Anda di halaman 1dari 31

1

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Sejak zaman dahulu, tanaman sering digunakan sebagai obat.
Pada waktu itu orang belummengolahnya secara sempurna seperti pada
zaman sekarang ini. Pada saat itu orang hanya tahu suatu khasiat
tanaman berdasarkan dari cerita orang yang lebih tua seperti ibu ke
anaknya. Suatu tanaman obat sering mempunyai khasiat yang berbeda
dari tiap daerah.
Pada zaman sekarang ini orang kembali lagi menggeluti bahan
alam sebagai bahan penting dalam membuat obat. Para ahli sekarang ini
telah memulai meneliti kembali tanaman obat untuk mengetahui khasiat
yang lebih mendalam dari tanaman tersebut.
Di daerah-daerah pedalaman, banyak masyarakat yang masih
menggunakan tumbuh-tumbuhan yang mereka anggap mempunyai
khasiat untuk pengobatan beberapa penyakit tertentu, tanpa pengetahuan
dasar. Ada beebrapa kasus dimana masyarakat menggunakan suatu obat
yang ternyata setelah diketahui zat aktifnya melalui ekstraksi dan
identifikasi komponen kimia ternyata memberikan efek yang berlawanan.
Hal inu tentunya membahayakan bagi jiwa manusia.
Dari alasan tersebut diatas maka dianggap perlu pengetahuan
yang cukup untuk mengenal berbagai macam tumbuhan yang berkhasiat
obat mulai dari morfologi, kegunaan, prinsip-prinsip ekstraksi, isolasi dan

identifikasi komponen kimia yang terdapat dalam suatu simplisia


khususnya bagi seorang farmasis.
I.2 Maksud Percobaan
Untuk mengetahui dan memahami prinsip kerja dari metode
ekstraksi sampel kayu secang (Caesalpinia sappan L).
I.1.2 Tujuan Percobaan
Untuk mengekstraksi komponen kimia yang terdapat dalam sampel
kayu secang (Caesalpinia sappan L) secara maserasi.
I.2 Prinsip Percobaan
Penyarian komponen kimia dengan cara merendam sampel dalam
cairan penyari dimana penyari akan menembus dinding sel dan akan
masuk kedalam rongga sel yang mengandung zat aktif yang disebut
proses difusi. Zat aktif akan larut hal ini disebabkan karena perbedaan
konsentrasi antara larutan diluar sel dan di dalam sel, maka larutan yang
pekat akan terdesak keluar sehingga terjadi osmosis.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Teori Umum


II.1.1 Pengertian Ekstraksi dan Ekstrak
Ekstraksi adalah proses pemisahan secara kimia dan fisika
kandungan zat simplisia menggunakan pelarut yang sesuai. Hal-hal yang
penting diperhatikan dalam melakukan ekstrasi yaitu pemilihan pelarut
yang sesuai dengan sifat-sifat polaritas senyawa yang ingin diekstraksi
ataupun sesuai dengan sifat kepolaran kandungan kimia yang diduga
dimiliki simplisia tersebut, hal lain yang perlu diperhatikan adalah ukuran
simplisia harus diperkecil dengan cara perajangan untuk memperluas
sudut kontak pelarut dan simplisia, tapi jangan terlalu halus karena
dikhawatirkan menyumbat pori-pori saringan menyebabkan sulit dan
lamanya poses ekstraksi (1).
Ekstrak adalah sediaan pekat yang diperoleh dengan mengektraksi
zat aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut
yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan
massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian rupa hingga
memenuhi standar baku yang ditetapkan. Proses ekstraksi bahan atau
bahan obat alami dapat dilakukan berdasarkan teori tentang penyarian.
Penyarian merupakan peristiwa pemindahan massa. Zat aktif yang
semula berada di dalam sel, ditarik oleh cairan penyari sehingga terjadi
larutan zat aktif dalam cairan penyari tersebut (2).

Penyarian adalah kegiatan penarikan zat yang dapat larut dari


bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair. Secara umum terdapat
empat tujuan ekstraksi yaitu (1):
1. Senyawa kimia telah diketahui identitasnya untuk diekstraksi dari
organisme.

Dalam kasus ini prosedur yang telah dipublikasikan dapat

diikuti dan modifikasi yang sesuai untuk mengembangkan proses atau


menyesuaikannya dengan kebutuhan pemakai.
2. Bahan diperiksa untuk menemukan kelompok senyawa kimia tertentu,
misalnya

alkaloid, flavanoid atau saponin, meskipun struktur kimia

sebetulnya dari senyawa ini, bahkan keberadaannya belum diketahui.


