Anda di halaman 1dari 8

Pengaruh Tehnik Pembelajaran ...

(Ahmad Sopyan)

118

Pengaruh Tehnik Pembelajaran Kreatif Dan Kemampuan Penalaran Terhadap Hasil


Belajar Siswa SLTP
THE EFFECTS OF CREATIVE INTRUCTIONAL TECHNIQUES AND LOGICAL THINKING
ABILITY ON STUDENTS PROCESS SKILLS IN SCIENCE
Ahmad Sopyan
Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Semarang (UNNES)

Abstrak

Tujuan penelitian ini untuk menentukan pengaruh tehnik pembelajaran, kemampuan penalaran
dan hubungan antara kedua variabel terhadap penguasaan keterampilan proses IPA. Penelitian dilakukan
secara experimen pada SLTP di Tasikmalaya dengan sampel berjumlah 94 siswa yang dipilih secara acak.
Hasil yang diperoleh sebagai berikut: (1) Penerapan tehnik pembelajaran kreatif divergen memberikan
hasil keterampilan proses yang lebih baik dalam IPA ( x CD = 28.14 ) dibandingkan dengan tehnik
pembelajaran kreatif konvergen ( x AK = 26.60) ( Fo = 11.67 > Ft = 3.92 ). (2) ada interaksi antara teknik
pembelajaran dan kemampuan penalaran yang memberikan pengaruh yang berbeda terhadap
keterampilan proses IPA (3) untuk siswa yang berpenalaran formal, tehnik pembelajaran kreatif divergen
yang menghasilkan perbedaan prestasi yang tidak signifikan dibandingkan dengan aktif divergen (F o =
2.28 < F = 8.04), (4) untuk siswa yang kemampuan penalaran pada oprasi konkrit, tehnik pembelajaran
kreatif divergen memberikan prestasi yang lebih baik ( x CD = 29.39) dibanding dengan aktif konvergen (
x AC = 24.33) (Fo = 28.76 > F = 8.04).
Kata kunci: Tehnik pembelajaran kreatif, kemampuan penalaran, dan keterampilan proses dalam IPA
Abstract
The aims of this research were to determine the effects of instructional techniques, logical thinking ability
and the interaction of both variables on students process skills in science. The research was conducted in a
goverment junior high school in Tasikmalaya with a simple of n = 94 selected randomly. The results obtained were
as follows: (1) The application of the creative-divergent instructional technique gives a better process skills in
science ( x CD = 28.14 ) compared to that of the active-convergent one ( x AK = 26.60) ( Fo = 11.67 > Ft = 3.92 ).
(2) There is an interaction between instructional technique and logical thinking ability which exert differences on
students process skills in science (F o=20.73 > Ft=3.92). Further analysis using the Scheffes test revealed that
(3) for students having a formal logical thinking ability, the creative divergent instructional technique resulted in a
non-significant difference of achievement compared to the active-convergent one (F o = 2.28 < F = 8.04), (4) for
students having concrete operational logical thinking ability, the creative-divergent instruc-tional technique give a
better achievement ( x CD = 29.39) compared to active-convergent one ( x AC = 24.33) (Fo = 28.76 > F = 8.04).

Key words: Creative instructional techniques, logical thinking ability, and the process skill in science

