Anda di halaman 1dari 45

Referat Radiologi

PEMERIKSAAN RADIOLOGI PADA BATU


SALURAN KEMIH
(Radiology Imaging of Urinary Calculi)

Disusun Oleh :
Dian Mardiani 110.2009.078
Muminah 110.2009.192

Pembimbing :
dr. Lilis Untari S, Sp. Rad
dr. Kesuma Mulya, Sp.Rad

KEPANITERAAN KLINIK RADIOLOGI RUMAH SAKIT UMUM


DAERAH CILEGON / FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI
PERIODE 15 SEPTEMBER 04 OKTOBER 2014

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI............................................................................................................................. i
I.

ANATOMI SALURAN KEMIH ..................................................................................... 1

II.

FISIOLOGI GINJAL ....................................................................................................... 6

III.

BATU SALURAN KEMIH (UROLITIASIS)............................................................ 6

a)

Definisi......................................................................................................................... 6

b)

Penyebab Pembentukan Batu Saluran Kemih .............................................................. 7

c)

Klasifikasi Batu Saluran Kemih ................................................................................... 9

d)

Gejala-Gejala Batu Saluran Kemih ............................................................................ 13

d)

Pemeriksaan Fisik ...................................................................................................... 14

e)

Pemeriksaan Penunjang ............................................................................................. 14

f)

PENATALAKSAAN MEDIS BATU SALURAN KEMIH ...................................... 37

g)

PENCEGAHAN BATU SALURAN KEMIH ........................................................... 39

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. ii

I.

ANATOMI SALURAN KEMIH


A. Ginjal
Ginjal terletak di rongga retroperitonium dan terlindung oleh otot-otot
punggung di sebelah posterior dan oleh organ-organ intraperitoneal di
sebelah anteriornya.Ginjal berwarna cokelat kemerahan dan terletak di
belakang peritoneum, setinggi dinding posterior abdomen di samping kanan
dan kiri columna vertebralis, dan sebagian besar tertutup oleh arcus costalis.1
Ginjal kanan terletak sedikit lebih rendah dibandingkan ginjal kiri,
karena adanya lobus hepatis dextra yang besar. Bila diafragma berkontraksi
pada waktu respirasi, kedua ginjal turun ke arah vertikal sampai sejauh 1 inci
(2.5 cm). Pada kedua margo medialis ginjal yang cekung, terdapat celah
vertikal yang dibatasi oleh pinggir-pinggir substansi ginjal yang tebal yang
disebut hillum renalis. Hilum renalis meluas ke suatu ruangan yang besar
yang disebut sinus renalis. Hilum renalis dilalui, dari depan ke belakang, oleh
vena renalis, dua cabang arteria renalis, ureter, dan cabang ketiga arteri
renalis. Pembuluh-pembuluh limfatik dan serabut-serabut saraf simpatis juga
melalui hilum ini2.

Gambar 1. Posisis anatomis ginjal

Hubungan ginjal kanan :


a) Ke anterior : glandula suprarenalis, hepar, duodenum pars descendens
dan flexura coli dextra.
b) Ke posterior : diaphragma, recessus costodiaphragmaticus, costa XII,
m. quadratus lumborum dan m. transversus abdominis. Nervus
subcostalis (T12), nervus iliohypogastricus dan nervus ilioinguinalis
(L1) berjalan ke bawah dan lateral.
Hubungan ginjal kiri :
a) Ke anterior : glandula suprarenalis, lien, gaster, pancreas, flexura coli
sinistra, jejunum.
1

b) Ke posterior : diaphragma, recessus costodiaphragmaticus, costa XI


(ren sinistra lebih tinggi dibandingkan ren dextra) dan costa XII,
m.psoas, m.quadratus lumborum dan m.transversus abdominis.
Nervus subcostalis (T12), nervus ilihypogastricus dan nervus
ilioinguinalis (L1) berjalan ke bawah dan lateral.
Ginjal mempunyai selubung sebagai berikut :
a) Capsula fibrosa : meliputi dan melekat dengan erat pada permukaan
luar ginjal
b) Capsula adiposa : meliputi capsula fibrosa
c) Fascia renalis : merupakan kondensasi jaringan ikat yang terletak di
luar capsula adiposa serta meliputi ginjal dan glandula suprarenalis.
Di lateral fascia ini melanjutkan diri sebagai fascia tranversalis
d) Corpus adiposum pararenale : terletak di luar fascia renalis dan sering
didapatkan dalam jumlah besar. Corpus adiposum pararenale
membentuk sebagian lemak retroperitoneal
Capsula adiposa, fascia renalis, dan corpus adiposum pararenale menyokong
dan memfiksasi ginjal pada posisinya di dinding posterior abdomen.

Gambar 2. Bagian bagian ginjal

Struktur ginjal :
a) Cortex renalis di bagian luar yang berwarna coklat gelap.
b) Medulla renalis di bagian dalam yang berwarna coklat lebih terang
dibandingkan cortex.
Medulla renalis terdiri atas kira-kira selusin piramida renalis
yang masing-masing mempunyai basis yang menghadap ke cortex
renalis, dan apex yaitu papilla renalis yang menonjol ke medial.
Bagian cortex yang menonjol ke medulla diantara pyramide yang
berdekatan disebut columna renalis. Bagian bergaris-garis yang
2

membentang dari basis piramida renalis sampai ke cortex disebut


radii medullaris1.
Sinus renalis merupakan ruangan di dalam hillum renalis,
berisi pelebaran ke atas ureter, yang disebut pelvis renalis. Pelvis
renalis terbagi menjadi dua atau tiga calyx renalis major yang masingmasing akan bercabang manjadi dua atau tiga calices renalis minores.
Setiap calyx minor diinvaginasi oleh apex piramida renalis yang
disebut papilla renalis1.

Gambar 3. Potongan coronal ginjal

Perdarahan, limf dan persarafan ginjal :


a) Arteri
Arteri renalis berasal dari aorta setinggi vertebra lumbalis II.
Masing-masing arteri renalis biasanya bercabang menjadi lima arteri
segmentalis yang masuk ke dalam hilum renalis, empat di depan dan
satu di belakang pelvis renalis. Arteri ini memperdarahi segmensegmen atau area renalis yang berbeda. Arteri lobaris berasal dari
arteri segmentalis, masing-masing satu buah untuk satu piramida
renalis. Sebelum masuk substansia renalis, setiap arteri lobaris
mempercabangkan dua atau tiga arteri interlobaris. Arteri interlobaris
berjalan menuju cortex di antara piramida renalis. Pada perbatasan
cortex dan medula renalis, arteri interlobaris bercabang menjadi arteri
arcuata yang melengkung di atas basis piramida renalis. Arteri arcuata
mempercabangkan sejumlah arteri interlobularis yang berjalan ke atas
di dalam cortex. Arteriol aferen glomerulus merupakan cabang
interlobularis1.
b) Vena
Vena renalis keluar dari hilum renalis di depan arteri renalis
dan mengalirkan darah ke vena cava inferior.
3

c) Aliran limf
Dialiri oleh nodi aortici lateralis berada di sekitar pangkal
arteri renalis.

Gambar 4. Vaskularisasi ginjal

d) Persarafan
Dipersarafi oleh serabut plexus renalis. Serabut-serabut aferen
yang berjalan melalui plexus renalis masuk ke medulla spinalis
melalui nervi thoracici 10, 11 dan 12.

Gambar 5. Innervasi Ginjal

B. Ureter
Ureter merupakan saluran kecil yang menghubungkan antara ginjal
dengan kandung kemih (vesica urinearia), dengan panjang 25-30 cm,
dengan penampang 0,5 cm. Saluran ini menyempit di tiga tempat yaitu di
titik asal ureter pada pelvis ginjal, di titik saat melewati pinggiran pelvis, dan
di titik pertemuannya dengan kendung kemih. BSK dapat tersangkut dalam
ureter di ketiga tempat tersebut, yang mengakibatkan nyeri (kolik ureter)1.
Lapisan dinding ureter terdiri dari dinding luar berupa jaringan ikat
(jaringan fibrosa), lapisan tengah terdiri dari lapisan otot polos, lapisan
sebelah dalam merupakan lapisan mukosa. Lapisan dinding ureter

