Anda di halaman 1dari 11

BAB I

LAPORAN PENDAHULUAN
FRAKTUR

A.

KONSEP MEDIS
1. Definisi:
Hilangnya kesinambungan substansi tulang dengan atau tanpa pergeseran
fragmen-fragmen fraktur. Terputusnya hubungan/kontinuitas jaringan tulang.
(Luqman & Ningsih, 2009)
2. Etiologi:
a. Trauma :

Langsung (kecelakaan lalulintas)

Tidak langsung (jatuh dari ketinggian dengan posisi berdiri/duduk


sehingga terjadi fraktur tulang belakang )

b. Patologis
c.

Degenerasi

d. Spontan

Terjadi tarikan otot yang sangat kuat.

3. Jenis Fraktur:
a.

Menurut jumlah garis fraktur :


Simple fraktur (terdapat satu garis fraktur)
Multiple fraktur (terdapat lebih dari satu garis fraktur)
Comminutive fraktur (banyak garis fraktur/fragmen kecil yang lepas)

b.

Menurut luas garis fraktur :


Fraktur inkomplit (tulang tidak terpotong secara langsung)
Fraktur komplit (tulang terpotong secara total)
Hair line fraktur (garis fraktur hampir tidak tampak sehingga tidak ada
perubahan bentuk tulang)

c.

Menurut bentuk fragmen :


Fraktur transversal (bentuk fragmen melintang)
Fraktur obligue (bentuk fragmen miring)
Fraktur spiral (bentuk fragmen melingkar)

d. Menurut hubungan antara fragmen dengan dunia luar :

Fraktur terbuka (fragmen tulang menembus kulit), terbagi 3 :


I.

Pecahan tulang menembus kulit, kerusakan jaringan


sedikit, kontaminasi ringan, luka <1 cm.

II.

Kerusakan jaringan sedang, resiko infeksi lebih besar,


luka >1 cm.

III.

Luka besar sampai 8 cm, kehancuran otot, kerusakan


neurovaskuler, kontaminasi besar.

Fraktur tertutup (fragmen tulang tidak berhubungan dengan dunia luar)

4. Gambaran Klinis:
Tanda-tanda klasik fraktur:
1. Nyeri
2. Deformitas
3. Krepitasi
4. Bengkak
5. Peningkatan temperatur lokal
6. Pergerakan abnormal
7. Echymosis
8. Kehilangan fungsi
(Lukman dan Ningsih 2009)
5.

Patofisiologi
Pada trauma tidak langsung, daya pemuntir menimbulkan fraktur spiral dengan
kedua tulang patah pada tingkat yang berbeda. Pukulan langsung atau daya tekukan
menyebabkan fraktur melintang kedua tulang pada tingkat yang sama. Deformitas
rotasi tambahan dapat ditimbulkan oleh tarikan otot yang melekat pada radius, yaitu
otot biseps, otot supinator pada sepertiga bagian atas, pronatot teres pada sepertiga
pertengahan, dan pronator kuadratus pada sepertiga bagian bawah. Perdarahan dan
pembengkakan kompartemen otot pada lengan bawah dapat menyebabkan
gangguan peredaran darah.
Kondisi klinis fraktur radius ulna tertutup dapat menyebabkan berbagai masalah
keperawatan pada klien, meliputi respons nyeri, hambatan mobilitas fisik, resiko tinggi
infeksi. (Muttaqin, 2012)