Dalam situasi seperti ini, metode umum yang digunakan untuk senyawa
kimia yang dapat diperoleh dari pustaka. Hal ini diikuti dengan uji kimia
atau kromatografi yang sesuai untuk kelompok senyawa kimia tersebut.
3. Organisme (tanaman atau hewan) digunakan dalam pengobatan
tradisional dan biasanya dibuat dengan berbagai cara, misalnya
Tradisional Chinese Medicine (TCM) seringkali membutuhkan herba yang
dididihkan dalam air dan dekok dalam air untuk diberikan sebagai obat.
Sifat senyawa yang diisolasi belum ditentukan sebelumnya dengan
cara apapun. Situasi ini

(utamanya dalam program skrinning) dapat

timbul jika tujuannya adalah untuk menguji organisme, baik yang dipilih
secara acak atau didasarkan pada penggunaan tradisional untuk
mengetahui adanya senyawa dengan aktivitas biologi khusus. Oleh
karena itu pemilihan metode ekstraksi yang sesuai untuk bioassay dan

juga untuk mengekstraksi sebanyak mungkin tipe senyawa kimia. Secara


umum hal ini dicapai dengan serangkaian pelarut, tetapi jumlah pelarut
yang digunakan harus dibatasi oleh skala program skrinning. Jika hanya
ada sedikit sampel yang diuji, dapat dibuat berbagai ekstrak dari sampel,
sedangkan dalam program skrinning skala besar yang mencakup ribuan
organisme
Proses yang terjadi selama proses ekstraksi:
1. Pembilasan senyawa-senyawa dalam simplisia keluar dari simplisia
2. Melarutnya kandungan senyawa kimia oleh pelarut keluar dari sel
tanaman melalui proses difusi dengan 3 tahapan (4):
a) penentrasi

pelarut

kedalam

sel

tanaman

sehingga

terjadi

pengembangan (swelling) sel tanaman.


b) proses disolusi yaitu melarutnya kandungan senyawa didalam pelarut.
c) difusi dari senyawa tanaman, keluar dari sel tanaman (simplisia).
Pertimbangan pemilihan metode ekstraksi didasarkan pada:
1. Bentuk/tekstur bahan yang digunakan
2. Kandungan air dari bahan yang diekstrasi
3. Jenis senyawa yang akan diekstraksi
4. Sifat senyawa yang akan diekstraksi (4).
II.1.2 Kriteria Pelarut
Kriteria pelarut / syarat-syarat pelarut, yaitu (3):

a) Selektif, dapat melarutkan semua zat wangi dengan cepat, sempurna,


dan sedikit mungkin melarutkan bahan lain (lilin, pigmen,senyawa
albumin).
b) Mempunyai titik didih yang rendah dan seragam.
c) Tidak larut dalam air.
d) Bersifat inert dan tidak mudah terbakar
e) Harga pelarut murah.
Macam-macam Pelarut
a. Pelarut Non Polar
Jenis pelarut non polar dapat dilihat pada tabel 1
Tabel 1 Pelarut Non Polar
Pelarut

Rumus kimia

Titik Didih

Konst.

Dielektrik
Heksana

C6H14

690C

2,0

0,655 g/mL

Kloroform

CHCL3

610C

4,8

1,498 g/mL

Toluena

C6H5-CH3

1110C

2,4

0,867 g/mL

b. Pelarut Polar Aprotik


Jenis pelarut polar aprotik dapat dilihat pada tabel 2
Tabel 2 Pelarut Polar Aprotik
Pelarut

Rumus Kimia

Titik

Konst.

Didih

Dielektrik

Diklorometana

CH2Cl2

400C

9,1

1,326 g/mL

Dimetil

CH5-5(=O)-

1890C

4,7

1,096 g/mL

sulfoksid

CH3

c. Pelarut Polar
Jenis pelarut polar terdapat pada tabel 3

Tabel 3 Pelarut Polar


Pelarut

Rumus Kimia

Titik

Konst.