menimbulkan gerakan-gerakan peristalt ik tiap 5 menit sekali yang akan


mendorong air kemih masuk ke dalam kandung kemih (vesica urinearia).
Setiap ureter akan masuk ke dalam kandung kemih melalui suatu
sfingter. Sfingter adalah suatu struktur muskuler (berotot) yang dapat
membuka dan menutup sehingga dapat mengatur kapan air kemih bisa lewat
menuju ke dalam kandung kemih. Air kemih yang secara teratur tersebut
mengalir dari ureter akan di tampung dan terkumpul di dalam kandung
kemih2.
C. Kandung Kemih
Kandung kemih merupakan kantong muscular yang bagian dalamnya
dilapisi oleh membran mukosa dan terletak di depan organ pelvis lainnya
sebagai tempat menampung air kemih yang dibuang dari ginjal melalui ureter
yang merupakan hasil buangan penyaringan darah.
Dalam menampung air kemih kandung kemih mempunyai kapasitas
maksimal yaitu untuk volume orang dewasa lebih kurang adalah 30-450 ml.
Kandung kemih bersifat elastis, sehingga dapat mengembang dan mengkerut.
Ketika kosong atau setengah terdistensi, kandung kemih terletak pada pelvis
dan ketika lebih dari setengah terdistensi maka kandung kemih akan berada
pada abdomen di atas pubis2.
Dimana ukurannya secara bertahap membesar ketika sedang
menampung jumlah air kemih yang secara teratur bertambah. Apabila
kandung kemih telah penuh, maka akan dikirim sinyal ke otak dan
menyampaikan pesan untuk berkemih. Selama berkemih, sfingter lainnya
yang terletak diantara kandung kemih dan uretra akan membuka dan akan
diteruskan keluar melalui uretra. Pada saat itu, secara bersamaan dinding
kandung kemih berkontrasksi yang menyebabkan terjadinya tekanan
sehingga dapat membantu mendorong air kemih keluar menuju uretra1.
D. Uretra
Saluran kemih (uretra) merupakan saluran sempit yang berpangkal
pada kandung kemih yang berfungsi menyalurkan air kemih keluar. Pada
laki-laki uretra berjalan berkelok-kelok melalui tengah-tengah prostat
kemudian menembus lapisan fibrosa yang menembus tulang pubis ke bagian
penis panjangnya 20 cm. Uretra pada laki-laki terdiri dari uretra prostatika,
uretra membranosa, dan uretra kavernosa. Uretra prostatika merupakan
saluran terlebar dengan panjang 3 cm, dengan bentuk seperti kumparan yang
bagian tengahnya lebih luas dan makin ke bawah makin dangkal kemudian
bergabung dengan uretra membranosa. Uretra membranosa merupakan
saluran yang paling pendek dan paling dangkal. Uretra kavernosa merupakan
saluran terpanjang dari uretra dengan panjang kira-kira 15 cm.
Pada wanita, uretra terletak di belakang simfisis pubis berjalan miring
sedikit kearah atas, panjangnya 3-4 cm. Muara uretra pada wanita terletak
di sebelah atas vagina (antara clitoris dan vagina) dan uretra disini hanya
5

sebagai saluran ekskresi. Uretra wanita jauh lebih pendek daripada uretra
laki-laki1.
II.

III.

FISIOLOGI GINJAL
Darah yang membawa sisa-sisa hasil metabolisme tubuh difiltrasi
(disaring) didalam glomeruli kemudian di tubuli ginjal, beberapa zat yang
masih diperlukan tubuh mengalami reabsorbsi dan zat-zat hasil sisa
metabolisme mengalami sekresi bersama air membentuk urine. Setiap hari
tidak kurang 180 liter cairan tubuh difiltrasi di glomerulus dan menghasilkan
urine 1-2 liter. Urine yang terbentuk didalam nefron disalurkan melalui
piramida ke system pelvikalises ginjal untuk kemudian disalurkan ke dalam
ureter.1
Selain membuang sisa-sisa metabolisme tubuh melalui urine, ginjal
berfungsi juga dalam 1.) mengontrol sekresi hormone-hormon aldosteron
dan ADH (anti diuretic hormone) dalam mengatuir jumlah cairan tubuh, 2.)
mengatur metabolisme ion kalsium dan vitamin D, 3.) menghasilkan
beberapa hormone, antara lain eritropoetin yang berperan dalam
pembentukan sel darah merah, renin yang berperan dalam mengatur tekanan
darah, serta hormone prostaglandin1.
BATU SALURAN KEMIH (UROLITIASIS)
a) Definisi
Batu Saluran Kemih (BSK) adalah penyakit dimana didapatkan masa
keras seperti batu yang terbentuk di sepanjang saluran kemih baik saluran
kemih atas (ginjal dan ureter) dan saluran kemih bawah (kandung kemih dan
uretra), yang dapat menyebabkan nyeri, perdarahan, penyumbatan aliran
kemih dan infeksi. Batu ini bisa terbentuk di dalam ginjal (batu ginjal)
maupun di dalam kandung kemih (batu kandung kemih). Batu ini terbentuk
dari pengendapan garam kalsium, magnesium, asam urat, atau sistein3.
BSK dapat berukuran dari sekecil pasir hingga sebesar buah anggur.
Batu yang berukuran kecil biasanya tidak menimbulkan gejala dan biasanya
dapat keluar bersama dengan urine ketika berkemih. Batu yang berada di
saluran kemih atas (ginjal dan ureter) menimbulkan kolik dan jika batu
berada di saluran kemih bagian bawah (kandung kemih dan uretra) dapat
menghambat buang air kecil. Batu yang menyumbat ureter, pelvis renalis
maupun tubulus renalis dapat menyebabkan nyeri punggung atau kolik
renalis (nyeri kolik yang hebat di daerah antara tulang rusuk dan tulang
pinggang yang menjalar ke perut juga daerah kemaluan dan paha sebelah
dalam). Hal ini disebabkan karena adanya respon ureter terhadap batu
tersebut, dimana ureter akan berkontraksi yang dapat menimbulkan rasa nyeri
kram yang hebat4.

b) Penyebab Pembentukan Batu Saluran Kemih


Penyebab pasti pembentukan BSK belum diketahui, oleh karena
banyak faktor yang dilibatkannya, sampai sekarang banyak teori dan faktor
yang berpengaruh terhadap pembentukan BSK yaitu :
a) Teori Fisiko Kimiawi
Prinsip dari teori ini adalah terbentuknya BSK karena adanya
proses kimia, fisika maupun gabungan fisiko kimiawi. Dari hal
tersebut diketahui bahwa terjadinya batu sangat dipengaruhi oleh
konsentrasi bahan pembentuk batu di saluran kemih.
Berdasarkan faktor fisiko kimiawi dikenal teori pembentukan
batu, yaitu:
Teori Supersaturasi
Supersaturasi air kemih dengan garam-garam
pembentuk batu merupakan dasar terpenting dan merupakan
syarat terjadinya pengendapan. Apabila kelarutan suatu
produk tinggi dibandingkan titik endapannya maka terjadi
supersaturasi sehingga menimbulkan terbentuknya kristal dan
pada akhirnya akan terbentuk batu.
Supersaturasi dan kristalisasi dapat terjadi apabila ada
penambahan suatu bahan yang dapat mengkristal di dalam air
dengan pH dan suhu tertentu yang suatu saat akan terjadi
kejenuhan dan terbentuklah kristal. Tingkat saturasi dalam air
kemih tidak hanya dipengaruhi oleh jumlah bahan pembentuk
BSK yang larut, tetapi juga oleh kekuatan ion, pembentukan
kompleks dan pH air kemih.
Teori Matrik
Di dalam air kemih terdapat protein yang berasal dari
pemecahan mitokondria sel tubulus renalis yang berbentuk
laba-laba. Kristal batu oksalat maupun kalsium fosfat akan
menempel pada anyaman tersebut dan berada di sela-sela
anyaman sehingga terbentuk batu. Benang seperti laba-laba
terdiri dari protein 65%, heksana 10%, heksosamin 2-5%
sisanya air. Pada benang menempel kristal batu yang seiring
waktu batu akan semakin membesar. Matriks tersebut
merupakan bahan yang merangsang timbulnya batu.
Teori Tidak Adanya Inhibitor
Dikenal 2 jenis inhibitor yaitu organik dan anorganik.
Pada inhibitor organik terdapat bahan yang sering terdapat
dalam proses penghambat terjadinya batu yaitu asam sitrat,
nefrokalsin, dan tamma-horsefall glikoprotein sedangkan yang
jarang terdapat adalah gliko-samin glikans dan uropontin.
Pada inhibitor anorganik terdapat bahan pirofosfat dan
Zinc. Inhibitor yang paling kuat adalah sitrat, karena sitrat
7

