek Botchan yang hanya mendapat
ikan kecil dengan kailnya, mereka juga melakukan ijime berupa ejekan yaitu menyebut nama
ejekan yang telah diberikan siswa Matsuyama Gakkou padanya, Tempura dan Dango.
Maksud utama dari Kemeja Merah sebagi provokator dari pengejekan ini adalah agar Botchan
merasa malu dan menuruti apa saja yang dikatakan Kemeja Merah.
Tingkah laku murid harus diperbaiki dengan mencontoh tindakan gurunya,
maka sebagai langkah awal, guru tidak boleh ke tempat makan minum dan
sebagainya. Kecuali untuk acara penyambutan dan perpisahan dan semacamnya, hal
itu diperbolehkan, tapi kalau sendirian diharapkan untuk tidak pergi ke tempat
murahan..... Ketika dia mengatakan, misalnya warung soba, warung dango dan
sebagainya..... semuanya tertawa lagi. Si Penjilat Kampungan melihat si Landak dan
mengatakan tempura sambil mengeja- kejapkan mata, tetapi si Landak tidak
meladeni. (Botchan Si Anak Bengal; 119)
Dalam penggalan cerita ini, Botchan diijime dengan kata kata yang sama dengan
kata kata yang dipakai sebelumnya dango dan tempura. Bedanya ialah kali ini, dia
diijime di depan rekan guru. Maksud dari Kemeja Merah dan Penjilat Kampungan adalah
membuat Botchan tidak memiliki harga diri di depan sesama guru. Di sini juga si Kemeja
Merah sangat pintar menggunkan Tatemae dalam dirinya. Kemeja Merah mengatakan sendiri
tidak boleh pergi ke tempat bersenang senang yang menghabiskan biaya banyak sedangkan
dia selalu pergi ke tempat geisha

yang jauh lebih memakan biaya banyak tanpa

sepengetahuan guru yang lain.


Si Landak yang aku pikir sebagai orang yang jujur katanya mengompori murid.
Saat aku menganggap dia mengompori murid, dia justru mendesak kepala sekolah
untuk memberikan sanksi kepada para siswa. Sebaliknya si Kemeja Merah yang
seolah campuran dari segala macam yang menyebalkan justru bersikap baik dengan
mengingatkanku untuk waspada. Saat kupikir dia mengelabui Madonna, dia
mengatakan bahwa dia takkan menikahi Madonna bila Koga tidak membatalkan
pertunangannya. (Botchan Si Anak Bengal; 144)

Geisha adalah budaya tradisional, wanita penghibur Jepang yang memiliki keterampilan berbagai kesenian
Jepang seperti musik klasik dan tari. http://hermawayne.blogspot.com/2011/02/fakta-tentang-geisha.html
dikunjungi tanggal 2 Januari 2014 pukul 07.27 WIB

Kutipan ini merupakan curhatan si Botchan yang merasa tertipu oleh si Kemeja Merah.
Botchan awalnya merasa si Kemeja Merah berada di pihaknya untuk membelanya pada saat
diijime oleh para siswa (peritiwa belalang) namun ternyata tidak. Dengan pintarnya si Kemeja
Merah melimpahkan kesalahan seakan akan ada di pihak si Botchan bukan pada siswa.
Botchan lagi lagi menerima ijime dari si Kemeja Merah berupa intimidasi yakni untuk
introspeksi diri.
Apakah si Kemeja Merah karena tidak tahu malunya bermaksud mengelabuiku,
atau mungkin karena pengecut sampai dia tidak mau memperkenalkan diri? Rupanya
bukan hanya aku yang kesulitan karena sempitnya kota. (Botchan Si Anak Bengal;
147)
Kutipan ini bukan bukti dari ijime si Kemeja Merah terhadap Botchan, tetapi bukti
permainan Tatemae dan Honne yang dilakukan oleh si Kemeja Merah di depan para guru dan
aslinya sendiri. Si Kemeja Merah ternyata pergi ke tempat plesiran yang sebelumnya dia
sendiri mengatakan tidak boleh bermewah mewah karena tidak pantas untuk seorang guru.
Dan ini menjadi sebuah senjata yang digunakan oleh si Kemeja Merah untuk menyerang si
Botchan di setiap kesempatan berdebat.
Begitu aku masuk ke celah antara kelompok dengan kelompok, tidak putus
terdengar kata kata tempura dan dango. Lagi pula, karena banyaknya, maka tidak
diketahui siapa yang mengatakan, Saya tidak mengatakan tempura, juga tidak bilang
dango, itu karenaSensei dalam keadaan frustasi, maka Sensei selalu berprasangka
buruk sehingga terdengar seperti itu. Karena karakter ini sudah menjadi kebiasaan di
daerah inisejak jaman feodal, betapa pun diajarkan, tetap saja tidak berubah. Setahun
saja tinggal di tempat seperti ini, maka aku yang bersih pun mungkin akan berperilaku
seperti ini. (Botchan Si Anak Bengal; 189)
Sama seperti ijime ijime sebelumnya, kali ini Botchan mendapat ijime berupa
pemanggilan nama ejekan dango dan tempura. Para siswa ini masih saja mengijime si
Botchan melalui kata kata meskipun peristiwa belelang itu telah selesai dan jelas diketahui
yang salah adalah pihak siswa sendiri. Yang melatarbelakangi ijime ini tetap berlanjut adalah
guru kepala (si Kemeja Merah) yang tampak membiarkan masalah ini saja dan seolah olah
mendukung siswa untuk tetap melakukan ijime pada Botchan.
Wah kemarin Anda sangat berjasa ya... Itu cedera karena membela
kehormatan ya? Dia mengolok olok seolah mensyukuri apa yang kualami, mungkin
dia mau balas dendam karena aku pukul dia pada saat acara perpisahan.
Jangan banyak ngomong, jilati saja tuh kuas gambarmu, kataku.
Wah maaf sekali deh. Tapi tentunya itu sakit sekalikan? katanya.

