Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya
alamnya. Terdapat jutaan jenis tumbuhan, baik yang hidup di darat
maupun di laut. Dari jutaan jenis tersebut, tidak semua diketahui nama,
sifat-sifat serta kegunaannya pada manusia. Tumbuhan yang belum
diketahui jenisnya masih memerlukan penelitian yang lebih mendalam,
baik dari segi kegunaan, sifat-sifat yang dimiliki maupun kandungan kimia
yang terdapat di dalamnya.
Sebagai mahasiswa Farmasi yang menekuni obat-obatan maka
mengenal asal, habitat, spesies dan sifat spesifikasinya merupakan hal
yang sangat penting. Pengetahuan yang cukup mengenai berbagai
macam tumbuhan yang berkhasiat obat, baik bentuk simplisia, morfologi
secara umum, kegunaan, cara ekstraksi, dan identifikasi komponen kimia
yang terdapat dalam suatu simplisia merupakan hal yang perlu diketahui
oleh seorang mahasiswa Farmasi. Pengetahuan ini dapat digunakan
sebagai

salah

satu

jalan

untuk

memberikan

penjelasan

kepada

masyarakat dalam fungsinya sebagai Drug Informer nantinya setelah


terjun ke masyarakat.
Fakta menunjukkan bahwa upaya kesehatan tradisional telah
dikenal dan digunakan masyarakat sejak zaman dahulu.Bahkan zaman

sekarang pun masyarakat kembali banyak menggunakan obat-obat yang


berasal dari alam.
Masyarakat menggunakan tumbuhan sebagai obat tradisional
meskipun belum mengetahui kandungan kimianya, mereka hanya
menggunakannya berdasarkan pengalaman yang ada.
I.2 Maksud Percobaan
Mengetahui dan memahami cara mengekstraksi dan memisahkan
komponen-komponen kimia melalui proses partisi yang terdapat dalam
tumbuhan dengan metode tertentu berdasarkan kepolarannya.
I.3 Tujuan Percobaan
Mengekstraksi dan memisahkan komponen-komponen kimia kayu
secang (Caesalpinia sappan L) berdasarkan tingkat kepolaran dengan
metode ekstraksi cair-padat.
I.4 Prinsip Percobaan
a) Metode Ekstraksi Cair Cair: Partisi ekstrak kayu secang menggunakan
metode ECC, dimana digunakan 2 pelarut yang tidak saling bercampur,
yaitu heksan : air sebesar 3:1 dan butanol jenuh air : air sebesar 3:1,
sehingga diperoleh ekstrak larut air, ekstrak larut heksan, dan ekstrak larut
butanol jenuh air.
b) Metode Ekstraksi Cair Padat: Partisi ekstrak daun keci beling
menggunakan metode ECP, dimana digunakan satu pelarut non polar
yaitu heksan, kemudian sampel di sentrifuge dan diperoleh ektrak larut
heksan dan ekstrak tidak larut heksan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Teori Umum


Partisi merupakan proses pemisahan dimana suatu zat terbagi
dalam dua pelarut yang tidak bercampur. Jika suatu cairan ditambahkan
dalam ekstrak cairan yang lain yang tidak dapat bercampur dengan yang
pertama, akan terbentuk dua lapisan. Satu komponen dari campuran akan
memiliki kelarutan ke dalam dua lapiran tersebut dan setelah beberapa
waktu dicapai kesetimbangan konsentrasi dalam kedua lapisan. Waktu
diperlukan untuk tercapainya keseimbangan biasanya dipersingkat oleh
pencampuran kedua fase tersebut dalam corong pisah (1).
Kerap kali sebagai pelarut pertama adalah air, sedangkan sebagi
pelarut kedua adalah pelarut organik yang tidak bercampur dengan air.
Dengan demikian ion anorganik atau senyawa organik polar sebagian
besar akan terdapat dalam fase air. Sedangkan senyawa organik non
polar sebagian besar akan terdapat dalam fase organik. Hal ini yang
dikatakan like dissolves like yang berarti bahwa senyawa polar akan
mudah larut dalam pelarut polar dan sebaliknya demikian (1).
Pada ekstraksi tidak terjadi pemisahan segera dari bahan-bahan
yang akan diperoleh (ekstrak), melainkan mula-mula hanya terjadi
pengumpulan ekstrak dalam pelarut. Ekstraksi akan lebih menguntungkan
jika dilaksanakan dalam jumlah tahap yang banyak. Setiap tahap
menggunakan pelarut yang sedikit. Kerugiannya adalah konsentrasi