Didih

Dielektrik

As. Asetat

CH3COOH

1180C

6,2

1,049 g/mL

Etanol

CH3-CH2-OH

790C

30

0,789 g/mL

Metanol

CH3-OH

650C

33

0,791 g/mL

Air

H-O-H

1000C

80

1,000 g/mL

Pada saat proses ekstraksi dapat juga digunakan pelarut universal


seperti

metanol

atau

etanol

hal

ini

dikarenakan

metanol

atau

etanolmerupakan pelarut yang baik untuk digunakan dalam suatu sampel


tanaman yang belum diketahui apakah zat aktif tersebut bersifat polar
ataupun non polar jadi digunakan metanol atau etanol yang bisa menarik
senyawa polar dan non polar.
II.1.3 Metode Metode Ekstraksi
Pemilihan metode ekstraksi tergantung bahan yang digunakan,
bahan yang mengandung mucilago dan bersifat mengembang kuat hanya
boleh dengan cara maserasi. sedangkan kulit dan akar sebaiknya di
perkolasi. untuk bahan yang tahan panas sebaiknya diekstrasi dengan
cara refluks sedangkan simplisia yang mudah rusak karna pemanasan
dapat diekstrasi dengan metode soxhlet.
A. Hal Yang Penting Diperhatikan Dalam Ekstraksi
Pada umumnya untuk menghindari reaksi enzimatik dan hidrolisis,
maka dilakukan perendaman simplisia dalam alkohol yang mendidih untuk

mematikan jaringan simplisia. Alkohol secara umum sangat baik untuk


proses ekstraksi awal simplisia.
Proses

ekstraksi

dalam

simplisia berdasarkan

prinsip

kesetimbangan konsentrasi, apabila konsentrasi antara pelarut dan


simplisia telah setimbang maka pelarut akan jenuh dan tidak bisa menarik
kandungan kimia dalam simplisia oleh sebab itu dilakukan penambahan
pelarut baru dalam metode ekstrasi jenis tertentu.
Ekstrasi pada simplisia jaringan hijau (berklorofil), bila diekstraksi
ulang warna hijau hilang sempurna, maka diasumsikan seluruh klorofil &
senyawa yang berbobot rendah lainnya sudah terekstraksi seluruhnya.
Pertimbangan pemilihan metode ekstraksi didasarkan pada:
a) bentuk/tekstur bahan yang digunakan
b) kandungan air dari bahan yang diekstrasi
c) jenis senyawa yang akan diekstraksi
d) sifat senyawa yang akan diekstraksi
Pemilihan metode ekstraksi tergantung bahan yang digunakan,
bahan yang mengandung mucilago dan bersifat mengembang kuat hanya
boleh dengancara maserasi. sedangkan kulit dan akar sebaiknya
di perkolasi. untuk bahan yang tahan panas sebaiknya diekstrasi dengan
cara refluks sedangkan simplisia yang mudah rusak karna pemanasan
dapat diekstrasi dengan metode soxhlet.

B. Faktor Yang mempengaruhi Kesetimbangan Konsentrasi Dalam


Ekstraksi:
1. Perbandingan jumlah simplisia dan pelarut
2. Proses difusi sel yang utuh
3. Lama perendaman dan pengembangan simplisia
4. Kecepatan proses disolusi simplisia yang terintegrasi
5. Kecepatan terjadinya kesetimbangan
6. Suhu dan pH interaksi senyawa terlarut dan tidak larut
7. tingkat lipopilitas (kepolaran) (3).
C. Macam-macam Metode Ekstrasi
Terdapat banyak metode ekstraksi. Namun secara ringkas dapat
dibagi berdasarkan penggunaan suhu sehingga ada metode ekstraksi
dengan cara panas, serta dingin. Metode panas digunakan jika senyawasenyawa yang terkandung sudah dipastikan tahan panas.
Metode ekstraksi yang membutuhkan panas antara lain (1):
1) Dekok
Ekstraksi dilakukan dengan solven air pada suhu 90-95C selama 30
menit.
Gambar : Alat Dekok

2) Infus
Hampir sama dengan dekok, namun dilakukan selama 15 menit.

Gambar : Alat Infus

10

3) Refluks
Dilakukan dengan menggunakan alat destilasi, dengan merendam
simplisia dengan pelarut/solven dan memanaskannya hingga suhu
tertentu. Pelarut yang menguap sebagian akan mengembung kembali
kemudian masuk ke dalam campuran simplisia kembali, dan sebagian ada
yang menguap.

Merupakan ekstraksi dengan pelarut yang dilakukan pada titik didih


pelarut tersebut, selama waktu tertentu dan sejumlah palarut tertentu
tertentu dengan adanya pendinginan balik (kondensor). Umumnya
dilakukan tiga kali sampai lima kali pengulangan proses pada residu
pertama agar proses ekstraksinya sempurna.
Keuntungan: digunakan untuk mengekstraksi sampel-sampel yang
memiliki tekstur kasar. Kerugian: butuh volume total pelarut yang besar
dan sejumlah manipulasi operator.
Prosedur :
Bahan + pelarut -> dipanaskan -> pelarut menguap -> pelarut yang
menguap didinginkan oleh kondensor -> jatuh lagi -> menguap lagi karena
panas -> dan seterusnya. Proses ini umumnya dilakukan selama 1 jam.

