Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Meningkatnya kesadaran masyarakat untuk memperoleh pelayanan
kesehatan yang bermutu khususnya di bidang gawat darurat dalam memasuki
era globalisasi dan pasar bebas perlu mendapat perhatian dari unit-unit
pelayanan kesehatan termasuk institusi Pendidikan Kedokteran dengan
meningkatkan profesionalisme petugas kesehatan. Prinsip pada penanganan
penderita gawat darurat harus cepat, tepat dan harus dilakukan segera oleh
setiap orang yang pertama menemukan/mengetahui (orang awam, perawat,
para medis, dokter), baik di dalam maupun di luar rumah sakit karena
kejadian ini dapat terjadi setiap saat dan menimpa siapa saja. Tindakan gawat
darurat harus sesuai aspek legal. Tenaga medis atau dokter yang membantu
korban dalam situasi emergensi harus menyadari konsekuensi hukum yang
dapat terjadi sebagai akibat dari tindakan yang mereka berikan. Untuk itu
pengetahuan kegawatdaruratan dan keselamatan pasien penting dipelajari dan
dikuasai. Pengetahuan medis teknis yang harus diketahui adalah mengenal
ancaman kematian yang disebabkan oleh adanya gangguan jalan napas,
gangguan fungsi pernapasan/ventilasi dan gangguan sirkulasi darah dalam
tubuh.
B. Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan kegawatdaruratan medis?
2. Apa sajakah macam-macam kegawatdaruratan medis?
3. Bagaimana cara penanganan kegawatdaruratan medis?

C. Tujuan
Adapun tujuan kami membuat makalh ini adalah :
1. Untuk

mengetahui

dan

memahami

tentang

macam-macam

kegawatdaruratan medis.
2. Untuk mengetahui penetalaksanaan kegawatdaruratan medis.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 PENGERTIAN KEGAWATDARURATAN MEDIS
Sebenarnya terdapat perbedaan mendasar antara istilah gawat dan
darurat, namunumumnya dipahami oleh masyarakat sebagai satu-kesatuan.
Dalam dunia medis.
Suatu keadaan disebut gawat a p a b i l a s i f a t n ya m e n g a n c a m n y a w a
n a m u n t i d a k memerlukan penanganan yang segera. Biasanya keadaan gawat
dapat dijumpaipada penyakit-penyakit yang sifatnya kronis.
Suatu keadaan disebut darurat apabila sifatnya memerlukan penanganan yang
segera.Meskipun keadaan darurat tidak selalu mengancam nyawa, namun
penanganan yang lambat bisa saja berdampak pada terancamnya nyawa
seseorang. Biasanya keadaan darurat dapatdijumpai pada penyakit-penyakit yang
sifatnya akut.Keadaan gawat dan darurat dapat juga terjadi bersamaan. Dalam hal
ini, nyawa pasien benar-benar dalam keadaan yang mengkhawatirkan dan
diperlukan penanganan yang segeraterhadapnya. Contoh untuk kasus ini adalah
seseorang yang telah menderita penyakit jantungdalam waktu yang lama dan tiba-tiba
saja mendapatkan serangan jantung (heart attack).
Pada keadaan gawat darurat medik didapati beberapa masalah utama, yaitu:
1. Penode waktu pengamatan/pelayanan relatif singkat
2. P e r u b a h a n k l i n i s y a n g m e n d a d a k
3. D i p e r l u k a n n y a m o b i l i t a s p e t u g a s ya n g t i n g g i
2.2 SYNCOPE
Syncope atau pingsan sesaat adalah kehilangan kesadaran sementara yang
diikuti oleh kembalinya kesiagaan penuh akibat berkurangnya cerebral blood flow
karena turunnya tekanan darah secara mendadak yang merupakan respon akibat
stress psikis (perasaan takut) atau rasa nyeri hebat. Kehilangan kesadaran ini
diikuti dengan kehilangan kekuatan otot yang dapat mengakibatkan penderita