mau sakit atau tidak, ini mukaku. Mukaku tidak perlu kamu urusi, bentakku,
maka dia pun menuju tempat duduknya. Sambil melihat mukaku, dan dia tertawa
stelah berbisik bisik pada guru sejarah di sebelahnya. (Botchan Si Anak Bengal; 210)
Dalam kutipan ini, Botchan mendapat ijime pemanggilan nama berjasa membela
kehormatan. Pada hari sebelumnya, Botchan melerai siswa sekolahnya dengan siswa yang
lain yang sedang berkelahi, kan tetapi yang terjadi malah sebaliknya si Botchan ikut dipukuli
oleh siswa siwa tersebut. Peristiwa bukan menjadi perhatian guru guru agar meningkatkan
disiplin siswanya yang sangat kurang, tetapi bahan ejekan kepada si Botchan yang berusaha
melerainya.

KESIMPULAN
Botchan yang merupakan guru berusia 23 tahun dan ditempatkan untuk mengajar di
desa yang sangat jauh dari tempat tinggalnya, Tokyo, baik dari segi budaya dan pola pikir,
yaitu berawal dari konsep shudan shugi menjadi penyebab Botchan diijime. Ketidaksamaan
tingkah laku Botchan seperti yang diharapkan oleh kelompok masyarakat di desa tersebut
berujung menjadi sebuah ijime baginya. Konsep shudan shugi yang ada pada masyarakat
Jepang, yang mengharuskan setiap orang yang berada pada kelompok tersebut berperilaku
sama dan tidak mencolok di antara masyarakat tersebut, tidak tercermin di dalam diri Botchan
ketika dia berada di dalam kelompok tempat dia tinggal. Hal ini menyebabkan kelompok
masyarakat tersebut menganggap Botchan tidak sama dengan mereka sehingga muncul ijime
terhadap Botchan. Kelompok masyarakat tersebut tidak saja serta merta mengijime Botchan
dengan terang-terangan, dengan cara intimidasi, yaitu memberikan julukan yang tidak biasa
kepada Botchan sesuai dengan kelakuannya yang berbeda dari apa yang diharapkan
masyarakat tersebut terhadap dirinya.
Di samping itu mereka tetap menunjukkan rasa sopan santun berinteraksi dengan
Botchan, namun tetap sembari mengijime dengan kata kata yang tidak seharusnya. Mereka
mengijime tanpa melupakan kelompok mereka berada, tentu dengan demikian mereka selalu
terikat dengan konsep Tatemae Honne. Maksud dari Tatemae Honne dalam kesimpulan ini
ialah bahwa, dalam masyarakat Jepang ketidaksukaan kelompok akan perilaku seseorang
yang ada di kelompoknya akibat perbedaan tingkah laku, diekspresikan secara samar namun
tidak benar-benar ditunjukkan langsung kepada seseorang yang menjadi objek ketidaksukaan
tersebut. Maka dapat diambil kesimpulan bahwa masyarakat Jepang dalam ketidaksukaannya,
tetap memperlakukan seseorang dengan sopan dalam berinteraksi langsung dengan orang
yang tidak disukai tersebut, namun dibelakang orang tersebut tidak demikian.

Dalam masyarakat Jepang yang memiliki Shudan Shugi tersebut juga

dapat

diterangkan bahwa siapa yang lebih tua, serta lebih memiliki kedudukan tinggi dapat mengijime siapa saja. Namun di sisi lain, kelompok yang lebih besar kekuatannya atau dapat
dikatakan mayoritas untuk memengaruhi kelompok lain dapat melakukan ijime kepada orang
yang bahkan lebih tinggi posisinya yang dapat dikatakan sebagai minoritas, ketika seseorang
tersebut bertingkah laku tidak sesuai dengan kesamaan kelompok, dan apa yang diharapkan
kelompok tersebut terhadap anggota-anggotanya.

Daftar Pustaka

Chie, Nakane. Japanese Society. 1970. University of California Press: Berkeley


Doi, Takeo. Amae no Konzou.Tokyo: Kodansha International, 1977
Gordon, Andrew. 2003. A Modern History of Japan from Tokugawa Times to The Present.
New York: Oxford University Press.
Ishida, Takeshi. 1974. Japanese Society. Maryland: University Press of America.
Morita, Yoji dan Kiyonaga, K. 1989. Kyoshitsu no Yamai. Kaneko Shobo: Tokyo
Nojuu, Shinsaku. 1989. Kodomo to Ijime Anak dan Ijime. Tokyo : Otsuki Shoten
Roin, Ann dkk. 2013. Anti Bullying Procedures For Primary And Post Primary School.
Panduan Untuk mengantisipasi bully terhadap siswa, tidak diterbitkan.
Sugiyama,Lebra,Takie.1976. Japanese Patterns of Behavior. University of Hawaii Press:
Honolulu.

Novel
Botchan si Anak Bengal karya Natsume Soseki 1906 diterjemahkan oleh Jonjon Johana
diterbitkan oleh Kansha Books Juli 2012 di Jakarta