11

4) Soxhletasi
Mirip dengan refluks, namun menggunakan alat khusus yaitu
esktraktor Soxhlet. Suhu yang digunakan lebih rendah dibandingkan
dengan refluks. Metode ini lebih hemat dalam hal pelarut yang digunakan.
Proses ekstraksi dimana sampel yang akan diekstraksi ditempatkan
dalam suatu timbel yang permeabel terhadap pelarut dan diletakkan di
atas tabung destilasi, dididihkan dan dikondensaasikan di atas sampel.

Kondesat akan jatuh ke dalam timbel dan merendam sampel dan


diakumulasi sekeliling timbel. Setelah sampai batas tertentu, pelarut akan
kembali masuk ke dalam tabung destilasi secara otomastis. Proses ini
berulang terus dengan sendirinya di dalam alat terutama dalam peralatan
Soxhlet yang digunakan untuk ekstraksi lipida. Sampel yang bisa diperiksa
meliputi pemeriksaan lemak, trigliserida, kolesterol.
Keuntungan: dapat digunakan untuk sampel dengan tekstur yang
lunakdan tidak tahan terhadap pemanasan secara langsung, digunakan
pelarut yang lebih sedikit dan pemanasannya dapat diatur. Kerugian:
karena pelarut didaur ulang, maka ekstrak yang terkumpul pada wadah
disebelah

bawah

terus

menerus

dipanaskan

sehingga

dapat

12

menyebabkan reaksi peruraian oleh panas. Bila dilarutkan dalam skala


besar, mungkin tidak cocok untuk menggunakan pelarut dengan titik didih
yang terlalu tinggi, jumlah total senyawa yang diekstraksi akan melampaui
kelarutannya dalam pelarut tertentu sehingga dapat mengendap dalam
wadah dan membutuhkan volume pelarutyang lebih banyak untyk
melarutkannya.
5) Coque
Penyarian dengan cara menggodok simplisia menggunakan api
langsung. Hasil godokan setelah mendidih dimanfaatkan sebagai obat
secara keseluruhan (termasuk ampas) atau hanya digunakan hasil
godokannya saja tanpa menggunakan ampasnya.
6) Seduhan
Dilakukan dengan menggunakan air mendidih, simplisia direndam
dengan menggunakan air panas selama waktu tertentu (5-10 menit)
seperti halnya membuat teh seduhan.
7) Destilasi Uap Air
Destilasi adalah suatu proses yang bertujuan untuk memisahkan
suatu substansi yang mudah menguap dari substansi yang lain yang
relatif tidak mudah menguap. Proses destilasi terdiri dari tiga tahap, yaitu:
1. Mengubah substansi dalam bentuk uapnya
2. Memindahkan uap yang telah terbentuk
3. Mengkodensasikan uap yang terbentuk menjadi cairannya kembali.

13

Semua

zat

cenderung

untuk

melepaskan

molekulnya

dari

permukaan untuk menjadi bentuk uapnya. Kemampuan untuk melepaskan


molekul ini tergantung kepada tenaga kohesi dari senyawa yang
bersangkutan. Makin besar tenaga ini makin kecil kemampuan senyawa
tersebut untuk dapat melepaskan molekul dari permukaannya.
Apabila suatu cairan diletakkan dalam suatu wadah yang tertutup
(diisi tidak penuh), maka cairan tersebut melepaskan molekul-molekulnya
ke dalam ruangan yang ada di atasnya. Pada suatu saat jumlah molekul
yang meninggalkan permukaan cairan besarnya sama dengan jumlah
molekul yang kembali ke permukaan cairan. Dalam keadaan ini ruangan
tersebut dikatakan telah jenuh dengan uap dari cairan. Tekanan uap
dalam ruangan tersebut di katakan sebagai tekanan uap dari cairan yang
bersangkutan pada temperatur pengamatan.
Berdasarkan proses kerjanya penyulingan dapat digolngkan
menjadi 3 cara yaitu :
1) Penyulingan dengan air: Prinsip kerjanya adalah penyulingan diisi air
sampai volumenya hampir separuh, lalu dipanaskan. Sebelum air
mendidih sampel dimasukkan ke dalam ketel penyulingan, sehingga air
dan minyak atsiri menguap secra bersamaan ke dalam kondensor
pendingin dan mengalami pengembunan dan mencair kembali yang
selanjutrnya dilairkan ke alat pemisah yang akan memisahkan minyak
atsiri dari air.

