Anda di halaman 1dari 10

Sebelum melakukan penggolongan kation, zat harus dilarutkan lebih dahulu dalam

pelarut yang cocok. Untuk mengetahui pelarut yang cocok dapat dicoba berturut turut
palarut : Air, HCl encer (2N), HNO3 pekat dan seterusnya dengan air saja ( campuran HCl
pekat dan HNO3 pekat dengan perbandinga 3 : 1 ). Melarutkan , mula-mula dalam keadaan
dingin , kemudian dipanaskan untuk semua zat yang larut dalam pelarut asam-asam pekat,
kelebihan asam dihilangkan dengan mengisapkan dalam lemari asam.(Anonim , 2011)
Apabila ternyata zat tersebut tidak melarutkan dalam semua macam pelarut diatas,
maka zat tersebut dilebur dengan campuran Na2CO3 dan K2CO3 (1:1).Hasil leburan
ditambahkan air secukupnya kemudian disaring. Endapan dilarutkan dalam HCl encer ( 2 N )
dan digunakan untuk menyelediki kation serta Filtratnya digunakan untuk menyelidikan
anion.( Anonim, 2011)
Untuk tujuan analisis kuantitatif sistematik kation kation diklasifikasikan dalam
lima golongan berdasarkan sifat-sifat kation itu terhadap beberapa reagensia. Dengan
memakai apa yang disebut reagensia golonga secara sistematik, dapat kita tetapkan ada
tidaknya golongan-golongan kation, dan dapat juga memisahkan golongan-golonga ini untuk
pemeriksaan lebih lanjut. (G. Svehla, 1985)
Reagensia golongan yang dipakai untuk klasifikasi kation yang paling umum, adalah
Asam klorida, Hidrogen sulfida, Amonium Sulfida, dan Amonium Karbonat. Klasifikasi ini
didasarkan atas apakah suatu kation Bereaksi dengan Reagensia-reagensia ini dengan
membentuk endapaan atau tidak. Jadi boleh kita katakan, Bahwa klasifikasi kation yang
paling umum,didasarkan atas perbedaan kelarutan dari klorida, Sulfida, dan Karbonat dari
kation tersebut. (G. Svehla, 1985)
Golongan I. Kation golongan ini membentuk endapan dengan asam klorida encer. Ion
ion golongan ini adalah Timbal, merkurium (I)(raksa), dan perak. (G. Svehla, 1985)
Golongan II. Kation golongan ini tidak bereaksi dengan asam klorida, tetapi membentuk
endapan dengan hydrogen sulfida dalam suasana asam mineral encer. Ion-ion golongan ini
adalah merkurium (II), Tembaga, Bismut, Kadmium, arseni (III), Arsenik (V), stibium (III),
stibium (V), timah (2), dan Timah (III) (IV). (G. Svehla, 1985)
Golongan III kation golongan ini tak bereaksi dengan asam klorida encer, ataupun
dengan hydrogen sulifida dalam suasama Asam mineral encer.Namun kation ini membentuk
endapan dengan ammonium sulfida dalam suasana netral atau amoniakal. Kation golongan
ini adalah kobalt (II), nikel(II), besi (II), Besi (III), kromium (III), aluminium, Zink, dan Mangan
(II). (G. Svehla, 1985)
Golongan empat. KAtion golongan ini tidak bereaksi dengan Reagensia golongan I,II
dan III. Kation-kation ini membentuk endapan dengan ammonium karboanat dengan adanya
ammonium klorida dalam suasana netral atau sedikit asam. Kation-kation golongan ini
adalah Kalsium,stromtium, dan Barium. (G. Svehla, 1985)

Golongan V. Kation-kation yang umum yang tidak beeaksi denga reagensia-reagensia


golongan sebelumnya, merupakan golongan kation yang terakhir yang meliputi ion-ion
magnesium, natrium, kalium, Amonium, litium, dan hydrogen. (G. Svehla, 1985)