larutan ekstrak makin lama makin rendah, dan jumlah total pelarut yang
dibutuhkan menjadi besar, sehingga untuk mendapatkan pelarut kembali
biayanya menjadi mahal (1,2).
Semakin kecil partikel dari bahan ekstraksi, semakin pendek jalan
yang harus ditempuh pada perpindahan massa dengan cara difusi,
sehingga semakin rendah tahanannya. Pada ekstraksi bahan padat,
tahanan semakin besar jika kapiler-kapiler bahan padat semakin halus
dan jika ekstrak semakin terbungkus di dalam sel (misalnya pada bahanbahan alami)(2).
Ekstraksi dibagi menjadi dua, yaitu: (2,3)
1. Ekstraksi padat-cair
Pada ekstraksi padat-cair, satu atau beberapa komponen yang
dapat larut dipisahkan dari bahan padat dengan bantuan pelarut. Pada
ekstraksi, yaitu ketika bahan ekstraksi dicampur dengan pelarut, maka
pelarut menembus kapiler-kapiler dalam bahan padat dan melarutkan
ekstrak. Larutan ekstrak dengan konsentrasi yang tinggi terbentuk di
bagian dalam bahan ekstraksi. Dengan cara difusi akan terjadi
kesetimbangan konsentrasi antara larutan tersebut dengan larutan di luar
bahan padat. Metode ekstraksi padat-cair menggunakan alat sentrifuge
untuk mempercepat pemisahan campuran ekstrak dengan pelarutnya.
Campuran heterogen terdiri dari senyawa-senyawa dengan berat
jenis

berdekatan

sulit

dipisahkan.

Membiarkan

senyawa

tersebut

terendapkan karena adanya grafitasi berjalan sangat lambat. Beberapa

campuran senyawa yang memiliki sifat seperti ini adalah koloid, seperti
emulsi. Salah satu teknik yang dapat dipergunakan untuk memisahkan
campuran ini adalah teknik sentrifugasi, yaitu metode yang digunakan
dalam untuk mempercepat proses pengendapan dengan memberikan
gaya sentrifugasi pada partikel-partikelnya.
Pemisahan sentrifugal menggunakan prinsip dimana objek diputar
secara horizontal pada jarak tertentu. Apabila objek berotasi di dalam
tabung atau silinder yang berisi campuran cairan dan partikel, maka
campuran tersebut dapat bergerak menuju pusat rotasi, namun hal
tersebut tidak terjadi karena adanya gaya yang berlawanan yang menuju
kearah dinding luar silinder atau tabung, gaya tersebut adalah gaya
sentrifugasi. Gaya inilah yang menyebabkan partikel-partikel menuju
dinding tabung dan terakumulasi membentuk endapan

Pengendapan dengan teknik sentrifugasi

Keuntungan: proses pengerjaannya lebih mudah, pelarut yang


digunakan hanya satu jenis dan bisa dilakukan untuk sampel-sampel
keras, hanya kontinyu digunakan satu kali melewati tahap yang
diekstraksi. Kelemahan: membutuhkan alat yang lebih banyak, jika
menggunakan perkolasi akan lebih banyak pelarut yang digunakan.

Syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk mencapai unjuk kerja


ekstraksi atau kecepatan ekstraksi yang tinggi pada ekstraksi padat-cair,
yaitu:
a) Karena perpindahan massa berlangsung pada bidang kontak antara
fase padat dan fase cair, maka bahan itu perlu sekali memiliki permukaan
yang seluas mungkin.
b) Kecepatan alir pelarut sedapat mungkin besar dibandingkan dengan
laju alir bahan ekstraksi.
c) Suhu yang lebih tinggi (viskositas pelarut lebih rendah, kelarutan
ekstrak lebih besar) pada umumnya menguntungkan unjuk kerja ekstraksi.
2. Ekstraksi cair-cair
Ekstraksi cair-cair adalah proses pemisahan zat terlarut di dalam
dua macam pelarut yang tidak saling bercampur atau dengan kata lain
perbandingan konsentrasi zat terlarut dalam pelarut organik dan pelarut
air.
Ekstraksi cair-cair biasa juga disebut sebagai metode corong pisah.
Jika suatu cairan ditambahkan ke dalam ekstrak yang telah dilarutkan
dalam cairan lain yang tidak dapat bercampur dengan yang pertama, akan
terbentuk dua lapisan. Satu komponen dari campuran akan emmiliki
kelarutan dalam kedua lapisan tersebut (biasanya disebut fase) dan
setelah beberapa waktu dicapai kesetimbangan konsentrasi dalam kedua
lapisan.

Pada ekstraksi cair-cair, satu komponen bahan atau lebih dari


suatu campuran dipisahkan dengan bantuan pelarut. Ekstraksi cair-cair
terutama digunakan, bila pemisahan campuran dengan cara destilasi tidak
mungkin dilakukan (misalnya karena pembentukan azeotrop atau karena
kepekaannya terhadap panas) atau tidak ekonomis. Seperti ekstraksi
padat-cair, ekstraksi cair-cair selalu terdiri dari sedikitnya dua tahap, yaitu
pencampuran secara intensif bahan ekstraksi dengan pelarut dan
pemisahan kedua fase cair itu sesempurna mungkin.
Keuntungan: pelarut yang lebih sedikit akan dapat diperoleh
substansi yang relatif banyak. Kelemahan: tidak dapat digunakan untuk
zat termolabil serta dapat menimbulkan emulsi pada saat pengocokan
yang menyebabkan pemisahan yang tidak jelas antara fase organik dan
fase air.
Dalam ekstraksi cair-cair umumnya digunakan tiga macam pelarut,
pelarut yang bersifat polar, nonpolar hingga semipolar. Pelarut yang
bersifat polar biasa digunakan air, pelarut yang bersifat nonpolar
digunakan heksan dan pelarut yang bersifat semipolar digunakan Butanol
Jenuh Air (BJA).
Cara membuat BJA cukup mudah, n-butanol jenuh dibuat dengan
cara mencampur n-butanol dengan air (4:1) digojog dan dipisahkan
dengan labu pisah/ corong pisah. Lapisan atas merupakan BJA. Pada
saat pengojogkan corong pisah sesekali dibuka untuk menukarkan udara
didalamnya. Setelah itu didiamkan hingga terbentuk larutan yang jenuh,

dimana akan terbentuk dua lapisan, lapisan atas merupakan butanol jenuh
air, sedangkan lapisan bawah merupakan air.
Masalah yang sering dihadapi dalam ekstraksi cair-cair adalah
terbentuknya emulsi pada sistem ekstraksi. Beberapa strategi untuk
memecah emulsi antara lain:
a) Penambahan garam pada fase air
b) Pemanasan atau pendinginan
c) Penyaringan dengan glass wool
d) Penambahan sedikit pelarit organik yang berbeda
e) sentrifuge
Perbedaan ekstraksi cair-cair dan ekstraksi cair-padat:
NO.
1.

2.

Ekstraksi Cair-Cair

Ekstraksi Cair-Padat

satu komponen bahan atau

satu atau beberapa komponen

lebih dari suatu campuran

yang dapat larut dipisahkan dari

dipisahkan dengan bantuan

bahan padat dengan bantuan

pelarut.

pelarut.

zat yang diekstraksi terdapat di Zat yang diekstraksi terdapat di


dalam

campuran

yang dalam campuran yang berbentuk

berbentuk cair.
3.

padatan.

Ekstraksi cair-cair sering juga.

Ekstraksi

disebut ekstraksi pelarut banyak dilakukan


dilakukan

untuk

jenis
di

ini

dalam

banyak
usaha

memisahkan mengisolasi zat berkhasiat yang

zat seperti iod atau logam- terkandung di dalam bahan alam

logam tertentu dalam larutan air. seperti

steroid,

hormon,

antibiotika dan lipida pada bijibijian.


4.