5. PATYWAYS
Trauma langsung

trauma tidak langsung

kondisi patologis , degeneratif

FRAKTUR
Diskontinuitas tulang

pergeseran frakmen tulang

Perub jaringan sekitar


Pergeseran frag Tlg
Kerusakan
integritas

deformitas

kulit

merangsang nosiseptor

kerusakan frakmen tulang


laserasi kulit:

spasme otot

putus vena/arteri
perdarahan

nyeri

tek. Ssm tlg lebih tinggi dr kapiler

peningk tek kapiler

reaksi stres klien

pelepasan histamin

melepaskan katekolamin

gg. fungsi
meningkatnya permeabilitas
kapiler

Hambatan
mobilitas fisik

protein plasma hilang


kehilangan volume cairan
edema
Shock
hipivolemik

metabolisme asam lemak


bergab dg trombosit
emboli

penekan pem. drh


menyumbat pemb drh
penurunan perfusi jar
gg.perfusi jar

Sumber : Muttaqin 2012, Luqman dan Nurma Ningsih 2009


6. Manifestasi Klinis
a.
Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya samapi fragmen tulang
diimobilisasi, hematoma, dan edema
b.

Deformitas karena adanya pergeseran fragmen tulang yang patah

c.

Terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena kontraksi otot yang


melekat diatas dan dibawah tempat fraktur

d.

Krepitasi akibat gesekan antara fragmen satu dengan lainnya

e.

Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit

7. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan foto radiologi dari fraktur : menentukan lokasi, luasnya
b. Pemeriksaan jumlah darah lengkap
c. Arteriografi : dilakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai
d. Kreatinin : trauma otot meningkatkanbeban kreatinin untuk klirens ginjal

(Muttaqin,2012 dan Ningsih, 2009)

8. Penatalaksanaan
a. Reduksi fraktur terbuka atau tertutup : tindakan manipulasi fragmen-fragmen
tulang yang patah sedapat mungkin untuk kembali seperti letak semula.
b. Imobilisasi fraktur
c. Reduksi dan imobilisasi harus dipertahankan sesuai kebutuhan
d. Pemberian analgetik untuk mengerangi nyeri
e. Status neurovaskuler (misal: peredarandarah, nyeri, perabaan gerakan)
dipantau
f.

Latihan dan setting otot diusahakan untuk meminimalakan atrofi disuse dan
meningkatkan peredaran darah

9. Komplikasi
a. Malunion : tulang patah telahsembuh dalam posisi yang tidak seharusnya.
b. Delayed union : proses penyembuhan yang terus berjlan tetapi dengan
kecepatan yang lebih lambat dari keadaan normal.
c. Non union : tulang yang tidak menyambung kembali

II. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


A. PENGKAJIAN
1.

Pengkajian primer

a. Airway
Adanya sumbatan/obstruksi jalan napas oleh adanya penumpukan
secret.
b. Breathing
Kelemahan

menelan/

batuk/

melindungi

jalan

napas,

timbulnya

pernapasan yang sulit dan / atau tak teratur, suara nafas terdengar
ronchi /aspirasi
c. Circulation
TD dapat normal atau meningkat , hipotensi terjadi pada tahap lanjut,
takikardi, bunyi jantung normal pada tahap dini, disritmia, kulit dan
membran mukosa pucat, dingin, sianosis pada tahap lanjut
2.

Pengkajian sekunder
a. Aktivitas/istirahat
-

Kehilangan fungsi pada bagian yang terkena

Keterbatasan mobilitas

b. Sirkulasi
-

Hipertensi ( kadang terlihat sebagai respon nyeri/ansietas)

Hipotensi ( respon terhadap kehilangan darah)

Tachikardi

Penurunan nadi pada bagiian distal yang cidera

Cailary refil melambat

Pucat pada bagian yang terkena

Masa hematoma pada sisi cedera

c. Neurosensori
-

Kesemutan

Deformitas, krepitasi, pemendekan

Kelemahan

II. DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI


a. Nyeri akut b/d spasme otot, gerakan fragmen tulang, edema, cedera jaringan
lunak, pemasangan traksi, stress/ansietas.
Tujuan : dalam waktu 1x15 mnt, nyeri berkurang atau teradaptasi
Kriteria hasil : secara subjektif, klien melaporkan nyeri berkurang atau dapat
diaptasi, dapat mengidentifikasi aktifitas yang menyebabkan atau menurunkan
nyeri, skala nyeri 0-1 atau teradaptasi
INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Pertahankan

imobilasasi

RASIONAL

bagian Mengurangi nyeri dan mencegah

yang sakit dengan tirah baring, gips,

malformasi.

bebat dan atau traksi


2. Tinggikan posisi ekstremitas yang
terkena.

Meningkatkan aliran balik vena,


mengurangi edema/nyeri.