Svehla,G, 1985, VOGEL I : Buku Teks Analisis Kualitatif Makro dan Semimikro , P.T. Kalman
Media Pustaka, Jakarta.
SVEHLA G.1990.Vogel Bagian Satu Buku Teks Analisis Anorganik Kulitatif Makro dan Semi
mikro edisi ke lima.Jakarta: PT. Kalman Media Pustaka.
Dirjen POM., 1979, Farmakope Indonesia,Departemen Kesehatan RI, Jakarta.
Anonim, 2011, Penuntun Praktikum Kimia Analisis Farmasi I, Universitas Muslim
Indonesia, Makassar.
Analisis kualitatif dapat dilakukan pada bermacam-macam skala. selain analisis
makro kuantitas, zat yang dikerjakan adalah 0,5-1 gram dan volume larutan yang diambil
untuk analisis sekitar 20 ml dalam apa yang biasa di sebut analisis semi mikro. Terdapat
banyak keuntungan bila menggunakan teknik semi mikro.
1. Pengurangan konsumsi zat-zat sehingga diperoleh cukup penghematan dalam
anggaran laboratorium
2. Ketetapan analisis yang lebih tinggi
3. Ketajaman pemisahan yang meningkat
4. Banyaknya hidrogen sulfida yang digunakan sangat dikurangi
5. Penghematan ruangan baik pada reagensia dan terutama dalam lemari dimana
peralatan disimpan
6. Latihan dalam mengerjakan kuantitas kecil bahan-bahan dapat di jamin (G. Shelva;
348)
Analisis kuantitatif menggunakan dua macam uji, yaitu reaksi kering dan reaksi basah.
Reaksi kering dapat diterapkan dengan zat-zat padat dan reaksi basah untuk zat dalam
larutan. Kebanyakan reaksi yang kering dapat diuraikan dengan menggunakan semi mikro
dengan hanya modifikasi kecil. (G. Shelva; 349)
Klasifikasi kation yang paling umum didasarkan pada perbedaan kelarutan dari klorida,
sulfida, dan karbonat kation tersebut. Kation diklasifikasikan dalam 5 golongan berdasarkan
sifat-sifat kation tersebut terhadap beberapa reagensia. (G,Shelva: 351)

Golongan-golongan kation memiliki ciri-ciri khas, yaitu:


-

golongan I: membentuk endapan dengan asam klorida encer, ion-ion yang


termasuk dalam golongan ini adalah timbal, raksa, dan perak.

golongan II: membentuk endapan dengan hydrogen sulfide dalam suasana asam
mineral encer. Ion-ion yang termasuk dalam golongan ini adalah merkurium (II),
tembaga, cadmium, bismuth, stibium, timah.

golongan III: membentuk endapan dengan ammonium sulfide dalam suasana


netral. Kation golongan ini antara lain nikel, besi, kromium, aluminium, seng,
mangan, dan kobalt.

golongan IV: membentuk endapan dengan ammonium karbonat dengan adanya


ammonium klorida dalam suasana netral atau sedikit asam.

golongan V: disebut juga golongan sisa karena tidak bereaksi dengan reagensiareagensia golongan sebelumnya. Ion kation yang termasuk dalam golongan ini
antara lain magnesium, natrium, kalium. Ammonium, litium, dan hydrogen
(G,Shelva;352 ).

Untuk tujuan analisis kualitatif sistematik kation-kation diklasifikasikan dalam lima


golongan berdasarkan sifat-sifat kation itu terhadap beberapa reagensia. Dengan memakai
apa yang disebut reagensia golongan secara spesifik, dapat kita tetapkan ada tidaknya
golongan-golongan kation, dan dapat juga memisahkan golongan-golongan ini dengan
pemeriksaan lebih lanjut. Selain merupakan cara yang tradisional untuk menyajikan bahan,
urut-urytan ini juga memudahkan dalam mempelajari reaksi-reaksi. Reagensia golongan
yang dipakai untuk klasifikasi kation yang paling umum adalah asam klorida, hidrogen
sulfida, dan amonium karbonat. Klasifikasi ini didasarkan atas apakah suatu kation bereaksi
dengan reagensia-reagensia ini dengan membentuk endapan atau tidak. Jadi boleh kita
katakan bahwa klasifikasi kation yang paling umum, didasarkan atas perbedaan kelarutan
klorida, sulfida, dan karbonat dari kation tersebut(Vogel,1985:203).
Dalam analisa kualitatif cara memisahkan ion logam tertentu harus mengikuti
prosedur kerja yang khas. Zat yang diselidiki harus disiapkan atau diubah dalam bentuk
suatu larutan. Untuk zat padat kita harus memilih pelarut yang cocok. Ion-ion pada
golongangolongan diendapkan satu per satu, endapan dipisahkan dari larutan dengan cara