Ekstraksi
untuk

cair-cair

memisahkan

digunakan Ekstraksi padat cair digunakan


senyawa untuk memisahkan analit yang

atas dasar perbedaan kelarutan terdapat

pada

padatan

pada dua jenis pelarut yang menggunakan pelarut organik.


berbeda

yang

tidak

saling

bercampur.

Partisi dilakukan untuk memisahkan senyawa polar dan non polar.


Senyawa polar akan larut pada pelarut polar dan senyawa non polar akan
larut pada pelarut non polar. Koefisien partisi adalah perbandingan
konsentrasi kesetimbangan zat dalam dua pelarut berbeda yang tidak
bercampur,

sedangkan

koefisien

distribusi

adalah

distribusi

kesetimbangan dari analit fase sampel dan fase gas dan kesetimbangan
dari perbandingan kadar zat dalam dua fase. Dimana koefisien partisi mau
pun koefisien distribusi dapat dirumuskan sebagai berikut :

K= C1 / C2
Dimana K adalah koefisien partisi, atau koefisien distribusi, C 1 adalah
pelarut pertama, dan C2 pelarut kedua. Jika K >1 maka zat terlarut lebih
banyak terlarut pada pelarut pertama, jika K < 1 maka zat terlarut lebih

banyak terlarut pada pelarut kedua, dan jika K = 1 maka zat terlarut yang
terlarut dalam kedua pelarut sama banyak.
Istilah-istilah berikut ini umumnya digunakan dalam teknik ekstraksi:
(4)
a) Bahan ekstraksi: Campuran bahan yang akan diekstraksi
b) Pelarut

(media

ekstraksi):

Cairan

yang

digunakan

untuk

melangsungkan ekstraksi
c) Ekstrak: Bahan yang dipisahkan dari bahan ekstraksi
d) Larutan ekstrak: Pelarut setelah proses pengambilan ekstrak
e) Rafinat (residu ekstraksi): Bahan ekstraksi setelah diambil ekstraknya
f) Ekstraktor: Alat ekstraksi
g) Ekstraksi padat-cair: Ekstraksi dari bahan yang padat
h) Ekstraksi cair-cair (ekstraksi dengan pelarut = solvent extraction):
Ekstraksi dari bahan yang cair

10

BAB III
METODE KERJA

III.1 Alat dan Bahan


III.1.1 Alat
Alat-alat yang digunakan adalah batang pengaduk, botol eluen,
botol vial, cawan porselen, , gelas ukur, sendok tanduk, sentrifuge,
stopwatch, tabung reaksi, tabung sentrifuge.
III.1.2 Bahan
Bahan-bahan yang digunakan adalah, aluminium foil, ekstrak
(Caesalpinia sappan L) ,etil asetat, label, tissue roll.
III.2 Cara Kerja
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Dimasukkan 2 gram ekstrak kering ke dalam tabung sentrifuge
3. Dilarutkan dengan etil asetat
4. Disentrifuge dengan kecepatan 3600 rpm selama 15 menit.
5. Dipipet filtratnya dan disimpan dalam cawan porselin kemudian
residunya dilarutkan lagi dalam etil asetat.
6. Disentrifuge kembali dengan kecepatan 3600 rpm selama 15 menit.
7. Dilakukan hal yang sama sampai filtrat etil esetat menjadi bening.
8. Disimpan ekstrak tidak larut dalam cawan porselin.
9. Diuapkan asing-masing pelarut dan disimpan sisa ekstraknya.

11

BAB IV
HASIL PENGAMATAN

IV.1 Tabel Pengamatan


Partisi Metode Ekstraksi Cair-Padat
Pengamatan

Bobot

Bobot awal ekstrak

2 gram

Fraksi larut etil asetat

1,34 gram

% rendamen fraksi larut etil asetat

7,9 %

Fraksi tidak larut etil asetat

0,46 gram

% rendamen fraksi tidak larut etil asetat

6,30 %

IV.2 Perhitungan
1. Fraksi larut etil asetat (sebelum diuapkan 16,8 gram)