119
Pengaruh Tehnik Pembelajaran ... (Ahmad Sopyan)

PENDAHULUAN
Faktor penting dalam penguasaan teknologi
adalah
sumber
daya
manusia
yang
dikembangkan melalui pendidikan. Karena itu
pendidikan sebaiknya berisikan program yang
diarahkan untuk menyiapkan anak didik agar
mampu menyerap teknologi yang selalu
berubah. Program pendidikan terarah mendidik
siswa selalu siap dengan perubahan-perubahan.
Untuk membina fleksibilitas ini maka perlu
ditingkatkan kemampuan berpikir logis, kritis,
berinisiatif, dan kreatif. Kesadaran dan
skebijakan pentingnya pengembangan berpikir
kreatif menjadi modal dasar untuk melakukan
inovasi pada pendidikan IPA. Pengembangan
kreativitas pada pendidikan IPA telah diterapkan
dalam bentuk Keterampilan Proses, sesuai
dengan definisi kreativitas oleh Torrence (1988).
Conny Semiawan (1989) menyatakan bahwa
pengembangan kreativitas anak didik dapat
terlaksana jika dalam pembelajaran diterapkan
keterampilan proses.
Mengkaji tujuan pengajaran IPA untuk
SD, SLTP, dan SMU, baik pada kurikulum
1975, 1984, maupun 1994, terlihat bahwa upaya
menerapkan pendekatan keterampilan proses
atau mengembangkan kemampuan siswa dalam
menggunakan metode ilmiah telah dilakukan
sedini mungkin, dan secara berkelanjutan, serta
telah berlangsung selama dua puluh tahun.
Namun lamanya waktu yang telah dilewatkan
sejak pencanangan pelaksanaan pendekatan
keterampilan
proses,
tidak
menjamin
tercapainya keberhasilan yang diharapkan.
Hasil-hasil penelitian yang dilakukan Muhamad
Nur (1993) dan Ratna Wilis Dahar (1985)
menunjukkan bahwa penguasaan siswa terhadap
keterampilan proses belum utuh. Penerapan
pendekatan
keterampilan
proses
yang
dilaksanakan sejak kurikulum 1975, 1984,
sampai 1994, belum dapat meningkatkan minat
dan motivasi siswa terhadap pelajaran IPA
seperti diharapkan.
Penerapan pendekatan keterampilan
proses dalam pembelajaran IPA tampaknya
bukan sekedar masalah teknis metodologis saja,
melainkan berkaitan dengan masalah yang lebih
mendasar yaitu sosial budaya dengan lebih

khusus faktor psikologis anak. Karena itu perlu


kiranya dilakukan inovasi dalam pembelajaran
IPA untuk meningkatkan minat dan motivasi
siswa terhadap IPA dengan mengembangkan
tidak hanya berpikir logis dan analitis namun
juga inisiatif dan kreatif.
Rumusan Masalah
Masalah penelitian dirumuskan sebagai
berikut: (1) Secara keseluruhan, apakah ada
perbedaan hasil belajar berupa keterampilan
proses IPA antara siswa SLTP yang diajar
dengan Teknik Pembelajaran Kreatif divergen
dan mereka yang diajar dengan Teknik
Pembelajaran Aktif konvergen?, (2) Apakah
terdapat interaksi antara Teknik Pembelajaran
dengan
Kemampuan
penalaran
yang
memberikan perbedaan pengaruh terhadap hasil
belajar IPA siswa SLTP?, (3) Untuk siswa yang
berpenalaran operasi formal, apakah hasil
belajar IPA siswa yang diajar dengan Teknik
Pembelajaran Aktif konvergen lebih tinggi
daripada siswa yang diajar dengan Teknik
Pembelajaran Kreatif divergen?, (4) Untuk
siswa yang berpenalaran operasi konkrit, apakah
hasil belajar IPA siswa yang diajar dengan
Teknik Pembelajaran Kreatif divergen lebih
tinggi daripada siswa yang diajar dengan Teknik
Pembelajaran Aktif konvergen?
Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah (1)
untuk mengetahui apakah ada perbedaan hasil
belajar antara siswa SLTP yang diajar dengan
tehnik pembelajaran kreatif divergen dengan
tehnik pembelajaran aktif konvergen. (2) untuk
mengetahui apakah ada interaksi antara teknik
pembelajran kreatif dan kemampuan penalaran
terhadap keterampilan proses IPA
Manfaat
Penelitian ini diharapkan bermanfaat
bagi pelaksanaan pengembangan pembelajaran
IPA untuk menumbuhkembangkan keterampilan
proses dan dapat menjadi dasar dalam
mengembangkan model-model pembelajaran
yang berbasis keterampilan ilmiah

120

Pengaruh Tehnik Pembelajaran ... (Ahmad Sopyan)