14

2) Penyulingan dengan air dan uap: Prinsip kerjanya adalah penyulingan


diisi air sampai pada batas saringan. Sampel diletakkan di atas saringan,
sehingga sampel tidak berhubungan langsung dengan air mendidih akan
tetapi akan berhubungan dengan uap air di mana air yang menguap akan
membawa partikel minyak atsiri dan dialirkan melalui pipa ke kondensor
sehingga terjadi pengembunan dan uap air bercampur minyak atsiri
tersebut akan mencair kembali dan selanjutnya dialirkan ke alat pemisah
untuk memisahkan minyak atsiri dan air.
3) Penyulingan dengan uap: Prinsip kerjanya

pada dasarnya sama

dengan uap ketel dan ketel penyulingan terpisah. Ketel uap yang berisi air
dipanaskan, lalu uapnya dilairkan ke ketel penyulingan yang berisi
sampel, sehingga partikel-partikel minyak atsiri pada sampel akan terbawa
bersama uap menuju kondensor selanjutnya diembunkan kemudian
mencair dan mengalir ke alat pemisah yang akan memisahkan minyak
atsiri dari air .

Metode ekstraksi cara


dingin sebagai berikut:
Metode ini artinya
tidak

ada

pemanasan

proses
selama

15

proses ekstraksi berlangsung, tujuannya untuk menghindari rusaknya


senyawa yang dimaksud akibat proses pemanasan. Ekstraksi dingin
antara lain (2) :
1) MASERASI
Merupakan proses ekstraksi menggunakan pelarut diam atau
dengan pengocokan pada suhu ruangan. Pada dasarnya metode ini
dengan cara merendam sampel dengan sekali-kali dilakukan pengocokan.
Pengocokan dapat dilakukan dengan menggunakan alat rotary shaker
dengan kecepatan sekitar 150 rpm. Umumnya perendaman dilakukan 24
jam dan selanjutnya pelarut diganti dengan pelarut baru. Namun dari
beberapa penelitian melakukan perendama hingga 72 jam.
Selama

proses

perendaman,

cairan akan menembus dinding sel dan


masuk

ke

dalam

rongga

sel

yang

mengandung zat aktif. Kemudian zat aktif


akan larut dan karena adanya perbedaan
konsentrasi antara larutan zat aktif di
dalam sel dengan yang di luar sel, maka
larutan yang terpekat didesak keluar. Peristiwa tersebut terus berulang
hingga terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan antara larutan di
luar sel dengan larutan di dalam sel disebut difusi.
Metode maserasi dapat dilakukan modifikasi seperti berikut:
1) Modifikasi maserasi melingkar

16

Maserasi melingkar adalah penyarian yang dilakukan dengan


menggunakan cairan penyari yang selalu bergerak dan menyebar
(berkesinambungan)

sehingga

kejenuhan

cairan

penyari

merata.

Keuntungan cara ini adalah :


a. Aliran cairan penyari mengurangi lapisan batas
b. Cairan penyari akan didistribusikan secara seragam sehingga

akan

memperkecil kepekatan setempat


c. Waktu yang diperlukan lebih pendek
2) Modifikasi maserasi digesti
Maserasi digesti adalah cara maserasi dengan menggunakan
pemanasan lemah, yaitu pada suhu 40 500C. Cara ini hanya dapat
dilakukan untuk simplisia yang zat aktifnya tahan terhadap pemanasan.
Dengan pemanasan akan diperoleh keuntungan seperti :
a. Kekentalan

pelarut

berkurang

yang

dapat

mengakibatkan

berkurangnya lapisan lapisan batas


b. Daya melarutkan cairan penyari akan meningkat sehingga pemanasan
tersebut mempunyai pengaruh yang sama dengan pengadukan
c. Koefisien

difusi berbanding lurus

dengan

suhu

absolute dan

berbanding terbalik dengan kekentalan, hingga kenaikan suhu akan


berpengaruh pada kecepatan difusi
3) Modifikasi maserasi melingkar bertingkat
Maserasi melingkar bertingkat sama dengan masrerasi melingkar
tetapi pada maserasi melingkar bertingkat dilengkapi dengan beberapa