3. Lakukan dan awasi latihan gerak Mempertahankan kekuatan otot dan


pasif/aktif.

meningkatkan sirkulasi vaskuler.

4. Lakukan

tindakan

meningkatkan

untuk Meningkatkan sirkulasi umum,

kenyamanan menurunakan area tekanan lokal dan

(masase, perubahan posisi)


5. Ajarkan

penggunaan

manajemen
dalam,

kelelahan otot.

nyeri

imajinasi

teknik Mengalihkan perhatian terhadap nyeri,

(latihan
visual,

napas meningkatkan kontrol terhadap nyeri yang


aktivitas mungkin berlangsung lama.

dipersional)
6. Lakukan kompres dingin selama fase Menurunkan edema dan mengurangi rasa
akut (24-48 jam pertama) sesuai

nyeri.

keperluan.
7. Kolaborasi

pemberian

analgetik Menurunkan nyeri melalui mekanisme

sesuai indikasi.

penghambatan rangsang nyeri baik


secara sentral maupun perifer.

8. Evaluasi

keluhan

nyeri

(skala, Menilai erkembangan masalah klien.

petunjuk verbal dan non verval,


perubahan tanda-tanda vital)

b. Risiko disfungsi neurovaskuler perifer b/d penurunan aliran darah (cedera


vaskuler, edema, pembentukan trombus)
INTERVENSI KEPERAWATAN

RASIONAL

1. Dorong klien untuk secara rutin


melakukan

latihan

Meningkatkan sirkulasi darah dan

menggerakkan mencegah kekakuan sendi.

jari/sendi distal cedera.


2. Hindarkan restriksi sirkulasi akibat Mencegah stasis vena dan sebagai
tekanan bebat/spalk yang

terlalu

ketat.

petunjuk perlunya penyesuaian keketatan


bebat/spalk.

3. Pertahankan letak tinggi ekstremitas Meningkatkan drainase vena dan


yang

cedera

kontraindikasi

kecuali
adanya

ada menurunkan edema kecuali pada adanya

sindroma keadaan hambatan aliran arteri yang

kompartemen.

menyebabkan penurunan perfusi.

4. Berikan obat antikoagulan (warfarin) Mungkin diberikan sebagai upaya


bila diperlukan.

profilaktik untuk menurunkan trombus


vena.

5. Pantau kualitas nadi perifer, aliran Mengevaluasi perkembangan masalah


kapiler, warna kulit dan kehangatan
kulit

distal

cedera,

klien dan perlunya intervensi sesuai

bandingkan keadaan klien.

dengan sisi yang normal.

c. Hambatan mobilitas fisik b/d kerusakan rangka neuromuskuler, nyeri, terapi


restriktif (imobilisasi)
Tujuan : Dalam waktu 1x30 mnt, klien mampu melaksanakan aktifitas fisik sesuai
dengan kemampuan
Kriteria Hasil : Tidak terjadi kontraktur sendi, klien menunjukan tindakan untuk
meningkatkan mobilitas
INTERVENSI KEPERAWATAN

RASIONAL

1. Pertahankan pelaksanaan aktivitas Memfokuskan perhatian, meningkatakan


rekreasi

terapeutik

(radio,

koran, rasa kontrol diri/harga diri, membantu

kunjungan teman/keluarga) sesuai menurunkan isolasi sosial.


keadaan klien.
2. Bantu latihan rentang gerak pasif Meningkatkan sirkulasi darah
aktif pada ekstremitas yang sakit muskuloskeletal, mempertahankan tonus
maupun yang sehat sesuai keadaan

otot, mempertahakan gerak sendi,

klien.

mencegah kontraktur/atrofi dan


mencegah reabsorbsi kalsium karena
imobilisasi.