Hipotesis
Berdasarkan diskripsi teoritis,
dan
kerangka berpikir yang telah disajikan, maka
hipotesis
penelitian
dirumuskan sebagai
berikut: (1) secara keseluruhan hasil belajar
berupa keterampilan proses IPA pada siswa
yang belajar dengan teknik kreatif-divergen
lebih baik daripada siswa yang belajar dengan
teknik aktif-konvergen, (2) ada interaksi antara
Teknik Pembelajaran Kreatif dan Kemampuan
Penalaran terhadap hasil belajar siswa, berupa
penguasaan keterampilan proses IPA, (3) bagi
siswa berpenalaran formal, hasil belajar
berupa keterampilan proses IPA pada siswa
yang belajar dengan teknik aktif-konvergen
lebih baik dari-pada siswa yang belajar dengan
teknik kreatif-divergen, (4) bagi
siswa
berpenalaran konkrit,
hasil belajar berupa
keterampilan proses IPA pada siswa yang
belajar dengan teknik kreatif-divergen lebih
baik daripada siswa yang belajar dengan teknik
aktif-konvergen.

validitas isi dilakukan dengan mengacu kepada


Kurikulum Pendidikan Dasar Tahun 1994
bidang Studi IPA. Penghitungan koefesien
reliabilitas dilakukan dengan menggunakan
rumus Kuder Richardson (KR-20) dengan hasil
koefesien reliabilitas 0,71, dan (2) instrumen
kedua berupa tes kemampuan penalaran Formal
Siswa. Instrumen ini dikembangkan oleh Tobin
& Capie (1991). Instrumen ini telah diuji
kembali reliabilitasnya dengan menggunakan
KR-20, dan menghasilkan r = 0,48 dan
digunakan untuk memilah siswa ke dalam dua
kelompok yaitu kelompok siswa berkemampuan
penalaran formal, dan siswa berkemampuan
penalaran konkrit. Teknik analisis data yang
digunakan untuk pengujian hipotesis adalah
ANAVA 2-jalan yang dilanjutkan dengan uji
perbandingan ganda teknik Scheff.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


Tabel 1 : Deskripsi Data Hasil Belajar

METODOLOGI PENELITIAN
Populasi dari penelitian ini adalah, siswa
kelas 2 SLTP Negeri 9 Tasikmalaya. Teknik
pengambilan
sampel
dilakukan
secara
berkelom-pok (cluster Sampling). Pertama
pengacakan dilakukan terhadap sekolah tempat
penelitian dilaksanakan. Pengacakan kedua
dilakukan pada kelas yang digunakan untuk
pelaksanaan perlakuan. Satu kelas dilakukan
perlakuan berupa pengajaran IPA dengan teknik
pembe-lajaran kreatif-divergen, dan satu kelas
lagi pengajaran IPA dengan teknik pembelajaran
aktif-konvergen.
Penelitian ini merupakan penelitian
eksperimen,
yang
dilaksanakan
dengan
menggunakan rancangan faktorial 2x2, dengan
variabel-variabel bebas adalah
teknik
pembelajaran dan kemampuan penalaran siswa.
Variabel terikat adalah hasil belajar berupa
penguasaan keterampilan proses IPA.
Instrumen yang digunakan untuk
mengumpulkan data terdiri dari dua buah
instrumen, yaitu (1) Tes Hasil Belajar berupa
kemampuan keterampilan proses IPA. Uji

Sumber
statistik
n
B-1

s
n
B-2

s
n

A-1

A-2

20
26,40
3,21

16
28,18
3,31

36
27,19
3,33

28
29,39
2,88

30
24,33
4,25

58
26,70
4,43

48
28,14
3,34

46
25,60
4,33

94
26,94
3,63

Keterangan:
A-1 = Kelompok siswa yang belajar IPA dengan teknik
pembelajaran kreatif-divergen
A-2 = Kelompok siswa yang belajar IPA dengan teknik
pembelajaran aktif-konvergen
B-1 = Kelompok siswa berkemampuan pena-laran
formal
B-2 = Kelompok siswa berkemam-puan pena-laran
konkrit
n = Banyak sampel pada setiap kelompok
x = Rata-rata skor hasil belajar
s = Standar deviasi

121
Pengaruh Tehnik Pembelajaran ... (Ahmad Sopyan)

Pengujian hipotesis
Pengujian hipotesis penelitian dilakukan
dengan teknik analisis varian dua jalan, dan
kemudian dilakukan uji lanjut dengan
menggunakan uji Scheff.
Hasil analisis
varians disajikan pada tabel 2.