17

bejana penampungan sehingga tingkat kejenuhan cairan penyari setiap


bejana berbeda-beda.
4) Modifikasi remaserasi
Remaserasi adalah penyaringan yang dilakukan dengan membagi
dua cairan yang digunakan, kemudian seluruh serbuk simplisia
dimaserasi dengan cairan penyari pertama, sesudah dienap tuangkan
dan diperas, ampas dimaserasi lagi dengan cairan penyari yang kedua.
5) Modifikasi dengan mesin pengaduk
Penggunaan mesin pengaduk yang dapat berputar terus-menerus
waktu proses maserasi dapat dipersingkat menjadi 6 sampai 24 jam
maserasi dapat selesai.
2) PERKOLASI
Merupakan cara ekstraksi yang dilakukan dengan mengalirkan
pelarut melalui bahan sehingga komponen dalam bahan tersebut tertarik
ke dalam pelarut. Kekuatan yang berperan pada perkolasi antara lain:
gaya berat, kekentalan, daya larut, tegangan permukaan, difusi, osmosis,
adesi, daya kapiler dan daya geseran (friksi). Hasil perkolasi disebut
perkolat. Perkolasi banyak digunakan untuk mengekstraksi komponen dari
bahan tumbuhan. Pada proses perkolasi, terjadi partisi komponen yang
diekstraksi, antara bahan dan pelarut. Dengan pengaliran pelarut secara
berulang-ulang, maka semakin banyak komponen yang tertarik.

18

Kelemahan dari metode ini yaitu diperlukan banyak pelarut dan


waktu yang lama, sedangkan komponen yang didapat relatif tidak banyak.
Keuntungannya adalah tidak memerlukan pemanasan sehingga teknik ini
baik untuk substansi termolabil (yang tidak tahan terhadap panas).
3) SOXHLET
Adalah proses ekstraksi dimana sampel yang akan diekstraksi
ditempatkan dalam suatu timbel yang permeabel terhadap pelarut dan
diletakkan di atas tabung destilasi, dididihkan dan dikondensaasikan di
atas sampel. Kondesat akan jatuh ke dalam timbel dan merendam sampel
dan diakumulasi sekeliling timbel. Setelah sampai batas tertentu, pelarut
akan kembali masuk ke dalam tabung destilasi secara otomastis. Proses
ini berulang terus dengan sendirinya di dalam alat terutama dalam
peralatan Soxhlet yang digunakan untuk ekstraksi lipida. Sampel yang
bisa diperiksa meliputi pemeriksaan lemak, trigliserida, kolesterol.

19

II.1.4 Jenis-Jenis Ekstrak


Terdapat beberapa jenis ekstrak baik ditinjau dari segi pelarut yang
digunakan ataupun hasil akhir dari ekstrak tersebut (2).
1) Ekstrak Air: menggunakan pelarut air sebagai cairan pengekstraksi.
Pelarut air merupakan pelarut yang mayoritas digunakan dalam proses
ekstraksi. Ekstrak yang dihasilkan dapat langsung digunakan atau
diproses kembali seperti melalui pemekatan atau proses pengeringan.
2) Tinktur: sediaan cari yang dibuat dengan cara maserasai ataupun
perkolasi simplisia. Pelarut yang umum digunakan dalam proses produksi
tinktur

adalah

etanol.

Satu

bagian

simplisia

diekstrak

dengan

menggunakan 2-10 bagian menstrum/ekstraktan.


3) Ekstrak cair: bentuk dari ekstrak cair mirip dengan tinktur namun telah
melalui pemekatan hingga diperoleh ekstrak yang sesuai dengan
ketentuan farmakope.
4) Ekstrak encer: dikenal sebagai ekstrak tenuis, dibuat seperti halnya
ekstrak cair. Namun kadang masih perlu diproses lebih lanjut.

20

5) Ekstrak kental: ekstrak ini merupakan ekstrak yang telah mengalami


proses pemekatan. Ekstrak kental sangat mudah untuk menyerap lembab
sehingga mudah untuk ditumbuhi oleh kapang. Pada proses industri
ekstrak kental sudah tidak lagi digunakan, hanya merupakan tahap
perantara sebelum diproses kembali menjadi ekstrak kering
6) Ekstrak kering (extract sicca): ekstrak kering merupakan ekstrak hasil
pemekatan yang kemudian dilanjutkan ke tahap pengeringan. Prose
pengeringan dapat dilakukan dengan berbagai macam cara yaitu:
a. Menggunakan bahan tambahan seperti laktosa, aerosil
b. Menggunakan proses kering beku, proses ini mahal
c. Menggunakan proses proses semprot kering atau fluid bed drying
7) Ekstrak minyak: dilakukan dengan cara mensuspensikan simplisia
dengan perbandingan tertentu dalam minyak yang telah dikeringkan,
dengan cara seperti maserasi.
8) Oleoresin: merupakan sediaan yang dibuat dengan cara ekstraksi
bahan oleoresin (mis. Capsicum fructus dan zingiberis rhizom) dengan
pelarut tertentu umumnya etanol.
II.1.5 Rotary Evaporator
Evaporator adalah sebuah alat
yang berfungsi mengubah sebagian
atau keseluruhan sebuah pelarut dari
sebuah