3. Berikan
gulungan

papan

penyangga

trokanter/tangan

kaki, Mempertahankan posis fungsional


sesuai ekstremitas.

indikasi.
4. Bantu dan dorong perawatan diri Meningkatkan kemandirian klien dalam
(kebersihan/eliminasi)

sesuai perawatan diri sesuai kondisi

keadaan klien.

keterbatasan klien.

5. Ubah posisi secara periodik sesuai Menurunkan insiden komplikasi kulit dan
keadaan klien.

pernapasan (dekubitus, atelektasis,


penumonia)

6. Dorong/pertahankan asupan cairan Mempertahankan hidrasi adekuat, men2000-3000 ml/hari.

cegah komplikasi urinarius dan

konstipasi.
7. Kolaborasi pelaksanaan fisioterapi Kerjasama dengan fisioterapis perlu
sesuai indikasi.

untuk menyusun program aktivitas fisik


secara individual.

8. Evaluasi kemampuan mobilisasi klien Menilai perkembangan masalah klien.


dan program imobilisasi.

d. Gangguan integritas kulit b/d fraktur terbuka, pemasangan traksi (pen, kawat,
sekrup)
INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Pertahankan

tempat

tidur

RASIONAL

yang Menurunkan risiko kerusakan/abrasi kulit

nyaman dan aman (kering, bersih, yang lebih luas.


alat tenun kencang, bantalan bawah
siku, tumit).
2. Masase

kulit

terutama

daerah Meningkatkan sirkulasi perifer dan

penonjolan tulang dan area distal meningkatkan kelemasan kulit dan otot
bebat/gips.

terhadap tekanan yang relatif konstan


pada imobilisasi.

3. Lindungi kulit dan gips pada daerah Mencegah gangguan integritas kulit dan
perianal

jaringan akibat kontaminasi fekal.

4. Observasi keadaan kulit, penekanan Menilai perkembangan masalah klien.


gips/bebat

terhadap

kulit,

insersi

pen/traksi.

e. Risiko infeksi b/d ketidakadekuatan pertahanan primer (kerusakan kulit, taruma


jaringan lunak, prosedur invasif/traksi tulang)

INTERVENSI KEPERAWATAN

RASIONAL

1. Lakukan perawatan pen steril dan Mencegah infeksi sekunderdan


perawatan luka sesuai protokol

mempercepat penyembuhan luka.

2. Ajarkan klien untuk mempertahankan Meminimalkan kontaminasi.


sterilitas insersi pen.
3. Kolaborasi pemberian antibiotika dan Antibiotika spektrum luas atau spesifik
toksoid tetanus sesuai indikasi.

dapat digunakan secara profilaksis,


mencegah atau mengatasi infeksi.
Toksoid tetanus untuk mencegah infeksi
tetanus.

4. Analisa

hasil

pemeriksaan Leukositosis biasanya terjadi pada proses

laboratorium (Hitung darah lengkap,


LED,

Kultur

dan

infeksi, anemia dan peningkatan LED

sensitivitas dapat terjadi pada osteomielitis. Kultur

luka/serum/tulang)

untuk mengidentifikasi organisme


penyebab infeksi.

5. Observasi

tanda-tanda

vital

dan Mengevaluasi perkembangan masalah

tanda-tanda peradangan lokal pada klien.


luka.

DAFTAR PUSTAKA

10

Muttaqin.2011.Buku Saku Gangguan Muskuloskeletal Aplikasi Pada Praktik Klinik


Keperawatan.Jakarta: EGC
Luqman,Ningsih.2009.Asuhan

Keperawatan

Pada

Pasien

Dengan

Musculoskeletal.Jakarta: EGC
www.medicastore.com diakses pada tanggal 18 Desember 2013 jam 18.00

11

Gangguan