disaring atau diputar dengan centrifuga. Endapan dicuci untuk membebaskan dari larutan
pokok

atau

filtrat

dan

tiap-tiap

logam

yang

mungkin

akan

dipisahkan

(Cokrosarjiwanto,1977:14).
Kation-kation golongan I adalah kation-kation yang akan mengendap bila
ditambahkan dengan asam klorida(HCl). Yaitu Ag, Pb, dan Hg yang akan mengendap
sebagai campuran AgCl, Hg

Cl , dan PbCl . Pengendapan ion-ion golongan I harus pada

temperatur kamar atau lebih rendah karena PbCl terlalu mudah larut dalam air panas. Juga
harus dijaga agar asam klorida tidak terlalu banyak ditambahkan. Dalam larutan HCl pekat,
AgCl dan PbCl

melarut, karena Ag dan Pb membentuk kompleksi dapat

larut(Keenan,1984:20).
Kation golongan II tidak bereaksi dengan asam klorida, tetapi membentuk endapan
dengan hidrogen sulfide dalam suasana asam mineral encer. Ion-ion golongan ini adalah
Merkurium (II), Tembaga, Bismut, Kadnium, Arsenik (II), Arsenik (V), Stibium (III), Stibium
(V), Timah (II), Timah (III), dan Timah (IV). Keempat ion yang pertama merupakan sub
golongan 2A dan keenam yang terakhir sub golongan 2B. Sementara sulfida dari kation
dalam golongan 2A tak dapat larut dalam amonium polisulfida. Sulfida dari kation dalam
golongan 2B justru dapat larut. Kation golongan III tidak bereaksi dengan asam klorida encer
ataupun dengan hidrogen sulfida dalam suasana asam mineral encer. Namun, kation ini
membentuk endapan dengan amonium sulfida dalam suasana netral atau amoniak. Kationkation golongan ini adalah Cobalt (II), Nikel (II), Besi (II), Besi (III), Aluminium, Zink, dan
Mangan (II). Kation golongan IV tidak bereaksi dengan reagensia golongan I, II, dan III.
Kation-kation ini membentuk endapan dengan amonium karbonat dengan adanya amonium
klorida, dalam suasana netral atau sedikit asam. Kationkation golongan ini adalah Kalsium,
Strontium, dan Barium. Kation-kation golongan V merupakan kation-kation yang umum
tidak bereaksi dengan reagensia golongan sebulumnya. Yang termasuk anggota golongan ini
adalah

ion-ion

Magnesium,

Natrium,

Kalium,

Amonium,

Litium,

dan

Hidrogen(Vogel,1985:203-204).
Banyak reaksi-reaksi yang menghasilkan endapan berperan penting dalam analisa
kualitatif. Endapan tersebut dapat berbentuk Kristal atau koloid dan dengan warna yang
berbeda-beda. Pemisahan endapan dapat dilakukan dengan penyaringan ataupun