larutan

dari

bentuk

cair

menjadi uap. Evaporator mempunyai

21

dua prinsip dasar, untuk menukar panas dan untuk memisahkan uap yang
terbentuk dari cairan.
Evaporator umumnya terdiri dari tiga bagian, yaitu penukar panas,
bagian evaporasi (tempat di mana cairan mendidih lalu menguap), dan
pemisah untuk memisahkan uap dari cairan lalu dimasukkan ke dalam
kondenser (untuk diembunkan/kondensasi) atau ke peralatan lainnya.
Hasil dari evaporator (produk yang diinginkan) biasanya dapat berupa
padatan atau larutan berkonsentrasi. Larutan yang sudah dievaporasi bisa
saja terdiri dari beberapa komponen volatil (mudah menguap). Evaporator
biasanya digunakan dalam industri kimia dan industri makanan. Pada
industri kimia, contohnya garam diperoleh dari air asin jenuh (merupakan
contoh dari proses pemurnian) dalam evaporator. Evaporator mengubah
air menjadi uap, menyisakan residu mineral di dalam evaporator. Uap
dikondensasikan menjadi air yang sudah dihilangkan garamnya. Pada
sistem pendinginan, efek pendinginan diperoleh dari penyerapan panas
oleh cairan pendingin yang menguap dengan cepat (penguapan
membutuhkan

energi

panas).

Evaporator

juga

digunakan

untuk

memproduksi air minum, memisahkannya dari air laut atau zat


kontaminasi lain (4).
Evaporator dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu:
1.Submerged combustion evaporator adalah evaporator yang dipanaskan
oleh api yang menyala di bawah permukaan cairan, dimana gas yang
panas bergelembung melewati cairan.

22

2.Direct fired evaporator adalah evaporator dengan pengapian langsung


dimana api dan pembakaran gas dipisahkan dari cairan mendidih lewat
dinding besi atau permukaan untuk memanaskan.
3.Steam heated evaporator adalah evaporator dengan pemanasan stem
dimana uap atau uap lain yang dapat dikondensasi adalah sumber panas
dimana uap terkondensasi di satu sisi dari permukaan pemanas dan
panas ditranmisi lewat dinding ke cairan yang mendidih.
Terdapat beberapa bagian dari alat rotavapor ini, diantaranya (4):
1.

Pendingin: berfungsi mendinginkan air yang akan dipompakan ke

kondensor.

2.

Kondensor: kondensor berfungsi untuk mengubah uap menjadi

bentuk cair kembali.

3.

Penangas/Waterbath: digunakan untuk memanasakan sampel

dengan suhu yang dapat diatur sesuai kebutuhan.

23

4. Pompa vakum
Digunakan

untuk

mengatur

tekanan

dalam

labu,

sehingga

mempermudah penguapan sampel.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menjalankan rotavapor:


1. Selang air serta tekanan in out tidak boleh tertukar.
2. Perhatikan petunjuk masing-masing alat, karena kemampuan alat
pompa vakum berbeda-beda.
3. Urutan pemasangan dan pengoperasian juga pelepasan serta
pengnonaktifan harus tertib.
4. Suhu pada waterbath harus disesuaikan dengan pelarut yang
digunakan.

24

BAB III
METODE KERJA

III.1 Alat dan Bahan


III.1.1 Alat
Alat alat yang digunakan adalah batang pengaduk, koran, toples,
eksikator, gelas ukur, sendok besi, dan timbangan.
III.1.2 Bahan
Bahan-bahan yang digunakan adalah sampel kering daun miana,
ethanol 96%, dan aluminium foil.
III.2 Cara Kerja
1) Disiapkan alat dan bahan
2) Ditimbang simplisia kering yang telah dikeringkan sebanyak 150 gram
3) Dimasukkan kedalam toples
4) Dimasukkan larutan penyari etanol 96% hingga membasahi seluruh
bagian simplisia.
5) Diaduk beberapa saat
6) Ditutup dengan aluminium foil
7) Didiamkan selama 3 x 24 jam pada suhu kamar
8) Dimaserasi sampel tersebut, kemudian disaring.
9) Diangin-anginkan hingga membentuk ekstrak yang kental.