2. Fraksi tidak larutcetil asetat (sebelum diuapkan 7,3 gram)

12

IV.3 Gambar Pengamatan


Laboratorium Farmakognosi-Fitokimia
Fakultas Farmasi
Universitas Hasanuddin

Laboratorium Farmakognosi-Fitokimia
Fakultas Farmasi
Universitas Hasanuddin

Ekstrak Larut Etil Asetat

Ekstrak Tidak Larut Etil Asetat

Laboratorium Farmakognosi-Fitokimia
Fakultas Farmasi
Universitas Hasanuddin

Laboratorium Farmakognosi-Fitokimia
Fakultas Farmasi
Universitas Hasanuddin

Ekstrak Awal

Proses Sentrifuge

13

14

BAB V
PEMBAHASAN

Partisi merupakan proses pemisahan dimana suatu zat terbagi


dalam dua pelarut yang tidak bercampur. Pemisahan terjadi atas dasar
kemampuan larut yang berbeda dari komponen-komponen dalam
campuran.
Pada percobaan ini dilakukan partisi ekstraksi cair-padat pada
sampel ekstrak kayu secang (Sappan lignum)

berdasarkan tingkat

kepolaran senyawa yang dikandungnya dengan menggunakan pelarut etil


asetat. Pertama-tama ditimbang ekstrak kayu secang sebanyak 2 gramn
kemudian dilarutkan menggunakan pelarut etil asetat. Setelah itu
dimasukkan

kedalam

tabung

sentrifuge

dan

disentrifuge

dengan

kecepatan 3600 rpm selama 15 menit hingga terpisah lapisan filtrate dan
residuya. Kemudian bagian filtrate dipipet dan diuapkan di cawan porselin
sedangkan bagian residunya dilarutkan kembali salam pelarut etil asetat
dan disentrifuge kembali. Hal ini terus menerus dilakukan hingga pelarut
benar-benar bening dan tidak dapat lagi melarutkan residu agar senyawa
yang dapat larut benar-benar terpisah secara optimal dengan senyawa
yang tidak dapat larut dalam etil asetat.
Metode ekstraksi lainnya adalah ekstraksi cair-cair. Biasanya pada
metode ini diperlukan beberapa pelarut dengan konstanta dielektrik yang
berbeda yaitu heksan, air, dan butanol jenuh air. Heksan merupakan
pelarut yang tidak lebih polar dibandingkan butanol jenuh air sedangkan

15

butanol jenuh air masih lebih kurang kepolarannya dibandingkan air.


Ketiga sifat kepolaran yang berbeda ini akan mendasari pemisahan
berbagai senyawa yang terdapat dalam sampel.
Prosedur pengerjaan dilakukan dengan cara melarutkan ekstrak
terlebih dahulu dalam heksan dan air (3:1) kemudian bagian heksan
dipisahkan dan diupkan sedangkan bagian air ditambahkan dengan
butanol jenuh air berulang sebanyak tiga kali untuk setiap pelarut. Hal ini
dilakukan untuk memastikan bahwa senyawa-senyawa yang terdapat
pada sampel yang memiliki kepolaran sama dengan pelarut akan optimal
terlarut oleh pelarut.
Pada ekstraksi cair-cair pelarut non polar terlebih dahulu
digunakan untuk melarutkan ekstrak karena pelarut non polar hanya dapat
melarutkan senyawa non polar sedangkan pelarut polar dapat menarik
senyawa non polar dan senyawa polar sehingga jika senyawa polar
terlebih dahulu digunakan untuk melarutkan ekstrak maka pemisahan
tidak berlangsung secara optimal karena senyawa non polar telah larut ke
dalam senyawa polar. Hasil dari ekstraksi cair-cair

diperoleh tiga

golongan senyawa yang berbeda tingkat kepolarannya. Ketiganya adalah


golongan senyawa yang dapat larut di heksan, golongan yang terlarut di
butanol jenuh air, dan golongan senyawa yang terlarut di air.
Biasanya pada ECC digunakan butanol jenuh air sebagai pelarut
polar yang akan melarutkan senyawa-senyawa polar dalam ekstrak.
Pelarut lain dapat digunakan untuk menggantikan BJA selama pelarut