akan bereaksi dengan kalsium membentuk kalsium sitrat yang


dapat larut dalam air. Inhibitor mencegah terbentuknya kristal
kalsium oksalat dan mencegah perlengketan kristal kalsium
oksalat pada membaran tubulus. Sitrat terdapat pada hampir
semua buah-buahan tetapi kadar tertinggi pada jeruk. Hal
tersebut yang dapat menjelaskan mengapa pada sebagian
individu terjadi pembentukan BSK, sedangkan pada individu
lain tidak, meskipun sama-sama terjadi supersanturasi.
Teori Epitaksi
Pada teori ini dikatakan bahwa kristal dapat menempel
pada kristal lain yang berbeda sehingga akan cepat membesar
dan menjadi batu campuran. Keadaan ini disebut nukleasi
heterogen dan merupakan kasus yang paling sering yaitu
kristal kalsium oksalat yang menempel pada kristal asam urat
yang ada.
Teori Kombinasi
Banyak ahli berpendapat bahwa BSK terbentuk
berdasarkan campuran dari beberapa teori yang ada.
Teori Infeksi
Teori terbentuknya BSK juga dapat terjadi karena
adanya infeksi dari kuman tertentu. Pengaruh infeksi pada
pembentukan BSK adalah teori terbentuknya batu survit
dipengaruhi oleh pH air kemih > 7 dan terjadinya reaksi
sintesis ammonium dengan molekul magnesium dan fosfat
sehingga terbentuk magnesium ammonium fosfat (batu survit)
misalnya saja pada bakteri pemecah urea yang menghasilkan
urease. Bakteri yang menghasilkan urease yaitu Proteus spp,
Klebsiella, Serratia, Enterobakter, Pseudomonas, dan
Staphiloccocus. Teori pengaruh infeksi lainnya adalah teori
nano bakteria dimana penyebab pembentukan BSK adalah
bakteri berukuran kecil dengan diameter 50-200 nanometer
yang hidup dalam darah, ginjal dan air kemih. Bakteri ini
tergolong gram negatif dan sensitif terhadap tetrasiklin.
Dimana dinding pada bakteri tersebut dapat mengeras
membentuk cangkang kalsium kristal karbonat apatit dan
membentuk inti batu, kemudian kristal kalsium oksalat akan
menempel yang lama kelamaan akan membesar. Dilaporkan
bahwa 90% penderita BSK mengandung nano bacteria.
b) Teori Vaskuler
Pada penderita BSK sering didapat penyakit hipertensi dan
kadar kolesterol darah yang tinggi, maka Stoller mengajukan teori
vaskuler untuk terjadinya BSK, yaitu :
Hipertensi
8

Pada penderita hipertensi 83% mempunyai perkapuran


ginjal sedangkan pada orang yang tidak hipertensi yang
mempunyai perkapuran ginjal sebanyak 52%. Hal ini
disebabkan aliran darah pada papilla ginjal berbelok 180 dan
aliran darah berubah dari aliran laminer menjadi turbulensi.
Pada penderita hipertensi aliran turbelen tersebut berakibat
terjadinya pengendapan ion-ion kalsium papilla (Ranalls
plaque) disebut juga perkapuran ginjal yang dapat berubah
menjadi batu.
Kolesterol
Adanya kadar kolesterol yang tinggi dalam darah akan
disekresi melalui glomerulus ginjal dan tercampur didalam air
kemih. Adanya butiran kolesterol tersebut akan merangsang
agregasi dengan kristal kalsium oksalat dan kalsium fosfat
sehingga terbentuk batu yang bermanifestasi klinis (teori
epitaksi).
Menurut Hardjoeno (2006), diduga dua proses yang
terlibat dalam BSK yakni supersaturasi dan nukleasi.
Supersaturasi terjadi jika substansi yang menyusun batu
terdapat dalam jumlah yang besar dalam urine, yaitu ketika
volume urine dan kimia urine yang menekan pembentukan
menurun. Pada proses nukleasi, natrium hidrogen urat, asam
urat dan kristal hidroksipatit membentuk inti. Ion kalsium dan
oksalatkemudian merekat (adhesi) di inti untuk membentuk
campuran batu. Proses ini dinamakan nukleasi heterogen.
Analisis batu yang memadai akan membantu memahami
mekanisme patogenesis BSK dan merupakan tahap awal
dalam penilaian dan awal terapi pada penderita BSK.

c) Klasifikasi Batu Saluran Kemih


Komposisi kimia yang terkandung dalam batu ginjal dan saluran
kemih dapat diketahui dengan menggunakan analisis kimia khusus untuk
mengetahui adanya kalsium, magnesium, amonium, karbonat, fosfat, asam
urat oksalat, dan sistin.
Batu kalsium
Kalsium adalah jenis batu yang paling banyak menyebabkan
BSK yaitu sekitar 70%-80% dari seluruh kasus BSK. Batu ini
kadang-kadang di jumpai dalam bentuk murni atau juga bisa dalam
bentuk campuran, misalnya dengan batu kalsium oksalat, batu
kalsium fosfat atau campuran dari kedua unsur tersebut.
Terbentuknya batu tersebut diperkirakan terkait dengan kadar
kalsium yang tinggi di dalam urine atau darah dan akibat dari
dehidrasi. Batu kalsium terdiri dari dua tipe yang berbeda, yaitu:

Whewellite (monohidrat) yaitu , batu berbentuk padat, warna


cokat/ hitam dengan konsentrasi asam oksalat yang tinggi
pada air kemih.
Kombinasi kalsium dan magnesium menjadi weddllite
(dehidrat) yaitu batu berwarna kuning, mudah hancur daripada
whewellite.
Batu asam urat
Lebih kurang 5-10% penderita BSK dengan komposisi asam
urat. Pasien biasanya berusia > 60 tahun. Batu asam urat dibentuk
hanya oleh asam urat. Kegemukan, peminum alkohol, dan diet tinggi
protein mempunyai peluang lebih besar menderita penyakit BSK,
karena keadaan tersebut dapat meningkatkan ekskresi asam urat
sehingga pH air kemih menjadi rendah. Ukuran batu asam urat
bervariasi mulai dari ukuran kecil sampai ukuran besar sehingga
membentuk staghorn (tanduk rusa). Batu asam urat ini adalah tipe
batu yang dapat dipecah dengan obat-obatan. Sebanyak 90% akan
berhasil dengan terapi kemolisis.
Batu struvit (magnesium-amonium fosfat)
Batu struvit disebut juga batu infeksi, karena terbentuknya
batu ini disebabkan oleh adanya infeksi saluran kemih. Kuman
penyebab infeksi ini adalah golongan kuman pemecah urea atau urea
splitter yang dapat menghasilkan enzim urease dan merubah urine
menjadi bersuasana basa melalui hidrolisis urea menjadi amoniak.
Kuman yang termasuk pemecah urea di antaranya adalah : Proteus
spp, Klebsiella, Serratia, Enterobakter, Pseudomonas, dan
Staphiloccocus. Ditemukan sekitar 15-20% pada penderita BSK. Batu
struvit lebih sering terjadi pada wanita daripada laki-laki. Infeksi
saluran kemih terjadi karena tingginya konsentrasi ammonium dan pH
air kemih >7. Pada batu struvit volume air kemih yang banyak sangat
penting untuk membilas bakteri dan menurunkan supersaturasi dari
fosfat.
Batu Sistin
Batu Sistin terjadi pada saat kehamilan, disebabkan karena
gangguan ginjal. Merupakan batu yang paling jarang dijumpai dengan
frekuensi kejadian 1-2%. Reabsorbsi asam amino, sistin, arginin, lysin
dan ornithine berkurang, pembentukan batu terjadi saat bayi.
Disebabkan faktor keturunan dan pH urine yang asam. Selain karena
urine yang sangat jenuh, pembentukan batu dapat juga terjadi pada
individu yang memiliki riwayat batu sebelumnya atau pada individu
yang statis karena imobilitas.

10

Jenis batu dapat dibagi berdasarkan etiologinya menurut European


Asssociation Urolithiasis (2011) sebagai berikut3 :

Gambar 6. Klasifikasi batu saluran kemih berdasarkan etiologi

Memerlukan pengobatan seumur hidup, diet mungkin menyebabkan


pembentukan batu, pengenceran air kemih yang rendah dan asupan protein
hewani yang tinggi menaikkan ekskresi sistin dalam air kemih.
Secara epidemiologis terdapat beberapa faktor yang mempermudah
terjadinya BSK pada seseorang. Faktor-faktor tersebut adalah faktor intrinsik,
yaitu keadaan yang berasal dari tubuh seseorang dan faktor ekstrinsik, yaitu
pengaruh yang berasal dari lingkungan disekitarnya.
a) Faktor Intrinsik
Faktor intrinsik adalah faktor yang berasal dari dalam individu
sendiri. Termasuk faktor intrinsik adalah umur, jenis kelamin,
keturunan, riwayat keluarga.
Umur
Umur terbanyak penderita BSK di negara-negara Barat
adalah 20-50 tahun, sedangkan di Indonesia terdapat pada
golongan umur 30-60 tahun. Penyebab pastinya belum
diketahui, kemungkinan disebabkan karena adanya perbedaan
faktor sosial ekonomi, budaya, dan diet.
Berdasarkan penelitian Latvan, dkk (2005) di RS.Sedney
Australia, proporsi BSK 69% pada kelompok umur 20-49 tahun.
Menurut Basuki (2011), penyakit BSK paling sering didapatkan
pada usia 30-50 tahun.
Jenis kelamin
Kejadian BSK berbeda antara laki-laki dan wanita.
Jumlah pasien laki-laki tiga kali lebih banyak dibandingkan
dengan pasien perempuan. Kejadian BSK pada laki-laki
disebabkan oleh anatomis saluran kemih pada laki-laki yang
lebih panjang dibandingkan perempuan, secara alamiah didalam
air kemih laki-laki kadar kalsium lebih tinggi dibandingkan
11

perempuan, dan pada air kemih perempuan kadar sitrat


(inhibitor) lebih tinggi, laki-laki memiliki hormon testosterone
yang dapat meningkatkan produksi oksalat endogen di hati, serta
adanya hormon estrogen pada perempuan yang mampu
mencegah agregasi garam kalsium.
Insiden BSK di Australia pada tahun 2005 pada laki-laki
100-300 per 100.000 populasi sedangkan pada perempuan 50100 per 100.000 populasi.
Heriditer/ Keturunan
Faktor keturunan dianggap mempunyai peranan dalam
terjadinya penyakit BSK. Walaupun demikian, bagaimana
peranan faktor keturunan tersebut sampai sekarang belum
diketahui secara jelas. Berdasarkan penelitian Latvan, dkk
(2005) di RS. Sedney Australia berdasarkan keturunan proporsi
BSK pada laki-laki 16,8% dan pada perempuan 22,7%.