terjatuh. Untuk memahami lebih baik mengapa pingsan dapat terjadi maka perlu
juga mengetahui untuk menjelaskan mengapa seseorang terjaga atau sadar.
Otak mempunyai banyak bagian-bagian, termasuk dua hemisphere,
cerebellum, dan batang otak (brain stem). Otak memerlukan aliran darah untuk
menyediakan oksigen dan glucose (gula) pada sel-selnya untuk menopang
kehidupan. Agar tubuh tetap terjaga atau sadar, area yang dikenal sebagai
reticular activating system yang berlokasi dalam batang otak harus bekerja
dengan baik, dan paling sedikit satu hemisphere otak perlu berfungsi. Pingsan
terjadi karena reticular activating system kehilangan suplai darah, atau kedua-dua
hemisphere dari otak kekurangan suplai darah, oksigen, atau glucosa. Syncope
(pingsan) terjadi karena aliran darah mengalami gangguan secara singkat ke
seluruh otak atau ke reticular activating system. Syncope tidak disebabkan oleh
trauma kepala, karena kehilangan kesadaran setelah luka kepala dipertimbangkan
sebagai gegar otak. Bagaimanapun, pingsan (syncope) dapat menyebabkan luka
jika orang itu jatuh dan melukai dirinya, atau jika pingsan terjadi ketika pada
aktivitas seperti mengemudi kendaraan.
Penyebab Pingsan (Syncope)
Aliran darah yang berkurang ke otak dapat terjadi karena 1) jantung gagal untuk
memompa darah; 2) pembuluh-pembuluh darah tidak mempunyai cukup kekuatan
untuk mempertahankan tekanan darah untuk memasok darah ke otak; 3) tidak ada
cukup darah atau cairan didalam pembuluh-pembuluh darah; 4) gabungan dari
sebab-sebab satu, dua, atau tiga diatas.
Vasovagal syncope adalah salah satu dari penyebab-penyebab yang paling umum
dari pingsan. Pada situasi ini, keseimbangan antara kimia-kimia adrenaline dan
acetylcholine terganggu. Adrenalin menstimulasi tubuh, termasuk membuat
jantung berdenyut lebih cepat dan pembuluh-pembuluh darah melebar, membuat
darah lebih sulit untuk mengalahkan gaya berat (gravitasi) dan dipompa ke otak.
Pengurangan sementara ini pada aliran darah ke otak menyebabkan episode
pingsan (syncopal).
Nyeri dapat menstimulasi syaraf vagus dan adalah penyebab yang umum dari
vasovagal syncope. Stimuli-stimuli lain yang dapat menyebabkan kondisi tersebut

adalah situational stressor. Mahasiswa-mahasiswa kedokteran dan perawat


terkadang ada yang pingsan ketika mendengar berita-berita buruk dan melihat
darah atau jarum.
Kondisi atau penyakit lain yang dapat menyebabkan pingsan antara lain:
1. Anemia. Anemia (jumlah sel darah merah yang rendah), yang dapat
terjadi akibat perdarahan akut atau berbagai macam sebab dapat
menyebabkan pingsan karena tidak ada cukup sel-sel darah merah
untuk memasok oksigen ke otak.
2. Dehidrasi. Dehidrasi, atau kekurangan cairan dalam tubuh dapat
menyebabkan pingsan atau syncope. Ini dapat disebabkan oleh
kehilangan cairan yang berlebihan dari muntah, diare, berkeringat, atau
pemasukan cairan yang tidak mencukupi. Beberapa penyakit-penyakit
seperti diabetes dapat menyebabkan dehidrasi dengan kehilangan air
yang berlebihan dalam urin.
3. kehamilan. Syncope juga dihubungkan pada kehamilan. Penjelasanpenjelasan yang mungkin termasuk tekanan dari inferior vena cava
(vena besar yang mengembalikan darah ke jantung) oleh kandungan
yang membesar dan oleh orthostatic hypotension.
Tanda-Tanda Dan Gejala-Gejala Dari Pingsan (Syncope)
Gejala-gejala ayau tanda-tanda sebelum episode pingsan, yang dapat terjadi antara
lain:

Pasien mungkin merasa pandangan terasa gelap, mual, berkeringat, atau


lemah. Mungkin ada perasaan vertigo (pandangan yang berputar),
penglihatan mungkin memudar atau kabur, dan mungkin ada pendengaran
yang berkurang dan sensasi-sensai kesemutan dalam tubuh.