Tabel 2. Daftar Anava Skor Hasil Belajar IPA


Sumber
varians

Jumlah
kuadrat
( KJ )

( dk )

rata-rata
kuadrat
(MK)

63,74

274,00

Dalam
kelompok
Total

Antar
kolom
(Tek.
Pemb.)
Kolom
dan baris
(interaksi)

F
Hitung

F
Tabel
( 5%)

63,74

5,16*

3,92

274,00

22,20ns

3,92

1110,58

90

12,33

1453,02

93

* signifikan
ns
non signifikan

Perbedaan hasil belajar IPA siswa yang


belajar dengan Teknik Kreatif-divergen
dengan Teknik aktif-konvergen.
Hasil perhitungan menunjuk-kan bahwa
Fo = 5,16 > Ft = 3,92 ini berarti hipotesis nol
pertama ditolak. Kesimpulan, secara keseluruhan terdapat perbedaan hasil belajar IPA
antara kelompok siswa yang belajar dengan
teknik kreatif-divergen dengan kelompok siswa
yang belajar dengan teknik aktif-konvergen.
Ditinjau dari besarnya angka rata-rata
skor hasil belajar IPA siswa yang belajar
dengan teknik kreatif-divergen lebih besar ( x
A1 = 28,14) dibanding dengan siswa yang belajar
dengan teknik aktif-konvergen ( x A2 = 25 ,60).
Untuk meyakinkan hal ini maka
dilakukan uji lanjut dengan cara Scheffe,
ternyata
hasilnya
menunjukkan
bahwa
perbedaan angka tersebut signifikan. Dengan
demikian hipotesis penelitian yang menyatakan,
bahwa hasil belajar IPA berupa penguasaan

keterampilan proses pada siswa yang belajar


dengan teknik kreatif-divergen lebih baik
daripada siswa yang belajar dengan teknik
aktif, teruji kebenaranya
Interaksi antara teknik pembelajaran dan
kemampuan penalaran terhadap hasil
belajar IPA siswa SLTP
Berdasarkan hasil perhitungan yang
ditunjukkan pada tabel 2 bahwa pada taraf
kepercayaan = 0,05 harga F hitung lebih
besar daripada F tabel (Fo = 22,20 > Ft = 3,92)
ini berarti hipotesis nol ketiga ditolak. Dengan
demikian hipotesis penelitian yang menyatakan,
bahwa ada interaksi antara Teknik Pembelajaran
dan kemampuan penalaran terhadap hasil
belajar siswa berupa penguasa-an keterampilan
proses teruji kebenarannya.
Jadi dapat disimpulkan bahwa terdapat
interaksi antara teknik pembelajaran dengan
kemampuan penalaran siswa yang memberikan
perbedaan pengaruh terhadap hasil belajar
berupa keterampilan proses IPA siswa. Dengan
terbuktinya secara signifikan interaksi tersebut,
maka dilakukan uji lanjut dengan menggunakan
Uji Scheff.
Hasil perhitungan uji lanjut analisis
varian dengan menggunakan teknik Scheff
untuk kelompok yang dibandingkan, disajikan
pada tabel 3.
Tabel 3. Hasil Uji Lanjut Analisis Varians
dengan Teknik Scheffe
Perbandingan
Rerata Kelompok
1 dengan 2
3 dengan 4
7 dengan 8

F hitung
2,28 ns
28,76*
12,76*

Catatan alfa = 5%

Keterangan:
1

= Kelompok siswa berkemampuan penalaran


operasi formal yang belajar IPA dengan teknik
pembelajaran kreatif-divergen

122

Pengaruh Tehnik Pembelajaran ... (Ahmad Sopyan)


2
3
4
7
8

= Kelompok siswa berkemampuan penalaran


operasi formal yang belajar IPA dengan teknik
pembelajaran aktif-konvergen
= Kelompok siswa berkemampuan penalaran
operasi konkrit yang belajar IPA dengan teknik
pembelajaran kreatif-divergen
= Kelompok siswa berkemampuan penalaran
operasi konkrit yang belajar IPA dengan teknik
pembelajaran aktif-konvergen
= Kelompok siswa yang belajar IPA dengan teknik
pembelajaran kreatif-divergen secara keseluruhan
= Kelompok siswa yang belajar IPA dengan teknik
pembelajaran kreatif-divergen secara keseluruhan