b) Faktor Ekstrinsik
Faktor ekstrinsik adalah faktor yang berasal dari lingkungan luar
individu seperti geografi, iklim, serta gaya hidup seseorang.
Geografi
Prevalensi BSK banyak diderita oleh masyarakat yang
tinggal di daerah pegunungan. Hal tersebut disebabkan oleh
sumber air bersih yang dikonsumsi oleh masyarakat dimana
sumber air bersih tersebut banyak mengandung mineral seperti
phospor, kalsium, magnesium, dan sebagainya. Letak geografi
menyebabkan perbedaan insiden BSK di suatu tempat dengan
tempat lainnya. Faktor geografi mewakili salah satu aspek
lingkungan dan sosial budaya seperti kebiasaan makanannya,
temperatur, dan kelembaban udara yang dapat menjadi
predoposisi kejadian BSK.
Faktor Iklim dan Cuaca
Faktor iklim dan cuaca tidak berpengaruh langsung,
namun kejadiannya banyak ditemukan di daerah yang bersuhu
tinggi. Temperatur yang tinggi akan meningkatkan jumlah
keringat dan meningkatkan konsentrasi air kemih. Konsentrasi
air kemih yang meningkat dapat menyebabkan pembentukan
kristal air kemih. Pada orang yang mempunyai kadar asam urat
tinggi akan lebih berisiko menderita penyakit BSK.
Jumlah Air yang di Minum
Dua faktor yang berhubungan dengan kejadian BSK
adalah jumlah air yang diminum dan kandungan mineral yang
terdapat dalam air minum tersebut. Bila jumlah air yang

12

diminum sedikit maka akan meningkatkan konsentrasi air


kemih, sehingga mempermudah pembentukan BSK.
Diet/Pola makan
Diperkirakan diet sebagai faktor penyebab terbesar
terjadinya BSK. Misalnya saja diet tinggi purine, kebutuhan
akan protein dalam tubuh normalnya adalah 600 mg/kg BB, dan
apabila berlebihan maka akan meningkatkan risiko terbentuknya
BSK. Hal tersebut diakibatkan, protein yang tinggi terutama
protein hewani dapat menurunkan kadar sitrat air kemih,
akibatnya kadar asam urat dalam darah akan naik, konsumsi
protein hewani yang tinggi juga dapat meningkatkan kadar
kolesterol dan memicu terjadinya hipertensi.
Jenis Pekerjaan
Kejadian BSK lebih banyak terjadi pada orang-orang
yang banyak duduk dalam melakukan pekerjaannya.
Kebiasaan Menahan Buang Air Kemih
Kebiasaan menahan buang air kemih akan
menimbulakan statis air kemih yang dapat berakibat timbulnya
Infeksi Saluran Kemih (ISK). ISK yang disebabkan oleh kuman
pemecah urea dapat menyebabkan terbentuknya jenis batu
struvit.

d) Gejala-Gejala Batu Saluran Kemih


Manisfestasi klinik adanya batu dalam saluran kemih bergantung pada
adanya obstruksi, infeksi, dan edema. Ketika batu menghambat aliran urine,
terjadi obstruksi yang dapat mengakibatkan terjadinya peningkatan tekanan
hidrostatik dan distensi piala ginjal serta ureter proksimal. Infeksi biasanya
disertai gejala demam, menggigil, dan dysuria. Namun, beberapa batu jika
ada gejala tetapi hanya sedikit dan secara perlahan akan merusak unit
fungsional (nefron) ginjal, dan gejala lainnya adalah nyeri yang luar biasa (
kolik).
Gejala klinis yang dapat dirasakan yaitu :
a) Rasa Nyeri
b) Demam
c) Infeksi
d) Hematuria dan kristaluria
e) Mual dan muntah

13

d) Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik pasien dengan BSK dapat bervariasi mulai tanpa
kelainan fisik sampai tanda-tanda sakit berat tergantung pada letak batu dan
penyulit yang ditimbulkan.
Pemeriksaan fisik umum : hipertensi, febris, anemia, syok
Pemeriksan fisik khusus urologi
a) Sudut kosto vertebra : nyeri tekan , nyeri ketok, pembesaran ginjal
b) Supra simfisis : nyeri tekan, teraba batu, buli-buli penuh
c) Genitalia eksterna : teraba batu di uretra
e) Pemeriksaan Penunjang
Pencitraan :
Berdasarkan
gambaran radiologinya, batu ginjal dapat
diklasifikasikan menjadi batu radioopak, kurang radioopak, dan radiolusen
yang bergantung dari kandungan mineral yang dimilikinya (tabel 1).
Penggunaan CT Scan juga dapat digunakan untuk membedakan batu ginjal
berdasarkan komposisi mineralnya dengan menggunakan Hounsfiled Units
(HU)3.
Penegakkan diagnosis batu ginjal sebaiknya didukung dengan
prosedur pemeriksaan radiologi. Pemeriksaan USG sebaiknya dipilih sebagai
pilihan pertama karena kemananya dari paparan sinar X untuk mendeteksi
batu saluran kemih. USG dapat mengidentifikasi batu yang berada di sistem
pelviocalises, pyelo-ureter junction, dan vesico-uereteric junction, sekaligus
dilatasi traktus urinarius akibat obstruksi di bagian distal. USG memiliki
sensitivitas 96% dan spesifisitas hampir 100% untuk mendeteksi batu saliran
kemih dengan ukuran >5 mm. Sementara untuk mengetahui lokasi batu,
pemeriksaan USG memiliki sensitivitas 78% dan spesifisitas 31%3.
Pemeriksaan foto polos abdomen/BNO juga tidak jarang digunakan
untuk menegakkan diagnosis batu saluran kemih, pemeriksaan radiologi ini
dapat membantu dalam membedakan jenis batu radioopak dan radiolusen.
Sensitivitas BNO dalam mendeteksi batu saluran kemih ialah 44 % - 77 %
dengan spesifikasi 80 87%3.
CT Scan non-kontras (non-contrast enhanced CT/NNCT) telah
Tabel 1. Jenis Batu berdasarkan gambaran radiologi (European Ascotiation of Urilithiasis, 2011)
Radioopak
Calcium Oxalate Dihydrate

Kurang Radioopak
Magnesium Ammonium
Phosphate

Radiolusen
Asam Urat

Calcium Oxalate Monohydrate

Apatite

Urat Amonium

Calcium Phosphate

Cystine

Xanthine
2,8 - dihydroxyadenine
Drug stones

14

menjadi standar pemeriksaan untuk mendiagnosis gejala klinis nyeri


pinggang akut. Pemeriksaan ini telah mengganti Urografi intravena
(Intravenous Urography/IVU) atau BNO-IVP yang telah dijadikan
pemeriksaan baku emas selama beberapa tahun. NCCT memiliki spesifisitas
dan sensitivitas yang lebih tinggi di bandingkan BNO-IVP pada beberapa
penelitian yang telah dilakukan. NCCT dapat membedakan batu berdasarkan
densitasnya dan dapat mengetahui jarak lokasi batu ke permukaan kulit,
dimana hal ini mempengaruhi terapi ESWL nantinya. Resiko radiasi dapat
ditekan dengan penggunaan Low-dose CT. Pada beberapa penelitian
menunjukan bahwa pasien dengan BMI <30, memiliki sensitivitas 86% untuk
mendeteksi batu <3 mm dan 100% untuk mendeteksi batu >3 mm di kalkuli
dengan menggunakan kontras dosis rendah3.
Tabel 2. Perbedaan modalitas pencitraan batu ginjal (European Ascotiation of Urilithiasis, 2011)
Imaging Modality Sensitivity Specificity Advantages
Liitations
(%)
(%)
Ultrasonogaphy
19
97
*Accessible
*Poor visualization og
*Good for diagnosing ureteral stones
hydronephrosis an renal
stones
*Requires no ionizing
radiations
Plain radiography
45 59
71 77
*Accessible
and *Stones
in
middle
inexpensive
section
of
ureter,
phleboliths, radioulcent
calculi,
extraurinary
calsifications
and
nongenitourinary
conditions
Intravenous
64 87
91 94
*Accessible
*Variable-quality
pyelography
*Provides information on imaging
anatomy and fungctioning *Rwquires
bowel
of both kidneys
preparation and use of
contrast media
*Poor visualization of
nongenitourinary
conditions
*Delayed
images
required in high-grade
obstruction
Non
contrast 95 100
94 96
*Most
sensitive
and *Less accessible and
helical CT
specific radiologic test
relatively expensive
*Indirect signs of the *No direct measure of
degree of obstruction
renal function.
*Provides information on
nongenitourinary
conditions