Dengan pre-syncope atau hampir pingsan, gejala-gejala yang sama akan


terjadi, namun pasien tidak sungguh kehilangan kesadaran.

Selama episode, ketika pasien tidak sadar, mungkin ada sedikit kejang-kejang
tubuh yang mungkin dikacaukan dengan aktivitas seizure.
Pasien mungkin mempunyai beberapa kebingungan setelah bagun namun akan
menghilang dalam beberapa detik.

Penatalaksanaan
1. Segera turunkan sandaran dental unit sehingga penderita dapat
terlentang pada posisi supine atau posisi syok (posisi kaki lebih tinggi
dari kepala).
2. Pakaian

yang

ketat

harus

dilonggarkan

untuk

memperlancar

pengembalian venous return.


3. Hindari kerumunan orang banyak disekitar penderita agar tidak
mengganggu pernafasan penderita.
4. Berikan oksigen menggunakan face mask.
5. Apabila kesadaran penderita sudah pulih, tetap pertahankan posisi
penderita pada posisi supine dan dimonitor.
6. Apabila kondisi penderita tidak membaik (tidak sadar), segera rujuk ke
rumah sakit.
2.3 SYOK
Syok adalah keadaan berkurangnya perfusi organ dan oksigenasi jaringan. Pada
pasien trauma kondisi ini seringkali disebabkan oleh hipovolemia.
Diagnosis syok didasarkan pada tanda klinis antara lain:

Hipotensi

Takhikardia

Takhipnea

Hypothermia

Pucat

Ekstremmitas dingin

Melambatnya pengisian kapiler (capillary refill)

Penurunan produksi urin

Macam syok antara lain:


1. Syok hemoragik (hipovolemik) yaitu syok yang disebabkan kehilangan
akut dari darah atau cairan tubuh. Jumlah darah yang hilang akibat
trauma sulit diukur dengan tepat bahkan pada trauma tumpul sering
diperkirakan terlalu rendah.

Perlu diingat bahwa:

Sejumlah besar darah dapat terkumpul dalam rongga perut dan


pleura

Perdarahan patah tulang paha (femur shaft) dapat mencapai 2


liter

Perdarahan paha tulang panggul dapat melebihi 2 liter

2. Syok kardiogenik yaitu syok yang disebabkan berkurangnya fungsi


jantung antara lain:

Kontusio miokard

Temponade jantung

Pneumothoraks tension

Luka tembus jantung

Infark miokard

3. Syok neurogenik yaitu syok yang ditimbulkan oleh hilangnya tonus


simpatis akibat cedera sumsum tulang belakang (spinal cord) dan
memberikan gambaran hipotensi tanpa disertai takhikardia atau
vasokonstriksi
4. Syok septik merupakan syok yang jarang ditemukan pada fase awal
trauma namun sering menjadi penyebab kematian beberapa minggu
sesudah trauma (melalui gagal ginjal organ). Paling sering dijumpai
pada luka tembus abdomen dan luka bakar.
5. Syok anafilaktik merupakan syok yang disebabkan karena reaksi alergi
dan sering terjadi karena alergi terhadap obat-obatan yang diberikan
oleh dokter maupun dokter gigi terutama pemberian secara intra vena.
Penanggulangan syok anafilaktik memerlukan tindakan cepat sebab penderita
berada pada keadaan gawat. Sebenarnya, pengobatan syok anafilaktik tidaklah
sulit, asal tersedia obat-obat emerjensi dan alat bantu resusitasi gawat darurat serta
dilakukan secepat mungkin. Hal ini diperlukan karena kita berpacu dengan waktu
yang singkat agar tidak terjadi kematian atau cacat organ tubuh menetap.