16

tersebut merupakan pelarut yang tidak bercampur dengan air maupun


heksan, contohnya kloroform dan karbon tetraklorida.
Dalam pengerjaan ECC sering tidak terlihat batas pemisahan
antara masing-masing ekstrak. Untuk mengatasi hal tersebut, maka
ditambahkan air ke dalam tabung reaksi dan ditandai batas dimana air
yang ditambahkan tidak lagi mengalir. Kemudian ekstrak larut heksan atau
BJA dipipet sampai batas yang sudah ditandai. Apabila hal ini tidak
berhasil, maka pelarut yang digunakan dapat diganti dengan pelarut lain
yang kepolarannya juga berbeda.
Hal lain yang sering terjadi dalam ekstraksi adalah munculnya lebih
dari 2 lapisan ekstrak. Hal-hal yang mungkin mengakibatkan munculnya
lebih dari dua lapisan, antara lain:
a) Di dalam ekstrak terdapat senyawa saponin
b) Terdapat senyawa yang tidak larut
c) Adanya serbuk simplisia yang ikut dalam ekstrak.
Terjadinya emulsi merupakan hal yang paling sering dijumpai. Oleh
karena itu jika emulsi antara kedua fase ini tidak dirusak maka recovery
yang diperoleh kurang bagus. Emulsi dapat dipecah dengan beberapa
cara, yaitu :
a) Penambahan garam ke dalam fase air
b) Pemanasan atau pendinginan corong pisah yang digunakan
c) Penyaringan melalui glass-wool
d) Penyaringan dengan menggunakan kertas saring

17

e) Penambahan sedikit pelarut organik yang berbeda


f) Sentrifugasi
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam partisi, antara lain :
a) Tingkat kepolaran pelarut yang digunakan sebaiknya yang berbeda
b) Perbandingan pelarut yang digunakan
c) Metode partisi yang dipilih untuk digunakan
d) Cara memisahkan ekstrak larut heksan dengan ekstrak larut air dan
BJA
e) Kualitas pelarut heksan maupun BJA
f) Peralatan yang digunakan harus bersih
Metode ekstraksi cair-padat dipilih untuk partisi pada kayu secang
(Caesalpinia sappan L.) karena beberapa alasan yakni :keuntungan ECP
adalah pelarut yang digunakan hanya satu jeni sehingga lebih murah.
Namun, komponen senyawa berdasarkan bobot jenis yang sama akan
iktu terpartisi ketika disentrifuge. Sedangkan keuntungan ECC adalah
akan mendapatkan hasil partisi senyawa lebih banyak dan spesifik
menurut kepolarannya. Namun, pelarut yang digunakan lebih banyak
sehingga cukup sulit untuk menekan harganya serta membutuhkan waktu
yang lebih lama.
Hasil yang diperoleh pada praktikum partisi ekstrak etanol kayu
secang dengan menggunakan metode ECP adalah bobot fraksi larut etil
asetat sebanyak 1,34 gram (7,9 %) dan bobot fraksi tidak larut etil asetat
sebanyak 0,46 gram (6,30 %).

18

Cara mengatasi kesalahan dalam partisi adalah:


1. Adanya kesalahan pada saat pengocokan yang menyebabkan adanya
cairan yang keluar dan distribusi terhambat, sehingga berpengaruh pada
jumlah volume larutan yang akan bereaksi. Cara mengatasinya adalah
agar pada saat pengocokan tidak perlu terlalu kuat dan tidak perlu terlalu
lama karena kemungkinan larutan sampel yang ada di dalam tabung akan
keluar sehingga dapat mengurangi volume larutan sebelumnya.
2. Terjadinya kesalahan pada saat pengenceran sehingga kemungkinan
larutan tidak tepat pada batas yang tepat. Cara mengatasinya adalah
sebelu melakukan proses pengenceran, seorang praktikan sudah harus
mengerti berapa larutan yang awalnya akan di masukkan untuk
melarutkan sampel sehingga kemungkinan terjadinya kesalahan dalam
pengenceran dapat diminimalisir.
3. Kemungkinan terjadi kesalahan pada saat memipet larutan ekstrak.
Cara mengatasinya adalah jangan terlalu terburu-buru untuk memipet
larutan agar larutan yang larut heksan tidak tercampur dengan larutan
yang tidak larut heksan ataupun sebaliknya.