15

1. Foto Polos Abdomen


Foto polos abdomen merupakan pemeriksaan yang pertama
dilakukan bila ada keluhan nyeri abdomen atau nyeri di sekitar area
urogenital. Manfaat dari pemeriksaan ini adalah untuk melihat
gambaran secara keseluruhan di rongga abdomen dan pelvis.Setiap
pemeriksaan traktus urinarius sebaiknya dibuat terlebih dahulu foto
polos abdomen. Pada foto ini dapat menunjukkan bayangan, besar,
bentuk dan posisi kedua ginjal. Dapat pula dilihat kalsifikasi dalam
kista dan tumor, batu radioopak dan perkapuran dalam ginjal. Harus
diperhatikan batas muskulus psoas kanan dan kiri. Serta Batu
radioopak di daerah ureter dan buli-buli.Interpretasi terhadap
kalsifikasi pada saluran ginjal harus dilakukan dengan hati-hati karena
flebolit pada kelenjar mesenterika dan vena pelvis yang berada di
atasnya sering disalah artikan sebagai batu ureter. Film yang diambil
saat inspirasi dan ekspirasi akan mengubah posisi ginjal dan sering
kali dapat mengkonfirmasi bahwa daerah yang mengalami
kalsifikasi pada abdomen tersebut adalah batu5,6.

Gambar 7. Foto polos BNO AP

Foto Polos Abdomen:


Distribusi gas di usus Normal.
Kontur Hepar dan lien tidak membesar.
Kontur ren D/S Normal.
Psoas Shadow simetris.
Tulang baik.
Tidak tampak adanya bayangan batu radioopak sepanjang
tractus urinarius.

16

Gambar 8. Batu radioopak di ureter proximal.

Gambar 9. Batu staghorn pada ginjal kiri

17

Gambar 10. Batu radioopak pada vesica urinaria

2. Pielografi Intra Vena (PIV)


Definisi
Pemeriksaan diagnostik kontras radiologi BNO-IVP adalah
ilmu yang mempelajari prosedur atau tata cara pemeriksaan ginjal,
ureter, dan buli-buli menggunakan sinar-x dengan melakukan injeksi
media kontras melalui vena. Pada saat media kontras diinjeksikan
melalui pembuluh vena pada tangan pasien, media kontras akan
mengikuti peredaran darah dan dikumpulkan dalam ginjal dan saluran
kemih, sehingga ginjal dan saluran kemih menjadi berwarna putih.
Dengan IVP, dokter ahli radiologi dapat melihat dan mengetahui
anatomi serta fungsi ginjal, ureter dan buli-buli. Pada pemeriksaan
khusus BNO ditemukan adanya cacat pengisian dan pada IVP batu
ginjal atau buli-buli serta hidronefrosis pada pemeriksaan sonografi.13
Tujuan Pemeriksaan BNO-IVP
Tujuan dari pemeriksaan kontras radiologi BNO-IVP adalah
untuk mendapatkan gambaran radiologi dari letak anatomi dan
fisiologi serta mendeteksi kelainan patologis dari ginjal, ureter,dan
buli-buli. Pemeriksaan ini juga bertujuan menilai keadaan anatomi
dan fungsi ginjal. Selain itu BNO-IVP dapat mendeteksi adanya batu
semi-opak ataupun batu non opak yang tidak dapat terlihat oleh foto
polos abdomen. Jika BNO-IVP belum dapat menjelaskan keadaan
sistem saluran kemih akibat adanya penurunan fungsi ginjal, sebagai
penggantinya adalah pemeriksaan pielografi retrograde.14
BNO-IVP mampu mendokumentasikan aliran kontras pada
batu ginjal atau BSK dan juga dapat melihat aliran kontras pada
saluran kemih bagian atas. Hasil foto radiologi tersebut dapat
diinterpretasikan oleh dokter ahli radiologi. Ketidaksiapan dalam
18

mempersiapkan pasien untuk dilakukan pemeriksaan foto BNO-IVP


dapat menyebabkan terjadinya kesalahan prosedur dan menghasilkan
hasil foto radiologi yang tidak diharapkan.15

Gambar 11.Foto BNO dengan persiapan pasien yang baik (tidak tampak visualisasi
16
udara / faeces di rongga abdomen)

Gambar 12.Foto BNO dengan persiapan pasien yang kurang baik


(tampak visualisasi udara / feses di rongga abdomen)16
19

Gambaran planar yang standar dari seri BNO-IVP


menunjukkan bahwa hanya kesatuan sistem yang berperan dalam
melakukan pengumpulan zat yaitu ginjal dan ureter. Disamping itu
juga, data tomografi komputer yang diperoleh sebelumnya digunakan
untuk mendapat alasan klinis yang terpisah dan sebagai pembukti
hanya berfungsi pada satu sistem pengumpul ginjal. Pada awalnya,
tampak bahwa baik pelvis ginjal dan ureter duplikasi disebabkan oleh
fenomena yang sama dan karena itu dapat digambarkan sebagai salah
satu artefak tunggal.17
Indikasi pemeriksaan BNO-IVP ini antara lain untuk melihat
batu ginjal, batu saluran kemih, radang ginjal, radang pada saluran
kemih, batu ureter, tumor, dan hipertrofi prostat.14
Prosedur Persiapan dan Pelaksanaan BNO-IVP
Pemeriksaan BNO-IVP memerlukan persiapan, yaitu malam
sebelum pemeriksaan diberikan kastor oli (catharsis) atau laksansia
untuk membersihkan kolon dari feses yang menutupi daerah ginjal.18
Berikut adalah tahap persiapan dan pemeriksaan radiologi
BNO-IVP :
1. Persiapan BNO-IVP
a) Pemeriksaan ureum kreatinin (Kreatinin maksimum
b) Malam sebelum pemeriksaan pasien diberi laksansia untuk
membersihkan kolon dari feses yang menutupi daerah ginjal
c) Pasien tidak diberi minum mulai jam 22.00 malam sebelum
pemeriksaan untuk mendapatkan keadaan dehidrasi ringan
d) Keesokan harinya pasien harus puasa, mengurangi bicara dan
merokok untuk menghindari gangguan udara usus saat
pemeriksaan
e) Pada bayi dan anak diberi minum yang mengandung karbonat
untuk mendistensikan lambung dan gas- Pada pasien rawat
inap dapat dilakukan lavement(klisma)
f) Skin test subkutan untuk memastikan bahwa penderita tidak
alergi terhadap penggunaan kontras.18
2. Pelaksanaan BNO-IVP
a) Pasien diminta mengosongkan buli-buli
b) Dilakukan foto BNO
c) Injeksi kontras IV (setelah cek tensi dan cek alergi), beberapa
saat dapat terjadi kemerahan, rasa asin di lidah, sakit kepala
ringan, gatal, mual dan muntah (Radiologi Diagnostik FK
USU, 2010).
d) Diambil foto pada menit ke-5, 15, 30 dan 45
e) Menit ke-5 : menilai nefrogram dan mungkin sistem
pelviokalises (SPC)
f) Menit ke-15 : menilai sistem pelviokalises sampai dengan
kedua ureter
g) Menit ke-30 : Menilai ureter dengan buli-buli
h) Menit ke-45 : menilai buli-buli.18
20

Hasil Pemeriksaan Foto BNO-IVP


1. Foto BNO
Setiap pemeriksaan saluran kemih sebaiknya dibuat terlebih
dahulu foto polos abdomen. Yang harus diperhatikan pada foto polos
abdomen ini adalah bayangan, besar (ukuran), dan posisi kedua ginjal.
Dapat pula dilihat kalsifikasi dalam kista dan tumor, batu radioopak
dan perkapuran dalam ginjal. Harus diperhatikan batas otot Psoas
kanan dan kiri.18