Kalau terjadi komplikasi syok anafilaktik setelah kemasukan obat atau zat kimia,
baik peroral maupun parenteral, maka tindakan yang perlu dilakukan, adalah:
1. Segera baringkan penderita pada alas yang keras. Kaki diangkat lebih
tinggi dari kepala untuk meningkatkan aliran darah balik vena, dalam
usaha memperbaiki curah jantung dan menaikkan tekanan darah.
2. Penilaian A, B, C dari tahapan resusitasi jantung paru, yaitu:
A. Airway penilaian jalan napas. Jalan napas harus dijaga tetap
bebas, tidak ada sumbatan sama sekali. Untuk penderita yang
tidak sadar, posisi kepala dan leher diatur agar lidah tidak jatuh
ke belakang menutupi jalan napas, yaitu dengan melakukan
ekstensi kepala, tarik mandibula ke depan, dan buka mulut.
B. Breathing support, segera memberikan bantuan napas buatan
bila tidak ada tanda-tanda bernapas, baik melalui mulut ke
mulut atau mulut ke hidung. Pada syok anafilaktik yang disertai
udem laring, dapat mengakibatkan terjadinya obstruksi jalan
napas total atau persial. Penderita yang mengalami sumbatan
jalan napas parsial, selain ditolong dengan obat-obatan, juga
harus diberikan bantuan napas dan oksigen. Penderita dengan
sumbatan jalan napas total, harus segera ditolong dengan lebih
aktif,

melalui

intubasi

endotrakea,

krikotirotomi,

atau

trakeotomi.
C. Circulation support, yaitu bila tidak teraba nadi pada arteri
besar (a. Karotis, atau a. Femoralis), segera lakukan kompresi
jantung luar.
Penilaian A, B, C ini merupakan penilaian terhadap kebutuhan
bantuan hidup dasar yang penetalaksanaannya sesuai dengan
protokol resusitasi jantung paru.
3. Segera berikan adrenalin 0.3-0.5 mg larutan 1:1000 untuk penderita
dewasa atau 0.01 mk/kg untuk penderita anak-anak, intramuskular.
Pemberian ini dapat diulang tiap 15 menit sampai keadaan membaik.

Beberapa penulis menganjurkan pemberian infus kontinyu adrenalin 24 ug/menit.


4. Dalam hal terjadi spasme bronkus di mana pemberian adrenalin kurang
memberi respons, dapat ditambahkan aminofilin 5-6 mg/kgBB
intravena dosis awal yang diteruskan 0.4-0.9 mg/kgBB/menit dalam
cairan infus.
5. Dapat diberikan kortikosteroid, misalnya hidrokortison 100 mg atau
deksametason 5-10 mg intravena sebagai terapi penunjang untuk
mengatasi efek lanjut dari syok anafilaktik atau syok yang membandel.
6. Bila tekanan darah tetap rendah, diperlukan pemasangan jalur
intravena untuk koreksi hipovolemia akibat kehilangan cairan ke ruang
ekstravaskular sebagai tujuan utama dalam mengatasi syok anafilaktik.
Pemberian cairan akan meningkatkan tekanan darah dan curah jantung
serta mengatasi asidosis laktat. Pemilihan jenis cairan antara larutan
kristaloid dan koloid tetap merupakan perdebatan didasarkan atas
keuntungan

dan

kerugian

mengingat

terjadinya

peningkatan

permeabilitas atau kebocoran kapiler. Pada dasarnya, bila memberikan


larutan klistaloid, maka diperlukan jumlah 3-4 kali dari perkiraan
kekurangan volume plasma. Biasanya, pada syok anafilaktik berat
diperkirakan terdapat kehilangan cairan 20-40% dari volume plasma.
Sedangkan bila diberikan larutan koloid, dapat diberikan dengan
jumlah yang sama dengan perkiraan kehilangan volume plasma.
Tetapi, perlu dipikirkan juga bahwa larutan koloid plasma protein atau
dextran juga bisa melepaskan histamin.
7. Dalam keadaan gawat, sangat tidak bijaksana bila penderita syok
anafilaktik dikirim ke rumah sakit, karena dapat meninggal dalam
perjalanan. Kalau terpaksa dilakukan, maka penanganan penderita di
tempat kejadian sudah harus semaksimal mungkin sesuai dengan
fasilitas yang tersedia dan transportasi penderita harus dikawal oleh
dokter. Posisi waktu dibawa harus tetap dalam posisi terlentang dengan
kaki lebih tinggi dari jantung.