Perbedaan hasil belajar IPA antara siswa


yang diajar dengan teknik kreatif-divergen
dan teknik aktif-konvergen untuk kelompok
siswa berpenalaran formal
Tabel 3 di atas menunjukkan bahwa
harga F-hitung untuk perbandingan antara
kelompok siswa berkemampuan penalaran
operasi formal yang belajar IPA dengan teknik
pembelajaran kreatif-divergen dan aktifkonvergen lebih kecil dibandingkan F-tabel ( F o
= 2,28 < F = 8,84 ). Dengan demikian, Ho
diterima yaitu bahwa untuk siswa berpenalaran
formal tidak ada perbedaan pengaruh antara
mereka yang diajar dengan teknik pembelajaran
kreatif-divergen dan aktif-konvergen. Hal ini
memberikan arti bahwa hasil belajar IPA
kelompok
siswa berkemampuan penalaran
tingkat formal yang belajar dengan teknik
kreatif-divergen (Kel.1) sama dengan kelompok
siswa berkemampuan penalaran tingkat formal
yang belajar dengan teknik aktif-konvergen
(Kel. 2).
Perbedaan hasil belajar IPA antara siswa
yang diajar dengan teknik kreatif-divergen
dan teknik aktif-konvergen untuk kelompok
siswa berpenalaran konkrit.
Berdasarkan hasil uji lanjut dengan cara
Scheffe di atas terlihat bahwa harga F-hitung
untuk perbandingan antara kelompok siswa
berke-mampuan penalaran operasi konkrit yang
belajar IPA dengan teknik pem-belajaran kreatifdivergen dan aktif-konvergen lebih besar
dibandingkan F-tabel ( Fo = 28,76 > F = 8,84 ).
Dengan demikian, Ho ditolak dan menerima H1
yaitu bahwa untuk siswa berpenalaran konkrit,
pengaruh teknik pembelajaran kreativ-divergen
lebih tinggi secara signifikan daripada teknik

pembelajaran
aktif-konvergen.
Hal
ini
memberikan arti bahwa hasil belajar kelompok
siswa berkemam-puan penalaran tingkat
kongkrit yang belajar dengan teknik kreatifdivergen ( Kel. 3), berbeda secara signifikan
dengan siswa berkemampuan pena-laran tingkat
kongkrit yang belajar dengan teknik aktifkonvergen (Kel.4). Rata-rata hasil belajar
kelompok siswa berkemampuan penalaran
tingkat kongkrit yang belajar dengan teknik
kreatif-divergen ( x = 29,39) lebih baik
daripada kelompok siswa berkemampuan
penalaran tingkat kongkrit yang belajar dengan
teknik aktif-konvergen ( x = 24,33 ).
Pembahasan
Hasil-hasil
yang
diperoleh
dari
penelitian ini memberikan manfaat bagi
pelaksanaan pengembangan pembelajaran IPA
untuk menumbuhkembangkan keterampilan
proses. Ada beberapa aspek yang dibahas
berkaitan dengan hasil penelitian.
Pertama,
perancangan
dan
pengembangan pembelajaran IPA harus sampai
pada tingkatan yang dapat menjamin terjadinya
proses
belajar
mengajar
yang
dapat
meningkatkan minat dan kemampuan siswa,
sesuai dengan karakteristik siswa. Agar dapat
mencapai maksud tersebut proses perancangan
harus dilakukan secara berencana dan
sistematis. Rancangan pembelajaran IPA yang
bertujuan mengembangkan keterampilan proses
siswa, harus berorientasi dan dirancang
berdasarkan keterampilan berpikir ilmiah.
Langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam
merancang
pembelajaran
IPA
yang
mengembangkan keteram-pilan proses adalah:
a) mengidentifikasi sifat-sifat keterampilan
proses yang akan diajarkan, b) merencanakan
pembelajaran keterampilan proses,
c)
menyediakan media atau alat yang dibutuhkan
dan
d)
mengintegrasikan
pembelajaran
keterampilan proses dengan materi IPA.
Dari keempat langkah tersebut di atas,
langkah pertama adalah langkah terpenting yang
sering terlupakan oleh guru. Kegiatan
mengidentifikasikan sifat-sifat keterampilan
proses yang akan diajarkan adalah kegiatan
yang menentukan langkah selanjutnya, yang