sentrifugasi. Endapan tersebut terbentuk jika larutan menjadi terlalu jenuh dengan zat yang
bersangkutan. Kelarutan suatu endapan adalah sama dengan konsentrasi molar dari larutan
jenuhnya. Kelarutan bergantung pada berbagai kondisi seperti tekanan, suhu, konsentrasi
bahan lain dan jenis pelarut. Perubahan larutan dengan perubahan tekanan tidak
mempunyai arti penting dalam analisa kualitatif, karena semua pekarjaan dilakukan dalam
wadah terbuka pada tekanan atmosfer.kenaikan suhu umumnya dapat memperbesar
kelarutan endapan kecuali pada beberapa endapan, seperti kalsium sulfat, berlaku
sebaliknya. Perbedaan kelarutan karena suhu ini dapat digunakan sebagai dasar pemisahan
kation. Misalnya, pemisahan kation Ag, Hg(l), dan Pb dapat dilakukan dengan
mengendapkan ketiganya sebagai garam klorida, kemudian memisahkan Pb dari Ag dan
Hg(l) dengan memberikan air panas. Kenaikan suhu akan memperbesar kelarutan Pb
sehingga endapan tersebut larut sedangkan kedua kation lainnya tidak (Masterton, 1991).
Cokrosarjiwanto. 1997. Kimia Analitik Kualitatif I. Yogyakarta : UNY Press.
Keenan, dkk. 1984. Kimia Untuk Universitas. Jakarta : Erlangga.
Masterlon, W.L. 1990. Analisa Kualitatif. http ://www.Chemistry.co.id.Pdf.
Didownload pada tanggal 15 November 2010, pukul 09.30 WITA.
Vogel. 1985. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semi Mikro. Jakarta: PT.
Kalman Pusaka.
DASAR TEORI
Kimia analisis dapat dibagi dalam dua bidang yang disebut dengan analisis kualitatif
dan analisis kuantitatif. Analisis kualitatif membahas identifikasi zat-zat. Urusannya adalah
unsur atau senyawaan apa yang terdapat dalam suatu sampel (contoh). Analisis kuantitatif
berurusan dengan penetapan banyaknya suatu zat tertentu yang ada dalam sampel. Zat
yang ditetapkan, yang sering dirujuk sebagai konstituen yang diinginkan atau analit, dapat
merupakan sebagian kecil atau sebagian besar dari contoh yang dianalisis (Day dan
Underwood, 1986).
Untuk tujuan analisis kualitatif sistematik kation-kation diklasifikasikan dalam lima
golongan berdasarkan sifat-sifat kation itu terhadap beberapa reagensia. Dengan memakai
apa yang disebut reagensia golongan secara sistematik, dapat kita tetapkan ada tidaknya

golongan-golongan kation, dan dapat juga memisahkan golongan-golongan ini untuk


pemeriksaan lebih lanjut (Svehla, 1990).
Kation golongan I membentuk endapan dengan asam klorida encer. Ion-ion golongan
ini adalah timbel, merkurium(I) (raksa), dan perak. Kation golongan pertama, membentuk
klorida-klorida yang tak larut. Namun, timbel klorida sedikit larut dalam air, dan karena itu
timbel tak pernah mengendap dengan sempurna bila ditambahkan asam klorida encer
kepada suatu cuplikan; ion timbel yang tersisa itu, diendapkan secara kuantitatif dengan
hidrogen sulfida dalam suasana asam bersama-sama kation golongan kedua (Svehla, 1990).
Kation golongan II tidak bereaksi dengan asam klorida, tetapi membentuk endapan
dengan hidogen sulfida dalam suasana asam mineral encer. Ion-ion golongan ini adalah
merkurium (II), tembaga, bismut, kadmium, arsenic (III), arsenic (V), stibium (III), stibium (V),
timah (II), dan timah (III) (IV). Keempat ion yang pertama merupakan sub-golongan IIA dan
keenam yang terakhir sub-golongan IIB. Sementara sulfida dari kation dalam golongan IIA
tak dapat larut dalam amonium polosulfida, sulfida dari kation dalam golongan IIB justru
dapat larut (Svehla, 1990).
Kation golongan III tak bereaksi dengan asam klorida encer, ataupun dengan hidrogen
sulfida dalam suasana asam mineral encer. Namun, kation ini membentuk endapan dengan
amonium sulfida dalam suasana netral atau amoniakal. Kation-kation golongan ini adalah
kobalt (II), nikel (II), besi (II), besi (III), kromium (III), aluminium, zink, dan mangan (II)
(Svehla, 1990).
Kation golongan IV tak bereaksi dengan reagensia golongan I, II, dan III. Kation-kation
ini membentuk endapan dengan amonium karbonat dengan adanya amonium klorida,
dalam suasana netral atau sedikit asam. Kation-kation golongan ini adalah: kalsium,
strontium, dan barium. Kation-kation yang umum, yang tidak bereaksi dengan reagensiareagensia golongan sebelumnya, merupakan golongan kation yang terakhir, yang meliputi
ion-ion magnesium, natrium, kalium, amonium, litium, dan hidrogen (Svehla, 1990).
Dengan pemisahan-pemisahan menjadi kelompok-kelompok yang cukup kecil dan
atau kation tersendiri (terisolasi), lalu dilakukan pembuktian mengenai ada atau tidaknya
kation-kation dalam setiap kelompok. Dengan jalan ini, kita melakukan analisa secara
sistematis. Reaksi-reaksi disini menyebabkan terjadinya zat-zat yang baru dari zat semula
dan dikenali dari perbedaan sifat fisiknya yang antara lain :
1.