Gambar 13.Foto BNO-IVP polos.16


Menurut Meschan,digunakan film bucky antero-posterior
abdomen setelah penyuntikan, ulangi pemotretan film anteroposterior abdomen dengan jarak waktu setelah disuntik kontras
intravena,masing-masing adalah :
a) Empat sampai 5 menit :
Dilakukan foto pada 5 menit pertama dengan area
jangkauan pada pertengahan proccecus xyphoideus dan pusat.
Foto ini untuk melihat perjalanan kontras mengisi sistem
kalises pada ginjal. Memakai ukuran kaset 24 x 30 cm dengan
posisi antero-posterior sama seperti foto abdomen. Penekanan
ureter dilakukan dengan tujuan untuk menahan kontras media
tetap berada pada sistem pelvikalises dan bagian ureter
proksimal.Penekanan ureter diketatkan setelah dilakukan
pengambilan foto menit kelima.18

21

Gambar 14.Foto menit ke-5.16


b) Delapan sampai 15 menit
Bila pengambilan gambar pada pelvikalises di menit
ke lima kurang baik, maka foto diambil kembali pada menit ke
10 dengan tomografiuntuk memperjelas bayangan.
Menggunakan kaset 24 x 30 cm mencakup gambaran
pelviokaliseal, ureter dan buli-buli mulai terisi media kontras
dengan posisi antero-posterior sama seperti foto abdomen,
pertengahan di antara proccesus xyphoideus dengan
umbilicus.18

Gambar 15.Foto menit ke-15.16


22

c) Duapuluh lima sampai 30 menit


Setelah menit ke- 30 kompresi dibuka dan diambil
gambar dengan menggunakkan kaset ukuran 30 x 40 cm. Di
beberapa Rumah Sakit setelah menit ke -30 diharuskan
meminum air yang banyak. Foto ini digunakan untuk
mengevaluasi kemampuan ginjal mensekresikan bahan
kontras, tapi di beberapa Rumah Sakit tidak dengan posisi
antero-posterior sama seperti foto abdomen.18

Gambar 16. Foto menit ke-30.16


d) Foto terlambat, jika konsentrasi dan ekskresi sangat kurang
pada 1-8 jam Setelah masuk ke menit 60 dibuat foto BNO lagi
dengan kaset 30 x 40 cm. Setelah hasil rontgen
dikonsultasikan pada dokter ahli radiologi dan dinyatakan
normal maka pasien diharuskkan berkemih kemudian di foto
kembali. Jika dokter ahli radiologi menyatakan ada gangguan
biasanya dilakukan foto 2 jam. Dengan posisi antero-posterior
sama seperti foto abdomen.

23

Gambar 17. Foto menit ke 60 atau lebih.16


e) Foto terakhir biasanya film berdiri atau foto setelah berkemih /
Post Void Yang terakhir lakukan foto post void dengan posisi
AP supine atau erect untuk melihat kelainan kecil yang
mungkin terjadi di daerah buli-buli. Dengan posisi erect dapat
menunjukan adanya ren mobile (perpindahan posisi ginjal
yang tidak normal) pada kasus posthematuri.

Gambar 18. Foto Post Void.16


24

2. Urografi Retrograde / Retrograd Pielografi (RPG)


Indikasi urografi retrograde adalah untuk melihat anatomi
traktus urinarius bagian atas dan lesi-lesinya. Hal ini dikerjakan
apabila pielografi intravena tidak berhasil menyajikan anatomi
dan lesi-lesi traktus urinarius bagian atas. Keistimewaan urografi
retrigrad berguna melihat fistel.Setelah pasien di anasthesi, prosedur
pemeriksaan pielografi retrograde dimulai dengan memperbaiki posisi
pasien. Setelah posisi pasien siap, maka dilakukan sistoskopi untuk
mengidentifikasi orifisium uterer dekstra dan sinistra. Setelah
orifisium ditemukan lalu dimasukan open-ended atau core-tipped
kateter ke dalam uereter. Lalu kateter dipastikan tidak ada gelembung
udara yang akan memberikan kesalahan dalam pembacaan foto
nantinya. Prosedur diatas dilakukan oleh urologi, yang selanjutnya
dilanjutkan oleh radiolog. Setekag kateter terpasang, radiolog
memasukkan kontras melalui kateter. Sekitar 5-8ml kontras
diperlukan untuk menimbulkan gambaran opak pada ginjal dan ureter.
Selama kontras diinjeksikan, dilakukan pengambilan foto dengan
menggunakan fluoroskopi.Harus dicegah pengisian yang berlebihan
karena risiko ekstravasasi ke dalam sinusrenalis atau intravasasi ke
dalam kumpulan saluran-saluran (collecting duct). Ekstravasasi
kontras dapat menutupi bagian-bagian yang halus dekat papilla. Rutin
dibuat proyeksi frontal dan oblik. Kemudian kateter diangkat pada
akhir pemeriksaan, lalu dibuat foto polos abdomen. Jika ada obstruksi
dibuat lagi foto 15 menit kemudian.Komplikasi dapat berupa sepsis,
perforasi ureter, ekstravasasi bahankontras, reaksi bahan kontras,
hematuri dan anuri berhubung dengan edema pada sambungan ureter
dan vesika17,18.

25

Gambar 19. Sistoskopi (atas) dan open-ended catether(bawah).

Gambar 20. Prosedur pemeriksaan urografi retrograde

26

Gambar 21. Foto BNO post penempatan J stent

Gambar 22. Foto BNO normal post injeksi kontras pada Urografi retrograde

27

Gambar 23. Gambaran filling defect dan hidronefrosis pada urografi retrograde

3. Urografi Antegrade / Antegrad Pielografi (APG)19,20,21


Teknik atau prosedur pemeriksaan sinar-X sistem urinaria
dengan menggunakan media kontras yang dimasukkan melalui kateter
yang telah dipasang dokter urologi dengan cara nefrostomi percutan.
Tujuan
a) Memperlihatkan anatomi dan lesi-lesi tractus urinarius bagian
proximal.
b) Dilakukan setelah IVP gagal menghasilkan suatu diagnosa
yang informatif/kurang akurat/metode RPG (retrograde
pyelography) tidak memungkinkan.
c) Untuk menunjukkan terutama gambaran renal pelvic dan
ureter.
d) Menujukkan obstruksi ureter akibat batu.
Indikasi
a) Nephrolitiasis
28

b) Urethrolitiasis
c) Nephritis
d) Pyelonephritis
e) Trauma akut tractus urinarius
f) Hydroneprosis
Persiapan Pemeriksaan
Sama dengan persiapan pasien yang akan dilakukan operasi
antara lain : puasa, urus-urus / clisma /lavement
a) Persiapan Alat dan Bahan
Media kontras iodium 50 cc, cairan NaCl 100 cc
Spuit dissposible 50 cc
Needle 19 G
Handscoen
Clamp
Plester
Alkohol dan betadine
Haas
Pesawat sinar-X, kaset dan film 24 x 30, dan 30 x 40
Prosedur pemeriksaan
a) Kateter yang telah terpasang diklem kemudia selang yang
menghub dengan urine dicabut
b) Kontras medis disiapkan dengan mencampur MK dan NaCl
dgn perbandingan 1:3
c) Sebelum pemasukan MK dilakukan, lakukan plain foto
dengan kaset 30 x40 orientasi ginjal
d) Masukkan media kontras yang sudah diencerkan melalui
kateter yang langsung terhubung dengan pelviocalyces .
Teknik Pemeriksaan
Terdapat 3 seri pemotretan* dengan menggunakan film 30x40
a) Foto 1 fokus pada renogram dan pelviocalyceal system
b) Foto 2 fokus pada ureter bagian proximal dan pelviocalyceal
system
c) Foto 3 fokus pada ureter distal dan vesika urinaria.
d) Foto terakhir dibuat untuk melihat sekresi ginjal.
* Proyeksi yang dilakukan adalah AP dan oblique.