25

BAB IV
HASIL PENGAMATAN

IV.1 Hasil Pengamatan


Sampel

Kayu secang

Berat Sampel

150 gram

Jumlah Pelarut

1500 ml

Hasil Ekstrak

13.54 gram

% Rendamen

9.027 %

IV.2 Perhitungan

IV.3 Gambar Pengamatan


LABORATORIUM FITOKIMIA
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN

LABORATORIUM FITOKIMIA
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN

Proses Ekstraksi

Hasil Ekstraksi

HASIL EKSTRAKSI

HASIL EKSTRAKSI

HASIL EKSTRAKSI

HASIL EKSTRAKSI

26

BAB V
PEMBAHASAN

Ekstraksi adalah penyarian zat-zat aktif dari bagian tanaman obat.


Adapun tujuan dari ekstraksi yaitu untuk menarik komponen kimia yang
terdapat dalam simplisia. Maserasi adalah metode ekstrasi dengan prinsip
pencapaian kesetimbangan konsentrasi, menggunakan pelarut yang
direndamkan pada simplisia dalam suhu kamar. Penyarian zat aktif yang
dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari
yang sesuai selama tiga hari pada temperatur kamar terlindung dari
cahaya, cairan penyari akan masuk ke dalam sel melewati dinding sel. Isi
sel akan larut karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan di
dalam sel dengan di luar sel. Larutan yang konsentrasinya tinggi akan
terdesak keluar dan diganti oleh cairan penyari dengan konsentrasi
rendah (proses difusi). Peristiwa tersebut berulang sampai terjadi
keseimbangan konsentrasi antara larutan di luar sel dan di dalam sel.
Selama proses maserasi dilakukan pengadukan dan penggantian cairan
penyari setiap hari. Endapan yang diperoleh dipisahkan dan filtratnya
dipekatkan.
Sampel kayu secang yang telah dikeringkan dan ditimbang
sebanyak

150

gram

kemudian

dimasukkan

kedalam

toples

dan

ditambahkan larutan penyari dalam hal ini digunakan etanol 96% sebagai
larutan penyari setelah itu sampel dan larutan penyari yang telah
bercampur didiamkan selama 3 x 24 jam sambil sesekali diaduk dan
ditutup dengan menggunakan aluminium foil dan penutup toples, setelah 3

27

hari sampel disaring menggunakan kain saring kemudian hasil ekstraksi di


angin-anginkan hingga terbentuk ekstrak yang kental dan atau ekstrak
yang kering, setelah diperoleh ekstrak yang kering atau kental kemudian
ekstrak tersebut ditimbang dan diperoleh berat ekstrak sebesar 13,54
gram.

28

BAB VI
PENUTUP

VI.1 Kesimpulan
Dari hasil percobaan yang dilakukan hasil ekstraksi dari sampel
kayu secang (Caesalpinia sappan L) dengan proses maserasi sebesar
13,54 gram dan persen rendamennya sebesar 9,027 %
VI.2 Saran
Semoga kakak asisten bisa terus mendampingi praktikannya saat
praktikum berlangsung dan dapat membimbing kami untuk menjadi yang
lebih baik dan banyak tahu.

29

DAFTAR PUSTAKA

1. Sudjaji, Drs. 1986. Metode Pemisahan, UGM Press : Yogyakarta


2. Amborwati Tri Hiu. Makalah Kimia Analisa dan Dasar Pemisahan
Ekstraksi.

Diakses

http://www.scribd.com/doc/20582022/new

ekstraksi (diakses tanggal 15 Maret 2014)


3. http://lib.uin-malang.ac.id/files/thesis/chapter.../07630043.p... (diakses
tanggal 15 Maret 2014)
4. Mulyani, Ananda. Metode Ekstraksi Praktikum Fitokimia. Diakses
http://ffarmasi.unand.ac.id/RPKPS/Metoda_ekstraksi.pdf
(diakses tanggal 15 Maret 2014)

30

LAMPIRAN :
Skema Kerja
DITIMBANG
SAMPEL (150 G)

DIMASUKKAN
KEDALAM TOPLES

DITAMBAHKAN
ETANOL 96%

DI MASERASI
3X24 JAM

TUTUP TOPLES DAN


LAPISI DENGAN ALFOL

DI ADUK
PERLAHAN-LAHAN

DI SARING

DIANGINANGINKAN

DITIMBANG EKSTRAK
YANG DIPEROLEH

31

LABORATORIUM FARMAKOGNOSI-FITOKIMIA
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN

LAPORAN INDIVIDU
EKSTRAKSI SAMPEL KAYU SECANG (Caesalpinia sappan. L)

OLEH:
: ASMAWATI

NAMA
NIMN

: N111 12 350

KELOMPOK : 2 (DUA)
GOLONGAN : KAMIS SIANG
ASISTEN

: 1. ERWINDA DESRIANI A.R


2. VALENTINE F.S.KAPANG

MAKASSAR
2014