19

BAB VI
PENUTUP

VI.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil percobaan partisi ekstrak etanol kayu secang
dengan menggunakan metode ECP dapat disimpulkan bahwa diperoleh
bobot fraksi larut etil asetat sebanyak 1,34 gram (7,9 %) dan bobot fraksi
tidak larut etil asetat sebanyak 0,46 gram (6,30 %)
VI.2 Saran
Diharapkan agar dapat melengkapi alat-alat di laboratorium
sehingga pelaksanaan praktikum dapat berjalan dengan efisien dan
efektif.

20

DAFTAR PUSTAKA

1.

Sudjadi, (1994), Metode Pemisahan, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

2.

Wibawa, Indra, dan Dwi Sukma. 2012. Ekstraksi Cair-Cair dan CairPadat

(www.scribd.com/2012/01/ekstraksi-cair-cair-tkim-

uila.pdf)
3.

Cantika,

Ainun

Amalia.

2009.

Metode

Partisi

(www.scribd.com/doc/184752189/Partisi-UNA)
4.

Khamidinal. 2009. Teknik Laboratorium Kimia. Yogyakarta: Pustaka


Pelajar

21

LAMPIRAN
SKEMA KERJA

Ekstraksi Cair-Cair
Ekstrak Kering

+Heksan (3ml)

+ Air (1ml)

+Heksan (3ml)

+ Air (1ml)

Tampung
+Heksan

+ Air (1ml)

Air (1ml)

+BJA (3ml)

+ Air (1ml)

+ BJA (3ml)

+ Air (1ml)

Tampung
BJA

Air (1ml)

22

Ekstraksi Cair-Padat
2 gram ekstrak + 15 ml heksan

Sentrifuge 15 menit
terbentuk
Filtrate + residu

Uapkan

Filtrat

Residu

+10 ml heksan

23

DAFTAR BOBOT JENIS PELARUT


Liquid
1,1,2Trichlorotrifluoroethane
1,2,4-Trichlorobenzene
1,4-Dioxane
2-Methoxyethanol
Acetic Acid
Acetone
Acetonitrile
Alcohol, ethyl
Alcohol, methyl
Alcohol, propyl
Ammonia (aqua)
Analine
Automobile oils
Beer (varies)
Benzene
Benzil
Brine
Bromine
Butyric Acid
Butane
n-Butyl Acetate
n-Butyl Alcohol
n-Butyl Chloride
Caproic acid
Carbolic acid
Carbon disulfide
Carbon tetrachloride
Carene
Castor oil
Chloride
Chlorobenzene
Chloroform
Chloroform
Citric acid
Coconut oil
Cotton seed oil
Cresol
Creosote
Crude oil, 48 API
Crude oil, 40 API
Crude oil, 35.6 API
Crude oil, 32.6 API
Crude oil, California
Crude oil, Mexican
Crude oil, Texas
Cumene
Cyclohexane
Cyclopentane
Decane
Diesel fuel oil 20 to 60
Diethyl ether
o-Dichlorobenzene
Dichloromethane
Diethylene glycol

Temp

kg/cu.m

25 C

1564.00

20 C
20 C
20 C
25 C
25 C
20 C
25 C
25 C
25 C
25 C
25 C
15 C
10 C
25 C
25 C
15 C
25 C
20 C
25 C
20 C
20 C
20 C
25 C
15 C
25 C
25 C
25 C
25 C
25 C
20 C
20 C
25 C
25 C
15 C
15 C
25 C
15 C
60 F
60 F
60 F
60 F
60 F
60 F
60 F
25 C
20 C
20 C
25 C
15 C
20 C
20 C
20 C
15 C

1454.00
1033.60
964.60
1049.10
784.58
782.20
785.06
786.51
799.96
823.35
1018.93
880 - 940

1010
873.81
1079.64
1230
3120.40
959
599.09
879.60
809.70
886.20
921.06
956.30
1260.97
1584.39
856.99
956.14
1559.88
1105.80
1489.20
1464.73
1659.51
924.27
925.87
1023.58
1066.83
790
825
847
862
915
973
873
860.19
778.50
745.40
726.28
820 - 950