123
Pengaruh Tehnik Pembelajaran ... (Ahmad Sopyan)

pada akhirnya menentukan hasil yang akan


diperoleh.
Kegiatan mengidentifikasikan sifat-sifat
keterampilan proses yang akan diajarkan,
diawali dengan memilih keterampilan proses
yang akan diajarkan, menentukan apa yang
dibutuhkan untuk menguasai beberapa
keterampilan proses yang akan diajarkan,
kemudian melakukan analisis reflektif terhadap
sifat-sifat keterampilan proses yang akan
diajarkan, dan akhir kegiatan ini menentukan
sifat kunci dari keterampilan proses yang akan
diajarkan tersebut.
Temuan yang menunjukkan bahwa
terjadi interaksi antara teknik pembelajaran dan
kemampuan penalaran siswa membawa
implikasi bah-wa dalam pengembangkan
pembelajaran IPA, faktor karateristik siswa
harus
menjadi
pijakan
pengembangan.
Pembelajaran bukan hanya mentransfer konsep.
Sejak lahir siswa telah berinteraksi dengan
lingkungan dan alam sekitar, sehingga pada
dirinya telah terbentuk berbagai persepsi tentang
berbagai hal. Pembelajaran IPA harus dimulai
dari
persepsi
siswa
menuju
kepada
pembentukan konsep, prinsip, dan teori yang
benar menurut IPA.
Sesuai dengan perkembangan penalaran
dan mental manusia, maka teknik pembelajaran
IPA harus beroperasi dan berjenjang. Ada tiga
tahapan
yang
diajukan,
yakni
tahap
fenomenologis pada usia muda, tahap analitis
pada usia remaja akhir dan awal dewasa, dan
ketiga tahap abstraksi pada usia dewasa.
Pembelajaran IPA sebaiknya diawali
dengan penyajian fenomenologis dari gejala
alam yang menimbulkan gairah rasa ingin tahu.
Penyajian ini dapat melalui peragaan atau
pengamatan kejadian alam seharihari. Kegiatan
semacam
ini dalam pendidikan
ilmu
pengetahuan
alam
sering
dinamakan
discrepant events atau puzzlers and
problems.
Berbeda
dengan
penyajian
fenomenologis dimana gejala fisika ditanggapi
secara induktif, maka pembelajaran IPA pada
tahap analitik menuntut tanggapan yang aktif,
kritis, deduktif, dan analitik. Pembelajaran IPA
pada tahap analitik misalnya dilaksanakan
dengan praktikum-praktikum dengan media

lembar kerja siswa (LKS), disamping dengan


membahas
soal-soal
atau
pemahamanpemahaman.
Tahap ketiga dalam pembela-jaran IPA
adalah tahap abstraksi yang berkaitan dengan
kemampuan penalaran seseorang. Tahap ini
hanya mungkin diterapkan setelah peserta didik
mempunyai cukup kemampuan analitik dalam
menelaah gejala alam. Dalam tahap abstraksi,
orang menciptakan model untuk menerangkan
gejala fisis yang dihadapinya, dan selanjutnya
model ini diterjemahkan pada konsep abstrak
yang diuji kebenarannya dengan suatu
eksperimen yang direncanakan secara logis dan
sistematis.
Kedua,
peranan
guru
dalam
pembelajaran IPA harus dikembangkan bahkan
ada kebiasaan guru yang harus dirubah. Guru
hendaknya mengusahakan suatu lingkungan
belajar sesuai dengan perkembangan mental dan
penalaran siswa. Sehubungan dengan itu guru
hendaknya lebih berfungsi sebagai fasilitator
belajar daripada sebagai instruktor (pengajar)
atau director (pengarah) yang menentukan
segalanya.
Guru harus lebih banyak memberikan
tantangan
daripada
tekanan.
Tantangan
memberikan siswa kesempatan memperoleh
kepercayaan
terhadap
kemampuankemampuannya untuk berpikir, menganalisa,
dan bertindak. Cara yang termudah agar siswa
merasa tertantang adalah dengan mengajukan
pertanyaan. Melalui kegiatan bertanya siswa
akan berlatih menyampaikan gagasan, dan
memberikan respon yang relevan terhadap suatu
masalah yang dimunculkan.
Guru lebih memperhatikan pro-ses IPA
daripada produk IPA. Pembelajar IPA yang utuh
adalah pembelajaran IPA yang mencakup tiga
hakikat IPA, yaitu produk, proses, dan nilai
(sikap). Ketiga aspek IPA itu dikembangkan
dengan mempertimbangkan keseimbangan segisegi teoritis dan praktis. Konsep, teori, dan
hukum seharusnya tidak diajarkan pada siswa
sebagai suatu pengeta-huan yang sudah jadi,
melaikan perlu selalu diusahakan agar para
siswa juga belajar bagaimana mendapat
pengetahuan itu.
Guru hendaknya dapat menciptakan
suasana di dalam kelas yang menunjang rasa

