Anda di halaman 1dari 6

I.

PENDAHULUAN

Bells palsy adalah salah satu gangguan neurologis yang paling umum
yang mempengaruhi saraf kranial, dan merupakan penyebab paling umum
kelumpuhan wajah di seluruh dunia. Bells palsy diperkirakan menyumbang
sekitar 60-75% dari kasus kelumpuhan wajah akut unilateral. Bells palsy lebih
sering terjadi pada orang dewasa, pada orang dengan diabetes, dan pada wanita
hamil (Ropper dan Samuela, 2009).
Kelumpuhan wajah adalah gangguan yang memiliki dampak besar pada
pasien. Kelumpuhan saraf wajah mungkin karena bawaan atau neoplastik atau
mungkin akibat dari infeksi, trauma, eksposur beracun, atau penyebab iatrogenik.
Penyebab paling umum dari kelumpuhan wajah unilateral Bells palsy, atau
disebut kelumpuhan wajah idiopatik. Bells palsy merupakan kekakuan akut
unilateral, perifer, bersifat lower-motor-neuron yang secara bertahap membaik
pada 70-80% kasus. Penyebab Bells palsy masih belum diketahui, meskipun
kemungkinan etiologinya adalah virus, inflamasi, autoimun, dan iskemik.
Untuk menentukan apakah wajah-saraf kelumpuhan perifer atau pusat
adalah kunci dalam diagnosis. Sebuah lesi yang melibatkan upper motor neuron
mengakibatkan kelemahan wajah bagian bawah,berbeda dengan lesi di lower
motor neuron. Anamnesa yang cermat dan pemeriksaan yang teliti, termasuk
pemeriksaan telinga, hidung, tenggorokan, dan saraf kranial, harus dilakukan.
Kriteria diagnostik minimal termasuk kelumpuhan atau paresis dari semua
kelompok otot di satu sisi wajah,secara akut dan tiba-tiba, setelah dimastikantidak
ada penyakit sistem saraf pusat. Perhatikan bahwa diagnosis Bells palsy dibuat
hanya setelah penyebab lain dari kelumpuhan perifer akut telah disingkirkan.
Jika temuan klinis meragukan atau jika kelumpuhan berlangsung lebih
lama dari 6-8 minggu, perencanaan lebih lanjut, termasuk pencitraan gadolinium
meningkatkan resonansi magnetik dari tulang temporal dan pons, harus
dipertimbangkan. Tes Electrodiagnostic (misalnya, stapedius tes refleks,
membangkitkan

saraf

wajah-elektromiografi

(EMG),

audiography)

dapat

membantu meningkatkan ketepatan prognosis pada kasus yang sulit. Pengobatan


Bells palsy harus konservatif dan dipandu oleh keparahan dan prognosis
kemungkinan dalam setiap kasus tertentu.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI
Bells palsy adalah paresis N.VII perifer yang idiopatik dan akut
(Lowis, Gaharu, 2012).

B. ETIOLOGI
C. EPIDEMIOLOGI
D. PREDISPOSISI
E. PATOMEKANISME
Patogenesis Bells Palsy dijelaskan dalam bagan 1 di bawah ini.
Manifestasi yang timbul dijelaskan pada gambar 1 sesuai dengan letak lesi.

Bagan 1. Patogenesis Bells Palsy teori infeksi (Lowis, Gaharu, 2012)

Gambar 1. Perjalanan Nervus Fascialis

III.

KESIMPULAN
IV.

1.

Bells palsy adalah paresis N.VII perifer yang idiopatik dan akut.

2.

DAFTAR PUSTAKA

Lowis, Handoko., Gaharu, Maulana N. Bells Palsy, Diagnosis dan Tatalaksana di


Layanan Primer. J Indon Med Assoc 2012 62 : 2-7
Ropper, AH., Samuels, MA. 2009. Bell's palsy section of Diseases of The Cranial
Nerves dalam Adams and Victor's Principles of Neurology Edisi 9. New
York: McGraw-Hill.