8. Kalau syok sudah teratasi, penderita jangan cepat-cepat dipulangkan,


tetapi harus diawasi/diobservasi dulu selama kurang lebih 4 jam.
Sedangkan penderita yang telah mendapat terapi adrenalin lebih dari 23 kali suntikan, harus dirawat di rumah sakit semalam untuk observasi.
9. Glukokortikoid dan antihistamin dapat digunakan sebagai terapi
sekunder.
Tujuan akhir dari resusitasi sirkulasi adalah menormalkan kembali oksigenasi
jaringan.
Langkah-langkah resusitasi sirkulasi (cairan) antara lain:
1. Jalur intravena yang baik dan lancar harus segera dipasang
menggunakan kanula besar (14-16 G). Dalam keadaan khusus
mungkin perlu vena sectie.
2. Cairan infuse (NaCL 0,9%) harus dihangatkan sesuai suhu tubuh
karena hipotermia dapat menyebabkan gangguan pembekuan darah.
3. Hindari cairan yang mengandung glukosa.
4. Ambil sampel darah secukupnya untuk pemeriksaan dan uji silang
golongan darah.
2.4 PENATALAKSANAAN KEGAWATDARURATAN MEDIS
Penanganan kegawatdaruratan medis di bidang kedokteran gigi memerlukan
langkah-langkah yang tepat dan cepat yang meliputi penilaian tentang:

A irway

: Jaga tetap bebas

B reathing

: Bantu bila tidak adekuat

C irculation : Kembalikan bila berhenti dan bantu bila tidak adekuat

D isability

: Cegah cedera otak sekunder

Penilaian tersebut diatas sering disingkat dengan ABCD. Penilaian tersebut sangat
penting untuk membantu menentukan macam kegawatdaruratan yang terjadi dan
menentukan jenis perawatan yang tepat. Penilaian tentang ABCD dan intervensi
yang dilakukan hendaknya berurutan namun tidak berjalan sendiri sendiri
melainkan berkesinambungan.
AIRWAY (jalan nafas)

10

Penilaian tentang jalan nafas meliputi:


a) Jalan nafas bebas atau tidak ada obstruksi
b) Jalan nafas terhambat atau obstruksi sebagian
c) Jalan nafas tersumbat atau obstruksi total
Jalan nafas pada penderita yang tidak sadar biasanya mengalami sumbatan
(obstruksi) akibat;
1. Jatuhnya pangkal lidah ke belakang. Lidah terkait di rahang bawah
sehingga obstruksi pangkal lidah dapat diatasi dengan mengatur posisi
rahang bawah.
2. Adanya cairan dan benda padat (darah atau muntahan isi lambung)
Tanda obstruksi jalan nafas antara lain:
a) Suara mendengkur (sumbatan pangkal lidah)
b) Suara berkumur (adanya cairan)
c) Suara nafas abnormal (stridor karena kejang atau oedema pita suara)
d) Bdernafas menggunakan otot nafas tambahan (gerakan cuping hidung,
gerakan otot leher, cekungan sela iga waktu inspirasi).
e) Sianosis
f) Pasien yang gelisah hendaknya tidak diberikan obat sedative karena
penyebabnya kemungkinan hipoksia.
Chin lift bertujuan mendorong rahang bawah (dan pangkal lidah) ke anterior agar
tidak menyumbat hypopharynx. Kedua langkah tersebut sangat efektif untuk
membebaskan jalan nafas tanpa menggerakkan leher penderita.
Jaw thrust bertujuan mendorong sudut rahang bawah (angulus mandibula) ke
depan sehingga rahang bawah terdorong ke depan. Ingat bahwa kedua tindakan
tersebut diatas bukan jalan nafas deinitive sehingga obstruksi ulang dapat terjadi.
Head tilt bertujuan membebaskan jalan nafas hypopharynx dari sumbatan pangkal
lidah. Teknik ini tidak boleh dilakukan pada penderita cedera tulang leher.
BREATHING (pernafasan)
Penderita yang sadar dan dapat berbicara dengan baik dapat dipastikan bahwa
breathing (pernafasannya) tidak bermasalah. Pada penderita yang tidak sadar perlu