Membentuk endapan dari suatu larutan

2.

Melarutkan zat yang terbentuk padat/endapan

3.

Zat yang berwarna lain

4.

Pembentukan gas

5.

Bentuk kristal yang khas


(Harjadi, 1993).
Analisis kualitatif menggunakan dua macam uji, raksi kering dan reaksi basah. Reaksi
kering dapat diterapkan untuk zat-zat padat dan reaksi basah untuk zat dalam larutan.
sejumlah uji yang dapat dilakukan dalam keadaan kering, yakni tanpa melarutkan contoh.
Misalnya dengan pemanasan, uji pipa-tiup, uji nyala, uji spektroskopi, uji manik boraks, uji
manik fosfat, dan uji manik natrium karbonat. Reaksi basah dibuat dengan melarutkan zatzat dalam larutan. Suatu reaksi diketahui berlangsung
(a) dengan terbentuknya endapan
(b) dengan pembebasan gas
(c) dengan perubahan warna
Reagensia golongan yang dipakai untuk klasifikasi kation yang paling umum adalah
asam klorida, hidrogen sulfida, dan amonium karbonat serta amonium sulfida. Klasifikasi ini
didasarkan atas apakah suatu kation bereaksi dengan reagensia-reagensia ini membentuk
endapan atau tidak. Jadi boleh kita katakan bahwa klasifikasi kation didasarkan atas
perbedaan kelarutan dari klorida, sulfida, dan karbonat dari kation tersebut. Kelima
golongan kation dan ciri-ciri khas golongan-golongan ini adalah sebagai berikut:
1.

Golongan I
Kation golongan ini membentuk endapan dengan asam klorida encer. Ion-ion golongan

ini adalah timbel, merkurium (I), dan perak.


2.

Golongan II
Kation golongan ini membentuk endapan dengan hidrogen sulfida dalam suasana

asam mineral encer. Ion-ion golongan ini adalah merkurium (II), tembaga, bismut, kadnium,
arsenik (III), arsenik (IV), stibium (III), stibium (V), timah (II), dan timah (III), (IV).
3.

Golongan III
Kation golongan ini membentuk endapan dengan amonium sulfida dalam suasana

netral atau amoniakal. Kation-kation golongan ini adalah kobalt (II), nikel (II), besi (II),
kromium (III), aluminium, Zink dan Mangan.
4.

Golongan IV

Kation golongan ini membentuk endapan dengan amonium karbonat dengan


adanya amonium klorida, dalam suasana netral atau sedikit asam. Kation golongan ini
adalah kalsium, barium, dan stronsium.
5.

Golongan V
Kation-kation yang umum, yang tidak bereaksi dengan reagensia-reagensia

golongan sebelumnya, merupakan golongan kation terakhir yang meliputi ion-ion


megnesium, natrium, kalsium, amnium, litium, dan hidrogen (Svehla, 1990).
Setelah pemisahan dan deteksi kation-kation yang sistematik, pencarian terhadap
anion-anion haruslah dimulai. Tiosulfat umumnya tidak larut. Untuk penyelidikan anion, kita
perlu memperoleh larutan yang mengandung semua atau sebagian besar dari anion-anion
itu, bebas dari logam berat sejauh mungkin. Ini paling baik dengan jalan mendidihkan zat itu
dengan larutan natrium karbonat pekat; terjadi penguraian berganda (entah sebagian atau
sempurna) dengan menghasilkan karbonat-karboanat yang tak larut (dalam beberapa
keadaan karbonat basa dan hidroksida-hidroksidanya) dari logam-logamnya (kecuali logam
alkali), dan garam-garam natrium yang larut dari anion-anionnya, yang akan masuk ke dalam
larutan (Vogel, 1985).
Perak adalah logam yang putih, dapat ditempa dan liat. Rapatannya tinggi (10,5 gr ml 1