29

Gambar 24. Pyelografi anterograde

4. Ultrasonografi (USG)
Ultrasonografi (USG) merupakan salah satu imaging
diagnostik ( pencitraan diagnostik) untuk pemeriksaan alat alat dalam
tubuh manusia, diman kita dapat mempelajari bentuk, ukuran
anatomis, gerakan serta hubungan dengan jaringan sekitarnya.
Pemeriksaan ini bersifat non-invasif, tidak menimbulkan rasa sakit
pada penderita, dapat dilakukan dengan cepat, aman dan data yang
diperoleh mempunyai nilai diagnostik yang tinggi. Tidak ada kontra
indikasinya, karena pemeriksaan ini sama sekali tidak akan
memperburuk penyakit penderita. Dalam 20 tahun terakhir ini,
diagnostik ultrasonik berkembang dengan pesatnya, sehingga saat ini
USG mempunyai peranan penting untuk meentukan kelainan berbagai
organ tubuh.
Ultrasonografi (USG) merupakan pemeriksaan non invasif
yang dapat dilakukan secara bed-side dan relatif tidak mahal. Pada
ginjal pemeriksaan ini cukup efektif dan akurat dalam mendeteksi
adanya abses renal, pyohidronefrosis, atau adanya batu saluran kemih.
Selain itu USG juga cukup baik dalam menilai parenkim ginjal,
ketebalan korteks ginjal, serta mendeteksi hidronefrosis.
Sonogram ginjal normal :
Ukuran ginjal normal dewasa : Ginjal kanan : 8 14 cm (ratarata 10,74 cm), Ginjal kiri : 712 cm (rata-rata 11.10 cm), Diameter
antero-posterior 4 cm dan diameter melintang rata-rata 5 cm. Ukuran
panjang ginjal normal secara USG lebih kecil bila dibandingkan
dengan yang terlihat secara radiografi.
Ginjal normal memperlihatkan sonodensitas kortek yang lebih
rendah (hipoekoik) dibandingkan dengan sonodensitas hati,limpa dan
sinus renalis. Tebal kortek kira-kira 1/3 1/2 sinus renalis dengan
batas rata atau bergelombang pada ginjal yang lobulated. Sedangkan
sinus renalis yang terletak ditengah ginjal memberikan sonodensitas
30

yang tinggi (hiperekoik) disebabkan karena komposisinya yang terdiri


atas lemak dan jaringan parenkim ginjal. Didalam sinus renalis
terdapat garis-garis anekoik, yaitu irisan kalises yang bila diikuti akan
bergabung pada daerah anekoik besar, yaitu pelvis renals.

Gambar 24. Batu pada pelvik ginjal

Gambar 25. Batu di Ureter Proxima

31

Gambar 26. Batu Vesica Urinaria

Gambar 27. Batu di urtehra

32

Gambar 28. Batu multiple pada medula ginjal

Gambar 29. Grading hidronefrosis pada pemeriksaan USG.

33

5. Computed Tomography Scan (CT-Scan)


Pemeriksaan CT scan pada kasus infeksi saluran kemih
bermanfaat untuk mendeteksi adanya pielonefritis akut. Dengan CT
scan kontras, pielonefritis akut akan tampak sebagai daerah yang
underperfusion. Adapun keunggulan CT adalah memberikan resolusi
anatomi yang lebih baik, sehingga membantu untuk kasus sulit. CT
scan juga bermanfaat pada kasus abses renal atau pionefrosis.
Kekurangan dari CT adalah efek radiasi pada tubuh. Diperkirakan
pada orang dewasa pemeriksaan CT abdomen tunggal memberikan
efek radiasi setara dengan 500 kali pemeriksaan foto polos toraks.

Gambar 30. Gambaran CT scan ginjal normal

34

Gambar 31. Nefrolithiasis bilateral

Gambar 32. Batu pada uretherovesical junction sinistra

35

Gambar 30. Hidronefrosis kanan

Gambar 33. Algoritma diagnostik radiologi kolik renalis

Laboratorium
Pemeriksaan urin rutin untuk melihat eritrosituri, lekosituria,
bakteriuria (nitrit), pH urin dan kultur urin. Pemeriksaan darah berupa

hemoglobin, lekosit, ureum dan kreatinin.

36

Gambar 34. Algoritma diagnostik radiologis batu saluran kemih

f) PENATALAKSAAN MEDIS BATU SALURAN KEMIH


Tujuan dasar penatalaksanaan medis BSK adalah untuk
menghilangkan batu, menentukan jenis batu, mencegah kerusakan nefron,
mengendalikan infeksi, dan mengurangi obstruksi yang terjadi.
Batu dapat dikeluarkan dengan cara medikamentosa, pengobatan
medik selektif dengan pemberian obat-obatan, tanpa operasi, dan
pembedahan terbuka.
Medikamentosa
Terapi medikamentosa ditujukan untuk batu yang berukuran lebih
kecil yaitu dengan diameter kurang dari 5 mm, karena diharapkan batu dapat
keluar tanpa intervensi medis.
Dengan cara mempertahankan keenceran urine dan diet makanan
tertentu yang dapat merupakan bahan utama pembentuk batu ( misalnya
kalsium) yang efektif mencegah pembentukan batu atau lebih jauh
meningkatkan ukuran batu yang telah ada. Setiap pasien BSK harus minum
paling sedikit 8 gelas air sehari.
Pengobatan Medik Selektif dengan Pemberian Obat-obatan
Analgesia dapat diberikan untuk meredakan nyeri dan mengusahakan
agar batu dapat keluar sendiri secara spontan. Opioid seperti injeksi morfin
sulfat yaitu petidin hidroklorida atau obat anti inflamasi nonsteroid seperti
ketorolac dan naproxen dapat diberikan tergantung pada intensitas nyeri.
Propantelin dapat digunakan untuk mengatasi spasme ureter. Pemberian
37

antibiotik apabila terdapat infeksi saluran kemih atau pada pengangkatan batu
untuk mencegah infeksi sekunder. Setelah batu dikeluarkan, BSK dapat
dianalisis untuk mengetahui komposisi dan obat tertentu dapat diresepkan
untuk mencegah atau menghambat pembentukan batu berikutnya.
ESWL (Extracorporeal Shockwave Lithotripsy)
Merupakan tindakan non-invasif dan tanpa pembiusan, pada tindakan
ini digunakan gelombang kejut eksternal yang dialirkan melalui tubuh untuk
memecah batu. Alat ESWL adalah pemecah batu yang diperkenalkan
pertama kali oleh Caussy pada tahun 1980. Alat ini dapat memecah batu
ginjal, batu ureter proximal, atau menjadi fragmen-fragmen kecil sehingga
mudah dikeluarkan melalui saluran kemih. ESWL dapat mengurangi
keharusan melakukan prosedur invasif dan terbukti dapat menurunkan lama
rawat inap di rumah sakit.
Indikasi penggunaan ESWL :
a) Untuk terapi batu ureter proksimal dan distal
b) Batu berukuran < 2 cm
Kontraindikasi absolut :
a) Infeksi saluran kemih akut
b) Gangguan perdarahan yang tidak terkoreksi
c) Kehamilan
d) Sepsis
e) Obstruksi batu distal
Kontraindikasi relative :
a) Status mental
b) Berat badan > 150 kg
c) Deformitas spinal / ortopedi
d) Ginjal ektopik / malformasi ginjal
e) Gangguan paru dan jantung
f) Gangguan gastro
Komplikasi :
a) Pada ginjal (hematoma perinefrik, subkapsular dan infranefrik) :
Hematuria
Sepsis
Hipertensi
Atrofi
b) Paru (hemoptysis)
c) Pankreatitis
d) Hematom limpa
e) Peningkatan sementara fungsi hati
f) Kolik bilier
Endourologi
38

Tindakan endourologi adalah tindakan invasif minimal untuk


mengeluarkan BSK yang terdiri atas memecah batu, dan kemudian
mengeluarkannya dari saluran kemih melalui alat yang dimasukan langsung
kedalam saluran kemih. Alat tersebut dimasukan melalui uretra atau melalui
insisi kecil pada kulit (perkutan). Beberapa tindakan endourologi tersebut
adalah :
a) PNL (Percutaneous Nephro Litholapaxy) adalah usaha mengeluarkan
batu yang berada di dalam saluran ginjal dengan cara memasukan alat
endoskopi ke sistem kalies melalui insisi pada kulit. Batu kemudian
dikeluarkan atau dipecah terlebih dahulu menjadi fragmen-fragmen
kecil.
b) Litotripsi adalah memecah batu buli-buli atau batu uretra dengan
memasukan alat pemecah batu (litotriptor) ke dalam buli-buli.
c) Ureteroskopi atau uretero-renoskopi adalah dengan memasukan alat
ureteroskopi per-uretram. Dengan memakai energi tertentu, batu yang
berada di dalam ureter maupun sistem pelvikalises dapat dipecah
melalui tuntunan ureteroskopi/ureterorenoskopi ini.
d) Ekstrasi Dormia adalah mengeluarkan batu ureter dengan
menjaringnya melalui alat keranjang Dormia.
Tindakan Operasi
Penanganan BSK, biasanya terlebih dahulu diusahakan untuk
mengeluarkan batu secara spontan tanpa pembedahan/operasi. Tindakan
bedah dilakukan jika batu tidak merespon terhadap bentuk penanganan
lainnya. Ada beberapa jenis tindakan pembedahan, nama dari tindakan
pembedahan tersebut tergantung dari lokasi dimana batu berada, yaitu :
a) Nefrolitotomi merupakan operasi terbuka untuk mengambil batu yang
berada di dalam ginjal
b) Ureterolitotomi merupakan operasi terbuka untuk mengambil batu
yang berada di ureter
c) Vesikolitomi merupakan operasi tebuka untuk mengambil batu yang
berada di vesica urinearia
d) Uretrolitotomi merupakan operasi terbuka untuk mengambil batu
yang berada di uretra
g) PENCEGAHAN BATU SALURAN KEMIH
Pencegahan BSK terdiri dari pencegahan primer atau pencegahan
tingkat pertama, pencegahan sekunder atau pencegahan tingkat kedua, dan
pencegahan tersier atau pencegahan tingkat ketiga. Tindakan pencegahan
tersebut antara lain :
Pencegahan Primer
Tujuan dari pencegahan primer adalah untuk mencegah agar tidak
terjadinya penyakit BSK dengan cara mengendalikan faktor penyebab dari
penyakit BSK. Sasarannya ditujukan kepada orang-orang yang masih sehat,
39