Pengaruh Tehnik Pembelajaran ... (Ahmad Sopyan)

harga diri siswa, sehingga merasa aman dan


berani mengambil resiko dalam menentukan
pendapat dan keputusannya.
Ketiga, sistem evaluasi pembe-lajaran
IPA. Aspek terpenting yang berkaitan dengan
teknik pembelajaran IPA adalah sistem evaluasi
yang digunakan. Sistem evaluasi yang
dilakukan guru sangat menentukan pola belajar
siswa. Jika dalam evaluasi yang ditanyakan
hanya hapalan, jangan mengharapkan bahwa
siswa akan mempelajari di luar hapalan. Jika
guru tak pernah mengevaluasi kemampuan
keterampilan proses, wajar mereka enggan atau
tak suka mempelajari atau melakukannya. Jika
evaluasi pembelajaran IPA selalu berupa soalsoal
yang
mengutamakan
perhitungan
matematik, maka wajar mereka tertarik belajar
soal-soal dan penyelesaiannya, tanpa belajar
memahami konsepnya lebih dulu.
Sistem evaluasi yang ada sekarang perlu
dikembangkan
sesuai
dengan
teknik
pembelajaran yang selaras dengan tujuan
pendidikan IPA itu sendiri. Pengembangan
pertama yang terpenting adalah bahwa evaluasi
pembelajaran IPA tidak cukup hanya
mengevaluasi aspek produk IPA yang berupa
pemahaman ter-hadap konsep, prinsip, teori, dan
hukum IPA saja. Evaluasi pem-belajaran IPA
hendaknya mencakup ketiga aspek yang ada
pada IPA yaitu produk, proses, dan sikap.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Berdasarkan perolehan data, pengujian
hipotesis, dan pembahasan hasil penelitian,
maka dapat disimpulan sebagai berikut: (1)
Teknik pembelajaran yang diterapkan dalam
proses belajar mengajar IPA di SLTP N 9
Tasikmalaya pada penelitian ini, mempengaruhi
hasil belajar yang berupa penguasaan
keterampilan
proses.
Penerapan
teknik
pembelajaran kreatif-divergen memberikan hasil
belajar IPA lebih tinggi, dibandingkan dengan
penerapan teknik pembelajaran aktif-konvergen.
(2)
Terdapat
interaksi
antara
teknik
pembelajaran dan kemampuan penalaran siswa
yang memberikan pengaruh yang berbeda