11

dilakukan pemeriksaan lebih seksama terhadap pernafasan penderita dengan cara


sebagai berikut:
1. Melihat (look) gerakan naik turun pada dada penderita untuk
memastikan apakah ada pernafasan spontan atau tidak
2. Mendengarkan (listen) suara nafas dan merasakan (feel) hembusan
nafas penderita dengan mendekatkan telinga dan pipi operator pada
rongga hidung penderita untuk memastikan adanya pernafasan yang
adekuat atau tidak.
Terdapat beberapa hal yang perlu diketahui pada tahap breathing ini yaitu:
1. Menambah oksigen. Tujuannya adalah meningkatkan kadar oksigen
pada udara inspirasi. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan
masker transparan dengan atau tanpa kantong nafas (resevoir bag),
nasal prong (aliran oksigen 2-3 lpm) atau jackson reese (aliran oksigen
10-15 lpm)
2. Nafas buatan. Tujuannya memasikkan oksigen dan mengeluarkan CO2
dari paru secara aktif dengan tekanan positif berkala. Dilakukan pada
penderita yang tidak bernafas (apnea), penderita depresi nafas
(hipoventilasi) dan nafas tidak normal (tersengal). Hal ini dilakukan
dengan memasang sungkup (mask) dengan erat lalu pompakan
udara/.oksigen dari kantung nafas. Alat yang paling sederhana adalah
ambu bag.
CIRCULATION (sirkulasi darah/ cardiovaskuler)
Setelah dilakukan penilaian dan intervensi airway dan breathing maka langkah
berikutnya adalah penilaian circulation meliputi hal sebagai berikut:
1. Nadi (pulse). Yang perlu diperiksa yaitu:
a) Frekuensi
b) Kekuatan
c) Irama
2. Tekanan darah (blood pressure)

12

Apabila nadi teraba cepat (>90x/menit) dan lemah maka kemungkinan tekanan
darah penderita turun (hipotensi) dan tekanan sistolik biasanya di bawah 80
mmHg. Apabila nadi arteri radialis sangat lemah atau tidak teraba dengan jelas
maka segera raba arteri radialis sentral seperti arteri carotis. Pada keadaan syok
tekanan sistolik biasanya terukur di bawah 60 mmHg dan tekanan diastolic sangat
rendah sampai tidak terukur.
Cara paling sederhana menilai circulation adalah kesadaran penderita. Penderita
yang dalam kondisi sadar baik dan dapat menjawab semua pertanyaan maupun
instruksi operator menunjukkan bahwa fungsi circulationnya dalam batas normal.
Apabila penderita tidak sadar berarti fungsi circulationnya dalam kondisi tidak
normal. Beberapa hal yang dapat dilakukan pada penderita dengan fungsi
circulationnya tidak normal adalah:
1. Posisi shock, tujuannya adalah mengalirkan aliran darah tungkat ke
sirkulasi sentral. Caranya dengan mengangkat kedua tungkai dan
diposisikan tetap lebih tinggi daripada tubuh.
2. Hentikan perdarahan eksternal. Tujuannya adalah menghentikan
kehilangan volume sirkulasi dengan cara menekan langsung daerah
yang berdarah. Umumnya penekanan dilakukan selama 3-5 menit
hingga perdarahan berhenti atau menjadi lambat.
3. Pasang infus dengan jarum besar (14, 16,18 G). Tujuannya adalah
melakukan replacement (pergantian) kehilangan volume darah dengan
cairan (ringer laktat atau NaCl 0,9%) agar derajat shock hipovolemik
berkurang.
Disability (evaluasi kesadaran)
Penilaian tahap ini meliputi:
1. Kesadaran, meliputi:
a) Derajat kesadaran: menurun atau hilangnya kesadaran
2. Gangguan kesadaran
Hilangnya atau menurunnya kesadaran dapat ditandai dengan tidak adanya atau
menurunnya rangsangan nyeri. Penderita dikatakan mengalami gangguan
kesadaran apabila penderita masih menunjukkan respon terhadap rangsang nyeri

13

tetapi secara umum tidak kooperatif dan tidak bersikap dan berbicara secara
normal seperti sebelumnya.
Penilaian kesadaran secara cepat dapat dilakukan cara:
AWAKE berarti sadar dan dapat berbicara