714
1305.80
1326.00
1120

Dichloromethane
Dimethyl Acetamide
N,N-Dimethylformamide
Dimethyl Sulfoxide
Dodecane
Ethane
Ether
Ethylamine
Ethyl Acetate
Ethyl Alcohol
Ethyl Ether
Ethylene Dichloride
Ethylene glycol
Fluorine refrigerant R-12
Formaldehyde
Formic acid 10%
concentration
Formic acid 80%
concentration
Freon 11
Freon 21
Fuel oil
Furan
Furforol
Gasoline, natural
Gasoline, Vehicle
Gas oils

20 C
20 C
20 C
20 C
25 C
-89 C
25 C
16 C
20 C
20 C
20 C
20 C
25 C
25 C
45 C

1326.00
941.50
948.70
1100.40
754.63
570.26
72.72
680.78
900.60
789.20
713.30
1253.00
1096.78
1310.95
812.14

20 C

1025

20 C

1221

21 C
21 C
60 F
25 C
25 C
60 F
60 F
60 F

1490
1370
890.13
1416.03
1154.93
711.22
737.22
890

Glucose

60 F

1350 1440

Glycerin
Glyme
Glycerol
Heptane
Hexane
Hexanol
Hexene
Hydrazine
Iodine
Ionene
Isobutyl Alcohol
Iso-Octane
Isopropyl Alcohol
Isopropyl Myristate
Kerosene
Linolenic Acid
Linseed oil
Methane
Methanol
Methyl Isoamyl Ketone
Methyl Isobutyl Ketone
Methyl n-Propyl Ketone
Methyl t-Butyl Ether
N-Methylpyrrolidone
Methyl Ethyl Ketone
(MEK)

25 C
20 C
25 C
25 C
25 C
25 C
25 C
25 C
25 C
25 C
20 C
20 C
20 C
20 C
60 F
25 C
25 C
-164 C
20 C
20 C
20 C
20 C
20 C
20 C

1259.37
869.10
1126.10
679.50
654.83
810.53
671.17
794.52
4927.28
932.27
801.60
691.90
785.40
853.20
817.15
898.64
929.07
464.54
791.30
888.00
800.80
808.20
740.50
1030.40

20 C

804.90

24

MEK

25 C

Milk

15 C

Naphtha
Naphtha, wood
Napthalene
Ocimene
Octane
Olive oil
Oxygen (liquid)
Palmitic Acid
Pentane
Pentane
Petroleum Ether
Petrol, natural
Petrol, Vehicle
Phenol
Phosgene
Phytadiene
Pinene
Propane
Propane, R-290
Propanol
Propylene Carbonate
Propylene
n-Propyl Alcohol
Propylene glycol
Pyridine
Pyrrole
Rape seed oil
Resorcinol
Rosin oil
Sabiname
Sea water
Silane
Sodium Hydroxide
(caustic soda)
Sorbaldehyde
Soya bean oil
Stearic Acid
Sulphuric Acid 95%
conc.
Sugar solution 68 brix
Sunflower oil
Styrene
Terpinene
Tetrahydrofuran
Toluene
Toluene
Triethylamine
Trifluoroacetic Acid
Turpentine
Water, pure
Water, sea
Whale oil
o-Xylene

15 C
25 C
25 C
25 C
15 C
20 C

802.52
1020 1050
664.77
959.51
820.15
797.72
917.86
800 - 920

25 C
20 C
25 C
20 C
60 F
60 F
25 C
0C
25 C
25 C
-40 C
25 C
25 C
20 C
25 C
20 C
25 C
25 C
25 C
20 C
25 C
15 C
25 C
25 C
25 C

1140
850.58
626.20
624.82
640.00
711.22
737.22
1072.28
1377.59
823.35
856.99
583.07
493.53
804.13
1200.60
514.35
803.70
965.27
978.73
965.91
920
1268.66
980
812.14
1025.18
717.63

15 C

1250

25 C
15 C
25 C

924 - 928

20 C

1839

15 C
20 C
25 C
25 C
20 C
20 C
25 C
20 C
20 C
25 C
4C
77 F
15 C
20 C

1338
920
903.44
847.38
888.00
866.90
862.27
727.60
1489.00
868.20
1000.00
1021.98
925
880.20

-183 C

895.43
890.63