124

terhadap hasil belajar IPA berupa keterampilan


proses. (3) Hasil analisis data menunjukkan
bahwa, bagi siswa berpenalaran operasi formal,
teknik
pembelajaran
kreatif-divergen
menghasilkan perolehan belajar IPA yang sama
dengan teknik pembelajaran aktif-konvergen.
(4) Bagi siswa Bagi siswa berpenalaran operasi
konkrit, teknik pembelajaran kreatif-divergen
menghasilkan perolehan belajar yang lebih baik
daripada teknik pembelajaran aktif.
Saran
Berdasarkan hasil temuan, pembahasan,
dan keterbatasan yang ada pada penelitian ini,
maka dapat dikemukakan beberapa saran
sebagai berikut:
Pertama, saran pada guru. Para guru
SLTP disarankan melakukan pengembangan
berpikir kreatif (divergen) bagi siswa-siswanya,
baik berupa program khusus yang terpisah
dengan mata pelajaran, maupun terintegrasi
dengan setiap mata pelajaran. Program khusus
yang terpisah dengan mata pelajaran dapat
berupa bagian dari kegiatan ekstrakurikuler
yang telah ada, atau merupakan salah satu
kegiatan ekstrakurikuler baru yang sengaja
diselenggarakan.
Program
kegiatan
pengembangan berpikir kreatif berupa bagian
dari kegiatan ekstrakurikurel misalnya menyatu
dengan kegiatan pramuka, atau PMR (Palang
Merah Remaja). Pengembangan berpikir kreatif
dapat pula berupa kegiatan ekstra-kurikurel
tersendiri, misalnya berupa forum diskusi,
forum
curah
pendapat,
atau
latihan
kepemimpinan. Jika pihak sekolah belum siap
untuk melakukan kegiatan pengembangan
berpikir kreatif secara terpisah, maka minimum
para guru melakukannya pada mata pelajaran
yang diampunya masing-masing. Para guru IPA
mempunyai kewajiban untuk mempeloporinya.
Berkaitan dengan tujuan pengembangan
berpikir kreatif para guru disarankan mulai
melakukan perubahan sikap dan pandangan
pada siswa. Guru perlu bertindak sebagai
fasilitator daripada sebagai pengarah atau
instruktor. Guru perlu memandang siswa
sebagai individu yang mempunyai otonomi

125
Pengaruh Tehnik Pembelajaran ... (Ahmad Sopyan)

berpikir
sendiri,
berhak
berpendapat,
menyampaikan ide, bahkan menolak ide guru.
Dalam menunjang
berkembangnya
berpikir kreatif bentuk evaluasi yang digunakan
guru tidak boleh selalu dan hanya bentuk tes
pilihan ganda. Bentuk tes harus sesuai dengan
tujuan yang hendak dicapai. Evaluasi tidak
hanya diperlakukan sebagai penilaian, namun
harus lebih berfungsi sebagai umpan balik
terhadap perbaikan dan penyempurnaan
kemampuan sisiwa.
Kedua, saran untuk para ahli dan peneliti
pendidikan IPA
Hasil penelitian yang memberikan
indikasi bahwa latihan berpikir divergen
mempunyai pengaruh terhadap penguasaan
keterampilan proses siswa, dapat dijadikan
informasi empirik guna melakukan inovasi baru
dalam pengembangan pembelajaran IPA. Para
ahli pendidikan IPA disa-rankan mendesain dan
mengembangkan pembelajaran IPA yang khusus
mengembangkan
keterampilan
berpikir
divergen.
Berpijak dari hasil penelitian yang
diperoleh, dan keterbatasan yang ada pada
penelitian ini, maka penelitian lanjut yang
disarankan pada peneliti pendidikan IPA adalah
dilakukannya reflikasi penelitian dengan subyek
penelitian tidak hanya siswa SLTP, tetapi juga
dengan siswa SMU. Hal ini dilakukan guna
meneliti perbedaan nyata pengaruh kemampuan penalaran operasi konkrit dan formal
terhadap penguasaan keterampilan proses.

DAFTAR PUSTAKA
Dahar, Ratna Wilis. (1989). Teori belajar.
Jakarta: Erlangga.
Nur, Mohamad. (1991). Pengadaptasian Test Of
Logical Thinking (TOLT) dalam seting
Indonesia. Laporan Penelitian. Pusat
Penelitian IKIP Surabaya. 1991.
Semiawan, Conny. (1992). Pengembangan
kurikulum berdiferensiasi. Jakarta: PT
Gramedia Widiasarana.
Semiawan, Conny. (1987). Memupuk bakat dan
kreativitas siswa sekolah menengah
Jakarta: PT Gramedia.
Semiawan,
Conny.
(1996).
Perspektif
pendidikan anak berbakat. Jakarta Dikti
Depdikbud, Proyek Pendidikan Tenaga
Guru.
Sudjana. (1989). Metoda statistika. Bandung:
Tarsito.
Sudjana. (1994). Desain dan analisis eksperimen. Bandung.