:A

RESPON to VERBAL berarti dapat diperintah

:V

RESPON to PAIN berarti bereaksi terhadap nyeri

:P

UNRESPONSIVE berarti tidak ada reaksi terhadap nyeri

:U

Resusitasi jantung paru (RJP) dan disebut juga dengan istilah cardio pulmonier
rescucitation (CPR) adalah gabungan antara pijat jantung dan pemberian nafas
buatan. Tindakan pertolongan pada kasus kegawat daruratan ini diberikan pada
korban yang mengalami henti jantung (cardiac arrest) dan nafas yang ditandai
dengan tidak terabanya nadi arteri carotis namun korban masih hidup. Apabila
korban mengalami perdarahan hebat pada kasus trauma maka tindakan RJP dapat
menyebabkan perdarahan semakin banyak dan kemungkinan menyebabkan
korban meninggal dunia lebih besar tetapi jika tidak dilakukan RJP maka korban
juga dapat meninggal dunia.
Pada kasus dimana korban mengalami perdarahan hebat dan henti jantung maka
langkah yang paling tepat untuk menyelamatkan nyawa korban tergantung
kemampuan

penolong.

Apabila

penoong

sendirian

maka

usaha

untuk

menghentikan perdarahan dilakukan terlebih dahulu kemudian diikuti tindakan


RJP tetapi apabila penolong banyak maka tindakan untuk menghentikan
perdarahan dan RJP dilakukan secara bersamaan.
Langkah pertama dalam memberika RJP adalah menentukan titik kompresi
jantung. Titik ini merupakan tempat diletakkannya tangan penolong

untuk

menekan jantung. Titik kompresi jantung terletak pada bagian tengah dada.
Pelaksanaan RJP berbeda-beda, tergantung pada usia korban. Pelaksanaannya
adalah sebagai berikut:
- Korban dewasa ( lebih dari 8 tahun)
Jika penolong hanya 1, maka fase pertama RJP dilakukan sebanyak 4 siklus per
menit yang tiap siklusnya terdiri dari 15 kali tekan jantung dan 2 kali nafas
buatan. Setelah fase pertama selesai, korban diperiksa jantung dan nafasnya.

14

Jika jantung dan nafas masih berhenti, pertolongan dilanjutkan dengan fase
kedua yang terdiri dari 8 siklus (4 siklus per menit). Jika pada fase kedua ini
jantung dan nafas korban masih berhenti, maka dilanjutkan ke fase ketiga yang
terdiri dari 8 siklus, demikian seterusnya.
Jika penolongnya 2 orang, maka 1 orang bertugas untuk menekan jantung dan 1
orang lagi memberi nafas buatan. Fase pertama RJP dilakukan dengan 12 siklus
per menit yang tiap siklusnya terdiri dari 5 kali tekan jantung dan 1 kali nafas
buatan. Jika korban masih belum bernafas, maka fase-fase selanjutnya dilakukan
sebanyak 24 siklus (12 siklus per menit).
RJP pada korban dihentikan apabila:
- ada penolong yang menggantikan
- ada tanda kehidupan
- ada tanda kematian
- setelah 30 menit
Resusitasi adalah

Mengembalikan segera proses pengiriman O2 ke jaringan & membuang


CO2 senormal mungkin dan secepat mungkin

Langkah yang paling esensial adalah segera melakukan tindakan


RESUSITASI (A-B-C).

15

DAFTAR PUSTAKA
Wahyu Henry, dkk. 2013. Modul klinik profesi. Surabaya. Universitas Hang Tuah
surabaya
Anonim.

Jalan

napas

(airway).

Available

from

http://klikdokter.com/healthnewstopics/read/2010/11/01/15031153/jalan-napasairway-#.UsjDL2GJ1dg accessed 5 january 2014


anonim.circulation. Available from sicert.org . Accessed 5 january 2014
Anonim. First aid fact sheet. Available from http://www.peoplecare.com.au/Yourhealth/First-Aid-Fact-Sheets/First-Aid-Fact-Sheet-Results/ID/249?
returnurl=http://www.peoplecare.com.au/Your-health/First-Aid-Fact-Sheets.
accessed 5 january 2014

16