belum pernah menderita penyakit BSK. Kegiatan yang dilakukan meliputi


promosi kesehatan, pendidikan kesehatan, dan perlindungan kesehatan.
Contohnya adalah untuk menghindari terjadinya penyakit BSK, dianjurkan
untuk minum air putih minimal 2 liter per hari. Konsumsi air putih dapat
meningkatkan aliran kemih dan menurunkan konsentrasi pembentuk batu
dalam air kemih. Serta olahraga yang cukup terutama bagi individu yang
pekerjaannya lebih banyak duduk atau statis.
Pencegahan Sekunder
Tujuan dari pencegahan sekunder adalah untuk menghentikan
perkembangan penyakit agar tidak menyebar dan mencegah terjadinya
komplikasi. Sasarannya ditujukan kepada orang yang telah menderita
penyakit BSK. Kegiatan yang dilakukan dengan diagnosis dan pengobatan
sejak dini. Diagnosis Batu Saluran Kemih dapat dilakukan dengan cara
pemeriksaan fisik, laboraturium, dan radiologis.
Hasil pemeriksaan fisik dapat dilihat berdasarkan kelainan fisik pada
daerah organ yang bersangkutan :
a) Keluhan lain selain nyeri kolik adalah takikardia, keringatan, mual,
dan demam (tidak selalu).
b) Pada keadaan akut, paling sering ditemukan kelembutan pada daerah
pinggul (flank tenderness), hal ini disebabkan akibat obstruksi
sementara yaitu saat batu melewati ureter menuju kandung kemih.
Urinalisis dilakukan untuk mengetahui apakah terjadi infeksi yaitu
peningkatan jumlah leukosit dalam darah, hematuria dan bakteriuria, dengan
adanya kandungan nitrit dalam urine. Selain itu, nilai pH urine harus diuji
karena batu sistin dan asam urat dapat terbentuk jika nilai pH kurang dari 6,0,
sementara batu fosfat dan struvit lebih mudah terbentuk pada pH urine lebih
dari 7,2.
Diagnosis BSK dapat dilakukan dengan beberapa tindakan radiologis
yaitu:
a) Sinar X abdomen
Untuk melihat batu di daerah ginjal, ureter dan kandung
kemih. Dimana dapat menunjukan ukuran, bentuk, posisi batu dan
dapat membedakan klasifikasi batu yaitu dengan densitas tinggi
biasanya menunjukan jenis batu kalsium oksalat dan kalsium fosfat,
sedangkan dengan densitas rendah menunjukan jenis batu struvit,
sistin dan campuran. Pemeriksaan ini tidak dapat membedakan batu di
dalam ginjal maupun batu diluar ginjal.
b) Intravenous Pyelogram (IVP)
Pemeriksaan ini bertujuan menilai anatomi dan fungsi ginjal.
Jika IVP belum dapat menjelaskan keadaan sistem saluran kemih
akibat adanya penurunan fungsi ginjal, sebagai penggantinya adalah
pemeriksaan pielografi retrograd.
c) Ultrasonografi (USG)
40

USG dapat menunjukan ukuran, bentuk, posisi batu dan


adanya obstruksi. Pemeriksaan dengan ultrasonografi diperlukan pada
wanita hamil dan pasien yang alergi terhadap kontras radiologi.
Keterbatasn pemeriksaan ini adalah kesulitan untuk menunjukan batu
ureter, dan tidak dapat membedakan klasifikasi batu.
d) Pemindaian CT akan menghasilkan gambar yang lebih jelas tentang
ukuran dan lokasi batu.
Pencegahan Tersier
Tujuan dari pencegahan tersier adalah untuk mencegah agar tidak
terjadi komplikasi sehingga tidak berkembang ke tahap lanjut yang
membutuhkan perawatan intensif. Sasarannya ditujukan kepada orang yang
sudah menderita penyakit BSK agar penyakitnya tidak bertambah berat.
Kegiatan yang dilakukan meliputi kegiatan rehabilitasi seperti konseling
kesehatan agar orang tersebut lebih memahami tentang cara menjaga fungsi
saluran kemih terutama ginjal yang telah rusak akibat dari BSK sehingga
fungsi organ tersebut dapat maksimal kembali dan tidak terjadi kekambuhan
penyakit BSK , dan dapat memberikan kualitas hidup sebaik mungkin sesuai
dengan kemampuannya.

41

DAFTAR PUSTAKA
1. Guyton, Arthur C & Hall, John E. 2006. Pembentukan Urin oleh Ginjal; Buku
Ajar Fisiologi Kedokteran (Textbook of Medical Physiology). Penerbit
Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
2. Sherwood, Lauralee. 2001. Fisiologi Manusia: Dari Sel ke Sistem, Edisi 2.
Jakarta: EGC
3. Turk C, Knoll T, Petrik A, Sarica K, Straub M, & Seitz C. 2011. Guidelines on
Urolithiasis. European association or urology.
4. Shirez, Schwartz. Intisari prinsip-prinsip ilmu bedah.ed-6. Penerbit Buku
Kedokteran, EGC. Jakarta.
5. Budjang, Nurlela. 2010. Traktus urinaria;Radiologi Diagnostik. Balai Penerbit
FKUI. Jakarta.
6. Siswanto, Tenri Abeng. 2010. Abdomen Akut. Radiologi Diagnostik. Balai
Penerbit, FKUI.
7. Iljas, Muhammad & Boer, Azwar. 2010. Ultrasonografi Ginjal; Radiologi
Diagnostik. Balai Penerbit FKUI. Jakarta.
8. Smith, Kevin J. 2013. Urinary Calculi Imaging. diakses
http://emedicine.medscape.com/article/381993-overview#a22.

melalui

9. Vrtiska, Terri J., et. al. Imaging Evaluation and Treatment of Nephrolithiasis.
National Institute of Health OBrien Urology Research. 2010.
10. American Urological Association. AUA Guideline on the Management of
Staghorn Calculi:Diagnosis and Treatment Recommendations. 2005
11. Lingeman JE, Siegel YI, Steele B, Nyhuis AW, Woods JR. Management of
lower pole nephrolithiasis : a critical analysis. J Urol 1994; 151: 663 7.
12. Portis, Andrew J & Sundaram, Chandru P. Diagnosis an Initial Management of
Kidney Stone. American Association of Family Physician. 2001.
13. Anggari, Kharisma Luthfy, 2010. BNO-IVP Sebagai Pemeriksaan Imaging Pada
Pasien Dengan Nefrolithiasis dan Hidronefrosis Sinistra. Bagian Ilmu
Radiologi RSUD Salatiga
14. Purnomo, B. B. 2011. Dasar-Dasar Urologi, Edisi 3. 123-128. Jakarta : Sagung
Seto

ii

15. MD, Marshall L.Stoller, 2010. Smiths general Urology. Edisi ke 17. Penerbit
LANGE medical book, MC Graw Hill, New York
16. Rasad, Sjahriar. 2010. Radiologi Diagnostik Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Edisi Kedua. Penerbit Balai Penerbit Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, Jakarta
17. Cheuck,

Lanna,

2013.

Retrograde

Pyelogrhapy.

Diakses

dari

http://emedicine.medscape.com/article/2113562-technique .

18. Case of the week. 2013. Departement of Radiology. University of Wisconsin


School
of
Medicine
and
Public
Health.
Diakses
dari
https://www.radiology.wisc.edu/COW/caseSolution.php?reveal=Y&ref=archive
&caseID=50
19. Daignostic Tests & Medical Procedures. Radiochemistry Society. Diakses dari
http://www.radiochemistry.org/nuclearmedicine/diagnostics/02_tests.shtml
20. Urology Care Foundation. The Official Foundation of The American Urological
Association.
diakses
oleh
http://www.urologyhealth.org/urology/index.cfm?article=71
21. Rowberry, Benjamin, 2011. Intravenous Pyelogram Artefacts Unique to Digital
Tomosynthesis Reconstruction. British Journal of Radiology. Available
from: Pubmed.http://bjr.birjournal.org/content/84/1007/1050.
22. Budjang, Nurlela. 2010. Traktus Urinaria in : Radiologi diagnostik. Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.
.

iii