) dan ia melebur pada 960,5C. Ia tak larut dalam asam klorida , asam sulfat encer (1 M)

atau asam nitrat encer (2 M). Ia melarut dalam asam nitrat yang lebih pekat atau dalam
asam sulfat pekat. Perak membentuk ion monovalen dalam larutan yang tak berwarna.
Senyawa-senyawa perak(II) tidak stabil, tetapi memainkan peranan penting dalam prosesproses oksidasi-reduksi yang dikatalisiskan oleh perak. Perak nitrat mudah larut dalam air;
perak asetat, perak nitrit dan perak sulfat kurang larut, sedang semua senyawa-senyawa
perak lainnya praktis tidak larut. Tetapi kompleks-kompleks perak, larut. Halida-halida perak
peka terhadap cahaya; cirri-ciri khas ini dipakai secara luas dalam bidang fotografi (Svehla,
1990).
Dekontaminasi dengan metode oksidasi elektrokimia menggunakan mediator larutan
2+

perak (II) atau disebut mediator Ag , memiliki beberapa keuntungan sebagai berikut:
peralatannya sangat kompak dan dapat diinstal di dalam glove box, kondisi pengoperasian
yang ringan di bawah tekanan normal dan suhu kamar, dan material radioaktif berada di
dalam fase cair. Dekontaminasi dengan metode oksidasi elektrokimia menggunakan

mediator Ag

2+

telah banyak digunakan untuk dekontaminasi limbah terkontaminasi ,

seperti di Perancis telah dibangun instalasi pegolahan limbah radioaktif terkontaminasi


dengan metode oksidasi elektrokimia sejak tahun 1981 yang bertempat di Lahague,
Amerika, Inggris bahkan belakangan Jepang sudah melakukan riset tentang pengolahan
limbah radioaktif terkontaminasi dengan metode oksidasi elektrokimia secara intesif
(Suwardiyono, 2010).
Preparasi larutan oligokation besi Agen pemilar dibuat dengan cara hidrolisis.
Sebanyak 86,50 g FeCl3.6H2O dilarutkan dalam 1600 mL air bebas ion sambil diaduk
sehingga diperoleh larutan FeCl3 0,2 M. Larutan ini dihidrolisis dengan penambahan NaOH
(OH-/Fe3+=2,0) sampai diperoleh larutan FeCl3 dengan pH sekitar dua, kemudian larutan ini
diaduk dalam gelas beker 2000 mL selama 24 jam pada temperatur kamar (25oC). Larutan
oligomer yang diperoleh selanjutnya diperam (aging) selama 24 jam pada temperatur kamar
(Wijaya, dkk, 2004).
Penentuan Kandungan besi di dalam Na- montmorillonit dan komposit oksida besimontmorillonit Untuk penentuan kandungan Fe dalam lempung terpilar digunakan metode
analisis pengaktifan neutron (APN). Masing-masing 0,1 gram sampel Na-montmorilonit,
montmorilonit termodifikasi oksida besi dan montmorilonit termodifikasi oksida besi
dengan penambahan asam sulfat 1M, 2M, dan 3M yang masing-masing dituliskan sebagai
Komposit -1M, Komposit-2M dan Komposit-3M serta Standar Reference Material (SRM)
2704 dimasukkan ke dalam tempat sampel kemudian diradiasi selama 2 menit dan
didinginkan selama 5 menit (sebagai waktu tunda). Selanjutnya sampel dan SRM dicacah
dengan alat spektrometer gamma jenis 92x spectrum master (Wijaya, dkk, 2004).
Day dan Underwood, A. L. 1986. Analisis Kimia Kantitatif. Erlangga: Jakarta.
Harjadi, W. 1993. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Gramedia: Jakarta.
Khopkar, S. M. 2002. Konsep Dasar Kimia Analitik. UIP: Jakarta
Suwardiyono. 2010. Dekontaminasi Hypalon Gloves, Neprene Gloves, PVC dan Bemcot Tissue
dengan Mediator Perak(II): Batan.
Svehla, G. 1990. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro Bagian I. PT Kalman
Media Pusaka: Jakarta.
Vogel. 1985. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikr.

Edisi kelima. PT. Kalman Media Pusaka: Jakarta


Wijaya, K., ., Sugiharto, Mudasir, I. Tahir, dan I. Liawati. 2004. Sintesis Komposit Oksida-Besi
Montmorillonit dan Uji Stabilitas Strukturnya Terhadap Asam Sulfat. Indonesian Journal of
Chemistry, 2004, 4 (1), 33 42. Hal 33-35.